Selasa, 2 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

HKAN 2017 Provinsi Nusa Tenggara Timur di TWA Camplong

Kupang, 10 Agustus 2017. Melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2009, 10 Agustus ditetapkan sebagai Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN). Tahun 2017 merupakan peringatan HKAN yang ke delapan. Sejak ditetapkan, setiap tahun Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur (BBKSDA NTT) selalu menyelenggarakan peringatan HKAN dengan rangkaian acara : upacara bendera, kegiatan bersih lingkungan dan pelepasan satwa ke alam. Peringatan HKAN Tahun 2017 Provinsi NTT dilaksanakan di TWA Camplong, Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang. Acara ini dilakukan dengan tujuan antara lain sebagai ajang publikasi kegiatan konservasi, edukasi terhadap masyarakat sekitar kawasan khususnya TWA Camplong serta sebagai ajang promosi wisata TWA Camplong. Lokasi ini dipilih karena letaknya yang cukup strategis yaitu di jalan trans timor yang menghubungkan beberapa kota di Nusa Tenggara Timur termasuk negara Timor Leste dengan jarak tempuh 47 km dari Kota Kupang. TWA Camplong memiliki daya tarik wisata berupa vegetasi hutan alam dengan udara yang segar, mata air, kolam pemandian, bumi perkemahan, gua alam dan beberapa jenis satwa liar yaitu burung-burung dan reptil. Terdapat beberapa kandang di sekitar lokasi kolam Oenaek yang dihuni ular sanca (Phyton reticulatus) dan buaya muara (Crocodylus Porossus). Obyek wisata ini dilengkapi beberapa fasilitas umum diantara : shelter, MCK, bangunan aula serbaguna dengan kapasitas sekitar 50 orang serta bumi perkemahan. Peringatan HKAN 2017 ini diikuti sejumlah 210 peserta yang berasal dari semua UPT Lingkup KLHK Se-Kota Kupang, Dinas Kehutanan serta Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTT, tokoh masyarakat dan pemerintah setempat, TNI-POLRI, MMP, perwakilan dari perguruan tinggi (Universitas Nusa Cendana, Universitas Katholik Widya Mandira, Politeknik Pertanian Negeri Kupang), Pramuka Saka Wanabakti NTT, kader konservasi dan kelompok pencinta alam serta stakeholder terkait lainnya. Upacara dilanjutkan dengan pelepasan satwa secara simbolis oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup NTT berupa burung Cikukua Tanduk (Philemon buceroides) dan Cikukua Timor (Philemon inornatus) serta aksi bersih lokasi wisata di sekitar Kolam Oenaek.
Baca Berita

Pelepasliaran Satwa Liar Dan Penanaman Bibit Bersama Oleh Bbksda Papua

Nabire, 10/8/2017. HUT kemerdekaan RI ke 72 diisi oleh Bidang KSDA Wilayah II dengan beberapa kegiatan konservasi SDA dan E bersama para pihak sebagaimana semangat kerja bersama yang dikumandangkan oleh Presiden RI. Rangkaian kegiatan di mulai pada tanggal 7 Agustus 2017 dengan penyerahan sukarela satwa liar dilindungi endemis Papua oleh masyarakat kampung Airmadidi pada pembukaan acara festival budaya di pantai monalisa Nabire yang disaksikan oleh Masyarakat, perwakilan Polri, TNI, Basarnas, Pemerintah Distrik dan Karantina Tumbuhan dan Hewan Kelas I Biak. Satwa liar dilindungi tersebut kemudian dilakukan pemerikasaan kesehatan oleh Karantina Tumbuhan dan Hewan Kelas I Biak dan dinyatakan sehat dan pergerakan aktif sehingga beberapa hari kemudian dilakukan pelepasliaran ke habitatnya di sekitar hutan CA Tanjung Wiay. Kegiatan Pelepasliaran dilakukan pada tanggal 9 Agustus 2017 bersama-sama masyarakat dan instansi terkait serta Komunitas Motor Nabire yang didukung juga oleh PT Jati Dharma Paywood Industries yang terlebih dahulu diisi dengan sosialisasi oleh Bidang KSDA Wil II Nabire dan Kepala Kampung Airmadidi. Kegiatan ini menjadi salah satu wadah kampanye penyelamatan satwa liar yang dilindungi yang efektif dan dapat mengumpulkan lebih dari 100 orang di lokasi pelepasliaran. Satwa yang dilepasliarkan berupa 2 ekor Kasuari, 4 ekor mambruk, 1 ekor Bayan dan 1 ekor kanguru tanah. Dampak dari kampanye tersebut, pada tanggal 10 Agustus 2017, Bidang KSDA Wil II Nabire juga mendapatkan penyerahan 20 ekor tukik penyu sisik dari masyarakat dan langsung dilepasliarkan bersama masyarakat adat, instansi terkait dan siswa SMK N Nabire di Pantai TWA Nabire. Pada tanggal 11 Agustus 2017 dilanjutkan dengan penanaman bibit matoa dan kayu besi pantai di TWA Nabire yang dilakukan bersama-sama dengan pemilik hak ulayat TWA Nabire, Bpk Konstan Waray, pemerintah kampung dan pengunjung TWA Nabire. Bibit yang ditanam tersebut adalah hasil pembibitan PT Jati Dharma Indah Playwood Industries Nabire. Rangkaian kegiatan tersebut merupakan kerja bersama antara Bidang KSDA Wil II Nabire, Masyarakat Kampung Airmadidi, Pemangku Adat suku Wate, Instansi terkait, kelompok Wisata WASALAMBORE TWA Nabire dan PT Jati Dharma Indah Playwood Industries Nabire. Arahan dari Kepala Bidang KSDA Wilayah II Nabire, Irwan Efendi, S.Pi., M.Sc bahwa “dengan kegiatan ini semoga satwa liar dilindungi yang dilepasliarkan dapat merasakan kemerdekaannya di habitatnya dan alam Papua tetap hijau……MERDEKA !!!! Sumber Info : Irwan Efendi, S.Pi., M.Sc (Kepala Bidang KSDA Wilayah II Nabire BBKSDA PAPUA)
Baca Berita

Duh! Pembakar Lahan Beraksi Kembali

Asap hitam membubung tinggi di salah satu hamparan tanah milik penduduk Desa Mendawai Seberang, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, pada Kamis (10/08/2017). Dengan sigap anggota Manggala Agni bersama-sama dengan personil dari Polres Kobar, Kodim 1014 Pangkalanbun, BNPB, Satgasdamkar Kobar, KPHP, Taruna Siaga Bencana serta Masyarakat Peduli Api meluncur ke lokasi setelah ada laporan kejadian pembakaran tersebut. Api berhasil dikendalikan setelah seluruh personil berjibaku selama sekitar satu jam. Sementara itu 2 orang pelaku pembakar hutan telah diamankan pihak Polres untuk dimintai keterangan. Skenario simulasi kebakaran tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan Apel Siaga Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017 yang dipimpin langsung oleh Bupati Kotawaringin Barat Hj. Nurhidayah, S.H, M.H. Selain Manggala Agni Daops Pangkalan Bun, Instansi terkait di Kabupaten Kotawaringin Barat diantaranya Balai Taman Nasional Tanjung Puting, BKSDA SKW II Pangkalan Bun, Polres Kotawaringin Barat, Kodim 1014 Pangkalanbun, BNPB, Satgasdamkar Kobar, KPHP, Taruna Siaga Bencana serta Masyarakat Peduli Api menunjukkan kesiapannya dalam menghadapi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat. Sumber : Taman Nasional Tanjung Puting
Baca Berita

Semarak Balai KSDA Sumsel Dalam Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2017

Palembang, 10 Agustus 2017. Kesejukan alam diantara pepohonan di dalam hutan, memberikan keteduhan syahdu menambah antusias menyemarakkan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2017. Peringatan HKAN 2017 dengan tema “Konservasi Alam – Konservasi Kita” di Provinsi Sumatera Selatan diisi dengan beberapa kegiatan yang terdiri dari apel peringatan HKAN 2017 dan wisata edukasi di Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu. Apel peringatan HKAN 2017 dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2017 dengan diikuti oleh pegawai lingkup Balai KSDA Sumatera Selatan dan peserta kegiatan wisata edukasi. Acara ini dilanjutkan dengan pelepasliaran burung agar kembali ke alam bebas sebagai simbol kepedulian terhadap konservasi alam. Gambar Pelepasliaran burung kembali ke alam bebas Kegiatan wisata edukasi di TWA Punti Kayu dilaksanakan selama 2 (dua) hari pada tanggal 9 sampai 10 Agustus dengan berkemah. Kegiatan ini diikuti oleh pelajar tingkat SD sebanyak 60 (enam puluh) siswa/i kelas 5 dan 6 yang berasal dari SDIT Bina Ilmi dan SDIT Auladi. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk kampanye konservasi alam secara menyenangkan, atraktif, dan edukatif sebagai upaya pengembangan wisata edukasi di TWA Punti Kayu. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya kapasitas ilmu pengetahuan bagi pelajar melalui wisata dan belajar konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya sebagai pengalaman rekreatif yang diperoleh di TWA Punti Kayu. Selain itu, kegiatan ini menjadi momentum untuk menggalang semangat dan motivasi peserta untuk sadar konservasi, berperan aktif menyelamatkan alam dari berbagai ancaman yang dapat merusak ekosistem. Sumber : BSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Tertarik Mengadopsi SMART Patrol, Pemerintah Malaysia Kirim 2 Wildlife Rangers Ke TNBBS

Kotaagung, 10 Agustus 2017. “Kita memiliki pengalaman yang panjang dalam mengelola kawasan konservasi, dan kita lebih baik, saatnya mereka (Negara lain red.) belajar mengelola kawasan konservasi dengan kita”. Hal ini disampaikan oleh Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc pada kegiatan Workshop Data dan Informasi tanggal 24 – 27 Juli 2017 di Manggala Wana Bakti beberapa minggu lalu. Hari Selasa tanggal 8 Agustus 2017, Balai Besar TNBBS mendapat kunjungan 2 Wildlife Rangers dari Pemerintah Malaysia (Department Of Wildlife And National Parks Peninsular Malaysia). Ini merupakan tindak lanjut dari Surat Direktur Institute of Biodiversity (IBD) Department Of Wildlife And National Parks (DWNP) Peninsular Malaysia yang ditujukan kepada Kepala Balai Besar TNBBS. IBD DWNP adalah Lembaga Negara Malaysia yang merupakan Pusat Pendidikan dan Pelatihan untuk seluruh staff yang menangani Pengelolaan Kawasan Lindung, Penegakan Hukum, Konservasi eksitu dan insitu, Kebun Binatang, dll. Mereka menyampaikan ketertarikannya untuk mempelajari SMART Patrol yang diaplikasikan di dalam pengelolaan TNBBS. Selain itu, mereka juga akan melakukan studi banding (field trip) ke Pusat Penelitian Way Canguk TNBBS yang dikelola oleh Wildlife Conservation Society – Indonesia Program (WCS – IP). “Pelaksanaan SMART Patrol di tempat kami masih baru, TNBBS lebih advance, lebih lama. Kompilasi data yang komplit dari segi kawasan, cobaan dan masalah. Kami mau belajar, supaya kalau ada yang baik kami aplikasi di tempat Kami, kadang – kadang kita merasa yang kita buat bagus, tetapi ada yang lebih bagus dari Kita, tidak salah kalau kita belajar dari orang yang lebih advance”, ujar Khairul Zamri, Wildlife Ranger dari Taman Negara Pahang. Short Training Programme At Bukit Barisan Selatan National Park dilaksanakan selama 10 hari, dari tanggal 6 s.d. 15 Agustus 2017. Peserta yang merupakan Ranger dari Taman Negara Pahang dan Taman Negara RAMSAR, Malaysia mendapatkan Kursus Peningkatan Keberkesanan Rondaan menggunakan sistem SMART di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, dengan Instruktur dari BBTNBBS dan WCS-IP yang telah mengikuti TOT SMART Pusdiklat KLHK. Experience is a good teacher. Sharring knowledge to be SMART for better wildlife management. Sumber : Kehumasan BBTN BBS
Baca Berita

Penyelamatan Orangutan oleh Tim Satuan Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat

Ketapang Kalbar, 10 Agustus 2017. Tim Satuan Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar Balai KSDA Kalimantan Barat melalui Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bekerjasama dengan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) yang berkedudukan di Kabupaten Ketapang, telah melakukan penyelamatan satwa jenis Orangutan (Pongo pygmaeus) di lokasi kebun milik masyarakat di Jalan Kebun lestari, Desa Kalibaru, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang. Lokasi penyelamatan ada pada Titik Koordinat S 01 42` 13. 53", E 110 02' 68. 61". Penyelamatan satwa Orangutan tersebut didasarkan atas laporan warga Desa Kalibaru Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang seminggu sebelum dilakukan rescue, berdasarkan keterangan warga satwa Orangutan tersebut masuk ke kebun dan memakan tanaman tebu milik warga, saat itu telah dilakukan penghalauan dan upaya untuk mengembalikan Orangutan tersebut masuk ke hutan sekitar kebun. Dari keterangan warga tersebut, Balai KSDA Kalimantan Barat melalui Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama Yayasan IAR Ketapang melakukan pengecekan dan pengamatan ke lapangan. Dari hasil pengamatan terlihat kondisi satwa masih agresif dan liar, dan akhirnya berdasarkan diskusi tim dan juga tim medis dari Yayasan IAR Ketapang disepakati untuk dilakukan resque mengingat keberadaan Orangutan tersebut sudah tidak nyaman dikarenakan ada indikasi terancam keselamatannya dan mengurangi kemungkinan terjadinya konflik antar Orangutan tersebut dengan masyarakat sekitar. Rescue dilakukan dengan menggunakan metode pembiusan (sesuai dengan SOP) terhadap satwa yg masih liar dan agresif, dari hasil resque dan setelah dilakukan identifikasi didapat bahwa Orangutan tersebut berjenis kelamin Jantan dengan umur diperkirakan 17 (tujuh belas) Tahun dengan kondisi sehat dan masih liar sehingga ada kemungkinan dalam waktu dekat akan dilakukan trans lokasi/pelepas liaran di lokasi yang ditetapkan/ditunjuk untuk lokasi pelepas liaran Orangutan di kabupaten Ketapang. Sebagai dasar administrasi kelengkapan berkas satwa Orangutan tersebut tim memberikan nama Orangutan tersebut ABUN, hal ini dilakukan untuk memudahkan pencatatan riwayat satwa tersebut. Dapat kami sampaikan bahwa satwa Orangutan tersebut diatas merupakan hasil rescue yang ke 4 (empat) di habitat aslinya di tahun 2017. Upaya penyelamatan terhadap satwa Orangutan ini bertujuan untuk meningkatkan kelestarian satwa di habitat alamnya, dikarenakan keberadaan Orangutan sangat bergantung pada habitat alamnya yaitu hutan, seperti kita ketahui bahwa hilangnya hutan tropis merupakan ancaman utama bagi Orangutan. Dengan cepatnya laju pembukaan hutan maka kelangsungan daya hidup orangutan dalam jangka panjang menghadapi resiko yang sangat besar. Habitat Orangutan tergerus oleh kebutuhan pembangunan, konversi hutan untuk kegiatan perkebunan, pertanian, pertambangan dan hutan tanaman industri telah menempatkan Orangutan pada kawasan-kawasan sempit, sehingga populasi Orangutan terancam oleh fragmentasi habitat kurang lebih 55% dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Selain itu dampak yang sering terjadi adalah konflik, Orangutan memaksakan diri keluar ke areal-areal yang diusahakan manusia, oleh sebab itu penyediaan kantong-kantong satwa harus menjadi prioritas. Keseimbangan hidup Orangutan perlu di jaga, mengingat saat ini CITES telah mengkategorikan Orangutan Borneo (Pongo pygmaues) sebagai spesies terancam punah (Appendix I), selain jenis Orangutan Borneo (Pongo pygmaues) orangutan yang hidup di Pulau Kalimantan dikelompokkan ke dalam tiga anak jenis, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang berada di bagian utara Sungai Kapuas sampai ke timur laut Sarawak; Pongo pygmaeus wurmbii yang ditemukan mulai dari selatan Sungai Kapuas hingga bagian barat Sungai Barito; dan Pongo pygmaeus morio, yang tersebar mulai dari Sabah sampai ke selatan mencapai Sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Balai KSDA Kalimantan Barat yang mempunyai tanggung jawab manajemen authority hidupan liar telah melakukan upaya perlindungan dan pengamanan Orangutan yang dititik beratkan pada upaya pencegahan keluarnya orangutan dari habitat alamnya akibat kegiatan illegal, dan bukan pada upaya penegakan hukum ketika orangutan sudah diluar habitat alaminya, sangatlah penting untuk memperbaiki kondisi hutan-hutan gundul yang kritis dan untuk memastikan konektivitas koridor keanekaragaman hayati satwa liar dan juga mendorong pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Pengelolaan yang baik terhadap orangutan akan memberikan keuntungan bagi masyarakat, termasuk bagi perlindungan flora dan fauna lainnya yang berada di kawasan tersebut. Salah satu penyebab hilangnya habitat orangutan adalah perencanaan tata ruang yang tidak konsisten. Program konservasi Orangutan membutuhkan kawasan hutan yang ada saat ini tetap sebagai kawasan hutan dan tidak dikonversi untuk penggunaan lain. Ini akan sangat membantu mengurangi tekanan kepada Orangutan yang populasinya sudah sangat terancam punah. Diperlukan upaya terintegrasi dalam melaksanakan konservasi Orangutan dengan melibatkan para pihak serta pemangku kepentingan termasuk masyarakat yang bermukim disekitar areal hutan. Kedepan diharapkan rehabilitasi dan reintroduksi orangutan ke habitat alamnya dapat diselesaikan secepatnya sesuai dengan strategi dan rencana aksi orangutan yang telah ada. Pada kesempatan ini pula, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat memberikan apresiasi yang tinggi terhadap upaya Yayasan IAR Indonesia dalam penyelamatan Orangutan di Kalimantan Barat, kedepan Orangutan yang saat ini masih berada di pusat rehabilitasi dapat segera dikembalikan ke habitat aslinya yaitu hutan. Sumber : YS BKSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Jamal Adam, Utusan TN Aketajawe Lolobata Penulis Terbaik Lomba Field Trip di HKAN 2017

Banyuwangi, 10 Agustus 2017. Dalam rangkaian perayaan Hari Konservasi Nasional (HKAN) 2017 di Taman Nasional Baluran, Banyuwangi, Jawa Timur ada yang menarik dalam rangkaian kegiatan perayaan HKAN 2017 yaitu Lomba Field trip atau karya wisata bagi peserta kemah konservasi. Lomba field trip diikuti oleh para peserta kemah konservasi dari berbagai elemen masyarakat penggiat Konservasi di Indonesia. Konsep yang diterapkan dalam lomba field trip, yaitu dengan mengajak seluruh peserta untuk mengunjugi salah satu desa wisata di Taman Nasional Baluran tepatnya di Desa Wonorejo, Kabupaten Situbundo. Para peserta mendatangi Desa Wonorejo dan diperkenalkan dengan warga setempat pengelola desa wista. Peserta sangat antusias mendengarkan penjelasan dan cerita tentang pengalaman seorang warga penggelola salah satu home stay. "Saya sangat berterimakasih kepada Balai TN Baluran selaku penggelola Taman Nasional yang telah memberikan ruang kepada kami untuk memanfaatkan peluang usaha di Desa kami dan dari usaha ini, bisa menambah pendapatan sehari hari kami", ujar Sutrisno, warga yang mengelola salah satu Home stay di Desa Wonorejo. Lomba field trip dibagi menjadi 2 kategori yaitu penulisan kelas dan penulisan travel writer. Peserta bebas memilih judul tulisan yang berkaitan dengan Desa Wisata Wonorejo. Jamal Adam adalah salah satu peserta lomba field trip yang diutus oleh Taman Nasional Aketajawe Lololobata dalam rangka mengikuti kegiatan kemah konservasi HKAN 2017. Dalam lomba tersebut, Jamal berhasil meraih penulis terbaik kategori field trip travel writer dalam lomba field trip. "Terima kasih atas dukungan dan doa teman teman semuanya. Terutama, Balai TN Aketajawe Lolobata. Alhamdulillah pada lomba field trip HKAN 2017 di Baluran, saya berhasil lolos sebagai penulis terbaik kategori fieldtrip travel writer". Ungkap Jamal di status akun Facebooknya (Buletin Tayawi). Sumber info : Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata.
Baca Berita

Elang Laut Dada Putih ( Haliaeetus Leucogaster ) Diserhakan Warga Kepada Balai KSDA Kalimantan Selatan

Kab. Banjar, 10 Agustus 2017. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan menerima penyerahan 1 (satu) ekor satwa liar dilindungi undang – undang yaitu burung Elang Laut Dada Putih ( Haliaeetus leucogaster ) umur sekitar 3 bulan dengan jenis kelamin belum diketahui dari Sdr. Sugianor pendududuk Desa Simpang Empat Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Banjar. Berdasarkan keterangan Sdr. Sugianor elang tersebut diperoleh dari areal hutan miliknya di daerah tapin yang dibuka untuk perkebunan sawit. Pada saat yang bersangkutan akan menebang pohon dilihatnya ada sarang burung yang berisi 1 ekor burung jenis elang dan kemudian burung itu dibawa kerumah dan dipelihara sekitar 1 minggu. Dalam kurun waktu satu minggu memelihara burung tersebut, sdr. Sugianor baru mengetahui bahwa burung itu dilindungi undang-undang berdasarkan keterangan temanya yang berkunjung ke rumahnya. Berdasarkan saran dari temannya, Sdr. Sugianor pada hari Rabu tanggal 9 Agustus 2017 menghubungi Balai KSDA Kalimantan Selatan untuk menyerahkan satwa tersebut. Selanjutnya pada hari Kamis 10 Agustus 2017 tim penanganan konflik satwa liar BKSDA Kalimantan Selatan berangkat menemui Sdr. Sugianor untuk menerima penyerahan satwa dimaksud dan membawanya ke Banjarbaru. Saat ini Elang Laut Dada Putih (Haliaeetus leucogaster) yang belum bisa terbang itu sudah berada di kandang transit SKW II Banjarbaru BKSDA Kalimantan Selatan dalam keadaan baik dan sehat dan dilakukan perawatan untuk selanjutnya akan dilepasliarkan ke habitatnya. Sumber : BKSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Booth Baru TN. Aketajawe Lolobata di Festival TN dan TWA

Sofifi, 10 Agustus 2017. Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) kembali melakukan promosi wisata alam dan melebarkan sayapnya di ajang Festival TN dan TWA di Taman Blambangan Banyuwangi dalam rangka puncak acara HKAN 2017. Festival yang akan dilaksanakan tanggal 11-13 Agustus 2017 ini memang dikhususkan untuk mempromosikan kekayaan alam maupun wisata alam seluruh kawasan konservasi di Indonesia. Kali ini TNAL menghadirkan dekorasi booth yang lebih fresh dan lebih atraktif. Sehari sebelumnya di acara HKAN di Taman Nasional Baluran, perwakilan masyarakat yang dikirim TNAL memperoleh gelar juara sebagai penulis terbaik Fieldtrip Travel Writer. Penyiapan bahan promosi sampai perencanaan desain booth pameran dikerjakan dengan apik oleh Pokja Database dan restu dari Kepala Balai TNAL, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut., MT. Booth yang bertajuk “Find The Hidden Treasure” ini menggambarkan petualangan alam di kawasan TNAL yang tidak pernah habis. Tema ini juga diambil dari tema kegiatan Ekspedisi Lolobata yang akan dilaksanakan tanggal 9-23 September 2017. Booth yang memiliki papan panjat ini didalamnya juga memiliki informasi-informasi terkait akses, atraksi maupun aktivitas yang dapat dilakukan dalam kawasan TNAL. “Setiap pengunjung yang berhasil memanjat di papan panjat akan mendapatkan hadiah yang menarik”, kata Yusra, salah satu anggota tim pemandu di stan pameran. Jadi, jika anda menginginkan informasi tentang kawasan TNAL dan ingin mendapatkan hadiah menarik jangan lupa kunjungi stan warna hijau dengan tinggi lebih kurang 4 (empat) meter. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra (Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata)
Baca Berita

Pelepasan Tukik Penyu Pada Acara World School Debating Championship 2017

Bali, 10 Agustus 2017. Dalam rangka world school debating championship 2017, Balai KSDA Bali bersama Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan pelepasan 200 ekor tukik penyu lekang di Pantai Sanur (Depan Hotel Inna Grand Bali Beach). Kegiatan ini diikuti 200 orang peserta/ siswa yang berasal dari 50 negara yang mengikuti acara world school debating championship 2017. Tukik yang dilepasliarkan merupakan hasil penetasan di yayasan TCEC (Turtle Conversation and Education Center) Serangan. SUmber : BKSDA Bali
Baca Berita

Kukang yang Malang

Pontianak, 9 Agustus 2017. Nokturnal adalah sebutan untuk hewan yang aktif pada malam hari, Satwa Kukang merupakan salah satunya, memiliki ciri-ciri bermata besar dan berbulu coklat yang lembut dan tebal, kali ini Tim Gugus Tugas TSL Seksi Konservasi Wilayah III menerima penyerahan dari masyarakat 1 individu Kukang atau sering disebut malu-malu. Secara fisik Kukang tersebut terlihat normal akan tetapi terdapat 1 kejanggalan dari mata satwa tersebut yaitu salah satu bola matanya mengalami kebutaan, menurut Sdr. Ardiswim (pemilik satwa) Kukang tersebut didapat dari seorang teman dengan kondisi sudah seperti itu, karena merasa iba dan menyadari satwa Kukang tersebut merupakan salah satu satwa yang dilindungi Undang-undang dan Sdr. Ardiswim berinisiatif untuk menyerahkan kepada Balai KSDA Kalbar dan dia juga menaruh harapan agar Kukang tersebut mendapat perawatan dan pengobatan agar bisa kembali hidup bebas ke alam. BKSDA Kalbar sangat mengapresiasi kepada Sdr. Ardiswim karena dengan suka rela menyerahkan satwa yang dilindungi undang-undang sebagai bentuk meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap upaya Konservasi TSL. Sumber : BKSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Stop !!! Memberi Makan Monyet di Karaenta

Bantimurung (09/08/2017), pagi itu mentari bersinar dengan teriknya. Rombongan petugas dari Balai Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung menuju Karaenta. Karaenta adalah hutan alam yang merupakan habitat monyet hitam Sulawesi (Macaca maura). Beberapa bulan terakhir ini mulai marak lagi aktivitas memberi makan satwa macaca maura yang berada di pinggir jalan poros Maros Bone yang membelah kawasan TN Bantimurung Bulusaraung. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak Balai TN Bantimurung Bulusaraung selaku otoritas pengelola kawasan konservasi ini. pemasangan spanduk himbauan, penjagaan di sepanjang jalan yang sering ditemui aktivitas memberi makan satwa, hingga pemasangan rambu larangan memberi makan satwa bekerjasama dengan stakeholder untuk mengantisipasi aktivitas baru ini. Kali ini petugas TN Bantimurung Bulusaraung yang terdiri dari Polhut, PEH, dan dibantu personil Manggala Agni Non Daops melakukan kampanye penyadartahuan agar tidak memberi makan Macaca maura kepada pengemudi yang melintas di Karenta. Kampanye ini telah berlangsung dua minggu terakhir, sejak tanggal 24 Juli 2017 lalu. Sosialisasi dan membagikan stiker agar tidak memberi makan satwa di pinggir jalan poros Maros Bone itu. Macaca maura merupakan salah satu satwa prioritas nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Karaenta juga menjadi site penelitian satwa primata ini. Beberapa peneliti asing telah dan sedang melakukan pelenelitian tentang perilaku dan habitat Macaca maura di Karaenta, Resort Pattunuang. Bekerjasama dengan peneliti asing asal San Diego State University, USA dan Roma Tre Universita Degli studi, Italia serta Universitas Hasanuddin, Makassar mendesain stiker untuk kegiatan kampanye penyadartahuan ini. “Kampanye ini kami lakukan karena kebanyakan mereka memberi makan monyet karena tidak tahu akibatnya. Mereka umumnya beralasan kasihan sama monyetnya’’ ujar Abdul Azis Bakry, Kepala Sub Bagian Tata Usaha TN Bantimurung Bulusaraung. stiker yang dibagikan berisi himbauan dan alasan kenapa tidak boleh memberi makan, termasuk dampak tindakan tersebut. Tolong!!! Jangan Memberi Makan Monyet (Macaca maura) Mengapa? Begitu lah salah satu isi stiker yang dibagikan kepada pengemudi yang melintas di hutan Karaenta. Gambar Stiker yang dibagikan pada kegiatan penyadartahuan agar tidak memberi makan Macaca maura di Kareanta. Foto: Taufiq Ismail Mari turut melindungi Macaca maura dengan tidak memberinya makanan. Biarkan mereka mencari makan di hutan. Makanan mereka berlimpah di dalam hutan. Cintai mereka dengan membiarkannya hidup bebas di habitat alaminya. Sumber : Taufiq Ismail-PEH TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Sosialisasi Rehabilitasi, Camat Wasile Timur “Bayangkan Jika Paru-paru Kita Rusak”

Sofifi, 9 Agustus 2017. Desa Dodaga, kecamatan Wasile Timur, kabupaten Halmahera Timur menjadi lokasi kegiatan Sosialisasi kegiatan rehabilitasi DAS Dodaga oleh PT. Antam, TBK. Hal ini dikarenakan lokasi rehabilitasi akan dilaksanakan di area Gunung Botak desa Dodaga. Acara tersebut dihadiri oleh Camat Wasile Timur, Danramil, Kapolsek beberapa kepala Desa di kecamatan Wasile Timur dan masyarakat ataupun tokoh adat desa Dodaga. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 2017 ini juga menghadirkan perwakilan dari BPDAS Ake Malamu dan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) dalam mengisi materi. Pada saat pembukaan, Bapak Camat Wasile Timur mengatakan “Tahun 1982 transmigrasi Subaim di buka dan sempat merasakan sejuknya udara dan indahnya satwa di hutan, setelah perusahaan kayu masuk mengambil kayu di hutan maka sekarang desa Dodaga kesulitan untuk mencari kayu”. Beliau juga menambahkan “Indonesia merupakan paru-paru dunia karena hutannya, jadi bayangkan jika paru-paru kita yang rusak?”. Bapak Rachmat dari PT. Antam dalam pemaparannya menjelaskan alasan tentang kegiatan rehabilitasi DAS di Gunung Botak desa Dodaga. Beliau menjelaskan bahwa rahab DAS merupakan kewajiban dari PT. Antam dan lokasi yang dipilih adalah kawasan TNAL berdasarkan SK dari Dirjen di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dalam paparannya juga dijelaskan tentang tahapan-tahapan dalam pelaksanaan rehabilitasi seluas 1.200 ha tersebut. Setelah pemberian materi, para peserta undangan dipersilahkan untuk mengajukan pertanyaan dan berdiskusi. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra, Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Partisipasi TN Ujung Kulon Pada HKAN 2017

Situbondo, 9 agustus 2017. Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno,M.Sc membuka secara langsung peringatan HKAN 2017 yang pada tahun ini mengambil tema besar "Konservasi Alam, Konservasi Kita" di Taman Nasional Baluran - Jawa Timur. Dalam acara tersebut Dirjen KSDAE memberikan motivasi dan semangat kepada para peserta Jambore Nasional untuk selalu aktif dalam mengikuti rangkaian kegiatan dan bisa menjadi penggerak konservasi di tempat masing-masing. Dirjen KSDAE juga melakukan kunjungan ke stand Balai Taman Nasional Ujung Kulon di Pameran Konservasi Alam dan Produk Unggulan di lokasi Jambore Nasional HKAN 2017. Dalam kunjungan tersebut, Dirjen KSDAE beserta rombongan meninjau langsung produk-produk kerajinan tangan dari masyarakat di sekitar TN. Ujung Kulon berupa souvenir patung Badak Jawa yang merupakan hasil kegiatan pemberdayaan masyarakat di TN Ujung Kulon. Sumber : BTN Ujung Kulon
Baca Berita

Terungkap, Kenapa Sarang Pitta maxima Bersih

Sofifi, 9 Agustus 2017. Sarang Pitta maxima atau Paok Halmahera TAMPAK selalu bersih terutama dari kotoran anaknya. Berdasarkan data baru yang diperoleh tenaga teknis Resort Binagara sekaligus pemandu wisata, ditemukan fakta menarik. Yaitu induk Pitta maxima mengambil dan membawa kotoran sang anak jauh dari sarangnya. Tetapi alasan kenapa sang induk melakukan itu belum diketahui pasti. Yang jelas alasan utamanya adalah menjaga kebersihan sarang dan terhindar dari bakteri yang membawa penyakit bagi anaknya. Proses pengambilan kotoran anak Pitta oleh sang induk adalah induk Pitta memasukkan paruhnya ke saluran pembuangan kotoran (anus) sang anak kemudian menarik dan membawanya keluar dari sarang. Kotoran tersebut terbungkus rapi oleh selaput tipis yang transparan. Kemudian dibawa terbang sampai pada jarak kurang lebih 25 meter dari sarang dan dijatuhkan. Pembuangan kotoran dilakukan secara acak ditempat yang berbeda. Adalah Mahroji, pemandu wisata sekaligus penggiat lingkungan di desa Ake Jawi yang berhasil mengamati perkembangan sarang dan anakan Paok Halmahera. Pak Roji, sapaan akrab pemandu yang hafal nama-nama burung di hutan Halmahera ini mulai mengamati sarang Pitta saat akan bertelur sampai menetas dan anaknya menjadi dewasa. Sarang tersebut berada di hutan di desa Ake Jawi yang merupakan wilayah kerja Resort Binagara, Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Informasi yang didapatkan dari Pak Roji bahwa akhir bulan Juli sampai Agustus tahun ini sudah terdapat 4 (empat) sarang burung Pitta. Dua sarang saling berdekatan kurang lebih berjarak 25-30 meter sedangkan dua sarang lainnya terpisah jauh tetapi berada di jalur pengamatan burung Bidadari Halmahera. Bulu-bulu berwarna yang pertama tumbuh adalah dibagian sayap yang berwarna hijau pada saat berumur 7 hari. Sedangkan bulu yang terakhir tumbuh adalah bulu yang berada diperut yang berwarna merah. “Anakan Pitta maxima yang saya amati sudah dipanggil induknya untuk keluar sarang dan terbang pada umur 18 hari, ada juga yang sampai 20 hari”, kata Pak Roji. Pak Roji juga menambahkan “Saya tidak bisa mengamati semua sarang Pitta karena dua sarang yang lainnya jaraknya cukup jauh”. Ciri-ciri burung Paok Halmahera adalah kepala berwarna hitam, dada berwarna putih dan perut berwarna merah. Sedangkan sayap terdapat warna dominan hitam dan hijau. Burung yang hidup dilantai hutan ini merupakan burung endemik Maluku Utara. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra (Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata) foto and video by Mahroji
Baca Berita

JAMBORE NASIONAL KONSERVASI ALAM: Kerja Nyata Konservasi Alam

SIARAN PERS Nomor : SP. 183 /HUMAS/PP/HMS.3/08/2017 Situbondo – Jawa Timur, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rabu, 9 Agustus 2017. Masih dalam rangkaian peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN), hari ini (09/08/2017) Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno, membuka secara resmi kegiatan Jambore Nasional Konservasi Alam Tahun 2017 yang berlangsung dari tanggal 8 – 11 Agustus 2017 di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Kegiatan Jambore Nasional Konservasi Alam 2017, diikuti 393 peserta dari Penggerak Konservasi, Masyarakat Peduli Api, Pelaku Jasa Wisata, Masyarakat Desa Penyangga, Kader Konservasi dan pendamping. Selain kegiatan field trip, workshop dan talkshow, jambore kali ini juga akan diisi dengan safari night di Savana Bekol, nonton bareng film “Bumiku”, bersih pantai Pandean dan sekitar desa Wonorejo. Tidak ketinggalan, sesuai dengan latar belakang pelaksanaan puncak HKAN di TN Baluran, dalam jambore ini juga dilakukan Kerja Nyata Konservasi Alam pemberantasan Invasive Alien Species (IAS), yaitu pancabutan/penebangan Acasia nilotica di Savana Bekol TN Baluran. Ancaman invasi jenis asing invasif pada beberapa kawasan konservasi di Indonesia, mencapai kondisi “bahaya” yang berdampak pada penggeseran, dan ancaman kepunahan keberadaan ekosistem asli kawasan. Serangan jenis invasif di Indonesia cukup banyak antara lain: Acacia nilotica di TN Baluran, Arenga obtusifolia di TN Ujung Kulon, Acacia decuren di TN Gunung Merapi dan Merbabu, Meremia peltata di TN Bukit Barisan Selatan, Spatodea campanulata di TN Bantimurung Bulusaraung, dan sebagainya. Dampak nyata terhadap kekayaan jenis biodiversitas Indonesia, adalah hilangnya mega biodiversitas Indonesia dan menjadi negara dengan tingkat kepunahan tercepat di dunia. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia mempunyai kawasan konservasi seluas 27 juta ha, atau 30% dari luas kawasan hutan yang ada di Indonesia, sehingga kerja nyata konservasi alam sangat perlu segera dilakukan. Selain ancaman IAS, mengingat terdapat 5.600 desa yang berada di sekitar kawasan konservasi, Wiratno mengingatkan pada para pelaku konservasi untuk dapat bersinergi dengan semua pihak. “Saya minta kekompakan generasi muda dan generasi tua, kita mempunyai kawasan konservasi seluas 27 juta ha atau 30% dari luas kawasan hutan di Indonesia, di sekitarnya terdapat 5.600 desa. Untuk itu, kita harus bekerjasama dengan para ilmuwan, desa-desa sekitar kawasan, tokoh agama, tokoh adat, serta masyarakat untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati yang kita miliki,” tutur Wiratno. Pada berbagai kesempatan, Menteri LHK, Siti Nurbaya seringkali menyatakan pentingnya menjaga kawasan konservasi dan keanekaragaman hayati. “Kawasan konservasi dan keanekaragaman hayati harus terus dijaga, agar proses-proses ekologis pendukung sistem penyangga kehidupan tetap berjalan, sehingga mampu memberikan manfaat secara lestari dan berkelanjutan bagi kesejahteraan manusia baik saat ini dan masa mendatang”, tegas Siti Nurbaya. Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) merupakan momentum keteladanan, dan aksi nyata memasyarakatkan konservasi alam, sebagai sikap hidup dan budaya bangsa Indonesia. Pemaknaan tersebut semakin diterapkan dalam peringatan HKAN 2017. Output yang diharapkan adalah adanya prakarsa aksi nyata memperlakukan alam sebagaimana kita memperlakukan diri sendiri, karena sesungguhnya konservasi alam adalah konservasi kehidupan kita. Peringatan HKAN 2017 dengan tema “Konservasi Alam – Konservasi Kita”, secara umum diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat aksi nyata konservasi alam, ekspose kegiatan konservasi alam, pemberian apresiasi kepada para penggiat konservasi alam, serta kegiatan kampanye konservasi alam yang dilaksanakan secara menyenangkan, atraktif dan edukatif. Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi – 081375633330

Menampilkan 10.193–10.208 dari 11.141 publikasi