Rabu, 27 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pembentukan dan Pelatihan Kader Konservasi Tingkat Pemula

Banda Aceh, 17 Oktober 2017. Balai KSDA Aceh laksanakan Pembentukan dan Pelatihan Kader Konservasi Tingkat Pemula di Hotel The Point Sabang pada tanggal 13 s/d 15 Oktober 2017. Adapun peserta pembentukan dan pelatihan kader konservasi ini di ikuti oleh 30 orang terdiri dari Masyarakat sekitar kawasan SM. Rawa Singkil 7 orang; Masyarakat sekitar kawasan Taman Buru Linge Isaq 8 orang dan Masyarakat sekitar kawasan TWA Pulau Weh Sabang sebanyak 15 orang. "Kader konservasi yang ada di daerah masing-masing dapat berperan sebagai pelopor dan penggerak upaya-upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dan menumbuh kembangkan gerakan upaya konservasi sumber daya alam ditengah masyarakat" kata Kepala Balai KSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo saat memberikan arahan pada kegiatan tersebut. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Rapat Singkronisasi Kegiatan Kemah Konservasi, Kelas Inspirasi, Festival Bajo dan Festival Pesona Taka Bonerate

Benteng - Kepulauan Selayar, 17 Oktober 2017. Bulan ini adalah bulan tersibuk bagi staf dan masyarakat TN. Taka Bonerate karena bulan ini ada beberapa rangkaian kegiatan yang melibatkan masyarakat dalam kawasan yaitu Kemah Konservasi yang di adakan di Desa Khusus Pasitallu (24-27 Oktober 2017), Kelas Inspirasi (24 Oktober 2017) di Desa Tambuna Pasitallu Tengah, Festival Budaya Bajo di Desa Khusus Pasitallu (24-26 Oktober 2017) dan Festival Pesona Taka Bonerate di Pulau Tinabo dan Rajuni (26-28 Oktober 2017). Karena padatnya kegiatan tersebut untuk kedua kalinya yaitu hari ini dilaksanakan rapat pemantapan sekaligus pengecekan akhir kegiatan. Rapat ini dihadiri oleh para koordinator kegiatan yang dipimpin Kepala Balai (Ir. Jusman). Dalam rapat, koordinator menyampaikan perkembangan akhir dan kendala persiapan serta mencari jalan keluar untuk melancarkan kegiatan yang waktunya hanya bersisa sepekan lagi. Kepala Balai juga menyampaikan bahwa tim pertama yaitu group dari Kelas Inspirasi dan group Festival Bajo yang akan berangkat lebih awal yaitu pada tanggal 23 Oktober 2017. Beliau juga menambahkan bahwa tamu-tamu yang diundang harus terlayani dengan baik dan yang terpenting adalah kegiatan ini mempunyai manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Kegiatan - kegiatan ini sarat akan manfaat mulai dari membangun jiwa raga generasi muda yang peduli lingkungan, menumbuhkan semangat untuk tetap bercita - cita yang tinggi, mengangkat kembali kearifan suku Bajo serta memperkenalkan keindahan yang dimiliki oleh Taman Nasional Taka Bonerate yang mempunyai julukan atol ketiga terluas di dunia dan anggota jaringan Cagar Biosfer Dunia sejak 9 Juni 2015. Penulis/Pengirim : Asri/ PEH Balai TN. Taka Bonerate
Baca Berita

BKSDA Bali Selenggarakan Kegiatan Pembinaan Lembaga Konservasi

Bali - Selasa 17 Oktober 2017, bertempat di Hotel Sanur Paradise, Sanur Bali, Balai KSDA Bali menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Lembaga Konservasi, Penangkar dan Pengedar Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Lingkup Wilayah Kerja Balai KSDA Bali Tahun 2017. Materi diberikan oleh Direktur KKH yang diwakili oleh Kasubdit Pemanfaatan Jenis ( Bp. Nunu Anugrah), Materi dari Kepala Balai KSDA Bali dan materi dari Balai Karantina Pertanian Denpasar. Kegiatan yang dihadiri oleh 75 mitra ini merupakan kegiatan rutin tahunan BKSDA Bali agar para mitra lebih meningkatkan tertib administrasi, tertib pengelolaan maupun senantiasa menaati tata usaha dan tata kelola TSL sesuai peraturan yang ada. Kegiatan ini juga dijadikan forum dialogis antara KSDA Bali dg para mitra. Diharapkan dg kegiatan ini, kinerja para mitra dan juga KSDA Bali bisa secara bersama-sama meningkat, dalam hubungan yang harmonis antara KSDA dan para mitra. Sumber: BKSDA Bali
Baca Berita

Sekali lagi, Penyerahan Satwa Oleh Masyarakat Kepada BKSDA Kalbar

Sintang, 17 Oktober 2017. Tim Gugus Tugas Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Sintang Balai KSDA Kalimantan Barat kembali melakukan rescue/penyelamatan satwa liar yang dilindungi Undang-Undang dari jenis Klempiau (Hylobates sp). Diawali dari anjangsana kepada pemelihara satwa klempiau Bp Darsono Jumat, 13 Oktober 2017 di Jalan Lintas Pontianak Pal 4 Gang Alas Nomor 1. Beliau menuturkan bahwa satwa tersebut milik anaknya yang bernama Agus dan merupakan pemberian dari teman. Kepada petugas, ayah pemilik satwa tersebut meminta waktu untuk memberikan pengertian kepada anaknya mengenai status hukum satwa dan harus dikembalikan ke alam. Senin (16/10/2017), akhirnya tim berhasil memindahkan klempiau tersebut dari kandang asal ke kandang transit milik SKW II Sintang. Proses pemindahan satwa yang tergolong aktif ini bukanlah perkara mudah, tim yang dibantu oleh dokter hewan harus membius terlebih dahulu untuk menenangkan satwa. Dalam melaksanakan tugasnya, Tim Gugus Tugas TSL Seksi Konservasi Wilayah 2 Sintang beranggotakan 5 orang yang terdiri dari 1 orang Polisi Kehutanan, 1 orang fungsional PEH, 2 orang petugas KPHK serta 1 orang dokter hewan pendamping yang berasal dari SOC/Yayasan Kobus. Untuk selanjutnya, satwa tersebut akan direhabilitasi terlebih dahulu dengan menitip rawatkan ke pusat rehabilitasi satwa, sebelum dilepasliarkan ke habitat aslinya. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Penguatan Kelembagaan Pemanfaatan Air Non Komersial TN Gn Gede Pangrango

Cibodas, 13 Oktober 2017. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan mitra pengguna air, mendapat pencerahan tentang pemanfaatan air non komersial. Pencerahan tersebut didapat dari Pembinaan “Penguatan Kelembagaaan Pemanfaat Air Non Komersial” yang disampaikan oleh Kepala Seksi Pemanfaatan Jasa Lingkungan KSA dan TB Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (Dit. PJLHK). Beliau mengatakan "Menurut Peraturan Menteri Kehutanan No. P.64/Menhut-II/2013 tentang Pemanfaatan Air dan Energi Air di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam, pemanfaat air dari kawasan konservasi harus melalui mekanisme izin". "Bentuk keberpihakan peraturan pemanfaatan air kepada masyarakat dengan tidak dipungutnya biaya untuk izin non komersil, karena untuk keperluan rumah tangga atau kepentingan sosial. Namun demikian, untuk mengatur pemanfaatan air agar tertib, berkeadilan, dan berkesinambungan (lestari), maka diatur melalui mekanisme perizinan. Perizinan pemanfaatan air untuk non komersial dibuat sesederhana mungkin dengan cukup mengajukan surat permohonan kepada Kepala Balai Besar TNGGP, dengan melampirkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) ketua kelompok dan rencana kegiatan pemanfaatan air" jelas Kepala Seksi Pemanfaatan Jasa Lingkungan KSA dan TB. Pembinaan ini diikuti semua personil TNGGP, kepala desa, dan kelompok masyarakat pengguna air, dengan jumlah 20 orang, yang dilaksanakan di ruang film Wisma Cinta Alam Suryakancana Cibodas. Acara pembinaan dibuat non formal agar waktu untuk berdiskusi dapat lebih banyak dan permasalahan terkait pemanfaat air tergali lebih dalam, sehingga setelah paparan oleh Kepala Seksi Pemanfaatan Jasa Lingkungan KSA dan TB, langsung dilanjutkan dengan diskusi dengan para peserta. Dari hasil diskusi dengan peserta, didapat tiga rumusan masalah secara umum seperti (1) Kurang tertibnya pemegang izin untuk membuat rencana kerja tahunan dan laporan pelaksanaan; (2) Penguatan peran desa dan “peraturan desa” untuk penguatan kelembagaan pemanfaatan air non komersial sebagai pengelola langsung izin pemanfaatan air; dan (3) Penguatan Forum Peduli Air (Forpela) Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sesuai dengan P.64/Menhut-II/2013. Sumber : Andie Martien Kurnnia, S.P. – Pengendali Ekosistem Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Pembalakan Liar Dan Upaya Penanganan Yang Dilakukan Di SPTNW II Ambulu-TN Meru Betiri

Jember (17/10/2017). Tim patroli darat SPTNW II Ambulu yang dipimpin langsung oleh Kepala SPTNW II Ambulu Agus Setyabudi,S.Hut.,M.Sc. beberapa hari yang lalu, pada hari Selasa dan Rabu tanggal 10-11 Oktober 2017 melakukan patroli darat di blok Nanggelan dan Donglo masuk dalam wilayah kerja Resort Wonoasri, SPTNW II Ambulu. Penemuan tunggak-tunggak pohon menjadi pemandangan yang memprihatinkan. Selama patroli tidak menjumpai seorangpun pelaku, karena mereka memang sudah tidak berada di TKP (diduga patroli sudah terdeteksi pelaku). Ditemukan sebanyak 30 tunggak pohon jenis rimba dengan diameter 40 -126 cm. Jika dilihat dari bekas-bekas di sekitar TKP, modus operandi yang digunakan para pelaku dengan jalan memotong pohon-pohon dengan menggunakan chain saw dan selanjutnya mengangkutnya dengan kendaraan motor roda 2. Mereka melakukan aksi pada malam atau dini hari. Jaringan pelaku diduga adalah jaringan cukong kayu besar Desa Andongrejo dan Curah Nongko. Upaya yang telah dilakukan petugas selama ini antara lain : anjangsana kepada tokoh masyarakat, penyuluhan, patroli sampai dengan operasi tangkap tangan. Upaya yang dilakukan mulai bulan Januari s/d Oktober telah berhasil melakukan tangkap tangan terhadap pelaku illegal loging khususnya di SPTNW II Ambulu sebanyak 3 kasus (2 kasus sudah vonis Pengadilan Negeri Jember dan 1 kasus telah P 21). Disamping itu sebanyak 4 unit gergaji mesin telah diamankan, 1 truk disita (saat ini telah diserahkan kepada pemilik berdasarkan putusan PN Jember) serta beberapa meter kubik kayu rampasan dan sitaan yang diamankan. Namun dari operasi tangkap tangan yang dilakukan dan pengembangan penyidikan belum bisa menyentuh kepada cukong sebagai otak perusakan hutan. Segala upaya telah dilakukan dan tentunya dengan keterbatasan SDM yang ada belum mampu menjangkau cukong karena mereka sangat licin bagai belut. Namun upaya tidak akan pernah berhenti sampai “hutan lestari”. Sumber: BTN Meru Betiri
Baca Berita

Coffee Morning Sebagai Sinergi Berbagi Informasi

Ambon, 17 Oktober 2017. Coffee Morning Sinergitas Instansi Terkait dalam Mendukung Perkarantinaan, begitu yang tertera di undangan. Undangan itulah yang mengantar Mukhtar Amin Akhmadi,Kepala BKSDA Maluku ke Bandara Pattimura pada Senin (16/10) pagi. Coffee Morning tersebut diselenggarakan Kantor Stasiun Karantina Kelas I Ambon. Amin, begitu ia kerap disapa, membawa satu misi penting dalam Coffee Morning yang berlokasi di Ruang Rapat Lantai II Kantor Angkasa Pura Cabang Bandara Pattimura, Ambon. Misi penting itu tak lain adalah memperkenalkan dirinya yang baru dua minggu menjabat sebagai nahkoda baru BKSDA Maluku, sekaligus menginformasikan tugas pokok dan fungsi yang diembannya. Coffee Morning tersebut dinilai sangat bermanfaat oleh Kepala BKSDA Maluku. Menurutnya, acara tersebut memiliki arti semacam koordinasi dengan banyak pihak dalam satu waktu. Hal tersebut memang lumrah, karena undangan tersebut juga dihadiri oleh berbagai pihak seperti Balai Penelitian dan pembenihan Tanaman Pertanian, Karantina Perikanan, Karantina Kesehatan, Angkasa Pura, Ombudsman, Lanud Pattimura, Dinas Pertanian Propinsi Maluku, Dinas Pertanian Kota Ambon, maskapai penerbangan, serta perusahaan ekspedisi. Pada Coffee Morning di Bandara Pattimura, Kepala BKSDA Maluku menyampaikan bahwa pengawasan peredaran tumbuhan dan satwa liar menjadi salah satu tugas pokok dan fungsi BKSDA selain melakukan kegiatan pengelolaan terhadap 29 Kawasan Konservasi yang tersebar di dua Provinsi yaitu Maluku dan Maluku Utara. “Tugas kami tak hanya mengawasi peredaran tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi, tetapi juga yang tidak dilindungi,” tutur Amin. Kedepan, BKSDA Maluku berharap ada kerjasama seluruh stakeholderdalam mencegah peredaran satwa tersebut. Amin juga mengusulkan untuk membuat grup pada aplikasi komunikasi WhatsApp (WAG). Harapannya, meski sederhana namun penuh arti yaitu untuk mempercepat informasi dan mempermudah koordinasi lintas sektoral. “Agar dibuat WAG sehingga permasalahan yang berkaitan dengan tugas pokok masing-masing bisa cepat terselesaikan,” tambahnya. Selain itu, Kepala BKSDA Maluku juga mengingatkan kepada maskapai dan ekspedisi untuk tidak mengangkut satwa liar yang tidak dilengkapi dokumen resmi berupa Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa baik Dalam Negeri maupun Luar Negeri. Sebelumnya, acara serupa juga pernah digelar di Pelabuhan Yos Sudarso pada Kamis (24/8). Coffee Morning dua bulan silam tersebut juga dihadiri berbagai instansi yang berkecimpung di Pelabuhan Yos Sudarso, seperti Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan, PT. Pelindo, PT. Pelni, Polsek Kawasan Pelabuhan, Ombudsman, Lantamal IX Ambon, Ditrekrimsus Polda Maluku, perusahaan pelayaran, perusahaan ekpedisi, dan BKSDA Maluku sendiri. Coffee Morning di Bandara Pattimura dan Pelabuhan Yos Sudarso tersebut dirasa sangat penting, terutama bagi BKSDA Maluku. Hal ini berkaitan dengan jumlah pintu masuk yang begitu banyak di Propinsi Maluku. Setidaknya tercatat 69 pelabuhan laut dan 24 bandara udara di Propinsi Maluku dan Maluku Utara. Banyaknya jumlah pelabuhan laut dan bandar udara tersebut menjadikan Propinsi Maluku dan Maluku Utara sebagai open access area bagi peredaran tumbuhan dan satwa liar endemik dan dilindungi. Sementara itu, BKSDA memiliki jumlah sumber daya manusia yang terbatas, sehingga kerjasama lintas sektoral akan sangat mendukung BKSDA Maluku dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya terutama terkait peredaran tumbuhan dan satwa liar. [] Sumber: Nur Arfa Lating, A.Md. - Polhut Pelaksana Lanjutan BKSDA Maluku
Baca Berita

Perjumpaan Langsung Banteng di TN Meru Betiri

Sukamade, 12 Oktober 2017. Pada pukul 16.05 WIB Sulistrianto, Plt. Kepala Seksi PTN Wilayah I Sarongan bersama beberapa petugas TNMB yang lain menjumpai secara langsung Banteng (Bos javanicus) di Blok Karetan, Resort Sukamade. Sekelompok Banteng ini tidak sengaja dijumpai pada saat melakukan kegiatan bimbingan, pengendalian, monitoring dan evaluasi di Resort Sukamade. Sekelompok Banteng yang terdiri dari 2 ekor Banteng Jantan, 3 ekor Banteng Betina dan 1 ekor anakan dijumpai saat sedang makan. Keberadaan anakan Banteng menunjukkan adanya peningkatan populasi yang ditunjukkan dengan adanya kelahiran. Perlu diketahui bahwa data hasil monitoring populasi Banteng di TNMB tahun 2016 sebanyak 62 ekor. Dengan perjumpaan langsung ini, diharapkan data populasi Banteng sebagai salah satu satwa prioritas di TN Meru Betiri mengalami peningkatan, sesuai dengan SK Dirjen KSDAE Nomor: SK.180/IV-KKH/2015 tanggal 30 Juni 2015 tentang penetapan dua puluh lima satwa terancam punah prioritas untuk ditingkatkan populasinya sebesar 10% pada tahun 2015 – 2019. Sumber: BTN Meru Betiri
Baca Berita

Sukses Dengan Ekspedisi Lolobata 2017, TN. Aketajawe Lolobata Akan Memperbesar Ekspedisi Tahun 2018

Sofifi, 16 Oktober 2017. Berbagai tanggapan dan ucapan selamat tentang kegiatan Ekspedisi Lolobata Tahun 2017 baik dimedia sosial maupun secara langsung menjadikan indikator bahwa kegiatan tersebut berhasil dan sangat ditunggu berita serta hasilnya oleh banyak kalangan. Berdasarkan alasan tersebut, Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) akan menjadikan kegiatan ekspedisi TNAL tahun depan lebih besar lagi. Terbukti, beberapa hari lalu (13/10) Kepala Balai berkunjung ke Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta sesuai dengan undangan Wakil Dekan Fakultas Kehutanan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerja Sama. Agenda tersebut untuk mengucapkan terima kasih atas partisipasi dalam kegiatan Ekspedisi Lolobata 2017 serta berdiskusi dengan Wakil Dekan Fakultas Kehutanan terkait kegiatan ekspedisi selanjutnya. Dalam diskusi, Wakil Dekan FKT Dr. Muhammad Ali Imron, S.Hut., M.Sc mengatakan bahwa “Fakultas Kehutanan UGM menyambut baik kegiatan Ekspedisi Lolobata yang telah lalu. Kegiatan ini memberikan kesempatan yang sangat bagus bagi para mahasiswa kami untuk mengaplikasikan pengetahuan yang sudah dimiliki selama kuliah”. Beliau juga menambahkan “Penguatan kerjasama dengan penelitian terapan yang benar-benar dibutuhkan antara FKT UGM dengan pihak Balai TNAL diharapkan memberikan kontribusi penting bagi pengelolaan kawasan konservasi”. Pada pertemuan tersebut juga dihadiri mahasiswa yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan Ekspedisi Lolobata 2017. Kepala Balai TNAL mengatakan bahwa, “ Ekspedisi tahun depan rencananya akan melibatkan beberapa perguruan tinggi lainnya seperti Institut Pertanian Bogor, Universitas Khairun dan Universitas Halmahera. Serta beberapa komunitas lainnya”. “FKT UGM siap mendukung dengan SDM yang handal bagi kerja sama tersebut”, tutup Wakil Dekan FKT UGM. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

2 Ekor Gajah Sumatera Mati Kesetrum di Aceh Timur

Aceh Timur, 16 Oktober 2017. 2 Ekor Gajah Sumatera ditemukan mati di Dusun Semedang Jaya, Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Rantau Peureluak Kabupaten Aceh Timur. Gajah tersebut berjenis kelamin jantan dengan umur 10 tahun dan betina berumur 20 tahun. Kedua gajah tersebut ditemukan warga yang kemudian dilaporkan kepada anggota forum konservasi leuser (FKL). Dari laporan tersebut, diteruskan ke Balai KSDA Aceh sekitar pukul 11 siang pada Minggu, 15 Oktober 2017. Kemudian petugas Balai KSDA Aceh Resort Langsa meluncur ke TKP untuk mengamankan bangkai gajah yang ditemukan lengkap dengan gadingnya. Gajah mati diduga karena terkena pagar beraliran listrik yang dipasang warga. Pada Senin, 16 Oktober 2017, tim gabungan yang terdiri dari BKSDA Aceh, Balai Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera, Satreskrim Polres Aceh Timur, FKL dan WCS yang dipimpin Kepala BKSDA Aceh melalukan olah TKP serta melakukan otopsi terhadap bangkai gajah untuk mengambil beberapa sampel organ untuk diuji di laboratorium. Dari olah TKP dan otopsi tersebut, didapat kesimpulan sementara bahwa gajah mati karena terkena sengatan pagar listrik yang dipasang warga di kebun mereka. Diperkirakan gajah mati pada sabtu malam (14/10/2017). BKSDA Aceh secara resmi telah membuat laporan polisi (LP) ke Polres Aceh Timur yang akan ditindak lanjuti oleh penyidik dengan mulai memeriksa beberapa orang saksi. BKSDA Aceh berharap agar penegakan hukum dapat dilakukan dan menghimbau agar masyarakat atau pihak manapun tidak memasang pagar beraliran listrik yang mematikan, karena tak hanya mengancam satwa liar, namun juga keselamatan warga. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Apel Pagi UPT KLHK Prov. Papua, Serahkan SK Kenaikan Pangkat

Jayapura, 16 Oktober 2017. Rutinitas kegiatan UPT KLHK lingkup Provinsi Papua setiap hari senin adalah apel pagi, yang diikuti oleh seluruh pejabat dan pegawai UPT, dipimpin oleh pembina apel Bp. Kusnadi, S.Hut.,M.Si, selaku Kepala BPHP Wilayah XV Jayapura. Adapun hal istimewa yang menjadi kegiatan apel pagi pada hari ini adalah penyerahan SK kenaikan pangkat oleh pembina apel kepada Bernadikte S. Parubak, S.Hut.,M.Si, pejabat fungsional PEH dari BPHP Wilayah XV Jayapura dengan SK Kenaikan Pangkat IV/b, Suhendar Suradinata, PEH dari BBKSDA Papua dengan SK Kenaikan Pangkat III/b dan Victory S. Karubaba, Polhut BBKSDA Papua dengan SK Kenaikan Pangkat III/a. Kenaikan pangkat merupakan penghargaan yang diberikan kepada PNS atas dasar prestasi kerja dan pengabdian terhadap negara. Selamat dan Sukses. Sumber : Diah Warastuti - PEH Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Bimbingan Teknis Penyusunan Desain Tapak Pengelolaan Pariwisata Alam di Zona Pemanfaatan TN. Lorentz

Wamena, 16 Oktober 2017. Balai TN. Lorentz melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis Penyusunan desain tapak pengelolaan pariwisata alam di zona pemanfaatan TN. Lorentz bagi seluruh pegawai lingkup TN. Lorentz. Tujuan kegiatan ini tidak lain adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pegawai dalam penyusunan desain tapak. Kegiatan tersebut berlangsung tanggal 11 s/d 12 Oktober 2017, bertempat di Ruang Rapat kantor Balai TN Lorentz. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Acha A. Sokoy, S.Hut. selaku Kepala Balai Taman Nasional Lorentz. Mekanisme penyelenggaraan bimtek desain tapak pada hari pertama, dilaksanakan melalui penyampaian materi oleh narasumber dan dilanjutkan sesi diskusi. Sebagai Narasumber pada kegiatan tersebut adalah : (1). Ir. S.Y Chrystanto, M.For., SC (Kasubdit Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam Direktorat PJLHK Ditjen KSDAE); (2). Drs. Alpius Wetipo (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Jayawijaya), serta (3). Ir. Bambang T. (Bappeda Kab. Jayawijaya). Pada hari kedua, dilakukan pula kunjungan lapangan guna melihat area pengembangan wisata alam TN. Lorentz pada zona pemanfaatan di Danau Habema dan jalur pendakian puncak Trikora. Dalam paparan materi Ir. S.Y Chrystanto, M.For., SC, disampaikan bahwa strategi pengembangan pengelolaan pariwisata alam harus memenuhi yang disebut 4A (akses, atraksi, amenities, acceptable) dan 6C (confident, credible, comparable, consistent, comitment, creativity). Regulasi penyusunan desain tapak lebih teknis telah diatur dalam perdirjen PHKA Nomor: P.3/IV-SET/2011 tentang pedoman penyusunan desain tapak pengelolaan pariwisata alam di suaka margasatwa, taman Nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam sebagaimana telah diubah dengan perdirjen PHKA Nomor: p.5/IV-SET/2015. "Kita sebagai pengelola jangan menjadi pesaing masyarakat maupun pelaku usaha dalam pengelolaan pariwisata alam, kita seharusnya saling mendukung dan bekerjasama. Penentuan ruang publik dan ruang usaha selain berpedoman pada kriteria yang diatur dalam Perdirjen juga harus mempertimbangkan adanya kemungkinan perubahan-perubahan fungsi areal/zona akibat proses revisi zonasi kawasan TN. Lorentz yang akan dilakukan" ucap Chrystanto. Pada kesempatan ini Pemkab Jayawijaya (dinas kebudayaan dan pariwisata, serta Bappeda) juga menyampaikan materinya yang sangat mendukung pengelolaan pariwisata alam melalui kebijakan-kebijakan pola ruang dan rencana pembangunan infrastruktur wisata alam di Kab. Jayawijaya, khususnya kawasan TN. Lorentz sebagai kawasan konservasi dan situs warisan alam dunia. "Terwujudnya Kab. Jayawijaya sebagai daya tarik wisata dalam lingkungan yang berbudaya. Ada 5 misi yang diemban, lebih menyoroti misi ke-3, yakni "Membangun jati diri dan citra Kab. Jayawijaya menjadi ODTW nasional & internasional" jelas Drs. Alpius Wetipo (Kadis Budpar Kab. Jayawijaya). Menurut beliau, arah kebijakan dan strategi pembangunan pariwisata di Kab. Jayawijaya berlandaskan budaya asli setempat. Ditekankan bahwa pembangunan pariwisata di Papua, khususnya di wilayah lembah Baliem, harus memperhatikan aspek nilai-nilai budaya asli orang Baliem, karena budaya asli merupakan karunia Sang Khalik Pencipta dan telah menjadi simbol kebanggaan dan jati diri orang Baliem. Oleh karena itu maka aspek budaya harus menjadi perhatian utama dalam mendesain wilayah/zona pemanfaatan TN Lorentz. Sehubungan dengan pembagian ruang, maka perlu memperhatikan irisan batas wilayah adat dan batas wilayah administratif pemerintahan. Ditambahkan pula bahwa untuk menyelaraskan kebijakan pengembangan kepariwisataan di Kab. Jayawijaya, perlu dibangun ikatan kerjasama antara Pemkab Jayawijaya dengan Balai TN. Lorentz. Pada sesi pemaparan oleh Bambang T. (Bappeda Kab. Jayawijaya), konsep pemanfaatan ruang sehubungan dengan program nasional yakni pembangunan ruas jalan trans Papua di wilayah Pegunungan Tengah yang juga melintasi kawasan Taman Nasional Lorentz, dimulai dari Wamena-Habema-Kenyam/Nduga. Diharapkan bahwa pembangunan jalan tersebut dapat menjadi faktor pendukung pengelolaan taman nasional sekaligus bahan pertimbangan dalam menyusun desain tapak pada zona pemanfaatan TN Lorentz. Sumber : Balai TN Lorentz
Baca Berita

KADER KONSERVASI TN BALI BARAT BERSIHKAN 346 KG SAMPAH PLASTIK DI KAWASAN TAMAN NASIONAL

Cekik, 15 Oktober 2017, sebanyak 25 orang kader konservasi TNBB dan 98 siswa SMK 4 Negara berhasil membersihkan 346 Kg sampah plastik dari kawasan taman nasional. Aksi bersih dipimpin langsung oleh KSBTU TNBB. Bersama para petugas taman nasional, tim diarahkan di 2 lokasi. Tim pertama mengambil lokasi di pinggir jalan Gilimanuk-Denpasar sepanjang 4 km. Tim kedua di sepanjang pantai Klatakan-Gilimanuk sepanjang 4,5 km. Sampah dipinggir jalan diperkirakan berasal dari para pengendara yang lewat maupun beristirahat di lokasi tersebut. Sampah tersebut antara lain berupa : plastik bungkus makanan, botol/gelas plastik, tas kresek, pampers, botol kaca, dan kertas minyak. Sedangkan sampah dipinggir pantai merupakan sampah yg berasal dari laut dan terdampar di pantai, antara lain berupa : botol plastik, botol kaca, stereofoam, sandal, sepatu, dan bekas bungkus popmie. Sampah yang terkumpul selanjutnya di bawa kekantor balai TNBB untuk selanjutnya dilakukan pemilahan. Botol plastik, botol kaca, dan plastik yg masih bersih dikumpulkan untuk dijual. Sedangkan sisanya di bawa ke tempat pembuangan akhir. Aksi bersih ini juga merupakan salah satu bentuk pendidikan lingkungan bagi para siswa sekolah yang menjadi binaan TN Bali Barat Sumber : TN Bali Barat
Baca Berita

Penanganan Sampah Karang Sewu Oleh TN Bali Barat Bersama Masyarakat Dan Mitra

Gilimanuk, 13 Okt 2017, Jumat semangat, bertempat di Obyek wisata Karang Sewu Resort Gilimanuk SPTNW I Jembrana, dilaksanakan upaya penanganan sampah dan pemberdayaan masyarakat untuk pengembangan obyek wisata berbasis masyarakat. Kegiatan dihadiri oleh Kabalai TNBB Drh. Agus Ngurah Krisna, M.Si, dan pimpinan PLTG, PLN, Ka SPTNW 1, kelompok masyarakat (9 klpk). Kegiatan dibuka oleh Kabalai TNBB dengan arahan lebih menekankan untuk melakukan penanganan sampah dan pemberdayaan pengembangan obyek wisata berbasis masyarakat secara bersama dan terpadu. Pada kesempatan ini, dilakukan juga penyerahan bantuan berupa tempat sampah dan gerobak sampah dari pimpinan PLTG ke balai TNBB. Selanjutnya dilakukan aksi pembersihan sampah secara bersama sama. Sampah yang berhasil dikumpulkan ditimbang dan diperoleh 105,5 kg sampah dari berbagai jenis antara lain : plastik kresek, bungkus rokok, bungkus snack, serta botol plastik. Kegiatan diakhiri dengan mengunjungi kelompok Bank Sampah Gilimanuk. Kabalai TNBB sangat mengapresiasi kegiatan pengelolaan bank sampah dan akan mendukung usaha produktif nya. Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang baik berupa manfaat ekologi, edukasi, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Sumber TN Bali Barat
Baca Berita

Penanganan Peredaran TSL Dilindungi di Kota Makasar

Makassar, 14 Oktober 2107. Seiring maraknya perdagangan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) melalui sosial media ataupun media online lainnya, Petugas Tim Patroli Rutin Terhadap Kepemilikan dan Perdagangan Satwa Liar secara Ilegal, Seksi Konservasi Wilayah IV Balai Besar KSDA Sulsel bersama TNI dan POLRI melakukan penyitaan TSL sebanyak 17 ekor yang dari 3 lokasi yang berbeda didalam Kota Makassar. Dilokasi pertama ditemukan 11 ekor satwa yang kemudian diserahkan oleh pemiliknya setelah mengetahui status perlindungan satwa-satwa tersebut, satwa tersebut terdiri dari 7 ekor Kasturi Kepala Hitam (Lorius lory), 2 ekor Kakatua Jambul Kuning (Cacatua galerita), 1 ekor kakatua orange (Cacatua sulphurea), 1 ekor Kangguru Tanah (Thylogale brunii). Dilokasi yang kedua ditemukan 5 ekor Nuri Ornet (Trichoglossus ornatus) yang sedianya akan diperjualbelikan. Pemilik dari satwa yang sedianya akan dijual itu tidak berada ditempat, tim kemudian memberikan penyampaian kepada istrinya tentang status perlindungan satwa tersebut, yang kemudian memutuskan menyerahkannya kepada petugas. Dilokasi yang ketiga juga ditemukan 1 (satu) ekor Nuri Ornet (Trichoglossus ornatus) milik suami Ibu Rohana yang menurut keterangan yang diambil oleh petugas Nuri ini dibeli oleh suaminya yang pada saat itu tidak berada ditempat. Setelah disampaikan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 tentang pengawetan Tumbuhan dan Satwa, satwa tersebut kemudian diserahkan secara sukarela oleh istri pemiliknya. Satwa-satwa sitaan tersebut kini dititipkan sementara ke Lembaga Konservasi Gowa Discovery Park untuk kemudian diserahterimakan kepada Balai Gakkum Sulawesi, sebagai UPT KLHK yang akan melanjutkan proses lidiknya. Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Ir Doddy Wahyu Karyanto, MM berharap sinergi antara institusi terkait dalam penanganan tindak pidana dibidang Kehutanan dapat terus ditingkatkan untuk dapat menekan dan atau menghentikan peredaran TSL di wilayah kerja Balai Besar KSDA Sulsel pada khususnya. Beliau menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada masyarakat yang memilik TSL dilindungi dan telah secara sukarela menyerahkannya kepada Balai Besar KSDA Sulsel selaku UPT KLHK yang menangani peredaran TSL, dan menghimbau untuk tidak memperdagangkan TSL yang dilindungi karena akan ada konsekuensi pidana yang timbul apabila tidak diindahkan Sumber Berita : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Studi Banding Pemberdayaan Masyarakat TN. Tesso Nilo

Jember, 10 Oktober 2017. Rombongan Balai TN Tesso Nilo (TNTN) tiba di Balai TN Meru Betiri (TNMB) dan disambut oleh Ir. Kholid Indarto, selaku Kepala Balai TNMB. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka studi banding pemberdayaan masyarakat TN Tesso Nilo. Pesertanya terdiri dari dari 2 petugas TN Tesso Nilo, dan 10 orang perwakilan dari WWF, Pemerintahan Desa dan Masyarakat Daerah Penyangga TNTN. Sesuai dengan tujuan kunjungan ini, guna meningkatkan kemampuan dan pengetahuan masyarakat di sekitar kawasan TNTN dalam bidang pengelolaan jasa lingkungan dan wisata alam. Kegiatan dimulai dengan perkenalan antara TN Tesso Nilo dan TN Meru Betiri, dilanjutkan dengan presentasi kegiatan pemberdayaan masyarakat di TNMB. Kunjungan lapangan pertama di Lembaga Masyarakat Desa Hutan Konservasi (LMDHK) Wono Mulyo, Desa Wonoasri. Tamin Sutarjo, ketua LMDHK Wono Mulyo menyampaikan proses kegiatan Rehabilitasi di TNMB, permasalahan dan kendala yang dihadapi oleh Kelompok LMDHK Wono Mulyo. Setelah diskusi dan tanya jawab, peserta studi banding menuju ke Blok Bonangan, Resort Wonoasri untuk melihat tanaman Cabe Jawa dimana potensi ke depannya dapat dijadikan alternative pengganti tanaman palawija. Hari Kedua, Peserta studi banding berkunjung ke Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) Multi Kreasi Sejahtera, Kalibaru. Bidang usaha yang digeluti anggota SPKP ini antara lain pembuatan kripik dan tape, pembibitan, budidaya jamur dan budidaya ikan lele. Wakil dari Desa di sekitar Tesso Nilo mengapresiasi SPKP yang masih mampu bertahan sejak tahun 2010 dan kompak dalam group serta kreativitas anggotanya. Selama kunjungan ini, peserta berdiskusi dan tanya jawab, dilanjutkan dengan demo masak pembuatan kripik singkong, bayam krispi dan jenis camilan lainnya, serta mencicipi bakso dari jamur tiram. Kunjungan terakhir di Resort Rajegwesi, Banyuwangi. Sharing pengalaman oleh kelompok ekowisata Katamer berlangsung hangat dipandu ketua kelompok, Ismail SPd. Presentasi sekilas dilanjutkan diskusi tentang berbagai hal baik keberadaan penduduk di zona khusus TNMB. Ada wakil ketua forum masyarakat TNTN yang merasa surprise karena semula menganggap problem kemasyarakatan di Riau lebih kompleks daripada zona khusus TNMB, ternyata juga sangat kompleks sekaligus melihat upaya TNMB dalam memberdayakan masyarakat tersebut dalam bentuk pelayanan jasling berupa ekowisata. Bentuk pemanduan wisata, paket wisata, jasa transportasi laut dan darat, penjualan souvenir gantungan Kunci berbentuk penyu, dianggap sebagai hal-hal yang unik dan bisa diterapkan juga di TN Tesso Nilo. Kunjungan ke TNMB menjadi mengesankan bagi peserta studi banding kala merasakan transportasi laut dengan perahu selama 20 menit dari pantai Rajegwesi menuju Teluk Hijau pulang pergi. Besaran tarif transport laut dan darat dinilai rombongan, cukup layak dan tidak memberatkan pengunjung. Keamanan penumpang dinilai cukup karena aturan ketat bahwa penumpang maksimal dalam satu perahu hanya 6 orang beserta pengemudi perahu dan masing-masing dilengkapi jaket pelampung (safety jacket). Menurut peserta studi banding, Teluk Hijau bersih dan alami. Selain menikmati pemandangan Teluk Hijau dan meminum kelapa muda, ada sebagian peserta yang merasakan kesegaran air terjun di sebelah bukit setelah mandi di pantai. Pertemuan diakhiri dengan pertukaran cinderamata dari masyarakat Katamer dan peserta studi banding TN Tesso Nilo. Harapan mereka Balai TN Meru Betiri bisa berkunjung ke TN Tesso Nilo untuk mengetahui kekhasan flora dan fauna serta permasalahan di TNTN. Terlebih lagi bahwa TN Tesso Nilo masih terdapat fauna besar seperti gajah tapir harimau, beruang madu yang pengelolaannya bisa menjadi pembelajaran di TNMB sesuai dengan role model TNMB tentang konservasi karnivora besar. Sumber : Balai TN Meru Betiri

Menampilkan 9.697–9.712 dari 11.141 publikasi