Senin, 1 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Aksi Kerja Bakti TN Karimun Jawa Membersihkan Zona Religi

Karimun Jawa, 18 September 2017. Kerja bakti di zona religi budaya dan sejarah makam Nyamplungan diprakarsai pihak panitia haul Syekh Amir Hassan Nyamplungan dan Balai Taman Nasional Karimunjawa. Kegiatan ini dihadiri oleh Koramil sebanyak 3 orang, masyarakat Nyamplungan 12 orang, panitia haul 8 orang, Balai TN Karimunjawa 9 orang , siswa SMK 1 Karimunjawa 28 orang siswa dan 3 orang guru pendamping serta siswa Aliyah Safinatul Huda 2 Kemujan 15 orang dengan jumlah total sebanyak 78 orang. Kegiatan dimulai pukul 08.00 – 11.00 WIB dengan diawali briefing oleh panitia haul, Kepala SPTN II Karimunjawa Bapak Sutris Haryanta, SH dan guru pendamping. Turut menyaksikan Danramil dan tokoh masyarakat Nyamplungan. Sampah organik dikumpulkan dikantong dan dibawa ke kampung, sedangkan untuk sampah organik dibersihkan pada lokasi komlpeks makam dan jalur jalan menuju makam dengan cara disingkirkan kearah hutan. Tidak ada aktifitas pembakaran sampah. Sumber Berita : - Ka SPTN II Karimunjawa Bapak Sutris Haryanta, SH - Kristiawan PEH SPTN II Karimunjawa
Baca Berita

Penggunaan Aplikasi Untuk Bebas Sampah Pantai Tablanusu

Tablanusu, 14 September 2017. Ada yang menarik pada 14 September 2017 (hari ke-2) kunjungan lapangan Training Pendidikan Lingkungan dan Pemandu Alam yang diselenggarakan oleh Balai Besar KSDA Papua dan DOI-ITAP di Resort Suwae tepatnya di Pantai Tablanusu, Distrik Depapre, Kab. Jayapura. Seperti yang dijanjikan sebelumnya oleh para trainer yang berasal dari National Park Service dan United States Fish And Wildlife Service bahwa dengan sebuah aplikasi smartphone kita dapat membersihkan pantai. Apakah aplikasinya bekerja layaknya game augmented realty Pokemon Go? tentu tidak, namun lebih dari itu karena ternyata kita benar-benar akan memungut sampah sampai bersih di areal sekitar Pantai Tablanusu. Sekilas jika berkunjung ke Pantai Tablanusu, akan terlihat bahwa pantai ini sangat bersih karena bebas dari sampah, walaupun di sekelilingnya tidak terlihat tempat sampah. Peserta dibagi dalam tiga kelompok, setiap kelompok dibekali dengan aplikasi clean swell pada smartphone, bermodalkan sarung tangan serta kantong sampah setiap peserta wajib berlomba mengumpulkan sampah selama lima belas menit. Kelompok yang mengumpulkan sampah paling banyak maka dialah pemenangnya. Aturan tersebut hanyalah inisiatif para trainer untuk membuat kegiatan aksi bersih pantai Tablanusu menjadi lebih menarik. Setiap sampah yang dikumpulkan diinput ke aplikasi clean swell berdasarkan jenis sampah sehingga akan menghasilkan jumlah sampah yang terkumpul. Hasilnya sampah yang dikumpulkan cukup banyak karena sampah-sampah kecil yang biasanya luput dari pengamatan seperti bungkus permen, sedotan, puntung rokok dan tutup botol mendominasi. Clean swell dapat didownload pada google playstore merupakan aplikasi yang dikembangkan oleh Ocean Conservancy yaitu sebuah lembaga yang tujuannya melindungi laut dari tantangan global akibat sampah di seluruh dunia. Bersama-sama menciptakan solusi untuk kepedulian terhadap hidupan liar serta seluruh komunitas yang hidupnya bergantung pada laut. Clean swell mampu mencatat setiap sampah yang dikumpul, menghitung jarak total lokasi yang dibersihkan, serta memberikan fakta-fakta secara ilmiah terhadap dampak dari jenis sampah pada kehidupan hewan laut. Dengan mengumpulkan sampah di manapun kita berada dan data yang dikumpulkan akan ter-upload ke database sampah. Data ini akan memberikan gambaran global tentang sampah yang ada di laut, serta membantu para peneliti dan pengambil kebijakan menginformasikan solusi. (Ocean Conservancy) MARI BEBASKAN LAUT DARI SAMPAH UNTUK HIDUP YANG LEBIH BAIK Sumber Informasi: Danial Idris - PEH Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Sekjen KLHK Kunjungi Sanctuary Kupu-kupu TN Bantimurung Bulusaraung

Bantimurung, 17 September 2017. Di sela-sela kesibukannya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengunjungi Suaka Satwa (Sanctuary) Kupu-kupu milik Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung di kompleks Kawasan Wisata Bantimurung, Maros pada hari Sabtu (16/09/2017). Kunjungan kerja Sekjen KLHK kali ini dalam rangka menandatangani prasasti peresmian Santuary Kupu-kupu yang telah di launching awal Maret 2017 lalu. Pada kesempatan tersebut pejabat eselon satu KLHK tersebut memberi pencerahan dan semangat kerja bagi segenap rimbawan yang bertugas di TN Bantimurung Bulusaraung. Bambang Hendroyono, Sekjen KLHK menyampaikan motivasi bagi segenap rimbawan yang hadir. “Kita harus bangga menjadi bagian dari tim kerja ibu Menteri KLHK. Kalian adalah ujung tombak KLHK yang bekerja di tingkat tapak. Ibu Menteri juga berpesan untuk menjaga artikulasi kepada setiap stakeholder“. Turut hadir mendampingi Sekjen KLHK adalah Sekretaris Ditjen KSDAE, Herry Subagiadi dan Kepala Balai Besar Balai Bromo Tengger Semeru, Jhon Kennedy. Pada acara tersebut juga hadir segenap kepala UPT Lingkup KLHK Sulawesi Selatan dan karyawan-karyawati TN Bantimurung Bulusaraung. Sebelum Sekjen menyampaikan arahannya, Kepala P3E Suma selaku koordinator wilayah dan Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung menyampaikan sambutan kedatangan Sekjen KLHK. Sahdin Zunaidi, Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung menyampaikan fungsi dome Sanctuary Kupu-kupu, “dome seluas 7.000 meter persegi ini merupakan area budidaya kupu-kupu semi alami. Helena Sky Bridge adalah bagian dari dome yang berfungsi sebagai jalan kontrol dome”. Sebelum bertandang ke Sanctuary Kupu-kupu, Sekjen KLHK bersama rombongan menyempatkan diri berkunjung ke kantor Balai TN Bantimurung Bulusaraung. Melakukan penanaman di halaman kantor Balai TN bantimurung Bulusaraung dan mengunjungi Base Camp Manggala Agni Non DAOPS TN Bantimurung Bulusaraung. Sekjen KLHK memberi simpati kepada segenap anggota pahlawan api ini karena kerja kerasnya berhasil memadamkan api pada kejadian kebakaran hutan beberapa waktu lalu. Di akhir kunjungannya beliau memberi nama baru pasukan api ini. “Nama pasukan kalian masih kurang keren. Saya kasih nama baru ya.. Brigade Macaca” tegasnya. Setelah memberikan sambutan, Sekjen KLHK menandatangani prasasti Sanctuary Kupu-kupu. Pada kesempatan tersebut Sekjen bersama rombongan menyempatkan diri menyeberangi wahana yang lagi in di pusat budidaya kupu-kupu ini, Helena Sky Bridge. Sekjen KLHK berkesempatan bercengkarama dengan segenap karyawan dan karyawati TN Bantimurung Bulusaraung sebelum beliau berpamitan ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin untuk melanjutkan perjalanan kembali Jakarta. Segenap karyawan – karyawati TN Bantimurung Bulusaraung menyampaikan terima kasih atas kunjungan Sekjen KLHK ke Sanctuary Kupu-kupu TN Bantimurung Bulusaraung. Sumber : Taufiq Ismail – PEH TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

TN Bromo Temgger Semeru Bird Watching Competition 2017

Darungan, 17 September 2017. BIRD WATCHING COMPETITION (BWC) atau dalam bahasa Indonesia di kenal dengan Lomba Pengamatan Burung merupakan icon lomba baru di kawasan Taman Nasional. BWC merupakan perpaduan pengamatan, identifikasi dan Fotografi burung di alam terbuka (Taman Nasional) dalam kemasan Lomba. BWC ini merupakan perhelatan pertama yang dilakasanakan di TN Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan diselenggarakan selama Tiga hari dari tanggal 15-16 September 2017 di Ranu Darungan (Ranu Linggo Rekisi) Resort PTN Darungan Seksi PTN Wilayah IV Bidang PTN Wilayah II TNBTS. TNBTS BWC 2017 ini diikuti oleh 60 Tim (masing-masing tim berjumlah 3 orang) yang berasal dari Yogyakarta 13 Tim, Semarang 13 Tim, Malang 11 Tim, Jakarta 9 Tim , Surabaya 4 Tim, Situbondo 2 Tim, Solo 1 Tim, Kediri 1 Tim, Lumajang 1 Tim, Bali 1 Tim, Lombok 2 Tim Campuran 2 Tim. Dari total 60 tim tersebut, 3 diantaranya berasal dari (UPT) KSDAE, yakni : Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) dan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). TNBTS BWC 2017 ini bertujuan Promosi dan Publikasi minat wisata khusus sehingga bisa menarik minat para pemerhati burung untuk berkunjung ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Menambah database perjumpaan jenis burung khususnya dokumentasi jenis-jenis burung yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Sejauh ini dikawasan TNBTS sudah tercatat 183 Jenis burung dari 57 Family, Meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap konservasi burung di habitat alaminya dan Sarana kampanye konservasi keanekaragaman hayati di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, sekaligus dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional yang jatuh pada tanggal 10 Agustus. Kepala Bidang PTN Wilayah II Bp Ahmad Susdjoto, S.Sos mewaikili kepala Balai TNBTS dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa : “Burung merupakan salah satu kelompok terbesar vertebrata yang banyak dikenal, diperkirakan ada sekitar 8.600 jenis yang tersebar di dunia. Saat ini di Jawa dan Bali tercatat ada 499 jenis burung, termasuk 3 spesies yang mungkin sudah punah. Dari jumlah total spesies burung, Jawa dan Bali merupakan wilayah bio-geografi terkaya ke-3 di Indonesia setelah Papua (647 spesies) dan Sumatera (605 spesies). Dari jumlah ini 29 spesies diantaranya adalah endemik Jawa dan Bali dan 59 spesies endemik Indonesia. Semua spesies endemik Jawa dan Bali, kecuali Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) terdapat di Jawa Barat. Tetapi, hasil-hasil survey terbaru menunjukkan bahwa beberapa spesies endemik yang semula dianggap hanya terdapat di Jawa Barat juga terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lebih dari 183 jenis burung yang sejauh ini sudah tercatat di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), berdasarkan pengamatan dari tahun 2011 s.d saat ini. Beberapa merupakan jenis yang dilindungi dan endemik. Kelestarian mereka menjadi terancam dengan maraknya komersialisasi burung. Penangkaran telah tumbuh dimana-mana dalam skala kecil sampai besar, namun permintaan yang sangat tinggi mendorong perburuan di habitat alaminya. Mengingat TNBTS termasuk habitat penting bagi burung maka upaya konservasinya sangat dibutuhkan, salah satunya adalah dengan mempublikasikannya melalui kegiatan Lomba Pengamatan Burung atau lebih dikenal dengan Birdwatching Competition di Blok Ranu Darungan, Seksi PTN Wilayah IV, Bidang PTN Wilayah II, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Penentuan lokasi ini berdasarkan keragaman jenis burung yang cukup tinggi di wilayah tersebut lengkap dengan burung endemik jawa, jenis migran serta burung pemangsa (Raptor), satu diantaranya adalah elang Jawa (Nisaetus bartelsi).” Dalam sambutannya Kabid PTN Wilayah II TNBTS juga mengajak hadirin yang hadir sebagai pegiat konservasi bekerja sama untuk melestarikan keanekaragam hayati yang ada khusunya Burung yang berada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Camat (mewakili Forum Kordinasi Pimpinan yang hadir selain camat yaitu Polsek dan Koramil Pronojiwo) Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang saat membuka acara mengapresiasi apa yang dilaksanakan oleh TNBTS di Desa Darungan yang berada di dalam wilayah kerja Kecamatan Pronojiwo, harapannya lomba tersebut dapat berjalan lancar dan berlanjut ditahun-tahun berikutnya serta lebih baik lagi dalam penyelenggaraannya. Khusus mengenai Kecamatan Pronojiwo merupaman salah satu Kecamatan di kabupaten Lumajang yang banyak memiliki potensi Wisata alam, selain Ranu darungan di Kawasan TNBTS, Pronojiwo juga memiliki wisata alam air terjun dan gua. Selain wisata alam pronojiwo menjadi sentra budidaya Salak yang sudah sangat terkenal dan bisa menyaingi ketenaran salak Pondoh Sleman Jogjakarta. Beliau berharap selesai kegiatan ini peserta berkesempatan berkunjung di wisata lain yang ada di Pronojiwo dan ikut mempromosikan potensi wisata dan potensi lain yang menjadi andalan Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang. BWC 2017 di TNBTS ini menghadirkan Juri yang sudah berkompeten dalam lomba BWC dan merupakan pakar dalam dunia burung yaitu : Karyadi Baskoro yang merupakan Dosen Biologi Universitas Diponegoro Semarang, Imam Taufiqurahman dari Yayasan Kutilang Jogjakarta dan Swis Winasis, salah satu fungsional PEH TN Baluran yang sudah tidak diragukan lagi pengetahuannya mengenai Aves atau Burung di Indonesia. Sebelum mengikuti kegiatan lomba peserta juga di berikan pembekalan materi mengenai Etika Fotografi Satwa Liar di lam bebas yang disampaikan oleh Budi Hermawan dari Wildlife Photographer Bandung dan materi tentang Pengelolaan TNBTS yang disampiakan oleh Bp. Ahmad Susdjoto, S.Sos selaku Kepala Bidang PTn Wilayah II TNBTS. Materi ini diharapkan menambah wawasan dan pengetahuan peserta mengenai tehnik dan etika dalam melakukan kegiatan fotografi di alam bebas khususnya di kawasan Konservasi seperti TN Bromo Tengger Semeru. Setelah melakukan penilaian hasil dari fotografi dan pengamatan yang dilaksanakan oleh para peserta, panitia mengumumkan juara lomba TNBTS BWC 2017 sebagai berikut kategori Pengamatan Burung , Juara Pertama di raih oleh Tim Pelatuk 2 dari Semarang, Juara Kedua Tim White Sandals and Jomblo Company dari Yogyakarta dan Juara Ketiga diraih oleh Tim Birdpacker Tawakal dari Malang. Sementara itu untuk kategori Fotografi Burung Juara terbaik pertama di raih oleh Tim Calon Jemaah Haji dari Malang, Terbaik ke Kedua Tim Ardea 1 dari Semarang dan Terbaik Ketiga Tim Rade dari Jakarta. Selain kedua kategori tersebut dewan Juri juga mengumumkan kategori Tim berpotensi dengan juara 1 yaitu Tim Persatuan Pengangguran bersama dari Yogyakarta, Tim berpotensi 2 yaitu Tim Bionic AKA Familia dari Yogyakarta, dan Tim berpotensi 3 yaitu Tim GC Mamen dari Semarang. Kegiatan TNBTS BWC 2017 ini selain didukung sponsor diantaranya PT. Consina, Lava View, Bromo Permai, Gudang Kamera, Mountaineer, Amanah Ghita dan PT Mitra Indo permai, juga mendapat dukungan penuh dari kelompok Tani “Ranu Lingga Rekisi” Desa Darungan Kecamatan Pronijiwo yang merupakan Kelompok Masyarakat Peduli Konservasi Binaan Resort PTN Ranu Darungan Seksi PTN Wilayah IV Bidang PTN Wilayah II TNBTS. Semoga kegiatan TNBTS BWC 2017 ini menjadi momen yang baik dalam pengelolaan kawasan TNBTS khususnya dalam upaya melestarikan Burung di TNBTS. Sumber : Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Kongres dan Musyawarah Desa Penyangga TN Gn Leuser Bersama Dirjen KSDAE

Aceh Tenggara, 16 September 2017. Bertempat di Pendopo Bupati Aceh Tenggara, Rombongan Dirjen KSDAE diterima oleh Sekda Kab.Agara. Beliau menyampaikan apresiasi atas kedatangan Dirjen KSDAE dan rombongan ke Bumi Segenap Sepakat (Kutacane). "Kami berharap kunjungan kerja ini dapat menyelesaikan permasalahan - permasalahan yang terjadi antara masyarakat dengan pihak TNGL",ujarnya. Di desa Alur Baning kec. Babullrahmah, rombongan Dirjen KSDAE disambut dengan tarian khas daerah. Hadir bersama di tengah - tengah masyarakat, bupati dan wakil bupati terpilih , Kapolres Aceh Tenggara, komandan Kodim , Camat Babullrahmah, kepala desa Alur Baning dan tokoh masyarakat lainnya. Pada kesempatan itu, Dirjen KSDAE yang kagum dengan keindahan kekayaan alam Aceh Tenggara mengajak masyarakat, Pemda dan TN Gunung Leuser (TNGL) dapat bekerja bersama - sama mensejahterakan masyarakat dengan melestarikan kawasan TNGL. Bupati Aceh Tenggara terpilih dalam sambutannya menyampaikan perlunya bantuan pemerintah pusat untuk dapat membantu masyarakat. "Kerusakan kawasan TNGL merupakan dampak dari rendahnya kesejahteraan masyarakat . Kami meminta pihak TNGL dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berada di sekitar kawasan TNGL. Kami yakin jika kesejahteraan masyarakat terpenuhi, kawasan TNGL tidak akan dialihfungsikan oleh masyarakat untuk menafkahi keluarganya", jelasnya. Pada sesi diskusi, masyarakat mengeluhkan penebangan tanaman ilegal yang dilakukan oleh pihak TNGL. Mereka merasa hak hak mereka dirampas oleh pihak TNGL sehingga meminta solusi Dirjen KSDAE. Menanggapi para penanya yang begitu antusias, Ir. Wiratno, M.Sc sangat bersemangat memberi masukan dan arahan kepada masyarakat. Seperti halnya di Kec.Putri Betung( Gayo Lues), Dirjen memerintahkan staff TNGL untuk segera membentuk tim khusus pendataan masyarakat yang mengelola lahan di kawasan TNGL, untuk selanjutnya dilakukan pembinaan agar lahan - lahan yang telah diusahakan oleh masyarakat dapat dioptimalkan tanpa mengabaikan kaidah-kaidah konservasi. Beliau juga mengarahkan masyarakat untuk berkolaborasi dan berkomitmen bersama TNGL dan Pemda untuk bersama-sama mengelola dan melestarikan kawasan TNGL demi kesejahteraan masyarakat. Dalam agenda tersebut dihelat juga penandatanganan deklarasi dan kesepakatan pengelolaan kawasan TNGL secara kolaboratif antara pihak TNGL, Pemda, para mitra kerja TNGL dan masyarakat. Semoga menjadi cahaya baru dalam ranah konservasi TN Gunung Leuser dimana komitmen dan kerja bersama menjadi kekuatan menjaga alam yang Allah anugerahkan. Sumber : Balai Besar TN Gunung Leuser
Baca Berita

Desa Nanga Lauk Kabupaten Kapuas Hulu Berbenah Dengan Penguatan Kapasitas Lembaga Pengelola Hutan Desa

Putussibau, 16 September 2017. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) bekerjasama dengan Yayasan People Resources and Conservation Foundation – Indonesia (PRCF Indonesia) mengadakan Penguatan Kapasitas Lembaga Pengelola Hutan Desa di Desa Nanga Lauk pada hari Selasa – Sabtu Tanggal 12 – 16 September 2017 di Balai Pertemuan Desa Nanga Lauk. Kegiatan ini sebagai upaya pengelolaan sumberdaya hutan berkelanjutan, pengelolaan keanekaragaman hayati dan peningkatan sumber daya manusia di Desa Nanga Lauk. Potensi yang menonjol di Hutan Desa Nanga Lauk adalah Ikan dan Madu yang merupakan kegiatan utama mata pencaharian masyarakat Desa Nanga Lauk. Peserta kegiatan ini melibatkan berbagai elemen Desa Nanga Lauk antara lain: Tim Patroli Hutan Desa, Lembaga Pengelola Hutan Desa, Pemerintah Desa, Asosiasi Periau Nanga Lauk (APNL) dan Kelompok Perempuan dengan jumlah peserta 30 orang. Materi dan praktek yang disampaikan dalam penguatan kapasitas ini antara lain: Kebijakan Pengelolaan Hutan Desa, Kebijakan Pengelolaan Perlindungan dan Pengamanan Hutan Desa, Upaya Perlindungan dan Penagamanan dan Rencana Tidak Lanjut, Kebijakan Perlindungan dan Pelestarian Jenis-Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Dilindungi, Pengenalan Jenis-Jenis Tumbuhan Dilindungi, Pengenalan Jenis-Jenis Satwa Dilindungi, Materi Dasar-Dasar Pemetaan, Materi Dasar Penggunaan GIS, Praktek pengenalan GPS, Praktek Pengenalan Waypoint dan Tracking, Praktek Simulasi Patroli, Praktek Rounting-Menghitung Luasan Area, Pengenalan Download Dan Upload Dari GPS ke Komputer dan Penyusunan Rencana Tindak Lanjut GPS dan Pemetaan. Kegiatan ini dipandu oleh narasumber yang kompeten dibidangnya yaitu; Sarwono, S. Hut Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan, Syarif M. Ridwan Koordinator PEH, Wresni Endrata, S, Hut PEH, Ade Arief, A. Md Koordinator Polisi Kehutanan, Agustinus Irmawan, S. Hut dan Zulkarnain, S. Hut. "Masyarakat diharapkan dapat menerapkan materi dan praktek yang telah diberikan sehingga pengelolaan Hutan Desa Nanga Lauk dapat berjalan efektif dan efisien" ucap Sarwono. Sedangkan Direktur PRCF Indonesia, Imanul Huda, S. Hut, M. Hut mengatakan "proses penguatan kapasitas ini dapat memberikan dampak terhadap perubahan perilaku, peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat di Desa Nanga Lauk khususnya Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dalam mengelola kegiatan melalui perlindungan hutan, konservasi keanekaragaman hayati maupun pemanfaatan hasil hutan secara berkelanjutan". Sumber : Sarwono, S. Hut - Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Penyerahan Satwa Dilindungi Kepada BKSDA Kalimantan Tengah

Pangkalan Bun, 16 September 2017. Kesadaran masyarakat untuk tidak lagi memelihara satwa liar dilindungi sudah cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan penyerahan satwa secara sukarela yang dilakukan oleh masyarakat kepada BKSDA. BKSDA Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali menerima penyerahan satu ekor Beruang Madu, 1 ekor burung kakatua jambul kuning dan 1 ekor anakan burung elang. Beruang madu berjenis kelamin Jantan, umur 2 thn diserahkan oleh warga Desa Bukit Makmur, Kec. Parenggean, Kab. Kotawaringin Timur. Sementara kakatua dan elang diserahkan oleh warga Pangkalan Bun kepada SKW II BKSDA Kalimantan Tengah. Saat ini satwa berada di Kantor SKW II BKSDA Kalteng. Sosialisasi dan penyadartahuan kepada masyarakat tentang Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) dilindungi yang selama ini dilakukan oleh para petugas PEH maupun Polhut BKSDA Kalteng cukup efektif dalam mengurangi jumlah masyarakat yang memelihara satwa liar dilindungi. Apalagi baru-baru ini dengan ditangkapnya seorang penjual satwa dilindungi membuat masyarakat semakin sadar dan yakin bahwa habitat terbaik untuk satwa ialah di alam bebas dan bukan untuk kita rawat layaknya hewan peliharaan. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Penandatanganan Nota Kesepahaman Pemanfaatan Zona Tradisional TN Matalawa

Waingapu, 16 September 2017. Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) kembali menancapkan sejarah baru dalam pengelolaan kawasan konservasi di Pulau Sumba. Sebagai satu-satunya kawasan konservasi di Pulau Sumba, TN Matalawa bersama dengan 4 (empat) Kelompok Mitra Pelestari Hutan (KMPH) dan 1 (satu) Kelompok Tani Hutan yang berasal dari 5 (lima) desa disekitar Kawasan hutan bersepakat untuk secara bersama-sama melakukan pengelolaan di Zona Tradisional TN Matalawa. Penandatanganan nota kesepahaman ini dilaksanakan pada tanggal 14 September 2017, bertempat di Ruang pertemuan Hotel Jemmy – Waingapu. Hasil kesepahaman ini dikemas dalam satu kegiatan rapat kesepahaman pemanfaatan zona Tradisional yang melibatkan unsur masyarakat yang berasal dari 5 (lima) Desa sekitar kawasan, Pemerintah Desa, Forum Jamatada, Burung Indonesia, Direktorat Kawasan Konservasi Ditjen KSDAE dan Pengelola kawasan TN Matalawa sendiri. Adapun bentuk kerjasama dalam pemanfaatan zona tradisional TN Matalawa adalah pemungutan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang dilakukan oleh anggota KMPH dan kelompok tani hutan yang telah bekerja sama. Proses penyamaan persepsi hingga menghasilkan butir-butir kesepahaman tersebut diperoleh dari proses yang cukup panjang, dan merupakan hasil pemikiran bersama dari tiap-tiap unsur yang terlibat didalamnya. Kegiatan pemanfaatan zona tradisional merupakan salah satu bentuk pemberian akses kepada masyarakat oleh pengelola kawasan konservasi yang dikemas dalam perjanjian kerja sama, hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri lingkungan hidup dan kehutanan nomor : P.43/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2017 terkait kegiatan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian akses kepada masyarakat tertuang dalam Bab V. Bentuk Pemberdayaan Masyarakat Pasal 11 ayat kedua (b). Hal ini disampaikan oleh Sdr. Aswan, S.Hut.,M.Si (Analis Data Dir. Kawasan Konservasi) pada materi yang beliau sampaikan. Lebih lanjut beliau menyampaikan, dalam P.43/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2017 belum diatur terkait perjanjian kersama antara kedua belah pihak, dan dalam salah satu pasalnya disebutkan terkait kerjasama pemberian akses akan diatur dalam aturan turunan dari peraturan menteri lingkungan hidup dan kehutanan ini. Sehingga bentuk kerjasama yang dilakukan kedua belah pihak masih sebatas Nota Kesepahaman, sedangkan Perjanjian kerjasama masih menunggu disahkannya peraturan turunan dari P.43/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2017. Dalam sambutannya, Kepala Balai TN Matalawa (Maman Surahman, S.Hut.,M.Si) menyampaikan bahwa pemanfaatan zona tradisional melalui kegiatan pemungutan HHBK, merupakan salah satu solusi yang dapat diberikan pengelola kawasan konservasi terkait masih dijumpainya hak-hak pihak ketiga yang berada didalam kawasan hutan. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (Matalawa)
Baca Berita

Lagi, BBKSDA Papua Lepasliarkan Satwa Dilindungi

Timika, 16 September 2017. Seksi Konservasi Wilayah II Timika BBKSDA Papua pada hari Sabtu tanggal 16 September 2017 melakukan pelepasliaran 10 satwa hasil penertiban, diantaranya 9 Nuri Kepala Hitam (Lorius lory) dan 1 Cendrawasih Raja (Cicinnurus regius) yang dilepasliarkan kembali ke habitat asal di hutan Kuala Kencana Rimba Golf, Timika. Tindakan ini dilakukan setelah mendapat informasi dari masyarakat tentang jual beli satwa ini. Pelepasliaran sepuluh satwa dilindungi dilakukan oleh SKW II Timika dan disaksikan oleh Forum Multipihak Mimika terdiri dari SPTN I Lorentz, Departemen Enviro PTFI, USAID LESTARI, Papua Animal Care (PANIC) dan Mimika Reptile Lovers (MIROR). Upaya pelepasliaran ini adalah tindakan yang tepat karena perburuan dan perdagangan satwa liar merupakan bentuk eksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan. Melepasliarkan burung kembali alam akan menjalankan fungsinya sebagai penjaga keseimbangan ekosistem lingkungan. Dengan demikian, kita akan tetap menikmati keindahan bulunya dan mendengar kicaunya yang riang. Sumber Info : Bambang H. Lakuy, S.P (Kepala SKW II Timika BBKSDA Papua)
Baca Berita

Kongres dan Musyawarah Besar Masyarakat Sekitar TN Gn Leuser

Gayo Lues, 15 September 2017. Kongres dan Musyawarah Besar Masyarakat sekitar TN Gunung Leuser (TNGL) digelar di Pekan Gumpang Kecamatan Putri Betung. Hadir dalam kegiatan ini Dirjen KSDAE, Bupati Gayo Lues, Ketua MAB-UNESCO Indonesia, Direktur KK, Kepala BBTNGL, Kepala BBTNKS, Kepala BBTNBBS, Kepala BBKSDA Aceh, Kepala BBKSDA Sumut, Kepala BTNBG, Kepala BPKH wilayah XVIII Aceh, Muspika, Camat, Perangkat desa dan Masyarakat Putri Betung. Bupati Gayo Lues dalam sambutannya menyampaikan bahwa sebelumnya kecamatan Putri Betung merupakan kecamatan tertinggal, belum ada listrik. Namun sejak 2008 hingga sekarang terdapat 6 PLTMH yang memasok listrik untuk penerangan warga. "Masyarakat Putri Betung berkomitmen untuk menjaga TN Gunung Leuser karena kawasannya merupakan Hulu bagi pembangkit listrik mereka", ujarnya. Bupati sangat mengapresiasi kegiatan kongres dan mubes ini, harapannya terjalin keharmonisan antara pengelola kawasan TNGL dengan masyarakat Putri Betung. Kepada masyarakat Bupati juga menyampaikan bahwa Dirjen KSDAE ini bukan orang lain, tetapi saudara kita, karena beliau pernah menjadi bagian dari TNGL sewaktu berkantor di Kutacane. Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc yang pernah menjabat sebagai Kepala Balai TNGL selama 3 tahun (periode 2005-2007) mengatakan bahwa ada 5 desa yang masuk dalam kawasan TN Gunung Leuser. "Masyarakat desa yang berada di dalam kawasan TNGL dan telah menggunakan lahan TNGL sebagai mata pencaharian masyarakat, akan dilakukan pembinaan mengenai pengelolaan kawasan berbasis konservasi", jelasnya. Beliau mengajak kepada seluruh masyarakat, Pemda dan BBTNGL untuk bekerja sama, bersinergi melestarikan hutan TNGL demi kesejahteraan masyarakat.Beliau juga mengimbau kepada seluruh jajarannya untuk memfasilitasi masyarakat dalam pengelolaan lahan yang berada di kawasan TNGL agar fungsinya sebagai kawasan konservasi tetap terjaga dan masyarakat masih dapat menggunakan lahannya secara optimal dan mempertimbangkan kaidah konservasi. Dalam event istimewa ini digelar juga Penandatanganan Deklarasi Pengelolaan TN Gunung Leuser dan Daerah Penyangga. Komitmen yang tegas dan amanah dalam menjalankan deklarasi merupakan poin penting bagi semua pihak demi Leuser yang lestari dan masyarakat yang sejahtera.Taman Nasional Gunung Leuser yang telah 40 tahun menyandang status sebagai cagar biosfer semoga dapat dinikmati potensi keanekaragaman hayatinya yang berlimpah oleh generasi mendatang. Sumber : Balai Besar TN Gunung Leuser
Baca Berita

BBKSDA Papua Menyelenggarakan "Environmental Education and Nature Guide Training"

Jayapura, 16 September 2017. BBKSDA Papua mendapat dukungan dari US Department of The Interior, International Technical Assistance Program, untuk menyelenggarakan pelatihan Pendidikan Lingkungan dan Pemandu Alam (Environmental Education and Nature Guide Training). Pelatihan diselenggarakan di Hotel Horison Jayapura dan di Kampung Tablasupa (Field Trip) dari tanggal 12 s.d 15 September 2017. Pelatihan dibuka oleh Kepala Balai Besar KSDA Papua, Ir. Timbul Batubara, M.Si sekaligus sebagai narasumber dan trainer handal dari Amerika, yaitu Mr. James Rick Kendall (Superintendent of Marsh-Billing-Rockefeller National Historical Park), Mrs Toni Dufficy (Chief of Interpretive Planning at the National Park Service's Harpers Ferry Center), dan Mrs. Dawn Harris (US Fish and Wildlife Service). Peserta yang mengikuti pelatihan sebanyak 19 orang terdiri dari pejabat struktural dan fungsional BBKSDA Papua, perwakilan dari bidang wilayah dan seksi wilayah kerja BKSDA Papua, Dinas Pariwisata Kab. Jayapura serta perwakilan Direktorat Kawasan Konservasi dan Direktorat PJLHK. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peserta dalam pendidikan lingkungan dan menyediakan teknik melakukan interpretasi serta mengembangkan program untuk melatih anggota masyarakat sebagai pemandu alam (Peningkatan Kapasitas SDM staf di Balai Besar KSDA Papua), semuanya untuk mendukung pengelolaan ekowisata di kawasan konservasi. Selain di Hotel, kegiatan juga dilakukan di Kampung Tablasupa Distrik Depapre Kabupaten Jayapura. Hal-hal baru diperoleh trainer dan peserta di Kampung Tablasupa ini selain keindahan alam yaitu laut, gunung dan kampungnya juga dapat mengenal masyarakat, tumbuhan dan pesona yang tak kalah menakjubkan adalah menyaksikan keindahan Burung Cenderawasih. Mendukung pengelolaan dan pengembangan potensi kawasan konservasi di dalam dan di sekitar lokasi yang dikelola Balai Besar KSDA Papua membutuhkan kerjasama berbagai pihak hal ini juga mendukung pariwisata berkelanjutan di Tanah Papua. Sumber Info : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Bimtek Analisis METT BBKSDA Sulsel

Makassar, 15 September 2017. Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (Sulsel) melaksanakan bimbingan Teknis Analisis METT untuk petugas dilapangan dan perangkat Desa/ kelurahan yang berada disekitar kawasan konservasi selama 2 hari dari tanggal 13 s/d 14 September 2017 di Balai Diklat Kehutanan Makassar. Pelibatan pihak lain ini dimaksudkan untuk memperoleh input analisa yang berbeda terkait pengelolaan kawasan konservasi. Bimbingan Teknis ini bertujuan untuk menilai efektifitas pengelolaan kawasan konservasi secara mandiri. Dalam pembukaan kegiatan ini Kepala Balai Besar KSDA Sulsel Ir. Dody Wahyu Karyanto,. MM mengingatkan kepada para peserta agar tetap memperhatikan elemen penilaian dan proses penilaian untuk mencapai efektifitas Pengelolaan kawasan konservasi. Beliau juga berpesan untuk tidak mengejar nilai ambang minimal 70% tapi tidak memberikan manfaat bagi kawasan yang sedang dinilai. Bertindak sebagai pemateri adalah Kepala Subag Data, Evlap dab Humas Dedy Asriady,. S.Si,.MP tentang Self Assesment METT secara umum dan Kepala Seksi P3 Yusry M,. S.Tp,. M.Hut tentang mekanisme penilaian kawasan konservasi tersebut. Dalam praktek assessment yang dilaksakan oleh peserta secara berkelompok mereka dibimbing bagaimana menentukan nilai yang bergantung pada sejauh mana tingkat pengelolaan kawasan konservasi berdasarkan data-data yang telah ada. Metoda METT ini dipilih sebagai instrumen untuk mengukur pengelolaan konservasi pada tingkat Tapak sehingga memungkinkan petugasnya untuk menjawab pertanyaan pada METT itu sendiri tanpa perlu memiliki kemampuan riset secara spesifik. Sumber : Humas Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Pembinaan Populasi Satwa Liar di Taman Nasional Baluran

Baluran, 15 September 2017. Rutinitas Pengendali ekosistem hutan (PEH) Balai Taman Nasional Baluran dalam melakukan monitoring satwa liar melalui pengambilan data hasil perekaman kamera trap yang telah dipasang ditempat yang telah ditentukan merupakan bagian dalam kegiatan pembinaan populasi satwa liar di Taman Nasional Baluran. Pembinaan populasi satwa liar yang dilakukan di dalam kawasan Taman Nasional Baluran meliputi patroli rutin oleh Polisi hutan dan masyarakat mitra polhut, pembentukan pusat konservasi dan breeding semi alami Banteng (sanctuari Banteng) dan juga monitoring populasi beberapa satwa liar seperti (banteng, macan tutul dan ajag). Pembinaan populasi satwa liar dilakukan agar tersedia dan seimbangnya rantai makanan di dalam kawasan Taman Nasional Baluran. Monitoring populasi satwa liar melalui pemasangan kamera trap rutin dilakukan oleh Balai Taman Nasional Baluran yang dilaksanakan oleh PEH yang ada. M Iqbal selaku koordinator PEH Balai TN Baluran membenarkan bahwa kegiatan monitoring tersebut rutin dilakukan setiap tahun. Kegiatan ini dilakukan untuk memonitor keberadaan serta populasi satwa liar yang kita pantau. Sehingga hasil dari monitoring ini bisa dijadikan sebagai bahan oleh manajemen Balai Taman Nasional Baluran dalam melakukan pembinaan populasi sekaligus juga pembinaan habitatnya, lanjut M Iqbal. Tahun 2017 kegiatan yang dilakukan oleh PEH Balai TN Baluran dalam monitoring populasi satwa liar meliputi inventarisasi macan tutul, monitoring banteng, pemetaan sebaran ajag dan pemetaan sebaran jalak putih.(JKW/Blr) Sumber : Balai TN Baluran
Baca Berita

“Taymur” Semakin Dekat Dengan Habitat Alamnya

Jakarta, 14 September 2017. Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) bekerjasama dengan BKSDA Jawa Barat dan BKSDA DKI Jakarta melakukan proses pemindahan 1 individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus wrumbii) bernama Taymur ke Kalimantan Tengah. Taymur merupakan orangutan berumur 3 tahun yang menjadi korban penyelundupan satwa ke luar negeri. Setelah menjalani proses karantina selama empat bulan di fasilitas karantina Taman Safari Indonesia, Bogor, Taymur dinyatakan sehat dan layak untuk dipindahkan ke pusat rehabilitasi orangutan. Lokasi yang menjadi tempat untuk rehabilitasi Taymur yaitu Pusat Rehabilitasi Orangutan yang dikelola oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOSF) di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah. Sebelumnya pada bulan Juni 2016 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menerima informasi dari KBRI Kuwait perihal penyitaan 1 Orangutan di Kuwait yang dilakukan oleh otoritas kepolisian Kuwait. Selanjutnya pada bulan April 2017 Direktorat KKH melakukan proses pemulangan orangutan tersebut ke Indonesia bersama dengan pihak terkait. Dokter hewan dari Yayasan BOSF ditugaskan untuk ikut mendampingi proses pemulangan Orangutan tersebut dari Kuwait ke Jakarta. Setibanya di Indonesia, hasil pemeriksaan dari dokter hewan, ”Taymur” dalam kondisi sehat dan dapat dilanjutkan untuk dibawa ke fasilitas karantina di Taman Safari Indonesia, Bogor. Pemerintah Indonesia sejak tahun 2006 telah berhasil memulangkan kembali 71 individu orangutan hasil penyelundupan ke luar negeri. Sebanyak 66 individu orangutan telah berhasil dipulangkan dari Thailand sementara dari Malaysia dipulangkan 2 individu orangutan tahun 2015 dan dari Kuwait 3 individu orangutan berturut-turut pada tahun 2015 hingga 2017. Kementerian LHK terus berkomitmen untuk memerangi penyelundupan dan perdagangan satwa ke luar negeri dengan menjalin komunikasi dan koordinasi dengan perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di luar negeri dan pihak-pihak terkait. Sumber : Direktorat KKH
Baca Berita

Manggala Agni Balai TN Kutai Padamkan Kebakaran Hutan di Dalam Kawasan

Bontang, 13 September 2017 - Memasuki bulan Agustus dan September 2017, intensitas hujan di Kalimantan Timur mulai berkurang. Hal ini berdampak terhadap kawasan konservasi taman nasional kutai yang mulai terasa. Dalam 1 minggu tidak turun hujan saja aktivitas masyarakat membersihkan kebun dan membuka lahan untuk pertanian semakin marak. Mengantisipasi hal tersebut, Balai TN Kutai sejak awal telah menggalakkan patroli pengamanan dan perlindungan hutan serta patroli pencegahan kebakaran hutan. Diharapkan gangguan terhadap kawasan dapat terdeteksi sedini mungkin dan dapat diminimalisir. Begitu pun halnya dengan kejadian kebakaran hutan di dalam kawasan konservasi, angka luasan areal yang terbakar dapat ditekan. Apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, areal yang terbakar jauh menurun. Namun demikian, kebocoran masih tetap terjadi, selasa siang kemarin (12-09-2017) manggala agni daops sangkima mendapatkan laporan kejadian kebakaran hutan di wilayah kerja resort sangkima tepatnya wilayah teluk kaba. Menindak lanjuti laporan tersebut manggala agni menurunkan 6 orang personil yang dilengkapi dengan peralatan pemadaman manual dan pompa. Setibanya di lokasi langkah awal yang dilakukan adalah pembagian tugas personil, pengambilan titik koordinat dan size up lokasi untuk mencari titik sumber air yang dapat digunakan pada saat pemadaman dan peralatan pemadaman. Titik areal terbakar pada koordinat N= 00.319644 E=117.514221 dengan vegetasi yg terbakar berupa pepohonan yang berdiameter kecil dan semak belukar serta terdapat bekas rintisan (pembukaan kawasan dengan menggunakan parang dan gergaji mesin). Kebakaran baru dapat dikendalikan dan benar-benar padam pada pukul 17.00 wita dengan luas areal terbakar diperkirakan mencapai 2 hektar. Di lokasi tidak ditemukan pemilik/pengklaim lahan. Berdasarkan penggalian informasi oleh petugas terhadap warga setempat yang berdekatan, didapat informasi bahwa lokasi tersebut di klaim oleh orang luar sangkima (bukan penduduk setempat) untuk perluasan lahan sawitnya. Setelah mendapatkan informasi yang cukup dan diperkirakan api tidak menyala kembali, dilakukan pengecekan peralatan untuk kemudian kembali ke markas Daops sangkima. Kesadaran penuh masyarakat untuk tidak membakar hutan dan lahan adalah kunci keberhasilan pengendalian kebakaran, hanya saja jalan menuju ke arah tersebut membutuhkan proses yang panjang dan dipengaruhi berbagai aspek. Tidak ada yang tidak mungkin, dengan keseriusan dan kerja keras keberhasilan mewujudkan Indonesia bebas asap bukan lah mimpi. Sumber: BTN Kutai
Baca Berita

Balai TN Tambora Gelar Patroli Tim Terpadu dan Patroli Gabungan

Pekat-Dompu, 14 September 2017. Tim terpadu penanganan permasalahan kawasan Taman Nasional Tambora sebanyak 30 orang, terdiri dari unsur TNI, Polri, Satpol PP, Kecamatan, Desa serta dari Balai TN Tambora kembali melakukan kegiatan patroli di dalam kawasan Taman Nasional Tambora untuk yang ketiga kalinya. Kegiatan patroli dilaksanakan pada tanggal 12 s/d 15 September 2017. Selain kegiatan patrol tim terpadu, pada tanggal yang sama juga dilaksanakan kegiatan patroli gabungan sebanyak 20 orang, terdiri dari Polhut, TNI, dan Polri. Sasaran utama dari kegiatan patroli ini adalah melakukan pembongkaran gubug milik masyarakat yang menggarap lahan pertanian di dalam kawasan Taman Nasional Tambora. Lokasi gubug tersebut terletak di wilayah kerja SPTN II yaitu daerah Doro Saha, Desa Sori Tatanga, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Pembongkaran gubug dilakukan karena pada kegiatan patroli sebelumnya para pelaku telah diberikan sosialisasi dan peringatan sebanyak tiga kali. Para pelaku sebelumnya telah bersedia untuk tidak melanjutkan aktivitas bertani di dalam kawasan Taman Nasional Tambora dan membongkar sendiri gubug mereka, namun ketika tim terpadu dan tim patroli gabungan turun, gubug tersebut masih ada meskipun sudah tidak ada lagi aktivitas bertani, sehingga sesuai kesepakatan maka tim melakukan pembongkaran terhadap gubug tersebut. Selain melakukan pembongkaran gubug, tim terpadu dan tim patroli gabungan juga berhasil menangkap basah pelaku illegal logging di wilayah SPTN II sebanyak 4 orang, beserta barang bukti berupa 1 unit chain saw, parang, beberapa potongan kayu siap angkut, dan 1 unit mobil bak terbuka yang digunakan untuk mengangkut kayu. Pelaku kemudian diserahkan ke Polres Dompu untuk diproses secara hukum. Kegiatan patroli tim terpadu dan patroli gabungan merupakan upaya nyata Balai Taman Nasional Tambora untuk menekan dan mengurangi permasalahan kawasan yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Tambora khususnya permasalahan illegal logging dan perambahan. Sumber: Balai TN Tambora

Menampilkan 9.889–9.904 dari 11.141 publikasi