Senin, 1 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Mitigasi, Konservasi dan Rekreasi

Konflik Gajah : Mengelola Musibah Menjadi Berkah Kotaagung, 5 September 2017. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) sedang membangun Menara Pantau Gajah di Resort Pemerihan, SPTN II Bengkunat, BPTN I Semaka. “Seperti yang kita lihat kondisi saat ini di lapangan, pembangunan ini dapat dikatakan sudah mencapai 40 % pengerjaan”, ujar Kepala Sub Bagian Umum Hifzon Zawahiri, SE, disaat melakukan pemantauan pelaksanaan kegiatan Balai Besar TNBBS tahun 2017. “Konflik gajah dan manusia terjadi di sekitar batas kawasan TNBBS sejak Bulan Juni 2017 hingga saat ini, dan tersebar di beberapa titik, antara lain di daerah Parda Waras; Srikaton (KPHL Kotaagung Utara); Margomulyo. Ini yang terjadi di Resort Sukaraja Atas, dan diperlukan upaya mitigasi yang efektif serta dukungan dari berbagai pihak”. Hal ini disampaikan oleh Kepala Resort Sukaraja Atas Subki, S.Hut di Kantor SPTN I Sukaraja. Resort Pemerihan SPTN II Bengkunat, juga merupakan Resort yang mengalami kejadian konflik gajah dan manusia cukup tinggi, terjadi antara Bulan Februari s.d. Bulan Juli. Hal ini terlihat pada data statistik Balai Besar TNBBS lima tahun terakhir. Keberadaan Menara Pantau Gajah di Pemerihan Atas diharapkan dapat menunjang efektifitas mitigasi konflik gajah dengan manusia di Resort Pemerihan. Terdapat 4 Kelompok Masyarakat di Pekon Pemerihan yang berperan aktif dalam upaya mitigasi konflik, antara lain Forum Sahabat Gajah; Pemuda PSHT Pemerihan; KTH New Trees; Satgas Konflik Pemerihan. Kegiatan pembangunan Menara Pantau Gajah merupakan aspirasi dari keempat Kelompok Masyarakat tersebut. “Titik lokasi dibangunnya menara pantau ini berdasarkan masukan dari masyarakat pemerihan, dan titik lokasi ini merupakan perlintasan gajah. Diperkirakan gajah yang ada disekitar lokasi menara pantau berjumlah 24 ekor. Menara Pantau Gajah yang akan dibangun ini berukuran 4 x 6 m, terdiri dari 3 tingkat dan pada tingkat paling atas dipergunakan untuk mengamati pergerakan gajah liar. Menara Pantau ini juga dilengkapi dengan MCK pada tingkat 3. Selain untuk mitigasi konflik, Menara Pantau ini juga akan difungsikan sebagai sarpras ekowisata. Wisatawan yang berkunjung ke Resort Pemerihan dapat melihat langsung keberadaan gajah liar dari tingkat 3”, papar Kepala Resort Pemerihan Una Maulana SMHk. “Pengamatan gajah liar akan menjadi salah satu atraksi wisata di Resort Pemerihan, masyarakat sebagai penyelenggara ekowisata telah membentuk Koperasi Dwipangga Abadi pada tahun 2014 lalu dan beberapa warga masyarakat Pekon Pemerihan telah menyediakan Home Stay secara swadaya. Hal ini tentu akan meningkatkan ekonomi masyarakat Pemerihan”, tambah Una. Keberadaan Menara Pantau Gajah Pemerihan mengusung konsep “Mitigasi, Konservasi dan Rekreasi” dalam satu kegiatan. Menara Pantau Gajah digunakan dalam upaya mitigasi konflik gajah dengan manusia. Dengan mencegah terjadinya kematian gajah akibat dampak negatif konflik merupakan upaya konservasi gajah. Menara Pantau Gajah digunakan untuk kegiatan rekreasi, wisatawan dapat melihat gajah liar langsung di alam bebas dengan aman, karena kontruksi tiang Menara Pantau setinggi 4 meter diperkirakan diluar jangkauan gajah. Keberadaan gajah liar di Resort Pemerihan dapat mengundang wisatawan nusantara dan mancanegara. Hingga akhirnya masyarakat menyadari, keberadaan gajah tidak hanya menimbulkan konflik, tetapi juga dapat menjadi atraksi wisata yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Kalau sudah demikian, berarti kita telah mengelola suatu musibah menjadi berkah bagi masyarakat. Lestarikan Gajah Sumatera untuk Kesejahteraan Rakyat… (KEHUMASAN BBTNBBS, September 2017).
Baca Berita

Lagi, Balai TN Tesso Nilo Kucurkan Bantuan Bibit Lebah Madu Untuk Masyarakat

Riau - 5 September 2017, Pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan sudah menjadi program nasional pada kabinet kerja, termasuk di dalamnya desa-desa sekitar taman nasional. Melalui Pemenhut Nomor 43 tahun 2017 tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat dijelaskan bahwa masyarakat sekitar Kawasan Pelestarian Alam (KPA)/ Kawasan Suaka Alam (KSA) perlu diberi ruang dan akses dalam mendapatkan manfaat dari pengelolaan kawasan konservasi. Merujuk pada regulasi di atas Balai Taman Nasional Tesso Nilo (BTNTN) selalu berupaya membangun sinergitas dengan masyarakat terkait pemberdayaan ekonomi. Salah satu yang sudah dimulai dan menuju pengembangan adalah usaha budidaya lebah madu. Sebelumnya BTNTN telah menunaikan bantuan kloni lebah madu kepada kelompok Setia Maju Desa Bagan Limau sebanyak 50 stup. Kemudian pada hari Rabu (9/8/17) BTNTN kembali mengucurkan bantuan kloni lebah madu jenis Trigona dan Apis Cerana sebanyak 50 stup kepada kelompok Nilo Bertuah Desa Lubuk Kembang Bunga (LKB). Penyerahan bantuan tahap 2 ini langsung dilakukan oleh Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah I LKB Taufiq Haryadi, SP. Setelah penyerahan kelompok Nilo Bertuah langsung melakukan pemasangan stup lebah madu pada lokasi yang sudah disiapkan 1 bulan sebelumnya. Pemasangan stup kali ini dilakukan dengan cara digantung sebagai upaya antisipasi adanya serangan dari satwa liar seperti Beruang Madu. Kendala-kendala teknis di lapangan untuk mewujudkan hasil maksimal dari program PEM melalui budidaya madu ini tentunya masih ada. Namun kendala itu tidak boleh membuat kita diam dalam upaya memberikan manfaat kepada masyarakat. Bisnis madu kedepan peluangnya sangat menjanjikan, permintaan (demand) terhadap madu sangat tinggi, sementara ketersediaan (supply) semakin menurun. Untuk itu, budidaya lebah madu untuk masyarakat sekitar kawasan TNTN adalah suatu pilihan yang sangat tepat. Ungkap Ka. SPW I LKB. Dalam pesan Bapak Kepala Balai TNTN Supartono, S.Hut. MP meminta kelompok Nilo Bertuah jangan menyia-nyiakan bantuan yang sudah diberikan oleh pemerintah (BTNTN), karena belum tentu setiap tahun BTNTN bisa menyediakan anggaran untuk budidaya lebah madu, dan kalaupun ada tentu tidaklah mungkin akan diberikan hanya untuk satu kelompok. Oleh karenanya Pak Supaetono berkali-kali menghimbau agar masyarakat yang sudah dipilih menerima bantuan ini harus sungguh-sungguh untuk usaha ini menjadi berhasil. Melalui program ini BTNTN sangat berharap akan tumbuh ekonomi baru bagi masyarakat LKB meskipun butuh proses dan waktu. Setidaknya kita berani untuk memulai, bergerak dan berbuat. TNTN adalah hutan penghasil madu alam dan sangat dipercaya kualitasnya. Namun 5 tahun terakhir produksi madu sialang dari TNTN selalu menurun karena tingginya aktivitas perambahan. Pohon untuk lebah bersarang sudah sulit karena tidak ada lagi pohon-pohon besar. Kondisi demikian harusnya menjadi tanggungjawab semua pihak karena ketika hutan tidak ada lagi ada nilai ekonomi dan nilai budaya yang akan hilang. Semua upaya dari BTNTN untuk masyarakat tentunya perlu diiringi dengan dukungan pemerintah daerah (desa). Karenanya BTNTN sangat mengharapkan agar pemerintah desa LKB memberikan dukungan penuh terbangunnya budidaya lebah madu ini dengan baik. Rasanya dengan segala potensi yang ada tidaklah terlalu besar jika kita bercita-cita menjandikan Desa Lubuk Kembang Bunga sebagai pusat produksi madu di Kabupaten Pelalawan 5 tahun kedepan. Oleh: Ahmad Gunawan, S.Hut – Polhut Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

BKSDA DIY Membangun Kemitraan Melalui Dialog Bersama LSM

Yogyakarta (5/09/2017) Balai KSDA Yogyakarta ingin memantapkan paradigma baru dalam pengelolaan kawasan konservasi dengan membangun kemitraan yang melibatkan para pihak secara lebih luas, jika selama ini para pihak yang terlibat adalah instansi terkait, masyarakat sekitar kawasan dan hanya beberapa LSM saja, kali ini Balai KSDA Yogyakarta khusus melakukan dialog bersama berbagai LSM yang ada di DIY. Agenda kegiatan ini dimaksudkan untuk dapat mengenal lebih dekat LSM yang konsern terhadap bidang kehutanan dan lingkungan hidup sekaligus mensinkronkan kegiatan pengelolaan kawasan konservasi di DIY dengan kegiatan yang dilakukan oleh teman-teman dari LSM tersebut. Peserta dialog para pihak bersama LSM ini terdiri atas 40 peserta yang terdiri dari LSM lingkup DIY serta staf teknis maupun fungsional lingkup Balai KSDA Yogyakarta. Beberapa LSM menyambut positif dan mengapresiasi langkah Balai KSDA Yogyakarta yang telah membuka komunikasi dengan mereka. Banyak aspirasi yang dapat digali dari dialog ini. Secara umum, peserta dialog mengharapkan adanya pertemuan lanjutan dengan pembahasan yang lebih mengerucut per kawasan konservasi yang dikelola Balai KSDA Yogyakarta atau terfokus pada tema-tema tertentu yang menjadi spesialisasi konsentrasi mereka. Harapan para peserta tersebut sejalan dengan output yang ingin dicapai Balai KSDA Yogyakarta dalam pertemuan ini. Dengan adanya dialog lanjutan, BKSDA Yogyakarta dapat menentukan LSM mana akan digandeng dalam mendukung program dan kegiatan pengelolaan kawasan konservasi yang ditetapkan oleh Balai KSDA Yogyakarta. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

BKSDA Kalbar Memberikan Materi Rain Camp 2017

Pontianak (5/9/2017). Balai KSDA Kalimantan Barat berkesempatan hadir dan menjadi Narasumber dalam kegiatan Rain Camp 2017 yang dilaksanakan Sylva Indonesia PC Universitas Tanjung Pura Pontianak. Dalam kesempatan tersebut selain memberikan materi terkait kawasan konservasi di wilayah Provinsi Kalimantan Barat juga menyampaikan materi terkait hidupan liar/materi tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi Undang-Undang. Balai KSDA Kalbar sebagai pemegang manajemen outority hidupan liar menganggap perlu adanya sosialisasi terhadap generasi muda akan pentingnya menjaga kelestarian tumbuhan dan satwa liar baik yg dilindungi maupun tidak dilindungi. Balai KSDA Kalimantan Barat merasa sangat perlu membina generasi muda melalui peran aktif mahasiswa khususnya mahasiswa kehutanan dalam menyikapi isu-isu kehutanan dan lingkungan hidup. Sylva Indonesia PC. Universitas Tanjung Pura sebagai organisasi yang menghimpun mahasiswa profesi kehutanan pada Universitas Tanjung Pura diharapkan dapat merespon kondisi kehutanan di indonesia saat ini dengan meningkatkan peran aktif terhadap multi pihak di bidang kehutanan. Diharapkan peran serta anggota sylva mampu mencetak SDM kehutanan yang mampu menjawab akan paradigma kehutanan masa kini dalam pengelolaan hutan di Indonesia. Tujuan Rain Camp itu sendiri untuk mendidik dan memberi pengetahuan bagi mahasiswa kehutanan Universitas Tanjung Pura sehingga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas tentang ilmu kehutanan. Dalam kesempatan penyampaian materi juga diselipkan pengetahuan mengenai perijinan masuk kawasan konservasi (simaksi), pengetahuan mengenai rencana-rencana penelitian di kawasan konservasi dan diharapkan mahasiswa anggota sylva mau meningkatkan pengetahuan melalui penelitian-penelitian di kawasan konservasi sehingga dapat memberikan nilai positif bagi mahasiswa itu sendiri maupun Balai KSDA sebagai pemangku kawasan konservasi. (YS). Sumber : BKSDA Kalbar
Baca Berita

Si Kodok Merah di Taman Nasional Gunung Ciremai

Kuningan (5/9/2017) Bleeding Toad atau Kodok Merah adalah binatang paling rentan terhadap perubahan cuaca, kodok ini juga merupakan binatang yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan seperti polusi air, perusakan hutan, perubahan iklim. Karena kepekaan mereka, Kodok merah dapat dijadikan indikator perubahan lingkungan (Kurniati, 2008) Kodok ini populasinya menurun drastis semenjak Gunung Galunggung meletus 30 tahun silam. Pada tahun 2004 hewan ini masuk dalam katagori critically endangered atau tingkat keterancaman tertinggi sebelum punah dari lembaga konservasi dunia IUCN. Sayangnya, meskipun populasinya sangat sedikit dan sebarannya yang sangat sempit hewan langka, hewan endemik, sekaligus hewan unik ini tidak termasuk dalam satwa yang dilindungi di Indonesia (Iskandar, 2009). Keberadaan Kodok Merah di Kawasan TNGC pertama kali ditemukan dari hasil survey biodiversitas oleh PILI (Pusat Informasi Lingkungan Indonesia) pada Tahun 2013. Berdasarkan data hasil kegiatan tersebut ditemukan jumlah populasi kodok merah sekitar 21 individu dan hanya dijumpai di Jalur Curug Cisurian dan Curug Cilutung yang merupakan aliran dari Sungai Padare. Menurut PILI, Leptophryne cruentata atau Kodok merah diklasifikasikan ke dalam Family Bufonidae. Ciri utama dari kodok ini adalah memiliki kulit berwarna hitam dan berbintil-bintil dengan bercak-bercak warna putih, merah atau kuning. Pangkal paha berwarna merah serta tympanum tidak terlihat jelas. Memiliki tubuh yang ramping, dengan ukuran berkisar antara 2 – 4 cm. Berudu kodok merah juga khas jika dibandingkankan dengan berudu yang lain, yaitu berwarna hitam kelam dan terdapat lapisan transparan pada bagian luarnya dengan ukuran kurang lebih 0.5 cm. Spesies ini hanya hidup pada aliran sungai yang masih bersih dengan sempadan sungai yang masih alami dimana tutupan tajuknya mencapai 90% sehingga intensitas matahari yang sampai ke permukaan tanah sangat sedikit. Spesies ini juga dapat dijadikan sebagai indikator bahwa lingkungan tempat tinggalnya masih baik. Spesies ini hanya hidup pada ketinggian 1.200 – 1.700 mdpl. Hasil monitoring populasi Kodok Merah dari bulan Maret - Juni 2017 di kawasan TNGC telah ditemukan 232 ekor yang tersebar pada 5 lokasi lingkup SPTN Wil. I Kuningan yaitu di Blok Kopi Wakuwu; Ipukan; Kopi Padarek; dan Kopi Bojong. Ancaman yang saat ini berpotensi mengganggu keberadaan habitat dan populasi kodok merah di kawasan TNGC adalah aktifitas wisata khususnya di aliran Curug Cisurian dan Buper Ipukan.Hasil survei pada tahun 2013 tersebut kemudian segera ditindaklanjuti dengan kegiatan monitoring pada bulan Maret s/d. Juni 2017 dengan menggunakan Metode Visual Encouter Survey (VES) yang dikombinasikan dengan Sistem Jalur (Transek Sampling). Metode Visual Encouter Survey (VES) adalah metode pencarian dengan mata telanjang, bergerak perlahan serta fokus mencari di dalam air dan tepian aliran air yang diduga banyak kodoknya (Crump and Scott, 1994; Kurniati, 2003; Kusrini, 2009). Sedangkan sistem jalur adalah transek jalur sepanjang 500 m dibuat dibagian tengah badan air berupa garis imajiner mengikuti bentuk badan air yang berkelok, menggunakan GPS (Jaeger, 1994; Crump and Scott, 1994; Kusrini, 2009). Oleh: Azis Abdul Kholik, S. Hut (PEH Pertama, SPTN Wil. I Kuningan) - BTN Gunung Ciremai
Baca Berita

Penyelamatan Bekantan Yang Terjebak di Pemukiman Padat Penduduk

Samarinda - Berawal dari laporan masyarakat pada tanggal 31 Agustus 2017 tentang keberadaan satwa liar jenis bekantan (Nasalis larvatus) di pemukiman padat penduduk Jl. Gerbang Dayaku Kec. Loa Janan Samarinda yang keberadaannya telah meresahkan masyarakat di sekitar lokasi tersebut, Tim Penanggulangan Konflik Manusia dan Satwa Liar Balai KSDA Kalimantan Timur bergegas menuju lokasi untuk melakukan penanganan, namun hingga pukul 03.00 Wita dini hari upaya yang dilakukan oleh Balai KSDA Kalimantan Timur bersama dengan masyarakat untuk menangkap satwa tersebut tidak membuahkan hasil. Keesokan harinya pada tanggal 01 September 2017 bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, Tim kembali ke lokasi tersebut untuk melakukan penangkapan menggunakan senjata bius, upaya penangkapan yang dilakukan berlangsung dramatis karena berada di pemukiman padat penduduk dan banyaknya warga yang menonton kegiatan penangkapan, setelah bekantan ditembak bius butuh waktu lebih kurang 3 jam untuk dapat menangkap bekantan yang berumur diperkirakan diatas 5 tahun dengan jenis kelamin jantan ini. Saat ini bekantan hasil penyelamatan tersebut berada di Kantor Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong untuk dilakukan perawatan. Seperti diketahui bahwa Bekantan merupakan satwa yang dilindungi menurut Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 dan merupakan satwa primata endemik di Pulau Kalimantan. Bekantan lebih sering hidup secara kelompok dan sebagian waktu mereka dihabiskan diatas pohon yang habitat aslinya sering di jumpai di rawa-rawa, hutan pantai dan hutan bakau Sumber : BKSDA Kalimantan Timur
Baca Berita

Pengembangan Destinasi Wisata Baru di TN Tesso Nilo Sangat Diperlukan

Pelalawan – 5 September 2017, Tingginya kemauan masyarakat Desa Bagan Limau agar ada pengembangan destinasi wisata baru di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) disambut baik oleh Kabalai TNTN. Hal tersebut dibuktikan dengan respon cepat oleh Kabalai TNTN Bapak Supartono, S.Hut., MP melalui kunjungan langsung ke lapangan tepatnya di sebut Bukit Apolo Resort Air Hitam dan Bagan Limau SPI LKB Desa Bagan Limau Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan. Kunjungan dimaksud dilakukan pada hari Minggu tanggal 3 September 2017. Dalam kunjungan hari itu Kabalai TNTN didampingi langsung oleh Kades Bagan Limau Parsana, Sekdes Lahmudin Harahap, Ketua BPD/Ketua Adat Osul, Ketua MMP M. Firdaus, Danton Linmas Bagan Limau Zulkarnain Harahap dan seluruh anggota MMP Bagan Limau. Kunjungan Kabalai TNTN yang dilakukan selama 1 (satu) hari penuh tersebut merupakan langkah awal bagi Balai TNTN bersama masyarakat Bagan Limau dalam upaya menghadirkan program-program bermanfaat bagi semua pihak baik untuk pengelolaan kawasan TNTN maupun pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar kawasan. Dalam kunjungannya Kabalai TNTN menyampaikan bahwa salah satu fungsi kawasan TNTN adalah untuk kegiatan wisata alam yang dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat atau disebut dengan ekowisata berbasis masyarakat. Kegiatan wisata membawa banyak manfaat untuk semua pihak. Bagi pengelola kawasan TNTN tentunya dapat dijadikam sebagai strategi untuk memulihkan fungsi kawasan yang sudah dirambah oleh oknum masyarakat. Kemudian bagi masyarakat akan membawa manfaat secara ekonomi, sosial dan budaya. Semua orang memahami bahwa ketika wisata tumbuh dengan baik maka ekonomi masyarakat lokal akan bergerak, tatanan sosial masyarakat akan terarah dan budaya lokal akan hidup dan lestari dengan sendirinya. Hal itulah yang akan dicapai, ucap Kabalai ketika dilapangan didepan semua yang hadir. Dalam kunjungannya Kabalai melihat bahwa lokasi Bukit Apolo sesungguhnya memiliki potensi untuk dijadikan destinasi wisata baru di TNTN, meskipun saat ini sebagian lokasinya sudah pernah dirambah oleh oknum masyarakat. Salah satu potensinya adalah lokasinya yang memiliki perbukitan dan tegakan hutan tersisa sekitarnya yang indah. Potensi itu menurut Kabalai merupalan modal awal untuk layak dijadikan destinasi wisata baru. Banyak kegiatan yang akan bisa ditawarkan kepada pengunjung nantinya, seperti perkemahan, tracking dan wisata pendidikan lingkungan. Semua itu akan dikemas menjadi paket-paket wisata nantinya jika sudah ditetapkan sebagai destinasi wisata di dalam kawasan TNTN. Disisi lain, salah satu peluang adanya pengembangan lokasi wisata baru di TNTN adalah bahwa Bukit Apolo terletak di wilayah perbatasan Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Indragiri Hulu. Sehingga pasar wisatanya sangat strategis didukung dengan minimnya destinasi wisata di 2 wilayah kabupaten tersebut. Kondisi demikian tentu akan memberikan optimisme bagi semua pihak bahwa ketika dihadirkan destinasi wisata baru maka akan mendapatkan respon dari para pengunjung nantinya. Kita yakin Bukit Apolo akan dicari dan dikunjungi orang jika pengelolaannya baik. Ucap Kabalai kepada Kades. Tidak lupa, Kabalai berkali-kali berpesan kepada perangkat desa dan masyarakat Bagan Limau bahwa komitmen terhadap perlindungan kawasan TNTN harus dijaga terus. Ditambahkan, khusus untuk pembangunan wisata kedepan Kabalai meminta kedepan masyarakat harus diberi ruang yang seluas-luasnya untuk terlibat. Pembangunan diharapkan dengan gotong royong, penuh kesederhanaan dan menggambarkan nilai-nilai budaya lokal. Terakhir Kabalai menyampaikan bahwa apa yang dilakukan hari ini masih awal dan tahap pra-perencanaan. Sangat banyak hal-hal yang harus dimatangkan, dengan demikian Kabalai berharap perangkat desa selalu aktif berbuat dan menyusun konsep yang akan ditawarkan kepada BTNTN, komunikasi dan koordinasi selalu kita jaga. Jangan pernah bergerak sendiri, berbuat sendiri dan bertindak sendiri. Semoga semua niat baik, upaya baik dan ketulusan ini dilancarkan oleh Allah SWT. Aamiin Ya Rabb. Tutup Kabalai sambil menutup kunjungannya pada hari itu. Oleh: Ahmad Gunawan, S.Hut – Polhut Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Empat Hektar Lahan Karet Diserahkan ke TNGL untuk Ditumbangkan

(Bohorok, 4/09/2017) Ratusan batang tanaman karet ditumbangkan Tim Gabungan yang dipimpin Kepala BPTN Wilayah III Stabat. Pasalnya, perkebunan karet tersebut masuk ke dalam kawasan TNGL, yaitu di Pal TN 1619-1623, Blok Hutan Lau Simpang Juma Tegapan, Resort Bohorok, Seksi PTN Wilayah V Bohorok, Bidang PTN Wilayah III Stabat. Lokasi telah dicek oleh BPKH wilayah I Medan. Penumbangan dilakukan pada tanggal 24 - 25 Agustus 2017 oleh Tim yang terdiri dari Kepala Seksi PTN Wilayah V Bohorok, Kepala Resort Bohorok, Personil Polsek Bohorok, Personil Koramil Bohorok, WCS-IP, YOSL-OIC, YHUA, Lembaga Pariwisa Batu Katak, Tim Smart Patrol, dan Masyarakat. Kegiatan ini digelar dalam rangka pemulihan ekosistem kawasan dimana Balai Besar TNGL memiliki komitmen untuk terus berupaya mengembalikan fungsi kawasan. "Areal perkebunan karet seluas ±4 hektar tersebut sebelumnya telah diserahkan secara sukarela oleh Sdr. Pulo Sembiring dan Sdr. Suyono", jelas Kepala BPTN Wilayah III, Ardi Andono. Areal bekas penumbangan ditanami 500 batang bibit pohon jenis Dipterocarpus sp. dan Shorea sp. Kegiatan ini mendapat dukungan dana dari mitra WCS dan YOSL-OIC dengan skema Smart Patrol. Untuk selanjutnya petugas TNGL akan menggelar patrol rutin di areal bekas penumbangan tersebut. Patroli dengan smart Patrol secara intensif merupakan upaya untuk menjaga kelestarian biodiversitas flora fauna habitat 4 satwa kunci yang dilindungi negara sekaligus sebagai paru-paru dunia yang harus kita jaga. Sumber: TN GL
Baca Berita

Evaluasi Zonasi Taman Nasional Lorentz

Timika - 4 September 2017, Pengelolaan Taman Nasional Lorentz saat ini sudah dilaksanakan berdasarkan sistem zonasi yang telah ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor : 92/IV-SET/2013 tanggal 27 Maret 2013 tentang Zonasi Taman Nasional Lorentz, Kabupaten Asmat, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Mimika, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Paniai, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Nduga, Kabupaten Lanny Jaya dan Kabupaten Puncak, Provinsi Papua. Dalam kurun waktu 4 tahun penerapan sistem zonasi di Taman Nasional Lorentz terdapat beberapa aspek kawasan yang mengalami perkembangan dan perubahan akibat pola pemanfaatan ruang di dalam kawasan baik oleh pemanfaatan tradisional masyarakat maupun untuk kepentingan pembangunan infrastruktur yang bernilai strategis. Hal tersebut mendorong unit pengelola dalam hal ini Balai Taman Nasional Lorentz untuk mengevaluasi zonasi yang sudah ada berdasarkan kondisi perkembangan wilayah saat ini. Balai Taman Nasional Lorentz bekerja sama dengan USAID LESTARI, memulai langkah pra evaluasi di Timika pada tanggal 31 Agustus - 2 September 2017. Langkah pra evaluasi ini dimulai dengan membentuk tim evaluasi yang terdiri dari unsur Balai Taman Nasional Lorentz dan USAID Lestari Lorentz Lowlands. Evaluasi zonasi ini merupakan salah satu upaya mitigasi pengelola Taman Nasional Lorentz terhadap perubahan serta perkembangan yang terjadi dalam pengelolaan kawasan. Demikian arahan Kepala Balai Taman Nasional Lorentz, A. Guntara Martana. Zonasi Taman Nasional Lorentz saat ini sudah menjadi acuan banyak pihak dalam hal pemanfaatan ruang di dalam kawasan taman nasional. Namun ada beberapa hal yang strategis dan perlu penyesuaian dalam arahan pengelolaan Taman Nasional Lorentz. Untuk itu tim evaluasi yang akan bekerja nantinya harus dapat menampilkan data yang aktual serta analisa perkembangan pemanfaatan ruang, lanjut beliau. Tim evaluasi yang terbentuk kemudian langsung bekerja sebagaimana arahan dalam Peraturan Dirjen KSDAE Nomor P. 14/KSDAE/SET/KSA.0/9/2016 tentang Petunjuk Teknis Evaluasi Zona Pengelolaan atau Blok Pengelolaan KSA dan KPA. Evaluasi zonasi Taman Nasional Lorentz bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting dan rencana pemanfaatan ruang di TN Lorentz, menganalisis kesesuaian zonasi TN Lorentz dengan kondisi eksisting dan rencana pemanfaatan ruang serta menyusun rekomendasi hasil evaluasi zonasi TN Lorentz. Dalam prosesnya, terdapat beberapa temuan dalam zonasi kawasan yang tidak sesuai dengan kondisi saat ini. Untuk itu tim ini akan bekerja hingga menganalisis setiap ruang yang ada di dalam kawasan TN Lorentz sehingga nantinya menghasilkan rekomendasi zonasi yang sesuai dengan tujuan pengelolaan TN Lorentz sebagaimana visi pengelolaan yaitu "Terwujudnya kelestarian TN Lorentz sebagai penyangga kehidupan yang berbasis nilai-nilai masyarakat lokal". (04/09/2017). #pr Sumber : Balai Taman Nasional Lorentz, 2017
Baca Berita

Edukasi Konservasi Bagi Siswa Cilik

Jayapura, 4 September 2017. BBKSDA Papua pada hari ini Senin tanggal 4 september 2017 sedang berbahagia karena kedatangan tamu-tamu kecil nan lucu, mereka adalah siswa siwi dari PAUD dan SD Sekolah Kristen Kalam Kudus Kotaraja Jayapura. Dihadiri oleh ± 107 siswa dan 14 orang guru pendamping, maksud dari kunjungan ini adalah pengenalan terhadap Tumbuhan dan Satwa Liar di Alam, dimana dengan kurikulum pendidikan 2013 ditekankan pada pembelajaran langsung dari sumbernya, dimana anak dapat melihat, mendengar dan merasakan hal-hal baru yang dipelajarinya. Sesuai dengan salah satu fungsi UPT BBKSDA Papua sebagai penyelenggara penyuluhan konservasi sumberdaya alam dan ekosistemnya, maka berkewajiban melakukan edukasi kepada adik-adik tersebut yang dilakukan oleh Pejabat Struktural, PEH, Penyuluh Kehutanan dan Polhut dengan memperlihatkan gambar, film, offsetan dan bercerita secara ringan dan menyenangkan, turut hadir pula pada kesempatan ini partisipasi dari Komunitas Pencinta Reptil Mania. Walaupun riuh rendah suara dan teriakan anak-anak, bagi kami suatu kepuasan dapat melihat polah dan tingkah lucu menggemaskan, terutama yang paling penting adalah dapat membagikan ilmu bagi generasi muda penerus bangsa. Sumber : BBKSDA PAPUA
Baca Berita

Temuan Sulawesi Bloodsuckers di TN Bantimurung Bulusaraung

Maros – 4 September 2017, Kala itu saya berjumpa dengan Syamsuddin, petugas Resort Bantimurung pada Jumat (24/8/2017). Jack begitu sapaan akrabnya. Beliau menunjukan foto satwa hasil jepretannya beberapa hari yang lalu (15/8/2017) saat mendampingi peneliti asing monyet Sulawesi (Macaca maura) di Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung. “Saya ada foto bunglon bang, awalnya berwana hijau, tidak lama kemudian ketika saya menangkapnya berubah warna menjadi coklat. Setelah saya foto, saya lepaskan. Jenisnya apa ya Bang?” kata Jack, bertanya waktu itu. Jack memperlihatkan koleksi foto bunglon yang diperolehnya. Saya tidak serta merta bisa mengenali jenis bunglon yang bisa mengubah-ubah warna kulitnya menjadi serupa dengan warna lingkungan sekitarnya kala itu. “Sepertinya jenis ini belum terdaftar dalam jenis reptil di TN Bantimurung Bulusaraung” ujar saya setelah melihat 22 foto milik Jack. Saya pun penasaran untuk mengetahui jenisnya dengan menelusuri beberapa referensi di internet. Dengan mencari diagnosisnya di situs www.reptile-database.org yang menyediakan database taksonomi semua jenis reptil. Ciri-cirinya lebih mirip dengan jenis Bronchocela celebensis, Gray 1845. Berbeda dengan jenis lainnya, ukuran membran telinga dengan diameter kurang dari setengah diameter mata, hanya 2–4 baris sisik paling atas mengarah ke atas. Gerigi di punggung pendek. Persebaran jenis yang termasuk dalam suku Agamidae ini terbatas hanya ditemukan di Pulau Sulawesi atau Endemik Sulawesi. Nama lainnya dalam bahasa Inggris cukup menyesatkan “Sulawesi Bloodsuckers”, karena pada kenyataannya kadal ini tidak pernah menghisap darah. Jenis yang memangsa berbagai macam serangga ini merupakan salah satu pakan Monyet Sulawesi. “Saya juga pernah melihat jenis ini di hutan beberapa bulan yang lalu dimangsa monyet” ujar Jack. Jenis ini juga pernah dicatat ditemukan di Bantimurung, Maros dalam buku “The Indo-Autralian Archipelago I” oleh Nelly de Rooij terbitan tahun 1915. Jenis bunglon ini berukuran sedang, berekor panjang menjuntai. Panjang badan 83,8–119,4 mm dan panjang ekor 347,35 mm. Membran telinga (tympanum) berdiameter 0,35 – 0,5 mm atau setengah diameter mata (orbit). Ada 5 – 6 sisik yang terletak antara hidung dan mata (canthus rostralis). Sisik kepala bagian atas kecil daripada di bagian atas mata (supraorbital). Dagu dengan kantung kecil (gular sac), tertutup oleh sisik berlunas(keeled)kecil. Gerigi di tengkuk (nuchal crest) tegak dan panjang atau sedikit lebih panjang daripada diameter mata. Gerigi di punggung hingga pangkal ekor lebih pendek daripada gerigi di tengkuk. Sisik pada sisi atas tubuh (dorsal) relatif kecil, 57 – 76 baris sisik berlunas, 2– 4 baris sisik paling atas mengarah ke atas, 2 - 4 baris sisik ke belakang, yang lainnya ke bawah. Sisik pada sisi bawah tubuh (ventral) lebar, berlunas kuat. Meski beberapa peneliti telah melaporkan temuan jenis ini di beberapa lokasi di Sulawesi, namun mungkin hanya dalam buku “The Indo-Autralian Archipelago I” jenis ini pernah ditemukan di Bantimurung, Maros. Hal ini berarti setelah 102 tahun jenis ini kembali tercatat melalui tulisan ini ditemukan di TN Bantimurung Bulusaraung. Dengan begitu menambah daftar jenis reptil TN Bantimurung Bulusaraung menjadi 31 jenis, di antaranya 3 jenis suku Agamidae. #pr Sumber: Kamajaya Shagir - PEH TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Tanjung Puting: Diantara Kekayaan Hayatinya Ditemukan Oberonia sp, Genus Anggrek Terkecil di Dunia

Pangkalan Bun (4/9/2017). Nun, disebuah lokasi rahasia di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kuala Pembuang. Resort sebagai unit pengelolaan terkecil taman nasional memiliki pekerjaan yang sungguh tak bisa dianggap remeh. Sebut saja Patroli Pengamanan Kawasan, Pengumpulan data Keanekaragaman Hayati, Pembinaan habitat, Penyadartahuan dan sederet lagi tugas rutin yang menuntut dedikasi manusia yang bekerja disana. Salah salah kegiatan rutin resort yang masih dirahasiakan ini adalah identifikasi potensi suku orchidaceae/anggrek yang akan dibuatkan demplotnya. Identifikasi dan pengumpulan sampel dilakukan sejak Februari 2017 dan telah ditemukan 56 jenis anggrek, 25 jenis diantaranya telah teridentifikasi melalui studi literatur dan mendapat konfirmasi dari pemerhati anggrek di Indonesia. Diantara temuan tumbuhan yang dicintai banyak orang itu terdapat satu jenis yang sangat menggugah keingintahuan karena dimensi tak lazimnya yang biasa dilihat atau dimiliki penikmat dan kolektor anggrek. Ukuran bunganya hanya berukuran melintang 1,1 – 1,5 milimeter, berbaris dalam tangkai yang panjangnya jauh melampaui helai-helai daunnya yang pipih, dengan deskripsi yang sangat mirip dengan yang ditemukan di kepulauan Mentawai, Indonesia pada tahun 2010. Tahun 2009 lalu, Lou Jost, seorang peneliti kebangsaan Amerika di Ekuador menemukan Genus Platystele yang ukuran melintangnya 2-2,1 milimeter yang kemudian diklaim sebagai anggrek terkecil didunia di media nternasional. Akan tetapi Destario Metusala, seorang peneliti LIPI yang melakukan eksplorasi di kepulauan Mentawai pada awal 2010 menemukan bahwa Indonesia memiliki anggrek dengan ukuran yang lebih kecil yaitu genus Oberonia sp. Anggrek dari genus Oberonia sp ini memiliki bunga berwarna jingga terang dan dalam satu rangkaian perbungaan disusun atas ratusan kuntum bunga yang tersusun teratur dalam pola spiral. Masih panjang jalan untuk klaim bahwa Tanjung Puting juga memiliki jenis anggrek dengan bunga terkecil didunia. Kajian ilmiah lanjutan perlu dilakukan menyeluruh. Tetapi untuk sementara, rekor anggrek terkecil di dunia yang dipegang oleh anggrek dari Ekuador telah dipatahkan oleh anggrek Oberonia sp. Penulis : Efan Ekananda dan Edy Haryanto Sumber : SPTN II Kuala Pembuang Link terkait : Anggrek.org/Anggrek Indonesia Kalahkan Rekor Anggrek Terkecil di Dunia dari Ekuador LIPI-Bunga Anggrek Terkecil Dari Indonesia Platystele sp, The World’s Smallest Orchid Discovered (By Accident) —National Geographic
Baca Berita

MILESTONE KONSERVASI ORANGUTAN OLEH BKSDA KALIMANTAN TENGAH

Palangkaraya (4/9/2017). Orangutan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia, Orangutan dianggap sebagai suatu ‘flagship species’ yang menjadi suatu simbol untuk meningkatkan kesadaran konservasi serta menggalang partisipasi semua pihak dalam aksi konservasi. Kelestarian orangutan juga menjamin kelestarian hutan yang menjadi habitatnya dan kelestarian mahluk hidup lainnya. Sampai dengan tahun 2016 status orangutan Kalimantan yang semula endangered (IUCN Red List tahun 2002) menjadi Threatened (IUCN Red List tahun 2016). Tingginya tekanan pada habitat orangutan, mendorong pemerintah RI serius menanggapi kondisi yang ada sehingga menyusun Strategi dan rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017. Yang mencakup strategi konservasi untuk orangutan Sumatera dan Kalimantan. Untuk kegiatan konservasi orangutan, Balai KSDA Kalimantan Tengah telah melakukan kolaborasi kegiatan konservasi orangutan dengan beberapa mitra yakni Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Orangutan Foundation International (OFI) dan Orangutan Foundation UK (OF-UK). Ruang lingkup kegiatan kerjasama yang dilakukan diantaranya adalah rescue, rehabilitasi, release orangutan dan penyadartahuan masyarakat. Untuk kegiatan release orangutan, sampai dengan tahun ini Balai KSDA Kalimantan Tengah bersama mitra BOSF Nyaru Menteng berhasil melepasliarkan 167 individu orangutan di Hutan Lindung Batikap yang terletak di Kabupaten Murung Raya dan 59 individu orangutan di TN Bukit Baka Bukit Raya. BKSDA Kalimantan Tengah bekerjasama dengan OFI telah berhasil melepasliarkan sebanyak 76 individu ke Camp Seluang Mas, Rimba Raya Conservation Conssesion di Kab. Seruyan. Orangutan yang dilepasliarkan tersebut adalah orangutan yang telah berhasil direhabilitasi. Untuk kegiatan soft release dan translokasi, BKSDA Kalimantan Tengah telah bekerja sama dengan OF-UK melakukan translokasi 15 individu orangutan dan soft release 8 individu orangutan selama tahun 2016 hingga agustus 2017. Data rekapitulasi rescue dan penyerahan orangutan periode tahun 2010 s/d Agustus 2017 dapat dilihat pada gambar 1. Gambar. Grafik Rekapitulasi Rescue dan Penyerahan Orangutan Tahun 2010 s/d Agustus 2017 Sampai dengan saat ini, BKSDA Kalimantan Tengah bersama dengan mitra terus mengkampanyekan dan mensosialisasikan kegiatan konservasi orangutan. Upaya tersebut termasuk dalam inisiasi pembentukan Forkah Kalimantan Tengah, penyuluhan kepada masyarakat akan pentingnya konservasi orangutan, school visiting dengan target pelajar. Kegiatan pelatihan mitigasi konflik dan pembentukan satgas mitigasi konflik telah dilakukan Balai KSDA Kalimantan Tengah bekerja sama dengan beberapa perusahaan perkebunan sawit. Pada tahun 2016 Balai KSDA Kalimantan Tengah bersama USAID Lestari melaksanakan kegiatan pelatihan mitigasi konflik dengan melibatkan masyarakat di beberapa desa di Propinsi Kalimantan Tengah. Keberhasilan kegiatan konservasi orangutan memerlukan dukungan dari berbagai pihak diantaranya Pemerintah, akademisi, LSM, pihak swasta, dan masyarakat. Tanpa dukungan dari berbagai pihak maka tidak dapat dipungkiri populasi orangutan di alam akan semakin terancam punah. Sumber : BKSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Beradu Dengan Waktu Demi Sang Penyu

Pangkalan Bun - 3 September 2017, Sungguh, cukup pelik berusaha melestarikan penyu. Terlambat sedikit saja, telur-telur yang telah berusaha ditimbun secara anonim oleh sang induk penyu sisik itu akan tak bersisa. Babi hutan, Biawak, bahkan kadang manusia menjadi saingan petugas Resort Sungai Cabang, Taman Nasional Tanjung Puting, dalam adu mengumpulkan telur penyu. Androw -Kepala Resort Sungai Cabang- disertai Roy (Polhut), Saban dan Slamet (staf outsourcing), terjadwal untuk menyisir pantai wilayah resort pada Senin (28/8/2017), untuk kegiatan patroli rutin. Belum lagi terjelajah seluruh 6 kilometer garis pantainya, telah ditemukan tanda-tanda pendaratan penyu, dan segera saja mata terlatih mereka menemukan bekas sibakkan dan bongkaran tanah di tepi pantai. Responsif, para petugas membagi diri untuk memantau, menggali, mendata dan mendokumentasi sarang dan isinya. Siang itu, patroli rutin berubah menjadi penyelamatan telur penyu. 81 telur Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dengan kondisi baik dipindah ke ember berisi sebagian pasir dari galian sarang tadi. Setiap telur ditandai sisi atasnya dengan spidol, karena kesalahan posisi dalam menyusun telur berpotensi kegagalan telur menetas. Pasir berguna agar goncangan saat mengangkut berkurang serta mempertahankan suhu telur. Dikejauhan, sang induk penyu sedang memanfaatkan momentum sapuan ombak untuk berenang kembali ke Laut Jawa. Adu dengan waktu belum selesai, karena hanya empat jam maksimal yang dimiliki petugas untuk mendata, memindahkan, dan mengubur kembali telur penyu dilokasi penetasan semi permanen yang dimiliki Resort Sungai Cabang demi mendapat hasil penetasan yang optimal. #pr Penulis : Efan Ekananda Sumber : Androw M.S, Kepala Resort Sungai Cabang, Taman Nasional Tanjung Puting.
Baca Berita

Peningkatan Kapasitas Budidaya Lebah Madu Di Desa Patanyamang

Maros - 4 September 2017, Beberapa waktu lalu telah dilaksanakan kegiatan pelatihan budidaya lebah madu bagi masyarakat di Desa Patanyamang. Kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat desa penyangga Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung ini berlangsung selama tanggal 25 – 27 Agustus 2017. Pelaksana kegiatan adalah personil Resort Camba TN Bantimurung Bulusaraung dengan mengundang sejumlah narasumber yang berasal dari Badan Pemberdayaan Desa dan Kelurahan Kab. Maros, Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, Tim Layanan Kehutanan Masyarakat (TLKM), dan Penyuluh Kehutanan Balai TN Bantimurung Bulusaraung sendiri. Peserta pelatihan merupakan masyarakat Desa Patanyamang yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Patanyamang sebanyak 30 orang. Pelatihan berlangsung dengan metode ceramah dan praktek lapangan. Pada sesi praktek peserta terlihat antusias mengikuti instruksi pengajar yang berasal dari Fakultas Kehutanan UNHAS Makassar. Selama ini Desa Patanyamang konsisten dalam menghasilkan dan memasarkan madu alamnya yang sudah dikemas. “Madu karst” adalah icon yang ditonjolkan desa penyangga TN Bantimurung Bulusaraung ini. “Melalui kegiatan ini saya berharap masyarakat di desa Patanyamang bisa menghasilkan madu yang lebih banyak dan kualitasnya terjaga” ujar Zainal Arifin, Kepala Resort Camba. Pada pembukaan oleh Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung berpesan agar kelompok masyarakat harus lebih kreatif melihat peluang yang ada. Pada akhir pelatihan Balai TN Bantimurung Bulusaraung melalui Kepala Resort Camba menyerahkan bantuan peralatan budidaya lebah madu termasuk pengurusan BPOM dan sertifikasi Halal dari Majelis Ulam Indonesia (MUI). #pr Sumber : Mansur dan Taufiq Ismail – PEH TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Semangat Daerah Mempromosikan TWA Permisan

Bangka Selatan, 2 September 2017. Petugas Resort Konservasi Wilayah X Bangka bersama unsur Pemerintahan Desa Desa Gudang, unsur Kecamatan Simpang Rimba, unsur Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, unsur Dinas Humas Informasi Kabupaten Bangka Selatan mendampingi kunjungan Istri Bupati Bangka Selatan Ibu Ekawati Justiar Noer ke Taman Wisata Alam Permisan pada hari Sabtu tanggal 02 September 2017. Ketertarikan Ibu Ekawati melakukan kunjungan setelah mendengar dan mengetahui bahwa dalam wilayah Kabupaten Bangka Selatan terdapat kawasan objek wisata alam yang potensial untuk dikembangkan menjadi aset wisata daerah. Terlebih akhir – akhir ini Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan khususnya sedang gencar mempromosikan potensi wisata alam didaerahnya. Bak gayung bersambut, hal ini tentu menambah dan menguatkan untuk bersama mengelola dan mempromosikan objek wisata alam di TWA Permisan. Saat ini TWA Permisan telah ditetapkan status fungsinya sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No : SK.578/Menlhk/PLA.2/7/2016 tanggal 27 Juli 2016 tentang Penetapan Fungsi Dalam Fungsi Pokok Kawasan Suaka Alam Dan Kawasan Pelestarian Alam Sebagai Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Gunung Permisan, di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Selatan Seluas ± 3.149,69 Ha. Aksesbilitas menuju TWA Permisan dapat ditempuh melalui jalan darat dengan kendaraan umum/pribadi, jarak Kota Pangkalpinang – Kecamatan Simpang Rimba Desa Gudang ± 120 Km dengan waktu tempuh ± 2 jam perjalanan. Menurut Ibu Ekawati, kunjungannya ke TWA Permisan menjadi kepuasannya setelah tertunda beberapa hari karena halangan cuaca. Pendakian dilakukan berjalan kaki bersama kurang lebih 50 (lima puluh) orang, ditempuh selama 1,5 jam perjalanan. Melalui Desa Gudang sebagai pintu masuk utama ke puncak Permisan, perjalanan dilalui dengan santai dan menikmati track dengan vegetasi yang masih alami. Kepuasan terpancar dari setiap wajah setelah sampai kepuncak Permisan yang mempunyai ketinggian 380 Mdpl. Dataran Batu gunung dengan luas kurang lebih sama lapangan bulutangkis menjadi tumpuan pendaki saat itu. Hamparan permadani hijau berpadu hamparan birunya selat bangka terbentang di depan. Sedikit kekecewaan dari perjalanan ini adalah sampah yang mulai banyak disepanjang perjalanan dan dipuncak bukit. Hal ini menjadi perhatian dan pesan khusus dari Ibu Bupati untuk bersama menjaga kawasan ini dari kerusakan, pembukaan lahan dan tindakan lain yang tidak bertanggungjawab. Hingga saat ini pengelolaan TWA Permisan setelah ditetapkan bulan Juli 2016 belum optimal karena belum tersedianya Pos penjagaan dan sarana prasarana wisata pendukung dilokasi. Hal ini membutuhkan kerjasama erat antara Masyarakat, Desa, Kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan serta Balai KSDA Sumatera Selatan sebagai pemangku wilayah. Secercah harapan setelah kunjungan ini, beliau berkomitmen untuk membantu dan berkerjasama mengelola kawasan ini, sehingga dapat mensejahterahkan masyarakat desa sekitar kawasan. Hutan lestari, masyarakat sejahtera, dengan bersama mengelola dan melestarikan kawasan hutan membuat genarasi masa depan sejahtera. Sumber : Dedi Susanto - PEH Pertama BKSDA Sumatera Selatan

Menampilkan 9.985–10.000 dari 11.141 publikasi