Selasa, 2 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Cagar Alam Muara Kendawangan Menjadi Rumah

Pontianak (08/08/2017). Nepenthes rafflesiana diambil dari nama Stamford Raffles, atau Raffles' Pitcher-Plant, merupakan salah jenis tumbuhan dari family Nepenthaceae yang termasuk dalam spesies N. rafflesiana. Daerah penyebaran Nepenthes rafflesiana sendiri tersebar di daerah Kalimantan, Sumatra, Semenanjung Malaysia, dan Singapura. Nepenthes rafflesiana umumnya tumbuh di tempat terbuka, berpasir dan area yang agak lembap. Bisa juga ditemukan di hutan kerangas, hutan sekunder, hutan rawa gambut dan hutan tropis. Nepenthes rafflesiana merupakan liana yang tumbuh memanjat. Batangnya mampu tumbuh hingga ketinggian 15 m di atas permukaaan tanah. Warna kantong dari Nepenthes rafflesiana yang biasa ditemukan dari adalah berwarna hijau terang dengan bercak ungu tua pada kantong bawah, dan berwarna krem pada kantong atas. Di Kalimantan setidaknya telah ditemukan empat varietas yang berbeda satu sama lainnya, dan di antaranya ada didalam kawasan Gambut Cagar Alam Muara Kendawangan. Didalam Kawasan Cagar Alam Muara Kendawangan untuk jenis Nepenthes rafflesiana Sendiri tersebar hampir diseluruh rawan gambut yang ada di dalam kawasan CAMK. Intinya dimana ada areal rawa gambut di kawasan Cagar Alam Muara Kendawangan sudah pasti kita akan menemukan species Nepenthes rafflesiana, sehingga areal rawan gambut didalam Kawasan Cagar Alam Muara Kendawangan yang berada di Kabupaten Ketapang menjadi rumah dari Species Nepenthes rafflesiana. Sumber : BKSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Jejak Keberadaan Mamalia Air Langka di Sumatera Selatan

Berang-Berang Sumatera dideskripsikan pertama kali pada tahun 1822 oleh Raffles dan merupakan salah satu spesies berang-berang terlangka di dunia dan merupakan satwa endemik Asia Tenggara. Hingga tahun 1998 spesies Berang-Berang Sumatera atau dalam bahas latin Lutra sumatrana dinyatakan punah di alam namun hal ini terbantahkan hingga beberapa kelompok kecil berang-berang ini ditemukan kembali di beberapa tempat oleh beberapa peneliti. Berang-Berang ini merupakan hewan asli Asia Tenggara yang bisa dijumpai Vietnam Selatan, Myanmar, Thailand Selatan, Kamboja, Malaysia, termasuk Sumatera dan Kalimantan (Indonesia). Berang-Berang Sumatera merupakan satwa semi akuatik yang hampir sebagian besar hidupnya berada didalam sungai -sungai besar maupun perairan dekat pantai. Berang-berang sumatera masuk dalam dalam daftar merah spesies TERANCAM PUNAH oleh lembaga internasional IUCN . Hewan ini merupakan hewan yang sangat pemalu bahkan hampir tidak pernah terlihat aktivitas keberadaanya di alam. Mereka merupakan satwa yang memiliki tubuh berukuran medium dengan panjang total kurang lebih 1 meter dengan berat mencapai 5 kilogram. Makanan utama satwa ini adalah ikan dan berbagai jenis krustasea atau moluska yang hidup di perairan. Kami menemukan hal yang mengejutkan bahwa keberadaan Lutra sumatrana sering terlihat di Sungai Lakitan, Kecamatan Selangit, Musi Rawas Sumatera Selatan dan dimungkinkan hidup dibeberapa daerah diwilayah Sumatera Selatan. Sungai ini merupakan sungai besar yang bermuara ke Sungai Musi yang keberadaanya sangat penting bagi kehidupan masyarakat di wilayah Sumatera Selatan. Keberadaan berang-berang Sumatera memang telah lama diketahui oleh masyarakat tetapi laporan dan dokumentasi terbaru akan keberadaan spesies berang-berang ini masih sangat jarang dan hal ini merupakan kesempatan baik bagi para peneliti maupun lembaga konservasi untuk mengkaji dan mempelajari kehidupan species terancam punah ini. Pada akhir dekade ini perdagangan hewan illegal sering memperjual belikan beberapa jenis berang-berang termasuk spesies ini sebagai hewan peliharaan dan hal ini berdampak pada penurunan jumlah populasi satwa ini di alam. Konservasi spesies ini harus segera dilakukan sebelum berang berang asli Sumatera ini benar-benar punah di alamnya karena hal ini merupakan tugas bagi kita bersama untuk terus menjaga kelestarianya sehingga kelak anak cucu masih bisa melihatnya dan bukan mengetahui hanya dari cerita.
Baca Berita

Komeng Pulang ke Rumahnya

Pontianak (08/08/2017). Komeng, merupakan salah satu primata dari famili Hylobates yang termasuk dalam species Hylobates muelleri atau biasa di kenal dengan nama kelempiau/ owa. Komeng sendiri merupakan sebuah nama pemberian untuk seekor kelempiau jantan oleh salah satu warga yang memeliharanya. Komeng sendiri di serahkan secara sukarela oleh pemeliharanya kepada tim gugus TSL SKW 1 Kabupaten Ketapang, dan selanjutnya oleh Tim Gugus TSL SKW 1 kabupaten ketapang di lakukan kegiatan pelepasliaran ke kawasan Cagar Alam Muara Kendawangan. Sumber : BKSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Penyerahan Kukang (Nyticebus coucang) ke BKSDA Sumatera Selatan

Pangkalpinang, 08 Agustus 2017 pukul 16.31 di kantor Resort Konservasi Wilayah (RKW) X Bangka, petugas Balai KSDA Sumatera Selatan menerima penyerahan seekor Kukang (Nyticebus coucang) dari salah seorang masyarakat warga Kota Pangkalpinang, Hariadi (29) secara sukarela menyerahkan Kukang yang ia temukan di pinggir jalan sejak hampir 2 bulan yang lalu. Penyerahan secara sukarela tersebut karena ia mengetahui bahwa kukang merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi oleh negara berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Berdasarkan penuturannya (Hariadi) di Kantor RKW X Bangka bahwa Kukang yang dimilikinya ia temukan di pinggir jalan dengan kondisi kaki sebelah kiri patah. Kukang ditemukan pada tanggal 27 Juni 2017, malam hari sekitar pukul 20.30 WIB di Jalan Selan Kampung Melintang. Merasa iba melihat kondisi Kukang tersebut, Hariadi memutuskan untuk membawanya pulang dan berniat merawatnya hingga sembuh. Selama hampir 2 bulan Hariadi merawatnya hingga kaki yang diduga patah saat ditemukan tersebut berangsur membaik. Selama ini ia sebenarnya mencari pihak atau pun penangkaran yang secara legal berwenang memelihara Kukang, namun ia tidak berhasil menemukannya. Hariadi berpikir akan menyerahkannya ke Balai Karantina, namun dari lokasi kediamannya cukup jauh, maka ia melakukan penelusuran di internet untuk mencari pihak yang memiliki kewenangan terkait satwa liar. Dari hasil penelusuran tersebut ia mengetahui adanya Resort Konservasi Wilayah X Bangka dibawah BKSDA Sumatera Selatan yang memang menangani satwa liar dan kebetulan lokasinya cukup dekat. Bermodalkan internet tersebut Hariadi melakukan pencarian kantor RKW X Bangka yang berlokasi di Jalan Girimaya (samping Kantor KPU Kota Pangkalpinang) Kelurahan Bukit Besar Kecamatan Girimaya Kota Pangkalpinang. Akhirnya sekitar pukul 10.00 WIB tanggal 08 Agustus 2017 Hariadi mendatangi kantor RKW X Bangka dan menceritakan niatnya untuk melakukan penyerahan satwa liar Kukang secara sukarela. Balai KSDA Sumatera Selatan melalui RKW X Bangka sangat mengapresiasi tindakan Hariadi. Ia secara sadar dan sukarela menyerahkan satwa liar yang ia miliki, bahkan telah membantu petugas untuk merawat satwa tersebut dengan sangat baik hingga sembuh. Selanjutnya Balai KSDA Sumatera Selatan melalui RKW X Bangka akan melakukan pemeriksaan kesehatan Kukang yang bekerja sama dengan Balai Karantina dan apabila kondisinya dinyatakan sehat, akan dilakukan pelepasliaran. Kesadaran dan tindakan ini menjadi contoh, bahwa upaya konservasi dapat dilakukan oleh siapa pun. Pemerintah tidak dapat bergerak sendiri, perlu bersama-sama masyarakat untuk melestarikan kekayaan alam yang dimiliki. Melestarikan kekayaan Tumbuhan dan Satwa Liar artinya juga menjaga kekayaan intelektual untuk anak cucu dimasa mendatang. Salam Konservasi. Sumber : SW, BKSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Selamat Datang Bapak Inspektur Jenderal KLHK di Lembah Baliem

Wamena, 08 Agustus 2017. Bapak Inspektur Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KementerianLHK) Imam Hadargo Abu Ismoyo didampingi oleh Sekertaris Inpektorat Jenderal KLHK beserta rombongan yang terdiri dari Bapak Inspektur Wilayah III KLHK dan Bapak Kepala Bagian ALHP melakukan kunjungan kerja ke Balai Taman Nasional Lorentz untuk mengadakan “Sosialisasi Capaian Reformasi Birokasi pada Lingkup Balai Taman Nasional Lorentz”. Selain itu dalam melakukan kunjungan kerja tersebut Bapak Inspektur Jenderal turut juga menghadiri undangan dari Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dalam acara Festival Lembah Baliem. Festival Lembah Baliem merupakan suatu pentas budaya yang menampilkan berbagai atraksi seni dan budaya khas masyarakat Suku Dani, antara lain Karapan Babi, lomba permainan alat musik Pikon, lempar Sege (tombak), hingga atraksi perang-perangan teatrikal yang menceritakan sejarah perjalanan suku-suku di masa lalu dan pada tahun ini festival memasuki tahun yang ke-28 pelaksanaannya serta berlangsung dari tanggal 8-11 Agustus 2017 dengan lokasi di Distrik Walesi Kabupaten Jayawijaya. Wilayah Kabupaten Jayawijaya dan Pegunungan Papua sebagian besar wilayahnya masuk kedalam kawasan Taman Nasional Lorentz dan dengan masyarakat yang tinggal didalam kawasan merupakan masyarakat adat dengan berbagai suku-suku yang sudah turun menurun tinggal di dalam kawasan hutan. Oleh karena dengan diadakannya Festival Lembah Baliem, Balai Taman Nasional Lorentz memanfaatkan ajang ini sekaligus untuk mempromosikan lagi mengenai kawasan Taman Nasional Lorentz di mata para pemangku adat yang ada di Kabupaten Jayawijaya maupun para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke salah satu destinasi wisata yang ada di Taman Nasional Lorentz yaitu Danau Habema yang terletak kurang lebih 2 jam perjalanan dari lokasi festival berlangsung, selain itu juga tentunya mengajak masyarakat untuk menjaga dan melestarikan kekayaan yang ada di kawasan Taman Nasional Lorentz yang sudah diakui dan merupakan “Situs Warisan Dunia”. Selain menghadiri acara festival tersebut Bapak Inspektur Jenderal KLHK yang didampingi oleh Bapak Kepala Balai Taman Nasional Lorentz berkesempatan untuk melempar tombak sebagai tanda dibukanya acara Festival Lembah Baliem Tahun 2017 yang ke-28. Setelah itu Bapak Inspektur Jenderal beserta rombongan melanjutkan kunjungan lapangan ke Kawasan Taman Nasional Lorentz di Danau Habema, berikut menikmati keindahan pemandangan disekitar Danau Habema yang menjadi ikon pariwisata alam kawasan Taman Nasonal Lorentz. Rasa takjub dan terkesan akan kekayaan dan panorama alam yang ada di kawasan Taman Nasional Lorentz diapreasi oleh Bapak Inspektur Jenderal dan jajarannya. Selain itu tidak lupa mengabadikan dalam sebuah foto dengan latar belakang keindahan panorama alam Danau Habema dan gugusan Pegunungan Jayawijaya. Sumber : Balai Taman Nasional Lorentz
Baca Berita

Pelepasan Peserta Jambore Nasional Konservasi Alam dalam Rangka HKAN 2017

Manado, 7 Agustus 2017. Bertempat di Kantor Balai Taman Nasional Bunaken, Kepala Balai Ir. Ari Subiantoro, MP melakukan pembinaan sekaligus melepas tim yang akan mengikuti jambore nasional konservasi alam dalam rangka Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN 2017) di Taman Nasional Baluran, Situbondo Jawa Timur. Tim yang diberangkatkan mengikuti jambore konservasi tersebut terdiri dari 2 orang kader konservasi dan 1 orang perwakilan kelompok masyarakat yang didampingi oleh 1 orang staf fungsional Pengendali Ekosistem Hutan. Pemilihan peserta jambore dari Taman Nasional Bunaken melalui seleksi yang ketat didasarkan pada keaktifan mereka dalam mengkampanyekan/aktifitas konservasi di lingkungan rumah tinggal mereka, aktifitas kegiatan tersebut dicatat dalam buku harian kegiatan kader konservasi yang dilengkapi dengan bukti dokumentasi berupa foto-foto kegiatan. Tim akan mengikuti jambore konservasi yang akan berlangsung mulai tanggal 8 sampai dengan 11 Agustus 2017 di Taman Nasional Baluran. Semoga dalam pelaksanaannya berjalan dengan lancar, dapat membawa diri, berbaur dan saling bertukar pengalaman dengan kader-kader konservasi dari seluruh Indonesia, serta dapat membawa nama baik Taman Nasional Bunaken. Sumber : Yuyun Saepul Uyun (PEH pada Balai Taman Nasional Bunaken)
Baca Berita

Pelepasan Tukik Penyu Lekang

Bali, 8 Agustus 2017. BKSDA Bali bersama Bendesa dan Prajuru Desa Adat Bugbug, Kepala Dusun, Pecalang, Polair serta masyarakat nelayan sekitar melaksanakan pelepasan tukik penyu lekang (Lepidochelys olivacea) sebanyak 87 ekor di Pantai Candidasa, Banjar Samuh, Desa Adat Bugbug, Kabupaten Karangasem, Bali. Pelepasan tukik diawali dengan kegiatan persembahyangan bersama. Adapun Tukik yang dilepas berasal dari penetasan telur di alam yang ditemukan masyarakat pada hari sebelumnya pada tanggal 7 Agustus 2017 pukul 19.43 WITA. Sumber : BKSDA Bali
Baca Berita

Evaluasi Dokumen SRAK Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan Periode 2007 - 2017

Bogor, 7 – 8 Agustus 2017 bertempat di Hotel Padjajaran Suites dilaksanakan pertemuan nasional untuk mengevaluasi dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan periode 2007-2017. Acara ini dibuka oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Ir. Bambang Dahono Adji, M.M., M.Si dan dihadiri oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan beberapa provinsi, UPT lingkup Ditjen KSDAE yang memiliki kawasan habitat gajah, LSM, Akademisi dan lembaga donor. Pada tahun 2012, International Union for Conservation of Nature (IUCN) menaikkan status Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dari genting (endangered) menjadi kritis (critically endangered). Berdasarkan data dari Forum Konsevasi Gajah Indonesia, pada tahun 2014 estimasi populasi gajah sumatera diperkirakan turun menjadi sekitar 1.720 ekor dari estimasi sekitar 2.400-2.800 ekor pada tahun 2007. Populasi gajah baik di Sumatera maupun di Kalimantan saat ini menghadapi berbagai ancaman yaitu berkurangnya luasan dan kualitas habitat, konflik dengan masyarakat dan perburuan serta perdagangan gading gajah. Kementerian Kehutanan bersama mitra LSM dan akademisi pada tahun 2007 telah menyusun dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan periode 2007-2017. Di dalam dokumen SRAK tersebut memuat Visi Misi, target dan strategi dalam upaya konservasi gajah di Indonesia. Evaluasi dokumen SRAK gajah tingkat regional dilaksanakan di 4 lokasi yaitu Sumatera bagian utara, Sumatera bagian selatan, Sumatera bagian tengah dan Kalimantan bagian Utara. Teknik evaluasi dan penyusunan dokumen SRAK melalui beberapa Focus Group Discussion (FGD) tingkat regional serta workshop nasional di tiap jenis data tematik dalam konservasi gajah tingkat tapak atau lansekap. Seluruh stakeholder dilibatkan dalam evaluasi dokumen SRAK ini. Evaluasi ini diharapakan dapat menjadi langkah awal menuju sinergitas upaya pembangunan dan konservasi gajah serta terbentuknya kesamaan visi dan misi diharapkan dapat mampu untuk membantu upaya konservasi gajah di Indonesia. Sumber : Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati
Baca Berita

BKSDA Sumatera Selatan melakukan Kegiatan Konsultasi Publik Rancangan Blok Suaka Margasatwa Isau-Isau

Lahat, 7 Agustus 2017. Bertempat di Hotel Grand Zuri Lahat pada tanggal 7 Agustus 2017 BKSDA Sumatera Selatan melakukan kegiatan Konsultasi Publik Rancangan Blok Suaka Margasatwa (SM) Isau-Isau. Kegiatan konsultasi publik ini melibatkan pihak-pihak yang terkait dan berkepentingan secara langsung maupun tidak langsung akan keberadaan kawasan yaitu BPKH Wilayah II Palembang, kepala desa dari 23 desa-desa yang berbatasan dengan kawasan (Desa Talang Akar, Desa Lubuk Bedaro, Desa Sukamerindu, Desa Perangai, Desa Lubuk Betung, Desa Geramat, Desa Lesung Batu, Desa Air Lingkar, Desa Danau, Desa Kupang, Desa Padang, Desa Germindar Ulu, Desa Germindar Ilir, Desa Merindu, Desa Penantian, Desa Durian Dangkal, Desa Lawang Agung, Desa Pagar Agung, Desa Tanah Abang, Desa Muara Emil, Desa Pagar Dewa, Desa Embawang, dan Desa Lubuk Nipis), camat dari 5 kecamatan (Kec. Merapi Selatan, Kec. Pagar Gunung, Kec. Mulak Ulu, Kec. Semende Darat Laut, dan Kec. Tanjung Agung), Bappeda Kabupaten Lahat dan Muara Enim, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Serasan Muara Enim, dan UPTD KPH Wilayah VIII Semendo. Dalam kegiatan ini BKSDA Sumatera Selatan memaparkan penataan zona pengelolaan taman nasional, blok pengelolaan cagar alam, suaka margasatwa, taman hutan raya, taman wisata alam, dan rancangan blok SM Isau-Isau sedangkan BPKH Wilayah II Palembang memaparkan proses penetapan kawasan sehingga diharapkan pihak-pihak yang terkait dengan keberadaan kawasan memahami arti penting potensi dan fungsi kawasan yang mendasari penyusunan rancangan blok untuk pengelolaan yang efektif dan efisien yang terbingkai oleh batas yang telah memiliki kepastian hukum karena status kawasan telah ditetapkan. Hasil dari kegiatan konsultasi publik bahwa pihak-pihak terkait menyepakati rancangan blok SM Isau-Isau dan menuangkannya secara tertulis dalam berita acara konsultasi publik yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dokumen rancangan blok. Para pihak yang mengikuti kegiatan ini berkomitmen untuk mendukung upaya BKSDA Sumatera Selatan dalam mengelola dan menjaga kawasan SM Isau-Isau untuk tetap tetap lestari dalam koridor kelola ruang yang tertuang pada rancangan blok yang telah disampaikan dalam kegiatan konsultasi publik ini.
Baca Berita

Pelatihan Pertanian Terintegrasi Program Restorasi Jagafoppta Bersama TN Matalawa

Waingapu, 7 Agustus 2017, Guna mengoptimalkan lahan dan potensi alam yang tersedia, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (MATALAWA) bekerja sama dengan program Restorasi JAGAFOPPTA Sumba melakukan pelatihan pertanian terintergrasi. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 5 s.d. 8 Agustus 2017 di salah satu site restorasi Desa Manurara kecamatan Katikutana Selatan kabupaten Sumba Tengah NTT. Peserta kegiatan ini berjumlah 25 orang peserta yang berasal dari masyarakat desa sekitar kawasan TN Matalawa dan juga berdekatan dengan site restorasi diantaranya ; Desa Okawacu, Desa Waimanu dan Desa Tanggairi. Bentuk kegiatan berupa penyampaian materi dan praktek yang sangat aplyable / mudah dilakukan, praktis, ekonomis dan efisien. Salah satu latar belakang terlaksananya kegiatan ini, menurut perwakilan program Restorasi JAGAFOPPTA Sdri. Desi Tarani adalah Program pemberdayaan masyarakat Restorasi JAGAFOPPTA melalui pengembangan potensi peternakan (sapi dan babi) dan pengolahan lahan-lahan pertanian serta perikanan air tawar belum berjalan optimal. Hal ini disebabkan rendahnya pengetahuan masyarakat terkait pelaksanaan program tersebut, sehingga hasil yang diharapkan dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat masih belum tercapai. Pembukaan acara ini dihadiri kepala SPTN Wilayah I Waibakul (Abdul Basit Nasriyanto, S.Hut.,M.Sc ) Selaku perwakilan TN Matalawa dan dihadiri pula Koramil 05 Anakalang- Sumba tengah (kapten infanteri Nur Hadi). Pada acara pembukaan tersebut Kepala SPTN Wilayah I Waibakul mengatakan kegiatan ini akan sia-sia apabila masyarakat tidak menjaga hutannya. Karena dengan hutan yg rusak maka kekeringan dan bencana lainnya akan mengancam, maka upaya pelestarian alam dan lingkungan perlu terus dilaksanakan, sehingga bencana alam tersebut dapat diminimalisir. Sementara komandan Koramil 05 Anakalang berpesan Tentara Nasional Indonesia (TNI) turut bertanggung jawab terhadap keamanan secara keseluruhan termasuk keamanan terhadap kawasan hutan, jadi jangan coba-coba masyarakat atau pihak-pihak tertentu yang menganggu dan merusak hutan (menebang pohon, membakar, berburu) Karena akan berhadapan dengan TNI. Narasumber kegiatan pelatihan ini berasal dari Akademisi Universitas Sanata Dharma Jogjakarta. Dengan materi yang disampaikan pengelolaan lahan pertanian terintegrasi, melalui program pengembangan Biogas. Sebagai informasi Desa Manurara telah memiliki demplot pengembangan ternak, Demplot Kolam ikan dan Lahan pertanian terpadu. Sehingga pelatihan ini cukup potensial untuk dilaksanakan dan dapat dijadikan area model untuk program pemberdayaan masyarakat diwilayah lainnya. Sumber: BTN Matalawa
Baca Berita

Tim Satgas Giatkan Pemadaman Karhutla di Pulau Sumatera dan Kalimantan

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Minggu, 6 Agustus 2017. Berdasarkan laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), pantauan hotspot di seluruh Indonesia per tanggal 6 Agustus 2017 pukul 20.00 WIB, Satelit NOAA19 menunjukkan terdapat 1 hotspot yang terlihat di Provinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan data satelit TERRA/AQUA (NASA) dengan confidence level ≥80% menunjukkan adanya 6 hotspot, yang tersebar di Provinsi Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan. Adapun 5 hotspot terlihat berdasarkan data TERRA/AQUA (LAPAN), yaitu di Provinsi Riau dan Sumatera Selatan. Pada hari sebelumnya per tanggal 5 Agustus 2017 di waktu yang sama, di seluruh Indonesia tercatat 14 hotspot oleh satelit NOAA19, 41 hotspot tercatat oleh satelit TERRA/AQUA (NASA) dan 46 hotspot tercatat oleh satelit TERRA/AQUA (LAPAN). Total hotspot berdasarkan satelit NOAA19 per 1 Januari s/d 6 Agustus 2017 dilaporkan sebanyak 1.341 hotspot. Sedangkan catatan pada tahun 2016 untuk periode yang sama, yaitu sebanyak 1.233 hotspot. Terdapat kenaikan jumlah hotspot sebanyak 108 titik atau sebesar 8,75%. Sementara itu, total titik hotspot per 1 Januari s/d 6 Agustus 2017 TERRA/AQUA (NASA), dengan confidence level ≥80% sebanyak 328 hotspot. Pada periode yang sama tahun 2016 terdapat titik hotspot sebanyak 2.137 hotspot, maka saat ini terjadi penurunan jumlah hotspot sebanyak 1.809 hotspot atau sebesar 84,65%. Menindaklanjuti data pantauan hotspot, Tim Satgas Karhutla terus melakukan groundcheck, dan upaya pemadaman juga dilakukan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan (06/07/2017). Lokasi kebakaran tersebut diketahui berada di Dusun Podo Rukun, Desa Tanjung Mulia, Kecamatan Kampung Rakyat, dengan luas kebakaran 30 Ha dan status lahan masyarakat. Sampai saat ini, proses pemadaman masih berlangsung. Pemadaman juga terus dilakukan di Provinsi Riau, yaitu di Desa Karya Indah (Kecamatan Tapung), seluas ±1,5 Ha, Desa Rimbo Panjang (Kecamatan Tambang), seluas ±0,5 Ha, dan Desa Tarai Bangun (Kecamatan Tambang), seluas ±0,5 Ha , dimana keseluruhan lokasi berada di Kabupaten Kampar. Sebanyak 37 personil dikerahkan, yang terdiri dariTNI, Polisi, Manggala Agni, BPBD, Damkar dan Masyarakat Peduli Api. Tidak ketinggalan, dua helikopter BNPB diturunkan untuk water bombing. Di Jambi, pemadaman dilakukan di Desa Lagan Ulu, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dan telah dilaporkan bahwa api sudah berhasil dipadamkan sampai sore tadi. Adapun luas lahan yang terbakar sekitar 9 Hektar, dengan vegetasi semak belukar dan sawit. Sementara itu, untuk menanggulangi karhutla di Provinsi Sumatera Selatan, telah dilakukan water bombing sebanyak 7 sorti dengan total air yang diturunkan sebesar 946.100 liter. Begitu pula halnya dengan di Kalimantan Barat, sampai saat ini water bombing dan upaya pemadaman melalui darat terus berlangsung di beberapa lokasi. Kepala Biro Humas KLHK, Djati Witjaksono menyampaikan bahwa selain upaya pemadaman, Tim Satgas Karhutla juga terus melakukan patroli terpadu, dan sosialisasi pada lokasi-lokasi rawan karhutla. “Sampai dengan tanggal 6 Agustus 2017, luas areal kebakaran hutan dan lahan yang ditangani oleh Manggala Agni telah mencapai 4.509,121 Ha”, terang Djati. (***)
Baca Berita

Operasi Penertiban TSL di Yogyakarta

Yogyakarta 7 Agustus 2017, Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum KLHK Wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara (Gakkum Jabalnusra) bekerjasama dengan Balai KSDA Yogyakarta, POLDA DIY dan Pemerhati Satwa COP (Center of Orangutan Protection) pada hari Jum’at 4 Agustus 2017 melakukan Operasi Penertiban Peredaran TSL di wilayah Yogyakarta berhasil mengamankan 1 (satu) orang pelaku berinisial W warga Banguntapan Bantul, serta belasan satwa liar yang dilindungi dalam keadaan hidup dan satu bagian satwa dilindungi antara lain : 5 (lima) ekor Kucing hutan (Felis bengalensis); 2 (dua) ekor Jelarang (Ratufa bicolor); 1(satu) ekor Trenggiling (Manis javanica); 1(satu) ekor Binturung (Arctictis binturong); 1(satu) ekor Alap-alap (Accipitridae); 1(satu) ekor Landak (Hystrix Sp); 1(satu) ekor Garangan Jawa (Herpestes javanicus); dan 1 (satu) lembar Kulit kancil. Modus peredaran TSL dengan jual beli secara online melalui media sosial (BBM/facebook). Pembeli mentransfer sejumlah uang sebagaimana harga yang disepakati dan selanjutnya penjual mengirimkan TSL melalui biro jasa pengiriman barang. Proses penyidikan dilakukan oleh PPNS Balai Gakkum wilayah Jabalnusra, saat ini pelaku ditahan di POLDA DIY dan barang bukti dititiprawatkan di Wildlife Rescue Center di Pengasih, Kulonprogo, Yogyakarta sampai pemberkasan lengkap dan dilimpahkan ke kejaksaan. Pelaku akan dijerat UU No. 5 Tahun 1990 tentang KSDAE pasal 40 ayat (2) Jo pasal 21 ayat (2) huruf a dan d, dengan ancaman paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah). Sumber : Purwanto S.H, Polhut Muda Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Peringati HKAN , TN Kutai Gelar Lomba ”Kutai Wana Rally” Ke XI Se-Kalimantan Timur

Kutai, 07 Agustus 2017, Peringati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2017, Balai Taman Nasional Kutai bekerjasama dengan Mitra Taman Nasional Kutai menyelenggarakan lomba lintas alam “Kutai Wana Rally (KWR) XI Taman Nasional Kutai Tahun 2017. KWR merupakan acara tahunan Balai Taman Nasional Kutai yang sempat vakum dan baru dilaksanakan kembali pada tahun 2017. Lomba ini dilaksanakan pada tanggal 5 Agustus 2017 di Objek Wisata Alam Sangkima Jungle Park dan didukung oleh PT. KITA, PT. Indominco Mandiri, PT. Pertamina, PT. Mahakam Sumber Jaya, PT. Wahana Agro Berjaya, Cv. Rizki Fadillah, Bank Kaltim cabang Bontang, HS Consultant, PT. Gaya Prima, CV. Sumber Mustika, Cv. Berkat Kawan & Co, CV. Rimba Raya Perdana, PT. Santan Batubara, Koperasi Mutiara Prima, AUTO 2000 Bontang, Ovalmart Sangatta, Golden Cell, RAKATA Adventure, PT. Desindo Agri Mandiri, UTDC RS PKT, TRUST, dan RSUD Taman Husada Bontang. Kegiatan Kutai Wana Rally XI Tahun 2017 yang bertema “Pohon” dan sub tema “Tanam, Jaga dan Rawat Bersama” bertujuan untuk: 1) memperkenalkan dan mempromosikan objek wisata alam Sangkima Jungle Park Taman Nasional Kutai sekaligus mendukung pariwisata Kabupaten Kutai Timur; 2) meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan; 3) mengasah pribadi yang selalu siap mehadapi tantangan; 4) meningkatkan solidaritas dan kerjasama; 5) menjadikan Kutai Wana Rally sebagai icon kegiatan rutin Taman Nasional Kutai setiap tahunnya; 6) menumbuhkan rasa kecintaan masyarakat terhadap konservasi khususnya Taman Nasional Kutai dengan melakukan perjalanan lintas alam sembari mengamati dan mengenali isi Taman Nasional Kutai. Kegiatan lomba ini melibatkan panitia dari luar TN Kutai seperti BNPB Kabupaten Kutai Timur, RAPI, RSUD Kota Bontang, Kader Konservasi, Saka Wana Bhakti, PMI Kota Bontang dan Kutai Timur, dan Tim SAR Indominco Mandiri. Secara antusias, lomba ini diikuti oleh 125 tim peserta, dimana masing-masing tim terdiri dari 4 orang pesserta yang berasal dari 4 kabupaten/kota se-provinsi Kalimantan Timur. Peserta berkompetisi memperebutkan piala bergilir Bupati Kutai Timur, dan totalhadiah sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) serta berbagai macam doorprize. Adapun rute lomba dirasakan peserta relatif sangat menantang dengan panjang ± 7 km melewati jalur darat dan sungai, bukit, boardwalk dan jembatan gantung di Sangkima Jungle Park. Lomba ini dihadiri dan dibuka oleh Bapak Bupati Kutai Timur, Ir. H. Ismunandar, MT. Lomba ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Kutai Timur, Muspida Kabupaten Kutai Timur, Ketua OC Mitra Taman Nasional Kutai, Polres Kutai Timur, Kodim 0909 Sangatta, Pimpinan perusahaan dan sponsorship. Dalam sambutannya, Bupati Kutai Timur Bapak Ir. H. Ismunandar, MT. menyatakan agar keberadaan Taman Nasional Kutai bisa memberikan manfaat untuk masyarakat sekitar. Kita ingin memanfaatkan TN Kutai bukan untuk dirambah tetapi bagaimana kita berusaha untuk menarik wisatawan untuk datang ke Taman Nasional Kutai sehingga masyarakat sekitar bisa memperoleh hasilnya. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Bupati Kutai Timur dengan didampingi Kepala Balai TN Kutai dan tamu undangan secara simbolis menanam salah satu pohon langka Kalimantan yaitu ulin (Eusideroxylon zwageri). Adapun Bapak Wakil Bupati Kutai Timur, Kasmidi Bulang, ST., MM. melepasliarkan satwa kukang (Nycticebus caucang). Disela-sela perlombaan, Bapak Wakil Bupati dan Muspida Kabupaten Kutai Timur berkesempatan meninjau jalur tracking di objek wisata Sangkima Jungle Park untuk melihat pohon ulin terbesar di dunia dengan didampingi petugas Balai TN Kutai. Pada akhir perlombaan, dilakukan pemberian hadiah dan doorprize. Berdasarkan hasil penjurian yang dilakukan oleh panitia, juara I lomba KWR XI Taman Nasional Kutai Tahun 2017 diraih oleh tim Huru Hara BBC, Juara 2 diraih tim Sangatta Playon 3, Juara 3 Kelurahan loktuan 1, juara 4 oleh tim Indominco Mandiri A dan juara 5 diraih oleh tim kompak 5. Selamat untuk para pemenang dan kepada selruh peserta semoga mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dan menjadi agen konservasi TN Kutai. Sumber: BTN Kutai
Baca Berita

Konsultasi Publik Rancangan Blok Suaka Margasatwa Isau-Isau

Lahat, 7 Agustus 2017. Bertempat di Hotel Grand Zuri Lahat pada tanggal 7 Agustus 2017 BKSDA Sumatera Selatan melakukan kegiatan Konsultasi Publik Rancangan Blok Suaka Margasatwa (SM) Isau-Isau. Kegiatan konsultasi publik ini melibatkan pihak-pihak yang terkait dan berkepentingan secara langsung maupun tidak langsung akan keberadaan kawasan yaitu BPKH Wilayah II Palembang, kepala desa dari 23 desa-desa yang berbatasan dengan kawasan (Desa Talang Akar, Desa Lubuk Bedaro, Desa Sukamerindu, Desa Perangai, Desa Lubuk Betung, Desa Geramat, Desa Lesung Batu, Desa Air Lingkar, Desa Danau, Desa Kupang, Desa Padang, Desa Germindar Ulu, Desa Germindar Ilir, Desa Merindu, Desa Penantian, Desa Durian Dangkal, Desa Lawang Agung, Desa Pagar Agung, Desa Tanah Abang, Desa Muara Emil, Desa Pagar Dewa, Desa Embawang, dan Desa Lubuk Nipis), camat dari 5 kecamatan (Kec. Merapi Selatan, Kec. Pagar Gunung, Kec. Mulak Ulu, Kec. Semende Darat Laut, dan Kec. Tanjung Agung), Bappeda Kabupaten Lahat dan Muara Enim, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Serasan Muara Enim, dan UPTD KPH Wilayah VIII Semendo. Dalam kegiatan ini BKSDA Sumatera Selatan memaparkan penataan zona pengelolaan taman nasional, blok pengelolaan cagar alam, suaka margasatwa, taman hutan raya, taman wisata alam, dan rancangan blok SM Isau-Isau sedangkan BPKH Wilayah II Palembang memaparkan proses penetapan kawasan sehingga diharapkan pihak-pihak yang terkait dengan keberadaan kawasan memahami arti penting potensi dan fungsi kawasan yang mendasari penyusunan rancangan blok untuk pengelolaan yang efektif dan efisien yang terbingkai oleh batas yang telah memiliki kepastian hukum karena status kawasan telah ditetapkan. Hasil dari kegiatan konsultasi publik bahwa pihak-pihak terkait menyepakati rancangan blok SM Isau-Isau dan menuangkannya secara tertulis dalam berita acara konsultasi publik yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dokumen rancangan blok. Para pihak yang mengikuti kegiatan ini berkomitmen untuk mendukung upaya BKSDA Sumatera Selatan dalam mengelola dan menjaga kawasan SM Isau-Isau untuk tetap tetap lestari dalam koridor kelola ruang yang tertuang pada rancangan blok yang telah disampaikan dalam kegiatan konsultasi publik ini. Sumber : BKSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Penyerahan Kucing Langka dan si "Pemalu”ke BBKSDA Jawa Barat

Bandung, 7 Agustus 2017 - Sebagai salah satu kota besar di pulau jawa, Bandung termasuk kota yang memiliki gaya hidup yang metropolis. Banyak kaum hedonis yang hidup di Kota Bandung yang hanya memikirkan kesenangannya belaka. Dengan memiliki sesuatu yang langka hanya karena ingin berbeda orang kebanyakan akan merasa dirinya lebih dari manusia biasa. Tanpa melihat apakah yang dilakukannya benar atau tidak dimata hukum positif Indonesia seorang berkebangsaan Korea memberikan seekor kucing hutan (Felis bengalensis) peliharaannya kepada supirnya entah dengan tujuan apa. Namun sang supir memberikan peliharaan majikannya itu kepada Gugi Yudhadilaga pada tanggal 25 Juli 2017 lalu. Mengetahui bahwa kucing pemberian tersebut merupakan satwa langka yang dilindungi undang-undang Gugi akhirnya mencari informasi kemana dia bisa menyerahkan kucing tersebut. Akhirnya Gugi yang merupakan warga Desa Cicalengka Kulon Kabupaten Bandung pada tanggal 7 Agustus 2017, tepat di jam 10.00 wib menyerahkan satwa yang statusnya terancam punah tersebut ke Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL Balai Besar KSDA Jawa Barat. Di hari yang sama Asep Priatna seorang warga Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung juga menyerahkan seekor kukang ( Nycticebus sp) yang diperolehnya dari salah satu pelanggan toko kelontong di Majalaya Kabupaten Bandung. Satwa yang sempat dibawa ke tempat kerjanya tersebut diketahui rekan kerja Asep merupakan jenis satwa yang dilindungi undang – undang dan disarankan agar diserahkan ke BBKSDA Jawa Barat. Berkat bantuan internet Asep menemukan alamat Kantor BBKSDA Jawa Barat di Jalan Gede Bage Selatan dan menyerahkan kukang tersebut pada pukul 18.00 wib Sambil menunggu pemeriksaan kesehatan, kucing langka dan kukang tersebut diamankan di kantor BBKSDA Jawa Barat yang selanjutnya akan dievakuasi dan direhabilitasi di Lembaga Konservasi. Dengan diserahkannya kucing dan kukang tersebut, hal ini menunjukkan bahwa semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian satwa di alamnya sekaligus mencerminkan peningkatan kepatuhan masyarakat terhadap hukum yang berlaku. Sumber: BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

Sosialisasi Capaian Reformasi Birokasi Pada Balai Taman Nasional Lorentz

Wamena, 07 Agustus 2017. Dalam rangka reformasi birokasi lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam hal ini Inspektorat Jenderal Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengadakan Sosialisasi Capaian Reformasi Birokasi pada Lingkup Balai Taman Nasional Lorentz (BTN Lorentz), Kegiatan sosialisasi tersebut bertujuan untuk meningkatan dan menambah pengetahuan dalam Birokasi serta dalam pengawasan internal satuan kerja. Adapun yang menjadi Narasumber adalah Bapak Inspektur Jenderal KLHK, Bapak Sekertaris Inspektorat Jenderal KLHK dan Bapak Inspektur Wilayah III KLHK. Selain itu hadir pula Bapak Kepala Balai Besar KSDA Papua dan Kepala Sub Bagian Umum BBKSDA Papua. Kepala Balai Taman Nasional Lorentz dalam sambutannya menyampaikan bahwa dalam kunjungan Bapak Inspektur Jenderal KLHK beserta rombongan menjadi kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi Kepala Balai Taman Nasional Lorentz beserta jajarannya serta berterimakasih telah datang ke BTN Lorentz, selain itu disampaikan profil pengelolaan BTN Lorentz dan permasalahan berikut upaya capaian yang telah dilakukan. Dalam sambutan sekaligus membuka acara Bapak Inspektur Jenderal Imam Hadargo Abu Ismoyo mengatakan ada 3 (tiga) hal dalam organisasi yang baik yaitu : Status Lembaga, Sumber Daya Manusia yang cukup memadai dan pendanaan. Lebih lanjut Bapak Inspektur Jenderal mengatakan bahwa Taman Nasional dalam hal ini Direktorat Jenderal KSDAE merupakan ujung tombak KLHK sehingga harus ada dukungan atau suport dalam pengelolaannya. Adapun materi yang disampaikan dalam kegiatan sosialisasi reformasi birokasi ini adalah Kebijakan Pengawasan Pencegahan Korupsi dan Gratifikasi, Sosialisasi Capaian Reformasi Birokasi dan Sosialisasi PemenLHK P.10/Menlhk/Setjen/Kum-1/1/2017 tentang pedoman penanganan benturan kepentingan di lingkungan LHK. Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan factor yang penting dalam pengelolaan suatu organisasi serta berperan sebagai penggerak roda organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, sehingga dengan adanya sosialisasi tersebut para pegawai di harapkan pelaksanaan reformasi birokasi bisa dilaksanakan dengan baik. Kegiatan Sosialisasi Capaian Reformasi Birokasi pada Lingkup Balai Taman Nasional Lorentz diakhiri dengan foto bersama dengan Bapak Inspektur Jenderal KLHK, Bapak Sekertaris Inspektorat Jenderal KLHK, Bapak Inspektur Wilayah III KLHK, Bapak Kepala Bagian ALHP, Bapak Kepala BBKSDA Papua dan Kepala Balai Taman Nasional Lorentz beserta jajarannya. Sumber : Balai Taman Nasional Lorentz

Menampilkan 10.209–10.224 dari 11.141 publikasi