Jumat, 24 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Model Aplikasi Buatan PIKA Permudah Pembuatan Peta Zonasi/Blok Kawasan

Sofifi, 9 Oktober 2017. Program Magang GIS yang diselenggarakan oleh Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi ALam (PIKA) telah selesai dilaksanakan. Ditutup langsung oleh Kasubdit IIKA, Beliau berharap siswa magang dapat menerapkan aplikasi yang telah dibuat PIKA dalam pembuatan peta Zonasi/Blok pada tempat kerja masing-masing. Beliau juga menegaskan bahwa hasil dari aplikasi tersebut baru berupa peta arahan yang masih harus dilakukan konsultasi publik dan lainnya. Pada saat hari terakhir magang, para peserta magang diwajibkan mempresentasikan hasil peta arahan zonasi/blok yang yang telah dibuat menggunakan aplikasi tersebut. Salah satunya adalah peserta dari Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Saat presentasi memaparkan bahwa hasil peta arahan kurang lebih sama dengan hasil peta zonasi yang sudah disahkan melalui SK Dirjen. Begitu pula dengan peserta lainnya. Aplikasi tersebut adalah aplikasi yang dibuat oleh tim GIS PIKA yang berisi perintah-perintah untuk memasukkan data kawasan konservasi berupa titik koordinat maupun polygon. Misalnya data lahan kritis, data polygon ijin jasa lingkungan, titik koordinat sebaran satwa dan lainnya. Data tersebut kemudian akan diolah secara otomatis oleh program yang ada dalam aplikasi sampai menjadi peta arahan zonasi/blok kawasan konservasi. Tujuan aplikasi tidak lain adalah membantu dan mempermudah pengelola kawasan konservasi (TN dan KSDA) dalam membuat peta zonasi/blok dalam waktu yang singkat dengan anggaran yang minimal. “Aplikasi peta arahan zonasi/blok kawasan konservasi buatan PIKA ini lebih efektif dan efisien asalkan data spasial dilapangan tersedia dengan baik”, kesan salah satu peserta magang. “Walaupun belum sempurna untuk taman nasional laut, tetapi kami merasa terbantu dengan aplikasi ini, karena beberapa indikator di laut berbeda dengan indikator di daratan”, ungkap Ardiansyah dari Taman Nasional Togean. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Bersama Melestarikan Si Arwana

Putussibau, 7 Oktober 2016. Danau Merebung yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS), merupakan areal danau yang dilindungi oleh masyarakat melalui kearifan lokal dan hukum adat masyarakat. Di Danau tersebut berlaku hukum-hukum adat yang bertujuan untuk melindungi populasi ikan khususnya ikan Arwana Super Red. Dalam kesempatan peninjauan lokasi, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Bambang Dahono Adji, menyampaikan selain untuk pemulihan populasi arwana, diharapkan kegiatan restocking juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan konservasi. Habitat alami Arwana Super Red adalah di Danau Sentarum, populasi ikan Arwana di habitat alami harus terjaga. Di Kalimantan Barat sangat banyak penangkar ikan Arwana, apabila 10% dari hasil tangkaran mereka bisa kembali di alam, saya yakin ikan Arwana tidak akan punah di Alam. Ikan Arwana yang ada di alam bisa menjadi “fresh blood genetic” untuk ikan Arwana yang ada di penangkaran, hal ini bisa menjadi potensi bagi masyarakat di kawasan untuk menyediakan indukan bagi penangkar. Namun kegiatan ini juga harus dilakukan dengan komitmen untuk tetap menjaga kelestarian Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat (Kalbar), Sadtata Noor Adirahmanta, sebagai pemegang management authority peredaran dan perdagangan ikan arwana di wilayah Kalimantan Barat, dalam kunjungan ini juga menegaskan bahwa BKSDA Kalbar akan mendukung program restocking ini dengan meminta seluruh penangkar untuk berkontribusi dalam upaya pelestarian ikan arwana terutama di kawasan TNDS. Pada kesempatan tersebut, dilakukan juga penandatanganan komitmen oleh Kepala Desa Melemba dan Kepala Adat Desa Melemba yang berisi komitmen untuk menjaga kelestarian ikan Arwana di Danau Merebung Taman Nasional Danau Sentarum dan berperan aktif dalam menjaga, melindungi dan melestarikan kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Kepala Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TNBKDS) Arief Mahmud menyampaikan “Dukungan masyarakat ini merupakan bentuk komitmen masyarakat untuk menjaga calon lokasi release ikan arwana. Masyarakat telah memiliki kearifan lokal dan hukum adat yang telah turun temurun diterapkan dalam melestarikan lingkungan, hal ini yang coba kita akomodir dengan harapan nanti jika dilakukan release secara rutin akan membuat populasi ikan Arwana di habitat aslinya akan melimpah, dan mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat di sekitarnya”. Dijelaskan pula oleh Arief bahwa selain melakukan release di alam, dalam menjaga koservasi ikan arwana di habitat aslinya, maka Balai Besar TNBKDS juga mencanangkan pembangunan sanctuary ikan arwana yang akan dilakukan di dalam kawasan taman nasional untuk menjaga populas ikan ini dari kepunahan di alam. Ikan Arwana Super Red (scleropages formosus) adalah jenis ikan yang dilindungi dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Jumlah individu di alam semakin berkurang karena over fishing dan kerusakan habitat alaminya. Beberapa hal tersebut menjadi dasar kenapa perlunya kegiatan restocking arwana di habitat alamnya. Sesuai peraturan maka para penangkar yang memiliki ijin resmi wajib untuk melepasliarkan kembali sebanyak 10% dari hasil tangkaran mereka. Diharapkan dengan adanya restocking di habitat alami arwana, kelestarian jenis arwana dapat terjaga. Sumber & Penanggung Jawab Berita: Dian Banjar Agung Kepala Subbagian Data Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan BBTNBKDS
Baca Berita

Pengecekan Ketiga Hasil Transplantasi MMP dan Kelompok Tudang Sipulung Jinato

Resort Jinato, 08 Oktober 2017. Bulan ini adalah pengecekan ketiga setelah bulan Juli lalu guna memeriksa tingkat keberhasilan hidup hasil transplantasi Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan kelompok Transplantasi Tudang Sipulung Pulau Jinato. Pengecekan ini sekaligus pembersihan sampah yang menyangkut di batang karang, sebab sampah tersebut dapat mengganggu pertumbuhan karang. Adapun hasil transplantasi tersebut dilihat secara kasat mata tingkat kehidupannya berkisar 70-80% atau sekitar 210-240 rangka yang bertahan hidup dari rangka awal yang berjumlah 300 buah. Dan kehidupan biota lain di sekitar area transplantasi semakin bagus, ikan yang semakin banyak dan pertumbuhan karangnya pun membaik. Menurut kepala SPTN Wil. II Jinato Balai TN Takabonerato Abd. Rajab "Dari rangka yang transplantasinya tidak berhasil hidup akan disulam kembali, tentunya tetap melibatkan kelompok yang sudah dibentuk. Pelibatan masyarakat dan metode kerja bersama merupakan kunci keberhasilan konservasi" tambahnya. Sumber : Asri - PEH Balai TN Takabonerate
Baca Berita

BBKSDA Jabar Bantu Korban Banjir dan Tanah Longsor di Pangandaran

Pangandaran, 7 Oktober 2017. Banjir dan tanah longsor melanda 11 (sebelas) desa di 6 (enam) kecamatan di Kabupaten Pangandaran pada hari Sabtu, tanggal 7 Oktober 2017 sekitar pukul 00.30 WIB. Selain menyebabkan genangan air pada beberapa titik perumahan penduduk, peristiwa tersebut juga mengakibatkan beberapa rumah penduduk dan fasilitas umum seperti jalan rusak dan sebagian penduduk mengungsi. Bahkan, di Desa Kalijati Kecamatan Sidamulih terdapat 4 (empat) orang penduduk yang meninggal dunia akibat longsor. Berdasarkan rilis yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Bogor, peristiwa banjir dan longsor tersebut dipicu oleh hujan deras yang turun sejak Jumat malam (6/10/2017) pukul 20.00 WIB yang menyebabkan sungai dan anak-anak sungai meluap. Data curah hujan tanggal 7 Oktober 2017 pukul 07.00 WIB pada 3 (tiga) pos hujan menunjukkan bahwa telah terjadi hujan lebat (pos cimerak/68.7 mm), hujan sangat lebat (pos Cijulang/115 mm), dan hujan ekstrem (pos Pananjung Pangandaran/208 mm). Beberapa saat setelah kejadian banjir dan longsor yang melanda Desa Kalijati Kecamatan Sidamulih, Tim Resor Pangandaran BBKSDA Jawa Barat bersama-sama dengan BPBD Pangandaran, unsur Muspika, dan SKPD terkait meluncur ke lokasi kejadian untuk memberikan pertolongan kepada warga dan keluarga korban. Berdasarkan laporan Tim Resor Pangandaran, banjir dan longsor di Desa Kalijati Kecamatan Sidamulih tersebut disebabkan oleh Sungai Merjan yang meluap sehingga menggenangi pemukiman warga. Tidak hanya itu, BBKSDA Jabar yang diwakili oleh Seksi Konservasi Wilayah VI Tasikmalaya dan Resor Pangandaran juga memberikan bantuan kemanusiaan kepada para korban bencana alam. Bantuan kemanusiaan berupa 1 kuintal beras, 10 dus air mineral, 10 dus mie instan, dan 5 dus sarden tersebut diserahkan secara langsung kepada koordinator penanganan dan penanggulangan banjir dan tanah longsor Kabupaten Pangandaran di Posko Desa Cikembulan. Sumber : Humas Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Peningkatan Kapasitas Kelompok Pengelola Zona Tradisional

Bantimurung, 7 Oktober 2017. Resort Camba gelar peningkatan kapasitas pengelola zona tradisonal masyarakat Dusun Pattiro di ruang rapat SPTN wilayah II Camba pada 6 – 7 Oktober 2017. Kegiatan peningkatan kapasitas ini berfokus pada pengembangan produk madu karst dan pemberian bantuan pengembangan usaha ekonomi di Dusun Pattiro Desa Labuaja Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros. Pada acara tersebut Direktur Kawasan Konservasi (KK) berkesempatan untuk membuka secara resmi sekaligus didaulat sebagai salah satu narasumber. Narasumber lain yang diundang sangat kompoten di bidangnya. Narasumber tersebut berasal dari Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BMPD) Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Tim Layanan Kehutanan Makassar (TLKM), dan Balai Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung sendiri. Peserta peningkatan kapasitas ini sebanyak 30 orang yang berasal dari Keolompok Tani Bulu Tanete, Pattiro Bulu, Bukit Harapan, dan Tunas Muda yang tergabung dalam Kelompok Hutan Kemitraan Pattiro.Pelatihan ini berlangsung dengan metode ceramah dan praktek lapangan. Pak direktur didampingi Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung juga menyempatkan diri mengunjungi zona tradisional yang berada di Dusun Pattiro Desa Labuaja. Melihat langsung kondisi lapangan dan kehidupan masyarakat desa penyangga TN Bantimurung Bulusaraung ini. Direktur KK menyemangati peserta untuk terus berinovasi dalam menghasilkan produk unggulan kelompok. “Produk-produk yang akan dihasilkan oleh kelompok tani binaan Balai TN Bantimurung Bulusaraung harus memiliki ciri khas dan mampu bersaing baik dari segi kualitas dan kemasan, saya sering mengistilahkan advantage comparative”, ujar Ir. Suyatno Sukandar, M.Sc, Direktur KK di sela-sela materinya. Sumber : Boy Ronnald dan Mansur – Staf TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Pembinaan Daerah Penyangga Yang Berfungsi Sebagai Koridor Satwa Liar

Cibodas, 6 Oktober 2017. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) pada tanggal 26 September 2017 telah melaksanakan Pembinaan Daerah Penyangga yang Berfungsi sebagai Koridor Satwa Liar. Kegiatan ini dimaksudkan untuk sosialisasi dan pembinaan masyarakat desa di daerah penyangga tentang ekosistem yang memiliki nilai konservasi tinggi dengan kemungkinan dimanfaatkan sebagai koridor satwa liar. Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan masyarakat tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya termasuk ekosistem bernilai konservasi tinggi dan meningkatkan kesadaran dan peran aktif masyarakat desa di dalam pengelolaan kawasan dan daerah penyangga. Kegiatan ini dilaksanakan di Kantor Balai Besar TNGGP Cibodas. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Bagian Tata Usaha, dan dihadiri seluruh Pejabat Eselon IV dan III lingkup Balai Besar TNGGP. Peserta yang hadir pada kesempatan tersebut sebanyak 40 orang yang berasal dari LIPI, Bappeda, Perkebunan, Direktorat BPEE, dan Apartur Desa Penyangga. Kepala Sub Direktorat Koridor dan Areal Bernilai Konservasi Tinggi, Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial, Ditjen KSDAE (Ir. Mirawati Soedjono, M.A.) berkenan hadir sebagai narasumber. Kegiatan ini dibagi menjadi 4 sesi yaitu sesi pembukaan, penyampaian materi, diskusi, dan penutupan. Komunikasi dan suasana hangat berlangsung pada sesi diskusi, tanya jawab diantara peserta dan narasumber berlangsung menarik. Berbagai saran dan pendapat, muncul dari para peserta. Beberapa hal yang menjadi catatan penting sebagai hasil dari kegiatan ini: 1. Kegiatan ini merupakan tahap sosialisasi tentang Kawasan Ekosistem Esensial (KEE): bentuk, manfaat dan fungsi, serta mekanisme penetapan termasuk di dalamnya koridor satwa liar. 2. Para pihak (Bappeda, perkebunan, dan desa) pada prinsipnya mendukung program konservasi/ pengelolaan TNGGP berikut dengan potensi didalamnya baik flora maupun fauna serta ekosistem penting. 3. Disepakati bahwa keberadaan KEE dan/ atau koridor satwa liar sangat penting. 4. Implementasi koridor satwa liar perlu melibatkan berbagai pihak dari level pimpinan sampai ke lapisan masyarakat dengan diawali pembahasan/ pendekatan lebih lanjut dengan berbagai pihak. Sumber: I Made Artawan, S.Hut., M.S. – PEH Muda BBTN Gn. Gede Pangrango
Baca Berita

Penyelamatan Sang Pongo di Kota Bahagia, Aceh Selatan

Aceh Selatan, 7 oktober 2017. Pukul 21.00 WIB (7/10/2017) Personil Resort Tapaktuan Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Subussalam Balai KSDA Aceh bersama mitra tim HOCRU- Orangutan Information Center (OIC) telah berhasil menyelamatkan 1 ekor Orangutan (Pongo abelii). Orangutan tersebut berjenis kelamin betina dengan umur sekitar 10 bulan. Bapak M. Yunus warga Desa Jambu Kupuk, Kecamatan Kota Bahagia Kabupaten Aceh Selatan yang telah memelihara Orangutan tersebut. Penyerahan dilakukan langsung istri Bapak M.Yunus secara sukarela, Orangutan tersebut sudah berada dikediaman mereka kurang lebih 2 minggu. Kondisi Orangutan tersebut masih liar sehingga sulit untuk dikendalikan guna pengecekan kesehatannya oleh Dokter Hewan tim, sehingga detail informasi yang diharapkan tidak didapatkan. Demi keselamatan Orangutan tersebut petugas langsung melakukan Evakuasi ke Kota Tapaktuan. Berdasarkan hasil pengecekan oleh Dokter Hewan setelah dilakukan evakuasi diputuskan Orangutan tersebut kondisinya tidak mungkin langsung dilepasliarkan ke habitat alaminya, maka tanggal 08 Oktober 2017 Orangutan tersebut dibawa ke Pusat Rehabilitasi Orangutan Desa Batu Mbelin Kecamatan Sibolangit Kabupaten Lubuk Pakam Provinsi Sumatera Utara. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Lagi, 4 Ekor Owa Jawa Dilepasliarkan BBKSDA Jawa Barat

Bandung, 7 Oktober 2017. Sebanyak 4 (empat) ekor owa jawa (Hylobates moloch) dilepasliarkan di Cagar Alam Gunung Tilu pada tanggal 5 Oktober 2017. Pelepasliaran tersebut dilakukan oleh Resor Konservasi Wilayah Gunung Tilu BBKSDA Jawa Barat bersama-sama dengan The Aspinall Foundation. Keempat owa jawa tersebut dilepasliarkan di 2 lokasi yang berbeda. Dua ekor owa jawa yang bernama Ucup (jantan berumur 8 tahun) dan Desi (betina berumur 5 tahun) dilepasliarkan di Blok Ankap. Ucup telah menjalani masa rehabilitasi selama 2 tahun, sedangkan Desi telah menjalani masa rehabilitasi selama 6 bulan. Kedua owa jawa yang berbeda jenis kelamin tersebut telah berpasangan selama berada di kandang rehabilitasi, maupun di kandang habituasi. Dua ekor owa jawa lainnya dilepasliarkan di Blok Cikahuripan, masing-masing bernama Iwa (jantan berumur 3 tahun) dan Amoy (betina berumur 2,5 tahun). Kedua ekor owa jawa tersebut telah menjalani proses rehabilitasi selama 1 tahun dan telah berada di kandang habituasi selama 2 bulan. Keempat ekor jawa tersebut dilepasliarkan setelah evaluasi dan monitoring yang dilakukan The Aspinall Foundation, baik di kandang rehabilitasi maupun di kandang habituasi menunjukkan bahwa keempat ekor owa jawa tersebut sudah layak dilepasliarkan. Kawasan CA Gunung Tilu sendiri dipilih sebagai tempat pelepasliaran owa jawa dengan pertimbangan bahwa kawasan tersebut merupakan habitat yang baik untuk owa jawa karena masih memiliki ketersediaan pakan yang cukup banyak. Dengan kegiatan pelepasliaran ini, diharapkan dapat menstimulus peningkatan populasi owa jawa di CA Gunung Tilu. Seperti diketahui owa jawa merupakan salah satu primata yang dilindungi undang-undang. Keberadaannya saat ini di alam semakin langka sehingga tidak mengherankan jika The IUCN Red List of Threatened Species mengelompokkan owa jawa ke dalam endangered species atau satwa langka. Oleh karena itu, program rehabilitasi maupun pelepasliaran owa jawa perlu terus didukung guna menjaga kelestarian satwa langka yang terkenal setia pada pasangannya ini di habitat aslinya. Sumber : Humas Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Menyelamatkan Habitat Kuntul Kerbau Di Kampung Rancabayawak, Bandung

Bandung, 6 Oktober 2017. Balai Besar KSDA Jawa Barat pada hari Selasa, 3 Oktober 2017 menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Hasil Pengamatan Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis) di Kampung Rancabayawak Kota Bandung. Acara yang dilaksanakan di Kantor Balai Besar KSDA Jawa Barat tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan di antaranya akademisi dari ITB dan UNPAD, LSM, tokoh masyarakat, perwakilan SKPD Provinsi maupun Kota, perwakilan dari Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, perwakilan dari Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial, dan tentunya Balai Besar KSDA Jawa Barat selaku tuan rumah. Sebelumnya, Balai Besar KSDA Jawa Barat telah menurunkan Tim untuk melakukan kajian tentang keberadaan kuntul kerbau di Kampung Rancabayawak. Hasil tersebut perlu disosialisasikan kepada para pihak yang mempunyai kepentingan dan kewenangan dalam upaya penyelamatan habitat kuntul kerbau. Di samping itu, pertemuan ini juga menjadi ajang diskusi guna mencari solusi untuk menyelamatkan keberadaan kuntul kerbau di Kampung Rancabayawak. Pertemuan yang dipandu secara langsung oleh Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Ir. Sustyo Iriyono, M, Si., tersebut berjalan dengan sangat hidup. Masing-masing peserta memberikan pandangan dan masukkan yang konstruktif bagi upaya penyelamatan kuntul kerbau di Kampung Rancabayawak. Salah satu poin penting pada pertemuan tersebut adalah bahwa para peserta memandang perlu agar Kampung Rancabayawak sebagai habitat kuntul kerbau didorong menjadi kawasan ekosistem essensial. Kawasan ekosistem essensial tersebut nantinya dapat dikelola secara kolaboratif dalam bentuk forum pengelola yang beranggotakan multistakeholder yang dapat terdiri dari anggota masyarakat setempat, para pemerhati, pihak swasta dan akademisi. Kampung Rancabayawak sendiri merupakan sebuah tempat yang sebenarnya tidak lazim disebut sebagai ‘kampung’ karena letaknya yang berada di perkotaan, tepatnya di bagian timur Kota Bandung. Apalagi, kampung tersebut sebentar lagi akan berdampingan dengan sebuah perumahan super megah dan mewah yang merupakan bagian dari mega proyek bertajuk Bandung Technopolis. Tidak seperti namanya, di kampung ini tidak banyak ditemukan biawak (Rancabayawak berarti Rawa biawak) karena yang banyak ditemukan di sana justru berbagai jenis burung air, termasuk di dalamnya kuntul kerbau. Jenis burung air dengan nama ilmiah Bubulcus ibis tersebut hidup di kampung tersebut karena kondisi kampung tersebut yang cocok sebagai habitat burung yang dilindungi undang-undang tersebut. Selain terdapat sebuah sungai (Sungai Cinambo), genangan-genangan air bekas pesawahan, dan beberapa kolam/empang, di kampung tersebut juga terdapat sekitar 8 (delapan) rumpun bambu yang dijadikan oleh kuntul kerbau dan burung air lainnya untuk bersarang dan berkembang biak. Kekhawatiran bahwa habitat burung kuntul kerbau di Kampung Rancabayawak akan terganggu menyeruak seiring dengan berjalannya pembangunan area perumahan. Kekhawatiran tersebut cukup beralasan mengingat akan ada pembatas antara perumahan dengan Kampung Rancabayawak yang terbuat dari pagar beton. Jika pemagaran tersebut dilakukan terlalu dekat dengan rumpun bambu, dikhawatirkan habitat bersarang burung terganggu dan area pendaratan burung semakin menyempit sehingga burung tidak lagi nyaman di rumpun bambu. Jika habitat terganggu dan menjadi pemicu perginya burung kuntul kerbau ke tempat lain, tentunya akan menjadi sebuah kerugian bagi warga Kampung Rancabayawak. Hal tersebut dikarenakan warga Kampung Rancabayawak sudah merasa menyatu dengan burung air yang berada di kampungnya. Bahkan, salah seorang warga menciptakan sebuah tarian berjudul “Blekok” yang terinspirasi keberadaan burung air bernama blekok di Kampung Rancabayawak. Lebih jauh, atraksi burung-burung air tersebut ketika datang dan pergi menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat dari luar kampung dan menjadi daya tarik wisata tersendiri yang menghasilkan income bagi warga setempat. Sebelum apa yang dikhawatirkan tersebut terjadi, para pihak yang memiliki kepentingan maupun kewenangan dalam upaya menyelamatkan habitat kuntul kerbau perlu dipertemukan. Oleh karena itu, Balai Besar KSDA Jawa Barat yang sebelumnya telah menurunkan Tim untuk melakukan kajian tentang keberadaan kuntul kerbau di Kampung Rancabayawak tampil inisiator sekaligus fasilitator dalam pertemuan tersebut. Semoga apa yang telah dihasilkan pada acara tersebut dapat ditindaklanjuti oleh para pihak yang berkepentingan sehingga harapan bahwa habitat burung kuntul kerbau dan jenis burung lainnya di Kampung Rancabayawak dapat senantiasa dipertahankan menjadi sebuah kenyataan. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Kesadaran Masyarakat Meningkat, Balai KSDA Sumsel Terima 3 Anakan Kucing Hutan

BKSDA Sumatera Selatan menerima penyerahan Kucing Hutan (Felis bengalensis) dari masyarakat Lubuk Linggau, 6 Oktober 2017. Upaya penyadaran kepada masyarakat akan kepemilikan satwa liar dilindungi rutin dilakukan oleh Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan. Diharapkan melalui upaya tersebut selain dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan larangan kepemilikan satwa liar dilindungi juga menumbuhkan peran aktif masyarakat untuk bersama-sama dengan BKSDA Sumatera Selatan menertibkan kepemilikan satwa liar dilindungi. Kepala BKSDA Sumatera Selatan Genman S. Hasibuan menekankan kepada jajarannya untuk mengedepankan penyadartahuan masyarakat dalam upaya menertiban kepemilikan satwa liar dilindungi. Penyerahan Kucing Hutan (Felis bengalensis) oleh masyarakat di Kota Lubuk Linggau pada tanggal 5 Oktober 2017 merupakan salah satu parameter keberhasilan BKSDA Sumatera Selatan menanamkan kesadaran masyarakat akan larangan kepemilikan satwa liar dilindungi. Hal tersebut dikarenakan SKW II Lahat BKSDA Sumatera Selatan rutin melakukan aktivitas Kampanye Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar di Kota Lubuk Linggau. Sebanyak 3 ekor anakan Kucing Hutan (Felis bengalensis) atau biasa dikenal masyarakat dengan nama Macan Akar diserahkan oleh Bapak Eman Suherman (Kabid Sarana Prasarana Dinas Perkebunan Kabupaten Musi Rawas) di rumah kediamannya yaitu di Jl. Amularahayu RT 07 Kelurahan Marga Mulya Kec. Lubuk Linggau Selatan II Kota Lubuk Linggau. Kronologis kepemilikan satwa liar dilindungi tersebut yaitu pada tanggal 4 Oktober 2017 Kucing Hutan (Felis bengalensis) ditemukan oleh operator eskavator yang sedang membuka lahan untuk calon perkebunan tebu di Kec. Muara Beliti Kab. Musi Rawas yang kemudian melaporkan temuannya tersebut kepada Bapak Eman Suherman. Kemudian Bapak Eman Suherman berkoordinasi dengan Bapak Edi Cahyono (Kepala KPH Lakitan) untuk mengkomunikasikan kondisi tersebut kepada BKSDA Sumatera Selatan. Setelah memperoleh informasi tersebut BKSDA Sumatera Selatan melalui SKW II Lahat melakukan pengecekan lokasi. Bapak Eman Suherman beritikad baik untuk menyerahkan ketiga anakan Kucing Hutan (Felis bengalensis) tersebut kepada pihak BKSDA Sumatera Selatan. Selanjutnya SKW II Lahat berkoordinasi dengan Pungky Nanda Pratama (PPS Selangit) untuk menitipkan ketiga anakan Kucing Hutan (Felis bengalensis) tersebut agar mendapat perawatan kesehatan dan proses habituasi sebelum dilepasliarkan ke habitat alaminya. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Tiga Orangutan Diselamatkan BKSDA Kalteng

Palangkaraya, 6 Oktober 2017. Tim Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Balai KSDA Kalimantan Tengah (Kalteng) evakuasi lagi tiga individu Orangutan (Pongo pygmaeus sp.) hari Kamis pukul 07.00 WIB (05/10/2017) pada kebun karet milik masyarakat di Desa Asam Baru, Kecamatan Danau Seluluk, Kabupaten Seruyan. Kebun seluas kurang lebih 2 Ha ini, merupakan lahan terlantar yang diapit oleh lahan pertanian, dan dikelilingi parit. Adapun informasi keberadaan satwa Orangutan, diperoleh Tim Penyelamatan (Rescue) dari masyarakat, pada hari Rabu pukul 16.00 WIB (04/10/2017). Kemudian keesokan harinya (05/10/2017), Tim Rescue Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Kalteng, didukung Orangutan Foundation Indonesia (OFI), segera berangkat menuju lokasi dan melakukan upaya evakuasi. Tiga individu Orangutan tersebut terdiri dari 1 (satu) jantan berusia 12 tahun (BB 33 Kg), 1 (satu) betina berusia di bawah 20 tahun (BB 40 Kg), dan 1 (satu) bayi betina berusia 3 tahun. Berdasarkan hasil pemeriksaan Tim, kondisi ketiga orangutan tersebut dinyatakan sehat, dan sementara ini dititipkan di Orangutan Care Center and Quarantine (OCCQ) milik Orangutan Foundation International (OFI), untuk selanjutnya akan ditranslokasi ke Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Energi dan Inovasi Baru Balai TN Bunaken

Manado, 06 Oktober 2017. Acara Pisah Sambut Kepala Balai Taman Nasional Bunaken dari Ir. Ari Subiantoro, MP kepada Dr. Farianna Prabandari, S. Hut., M.Si. dirangkaikan dengan Serah terima Jabatan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Taman Nasional Bunaken dari Chandra Putra, SP Kepada Arma Janti Massang, S.Hut., M.Si yang dilaksanakan di Gedung Bukit AGP. Acara tersebut dihadiri tamu undangan diantaranya instansi UPT lingkup KLHK Provinsi Sulawesi Utara, instansi dari Pemerintah Daerah, akamedisi seperti Unsrat & Unima, Penegak Hukum dari Kepolisian dan TNI, lembaga Mitra seperti dari dive center, dan kelompok nelayan/masyarakat. Di mulai dengan pembacaan sambutan Gubernur Provinsi Sulawesi Utara yang dibacakan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Sulawesi Utara. Tidak lupa dalam sambutan tersebut Gubernur mengucapkan terima kasih atas segala jasa-jasa yang telah diberikan oleh Bapak Ari Subiantoro diantanaranya adalah pada Januari 2017, Dive Magazine, majalah digital scuba terbesar di dunia, menyematkan gelar The Most Popular Dive Destination 2017 kepada Indonesia yang tentunya salah satunya adalah Taman Nasional Bunaken. Ucapan sambutan dan perpisahan dari Bapak Ari Subiantoro, memberikan nuansa haru dalam acara tersebut. Dengan tersedu-sedu Bapak Ari mengucapkan terima kasih atas segala kebersamaan yang terjalin baik dengan staf Balai Taman Nasional Bunaken ataupun dengan instansi lain. Tidak lupa permintaan maaf & pesan turut disampaikan agar pengelolaan Taman Nasional Bunaken menjadi lebih baik lagi di bawah kepemimpinan Ibu Farianna Prabandari. Tongkat estafet kepemimpinan Kepala Balai Taman Nasional Bunaken yang diberikan kepada Ibu Farianna Prabandari diharapkan membawa energi baru dan berbagai inovasi yang dapat meningkatkan kinerja dalam mengelola kekayaan alam kawasan Taman Nasional Bunaken, sehingga dapat terus berkarya dalam upaya-upaya perlindungan, pengamanan, dan pelestarian kawasan Taman Nasional Bunaken. Sumber : Yuyun Saepul Uyun - PEH Balai TN Bunaken
Baca Berita

Pertemuan Kelompok Tani Hutan (KTH) Gerbi Lestari

Cibodas, 6 Oktober 2017. Jumat minggu pertama setiap bulannya dilakukan pertemuan rutin antara Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Gerbi Lestari. Pertemuan rutin ini dimaksudkan sebagai wadah untuk sarana belajar, berbagi pengalaman, serta ajang pertukaran informasi, antar sesama anggota kelompok, juga dengan masyarakat sekitar dan para Penyuluh Kehutanan TNGGP maupun fungsional lainnya. Kelompok Tani Hutan (KTH) Gerbi Lestari merupakan KTH Binaan Balai Besar TNGGP beranggotakan masyarakat Geger Bentang Resort Cibodas, Seksi PTN Wilayah I Cibodas, Bidang PTN Wilayah I Cianjur. Secara administrasi berada di Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Anggota KTH ini merupakan eks penggarap di kawasan TNGGP. Pertemuan pada hari Jum’at minggu pertama Bulan Oktober 2017, dimulai dengan “ice breaking” yang disajikan melalui video untuk memotivasi kelompok agar selalu solid dan berkomitmen. Informasi utama, disampaikan melalui pemutaran film dokumenter "Pesona di Jantung Jawa Barat" bercerita tentang potensi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Dengan penyajian informasi yang dikemas sedemikian rupa sehingga mempunyai daya tarik yang cukup baik. Tidak heran apabila pada pertemuan kali ini tidak hanya pengurus dan anggota KTH Gerbi Lestari saja yang hadir, tapi banyak juga warga setempat, terutama ibu-ibu dan anak-anak turut serta menyaksikan film dokumenter TNGGP. Selama pemutaran film, terlihat wajah-wajah yang antusias, tidak sedikit muncul decak kagum dengan kekayaan, keindahan, keunikan, dan manfaat serta kegunaan dari sumber daya alam yang selama ini belum mereka sadari. Pesan utama yang ingin disampaikan dari pertemuan ini, adalah mengajak masyarakat untuk selalu menjaga keutuhan dan kelestarian kawasan TNGGP, yang ternyata begitu kaya dan banyak manfaat. Manfaat TNGGP ini, selain dirasakan masyarakat sekitar juga masyarakat umum secara luas bahkan masyarakat dunia. Sumber: Wita Puspita Ningrum, S.ST. - Penyuluh Kehutanan Balai Besar TN Gn Gede Pangrango
Baca Berita

Direktur KKH Tukar Pikiran Terkait TSL Dengan Pegawai BKSDA Kalbar

Pontianak, 6 Oktober 2017. Pada hari kamis 5/10/2017 telah dilakukan pembinaan pegawai oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Bapak Ir. Bambang Dahono Adji, MM, M.Si. Pembinaan pegawai dihadiri Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat yang baru yakni Bapak Ir. Sadtata Noor Adirahmanta M.T, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II dan III lingkup BKSDA Kalbar serta seluruh pegawai BKSDA Kalbar. Dalam arahannya, Bapak Direktur KKH menyampaikan beberapa hal yang mendasar, kaitannya dengan IKK Direktorat KKH yang dilaksanakan oleh Balai KSDA Kalimantan Barat utamanya terkait tumbuhan dan satwa liar. Beliau menyampaikan hal-hal yang menjadi prioritas KKH di antaranya produk rekayasa genetik, biodiversitas flora dan fauna serta pengalaman terkait breeding loan. Baru-baru ini Kementerian LHK telah berhasil mendatangkan panda dari tiongkok, dengan berbagai pertimbangan diplomasi hal tersebut dapat dilakukan sesuai dengan prosedur dalam Permenhut nomor P.83/Menhut-II/2014 tentang peminjaman jenis satwa liar dilindungi ke luar negeri untuk kepentingan pengembangbiakan (Breeding Loan), hal ini bisa menjadikan peluang bahwa kemungkinan untuk mengembalikan satwa-satwa liar yang berasal dari indonesia kembali ke negara kita sehingga jangan sampai ke depannya satwa-satwa yang sudah berada di luar negeri justru akan dimiliki oleh bangsa lain baik memiliki secara fisik maupun pengembangan keilmuan dan penelitian penelitian. Dalam pembinaan juga dilakukan diskusi dengan peserta pembinaan, di antaranya ada beberapa permasalahan di lapangan yang kemudian diberikan solusi penyelesaian antara lain permasalahan usaha penangkaran ikan arwana yang ada di Kalbar, terkait mekanisme perijinan ekspor yang akan dilakukan dengan sistem online di mana sangat memungkinkan Provinsi Kalimantan Barat mendapatkan ijin untuk dapat mengurus ijin eksport sendiri tidak melalui mekanisme seperti sekarang yang harus melalui Pusat. Apabila hal tersebut dapat dilakukan maka akan mempermudah pengusaha penangkaran untuk proses eksport ikan hasil tangkarannya dan dapat mendorong kembali bangkitnya usaha penangkaran yg saat ini sedang mengalami penurunan. Selain mengenai penangkaran ada juga masukan terkait usaha perijinan flora, Bapak Direktur KKH juga akan mendorong adanya perijinan penangkaran flora dan dalam waktu dekat Balai KSDA Kalbar akan mendorong upaya tersebut. Selain melakukan pembinaan intern, juga dilakukan pertemuan dengan para pemegang ijin penangkaran arwana. Dalam pembinaan tersebut disampaikan beberapa masukan terkait perkembangan usaha penangkaran arwana sekaligus mendengarkan apabila terjadi permasalahan dan hambatan yang ada pada pihak penangkar di lapangan. Selanjutnya dalam kunjungan Direktur KKH menyempatkan diri untuk berkunjung ke lapangan dengan di dampingi Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat. (YS) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Izakod Bekai Izakod Kai, Merauke Melanjutkan Perjuangan Konservasi

Merauke, 6 Oktober 2017. Bidang KSDA Wilayah I Merauke BBKSDA Papua memulai awal bulan dengan semangat konservasi setelah Kepala Bidang KSDA Wilayah I Merauke yang baru Irwan Efendi, S.Pi.,M.Sc telah datang menggantikan pejabat sebelumnya Yarman Kadir, S.Hut.,M.P yang melaksanakan tugas baru sebagai Kabid Wil. II di BBKSDA Jatim. Pergantian pejabat ini telah dilantik berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK. 495/MENLHK-Setjen/peg.2/9/2017 dan SK. 496/MENLHK-Setjen/peg.2/9/2017 tanggal 13 September 2017. Pelantikan dilaksanakan di Auditorium Dr. Soedjarwo Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Jumat, 15 September 2017, oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, Dalam pertemuan awalnya di Kantor Bidang KSDA Wilayah I Merauke, Irwan Efendi, S.Pi.,M.Si bersilahturahmi dengan seluruh pegawai dan melakukan pembinaan. Diharapkan oleh seluruh staf, bahwa Kepala Bidang yang baru dapat melanjutkan perjuangan Izakod Bekai Izakod Kai, itulah moto dari Merauke Papua yang berarti “Satu Hati Satu Tujuan” sekaligus membawa perubahan besar dalam kelestarian kawasan konservasi khususnya yang ada di wilayah kerja Bidang KSDA Wilayah I Merauke. Sumber : Diah Warastuti PEH Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Personil Resort Tondong Tallasa Lakukan Monitoring Elang

Bantimurung, 5 Oktober 2017. Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung memiliki 17 jenis elang. Data tersebut dihimpun sampai dengan akhir tahun 2016. Dari jumlah elang tersebut terdapat 4 jenis endemik Sulawesi, jenis dimaksud adalah elang alap ekor totol (Accipiter trinotatus), elang alap kecil (Accipiter nanus), elang Sulawesi (Nisaetus lanceolatus), dan elang ular Sulawesi (Spilornis rufipectus). Semua jenis elang merupakan satwa yang dilindungi. Seminggu lalu personil Resort Tondong Tallasa, SPTN Wilayah I Balocci gelar kegiatan monitoring elang di Desa Bantimurung, Kecamatan Tondong Tallasa, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Kegiatan tersebut berlangsung selama 5 hari dari tanggal 25 September sampai dengan 29 September 2017. Kegiatan monitoring elang ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan populasi elang di permanent monitoring plot yang sudah ditetapkan sebelumnya pada kegiatan yang sama pada Mei 2013. Pengumpulan data dan informasinya menggunakan metode point counts dan line transect. Ramli selaku salah satu anggota tim melaporkan hasil monitoring elang tersebut. Hasilnya sangat menggembirakan karena hasil monitoring di lokasi yang sama empat tahun lalu hanya teridentifikasi 4 ekor elang yang terdiri dari 3 jenis. Tahun 2017 ini lebih banyak dijumpai. “Tim monitoring berhasil mengidentifikasi elang sebanyak 16 ekor yang terdiri dari 6 jenis. Keenam jenis tersebut adalah elang paria (Milvus migrans), Elang Ular Sulawesi (Spilornis rufipectus), Alap-alap sapi (Falco moluccensis), Elang ikan kepala kelabu (Ichtyophaga ichtyaetus), Sikep-madu Sulawesi (Pernis celebensis), dan Baza Jardon (Aviceda jerdoni) ujarnya. Dari hasil monitoring elang tersebut juga terdapat jenis yang baru teridentifikasi. “Kami mengidentifikasi elang ikan kepala kelabu di Resort Tondong Tallasa yang belum ada dalam daftar elang di TN Bantimurung Bulusaraung.” tambahnya. Dengan begitu menambah daftar jenis elang di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung menjadi 18 jenis di Tahun 2017 ini. “Elang merupakan predator tertinggi. Dengan banyaknya elang yang teridentifikasi mencirikan bahwa ekosistem hutan karst di wilayah tersebut masih baik” ujar Iqbal Abadi Rasjid, Kepala SPTN Wilayah I Balocci saat kami konfirmasi. Kamajaya Shagir, PEH Balai TN Bantimurung Bulusaraung menambahkan bahwa tercatat satu jenis vagran di kawasan konservasi ini. Vagran berarti spesies yang bermigrasi di luar jadwal migrasi atau di luar jangkauan jalur migrasi. Perilaku ini sering disebut sebagai jenis migran tersasar. Adalah jenis sikep mata putih (Butastur teesa), catatan pertama untuk kawasan di Indonesia, di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung. Catatan ini dipublikasikan oleh Kamajaya Shagir dan Muhammad Iqbal di BirdingAsia (23): 124–125: White-eyed Buzzard Butastur teesa, a new species for Greater Sundas and Wallacea. Ayo kenali dan cintai Negerimu dengan cara baik dan benar. Sumber : Taufiq Ismail & Kamajaya Shagir (foto) - PEH Balai TN Bantimurung Bulusaraung

Menampilkan 9.761–9.776 dari 11.140 publikasi