Kamis, 14 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Tim ERU TN Way Kambas Menggiring Pulang Gajah Liar ke dalam Kawasan TN BBS

Lampung, 27 Agustus 2017. Tim Elephant Response Unit (ERU) Balai TN Way Kambas berhasil menggiring gajah liar yang masuk ke pemukiman warga di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TN BBS) kembali ke dalam TN BBS pada Minggu, 27 Agustus 2017 pukul 13.20 WIB. "Alhamdullilah kami sudah dapat menggiring ke dalam Taman Nasional Bukit Barisan Selatan karena sudah 3 bulan gajah tersebut berkeliaran di pinggiran kampung sekitar kawasan BBS" ucap Nazarrudin selaku koordinator Tim ERU Balai TN Way Kambas dalam penanganan konflik manusia dan gajah liar. Penggiringan gajah liar ini, selain Nazarrudin juga di bantu 4 orang anggota Tim ERU Balai TN Way Kambas yang sangat berpengalaman yakni Tri Sulistiyono, Edi Sutrisno, Khairul Anam dan Eko Ariyanto. Nazarrudin juga menjelaskan Tim ERU Balai TN Way Kambas yang diturunkan terdiri dari 8 orang dengan 5 orang dari ERU, 1 orang dari mitra WWF serta dibantu 2 orang masyarakat. "Dengan bantuan dari mitra dan masyarakat setempat sangat memudahkan Tim ERU dalam upaya penggiringan gajah liar kembali ke habitatnya" jelas Nazaruddin. Sumber : Elephant Response Unit Balai TN Way Kambas
Baca Berita

Pemanfaatan Zona Tradisional Untuk Kolaborasi Kearifan Lokal TN Betung Kerihun

Nanga Era, 28 Agustus 2017. Kegiatan identifikasi potensi dan pemanfaatan zona tradisional merupakan salah satu cara dalam mengidentifikasi aktifitas apa saja yang dilakukan masyarakat di zona tradisional sehingga diperoleh data actual kondisi dan kegiatan pemanfaatan oleh masyarakat sehingga dapat disinergikan dengan kebijakan Taman Nasional dengan kearifan lokal yang telah ada. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 20 s/d 27 Agustus 2017 di dua lokasi yang berada di dalam kawasan TN Betung Kerihun, yaitu di Desa Bungan Jaya dan Desa Tanjung Lokang. Kedua desa tersebut merupakan desa di dalam TN Betung Kerihun yang merupakan wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah IV Nanga Era. Masyarakat di kedua desa tersebut pada umumnya menggantungkan hidupnya dari sumber daya alam hayati dan non hayati yang terdapat di sekitar kehidupan mereka guna memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Johnny Lagawurin, Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kedamin mengatakan “Dua desa ini Bungan Jaya dan Tanjung Lokang adalah desa yang ada dalam kawasan. Masyarakat disana telah turun temurun memanfaatkan hasil alam untuk kebutuhan mereka sehari. Kearifan lokal masyarakat telah ada secara turun temurun harus kita hargai, hormati, dan perlu kita sinergikan dengan kebijakan Taman Nasional”. “ Dengan adanya pendataan ini diharapkan diperoleh data aktual kondisi pemanfaatan di zona tradisional yag dilakukan oleh masyarakat, sehingga kita bisa mengkolaborasikan kearifan lokal dengan kebijakan pengelolaan selanjutnya” imbuh Johnny. Di Desa Bungan Jaya, tim melakukan pendataaan masyarakat mengenai aktivitas mereka sehari-hari di zona tradisional sungai Kapuas. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara terstruktur yang selanjutnya akan dimasukkan dalam form kuisioner yang telah disediakan. Intensitas sampling yang diambil yaitu 20% dari total keseluruhan jumlah Kepala Keluarga di Desa Bungan Jaya. Saat interaksi dalam wawancara dengan masyarakat sebagai target responden, petugas pelaksana menggunakan momen ini sebagai media untuk penyampaian pesan-pesan dalam kaitan dengan upaya membangun pemahaman masyarakat tentang pentingnya perlindungan dan pelestarian kawasan TN Betung Kerihun yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan kehidupan mereka sehari-hari. Sama dengan tahapan kegiatan pada saat di Desa Bungan Jaya, tim melakukan pendataaan masyarakat Desa Tanjung Lokang yang masih satu rumpun suku dengan masyarakat di Desa Bungan Jaya, yaitu Suku Dayak Sub etnis Dayak Punan Hovongan mengenai aktivitas mereka sehari-hari di zona tradisional sungai Kapuas yang terdapat di Desa Tanjung Lokang. Pak todung seorang warga lokal menyatakan perlunya sosialisasi tentang apa saja aktifitas masyarakat yang bisa dilakukan oleh mereka dan dimana saja aktifitas itu dapat dilakukan. Di benak masyarakat selama ini bahwa hadirnya TNBK hanya memberi pelarangan" terhadap aktifitas mereka. Mereka membutuhkan bekal pemahaman mengenai informasi zonasi dengan penyebutan nama lokasinya sehingga dapat mengurangi kecemasan keberadaan TNBK di tj lokang. Sumber Berita: Badrul Arifin - PEH Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum Penanggungjwab berita: Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan Dian Banjar Agung, S.Hut. M.Sc.
Baca Berita

Normalisasi Tanggul Air Asin Balai TN Gunung Palung

Ketapang, 28 Agustus 2017. Balai TN Gunung Palung dan perwakilan masyarakat Dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera Kecamatan Sukadana dan perwakilan SKPD (Dinas PU dan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Kab. Kayong Utara) beraudiensi dengan Dirjen KSDAE di ruang rapat Dirjen KSDAE Gedung Manggala Wanabakti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tanggal 25 Agustus 2017, audiensi tersebut membahas permohonan normalisasi tanggul air asin di kawasan TNGP. Tujuan permohonan yaitu menormalisasi tanggul air asin yang sudah lama tidak berfungsi untuk mengatasi masuknya air laut kedalam pemukiman dan persawahan milik masyarakat, sehingga lahan pertanian dapat produktif kembali. Dalam audiensi tersebut Bpk Dirjen KSDAE beserta Ibu Direktur PIKA dan Perwakilan Direktorat Kawasan Konservasi mendengarkan paparan dari Kepala Balai TNGP mengenai kronologis permohonan normalisasi tanggul air tersebut oleh masyarakat Dusun Tanjung Gunung, dilanjutkan dengan paparan dari Dinas PU yang menjelaskan secara rinci perencanaan dan penganggaran normalisasi tanggul air asin. "Pada prinsipnya saya sangat mendukung kegiatan normalisasi tanggul air asin selama mengikuti peraturan dan perundangan yang berlaku" jelas Dirjen KSDAE saat berdiskusi dengan peserta audiensi. Permohonan normalisasi tanggul air asin dapat diakomodir melalui Perjanjian Kerjasama (PKS) sesuai dengan Permenhut Nomor P.85/Menhut-II/2014 tentang tata cara kerjasama penyelenggaraan KSA dan KPA dan disempurnakan melalui PermenLHK Nomor.P44/MenLHK/Setjen/ KUM.1/1/2017 . Sumber : Balai TN Gunung Palung
Baca Berita

BTN Gn. Palung Berpartisipasi di Pameran Kab. Kayong Utara

Ketapang, 28 Agustus 2017. Balai TN Gunung Palung melalui SPTN Wilayah I Sukadana mengikuti pameran dalam rangka HUT RI ke-72 dan HUT Kabupaten Kayong Utara ke-10 di Pantai Pulau Datok, Sukadana-Kayong Utara. Pameran dilaksanakan selama 9 hari dari tanggal 19-27 Agustus 2017. Pameran dilaksanakan untuk menyajikan informasi mengenai kegiatan-kegiatan pembangunan di Kabupaten Kayong Utara, promosi wisata dan hiburan bagi warga masyarakat Kayong Utara. Dalam pameran tersebut stand Balai TNGP menampilkan dokumentasi kegiatan pengelolaan, dokumentasi potensi flora dan fauna, dokumentasi objek dan daya tarik wisata di TNGP dan contoh jenis-jenis tanaman dari kawasan TNGP. Selama kegiatan pameran animo masyarakat untuk mengunjungi stand pameran BTNGP cukup tinggi, hal tersebut dapat dilihat dari jumlah pengunjung selama pameran yaitu 445 orang. Keikutsertaan Balai TNGP dalam pameran menjadikan upaya-upaya konservasi yang dilakukan lebih dikenal oleh masyarakat. Sumber : Balai TN Gunung Palung
Baca Berita

BALAI KSDA BENGKULU LEPASLIARKAN SATWA SITAAN BERSAMA MITRA

Bengkulu – 25 Agustus 2017. Upaya memerangi peredaran tumbuhan dan satwa liar (TSL) secara ilegal terus dilakukan oleh petugas Seksi Konservasi Wilayah III Lampung Balai KSDA Bengkulu bersama mitra. Pelabuhan Penyebrangan Bakauheuni Lampung Selatan merupakan pintu gerbang utama penyelundupan TSL dari Pulau Sumatera menuju Jawa. Penjagaan di Pelabuhan Penyebrangan Bakauheuni merupakan suatu keniscayaan, dan kesuksesan penjagaan didukung juga oleh kinerja para Mitra. Kolaborasi kerja dengan Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheuni, Balai Karantina Pertanian Wilayah Bakauheuni, dan Tim Pos Pelabuhan SKW III Balai KSDA Bengkulu berkali-kali berhasil menggagalkan upaya penyelundupan TSL dari Sumatera ke Jawa. Modus yang sering kali dilakukan adalah satwa liar dititipkan pada bus antar kota antar provinsi, tanpa diketahui pembawanya. Temuan terkahir adalah 37 ekor burung jalak kebo, 55 ekor perkutut, 29 ekor kolibri dan 200 ekor Pleci. Setelah dilakukan cek kesehatan dan perilaku, ratusan burung tersebut dilepasliarkan di Tamah Hutan Raya Wan Abdurahman, Lampung. Pelepasliaran satwa merupakan upaya yang perlu dilakukan guna mengembalikan populasi TSL di alam. Sumber: Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Penyerahan Elang Bido oleh warga sekitar Resort PTN Patok Picis TNBTS

Malang, Senin 28 agustus 2017. Misnadi warga Dusun Aran-aran Desa Sumberrejo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang menyerahkan satwa dilindungi jenis elang bido (Spilornis Cheela) Kepada perwakilan TNBTS dalam hal ini Kepala Resort PTN Patok Picis ( Djoko Puruito R) didampingi Kepala Seksi PTN II Tatag H Rudhata SH. Desa Sumberrejo Kecamatan Ponco Kusumo merupakan salah satu Desa penyangga Resort PTN Patok Picis Seksi PTN II Bidang PTN I TN Bromo Tengger Semeru. Penyerahan raptor dilindungi ini hasil pendekatan dan sosialisasi Kepala Resort PTN Patok Picis dan jajaran kepada yang bersangkutan, sehingga tergerak hatinya secara sukarela menyerahkan satwa tersebut. Penyerahan raptor tersebut disaksikan perangkat desa dan BPD desa setempat. Selanjutnya satwa tersebut akan di tindaklajuti dengan penyerahan kepada BBKSDA Malang Jawa Timur, untuk di rehabilitasi dan selanjutnya di release ke tempat yang sesuai dengan habitatnya. Pada kesempatan tersebut pihak TNBTS menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bp Misnadi dan berharap moment ini bisa di ambil contoh bagi masyarakat sekitar TNBTS untuk peduli dan ikut melestarikan flora fauna sekitar kawasan TNBTS. Sumber: BBTN BTS
Baca Berita

Sinergi BBKSDA Papua Dan Ketua Dewan Adat Imbi Numbay

Jayapura, 28 Agustus 2017. Ruangan Kerja Kepala Balai Besar menjadi saksi pertemuan dan diskusi antara Kepala Balai Besar KSDA Papua Ir. Timbul Batubara, M.Si dengan Ketua Masyarakat Adat Kabupaten Jayapura yg sekaligus sbg Ketua DAS (Dewan Adat Suku) Imbi Numbay Bp. Daniel Toto. dan mencapai beberapa kesepakatan: - Pendidikan Lingkungan bagi masyarakat adat dan lainnya di Jayapura - Masyarakat bisa mengelola pantai - Masyarakat mendapatkan ilmu tentang TSL Apresiasi yang didapat dari Masyarakat bahwa masyarakat sangat mendukung upaya yang dilakukan oleh BBKSDA dalam 2 tahun ini bersama USAID Lestari, sehingga ada perhatian terhadap wilayah Utara Cycloop yang kurang diperhatikan. BBKSDA PAPUA dan USAID Lestari lakukan sudah cukup berhasil baik dengan dibentuknya MMP maupun Peraturan Kampung yang disusun. Atas usaha tersebut, sekarang Kampung Adat Necheibe akan menjadi Kampung Adat contoh bagi Kab Jayapura., demikian juga Perkam (Peraturan Kampung) yang disusun dengan melihat nilai konservasi. Sumber Info : Mariana C.R. Maria, S.Hut (Plt. Kepala KPHK Cycloop Youtefa)
Baca Berita

Mengubah Petani Kelapa Sawit Beralih ke Komoditi Aren Genjah dengan FGD

Kandolo, 28 Agustus 2017. Desa Kandolo merupakan desa penyangga Kawasan Konservasi Balai TN Kutai. Sebelumnya desa ini merupakan desa yang berada di dalam kawasan. Pasca terbitnya SK. Menteri Kehutanan Nomor SK.718/Menhut-II/2014 tanggal 29 Agustus 2014, sebagian wilayah administratif desa ini masuk dalam wilayah yang di enclave dan berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Taman Nasional Kutai. Balai TN Kutai selaku pengelola kawasan bekerjasama dengan Mitra TN Kutai mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kelestarian TN Kutai dengan mengembangkan "Model Desa Konservasi (MDK)" termasuk salah satunya adalah Desa Kandolo. Kerjasama Balai TN Kutai dan Mitra TN Kutai dengan Kelompok pengolahan gula aren Nyiur Melambai dan pihak Pemerintah Desa Kandolo dikukuhkan dengan ditandatanganinya MoU atau perjanjian kerjasama pada tahun 2016 dengan jangka waktu selama 5 (lima) tahun. Berbagai kegiatan telah dilakukan diantaranya peningkatan kapasitas masyarakat (capacity building) penguatan kelembagaan kelompok dan pembuatan dapur untuk pemasakan gula aren. Kedatangan tim ekpedisi ilmiah Institut Pertanian Bogor "SURILI 2017" ke Balai TN Kutai selama 12 (dua belas) hari mulai tanggal 19 hingga 30 Agustus, dimanfaatkan untuk menggali informasi terkait pengelolaan aren di Desa Kandolo melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan Kelompok Nyiur Melambai. Masyarakat diminta menceritakan sejarah awal bagaimana tanaman aren tersebut diusahakan hingga menjadi tanaman komoditi unggulan di Kandolo, pemilihan benih aren, pengolahan gula aren sampai pada pengemasan produk. Selain itu dalam FGD tersebut di bahas nilai ekonomis produk aren dan permasalahan dalam pengolahan aren. Hal yang menarik dalam diskusi tersebut adalah komitmen pihak desa dan kelompok Nyiur Melambai untuk tetap mengembangkan aren sebagai komoditi unggulan mereka ditengah hegemoni kelapa sawit dan karet. Proses pemasakan yang memakan waktu terlalu lama memerlukan pengembangan/ sentuhan teknologi berupa mesin pemasak yang dapat mengeffisienkan waktu serta tentu saja ide-ide lainnya guna kemajuan kelompok. Diharapkan kelompok Nyiur Melambai dapat berkembang menjadi kelompok usaha produktif yang menjadi soko guru ekonomi masyarakat Desa Kandolo, dan menjadi katalisator yang mampu mengubah petani kelapa sawit untuk beralih ke komoditi aren genjah guna mewujudkan hutan yang lestari dan masyarakat yang sejahtera. Sumber : Balai TN Kutai
Baca Berita

Serunya Kunjungan Edukasi Sebagai Upaya Bina Cinta Alam TN. Gunung Leuser

Aceh Selatan, 28 Agustus 2017. Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) mendapat kunjungan edukasi (School Visit) dari pelajar SD Negeri Seunebuk Keuranji, Kota Bahagia, Aceh Selatan ke Stasiun Pembinaan Populasi Penyu Rantau Sialang, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Kluet Utara, Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah I Tapaktuan. Kunjungan tersebut di fasilitasi oleh BCCP-GLE KfW yang merupakan kerjasama antara pemerintah Jerman dengan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam melaksanakan Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Iklim di Ekosistem Gunung Leuser. Para pelajar diperkenalkan jenis-jenis penyu yang ada di Indonesia dan bagaimana cara membedakannya. Selain itu mereka juga ikut langsung mempraktekkan cara mengidentifikasi jenis penyu yang dimiliki Stasiun Pembinaan Populasi Penyu Rantau Sialang. Aktivitas menarik lainnya adalah pelepasan beberapa anak penyu (tukik) secara bersama-sama ke pantai Rantau Sialang. Keceriaan nampak terpancar dari raut wajah para pelajar. Ini merupakan pengalaman pertama mereka melihat dan melepas penyu secara langsung. Anisa, mengaku senang dengan adanya kegiatan kunjungan edukasi ini. “Kegiatannya seru dan bermanfaat, dapat menambah pengetahuan baru seputar penyu”, ujarnya berbinar-binar. Sedangkan Jibril, guru pendamping yang hadir pada acara tersebut berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan ke sekolah-sekolah lainnya yang belum mendapatkan kesempatan yang sama. Pelestarian penyu harus terus digaungkan kepada generasi muda mengingat spesies ini masuk ke dalam daftar merah IUCN (Red List International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), artinya keberadaannya di alam sudah semakin terancam punah. “Stasiun Pembinaan Populasi Penyu Rantau Sialang merupakan tempat pelestarian populasi penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea),” jelas Soloon Syahruddin Tanjung, S.Hut, Kepala Stasiun Pembinaan Populasi Penyu Rantau Sialang. Ketiga jenis penyu tersebut secara rutin mendarat di sepanjang pantai Singgahmata Rantau Sialang kala musim bertelur tiba. “Selain sebagai lokasi pembinaan populasi penyu, tempat ini difungsikan juga sebagai arena edukasi dan kunjungan wisata berbasis penyu”, imbuhnya kemudian. Kepala SPTN Wilayah II Kluet Utara, Teuku Irmansyah, S.Hut juga menuturkan, “Kunjungan edukasi seperti ini diharapkan dapat menumbuhkembangkan kepedulian generasi muda terhadap konservasi alam,”. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk Bina Cinta Alam ala TNGL yang selama ini secara berkala dilakukan petugas di lapangan. Ditemui di kantornya, Kepala BPTN Wilayah I Tapaktuan, Buana Darmansyah, S.Hut.T menambahkan, selain kunjungan edukasi berupa School Visit kami pun mengadakan kunjungan ke sekolah yang dilakukan petugas TNGL (Visit to School). Kali ini kegiatan digelar di SMP Negeri 1 Kluet Selatan. Kegiatan tersebut juga masih dalam rangka Bina Cinta Alam yang dilakukan petugas TNGL pada pendidikan formal. “Kunjungan sekolah dilakukan pada semua jenjang pendidikan formal mulai dari SD hingga SMA Sederajat dengan harapan generasi muda memiliki semangat menjaga hutan sebagai benteng terakhir habitat satwa liar dan sebagai penjaga keseimbangan ekosistem”, jelasnya. Saat kegiatan kunjungan ke sekolah berlangsung, Raihana salah satu siswi SMP Negeri 1 Kluet Selatan bertanya, “ Apa manfaat hutan bagi kami?”. Pertanyaan ini dijawab PEH TNGL Arif Saifudin, S.Si yang menjelaskan bahwa hutan merupakan paru-paru dunia yang dapat memberikan manfaat bagi keberlangsungan makhluk hidup di bumi. Seperti contoh, tumbuhan di hutan menghasilkan Oksigen yang digunakan manusia dan hewan untuk bernafas. Selain itu, hutan juga dapat mencegah longsor dan banjir. Jika hutan musnah, maka bencana alam akan datang. Ibu Amna, S.Pd selaku guru di SMP Negeri 1 Kluet Selatan menyarankan agar kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkala dan berkelanjutan ke generasi muda sebagai agen perubahan di masa mendatang. Sehingga terbangun paradigma konservasi alam sejak dini bagi generasi muda Aceh. Mari Jaga Hutan dan Satwa Liar untuk Generasi Selanjutnya ! Sumber : Arif Saifudin, S.Si - PEH Balai Besar TN Gunung Leuser Foto : Ulul Azmi
Baca Berita

Partisipasi BBKSDA Jabar dalam Ajang BIATTEC EXPO 2017

Bandung (28/8/2017). Kawasan konservasi memiliki potensi luar biasa berupa keanekaragaman flora dan fauna beserta ekosistemnya, jasa lingkungan (air dan wisata), hasil hutan bukan kayu, dan lain-lain. Oleh karena itu, upaya massive untuk mempertahankan kelestarian dan kemanfaatan kawasan konservasi perlu terus dilakukan. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan melakukan berbagai aksi nyata guna mengenalkan potensi kawasan konservasi serta meningkatkan kesadartahuan masyarakat untuk menjaga kelestarian kawasan konservasi. Kegiatan pameran dengan berbagai materi yang ditampilkan, baik berupa media cetak (leaflet, buku, atau foto), media audio-visual, maupun produk-produk ramah lingkungan, dapat dijadikan sebagai satu sarana yang efektif untuk mengenalkan potensi kawasan konservasi kepada para pengunjung, yang diharapkan dapat berujung pada meningkatnya kesadartahuan mereka akan pentingnya menjaga kelestarian dan kemanfaatan kawasan konservasi. Oleh karena itu, Balai Besar KSDA Jawa Barat yang diwakili oleh Bidang KSDA Wilayah II Soreang berpartisipasi dalam sebuah ajang pameran bertajuk Bandung Investment, Agriculture, Tourism, Trade and Export Comodity Expo 2017 (BIATTEC EXPO 2017) yang diselenggarakan oleh PT Visi Sinergi Antarnusa (sebagai event organizer). Pada pameran yang digelar pada tanggal 24 – 27 Agustus 2017 ini, BBKSDA Jawa Barat mengusung tema “Potensi Kawasan Konservasi dan Produk Masyarakat Sekitar Kawasan”. Sesuai dengan tema, materi yang ditampilkan tidak hanya mengangkat potensi kawasan konservasi saja, tetapi juga produk-produk hasil pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan seperti sapu songket dan gula aren, ubi cilembu, dan bandrek “abah”. Pada acara yang diselenggarakan di BTC Fashion Mall Bandung ini, BBKSDA Jawa Barat juga berkolaborasi dengan Model Desa Konservasi (MDK) Pasanggrahan, Paguyuban Putra Kareumbi Agung Desa Cilembu, PT Graha Rani Putra Persada, serta KBM Perum Perhutani Site Cimanggu dalam hal penyediaan materi pameran berupa foto, leaflet, merchandise, maupun produk-produk hasil masyarakat. Pengunjung terlihat sangat antusias dengan berbagai materi yang ditampilkan, terutama produk-produk MDK. Tidak sedikit pula pengunjung yang akhirnya “melek” tentang tupoksi dan kewenangan BBKSDA Jawa Barat yang selama ini kurang dipahami masyarakat karena mereka lebih familiar dengan Dinas Kehutanan maupun Perum Perhutani. Di sisi lain, pengunjung yang sudah mengenal BBKSDA Jawa Barat lebih banyak menyoroti tentang kurangnya lembaga konservasi untuk menampung satwa dilindungi hasil penyerahan maupun hasil sitaan. Semoga, melalui pameran kali ini semakin banyak masyarakat yang mengenal potensi kawasan konservasi di Jawa Barat dan semakin banyak pula masyarakat yang memiliki kesadartahuan tinggi tentang pentingnya menjaga kelestarian dan kemanfaatan kawasan konservasi di Jawa Barat.
Baca Berita

BKSDA NTB Berhasil Mengamankan Karang Hias Tanpa Dokumen Sah

Gerung - Lombok Barat, 28 Agustus 2017. Tim Gabungan Balai KSDA NTB bersama dengan Balai Karantina Ikan Lembar dan KP3 Pelabuhan Lembar pada hari Senin, tanggal 28 Agustus 2017 Jam 11.37 WITA di jalan menuju Pelabuhan Lembar Kecamatan Gerung Lombok Barat berhasil mengamankan karang hias tanpa dilengkapi dengan dokumen yang sah. Pengamanan karang tersebut merupakan hasil tindak lanjut adanya informasi masyarakat tentang keberadaan barang mencurigakan berada di pinggir jalan menuju Pelabuhan Lembar. Tim kemudian melakukan pemeriksaan terhadap barang tersebut, dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap 10 box tersebut ternyata ditemukan karang hias. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, karang yang ditemukan diperkirakan berasal dari perairan Pulau Sumbawa dan diangkut menggunakan bus Surya Kencana, dan karang tersebut akan dipindahkan ke mobil box dan diangkut menuju Denpasar - Bali. Saat ini tim gabungan masih berusaha melakukan penyelidikan untuk menemukan identitas pemilik karang hias tersebut. Dari kejadian tersebut tim berhasil mengamankan 10 box atau lebih kurang 605 potong karang hias. Untuk penanganan/penyelidikan lebih lanjut, karang hias kemudian diamankan sementara di Balai Karantina Ikan Lembar. Dalam rangka menyelamatkan karang hias dan upaya mengembalikan ke habitat alam, bersama dengan Balai Karantina Ikan Lembar pada jam 17.00 WITA karang tersebut dikembalikan ke alam yaitu di perairan Gili Nanggu Lombok Barat. Sumber Informasi : Balai KSDA NTB, 2017
Baca Berita

BBKSDA NTT dan Yayasan Komodo Survival Program (KSP) Perpanjang Perjanjian Kerjasama

Kupang, 28 Agustus 2017. Bertempat di Kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur (BBKSDA NTT), telah dilakukan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara BBKSDA NTT dengan Yayasan Komodo Survival Program (KSP) tentang Penguatan Fungsi KSA dan KPA serta Konservasi Keanekaragaman Hayati melalui Optimalisasi Konservasi Spesies Biawak Komodo (Varanus komodoensis) dan keanekaragaman hayati lain beserta habitatnya pada wilayah kerja BBKSDA NTT. Perjanjian yang berlaku 5 tahun hingga 2021 ini merupakan perpanjangan dari 2 periode sebelumnya 2008-2011 dan 2011-2017 dengan ruang lingkup kerjasama meliputi: 1. Pemantauan populasi, evaluasi status biawak komodo dan kehati lainnya serta habitatnya; 2. Peningkatan kapasitas SDM dan sarana pengelolaan kawasan; 3. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang kinservasi biawak komodo; Hadir pada kesempatan tersebut seluruh pejabat struktural lingkup BBKSDA NTT, rekan-rekan dari NGO antara lain WWF Leusser Sunda, mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang (Unika). Beberapa hal yang menjadi catatan, antara lain bahwa kedepan akan dilakukan peningkatan upaya publikasi hasil-hasil kegiatan serta penyediaan sebanyak mungkin pustaka digital yang dapat diakses dengan mudah oleh khalayak umum melalui website BBKSDA NTT dan KSP. Pada kesempatan yang sama, dilakukan pula Launching Buku Panduan Lapangan Biawak Komodo yang disusun sebagai salah satu hasil kerjasama Yayasan KSP dengan BBKSDA NTT dan BTN Komodo. Sumber : Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

TIM ATASI KEBAKARAN HUTAN CA PEG. CYCLOOP

Jayapura, 28 Agustus 2017. Telah terjadi kebakaran pada lokasi antara Kompleks AL Entrop dan Kampung Buton Kota Jayapura pada jam 15.00 WIT, berdekatan dengan pal batas kawasan CA Peg Cycloop, dari data yang dikumpulkan ketinggian ± 500 m dpl, kemiringan lereng 85-90°, luas areal yg terbakar ± 4 ha, penyebab kebakaran hutan untuk sementara masih diselidiki. Tim Brigade Dalkarhut KPHP Kota Jayapura bergerak bersama tim rescue Saka Wana Bakti serta anggota KPHK Cycloop, jumlah kekuatan ± 11 orang, peralatan 2 jet shooter dan parang serta sabit. Dengan kerja keras tim maka kebakaran dapat dipadamkan dan masyarakat dihimbau untuk menjauhi dan mengantisipasi kebakaran lanjutan karena masih ada spot titik api. Kebakaran hutan yang terjadi sudah tentu menjadi ancaman kehilangan keanekaragaman hayati maupun ancaman terhadap manusia. Oleh karena itu BBKSDA Papua sebagai pengelola CA Peg. Cycloop secara intensif melakukan kegiatan penyuluhan teknik pencegahan dan penanganan kebakaran hutan. Sumber Info : Mariana C.R Maria, S.Hut (Plt. Kepala KPHK Cycloop Youtefa)
Baca Berita

Piagam Penghargaan dari Mahasiswa untuk TN. Aketajawe Lolobata

Sofifi, 28 Agustus 2017. Mahasiswa Universitas Khairun (Unkhair) memberikan piagam penghargaan kepada Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Piagam penghargaan tersebut diberikan dalam rangka partisipasi TNAL dalam memberikan materi penerapan pendidikan lingkungan melalui kearifan lokal diacara Kuliah Bersama Masyarakat (kubermas) mahasiswa Unkhair di desa Akedotilou, kecamatan Oba Tengah, kota Tidore Kepulauan. Saat itu, Kepala Balai TNAL sendiri yang langsung memberikan materi yang telah ditentukan oleh mahasiswa. Pemberian materi kepada masyarakat sekaligus menjadi ajang untuk bersosialisasi dan bersilaturahmi kepada masyarakat desa Akedotilou yang juga merupakan desa sekitar kawasan taman nasional. Desa Akedotilou juga merupakan desa siaga bencana. “Kami berterimakasih kepada mahasiswa yang sudah melaksanakan kegiatan ini, dimana kegiatan ini juga dapat memberikan pemahaman agar masyarakat mengetahui tentang TNAL”, ungkap kepala Balai TNAL, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut., MT. Oleh : Risno Adnan Tenaga Teknis Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Kondisi Terkini Populasi dan Habitat Orangutan

Jakarta (28/7/2017). Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia bekerjasama Forum Orangutan Indonesia (FORINA) beserta forum orangutan regional dan para pihak yang bekerja untuk kepentingan keberlangsungan konservasi orangutan melakukan analisis kelangsungan hidup populasi dan habitat (Population and Habitat Viability Analysis/PHVA) Orangutan Sumatra (Pongo abelii) dan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) pada 23-27 Mei 2016 yang lalu di Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Kegiatan terlaksana atas kerjasama Forum Orangutan Indonesia (FORINA), Orangutan Foundation-United Kingdom, IUCN SSC Primate Specialist Group, IUCN SSC Conservation Breeding Specialist Group dan didukung oleh lembaga-lembaga dan para praktisi-pemerhati konservasi orangutan. Berdasarkan hasil PHVA Orangutan 2016, saat ini diperkirakan terdapat 71.820 individu orangutan yang tersisa di Pulau Sumatera dan Borneo (Kalimatan, Sabah dan Serawak) di habitat seluas 18.169.200 hektar. Populasi tersebut tersebar ke dalam 52 meta populasi dan hanya 38% di antaranya diprediksi akan lestari (viable) dalam 100-500 tahun kedepan. Sejak dikaji pada PHVA 2004 yang lalu, kajian populasi dan distribusi orangutan sumatera (Pongo abelii) semakin berkembang dan dilakukan lebih rinci, dari yang semula diprediksi terdapat 6.667 individu dan tersebar di habitat seluas 703.100 hektar dengan batasan ketinggian di bawah 800 m dpl, maka saat ini populasinya diperkirakan terdapat 14.470 individu di habitat seluas 2.155.692 hektar. Saat ini orangutan sumatera dapat ditemukan di habitat sampai dengan ketinggian 1.500 m dpl serta tersebar di 10 meta populasi dan hanya dua populasi di antaranya yang diprediksi akan lestari (viable) dalam waktu 100-500 tahun kedepan, itupun adalah lokasi pelepasliaran di Jantho Aceh Tenggara dan Bukit Tigapuluh di Jambi. Namun demikian, Fakta tersebut sama sekali tidak mengindikasikan terjadinya peningkatan populasi, sebab apabila dilihat dari kepadatan populasi, justru berkurang dari 0.95 individu/Km2 menjadi 0.67 individu/Km2. Lain di Sumatera lain pula di Borneo. Walaupun sama-sama mengalami perkembangan wilayah cakupan kajian yang lebih luas dan rinci, namun tidak demikian dalam hal estimasi populasi. Saat ini orangutan borneo (Pongo pygmaeus) diperkirakan terdapat 57.350 individu di habitat seluas 16.013.600 hektar yang tersebar di 42 kantong populasi, 18 di antaranya diprediksi akan lestari dalam waktu 100-500 tahun kedepan. Kondisi ini memperbaharui fakta 10 tahun yang lalu yang menyebutkan bahwa populasinya diprediksi terdapat 54.817 individudi habitat seluas 8.195.000 hektar yang dilakukan di area kajian yang terbatas. Jika membandingkan kepadatan populasi, maka terjadi kecenderungan penurunan dari 0.45-0.76 individu/Km2menjadi 0.13-0.47 individu/Km2. Selain itu, terdapat juga populasi orangutan borneo yang hidup di satu bentang alam yang menghubungkan habitatnya di wilayah Indonesia dan Malaysia, yaitu populasi dari sub-jenis Pongo pygmaeus pygmaeus di meta populasi Betung Kerihun dan Batang Ai-Lanjak Entimau, Taman Nasional Klingkang Range-Sintang Utara serta Taman Nasional Bungoh dan Hutan Lindung Penrisen. Untuk itu, perlu adanya kerjasama konservasi orangutan dan habitatnya antara Indonesia dan Malaysia untuk melindungi populasi dan habitat yang saling terhubung. Berdasarkan hasil analisis kelangsungan hidup populasi (Population Viability Analysis/PVA) orangutan kalimantan, angka minimum populasi yang akan bertahan di dalam suatu habitat adalah 200 individu orangutan untuk kemungkinan kepunahan kurang dari 1% dalam 100 tahun dan kurang dari 10% dalam 500 tahun, dan 500 individu orangutan untuk menjaga kualitas dan variasi genetika. Jika ini digunakan sebagai rujukan, maka banyak meta populasi orangutan kalimantan yang terfragmentasi memerlukan keterhubungan melalui koridor dengan metapopulasi lainnya. Melihat kondisi populasi dua jenis orangutan tersebut menunjukkan bahwa ancaman kelestarian orangutan dan habitatnya meningkat akibat dari konversi hutan menjadi fungsi lain, tingginya frekuensi aktivitas penyelamatan (rescue) dan konfiskasi. Oleh karena itu, perlu upaya lebih serius dalam perlindungan kawasan konservasi dan penerapan praktek-praktek pengelolaan terbaik (Best Management Practices) di dalam konsesi yang menjadi habitat orangutan di luar kawasan konservasi. Hasil PHVA Orangutan 2016 ini akan digunakan sebagai landasan ilmiah dalam penyusunan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan 2017-2027 bersama serangkaian hasil evaluasi dokumen sebelumnya. Walaupun populasi Orangutan Kalimantan menurun, namun penurunan ini tidak terjadi dengan sangat cepat, sehingga menyebabkan perubahan status konservasi IUCN. Setidaknya terdapat 43% dari meta-populasinya memiliki tingkat viabilitas yang baik, dibandingkan Orangutan Sumatera yang hanya 20%. Sehingga, penurunan status konservasi Orangutan Kalimantan yang dilakukan oleh ahli primata IUCN pada tahun 2016, dari status spesies terancam punah (endangered) menjadi kritis (critically endangered), tidak sesuai dengan fakta saat ini dan perlu direvisi. Hasil dari PHVA Orangutan 2016 ini, dalam waktu dekat akan dijadikan acuan utama dalam pembuatan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan (SRAK) 2017-2027, mengantikan SRAK 2007-2017 yang akan berakhir pada tahun ini. Dengan data yang lebih baik dan lengkap ini diharapkan dalam perencanaan SRAK berikutnya, dapat menghasilkan suatu strategi yang nyata, terukur dan dapat diimplementasikan. Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi: Email: suci_azwar@yahoo.co.id, Mobile: +62 815 1397 6405 Catatan untuk Editor: FORINA dibentuk dalam Kongres Orangutan Indonesia pada 25 Februari 2009, yang merupakan sebuah organisasi yang berbasis konstituen yang terbagi ke dalam empat kelompok, yaitu kelompok pemerintah (baik institusi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah), kelompok lembaga swadaya masyarakat (LSM), kelompok pelaku usaha, serta kelompok akademisi/ peneliti/ ahli/ pemerhati orangutan serta masyarakat lokal yang hidup di dalam dan atau sekitar habitat orangutan. Lembaga multi pihak ini memiliki beberapa fungsi, diantaranya:
Baca Berita

Evaluasi Zonasi TN Betung Kerihun Dilakukan Secara Periodik

Putussibau, 28 Agustus 2017. Bertempat di kantor Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) dilaksanakan kegiatan FGD internal untuk mendapatkan masukan di lapangan mengenai kesesuaian zonasi TN Betung Kerihun (TNBK). Peserta yang hadir dalam kegiatan ini adalah Kepala Balai Besar TNBKDS, Pejabat Struktural Lingkup BBTNBKDS, staf lapangan dan tim kerja. "Saya tegaskan tim harus berkerja secara profesional dalam menilai kesesuaian zonasi TNBK berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P. 76/Menlhk-Setjen/2015 Kriteria Zona Pengelolaan Taman Nasional dan Blok Pengelolaan Cagar Alam, Suaka Marga Satwa, Taaman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam" ucap Kepala Balai Besar BBTNBKDS, Arief Mahmud. Kepala Bidang Teknis Konservasi BBTNBKDS, Ahmad Munawir menyatakan, bahwa terdapat 2 jenis evaluasi zonasi yaitu evaluasi periodik dan evaluasi kondisi tertentu. Untuk kondisi sekarang evaluasi zonasi yang dilakukan oleh BBTNBKDS adalah secara periodik, yaitu evaluasi yang dilakukan berdasarkan kebutuhan pemantauan secara periodik paling lama 10 (sepuluh) tahun. BBTNBKDS telah membentuk tim evaluasi zonasi TNBK dan telah melakukan beberapa tahapan-tahapan pekerjaan seperti desk studi, Forum Group Dicussion (FGD), uji petik lapangan, dan analisa. Hasil dari evaluasi zonasi ini akan menentukan apakah perlu dilakukan revisi zonasi TNBK atau tetap. Harapannya evaluasi zonasi ini dapat menjawab kebutuhan pengelolaan TNBK saat ini. Sumber berita: Syarief M. Ridwan - PEH Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum Penanggungjawab berita: Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan - Dian Banjar Agung

Menampilkan 10.049–10.064 dari 11.141 publikasi