Rabu, 24 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Monyet Ekor Panjang Diserahkan Warga Melalui Dinas Damkar Stasiun Belawan

Belawan, 7 Agustus 2023 - Petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resort Pelabuhan Belawan, pada Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, kembali menerima laporan dari Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Stasiun Belawan tentang adanya Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang ingin diserahkan warga kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara pada Sabtu, 5 Agustus 2023. Petugas Resort Pelabuhan Belawan bersama dengan lembaga mitra kerjasama Yayasan Scorpion Indonesia didampingi petugas Dinas Damkar Stasiun Belawan menyambangi lokasi di Jalan Chaidir Blok CC Nelayan Indah, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan. Pemilik satwa liar, Windi Febriyanti, menuturkan bahwa monyet berkelamin jantan tersebut sudah dipelihara selama 8 tahun. Dikarenakan monyet kerap kali lepas dari kandangnya dan pemilik khawatir dikemudian hari akan menyerang warga sekitar, sehingga berinisiatif untuk menyerahkannya kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Proses evakuasi berjalan lancar dan satwa dititipkan di Yayasan Scorpion Indonesia untuk dilakukan periksaan kesehatan serta rehabilitasi sebelum dilepasliarkan di habitat aslinya. Apresiasi dan penghargaan disampaikan kepada petugas Dinas Damkar Stasiun Belawan dan berharap kerjasama yang baik ini dapat terus dilanjutkan dan ditingkatkan di hari-hari yang akan datang Sumber : Joni Agustinus Pasaribu, SP. (Polhut Muda) dan Fuad Khalil Harahap, S.Hut. (Polhut Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Tim Medis Berhasil Operasi Ankle Arhtrodesis Orangutan

Sibolangit, 7 Agustus 2023 - Pada Selasa 1 Agustus 2023, telah dilakukan operasi amputasi dan perbaikan tulang kaki (Ankle Arhtrodesis) satwa liar jenis Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yaitu orangutan Maret, di Pusat Karantina Orangutan Batu Mbelin-SOCP di Sibolangit. Orangutan Maret merupakan satwa rehabilitant yang berasal dari Balai KSDA Aceh yang dirawat di SOCP sejak Maret 2023 dengan kondisi kaki kanan yang terluka diduga akibat terjerat sling jebak babi hutan. Maret berusia sekitar 15 tahun, berjenis kelamin Jantan. Operasi dimulai pukul 11.02 Wib, Tim vet yang bertugas sebagai operator operasi Drh. Yenny, drh. Aisyah, drh. Yusron didampingi drh. Sheila Zakia dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Selama pelaksanaan operasi Tim medis didampingi Dr. Andreas Mersikommer (dokter spesialis ortophedi) sebagai pengarah jalannya operasi. Tindakan Operasi Ankle Arhtrodesis, yaitu menghilangkan mobilisasi telapak kaki dilakukan setelah hasil obersevasi ditemukan adanya kerusakan tendon Achilles dan juga kelainan tulang (osteomalasia) pada os metatarsal dan tarsal, sehingga pasca operasi diharapkan orangutan dapat menggunakan kaki nya untuk menumpu dan sebagai pijakan pada saat orangutan memanjat pohon. Operasi selesai pada pukul 16.06 Wib, dan orangutan kembali normal pada pukul 19.00 Wib. Pada pengamatan tanggal 3 Agustus 2023, orangutan Maret sudah beraktifitas baik, makan banyak, namun kaki masih dipasang bandage keras selama 6 minggu ke depan untuk melindungi luka bekas operasi dan menunggu pertumbuhan tulang kembali. Semoga Maret segera pulih usai operasi, agar nanti dapat kembali ke habitatnya. Sumber : Herbert BP. Aritonang, S.Soso. MH. (Kepala SKW II Stabat) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Road to HKAN : Mengantar “Kopral”, Elang Ular Bido, ke SFF Bunder

Yogyakarta, 3 Agustus 2023 - Petugas Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) menyerahkan seekor Elang Ular Bido (Spilornis cheela) ke Stasiun Flora Fauna (SFF) Bunder, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) D.I Yogyakarta, Kamis pagi 3 Agustus 2023. Elang Ular Bido yang diberi nama ‘Kopral’ ini, awalnya dilaporkan oleh masyarakat, ditemukan di daerah enclave Desa Ngablak, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada 23 Mei 2023. Pada saat ditemukan, kondisi sayap kanan terlihat luka dan rontok bulunya namun masih terdapat sifat liarnya. Setelah mendapatkan perawatan pertama oleh petugas Balai TNGM, maka satwa tersebut di bawa ke SFF Bunder, yang merupakan tempat untuk merehabilitasi satwa, baik satwa sitaan maupun satwa hasil perdagangan umum. Selanjutnya, akan dilakukan rontgen di klinik hewan, untuk mengetahui kondisi kesehatan yang mendetail dari ‘Kopral’. Dalam kondisi normal, memerlukan kurang lebih 5 bulan untuk pemulihan ‘Kopral’, dan rencananya akan dilepasliarkan kembali di kawasan konservasi TNGM. Dalam kesempatan terpisah, Kepala Balai TNGM, Muhammad Wahyudi, menyampaikan harapannya agar ‘Kopral’ lekas pulih dan dapat dilepasliarkan di kawasan konservasi TNGM. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Road to HKAN 2023, pungkasnya. Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2023 dengan tema Hapungkal Himba Karingu atau Jiwa Yang Damai Dalam Harmoni Hutan Belantara. Puncak HKAN akan dilaksanakan di TWA Bukit Tangkiling, Provinsi Kalimantan Tengah. * Penanggung jawab: Muhammad Wahyudi, S.P, M.Sc. (Kepala Balai) - 085244012365 FB: Taman Nasional Merapi Twiter: @btngunungmerapi IG: @btn_gn_merapi Website : tngmerapi.id
Baca Berita

Road to HKAN : Berdaya Bersama Kelompok Masyarakat Kalitengah Lor

Sleman, 3 Agustus 2023 - Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) tidak dapat melakukan kegiatan konservasi seorang diri. Sehingga perlu bekerja sama dengan masyarakat sekitar kawasan konservasi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembentukan kelompok masyarakat salah satu desa penyangga yaitu Padukuhan Kalitengah Lor, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, D.I Yogyakarta. Dilaksanakan pada hari Rabu, 3 Agustus 2023, kegiatan yang diselenggarakan di Kopi Klangon, Glagaharjo. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Balai TNGM, Lurah Glagaharjo, Kepala Desa Balerante, Kepala Desa Panggang, Lurah Jatimulyo, dan masyarakat Padukuhan Kalitengah Lor. Diawali dengan penandatanganan Kesepakatan Konservasi antara Balai TNGM dengan Kalurahan Glagaharjo dilanjutkan dengan pemberian Surat Keputusan Kepala Balai TNGM tentang Ijin Pemanfaatan Air (IPA) oleh kelompok masyarakat Kalurahan Glagaharjo yang diterima langsung oleh Lurah Glagaharjo, Suroto. Dalam sambutannya, Suroto, menyampaikan terima kasih kepada pihak Balai TNGM yang telah memperhatikan kepentingan masyarakat dalam hal pemanfaatan air yang bersumber dari dalam kawasan konservasi TNGM. Disampaikan juga bahwa kawasan TNGM telah memberikan manfaat bagi masyarakat sehingga masyarakat perlu turut menjaga kawasan TNGM. Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan serta pembukaan kegiatan secara resmi oleh Kepala Balai TNGM, Muhammad Wahyudi. Dalam sambutannya, kepala Balai TNGM, menyampaikan bahwa kawasan konservasi harus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar kawasan. “TNGM mendukung masyarakat daerah penyangga untuk mengembangkan usaha wisata konservasi salah satunya melalui program pemberdayaan masyarakat,” tutur Wahyudi. Selanjutnya dilakukan penyampaian materi dari Anom Sucondro, Lurah Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, terkait kelembagaan kelompok. Dalam paparannya, Anom menyampaikan bahwa diperlukan beberapa tahapan dalam berorganisasi. Tak lupa juga diberikan contoh success story kelompok masyarakat serta program konservasinya di Kalurahan Jatimulyo. Saat ini, Jatimulyo menjadi ikon Kabupaten Kulonprogo dan menjadi tempat wisata konservasi dan edukasi dari berbagai daerah di Indonesia. Tak kalah menarik, adalah materi dari Suparno Kelik, Seksi Konservasi Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanapaksi, Kalurahan Jatimulyo. Kelik menyampaikan bahwa upaya konservasi burung di Jatimulyo memberikan manfaat tidak hanya bagi KTH tetapi juga bagi desa, pemilik lahan, kelompok tani wanita, dan lain sebagainya. Selanjutnya untuk lebih membuka wawasan para peserta, Balai TNGM bersama masyarakat dan Kelik melakukan praktik lapangan di Bukit Klangon serta melakukan diskusi pengembangan kelompok ke depan. “Jatimulyo dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat Padukuhan Kalitengah Lor dalam berorganisasi," ujar Kelik. Pengetahuan baru yang disampaikan oleh kedua narasumber memicu semangat masyarakat Padukuhan Kalitengah Lor untuk berdaya besama melalui kelompok. Meskipun belum menentukan nama kelompok, masyarakat Padukuhan Kalitengah Lor sepakat untuk membentuk kelompok dengan fokus pada wisata konservasi. Masyarakat berharap, Balai TNGM akan terus mendampingi hingga kelompok mandiri. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Road to HKAN 2023. Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2023 dengan tema Hapungkal Himba Karingu atau Jiwa Yang Damai Dalam Harmoni Hutan Belantara. Puncak HKAN akan dilaksanakan di TWA Bukit Tangkiling Provinsi Kalimantan Tengah. Sumber : Balai TN Gunung Merapi
Baca Berita

Monitoring Elang Jawa, Jumpai Kompetitor Alamnya

Ponorogo, 30 Juli 2023 - Tahun ini kegiatan monitoring Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) kembali digelar di 2 kawasan konservasi, Cagar Alam (CA) Gunung Sigogor dan CA. Gunung Picis. Kedua cagar alam tersebut berada di Pegunungan Liman, Kabupaten Ponorogo yang pernah menjadi lokasi pelepasliaran Elang Jawa pada tahun 2016, 2017, dan 2019. Elang Jawa sendiri merupakan satwa liar yang dilindungi Undang-Undang serta telah ditetapkan sebagai simbol satwa langka nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 4 tahun 1993, karena kelangkaan dan kemiripannya dengan Garuda - Lambang Negara Indonesia. Kegiatan yang dilaksanakan 24-29 Juli 2023 menggunakan metode titik hitung (point count) di mana tim telah menentukan letak point count di kedua kawasan. Total keseluruhan ada 7 titik lokasi tempat pengamatan. Antara lain Kertoembo, Ngesep, Sigombal, dan Jambu Sedayu, Hargokiloso, Trungo, dan Dawuk. “Jumlah personil ada 7 orang ditambah dengan 4 personil dari Masyarakat Mitra polhut. Setiap hari personil-personil tersebut dibagi dalam 3 tim dan disebar secara bergantian pada 7 titik pengamatan tersebut”, ujar Tri Widodo, anggota tim dalam sambungan telepon. Menurut Kepala Seksi Konservasi Wilayah II, Benediktus Rio Wibawanto, dari hasil pengamatan dan analisa foto Elang Jawa yang berhasil terdokumentasi, tim menyimpulkan sekurang-kurangnya ada 10 individu. Sementara data terakhir tahun 2022 jumlah Elang Jawa di kedua cagar alam adalah 13 ekor. “Pada monitoring tahun ini tim tidak menemukan adanya penambahan anakan pada kedua kawasan konservasi,” ujar pria yang akrab dipanggil Pak Rio tersebut. Selain Elang Jawa, tim juga menjumpai burung-burung kompetitor lainnya, seperti Elang hitam, Elang-ular bido, Elang perut-karat, dan Sikep-madu asia. Sumber : Agus Irwanto, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Petugas BBKSDA Sumatera Utara Gagalkan Perdagangan Satwa Liar

Medan, 3 Agustus 2023 - Petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran, berhasil menggagalkan perdagangan satwa liar dilindungi undang-undang jenis Burung Perkici Pelangi (Trichoglossus haematodus), pada Selasa, 1 Agustus 2023, di Desa Hessa Parlompongan, Kecamatan Air Batu, Kabupaten Asahan. Upaya ini bermula dari adanya informasi melalui facebook dengan akun FAL yang akan memperniagakan satwa liar di wilayah Kota Kisaran. Menindaklanjuti informasi tersebut, petugas melaksanakan patroli peredaran tumbuhan dan satwa liar di wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran. Komunikasi dengan pelaku (FAL) pun dibangun petugas dan dilanjutkan dengan pengintaian serta penyamaran. Setelah berhasil mencapai kesepakatan untuk rencana pembelian burung tersebut, petugas yang menyamar sebagai pembeli dengan membawa sangkar burung bertemu pelaku di tempat yang dijanjikan, di Desa Hessa Parlompongan, Kecamatan Air Batu, Kabupaten Asahan, sekitar pukul 10.50 Wib. Setelah memastikan bahwa satwa liar tersebut adalah Burung Perkici Pelangi, jenis yang dilindungi undang-undang, petugas segera mengamankan pelaku beserta barang bukti 1 (satu) ekor Burung Perkici Pelangi. Perbuatan FAL melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku, sebagaimana diatur dalam pasal 21 ayat (2) huruf a : “Setiap orang dilarang : menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup” jo. Pasal 40 ayat (2) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa jo. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/MENLHK/SETJEN/ KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/MENLHK/SETJEN/ KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi Undang-undang. Usai diamankan, pelaku dan barang bukti kemudian diserahkan ke penyidik Balai Penegakkan Hukum (Gakkum) Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera di Medan, pada Rabu 2 Agustus 2023. Dua orang petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara telah diperiksa dan dimintai keterangannya sebagai saksi oleh penyidik, demikian juga dengan pelaku. Sedangkan barang bukti Burung Perkici Pelangi, untuk menghindari kematian dititip oleh penyidik ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit untuk dirawat dan dipelihara sementara. Peristiwa ini tentunya menjadi pembelajaran bagi masyarakat untuk tidak melakukan perbuatan memiliki, memelihara, dan bahkan memperniagakan satwa liar yang dilindungi undang-undang dalam keadaan hidup, karena perbuatan tersebut termasuk dalam tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak sebesar Rp. 100 juta. Semoga dengan peristiwa ini memberi efek jera bagi pelaku serta calon pelaku lainnya. Sumber : Tim Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Gercep, Kebakaran Argopuro Padam Dengan Cepat

Probolinggo, 31 Juli 2023. Mendengar informasi dari pendaki turun bahwa ada kepulan asap dari gunung Argopuro, sontak membuat Syamsul Arifin, personil Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Resort Konservasi Wilayah (RKW) 23 Argopuro segera bergerak menuju lokasi yang dilaporkan dari Desa Bermi, Krucil - Probolinggo. Hal tersebut terjadi pada senin pagi, 31 Juli 2023. Saat tiba di lokasi, Arifin bersama Bahrul segera melakukan pemadaman mandiri menggunakan kepyok yang terbuat dari ranting-ranting tumbuhan. Tak lupa juga membuat ilaran api agar kebakaran tidak semakin meluas. Saat api telah padam, mereka melakukan moping up untuk memastikan tidak ada lagi bara api yang tersisa. Menurut Agus Wanto, Kepala RKW 23, kebakaran tersebut terjadi di dalam kawasan SM. Dataran Tinggi Yang, di sebelah Timur Cemoro Limo pada Blok Perlindungan,, antara Cisinyal – Aing Kinik. “Vegetasi yang terbakar adalah jenis Pakis, Alang – alang, Cemara dan semak belukar Luasnya sekitar 6 patok atau 120 meter persegi”, tambah Agus. Untunglah gerak cepat yang dilakukan dapat meminimalisir terjadinya kebakaran hutan di wilayah SM. Dataran Tinggi Yang atau lebih dikenal dengan nama Gunung Argopuro. Petugas selalu mewanti-wanti para pendaki untuk lebih berperilaku yang bijak terhadap penggunaan api saat melakukan pendakian. Sumber : Agus Irwanto, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Penyelundupan Ratusan Burung Berhasil Digagalkan

Banyuwangi, 1 Agustus 2023 - Resort Konservasi Wilayah 14 Banyuwangi mendapatkan laporan dari Balai Karantina Pertanian Wilker Ketapang Banyuwangi yang telah menyita satwa burung karena tidak dilengkapi dokumen yang menyertainya di Pelabuhan Ketapang - Banyuwangi, 1 Agustus 2023. Satwa-satwa tersebut berasal dari Bali yang hendak dikirim ke Nganjuk, Jawa Timur dengan memakai angkutan Bus. Menurut Nurul Huda Sani, Kepala RKW 14 Banyuwangi, sekitar 33 kotak berisi burung yang diperiksa, dengan jumlah keseluruhan satwa sebanyak 645 ekor. Ada 9 jenis yang berhasil diidentifikasi, diantaranya Merbah cerukcuk, Perling Kecil, Sikatan rimba dada coklat, Kaca Mata Biasa, Anis Merah, Empeloh Jenggot, Sepah Hutan, dan Perenjak Jawa. “13 ekor diantaranya ditemukan dalam keadaan mati. Dan seluruh satwa tidak masuk dalam daftar satwa yang dilindungi undang-undang”, tambah Sani. Karena seluruh satwa tidak dilengkapi dokumen sesuai Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, maka keseluruhan satwa dikembalikan ke pihak Karantina Bali. Selanjutnya pihak BKSDA Bali dan Balai Karantina melakukan pelepasliaran burung-burung tersebut kembali ke alam habitatnya di Hutan Produksi Terbatas RTH Penginuman, Jembrana - Bali pada 1 Agustus 2023 sore. Sumber : Agus Irwanto, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Melepaskan Penyu, Melestarikan Habitatnya

Madiun, 17 Juli 2023 - Dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2023, Bidang KSDA Wilayah I Madiun bersama Yayasan Konservasi Elang Indonesia (YKEI) menggelar Seminar Road to HKAN 2023 yang bertempat di Eduwisata Ndalem Kerto Ngrupit Ponorogo, 17 Juli 2023. Dengan mengusung tema “Membudayakan Konservasi dan Mengkonservasi Budaya” kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc. Selain untuk meningkatkan pengetahuan, kegiatan ini juga bertujuan mensosialisasi, dan penyadartahuan kepada masyarakat berkaitan dengan satwa dilindungi jenis Merak Hijau sebagai pendukung budaya Reyog Ponorogo. Seminar dihadiri 32 peserta yang berasal dari instansi terkait, Kader Konservasi, Kelompok Pecinta Alam, kelompok masyarakat binaan, penggiat konservasi, serta kelompok unsur budaya di Kabupaten Ponorogo. Menurut Nur Patria, penangkaran Merak Hijau Jawa di Ponorogo sebagai daerah asal Reyog Ponorogo perlu dikembangkan, agar kebutuhan bahan baku dhadhak merak dapat tetap terpenuhi dan populasi Merak Hijau Jawa di alam tetap terjaga. Hal tersebut ia ungkapkan dalam materinya yang bertajuk Arahan Teknis Konservasi Satwa Melalui Kegiatan Penangkaran. Dalam seminar tersebut juga mendatangkan pembicara lain seperti Edy Kurniawan, ST., MT., pemilik penangkaran Merak hijau UD. Gentan Farm, dan Rido kurnianto, M.Ag dari Yayasan Reyog Ponorogo. Suksesnya kegiatan penangkaran Merak Hijau UD. Gentan Farm diharapkan mampu mendukung revitalisasi kesenian Reyog, serta menunjang pembangunan pariwisata di Kabupaten Ponorogo. Sumber : Endry Wijayanti - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Harimau Terkam Ternak Warga di Kotanopan

Kotanopan, 31 Juli 2023 - Interaksi negatif warga dengan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) kembali terjadi di Desa Gunung Tua Muara Soro, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal. Peristiwa ini bermula dari adanya laporan warga kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok. Laporan kemudian ditindaklanjuti dengan menyambangi lokasi, pada Sabtu 29 Juli 2023. Sebelum ke lokasi petugas berkoordinasi dengan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Kotanopan, Balai Taman Nasional Batang Gadis., dan selanjutnya Tim gabungan Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Balai Taman Nasional Batang Gadis menuju ke TKP di Desa Gunung Tua Muara Soro dan berkoordinasi dengan Camat Kotanopan, Babinsa Koramil 14/Kotanopan, Kepala Desa serta masyarakat. Tim gabungan bersama dengan Babinsa Koramil 14/Aek Kanopan dan beberapa warga melakukan observasi lapangan. Hasilnya bahwa lokasi kejadian interaksi negatif berada di kebun karet warga, tetapi merujuk kepada peta yang ada status lahan adalah kawasan hutan lindung.Tim juga menemukan di lokasi adanya bangkai 2 ekor ternak lembu peliharaan warga yang diseret dan diduga telah dimakan oleh si raja hutan. Mitigasi konflik yang dilakukan oleh Tim dengan memasang kamera trap inventaris (milik) Balai Taman Nasional Batang Gadis sebanyak 2 buah di dekat kedua bangkai lembu. Selain itu dilakukan juga pemasangan kandang jebak di Desa Gunung Tua Muara Soro mengingat kekhawatiran warga akan dugaan keberadaan harimau di lokasi tersebut. Tim pun menyampaikan himbauan agar warga mengurangi kegiatan-kegiatan yang tidak begitu penting, dan bila dalam keadaan terpaksa sebaiknya dilakukan secara berkelompok. Dihimbau juga untuk menghindari perbuatan atau tindakan yang dapat membahayakan warga maupun satwa liar. Sampai berita ini dinaikkan Tim terus memantau situasi di lokasi. Sumber : Parta Basmely (Polhut Mahir) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Mendaki TWA Gunung Marapi via Jalur Proklamator Kini Lebih Mudah

Senin, 31 Juli 2023 - Dunsanak konservasi, pembukaan kembali (reaktivasi) jalur proklamator TWA Gunung Marapi dengan sistem booking online yang dilakukan Balai KSDA Sumbar telah berjalan 7 hari dan terdata sudah 166 orang pendaki yang melakukan pendakian. Pendaki yang telah melakukan registrasi dengan booking online masuk melalui tiga pintu, yaitu Batu Palano, Koto Baru, dan Aie Angek. Dipintu tersebut pendaki akan melakukan proses administrasi dan scan barcode (yang tertera pada e-tiket) untuk mempermudah pengontrolan oleh petugas. Sistem ini sudah berjalan dan ternyata memudahkan para pendaki untuk mendaftar dan kontrol oleh petugas ujar Kepala Balai KSDA Sumbar, Ardi Andono. Ardi juga menghimbau para pendaki untuk mematuhi SOP pendakian demi keselamatan pendaki dan saat proses registrasi mengisi data diri dengan benar untuk mempermudah proses penerbitan e-tiket nya. Coba dan rasakan kemudahan sistem booking online untuk naik ke jalur proklamator TWA Gunung Marapi. Dan jangan lupa, pendaki pintar adalah yang mematuhi SOP pendakian. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Berita

BBKSDA Papua Lepas Liar 114 Reptil di Hutan Sekitar Cagar Alam Pegunungan Cycloop

Jayapura, 27 Juli 2023 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua melepasliarkan 114 ekor satwa Papua yang dilindungi. Lepas liar berlangsung pada Kamis (27/07/2023) di hutan sekitar Cagar Alam Pegunungan Cycloop yang masuk dalam wilayah Kampung Asei Kecil, Distrik Sentani Timur, Provinsi Papua. Kepala Kandang Transit Buper, La Ode Irianto Subu, menyampaikan jenis-jenis satwa yang dilepasliarkan terdiri atas 3 ekor ular boa tanah Papua (Candoia aspera), 5 ekor ular boa pohon (Candoia carinata), 4 ekor ular sanca cokelat (Bothrochilus Albertisii), 4 ekor ular sanca hijau (Morelia viridis), 91 ekor kadal duri mata merah (Tribolonotus gracilis), 5 ekor kadal panana (Tiliqua gigas evanescens), dan 2 ekor ular sanca patola (Morelia amethistina). “Satwa-satwa yang kita lepas liar hari ini adalah hasil sinergi pengawasan bersama AVSEC Angkasapura, AVSEC BKO Lanud Silas Papare Jayapura, dan Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura pada bulan Juni – Juli 2023. Semuanya sudah menjalani masa habituasi di kandang transit Buper, Waena, dan dinyatakan sehat, serta siap dilepasliarkan,” ungkap La Ode. Sementara itu, Kepala Bidang Teknis BBKSDA Papua, Yulius Palita, menyampaikan bahwa jenis ular boa tanah papua, boa pohon, sanca cokelat, dan sanca hijau termasuk dalam Appendix II CITES. Sedangkan kadal duri mata merah, kadal panana, dan sanca patola merupakan jenis satwa non-Appendix CITES. Menurut Yulius, satwa-satwa tersebut dapat terancam punah bila terus terjadi penyelundupan secara ilegal. “Untuk saat ini satwa-satwa yang kita lepas liarkan berstatus Least Concern berdasarkan IUCN Red List, risikonya masih rendah. Meski begitu, kita tetap perlu mengambil langkah-langkah pelestarian, salah satunya dengan pelepasliaran satwa. Lebih dari itu, kita juga wajib melakukan menyelamatan satwa-satwa tersebut dari tindak ilegal. Jangan sampai mereka terancam kepunahan di alam,” kata Yulius. Pada kesempatan yang sama, Kepala BBKSDA Papua, A.G. Martana, menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung pelepasliaran satwa ini. “Terima kasih kepada AVSEC Angkasapura, AVSEC BKO Lanud Silas Papare Jayapura, dan Balai Karantina Pertanian Kelas I jayapura, yang sudah bekerja sama dengan sangat baik selama ini. Terima kasih kepada tim lepas liar yang telah bekerja di lapangan. Semua pihak telah bekerja dengan baik sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Saya memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas terselenggaranya pelepasliaran satwa ini,” ungkap Martana. Lebih lanjut, Martana menyampaikan bahwa menjaga keanekaragaman hayati, khususnya di Cagar Alam Pegunungan Cycloop dan sekitarnya merupakan tanggung jawab semua pihak. Ia mengharapkan agar kegiatan lepas liar satwa ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk turut serta melestarikan keanekaragaman hayati Papua, demi keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan umat manusia. Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

4 Ekor satwa langka Bilow kembali ke alam aslinya Pulau Siberut

Pulau Siberut, 24 Juli 2023 - Balai KSDA Sumbar bersama Yayasan Kalaweit berhasil melakukan translokasi 4 ekor bilow atau siamang kerdil (Hylobates klossii) dari Pusat Rehabilitasi Kalaweit di Supayang Solok ke Pusat Rehabilitasi Primata Kalaweit di Pulau Siberut pada tanggal 22 - 24 Juli 2023. Keempat bilow tersebut, yakni Mandu (16 tahun - Jantan), Dihora (18 tahun - Betina), Habibi (11 tahun - Jantan), dan Maca (7 tahun - Betina), telah melewati tes kesehatan dan dinyatakan sehat, terbebas dari thypoid, herpes, dan hepatitis pada tanggal 9 Juni 2023. Proses penyerahan keempat satwa langka berasal dari Taman Nasional Siberut, dan pemindahan mereka ke Pulau Siberut merupakan langkah awal sebelum pelepasliaran mereka ke alam liar di Taman Nasional Siberut. Kepala Balai KSDA Sumatera Barat, Ardi Andono, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan momen bersejarah karena menjadi kali pertama primata hasil rehabilitasi berhasil dikembalikan ke habitat aslinya di Pulau Siberut. Bilow merupakan jenis primata yang dilindungi yang hanya dapat ditemukan di kepulauan Mentawai. Populasinya tengah terancam punah karena menyempitnya habitat di luar Taman Nasional, perburuan serta perdagangan illegal. Sejak tahun 2021 dan 2022, Balai KSDA Sumbar telah melakukan berbagai upaya, termasuk survei habitat di luar taman nasional dan inventarisasi bilow yang dipelihara oleh warga. Dengan terbangunnya pusat rehabilitasi primata di Pulau Siberut, diharapkan mampu memfasilitasi proses rehabilitasi bilow yang dipelihara oleh masyarakat lokal di kepulauan Mentawai. Hal ini diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi bilow untuk hidup bebas dan berkelimpahan kembali di habitat alaminya. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Berita

Road To HKAN 2023: BKSDA Sumsel Lepasliarkan Empat Individu Satwa Liar dan Tanam Pohon di SM Padang Sugihan

Banyuasin, 25 Juli 2023 - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan melepasliarkan empat individu satwa liar dan melakukan penanaman pohon di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan, Kabupaten Banyuasin pada Selasa, 25 Juli 2023. Satwa tersebut terdiri dari tiga individu satwa dilindungi, yaitu dua individu buaya muara (Crocodylus porosus) dan satu individu elang brontok (Spizaetus cirrhatus), serta satu individu satwa tidak dilindungi, yaitu ular sanca kembang (Python reticulatus). Keempat individu satwa yang dilepasliarkan merupakan satwa hasil serahan masyarakat selama kurun waktu bulan Maret sampai dengan bulan Juli 2023 yang dititiprawatkan di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Punti Kayu, Kota Palembang untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Kepala BKSDA Sumatera Selatan Ujang Wisnu Barata menyampaikan bahwa tahap pelepasliaran merupakan rangkaian akhir dari proses yang telah dilalui mulai dari karantina, rehabilitasi, dan pemeriksaan kesehatan di PRS Punti Kayu hingga satwa-satwa tersebut siap dan layak untuk dilepasliarkan ke habitat alaminya. “Pemeriksaan kesehatan satwa meliputi kondisi satwa, apakah telah sehat secara fisik dan bebas dari penyakit, serta pemeriksaan sifat atau karakter liar satwa,” terang Ujang. Keempat individu satwa tersebut memiliki wilayah sebaran di seluruh Indonesia, sehingga tim memutuskan untuk melepasliarkan satwa-satwa tersebut ke SM Padang Sugihan. Adapun pertimbangannya, bahwa kondisi vegetasi masih relatif bagus; terdapat aliran sungai kecil, yaitu sungai Betung; memiliki sumber pakan yang cukup dan mudah didapatkan; serta memiliki tempat yang cocok untuk bersarang dan areal yang cukup luas untuk pergerakannya. Sedangkan pertimbangan lainnya, bahwa lokasi pelepasliaran tersebut relatif jauh dari pemukiman masyarakat. Selain itu, dilakukan penanaman jenis bintaro (Cerbera manghas), pulai (Alstonia scholaris), meranti batu (Parashorea aptera), belangeran (Shorea balangeran), dan tembesu (Cyrtophyllum fragrans) di kawasan SM Padang Sugihan, tidak jauh dari lokasi pelepasliaran. “Kami menyambut baik dan sangat mengapresiasi BKSDA Sumatera Selatan dalam melakukan pelepasliaran satwa. Semoga kegiatan ini menambah keanekaragaman hayati di Provinsi Sumatera Selatan”, ungkap Elva, Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem dan Perubahan Iklim Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan pelepasliaran satwa merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan populasi satwa liar di habitatnya. Kegiatan ini juga bentuk konsistensi pelaksanaan program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) “Living in Harmony with Nature: Melestarikan Satwa Liar Milik Negara”, sekaligus sebagai rangkaian agenda BKSDA Sumatera Selatan dalam rangka Road to Hari Konservasi Alam Nasional 2023 yang puncak acaranya akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2023 di TWA Tangkiling, Kalimantan Tengah. “Saya menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah berpartisipasi aktif dalam konservasi hidupan liar. Harapan kita bersama, keempat individu satwa yang dilepasliarkan ini akan mampu beradaptasi di alam tanpa terancam perburuan sehingga kelestariannya dapat terjaga dengan baik,” pungkas Ujang. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, Balai Karantina Pertanian Kelas I Palembang, Camat Muara Padang, Kapolsek Muara Padang, Kepala Polairud Muara Padang, KPH Wilayah III Palembang-Banyuasin, dan perangkat Desa Sidomulyo 20. Sumber: Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Evakuasi Sukses! Tim Gabungan Selamatkan Kera Hitam Endemik Sulawesi Dari Kepunahan

Kota Palopo, 24 Juli 2023 – Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Bidang Wilayah I Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan menerima seekor kera hitam jantan endemik sulawesi jenis Macaca maura. Keberhasilan evakuasi ini merupakan hasil kerjasama yang baik antara Tim WRU Bidang Wilayah I, Tim Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palopo, dokter hewan Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Kota Palopo, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Palopo, dan TNI-Polri. Kera hitam jantan tersebut menjadi prioritas utama penyelamatan karena dikategorikan sebagai spesies genting (endangered) oleh IUCN dan Apendix II CITES. Satwa liar ini beberapa kali terlihat berkeliaran di sekitar Kota Palopo sejak tahun 2020 yang lalu dan melalui koordinasi yang baik proses evakuasi berjalan lancar. Kera hitam endemik Sulawesi dievakuasi melalui pembiusan menggunakan sumpit bius, yang telah disiapkan dengan teliti oleh tim dokter hewan dari Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan Kota Palopo. Kerjasama antar berbagai instansi dalam upaya pelestarian satwa langka ini merupakan langkah kritis dalam memastikan keberlanjutan kehidupan spesies yang terancam punah. Setelah dievakuasi, kera hitam sulawesi tersebut diberikan suntik anti-rabies untuk memastikan kesehatannya dan kemudian dibawa ke kandang transit yang telah dipersiapkan di kantor Bidang KSDA Wilayah I Palopo. Di sana, kera hitam sulawesi ini akan mendapatkan perawatan kesehatan dan pengawasan terkait perilaku satwa sebelum diambil langkah-langkah lebih lanjut untuk mengembalikannya ke habitat alami. Mengenai keberhasilan evakuasi ini, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan menyatakan, "Kami memberikan apresiasi dengan kerjasama antar instansi yang telah berhasil menyelamatkan satu ekor kera hitam sulawesi. Kerjasama ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk melindungi keanekaragaman hayati yang ada di wilayah Sulawesi Selatan dan mengambil tindakan nyata dalam upaya pelestarian." Semua pihak yang terlibat dalam evakuasi ini mengajak masyarakat untuk terus mendukung upaya pelestarian alam dan menjaga keberlanjutan ekosistem yang menjadi rumah bagi beragam spesies langka seperti kera hitam sulawesi. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Sinergi Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi Dalam Pengelolaan LHK Secara Berkelanjutan

Bogor, 24 Juli 2023 - Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama dengan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB University) melakukan pertemuan di Ruang Sidang Sylva, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB di Bogor dalam rangka meningkatkan jalinan kerja sama untuk Penguatan Fungsi Kawasan dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Secara Berkelanjutan di lima Unit Pelaksana Teknis dibawah Ditjen KSDAE, yang merupakan bagian dari dukungan dalam Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Penandatanganan PKS dilakukan oleh Direktur Jenderal KSDAE Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc, dan Dr. Ir. Naresworo Nugroho, M.Si selaku Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University. Perjanian Kerja Sama tersebut merupakan tindaklanjut pelaksanaan dari Nota Kesepahaman (NK) antara Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Rektor Institut Pertanian Bogor Nomor: PKS.4/SETJEN/ROCAN/ SET.1/4/2020 dan Nomor:19/IT3/HK.01/2020 tentang Peningkatan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang ditandatangani pada tanggal 12 Maret 2020, berlaku selama 5 Tahun sampai dengan 11 Maret 2025. Dalam kesempatan tersebut, kedua belah pihak bersepakat untuk melaksanakan Kerja Sama Penguatan Fungsi Kawasan dan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Secara Berkelanjutan sebagai Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada UPT Balai Besar KSDA Jawa Barat, Balai KSDA Jambi, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Balai Taman Nasional Way Kambas, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Berbagai kegiatan dalam ruang lingkup kerjasama yang dilaksanakan tersebut akan berlaku hingga Maret 2025 dan akan didetailkan dalam dokumen tindak lanjut penandatanganan Perjanjian Kerja Sama, yaitu Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan Rencana Kegiatan Tahunan (RKT) oleh masing Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen KSDAE. Tujuan PKS ini adalah dalam rangka sinergi pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan melalui upaya penguatan fungsi Kawasan konservasi dan peningkatan efektifitas program konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara berkelanjutan. Ruang lingkup kegiatan kerja sama ini antara lain meliputi: 1) Pengembangan program pendidikan dan pelatihan dalam bidang konservasi sumber daya alam dan ekosistem, peningkatan kapasitas dan keterampilan personal terkait konservasi sumber daya alam dan ekosistem, pertukaran data dan informasi; 2) Dukungan Bantuan teknis serta penelitian dan pengembangan berupa penelitian bersama tentang sumber daya alam dan ekosistem yang penting untuk konservasi; 3) Dukungan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan peningkatan ekonomi berbasis sumber daya dan potensi masyarakat; 4) Dukungan perlindungan kawasan melalui peningkatan efektivitas dan efisiensi upaya perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam dan ekosistem; dan 5) Dukungan pengawetan flora dan fauna melalui penguatan tata kelola pelestarian tumbuhan dan satwa liar, pengembangan dan penerapan rencana pengelolaan. Lebih lanjut, dalam pertemuan ini juga dibahas agenda penguatan kerjasama khusus antara Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB dengan tiga Taman Nasional Lingkup Direktorat Jenderal KSDAE (Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, dan Balai Taman Nasional Way Kambas) terkait rencana implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dalam kerangka Program Kompetisi Kampus Merdeka melalui pelaksanaan Praktek Bersama Hidupan Liar dan Praktek Bersama Manajeman Kawasan Konservasi, Ekowisata dan Jasa Lingkungan di ketiga Taman Nasional mitra. Diakhir pertemuan ini, Direktur Jenderal KSDAE Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc, dan Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB Dr. Ir. Naresworo Nugroho, M.Si menyampaikan komitmen bersama terkait berbagai program kerjasama saat ini dan di masa mendatang dalam rangka Penguatan Fungsi Kawasan dan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Secara Berkelanjutan demi mencapai Indonesia's FOLU Net Sink 2030, Indonesia Emas 2045 dan Indonesia Net Zero Emission 2060. Sumber : Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi

Menampilkan 945–960 dari 11.142 publikasi