Selasa, 2 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Lokakarya Validasi Pengukuran Kompetensi di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Makassar, 31 Agustus 2017. Food and Agriculture Organization (FAO) of the United National menggelar Lokakarya Validasi Pengukuran Kompetensi di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) pada 29 – 30 Agustus di Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Makassar. Lokakarya ini bertujuan untuk menyampaikan dan membahas hasil pengukuran instrumen tingkat kompetensi sumber daya manusia (SDM) Aparatur dan Non Aparatur di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Pada lokakarya ini perwakilan dari segenap unsur Aparatur dan Non Aparatur yang merupakan stakeholder TN Bantimurung Bulusaraung hadir. Perwakilan setiap resort, kelompok kerja hingga pejabat struktural hadir mewakili unsur Aparatur TN Bantimurung Bulusaraung. Non Aparatur TN Bantimurung Bulusaraung hadir perwakilan Pendamping Masyarakat, Kader Konservasi, Pemandu Wisata, Pemandu Wisata Gua, Pemandu Wisata Gunung, Manggala Agni Non DAOPS, Operator Sistem Peringatan Bahaya Kebakaran, Operator Peralatan Pemadaman, Penata Posko Siaga, Penata Logistik dan Pergudangan dan Kepala Regu. Selain dari TN Bantimurung Bulusaraung turut hadir pula sejumlah kepala UPT Kementerian LHK lingkup Sulawesi Selatan dan sejumlah pejabat dari BP2SDM dan Ditjen KSDAE Kementerian LHK. Total peserta yang hadir sebanyak 62 orang. Lokarya validasi pengukuran kompetensi ini secara resmi dibuka oleh Wahyu Supartono selaku National Consultant FAO on E-Learning. Lokarya berjalan dengan melakukan sejumlah pembahasan topik melalui Forum Discussion Grup (FGD). Lokakarya ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan Training Need Assessment (TNA) yang dilaksanakan pada 12 – 16 Juni 2017 lalu di Ruang Rapat Balai TN Bantimurung Bulusaraung. Dimana FAO yang bekerjasama dengan Kementerian LHK melalui Badan Penyuluhan dan Pengembanagan SDM (BP2SDM) dalam rangka meningkatkan SDM pengelola kesatuan pemangkuan hutan. Pilot project pada Kementerian LHK ini dilakukan pada TN Bantimurung Bulusaraung dan KPHK Model Jeneberang. “Melalui lokakarya ini akan diperoleh validasi hasil Training Need Assessment yang telah dilaksanakan sebelumnya” ujar Wahyu Supartono. Balai TN Bantimurung Bulusaraung mendukung penuh program kerjasama FAO dan Kementerian LHK ini. Dimana TN Bantimurung Bulusaraung terpilih sebagai salah satu pilot projectnya. “Saya berharap setelah lokakarya ini muncul rekomendasi kebutuhan pendidikan dan pelatihan bagi SDM Aparatur maupun SDM non Aparatur TN Bantimurung Bulusaraung” Tambah Sahdin Zunaidi, Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung. Sumber : Taufiq Ismail - PEH TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Dirjen KSDAE Panelis Seminar Nasional Pengelolaan TN Bunaken Sebagai Destinasi Wisata Laut Dunia.

Manado, 31 Agustus 2017. Deputi II Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Agung Kuswandono membuka Seminar Nasional Pengelolaan Taman Nasional Laut Bunaken Sebagai Destinasi Wisata Laut di Hotel Sintesa Peninsula yang dihadiri oleh Dirjen KSDAE Ir. Wiratno., MS.c sebagai panelis dalam acara tersebut. Dirjen KSDAE menyampaikan bahwa pengelolaan Taman Nasional Laut Bunaken dalam pengembangannya harus berbasis “community based ecoturism” dimana provit margin ada di masyarakat dan pemerintah daerah. Sehingga masyarakat yang ada di sekitar kawasan mampu berpartisipasi aktif dan secara bersama-sama bertangggung jawab dalam melindungi dan mengelola Taman Nasional Laut Bunaken. Salah satu yang dilaksanakan misalnya adalah program kemitraan bersama para pihak dalam pengembangan pemanfaatan zona tradisional bersama masyarakat sehingga diharapkan adanya relevansi/kesesuaian antara lingkungan (zona tradisional) dengan kebutuhan masyarakat yang diharapkan terjadi dampak positif yang dapat saling mendukung/menguntungkan. “Kita harus terus menggali potensi yang ada di masyarakat dan mengembangkannya sehingga hubungan masyarakat dengan kawasan semakin baik dan mesra, masyarakat dan pemda semakin sadar dan turut menjaga kawasan, mengembangkan model kolaboratif yang mutual respect antara masyarakat dan lingkungannya” ujar Pak Dirjen KSDAE menanggapi pertanyaan dari moderator mengenai pengembangan pengelolaan kawasan Taman Nasional Bunaken. Membangun sinergi, kolaborasi komunikasi baik dari para akademisi, pembuat kebijakan, peneliti, pihak swasta, mahasiswa, maupun dari kelompok masyarakat pesisir yang hidup berdekatan dengan taman nasional laut menjadi sukses dan tidaknya mengelola Taman Nasional Laut Bunaken. Humas Taman Nasional Bunaken.
Baca Berita

Balai Besar KSDA Jawa Barat Mendapat Beruang Madu, Elang Brontok dan Menemukan Sarang Penyu

Bogor, 31 Agustus 2017. Sedikitnya 2 (dua) ekor satwa liar diserahkan oleh masyarakat secara sukarela kepada Balai Besar KSDA Jawa Barat. Di Bogor, seorang warga Cisarua, Kab. Bogor bernama Dewi Anggraini menyerahkan seekor beruang madu kepada Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL Bidang KSDA Wil. I Bogor/SKW I Bogor pada tanggal 22 Agustus 2017. Menurut penuturan Dewi, satwa liar bernama ilmiah Helarctus malayanus tersebut merupakan hibah dari seseorang dan kemudian untuk beberapa waktu dia pelihara. Namun, hatinya tergerak untuk menyerahkan satwa pemakan madu ini setelah mengetahui bahwa beruang madu merupakan satwa yang dilindungi undang-undang. Saat ini, beruang madu tersebut telah dititiprawatkan di lembaga konservasi binaan BBKSDA Jawa Barat, yaitu Taman Safari Indonesia Cisarua Bogor, untuk keperluan cek kesehatan, identifikasi jenis, serta menjalani proses rehabilitasi. Pada saatnya nanti, satwa liar tersebut dapat dilepasliarkan kembali ke habitat alamnya. Di tempat lain, seekor elang brontok diserahkan secara sukarela oleh warga Cijulang, Kab. Pangandaran bernama H. Hadari kepada Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL Resor Pangandaran pada tanggal 25 Agustus 2017. Saat ini, satwa liar dengan nama ilmiah Nisaetus cirrhatus tersebut masih berada di Kantor Resort KSDA Pangandaran. Selanjutnya, elang brontok tersebut akan menjalani proses rehabilitasi di Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) di Garut. Pada tanggal 27 Agustus 2017 petugas Resort Pulau Sangiang yang tengah melakukan patroli rutin menemukan 1 (satu) sarang penyu hijau berisi sebanyak 120 butir telur di Blok Villa Bubu TWA Pulau Sangiang. Telur-telur tersebut saat ini telah dipindahkan dari sarang alami ke tempat penetasan semi alami yg berada di Pantai Tembuyung guna menghindari serbuan predator seperti anjing, biawak dan babi hutan. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Pentingnya Peningkatan Kinerja Kepegawaian BKSDA Bengkulu

Bengkulu – 30 Agustus 2017. Sekretaris Ditjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir. Herry Subagiadi, M.Sc., melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Bengkulu. Agenda kunjungan beliau adalah melakukan pembinaan pegawai dalam rangka Inhouse Training Pejabat Fungsional Balai KSDA Bengkulu. Pembinaan oleh Sekditjen ini sekaligus menandai berakhirnya kegiatan pelatihan yang telah berlangsung sejak tanggal 28 Agustus 2017 tersebut. Tim Trainer berasal dari Bagian Kepegawaian dan Ortala Ditjen KSDAE yang dipimpin langsung oleh Kepala Bagian Kepegawaian, Bapak Munarto, B.Sc.F., S.P., M.M. Selain Bapak Sekditjen, turut hadir dan memberikan pembinaan terhadap pegawai balai KSDA Bengkulu adalah Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bengkulu, Bapak Ir. Agus Priambudi, M.Sc dan Kepala Balai KSDA Bengkulu, Ir. Abu Bakar. "Saya menekankan pentingnya peningkatan profesionalisme, repositioning ASN sebagai pelayan masyarakat, peningkatan loyalitas pegawai terhadap institusi, memegang teguh rahasia negara dan rahasia jabatan, perlunya membangun suasana kerja yang harmonis, hindari konflik kepentingan pekerjaan dengan kepentingan pribadi dan golongan, patuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta membangun budaya keteladanan" ucap Bapak Sekditjen KSDAE terkait 7 hal peningkatan kinerja kepegawaian. Selain itu, beliau menambahkan bahwa tantangan pembangunan KSDAE ke depan akan semakin kompleks. Hal ini perlu direspon dengan berinovasi dalam pelaksanaan program konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem. Meneruskan arahan Dirjen KSDAE, Bapak Sekditjen menegaskan perlunya setiap UPT untuk segera menyusun kerangka acuan kerja pelaksanaan program Role Model dan pembangunan Situation Room. Program Role model dapat fokus pada dua hal utama, yaaitu inovasi pelaksanaan program penyelesaian permasalahan atau program peningkatan potensi kawasan konservasi. Situation room menjadi ruang kendali dan ruang informasi yang dapat digunakan oleh pimpinan UPT dalam menentukan kebijakan-kebijakan teknis di lapangan. Selain itu, beliau menyampaikan bahwa Dirjen KSDAE juga menginginkan agar para pejabat fungsional dapat memiliki spesialisasi bidang keahlian. Spesialisasi bidang misalnya adalah dalam bidang konservasi kawasan, pengembangan jasa lingkungan dan community development. Ditambahkannya lagi, diharapkan setiap UPT dapat menerbitkan buku-buku hasil pelaksanaan kegiatan di lapangan. Sehingga karya konservasi dapat dilihat dan dibagikan kepada masyarakat. Sumber : Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Data Smart Patrol, Harmonisasi Balai Besar TN Gn. Leuser dan Mitra

Medan, 30 Agustus 2017. Tim Operator Database Balai Besar TN Gunung Leuser (TNGL) bersama mitra kerja (WCS-IP dan YOSL-OIC) menggelar pertemuan terkait perkembangan SMART PATROL di wilayah kerja Taman Nasional Gunung Leuser. Salah satu agenda yang jadi pembahasan adalah sinkronisasi data model SMART yang selama ini menjadi salah satu masalah dalam proses input data dari SPTN dan BPTN wilayah juga dari mitra ke Balai Besar. Kegiatan yang berlangsung sejak Senin, 28 Agustus 2017 ini sengaja dihelat di tempat pertemuan yang berbeda. Hari pertama di kantor BBTNGL, hari kedua di kantor WCS-IP dan terakhir di kantor YOSL-OIC. "Biar bisa saling silaturahim dan lebih segar pikiran membahas data", ujar Asep Iman Zaenal Muttaqien, operator Balai Besar TNGL. Selain pembahasan tentang perkembangan SMART PATROL, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahim antara BBTNGL dan Mitra Kerja. Agar data kompak dan valid serta harmonisasi kerja tetap terjaga. Karena data dan informasi yang terpercaya mendukung pengelolaan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser menjadi semakin baik. Semangat kerja bersama untuk Leuser [teks&foto ©bbtngl|30082017] Sumber : Balai Besar TN Gunung Leuser.
Baca Berita

Landak Ditemukan Mati di Ruas Jalan Negara Sanggi - Bengkunat TNBBS

Kotaagung, 30 Agustus 2017. Sekira pukul 08.20 WIB tanggal 30 Agustus 2017, ditemukan 1 ekor Landak (Hystrix brachiura) mati di ruas jalan negara Sanggi – Bengkunat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, tepatnya di KM 50 atau lebih dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai Patok 50. Informasi ini disampaikan oleh Mitra Kerja Balai Besar TNBBS Unila – Pili Nani, yang saat itu sedang melintas di ruas jalan tersebut. Diperkirakan Landak tersebut tertabrak oleh kendaraan yang melintas di malam hari, mengingat perilaku Landak diwaktu siang hari bersembunyi di lubang dan pada malam hari aktif mencari makan (nocturmal). Hal ini membuat para pihak kembali melihat dan mengkaji, agar pengelolaan ruas jalan negara yang ada di dalam kawasan TNBBS dapat ikut mendukung program konservasi kelestarian jenis TNBBS. Berdasarkan Surat Menteri Kehutanan Nomor S.10/Menhut-IV/2005 tentang Peningkatan Ruas Jalan Pugung Tampak – Batas Provinsi Bengkulu dan Sanggi – Bengkunat yang melalui TNBBS, Menteri Kehutanan menyatakan bahwa ruas jalan Sanggi – Bengkunat merupakan lintasan satwa Harimau, Badak dan Gajah, maka kegiatan pengelolaannya perlu ikut menjaga kelestarian keanekaragaman hayati serta memasang papan peringatan lintasan satwa. Dalam pengelolaan ruas jalan negara di dalam kawasan konservasi TNBBS, Balai Besar TNBBS bekerja sama dengan Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional V Palembang. Dalam perjanjian kerjasama ini, mencakup 3 ruas jalan, yaitu Jalan Sanggi – Bengkunat sepanjang 11,5 KM; Jalan Liwa – Krui sepanjang 15 KM; jalan Rataagung – Way Manula sepanjang 14 KM. “Kerjasama penyelenggaraan KSA dan KPA adalah kegiatan bersama para pihak yang dibangun atas kepentingan bersama untuk optimalisasi dan efektifitas pengelolaan kawasan, dalam hal ini adalah kawasan TNBBS. Perjanjian Kerjasama ini dapat meliputi penguatan fungsi KSA dan KPA, atau pembangunan strategis yang tidak dapat dielakkan. Kita menyadari pentingnya keberadaan jalan bagi masyarakat, tetapi pengelolaan jalan ini harus turut mendukung program – program konservasi TNBBS”, kata Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Agus Wahyudiono. Mari berbagi ruang, selaras dan seimbang…Kami Siap Kerja Bersama… (KEHUMASAN BBTNBBS, Agustus 2017).
Baca Berita

Inilah Penampaka Goa di TN Aketajawe Lolobata yang Disusuri ASC

Sofifi, 29 Agustus 2017. ASC atau Acintyacunyata Speleological Club kembali diundang Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) untuk mencari dan memetakan goa yang dijumpai pada saat tim Balai TNAL melakukan patroli udara bersama PT Weda Bay Nickel. Goa tersebut berada ditengah-tengah kawasan taman nasional di Blok Aketajawe dan memiliki mulut goa (lubang) yang besar. Pada saat itu tim patroli hanya bisa mengambil foto dari udara beserta air terjun yang besar tetapi tidak bisa menandai letak goa tersebut. Berbekal penasaran dan keingintahuan atas potensi besar tersebut, Balai TNAL kembali mengundang ASC untuk melakukan pencarian goa. Tim ASC pada tanggal 26 Agustus 2017 telah berangkat dan mulai melakukan pencarian goa misterius tersebut melalui jalur desa Kobe, Halmahera Tengah. Selama lebih kurang 20 hari kedepan tim ASC yang didampingi anggota Polisi Kehutanan akan terus melakukan pencarian. Kepala Balai TNAL berharap tim ekspedisi goa berhasil menemukan dan memetakan goa misterius itu. “Siapa tahu goa itu merupakan goa terpanjang di Maluku Utara”, tutup Beliau. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Inovasi Diversifikasi Patroli

(Upaya Pengamanan Kawasan dan Perlindungan Keanekaragaman Hayati di TNGGP) Secara umum patroli di kawasan konservasi dilakukan sebagai tindakan preventif terhadap segala bentuk pelanggaran dan tindak pidana kehutanan yang mungkin terjadi. Dalam pelaksanaannya kegiatan patroli terus berkembang, sesuai tujuan, lokasi target/ sasaran, komposisi regu, metoda, waktu pelaksanaan, dan cara melakukannya. Sehingga munculah berbagai jenis patroli. Begitu juga di Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), telah dikembangkan beragam jenis patroli, salah satunya adalah patroli terpadu (Integrated Patrol Program/ IPP) yang melibatkan kolaborasi Polisi Kehutanan (Polhut) dengan fungsional lain, non fungsional bahkan dengan mitra/ non pegawai. Pada tanggal 18 – 23 Agustus 2017, Bidang PTN III Bogor melaksanakan Patroli Bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) yang melibatkan anggota MMP dan para penggiat lingkungan lainnya dengan personil sebanyak 10 orang Polhut (termasuk Kepala Unit Polhut Bidang PTN Wilayah III Bogor), TPHL, dan MMP. Kegiatan ini dilaksanakan dengan metoda perintisan/ penyisiran target lokasi bahkan dengan penjagaan malam (flying camp) di titik-titik rawan gangguan. Dalam patroli jenis IPP kali ini, berhasil menggagalkan dua kelompok pemburu burung di perbatasan TNGGP, Blok Baru Leunca dengan PTPN Gunung Mas, yang semuanya teridentifikasi sebagai warga lokal. Mereka menangkap burung dengan menggunakan jaring dan jerat serta senjata angin. Barang bukti yang berhasil diamankan yaitu 2 jaring kabut, 4 golok, dua kaleng getah penjerat, 1 arit, 2 pisau, 12 kepala burung, dan 16 ekor burung hidup. Burung yang masih hidup dilepas kembali setelah diambil fotonya karena khawatir akan mati apabila dibiarkan dalam karung. Pada tanggal 23 Agustus 2017 di bidang PTN Wilayah II Sukabumi, telah dilaksanakan Patroli Pencegahan Kebakaran Hutan dengan personil sebanyak 10 orang yang terdiri dari Satuan Tugas Polhut Balai Besar TNGGP, MMP, dan Komunitas Jeep Gunung Gede (Rajegg/ Rampak Jeep Gunung Gede). Metoda merupakan kombinasi antara pemantauan aktifitas para petani sekitar kawasan hutan, pengamatan dan analisis kondisi lingkungan sehubungan dengan ancaman kebakaran hutan, serta kegiatan penyuluhan. Dari hasil patroli diketahui bahwa di daerah penyangga Resort PTN Pasir Hantap masih banyak petani yang membersihkan lahan pertaniannya dengan cara membakar semak belukar. Keadaan lokasi lahan sekitar hutan secara umum dalam keadaan kering. Dengan demikian perlu pengawasan secara intensif untuk menghindari terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Dalam rangka penyuluhan dilakukan pula pemasangan marker peringatan bahaya kebakaran hutan. Sementara itu tanggal 30 Agustus 2017 Bidang PTN Wilayah I Cianjur melaksanakan IPP, dengan metoda patroli terbuka. Kegiatan ini dipimpin langsung Kepala Seksi PTN Wil. I, melibatkan 10 orang personil, dari anggota Polhut (termasuk Kepala Unit Polhut Bidang PTN Wilayah I Cianjur), Penyuluh Kehutanan, MMP, JICA, dan Sekolah Alam Bogor. Dalam patroli rutin terbuka ini berhasil dirubuhkan 3 gubuk bekas pemburu, mengamankan 1 jerat burung, dan mendata para penggarap. Dalam tiga tahun terakhir ini Resort PTN Gunung Putri telah berhasil mengeluarkan penggarap sebanyak 75 KK dari jumlah 533 KK di tahun 2015. Pengeluaran penggarap dilakukan secara pesuasif, jadi mereka keluar tanpa paksaan. Keberhasilan patroli dengan ’varian’ yang ’anti mainstream’ tersebut perlu disikapi dengan bijak tentunya di mana ke depannya jenis-jenis patroli yang bisa dilakukan bisa sangat beragam dengan ’facelift’ atau ’new look’-nya. Bukan hal mustahil nantinya akan ada Patroli Pemantauan Aktifitas Gunung Api Gede, Patroli Batas Kawasan, Patroli Lintas Bidang/ Seksi, Patroli Perlindungan Kehati, Patroli Perlindungan Raflesia dan Habitatnya, Patroli Perlindungan Habitat Macan Tutul, dan lain-lain. Hal ini bisa dijawantahkan tentunya dengan tujuan melindungi integritas kawasan sebagai mandat yang diemban para petugas konservasi dan potensi kehati di dalamnya yang tidak terhitung nilainya. Sumber: Ida Rohaida, Bambang Mulyawan, Moh. Arif Junaidi, dan Isna Farhanuddin (Polhut Balai Besar TNGGP)
Baca Berita

Disiplin Kerja BKSDA Aceh Untuk Role Model

Banda aceh 30 Agustus 2017. Balai KSDA Aceh melaksanakan Rapat Pembinaan Pegawai terkait surat Direktur Jenderal KSDAE perihal Arahan Role Model UPT Dirjen KSDAE. Dalam paparannya kepala BKSDA Aceh mengingatkan bahwa disiplin harus selalu ditingkatkan karena kita selaku PNS abdi masyarakat, apalagi tahun depan sudah mulai penerapan e-kinerja yang menjadi dasar untuk pembayaran tunjangan kinerja. Kepala Balai KSDA Aceh juga menyampaikan arahan untuk peningkatan kinerja pegawai BKSDA Aceh antara lain : Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan arahan dirjen yakni selalu memperbaiki diri dan harus kreatif, menyiapkan perpustakaan, setiap upt mencetak 5 buku tiap tahunnya, melakukan upaya persuasif sebelum melakukan tindakan hukum, penegakan hukum perburuan gajah, pemetaan jaringan perburuan dan pengembangan model pemantauan gajah dengan radio collar. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Hasil Ekspedisi SURILI 2017 di TN Kutai

Bontang, 29 Agustus 2017. Tim Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) dari Himpunanan Mahasiswa Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA), Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) mempresentasikan hasil ekspedisinya di kantor Balai Taman Nasional Kutai setelah melaksanakan ekspedisi selama ± 7 (tujuh) hari (22-28 Agustus 2017) di kawasan Taman Nasional Kutai. Presentasi dihadiri oleh Kepala Balai Taman Nasional Kutai Bapak Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Ketua Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Bapak Dr. Ir. Nyoto Santoso, MS., Asisten III Walikota Bontang serta staf Balai Taman Nasonal Kutai. Dalam sambutannya Kepala Balai TN Kutai menyampaikan bahwa Balai TN membuka diri seluas-luasnya jika mahasiwa tim SURILI maupun mahasiswa dari manapun yang ingin melakukan kegiatan penelitian di Taman Nasional Kutai. Dengan harapan, potensi TN Kutai dapat terexplore dan TN Kutai lebih dikenal lagi oleh masyarakat luas. Diwakili oleh ketua dari masing-masing kelompok pemerhati (KP), presentasi dibagi kedalam 3 (tiga) termin. Termin I yaitu presentasi terkait kajian sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat, KP ekowisata, KP Goa. Dari hasil kajian sosial, ekonomi dan budaya masyarakat di sekitar kawasan TN Kutai menyatakan bahwa masyarakat sedang berada pada proses menuju modernisasi. KP ekowisata menyampaikan bahwa untuk meningkatkan kunjungan wisata perlu diadakan kegiatan berskala massal, pengunjung tidak mengeluarkan biaya yang besar untuk kegiatan wisata alam (tiket, akomodasi dan makan) serta wisatawan tidak terlalu tertarik dengan souvenir karena lebih banyak yang berasal dari wilayah Sangatta dan Bontang. KP Goa memaparkan telah berhasil mengeksplor 6 Goa yang ada di Taman Nasional Kutai dari 17 goa yang telah diketahui keberadaannya. Termin II yaitu KP flora, KP Mamalia, KP Burung. KP flora lebih menitikberatkan pengamatan pada etnobotani masyarakat yang ada di sekitar Taman Nasional Kutai. Hasil yang diperoleh yaitu 5 jenis anggrek yaitu 2 dari jenis Bulbophyllum sp. dan 3 dari jenis Dendrobium sp. masyarakat tidak mengambil jenis obat dari TN Kutai sebanyak 27 Jenis dari 23 famili. KP mamalia memperoleh hasil 5 mamalia yang dijumpai secara langsung dan 6 dari perjumpaan tidak langsung. KP Burung memperoleh hasil 72 jenis burung di site Rantau Pulung dan 26 jenis di site Salebba. Hasil ekspedisi KP burung memperoleh tambahan 3 jenis burung dari 365 jenis burung yang telah ada di data TN Kutai. Termin III yaitu pemaparan hasil ekspedisi dari KP Herpetofauna dan KP Kupu-kupu. Hasil KP Herpetofauna yaitu 21 jenis herpetofauna dari 9 famili yaitu 6 jenis reptil dan 15 jenis amfibi Hasil yang diperoleh ini dapat menambah kekayaan data herpetofauna TN Kutai sebayak 9 jenis. KP Kupu-kupu berhasil mengumpulkan 84 jenis kupu-kupu dari 195 jenis kupu-kupu yang telah tercatat di data TN Kutai. 84 jenis kupu-kupu tersebut tergolong 5 famili yaitu famili Hesperidae, Lycaenidae, Nymphalidae, Papilionidae dan Pieridae. Semoga hasil dari kegiatan ini dapat berguna untuk pengelolaan dan kelestarian Taman Nasional Kutai serta memperkaya data dan informasi yang ada di Taman Nasional Kutai. #TN KUTAI Sumber : Balai TN Kutai
Baca Berita

TN Batang Gadis Destinasi Wisata Antara Danau Toba dan Bukittinggi

Panyabungan, 30 Agustus 2017. Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Madina pada hari Selasa, 29/8/2017, menyelenggarakan acara Lokakarya Multistakeholder bertema Ekowisata Mandailing Natal dan Taman Nasional Batang Gadis Berbasis Kekayaan Alam, Adat, dan Budaya. Acara dilangsungkan di Aula Hotel Rindang Panyabungan dan dibuka oleh Wakil Bupati Mandailing Natal H.M. Ja’far Sukhairi Nasution. "Kawasan TN Batang Gadis yang terletak di Kabupaten Mandailing Natal mempunyai luas ± 72.803,75 hektar dengan flora dan fauna endemik yang cukup tinggi. Letaknya yang strategis, karena berada di tengah-tengah jalur daerah wisata unggulan nasional Danau Toba dan Bukittinggi, membuat kawasan ini memiliki peluang yang besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata antara" jelas Dra. Etti Nurwanti, M.Si., Kepala Balai TNBG Wakil Bupati Mandailing Natal dalam sambutannya menyampaikan bahwa, “Jangan bermimpi Madina ini akan didatangi wisatawan karena mall dan pusat perbelanjaannya, tetapi kita boleh bermimpi Madina akan menjadi destinasi wisata baru di Sumatera Utara karena kekayaan alamnya, karena hutan yang asri sampai ke pesisir pantainya”. Kerjasama kolaboratif merupakan ruh pengelolaan kawasan di TNBG. Berdiri pada tahun 2004, TNBG sebagai habitat tapir dan harimau sumatera merupakan salah satu taman nasional yang awal pendiriannya diinisiasi oleh kelompok masyarakat, NGO, dan Pemerintah Kabupaten. Isu wisata menjadi benang merah kerja kolaboratif di TNBG saat ini. Keberadaan Danatu Toba di Sumatera Utara yang menjadi salah satu dari sepuluh (10) destinasi wisata unggulan nasional berimbas pada semangat pengembangan wisata di kabupaten-kabupaten dan taman nasional di sekitar Danau Toba, termasuk KABupaten Mandailing Natal dan Taman Nasional Batang Gadis. Pada akhir lokakarya, dihasilkan kesepakatan mengenai Selling Point ekowisata Madina dan TNBG berupa list what to see, what to do, dan what to buy saat pengunjung datang ke Madina. Selain itu, parapihak juga menadatangani rekomendasi rencana tindak lanjut untuk langkah-langkah kolaboratif pengembangan ekowisata Madina dan TNBG sampai dengan Desember 2019. Acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Mandailing Natal, Saring, SH; Kepala Dinas Pertanahan Kabupaten Mandailing Natal, Akhmad Faisal, S.Hut; Anggota DPRD Kab. Mandailing Natal, Camat Panyabungan, Camat Puncak Sorik Marapi, Camat Panyabungan Barat, Camat Tambangan, Camat Batang Natal, Kepala KPH VIII Kotanopan-Propinsi Sumatera Utara, Kepala KPH IX Payabungan-Propinsi Sumatera Utara, Organisasi Konservasi Rakyat, Batang Pungkut Green Conservation, Sumatera Rainforest Institute, CII, Natal Saujana Ecotourism, sejumlah kepala desa di sekitar TNBG, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional lingkup Balai TNBG, Kepala Resort lingkup TNBG, KPA Alfa Adventure, dan KPA Madina. Sumber : Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

Milestone Rescue Orangutan Kalimantan oleh BKSDA Kaltim

Samarinda (30/8/2017). Program penyelamatan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus morio) dilakukan oleh Balai KSDA Kaltim bekerja sama dengan beberapa mitra kerja. Mitra BKSDA Kaltim antara lain Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo, Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi KSDA, Yayasan Jejak Pulang, Center For Orangutan Protection (COP) yang telah memiliki payung hukum berupa Perjanjian Kerja Sama (PKS) Saat ini populasi Orangutan yang berada di Pusat Penyelamatan Orangutan Borneo berjumlah 165 individu di Pusat Penyelamatan Center Orangutan Protection (COP) berjumlah 18 individu dan Pusat Penyelamatan Yayasan Jejak Pulang sebanyak 4 individu Selama kurun waktu tahun 2012-2017 Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo telah melakukan pelepasliaran (release) sebanyak 75 individu ke HPH Restorasi PT. Rehabilitasi Habitat Orangutan (PT. RHOI) Kehje Sewen di Kec. Muara Wahau Kab. Kutai Timur Prov. Kalimantan Timur Pada saat ini di Pusat Penyelamatan Orangutan yang dikelola oleh Center Orangutan Protection (COP) terdapat 8 individu Orangutan yang siap untuk dilepasliarkan (release) namun hal tersebut belum dapat dilakukan karena hingga saat ini belum memiliki lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat pelepasliaran (release) pasca rehabilitasi dan sedang dijajaki kawasan HL. Sungai Lesan di Kab. Berau sebagai kawasan pelepasliaran. Sumber: BKSDA Kaltim
Baca Berita

BTN Tambora Ikuti FGD Pemberdayaan Masyarakat Lingkar TN Tambora

Jakarta (29/8/2017). Kemenko. PMK bersama TN Tambora menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) membahas pemberdayaan masyarakat berbasis sosial budaya. FGD yang diselenggarakan pada hari selasa 29 Agustus 2017 di Hotel Haris Vertu Jakarta Pusat dan dibuka oleh Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Kawasan Kemenko. PMK . FGD kali ini merupakan tindaklanjut rapat koordinasi sebelumnya (14 Juni 2017 dan 11 Juli 2017). Selain itu, diskusi ini juga merupakan tindaklanjut rapat terbatas evaluasi pelaksanaan proyek strategis nasional dan program priorotas di NTB tanggal 21 Pebruari 2017 di Kantor Presiden RI. FGD pemberdayaan masyarakat berbasis sosial budaya tersebut bertujuan mengidentifikasi rencana aksi pemberdayaan masyarakat lingkar, dengan bahasan: Koordinasi, Sinkronisasi dan Pengendalian Pemberdayaan Masyarakat yang disampaikan ASDEP Pemberdayaan Masyarakat, Kemenko. PMK; Rencana Aksi Pemberdayaan Masyarakat yang disampaikan Kepala BAPPEDA Kabupaten Bima; Road Map di Kawasan Tambora yang disampaikan Ketua Tim Percepatan Pembangunan SAMOTA serta Sistem Kerjasama dan Kelembagaan Desa yang disampaikan oleh Ditjen PKP, Kemendes PDT dan Transmigrasi. Budhy Kurniawan kepala Balai Taman Nasional Tambora memaparkan rencana aksi pemberdayaan masyarakat lingkar Taman Nasional Tambora serta rencana tindaklanjut dalam mewujudkan role model pengelolaan kawasan yaitu manajemen pendakian dan pengembangan paket wisata alam berbasis masyarakat. Selain rencana aksi, Budhy Kurniawan juga menyampaikan “upaya yang telah dilakukan khususnya yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat sekitar Taman Nasional Tambora termasuk rencana aksi pemberdayaan masyarakat tahun 2017 sebagai komitmen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam mempercepat pengembangan kawasan Taman Nasional Tambora”. Diskusi tersebut dihadiri beberapa Kementerian terkait seperti Kemenko. Perekonomian; Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Sosial; Kementerian Pariwisisata; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; Badan Ekonomi Kreatif; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kementerian Pertanian; Kementerian Koperasi dan UKM dan lain-lain. Dalam FGD tersebut dilakukan identifikasi dan permasalahan terkait pemberdayaan masyarakat; solusi penanganannya serta rencana tindaklanjut termasuk membagi peran bagi setiap stageholder terkait dalam upaya pemberdayaan masyarakat lingkar Tambora. Langkah ini diharapkan menjadi bagian penting dalam upaya percepatan pengembangan kawasan Taman Nasional Tambora. Sumber : Balai TN. Tambora
Baca Berita

KOMITMEN POLRES KAYONG UTARA UNTUK MEMBERANTAS PERBURUAN LIAR DI TNGP

Sukadana-Kayong Utara, 29 Agustus 2017. Kantor SPTN Wilayah I Sukadana kedatangan Kapolres Kayong Utara beserta jajarannya dalam rangka membangun bersama komitmen untuk memberantas pelaku perburuan satwa liar yang dilindungi, kedatangan beliau disambut langsung oleh Kepala SPTN Wilayah I Sukadana. Pada kesempatan tersebut dihadiri pula oleh BKSDA Kalbar dalam hal ini Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, komunitas pencinta reptil dan awak media cetak dan elektronik. “Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) kaya akan flora dan fauna yang dilindungi, jika ada penyalahgunaan maupun perburuan satwa liar yang tidak sesuai dengan aturan, kita akan bekerja sama dengan pihak TNGP dan BKSDA melakukan tindakan tegas’’ terang Kapolres. Kabupaten Kayong Utara merupakan salah satu daerah yang terdapat kawasan konservasi yaitu TNGP, disana terdapat sejumlah satwa yang dilindungi. Untuk itu Polres Kayong Utara bersama TNGP dan BKSDA mengajak masyarakat agar bersama-sama menjaga kelestariannya. Balai TNGP selama ini telah melakukan berbagai upaya pengelolaan kawasan seperti patroli pengamanan terhadap pembalakan liar, perambahan termasuk perburuan liar selain itu upaya penyadartahuan kepada masyarakat terus dilakukan melalui kegiatan penyuluhan dan sosialisasi kawasan konservasi. Sumber : Balai TN Gunung Palung
Baca Berita

Mitigasi Konflik Gajah Sumatera dan Manusia Disekitar Kawasan TNBBS

Kotaagung, 29 Agustus 2017. Balai Besar TNBBS bersama WCS – IP dan Masyarakat Wonorejo melakukan penjagaan di sekitar batas kawasan TNBBS daerah Wonorejo Pekon Sukaraja Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus, untuk melakukan penghalauan Gajah liar yang hendak keluar dari kawasan TNBBS dan memasuki perkebunan masyarakat, Senin malam tanggal 28 Agustus 2017. Teridentifikasi 5 ekor gajah yang terdiri dari 3 ekor gajah dewasa dan 2 ekor gajah anakan, yang telah menimbulakan kerugian masyarakat berupa rusaknya tanaman perkebunan masyarakat dan 1 unit gardu. Sejak tanggal 25 Agustus 2017, kelompok Gajah liar dilaporkan telah keluar dari kawasan TNBBS oleh Tim Patroli SMART TNBBS bersama WCS – IP. “Tanggal 27 Agustus 2017 kemarin, sekelompok Gajah liar yang diperkirakan berjumlah 7 ekor telah merusak 5 rumpun pohon pisang dan beberapa batang pohon Sengon dan Kopi milik masyarakat di sekitar tugu batas Margo Mulyo”. Jadi, upaya mitigasi konflik satwa liar Gajah ini telah telah kita laksanakan bersama masyarakat selama 3 hari, dengan melakukan penjagaan di dekat batas kawasan TNBBS”, ungkap Kepala Resort Sukaraja Atas Subki, S. Hut yang masih berada di lokasi Di tempat terpisah di Kantor Balai Besar TNBBS, Kepala SPTN I Sukaraja Sasriful Hadi mengkonfirmasi kejadian konflik Gajah liar dan Manusia di Pekon Sukaraja dan Margo Mulyo. “Kita bersama masyarakat dan didukung Mitra Kerja TNBBS berupaya menghalau Gajah agar kembali ke dalam kawasan TNBBS, dalam upaya meminimalisir dampak kerugiannya. Sebelumnya juga telah terjadi konflik Gajah liar dan manusia di daerah sekitar kawasan Hutan Lindung Kotaagung Utara, dan gajah telah dihalau masuk ke dalam kawasan Hutan Lindung Kotaagung Utara. Bahkan Tim penghalauan yang dikomandoi oleh ERU Taman Nasional Way Kambas telah berhasil menghalau gajah masuk lebih dalam sampai pada kawasan TNBBS”, kata Sasriful. Upaya penanggulangan konflik Gajah liar yang terjadi harus dilakukan bersama – sama, dan melibatkan pihak Pemerintah Daerah setempat”, tambanhya. Mari berbagi ruang, selaras dan seimbang…Kami Siap Kerja Bersama… Sumber : Humas Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Rescue Orangutan di Kobar Kalteng oleh BKSDA Kalteng

Palangka Raya (29/8/2017). Tim Recue SKW II BKSDA Kalteng bersama OF UK kembali berhasil mengevakuasi satu individu orangutan. Orangutan tersebut berada di Desa Mendawai Seberang Kec Arsel, Kab. Kobar. Orangutan berjenis kelamin Jantan, umur 17 th, berat ±80 Kg, kondisi fisik sehat. Orangutan tersebut dievakuasi dikarenakan kondisi habitatnya yang sudah menyempit dan dikelilingi oleh perkebunan sawit milik masyarakat dan berdasarkan laporan sering masuk ke dalam kebun untuk mencari makan. Sementara orangutan tersebut dirawat di kandang transit SKW II BKSDA Kalteng. Dalam waktu dekat direncanakan orangutan tersebut segera di release ke KPHK Lamandau. Sumber: BKSDA Kalteng

Menampilkan 10.017–10.032 dari 11.141 publikasi