Senin, 1 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Reptil Raksasa Berhasil Dievakuasi BBKSDA Jawa Barat

Serang, 2 September 2017. Di sebuah villa yang berada di Jalan Waringinkurung, Kec. Kramatwatu, Kab. Serang, Banten; 2 (dua) ekor reptil berukuran besar yaitu Buaya muara (crocodylus porosus) berhasil dievakuasi oleh petugas Resort Konservasi Wilayah III Merak – Seksi Konservasi Wilayah I Serang, Bidang KSDA Wilayah I Bogor BBKSDA Jabar. Kejadian ini bermula dari informasi masyarakat tentang keberadaan kedua reptil besar tersebut, selanjutnya segera ditindaklanjuti oleh petugas BBKSDA Jabar dengan melakukan pengumpulan bahan keterangan. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari penjaga villa, bahwa pemilik kedua satwa tersebut tinggal di komplek Pondok Cilegon Indah, Kota Cilegon. Setelah bernegosiasi dan melakukan pendekatan secara persuasif akhirnya pemilik satwa bersedia menyerahkan secara sukarela kedua Buaya muara tersebut kepada Negara melalui Seksi Konservasi Wilayah I Serang, dan diketahui bahwa pemilik satwa berinisial DRB (umur 54 tahun). Berdasarkan hasil identifikasi dan pengukuran diperoleh data; Buaya muara kesatu berjenis kelamin betina dengan panjang 266 cm dan berat 210 kg, perkiraan umur 15 tahun, sedangkan Buaya muara kedua berukuran “WOW” lebih besar yaitu berjenis kelamin jantan dengan panjang 410 cm dan berat 780 kg sedangkan umur diperkirakan 25 tahun. Pemilik tidak mengetahui persis kapan dan darimana kedua buaya itu diperoleh, karena yang bersangkutan memelihara buaya tersebut merupakan warisan dari orang tuanya yang telah meninggal. Petugas, dengan disaksikan oleh pemelihara dan dibantu oleh masyarakat setempat serta pegawai PT. Muruy berhasil mengevakuasi satwa tersebut. Dibutuhkan tidak kurang dari 5 (lima) orang untuk dapat menaklukan binatang melata raksasa tersebut dan mengevakuasinya. Selanjutnya, kedua satwa tersebut dititiprawatkan di PT. Muruy yang beralamat di Kampung Muruy - Kab. Pandeglang yang merupakan salah satu penangkar reptil binaan BBKSDA Jabar. Penyerahan dan titip rawat tersebut tidak lupa diliput dalam dokumen Berita Acara. Sumber : Kepala Resort Konservasi Wilayah III Merak – Seksi Konservasi Wilayah I Serang, Tuwuh Rahadianto Laban.
Baca Berita

Balai TN Matalawa Jadi Juri Lomba Ketangkasan Baris Berbaris

Sumba Timur, 2 September 2017. Saka Wanabakti Laiwangi Wanggameti menyelenggarakaan Lomba Ketangkasan Baris Berbaris (LKBB) ke- IV bertempat di halaman kantor Bupati Sumba Timur. Lomba ini bertujuan untuk 1)menjalin silaturahmi antar gugus depan (gudep), 2) meningkatkan pemahaman tentang baris berbaris, 3) meningkatkan mental disiplin, semangat persatuan serta cinta tanah air dan NKRI. Kegiatan ini diikuti oleh 21 gudep yaitu gudep tingkat Penggalang 9 regu dan Penegak 12 sangga. Penilaian dilakukan oleh juri yang berasal dari Brimob Sumba timur, TNI AL, Polres Sumba Timur, Balai TN MATALAWA dan Gugus Depan 075-076 Infokom. Adapun pemenang untuk tingkat Penegak sbb : 1. Juara 1 MAS Waingapu 2. Juara 2 MAN 1 Waingapu 3. Juara 3 SMKN 1 Waingapu Sedangkan untuk tingkat penggalang : 1. Juara 1 SMP Negeri 1 Waingapu 2. Juara 2 SMP Kasih Agape 3. Juara 3 SMP Negeri 1 Kanatang Sumber : Balai TN Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (Matalawa)
Baca Berita

Balai TN Komodo Lakukan Investigasi Lumba - lumba yang Viral di Medsos

Labuan Bajo, 3 Agustus 2017. Berita Ikan lumba - lumba di Pulau Komodo yang menjadi viral di media sosial sudah dilakukan proses investigasi oleh Balai TN Komodo. "Kami telah menugaskan Tim Patroli terdekat dengan lokasi kejadian untuk melakukan investigasi atas informasi yang viral di medsos" ucap Sudiyono Kepala Balai TN Komodo. Lokasi kejadian di Gili Lawa Pulau Komodo dengan hasil investigasi bahwa terdapat bekas luka gigitan hiu dibagian bawah badan lumba - lumba yang menyisakan 80 cm panjang lumba -lumba ( diperkirakan panjang lumba - lumba 120 cm, lingkar tubuh 60 cm dan panjang mulut 18 cm). Upaya tindak lanjut untuk kejadian ini dengan menguburkan bangkai ikan lumba - lumba tersebut ditempat yang aman. Tim Patroli menyimpulkan, ikan lumba - lumba tersebut mati karena proses alami dan bukan karena ditangkap nelayan. Sumber : Balai TN Komodo
Baca Berita

Konsultasi Publik Rencana Pengelolaan KPHK Bukit Kaba

Bengkulu – 31 Agustus 2017. Balai KSDA Bengkulu menggelar kegiatan Konsultasi Publik Penyusunan Rencana Penataan Blok dan Rencana Pengelolaan Kawasan Konservasi pada Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Bukit Kaba di Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong, Bengkulu. Acara konsultasi publik yang dilaksanakan dua hari (30 – 31 Agustus 2017) dipimpin langsung oleh Kepala Balai KSDA Bengkulu, Ir. Abu Bakar. Konsultasi publik di hari pertama dilaksanakan di Kabupaten Kepahiang pada tanggal 30 Agustus 2017 dihadiri oleh Bupati Kepahiang, Dr. Ir. Hidayatullah Sjahid, M.M. Sedangkan hari kedua dilaksanakan di Kabupaten Rejang Lebong yang dibuka oleh Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Rejang Lebong. Kegiatan ini juga didukung oleh Direktorat PIKA Ditjen KSDAE. KPHK Bukit Kaba terdiri dari beberapa kawasan yaitu TWA Bukit Kaba, Cagar Alam Taba Penanjung I dan II, Cagar Alam Talang Ulu I dan II, dan Cagar Alam Pagar Gunung I – V. KPHK Bukit Kaba terletak di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Kepahiang, Rejang Lebong dan Bengkulu Tengah. Penyusunan dokumen Penataan blok dan rencana pengelolaan KPHK Bukit Kaba dilakukan oleh Tim Penyusunan Blok dan Rencana Pengelolaan dan didukung oleh Universitas Bengkulu. Pada prinsipnya, para pihak di dua kabupaten mendukung visi Pengelolaan KPHK Bukit Kaba yaitu “Terwujudnya KPHK Bukit Kaba sebagai destinasi wisata alam vulkanis unggulan berbasis konservasi dan pusat konservasi bunga Rafflesia arnoldii dan amorphophalus tingkat Nasional” beserta tujuan pengelolaan, misi, strategi dan rencana aksi pengelolaan kawasaan. Pemerintah daerah berharap Pengelolaan kawasan lingkup KPHK Bukit Kaba disinergikan dengan pelaksanaan program pembangunan wilayah kabupaten sekitar kawasan, termasuk dalam pemberdayaan masyarakat. Secara umum, para pihak mengakui bahwa kawasan konservasi lingkup KHPK Bukit Kaba memiliki nilai penting baik dari aspek ekologis, ekonomis, sosial budaya sesuai fungsinya, yang harus dijaga kelestariannya. Selain itu, para peserta konsultasi publik juga menilai Penataan blok pengelolaan kawasan pada KPHK Bukit Kaba telah dilakukan sesuai dengan peraturan-perundangan yang berlaku dan menggunakan metode yang dapat dipertanggung jawabkan serta telah mempertimbangkan aspek ekologis, sosial dan budaya masyarakat sekitar kawasan sesuai dengan status dan fungsi kawasan. Selain itu, para pihak mendukung pengelolaan kawasan pada KPHK Bukit Kaba dikelola dalam sistem blok. Sumber: Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Air Cawang, Hidden Treasure BKSDA Sumatera Selatan

Lahat, 2 Agustus 2017. Menyusuri belantara Hutan Suaka Alam Kelompok Hutan (HSA KH) Gumai Tebing Tinggi yang secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Lahat dan Kabupaten Empat Lawang ini selalu memberi kesan tersendiri. Kawasan yang masuk dalam wilayah kelola Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat BKSDA Sumatera Selatan ini selalu menyuguhkan kemolekan pesona alam dan atraksi satwa liar yang seakan-akan memamerkan bahwa sisi utara HSA KH Gumai Tebing Tinggi masih memiliki kekayaan flora dan fauna yang selalu mengajak siapa saja mendatanginya untuk lebih peduli akan keberadaan dan eksistensi kawasan tersebut. Selain itu,kawasan konservasi tersebut tidak pernah bosan untuk selalu memberi kejutan akan potensi yang tersimpan di dalamnya sehingga menjadi medan magnet tersendiri untuk terus mendatanginya dalam upaya mengungkap tabir misteri akan keindahan yang belum terungkap. Kepala BKSDA Sumatera Selatan Genman S. Hasibuan menyatakan Kegiatan patroli efektif yang dilakukan SKW II Lahat BKSDA Sumatera Selatan pada tanggal 28 sd 31 Agustus 2017 selain untuk pengamanan kawasan juga dilakukan pendataan potensi kawasan. Berdasarkan pendataan potensi kawasan, tim menemukan sebuah tempat yang sangat indah dimana terdapat mata air yang menyembur keluar mengalir menyusuri bebatuan yang dipercantik dengan aliran air yang keluar dari dalam gua. Perpaduan yang sempurna antara bangunan alam yang kokoh menyatu dengan kelembutan aliran air jernih yang menyembur keluar dari mata air yang seakan-akan semburan air tersebut tidak pernah mau berhenti memamerkan keindahannya. Air Cawang, begitulah masyarakat lokal menyebut tempat yang indah tersebut. Terletak pada ketinggian 282 mdpl sejauh 5 km dari desa terdekat yaitu Desa Batu Niding Kecamatan Pseksu Kabupaten Lahat. Perjalanan menuju Air Cawang juga memberi kesan tersendiri yang mana untuk mencapainya harus menempuh 3 jam jalan kaki dari desa terdekat menyusuri Sungai Cawang dan menyeberangi anak-anak sungainya sampai dengan 16 kali. Sungguh luar biasa perjalanan yang harus ditempuh dan tentunya keindahan dan kesempurnaan Air Cawang akan menghapus segala kelelahan. Keberlanjutan sebuah cerita akan keindahan potensi HSA KH Gumai Tebing Tinggi hanya terwujud apabila kelestarian kawasan terus terjaga. Sebuah tanggung jawab bersama karena apabila kawasan konservasi tak terjaga kelestariannya maka keindahan dan segala manfaatnya hanya tinggal cerita dan hal tersebut akan menjadi torehan dosa kita terhadap anak cucu kelak.. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Green Qurban Taman Nasional Kutai

Bontang, 1 Agustus 2017. Balai TN Kutai memelopori "Green Qurban" pada pelaksanaan pemotongan hewan qurban di Bontang. Para muqorib dari Balai TN Kutai yang bersama-sama melaksanakan qurban di Masjid Baitussalam Bontang memulai mengkampanyekan Green Qurban yang memberi kita 3 manfaat sekaligus yaitu Hablumminallaah, sebagai bentuk tunduk kita kepada Allah SWT; Hablumminannaas sebagai bentuk kasih sayang kepada sesama manusia dan Hablumminal'alam sebagai bentuk pertanggung jawaban manusia untuk menjaga lingkungannya agar tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Untuk mewujudkan manfaat 3 in 1 tersebut, para muqorib dari Balai TN Kutai menggunakan kantong kertas dan daun pisang sebagai pengganti kantong plastik untuk membungkus daging qurban yang akan dibagikan kepada para mustahiq. Meskipun sedikit merepotkan dibandingkan dengan menggunakan kantong plastik, namun Balai TN Kutai akan tetap berusaha untuk dapat menjalankan amanah Kementerian LHK dengan sebaik-baiknya. Lebaran Nikmat, Lingkungan Sehat dan Akhirat Dapat. Sumber : Balai TN Kutai
Baca Berita

Pendidikan Konservasi Sejak Usia Dini di TN Kep. Seribu

Pulau Kelapa, 31 Agustus 2017. Tim penyuluh kehutanan SPTN Wilayah I Pulau Kelapa mendapat kesempatan untuk mengajar “Pendidikan Konservasi” bagi para siswa kelas 5 SD Negeri 02 Kelapa di Kepulauan Seribu sebagai bentuk implementasi kegiatan “Muatan Lokal”. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat sejak usia dini untuk mengenal ekosistem dan lingkungan sekitar, sehingga tumbuh rasa kesadaran untuk menjaga dan melestarikan ekosistem. Pada kesempatan ini, tim dibantu oleh 4 orang mahasiswa dari Departemen Ilmu Dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan Dan Kelautan, IPB. Keempat mahasiswa ini kebetulan sedang melaksanakan ekspedisi di Kepulauan Seribu dibawah naungan Himpunan Mahasiswa Ilmu Dan Teknologi Kelautan (Himiteka) yang merupakan himpunan profesi dari Departemen ITK. Adapun tema yang disampaikan dalam pendidikan konservasi ini adalah “Pengenalan Ekosistem Dan Spesies Penting Di Taman Nasional Kepulauan Seribu”. Dalam pertemuan ini, tim memberikan materi tentang pengenalan dan fungsi ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang. Selain itu, tim juga memberikan materi tentang penyu sisik (Eretmochelys imbricata) yang merupakan salah satu satwa dilindungi di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan selama 90 menit (2 Jpl) dengan metode ceramah dan tanya jawab. Materi disampaikan dalam bentuk power point dengan isi materi lebih banyak dikemas dalam bentuk visual (gambar dan foto) disertai sedikit tulisan serta pemutaran film konservasi tentang mangrove, terumbu karang, lamun dan penyu agar materi menjadi variatif dan menarik sehingga para siswa semakin antusias menyimak informasi yang disampaikan. Suasana yang dibangun dalam belajar mengajar adalah santai dan riang gembira, tetapi tetap fokus pada sasaran dengan menyisipkan pesan-pesan kepada para siswa agar menjaga kelestarian ekosistem sekitar melalui upaya tidak membuang sampah ke laut, tidak menangkap ikan dengan bom dan bius serta memberikan pemahaman bahwa jika ekosistem perairan laut rusak maka ikan akan habis dan mereka kelak tidak akan bisa menikmati ikan-ikan yang ada di sekitar mereka. Waktu 90 menit terasa sangat singkat dikarenakan antusiasme dan keseruan para siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Dalam kegiatan ini, tim memberikan kuis (pertanyaan) disertai doorprize berupa sticker sehingga para siswa semakin antusias dan berebut dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. Kegiatan belajar mengajar di dalam kelas ini akan ditindaklanjuti dengan kegiatan praktek lapangan berupa penanaman mangrove dan penanaman karang di kantor SPTN Wilayah I Pulau Kelapa. Sumber? : Ahmad Firman Alghiffari, S.Hut.,M.I.L. - Penyuluh Kehutanan Muda Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu
Baca Berita

ONE DAY AT SIX SAND BEACH FROM PACIFIC OCEAN

Jayapura, (1/9/2017). Kegiatan “One Day At Six Sand Beach From Pacific Ocean” telah dilakukan di CA Peg. Cycloop pada tanggal 1 September 2017 di Pasir 6 Kelurahan Angkasa Kota Jayapura. Kegiatan ini merupakan salah satu dari rangkaian kunjungan ke CA Peg Cycloop dan Kearifan Lokal For Cycloop, kegiatan ini diikuti oleh Kepala BBKSDA Papua Ir. Timbul Batubara, M.Si dan sebelas pegawai BBKSDA Papua lainnya. Diawali pertemuan dengan Ketua Dewan Adat Suku (DAS) Bpk. Daniel Toto, serta melakukan penunjukan Kepala Resort Raveni Rara yaitu Andi Y. Rumbrapuk (Polhut BBKSDA Papua). Kegiatan selanjutnya adalah pembersihan disekitar Pasir 6 dan juga pembuatan tempat sampah, kemudian melakukan penyemenan tangga menuju puncak pemantauan Samudera Pasifik dan CA. Peg. Cycloop yang diawali dengan peletakan batu pertama oleh Kepala Balai Besar KSDA Papua serta pemasangan spanduk Kearifan Local for Cycloop, selanjutnya mempersiapkan kegiatan untuk malam hari dengan memasang tenda yaitu malam kebersamaan (api unggun) dan selanjutnya beristirahat. Keesokan harinya, pada pagi hari, diawali dengan kegiatan melihat site monitoring pengamatan burung Cenderawasih dan potensi wisata lainnya (air terjun) yang letaknya di sekitar lokasi Pasir 6 dan kemudian dilanjutkan dengan mengembalikan beberapa jenis anggrek ke alam serta penyerahan bibit 2000 pohon (Matoa, Merbau dan lainnya) kepada Ketua DAS untuk penanaman di sekitar pantai pasir 6 dan Kampung Necheibe. Sebelum menuju Kampung Adat Necheibe, tim melakukan pembersihan pantai dan diselingi dengan aktivitas tim yaitu menyelam, diving serta berlari di pantai. Dalam perjalanan ke Kampung Adat Necheibe, dari speedboat mencermati ekosistem Cycloop sepanjang pantai, berhenti sejenak menyaksikan keindahan batu bulat (sakral) dan mengabadikan dengan drone. Setelah tiba di Kampung Adat Necheibe yaitu Kampung yang berada di Distrik Raveni Rara Kabupaten Jayapura, tim disambut oleh Ondoafi (Bpk Gustap Adolop Toto), Ketua DAS dan guru sekolah. Ondoafi menceritakan tentang ekosistem dan sejarah Cycloop, kegiatan di Kampung Adat Necheibe diawali dengan pengecatan sekolah dan dilanjutkan dengan pertemuan di Balai Kampung dengan masyarakat setempat, Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan Pemerintahan Kampung yang dipimpin langsung oleh Ondoafi Kampung Adat Necheibe, acara diakhiri dengan foto bersama dan kompak melakukan salam konservasi. Selanjutnya dalam perjalanan kembali menuju Pantai Pasir 6, disepanjang perjalanan Ondoafi dan Ketua DAS menceritakan tentang sejarah Batu Bulat (wisata religi) dan penunjukan lokasi peneluran penyu. Tak terasa kunjungan tim telah berakhir, tetapi kunjungan ini bukanlah pertemuan yang terakhir karena dari kunjungan ini diharapkan adanya suatu evaluasi dari wujud upaya konservasi yang akan dilakukan. Sumber Info : I Ketut Diarta Putra, S.Si (Kasubag Evlap & Humas BBKSDA Papua) & Tim One Day At Six Sand Beach From Pacific Ocean
Baca Berita

Membentuk Pewarta, Fotografer dan Videografer Kawasan Konservasi

Makassar, 31 Agustus 2017. Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis Jurnalistik, Fotografi dan Videografi bagi pejabat fungsional yang bertugas di lapangan selama 4 hari di Hotel Maxone Makassar. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas penulisan, Teknik pengambilan gambar dan video. Sehingga output dari laporan dan dokumentasi tersebut juga dapat menjadi bahan publikasi bagi kawasan konservasi yang berada dibawah pemangkuan Balai Besar KSDA Sulawesi selatan. Dalam pembukaan kegiatan ini, Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Ir. Dody Wahyu Karyanto,. MM bercerita pengalamannya bahwa terkadang kreativitas kadang muncul ketika berada dibawah tekanan atau perasaan tidak puas terhadap situasi dan kondisi tertentu. Akan tetapi hasrat dan keinginan untuk terus belajar juga harus ada, sehingga memunculkan motivasi untuk berkembang diluar pengetahuan yang dikecap dalam bangku pendidikan. Materi Bimbingan Teknis Jurnalistik dibawakan oleh Eko Rusdianto dari Mongabay Indonesia, Fotografi oleh Sofyan Syamsul dari Salindia Project, dan videografi oleh Muhammad Taufik dari Rumah Ide Makassar. Setelah pemberian materi kegiatan praktek dilaksanakan di Kawasan Wisata Hutan Batu Karst Rammang-rammang dan Sanctuary Kupu-kupu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Maros. Di Kawasan wisata ini peserta ditugaskan untuk mengimplementasikan materi yang telah mereka dapatkan selama bimbingan teknis untuk membuat berita, foto dan video sesuai hasil observasi mereka. Dalam penutupan Bimbingan Teknis ini, Kepala Sub Bagian Data Evaluasi dan Pelaporan Dedy Asriady,. S.Si,. MP menyampaikan bahwa penilaian dari pemateri adalah untuk menunjukkan kekurangan yang harus diperbaiki sehingga kedepan kualitas dari pelaporan dan dokumentasi untuk kepentingan dan kehumasan dapat dikemas dengan lebih baik dan menarik. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Momentum Hari Raya Idul Adha, Semangat Berkurban Untuk Organisasi

Putussibau, 01 September 2017. "Agar semangat berqurban juga menumbuhkan semangat berqurban untuk organisasi" (Wiratno, Dirjen KSDAE), himbauan Direktur Jenderal KSDAE agar momentum Hari Raya Idul Adha menjadi penumbuh semangat bagi setiap pegawai lingkup Ditjen KSDAE agar bekerja keras dengan sebaik-baiknya untuk organisasi yang pada khususnya dan NKRI pada umumnya. Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) menyelenggarakan penyembelihan hewan qurban sebanyak 1 ekor sapi yang merupakan qurban dari beberapa Pegawai BBTNBKDS. Proses penyembelihan dilakukan setelah sholat ied dengan penuh semangat walau diguyur hujan. Arief Mahmud, Kepala Balai Besar TNBKDS menyampaikan, Selamat Hari Raya Idul Adha, Mohon Maaf Lahir dan Batin. “Mari kita sambut himbauan tersebut dengan bukti nyata pada peningkatan semangat kerja dan berkinerja dengan hasil prestasi yang lebih baik dari sebelumnya. Walaupun kita bekerja diujung batas negeri nun jauh dari ibu kota negeri ini, setelah hari raya qurban kita harus melakukan perbaikan dan mewujudkannya” tambah arief pada kesempatan itu. Daging qurban yang telah disembelih dibagikan kepada yang berhak serta masyarakat yang membutuhkan di sekitar Kantor Balai Besar TNBKDS. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum Penanggung Jawab Berita : Dian Banjar Agung
Baca Berita

Ketika Budaya Lokal dan Keanekaragaman Hayati Melebur di Pusat Pendidikan Konservasi Alam (PPKA) Bodogol

Cibodas, 31 Agustus 2017. Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol atau dikenal dengan PPKA Bodogol dijadikan sebagai lokasi kegiatan Kemah Konservasi Tahun 2017 tepatnya tanggal 30 - 31 Agustus 2017. Kegiatan ini merupakan salah satu pendidikan lingkungan dengan sasaran dari kalangan pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas di Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) khususnya wilayah Kabupaten/ Kota Bogor. Biasanya kegiatan ini diisi dengan pemberian materi dalam bentuk teori dan praktikum serta games. Namun, kali ini kegiatan tersebut dijadikan sebagai ajang memperoleh feed back apakah “pesan yang ingin dihadirkan dalam program interpretasi taman nasional” berhasil disampaikan oleh para interpreter. Dengan mengusung tema, Fungsi Hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang Luar Biasa dalam Menyangga Kehidupun Manusia. Para Interpreter baik dari petugas TNGGP, CI Indonesia, maupun volunteer dari masyarakat sekitar wilayah Bodogol memperlakukan peserta kemah konservasi sebagai pengunjung yang akan pulang membawa “message” dari taman nasional. Suatu hal yang selalu diingat dan berkesan dari pengalaman berekowisata di TNGGP merupakan sasaran dari yang akan dicapai sehingga pengunjung akan datang dan datang lagi ke tempat tersebut. Pada umumnya interpretasi suatu daya tarik wisata sebelumnya lebih menonjolkan pada data/ informasi selengkap-lengkap tanpa mempertimbangkan pada sasaran dari berbagai kalangan dan cenderung menjenuhkan. Kali ini interpretasi berbeda dengan biasanya lebih terkonsep dan terdapat integrasi antara satu daya tarik dengan daya tarik lainnya serta adanya refleksi pada kehidupan sehari-hari sehingga pengunjung lebih memahami pesan yang disampaikan. Sejalan dengan tema di PPKAB “Menyingkap Rahasia Hutan Hujan Tropis”, materi berbasis alam dengan menonjolkan filosofi luar biasa dari alam bagi kehidupan manusia. Dengan demikian “interpretasi yang terencana dengan baik dapat mem-bridging antara nilai luar biasa yang terkandung di dalam taman nasional dengan kehidupan “pengunjung” yang datang. Semakin banyak pengunjung yang pulang dengan membawa “message” tersebut, semakin banyak yang akan mempunyai kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian taman nasional. Kegiatan kemah konservasi ini diikuti oleh 20 orang pelajar dari SMU Negeri I Kota Bogor, SMU Negeri I Ciawi, dan SMU Negeri I Cibinong dan 10 orang volunteer di Bodogol. Kegiatan diselenggarakan oleh Bidang PTN Wilayah III Bogor, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Lido, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Peserta berkemah di Camping Ground PPKAB. Keesokan harinya (31/08/2017), peserta diajak mengikuti Interpreted Canopy Trail Walking Tour dan Interpreted Cikaweni Waterfall Walking Tour. Selama perjalanan (tour), interpreter memberikan interpretasi menggunakan entry point kehati yang merupakan atribut penting dari PPKA Bodogol. Selain itu juga, untuk memberikan apresiasi pada budaya lokal dan menonjolkan kekhasan suatu daerah ditampilkan kesenian tradisional Pencak Silat Cimande pada malam api unggun yang tentu saja juga diinterpretasikan. Kesenian tradisional merupakan budaya asli warga Cimande secara turun temurun dengan menampilkan gerakan-gerakan kombinasi silat, tarian dan tenaga dalam. Disinilah penyampaian “message” taman nasional dikuatkan ketika budaya dan alam melebur. Tim Pencak Silat ini berasal dari kelompok ekstrakurikuler siswa/i SMP Negeri I Cigombong. Intepreted Canopy Trail Walking Tour dan Interpreted Cikaweni Waterfall Walking Tour akan menjadi produk unggulan di PPKA Bodogol yang syarat dengan muatan pendidikan konservasi alam dan lingkungan di Bidang PTN Wilayah III Bogor. Setelah dilakukan kegiatan, peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman yang diperoleh melalui presentasi kelompok. Pada umumnya peserta sangat terkesan atas apa yang disampaikan oleh interpreter. Sampai-sampai ada peserta yang berkomentar ”Kalo bisa sekolahnya mendingan pindah ke sini saja, kami merasa senang di sini”, ujar Haikal, salah satu peserta yang berasal dari SMUN I Cibinong. Selain itu juga, berdasarkan hasil pre dan post test, hampir seluruh peserta memiliki nilai lompatan naik dratis dibandingkan antara sebelum dan setelah melakukan kegiatan. Dengan metode interpretasi demikian, dari sisi interpreter itu sendiri memang mengalami satu hal yang berbeda berdasarkan respon dari pengunjung yang cenderung lebih aktratif dan tepat sasaran apa yang disampaikan. Meskipun kondisi jalan menuju PPKAB masih belum diperbaiki, namun justru menambah keceriaan dari peserta kegiatan karena dapat melewati dengan mobil off road dan pemandangan yang indah dari bentang alam menuju lokasi. Dengan demikian, perencanaan interpretasi yang baik dalam pengelolaan ekowisata merupakan kunci bagi tersampaikannya nilai penting taman nasional kepada pengunjung. Dimana dalam pengelolaan ekowisata diharapkan dapat memberikan dampak positif yaitu penyadartahuan kepada pengunjung. Kembali pada fungsi taman nasional itu sendiri sebagai tempat penelitian, pendidikan, dan wisata alam. Wisata alam yang mengandung pendidikan konservasi alam dan lingkungan, serta melibatkan pemberdayaan masyarakat itulah yang bisa disebut sebagai EKOWISATA. Ratih Mayangsari (Penyuluh), Maria Hani (Penyuluh), dan edited by Badiah (foto dan redaksi @TNGGP). Salam Lestari, Leuwung Hejo, Masyarakat Ngejo......
Baca Berita

Balai TN Gn Palung Musnahkan Kayu dan Longboat Pelaku Illegal Logging

Ketapang, 30 Agustus 2017. Tim patroli pengamanan bersama Masyarakat Mitra Polhut SPTN Wilayah II Teluk melano Taman Nasional Gunung Palung, berhasil menemukan dan memusnahkan barang bukti temuan berupa tumpukan kayu segi dengan jumlah sekitar 150 batang atau 7,68 M3, jenis kayu Punak/lokal tepatnya di Desa Penjalaan Kab.Kayong Utara. Petugas Balai TNGP langsung bertindak dengan melakukan pemusnahan terhadap barang bukti temuan tersebut dengan cara di potong-potong dengan menggunakan chainsaw. Selain itu ditempat berbeda tepatnya di Sungai Pasir Desa Matan Jaya petugas dan anggota MMP berhasil menemukan alat transportasi berupa longboat sebanyak dua buah dan perahu kato sebanyak satu buah, diduga perahu-perahu tersebut digunakan pelaku illegal logging untuk mengangkut hasil penebangan liar, namun tersangka sudah melarikan diri sebelum kedatangan petugas. Untuk memberi efek jera petugas melakukan pemusnahan barang bukti dengan cara dibakar. Dengan diikutsertakan anggota MMP diharapkan dapat menjadi kepanjangan tangan petugas dalam meminimalisir tindak pidana kehutanan dengan memberikan penyadartahuan masyarakat di tempat tinggal masing-masing pentingnya menjaga kawasan hutan TNGP. Kegiatan pengamanan kawasan hutan terus dilakukan oleh Balai TNGP sebagai upaya untuk meminimalisir tindak pidana kehutanan terutama illegal logging, walaupun dengan jumlah personil yang terbatas dan cakupan wilayah kerja yang luas tidak menyurutkan semangat petugas Balai TNGP untuk memberantas pelaku iilegal logging. Sumber : Balai TN Gunung Palung
Baca Berita

BTN Gn Palung Raih Terbaik III Capaian Indikator Kinerja Semester I Tahun 2017

Pontianak, 30 Agustus 2017. Balai Taman Nasional Gunung Palung menerima penghargaan sebagai satker terbaik III capaian indikator kinerja pelaksanaan anggaran semester I tahun 2017. Penghargaan yang diserahkan oleh Kepala Kantor Wilayah Provinsi Kalimantan Barat Ditjen Perbendaharaan diterima langsung oleh Kepala Balai TNGP. Pemberian penghargaan tersebut diberikan pada rangkaian acara rapat koordinasi pelaksanaan anggaran tahun 2017 yang berlangsung pada tanggal 29-30 Agustus 2017 di Pontianak Kalimantan Barat. Jumlah satker keseluruhan di Provinsi Kalbar 580 satker, sementara yang hadir pada acara 52 satker. Pengukuran kinerja pelaksanaan anggaran didasarkan pada aspek –aspek : 1) Kesesuaian perencanaan dan penganggaran dengan indicator revisi DIPA dan halaman III DIPA; 2) Kepatuhan atas regulasi dengan indikator data kontrak, pengelolaan UP dan LPJ bendahara; 3) Efektifitas pelaksanaan kegiatan dengan indicator retur SP2D, realisasi anggaran dan penyelesaian tagihan; dan 4) Efisiensi pelaksanaan kegiatan dengan indikator perencanaan Kas dan kesalahan SPM. Dengan penerimaan penghargaan tersebut diharapkan dapat memotivasi Balai TNGP dan satker-satker lainnya terhadap capaian indikator kinerja pelaksanaan anggaran pada semester berikutnya dapat lebih baik lagi. Sumber : Balai TN Gunung Palung
Baca Berita

Dua Individu Owa Jawa Melalui Tahapan Habituasi Di Cagar Alam Gunung Tilu, Ciwidey

Bandung (31/8/2017). Owa jawa bernama “Usup” umur 8 tahun dengan jenis kelamin jantan yang merupakan titipan dari Balai KSDA DKI Jakarta dan telah direhabilitasi di PPS The Aspinall Foundation selama 1 tahun, sedangkan sedangkan 1 (satu) ekor lagi Owa jawa bernama “Desi” dengan jenis kelamin betina berumur 5 tahun yang berasal dari titipan Balai Besar KSDA Jabar dan telah direhabilitasi selama 7 bulan di PPS The Aspinalari Foundation juga. Selama di rehabilitasi 2 (dua) individu Owa jawa tersebut dapat dipasangkan dan sudah layak untuk dilepasliarkan. Selain pasangan “Usup” ada juga pasangan “amoy” dan “iwa”, dimana pasangan ini telah terlebih dahulu mengisi kandang habituasi 1 bulan yang lalu. Demikian dilaporkan oleh Kepala Resort Konservasi Wilayah IX Cagar Alam Gunung Tilu Seksi Konservasi Wilayah III Soreang, Bidang KSDA Wilayah II, BBKSDA Jabar; sdr. Dedi Rustandi yang pada hari ini, Kamis, 31 Agustus 2017 telah melakukan pemindahan 2 (dua) individu Owa jawa diatas dari tempat rehabilitasi di PPS The Aspinall Foundation ke lokasi habituasi di blok Cikahuripan perkebunan teh Dewata Cagar Alam Gunung Tilu untuk melalui tahapan habituasi. Sebelum dilepasliarkan, Owa jawa yang telah melalui tahapan rehabilitasi dan dinilai layak untuk dilepasliarkan, harus mengalami tahapan adaptasi dalam suatu kandang yang berada ditengah-tengah kawasan hutan yang nantinya akan menjadi habitat Owa jawa tersebut, sehingga pada saat dilepasliarkan Owa jawa tersebut sudah terbiasa dengan lingkungan/habitatnya dan tidak akan mengalami “stress” dengan habitat barunya itu, proses ini lebih dikenal dengan istilah “habituasi”. Sumber: BBKSDA Jabar
Baca Berita

Peningkatan Penilaian METT BTN Lorentz Dengan Perolehan Nilai 60.

Timika, 31 Agustus 2017. Balai Taman Nasional Lorentz bekerja sama dengan USAID kembali melakukan penilaian efektifitas pengelolaan TN Lorentz dengan menggunakan METT pada tanggal 29 - 30 Agustus 2017 di Hotel Cenderawasih 66 Timika. Berbeda dengan penilaian yang dilakukan pada Tahun 2015, penilaian METT kali ini melibatkan stakeholder terkait seperti Balai Besar KSDA Papua, Bappeda Kabupaten Mimika, Bappeda Kabupaten Jayawijaya, Bappeda Kabupaten Nduga, Forum Kolaborasi Pengelolaan TN Lorentz, Lembaga Masyarakat Adat Asmat, perwakilan masyarakat adat Sempan, PT. Freeport Indonesia yang banyak mewarnai dalam diskusi penilaian efektifitas pengelolaan TN Lorentz. Penilaian METT tahun 2017 ini menghasilkan nilai efektifitas pengelolaan TN Lorentz sebesar 60. Yang artinya terjadi peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan yang cukup baik dengan adanya program-program pengelolaan kawasan yang efektif dan dukungan para pihak dalam pengelolaan TN Lorentz. Dari hasil penilaian teridentifikasi pula bahwa input atau sumberdaya pengelolaan TN Lorentz masih sangat sedikit. Hal ini menyebabkan nilai output menjadi kecil juga. Namun berkat dukungan dari mitra terkait dapat tercapai outcome yang baik. Sebelumnya penilaian efektifitas pengelolaan Taman Nasional Lorentz tahun 2010, 2013, 2015 terjadi trend penurunan efektifitas pengelolaan dari nilai 57, 53, 52 yang disebabkan beberapa faktor, namun pada tahun 2017 ini telah terjadi peningkatan yang signifikan atas upaya kerja bersama. Dalam sambutannya Kepala Balai TN Lorentz, A.Guntara Martana mengapresiasi dukungan yang diberikan oleh pihak lain seperti USAID Lestari, Forum Kolaborasi Pengelolaan TN Lorentz, masyarakat adat, pemerintah daerah dan pihak-pihak lain yang telah berkontribusi dalam penilaian efektifitas pengelolaan TN Lorentz sehingga dapat mencapai nilai 60. Beliau menegaskan bahwa penilaian METT ini bukan penilaian kinerja Balai TN Lorentz. Namun lebih dari itu, bahwa penilaian METT merupakan penilaian hasil akhir atau outcome dari output-output yang dihasilkan selama pengelolaan baik oleh Balai TN Lorentz selaku unit pengelola maupun oleh dukungan pihak-pihak lain. Untuk itu, peningkatan nilai METT saat ini menjadi ukuran atas apa yang telah dilakukan selama 2 tahun terakhir ini. Penilaian METT ini ditutup pada tanggal 30 Agustus 2017 namun masih terdapat banyak hal yang perlu dikerjakan untuk meningkatkan nilai efektifitas pengelolaan TN Lorentz menjadi 70 pada tahun 2019. Sumber : Balai TN Lorentz
Baca Berita

BTN Kepulauan Togean Visit to School

Ampana, 31 Agustus 2017. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean laksanakan kegiatan “Visit To School “ di SPTN Wilayah I Wakai, SPTN Wilayah II Lebiti dan SPTN Wilayah III Popolii. Kegiatan dilaksanakan secara bersamaan di masing-masing SPTN pada Bulan Agustus 2017 dengan sasaran siswa dan siswi sekolah yang berada di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean yakni SD, SMP dan SMU. Kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan dan mengenalkan tentang Taman Nasional serta tugas pokoknya dan menghimbau siswa siswi di Sekolah untuk menjaga lingkungan dengan kegiatan konservasi. Kegiatan “Visit To School “ di SPTN Wilayah III Popolii dipimpin langsung oleh Kepala Balai (Ir. Bustang) dan Kepala Seksi SPTN III Popolii (Yakub Ambagau, S.Hut., M.P.). Antusiasme peserta sangat tinggi dengan kegiatan ini, hal ini diwujudkan dalam bentuk banyaknya pertanyaan yang diajukan mereka kepada Kepala Balai. Salah satu pertanyaan yang ditanyakan siswa dan siswi di SPTN III Popolii adalah tentang untung rugi dari adanya Taman Nasional di kawasan mereka. Ir. Bustang menjelaskan bahwa Taman Nasional memiliki banyak sekali keuntungan diantaranya menjaga sumberdaya alam yang ada di kawasan, melestarikan terumbu karang, mangrove dan kegiatan pelestarian lainnya, ujarnya. "Visit To School “ di SPTN Wilayah I Wakai dan SPTN Wilayah II Lebiti dilaksanakan oleh Penyuluh Kehutanan dan tim. Materi yang disampaikan dalam bentuk slide show dan film tentang konservasi serta dilaksanakan indoor dan outdoor sehingga kelas tidak monoton. Antusiasme siswa sangat tinggi dalam kegiatan ini, karena selain bentuk materi yang disampaikan variatif, dalam pelaksanaannya diselingi dengan kuis dan doorprice yang variatif. Bentuk doorprice yang diberikan antaralain paper bag yang berisi media informasi tentang Taman Nasional dalam bentu leaflet, stiker dan mug. Sumber : Balai TN Kepulauan Togean

Menampilkan 10.001–10.016 dari 11.141 publikasi