Rabu, 27 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Sinergi Mewujudkan Wisata Konservasi Jalak Bali Berbasis Masyarakat Di Desa Blimbingsari

Cekik, Selasa 17 Oktober 2017. Balai TN Bali Barat Wilayah SPTN I Jembrana menjalin komunikasi aktif dengan masyarakat dan para mitra kerja. Pada kesempatan ini, Kepala SPTN Wilayah I TNBB, Ali Purwanto, mengunjungi Desa Blimbingsari yang merupakan desa penyangga taman nasional untuk melihat penangkaran Jalak Bali. Kelompok penangkar Paksi Sarimerta Desa Blimbingsari merupakan kelompok dampingan TNBB. Pemerintah desa secara proaktif berkomunikasi dengan pendamping desa TNBB terkait rencana pengembangan paket wisata Jalak Bali berbasis masyarakat. Kegiatan pendampingan diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mewujudkan misi besar meraih kemandirian. Sinergi dalam upaya penyelesaian masalah menjadi suatu keharusan. Hasil yang diharapkan adalah sukses dalam menangkarkan burung Jalak Bali yang menjadi maskot provinsi Bali. Masyarakat juga berencana melakukan pelepasliaran Jalak Bali di wilayah Desa Blimbingsari. Hal ini dilakukan dengan maksud selain turut andil dalam pelestarian burung Jalak Bali juga sebagai atraksi yang dapat menarik minat wisatawan. Goal-nya, masyarakat bisa mendapat manfaat dari kunjungan wisata yang dikemas dalam paket wisata konservasi Jalak Bali. Jika hal ini terwujud, ketergantungan terhadap kawasan TNBB dapat dikurangi sehingga keutuhan kawasan akan terjaga. Untuk mendukung misi ini, Kepala SPTN I juga melakukan koordinasi dengan Kapolsek Melaya dan Camat Melaya terkait rencana tersebut. Dalam kesempatan tersebut, Kapolsek menyampaikan dukungan dalam pencegahan kasus tipihut yang berada di lingkup Wil kerja SPTN Wil I Jembrana khususnya yang berkaitan dengan perburuan burung Jalak Bali. Selain itu, Kapolsek juga mendukung upaya pendekatan persuasif kepada masyarakat. Camat Melaya juga menyampaikan hal senada. Camat akan mendukung dan berkontribusi dalam hal mewujudkan kelestarian kawasan taman nasional dan sekitarnya. Terkait rencana pelepasliaran Jalak Bali oleh masyarakat, Camat mendukung penuh supaya keberadaan burung Jalak Bali di alam tetap aman dengan memberikan sosialisasi kepada masyarakat desa di wilayahnya. Aspek lain pendukung desa wisata, seperti penanggulangan sampah dan bersih lingkungan, pihaknya akan melibatkan seluruh desa yang berada di lingkup Kecamatan Melaya guna mewujudkan desa wisata unggulan di Bali. Hal ini sejalan dengan misi mewujudkan desa wisata berbasis masyarakat yang sedang diupayakan bersama. Sumber: BTN Bali Barat
Baca Berita

Selamat Hari Ulang Tahun TN. Aketajawe Lolobata “Tagi Togumua” Akan Terus Diperjuangkan

Sofifi, 18 Oktober 2017. Empat Belas tahun yang lalu Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) telah ditunjuk oleh Menteri Kehutanan Republik Indonesia. Layaknya seorang bayi yang baru lahir, dengan berbagai keterbatasan dan tantangan, Balai TNAL akhirnya berhasil menjadi sebuah kawasan konservasi yang makin dikenal dan diminati oleh banyak kalangan. Terbukti dari berbagai kegiatan, Balai TNAL berhasil menyabet aneka penghargaan atas prestasinya. Keberhasilan Balai TNAL dalam bermetamorfosa tak lepas dari peran semua pihak, baik dari para Kepala Balai dan seluruh pegawainya maupun dukungan dari para pihak. Teringat pada saat kegiatan METT (Management Effectiveness Tracking Tools) atau Penilaian Mandiri Pengelolaan Kawasan Konservasi, beberapa peserta kegiatan yang juga merupakan tim penilai mengatakan bahwa TNAL memiliki tujuan yang mulia untuk masyarakat dan tak sedikit dari mereka ingin mengikuti kegiatan wisata di taman nasional yang berlogo burung Bidadari Halmahera ini. Dan hasil penilaiannya sangat positif. Kedepannya, dengan pemimpin yang baru semangat “Tagi Togumua” yang berarti “Berjalan/berkarya tanpa lelah” akan tetap dan terus diperjuangkan. “Keinginan kita kedepan agar kawasan dapat memberikan manfaat yang signifikan kepada masyarakat sekitarnya dan kelestarian tetap terjaga”, harapan Pak Wahyudi, Kepala Balai TNAL. Beliau juga berharap bahwa “Kawasan TNAL bisa terus dieksplore untuk mengetahui seluruh kekayaan (alam) dan potensi yang ada didalam kawasan”. Selamat Hari Ulang Tahun Taman Nasional Aketajawe Lolobata, semoga terus berkarya dan bermanfaat untuk Maluku Utara, Indonesia dan semesta. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Kolaborasi BKSDA Jateng Dengan Masyarakat Sekitar TWA Grojogan Sewu

Karanganyar, 17 Oktober 2017. Social capital resources, menjadi bagian dari hal yang terus diupayakan oleh Balai KSDA Jawa Tengah, dimana hal tersebut terdiri dari trust, norm, dan network yang konsisten mengupayakan tujuan dengan bekerja bersama. Hal ini ditunjukkan dengan telah ditetapkannya Surat Keputusan No. SK.107/IV-K.16/Pwt/2014 tentang Pemberian izin pemanfaatan air (IPA) kepada Forum Peduli Lingkungan Hidup Wana Lawu Lestari di Kawasan Taman Wisata Alam Grojogan Sewu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Forum Peduli Lingkungan muncul atas gagasan tokoh-tokoh masyarakat pemanfaat air dari TWA Grojogan Sewu bersama petugas lapangan Balai KSDA Jawa Tengah. Ide awal atas gagasan tersebut adalah kawasan TWA Grojogan Sewu dan sekitarnya termasuk Gunung Lawu harus dilestarikan supaya tidak terjadi kerusakan hutan, karena apabila hutan rusak makan masyarakat sekitar yang paling dekat dahulu yang akan terkena dampaknya. Saat ini anggota paguyuban sudah mencapai lebih dari 500 orang, jumlah tersebut terus bertambah setiap tahunnya dari awal didirikan terdiri dari 150 anggota. Forum Peduli Lingkungan Hidup Wana Lawu Lestari beserta Balai KSDA Jawa Tengah telah melaksanakan banyak kegiatan, diantaranya: pembuatan persemaian pohon damar. Pemilihan pohon damar dikarenakan memiliki akar yang kuat dan tahan penyakit, serta cocok ditanam di lokasi Grojogan Sewu. Selain itu dilaksanakan pula penanaman rutin pada musim hujan di lokasi yang masih kosong baik di lokasi maupun di luar kawasan sampai Gunung Lawu. Kegiatan pemeliharaan (pendangiran, penyulaman, pembebasan tanaman pengganggu) tanaman muda juga dilakukan setiap tiga bulan sekali. Juga dilaksanakan kegiatan gotong royong memelihara kebersihan baik di dalam maupun di luar kawasan. Sumber : Balai KSDA Jawa Tengah
Baca Berita

BKSDA NTB Serahkan Bantuan Usaha Ekonomi Masyarakat Desa Labuan Kenanga Bima

Labuan Kenanga Bima, 18 Oktober 2017. Dalam rangka peningkatan usaha ekonomi dan pemberdayaan masyarakat desa penyangga di sekitar kawasan, Balai KSDA NTB pada tanggal 18 Oktober 2017 di Desa Labuan Kenanga Kecamatan Tambora Kabupaten Bima menyerahkan bantuan usaha ekonomi kepada kelompok masyarakat binaan yaitu Kelompok Lentera. Bantuan dilakukan oleh Kepala Balai KSDA NTB Ir. Ari Subiantoro, MP dan dihadiri oleh Kepala Desa Labuan Kenanga, Kepala SKW III Bima Bambang Dwidarto, SH dan staf Kecamatan Tambora serta masyarakat Desa Labuan Kenanga Bima. Bantuan yang diberikan berupa 1 unit mesin perahu, tenda dome 6 unit, dan bantuan untuk perbaikan perahu kelompok. Perahu tersebut termasuk salan bantuan usaha ekonomi yang diberikan BKSDA NTB pada tahun 2015 pada Kelompok Lentera. Dalam sambutannya Kepala Balai KSDA NTB Ir. Ari Subiantoro, MP menyampaikan bahwa dukungan masyarakat sangat diperlukan dalam keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi khususnya dibawah pengelolaan BKSDA NTB dan menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas peran serta masyarakat khususnya Desa Labuan Kenanga serta berharap agar bantuan usaha ekonomi dapat dimanfaatkan bagi peningkatan ekonomi masyarat. Desa Labuan Kenanga merupakan salah satu desa penyangga yang berada di dekat TWA Pulau Satonda dan TN. Tambora. Sedangkan Kelompok Lentera termasuk dalam binaan BKSDA NTB san dibentuk pada tahun 2015 beranggotakan 25 orang. Kelompok ini memiliki usaha ekonomi jasa pelayanan wisata ke TWA P. Satonda dan TN. Tambora. Sumber : Balai KSDA NTB 2017.
Baca Berita

Aksi Bebas Sampah dan Vandalisme di Kawasan Wisata Bantimurung

Bantimurung, 17 Oktober 2017. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menggelar Operasi Bebas Sampah dan Vandalisme. Kegiatan ini dilaksanakan di Kawasan Wisata Bantimurung pada hari Selasa (17/10/2017). Peserta aksi bersih sampah ini yang terlibat tak kurang dari 150 orang. Kegiatan ini melibatkan mitra Bantimurung Bulusaraung, diantaranya kader konservasi, Masyarakat Mitra Polhut, Komando Strategi Angkatan Darat 443 Julu Siri, dan Komando Distrik Militer 1422-02 Bantimurung. Kegiatan ini juga diikuti unit pelaksana teknis lingkup Sulawesi selatan. Intansi yang hadir diantaranya BPPLHK Makassar, PSKL Wilayah Sulawesi, BPDASHL Jeneberang Saddang, BPTH Sulawesi, dan BPHP Wilayah XV Makassar. Turut hadir pula P3E Ekoregion Sulawesi Maluku, Balai PPI dan Karhutlah Wilayah Sulawesi dan SMK Negeri Kehutanan Makassar. Tak mau ketinggalan SMK Negeri 2 Bantimurung, Kelurahan Kalabbirang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maros, Dinas Kebersihan Maros dan Masyarakat sekitar kawasan wisata ikut perpartisipasi. Sebelum memulai menyapu dan memungut sampah, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memberikan arahan. Ia berharap pelaksanaan kegiatan bermanfaat bagi ekologi dan pelajaran penting untuk selalu menjaga kebersihan. “Ini juga merupakan kampanye peduli sampah bagi masyarakat” tambah Sahdin Zunaidi, kepala balai taman nasional ini. Kawasan Wisata Bantimurung berada di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II. “Dengan bersihnya kawasan wisata ini maka minat wisatawan berkunjung juga besar. Dengan begitu nilai ekonomi juga bisa diraih” terang Husain, Kepala Seksi Wilayah II saat kami temui. Perlu diketahui bahwa sampah merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi di tempat umum, seperti hal tempat wisata. Tempat sampah telah disediakan sepanjang jalur wisatawan, namun kebiasaan membuang sampah sembarangan masih sering terjadi. Beberapa aksi coret-coret fasilitas umum dan dinding batu juga kerap dijumpai, termasuk di dalam gua. aksi ini sering disebut vandalisme. Untuk menangani aksi jahil ini dilakukan dengan menyemprotkan minyak tanah kemudian digosok sampai luntur. Namun untuk coteran di dalam gua ditangani dengan teknik tersendiri. Pada pelaksanaannya peserta dibagi menjadi tiga kelompok besar. Kelompok satu melakukan kegiatan bersih-bersih di area Sanctuary Kupu-kupu. Kelompok dua pada spot air terjun sampai ke Gua Batu. Kelompok tiga mendapat tugas mulai dari air terjun sampai ke Gua Mimpi. Para peserta dibekali sapu lidi dan sebuah kantong sampah berukuran besar. Setelah selesai sampah dikumpulkan pada satu tempat kemudian akan diangkut mobil sampah menuju tempat pembuangan akhir. Jumlah sampah yang terkumpul tak kurang dari 200 kantong sampah. “Kami sampaikan terima kasih kepada segenap mitra yang terlibat dalam kegiatan aksi bebas sampah ini. Ke depan aksi ini akan kami pertahankan,” ujar Edy kyoto, ketua panitia pelaksana saat kami temui di sela-sela kesibukannya. Satu sampah beribu masalah. Stop!!! Buang sampah sembarangan. Sumber : Taufiq Ismail – PEH Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Trilateral Heart of Borneo Ke-11, Balai TN Kayan Mentarang Promosi Wisata Alam dan Budaya

Tarakan, 14 Oktober 2017. Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr. H. Irianto Lambrie membuka secara resmi acara 'Trilateral Heart of Borneo yang Ke-11' di Tarakan, Kalimantan Utara. Mengangkat tema “Promotion Ecotourism in HoB Sustainable Development”, acara yang dilaksanakan pada tanggal 10-13 Oktober 2017 lalu dihadiri delegasi 3 (tiga) negara yakni Indonesia, Brunei Darussalam dan Malaysia. Selain itu juga dirilis slogan “Visit The Heart of Borneo” oleh Kepala Bappeda Provinsi Kalimantan Utara. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) sebagai bagian dari Heart of Borneo turut serta berpartisipasi pada event besar ini dengan mengusung slogan “Ayo Ke Taman Nasional Kayan Mentarang”. Menampilkan informasi potensi flora, fauna, budaya dan wisata alam serta hasil kerajinan dan mempamerkan produk unggulan masyarakat di sekitar kawasan seperti anyaman rotan, manik, beras adan, garam gunung dan gula tebu. Dalam kesempatan itu, Irianto Lambrie mengajak para undangan dan delegasi negara mengunjungi stand-stand pameran termasuk stand Balai Taman Nasional Kayan Mentarang. Gubernur Kaltara bersemangat menjelaskan potensi budaya masyarakat disekitar TNKM serta produk-produk lokal masyarakat kepada undangan dan delegasi Negara. Budaya Dayak dan beras adan hasil pertanian masyarakat dari Krayan menarik perhatian para undangan dan delegasi. “Kita berharap promosi ini akan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Kayan Mentarang dan menyukseskan program Visit Heart of Borneo” tutup Ir. Johnny Lagawurin, Kepala Balai TNKM. Sumber : Balai TN Kayan Mentarang
Baca Berita

FORMATAN Upaya Pengelolaan CA Mandor Berbasis Masyarakat

Mandor, 17 Oktober 2017 bertempat di Gedung Ruang Pertemuan Kantor Kecamatan Mandor telah dilaksanakan Sosialisasi Rencana Pengelolaan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus serta Sosialisasi dan Pembentukan Ranting Forum Penyelamatan Hutan dan Lahan (FORMATAN) Kecamatan Mandor. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan secara simbolis bibit tanaman kemiri sunan kepada para kepala desa. Hadir dalam acara tersebut, antara lain Perwakilan Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat selaku pembina Formatan, Kepala BPBD Kalbar selaku ketua, Kepala BKSDA selaku ketua harian, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalbar selaku wakil ketua, Kepala Dinas Permukiman dan Lingkungan Hidup selaku sekretaris, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjung Pura, Direktur IDH, Ketua Yayasan Belantara serta undangan dari berbagai pihak di antaranya muspika dan muspida setempat, pemuka masyarakat dsb. Dalam sambutan acara tersebut Kepala Balai KSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut M.T menyampaikan perlunya diskusi lanjutan antar pihak untuk merealisasikan tujuan dibentuknya formatan, yakni masyarakat terlibat aktif dalam mengelola dan menjaga kawasan yang berada di wilayah Kecamatan Mandor dan yang paling utama peserta memahami hadirnya Formatan dapat meningkatkan kepedulian terhadap hutan dan pemanfaatannya, serta dapat meningkatkan dukungan tata kelola hutan untuk mempertahankan fungsi kawasan dan tujuan KHDTK dalam mencegah kerusakan hutan dan lahan dengan pendekatan preventif, edukatif, humanis, dan konsisten. Dalam rangkaian acara Pembentukan FORMATAN ditandai dengan penandatangan komitmen semua pihak dan disaksikan oleh pejabat terkait. Selanjutnya setelah mengikuti sosialisasi dan pembentukan Formatan tersebut, Kepala Balai KSDA Kalbar meninjau Kantor Resort Mandor dan Wilayah Cagar Alam Mandor. Memberikan pembinaan serta dukungan moril kepada seluruh jajaran petugas Resort Mandor, mengingat petugas di lapangan merupakan ujung tombak yang dengan tulus, ikhlas dan militansi tinggi telah menjaga kawasan konservasi yang menjadi tanggung jawab kita bersama dalam pengelolaannya. Kepala Balai berulangkali menyampaikan kepada seluruh staf baik yang di Balai maupun Seksi Konservasi Wilayah agar dapat memberikan perhatian dan dukungan nyata bagi para petugas di lapangan sehingga mereka dapat melaksanakan tugas dan fungsinya secara maksimal. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Membawa Semangat Baru, Dirjen KSDAE Mengunjungi BKSDA Kalimantan Barat

Pontianak, Rabu 18/10/2017, dalam rangkaian kunjungan kerja menghadiri Konggres IPKI ke 3 dan Workshop Polhut dan PPNS se-Indonesia, Dirjen KSDAE (Pak Wiratno) menyempatkan diri melakukan pembinaan pegawai di Balai KSDA Kalbar. Kehadiran beliau disambut hangat oleh seluruh karyawan Balai. Disalaminya satu persatu karyawan sebagai tanda begitu semangatnya pak Dirjen bertemu anak buahnya yang berada di tingkat tapak. Arahan dan pembinaan beliau sesekali dicampur dengan lelucon-lelucon khas Pak Wiratno. Hari ini kami belajar banyak dari Pak Wiratno, beliau mengingatkan kepada seluruh staf agar selalu bekerja dengan sepenuh hati, melakukan pekerjaan dengan ikhlas, semangat dan senang sehingga ketika itu semua dilakukan maka akan menghasilkan sesuatu yang baik. Pak wiratno juga memberikan nasehat penyemangat, beliau mengatakan bahwa untuk mendapatkan hasil yang baik harus melalui banyak proses dari proses ide sampai proses mengkristalkan gagasan kemudian membuat model, walaupun model tersebut masih skala kecil. Dalam kesempatan kunjungannya, Bapak Dirjen KSDAE juga menyampaikan cara baru mengelola kawasan konservasi, melalui pelibatan masyarakat yang berada di sekitar kawasan, dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip penghormatan terhadap hak asasi manusia seperti halnya yang menyangkut masyarakat adat dilakukan melalui pendekatan non litigasi dan mengutamakan dialog, membangun kerjasama lintas sektoral, melakukan pendekatan berbasis landsekap dan mengelola kawasan konservasi berbasis science dan penerapan teknologi. Melalui cara baru tersebut diharapkan kita mampu membangun apa yang disebut "Learning Organization". Salah satu indikator organisasi yang sehat dan mampu merespon perubahan adalah kemampuan dan kemauan organisasi tsb. Perlu digaris bawahi bahwa organisasi yang maju adalah organisasi yang mampu mengantisipasi terjadinya potensi kerusakan dan mampu membangun jejaring kerja multipihak berbasis science dan teknologi untuk kepentingan kemaslahatan umat manusia utamanya bagi kesejahteraan masyarakat. "Pak Wir...semangat baru yang bapak bawa membuat kami tidak bisa tidur malam ini" Sumber: BKSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

BTN Gunung Merapi Mengadakan Rapat Koordinasi Pengamanan Kawasan

Yogyakarta – 17 Oktober 2017, Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) merupakan aset bersama yang bernilai penting untuk kita jaga bersama. Saat ini sedang mengalami banyak tekanan dan gangguan dari upaya yang dapat mengganggu keutuhan dan kelestarian kawasan TNGM. Perlindungan dan pengamanan dibutuhkan untuk mencegah dan meminimalkan kerusakan kawasan TNGM. Dalam rangka perlindungan dan pengamanan tersebut, maka diperlukan sinergitas antar berbagai pihak sehingga perlindungan dan pengamanan dapat dilaksanakan secara terpadu, komprehensif dan tuntas. Dalam kesempatan kali ini, diundang 50 orang, yang masing-masing merupakan Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) 4 kecamatan yang berbatasan langsung dengan kawasan, yaitu Kemalang, Musuk, Cepogo dan Selo, serta kepala desa di wilayah kecamatan tersebut. Kemudian juga diundang perwakilan anggota Masyarakat Mitra Polhut di keempat kecamatan tersebut. Rapat koordinasi ini dilaksanakan di Balai Desa Ponggok, Klaten pada hari Selasa, 17 Oktober 2017 pukul 08.00 s.d selesai. Rapat koordinasi ini merumuskan beberapa hal diantaranya segenap stakeholder terkait baik itu Balai TNGM, Muspika, Aparat Desa setempat, kelompok masyarakat mendukung program-program dalam upaya menjaga dan melestarikan kawasan TNGM. Juga disepakati komunikasi, koordinasi dan kerjasama yang mantap dari semua dalam rangka upaya pengamanan dan perlindungan kawasan hutan TNGM. Selain itu, semua pihak juga berkewajiban memberikan sosialisasi dan pemahaman secara kontinyu dan berkesinambungan kepada masyarakat luas pada umumnya dan khususnya masyarakat di sekitar kawasan hutan TNGM akan pentingnya menjaga kelestarian kawasan hutan TNGM. Sedangkan permasalahan terkait kawasan yang diakibatkan perilaku manusia menjadi kewajiban bersama dan penanganannya secara simultan, terarah dan terkoordinasi antara seluruh pihak terkait. Adapun pembinaan terhadap tindak pelanggaran yang dilakukan di kawasan TNGM melibatkan para penegak hukum di tingkat kecamatan. Selain itu, perlu ada kerja sama penyelesaian kasus tindak pidana kehutanan sesuai wewenang dan Tupoksi masing-masing. Dari sisi masyarakat, perlu adanya peningkatan kapasitas anggota kelompok MMP dan mendorong peran serta masyarakat dalam pengamanan dan perlindungan hutan. Para anggota MMP turut mendukung dan berparsipasi aktif dalam setiap kegiatan pengamanan dan perlindungan hutan yang dilaksanakan oleh Balai TNGM. Koordinasi ini menjadi sisi penting pengelolaan kawasan TNGM bersama masyarakat sekitar, untuk masa sekarang maupun pengelolaan di masa yang akan datang. Sumber: BTN Gunung Merapi
Baca Berita

Peningkatan Nilai METT TN Sembilang

Palembang, 17 Oktober 2017. Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang (BTNBS) bekerjasama dengan Zoological Society of London (ZSL) sebagai mitra kerja BTNBS melalui Project Tiger GEF–UND menyelenggarakan penilaian METT kawasan TN Sembilang Tahun 2017 pada tanggal 16-17 Oktober 2017 di Emelia Hotel Palembang. Acara penilaian METT ini dihadiri oleh stakeholder terkait dalam pengelolaan kawasan TN Sembilang (Bappeda Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, Universitas Sriwijaya, BKSDA Sumatera Selatan, BPKH Wilayah II Palembang, ZSL, stakeholder terkait (PT. SHP, PT. TPJ, PT. RHM, PT. Raja Palma), Kepala Desa Karang Sari, Kepala Dusun Sembilang, Alan Rosehan (eks Sembilang) dan Nurhadi (eks sembilang). Acara penilaian secara resmi dibuka oleh Kepala Balai Taman Nasioanal Berbak dan Sembilang Ir. Pratono Puroso, MSc, dan dilanjutkan dengan penyampaian materi terkait METT oleh Rudijanta Nugraha sebagai NPM Tiger Project GEF-UNDP dan Wenda (Direktorat KK) sebagai Fasilitator penilaian METT. Sebelum melakukan penilaian, Kepala Balai dan Fasilitator menekankan agar tidak terjebak dengan nilai yang ingin dicapai tetapi lebih kepada proses penilaian dan mengidentifikasi ruang-ruang perbaikan pengelolaan . Penilaian METT dilakukan dengan metode FGD dimana setiap peserta merupakan narasumber yang memilki argumen, pengalaman dan pemahaman masing-masing untuk menentukan nilai. Pada tahun 2015 penilaian METT kawasan TN sembilang sebesar 62% sesuai dengan SK Dirjen KSDAE Nomor : 357//KSDAE-SET/2015 tanggal 31 Desember 2015, pada tahun 2017 dari hasil penilian METT kawasan TN Berbak dengan total penilian 61 dengan uraian konteks 100 %, perencanaan 78 %, input 67 %, Proses 61 %, output 17 % dan outcame 89 % dengan nilai akhir penilaian METT TN Sembilang tahun 2017 sebesar 66 %. Nilai tersebut meningkat sebesar 4 % dari nilai yang sebelumnya telah ditetapkan pada tahun 2015. Sumber : Balai TN Berbak dan Sembilang
Baca Berita

Makin Diminati, TN. Aketajawe Lolobata Jadi Pilihan Tempat Praktikum

Sofifi, 17 Oktober 2017. Tidak dipungkiri hasil dari kegiatan pameran maupun kegiatan lapangan yang dibagikan melalui media sosial ataupun pembuatan berita di website KSDAE menjadi bahan atau informasi penting bagi netizen khususnya kalangan akademisi untuk lebih mengenal Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Hari ini (16/10) Balai TNAL kembali menerima mahasiswa magang dari Fakultas Pertanian Jurusan Kehutanan, Universitas Khairun. Sebanyak 25 mahasiswa yang akan melaksanakan praktikum lapangan untuk mengaplikasikan ilmunya di bangku perkuliahan. Hari ini juga mereka langsung diberangkatkan ke Resort Tayawi, tentu saja setelah diberikan pembekalan oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha (KSBTU) Balai TNAL dan para perwakilan pegawai Fungsional. Jadwal magang mahasiswa tersebut terhitung sampai satu bulan. Menurut Ibu Lilian, sebagai KSBTU bahwa mahasiswa magang rencananya akan ditempatkan di beberapa Resort, yaitu Resort Tayawi, Resort Buli dan Resort Binagara. Sebelumnya sudah ada siswa magang dari SMK Kehutanan Manokwari, SMK Negeri II Halmahera Timur dan mahasiswa Universitas Halmahera (Uniera) yang masih menjalani program magang mereka. Beberapa diantaranya ditempatkan dilapangan. Oleh: Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Bimbingan Teknis Sertifikasi Kompetensi Pemandu Wisata Gunung Lingkup SPW II BTNGR

Sembalun -Lombok Timur NTB, 16 Oktober 2017. Setelah pelaksanaan bimtek pramuwisata di Senaru tanggal 14 Oktober 2017, kali ini pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) memfasilitasi pelaksanaan kegiatan bimtek pramuwisata yang ditujukan khusus untuk pemandu gunung yang menyediakan jasa pemanduan gunung di TN. Gunung Rinjani. Kegiatan ini merupakan salah satu persyaratan wajib yang harus diikuti oleh para pemandu gunung untuk mengikuti uji kopetensi/sertifikasi pemandu gunung tingkat Muda lingkup Balai TN. Gn.Rinjani. Pelaksanaan kegiatan ini didanai oleh Dinas Pariwisata Provinsi NTB. Peserta terdiri dari 100 orang pramuwisata/pemandu gunung dari 2 kabupaten Lombok Timur dan Lombok Tengah. Para pemandu gunung tersebut selama ini menyediakan jasa di jalur pendakian Sembalun, Timbanuh dan Aik Berik. Kegiatan ini berlangsung selama 2 (dua) hari (16 sd. 17 Oktober 2017). Pembukaan dihadiri oleh Kepala Balai TNGR, Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah II, ketua APGI, dan ketua Forum Citra Wisata Rinjani. Narasumber kegiatan ini adalah ; Kepala Balai TNGR dengan materi Manajemen Pendakian, Ketua forum citra wisata Rinjani dengan materi pelayanan berkarakter budaya, APGI dengan materi ruang lingkup profesi pemandu gunung dan profil APGI dan standar kompetensi pemandu wisata gunung indonesia (SKKNI), kegiatan dilakukan dengan metode ceramah, asistensi pengisian CV dan praktik pemanduan gunung. Kegiatan ini dibuka resmi oleh Kepala Balai TN. Gunung Rinjani DR. R. Agus Budi Santosa, S.Hut., M.T. dan ditutup oleh Kepala Resort Sembalun bpk. Zainuddin. Dalam sambutannya R.Agus Budi Santosa menyatakan bahwa kegiatan sertifikasi ini merupakan salah satu tahapan dalam role model TNGR dan kelanjutan dari pelatihan dasar Pemandu Gunung yang telah di lakukan TNGR, guna mewujudkan pendakian yang aman dan nyaman. Bapak R. Agus Budi Santosa menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal dalam menata para pemandu gunung yang merupakan ujung tombak kegiatan pendakian. Balai Taman Nasional tidak bisa sendiri melakukan perubahan guna mewujudkan pendakian yang aman dan nyaman, namun membutuhkan kerjasama dan peran berbagai pihak. Termasuk kegiatan bimtek ini yang didanai oleh Dinas Pariwisata NTB dan kegiatan uji kompetensi yang didanai oleh kementerian pariwisata. Balai TNGR sangat berbangga karena kementerian pariwisata memberikan kesempatan dan quota yang cukup besar yaitu 200 orang yang akan disertifikasi, dan ini merupakan kuota terbanyak yang dialokasikan Kementerian Pariwisata. Dipenghujung penyampaian materi kepala balai menitipkan sebuah pesan bahwa kedepan pengelolaan TN. Gunung Rinjani semakin berat dan memerlukan dukungan dari berbagai lapisan masyarakat salah satunya dari pelaku wisata terkhusus pemandu gunung ini. Sumber: BTN Gunung Rinjani
Baca Berita

Buaya Muara Sambangi Areal Persawahan di Kebumen

Semarang - Selasa, 17 Oktober 2017 sekitar Pukul 08.30 WIB RKW (Resort Konservasi Wilayah) Cilacap menerima laporan dari masyarakat bahwa ada kemunculan buaya di area persawahan yang memasuki wilayah Dusun Pagak, Desa Kedungwinangun, Kecamatan Klirong-Kabupaten Kebumen. Menurut informasi dari masyarakat melalui Bapak Solihin, Kepala Dusun Pagak dan Firman (warga dusun pagak), buaya memasuki areal persawahan akibat meluapnya Sungai Luk Ulo yg terjadi karena intensitas curah hujan yang tinggi dari hari Senin, 16 Oktober 2017 pagi sampai dengan Selasa Pagi tadi. Warga mengetahui kemunculan buaya kira-kira jam 05.30 wib hari ini. Mereka berusaha utk menangkap hidup-hidup satwa tersebut, namun terkendala dengan pengetahuan cara penanganan satwa dan peralatan yang terbatas. Sekitar satu jam setelah laporan diterima dari masyarakat diketahui satwa tersebut berhasil meloloskan diri ke parit yang berjarak kurang lebih 30 meter dari lokasi sawah. Adapun parit tersebut tersambung ke aliran Sungai Luk Ulo. BKSDA Jawa Tengah, Polres Kebumen, Polsek Klirong, BPH Wil. VII kebumen dan SAR Kebumen telah melakukan pengecekan ke lokasi. Upaya yang telah dilakukan oleh Balai KSDA Jawa Tengah adalah memberikan informasi kepada masyarakat terkait status buaya Muara yang sudah dilindungi Undang-undang, memberikan sosialisasi penanganan konflik manusia dan satwa agar semua bisa terselamatkan tidak ada kerugian/korban. Para petugas dilapangan juga memberikan himbauan agar warga masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menghindari perjumpaan secara langsung dengan satwa tersebut serta memberikan bantuan peralatan berupa jaring agar dapat dilakukan tindakan pertama untuk mengisolasi satwa sehingga memudahkan evakuasi. Sampai dengan berita ini diturunkan petugas dari RKW Cilacap masih terus melalukan upaya pemantauan di lapangan. Kontributor Lapangan: Rakhmat Hidayat, Polhut Balai KSDA Jateng
Baca Berita

Upaya Percepatan Penataan Kawasan Konservasi Di BKSDA Maluku

Ambon, 14 Oktober 2017. Upaya percepatan penataan kawasan konservasi lingkup Provinsi Maluku, Balai KSDA Maluku laksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) /Supervisi terkait penyusunan dokumen Blok Kawasan Konservasi. Bimtek tersebut terlaksana pada tanggal 12-13 Oktober 2017 di Kantor BKSDA Maluku yang dibuka oleh Kepala Balai KSDA Maluku serta dihadiri Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA Maluku, Kepala Seksi wilayah I BKSDA Maluku, Tim Penyusun Blok BKSDA Maluku serta Tim Bimtek dari Direktorat PIKA. Diharapkan dari kegiatan Bimbingan Teknis seperti ini maka penataan kawasan konservasi lingkup Provinsi Maluku secara khusus maupun seluruh Indonesia secara umumnya dapat terselesaikan semua di tahun 2018. Bimbingan Teknis /Supervisi ini dilakukan dengan metode rapat, presentasi dan diskusi. Ketua Tim Bimtek dari Direktorat PIKA (Sofyan Qudus HBD selaku Kepala Seksi Penataan KSA dan TB) menyampaikan materi Kriteria Zona Pengelolaan Taman Nasional dan Blok Pengelolaan Cagar Alam, Suaka Margsatwa , Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam yang kemudian dilanjutkan Tim Penyusun Blok Kawasan Konservasi BKSDA Maluku dengan materi Draft Dokumen Perbaikan Final Blok Suaka Margasatwa Kasa dan Blok Taman Wisata Alam Marsegu dilanjutkan dengan diskusi dan pembahasan. Hasil gelaran Bimbingan Teknis /Supervisi ini diperoleh hasil BKSDA Maluku tahun 2016 telah melaksanakan kegiatan penataan kawasan konservasi 2 Unit yaitu SM Tanimbar dan KSA Sungai Niff. Namun sejauh ini dokumen belum disampaikan kepada Direktorat Jenderal KSDAE cq Direktorat PIKA untuk diproses penilaian dan pengesahannya. Khusus penataan blok KSA Sungai Nif terkendala dalam proses pengesahannya karena belum ada aturan yang mengatur penilaian pada kawasan yang masih berfungsi belum jelas (KSA atau KPA). BKSDA Maluku kemudian merencanakan pada anggaran RKA-KL tahun 2018 kegiatan penataan kawasan konservasi yang salah satunya pada kawasan yang masih berfungsi belum jelas (KSA/KPA). Oleh karena itu, BKSDA Maluku akan merevisi usulan lokasi kegiatan penataan kawasan konservasi pada kawasan yang sudah jelas fungsinya seperti cagar alam, Suaka Margasatwa atau taman wisata alam. Dari data perkembangan penataan kawasan konservasi seluruh Indonesia, BKSDA Maluku memiliki progress penataan yang sangat kurang. Dari 29 kawasan, belum ada kawasan konservasi yang memiliki dokumen blok yang tersahkan. Untuk itu perlu dilakukan percepatan penataan blok kawasan konservasi di lingkup BKSDA Maluku. Hal ini mengingat adanya target percepatan Kebijakan Satu Peta yang menjadi tanggung jawab Ditjen KSDAE untuk memenuhinya sampai tahun 2018. Langkah-langkah percepatan yang akan dilakukan BKSDA Maluku guna menyelesaikan permasalahan penataan kawasan konservasinya dengan (1) Mengidentifikasi kawasan dengan luasan kecil, memiliki fungsi yang sama dan terkonsentrasi dalam satu hamparan atau pulau. Kemudian lokasi tersebut dijadikan target prioritas penataan kawasan konservasi dalam satu kegiatan ditahun 2018; (2) Mengumpulkan data–data dan informasi terkait kawasan konservasi di Maluku yang berasal dari hasil penelitian studi literatur; (4) Dokumen Blok Suaka Margasatwa Kasa dan Blok Taman Wisata Alam Marsegu dalam waktu dekat akan disampaikan kembali sebagai dokumen perbaikan final kepada Direktur Jenderal KSDAE cq Direktorat PIKA, dan selanjutnnya akan ditindak lanjuti dengan proses pengesahannya oleh Direktur Jenderal KSDAE; (5) Dokumen Blok SM Tanimbar akan disampaikan kepada Direktur Jenderal KSDAE cq Direktorat PIKA melalui Tim Bimtek dari Direktorat PIKA untuk diproses penilaian dan pembahasan. Sumber : Direktorat PIKA
Baca Berita

Monitoring Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea)

17 Oktober 2017. Untuk memantau kondisi populasi dan habitat burung Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatoa sulphurea sulphurea) yang merupakan salah satu spesies prioritas nasional di TN Rawa Aopa Watumohai (TNRAW), Balai TNRAW pada bulan Oktober 2017 ini melakukan kegiatan monitoring Kakatua Kecil Jambul Kuning (KKJK) di site monitoring yang berada di SPTN Wilayah II TN Rawa Aopa Watumohai. Metode yang digunakan menggunakan line transect (transek garis) dan metode titik hitung (Point Count), dengan waktu pengamatan pada pagi hari (pukul 05.00-10.00) dan sore hari (pukul 15.00-18.00). Dari hasil monitoring ini diharapkan tersedia data sebaran dan dugaan populasi KKJK serta data kondisi habitat, faktor pendukung dan ancaman KKJK. Sementara dugaan populasi KKJK di TN Rawa Aopa Watumohai sebanyak 18 s/d 20 ekor. Sumber : Balai TN Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Pulau Menjangan, dukungan dan cetusan harapan masyarakat pelaku wisata di Taman Nasional Bali Barat

Labuan Lalang, 16 Oktober 2017. Pengelolaan wisata di taman nasional bersama masyarakat merupakan keniscayaan. Keterlibatan para pelaku wisata yang merupakan representasi masyarakat dalam berbagai aktivitas pengelolaan wisata menjadi sangat penting. Untuk meningkatkan jalinan kebersamaan dan kesepahaman di antara pelaku wisata, Balai Taman Nasional Bali Barat mengadakan pertemuan dengan para pelaku wisata lingkup SPTN Wilayah III Labuan Lalang. Pertemuan dilaksanakan di Wantilan Labuan Lalang yang dihadiri oleh Perbekel (kepala desa) Sumberklampok, Ketua Badan Pengelola Labuan Lalang, Kepala SPTN Wilayah III Labuan Lalang, Kepala Resort Teluk Terima, Ketua Kelompok Nelayan Banyumandi, Perwakilan Syahbandar Labuan Lalang, Ketua Kelompok Subak Abian, perwakilan pengelola Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) serta pemandu wisata di Labuan Lalang dan Banyumandi. Pertemuan dibuka oleh Kepala SPTN Wilayah III Labuan Lalang, Hendra Gunawan. Dalam kesempatan tersebut, setiap pelaku wisata menyampaikan saran, masukan dan harapan terkait pengelolaan wisata Pulau Menjangan. I Wayan Sawitra Yasa, Perbekel Desa Sumberklampok, dalam kesempatan ini menyampaikan bahwa Desa Sumberklampok tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Taman Nasional Bali Barat. Masyarakat telah mendapat manfaat langsung dari adanya kegiatan wisata ke Pulau Menjangan, baik sebagai pemanduan, penyedia jasa perahu, maupun pedagang. Oleh karena itu, Wayan meminta agar keindahan bawah laut Pulau Menjangan tetap terjaga. Perlu upaya bersama dalam mengelola dan menjaga potensi pulau tersebut supaya manfaatnya dapat dinikmati secara berkelanjutan. Selanjutnya, Wayan juga menekankan perlunya peningkatan SDM masyarakat sebagai pelaku wisata, sehingga masyarakatnya tidak menjadi penonton di kampung sendiri. Sementara itu, Ketua Kelompok Nelayan Banyumandi, Nyoman Sandi, mengatakan dengan adanya kegiatan wisata ke Pulau Menjangan berdampak pada berubahnya perilaku nelayan di Banyumandi yang dulu biasa melakukan pengeboman ikan dan karang, sekarang mereka telah berhenti dan terlibat sebagai penyedia jasa perahu dan pemandu. Oleh karena itu, Sandi berharap Balai TNBB bersama para pelaku wisata terus meningkatkan upaya pengelolaan wisata ke Pulau Menjangan, seperti penyediaan sarana prasarana dan penanganan sampah. Salah satu pemandu wisata di Banyumandi, Heriyanto, bercerita bahwa sebelum menjadi pemandu, dia adalah pelaku ilegal fishing di perairan Pulau Menjangan. Berkat binaan dan pendampingan Balai TNBB, sekarang dia dan teman-temannya dapat mencari nafkah secara legal dan mendapat imbalan dari kegiatan pemanduan di Pulau Menjangan. Selain itu, Heri juga berjanji akan terus menjaga Pulau Menjangan dan berharap ke depan dapat menjadi mitra Balai TNBB yang lebih baik lagi. Menanggapi saran dan harapan para pelaku wisata, Kepala SPTN Wilayah III Labuan Lalang menyampaikan rasa terima kasih dan memohon dukungan para pelaku wisata untuk terus berpartisipasi aktif dalam pengelolaan wisata di Pulau Menjangan supaya lebih baik lagi. Selain itu, Hendra juga menekankan pentingnya keberadaan forum pelaku jasa wisata untuk memudahkan Balai TNBB dalam melakukan pembinaan dan pendampingan, baik secara teknis maupun administrasi. Sumber: BTN Bali Barat

Menampilkan 9.681–9.696 dari 11.141 publikasi