Rabu, 3 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

DIRJEN KSDAE DIALOG BERSAMA KELOMPOK GETEK WISATA MASYARAKAT SEKITAR KAWASAN TN SEBANGAU

Palangka Raya, Jum’at 18 Agustus 2017. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Bapak Ir. Wiratno, M, Sc. bersama rombongan mengunjungi Taman Nasional Sebangau pada hari Jum’at 18 Agustus 2017. Kedatangan Bapak Dirjen KSDAE disambut oleh staf lingkup UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalimantan Tengah dan masyarakat Kelurahan Kereng Bangkirai. Kelurahan Kereng Bangkirai merupakan salah satu Kelurahan yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Sebangau tepatnya di wilayah kerja SPTN I Palangka Raya. Aula outdoor Dermaga Kereng Bangkirai dipilih menjadi lokasi untuk berkumpul bersama Bapak Dirjen dengan kelompok getek wisata dan staf UPT KLHK. Acara diskusi santai tersebut diawali dengan sambutan Kepala Balai TN Sebangau yang menyampaikan rasa terima kasih dan bangga menerima kunjungan Bapak Dirjen KSDAE. Bapak Ir. Anggodo, MM. menjelaskan bahwa Dermaga Kereng Bangkirai merupakan pintu gerbang memasuki kawasan TN Sebangau. Salah satu destinasi wisata yang telah dikembangkan adalah Sungai Koran, Resort Sebangau Hulu SPTN Wilayah I merupakan lokasi terdekat dari Kereng Bangkirai. Kelompok Getek Wisata mulanya adalah nelayan tradisional yang biasa bekerja di Sungai Sebangau, seiring berkembangnya kegiatan wisata di TN Sebangau sebagian masyarakat beralih profesi menjadi penyedia jasa wisata. Kelompok ini baru saja dibentuk pada tahun 2017 atas dasar kesadaran masyarakat sendiri dan telah bekerjasama dengan Taman Nasional Sebangau sebagai penyedia jasa transportasi. Pada saat ini kelompok getek beranggotakan 15 orang yang diketuai oleh Bapak Jumadi, kelompok dan masyarakat Kereng Bangkirai Berkomitmen untuk turut mengembangkan wisata di TN Sebangau. Pada kesempatan ini masyarakat berdialog dengan Bapak Dirjen terkait pengembangan wisata di Kereng Bangkirai, dialog berlangsung santai dan penuh keakraban. Beberapa masyarakat menyampaikan harapannya terhadap taman nasional, salah satunya adalah Pak Jumadi yang berbagi pengalaman ketika mengikuti kemah HKAN di TN Baluran beberapa waktu yang lalu. Pak Jum sapaan akrabnya mengutarakan agar kelompok getek dapat memperluas area wisatanya yang saat ini masih sebatas seputaran Dermaga Kereng Bangkirai, kelompok getek ingin lebih intens dapat bekerjasama dengan TN Sebangau dalam mengembangkan wisata. Mereka juga berharap TN Sebangau dapat menambah sarana prasarana wisata seperti menambah gazebo dan tempat selfie di Sungai Koran. Bapak Dirjen KSDAE menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat, bahwa memang suatu kewajiban taman nasional untuk bisa memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar karena hal tersebut merupakan salah satu fungsi taman nasional. Bapak Dirjen juga memberi apresiasi kelompok getek yang telah sadar akan pentingnya taman nasional dan ikut bekerjasama dalam pengembangan ekowisata di taman nasional, Beliau dan meminta agar Balai TN Sebangau dapat merealisasikan harapan masyarakat. Selain itu Bapak Dirjen juga banyak memberikan arahan kepada TN Sebangau dan kelompok masyarakat. Balai TN Sebangau diharapkan dapat memfasilitasi peningkatan kapasitas kelompok getek dibidang pengetahuan interpretasi tentang kawasan TN Sebangau, bekerjasama dengan masyarakat dalam promosi kawasan dan masyarakat sebagai pemandu wisata juga harus mampu berbahasa Inggris. Sebelum mengakhiri dialog bersama masyarakat Bapak Dirjen mencoba getek wisata di Sungai Sebangau. Semoga kunjungan Bapak Dirjen KSDAE dapat memberikan spirit bagi TN Sebangau untuk bekerjasama lebih baik lagi bersama masyarakat dalam pengelolaan Taman Nasional Sebangau yang berkelanjutan dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. (Sumber Informasi : Balai TN Sebangau)
Baca Berita

1,5 Ton Sampah dihasilkan oleh Satgas Clean Up Rinjani

Mataram (19/8/2017). Pengelolaan sampah Rinjani menuju pengelolaan yang lebih baik. Selain menggunakan kemajuan teknologi yaitu pemasangan cctv di jalur pendakian, clean up rutin juga dikerjakan. Kali ini menggunakan model baru yang diberi nama satgas clean up. Tim satgas clean up diinisasi pada bulan juli 2017 sebagai quick respon permasalahan sampah di Gunung Rinjani. Konsep clean up melibatkan masyarakat lingkar Rinjani, aparat TNI dan Polisi serta petugas TNGR dengan sistem penjagaan di titik-titik pendakian yang rawan sampah dan pintu pendakian serta sistem mobile. Penjaga mempunyai tugas memonitor pendaki, cek tiket-barang bawaan baik sampah maupun bunga edelweis sementara tim mobile bekerja membersihkan sampah di sepanjang jalur pendakian. Tim clean up mobile sebulan 8 kali sedangkan penjagaan sebanyak 4 kali. Sampai 17 agustus 2017 ini telah diberangkatkan tim penjagaan 6 tim dengan hasil sampah 1.5 ton dari pintu senaru sembalun. Cek barang bawaan masih terkendala jumlah personil petugas dibanding dengan jumlah pendaki. Sehingga cek barang bawaan sifatnya masih insindental. Sistem pengelolaan sampah baru ini terbukti cukup efekif menekan budaya buang sampah sembarangan para pendaki. Kedepannya untuk lebih efektif payung hukum pengelolaan sampah Gunung Rinjani dan sekitarnya menunggu peraturan Gubernur NTB yang sekarang ini sedang disusun melengkapi kesepakatan bersama para pihak tentang denda sampah bagi pendaki yang melanggar yang sudah diterapkan per April 2016. Sumber : Teguh BTN Rinjani
Baca Berita

Arti Hari Kemerdekaan "17 Agustus 2017" Bagi 2 Ekor "Raptor"

Cikepuh, 17 Agustus 2017. Tanggal 17 Agustus 2017, merupakan tanggal yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia, karena pada tanggal tersebut 72 tahun yang lalu bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Demikian halnya bagi 2 (dua) ekor Raptor dari jenis Elang ular bido (Spilornis cheela), hari Kamis tanggal 17 Agustus 2017 merupakan hari yang sangat berarti karena pada hari tersebut bertempat di blok Leuwi Urug Suaka Margasatwa Cikepuh kedua raptor itu memulai kemerdekaanya di alam bebas. Pelepasliaran ini dilakukan oleh Balai Besar KSDA Jabar bersama-sama dengan Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) dan Biofarma (dengan program CSR nya). Sebelum dilakukan pelepasliaran, kedua Elang tersebut terlebih dahulu melalui tahapan habituasi selama 5 hari, sebagai proses adaptasi terhadap lingkungan yang baru sehingga diharapkan kedua elang tersebut dapat survive, sebagaimana dilaporkan oleh Resort Konservasi Wilayah V Suaka Margasatwa Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng. Riwayat kedua Elang ular bido tersebut adalah berasal dari penyitaan oleh Balai Besar KSDA Jabar pada tahun 2013 yang kemudian di titiprawatkan dan direhabilitasi di PPSC sampai dengan kedua Elang tersebut dinilai telah layak untuk dilepasliarkan. Sumber Info : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Bon Voyage, Penyu Sei Perlu

Kuala Pembuang, 19 Agustus 2017. Kepala Balai Taman Nasional Tanjung Puting dan Kepala SPTN II Kuala Pembuang memimpin perjalanan Bupati beserta jajaran Pemerintah Kabupaten Seruyan menuju Resort Sei Perlu, SPTN II Kuala Pembuang pada Sabtu, (19/8/2017). Pelangi di pesisir pantai Sei Perlu yang indah seolah menjadi restu dari Sang Maha Kuasa untuk apa yang akan mereka lakukan hari itu. Setelah hampir dua jam berjibaku dijalan, rombongan tiba di kantor resort paling selatan Taman Nasional Tanjung Puting tersebut. Seminggu sebelumnya, setelah diskusi panjang dengan Budi Suriansyah, S.Hut, (Kepala SPTN II Kuala Pembuang) Bupati Seruyan, Sudarsono, SH. menyatakan minatnya untuk lebih memahami upaya konservasi Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) yang dilakukan oleh TNTP, yang dirasakan akan sejalan dengan niat beliau untuk mengembangkan wisata alam berbasis pantai di Kabupaten Seruyan. Upaya keras untuk pelestarian Penyu Sisik yang berstatus diambang kepunahan itu, akhirnya berbuah perhatian Kepala Daerah. Setelah melakukan peninjauan fasilitas penetasan dan kolam pembesaran tukik serta menanam anakan pohon Bintaro (Cerbera odolam), Bupati Seruyan dan rombongan diarahkan Ir. Helmi, Kepala Balai TNTP menuju pantai didepan Kantor Resort Sei Perlu untuk melepasliarkan tukik-tukik mungil yang telah menunggu hampir 10 minggu. Tanpa banyak seremonial, 72 ekor tukik Penyu Sisik satu-persatu dilepasliarkan, merenangi luasnya Laut Jawa. Bebas, merdeka seperti Negara Indonesia yang tiga hari lalu berhari jadi ke 72 Tahun. Sumber Info : Balai TN Tanjung Puting
Baca Berita

Trashbag Community Edukasi Sampah di TN Gunung Rinjani

Mataram, 19 Agustus 2017. Tim Sapu Jagad dilepas oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sabtu pagi 19 Agustus 2017. Sapu Jagad merupakan program Trashbag Community rutin yang bekerjasama dengan KLHK di 17 Gunung se Indonesia termasuk Gunung Rinjani dalam rangka edukasi sampah. Ingin menyebarkan paham Gunung Bukan Tempat Sampah sejumlah 52 orang peserta akan melakukan operasi bersih jalur pendakian selama 6 hari mulai 19-24 agustus 2017. Anggota Sapu Jagad berasal dari siswa pecinta alam, mahasiswa pecinta alam maupun masyarakat umum yang tergabung dalam kelompok pecinta alam baik lokal maupun luar pulau Lombok. Tujuan besar kegiatan Sapu Jagad bukan semata membersihkan gunung tetapi lebih kepada edukasi dan persuasi kepada para pelaku aktivitas pendakian termasuk guide porter dan pendaki bahwa sampah yang mereka bawa berdampak buruk terhadap ekosistem. Sumber Info : Balai TN Gunung Rinjani
Baca Berita

Apel Kemerdekaan Balai TN Alas Purwo: Semangat Kerja Bersama

Banyuwangi, 17 Agustus 2017. Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 72 tahun, Balai Taman Nasional (BTN) Alas Purwo melaksanakan apel kemerdekaan di Kantor BTN Alas Purwo, Banyuwangi. Apel kemerdekaan ikuti oleh petugas BTN Alas Purwo baik PNS maupun non PNS, perwakilan MMP (Masyarakat Mitra Polhut) dan MPA (Masyarakat Peduli Api). “Ibarat lidi, jika tidak diikat maka akan tercerai-berai, tidak berguna dan mudah dipatahkan. Tetapi jika lidi-lidi tersebut digabungkan, diikat menjadi sapu, tidak akan ada yang bisa mematahkan dan bisa digunakan untuk berbagai tujuan bersama”, Noviyani Utami, selaku Plh. Kepala BTN Alas Purwo, menyampaikan amanat kepada peserta apel. Sebagai unit pelaksana teknis yang bergerak di bidang konservasi alam, BTN Alas Purwo terdiri dari berbagai elemen pendukung mulai dari balai hingga resort sebagai unit manajemen terkecil, mulai dari Polhut, PEH, Penyuluh Kehutanan, fungsional umum, tenaga honor, MMP sampai dengan MPA. Ibarat sapu lidi, masing-masing elemen berkolaborasi menjadi satu yaitu BTN Alas Purwo. Oleh kerena itu pentingnya menjaga kekompakan dan solidaritas antar teman dan kekeluargaan. BTN Alas Purwo adalah keluarga besar, semua elemen adalah penting, padu, bekerjsa sana, bahu membahu demi tercapainya tujuan pengelolaan yaitu kelestarian kawasan TN Alas Purwo. Sesuai dengan semangat Kemerdekaan Indonesia ke-72, Kerja Bersama. Merdeka!! Sumber: Balai TN Alas Purwo
Baca Berita

Berkibarnya Sang Merah Putih di Pasar Bubrah TN Gunung Merapi

Pasar Bubrah, 17 Agustus 2017. Tepat pukul 07.30 bendera Merah Putih berkibar di Pasar Bubrah, Gunung Merapi dengan diiringi lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan secara serentak oleh hampir seluruh pendaki Gunung Merapi. Upacara bendera menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2017 dilaksanakan tepat pukul 07.10 pagi oleh Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), di Pasar Bubrah, batas aman untuk berkemah. Pasar Bubrah berada pada ketinggian 2.680 m dpl, di bawah Puncak Merapi 2.930 m dpl. 12 orang staf dan Polisi Hutan TNGM berjaga di Pasar Bubrah, agar pendaki tidak naik ke Puncak Merapi, karena merupakan zona inti dan kawasan berbahaya, sering terjadi erupsi freatik. Sejak tanggal 16 Agustus 2017 petugas TNGM berjaga dan menyiapkan kegiatan upacara bendera. Sedangkan petugas lainnya bertugas di pos tiket atau basecamp jalur pendakian Selo, Boyolali dan Sapuangin, Klaten. Jumlah pendaki yang naik melalui jalur Selo ada 2030 orang sampai pukul 03.30 WIB (17 Agustus 2017). Sedangkan pendaki yang melalui jalur Sapuangin ada 20 orang. Pendaki jalur sapuangin memang terbatas 20 orang per harinya, karena jalur lebih sempit daripada Selo, dan lebih panjang. Secara umum jumlah pendaki saat peringatan kemerdekaan RI mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu yang sebanyak 1600 orang melalui jalur Selo. Upacara bendera berlangsung aman, tertib dan khusyuk. Apalagi ditunjang cuaca yang cerah dan bersahabat, serta memperoleh bantuan dari mitra kerja TNGM seperti Balai Vulkanologi BPPTKG, SAR Barameru, SAR Sapuangin, dan SAR Kabupaten Klaten. Para pendaki juga mengerti untuk tidak naik ke puncak, setelah diberi penjelasan oleh petugas TNGM tentang bahaya naik Puncak. Sumber Info : Balai TN Gunung Merapi
Baca Berita

Upacara Bendera Sekolah Rimba

Batang hari, 17 Agustus 2017. "Senang sekali kami dapat seragam sekolah, terimakasih Bepak kepala balai" begitu celoteh anak-anak Suku Anak Dalam (SAD) Sekolah Rimba Kejasung Kelompok Tumenggung Celitai pada saat Peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus tahun 2017 kali ini. Ini merupakan tahun kedua, anak didik Sekolah Rimba Kejasung Kelompok Tumenggung Celitai memperingati hari bersejarah tersebut. Keberadaan SAD atau sering juga disebut Orang Rimba merupakan tujuan khusus ditunjuknya Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) sebagai kawasan konservasi taman nasional, oleh karena itu mereka merupakan elemen penting dari keberlanjutan kelestarian hutan. Dengan menempuh jarak lebih kurang 1,5 jam perjalanan darat dan sungai dari Kantor Resort Maro Sebo Ulu I Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Batang Hari TNBD, Sekolah Rimba Kejasung telah berjalan selama 3 tahun, dirintis sebagai salah satu bagian dari kegiatan pemberdayaan Suku Anak Dalam di kawasan TNBD. Melalui pengajaran dan pendidikan yang diberikan diharapkan dapat menumbuhkan semangat konservasi anak Rimba sejak dini sehingga keberadaan hutan sebagai tempat hidup dan kehidupan mereka dapat terus lestari. Salam Lestari.”.Piado Rimbo Piado Orang Rimbo “…… Sumber Info : Balai TN Bukit Duabelas
Baca Berita

Sekolah Rimbo Pintar Sungai Kuning Rayakan Hari Kemerdekaan

Tebo, 17 Agustus 2017. “Selamat pagi anak-anak, apa kabarnya hari ini??” Tanya kami. “Sehat pak”, jawab mereka. “Kita upacara ya hari ini dalam rangka hari ulang tahun Republik Indonesia yang ke–72. Ayoo berbaris yang rapi.“ Ajak kami. Ya, tepat di hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 bersama anak-anak Sekolah Rimbo Pintar Sungai Kuning kami mengadakan upacara bendera di Sekolah Rimbo Pintar Sungai Kuning. ‘Menjadi Contoh Taman Nasional yang Mengintegrasikan Kepentingan Pembangunan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan Pembangunan Masyarakat Terasing.’ Ini merupakan visi dari Taman Nasional Bukit Duabelas. Sekolah Rimbo Pintar Sungai Kuning yang terletak di wilayah Resort Air Hitam I Seksi Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas Wilayah II Tebo TNBD merupakan sekolah yang dibentuk Taman Nasional Bukit Duabelas sebagai salah satu upaya pemberdayaan Suku Anak Dalam. Sekolah Rimbo Pintar Sungai Kuning ini dibentuk pada tahun 2016. Hingga saat ini Taman Nasional Bukit Duabelas sudah memiliki dua sekolah rimbo pintar, satu sekolah lagi berada di wilayah Resort Maro Sebo Ulu I Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Batanghari TNBD. Anak-anak yang belajar di sekolah rimbo ini merupakan anak-anak dari kelompok Tumenggung Bepayung. Usia mereka rata-rata merupakan usia sekolah dasar. Jarak sekolah mereka dengan kediaman berjarak tempuh ± 1 jam berjalan kaki. Lewat sekolah yang dibentuk diharapkan anak-anak Suku Anak Dalam memiliki pengetahuan dasar sebagaimana layaknya anak usia sekolah, berbudi pekerti, memiliki rasa cinta tanah air. Anak-anak Sekolah Rimba Pintar Sungai Kuning juga dididik agar mencintai lingkungan hidup mereka tinggal terutama Taman Nasional Bukit Duabelas. Setelah upacara bendera, diadakan beberapa perlombaan diantaranya: lomba makan kerupuk, lomba tarik tambang, lomba lari karung goni, lomba memasukkan paku ke dalam botol serta lomba ketapel. Semua tertawa senang dan gembira saat acara perlombaan berlangsung. Banyak adegan seru dan lucu yang terlihat saat perlombaan berlangsung. Setelah perlombaan, para pemenang diberi hadiah buku tulis dan pensil. Senang dan bahagia rasanya merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 bersama anak-anak Sekolah Rimbo Pintar Sungai Kuning. ‘Merah Putih berkibarlah terus, baik di kota, di desa, di hutan, di rawa, di gunung dan bukit, di lautan serta udara.’ Selamat Hari Ulang Tahun yang ke-72 Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia kita. Merdeka!!! Sumber Info : Ganda Josua Samosir, S.Hut Penyuluh Kehutanan Pertama Taman Nasional Bukit Duabelas
Baca Berita

RAYAKAN HUT RI KE-72, BKSDA BENGKULU GELAR PEKAN SEMANGAT KERJA BERSAMA

Bengkulu – 17 Agustus 2017. Balai KSDA Bengkulu merayakan HUT RI Ke-72 dengan menggelar Pekan Semangat Kemerdekaan RI Semangat Kerja Bersama. Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 14 – 17 Agustus 2017. Pekan Semangat Kerja Bersama diisi oleh berbagai kegiatan yaitu donor darah, senam bersama, penanaman pohon, pelepasliaran burung, perlombaan permainan rakyat, serta acara puncak berupa upacara pengibaran bendera. Pekan Semangat Kerja Bersama diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT RI Ke-72 serta untuk membangkitkan kembali semangat kebersamaan diantara para pegawai Balai KSDA Bengkulu. Kebangkitan semangat kerja bersama sangat penting mengingat tantangan pelaksanaan program konservasi sumber daya alam akan semakin berat pada masa yang akan datang. Donor darah dilaksanakan bekerja sama dengan komponen masyarakat lainnya didukung oleh Palang Merah Indonesia Kota Bengkulu dan dilaksanakan guna mendukung target pengumpulan sebanyak 1.500 kantong darah pada tiap bulannya di Kota Bengkulu. Senam bersama bertujuan tidak hanya untuk menjaga kondisi fisik, namun juga untuk mempererat korsa pegawai Balai KSDA Bengkulu. Penanaman dilakukan di sekitar kantor Balai KSDA Bengkulu. Jenis pohon yang dipilih adalah pohon berbuah yang bermanfaat secara ekologis dan ekonomis. Penanaman pohon berbuah juga menjadi lambang dimulainya era kerja bersama pengelolaan konservasi bersama masyarakat di Provinsi Bengkulu. Perlombaan permainan rakyat diisi oleh perlombaan sepak bola dangdut, makan kerupuk, balap kelereng, panco, joget balon, olah vokal, panjat pinang dan kreasi masakan lokal. Kegiatan perlombaan diikuti oleh seluruh komponen Balai KSDA Bengkulu; mulai dari resort, kesatuan pengelolaan hutan konservasi (KPHK), seksi wilayah, dan balai. Acara puncak peringatan HUT RI Ke-71 diisi dengan Upacara Bendera yang dipimpin oleh Kepala Balai KSDA Bengkulu, Ir. Abu Bakar. Peserta upacara bendera merupakan gabungan antara Balai KSDA Bengkulu dan Balai PDASHL Ketahun. Seusai upacara bendera, diselenggarakan juga seremoni pengumuman dan pemberian hadiah para pemenang perlombaan permainan rakyat. Pada kesempatan ini juga, Kepala Balai KSDA Bengkulu memberikan apresiasi kepada unit kerja Balai KSDA Bengkulu yang berkinerja baik pada Semester I Tahun 2017. Akhirnya, Dirgahayu Republik Indonesia Ke-72, semoga semangat kebersamaan, kebhinekaan dan pantang menyerah yang dikobarkan para pahlawan pejuang kemerdekaan dapat terus kita teladani. Semoga dengan semangat kerja bersama dan bersama kerja, tujuan program konservasi sumber daya alam hayati dapat terwujud. Merdeka!! Sumber : Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Upacara Peringatan Kemerdekaan Gede Pangrango

Cibodas (17/8/2017). Sebagaikan ungkapan rasa syukur dan kegembiraan bahwa Negara kita sudah merdeka (17 Agustus sekarang ini kita sudah 72 tahun merdeka), bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Demikian pula warga Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ikut memeriahkan hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) al. melalui upacara bendera dilaksanakan secara sederhana, namun penih khidmat. Acara ini diikuti seluruh personil lingkup Balai Besar TNGGP. Upacara peringatan hari kemerdekaan NKRI di Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango kali ini dilaksanakan di halaman kantor Balai Besar di Cibodas Cipanas Cianjur. Acara dipimpin langsung oleh Plt. Kepala Balai Besar TNGGP yang bertindak sebagai inspektur upacara. Diikuti sekitar 113 personil yang terdiri unsur struktural, fungsional Polhut, Pengendali Ekosistem, Penyuluh, fungsional umum, dan siswa-siswi SLTA yang sedang melaksanakan PKL. Sesuai arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada upacara kali ini tidak ada sambuatan atau amanat dari inspektur upacara dan pembacaan teks proklamasi, sehingga acara berlangsung lebih cepat, mulai dari jam 09.00 s/d jam 10.00 WIB. Peringatan hari kemerdekaan RI kali ini tidak dimeriahkan dengan acara hura-hura dan hiburan seperti lomba-lomba, sebagai gantinya dilaksanakan operasi bersih gunung yang berlangsung tiga hari, mulai tanggal 15 sampai 17 Agustus 2017. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan contoh yang baik pada masyarakat sekitar, bahwa untuk peringatan kemerdekaan tidak perlu berhura-hura (yang memerlukan biaya besar), yang penting kita menyadari bahwa kita sudah merdeka dan perlu diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Sumber: Balai Besar TNGGP
Baca Berita

HAMPIR 1 TON SAMPAH BERHASIL DIKELUARKAN DARI GUNUNG GEDE PANGRANGO

Cibodas, 17 Agustus 2017. Bertepatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke – 72, Balai Besar TNGGP berpartisipasi mendukung kegiatan “Sapu Jagat Gunung Serentak” Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan melaksanakan Kegiatan “Operasi Bersih Gunung Tahun 2017 Kerja Bersama 72 Indonesia Merdeka” dengan mengusung tema “Kami Siap Kerja Bersama Membersihkan Gunung Gede Pangrango”. Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 15 sampai 17 Agustus 2017. Tujuan dari kegiatan ini, yaitu membersihkan sampah pada jalur pendakian; meningkatkan partisipasi kesadaran pendaki yang berwawasan lingkungan; serta meningkatkan kecintaan pada bangsa dan negara melalui efektivitas masyarakat peduli kepada lingkungan. Kegiatan ini didukung oleh mitra eksternal, seperti TNI dan kepolisian dari 3 kabupaten (Cianjur, Sukabumi, dan Bogor); mitra internal antara lain, Masyarakat Mitra Polhut (MMP), Masyarakat Peduli Api (MPA); Volunteer (Montana, GPO, Panthera, Evergreen, Tepala, PAL, Eagle, Vanaprastha, PKBM Umi Kulsum, Cantigi, dan relawan dari SMKN 1 Sukabumi); masyarakat (Karang Taruna Desa Perbawati dan Desa Karawang Kecamatan Sukabumi, serta masyarakat lainnya di sekitar kawasan TNGGP). Jumlah personil sekitar 200 orang. Hari Selasa, 15 Agustus 2017 tim Advance sudah mulai naik dari pintu masuk Cibodas (20 orang), pintu masuk Gunung Putri (20 orang), dan pintu masuk Selabintana (10 orang). Hari kedua, Rabu, 16 Agustus 2017 Acara Ceremonial Pelepasan Tim Operasi Bersih oleh Plt. Kepala Balai TNGGP di pintu masuk Cibodas. Pada sambutannya, beliau memberikan apresiasi dan dukungan atas terselenggaranya kegiatan aksi bersih sampah ini karena sampah merupakan salah satu permasalahan utama yang dihadapi dalam pengelolaan lingkungan hidup dan salah satunya di TNGGP karena adanya aktivitas pendakian. Selain itu beliau menyampaikan, “Agar peserta kegiatan operasi bersih dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan menjaga kondisi kesehatan tubuh”. Peserta aksi bersih gunung diikuti dari pintu Gunung Putri dan Selabintana. Aksi bersih dilaksanakan sepanjang jalur pendakian mulai dari pintu masuk (Cibodas, Gunung Putri dan Selabintana) sampai puncak gunung. Kelompok Opsih dibagi per pintu masuk pendakian, masing-masing jalur dibagi per blok/ lokasi operasi. Operasi sampah dimulai dari puncak menyisir jalur ke arah bawah, sampah yang dikumpul dimasukan trashbag dan dibawa dengan menggunakan karung. Hari ketiga, Kamis 17 Agustus 2017 sampah berhasil diturunkan dari ketiga pintu, yaitu: Total sampah yang berhasil dikeluarkan dari Gunung Gede Pangrango seberat 912 Kg, paling banyak berasal dari pintu Gunung Putri, diikuti dari pintu Cibodas dan pintu Selabintana. Sampah ini selanjutnya akan diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kabupaten Cianjur dan TPA Kabupaten Sukabumi. Bagaimana halnya apabila sampah anorganik ini tidak dikeluarkan dari Gunung Gede Pangrango? Sampah membutuhkan waktu penguraian yang cukup lama. Dari beberapa literatur dapat diketahui bahwa waktu penguraian sampah anorganik bisa mencapai 10 tahun bahkan lebih. Sebagai contoh plastik dan kaleng soft drink membutuhkan waktu sampai 100 tahun sedangkan sterofoam membutuhkan waktu lebih dari 500 tahun untuk terurai sempurna. Sampah juga merupakan sumber polusi air, tanah, dan udara yang akan mempengaruhi ekosistem dan kelestarian SDA. Volume sampah akan terus meningkat apabila para pendaki belum sadar terhadap lingkungan. “Gunung Bukan Tempat Sampah” jadi bagaimana seharusnya pengelolaan pendakian yang terbebas dari sampah? Ini yang menjadi “PR” bersama. Balai Besar TNGGP dalam pengelolaan pendakian sudah melakukan langkah-langkah mengatasi masalah sampah ini melalui penyuluhan oleh petugas pada pintu masuk pendakian, pemeriksaan barang bawaan pada saat masuk dan pintu ke luar pendakian, pemasangan papan peringatan sampah, operasi bersih gunung yang rutin dilakukan setidaknya dua kali dalam setahun yaitu pada akhir Maret (setelah penutupan pendakian Bulan Januari sampai Maret) dan pada saat penutupan pendakian Bulan Agustus dalam rangka pemulihan ekosistem. Sumber: Balai Besar TNGGP
Baca Berita

Perayaan kemerdekaan RI ke-72 Bunaken

Popareng, 17 Agustus 2017. BTN Bunaken Bersama dengan Kelompok masyarakat Cahaya Tatapaan menjadi garda terdepan dalam suksesnya pelaksanaan acara HUT kemerdekaan RI yang ke-72, selaku tuan rumah persiapan yang matang dari jauh-jauh hari sudah dilaksanakan mulai kegiatan bersih pantai, persiapan media transplantasi karang, panggung & lain-lainnya untuk mendukung kelancaran kegiatan even HUT kemerdekaan RI yang ke-72 ini. Pemkab Minahasa Selatan bersama dengan BTN Bunaken memusatkan perayaan hari Kemerdekaan RI yang ke-72 di Desa Popareng. Berbagai rangkaian acara dilaksanakan untuk memeriahkan hari kemerdekaan ini, mulai dari pelepasan udang gola, pelepasan burung, penanaman mangrove, transplantasi karang, pelepasan penyu & pengibaran bendera di bawah air. Pada kesempatan ini juga diresmikan pengelolaan akses area perikanan (PAAP) oleh Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Paruntu didampingi Kepala Balai Taman Nasional Bunaken Ari Subiantoro dengan simbolis pelepasan tanda batas kawasan PAAP. Lokasi PAAP ini terdapat pada Zona Tradisional Taman Nasional Bunaken dengan luasan 163 Ha dengan 30,5 Ha sebagai area tabungan ikan. Berharap semangat kelompok Cahaya Tatapaan untuk memanfaatkan zona tradisional makin kuat dan eksis. Banyak instansi yang terlibat dalam pelaksanaan event ini, seperti Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Selatan, Lantamal, Balai Taman Nasional Bunaken, Polair & masih banyak lagi. Dengan semangat Kerja Bersama dalam menjaga dan mengelola lingkungan diharapkan dapat diiringi dengan perbaikan sosial, ekonomi dan lingkungan masyarakat setempat. Yuyun Saepul Uyun (PEH pada Balai Taman Nasional Bunaken)
Baca Berita

HUT RI, Merdeka Untuk Paruh Bengkok Maluku Utara

Sofifi, 17 Agustus 2017. Keberadaan burung paruh bengkok di Maluku Utara bisa saja terancam dari kepunahan, hal ini dapat diketahui dari data Profauna tahun 2008 yang menyebutkan bahwa burung paruh bengkok keluar dari Maluku Utara 10.000 ekor/tahun akibat dari perdagangan satwa liar. Sedangkan data dari Burung Indonesia tahun 2014 menyebutkan bahwa di daerah Ternate dan Tobelo terdapat 1 dari 10 KK memelihara burung. Hari ini tepat pada hari kemerdekaan RI yang ke-72, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) yang melaksanakan upacara HUT RI di alam bebas dengan tema “Merdeka Di Alam Bebas” telah “Memerdekakan” 6 (enam) ekor burung paruh bengkok jenis Kasturi Ternate (Lorius garrulus). Kegiatan pelepasliaran kembali tersebut dilakukan oleh perwakilan dari masyarakat desa Koli, anggota Pramuka, Profauna dan tentu saja Masyarakat Tobelo Dalam. Kepala Balai mengungkapkan bahwa “Biar masyarakat umum yang melepasliarkan, agar rasa simpati terhadap satwa makin dalam dan meng-edukasi mereka”. Sebelum dilepasliarkan, burung tersebut terlebih dahulu dilakukan pengecekan kesehatan oleh Dokter Hewan di Balai TNAL dan kelayakan untuk di rilis. Oleh: Akhmad David Kurnia Putra - Polhut BTN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

16 Bayi Orangutan Mendapat Rumah Baru di Hari Kemerdekaan

Nyaru Menteng, 18 Agustus 2017. Yayasan BOS, peraih penghargaan Brand of the Year Animalis Edition tahun 2017-2018, hari ini memindahkan 16 bayi orangutan dari baby house lama ke baby house baru. Baby house lama telah dipergunakan sejak tahun 2000 dan kini sudah kurang layak untuk menampung bayi orangutan, yang jumlahnya sempat melonjak di atas angka 20 pasca kebakaran hutan besar yang melanda Kalimantan Tengah di tahun 2015 lalu. Yayasan BOS memulai kampanye penggalangan dana untuk pembangunan baby house baru di bulan Desember 2015 dan memulai proses pembangunannya di pertengahan tahun 2016. Yayasan BOS membangun baby house di kedua pusat rehabilitasi orangutan yang dimiliki, Nyaru Menteng di Kalimantan Tengah dan Samboja Lestari di Kalimantan Timur. Baby house baru yang dilengkapi dengan fasilitas bermain dan pengayaan serta Sekolah Hutan khusus bagi grup Nursery berlokasi kurang dari 100 meter jauhnya dari baby house lama, akhirnya siap untuk digunakan. Setelah penantian selama 20 bulan, bayi orangutan di Nyaru Menteng merasakan nyamannya tinggal di rumah baru, yang khusus dirancang bagi mereka. Dr. Ir. Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS mengatakan, “Merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia, kami di Yayasan BOS berinisiatif memberikan hadiah kepada para bayi orangutan kami, sebuah rumah baru, yang semoga bisa membantu mereka mengasah kemampuan, dan terutama, menghapus trauma di masa lalu. Semua orangutan yang kami selamatkan, terutama para bayi, tentu memiliki trauma yang mendalam akibat terpisah dari induknya di usia yang masih sangat belia. Dalam kurun waktu sekitar satu setengah tahun, sejak periode Agustus-September 2015 saat banyak terjadi kebakaran lahan dan hutan, sampai April tahun ini, ada 30 orangutan muda, usia berkisar antara 0 sampai 4 tahun, yang kami selamatkan dan masuk ke dalam pusat rehabilitasi di Nyaru Menteng. Mereka semua kami selamatkan dari wilayah yang tidak jauh dari bekas hutan yang terbakar.” “Yayasan BOS berkomitmen untuk merehabilitasi mereka, membuat mereka semua kembali liar dalam beberapa tahun ke depan, dan melepasliarkan mereka di hutan. Tapi sebelum itu semua terjadi, kami harus bisa membuat mereka siap untuk Sekolah Hutan. Sebelum mereka siap untuk mempelajari keterampilan dasar hidup di hutan, mereka harus terlebih dulu bebas dari trauma, dan baby house kami yang baru ini dirancang khusus untuk itu. Dengan bantuan para babysitter, di sini kami memberi mereka kenyamanan dan rasa aman. Kami harap para bayi orangutan ini merasa senang di sini, bisa tumbuh sehat, sehingga kelak kita bisa pulangkan mereka kembali ke hutan.” Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ir. Wiratno, MSc., mengatakan, “Proses pelepasliaran orangutan membutuhkan banyak persiapan. Mereka harus menjalani rehabilitasi selama beberapa tahun terlebih dulu sebelum bisa kita lepasliarkan ke hutan. Pendirian baby house ini adalah salah satu bagian penting dalam proses rehabilitasi, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan terus mendukung mitra yang kegiatannya merehabilitasi dan melepasliarkan orangutan kembali ke hutan. Sampai saat ini, masih banyak orangutan yang harus diselamatkan dan masuk ke pusat rehabilitasi. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap kelestarian orangutan masih ada. Kebakaran hutan, deforestasi, konflik antara manusia dengan orangutan yang sebagian besar menyebabkan kematian orangutan, penyelundupan orangutan ke luar negeri merupakan ancaman yang harus diselesaikan secara bersama sama. Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri, yang kita perlukan adalah KERJA BERSAMA secara terintegrasi. Kami perlu bergandengan tangan dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga lain, masyarakat setempat, pelaku bisnis, dan lembaga-lembaga masyarakat dalam mencegah upaya pelanggaran hukum sehingga kelestarian alam dan seisinya tetap terjaga.” Didirikan di tahun 1991, Yayasan BOS bekerja untuk menyelamatkan orangutan di Kalimantan terutama di Provinsi Kalimantan Tengah dan Timur dan memusatkan kegiatannya pada upaya-upaya penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran, serta konservasi jangka panjang populasi orangutan dan habitat mereka. Setelah satu dekade tidak berhasil melepasliarkan orangutan ke hutan alami, Yayasan BOS berhasil mengatasi masalah utama tersebut dengan mendapatkan ijin pengelolaan satu kawasan hutan dan segera melanjutkan program pelepasliaran orangutan di tahun 2012. Sejak itu, Yayasan BOS telah melepasliarkan 301 orangutan kembali ke hutan-hutan Kalimantan. Yayasan BOS bekerja bersama pemerintah Republik Indonesia, masyarakat setempat, pelaku bisnis, dan berbagai organisasi konservasi dari seluruh dunia. Kontak: Puja Utama Kasubdit Pengawetan Jenis email: utamapuja@gmail.com Mobile: 08127963755 Paulina Laurensia Ela Spesialis Komunikasi Email: pauline@orangutan.or.id Mobile: +62 813 4733 7003 ***************** Catatan Editor: TENTANG BOS FOUNDATION (YAYASAN BOS) Didirikan pada 1991, Yayasan BOS adalah sebuah organisasi non-profit Indonesia yang didedikasikan untuk konservasi orangutan Borneo dan habitatnya, bekerja sama dengan masyarakat setempat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dan organisasi mitra internasional. Yayasan BOS saat ini merawat sekitar 650 orangutan dengan dukungan 440 karyawan yang berdedikasi tinggi, serta juga para ahli di bidang primata, keanekaragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, komunikasi, edukasi, dan kesehatan orangutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.orangutan.or.id.
Baca Berita

BKSDA Sumsel Partisipasi HUT RI Ke 72 Bersama Dishut Provinsi Sumsel

Palembang, 17 Agustus 2017. Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang k 72 tahun, Balai KSDA Sumatera Selatan melaksanakan Upacara Pengibaran Bendera yang dipimpin oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan Ir. Sigit Wibowo selaku inspektur upacara, dihadiri oleh Kepala UPT dan pegawai seluruh UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan hadiah lomba bakiak putra dan putri, tarik tambang dan panjat pinang. Balai KSDA Sumatera Selatan memenangkan juara II lomba panjat pinang dan juara III Lomba tarik tambang yang dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2017, sebelum pelaksanaan lomba kegiatan diawali dengan senam bersama seluruh pegawai. Peringatan HUT RI kali ini mengusung tema “Kerja Bersama”. Atas nama Pimpinan dan Staf Balai KSDA Sumatera Selatan mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia ke 72. Merdeka !! Sumber Info : Balai KSDA Sumatera Selatan

Menampilkan 10.129–10.144 dari 11.141 publikasi