Senin, 1 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Salut, Anggota Brimob Serahkan Orangutan Sumatera ke BKSDA Aceh

Banda Aceh, 18 September 2017. Satu individu bayi orangutan dievakuasi atas kerja sama BKSDA Aceh, KPH wilayah III Aceh dan Orangutan Information Centre (OIC) pada hari senin pagi, 18 September 2017. Bayi orangutan tersebut berjenis kelamin betina dan diperkirakan berumur sekitar 4 tahun. Evakuasi dilakukan setelah mendapatkan laporan dari pemilik bayi orangutan yang tersebut yakni AKP Anton yang bertugas di KOMPI subden 2 Detasemen B Pelopor, Aramiah - Aceh Timur. AKP Anton menyatakan bahwa ia menemukan bayi orangutan tersebut dalan sebuah goni terikat yang dilemparkan oleh orang tak dikenal pada saat beliau melakukan razia di daerah Kecamatan Penaroun, Aceh Timur. Awalnya beliau mengira orang tersebut membuang ganja. Ketika ditemukan, ia mengaku bingung hendak membawa orangutan tersebut kemana. Beliau memelihara bayi orangutan tersebut selama 3 bulanan yang ditaruh dalam sebuah kandang. Melihat reaksi anak-anak kecil sekitar lingkungan yang kerap mengganggu, beliau menghubungi KPH wilayah III Aceh. Kemudian, pihak KPH menghubungi BKSDA dan OIC untuk membantu proses translokasi. Selanjutnya, orangutan ini akan dibawa ke pusat rehabilitasi orangutan Sibolangit yang berada kelola oleh Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP). Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Pengamanan Kukang BKSDA Sumsel Melalui Penelusuran Media Sosial

Pagar Alam, 19 September 2017. Petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 4 Gumai, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) 2 Lahat, BKSDA Sumatera Selatan berhasil mengamankan seekor Kukang (Nycticebus coucang) dari pemiliknya pada tanggal 18 September 2017 di Kota Pagar Alam. Media sosial menjadi sarana yang efektif untuk melacak peredaran dan keberadaan tumbuhan dan satwa liar dilindungi. Kepala BKSDA Sumatera Selatan Genman S. Hasibuan menekankan kepada petugas untuk memanfaatkan media sosial sebagai salah satu sarana dalam memantau peredaran dan kepemilikan tumbuhan dan satwa liar dilindungi. Penertiban kepemilikan satwa liar dilindungi tersebut bermula dari aktivitas pemantauan peredaran tumbuhan dan satwa liar yang dilakukan oleh anggota Tenaga Pengaman Hutan Lainnya (TPHL) RKW 4 Gumai yaitu Robby Agustian di forum jual beli dalam media sosial Facebook dimana salah satu anggota forum tersebut sedang mencari makanan Kukang (Nycticebus coucang). Kemudian petugas TPHL tersebut mengaku sebagai penjual makanan Kukang (Nycticebus coucang) untuk mengetahui detail identitas pemilik satwa liar tersebut yang ternyata beralamat di Kota Pagar Alam. Berdasarkan kondisi tersebut petugas RKW 4 Gumai menemui pemilik Kukang (Nycticebus coucang) untuk menyadarkan bahwa memelihara satwa liar yang dilindungi adalah melanggar hukum dan dengan penuh kesadaran pemilik menyerahkan satwa tersebut kepada petugas. Untuk selanjutnya Kukang (Nycticebus coucang) tersebut akan dititipkan ke Pusat Penyelamatan Satwa (Animals Indonesia) di Desa Karang Panggung Kec. Selangit Kab. Musi Rawas untuk diliarkan sebelum dilepasliarkan ke habitatnya. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Tiga Mahout TN Gunung Leuser Terima Penghargaan dari Polres Langkat

Stabat, September 2017. Petugas Taman Nasional Gunung Leuser dan Conservation Response Unit (CRU) Tangkahan menerima piagam penghargaan dari Kapolres Langkat. Piagam penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi Kapolres Langkat bagi tokoh masyarakat yang turut berpartisipasi dalam perayaan HUT Bhayangkara ke 72 tahun 2017. Penyerahan piagam dilakukan secara langsung oleh Kapolres Langkat disela-sela upacara peringatan Hari Kesadaran Nasional yang dilaksanakan di Lapangan Jananuraga Polres Langkat pada tanggal 18 September 2017. Petugas Taman Nasional Gunung Leuser yang menerima piagam penghargaan tersebut antara lain Sdr. Cece Supriatna, Sdr. Sudiono, dan Sdr. Budiman. Mereka bertiga bertugas sebagai mahout (elephant rider) di CRU Tangkahan, Taman Nasional Gunung Leuser. Dalam perayaan HUT Bhayangkara yang diperingati oleh Polres Langkat pada tanggal 10 Juli 2017 lalu, para mahout turut memeriahkan acara dengan membawa gajah dan menunjukkan beberapa atraksi gajah, diantaranya adalah pengalungan bunga dan lomba tarik tambang antara personil gabungan dengan gajah. Selain memeriahkan acara, hadirnya gajah dalam perayaan tersebut menarik minat warga masyarakat setempat untuk menonton. Penyerahan piagam penghargaan tersebut menunjukkan hubungan yang baik antara Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Stabat dengan Polres Langkat dan stakeholder terkait lainnya dalam pengelolaan Taman Nasional Gunung Leuser khususnya di Bidang PTN Wilayah III Stabat. Kedepanya diharapkan dengan adanya hubungan yang baik ini dapat meningkatkan pengelolaan Taman Nasional Gunung Leuser menjadi lebih baik lagi dan membawa manfaat bagi masyarakat banyak. Kehadiran gajah di Tangkahan dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat dalam bentuk wisata alami, terlebih sudah banyak homestay yang dibangun oleh masyarakat dan Tangkahan ditunjuk menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Ini merupakan implementasi dimana semboyan hutan lestari masyarakat sejahtera dapat diterapkan di Tangkahan. Hingga saat ini pengelolaan gajah berbasis masyarakat di Indonesia hanya ada di Tangkahan. Sumber : Balai Besar TN Gunung Leuser
Baca Berita

Kursus Bahasa Inggris, Cara Unik Diplomasi Konservasi Kepada Masyarakat

Langkat, 19 September 2017. Resort Bekancan, Seksi PTN Wil V Bahorok, Bidang PTN Wil III Stabat, Balai Besar TNGL sejak bulan Mei 2017 memiliki aktivitas baru melalui pelatihan Kursus Bahasa Inggris bagi anak sekolah warga desa Telagah, kec. Sei Bingei, kab. Langkat. Sebanyak 53 orang anak-anak desa dari berbagai usia dengan antusias mengikuti kursus tersebut. Jhon Maruli Purba, Kepala Resort Bekacan menginisiasi adanya kursus bahasa Inggris tersebut. “ Kegiatan ini sebagai media diplomasi kepada masyarakat bahwa Taman Nasional Gunung Leuser memiliki potensi wisata Internasional yang perlu dikembangkan”, tuturnya. Dibantu satu orang staff nya Indra Tarigan, Jhon mengelola kursus secara gratis, dan upaya tersebut didukung sepenuhnya oleh Kepala Desa Telagah. Kursus bahasa Inggris digelar di kantor Resort Bekancan, dan dilaksanakan seminggu 3 kali pada sore hari. Kades Telagah mendukung dengan memberikan bantuan meja belajar sebanyak 10 unit. Selain itu bantuan pun datang dari masyarakat secara pribadi berupa buku tulis dan alat alat mengajar lainnya. Upaya diplomasi konservasi kepada masyarakat bukan hanya sosialisasi aturan saja, namun dengan cara pendekatan kursus bahasa Inggris mampu menurunkan tingkat tindak pidana bidang kehutanan. Resort Bekancan dikelilingi Taman Hutan Raya Bukit Barisan dimana saat ini dirambah oleh orang-orang yang mengaku pengungsi Gunung Sinabung. Apabila tidak ada upaya pendekatan seperti ini maka tidak mustahil perambahan akan menjalar ke Taman Nasional Gunung Leuser. Ayo kita dukung pejuang konservasi Jhon Maruli Purba dan kawan-kawan dengan membantu alat alat tulis, buku tulis dan buku bacaan bahasa Inggris untuk anak. Sumber : Balai Besar TN Gunung Leuser
Baca Berita

Menengok Kembali Rencana Pengembangan Cycloop Center

Jayapura, 19 September 2017. Ketersediaan data yang cukup menjadi modal penting dalam pengambilan berbagai keputusan dan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi secara holistik dan terukur. Selain itu ketersediaan data yang tertata dan terkelola secara periodik juga dapat memberikan cerita sejarah perubahan atau dinamika pengelolaan suatu kawasan konservasi yang memiliki berbagai muara kebutuhan data bagi khalayak umum. Persoalan data suatu kawasan konservasi yang di dalamnya memuat berbagai hasil-hasil penelitian maupun kegiatan di lapangan kerap kali menghabiskan waktu para pemangku kawasan hanya untuk mengerjakan sesuatu yang berulang dan sangat tidak efektif. Sistem database pengelolaan kawasan konservasi yang baik menjadi salah satu ciri efektifnya para pemegang kepentingan dalam bekerja mengelola setiap kawasan konservasi. Untuk mewujudkan ketersediaan data melalui sistem database yang terpusat untuk kawasan Cagar Alam (CA) Peg. Cycloop termasuk Danau Sentani sebagai bagian dari lanskap Cycloop, pada tahun 2013 Dinas Kehutanan Provinsi Papua telah memfasilitasi pembangunan Cycloop Center dengan diinisiasi oleh berbagai pihak seperti kalangan akademisi, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura, LSM dan Balai Besar KSDA Papua. Pengumpulan data awal telah dilakukan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Papua yang bersumber dari berbagai kalangan, namun masih terdapat berbagai kendala dalam sistem penyajian data antara lain dikarenakan belum ada SDM yang secara khusus bekerja secara penuh, serta aplikasi sistem database yang terkomputerisasi. Menyikapi hal tersebut pada tanggal 18 September 2017, bertempat di Cycloop Center tepian Danau Sentani, telah dilakukan pertemuan untuk membahas pola pengembangan Cycloop Center yang terintegrasi mulai dari sumber dukungan data, SDM pengelola, anggaran, hingga penyajian data. Pertemuan yang dipimpin langsung oleh Kepala Bidang Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Papua dihadiri oleh Kepala Balai Besar KSDA Papua, kalangan akademisi dari Universitas Cenderawasih dan Universitas Ottow Geissler, USAID Lestari serta pemerhati lingkungan menghasilkan kesepakatan di mana Cycloop Center selain menjadi pusat data juga menjadi etalase bagi CA. Peg. Cycloop dan Danau Sentani sehingga mampu menampilkan berbagai sisi sosial dan budaya masyarakat yang telah menjadikan Peg. Cycloop dan Danau Sentani sebagai bagian dari keharmonisan antara kultur dan budaya yang harus tetap dijaga kelestariannya. Menurut Jan R. Pugu Kepala Bidang Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Papua, tindak lanjut dari pertemuan ini akan berupa kerangka atau roadmap yang kemudian akan menjadi pedoman dalam pengembangan Cycloop Center sehingga bisa memberikan informasi kepada siapa saja yang membutuhkannya. Di tempat yang sama, Kepala Balai Besar KSDA Papua Timbul Batubara memberikan apresiasi kepada para pihak yang telah ikut memberikan dukungan dalam pengelolaan CA. Peg. Cycloop dan diharapkan Cycloop Center menjadi bagian penting dalam mewujudkan CA. Peg. Cycloop sebagai role model bagi kawasan konservasi lainnya di Papua. Sumber Informasi : Danial Idris - PEH Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Bupati Lampung Barat : “TNBBS Sebagai Tujuan Wisata Unggulan Lampung Barat”

Suoh, 17 September 2017. Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat menyelenggarakan Festival Layang – Layang dan Funbike, dalam rangka HUT Kabupaten Lampung Barat ke 26 tanggal 17 September 2017. Kegiatan ini dilaksanakan di Objek Wisata Alam Danau Lebar Suoh Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, secara administrasi berada di Pekon Suka Marga Kabupaten Lampung Barat. Funbike diikuti oleh 385 peserta, Bapak Bupati Lampung Barat Drs. H. Mukhlis Basri, MM ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Dalam sambutannya pada pelaksanaan kegiatan ini, Bupati Lampung Barat Drs. H. Mukhlis Basri, MM menyampaikan bahwa Danau Suoh telah dijadikan sebagai daerah wisata di Lampung Barat, bekerja sama dengan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. “Saya minta kepada masyarakat dapat mendukung program wisata ini, karena apabila masyarakat tidak mendukung, walaupun bagaimana bagusnya program ini, dia tidak akan ada nilai yang didapat. Kita sama sama menjaga pohon agar tidak ditebang, menjaga kebersihan lingkungan, agar wisatawan dapat nyaman berkunjung kesini. Balai Besar TNBBS telah membuka obyek wisata Danau Lebar, pengunjung dapat menaiki perahu mengelilingi Danau Lebar. Objek wisata ini dipublikasikan melalui media massa Radar Group, masyarakat harus mendukung program wisata unggulan Lampung Barat Ini”, kata Mukhlis Basri. Kepala SPTN III Krui Suhana S.Sos mengatakan :”Pengembangan wisata alam Suoh berbasis masyarakat dilakukan bersama Forum Jasa Wisata Alam Jagad Endah Lestari, Pekon Suka Marga. Masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan objek wisata ini telah berkomitmen untuk ikut berperan aktif dalam menjaga kelestarian TNBBS. Apabila terjadi kebakaran di sekitar areal ini, mereka yang terdepan dalam penanggulangannya. Seperti yang kita ketahui bersama, di sini pernah terjadi kebakaran pada tanggal 9 Maret 2017 lalu, dan mengakibatkan ± 1,5 Ha kawasan TNBBS terbakar. Pada kesempatan yang sama, anggota Resort Suoh Hengki Novimba, A.Md yang juga merupakan Petugas Pemungut PNBP di Resort Suoh menyampaikan : “Data pengunjung di Resort Suoh dari bulan ke bulan semakin meningkat. Pada Bulan Mei 2017 jumlah pengunjung adalah 45 orang dengan PNBP terkumpul Rp. 225.000,-. Bulan Juni 2017 jumlah pengunjung adalah 385 orang dengan PNBP senilai Rp. 1.887.500,-. Peningkatan secara signifikan terjadi pada Bulan Agustus dengan jumlah pengunjung 1002 orang dan PNBP mencapai Rp. 4.985.000,-. Dari trend data yang selalu meningkat, menunjukkan bahwa Objek Wisata Suoh khususnya Danau Lebar memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan”. Meningkatkan jumlah pengunjung wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara merupakan salah satu target capaian kinerja Balai Besar TNBBS di tahun 2017. Dengan pengembangan wisata alam Danau Lebar Suoh ini, dapat menunjang tercapainya jumlah kunjungan wisatawan nusantara minimal 1.600 orang dan wisatawan mancanegara minimal 150 orang, yang merupakan target Balai Besar TNBBS di tahun 2017. Seiring dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan domestic dan mancanegara, maka Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) melalui penjualan tiket masuk akan meningkat pula. Ayo Ke Taman Nasional, Ayo Ke TNBBS… (KEHUMASAN BBTNBBS, September 2017).
Baca Berita

Masih Menjadi Misteri, Inilah Hasil Ekspedisi Goa 2017 di TN. Aketajawe Lolobata

Sofifi, 18 September 2017. Target Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) dalam mengungkap sinkhole yang terdapat dalam foto potensi kawasan yang diambil melalui helikopter belum bisa tercapai. Hal ini dikarenakan medan yang penuh tantangan dan beberapa kejadian teknis dilapangan diluar rencana tim ekspedisi. Sinkhole atau lubang besar yang berada dipermukaan tanah ataupun dinding-dinding tebing merupakan fenomena alam yang sangat indah dan menarik untuk dijelajahi. Misalnya goa. Dalam kegiatan ekspedisi goa kali ini, TNAL menggandeng kelompok pemerhati goa, yaitu Acintyacunyata Speleological Club (ASC) dari Yogyakarta untuk bersama-sama mencari sinkhole yang masih menjadi misteri di dalam kawasan TNAL. Sebut saja sinkhole Kobe. Sempat melakukan evakuasi keluar kawasan, akhirnya tim ekspedisi goa kembali melanjutkan pencarian sinkhole Kobe atau mulut goa yang terdapat di dalam foto TNAL yang diambil dari helikopter melalui jalur desa Kobe kabupaten Halmahera Tengah. Sebanyak 6 (enam) anggota ASC yang didampingi Polisi Kehutanan Balai TNAL berhasil menemukan sebanyak 22 goa baru (4 diantaranya sudah dipetakan), natural bridge dan beberapa air terjun di sepanjang perjalanan menuju sinkhole Kobe. Tidak kalah pentingnya adalah terdapat data baru tentang keberadaan Masyarakat Suku Tobelo Dalam (MTD) atau biasa disebut suku Togutil yang masih sangat asli dan tradisional. Dalam kesaksiannya, Adriel Polisi Kehutanan yang juga tergabung dalam tim ekspedisi goa menyatakan bahwa “Kami dilempari batu dari atas tebing oleh satu orang suku yang tidak memakai baju, berkulit putih, berambut panjang dan kemungkinan hanya menggunakan celana penutup dari kulit pohon yang sesekali sembunyi dibalik pohon”. Yang lebih menguatkan bahwa benar terdapat kelompok MTD pada area tersebut adalah keterangan dari salah satu pemandu setempat, yaitu bahwa dia pernah melihat sekitar 40 rumah orang suku yang berada di sekitar sinkhole Kobe. Karena alasan tersebut pula yang membuat tim ekspedisi goa harus mengakhiri kegiatan pencarian sinkhole Kobe. “Rambo saja akan minta pulang”, ucap Yusra, Ketua tim Ekspedisi Goa yang juga anggota Polisi Kehutanan Balai TNAL. Diceritakan bahwa sekitar 450 meter kedepan dari titik terakhir tim dilempari batu oleh MTD merupakan titik yang diduga sinkhole Kobe jika dilihat dari peta. Untuk mencapai titik tersebut, tim harus menyusuri sungai yang dikelilingi tebing yang membentuk natural bridge dengan ketinggian sekitar 165 meter. Sungai yang dalam dan arus yang kuat membuat tim membutuhkan tenaga ekstra untuk melewatinya. Sungai beserta ornamen dan natural bridge memiliki keindahan dan keunikan tersendiri. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

TWA Gunung Pancar Jadi Pertemuan Relawan PMI Se-Indonesia

Bogor, 18 September 2017. Taman Wisata Alam Gunung Pancar, adalah salah satu dari 16 (enam belas) Taman Wisata Alam dibawah pemangkuan Balai Besar KSDA Jawa Barat. Bertofografi landai sampai bergelombang terjal dengan kemiringan sekitar 15-40% dan berada pada ketinggian 300-800 mdpl. Luasan kawasan TWA Gunung Pancar adalah seluas 447,5 hektar, dengan vegetasi didominasi pohon pinus. Kawasan ini juga menyimpan potensi jenis satwa Surili sebagai satwa endemik Jawa Barat. Posisi TWA Gunung Pancar yang strategis karena berdekatan dengan Kota Bogor dan Ibukota Negara, menjadi pilihan wisata alam yang dilakukan bersama keluarga ataupun komunitas serta menjadi salah satu tempat untuk kegiatan komersil. Dominasi vegetasi Pinus dan beberapa bagian kawasan bertofografi landai, cocok untuk melakukan outbond activity berupa perkemahan, outbond, family gathering. Kondisi alami TWA Gunung Pancar inilah, pada hari Minggu, 17 September 2017, Palang Merah Indonesia, sebagai organisasi sosial di negeri ini melaksanakan kegiatan “Temu Sukarelawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat” (SIBAT) Nasional ke II yang akan dilaksanakan selama 5 (lima) hari mulai tanggal 16 – 20 September 2017. Menunjuk Kabupaten Bogor sebagai lokasi dilakukannya acara pertemuan tentu menjadi kebanggaan sendiri bagi pengelola kawasan. Dengan memilih kawasan TWA. Gunung Pancar dengan segala keunikan dan ke khasannya, kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat di bidang penanggulangan bencana dimulai pada pukul 09.00 wib. Acara yang dibuka oleh Prof. DR.Ir. Ginanjar Kartasasmita selaku Plh. Ketua PMI Pusat juga dihadiri oleh Bupati Kabupaten Bogor beserta jajarannya serta perwakilan kontingen PMI Daerah (Provinsi dan Kabupaten) yang melibatkan 1.405 peserta. Kegiatan yang dilakukan dengan sasaran utama untuk berkumpul, belajar dan berbagi pengalaman melalui latihan gabungan, workshop pengurangan risiko bencana, serta pameran ditujukan untuk membangun dan meningkatkan kemampuan dan ketangguhan masyarakat dalam pengurangan dan pengendalian bencana. Pada kegiatan tersebut juga dirangkai dengan kegiatan konservasi melalui pelepasliaran sebanyak 72 ekor burung yang tidak dilindungi dengan jenis Tekukur, Merpati dan Kutilang dan bakti sosial dengan penanaman pohon di kawasan Taman Wisata Alam. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Penilaian METT Balai Taman Nasional Bukit Duabelas

Sarolangun, 18 September 2017. Penilaian METT Balai TN Bukit Duabelas (TNBD) telah dilakukan sejak tahun 2015 lalu dengan nilai 65%. Penilaian untuk tahun 2016, dilakukan pada tahun 2017 ini tepatnya pada tanggal 06 s.d 07 September 2017 yang bertempat di Hotel golden Sarolangun. Penilaian METT ini dilakukan oleh Pegawai balai TNBD bersama dengan beberapa stake holder yang terkait dengan pengelolaan kawasan yaitu Perwakilan Kecamatan Air Hitam, Kecamatan Marosebo Ulu, Kecamatan Batin XXIV dan Kecamatan Muara Tabir. Perwakilan desa terdiri dari Desa Pematang Kabau, Desa Baru, Desa Hajran, Desa Peninjauan, Desa Padang Kelapo, dan Desa Sungai Jernih. Perwakilan desa ini juga ditambah dengan perwakilan dari kelompok tani. Pemerintah Kabupaten dan Provinsi yaitu Dinas Lingkungan Hidup Sarolangun, Dinas Pariwisata dan Olahraga Sarolangun, BAPPEDA Sarolangun, Dinas Sosial dan Dukcapil Prov. Jambi, dan Dinas Pariwisata Prov. Jambi. Perwakilan lainnya adalah LSM KKI WARSI yang aktif berkegiatan di kawasan TNBD. Kegiatan ini dihadiri pula oleh perwakilan Suku Anak Dalam (SAD) sebagai penghuni kawasan TNBD dan mempunyai kepentingan terbesar terhadap kawasan. Berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan, diperoleh nilai 67%. Nilai ini masih kuran 3 poin dari nilai 70% yang diharapkan. Hal ini menunjukan bahwa masih banyak perbaikan yang perlu dilakukan kedepannya dalam pengelolaan kawasan. Selain itu, adanya penilaian ini telah membuka komunikasi antara Balai TNBD dengan para stake holder terkait pengelolaan TNBD sehingga setelah kegiatan ini diharapkan akan terjalin kerjasama yang lebih baik agar pengelolaan TNBD menjadi lebih efektif dan sesuai dengan tujuan penunjukannya. Sumber : Balai TN Bukit Duabelas
Baca Berita

Calon Donatur Berkunjung Ke TN. Aketajawe Lolobata

Sofifi, 18 September 2017. Burung Indonesia mengajak salah satu lembaga donor yang bergerak dalam bidang kesehatan dan kesejahteraan hewan, yaitu “Full Circle” ke Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) tepatnya di Suaka Burung Paruh Bengkok. Full Circle adalah lembaga donor yang berpusat di Hongkong. Berawal dari undangan hari ulang tahun Burung Indonesia pada beberapa bulan lalu di Makassar, perwakilan dari Balai TNAL memulai obrolan terkait kegiatan-kegiatan yang dapat dikolaborasikan bersama Burung Indonesia. Akhirnya obrolan tersebut berlanjut menjadi sebuah kegiatan kunjungan oleh Burung Indonesia beserta Full Circle dan Birdlife Asia. Maksud dari kunjungan tersebut adalah untuk memperkenalkan Balai TNAL dengan lembaga Full Circle yang diharapkan dapat terjalin kerjasama dibidang pengelolaan Suaka Burung Paruh Bengkok di taman nasional. Kunjungan tersebut berlangsung selama 4 (empat) hari dimulai tanggal 14 – 18 september 2017. Hari pertama para tamu diperkenalkan tentang TNAL melalui presentasi Suaka Burung Paruh Bengkok oleh Kepala Suaka, Gunawan Simanjuntak. Setelah itu pertemuan berlanjut menuju kandang transit burung paruh bengkok yang berada dibelakang kantor Balai TNAL. Jadwal selanjutnya adalah melihat perkembangan pembangunan kantor Suaka Burun Paruh Bengkok, mengunjungi desa sekitar kantor suaka (desa Koli, desa Kosa dan desa Woda), melakukan pengamatan burung Bidadari Halmahera di Resort Tayawi dan desa Fritu. Saat diskusi selama kunjungan tersebut, perwakilan dari Full Circle, Karthi Martelli menyatakan bahwa mengapresiasi Taman Nasional Aketajawe Lolobata yang sudah memulai gerakan penyelamatan satwa berupa Suaka Burung Paruh Bengkok dan pengembangan peningkatan kapasitas petugas dalam pengelolaan suaka masih perlu ditingkatkan. “Masih belum didapatkan kesepakatan apapun dari kunjungan tersebut” kata Gunawan. Oleh : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Penyerahan Bantuan Fasilitasi Pemberdayaan Masyarakat Desa Penyangga TN Bukit Duabelas

Sarolangun, 18 September 2017. Pada bulan Agustus Tahun 2017, Balai Taman Nasional bukit Duabelas telah menyerahkan Bantuan Fasilitasi pemberdayaan masyarakat kepada 2 kelompok tani di Desa Pematang Kabau yang merupakan desa penyangga TNBD. Dua kelompok tersebut adalah kelompok Karang Taruna Dusun Sidomakmur berupa 1 unit Mesin Air Grundfost dan 10 unit pipa PVC ukuran 12 inch. Mesin air ini akan digunakan untuk membangun instalasi air dari embung yang telah dibangun secara swadaya oleh kelompok bersama masyarakat ke penampung air yang kemudian didistribusikan ke rumah-rumah warga sekitar. Bantuan ini diberikan karena dusun ini termasuk daerah yang kesulitan air saat musim kemarau tiba. Kelompok kedua yang menerima bantuan adalah Kelompok Tani “Sidomakmur” berupa 1 unit capung rawa dan 2 unit mesin air otomatis yang akan digunakan untuk mengolah lahan rawa menjadi sawah. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang sudah dilaksanakan Balai TNBD sejak tahun 2009 silam. Lebih dari 10 kelompok tani di desa-desa penyangga dan desa interaksi yang telah menerima manfaat pemberian fasilitasi ini. Pemberian fasilitasi pemberdayaan masyarakat ini diharapkan dapat menjadi sarana peningkatan taraf hidup anggota kelompok secara khusus dan masyarakat sekitar. Sumber : Balai TN Bukit Duabelas
Baca Berita

Gelombang Penyerahan Satwa Liar Sukarela ke BBKSDA Jawa Barat Terus Terjadi

Bandung, 18 September 2017. Balai Besar KSDA (BBKSDA) Jawa Barat menerima satwa liar secara sukarela dari masyarakat sebanyak 3 (tiga) kali. Pertama, pada tanggal 14 September 2017 Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL BBKSDA Jawa Barat menerima penyerahan secara sukarela seekor elang brontok dari seorang warga Bandung bernama Saidah. Menurut penuturan Saidah, burung pemangsa bernama latin Nisaetus cirrhatus tersebut ditemukan hinggap di depan halaman rumahnya pada tanggal 12 September 2017. Satwa tersebut kemudian ditangkap dan diberi pakan. Keinginan Saidah untuk menyerahkan secara sukarela jenis raptor muncul setelah mengetahui bahwa satwa liar tersebut dilindungi undang undang. Kemudian, dengan inisiatifnya sendiri, Saidah mencari alamat kantor BBKSDA Jawa Barat di internet, sampai akhirnya dapat menyerahkan elang brontok tersebut secara langsung ke Tim Gugus Tugas. Saat ini, satwa liar tersebut telah dititprawatkan ke Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) di Garut guna menjalani pemeriksaan kesehatan dan serangkaian program rehabilitasi. Kedua, pada tanggal 15 September 2017 sebanyak 3 (tiga ) ekor satwa dilindungi terdiri atas seekor kakatua raja dan 2 (dua) ekor merak biru diserahkan secara sukarela oleh seorang warga Bandung bernama Nanay melalui Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW III Soreang. Saat ini, satwa tersebut telah dititiprawatkan ke Taman Safari Indonesia Cisarua Bogor untuk keperluan identifikasi, pemeriksaan kesehatan, serta menjalani serangkaian proses rehabilitasi. Ketiga, pada tanggal 16 September 2017 seorang warga Cirebon bernama Reksi Arif Yudistira menyerahkan secara sukarela 2 (dua) ekor satwa dilindungi, yaitu elang ular bido (Spilornis cheela) dan kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea) kepada Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan SKW VI Tasikmalaya/Resor KSDA Cirebon. Di samping itu, Reksa yang juga seorang pehobi burung ini, menyerahkan seekor nuri maluku (Eos bornea) yang tidak dilindungi undang-undang. Menurut pengakuan Reksa, burung-burung tersebut merupakan hasil pembelian dari Cirebon dan Klaten, Jawa Tengah. Saat ini, satwa tersebut diamankan di kandang transit RKW Cirebon menunggu untuk dievakuasi ke kantor Bidang KSDA Wilayah III Ciamis untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh dr. Hewan dan untuk dilakukan identifikasi lebih lanjut. Penyelamatan satwa-satwa ini sendiri merupakan hasil pengembangan informasi via media sosial yang diberikan oleh Tim Gugus Tugas Penyelamatan dan Evakuasi TSL Bidang KSDA Wilayah III Ciamis, yang kemudian ditindaklanjuti oleh Tim Gugus Tugas Seksi Konservasi Wilayah VI Tasikmalaya bersama Tim Gugus Tugas RKW Cirebon. Semoga semakin banyak masyarakat yang tergerak hatinya untuk menyerahkan secara sukarela satwa-satwa liar dilindungi yang mereka miliki/pelihara kepada BBKSDA Jawa Barat. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Si Tukik pun Kembali Dilepasliarkan ke Laut Lepas

Sukabumi, 18 September 2017. Pada hari Jum'at tanggal 15 September 2017 sebanyak 116 ekor tukik Penyu HIjau memulai kehidupan barunya di pantai Blok Citirem Suaka Margasatwa Cikepuh Sukabumi. Tukik-tukik ini merupakan hasil dari penguburan telur Penyu tanggal 26 Juli 2017, setelah mengalami inkubasi secara semi alami lebih kurang 50 hari, tukik-tukik tersebut menghirup udara bebas. Pelepasliaran itu dilakukan oleh petugas Resort Konservasi Wilayah Suaka Margasatwa Cikepuh Sukabumi. Kawasan konservasi lainnya yang merupakan tempat pendaratan dan bertelur Penyu adalah TWA Pulau Sangiang yang terletak di selat Sunda dibawah pemangkuan Seksi Konservasi Wilayah I Serang Bidang KSDA Wilayah II Bogor Balai Besar KSDA Jawa Barat. Pada hari Minggu, tanggal 16 September 2017, petugas Resort Konservasi Wilayah Pulau Sangiang, melakukan hal yang sama yaitu pelepasliaran tukik. Kali ini tukik yang dilepasliarkan sebanyak 200 ekor yg terdiri dari 195 ekor tukik Penyu sisik dan 5 ekor tukik Penyu hijau, yg berumur lebih kurang 3 bulan dari hasil penetasan semi alami bulan Juni 2017 Pelepasliaran ini, dilakukan bersama-sama dengan karyawan PT. Selamat Sempurna Tbk. (perusahaan yang berusaha dibidang elektronika) dan tim dari Terumbu Karang Indonesia (TERANGI) di pantai Tembuyung, sejumlah 200 ekor yg terdiri dari 195 ekor tukik penyu sisik dan 5 ekor tukik penyu hijau. Pada kesempatan itu pula, untuk meningkatkan pelestarian Penyu yg ada di pulau Sangiang, PT. Selamat Sempurna Tbk. dan tim dari TERANGI memberikan bantuan pompa air satu set dan solar sel yang berfungsi untuk menyedot air dari laut ke bak pembesaran tukik, sehingga sirkulasi air laut lebih baik dan lancer. Diharapkan kesehatan tukik pun akan meningkat dan tingkat kematian tukik pun menurun. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Rencana Pengelolaan dan Rancangan Zonasi TN Kep Togean Dengan Konsultasi Publik

Ampana-Senun, 18 September 2017. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean telah melaksanakan kegiatan “Konsultasi Publik Tingkat Kecamatan Rencana Pengelolaan (RP) dan Rancangan Zonasi “ di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kecamatan Walea Kepualauan di Desa Popolii pada hari Sabtu tanggal 16 September 2017. Kegiatan ini mengundang Kepala Desa dan perwakilan Desa/BPD di tiga (3) wilayah Kecamatan, yaitu Kecamatan Talatako, Walea Kepulauan, dan Walea Besar. Konsultasi publik ini dipimpin langsung oleh Kepala Balai TNKT, Ir. Bustang dan dihadiri pula oleh Asisten II Kabupaten Tojo Una-Una, Drs. Moh. Kasim Muslaini, MH. Kegiatan konsultasi publik ini bertujuan untuk mensosialisasikan tentang rancangan zonasi Taman Nasional Kepulauan Togean dan sebagai tindak lanjut dari masukan/aspirasi dari konsultasi publik tingkat desa sebelumnya. Penentuan dan penetapan zona pengelolaan ini tentunya bertujuan agar terwujudnya pengelolaan kawasan TNKT yang efektif dan efisien melalui pengelolaan ruang kawasan secara maskimal. Masukan masyarakat dari kegiatan ini yaitu agar peta hasil penentuan/penetapan zona ini juga dapat diberikan kepada masing-masing desa sebagai pedoman dan informasi kepada masyarakat. Selain itu dalam kegiatan ini juga dilakukan konsultasi publik RPJP Taman Nasional Kepulauan Togean 2018 – 2027. RPJP merupakan dokumen yang digunakan oleh Unit Pengelola, serta para pihak terkait untuk menetapkan program dan rencana aksi dalam mewujudkan tujuan pengelolaan Taman Nasional. Dokumen ini disusun dari hasil inventarisasi potensi kawasan, penataan kawasan dalam zona dengan memperhatikan fungsi kawasan, aspirasi para pihak dan rencana pembangunan daerah. Hasil konsultasi publik terkait dengan RPJP, masyarakat meminta agar pihak TNKT dapat membuat program dan rencana aksi pencegahan dan penegakan hukum terhadap aktivitas destructive fishing yang semakin meresahkan serta kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat. Konsultasi publik tingkat kecamatan ini diagendakan di dua (2) lokasi yaitu di desa Popolii yang telah dilaksnakan dan desa Wakai yang direncanakan pada hari Selasa, 19 September 2017 dengan mengundang perwakilan desa dari Kecamatan Batudaka, Kecamatan Una-Una, dan kecamatan Togean. Hasil konsultasi publik RPJP dan rancangan zonasi ini tingkat kecamatan selanjutnya akan menjadi dasar dalam pelaksanaan konsultasi publik tingkat Kabupaten yang direncanakan dilaksanakan di Ampana. Sumber : Balai TN Kepulauan Togean
Baca Berita

Berbagi Ilmu Melalui Kemah Konservasi Taman Nasional Kutai

Kutai, 18 September 2017. Pada tanggal 15 - 17 September 2017, Balai Taman Nasional Kutai melaksanakan kegiatan kemah konservasi di objek wisata alam Sangkima, Taman Nasional Kutai. Kemah konservasi diikuti oleh 98 orang peserta, terdiri dari kader konservasi Taman Nasional Kutai, kader konservasi BKSDA Kalimantan Timur, dan kelompok pecinta alam di Kalimantan Timur. Tujuan kemah konservasi kali ini adalah untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan kepada peserta, sehingga peserta mampu berperan aktif dalam menyampaikan potensi-potensi yang dimiliki kawasan konservasi melalui dongeng, tulisan dan foto. Dalam kemah konservasi ini, ada tiga materi yang disampaikan yaitu kampanye pelestarian alam melalui dongeng dengan narasumber Resha Rashtrapatiji (pendongeng/host Jejak Rimba MNCTV), teknik menulis dengan narasumber Bayu Dwi Mardana Kusuma (National Geographic Indonesia), dan teknik fotografi dengan narasumber Yunaidi (National Geographic Indonesia). Seluruh peserta tampak sangat antusias mengikuti seluruh kegiatan, baik saat penyampaian materi maupun praktik. Dalam kegiatan praktik, peserta yang dibagi dalam beberapa kelompok tersebut mendapatkan tugas untuk mengambil foto di sepanjang trek objek wisata Sangkima dan menuliskan pengalaman yang diperoleh selama perjalanan dengan menggunakan teknik-teknik yang telah disampaikan oleh narasumber. Selanjutnya peserta juga memiliki tugas untuk mengunggah foto dengan narasi yang menarik di media sosial untuk menyebarkan informasi mengenai Taman Nasional Kutai kepada masyarakat luas. Untuk materi mendongeng, setiap kelompok mendapatkan tugas untuk mendongeng tentang Orangutan dan pohon ulin, dua potensi penting di Taman Nasional Kutai. Dengan bahasa, suara, gerak, dan mimik muka yang menarik, dongeng dapat menjadi sarana untuk menggugah audience, terutama anak-anak, untuk belajar mencintai alam. Semoga kegiatan kemah konservasi Taman Nasional Kutai ini bisa menjadi ajang untuk berbagi ilmu, menjalin komunikasi dan menjaga semangat untuk terus melestarikan alam.#BTN Kutai Sumber : Balai TN Kutai
Baca Berita

Uji Kompetensi Fungsional di Palembang Sumatera Selatan

Palembang, 14 September 2017. Pusat Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia BP2SDM Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengadakan ujian kompetesi bagi pejabat fungsional Polhut, PEH dan Penyuluh Kehutanan pada tanggal 14 – 17 September 2017 di Kota Palembang dalam rangka standarisasi kualitas Sumber Daya Manusia. Peserta uji kompetensi pada kesempatan ini diikuti dua jabatan fungsional dari Polisi Kehutanan dan Pengendali Ekosistem Hutan dari tingkat terampil. Dan tingkat ahli berasal dari Unit Pelaksana Teknis KLHK antara lain BKSDA Sumatera Selatan, BKSDA Bengkulu, BKSDA Sumatera Barat, BPDASHL Musi, BPDASHL Ketahun, BPDASHL Baturusa Cerucuk, BPHP Wlayah V Palembang, BPPHLHK Wilayah Sumatera Seksi Wilayah III, BPPI KHL Wilayah Sumatera, BPKH Wilayah II Palembang, BPKH Wilayah XIII Pangkalpinang, BPKH Wilayah XX Lampung, dan Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan dengan total 59 orang peserta. Sesuai amanah Permenpan Nomor 17 tahun 2011 (Pasal 31 ayat 1), Permenpan Nomor 50 tahun 2012 (pasal 30 ayat 1) dan Permenpan Nomor 27 tahun 2013 (Pasal 30 ayat 1) tentang Polisi Kehutanan, Pengendali ekosistem Hutan dan Penyuluh Kehutanan dan Angka Kreditnya menyebutkan bahwa Pejabat Fungsional yang akan naik jenjang jabatan setingkat lebih tinggi harus melalui uji kompetensi. Pelaksanaan uji kompetensi ini terdiri dari beberapa sesi diantaranya tes tertulis (kompetensi Manajerial dan teknis), Pengecekan dokumen portofolio, tes wawancara, kesamaptaan bagi Polisi Kehutanan, simulasi/demo dan pemberkasan dokumen uji. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan

Menampilkan 9.873–9.888 dari 11.141 publikasi