Kamis, 4 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Launching Pengelolaan Wisata Alam Berbasis Masyarakat Grenden

Magelang, 2 November 2017. Balai Taman Nasional Gunung Merbabu menggelar Launching Pengelolaan Wisata Alam Berbasis Masyarakat di Grenden, Resort Wekas, SPTN Wilayah II Krogowanan. Acara ini dihadiri oleh Kepala Desa Pogalan, Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Magelang, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang, Kapolres serta Danramil Pakis, Camat Pakis, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Kepala Bappeda dan Litbangda Kabupaten Magelang, perwakilan dari Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Yogyakarta dan Balai KSDA Jawa Tengah, serta para masyarakat penggiat wisata alam. Kerjasama antara Balai Taman Nasional Gunung Merbabu dengan Penggiat Wisata Alam Grenden telah resmi ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerjasama. “Perjanjian kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta masyarakat di dalam dan/atau sekitar kawasan untuk upaya pelestarian dan pemanfaatan kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu, meningkatkan kepedulian masyarakat sekitar kawasan terhadap konservasi kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu, serta untuk mengembangkan potensi wisata alam terbatas di zona tradisional kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu”, ujar Ir. Edy Sutiyarto Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu. Launching ini ditandai dengan pemukulan gong oleh Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Magelang, pemotongan pita oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu, Pelepasan burung sebanyak 60 ekor, serta pemancangan pal batas. Kemitraan di zona tradisional grenden ini merupakan salah satu role model yg diajukan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu kepada Direktur Jenderal KSDAE untuk diselesaikan pada Tahun 2018. Dengan ditandatanganinya kemitraan ini berarti Balai Taman Nasional Gunung Merbabu telah memulai/mendahului tahapan milestone dalam role model Balai Taman Nasional Gunung Merbabu. Selanjutnya diharapkan masyarakat Dusun Grenden yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu dapat meningkat kesejahteraannya. Dan dengan kerjasama ini mendukung kerja bersama antara masyarakat Dusun Grenden, Balai Taman Nasional Gunung Merbabu, serta instansi yang berada di Kabupaten Magelang. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

Pembentukan dan Pembinaan Saka Wanabakti Pramuka di Bidang PTN Wilayah II Sukabumi Balai Besar TNGGP Tahun 2017

Sukabumi, 28 - 29 Oktober 2017. Bertempat di Resort PTN Selabintana, Bidang PTN Wilayah II Sukabumi, Balai Besar TNGGP, melaksanakan pembentukan dan pembinaan Kader Konservasi dari kelompok Saka Wanabakti, dengan peserta 30 orang Pramuka Penegak SMK Negeri 1 Sukabumi. Acara dimulai dengan pembukaan oleh Ir. Syahrial Anuar, M.M. (Kepala Bidang PTN Wilayah II Sukabumi), dilanjutkan dengan ice breaking (penggembiraan), pengkonsentrasian, mencari pengalaman, dan berbagi pengalaman. Dalam sambutannya pada acara pembukaan Ir. Syahrial Anuar, M.M. menyampaikan bahwa Pramuka Saka Wanabakti adalah wadah bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk melaksanakan kegiatan nyata, produktif, dan bermanfaat dalam rangka menanamkan rasa tanggungjawab terhadap pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberi wadah pendidikan di bidang kehutanan kepada anggota gerakan Pramuka, khususnya Krida Reksawana, agar mereka dapat membantu membina dan mengembangkan kegiatan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup, melaksanakan secara nyata, produktif, dan sebagai baktinya terhadap pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara. Agar peserta bisa mengikuti kegiatan dengan semangat, maka dilakukan acara “penggembiraan”, melalui permainan ice creaking yang menggembirakan. Maksudnya agar mereka lupa pada kegiatan-kegiatan rutin dan permasalahan yang ada, sehingga bisa mengikuti pelatihan dengan baik. Setelah mereka gembira dan lupa dengan rutinitas, mulai diarahkan pada situasi kegiatan, melalui acara “pengkonsentrasian”. Dengan demikian para peserta bisa lebih siap menerima materi pelatihan. Pada setiap pemberian materi, diakhiri dengan berbagi pengalaman diantara peserta, dan berbagai pengalaman dengan mentor. Materi pelatihan hanya disajikan dengan metoda permainan (games), dan setiap perserta ikut merasakan atau mengalami serangkaian kegiatan yang menyenangkan untuk setiap materi. Bila terpaksa harus ada pemberian informasi dilakukan dengan metoda berbagi pengalaman (sharing). Materi yang diberikan yaitu, pengenalan hutan dan taman nasional, pengenalan dan penggunaan GPS, pengenalan Saka Wanabakti, kesamaptaan dan pembinaan mental, penjejakan malam, dan renungan rimba. Pada akhir setiap rangkaian game materi untuk menambah panjang kenangan diberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman diantara peserta. Selain itu untuk menambah wawasan, dilakukan berbagi pengalaman dengan mentor. Selama mengikuti pelatihan, peserta sangat antusias, hal ini terlihat dari partisipasi aktif para perserta, baik saat mengikuti rangkaian kegiatan (game) pemberian materi, maupun saat berbagi pengalaman. Menurut ketua panitia pelaksana pelatihan sekaligus sebagai Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), setelah dibentuknya Dewan Saka Wanabakti Kwartir Ranting Sukabumi, diharapkan mereka akan: Sebagai tindak lanjut kedepan akan dilakukan monitoring dan pembinaan rutin minimal satu bulan sekali bagi anggota Pramuka Saka Wanabakti di sekolah SMK Negeri Sukabumi sebagai lokasi Gugus Depan Pramuka Saka Wana Bakti di lingkup Kwartir Ranting Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi. Lebih lanjut ketua panitia pelaksana berharap, dengan terbentuknya Saka Wanabakti ini dapat menambah kuantitas dan kualitas Kader Konservasi di tingkat sekolah yang dapat membantu mensosialisasikan pengelolaan hutan pada umumnya dan pelestarian kawasan taman nasional khususnya TNGGP. SALAM PRAMUKA....!!! Sumber: Bidang PTN Wilayah II Sukabumi – BBTN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Cacing Sonari Sebagai Peluang Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

Cibodas, 26 Oktober 2017. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) menyelenggarakan Lokakarya Pemanfaatan Potensi Keanekaragaman Hayati dengan tema “Cacing Sonari sebagai Peluang Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat” Tema tersebut diambil mengingat TNGGP merupakan salah satu habitat Cacing Sonari dan kalangan masyarakat memiliki keyakinan bahwa Cacing Sonari berkhasiat untuk kesehatan dan mempunyai nilai jual yang tinggi. Tujuan Lokakarya adalah: Lokakarya ini diikuti oleh pegawai TNGGP, masyarakat, dan volunteer TNGGP, dengan jumlah 40 orang, dilaksanakan di ruang film Wisma Cinta Alam Suryakancana, Cibodas. Acara dibuka oleh Plh. Kepala Balai Besar Ir. Yusak Mangetan, M.A.B dilanjutkan dengan materi yang disampaikan oleh tiga narasumber yaitu: Kasubdit Pemanfaaatan Jenis Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (Nunu Anugrah, S.Hut, M.Sc.) menyampaikan materi Kebijakan Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati untuk Kesejahteraan Masyarakat, dilanjutkan Dr. Hari Nugroho Peneliti dari Puslit Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyampaikan materi Aspek Biologi Cacing Tanah, dan Dr. Ir. H. M. Yahya Ahmad, MA.Ed praktisi penangkar cacing sekaligus sebagai Dosen Fakultas Pertanian Universitas Suryakancana menyampaikan materi Teknik Penangkaran Cacing, dengan moderator Kepala Bidang Teknis Konservasi (Mimi Murdiah). Berdasarkan hasil pemaparan materi dan diskusi, diperoleh kesimpulan: Hal-hal yang akan ditempuh Balai Besar TNGGP untuk menindaklanjuti hasil lokakarya adalah: Sumber: Dadang Iskandar, S.P. – Pengendali Ekosistem Balai Besar TNGGP
Baca Berita

BKSDA Sumatera Selatan Bersama Masyarakat, TNI, dan POLRI Musnahkan 16 Pondok di Talang Abas

Lahat, 1 Nopember 2017. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan terus berupaya untuk menjaga kawasan konservasi yang dikelolanya dari tekanan masyarakat. Tipologi tekanan selain oleh masyarakat sekitar kawasan juga dilakukan oleh masyarakat yang berasal jauh dari kawasan. Karakter tekanan oleh masyarakat sekitar kawasan dilatarbelakangi oleh tuntutan akan kebutuhan hidup yang menjadi penyebab aktivitas penggunaan kawasan secara non prosedural. Sedangkan masyarakat pendatang yang berasal jauh dari kawasan didominasi bukan untuk kebutuhan hidup melainkan pada kepentingan investasi bahkan adanya kepentingan pedagang besar yang siap menampung hasil penggunaan kawasan secara non prosedural yaitu komoditi kopi. Selain itu terdapat kebutuhan akan ruang kelola oleh masyarakat datangan tersebut yang apabila tidak segera ditertibkan dapat berkembang menjadi permanen bahkan tumbuh sebagai permukiman. Hutan Suaka Alam Kelompok Hutan (HSA KH) Gumai Tebing Tinggi yang merupakan kawasan yang dikelola oleh Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat BKSDA Sumatera Selatan merupakan kawasan konservasi yang dominan tekanan kawasannya dilakukan oleh masyarakat datangan yang berasal dari Kecamatan Lintang Kabupaten Empat Lawang dan Kecamatan Tanjung Sakti Kabupaten Lahat dimana kebijakan penanganan oleh SKW II Lahat diprioritaskan untuk menertibkan penggunaan kawasan secara non prosedural oleh masyarakat tersebut. Pendekatan kepada masyarakat desa-desa penyangga kawasan terus dilakukan oleh petugas untuk bersama-sama dan bekerjasama menertibkan penggunaan kawasan secara non prosedural yang masif dilakukan oleh masyarakat datangan tersebut dikarenakan dampak bencana dapat ditimbulkan dengan menurunnya fungsi kawasan akan mengancam masyarakat desa-desa penyangga. Hal tersebut selaras dengan arahan Kepala BKSDA Sumatera Selatan Genman S. Hasibuan yang selalu menekankan kepada jajarannya untuk menjadikan masyarakat desa-desa penyangga sebagai mitra strategis dalam upaya perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi. Talang Abas merupakan target penertiban penggunaan kawasan secara non prosedural di HSA KH Gumai Tebing Tinggi yang dilakukan oleh masyarakat datangan dari Kecamatan Lintang Kabupaten Tebing Tinggi. Dalam penertiban kali ini BKSDA Sumatera Selatan bersama-sama dan bekerjasama dengan masyarakat desa penyangga, petugas kecamatan, TNI dan POLRI menargetkan untuk membersihkan Talang Abas yang didominasi oleh komoditi kopi. Tim penertiban berjumlah 30 orang terdiri dari balai (5 orang), SKW II (2 orang), SKW III (1 orang), RKW IV Gumai (3 orang), RKW V Isau-Isau (3 orang), RKW VI Tebing Tinggi (10 orang), Koramil Kikim (1 orang), Polsek Kikim Selatan (2 orang), Petugas Kecamatan Kikim Selatan (1 orang) dan perangkat desa (2 orang). Dalam pelaksanaan kegiatan penertiban di Talang Abas, tim berhasil memusnahkan 16 pondok dan menebas tanaman kopi yang berada di talang tersebut. Selain itu tim menemukan beberapa titik tumpukan Kayu Tenam. Tumpukan pertama terdiri dari kayu papan dengan ukuran panjang 4 m, lebar 25 cm dan ketebalan 3 cm sebanyak 50 keping (1,5 kubik) dan kayu balok dengan ukuran panjang 4 m, lebar 8 cm dan tebal 12 cm sebanyak 30 batang (1,15 kubik). Tumpukan kedua terdiri dari kayu balok dengan ukuran panjang 4 m, lebar 8 cm dan tebal 12 cm sebanyak 30 batang (1,15 kubik). Dan tumpukan ketiga kayu papan dengan ukuran panjang 4 m,lebar 25 cm dan tebal 3 cm sebanyak 25 keping (0,75 kubik) dan kayu balok dengan ukuran panjang 4 m, lebar 8 cm, dan tebal 12 cm sebanyak 15 batang (0,57 kubik). Kayu dengan total volume 5,12 kubik yang diduga berasal dari aktivitas pembukaan kawasan untuk kebun kopi di Talang Abas tersebut telah dimusnahkan dalam kawasan. BKSDA Sumatera Selatan bersama masyarakat tidak akan pernah lelah untuk terus menertibkan penggunaan kawasan secara non prosedural dalam upaya menjaga kawasan konservasi yang merupakan titipan anak cucu yang harus dijaga kelestariannya. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Penangkapan Penyelundupan Trenggiling Oleh BBKSDA Riau Bersama Polda Riau

Pekanbaru (1/11/2017). 70 ekor trenggiling (Manis javanica) dengan berat lebih dari 300 kg dan harga berkisar 200 juta yang rencananya akan kembali di selundupkan ke Malaysia di amankan oleh Polda Riau di Jl. Raya Pelalawan Bengkalis. Sebelumnya sempat terjadi kejar mengejar antara pelaku dengan petugas. Penangkapan tersebut dilakukan oleh Tim dari Subdit 1 bersama Subdit 4 Polda Riau. Trenggiling dan sisiknya yang diduga berasal dari Provinsi. Jambi diangkut oleh dua orang tersangka berinisial Am dan J. Trenggiling trenggiling tersebut ditempatkan dalam enam kotak. Sedangkan bagian dari satwa tersebut berupa sisik ditempatkan dalam satu kantong plastik dengan berat sekitar 4 kg. Penangkapan trenggiling ini adalah untuk ketiga kalinya dalam kurun waktu satu bulan. Penangkapan pertama terjadi pada tanggal 5 Oktober 2017 dan telah diamankan sebanyak 95 ekor trenggiling dengan dua kotak sisik seberat 37,55 kg oleh Bea Cukai Dumai di daerah Slingsing Jl. Lintas Dumai Pakning. Namun sayang, pada penangkapan tersebut pelaku melarikan diri. Penangkapan kedua terjadi pada tanggal 24 Oktober 2017 dan telah diamankan sebanyak 101 ekor trenggiling. Penangkapan dilakukan oleh TNI AL Dumai di sekitar perairan Bengkalis dengan tersangka dua orang berinisial B dan A. Sedangkan untuk Penangkapan ketiga dilakukan oleh Polda Riau di Jl. Raya Pelelawan Bengkalis. Diperkirakan penangkapan ketiga ini terkait dengan penangkapan penangkapan sebelumnya. Untuk itu dalam konferensi persnya Direktur Reskrimsus Polda Riau menyampaikan bahwa akan dilakukan pengembangan lebih lanjut. Saat ini trenggiling trenggiling tersebut telah dilepasliarkan di habitatnya dalam kawasan konservasi di Provinsi Riau. Kepala Balai Besar KSDA Riau melalui Humas mengatakan sangat mengapresiasi semua pihak yang bersatu padu menggagalkan perdagangan illegal satwa yang dilindungi seperti trenggiling dan mengharapkan semua pihak turut serta dalam penyelamatan satwa yang dilindungi. Sumber: BBKSDA Riau
Baca Berita

Pembesaran dan Perguliran Ikan Arwana Di Dusun Kenelang Desa Laut Tawang

Semitau, 1 November 2017. Bertempat di rumah sederhana milik Ketua Kelompok Pembesaran dan Perguliran Arwana “USAHA BERSAMA” Bpk. Abang Subandi, Kepala Resort Tengkidap SPTN Wilayah VI Semitau Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) menyerahkan 30 ekor anakan Ikan Arwana Super Red (Scleropages formosus) sebagai bagian dari kegiatan pemberdayaan masyarakat di daerah desa penyangga kawasan TNDS. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) pada tahun 2017 memberikan 10 (sepuluh) paket pemberdayaan masyarakat untuk 10 (sepuluh) desa yang berada di dalam maupun di sekitar kawasan. Salah satu desa penerima bantuan adalah Desa Laut Tawang yang terletak dalam kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Kelompok “USAHA BERSAMA” sebagai kelompok penerima bantuan pembesaran dan perguliran Ikan Arwana di Desa Laut Tawang beranggotakan 30 orang dan berkomitmen untuk melestarikan Ikan Arwana beserta habitatnya. “Kita bersyukur tahun ini mendapatkan bantuan pembesaran dan perguliran Ikan Arwana dari pihak TNDS, semoga bantuan ini memberikan efek positif bagi masyarakat dan sebaliknya kita harus menjaga kawasan hutan TNDS yang merupakan habitat alami Ikan Arwana ini”, ujar Bpk. Abang Subandi Ketua Kelompok Usaha Bersama. Kegiatan pembesaran dan perguliran Ikan Arwana ini adalah kegiatan lanjutan dari kegiatan tahun –tahun sebelumnya, konsep kegiatan ini adalah dengan membesarkan anakan Ikan Arwana sampai maksimal 2 (dua) tahun, setelah mencapai usia 2(dua) tahun bisa ditukar dengan 2 (dua) ekor atau lebih anakan Ikan Arwana sejenis. Setelah itu dari 2 (dua) ekor anakan Ikan Arwana hasil dari pertukaran tersebut, 1 (satu) ekor anakan untuk pribadi anggota kelompok dan 1 (satu) ekor untuk TNBKDS yang nantinya akan digulirkankepada kelompok baru, sehingga diharapkan semua masyarakat Desa Laut Tawang khususnya Dusun Kenelang mempunyai Ikan Arwana dan membudidayakannya serta menperjual belikan Ikan Arwana tersebut. “Semoga kegiatan pembesaran dan perguliran Ikan Arwana ini dapat berkelanjutan sehingga taraf hidup seluruh anggota masyarakat dapat meningkat serta dapat menjadi role model / contoh keberhasilan pembesaran dan perguliran Ikan Arwana yang dapat di replikasi oleh kelompok masyarakat lain di dalam maupun di sekitar kawasan ” Ucap Bpk. M. Reka Permana, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah VI Semitau. Kepala Resort Tengkidap, Bpk. Ahmad Muslim berharap agar pendampingan dan peningkatan kapasitas masyarakat khususnya anggota kelompok USAHA BERSAMA terus ditingkatkan sehingga pengetahuan anggota kelompok dalam budidaya Ikan Arwana bertambah. Bukan tidak mungkin dengan pendampingan yang berkelanjutan dan berjenjang, Desa Laut Tawang menjadi sentra (penangkaran) Ikan Arwana di Kabupaten Kapuas Hulu. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Mengelola Kawasan Konservasi Beyond Boundaries

Bengkulu, 28 Oktober 2017. Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Masyarakat Adat Pulau Enggano mendeklarasikan komitmen bersama untuk penyelamatan dan pelestarian Ekosistem Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu. Deklarasi dilakukan oleh Kepala Lembaga Adat dan enam Kepala Suku Enggano serta disaksikan oleh Kepala Balai KSDA Bengkulu, Camat Pulau Enggano, dan unsur TNI/Polri. Kepala Balai KSDA Bengkulu, Ir. Abu Bakar, hadir di Pulau Enggano didampingi oleh Kepala Subbagian TU, M.Mahfud, S.Hut., M.Sc., dan Kepala SKW I Curup, Jaja Mulyana, S.Sos. Deklarasi Pelestarian Pulau Enggano tidak hanya komitmen melestarikan Kawasan konservasi Pulau Enggano, tapi seluruh area pulau. Terdapat lima (5) butir deklarasi yang dibacakan oleh Pa’buki (Ketua Lembaga Adat) Enggano. Pertama, Masyarakat Adat Enggano bersepakat melakukan penyelamatan sumber daya alam dan ekosistem Pulau Enggano sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kedua, sepakat untuk menjaga dan melestarikan kawasan hutan konservasi dari kerusakan. Ketiga, areal peruntukan lain (APL) atau areal masyarakat yang masih berhutan akan dikelola berdasarkan hukum adat dengan mengedepankan asas kelestarian serta menolak penanaman kelapa sawit. Keempat, sepakat menjaga dan melestarikan jenis tumbuhan dan satwa liar asli Pulau Enggano dari perburuan dan peredaran illegal. Kelima, sepakat untuk menjadikan aspek kelestarian kawasan hutan sebagai bagian dari peraturan adat Masyarakat Adat Enggano. Deklarasi pelestarian ekosistem Enggano ini merupakan perwujudan cara baru Balai KSDA Bengkulu dalam mengelola kawasan konservasi. Cara baru yang dimaksud adalah mengelola kawasan konservasi tidak hanya terbatas pada batas kawasan, namun pengelolaan kawasan berdasarkan kesatuan landskap kawasan (beyond boundaries). Luas kawasan konservasi (termasuk taman buru) mencapai 22.07% dari total luas pulau. Kawasan konservasi terletak di tepi pantai Pulau Enggano dan menempati sekitar 75% garis pantai Pulau Enggano. Sumber: Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Tim BBKSDA Riau Giring Gajah Kembali ke Habitatnya

31 Oktober 2017. Penggiringan satwa gajah ( Elephas indicus) soliter yang telah meresahkan masyarakat Kec. Kelayang, Kab. Indragiri Hulu, Prov. Riau sejak awal Agustus 2017 telah berhasil dilakukan pada tanggal 18 s.d 19 Oktober 2017 oleh Tim Balai Besar KSDA Riau, Vesswic, WWF, Yayasan Tesso Nilo, Balai TNTN, TNI-POLRI, aparat serta masyarakat setempat. Sebelumnya penggiringan telah dilakukan beberapa kali namun satwa tersebut kembali pada posisi semula. Adapun desa yang menjadi perlintasan adalah Desa Kolak Pisang, Desa Pasir Beringin dan Desa Bukit. Tim telah melakukan pendalaman terhadap kondisi habitat sekitar dan menemukan bahwa satwa tersebut terpisah dari kelompok utamanya yaitu kelompok Tesso Nilo. Penangananpun dilakukan secara komprehensif yaitu dengan melakukan evakuasi terhadap satwa tersebut dengan menggunakan dua ekor gajah jinak flying Squad TN Tesso Nilo. Setelah dua bulan lebih satwa tersebut terpisah dari kelompoknya, kini satwa tersebut telah dikembalikan ke habitatnya yaitu kelompok Tesso Nilo. Kepala Balai Besar KSDA Riau sangat mengapresiasi kerjasama para pihak dalam upaya penyelamatan satwa yang dilindungi berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya dan PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Kepala Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum Lepas 5 Ekor Ikan Arwana Super Red

Meliau, Desa Melemba, 29 Oktober 2017. Dalam rangka menaikan populasi Ikan Arwana Super Red di alam, khususnya di wilayah Taman Nasional Danau Sentarum, pihak Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) telah menjalin kordinasi dan kerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan PD. Kapuas Arwana Farm. sebagai penyedia Ikan Arwana (Scleropages formosus) yang akan dilepasliarkan ke alam. Pada hari Minggu tanggal 29 Oktober 2017 telah dilakukan pelepasliaran indukan ikan Arwana Super Red sebanyak 5 (lima) ekor yang dilakukan oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum Ir. Arief Mahmud, M.Si, didampingi oleh Ahmad Munawir, S.Hut., M.Si. sebagai Kepala Bidang Teknis Konservasi, Gunawan Budi Hartono S.Hut., M.Si. sebagai Kepala Bidang Wilayah III, Desra Zullymansyah sebagai kepala SPTN VI dan disaksikan masyarakat Dusun Meliau. Lokasi yang dijadikan site pelepasliaran adalah Danau Merebung, Dusun Meliau, Desa Melemba, Kecamatan Batang Lupar. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Direktur KKH dalam kunjungannya ke wilayah Taman Nasional Danau Sentarum pada 6 Oktober. Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum sangat antusias dan serius dalam mengupayakan peningkatan populasi Ikan Arwana Super Red di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum yang merupakan salah satu habitat alami ikan tersebut. Semoga dengan adaya kegiatan pelepasliaran Arwana Super Red di site Danau Merebung dapat meningkatkan populasi Ikan Arwana Super Red di alam liar khususnya Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89 di Balai Besar KSDA Papua Barat

Papua - 30 Oktober 2017, Dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-89, Senin 30 Oktober 2017 Balai Besar KSDA Papua Barat menyelenggarakan upacara bendera yang dipimpin langsung oleh Kepala Balai Besar dan diikuti oleh segenap pegawai BBKSDA Papua Barat. Peringatan hari Sumpah Pemuda tahun 2017 ini mengambil tema "Pemuda Indonesia Berani Bersatu" dimana dalam upacara ini Inspektur membacakan sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga. Dalam sambutanya Menpora menyampaikan besarnya peran para pemuda pada waktu itu dengan berbagai latar yang berbeda bak agama, suku, ras dan bahasa yang mau berikrar untuk bersatu demi cita-cita besar Indonesia. Ikrar ini yang 17 tahun kemudian melahirkan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Saat ini para pemuda Indonesia diharapkan dapat meneladani langkah-langkah dan keberanian mereka hingga mampu menorehkan sejarah emas bagi bangsanya, berani bersatu untuk melawan segala bentuk dan upaya yang ingin memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa. Sudah saatnya kita melangkah pada tujuan yang lebih besar yaitu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sumber: BBKSDA Papua Barat
Baca Berita

Satu Lagi, Monitoring Orangutan di Taman Nasional Sebangau

Palangka Raya, 30 Oktober 2017. Minggu yang lalu tepatnya tanggal 18 sd 24 Oktober 2017 Balai Taman Nasional Sebangau kembali melakukan pendataan spesies utamanya yakni orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii). Kegiatan kali ini dilaksanakan pada site monitoring SSI Resort Mangkok SPTN Wilayah II. Sama seperti monitoring yang telah dilakukan sebelumnya, desain monitoring menggunakan aplikasi distance 7,0 dan ArcGIS 10 dengan metode survey line transect. Luasan area pengamatan +2.000 ha dengan target jalur pengamatan minimal 20 transek. Monitoring orangutan selalu menjadi kegiatan yang paling menantang untuk itu membutuhkan tim yang tangguh dengan motivasi dan daya juang berlipat ganda. Hal ini tentu saja dikarenakan hutan rawa gambut Sebangau yang terkenal lebat, penuh semak belukar, pandan berduri hingga hutan yang terendam air setinggi dada. Beruntung pada kegiatan kali ini kondisi air sedang surut sehingga rawa gambut tidak terendam air, hal ini tentu sedikit meringankan dalam pelaksanaan kegiatan. Selama kegiatan, seluruh tim diharuskan mengambil data seperti posisi sarang, kelas sarang, tinggi sarang, keliling pohon sarang dan nama pohon sarang. Selain mengambil data pokok terkait sarang orangutan, tim juga melakukan sampling pengamatan vegetasi untuk mengetahui keragaman jenis pohon pakan maupun pohon sarang dalam jalur pengamatan. Hasil dari pengamatan pada seluruh transek sepanjang 19.5 km dijumpai 45 sarang pada 20 transek pengamatan. Berdasarkan analisa menggunakan rumus van Schaik et. al. 1995 diketahui kepadatan sarang orangutan pada areal pengamatan yaitu 80,486 sarang/km2 serta kepadatan orangutan yaitu 0,213 individu/ km2. Estimasi jumlah populasi orangutan pada areal kegiatan adalah 4 individu atau 1 individu per 500 ha. Kepadatan orangutan pada areal pengamatan terbilang rendah, hal ini kemungkinan karena sumber pakan jarang ditemukan (pohon tidak musim berbuah), lokasi yang kering sehingga orangutan akan lebih mendekat pada sumber air. Kegiatan monitoring populasi orangutan merupakan kegiatan rutin dilakukan setiap tahunnya untuk mendukung upaya peningkatan populasi satwa terancam punah di TN Sebangau. Perjalanan pada 19,5 km pada lokasi bergambut merupakan pengalaman tak terlupakan. Keyakinan, kekompakan, emosi, waktu, tenaga dan kecermatan pengamatan menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan kegiatan. Selamat berjumpa di episode pengamatan orangutan selanjutnya. Sumber : Tim Monev OU Balai TN Sebangau
Baca Berita

Tak Henti Melangkah Mendukung Terlaksananya SRAK Orangutan

Pontianak, 31 Oktober 2017. “Bukan kandang rehabilitasi, orangutan butuh hutan sebagai tempat hidupnya”. Kalimat tersebut menggambarkan betapa kehidupan orangutan saat ini dalam tekanan berat. Capaian Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan periode 2007 - 2017 belum bisa mencapai target semua orangutan kembali ke habitatnya. Terkait dengan hal tersebut, maka dalam kesempatan belum lama ini di Pontianak, telah dilakukan pertemuan para pihak untuk kembali mendiskusikan keberlanjutan dari SRAK Orangutan. Penyelamatan dan rehabilitasi orangutan yang dilakukan Balai KSDA Kalimantan Barat bekerjasama dengan Pusat Rehabilitasi yang ada di Provinsi Kalbar, belum sepenuhnya dapat menjalankan Strategi Rencana Aksi Konservasi Orangutan. Namun demikian, berbagai upaya dilakukan agar orangutan yang ada di pusat rehabilitasi dapat dilepasliarkan, sedangkan orangutan yang tidak memungkinkan untuk dilepasliarkan mendapat perawatan dengan baik di pusat rehabilitasi. Belum lama ini, Kepala Balai KSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut, M.T berkesempatan melakukan kunjungan ke Pusat Penyelamatan Orangutan di Kabupaten Sintang/ Sintang Orangutan Center (SOC). Saat ini jumlah orangutan yang dirawat di SOC sebanyak 38 individu yang terbagi dalam beberapa tempat, di antaranya di kandang transit sintang, di lokasi sekolah orangutan di Desa Jelora Dua serta di Desa Tembak. Orangutan yang berada di pusat perawatan SOC merupakan orangutan hasil penyerahan masyarakat baik secara sukarela maupun dari sitaan BKSDA Kalbar. Seperti dilaporkan pihak SOC melalui Hasundungan Pakpahan sebagai Manajer Operasional, SOC tidak hanya berfokus pada kegiatan penyelamatan, rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan ke alam, namun juga fokus pada peningkatkan kepedulian masyarakat dengan memberikan pendidikan dan sosialisasi di antara penduduk tempatan untuk menjaga orangutan dari perusakan habitat yang terus berlangsung, perburuan dan menjadikan orangutan sebagai hewan peliharaan. "Kerja konservasi, termasuk konservasi orangutan, memang tidak mudah, tapi kita tidak boleh berhenti” demikian disampaikan oleh Bapak Sadtata. Melindungi orangutan secara tidak langsung melindungi spesies lain yang membentuk satu kesatuan ekologi. Dengan melakukan konservasi orangutan, berarti membantu proses perbaikan iklim atau dengan kata lain sebagai salah satu upaya mencegah perubahan iklim karena orangutan memiliki fungsi ekologi sebagai penyebar biji tanaman buah di hutan. Kelestarian orangutan harus dijaga demi keberlangsungan hutan itu sendiri. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Peran Aktif Balai TN Rawa Aopa Watumohai Dalam Apel Kesiapan Bencana Alam dan Kebakaran Hutan di Provinsi Sulawesi Tenggara

Kendari, 31 Oktober 2017. Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Sulawesi Tenggara mengundang seluruh instansi terkait termasuk Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai untuk melaksanakan apel kesiapsiagaan antisipasi kontijensi bencana alam dan karhutla di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara yang dilaksanakan di Lapangan Upacara Kantor Gubernur Sultra pada hari Selasa, tanggal 31 Oktober 2017. Pada kesempatan tersebut Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara bersama dengan Plt. Gubernur Sulawesi Tenggara, perwakilan TNI, Muspida dan SKPD terkait melakukan pemeriksaan peralatan dan kelengkapan pasukan gabungan. Kapolda dalam arahannya menekankan pentingnya berkoordinasi antar lembaga terkait seperti BPBD, Pemda, BKSDA dan Taman Nasional dalam rangka cepat tanggap terhadap bencana alam dan kebkaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara, Kapolda yakin penyelesaian masalah karhutla tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri tetapi harus bersinergi lintas instansi. Diakhir acara Kapolda bersama-sama dengan instansi terkait termasuk Kepala Balai TN Rawa Aopa Watumohai, Bapak Ali Bahri, S.Sos.,M.Si yang didampingi oleh KSPTN Wilayah I dan II berjalan menuju lapangan dan memberikan salam serta semangat kepada pasukan TNI/Polri, termasuk Manggala Agni dan Polhut yang bertugas sebagai garda terdepan dalam penanggulangan bencana alam dan karhutla. Sumber : Balai TN Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Pembahasan Dokumen Blok Kawasan Konservasi Wilayah BKSDA Kalimantan Tengah di Pusat

Jakarta, 27 Oktober 2017. Bertempat di Ruang Rapat Ditjen KSDAE Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, sebanyak 2 (dua) dokumen rancangan Blok Kawasan Konservasi di wilayah BKSDA Kalimantan Tengah telah di lakukan pembahasan dan pencermatan oleh Tim Pokja Penilaian Dokumen Rancangan Zona dan Blok pengelolaan KSA KPA Tahun 2017 dan wakil dari eselon II terkait seperti Setditjen KSDAE, Dit KK, Dit KKH, Dit Kuh dan Dit PKA. Adapun 2 Kawasan konservasi yang di bahas tersebut adalah Suaka Margasatwa Lamandau dan Cagar Alam Sapat Hawung. Kegiatan Pembahasan blok kawasan ini di pimpin oleh Kepala Sub Direktorat Penataan Kawasan Konservasi .Hadir dalam pembahasan ini Kepala Balai KSDA Kalimantan Tengah beserta Tim penyusun Blok, perwakilan dari Eselon II dan Eselon III terkait seperti Direktorat Kawasan Konservasi, Direktorat PJLHK, Direktorat Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan, Sub Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi, Sub Direktorat Pengendalian Kawasan Konservasi, Sub Direktorat Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi, Sub Direktorat Bina Desa Penyangga dan Zona Pemanfaatan Tradisional Kegiatan pembahasan tersebut diawali dengan penyampaian presentasi rancangan blok Suaka Margasatwa Lamandau dan Cagar Alam Sapat Hawung oleh Tim Penyusunan BKSDA Kalimanatan Tengah yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan pembahasan. Hasil rancangan blok Suaka Margasatwa Lamandau yang telah disusun oleh tim penyusun BKSDA Kalimantan Tengah terdiri dari 4 blok dengan rincian sebagai berikut blok Perlindungan seluas 33.063,079 Hektar, blok Pemanfaatan seluas 1.228,207 Hektar, blok Khusus seluas 10,329 Hektar, blok Rehabilitasi seluas 29.433,216 Hektar, Sedangkan Untuk rancangan blok Cagar Sapat Hawung terdiri dari 2 (dua) blok dengan rincian Blok Perlindungan 182.682,27 Ha dan Blok Rehabilitasi 7.751,65 Ha. Setelah pembahasan Suaka Margasatwa Lamandau dan Cagar Alam Sapat Hawung maka Tim Penyusunan BKSDA Kalimanatan Tengah segera melakukan perbaikan sesuai dari hasil diskusi dan masukan para peserta rapat. Diharapkan perbaikan dokumen rancangan blok segera di tindak lanjutin dan disampaikaan kembali ke Pusat untuk proses pengesahan oleh Direktur Jenderal KSDAE. Sumber : Direktorat PIKA
Baca Berita

Merawat Enggano, Merawat Harmonisasi Empat Pilar

Bengkulu, 28 Oktober 2017. Pulau Enggano dengan luas 39.586,74 ha, merupakan salah satu pulau terluar dari Gususan Kepulauan NKRI. Garis pantai pulau ini mencapai 126,71 km, memanjang sejauh 35.60 km dari arah barat laut menuju tenggara dan melebar sejauh 12.95 km dari timur laut menuju barat. Pulau ini terpisah sejauh sekitar 120 km dari Pulau Sumatera. Kawasan hutan negara memiliki porsi yang signifikan, mencapai 36% dari total luas pulau. Luas kawasan konservasi sendiri mencapai 22,06% dari total keseluruhan luas Pulau Enggano. Terdapat enam unit kawasan konservasi di Pulau Enggano, yaitu CA Tanjung Laksaha, CA Sungai Bahewo, CA Teluk Klowe, CA Kioyo I & II, dan TB Gunung Nanu’ua. Terdapat setidaknya empat pilar utama dalam pembangunan Pulau Enggano. Keempat pilar tersebut adalah masyarakat adat, aparatur sipil pemerintah daerah, unsur TNI/Polri, dan pengelola kawasan lindung. Masyarakat yang mendiami Pulau Enggano adalah Masyarakat Adat Enggano yang masih memegang teguh adat istiadatnya. Terdapat lima suku asli di Pulau Enggano yaitu Suku Kauno, Suku Kaahoa, Suku Kaharuba, Suku Kaitaro, Suku Kaharubi. Terdapat hukum adat yang unik di Pulau Enggano di mana seluruh pendatang di pulau itu diwadahi dalam satu suku tersendiri, yaitu Suku Kaamay. Hal ini menjadikan para pendatang menjadi bagian penting dari sistem hukum adat Enggano. Secara administrasi pemerintahan, Pulau Enggano merupakan satu unit pemerintahan kecamatan di Kabupaten Bengkulu Utara. Terdapat 6 desa dalam struktur pemerintahan Kecamatan Pulau Enggano, yaitu Desa Banjar Sari, Meok, Kaana, Malakoni, Apoho, dan Kahyapu. Dalam Konteks pertahanan dan keamanan, Pulau Enggano merupakan area strategis mengingat letak geografisnya sebagai pulau terluar. Tak mengherankan apabila TNI/Polri menempatkan banyak personilnya di Pulau ini. TNI AD memiliki Kodim, TNI AL menempatkan Pos Lanal, Polri memiliki Polsek dan Pos Polairud di Pulau ini. Peran Personil TNI dan Polri sangat strategis dalam mendukung pembangunan Pulau Enggano. Sebagai elemen terakhir, Balai KSDA Bengkulu memiliki peran sebagai pendukung dalam pembangunan Pulau Enggano. Balai KSDA Bengkulu berperan dalam mengelola kawasan konservasi sebagai sistem pendukung dan penyangga kehidupan masyarakat Pulau Enggano. Selain itu, Balai KSDA Bengkulu menempatkan diri sebagai perekat dalam harmonisasi hubungan para pihak kunci dalam pembangunan Pulau Enggano. Salah satu bentuk nyata adalah fasilitasi kegiatan Musyawarah besar Adat Enggano yang dilakukan oleh Balai KSDA Bengkulu melalui KPHK Enggano. Musyawarah Besar Adat enggano ini merupakan kegiatan penting dalam adat istiadat Suku Enggano dimana Pa’Buki sebagai ketua lembaga hukum adat mengumpulkan seluruh tokoh adat untuk membicarakan peraturan adat dalam tatanan adat istiadat suku. Sumber: Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Deg-degan, Ini Yang Dirasakan Siswa Magang di Upacara Sumpah Pemuda

Sofifi, 30 Oktober 2017. Dalam sambutan Menteri Pemuda dan Olah Raga yang dibacakan oleh Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) tertulis bahwa, Hari Sumpah Pemuda juga merupakan cikal bakal dari Hari Proklamasi 17 Agustus 1945. Pada hari itu seluruh pemuda dari berbagai penjuru negeri berkumpul pada suatu tempat yang telah disepakati. Pada jaman itu butuh perjuangan untuk bisa berkumpul bersama dan memutuskan sesuatu yang penting bagi bangsa Indonesia. Karena tidak ada alat transportasi maupun alat komunikasi seperti sekarang. Balai TNAL melaksanakan upacara Peringatan Sumpah Pemuda di Sofifi bersama siswa magang dari SMK Kehutanan Manokwari, SMK Halmahera Timur dan Mahasiswa Universitas Khairun. Petugas upacaranya adalah siswa magang dari SMK Kehutanan. “Tadi (upacara) Saya merasa deg-degan”, kata Isma, pembawa acara upacara. Isma juga merasa bersyukur karena dapat menjadi petugas upacara bersama para pegawai TNAL. Sebagai pemuda konservasi dia berharap bahwa “Melihat kondisi hutan di Indonesia saat ini, pemuda dituntut harus lebih mencintai lingkungannya”. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Menampilkan 9.537–9.552 dari 11.141 publikasi