Sabtu, 3 Jan 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

BBKSDA Jawa Timur Dampingi Peneliti Pelestarian Budaya di Kampung Merak

Ponorogo, 9 November 2025. Di Kampung Merak Gentan Farm, riak warna hijau kebiruan dari bulu Merak Hijau kembali menjadi saksi bagaimana alam dan budaya saling menghidupi. Pada Minggu, 9 November 2025, Tim Resor Konservasi Wilayah (RKW) 06 Ponorogo Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mendampingi kunjungan lapangan para peneliti dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI dan CV Anugerah Wikarya Nusantara Yogyakarta. Kunjungan ini menjadi bagian penting dari rangkaian penelitian Analisis Ekosistem Kebudayaan Reog Ponorogo yang sebelumnya digelar dalam Diskusi Terpumpun di Universitas Muhammadiyah Ponorogo pada September 2025. Sejak pagi, desir dedaunan membawa para peneliti memasuki ruang hidup Merak Hijau (Pavo muticus) sebuah ikon megah yang bukan hanya menandai kekayaan hayati Pulau Jawa, tetapi juga menjadi simbol kekuatan dan keanggunan dalam tradisi Reyog Ponorogo. Di tengah kandang yang teduh, Bapak Edy, pengelola sekaligus narasumber, menguraikan perjalanan penangkaran Merak Hijau yang ia kelola, bagaimana telur pertama dipertahankan, bagaimana pakan alami dipertahankan untuk menjaga keaslian perilaku, hingga bagaimana masyarakat sekitar dilibatkan agar konservasi tidak berdiri sendiri. Dalam sesi diskusi, Tim RKW 06 menegaskan kembali bahwa Merak Hijau merupakan satwa liar yang dilindungi undang-undang dan menjadi perhatian strategis BBKSDA Jawa Timur, mengingat populasinya yang terus mengalami tekanan di alam. Tim juga menyampaikan komitmen institusi konservasi dalam memperkuat konservasi berbasis budaya, sejalan dengan semangat “Membudayakan Konservasi dan Mengonservasi Budaya.” Reog bukan sekadar seni pertunjukan, ia adalah ekosistem nilai, pengetahuan, dan simbolisme yang tidak dapat dipisahkan dari satwa yang mengilhami bentuk sayap Sang Singa Barong. Hasil pengamatan dan interaksi langsung pada pendampingan lapangan ini menjadi bagian dari upaya menyatukan data ekologis dan kultural, agar kebijakan pelestarian budaya dan konservasi satwa dapat berjalan saling meneguhkan. Integrasi pengetahuan lokal, praktik penangkaran, dan kajian ilmiah diharapkan menjadi fondasi kuat untuk menjaga Merak Hijau tetap hadir dalam lanskap alam Jawa Timur, sekaligus tetap hidup sebagai denyut identitas masyarakat Ponorogo. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor seperti ini adalah kunci untuk memperkuat konservasi. “Merak Hijau bukan hanya satwa lindung, tetapi penghubung antara alam, budaya, dan sejarah. Ketika kita melindunginya, kita sedang menjaga bagian penting dari jati diri masyarakat Ponorogo. Konservasi hanya akan berhasil ketika kita mengartikulasikannya bersama masyarakat, para pemangku budaya, dan dunia akademik,” ungkapnya secara terpisah. Pada akhirnya, setiap aktivitas kegiatan didokumentasikan. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan setiap detail kegiatan dipelajari lebih lanjut dalam rangka memperkaya kajian ekosistem budaya Reog Ponorogo pada tahap berikutnya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Kisah Warga Cileng Bertahan dari Serangan Monyet Ekor Panjang

Magetan, 11 November 2025. Ketika kemarau mengeringkan pucuk-pucuk hijau di lereng Gunung Blego, kehidupan di Desa Cileng, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, berubah ritmenya. Dari kejauhan, suara ranting patah dan daun berderak sering kali menjadi pertanda kedatangan kawanan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang menuruni lereng hutan, menembus batas alami menuju kebun warga di bawahnya. Setiap musim kering, pemandangan ini terulang. Satwa liar turun mencari sumber pakan baru, sementara para petani berusaha melindungi hasil tanamannya. Di batas antara hutan dan ladang inilah, manusia dan alam terus bernegosiasi dalam keheningan yang sama-sama rapuh. Menindaklanjuti laporan masyarakat terkait gangguan satwa liar di lahan pertanian, Tim Resor Konservasi Wilayah 05 (RKW-05) Madiun Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama BPBD Kabupaten Magetan dan perangkat Desa Cileng melakukan pemeriksaan lapangan pada Selasa, 4 November 2025. Lokasi pemeriksaan merupakan kebun masyarakat di kawasan perbukitan yang berbatasan langsung dengan hutan lindung Gunung Blego, berjarak sekitar dua kilometer dari kaki gunung. Saat kunjungan, tidak ditemukan keberadaan Monyet Ekor Panjang secara langsung, namun tanda-tanda aktivitas satwa liar tampak jelas: sisa buah pisang yang rusak, batang singkong patah, serta bekas pijakan di tanah lembap di beberapa petak kebun. Gunung Blego membentang di perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan status kawasan hutan lindung. Lerengnya ditumbuhi dominan oleh vegetasi pinus, sementara di area yang lebih rendah, tepat di sekitar kebun masyarakat, tumbuh hutan jati dan tanaman campuran lain yang tumbuh di tanah milik warga. Mosaik vegetasi ini menciptakan zona peralihan antara hutan dan lahan pertanian, tempat di mana satwa liar mudah berpindah dan menyesuaikan diri dengan aktivitas manusia. Dalam lanskap semacam ini, ketersediaan pakan alami di habitat hutan yang menurun selama musim kemarau menjadi faktor utama yang mendorong Monyet Ekor Panjang keluar menuju kebun jagung, singkong, dan pisang milik warga. Berdasarkan informasi perangkat desa, jumlah kawanan Monyet Ekor Panjang yang aktif di sekitar kawasan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 50 ekor, dengan intensitas kemunculan yang meningkat dibanding dua hingga tiga tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan adanya tekanan ekologis dan adaptasi perilaku satwa liar terhadap perubahan lanskap di sekitarnya. Sebagai kawasan hutan lindung, Gunung Blego memiliki peran penting menjaga fungsi hidrologis dan keanekaragaman hayati. Namun di sisi lain, keberadaan lahan milik warga yang berada di tepi kawasan menimbulkan interaksi langsung antara manusia dan satwa liar, yang kerap berujung pada gangguan pertanian. Sebagai tindak lanjut, Tim RKW-05 memberikan rekomendasi agar masyarakat melakukan pemantauan mandiri di kebun rawan gangguan, serta segera melaporkan setiap kejadian serangan kepada BPBD Kabupaten Magetan atau BBKSDA Jawa Timur. Langkah pengusiran manual tanpa melukai satwa disarankan sebagai tindakan sementara, disertai pendokumentasian visual agar pola aktivitas satwa dapat dianalisis lebih lanjut. Dalam jangka menengah, BBKSDA Jawa Timur akan mengkaji kemungkinan pelaksanaan survei populasi Monyet Ekor Panjang di kawasan Gunung Blego guna memperoleh data yang lebih akurat tentang jumlah individu, persebaran, dan pola pergerakannya. Hasil survei ini akan menjadi dasar dalam menyusun strategi mitigasi berbasis ekosistem serta edukasi masyarakat untuk mendorong pengelolaan lahan yang ramah satwa liar. Pemerintah Desa Cileng bersama masyarakat menyampaikan harapan agar Monyet Ekor Panjang dapat direlokasi dari area kebun masyarakat, mengingat intensitas gangguan yang meningkat setiap tahun. Pihak desa juga menyatakan kesiapan membantu proses penanganan, termasuk menyediakan perlengkapan kandang jebak apabila diperlukan dalam upaya penangkapan dan relokasi yang sesuai prosedur konservasi. Desa Cileng kini menjadi cerminan dari dinamika hidup di tepi hutan, wilayah di mana manusia dan satwa liar berjuang mempertahankan ruangnya masing-masing. Setiap musim kemarau, monyet-monyet kembali datang, menelusuri jalur yang sama dari lereng pinus ke ladang-ladang jagung. Bagi manusia, itu ancaman terhadap panen. Bagi satwa, itu kebutuhan untuk bertahan hidup. Di tengah keseimbangan yang rapuh itu, konservasi hadir bukan sekadar untuk melindungi satwa, tetapi juga untuk menjaga keharmonisan antara kebutuhan manusia dan keseimbangan alam. Gunung Blego, dengan barisan pinus yang sunyi di punggungnya, menjadi saksi bisu dari upaya manusia memahami bahwa hidup berdampingan dengan alam memerlukan kesabaran, pengetahuan, dan kebijakan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

WRU BBKSDA Jatim Evakuasi Satwa Hasil Penyelamatan di Tuban dan Bojonegoro

Bojonegoro, 6 November 2025. Tim Seksi KSDA Wilayah 2 Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Wildlife Rescue Unit (WRU) bergerak cepat di dua kabupaten. Belasan satwa yang terlibat dalam rangkaian interaksi negatif berhasil diamankan dan diselamatkan (6/11/2025). Tiga individu Macaca fascicularis (dua jantan, satu betina) menjadi evakuasi awal. Mereka sebelumnya diamankan oleh Dinas Damkar Kabupaten Bojonegoro setelah kejadian konflik dengan warga. Selama hampir dua pekan, ketiganya menjalani perawatan sementara di Kandang Transit SKW 2 Bojonegoro. Kondisi yang menunjukkan stres ekologis serta perubahan perilaku menjadi alasan utama dilakukan evakuasi lanjutan ke fasilitas perawatan WRU di Sidoarjo. Di waktu bersamaan di Kabupaten Tuban. Tim WRU menerima penyerahan satu Ular Sanca Bodho (Python bivittatus) yang berstatus dilindungi, bersama 24 ekor Sanca Kembang (Malayopython reticulatus) dan satu Kobra Jawa (Naja sputatrix). Semua merupakan satwa yang berhasil ditangani tim Damkar Tuban dari serangkaian panggilan konflik antara masyarakat dan satwa liar. Fenomena ini bukan peristiwa tunggal. Ia adalah mosaik yang tersusun dari perubahan tutupan lahan, tekanan pembangunan, dan meningkatnya aktivitas manusia. Ketika ruang jelajah satwa menyempit, jalur temunya justru melebar. Primata yang masuk permukiman atau ular yang muncul di pekarangan bukan sekadar “kejadian”, tetapi gejala yang mengingatkan kita bahwa ekosistem di sekitar sedang menata ulang keseimbangannya. Seluruh satwa yang dievakuasi kini berada di Kandang Transit WRU Balai Besar KSDA Jawa Timur di Sidoarjo. Di fasilitas ini, tim medis dan perawat satwa akan melakukan asesmen menyeluruh, mulai dari kondisi fisik, perilaku, hingga potensi pelepasliaran ke habitat yang sesuai. Pemulihan bukan sekadar proses medis, tetapi langkah pemulihan martabat ekologis. Setiap individu satwa memegang peran dalam jaring kehidupan yang lebih besar, dan memastikan mereka mendapatkan kesempatan kembali ke alam adalah bagian inti dari mandat konservasi. Kegiatan di Tuban dan Bojonegoro hari ini menegaskan pentingnya kerja sama lintas lembaga. Damkar, masyarakat, dan BBKSDA Jatim adalah simpul yang terhubung oleh tujuan yang sama, yaitu menjaga keselamatan manusia sekaligus memastikan keberlangsungan hidup satwa liar. Di tengah dinamika tersebut, konservasi bukan sekadar kebijakan. Ia adalah kerja kemanusiaan yang merawat relasi antara manusia dan alam. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

SMART Patrol Bawean Ungkap Kehadiran Ular Viper Palsu

Bawean, 10 November 2025. Di antara rimbun hutan tropis Pulau Bawean, sebuah informasi penting muncul dari kegiatan SMART Patrol Tim RKW 10 Bersama MMP Bawean Lestari. Pada patroli yang berlangsung 22 hingga 31 Oktober 2025, tim mencatat sebuah temuan yang membuka bab baru dalam kajian herpetofauna Bawean, keberadaan ular viper palsu (Psammodynastes sp), jenis reptil yang sebelumnya belum pernah tercatat dalam inventaris keanekaragaman hayati pulau ini. Temuan ini diperoleh saat tim menyusuri blok-blok vegetasi di Cagar Alam Pulau Bawean, tepatnya dalam rentang grid yang mencakup Blok Payung-payung, Gunung Besar. Patroli dilakukan dengan metode jalur rutin dan jalur baru, memadukan pengalaman lapangan dengan teknologi SMART Mobile untuk memastikan setiap observasi tercatat secara presisi. Dari proses inilah sebuah siluet bersisik, kecil dan tampak lincah, muncul dari sela bebatuan dan daun gugur. Identifikasi awal mengarah pada Viper Palsu, anggota kelompok ular Colubridae yang kerap meniru pola tubuh ular berbisa sebagai strategi pertahanan. Bagi Bawean, pulau kecil yang ekosistemnya terkurung oleh isolasi geografis, setiap temuan herpetofauna adalah fragmen penting dalam membaca sejarah evolusi dan dinamika ekologinya. Kehadiran viper palsu memberi sinyal bahwa struktur komunitas reptilia di Bawean mungkin lebih kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya. Pulau ini selama bertahun-tahun lebih dikenal melalui cerita ikoniknya: Rusa Bawean, Elang Ular, dan lanskap hutan batu kapur. Namun reptil kerap menjadi lapisan sunyi yang jarang tersentuh oleh penelitian intensif. Tim mencatat keberadaan ular tersebut dengan dokumentasi lengkap, foto, koordinat, karakter fisik, serta kondisi habitat tempat ia dijumpai. Data ini akan dianalisis lebih lanjut untuk memastikan statusnya dalam daftar herpetofauna resmi Pulau Bawean, termasuk kemungkinan penyesuaian basis data konservasi tingkat nasional. Temuan awal mengindikasikan bahwa habitat reptil di kawasan ini berada dalam kondisi baik, ditandai dengan keberadaan kadal kebun, kadal matahari, tokek, dan biawak air yang turut terdata sepanjang patroli. Hutan Bawean sendiri memberikan panggung yang kaya bagi kehidupan reptil. Vegetasi dominan seperti pangopa, gondang, dan kesambi menciptakan lapisan penaung dan hamparan serasah yang stabil. Anggrek-anggrek liar menempel pada batang-batang tua, menciptakan kelembapan mikro yang memadai untuk reptil kecil yang bergantung pada perlindungan dan suhu stabil. Dalam suasana ini, kehadiran viper palsu menjadi bagian dari jaringan ekologis yang nyaris tak terlihat. Selain temuan reptil, SMART Patrol periode ini juga mencatat keragaman satwa lain, mulai dari burung pesisir hingga mamalia malam. Namun temuan viper palsu tetap menjadi sorotan, sebab ia membuka kemungkinan baru untuk penelitian lebih mendalam tentang komposisi fauna pulau. Dalam konservasi, satu jenis bukan sekadar informasi tambahan. Ia bisa menjadi kunci memahami hubungan ekologi yang selama ini tersembunyi. Di luar aspek biologi, patroli juga menemukan beberapa catatan kawasan seperti pal batas yang masih dalam kondisi baik serta papan nama kawasan yang perlu perbaikan. Koordinasi sosial dengan pemerintah desa dan masyarakat sekitar tetap dilakukan, memastikan konservasi di Bawean tidak hanya terlaksana di hutan, tetapi juga di ruang-ruang sosial yang menyokong keberlanjutannya. Bagi dunia konservasi, catatan tentang ular viper palsu sudah menjadi langkah maju. Ia bukan hanya penanda keberadaan satu jenis, melainkan pengingat bahwa Bawean masih menyimpan rahasia yang menunggu untuk ditemukan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Menembus Rimba Akar Mangrove Bawean, Demi Perbarui Peta Mangrove Nasional

Bawean, 4 November 2025. Di antara riuh ombak yang memecah di tepian pulau dan desir angin asin yang menembus rimbun bakau, langkah-langkah tim survei bergema di antara akar-akar napas mangrove. Selama empat hari, dari 22 hingga 25 Oktober 2025, tim Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Solo bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menapaki pesisir Pulau Bawean, menyusuri 10 titik pengamatan di Kecamatan Sangkapura dan Tambak. Misi mereka, melaksanakan Groundcheck Updating Peta Mangrove Nasional 2025, bagian penting dari upaya nasional memutakhirkan peta tutupan mangrove sebagai fondasi pengelolaan ekosistem pesisir yang lebih akurat dan berkelanjutan. Di balik data dan koordinat yang direkam melalui aplikasi ODK Collect, setiap langkah di lapangan menyimpan kisah tersendiri, kisah kerja senyap di antara lumpur dan akar, antara sains dan dedikasi. Teknologi digital berbasis perangkat seluler itu memungkinkan setiap temuan dikirim langsung ke Direktorat Rehabilitasi Mangrove di Jakarta, menghadirkan data real-time yang menautkan pesisir Bawean dengan pusat kebijakan di ibukota. Namun di luar itu, kegiatan ini juga menghadirkan satu momen manusiawi yang berharga. Kegiatan groundcheck ini turut didampingi oleh Nursyamsi, Polisi Kehutanan Penyelia sekaligus Kepala Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Bawean, sosok yang telah 38 tahun mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk menjaga pulau ini. Di antara tim, ia berjalan perlahan menyusuri hutan mangrove yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama bertahun-tahun. Dengan tenang, ia menunjukkan lokasi-lokasi penting, mengenali setiap jenis mangrove dari bentuk daunnya, dan menceritakan bagaimana kawasan ini berubah seiring waktu. Menjelang purna tugasnya di akhir Oktober 2025, kehadirannya di lapangan bukan sekadar pendampingan teknis, melainkan simbol dari perjalanan panjang pengabdian. Setiap akar punya cerita, dan upaya konservasi akan terus berlanjut di tangan generasi berikutnya. Ketika senja turun perlahan di balik barisan mangrove muda, pantulan cahaya jingga menari di permukaan air yang tenang. Di sana, di antara siluet akar-akar yang kokoh, tergambar makna sejati dari konservasi, kerja yang tidak selalu tampak, tapi meninggalkan jejak panjang bagi masa depan. Groundcheck di Bawean bukan sekadar pengumpulan data, ia adalah potret kesetiaan pada alam, sains, dan waktu. Sebuah perjalanan yang mengikat manusia dan ekosistem dalam satu benang merah yaitu keberlanjutan. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Mahasiswa Mapala Himalaya Menyapa Musafir Langit, Upaya Bersama Mengarusutamakan Konservasi Burung Migran di Tulungagung

Tulungagung, 6 November 2025. Di hamparan persawahan Tulungagung, ribuan burung migran dari belahan bumi utara turun sebentar untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan panjang lintas benua. Di antara desir angin dan percik cahaya yang baru lahir, bersama petugas Seksi KSDA Wilayah I Kediri, sekelompok mahasiswa Mapala Himalaya dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung berdiri dengan teropong di tangan, menyambut para musafir langit itu dengan rasa ingin tahu sekaligus hormat. Kehadiran mereka bukan kebetulan. Pada 5 hingga 6 November 2025, Tim Seksi KSDA Wilayah I Kediri melakukan kunjungan dan pembinaan dalam rangka Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2025. Mapala Himalaya adalah kelompok pecinta alam binaan BBKSDA Jawa Timur yang tahun ini meraih juara pertama Lomba Wanalestari tingkat nasional. Kunjungan ini menjadi langkah konkret memperkuat kapasitas kader konservasi muda sekaligus mempertemukan mereka dengan fenomena ekologis yang sedang berlangsung: migrasi burung. Di ruang diskusi sederhana, tim BBKSDA Jatim membahas program-program kampus, arah pembinaan, dan potensi kolaborasi. Dua inisiatif Mapala Himalaya mendapat sorotan khusus: Rimbawan Mengajar dan Tulungagung Bird Walk (TBW). Rimbawan Mengajar digagas sebagai jembatan pengetahuan, membuka ruang belajar tentang kehutanan, konservasi, dan satwa liar bagi mahasiswa. Sementara itu, TBW menjadi peristiwa bersejarah sebagai kegiatan pengamatan burung pertama yang diselenggarakan di Kabupaten Tulungagung. Pada 6 November 2025, TBW perdana digelar di area persawahan jalur Tulungagung–Kediri, lokasi yang selama ini menjadi titik singgah ribuan terik asia (Glareola maldivarum), salah satu burung migran yang dilindungi. Di sana, para peserta belajar mengenali spesies, mengoperasikan binokular, dan mencatat perilaku burung migran yang melintas. Empat jenis teramati dengan jelas: trinil semak, cerek kenyit, cerek kalung kecil, dan kicuit kerbau. Setiap catatan lapangan yang dibuat menjadi mosaik kecil dalam upaya memahami pergerakan satwa yang bergantung pada keseimbangan habitat global. Kegiatan ini tidak sekadar latihan identifikasi, ia adalah penguatan literasi ekologis. Pada saat yang bersamaan, ia menanamkan kesadaran bahwa migrasi bukan sekadar perjalanan, melainkan sinyal tentang kesehatan bumi. Para mahasiswa membaca lanskap seperti membuka buku besar alam, menemukan bahwa sawah-sawah tempat mereka tumbuh ternyata juga menjadi panggung peradaban burung-burung dunia. Selaras dengan amanat Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Keanekaragaman Hayati dalam Pembangunan Berkelanjutan, BBKSDA Jawa Timur dan pihak kampus tengah menjajaki penyusunan deklarasi komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi kader konservasi. Dalam waktu dekat, Bird Walk akan kembali dilaksanakan, membuka ruang belajar lanjutan bagi peserta yang telah berulang kali terlibat dalam kegiatan ini. Di kaki langit Tulungagung, perjalanan burung migran terus berlanjut. Namun setiap langkah kecil yang dilakukan manusia di bumi. dari pembinaan, pengamatan, hingga kolaborasi, menjadi bagian penting dari upaya besar menjaga harmoni ekosistem. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Camera Trap Balai TN Batang Gadis Berhasil Merekam 25 Jenis Satwa Liar

Panyabungan, 6 November 2025. Sebanyak 25 jenis satwa liar berhasil terekam oleh camera trap yang dipasang oleh petugas Balai Taman Nasional Batang Gadis (BTNBG). Pemantauan ini berlangsung selama enam bulan terakhir di tiga lokasi berbeda di dalam kawasan taman nasional. Pemasangan camera trap bertujuan untuk memantau keberadaan serta aktivitas satwa liar di habitat alaminya. Dari hasil rekaman tersebut, tim memperoleh data penting yang digunakan untuk menghitung Relative Abundance Index (RAI), yaitu indikator yang menunjukkan kelimpahan relatif satwa di suatu kawasan. Semakin tinggi nilai RAI, semakin tinggi pula kepadatan populasi satwa yang menandakan kondisi habitat yang baik. Menariknya, salah satu satwa yang terekam adalah Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), predator puncak yang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem. Keberadaan harimau di alam liar menjadi indikator utama bahwa kawasan Taman Nasional Batang Gadis masih memiliki habitat yang sehat dan mendukung keanekaragaman hayati yang tinggi. Kepala Balai Taman Nasional Batang Gadis, Bapak Agusman, S.P., M.Sc, menyampaikan bahwa hasil pemantauan ini menjadi dasar penting dalam pengambilan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi. “Data dari camera trap tidak hanya memberi gambaran tentang keanekaragaman satwa, tetapi juga menjadi alat evaluasi efektivitas perlindungan habitat yang telah dilakukan,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, BTNBG terus berkomitmen menjaga kelestarian kawasan konservasi, serta mengajak seluruh pihak untuk mendukung upaya pelestarian alam demi keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan generasi mendatang. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Translokasi Induk - Anak Orangutan di Ketapang, Kolaborasi Perlindungan Satwa dan Masyarakat

Ketapang, 1 November 2025— Upaya kolaboratif antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), dan PT Hutan Kencana Damai (HKD) berhasil melakukan translokasi dua individu (induk dan anak) orangutan di Desa Tempurukan, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat Sabtu, (1/10). Translokasi ini dilakukan sebagai langkah penting untuk menjamin keselamatan orangutan sekaligus mengurangi potensi konflik antara manusia dan satwa liar yang kian meningkat akibat degradasi habitat. Kedua orangutan ini sebelumnya beberapa kali dilaporkan memasuki area perkebunan karet warga dan juga memakan buah-buahan seperti cempedak. Menanggapi laporan ini, tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalimantan Barat dan tim Orangutan Protection Unit (OPU) YIARI segera melakukan verifikasi di lapangan. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa konflik manusia-orangutan di lokasi tersebut berpotensi menimbulkan permasalahan serius antara manusia dan satwa liar. Oleh karena itu, tim memutuskan untuk mentranslokasikan orangutan ini ke lokasi yang lebih aman. Menilik pentingnya upaya translokasi ini ini, tim gabungan bergerak ke lokasi untuk melakukan evakuasi sejak pagi dan tiba sekitar pukul 06.30 WIB. Tim YIARI menggunakan senapan bius untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan, baik bagi satwa maupun tim di lapangan. Dosis obat bius dihitung secara cermat oleh dokter hewan YIARI berdasarkan ukuran dan perkiraan berat badan orangutan. Proses pembiusan ini tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan dilakukan oleh petugas yang telah memiliki surat izin resmi untuk menggunakan senapan bius dalam penanganan satwa liar. Setelah kedua orangutan terbius dan jatuh dengan lembut ke jaring yang sudah disiapkan, tim medis melakukan pemeriksaan kondisi fisik orangutan ini. Hasil pemeriksaan menunjukkan kedua orangutan induk - anak kondisinya sehat dan bisa langsung ditranslokasikan. Setelah melakukan pemeriksaan, tim langsung berangkat menuju kawasan Hutan Kencana Damai untuk proses translokasi. Kawasan ini merupakan hutan terdekat yang masih satu hamparan dengan lokasi di mana orangutan ini diselamatkan. Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam, kedua orangutan ini berhasil ditranslokasikan di dalam kawasan dengan melibatkan masyarakat setempat untuk membantu membawa orangutan masuk lebih jauh ke dalam hutan. Ketika dilepaskan, kedua orangutan ini menunjukkan respons positif, bergegas bergerak menjauh, dan menunjukan perilaku liar, menandakan kesiapannya untuk kembali hidup bebas di alam. Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, S.Hut., M.Si., mengatakan, “Translokasi adalah salah satu bentuk upaya penyelamatan satwa liar untuk meminimalkan interaksi negatif antara satwa liar dan manusia. Kondisi yangg diharapkan tentunya terwujudnya harmoni kehidupan antara manusia dengan satwa liar dan untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan pemahaman dan kerjasama semua pihak.” Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, dalam pernyataannya menegaskan bahwa translokasi ini merupakan langkah penting yang harus ditempuh demi keselamatan orangutan sekaligus keamanan masyarakat. “Langkah ini merupakan win-win solution yang menguntungkan semua pihak. Translokasi ini bukan hanya untuk menjamin keselamatan orangutan, tapi juga untuk meminimalkan kerugian warga. Selain itu, hasil pengamatan tim menunjukkan bahwa kawasan tersebut sudah mengalami degradasi dan fragmentasi habitat yang parah akibat konversi lahan hutan ke perkebunan dan encroachment di kawasan hutan.,” tutupnya. Tentang YIARI Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran, dan pemantauan pasca lepas liar. YIARI juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerjasama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara habitat, satwa, dan manusia. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Barat Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi: BKSDA KALIMANTAN BARAT: Jl. A Yani 121 Pontianak Kalimantan Barat 78124 TElp (0561) 735635; 760949 / Fax. (0561) 747004 Call Center: 08115776767 YIARI: +62821-5346-2720 (Heribertus Suciadi, Senior Manager Media dan Komunikasi YIARI)
Baca Berita

Kolaborasi BBKSDA Sumatera Utara dan OVAID untuk Penguatan Upaya Konservasi Orangutan

Medan, 3 November 2025 — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara menerima donasi Emergency Kit Bag dari Orangutan Veterinary Aid (OVAID) pada Jumat, 31 Oktober 2025. Bantuan tersebut berisi berbagai peralatan dan barang yang siap digunakan dalam kegiatan penyelamatan satwa di lapangan. OVAID merupakan lembaga amal sukarela yang dibentuk pada tahun 2014, dengan dedikasi utama dalam menyediakan peralatan medis, obat-obatan, serta dukungan tenaga dokter hewan untuk pusat-pusat penyelamatan orangutan di Indonesia dan Malaysia. Selama beberapa tahun terakhir, OVAID telah aktif memberikan dukungan kepada mitra BBKSDA Sumatera Utara, yaitu Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) dan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), dalam upaya penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran orangutan di wilayah Sumatera Utara dan Aceh. Bentuk kolaborasi ini tidak hanya berhenti pada penyediaan peralatan medis. Pada bencana longsor yang terjadi pada November 2024 di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan Batu Mbelin, Sibolangit, OVAID turut berperan penting dalam memberikan bantuan berupa donasi peralatan medis untuk memulihkan fasilitas klinik yang mengalami kerusakan cukup parah akibat kejadian tersebut. Kepala BBKSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S. Hut., M.AP., M. Env., menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas dukungan keberlanjutan yang diberikan OVAID. “Kami sangat berterima kasih atas support OVAID dalam upaya penanganan kesehatan orangutan dalam kegiatan rescue, rehabilitasi, dan rilis. Kami berharap kerja sama dan dukungan ini dapat terus berlanjut di masa mendatang,” ujar Novita. Sementara itu, perwakilan OVAID turut menyampaikan ucapan terima kasih atas penerimaan yang hangat dari BBKSDA Sumatera Utara. “Kami mengapresiasi dukungan dan fasilitasi yang diberikan oleh BBKSDA Sumatera Utara, khususnya terkait dengan rekomendasi bebas bea masuk untuk penerimaan barang donasi kepada lembaga mitra konservasi orangutan di Sumatera Utara. Hal ini sangat membantu kelancaran upaya kami dalam mendukung kegiatan konservasi,” ungkap Dr Nigel Hicks BVSc MRCVS & Sara Fell Hicks BA (Hons). Sinergi antara lembaga konservasi, organisasi internasional, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan hidup orangutan, salah satu satwa endemik kebanggaan Indonesia yang kini semakin membutuhkan perhatian dan perlindungan bersama. Sumber: Dede Syahputra Tanjung, S.P. - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

BBKSDA Sumatera Utara Evakuasi Tiga Ekor Elang Dilindungi di Kabupaten Labuhanbatu Selatan

Warga menyerahkan Elang Bondol secara sukarela kepada tim BBKSDA Sumatera Utara Labuhanbatu Selatan, 4 November 2025 — Balai Besar Koservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, berhasil mengevakuasi tiga ekor elang dilindungi dari masyarakat di Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Ketiga satwa tersebut terdiri atas satu ekor Elang Gunung (Nisaetus alboniger) dan dua ekor Elang Bondol (Haliastur indus). Evakuasi dilakukan oleh tim BBKSDA Sumatera Utara Bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dalam patroli bersama yang berlangsung pada 23-25 Oktober 2025 di wilayah kerja Resor TWA Holiday Resort, Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang. Setelah diserahkan secara sukarela, elang tersebut kini dititipkan di Willi KC Aviary & Farm untuk menjalani perawatan lebih lanjut. Kegiatan patroli ini berawal dari laporan masyarakat mengenai adanya warga yang memelihara satwa liar dilindungi, yaitu jenis elang, di wilayah Kota Pinang. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim BBKSDA Sumatera Utara bersama MMP melakukan patroli lapangan untuk menelusuri lokasi dimaksud. Hasil patroli menemukan tiga ekor elang dalam kondisi hidup yang dipelihara tanpa izin. Elang Gunung (Nisaetus alboniger) dikenal sebagai Blyth's Hawk-Eagle, merupakan burung pemangsa puncak dalam ekosistem hutan pegunungan. Sebarannya mencakup Semenajung Malaya, Sumatera, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil di kawasan Asia Tenggara. Memiliki bulu berwarna gelap (hitam/coklat gelap) dengan kepala abu-abu pucat, bagian bawah bercoret-coret atau bergaris, paruh kuat, dan cakar tajam. Spesies ini menghuni hutan pegunungan dan dataran tinggi, namun populasinya terancam akibat perburuan dan hilangnya habitat. Sementara itu, Elang Bondol (Haliastur indus), adalah burung pemangsa menengah dalam rantai ekosistem. Burung ini mudah dikenali dengan ciri khas: bagian kepala, leher dan dada berwarna putih; bagian punggung, sayap, dan ekor berwarna cokelat kemerahan/merah bata. Spesies ini sering ditemukan di daerah pesisir, sungai, dan bahkan kawasan perkotaan. Elang Bondol dilindungi karena sering menjadi target perdagangan ilegal sebagai hewan peliharaan. Umumnya masyarakat tidak mengetahui bahwa jenis elang tersebut merupakan satwa yang dilindungi undang-undang. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran inilah yang sering kali memicu masyarakat untuk memelihara atau memperjualbelikan satwa liar secara ilegal. Melalui kegiatan patroli bersama ini, BBKSDA Sumatera Utara menegaskan komitmennya dalam melindungi satwa liar dan menegakkan peraturan konservasi di Sumatera Utara serta meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak memelihara atau memperdagangkan satwa yang dilindungi. BBKSDA Sumatera Utara menghimbau masyarakat untuk segera melapor apabila menemukan atau mengetahui adanya kegiatan pemeliharaan maupun perburuan satwa dilindungi. Warga menyerahkan Elang Gunung secara sukarela kepada tim BBKSDA Sumatera Utara Sumber: Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Pelepasliaran Pecuk Padi Hitam Warnai Festival Mangrove ke-8 Jawa Timur di Bangkalan

Bangkalan, 3 November 2025. Langit Bangkalan siang itu tampak berat oleh awan, sementara angin laut membawa aroma asin yang khas. Di antara suara debur ombak Pantai Martajasah, sepuluh ekor burung Pecuk Padi Hitam (Phalacrocorax sulcirostris) mengepakkan sayapnya untuk pertama kali menuju kebebasan. Hitam legam bulunya kontras dengan air laut keperakan yang berkilau di bawah cahaya redup. Burung-burung air itu bukan berasal dari alam liar, melainkan hasil pengembangbiakan Lembaga Konservasi PDTS Kebun Binatang Surabaya (KBS). Setelah melalui proses perawatan dan observasi oleh tim medis serta kurator satwa, kesepuluh individu ini dinyatakan siap dilepaskan ke habitat alaminya. Pelepasliaran tersebut menjadi bagian penting dari upaya reintroduksi satwa perairan ke wilayah ekosistem mangrove di Jawa Timur. Pelepasliaran dilaksanakan dalam rangka Festival Mangrove ke-8 Jawa Timur, yang digelar oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur pada 3 November 2025 di Pantai Martajasah, Kabupaten Bangkalan. Kegiatan ini dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Dirjen Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Kementerian LHK, Bupati Bangkalan, Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur, serta Akhadi Wira Satriaji (Kaka Slank), musisi yang dikenal sebagai pegiat lingkungan dan penggerak gaya hidup ramah energi. Sebelum kandang-kandang dibuka, Tim dari Seksi Konservasi Wilayah IV Pamerkasan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) memberikan pengantar ilmiah kepada para tamu undangan. Mereka menjelaskan bahwa Pecuk Padi Hitam merupakan burung air pemakan ikan kecil yang berperan sebagai indikator ekologis bagi ekosistem pesisir. Keberadaannya menandakan perairan yang sehat dan rantai makanan yang seimbang. “Pelepasliaran ini adalah upaya untuk mengembalikan peran ekologis satwa di alam,” jelas Disik Sutrisno, Penyuluh Kehutanan Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan. “Burung ini tidak hanya bagian dari keindahan, tetapi juga penjaga keseimbangan hayati di kawasan pantai dan mangrove.” imbuhnya. Momen sakral itu tiba ketika Gubernur Khofifah, bersama Kaka Slank dan para pejabat lain, membuka pintu kandang satu per satu. Dalam cuaca yang cerah, burung-burung itu melesat ke udara, sayapnya mengibas menyambuut kebebasan. Beberapa melintas di atas area mangrove muda yang baru ditanam, sebelum akhirnya menghilang ke arah cakrawala. Suasana hening sejenak. Sorot mata para peserta, mulai dari aparat pemerintah, komunitas lingkungan, hingga masyarakat pesisir, terpaku pada langit yang kini diwarnai gerakan sayap hitam yang bebas. Pelepasliaran itu menjadi simbol nyata dari harapan dan kolaborasi, antara lembaga konservasi, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga kesinambungan kehidupan. Burung-burung yang lahir di bawah pengawasan manusia kini kembali ke habitat alaminya. Sebuah perjalanan ekologis yang penuh makna, dari kandang konservasi menuju bentang pesisir yang menjadi rumah sejati mereka. Kegiatan ini juga menegaskan sinergi multipihak dalam konservasi ekosistem mangrove Jawa Timur, yang kini menjadi provinsi dengan luasan mangrove terbesar di Pulau Jawa, mencapai hampir 30.839 hektare. Di sela kegiatan penanaman mangrove dan edukasi masyarakat, pelepasliaran ini menjadi penanda bahwa konservasi bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi juga mengembalikan kehidupan yang pernah hilang. Saat para peserta beranjak dari pantai, sepuluh sayap hitam itu sudah menjauh. Mereka membawa pesan yang tak terucap, bahwa setiap makhluk, sekecil apapun, berhak atas kebebasan dan tempatnya di bumi. Dan manusia, dengan segala ilmunya, memiliki tanggung jawab untuk memastikan hal itu tetap terjaga.(dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Dua Ekor Monyet Panik di Tengah Pemukiman! Warga Bojonegoro Heboh, Tim Penyelamat Turun Tangan!

Bojonegoro, 31 Oktober 2025. Suasana tenang di Desa Karang Dayu, Kecamatan Baureno, mendadak berubah ricuh ketika dua ekor monyet liar muncul di antara rumah warga. Seekor jantan dan seekor betina dari jenis Macaca fascicularis tampak gelisah, melompat dari atap ke atap, memicu kepanikan setelah salah satu warga dikabarkan tergigit. Kabar cepat menyebar hingga ke petugas pemadam kebakaran yang segera melakukan upaya penyelamatan. Setelah proses penangkapan yang cukup menegangkan, kedua satwa akhirnya berhasil diamankan dan diserahkan ke petugas Seksi Konservasi Wilayah II Bojonegoro bersama tim Resort Konservasi Wilayah 04 Bojonegoro–Tuban (31/10/25). Dua monyet ekor panjang itu diperiksa secara fisik dan terlihat dalam kondisi sehat. Untuk sementara waktu, keduanya ditempatkan di kandang transit satwa di kantor Seksi Konservasi Wilayah II Bojonegoro, sambil menunggu proses observasi dan penanganan lebih lanjut. Kehadiran monyet liar di area permukiman bukan peristiwa baru di Bojonegoro. Berkurangnya ruang alami akibat perubahan bentang lahan menjadikan satwa-satwa adaptif seperti Macaca fascicularis semakin sering berinteraksi dengan manusia. Situasi semacam ini menggambarkan batas rapuh antara dunia liar dan dunia manusia, di mana keduanya kian sering bersinggungan. Dari balik pagar rumah dan rerimbun pepohonan, dua makhluk kecil itu kini menunggu masa tenang mereka, jauh dari hiruk pikuk kota yang bukan lagi tempat bagi yang liar untuk mencari makan atau berlindung. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Sinergi Krida Reksa Wana di Peran Saka Nasional 2025

Gorontalo, 3 November 2025. Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE), Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama UPT Ditjen KSDAE lingkup Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo mengikuti kegiatan Peran Saka Nasional Tahun 2025 yang dilaksanakan di Bumi Perkemahan Bongohulawa, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo mulai tanggal 3 November hingga 9 November 2025. Kegiatan ini selain untuk mengembangkan potensi kepemimpinan dan keterampilan anggota Satuan Karya, juga mempererat rasa kebersamaan dan pengabdian sosial di kalangan generasi muda Indonesia. Kemenhut melalui Saka Wanabakti mendukung kegiatan Krida Reksa Wana yang dikawal Ditjen KSDAE dan Ditjen Penegakan Hukum Kehutanan melalui pameran pada Saka Expo dan pemberian materi. Upacara pembukaan Peran Saka Nasional 2025 diikuti sekitar 3.224 peserta seluruh Indonesia,dengan petugas upacara dari gugus depan Kwartir cabang Gorontalo. Tema tahun ini adalah Pramuka Berkarya Indonesia Jaya dengan motto "Satya Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan". Komjen Pol (Purn) Drs. Budi Waseso, Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka selaku pembina upacara membuka kegiatan sekaligus memberikan arahan dan semangat bahwa “Gerakan pramuka merupakan benteng pembentuk karakter digital generasi muda dan cinta alam adalah ciri seorang pramuka, untuk tonggak penting berkarya dan berkontribusi nyata bagi Indonesia”. Bapak Budi Waseso menambahkan bahwa “Kenapa Provinsi Gorontalo dipilih menjadi tempat Peran Saka Nasional 2025 karena Provinsi Gorontalo memiliki tanah yang kaya akan nilai - nilai kearifan lokal yang mendukung atmosfer kekeluargaan dan dapat menjadi teladan Peran Saka Nasional dalam menumbuhkan semangat kesatuan dan gotong royong, belajar dalam berorganisasi menghadapi dinamika kehidupan masyarakat”. Bapak Komjen menutup pembukaan dengan semangat “Satu Pramuka Satu Indonesia, Jayalah Pramuka Jayalah Indonesia” Krida Reksa Wana sendiri dapat berarti keanekaragaman hayati, konservasi kawasan, perlindungan hutan, konservasi jenis satwa, konservasi jenis tumbuhan, penelusuran gua, pendakian, pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pengamatan satwa, penangkaran satwa, pengendalian perburuan dan pembudidayaan tumbuhan. Sebagai informasi, maskot Peran Saka Nasional Tahun 2025 berbentuk Hiu Paus Satwa Khas Gorontalo yang mengenakan seragam pramuka, melambangkan kekuatan, ketangguhan, dan semangat kebersamaan. Hiu paus sebagai simbol laut mencerminkan kelestarian alam, sementara seragam pramuka menggambarkan komitmen anggota pramuka dalam pengabdian dan pengembangan diri. Maskot ini menginspirasi peserta untuk menjadi pribadi yang kuat, peduli terhadap lingkungan, dan siap berkontribusi bagi masyarakat. Sumber: Sekretariat Direktorat Jenderal KSDAE
Baca Berita

BKSDA Jambi Lakukan Penanganan Cepat Kasus Serangan Beruang Madu di Kecamatan Mestong

Muaro Jambi, 30 Oktober 2025 — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi melalui Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah (SKSDAW) II bergerak cepat menindaklanjuti laporan adanya serangan satwa liar diduga Beruang Madu (Helarctos malayanus) terhadap seorang warga Desa Sukadamai, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi. Laporan tersebut diterima melalui Call Center BKSDA Jambi dan surat resmi dari Camat Mestong Nomor 300/369/MTG-Trantib/X/2025 tertanggal 29 Oktober 2025 perihal Permohonan Bantuan Penanganan Hewan Buas (Beruang). Setelah menerima laporan, tim BKSDA segera berkoordinasi dengan Camat Mestong untuk memverifikasi kejadian dan menyiapkan langkah penanganan di lapangan. Dari hasil verifikasi diketahui, pada Rabu, 29 Oktober 2025 pukul 08.00 WIB, korban bernama Sutini (50 tahun) bersama suaminya, Priyono, sedang menyadap karet di kebun mereka yang berada di RT 07 Dusun Sidomulyo, Desa Sukadamai. Saat beraktivitas, korban diserang satwa liar diduga Beruang Madu dan mengalami luka serius di bagian wajah, pelipis, dan paha. Korban dievakuasi ke klinik terdekat dan selanjutnya dirujuk ke RSUD Raden Mattaher Jambi untuk mendapatkan perawatan intensif. Menindaklanjuti laporan tersebut, pada pukul 17.30 WIB, tim BKSDA Jambi bersama Bhabinkamtibmas, perangkat desa, dan masyarakat melakukan pengecekan ke lokasi kejadian. Di sekitar tempat kejadian, ditemukan bekas cakaran pada batang pohon yang mengindikasikan keberadaan Beruang Madu. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa korban benar diserang oleh satwa liar tersebut. Kemudian pada pukul 18.30 WIB, tim memberikan imbauan kepada masyarakat agar lebih berhati-hati dan segera melaporkan kepada petugas jika melihat tanda keberadaan satwa liar di area perkebunan. Keesokan harinya, Kamis, 30 Oktober 2025, tim Seksi KSDA Wilayah II kembali melakukan penyisiran lokasi bersama Babinsa, anggota Polsek Mestong, perangkat desa, dan warga setempat. Dari hasil penyisiran ditemukan bekas cakaran baru pada pohon karet tua, yang menjadi dasar penentuan lokasi pemasangan satu unit kandang jebak (box trap) untuk upaya penangkapan dan relokasi satwa. Selain itu, tim juga memberikan sosialisasi mitigasi konflik kepada warga untuk menenangkan situasi dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat sekitar. Kandang jebak tersebut akan terus dipantau dan diperiksa secara berkala oleh petugas. Hingga saat ini, tim belum dapat menjenguk korban karena masih dalam perawatan medis berupa tindakan operasi. Kasus ini bukan yang pertama terjadi di Desa Sukadamai. Pada Februari 2023 pernah terjadi serangan serupa di lokasi berjarak sekitar 2,3 kilometer dari kejadian terbaru. Selain itu, pada 20 Oktober 2025, BKSDA Jambi juga menerima laporan gangguan Beruang Madu di Kelurahan Tempino, sekitar 8 kilometer dari lokasi tersebut. Kawasan ini merupakan hamparan hutan karet seluas ±50 hektar dengan semak belukar yang masih menjadi habitat alami satwa liar. BKSDA Jambi menyampaikan apresiasi atas kerja sama antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat yang tanggap terhadap kejadian ini. Kolaborasi cepat dinilai menjadi kunci penting dalam mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar di wilayah yang berbatasan langsung dengan habitat alami satwa. Sumber: Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Tak Disangka! Elang Bondol Tersesat di Tengah Kota, Lihat Apa yang Dilakukan Warga Ini!

Surabaya, 31 Oktober 2025. Siapa sangka, di antara gemerlap lampu kota dan lalu lintas padat kawasan Wiyung, seekor elang tiba-tiba tampak melayang rendah, kehilangan arah di tengah deru kendaraan dan gedung-gedung tinggi. Langit kota yang biasanya dikuasai kabut polusi sore itu menjadi saksi langka, satu individu satwa dilindungi jatuh di jantung Surabaya. Beruntung, keberadaannya disadari oleh Ivan Faris, seorang warga Dukuh Menanggal, Gayungan. Saat pulang kerja, matanya menangkap sosok burung besar yang tampak kelelahan di tepi jalan. Tanpa ragu, ia mendekat, memastikan satwa itu aman, dan dengan penuh kepedulian menghubungi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) untuk menyerahkannya secara sukarela. Menindaklanjuti laporan Ivan, pada Jumat, 31 Oktober 2025, Tim Penyelamatan Satwa Liar (MATAWALI) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya segera diterjunkan ke lokasi. Tiga petugas, Sinung Ariyanto (Penelaah Teknis Kebijakan), Yudianang Indra Irwan (Polisi Kehutanan Penyelia), dan Hartono (Polisi Kehutanan Terampil), melakukan evakuasi dan identifikasi lapangan. Hasil pemeriksaan memastikan bahwa burung tersebut adalah Elang Bondol (Haliastur indus), seekor pemangsa berukuran sedang yang menjadi simbol langit pesisir Nusantara. Dalam kondisi sehat, satwa itu kemudian dibawa menuju Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk pemeriksaan lanjutan dan perawatan sementara. Elang bondol adalah spesies yang dilindungi berdasarkan Undang - Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta terdaftar dalam CITES Apendiks II, yang berarti perdagangannya diatur ketat di seluruh dunia. Biasanya, burung ini menghuni wilayah perairan, rawa, atau hutan mangrove. Namun, perubahan bentang alam dan tekanan habitat membuat beberapa individu kerap tersesat hingga ke kawasan perkotaan. Kasus di Surabaya ini menjadi pengingat bahwa kehidupan liar masih berjuang di antara dinding beton dan atap rumah-rumah manusia. “Setiap laporan masyarakat yang menyerahkan satwa secara sukarela sangat berarti bagi upaya konservasi. Ini menunjukkan kesadaran ekologis yang tumbuh di tengah kehidupan urban,” ungkap Yudianang Indra, tim MATAWALI di lokasi evakuasi. Kini, elang bondol itu berada di tempat aman, di bawah pemantauan petugas wildlife rescue unit. Setelah dinyatakan sehat dan siap, ia akan dikembalikan ke habitat alaminya, langit bebas, tempat seharusnya ia terbang. Sementara itu, tindakan sederhana Ivan menjadi kisah inspiratif yang menunjukkan bahwa kepedulian tidak selalu menuntut kekuatan besar; cukup satu panggilan telepon, satu niat baik, dan satu langkah berani untuk menjaga kehidupan liar tetap lestari. Elang bondol dikenal pula dengan nama Brahminy Kite, burung pemangsa berwarna dada putih dan tubuh coklat kemerahan. Ia merupakan simbol kewaspadaan dan semangat kebebasan, serta menjadi maskot Jakarta. Dalam budaya Nusantara, burung ini dipercaya sebagai penjaga langit dan penanda keseimbangan antara manusia dan alam. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Ratusan Burung Liar Nyaris Diselundupkan, Lihat Bagaimana Mereka Akhirnya Terbang Bebas di Baluran!

Banyuwangi, 30 Oktober 2025. Malam itu, di antara gemuruh ombak Selat Bali dan lampu kapal yang berkelip di Pelabuhan Ketapang, petugas S Satuan Polisi Perairan dan Udara, Polresta Banyuwangi menemukan enam boks plastik mencurigakan. Isinya bukan barang biasa, melainkan ratusan burung liar yang dijejalkan dalam ruang sempit, berjuang bernapas di tengah gelap dan panas. Tak butuh waktu lama, Tim Penyelamatan Satwa Liar (Matawali) dari Resor Konservasi Wilayah (RKW) 13 Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), segera diterjunkan untuk melakukan identifikasi satwa hasil pengamanan oleh Satuan Polisi Perairan dan Udara Polresta Banyuwangi tersebut. Dari hasil pemeriksaan pada Rabu malam, 29 Oktober 2025, tidak ditemukan satwa dilindungi. Namun kisahnya tidak berhenti di sana. Di balik angka dan laporan, tersimpan kisah getir perdagangan satwa liar yang tak kunjung padam, rantai panjang yang kerap menjerat makhluk tak bersalah dalam jerat ekonomi gelap. Keesokan paginya, 30 Oktober 2025, tim Matawali kembali melakukan penghitungan ulang. Dari enam boks yang diamankan, terdapat 111 ekor burung dari dua jenis berbeda, terdiri dari Perenjak coklat (Prinia polychroa) 21 ekor, dengan satu ekor ditemukan mati, Kerak kerbau atau jalak kerbau (Acridotheres javanicus) 90 ekor, dengan dua ekor mati. Meski bukan satwa dilindungi, keduanya punya peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem: memakan serangga, menyebar biji, dan menjadi indikator kesehatan lingkungan. Hasil identifikasi itu dituangkan dalam Berita Acara, sebuah dokumen resmi yang menjadi saksi dari upaya penyelamatan ini. Setelah melalui pemeriksaan Badan Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Timur di Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, seluruh satwa kemudian diserahkan kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur untuk ditindaklanjuti. Koordinasi lintas lembaga pun segera dilakukan. Dengan menggandeng Balai Taman Nasional Baluran, ratusan burung itu kemudian dievakuasi dan dilepasliarkan ke habitat alami mereka di Taman Nasional Baluran, kawasan yang masih menyimpan padang savana luas dan pepohonan rindang, tempat ideal bagi mereka untuk kembali hidup bebas. Pelepasliaran ini menjadi momen kolaborasi empat lembaga pemerintah, Balai Besar KSDA Jawa Timur, Badan Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Timur, Satuan Polisi Perairan dan Udara Polresta Banyuwangi, serta Balai Taman Nasional Baluran. Empat institusi, satu tujuan, memastikan setiap nyawa liar mendapat haknya untuk kembali ke alam. Penandatanganan bersama Berita Acara Pelepasliaran Satwa Liar, menandai berakhirnya perjalanan panjang burung-burung itu dari boks plastik sempit menuju kebebasan di langit Baluran. Tidak semua yang tak dilindungi boleh diperdagangkan sesuka hati. Hal sederhana tersebut mencerminkan prinsip dasar konservasi, bahwa setiap makhluk hidup, sekecil apapun, memiliki peran dalam menjaga keseimbangan bumi. Kisah malam di Ketapang ini bukan sekadar laporan pengamanan. Ia adalah pengingat, bahwa kerja konservasi bukan hanya menyelamatkan yang langka, tapi juga menjaga yang biasa agar tetap ada. Dan pagi itu, ketika burung-burung itu kembali mengepakkan sayapnya di langit Baluran, alam seolah berbisik, “Terima kasih, manusia, karena masih ada yang peduli.” (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 81–96 dari 11.091 publikasi