Minggu, 17 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Kembalinya 2 Ekor Beruang Madu Di Habitat Alami

Batang Hari, 27 Oktober 2017. BKSDA Jambi dan PT. WKS melakukan pelepasliaran 2 (dua) ekor Beruang madu (Helarctos malayanus) berjenis kelamin jantan dan berumur sekitar ±8 tahun ke habitat alaminya di kawasan lindung Distrik III PT. Wirakarya Sakti (PT. WKS) yang secara administratif terletak di Desa Kuap Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari pada tanggal 27 Oktober 2017. Turut hadir dalam pelepasliaran Distrik Manager PT. WKS, Kepala Seksi FSD, dan Kepala SKW III BKSDA Jambi. Kedua satwa tersebut merupakan satwa hasil konflik manusia dan satwa di desa penyangga PT. WKS. Sebelum dilakukan pelepasliaran kedua beruang tersebut dirawat oleh PT. WKS dan telah dilakukan treatment seperti; pemberian pakan buah, ikan hidup, dan madu,; Mengurangi kontak dengan manusia, dengan cara menjauhkan kandang dari lingkungan manusia, dan Memberikan enrichmen berupa kayu-kayuan untuk melatih kuku dan gigi, sehingga beruang tersebut dapat bertahan di habitat alaminya. Selain itu, sebelum dilepasliarkan, juga telah dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Tanjung Jabung Barat dan keduanya dinyatakan sehat serta tidak menunjukkan tanda klinis penyakit hewan. Kepala SKW III BKSDA Jambi mengatakan bahwa “Pelepasliaran beruang madu dilakukan dengan metode soft release, yakni pelepasliaran yang dilakukan secara bertahap”. Sebelum dilepasliarakan satwa tersebut dikandangkan dan diberi makan hingga satwa tersebut terbiasa dengan kondisi lingkungannya. Setelah dilepasliarkan satwa tersebut masih diberi dukungan berupa makanan tambahan yang dikurangi secara bertahap. Lokasi pelepasliaran merupakan kawasan lindung PT. WKS dengan luas ±300 ha dengan lanskap memanjang diantara tanaman eucalyptus spp. Lokasi pelepasliaran juga berada di tepi sungai dengan potensi ikan cukup melimpah ditambah berbagai jenis pohon cukup besar yang memiliki potensi pakan relatif tinggi. Tingkat variasi jenis pohon ini penting sebagai tempat untuk beruang tersebut bersarang. Kondisi vegetasi area pelepasliaran juga harus memiliki tutupan vegetasi yang rapat yang dibutuhkan oleh beruang madu sebagai shelter. Terdapat pula potensi adanya serangga pada beberapa kayu pohon tumbang yang sudah lapuk. Lokasi pelepasliaran juga jauh dari pemukiman masyarakat, camp distrik, dan kontraktor PT. WKS serta tidak ada aktifitas produksi dalam waktu dekat di sekitarnya. Kembalinya 2 (dua) ekor beruang madu di habitat alaminya ini diharapkan dapat meningkatkan populasi satwa tersebut di alam dan kelestariannya dapat terus terjaga. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Peningkatan Kapasitas Masyarakat Desa Muara Danau, Balai TN Bukit Tiga Puluh Adakan Pelatihan Budidaya Ternak Sapi

Tanjung Jabung Barat, 26 Oktober 2017. Guna peningkatan kapasitas kelompok masyarakat di desa penyangga kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT), maka Balai TNBT laksanakan pelatihan peningkatan kapasitas kelompok masyarakat di salah satu desa binaan TNBT, Desa Muara Danau Kec. Renah Mendaluh Kab. Tanjung Jabung Barat Jambi. Kegiatan dilaksanakan selama 3 hari pada tanggal 23 s.d 25 Oktober 2017 di Balai Desa Muara Danau dengan sasaran kegiatan Kelompok Tani Sinar Mandiri. Kegiatan dilaksanakan sebagai upaya dalam meningkatkan kapasitas masyarakat khususnya Kelompok Tani Sinar Mandiri dalam budidaya ternak sapi. Dinas Perkebunan dan Peternakan Kab. Tanjung Jabung Barat (Kepala Bidang Peternakan, Kepala UPTD Keswan dan IB Pelabuhan Dagang , staff Inseminasi Buatan (IB) dan dokter hewan), Penyuluh Pertanian dan praktisi peternak sapi sebagai narasumber pelatihan ini. Adapun materi yang disampaikan adalah Pengenalan Inseminasi Buatan (IB) dan Pemilihan Bibit, Pengenalan dan Pencegahan Penyakit pada Ternak Sapi, Analisa Usaha Ternak Sapi dan Perkandangan, Motivasi dan peningkatan SDM Kelompok, Managemen Pakan Ternak, Pemanfaatan Limbah Ternak, Praktek Pembuatan Pakan (Silase), Praktek Pembuatan Kompos. Setelah pelaksanaan pelatihan ini dilanjutkan serah terima sapi sebanyak 4 ekor kepada Kelompok Tani Hutan Sinar Mandiri. Dengan adanya pelatihan maka diharapkan KTH Sinar Mandiri mampu menjalankan budidaya ternak sapi sampai berkembang dan mampu memproduksi pupuk kompos yang berasal dari limbah ternak. Tidak hanya itu juga KTH Sinar Mandiri dapat lebih kreatif dalam mengembangkan usaha lainnya sehingga dapat meningkatkan perekonomiannya. Penyuluh Kehutanan TNBT SPTN Wilayah I Tebo Tengah selalu mendampingi kelompok agar dapat terus berkembang dan dapat mandiri dalam mengembangkan usaha – usahanya. Sumber : Balai TN Bukit Tiga Puluh
Baca Berita

BKSDA Sulteng Ajarkan “Bersatu” Dalam Pelestarian Hutan & Lingkungan di Kemah Konservasi

Palu, 28 Oktober 2017. Memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2017 dengan tema Berani Bersatu, Balai KSDA Sulawesi Tengah (Sulteng) menyelenggarakan kegiatan kemah konservasi mulai tanggal 27 - 29 Oktober 2017 di Desa Balukang II kec. Sojol Kab. Donggala Sulawesi Tengah. Sebanyak 89 orang peserta ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, yang berasal dari SMA/SMK di Kecamatan Sojol/Sojol Utara, Pramuka Saka Wana Bakti Palu dan FK3I Sulawesi Tengah. Kegiatan kemah konservasi diisi dengan pemberian materi konservasi oleh Balai KSDA Sulteng dan materi hidup sehat yang disampaikan oleh tenaga kesehatan, senam pagi bersama, games/outbound, pemutaran film konservasi, dan bakti penghijauan/penanaman tanaman kehutanan. Melalui kegiatan ini diharapkan pesan-pesan konservasi dapat tersampaikan kepada masyarakat dan generasi muda lainnya bisa “bersatu” dalam pelestarian hutan dan lingkungan. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Menggantung Asa di Test CPNS 2017

Medan, 26 Oktober 2017. Panas terik yang menyengat, sedikitpun tidak menyurutkan semangat peserta Test CPNS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Tahun 2017. Mereka rela menunggu antrian dibawa tenda yang biasa digunakan oleh pasukan TNI, untuk dapat diregistrasi dan mengikuti ujian. Test CPNS yang berlangsung selama 2 (dua) hari, Selasa dan Rabu (24 s.d 25 Oktober 2017) dilaksanakan di Markas Komando Distrik Militer (Kodam) I Bukit Barisan, Jln. Jend. Gatot Subroto Medan. Test hari pertama, dipantau langsung oleh Kepala Biro Kepegawaian (Biropeg) Kementerian LHK, Ir. Erni Mayani, MM. didampingi Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. Dalam arahannya kepada Panitia, Kepala Biro Kepegawaian menyampaikan bahwa tahun 2017 ini, Kementerian LHK membuka penerimaan CPNS untuk formasi sebanyak 700 orang, dalam 3 kategori jabatan, yaitu Fungsional Polisi Kehutanan (Polhut), Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) dan Fungsional Pengawas Lingkungan. “Yang mendaftar jumlahnya mencapai 23.000 orang, dan yang memenuhi syarat administrasi sekitar 13.000 orang. Khusus di Medan, yang mengikuti test terdaftar sebanyak 1.806 orang,” ujar Erni menjelaskan tingginya antusiasme warga untuk mengikuti test. Selanjutnya, Karo Kepegawaian, menjelaskan bahwa penerimaan tahun ini dikhususkan untuk tingkat pendidikan Sarjana (S1) dan Diploma (D3). Ada 2 (dua) tahapan test yang akan dilaksanakan, yaitu Seleksi Kemampuan Dasar (yang sedang dilakukan), dan bagi yang lulus nantinya akan mengikuti Test Kompertensi Bidang (meliputi psikotest, kesamaptaan serta pengetahuan umum dan pengetahuan dibidang LHK). “Mengingat pentingnya kegiatan dua hari ini, saya berharap agar bapak/ibu panitia dapat bekerja dengan penuh dedikasi dan ikhlas. Jadikan pekerjaan ini sebagai amal ibadah kita,” ujar Erni menyemangati panitia. Sementara itu, Panitia dari Biro Kepegawaian Kementerian LHK, Didy Djunaedi, S.Hut., menambahkan, bahwa pelaksanaan tes CPNS ini dilakukan di 5 kota di Indonesia, yaitu : Jakarta, Surabaya, Banjar Baru, Medan, Makasar dan Jayapura. Sistim seleksi CPNS yang dilakukan sekarang ini secara Nasional dengan menggunakan Computer Asisted Test (CAD) oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN). Pelaksanaan tes selama dua hari berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan dan gangguan yang berarti. Peserta sangat antusias mengikutinya. Ada wajah yang sumringah dengan senyum, setelah mengetahui hasil kelulusan, sementara sebagian lagi sedikit lesuh karena dinyatakan gagal (tidak lulus). Besar harapan hasil test tahun ini akan mendapatkan calon-calon Aparatu Sipil Negara (ASN) Kementerian LHK yang berdedikasi dan berkualitas menuju kepada Kementerian LHK yang lebih baik dikemudian hari, semoga…. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Inilah Ilmu Baru Dalam Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan di Kawasan Hutan

Bogor, 26 Oktober 2017. Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) dalam hal ini Sub Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Panas Bumi dan Karbon melaksanakan kegiatan Focus Grup Discussion (FGD) Pemanfaatan Jasa Lingkungan dengan tema Pemanfaatan Energi Angin dan Panas Matahari di Hutan Konservasi bertempat di Sahira Butik Hotel Bogor. Untuk memperoleh informasi secara detail dan lengkap bagaimana proses pemanfaatan energi angin dan energi panas matahari sebagai bahan dalam menyusun regulasi pelaksanaan pemanfaatan jasa lingkungan angin dan panas matahari di hutan konservasi menjadi tujuan utama FGD ini. Kegiatan ini dibuka oleh Ir. Listya Kusumawardhani, M.Sc selaku Plt. Direktur PJLHK dan dihadiri 20 orang peserta terdiri dari Direktorat PIKA, Balai Besar KSDA Jawa Barat, Balai KSDA NTB dan Kepala Sub Direktorat dan Kepala Seksi lingkup Direktorat PJLHK. Adapun Narasumber pada FGD ini adalah Tony Subandia, ST, MBA (Direktorat Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM) dan Dr.Ing. Oo Abdul Rosyid, M.Sc (Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE)-BPPT). Dalam arahannya, Ir. Listya Kusumawardhani, M.Sc menyampaikan FGD ini sangat menarik karena materi yang disampaikan nantinya akan menjadi ilmu baru bagi peserta yang selama ini bekerja dibidang kehutanan. Direktorat Jenderal KSDAE sangat mendukung program pemerintah dalam pemanfaatan energi baru terbarukan di kawasan hutan, dimana dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 jo Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Kawasan Pelestarian Alam dan Kawasan Suaka Alam menyebutkan pemanfaatan jasa lingkungan terkait Energi Baru Terbarukan (EBT) terdiri dari pemanfaatan energi air, panas matahari, angin, dan panas bumi untuk memenuhi kebutuhan listrik. Tony Subandia, ST, MBA dalam materinya menyebutkan bahwa potensi EBT yang terdiri dari air, surya, angin, panas bumi, bioenergi serta laut tersebar diseluruh wilayah Indonesia dengan nilai potensi mencapai 441,7 Gw dan yang baru dimanfaatkan sebesar 8,89 GW (2% dari potensi). Energi angin dan surya menjadi pilihan sumber energi yang tepat untuk mempercepat akses masyarakat terhadap listrik yang dimana sampai September Tahun 2017 rasio elektrifikasi baru mencapai 93,08 %. Dalam kerangka perubahan iklim, pemanfaatan energi baru terbarukan sebagai energi bersih menjadi trend dunia karena berpotensi menurunkan emisi GRK. Menurut Dr.Ing. Oo Abdul Rosyid, M.Sc, hutan mampu memasok sumber energi terbarukan (matahari, angin, dll) untuk kebutuhan manusia. Namun, sumber energi terbarukan tersebut belum banyak dimanfaatkan dikarenakan masih menghadap beberapa masalah, diantaranya regulasi yang tumpang tindih, biaya yang mahal dan penerapan teknologi yang kurang maksimal. Kebutuhan lahan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan menggunakan sistem Photovoltaic (PV) berkisar antara 1 - 4 Ha/MW dan untuk sistem Solar Thermal Power (STP) antara 2 - 7 Ha/ MW, sedangkan Lahan yang diperlukan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) sekitar 0,3-0,6 Ha / MW. “Mengingat besarnya potensi pengembangan energi terbarukan untuk kelistrikan di hutan, maka perlu dibuat suatu kebijakan pemanfaatan energi terbarukan dalam implementasi penyediaan energi listrik di hutan ini yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati” tambahnya. Sumber : Direktorat PJLHK
Baca Berita

Sosok Bulan Ini: Mahroji, Pemandu Lokal Rasa Internasional

Sofifi, 27 Oktober 2017. Bagi masyarakat biasa, Mahroji memang tidak setenar tokoh-tokoh dalam dunia hiburan. Tetapi bagi beberapa peneliti dan wisatawan lokal maupun asing, nama Mahroji menjadi andalan dalam urusan penelitian dan pemanduan. Bahkan bagi sebagian sopir mobil penumpang di jalur lintas Halmahera Timur nama tersebut tidak asing. Bapak tiga anak ini telah tertarik dengan konservasi dan keanekaragaman hayati saat lembaga Burung Indonesia masih memiliki program di Halmahera. Dan sering diajak dalam melakukan kegiatan monitoring kawasan. Sekitar tahun 2009, Pak Roji, panggilan akrab Mahroji, ikut dalam kegiatan inventarisasi tumbuhan bersama Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Karena ketertarikan dan keingintahuan yang kuat dalam pengenalan jenis, Pak Roji terus belajar dan mendalami ilmu tersebut. Terbukti sekitar tahun 2011 Pak Roji mulai diajak oleh peneliti dari Amerika untuk meneliti pakan Julang Irian melalui biji-bijian yang terdapat kotoran burung tersebut. Pak Roji juga pernah dikontrak oleh salah satu perusahaan tambang untuk membantu melakukan inventarisasi flora dan fauna pada area konsesinya. “Saya bersyukur selama saya bekerja di tambang bisa belajar banyak dari peneliti-peneliti asing yang ahli dibidang anggrek, pohon dan burung, dan saya akan terus belajar”, ucap Pak Roji. Mahroji berasal dari keluarga transmigrasi di desa Ake Jawi, kecamatan Wasile Selatan, kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara. Menikah dengan masyarakat asli Maluku Utara. Tempat tinggalnya sangat sederhana. Berada paling ujung didesanya, tanpa sambungan listrik, hanya generator yang menjadi alat penerangannya. Di rumah itulah Pak Roji menyambut tamu untuk melakukan pemanduan. Sebelum mencintai konservasi, Pak Roji berprofesi sebagai penebang kayu. Entah sudah berapa banyak pohon yang ditebang untuk kehidupan sehari-hari. “Dulu saya juga seorang penyensow (penebang), bahkan dengan mata tertutup saya bisa tahu bagian-bagian mesin chain saw”, kenang Pak Roji. Kemampuan Mahroji yang unik dan komplit, menjadi daya tarik bagi peneliti, konsultan, wisatawan lokal dan asing untuk menggunakan jasanya sebagai pemandu. Bahkan Fotografer terkenal seperti Riza Marlon juga sangat dekat dengan Pak Roji karena sudah beberapa kali berkunjung ke TNAL. Pak Roji memiliki kemampuan identivikasi flora dan fauna, penguasaan kawasan taman nasional, Bahasa Inggris dan bahasa lokal yang sangat baik. Hampir seluruh jenis pohon, anggrek, tanaman obat, ular dan jenis burung telah dihafal diluar kepala. Hampir setiap bulan Mahroji menerima tamu dari travel ataupun permintaan langsung dari wisatawan untuk melakukan pemanduan wisata, terutama pengamatan burung di Taman Nasional Aketajawe Lolobata di Resort Binagara, desa Ake Jawi. Setiap kali tamunya datang, pak Roji selalu mengajak untuk menyempatkan berkunjung ke desa Ake Jawi dengan melihat berbagai potensi jenis burung. Semua tamunya merasa puas dengan pemanduan dan pelayanan dari Pak Roji. “Seharusnya desa (Ake Jawi) bisa menciptakan Mahroji-Mahroji yang lain, agar pemanduan wisata di desa bisa lebih berkembang”, harapan Sekretaris desa Ake Jawi. Saat ini Mahroji dan beberapa anggota masyarakat desa Ake Jawi telah membentuk kelompok wisata alam “Totango” yang dikukuhkan dengan SK Kepala Balai TNAL. Oleh : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Pembahasan Daya Dukung Daya Tampung UPT KLHK Wilayah Nusa Tenggara

Bali, 26 Oktober 2017. Pertemuan Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup (DDDT LH) Kawasan Konservasi dihadiri oleh perwakilan UPT KLHK wilayah Bali Nusra diantaranya BBKSDA NTT, BKSDA NTB, BKSDA BALI, BTN GUNUNG RINJANI, BTN BALI BARAT, BTN GUNUNG TAMBORA dan BTN KELIMUTU. Pertemuan ini merupakan lanjutan dari kegiatan FGD penyusun DDDT LH Kawasan Konservasi yang dilaksanakan oleh P3E pada tanggal 23 Mei 2017 di ruang Aula Balai TNGR. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat P3E Bali Nusra membahas tentang upaya meminimalkan dampak negatif dari kegiatan wisata dalam kawasan konservasi serta perlunya dilakukan penyusunan DDDT LH di kawasan konservasi dalam rangka meningkatkan kenyamanan pengunjung. Penyusunan DDDT LH memberlakukan prioritas pada UPT KLHK untuk wilayah Bali Nusra, untuk tahun 2017 yang menjadi prioritas adalah Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Untuk penghitungan DDDT LH agar sesuai dengan yg diharapkan oleh TNGR dimana nilai yangg dihasilkan menjadi perorang perhari maka penghitungn DDDT dilakukan dengan memadukan pendekatan jasa ekosistem dan Metode IUCN (PCC, RCC dan ECC). Namun karena adanya keterbatasan waktu dan anggaran yg dimiliki P3E maka fokus ditahun 2017 adalah membuat desain dokumen DDDT LH TNGR oleh Pipin Sadikin sbg tenaga ahli sekaligus yg membantu dalam melakukan analisis dan pengumpulan data serta informasi yg dibutuhkan oleh staf TNGR. Diharapkan draft DDDT LH TNGR selesai pada awal tahun 2018 dan P3E akan memfasilitasi pertemuan lanjutan utk membahas draft tersebut ditahun 2018. Sumber : Balai TN Gunung Rinjani
Baca Berita

Konsultasi Publik Penyusunan Master Plan Pemberdayaan Masyarakat Balai TN Gunung Merapi

Yogyakarta, 26 Oktober 2017. Kegiatan pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu wujud implementasi rencana pengelolaan TN Gunung Merapi terhadap desa penyangga (30 desa yang berbatasan dengan kawasan TN Gunung Merapi). Agar pelaksanaannya dapat tepat sasaran maka dilakukan secara terarah dan terprogram, oleh karena itu perlu disusun rencana kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam jangka waktu tertentu dalam bentuk master plan/ rencana induk pemberdayaan masyarakat di kawasan TN Gunung Merapi. Master Plan Pemberdayaan Masyarakat merupakan kerangka perencanaan yang komprehensif terkait penyelenggaraan dan pengembangan pemberdayaan masyarakat yang terintegrasi dengan rencana pengelolaan TN Gunung Merapi dan rencana makro lainnya. Tujuan penyusunan Master Plan Pemberdayaan Masyarakat adalah merumuskan kebijakan strategis dalam penyelenggaraan dan pengembangan pemberdayaan masyarakat daerah penyangga selama periode waktu tertentu (10 tahun). Penyusunan Master Plan Pemberdayaan Masyarakat dilakukan bersama dengan Yayasan JAVLEC Indonesia, dalam pelaksanaannya terdapat beberapa tahapan mulai dari explore data, analisis hingga penyusunan dokumen serta penilaian dan pengesahan. Dokumen yang tersusun inilah yang kemudian dikonsultasikan kepada masyarakat dan stakeholder terkait guna memperoleh tanggapan penyempurnaan yang partisipatif sehingga melahirkan hasil akhir rencana yang tepat sasaran dengan pelibatan multipihak. Kegiatan konsultasi publik tanggal 26 Oktober 2017 dilaksanakan di Hotel Cakra Kusuma Yogyakarta, dan diikuti oleh sebanyak 50 orang yang terdiri atas stakeholder dan masyarakat dari kabupaten Sleman dan Magelang, sedangkan untuk wilayah Kabupaten Boyolali dan Klaten akan dilaksanakan pada tanggal 6 November 2017. Dalam kesempatan kali ini, bertindak sebagai narasumber adalah dari Pusat Penyuluhan BP2SDM; Fakultas Kehutanan UGM serta yayasan JAVLEC Indonesia. Sedangkan output dari konsultasi publik in adalah keterlibatan multipihak melalui berita acara atau kesepakatan. Sumber : Balai TN Gunung Merapi
Baca Berita

Jagawana BBTN Kerinci Seblat Terima Penghargaan Dirjen KSDAE

Jakarta, 26 Oktober 2017, Bertempat di Ruang Rapat Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Direktur Jenderal KSDAE, Wiratno, memberikan penghargaan atas kerja keras, konsisten dan pengabdiannya dalam penegakan hukum peredaran satwa liar dilindungi Undang-Undang di Wilayah kerja Taman Nasional Kerinci Seblat periode Tahun 2000-2017 kepada petugas Polhut Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, Nurhamidi. Nurhamidi merupakan koordinator program Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat (PHSKS) wilayah Bengkulu. Selama bertugas, nurhamidi telah 18 kali memimpin operasi PHSKS dan telah menangkap 54 orang pelaku perburuan dan 33 barang bukti kulit harimau sumatera. Pengalaman yang paling berkesan bagi Nurhamidi yaitu ketika menyelamatkan harimau dara yang terkena jerat yang jaraknya memakan waktu 2 hari perjalanan hingga sampai membuat kandang darurat untuk menyelamatkan harimau tersebut dan sampai sekarang harimau tersebut sudah memiliki 3 keturunan di Taman Safari dan itu membuat kebahagiaan bagi Nurhamidi. “kebahagiaan itu menyelamatkan harimau daripada menangkap pemburu harimau yang sudah mati” tutur Nurhamidi. Pada akhir acara tersebut Dirjen KSDAE menambahkan “Saya akan memberikan penghargaan kepada semua staf KSDAE, mitra dan masyarakat yang membantu membangun spirit kerja di lapangan “ tambahnya. Sumber: Setditjen KSDAE
Baca Berita

Mereka Kini Telah Kembali ke Habitatnya

Pekanbaru, 25 Oktober 2017. Pelepasliaran Trenggiling (manis javanica) sebanyak 96 ekor di kawasan konservasi SM Bukit Rimbang Bukit Baling dilakukan oleh Balai Besar KSDA Riau bersama dengan Seksi Wilayah II Balai Pengamanan dan Penegakkan Hukum Wilayah Sumatera dan TNI AL Dumai tanggal 25 Oktober 2017. Trenggiling berasal dari penangkapan Tim LANAL Dumai di perairan Bukit Batu, Kab. Bengkalis Provinsi Riau di atas kapal Dong Feng 16. Berdasarkan pengakuan dua pelaku mereka akan bertemu dengan penjemput di titik koordinat tertentu di lautan. Dua orang pelaku inisial B tempat lahir Belitung Tahun 1997 dan inisial A tempat lahir Bantan Tengah Kab. Bengkalis Tahun 1992. Jumlah keseluruhan dari trenggiling tersebut adalah seratus satu ekor dengan berat sekitar 501 kg dan nilai jual diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Pelepasliaran dilakukan setelah sebelumnya dilakukan serah terima dari Pasops Lanal Dumai ke Balai Besar KSDA Riau dan dari Balai Besar KSDA Riau menyerahkan pelimpahan perkara pidana ke Seksi Wilayah II Balai Gakkum Wil Sumatera. Terhadap 4 satwa yang mati dilakukan pembakaran di halaman kantor Balai Besar KSDA Riau oleh penyidik dengan disaksikan Kepala Balai Besar KSDA Riau, Kepala Seksi Wilayah II Balai Gakkum Wilayah Sumatera serta para awak media. Satwa trenggiling yang masih hidup sebanyak 97 ekor, 1 ekor diamankan sebagai barang bukti dan 96 ekor dilepasliarkan di SM Bukit Rimbang Bukit Baling. Kepala Balai Besar KSDA Riau sangat mengapresiasi dan memberikan penghargaan yang setingi-tingginya kepada TNI AL Dumai dan masyarakat yang turut serta dalam penangkapan satwa ileggal trenggiling serta mengharapkan peran serta instansi maupun pihak lain dalam pemberantasan illegal satwa dan tumbuhan di Propinsi Riau. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Keseruan Tim Patrolii TN. Aketajawe Lolobata Dalam Menjaga Kawasan

Sofifi, 27 Oktober 2017. Kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) yang terbagi menjadi 2 (dua) blok, yaitu Blok Aketajawe dan Blok Lolobata menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan kawasan. Kedua Blok tersebut memiliki karakter kawasan yang berbeda, salah satunya adalah akses. Pada Blok Aketajawe, akses kawasan relatif lebih mudah daripada Blok Lolobata sehingga metode pendekatannya berbeda. Polisi Kehutanan (Polhut) TNAL kemarin (26/10) telah selesai melaksanakan Patrolii rutin kawasan di Blok Aketajawe. Tim melakukan pengecekan area bekas Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) di dalam kawasan. Sepanjang perjalanan, tim patroli menyusuri lebatnya hutan Halmahera dan menikmati pemandangan dari puncak bukit. Setelah berada dilokasi patroli, tim sudah tidak menemukan aktivitas penambangan. Hanya saja terdapat satu pondok yang ditengarai sesekali masih ditempati. Tim juga menemukan pohon cengkeh yang telah ditanam anggota penambang beberapa tahun lalu. “Patrolinya seru, karena bisa menikmati keindahan kawasan dari ketinggian”, kata Pankratius Ajo Wajor Balun, Anggota Polhut TNAL. Dikhawatirkan meluas menjadi perkebunan, Ajo merekomendasikan agar area tersebut tetap dipantau karena terdapat tanaman yang menghasilkan, yaitu cengkeh. Dalam waktu yang bersamaan pegawai TNAL yang ditempatkan di SPTN Wilayah III Subaim, Halmahera Timur juga melaksanakan kegiatan anjangsana di desa-desa sekitar Blok Lolobata. Tim SPTN III melakukan diskusi, sosialisasi dan mencari informasi terkait kegiatan masyarakat pada kawasan hutan yang berada dibelakan desa mereka. Beberapa desa memiliki potensi wisata yang unik, antara lain wisata pengamatan burung Bidadari Halmahera yang telah memiliki jumlah pengunjung rata-rata 80-100 wisatawan asing dalam satu bulan, wisata pantai dan potensi pertanian. Desa lainnya juga memiliki gangguan kawasan hutan yang disebabkan oleh penambangan emas liar. Tentu saja tim anjangsana disuguhi minuman dan jajanan lokal oleh kepala desa setempat. Tak lupa tim anjangsana juga menyempatkan untuk berwisata sambil mencari informasi. Oleh : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Kronologis Kematian Gajah, BBKSDA Sumut Adakan Konferensi Pers

Medan, 25 Oktober 2017. Berkenaan dengan kematian seekor bayi Gajah di Dusun Sumber Waras Desa Sei Serdang, Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat, Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser melakukan konferensi pers, pada Rabu, 25 Oktober 2017, di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Dihadapan jurnalis/wartawan dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik, Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Tri Atmojo, S.Hut., MT., didampingi Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Joko Iswanto, SP., Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Balai Besar KSDA Sumut, Amenson Girsang, SP., Plt. Kepala Sub Bagian Data, Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Alfianto Siregar, S.Hut., MT., M.PP, dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Okto Manik, S.Sos., menyampaikan kronologis peristiwa kematian bayi gajah tersebut. Bermula dari laporan Kepala Dusun Sumber Waras kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara, bahwa pada Selasa, 17 Oktober 2017, sekawanan gajah liar yang berjumlah sekitar 7 s.d 12 ekor, merusak 5 bangunan rumah warga serta beberapa tanaman yang tumbuh disekitarnya. Atas laporan tersebut Tim konflik satwa yang merupakan gabungan dari petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), Wildlife Conservation Society (WCS) dan Conservation Response Unit (CRU) Tangkahan, melakukan penegecekan ke lokasi. Pada Sabtu, 21 Oktober 2017, siang, Tim menemukan bayi gajah dalam keadaan mati di batas kawasan dengan posisi terperosok setengah badan, dimana keempat kaki berada (terkubur) didalam tanah, sedangkan bagian punggung dan kepala saja yang tersisa. Tim tidak dapat melakukan evakuasi, karena faktor keamanan mengingat kawanan gajah berada disekitar bangkai bayi gajah tersebut (radius 200 meter). Keesokan harinya, Minggu, 22 Oktober 2017, rombongan gajah masih berada disekitar lokasi, dan untuk menghindari konflik, Tim kemudian menguburnya dengan menimbun tanah dan segera meninggalkan lokasi. Dusun Sumber Waras, dihuni oleh 20 Kepala Keluarga, yang seluruhnya bekerja di perkebunan kelapa sawit milik PT. Mutiara. Jarak dusun dengan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser ± 1 km. Kawanan gajah memang rutin melewati areal tersebut setiap 3 bulan sekali, dan masyarakat sudah terbiasa dengan kehadirannya. Konflik nyaris tidak pernah terjadi. Mengamuknya gajah diindikasikan (diduga) sebagai pemberitahuan kepada warga adanya peristiwa yang menimpa kelompok gajah tersebut. “Kita menghimbau kepada masyarakat setempat, bila gajah-gajah tersebut kembali datang, agar jangan melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan warga maupun gajah. Segera informasikan ke petugas kami, baik Balai Besar KSDA Sumatera Utara maupun Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, untuk segera diambil tindakan,” ujar Atmojo mengakhiri penjelasannya. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Pelatihan Penanganan Satwa Liar Bagi Petugas Balai TN Gn. Halimun Salak

Bogor, 27 Oktober 2017. Bertempat di Suaka Elang, Balai TN Gunung Halimun Salak (TNGHS) melaksanakan Pelatihan Penanganan Satwa Liar bagi petugas lapangan. Salah satu fasilitas rehabilitasi burung elang yang berlokasi di Kampung Loji, Kecamatan Cigombong, Bogor. Kegiatan ini terlaksana melalui kerjasama dengan PT. Antam Tbk. Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, Suaka Elang kerap menerima satwa serahan dari masyarakat. Merespon perkembangan positif ini, Halimun Salak dituntut memahami teknik penanganan satwa tersebut, fokus pelatihan ini adalah menangani satwa khususnya jenis raptor. Dian Tresno Wikanti, dokter hewan dari Pusat Konservasi Elang Kamojang menjadi narasumber pada pelatihan yang dilaksanakan selama tiga hari pada akhir Oktober 2017 ini. Materi yang disampaikan tidak hanya berupa teori, namun juga langsung dilakukan praktek terhadap satwa aves. Beberapa materi yang disampaikan antara lain SOP terhadap elang yang baru masuk, menangani kesehatan elang, serta menangani satwa dalam masa karantina. Setelah pelatihan ini, Halimun Salak dipastikan lebih siap menangani setiap satwa yang diterima baik hasil sitaan maupun serahan masyarakat. Bravo KSDAE. Sumber : Balai TN Gunung Halimun Salak Foto: @mercusiana @seva_nazar
Baca Berita

Bermain Bersama di SD Citorek dan SD Mekarnangka

Sukabumi, 27 Oktober 2017. Salah satu agenda rutin Taman Nasional Gunung Halimun Salak adalah kampanye konservasi bagi pelajar dan generasi muda melalui pendidikan lingkungan. Sasaran utamanya para pelajar sejak usia dini hingga mahasiswa. Akhir oktober 2017 ini kami mendapat kesempatan berkunjung ke dua sekolah dasar di Kabupaten Lebak dan Sukabumi. SD Citorek Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak dan SD Mekarnangka Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi. Dengan tujuan memperkenalkan konservasi sejak usia kanak-kanak, maka pendekatan yang dilakukan berbeda dibandingkan kepada peserta dengan usia lebih dewasa. Disini kami bermain dan tertawa besama dengan mereka, sejenak kembali menjadi anak-anak Materi disampaikan melalui pemutaran film bertema konservasi serta beberapa permainan kelompok. Dengan cara ini, pesan pentingnya menjaga hutan dengan segala sumber daya alamnya diharapkan dapat lebih mudah dicerna dan diingat oleh peserta. Selanjutnya mereka dapat menjadi pribadi yang mampu menyampaikan pesan tersebut kepada lingkungan sekitarnya. Sumber : Balai TN Gunung Halimun Salak
Baca Berita

Bersama Siswa Magang, Kepala SPTN III TN Aketajawe Lakukan Penanaman

Sofifi, 26 Oktober 2017. Area bekas kebakaran di Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) tepatnya di Resort Binagara desa Ake Jawi, Halmahera Timur tadi pagi (26/10) kembali ditanami pohon berkayu. Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Kepala SPTN Wilayah III Subaim pada saat siswa magang dari SMK Kehutanan Manokwari akan melakukan pergantian lokasi praktikum esok hari (27/10). Sebanyak 50 bibit telah ditanam di sebagian area bekas kebakaran disekitar sungai Totango. Hal ini dilakukan selain untuk memulihkan kembali area tersebut secara perlahan, juga untuk menjaga badan sungai agar tidak erosi dan semakin melebar, sesuai dengan kutipan Pak Junes, Kepala SPTN III. “Kami sangat senang dengan penanaman ini, karena kami ikut serta dalam menghijaukan kembali area taman nasional dan akan kami jadikan bahan laporan magang”, ungkap Charliene, salah satu siswa magang. Oleh : Akhmad David Kurnia Putra Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

BBKSDA Riau Terima Ratusan Ekor Trenggilling Hasil Tangkapan Tim LANAL Dumai

Pekanbaru, 27 Oktober 2017. Trenggiling sebanyak 101 (seratus satu) ekor dengan berat sekitar 501 kg dan nilai jual diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah yang dimuat dalam satu buah perahu jaring nelayan bermesin dongpeng 16 ditangkap di perairan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Penangkapan dilakukan oleh Tim LANAL Dumai pada Selasa dinihari tanggal 24 Oktober 2017 pukul 02.00 WIB. Penangkapan ini dilakukan untuk memberantas kegiatan penyelundupan satwa yang dilindungi. Hari Selasa tanggal 24 Oktober 2017 pukul 17.15 WIB dilakukan serah terima Pasops LANAL Dumai (Okto Sahat Manurung) kepada Balai Besar KSDA Riau melalui Kepala Bidang KSDA Wilayah II (Heru Sutmantoro) melalui Berita Acara No. BA/125/X/2017 tanggal 24 Oktober 2017. Dengan barang bukti yang diserah terimakan berupa 1 (satu) unit kapal, 1 (satu) orang nahkoda dan 1 (satu) orang ABK; Satwa trenggiling sebanyak 101 ekor dengan berat total 501 kg. Kemudian satwa trenggiling beserta tersangka di bawa kantor Balai Besar KSDA Riau di Pekanbaru sedangkan kapal dititipkan di LANAL Dumai. Hari Rabu tanggal 25 Oktober 2017 pukul 09.30 WIB dilakukan pelimpahan perkara pidana dari Kepala Balai Besar KSDA Riau kepada Kepala Seksi Wilayah II Balai Pengamanan dan Penegakkan Hukum Wilayah Sumatera melalui Berita Acara No. BA. 2262/K.6/BIDTEK/KUM.4/10/2017 tanggal 25 Oktober 2017. Adapun pelimpahan perkara disertai Terlapor sebanyak 2 (dua) orang dengan inisial B tempat lahir Belitung Tahun 1997 dan inisial A tempat lahir Bantan Tengah Kab. Bengkalis Tahun 1992; Barang bukti trenggiling sebanyak 101 ekor dengan berat 501 kg. Dengan rincian 97 ekor hidup, 4 ekor mati dan 1 ekor janin yang mati dan alat angkut berupa kapal; Berita Acara Serah Terima Barang Bukti Kepala TNI AL Dumai No. BA/125/X/2017 tanggal 24 Oktober 2017. Setelah dilakukan pelimpahan perkara pidana, terhadap satwa yang mati dilakukan pembakaran barang bukti di halaman kantor Balai Besar KSDA Riau oleh penyidik dengan disaksikan Kepala Balai Besar KSDA Riau, Kepala Seksi Wilayah II Balai Gakkum Wilayah Sumatera serta para awak media. Satwa trenggiling yang masih hidup sebanyak 97 ekor, 1 ekor diamankan sebagai barang bukti dan 96 ekor dilepasliarkan di SM Bukit Rimbang Bukit Baling (disaksikan oleh Tim Balai Besar KSDA Riau, Tim Gakkum dan TNI AL Dumai serta media). Kepala Balai Besar KSDA Riau sangat mengapresiasi dan memberikan penghargaan yang setingi-tingginya kepada TNI AL Dumai dan masyarakat yang turut serta dalam penangkapan satwa ileggal trenggiling serta mengharapkan peran instansi maupun pihak lain dalam pemberantasan illegal satwa dan tumbuhan di Propinsi Riau. Sumber : Balai Besar KSDA Riau

Menampilkan 9.585–9.600 dari 11.141 publikasi