Senin, 1 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Uji Kompetensi Pejabat Fungsional Di Jayapura

Jayapura, Kamis 7 September 2017. Pusat Perencanaan dan Pengembangan SDM melaksanakan kegiatan Uji Kompetensi kenaikan jenjang jabatan fungsional bagi Polisi Kehutanan dan Pengendali Ekosistem Hutan di Provinsi Papua, kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 7 sd 10 September di Jayapura. Pada hari Kamis (07/09/2017) telah dimulai kegiatan yang diawali dengan pembukaan sambutan dari Kepala Bidang Teknis KSDA Papua, Ir. Ahmad Yani mewakili Kepala Balai Besar KSDA Papua. Kegiatan ini diikuti oleh UPT KLHK antara lain BBKSDA Papua 2 orang, BTN Lorentz 1 orang, BTN Wasur 9 orang, jadi total keseluruhan peserta adalah 12 orang. Tim asesor handal yang dihadirkan dari Pusrenbang SDM adalah Ir. Prabani Setiohindrianto, MM, Endang Jalaludin, SH, Ir. Eleonora Poerwanty, MM serta sekretariat Finitya Arlini Cita, S.Hut. Pelaksanaan uji kompetensi ini terdiri dari beberapa sesi diantaranya adalah Tes tertulis (Kompetensi Manajerial dan Teknis), Pengecekan Dokumen Portofolio, Tes Lisan/wawancara, Tes Kesamaptaan, Tes Simulasi dan Penyampaian saran rekomendasi. Uji kompetensi dimaksudkan untuk Pejabat Fungsional yang akan menduduki jenjang jabatan fungsional setingkat lebih tinggi dengan tujuan agar kompetensi pegawai, baik teknis dan manajerial, dapat terukur secara akurat dan dapat diakui oleh organisasi dan juga agar setiap jabatan di lingkungan instansi pemerintah memiliki standar kompetensi dan kualifikasi jabatan yang sesuai dengan tuntutan fungsi jabatan/kerjanya. Sumber : Abd Azis Irmaja, SH (Analis Data Kepegawaian BBKSDA Papua)
Baca Berita

Jelajah Wisata Merapi 2017

Pakem, 10 September 2017. Jelajah wisata Merapi 2017 diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Sleman bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Event ini dilaksanakan pada hari Minggu, 10 September 2017 di Tritis dan Turgo, desa Purwobinangun, Kec Pakem. Event ini memperkenalkan potensi desa wisata di lereng Merapi sisi selatan. Tema event kali ini adalah “Pesona Flora Lereng Merapi” dengan kegiatan berupa tracking menyusuri perkampungan, tepi sungai hingga ke kawasan konservasi TNGM. Sebanyak 1000 peserta berjalan bersama sepanjang 8 kilometer, dengan kewajiban melalui 5 (lima) pos untuk mendapatkan stempel sebagai bukti. Juga ada kewajiban bagi masing-masing peserta untuk memungut sampah di sepanjang perjalanan. Pada kesempatan ini, hadir dan bergabung bersama peserta lain, Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo, M.Si didampingi Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Dra Hj Sudarningsih, M.Si, juga Kepala Dinas Kebudayaan, HY Aji Wulantara, S.H, M.Hum serta Kepala SPTN Wilayah I BTNGM, Nurpana Sulaksono, S.Hut, MT. Event ini menjadi menarik, karena peserta menembus kabut tebal eksotis di hutan bambu Taman Nasional Gunung Merapi di area Tritis, yang sekaligus memperkenalkan jenis flora dan fauna lereng Merapi. Juga sebagai ajang edukasi dan informasi ke masyarakat umum tentang keberadaan Taman Nasional Gunung Merapi. Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) menerangkan tentang flora yang ada di TNGM, baik jenis bambunya, jenis anggrek yang ada, hingga jenis-jenis lainnya. Keseluruhan peserta dapat mencapai garis finish dengan selamat, dan banyak dari para peserta yang menanti kegiatan sejenis di masa yang akan datang. Jadi masih tertarik untuk tracking di kawasan TNGM? Ayo kenali dan cintai negerimu dengan cara yang baik dan benar. Sumber : Balai TN Gunung Merapi
Baca Berita

Kebakaran Hutan Pinus di Resort Pattunuang TN Bantimurung Bulusaraung

Maros, 9 September 2017. Jumat siang (08/09/2017) telah terjadi kebakaran hutan di Desa Bontomanai Kecamatan Tompobulu Kab. Maros. Lokasi kebakaran hutan di TN Bantimurung Bulusaraung Resort Pattunuang pada zona rimba dan zona khusus. Kondisi di lapangan di dominasi hutan pinus dan berbatasan langsung dengan hutan produksi pinus yang disadap oleh masyarakat setempat. Laporan awal kebakaran hutan ini diperoleh dari Masyarakat Mitra Polhut (MMP) yang berada di sekitar lokasi kejadian pada pukul 12.15 Wita. Laporan tersebut ditindaklanjuti dengan menurunkan 2 anggota Manggala Agni untuk melakukan size up, sementara anggota tim lain mempersiapkan peralatan pemadaman. Pukul 13.00 Wita dengan kekuatan 2 regu dengan jumlah personil 30 orang berangkat menuju lokasi kebakaran. Dengan menggunakan 2 kendaraan roda dua, satu mobil logistik dan sebuah mobil slipon menempuh perjalanan tak kurang dari 3 jam hingga sampai di lokasi kejadian. Kepala Unit (Kanit) Manggala Agni, Surapil memimpin langsung tim pemadaman di lokasi kejadian dan terus melakukan koordinasi dengan aparat setempat. Sore hari sekitar pukul 16.40 Wita telah bergabung tim dari Polsek Tompobulu bersama masyarakat setempat turut membantu pemadaman api. Setelah briefing dan melakukan pembagian tugas masing-masing di lapangan, pemadaman dilakukan dengan menggunakan jet shooter sebanyak 10 buah, mobil slipon dengan kapasitas 600 liter dan peralatan tangan. Vegetasi dilokasi kejadian yang didominasi hutan pinus ditambah angin kencang sehingga kebakaran cepat meluas. Surapil juga terus berkoordinasi dengan pejabat struktural TN Bantimurung Bulusaraung untuk menentukan langkah-langkah yang dapat ditempuh selanjutnya. “Tetap upayakan pemadaman dengan menjaga keselamatan dalam memadakan api” pesan singkat Sahdin Zunaidi, Kepala Balai TN Bantimurung melalui grup media sosial untuk memudahkan koordinasi. Sampai dengan pukul 18.30 Wita api sudah dapat dikendalikan oleh tim Manggala Agni Non Daops TN Bantimurung Bulusaraung. Tumbangnya pohon pinus yang telah terbakar adalah salah satu bahaya yang mengintai tim Manggala Agni Non DAOPS ini. Hari pun mulai gelap sehingga sulit memprediksi pohon yang hampir tumbang karena terbakar. Kondisi angin kencang dan vegetasi pinus yang mudah terbakar kembali sehingga 2 regu berseragam merah ini memutuskan menginap di lokasi kejadian untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran ulang. Mop up telah dilakukan selama kurang lebih 2 jam sebelum istirahat.. Mop up akan dilanjutkan keesokan harinya untuk memastikan api benar-benar telah padam. “Luas perkiraan awal kebakaran hutan sampai pukul 20.15 Wita tadi malam tak kurang 2 hektar” tutur Surapil saat kami hubungi via telepon. Sampai berita ini diturunkan Tim Manggala Agni Non Daops TN Bantimurung Bulusaraung masih di lokasi kejadian kebakaran hutan melakukan mop up. Terus berjuang pahlawan api, pantang pulang sebelum padam. Semangat dan utamakan keselamatan. Sumber: Taufiq Ismail - PEH TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Pengamanan Batas SM Isau Isau Balai KSDA Sumsel

Lahat, 8 September 2017. Suaka Margasatwa Isau-Isau yang berbatasan dengan 23 desa-desa penyangga yang secara administratif masuk dalam 5 wilayah kecamatan menjadikan kawasan tersebut sangat rentan akan tekanan perambahan. Kerentanan tekanan terhadap kawasan yang masuk dalam wilayah kelola Seksi Konservasi Wilayah II Lahat BKSDA Sumatera Selatan ini menjadikan kegiatan patroli pengamanan batas kawasan menjadi prioritas. Berdasarkan kerentanan tekanan oleh masyarakat maka kegiatan patroli pengamanan batas diprioritaskan untuk daerah yang berbatasan langsung dengan desa-desa penyangga di wilayah administratif Kecamatan Pagar Gunung Kabupaten Lahat dikarenakan wilayah tersebut terpadat diantara kecamatan lain yaitu sebanyak 9 desa yang berbatasan langsung dengan kawasan. Kepala BKSDA Sumatera Selatan Genman S. Hasibuan menyatakan pentingnya pengamanan batas kawasan konservasi dengan prioritas pada wilayah yang memiliki potensi tekanan yang tinggi berdasarkan kepadatan penduduk yang bermukim pada desa-desa yang berbatasan langsung dengan kawasan juga aksesibilitas daerah tersebut menuju kawasan. Pada kegiatan patroli pengamanan batas kawasan yang dilakukan pada minggu pertama bulan september tahun 2017, Resort Konservasi Wilayah V Isau-Isau melaksanakan kegiatan tersebut pada kawasan yang berada dalam wilayah administratif Kecamatan Pagar Gunung Kabupaten Lahat. Tim menyusuri batas sepanjang 9 km pada Grid 6a,6b,7b,8b,8c,9c,9d,10d, dan 11d dengan memasang tanda batas. Selain itu tim juga bergerak mengupas setiap grid yang terlewati untuk mendata potensi kawasan, pemanfaatan jasling, gangguan kawasan, dan informasi lain yang penting sehingga menjadikan kegiatan patroli batas kawasan menjadi efektif. Diharapkan melalui rutinitas kegiatan patroli pengamanan batas kawasan ini dapat memagari kawasan dari gangguan oleh aktivitas masyarakat yang berpotensi terjadinya penggunaan kawasan secara non prosedural. Dan dengan upaya rutinitas patroli yang efektif selain mengamankan batas kawasan juga dapat mendata informasi dalam kawasan yang menjadi masukan dalam rangka pembaharuan data kawasan. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Intelijen BKSDA Yogyakarta Gagalkan Perdagangan 2 Buaya Muara

Yogyakarta, 6 September 2017. Balai KSDA Yogyakarta melalui kegiatan operasi intelijen melakukan pengawasan peredaran hasil hutan dan tumbuhan satwa liar (TSL). Tepat pada pukul 17.30 WIB di depan Pasar Seni Gabusan Bantul, Polhut Balai KSDA Yogyakarta berhasil mengamankan pelaku yang merupakan warga Sabdodadi, Sewon, Bantul dan barang bukti perdagangan satwa dilindungi sejumlah 2 (dua) ekor buaya muara (Crocodili porosus). Modus peredaran TSL dilakukan dengan jual beli secara online melalui media sosial. Penjual dan pembeli bertemu di suatu tempat yang disepakati untuk selanjutnya dilakukan transaksi. Tersangka dan barang bukti 1 buah HP diamankan petugas untuk diambil langkah selanjutnya, sementara barang bukti 2 ekor buaya muara di titipkan di LK Kebun Raya Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta. Sumber : Purwanto S.H, Polhut Muda Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Penangkapan Penjual Satwa Dilindungi Di Pangkalan Bun

Pangkalan Bun, 9 September 2017. Maraknya tren perdagangan satwa liar dilindungi melalui media sosial membuat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan harus bergerak cepat untuk memberantasnya. Salah satu daerah dimana terjadi kasus perdagangan satwa liar dilindungi yang cukup tinggi yakni di Kalimantan Tengah. SKW II BKSDA Kalimantan Tengah mendapat informasi perihal jual beli satwa di media sosial pada Selasa, 5 September 2017. Kemudian Kepala SKW II BKSDA Kalteng berkoordinasi dengan Gakkum LHK membentuk tim gabungan. Tim menghubungi dan mendatangi rumah pelaku namun tidak ditemukan pelaku maupun satwa yg dilindungi di rumah pelaku. Selanjutnya Tim melakukan pemantauan intensif terhadap pergerakan pelaku sindikat penjualan satwa yang dilindungi tersebut. Didapatkan info bahwa pelaku akan melakukan transaksi pada hari Jumat malam. Jumat 8 September 2017, SKW II BKSDA Kalimantan Tengah bekerjasama dengan Seksi I Balai Gakkum LHK Wilayah Kalimantan serta Polda Kalimantan Tengah bergerak menuju ke tempat pelaku bertransaksi. Tim gabungan berhasil mengamankan pelaku penjual satwa yang dilindungi namun barang bukti tidak ditemukan. Tim Gakkum LHK melakukan pemeriksaan dan interogasi kemudian pelaku mengakui bahwa yang bersangkutan menyimpan barang bukti dirumahnya berupa 1 ekor anak elang yg menurut keterangan didatangkan dari Banjarmasin. Tim bergerak menuju rumah pelaku dan berhasil mengamankan barang bukti berupa 1 ekor anakan Elang Bondol. Selanjutnya barang bukti dibawa ke kantor SKW II dan kemudian dibawa ke Palangkaraya oleh Tim Seksi I Balai Gakkum Wilayah Kalimantan. Kasus ini selanjutnya ditangani oleh Penyidik Gakkum LHK. Penangkapan ini merupakan hasil kerjasama yang baik dan kita patut mengapresiasi masyarakat yang ikut berpartisipasi aktif untuk melaporkan kegiatan penjualan satwa dilindungi. Semoga kedepannya tren perdagangan satwa liar dilindungi semakin menurun sehingga satwa dapat hidup bebas di habitatnya. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

BKSDA Bengkulu Evaluasi Kesesuaian Fungsi Dua Kawasan Konservasi

Bengkulu, 8 September 2017. Balai KSDA Bengkulu lakukan pembahasan akhir hasil kajian tim teknis evaluasi kesesuain fungsi (EKF) dua kawasan konservasi di Kota Bengkulu, yaitu TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai dan CA Danau Dusun Besar. Pembahasan dilaksanakan pada tanggal 7 September 2017 di Hotel Amaris Kota Bengkulu. Kegiatan ini didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bengkulu. Pembahasan akhir dipimpin oleh Kepala Balai KSDA Bengkulu, Ir. Abu Bakar dan dihadiri oleh para pihak terkait. Turut hadir dalam pembahasan adalah Plt. Sekda Provinsi Bengkulu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bengkulu, Ir. Agus Priambudi, M.Sc., Inspektorat Wilayah Provinsi Bengkulu, Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bengkulu, Bapak Junaidi, S.P., serta Dra. Noni Yulieti, MM dari Bappeda Provinsi Bengkulu. Dari kalangan akademisi, hadir dalam rapat pembahasan Dr. Gunggung Senoaji dari Universitas Bengkulu. Elemen masyarakat adat diantaranya diwakili oleh Ketua Badan Musyawarah Adat Kota Bengkulu, Bapak S. Effendi. Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam adalah serangkaian kegiatan untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi kawasan untuk diketahui kesesuaiannya dengan kriteria kawasan dan tujuan pengelolaannya. Pengelolaan kawasan adalah upaya atau tindakan pengurusan atas kawasan agar kawasan tersebut tetap aman, lestari dan berfungsi optimal. Pelaksanaan evaluasi kesesuaian fungsi kawasan ditujukan untuk menetapkan tindak lanjut penyelenggaraan KSA dan KPA yang terdegradasi, baik dalam bentuk pemulihan ekosistem maupun perubahan fungsi. Dua kawasan yang menjadi objek kajian adalah Taman Wisata Alam Pantai Panjang dan Pulau Baai serta Cagar Alam Danau Dusun Besar. Kedua kawasan ini terletak di Kota Bengkulu dan menghadapi tekanan yang signifikan. Salah satu hasil kajian tim teknis EKF adalah rekomendasi perubahan fungsi sebagian cagar alam menjadi taman wisata alam serta restorasi ekosistem cagar alam seluas ± 106 Ha. Rekomendasi lainnya adalah penyelesaian permasalahan TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai secara komprehensif dengan cara mengeluarkan areal pemukiman, lahan masyarakat, serta hak pihak ketiga lainnya yang sah dari kawasan. Rekomendasi rasionalisasi luasan kawasan dilakukan setelah tim kajian teknis melakukan verifikasi terhadap data dan fakta lapangan. Sumber: Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Kerjasama Penguatan Fungsi Bersama SKPD Terkait SM Sermo

Yogyakarta, 8 September 2017. Balai KSDA Yogyakarta melakukan koordinasi bersama Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait untuk penyelesaian Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) terkait keterlanjuran penggunaan lahan di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Sermo. Keterlanjuran penggunaan lahan sudah ada sejak sebelum kawasan SM Sermo ditunjuk pada tahun 2000 dan di tetapkan pada tahun 2014. Turut hadir dalam kegiatan ini Direktur Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam, Ir. Listya Kusumawardhani, M.Sc., Kepala Bagian Hukum dan Kerjasama Teknik Setditjen KSDAE, jajaran Balai KSDA Yogyakarta dan perwakilan dari SKPD Dinas Pariwisata dan Polres Kulonprogo. Dalam penjelasannya, Direktur PIKA menyampaikan bahwa untuk kawasan SM Sermo terdapat 10 kegiatan SKPD yang harus dipayungi melalui perjanjian kerjasama. Dari 10 SKPD yang ada, 7 diantaranya telah menuntaskan perjanjian kerjasama dan masih tersisa 3 SKPD lagi. Lebih lanjut Ibu Direktur menyampaikan bahwa Balai KSDA Yogyakarta sebagai pemangku kawasan seharusnya bisa memperkuat posisi mengenai hak Balai KSDA Yogyarta dalam perjanjian kerjasama yang disepakati kedua belah pihak tersebut. Disamping itu posisi SM Sermo yang dekat dengan Kalibiru perlu dimantapkan penataannya. Jika Kalibiru mampu menjadi ikon Ditjen PSKL dengan keberhasilan HKmnya, maka pengelolaan SM Sermo pun dapat mencontoh keberhasilan Kalibiru. Dalam perjanjian kerjasama ini hendaknya juga perlu diperhatikan, nilai penting perjanjian kerjasama masing-masing terhadap upaya-upaya pengelolaan dan perlindungan kawasan dan keanekaagaman hayati di dalamnya. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, akan dilakukan pencermatan mengenai hak dan kewajiban masing-masing pihak yang terlibat dalam pengelolaan SM Sermo. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Kami Bangga Praktek Kerja Lapang di TNBBS

Kotaagung, 7 September 2017. Lima mahasiswa Kehutanan USU telah selesai melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan mulai satu bulan lalu tepatnya tanggal 8 Agustus 2017. Kepala Bidang Teknis Konservasi Ismanto, S.Hut,MP menuturkan hari ini (7 September 2017) merupakan hari terakhir PKL. Selanjutnya mohon perkenan Bapak Kepala Balai Besar untuk memberikan pengarahan akhir. Demikian Ismanto mengawali seremonial penutupan PKL mahasiswa Kehutanan USU. Selanjutnya mereka mendapat pengarahan akhir dari Kepala Balai Besar TNBBS Ir. Agus Wahyudiyono. Dalam arahannya Kepala Balai Besar menyampaikan apresiasi serta meminta kesan dan pesan kepada kelima mahasiswa tersebut setelah praktek di TNBBS. "Terimakasih sudah praktek di TNBBS semoga kegiatan di tempat kami menambah ilmu bagi kalian, ceritakan hal-hal yang baik kepada teman-teman di Medan dan melalui media sosial sebagai bagian promosi, untuk hal-hal yang kurang bagus sampaikan kepada kami untuk perbaikan, kami sangat terbuka untuk menerima masukan" Agus Wahyudiyono mengakhiri arahannya. Selanjutnya Raja SP Aritonang mewakili kelompok PKL mengungkapkan rasa bangga bisa praktek di TNBBS. "Kami bangga pak bisa praktek di sini, kami menuju ke sini dari Medan pertama karena TNBBS warisan dunia, potensi alam luar biasa, dan kami juga mendapat pelayanan yang baik, mulai dari pertama di kantor balai besar sampai kami di lapangan, petugas yang dilapangan juga mendampingi kami" ungkap Raja. Sehari sebelumnya (Rabu, 6 September 2017) Koordinator PEH TNBBS Tri Sugiharti, S.Hut dan kelima mahasiswa sempat menjelaskan kegiatan yang dilakukan saat PKL. Menurut Tri, mereka mengawali kegiatan praktek dengan melaksanakan analisis vegetasi di Zona Tradisional Resort Balai Kencana. Kegiatan ini untuk melengkapi data tagging pohon damar yang sedang dilaksanakan BBTNBBS dan WWF di zona tersebut. Tri menambahkan "Selama praktek disana, mereka didampingi petugas resort dan WWF yang sedang melaksanakan kegiatan tagging pohon damar. Selain mahasiswa USU kegiatan tagging juga melibatkan mahasiswa magang dari UNILA". Usai melaksanakan kegiatan di Resort Balai Kencana, mereka melanjutkan kegiatan pengumpulan bahan informasi wisata alam di Kubu Perahu, Resort Balik Bukit. Ketua kelompok PKL Rahadian Yudho menceritakan kegiatannya di sana. "Kami didampingi petugas setempat dan Unit Pengelola Wisata Kubu Perahu. Selain berkunjung ke air terjun Sepapa Kiri dan wisata desa Kubu Perahu, kami juga sempat mengumpulkan informasi dari wisatawan yang sedang menikmati keindahan alam Kubu Perahu". Usai dari Resor Balik Bukit, mahasiswa semester 7 itu pun melanjutkan kegiatan di Resort Sukaraja Atas. Di resort tersebut, mereka menceritakan mendapatkan pengalaman menarik menangani konflik satwa liar dengan manusia. "Saat kami praktek di sana, beberapa ekor gajah keluar kawasan TNBBS ke lahan warga di Pekon Margomulyo Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus. Kami ikut petugas resort setempat bersama tim Wildlife Respons Unit WCS-IP serta warga menghalau gajah agar masuk kembali ke kawasan TNBBS, itu pengalaman yang sangat menarik bagi kami" tutur Raja. Anggota praktek lainnya Heriyadi menambahkan "kami juga mengumpulkan data sosek di Pekon Margomulyo sekaligus sosialisasi ke warga untuk turut serta mencegah konflik satwa liar". Dan minum kopi Lampung gratis, canda Layla satu-satunya anggota perempuan dalam praktek tersebut. Didi yang juga ikut dalam kelompok PKL melengkapi cerita pengalaman praktek mereka di Resort Sukaraja Atas dengan mengikuti SMART Patrol bersama petugas setempat dan WCS-IP. Di minggu akhir praktek, Tri menjelaskan mahasiswa juga melaksanakan praktek kerja di Resort Suoh, di sana mereka berdiskusi dengan forum jasa wisata alam Jagad Endah Lestari terkait pengelolaan wisata di Suoh bersama masyarakat. "Meskipun mereka dari Medan dan di sana ada Danau Toba, mereka tetap menyatakan danau-danau di Suoh bagus, ada keramikan dan satu lagi potensi baru, masyarakat menyebutnya nirwana keramikan" Tri menutup penjelasannya sembari mengutarakan rasa kagum kelima mahasiswa kehutanan USU PKL di TNBBS. Kehumasan Balai Besar TNBBS 2017...
Baca Berita

Menerapkan Konservasi Untuk Kesejahteraan Masyarakat

Mataram, 7 September 2017. Konservasi telah menjadi isu yang semakin penting dalam kehidupan masyarakat. Seiring waktu masyarakat semakin mengenal prinsip-prinsip konservasi dan isu konservasi selalu menarik untuk dikaji dan didiskusikan. Isu ini akan lebih menarik jika dikaitkan dengan kepentingan dan kesejahteraan masyarat. Menangkap akan perkembangan tersebut, Balai KSDA Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) bekerjasama dengan Universitas Mataram telah menyelenggarakan seminar lingkungan hidup dengan tema “Konservasi Untuk Kesejahteraan Masyarakat”. Kerjasama dalam penyelenggaraan seminar dengan Universitas Mataram merupakan salah satu komitmen dalam kinerja BKSDA NTB untuk selalu mengembangkan kerjasama dengan berbagai instansi dan lembaga termasuk perguruan tinggi. Seminar bertajuk “Konservasi Untuk Kesejahteraan Masyarakat” tersebut dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 7 September 2017 bertempat di Aula Arena Budaya Universitas Mataram. Seminar tersebut dihadiri oleh 200 orang peserta yang sebagian besar terdiri dari akademisi Program Studi Kehutanan, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Mataram, perwakilan BEM dari IKIP Mataram dan perguruan tinggi swasta di Mataram serta beberapa Mapala lingkup perguruan tinggi di Mataram. Selain akademisi, seminar juga dihadiri oleh PEH dan Polhut dari BKSDA NTB, Balai Taman Nasional Rinjani, BPDASHL Dodokan Moyosari dan peneliti dari Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (BPTHHBK) Mataram. “Dalam setiap kegiatan kehutanan kita harus tahu posisi masyarakat ada dimana perannya,” jelas Ir. Wiratno, M.Sc., Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem yang hadir dalam seminar ini selaku key note speaker dengan materi bertema Konservasi Untuk Kesejahteraan Masyarakat. “Masyarakat tidak boleh buta akan konservasi dan setiap permasalahan dengan masyarakat harus diselesaikan bersama-sama dengan masyarakat,” lanjut Pak Wiratno. Sesuai dengan prinsip konservasi yaitu : perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan secara lestari, maka masyarakat bisa memperoleh keuntungan yang menunjang kesejahteraan melalui pemanfaatan hutan, tumbuhan dan satwa liar secara lestari. Dalam pemanfaatan hutan, masyarakat bisa mengelola paket-paket wisata alam di dalam kawasan hutan seperti yang telah berjalan di Tangkahan, Sumatera Utara maupun di Kali Biru, Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta. Pada kesempatan ini Rektor Universitas Mataram yang diwakili Prof. Dr. Agil Al Idrus menyampaikan penjelasan tentang peran perguruan tinggi dalam pengembangan ekowisata berbasis masyarakat, sedangkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, Ir. Madani Mukarom, BScF, M.Si. menjelaskan tentang pelibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan di Nusa Tenggara Barat. Kepala Dinas LHK menjelaskan bahwa di Nusa Tenggara Barat telah berjalan pengelolaan hutan dengan melibatkan masyarakat dalam bentuk Hutan Kemasyarakatan seperti yang telah dilaksanakan oleh KPH Rinjani Barat. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat, Dr. Ir. Widada, M.M. pada kesempatan ini memberi paparan dan penjelasan tentang pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Taman Wisata Alam Gunung Tunak. Beliau menjelaskan bahwa saat ini BKSDA NTB bekerjasama dengan Pemerintah Korea sedang menyiapkan kapasitas masyarakat sekitar kawasan TWA Gunung Tunak dalam pengelolaan paket-paket wisata alam di TWA Gunung Tunak. BKSDA NTB juga memberi bantuan kepada masyarakat berupa peralatan kemah untuk membuka paket wisata berkemah di TWA Gunung Tunak. Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA NTB, Tri Endang Wahyuni pada kesempatan ini juga menyampaikan tentang pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar untuk kesejateraan masyarakat. Salah satu penjelasan dalam bidang ini adalah contok kasus keberhasilan penangkaran ikan arwana asia di Kalimantan Barat yang saat ini telah bisa menghasilkan omset sebesar 126 milyar dalam sebulan. Contoh lainnya berupa pemanfaatan satwa liar untuk peragaan di lembaga konservasi seperti taman safarai dan kebun binatang, dimana usaha tersebut telah memberi dampak yang luas kepada perekonomian masyarakat dengan berbagai peluang usaha yang bisa dilakukan oleh masyarakat sekitar lembaga konservasi. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Kajian Pembangunan Jalan Menuju Obyek Wisata Air Terjun Batu Betiang di TNKS

Rejang Lebong (07/09/2017). Tim Kajian pembangunan jalan menuju obyek wisata Air Terjun Batu Betiang pada Zona Pemanfaatan TNKS dari Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam, Direktorat Kawasan Konservasi, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat yang di pimpin oleh Bapak Djudjuk Wijono, S.Hut., M.Si (Kepala Seksi Pembangunan Strategis, Direktorat PIKA). Kegiatan ini dilakukan sebagai tindaklanjut permohonan dari Pemerintah Daerah Rejang Lebong tentang pembangunan dan peningkatan jalan wisata menuju obyek wisata air terjun Batu Betiang selain itu juga sebagai tindak lanjut dari Kerjasama Balai Besar TNKS dengan Pemerintah Daerah Rejang Lebong tentang pengembangan obyek wisata TNKS di Kab. Rejang Lebong. Berdasarkan Hasil survei dan kajian TIM yang dilaksanakan dari tanggal 06-07 September 2017 menyimpulkan bahwa letak, kondisi dan topografi jalan menuju objek wisata air terjun Batu Betiang bergelombang dan terjal, sehingga pembukaan jalan selebar 12 meter yang dimohon oleh Pemda Rejang Lebong dikwatirkan mempunyai dampak lebih besar karena rawan erosi. Selain itu pembukaan jalan yang lebar juga dikwatirkan akan membuka akses atau aktifitas yang tinggi dan menimbulkan tingkat kerawanan/gangguan kawasan. menurut kajian tim, jalan yang baik untuk sementara waktu adalah jalan dengan standar pengelolaan sekitar 2 meter sebagai jalan wisata, namun kesimpulan tersebut akan terlebih dahulu di sampaikan ke Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pembangunan jalan untuk pengelolaan objek wisata yang akan dikembangkan Pemkab Rejang Lebong ini juga masih meminta persetujuan dari UNESCO, karena wilayah tersebut berada dalam kawasan TNKS yang telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia, hutan hujan tropis Sumatera dan saat ini berada dalam daftar Warisan Dunia dalam bahaya (The List of World Heritage in Danger) sehingga perlu kehati-haatian dalam mengambil keputusan terhadap permohonan untuk pembangunan jalan. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Rejang Lebong. Bapak Zulkarnain mengatakan apapun keputusan tim dari KLHK nantinya mereka tetap mendukung. "Kita mendukung terkait hasil nantinya. Yang jelas, kalau disetujui harapan kita dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sehingga aktivitas perambahan, khususnya di wilayah TNKS, bisa ditekan dengan peralihan menjadi objek wisata," katanya. Pemkab Rejang Lebong telah menganggarkan sebesar 1,5 miliar untuk pembangunan jalan ke Air Terjun Batu Betiang untuk pembebesan lahan di luar kawasan TNKS dan pembangunan jalan sepanjang 1 kilometer sebelum batas kawasan TNKS, melalui sumber biaya APBD 2017. Sumber : BBTNKS
Baca Berita

BKSDA Jambi lepasliar 76 ekor kura-kura pipi putih ke alam

Jambi, 7 September 2017 Balai KSDA Jambi bersama-sama dengan Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Jambi melepasliarkan 76 ekor kura-kura pipi putih ke alam di kawasan Taman Hutan Raya Sekitar Tanjung Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi. Satwa tersebut merupakan sitaan Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Jambi dimana satwa tersebut diduga akan diekspor tetapi tidak dilengkapi dengan dokumen yang sah. Selain dengan Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Jambi, turut melakukan pelepasliaran adalah Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi dan Balai Pengelolaan Pesisir dan Laut Pekanbaru. Lokasi ini dipilih karena Tahura Sekitar Tanjung yang merupakan daerah gambut memiliki wilayah perairan yang cukup terjaga yaitu berupa sungai-sungai kecil yang mengalir sepanjang tahun. Kondisi ini cocok sebagai habitat satwa ini. Hal ini juga dibenarkan oleh masyarakat yang ada di sekitar kawasan ini bahwa mereka beberapa kali melihat satwa ini di daerah tersebut. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999, satwa ini tidak masuk dalam kategori satwa yang dilindungi. Satwa ini masuk dalam Apendix II CITES, sehingga perdagangannya dibatasi. Dengan dikembalikannya satwa ini ke alam diharapkan dapat kembali berkembang biak dan populasi satwa ini tetap terjaga di alam dan tetap dapat dimanfaatkan pada masa-masa yang akan datang. Sumber BBKSDA Jambi
Baca Berita

Balai KSDA Yogyakarta Lakukan Penilaian METT Bersama Para Pihak

Yogyakarta, 7 September 2017 Balai KSDA Yogyakarta selama dua hari (tanggal 6 – 7 September 2017) menyelenggarakan Penilaian Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi lingkup Balai KSDA Yogyakarta menggunakan framework Management Effectiveness Tracking Tool (METT). Fakta menunjukkan bahwa banyak kendala dalam pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia. Kondisi internal dimana status dan kondisi kawasan yang tidak clear and clean, belum dilakukannya tata batas, serta pengelolaan yang belum optimal, serta kondisi eksternal seperti kebutuhan lahan karena dinamika demografi, pemekaran wilayah yang diikuti kebutuhan infrastruktur, mobilitas, pertambangan, perkebunan skala besar, permintaan pasar terhadap komoditi tertentu menjadi faktor pemicu kendala pengelolaan kawasan konservasi. Pihak pengelola pada umumnya menyadari permasalahan yang dihadapi dalam mengelola kawasan konservasinya, namun kesulitan untuk mengidentifikasi prioritas permasalahan, prioritas alokasi sumber daya, serta mengetahui apakah pengelolaan yang mereka jalankan sudah cukup efektif dalam mencapai tujuan pengelolaan. Untuk itu perlu dilakukan penilaian terhadap efektivitas pengelolaan kawasan konservasi. Penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi selain penting untuk mengidentifikasi prioritas dan alokasi sumberdaya untuk mencapai tujuan pengelolaan juga dapat mendukung terlaksananya akuntabilitas dan transparansi pengelolaan kawasan konservasi kepada publik. Kegiatan Penilaian METT hari pertama dilaksanakan di Twin Resto Sleman dengan agenda penilaian METT Kawasan CA/TWA Gunung Gamping dan SM Sermo. Sedangkan kegiatan hari kedua dilaksanakan di Goebog Resto Bantul dengan agenda penilaian METT kawasan CA Imogiri dan SM Paliyan. Stakeholder terkait dalam kegiatan penilaian METT ini berasal dari unsur akademisi, pemda, LSM dan para pihak yang terlibat dalam kegiatan Balai KSDA Yogyakarta. Sebagai fasilitator Direktorat Kawasan Konservasi ditunjuk Dr. M. Taufik Tri Hermawan dari Fakultas Kehutanan UGM. Hasil akhir penilaian METT menunjukkan hasil yang cukup signifikan dengan penilaian METT tahun 2015 yang dilakukan oleh internal Balai KSDA Yogyakarta sebagaimana data berikut. Kawasan 2015 2017 SM Sermo 49% 70% SM Paliyan 55% 70% CA/TWA Gunung Gamping 49% 67% CA Imogiri 55% 69% Peningkatan nilai METT secara signifikan tersebut dipengaruhi oleh aspek perencanaan dengan telah disahkannya dokumen penataan blok pengelolaan dan rencana pengelolaan di sebagian kawasan konservasi BKSDA Yogyakarta dan sebagian lagi sedang dalam tahap penyusunan dokumen tersebut. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Seorang Korban Kebakaran Lahan Di Kawasan Penyangga CA PEG. CYCLOOP Dapat Diselamatkan

Jayapura, 6 September 2017. Kebakaran lahan di kawasan penyangga CA Peg. Cycloop terjadi di Lokasi Kampung Harapan Kleiblou Kabupaten Jayapura sekitar pukul 20.30 WIT pada titik Koordinat S 02.58504° E 140.58727°, penyebab kebakaran adalah adanya oknum masyarakat yang menyulut kebakaran. Koordinator tim pemadaman Eddy Sam Lau menjelaskan “kami rekan-rekan Polhut BBKSDA Papua dan tenaga Bhakti Rimbawan langsung meluncur ke TKP, bersamaan dengan tim Saka Wana Bhakti Papua dan anggota Brigade Dalkarhut KPHP Kota Jayapura”. Anggota Polhut dan Saka Wana Bhakti Papua serta bantuan masyarakat yang peduli langsung menuju titik api guna melakukan pemadaman. “Walaupun mengalami sedikit hambatan dalam pemadaman dengan keadaan cuaca yang sedikit berangin, dan sulit dalam mendapatkan air, api dapat dipadamkan jam 22.45 WIT” ujarnya lagi. Dalam proses pemadaman terdapat seorang korban, yaitu masyarakat yang terkurung dalam pusaran api pada saat ikut melakukan pemadaman, hal Ini disebabkan karena korban kelelahan dan kekurangan oksigen. Selanjutnya korban dievakuasi ke rumah sakit terdekat yaitu RS. Dian Harapan Waena untuk mendapat pertolongan medis. Korban juga mendapat kunjungan simpati dari KBTU BBKSDA Papua, akhirnya dengan bantuan oksigen korban terselamatkan dan diserahkan pada orangtua korban. Masyarakat yang semula cemas akan adanya kebakaran mengucapkan banyak terima kasih kepada tim pemadam kebakaran karena api tidak sampai meluas ke pemukiman mereka. Sumber Info : Eddy Sam Lau (Polhut BBKSDA Papua)
Baca Berita

Penyerahan Satwa KE BBKSDA Jabar Pun Terus Mengalir

Bandung (8/9/2017). Satu lagi penyerahan elang brontok (Spizaetus cirrhatus) ke Balai Besar KSDA Jawa Barat melalui petugas Resort Konservasi Wilayah Cagar Alam Gunung Burangrang pada hari Kamis tanggal 7 September 2017 yang dilakukan oleh warga Desa Legok Huni, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta bernama Hamdan Watete. Raptor tersebut ditemukan oleh Hamdan dalam kondisi terperangkap tidak berdaya dengan kaki terluka bulan lalu di sebuah gudang dalam area workshop PT. Danwo Steel Sejati yang berada di Jalan raya Cikampek Gintung Kerta Klari, Karawang Timur. Burung yang telah mendapat perawatan selama sebulan tersebut, akhirnya diserahkan kepada petugas di lokasi yang sama saat pertama kali ditemukan, selanjutnya burung pemangsa tersebut akan dievakuasi ke Pusat Konservasi Elang Kamojang untuk observasi dan direhabilitasi. Dihari yang sama petugas Resort Konservasi Wilayah Bogor telah melakukan evakuasi terhadap 4 (empat) jenis satwa dalam keadaan hidup dan 2 specimen satwa dalam bentuk opsetan dari Jl. Pramuka No.17A, Cikondang Kota Sukabumi. Keempat jenis satwa hidup tersebut yaitu 1 (satu) ekor Binturong (Artictis binturong), 1 (ekor) Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea), 1 ekor Kasuari (Casuarius) dan 1 ekor Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus) sedangkan 2 specimen yang diterima berupa opsetan Harimau sumatera (Panthera tigris sumaterae) dan Beruang Madu (Helarctos malayanus). Melalui Berita Acara Penitipan keempat satwa hidup tersebut akan dirawat di Lembaga Konservasi Khusus PPS Cikananga untuk direhablitasi dan dimasukan dalam program pelepasliaran dan 2 opsetan saat ini masih diamankan di Kantor Bidang KSDA Wilayah I Bogor. Tingginya intensitas penyerahan satwa liar ke BBKSDA Jabar, ini merupakan salah satu impact yang positif dari pemberitaan yang tengah gencar dilakukan oleh BBKSDA Jabar melalui berbagai media sosial, baik melalui facebook, twitter, instagram dan website.
Baca Berita

Hari Kebebasan Bagi Kijang di Resort SM G. Sawal

Ciamis (8/9/2017). Berawal dari informasi masyarakat tentang keberadaan Kijang (Muntiacus muntjak) di Dusun Pari, Desa Linggapura, Kecamatan Kawali, maka pada hari Kamis tanggal 31 Agustus 2017, Kepala Resort Suaka Margasatwa Gunung Sawal bersama petugas lainnya menuju lokasi tersebut. Menurut keterangan dari salah satu warga yang menangkap satwa Kijang tersebut, diperoleh keterangan bahwa Kijang tersebut keluar dari kawasan dan memasuki perkampungan diduga dikejar oleh predator yang kemungkinan besar adalah Macan tutul yang merupakan salah satu predator besar penghuni Suaka Margasatwa Gunung Sawal. Menurut warga sekitar, Kijang tersebut sempat ditangkap dan dikuasai oleh kelompok masyarakat yang berniat untuk membunuh dan mengkonsumsi daging Kijang, namun berkat kesigapan Tim Gugus Tugas Evakuasi Tumbuhan dan Satwa Liar Seksi Konservasi Wilayah VI Tasikmalaya, Bidang KSDA Wilayah III Ciamis BBKSDA Jabar yang bergerak cepat dan terukur serta segera melakukan berkomunikasi dengan tokoh masyarakat setempat untuk bersama – sama menyampaikan sosialisasi tentang status konservasi satwa liar Kijang. Setelah melakukan penyadartahuan kepada sekelompok masyarakat tersebut bahwa Kijang termasuk salah satu satwa liar yang dilindungi oleh Undang – undang, maka pada hari itu juga warga secara sukarela menyerahkan satwa Kijang tersebut kepada BBKSDA Jabar untuk selanjutnya dievakuasi ke Kantor Bidang KSDA Wilayah III Ciamis. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Dokter Hewan terkait kondisi kesehatan, satwa tersebut dinyatakan sehat namun perlu perawatan sementara. Setelah melalui perawatan sementara dan dinyatakan sehat oleh Dokter Hewan, maka pada hari Rabu, 7 September 2017, Kijang tersebut kembali menghirup udara bebas setelah dilepasliarkan di blok Awilega kawasan hutan Suaka Margasatwa Gunung Sawal. Sumber : BBKSDA Jabar

Menampilkan 9.937–9.952 dari 11.141 publikasi