Senin, 1 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Bayi Orangutan Pertama di Jantho

Aceh, Senin 11 September 2017, di Pusat Reintroduksi Orangutan Sumatera Jantho, Aceh Besar, telah termonitor keberadaan 1 individu bayi orangutan yang diperkirakan berumur 1 tahun, dari indukan yang bernama Markoni (15 thn). Markoni dilepasliarkan di Jantho pada tahun 2011 setelah menjalani rehabilitasi di Batumbelin, Sibolangit, Sumatera Utara. Keberadaan bayi orangutan ini merupakan kelahiran pertama yang termonitor di Pusat Reintroduksi Orangutan Sumatera Jantho sejak diresmikan pada bulan Maret 2011. Kondisi bayi orangutan yang belum diberikan nama ini dalam keadaan sehat, aktif dan sudah belajar untuk mengenal pakan dari induknya. Untuk memantau perkembangan bayi, 1 orang petugas terus memonitor aktifitas bayi dan induk orangutan sejak pagi hingga bersarang. Kepala BKSDA Aceh yang mengamati langsung di Jantho menyambut gembira dengan termonitornya keberadaan bayi orangutan ini dan berharap semakin banyak perkembangbiakan orangutan di Jantho untuk mendukung pencapaian target kenaikan populasi orangutan sumatera. Sumber: BKSDA Aceh
Baca Berita

Pelepasan Tim Ekspedisi Lolobata 2017

Sofifi, 10 September 2017. Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Sadtata Noor Adirahmata, S.Hut.,MT. Malam tadi, tepat pukul 20.00 Wit, secara simbolis melakukan pelepasan tim Ekspedisi Lolobata 2017, di kantor Balai TNAL, Sofifi, Maluku Utara. Dalam sambutannya, Kepala Balai TNAL berpesan "Kawasan hutan, gua, gunung itu bukan habitat kita. Tetaplah rendah hati, perbaiki niat. Kita bukan untuk menaklukan alam tapi lebih mencintai dan memahami ciptaan Tuhan" kata Pak Tata. Tim berangkat dari Sofifi menuju Kabupaten Halmahera Timur tepatnya di Taman Nasional Aketajawe Lolobata blok Lolobata menggunakan 3 mobil patroli Polhut. Rencananya tim akan memasuki kawasan hutan Taman Nasional aketajawe Lolobata pada esok hari dan mulai melakukan ekspedisi, penjelajahan serta eksplorasi. Tim Ekspedisi Lolobata 2017, terdiri dari tim dokumenter, tim peneliti floura dan fauna, tim Navigasi dan pemetaan, unsur TNI, Polri serta masayarakat sekitar lokasi ekpedisi. "Mudah mudahan kita berhasil menambah hasanah biodeversity alam Indonesia terutamanya di daerah Maluku Utara dan khusunya di Pulau Halmahera" ungkap Harley B. sastha salah satu peserta ekpedisi. Penasaran hal baru apa saja yang akan di temukan oleh tim Ekspedisi Lolobata 2017...?? Nantikan info terbarunya dan jangan lupa pantau terus informasinya lewat akun FB,IG kami. FB @Taman Nasional Aketajawelololobata IG @aketajawelolobata_nationalpark Sumber: M. Sofyan Ansar - BTN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Pengembangan Objek Wisata Gunung Tujuh dan Gunung Kerinci BBTN Kerinci Seblat

Sungai Penuh, 11 September 2017. Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat dengan Bupati Kerinci menandantangani perjanjian kerjasama dibidang penguatan fungsi kawasan konservasi Taman Nasional Kerinci Seblat, khususnya mengenai Pengembangan Objek Wisata Gunung Tujuh Dan Gunung Kerinci Pada Zona Pemanfaatan Taman Nasional Kerinci Seblat. Acara ini dilaksanakan di Ruang Pola Kantor Sekretaris Daerah Kabupaten Kerinci dan dipimpin langsung oleh Bupati Kerinci dan Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat. Perjanjian kerjasama mengenai penguatan fungsi ini bertujuan untuk meningkatkan pengembangan objek wisata Gunung Tujuh dan Gunung Kerinci pada zona pemanfaatan Taman Nasional Kerinci Seblat di Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi berdasarkan kaidah konservasi serta mendukung pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi daerah Kabupaten Kerinci melalui pengembangan pariwisata alam. Perjanjian ini mencakup areal seluas ± 1800 Hektar dengan rincian ± 1.500 Hektar pada Zona Pemanfaatan Gunung Tujuh dan ± 300 Hektar pada zona pemanfaatan Gunung Kerinci, keduanya berada pada wilayah kerja Seksi PTN Wilayah I Kerinci, Bidang PTN Wilayah I Jambi Melalui perjanjian kerjasama yang berjangka waktu 5 (lima ) tahun yaitu antara 2017-2021 ini diatur mengenai (1) penyiapan sarana prasarana penunjang pengembangan pariwisata alam sesuai dengan desain tapak pengelolaan pariwisata alam zona pemanfaatan objek wisata; (2) pemulihan lingkungan dalam bentuk rehabilitasi Gunung Tujuh dan Gunung Kerinci; (3) mekanisme pengamanan kawasan Danau Gunung Tujuh dan Gunung Kerinci untuk mendukung pengembangan pariwisata alam yang aman dan tertib; (4) promosi dan informasi Taman Nasional Kerinci Seblat khususnya zona pemanfaatan Gunung Tujuh dan Gunung Kerinci;(5) peningkatan kegiatan pendidikan konservasi dan bina cinta alam; dan (6) pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan konservasi dan pengembangan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Pada acara ini disampaikan pidato oleh Kepala Balai TNKS, Ir. M. Arief Toengkagie serta Bupati Kabupaten Kerinci, Dr. H. ADIROZAL, M.Si. Poin pokok dalam pidato Kepala Balai adalah kontribusi TNKS yang tidak terbatas dalam bidang perlindungan/ konservasi kawasan, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan perekonomian daerah dan pemberdayaan masyarakat di sekitar Kabupaten Kerinci, yang salah satunya dibuktikan dalam bentuk perjanjian kerjasama ini. Kepala Balai juga kembali menekankan bahwa kawasan TNKS pada dasarnya adalah tanggung jawab bersama TNKS dan masyarakat, sehingga diharapkan Pemda Kabupaten Kerinci dapat sepenuhnya mendukung upaya dan program-program pelestarian dan perlindungan kawasan TNKS, khususnya di wilayah Kabupaten Kerinci. Disampaikan juga oleh orang nomor satu TNKS perjanjian kerja sama ini sudah yang ke 6-nya yang ditandatangani di Kabupaten/Kota yang ada di lingkup TNKS yaitu Kab. Solok Selatan, Kab. Rejang Lebong, Kab. Kota Lubuklinggau, Kota Sungai Penuh, Kab. Merangin dan ini dari Kab. Kerinci Jambi. Hal ini menunjukan bahwa TNKS ini dapat memberikan kontribusi buat masyarakat disekitar kawasan dengan bekerja sama dalam peningkatan/penguatan fungsi pengelolaan TNKS. Sementara itu, poin dari pidato Bupati Kerinci salah satunya adalah proses pengembangan wisata Kerinci yang baik dan terarah sehingga dapat dicapai pengelolaan pariwisata yang baik, rapi, aman, dan dengan fasilitas/ sarana yang baik. Diharapkan objek-objek wisata di Kabupaten Kerinci, khususnya Gunung Tujuh dan Gunung Kerinci dapat menjadi corong bagi dunia luar untuk lebih mengenal kawasan Kerinci. Bapak Bupati Kerinci memberikan apresiasinya pada TNKS, dan mengakui kontribusi TNKS yang tidak hanya terbatas pada konservasi kawasan, tetapi juga melalui jasa lingkungan kawasan yang lain, di antaranya air, energi, dan wisata yang salah satunya diakomodir melalui perjanjian kerjsasama ini. Bupati Kerinci juga memberikan komitmennya untuk mendukung upaya dan program perlindungan kawasan TNKS. Dengan dihadiri oleh stakeholder, UPTD dan tidak kalah pentingnya kehadiran Camat dan Kepala Desa yang berhubungan langsung dengan lokasi potensi wisata ikut hadir dalam penandatanganan perjanjian kerja sama ini. Pada kesempatan ini Bupati Kerinci juga memberikan nama jalur pendakian di Gunung Tujuh dengan “Jenjang ke Langit”, dengan harapan kawasan ini akan dapat lebih dikenal dari “Jenjang Seribu” di Ngarai Sianok, Sumatera Barat yang sudah dikenal sebelumnya. Diharapkan melalui kerjasama ini, kelestarian zona pemanfaatan Taman Nasional Kerinci Seblat, pemberdayaan masyarakat bersama Pemerintah Kabupaten Kerinci dengan kegiatan pengembangan pariwisata alam dapat terwujud. (end) Sumber : Balai Besar TN Kerinci Seblat
Baca Berita

Aksi BKSDA NTB Gagalkan Upaya Pengangkutan Burung Tanpa Dokumen Sah

Pelabuhan Lembar Lombok Barat, 11 September 2017. Menindaklanjuti informasi masyarakat dan dalam rangka mengintensifkan pengawasan dan pengendalian peredaran tumbuhan dan satwa liar (TSL) yang tidak dilengkapi dokumen yang sah, Balai KSDA NTB bersama dengan Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK ( BPPHLHK) Jabalnusra, POLRES Lombok Barat/ Polsek KP3 Lembar, TNI dan Balai Karantina Pertanian Mataram pada hari Senin, tanggal 11 September 2017 di Pelabuhan Lembar Lombok Barat melaksanakan patroli gabungan dengan sasaran pemeriksaan terhadap kendaraan yang akan menuju atau menyeberang ke Pulau Bali. Dalam pemeriksaan tersebut pada hari Senin, 11 September 2017 jam 22.30 WITA, tim berhasil menggagalkan kembali upaya pengangkutan satwa liar jenis burung tanpa dokumen yang sah. Dalam sebuah pemeriksaan terhadap 1 unit kendaraan jenis truk noppol DK 9481 SQ ditemukan 592 ekor burung yang tidak dilengkapi dokumen yang sah. Penemuan ini merupakan hasil pengembangan informasi masyarakat dan upaya intensif Balai KSDA NTB dan stakeholders terkait dalam upaya menekan dan mengendalikan peredaran satwa liar di Provinsi NTB. Pengangkutan burung illegal ini adalah kejadian yang ke-6 dalam tahun 2017. Adapun jenis burung yang berhasil diamankan ada 11 jenis burung antara lain : Punglor merah 50 ekor, Kecial kuning 50 ekor, Kepodang 35 ekor, Gelatik abu abu 90 ekor, Perkutut 65 ekor, Opior 60 ekor, Kopi kopi 60 ekor, Branjangan jawa 135, Merpati 2 ekor, Kaso kaso 20 ekor, dan Kecial Kumbuk 50 ekor. Modus pengangkutan burung tersebut dengan menyembunyikan burung diantara tumpukan buah mangga, dengan pemeriksaan yang cermat tim berhasil menemukan burung tersebut. Balai KSDA NTB kemudian koordinasi dengan Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK untuk proses lebih lanjut,mengingat terdapat 1 jenis burung dilindungi yaitu Kecial Kumbuk. Adapun barang bukti diamankan di Kantor BKSDA NTB dan sedangkan sopir menjalani pemeriksaan intensif oleh PPNS BPPH LHK dan BKSDA NTB. Selain untuk barang bukti, terhadap burung hasil sitaan akan dilakukan pelepasliaran oleh tim di TWA Gunung Tunak pada hari Selasa, 11 September 2017. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Antisipasi Karhutla, BKSDA Yogya Koordinasi dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY

Yogyakarta, 11 September 2017. Memasuki musim kemarau serta mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan, Balai KSDA Yogyakarta melakukan koordinasi bersama Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dan penanggulangan bersama kebakaran hutan di DIY. Peserta kegiatan sebanyak 20 orang terdiri atas Pejabat struktural lingkup Balai KSDA Yogyakarta, Koordinator Polisi Kehutanan, Kepala Resort Konservasi Wilayah, serta Tim Brigdalkar Balai KSDA Yogyakarta. Turut hadir dalam pertemuan ini Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY Ir. R. Sutarto, MP. Dalam arahannya, Kadishutbun DIY sangat mengapresiasi Balai KSDA Yogyakarta yang telah membuka kesempatan kerjasama dan koordinasi kesiapsiagaan karhutla. Kedepan, kegiatan serupa akan dianggarkan oleh Dishutbun DIY agar dapat memperkuat upaya penanggulangan karhutla di DIY. Untuk menindaklanjuti kegiatan koordinasi ini, akan dilaksanakan apel siaga karhutla DIY pada tanggal 27 September 2017 di Depo Pendidikan Latihan Tempur Paliyan, Gunungkidul. Melalui apel siaga tersebut diharapkan petugas lebih siap dalam mengatasi karhutla, serta mampu meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat sekitar kawasan terhadap pengendalian karhutla di DIY. Sumber : Purwanto, SH, Polhut Muda, Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Pemprov Jambi Sepakat Bentuk Tim Satgas Penanggulangan Konflik Manusia dan Satwa Liar

Jambi, 11/09/2017 - Balai KSDA Jambi menyelenggarakan Rapat Koordinasi Penanggulangan Konflik Manusia dan Satwa Liar Provinsi Jambi. Acara ini dibuka oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, dihadiri oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati yang diwakili oleh Kepala Sub Direktorat Pengawetan Jenis dan diikuti oleh Unit Pelaksana Teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan se-Provinsi Jambi dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait lingkup Pemerintah Provinsi Jambi. Dalam sambutannya, Sekretaris Daerah Provinsi Jambi Drs. H. Erwan Malik, MM. menyampaikan bahwa luas hutan di Jambi 2.107.746 hektar atau 43 % (934 ribu hektar) dari luas daratan dalam kondisi rusak akibat alih fungsi lahan, illegal logging, kebakaran hutan dan perambahan. Kerusakan hutan tersebut berimplikasi pada hilangnya habitat hidupan liar yang mengakibatkan konflik antara manusia dan satwa liar terjadi. Rapat koordinasi ini menghasilkan kesepakatan pentingnya dibentuk Tim Koordinasi dan Satuan Tugas Penanggulangan Konflik Manusia dan Satwa Liar di Provinsi Jambi. Sumber: BKSDA Jambi
Baca Berita

Festival Anggrek Vanda Tricolor Var Suavis Lindl. Ke-3 Tahun 2017

Sleman, 11 September 2017. Festival Anggrek Vanda tricolor var Suavis Lindl. Ke-3 Tahun 2017, yang telah berlangsung selama 5 (lima) hari, tanggal 6 s.d 10 September 2017 di Taman Anggrek Titi Orchids, merupakan ajang tahunan sebagai media memperkenalkan dan mengedukasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam melestarikan anggrek Vanda tricolor var Suavis Lindl., salah satu anggrek endemik Jawa yang tumbuh dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi dan menjadi salah satu flagship spesienya. Selain itu tujuan penyelenggaraan kegiatan ini juga untuk mengapresiasi masyarakat yang telah membudidayakan anggrek ini, mengembangkan potensi Anggrek yang berhabitat di lereng Gunung Merapi dan sekaligus mengembangkan event Pariwisata berbasis pertanian di Kabupaten Sleman. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) DIY dengan Balai TN Gunung Merapi , Taman Anggrek Titi Orchids, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Dinas Tanaman Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sleman, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Sleman, Fak. Biologi UGM, Fak. Pertanian Janabadra. Sekitar 1.600 pengunjung menghadiri dan mengikuti berbagai kegiatan digelar selama Festival berlangsung, diantaranya Lomba Kontes Vanda Tricolor var Suavis Lindl., Lomba Kontes Dendrobrum sec. Spatulata, Workshop “Dari Membaca menjadi Karya”, Pelatihan Budidaya dan Klinik Kesehatan Anggrek, Merangkai Tanaman dan Bunga Anggrek, Jelajah Wisata Edukasi dan Konservasi Anggrek, Lomba Menggambar dan Mewarnai, dan Pameran serta Bursa Anggrek. Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun dan ditutup oleh Dra. Hj. Kustini, Ketua Penggerak PKK Kab.Sleman (istri Bupati Sleman). Pada acara penutupan disampaikan pengumuman dan penyerahan kepada pemenang berbagai lomba. Pemenang Lomba Kontes Vanda tricolor var Suavis Lindl. yaitu Juara I Sri Rahayuningsih (Pakem), Ilham Shah (Jl. Kaliurang), dan Juara III Dewi Anwari (Magelang). Sedangkan untuk pemenang Lomba Dendrobium sec. spatulata dimenangkan oleh Juara I Yuni Raharjo (Semaki), Juara II Bobby Ardianto (Solo) dan Juara III Wahyu Nugroho (Yogyakarta). Pada kesempatan ini Kasubbag Tata Usaha Balai TN Gunung Merapi, mewakili Kepala Balai menyerahkan piala dan hadiah lomba kepada Bobby Ardianto. Sumber : Balai TN Gunung Merapi
Baca Berita

Monitoring Satwa Prioritas Jenis Banteng (Bos javanicus) di Taman Nasional Baluran

Baluran, 11 September 2017. Bekerjasama dengan Copenhagen Zoo kegiatan monitoring Banteng menggunakan kamera trap sudah dilakukan sejak tahun 2015 oleh Taman Nasional Baluran, sebelumnya kegiatan ini mengandalkan orang sebagai pengamat sehingga keterbatasan waktu dan data yang dihasilkan belum maksimal. Pentingnya monitoring satwa ini adalah untuk mengetahui perkembangan/kondisi populasi Banteng, mengidentifikasi ruang jelajah/site pergerakan dan sebagai bahan pengambilan kebijakan dalam pengelolaan populasi satwa dan habitatnya. Tahun 2017, monitoring Banteng dilaksanakan selama 1 bulan pada 31 agustus s.d 28 September 2017 dengan menggunakan pendekatan 2 metode yaitu survey occupancy dan metode kamera trap. Survey occupancy untuk mengetahui kawasan yang digunakan ataupun yg tidak digunakan Banteng. Hasil yang didapat survey occupancy adalah index occupancy yang akan digunakan untuk menghitung kepadatan Banteng dengan dikombinasikan hasil analisis kamera trap. Pemasangan kamera trap dipilih 36 grid dengan ukuran grid 1 x 1 km2 dipilih secara acak. Untuk meningkatkan detection probability maka kelompok grid dengan index occupancy lebih tinggi dipasang kamera trap lebih banyak. Kamera yang dipasang sebanyak 40 buah dengan mode pemasangan video agar dapat merekam seluruh individu banteng di dalam kelompok. Analisis data hasil monitoring dengan metode occupancy menggunakan model occupancy yang dijalankan menggunakan software R sedangkan untuk kamera trap dianalisa dengan menggunakan persamaan Random Encounter Model (Rowcliffe, 2008). Hasil persamaan ini adalah kepadatan populasi di are studi, selanjutnya diinterpolasi dengan total area yang digunakan maka hasilnya estimasi populasi Banteng (STD/BALURAN). Sumber : Balai TN Baluran
Baca Berita

Petugas TN Gn Leuser Pacu Semangat Konservasi Siswa Pasie Lembang

Aceh Selatan, 11 September 2017. Puluhan siswa MTs Swasta Darussyuhada Pasie Lembang, Kecamatan Kluet Selatan mengikuti kegiatan Bina Cinta Alam di Stasiun Pembinaan Populasi Penyu Rantau Sialang, SPTN Wilayah II Kluet Utara, BPTN Wilayah I Tapaktuan. Acara yang digelar di kawasan pantai Singgah Mata Rantau Sialang ini berlangsung lancar sejak jam sembilan pagi hingga selesai pada Senin (11/9). Bentuk kegiatan yang dilakukan diantaranya temu ramah konservasi, diskusi yang diakhiri pelepasan tukik penyu ke laut lepas bersama petugas TN Gurung Leuser. Puluhan peserta tampak antusias mengikuti kegiatan. Seperti Ahmad yang merasa senang bisa hadir dalam rangka acara kunjungan edukasi tersebut. "Banyak pengetahuan tentang pelestarian penyu yang kami dapatkan dari petugas stasiun", ujarnya. Ahmad dan kawan-kawan diberikan informasi mengenai cara mengidentifikasi jenis penyu, pemberian pakan terhadap tukik (baby) penyu, membuat lobang sarang penanaman telur di dalam bak penetasan semi alami serta monitoring habitat pendaratan penyu di sepanjang hutan pantai TNGL. Menurut Kepala Stasiun Pembinaan Populasi Penyu, Soloon Syahruddin, S.Hut, kunjungan edukasi siswa sekolah lanjutan tingkat pertama ini merupakan rangkaian kegiatan pengelolaan Taman Nasional Gunung Leuser secara berkelanjutan terhadap generasi muda Aceh di masa mendatang. Kegiatan tersebut diinisiasi melalui program BCCPGLE – BBTNGL dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sasaran program adalah sekolah formal yang berada di lingkup BPTN Wilayah I Tapaktuan yaitu SD Negeri Seunebok Keuranji (Kecamatan Kota Bahagia), MTs Swasta Darussyuhada Pasie Lembang (Kecamatan Kluet Selatan) dan MAS Ashhabul Yamin Bakongan (Kecamatan Bakongan). Hal senada diungkapkan PEH TN Gunung Leuser, Arif Saifudin, S.Si, "Kegiatan Bina Cinta Alam ini merupakan pondasi awal dalam membangun batang tubuh konservasi secara harfiah terhadap generasi Bangsa Indonesia kedepan", pungkasnya. Kepala BPTN Wilayah I Tapaktuan, Buana Darmansyah, S.Hut. T berpesan agar siswa lebih mengenal jenis penyu yang terdapat di daerahnya sehingga tumbuh rasa cinta terhadap lingkungan hidup yang lestari. Ucapan terima kasih tak terhingga disampaikan Yusnawardi, Guru Sekolah MTs Swasta Darussyuhada kepada pihak TNGL yang telah bersedia mengundang mereka untuk ambil bagian dalam kegiatan kunjungan edukasi tingkat sekolah tersebut. " Kegiatan ini membawa dampak positif bagi para siswa dan juga terhadap perubahan lingkungan hidup di masa mendatang. Kami berharap kegiatan semacam ini dapat terus berjalan secara berkala dan berkesinambungan", ungkapnya. Sumber : Balai Besar TN Gunung Leuser
Baca Berita

Polres Sleman Anjangsana Peredaran Sonokeling di Balai KSDA Yogyakarta

Yogyakarta, 11 September 2017. Kepala Unit Reskrimsus Polres Sleman melakukan anjangsana ke Balai KSDA Yogyakarta terkait peredaran kayu sonokeling (Dalbergia spp). Berdasarkan pada konvensi perdagangan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Internasional, sonokeling termasuk dalam Appendiks II CITES yang berarti spesies tidak terancam kepunahan namun mungkin akan punah jika perdagangannya terus berlanjut tanpa pengaturan. Sebagai konsekuensinya peredaran kayu sonokeling mengikuti kebijakan Menteri Kehutanan Nomor 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan dan Penangkapan atau Peredaran TSL. Polres Sleman sebagai salah satu mitra Balai KSDA Yogyakarta menunjukkan perhatiannya untuk turut terlibat dalam upaya penertiban peredaran TSL di wilayah DIY. Melalui kegiatan anjangsana ini, dapat diperoleh informasi yang bermanfaat dalam implementasi pengawasan peredaran TSL khususnya peredaran kayu sonokeling di lapangan. Koordinasi yang terjalin antara Balai KSDA Yogyakarta dan aparat penegak hukum di DIY nyatanya mampu memperkuat upaya penegakan hukum terhadap pelanggaran tindak pidana kehutanan (tipihut) yang terjadi di wilayah kerja Balai KSDA Yogyakarta. Sumber : Purwanto, SH, Polhut Muda, Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Weekend Rasa Konservasi di Kampung Kweel Merauke

Merauke, 9 September 2017. Kampung Kweel Distrik Elikobel Kabupaten Merauke merupakan salah satu kampung penyangga pada kawasan konservasi CA. Bupul. Yang menarik dari Kampung Kweel ini adalah kampung yang menjadi pusat Suku Yeinan yang tersebar di beberapa kampung yaitu Kampung Erambu, Kampung Toray, Kampung Poo, Kampung Kweel, Kampung Bupul serta Kampung Tanas. Kampung Kweel memiliki rumah adat dan setiap tahun dilakukan acara adat dikampung ini. Tim BBKSDA Papua mengagendakan perjalanan menuju Kampung Kweel, yang ditempuh selama 4 jam dengan menggunakan kendaraan roda 4 dari pusat Kota Merauke, Perjalanan melalui jalan Trans Irian (Papua) dan melintasi Taman Nasional Wasur, sebelumnya menyempatkan singgah di Distrik Sota (enclave dari TN. Wasur) dan berkunjung ke Tugu Perbatasan Indonesia PNG. Di Kampung Kweel tim disambut oleh Kepala Suku Yeinan, Ketua LMA, Aparat Kampung Kweel, Babinsa dan Masyarakat Kampung Kweel di Balai Kampung serta melakukan pertemuan dengan memperkenalkan masyarakat akan Kawasan Konservasi (CA Bupul) oleh Kabid KSDA Wilayah I Merauke (Yarman, S.Hut.,M.P). Kepala Balai Besar KSDA Papua, Ir. Timbul Batubara, M.Si turut memberikan arahan berupa pengenalan kawasan konservasi secara umum, hubungan masyarakat adat dan kawasan konservasi, kearifan lokal masyarakat adat, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh BBKSDA Papua. Masing-masing marga yang ada dikampung tersebut menyampaikan mengenai kondisi satwa yang merupakan Totem (benda/binatang yang dianggap suci dan dipuja) bagi masyarakat adat. Sebagai contoh dari Marga Kabronain Sub Marga Dagejai yang merupakan totem dari kasuari, dimana perwakilan marga tersebut menyampaikan kondisi kasuari yang ada di wilayah adat mereka (CA Bupul) yang masih ada dan perlu ada perhatian khusus dari pemerintah sehingga tetap lestari, seperti pembuatan kandang plot kasuari yang digunakan untuk pemeliharaan satwa kasuari apabila bisa berkembang dikandang tersebut sehingga anakannya bisa dilepas kealam kembali. Sedangkan dari marga Yanggib menyampaikan bahwa satwa biawak tidak bisa untuk dimakan sembarang orang dan untuk makan biawak harus seijin dari yang punya totem, pada saat ini biawak dan satwa lain sudah mulai berkurang disebabkan adanya pembukaan lahan sawit di sekitar CA. Bupul, dan juga dari marga Mahujei totem Cendrawasih raggiana, Belmojai dari totem Ikan arwana. Mengakhiri agenda kegiatan tim menuju ke lokasi CA Bupul untuk melihat Pal Batas CA Bupul dan berperahu di Sungai Kweel anak Sungai Maro yang merupakan batas CA. Bupul dan berkunjung kerumah adat Suku Yeinan. Agenda weekend yang mengasyikkan, weekend sambil menyampaikan pesan konservasi. Salam Konservasi.. Huuu Haaa Sumber Info : Yarman, S.Hut.,M.P - Kabid KSDA Wil. I Merauke Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

BKSDA Bengkulu Tambah Sarpras CA Kepulauan Krakatau

Bengkulu, 10 September 2017. Balai KSDA Bengkulu terus berupaya untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di Provinsi Bengkulu dan Lampung. Salah satu upaya tersebut diwujudkan dalam bentuk peningkatan sarana dan prasarana pendukung pengelolaan kawasan. Salah satu kawasan yang menjadi target peningkatan sarpras pengelolaan tahun 2017 adalah CA dan CAL Kepulauan Krakatau. Balai KSDA Bengkulu membangun pos jaga di kawasan konservasi yang terletak di antara Pulau Jawa dan Sumatera ini. Pada tanggal 9 September 2017, Kepala Balai KSDA Bengkulu, Ir. Abu Bakar, meresmikan Pos Jaga yang terletak di Pulau Panjang, satu di antara empat pulau di Kepulauan Krakatau. Peresmian dilakukan secara sederhana namun penuh makna. Acara dimulai dengan pengguntingan pita, dilanjutkan dengan doa dan diakhiri dengan acara makan Bersama. Acara dihadiri oleh kalangan internal Balai KSDA Bengkulu. Selain Kepala Balai, turut hadir Kepala Subbagian TU, Bapak M. Mahfud, S.Hut., M.Sc., Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung, Bapak Teguh Ismail, S.Hut., M.A., M.Eng., dan petugas dari KPHK Kepulauan Krakatau. Kepulauan Krakatau berada di perairan Selat Sunda. Kepulauan ini dapat diakses melalui Prov. Lampung di Sumatera ataupun Prov. Banten di Pulau Jawa. Kepulauan ini terdiri dari Pulau Sertung, Pulau Panjang, Pulau Rakata dan Pulau Anak Krakatau. Pada tahun 1990, Kepulauan Krakatau ditetapkan menjadi dari 2500 Ha luas daratan dan 11.500 ha perairan. CA dan Cal Kepulauan Krakatau merupakan kawasan konservasi yang memiliki beragam nilai penting, terutama dari perspektif sejarah alam (natural history). Cagar Alam Pulau Anak Krakatau juga ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia (World Haritage Site) karena keunikan dan kekhasan yang dimilikinya. CA krakatau memiliki reputasi dunia, selain karena sejarah letusannya yang tercatat yang terbesar, juga karena Krakatau merupakan laboratorium alam yang ideal untuk mengamati proses bagaimana kehidupan pernah musnah, memulai kembali dan terus berlangsung pada suatu ekosistem kepulauan. Sehingga, ketika mengunjungi Cagar Alam Kepulauan Krakatau saat ini, dan menyaksikan pulau-pulau peninggalan gunung Krakatau purba, imajinasi kita akan sampai pada bayangan mengenai dahsyatnya letusan yang pernah dialami oleh gunung ini di masa lalu. Lalu, imaji kita pun akan berjalan pada pemikiran bagaimana kehidupan flora dan fauna yang ada saat ini bermula. Proses yang bermula dari nol kehidupan menjadi komunitas flora dan fauna yang beragam. Prosesi Krakatau ini dapat memberikan pengetahuan bagi kita semua mengenai bagaimana bumi ini memulai kehidupannya. Pada tahun 1883, Pegunungan Api Krakatau (Gunung Danan dan Perbuwatan) meletus dan diyakini memusnahkan seluruh flora dan fauna yang sebelumnya ada di kompleks pegunungan ini. Secara perlahan, kehidupan di Kepulauan Krakatau mulai kembali. Di Kepulauan Krakatau, saat ini tercatat terdapat 206 fungi, 13 jenis lichens, 61 jenis paku-pakuan dan 257 jenis spermathophyta. Sementara faunanya terdiri dari sekitar 65 jenis aves, seperti Centropus bengalensis, Coprimolgus offinis, Falco servus, Lalega nigra, Tecrycotera relitea, Plegadis sp, dan Nectarina sp. Terdapat juga mamalia jenis tikus dan kalong, reptil jenis biawak, ular, dan penyu. Sumber: Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Balai KSDA Bengkulu Musnahkan Kayu Temuan Tim Patroli Seblat

Bengkulu, 9 September 2017. Balai KSDA Bengkulu memusnahkan kayu temuan tim patroli TWA Seblat. Kayu sebanyak ± 2,5 m3 tersebut ditemukan oleh tim patroli rutin TWA Seblat. Ketika tim menjumpai kayu tersebut, tidak ditemukan para pemiliknya. Tim Patroli kemudian memutuskan untuk memusnahkan temuan kayu tersebut dengan cara merusak kayu yang sudah diolah tersebut. Taman Wisata Alam Seblat merupakan kawasan konservasi yang memiliki nilai ekologis penting sebagai habitat gajah sumatera. Kondisi kawasan harus tetap dijaga alami agar tetap mampu mendukung perkembangan populasi gajah dan satwa liar lainnya. Namun, perkembangan pembangunan dan dinamika sosial ekonomi masyarakat sekitar terus mengancam keberlangsungan fungsi ekologis kawasan. Fakta bahwa kawasan ini masih memiliki berbagai jenis kayu bernilai komersil tinggi juga meningkatkan kerentanan kawasan terhadap gangguan. Gangguan dan ancaman langsung terhadap perusakan habitat berupa penebangan liar diyakini akan terus ada. Sehingga dibutuhkan dukungan para pihak untuk menjaga kelestarian kawasan TWA Seblat. Sumber : Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

BBKSDA Papua Bentuk Desa Binaan Tobati Enggros

Jayapura, September 2017. Pada hari Sabtu (9/9/2017) Tim BBKSDA Papua di Kampung Tobati yang berada di pesisir TWA Teluk Youtefa telah membentuk Desa Binaan Tobati Enggros yang diberi nama “Henwany” artinya adalah Hati yang Terbaik untuk Melangkah ke Satu Tujuan. Kegiatan dilakukan di salah satu rumah warga dan diikuti oleh 30 orang. Kepala Kampung Tobati Bpk. J Derroy Mano berkesempatan hadir, sedangkan dari Kampung Enggros, kepala kampung diwakili oleh Sekretaris Kampung Bpk. Nicodemus Merauje dan dari BBKSDA Papua diwakili oleh Kasi P3 Lusiana D. Ratnawati, S.Hut.,M.P. Adapun pembentukan Desa Binaan ini merupakan upaya pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, dalam pengelolaan potensi sumber daya berikut permasalahannya guna peningkatan kemandirian, kesejahteraan, dan kualitas hidup masyarakat daerah penyangga kawasan konservasi dengan tetap menjaga kelestarian kawasan konservasi. Penetapan Desa/Kampung Tobati Enggros berdasarkan SK Dirjen KSDAE No. 80/KSDAE/SET/KSA.1/2/2017 yang didasari oleh tingkat ketergantungan terhadap kawasan konservasi yang cukup tinggi sehingga salah satu upaya mengurangi tekanan masyarakat terhadap kawasan konservasi adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah penyangga melalui pembinaan/pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat yang akan menjadi program kerja Desa Binaan diperoleh dengan menggali potensi dan peluang produk-produk unggulan desa selama ini, dan/atau yang bisa dikembangkan di masa datang. Bersama masyarakat yang sangat antusias dan didampingi Septi Pascaisnawati, S.Hut sebagai pendamping potensi tersebut dapat digali, dan dikarenakan Desa Binaan ini merupakan kawasan perairan maka merupakan sumber daya alam yang ada di sekitar merupakan potensi yang dapat dikembangkan. Kepala Kampung Tobati Bpk. J Derroy Mano berkesempatan menyampaikan apresiasi dan dukungan pada kegiatan pembentukan Desa Binaan dan mengharapkan bahwa dengan kegiatan ini kemandirian dan mutu kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, serta hidup harmonis dengan kawasan konservasi dan alam sekitarnya. Sumber Info : Septi Pascaisnawati, S.Hut (Penyuluh Kehutanan BBKSDA Papua)
Baca Berita

Pelantikan Anggota Saka Wanabakti Pesisir Barat Binaan Balai Besar TNBBS

Pesisir Barat, 10 September 2017. Sebanyak 33 orang Pramuka Penegak mengikuti kegiatan Perkemahan Pelantikan Anggota Baru Satuan Karya (Saka) Wanabakti Pesisir Barat di Bumi Perkemahan Resort Pemerihan, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Kegiatan ini merupakan pelantikan pertama anggota Saka Wanabakti di Kabupaten Pesisir Barat. Seluruh peserta berasal dari pangkalan Gugus Depan SMA N 1 Pesisir Selatan. Selama ini mereka aktif mengikuti latihan rutin Saka Wanabakti yang dibina oleh SPTN Wilayah II, BPTN Wilayah I Semaka, Balai Besar TNBBS. Perkemahan dilaksanakan selama 3 hari pada tanggal 8-10 September 2017. Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua Kwarran Bengkunat Belimbing, Tasiwan. Dihadapan para peserta, Tasiwan menyampaikan bahwa sebagai generasi muda, anggota Pramuka Saka Wanabakti bisa menjadi pelopor pelestarian hutan dan lingkungan. “Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan, meningkatkan kesadaran dan kepedulian dan peranserta generasi muda dalam pelestarian TNBBS” amanat Tasiwan sekaligus membuka kegiatan perkemahan. Riyanto, S.Hut salah satu Instruktur Saka Wanabakti TNBBS menjelaskan “Kegiatan ini melibatkan 104 orang terdiri dari peserta sebanyak 33 orang yang aktif mengikuti kegiatan latihan, panitia sebanyak 35 orang dari TNBBS, mitra (WCS-IP, RPU YABI, Konsorsium UNILA PILI) dan DKS Semaka, serta 2 orang dari Puskesmas Bengkunat Belimbing. Kesuksesan perkemahan ini juga tidak terlepas dari peranserta 24 orang dari kakak-kakak Pramuka Saka Wanabakti Lampung Barat, Kwarran Kotaagung Barat dan Gugus Depan SMA Bhakti Mulya Suoh. Selain itu juga dihadiri 10 anggota pramuka Kwarran Bengkunat Belimbing”. Melalui kegiatan Perjusami (perkemahan Jumát Sabtu Minggu, red.) peserta juga mendapat materi sebelum dikukuhkan menjadi anggota. Untuk kelas XI peserta mendapat materi dan berbagi pengalaman tentang peran generasi muda dalam pelestarian TNBBS dari Kepala SPTN Wilayah II Bengkunat Jimmy Fonda, S.H, Sunarni Widyastuti (Konsorsium UNILA PILI), Edi Edwar (Koperasi Pakor Makmur), dan Ujang Suryadi (Kwarran Kotaagung Barat). Materi lainnya yaitu tentang Revitalisasi Gerakan Pramuka oleh Supri (Kwarran Kotagung Barat, Krida Saka Wanabakti oleh Vivin Adi Anggoro, SST; perlindungan dan pelestarian Badak Sumatera oleh RPU YABI; pengenalan jenis satwa dan tumbuhan oleh WCS-IP, pengenalan alat navigasi dan praktek penggunaan GPS oleh WWF; serta melaksanakan praktek pengenalan jenis tumbuhan di sekitar bumi perkemahan. Sementara untuk peserta dari kelas XII, mereka mendapat materi tentang kegiatan penelitian di Stasiun Penelitian Way Canguk Resort Pemerihan. Mereka juga melaksanakan kegiatan penjelajahan ke Way Canguk sekaligus praktek pengenalan jenis tumbuhan dan pengamatan satwa selama penjelajahan. Selain materi terkait konservasi, pelestarian hutan dan kesakaan. Seluruh peserta juga dikenalkan packing perlengkapan pribadi untuk penjelajahan/patroli/monitoring satwa dan praktek penanaman di sekitar bumi perkemahan. “Setelah melalui berbagai proses uji mental dan watak kepribadian, serta kecakapan pemahaman tentang Saka Wanabakti, materi terkait konservasi dan pelestarian hutan, sebanyak 33 orang dilantik menjadi anggota Saka Wanabakti. Seluruhnya telah mendapat nama rimba yang berasal dari spesies tumbuhan obat di TNBBS” ungkap Riyanto. Pengukuhan anggota dilaksanakan sekaligus dalam upacara penutupan perkemahan. Pada kesempatan tersebut, Jimmy Fonda selaku Pimpinan Saka Wanabakti Pesisir Barat menyematkan badge Saka Wanabakti kepada perwakilan putra dan putri, sementara Tasiwan bertindak sebagai Pembina Upacara. Dalam amanatnya, sebelum menutup perkemahan Tasiwan menyampaikan rasa bangga, di Kwarran Bangkunat Belimbing telah ada Bumi Perkemahan baru yang lokasinya di TNBBS dan lebih semangat untuk membina Pramuka. “Kalian patut bersyukur telah dibina oleh Balai Besar TNBBS. Dengan adanya Saka Wanabakti kita berharap kegiatan Pramuka di sini semakin berkembang. Kami minta setelah ini terus aktif dan mengembangkan Saka Wanabakti bukan sekedar mengenakan bagde, tetapi lebih bertanggung jawab atas apa yang telah adik-adik kenakan”. Tasiwan meyampaikan amanat sekaligus menutup perkemahan. Dalam kesempatan tersebut, Ka Kwarran juga menaman bibit pohon pulai di Bumi Perkemahan. SALAM PRAMUKA Sumber : BBTN Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Balai KSDA Bengkulu Pastikan Satwa Liar Serahan Masyarakat Sehat

Bengkulu, 9 September 2017. Untuk kesekian kali, Balai KSDA Bengkulu menerima penyerahan satwa dari masyarakat. Kali ini, satwa yang diserahkan masyarakat adalah siamang dan elang bido. Satwa-satwa tersebut diterima oleh petugas Balai KSDA Bengkulu Seksi Konservasi Wilayah II Tais Bengkulu. Untuk mengetahui kondisi kesehatan satwa, Balai KSDA Bengkulu menurunkan tim pemeriksa kesehatan yang dipimpin oleh drh. Erni Suyanti. Secara umum, hasil pemeriksaan kesehatan hewan menunjukkan bahwa satwa tersebut membutuhkan tambahan nutrisi dan vitamin penambah nafsu makan. Sebagai langkah penanganan, Dokter Yanti memberikan tambahan vitamin kepada siamang dan juga menginjeksikan Ivermectin untuk pencegahan penyakit parasiter. Tim kesehatan satwa liar Balai KSDA Bengkulu juga memberi elang bido multivitamin untuk meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh serta mengurangi stress. Selanjutnya satwa-satwa tersebut akan dipantau perilaku dan kesehatannya untuk beberapa waktu ke depan. Apabila telah memenuhi persyaratan, satwa-satwa liar tersebut akan dilepasliarkan kembali ke alam. Sumber berita: Balai KSDA Bengkulu

Menampilkan 9.921–9.936 dari 11.141 publikasi