Rabu, 22 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Setditjen KSDAE Menyelenggarakan Rapat Pleno Pembahasan Hasil Penilaian Angka Kredit Jabatan Fungsional PEH dan Polhut Lingkup Ditjen KSDAE

Bogor, 6 November 2017. Sebagai wujud implementasi dari Permenhut Nomor : P.9/Menhut-II/2014 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Polisi Kehutanan dan Angka Kreditnya dan Permenhut Nomor : P.10/Menhut-II/2014 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan dan Angka Kreditnya, Bagian Kepegawaian, Organisasi dan Tatalaksana Setditjen KSDAE telah menyelenggarakan Rapat Pleno Pembahasan Hasil Penilaian Angka Kredit Jabatan Fungsional PEH dan Polhut Lingkup Ditjen KSDAE gelombang pertama yang dilaksanakan pada tanggal 2-4 November 2017 di Hotel Patra Jasa Anyer, Banten. Kegiatan ini menghadirkan seluruh anggota Tim Penilai Ditjen KSDAE yang terdiri dari unsur Pejabat Struktural, Pejabat Fungsional serta Analis Kepegawaian. Rapat pleno dipimpin langsung oleh Kepala Bagian Kepegawaian, Organisasi dan Tatalaksana Munarto, B.Sc.F., S.P., M.M. dan difasilitasi oleh Kepala Sub Bagian Administrasi Jabatan Fungsional Setditjen KSDAE Septi Eka Wardhani, S.Hut., M.P. Rapat pleno ini berhasil menyelesaikan penilaian DUPAK dengan keluaran (output) 509 PAK (288 PAK Jabatan Fungsional Polhut dan 221 PAK Jabatan Fungsional PEH) dan 429 HAPAK (273 HAPAK Jabatan Fungsional Polhut dan 156 HAPAK Jabatan Fungsional PEH). Jumlah keseluruhan penyelesaian penilaian mencapai 938 DUPAK dari target sebanyak 1271 DUPAK. Menurut rencana, Rapat Pleno Pembahasan Hasil Penilaian Angka Kredit gelombang kedua akan dilaksanakan pada tanggal 23-25 November 2017 untuk menyelesaikan penilaian DUPAK yang masih tersisa yaitu sebanyak 333 DUPAK. Beberapa rumusan kesepakatan tim penilai DUPAK yang dihasilkan pada rapat pleno ini antara lain, penetapan format laporan kegiatan fungsional yang akan dijadikan standar baku dalam menyusun DUPAK, pembatasan jumlah kegiatan pengembangan profesi berdasarkan satuan waktu tertentu, penyetaraan penilaian jurnal ilmiah ke dalam kegiatan pengembangan profesi dan pemberlakuan Surat Perintah Tugas (SPT) kegiatan fungsional secara periodik dan kolektif. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan penilaian DUPAK Pejabat Fungsional PEH dan Polhut lingkup Ditjen KSDAE dapat selesai tepat waktu, memberikan pelayanan yang optimal dan meningkatkan kinerja Pejabat Fungsional PEH dan Polhut dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Oleh: Yayat Supriatna, S.IP - Bagian Kepegawaian, Organisasi dan Tatalaksana, Setditjen KSDAE
Baca Berita

Sayang Burung Langka Ini Muncul di Luar Kawasan TN. Aketajawe Lolobata

Sofifi, 6 November 2017. Pasti sangat jarang kita mendengar nama jenis burung ini. Mandar Gendang atau Habroptila wallacii adalah nama burung langka tersebut. Merupakan jenis burung endemik pulau Halmahera dan tidak sedikit wisatawan asing yang ingin melihatnya. Data dari burung ini masih sangat kurang sejak ditemukan pada tahun 1960 oleh zoologis Inggris, George Robert Gray. Wisatawan asing yang melakukan pengamatan burung di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) menyebutnya sebagai The Invisible Rail. Sesuai namanya burung ini sangat susah untuk dijumpai. Bahkan ditetapkan sebagai jenis yang Vulnerable atau “Rentan” oleh IUCN. Mandar Gendang ini ditemukan oleh siswa magang dari SMK Kehutanan Manokwari. Tanpa sengaja, siswa SMK yang sedang melaksanakan kegiatan malam (5/11) di sungai yang berbatasan dengan Resort Tayawi kawasan TNAL menemukan burung tersebut dalam kondisi tergantung di tali. Para siswa itupun segera melepaskan ikatan tali dari jerat yang diduga milik anggota Masyarakat Tobelo Dalam (MTD) atau suku Togutil yang tujuannya adalah untuk menjerat babi sebagai sumber protein bagi mereka. Kemudian mereka langsung menyelamatkannya dengan membawa ke kandang sementara di kantor Resort. “Kami kaget dan penasaran terhadap burung tersebut, kami kira itu Gosong Kelam”, tutur Gilbert, siswa SMK Kehutanan Manokwari. Tempat ditemukannya pun sesuai dengan habitatnya, yaitu pinggir sungai atau area berawa. Kondisi terakhir keluarga burung Rallidae tersebut sehat, hanya saja kaki kirinya mengalami cedera. Ini adalah temuan pertama di wilayah sekitar Resort Tayawi, karena sebelumnya baru dijumpai di Resort Binagara dan desa Lukulamo. Semoga memang didalam kawasan Resort Tayawi bisa dijumpai burung tersebut. Oleh : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Lima Puluh Ekor Tukik Penyu Hjau Dilepasliarkan Di Kawasan Suaka Margasatwa Laut Sindangkerta

Tasikmalaya 4 Nopember 2017, Seksi Konservasi Wilayah VI Tasikmalaya, Bidang KSDA Wilayah III Ciamis, Balai Besar KSDA Jawa Barat bersama-sama dengan PT Pertamina (Persero) Terminal BBM Tasikmalaya, telah melepasliarkan Tukik Penyu hijau di kawasan Suaka Margawsatwa Sindangkerta Tasikmalaya sebanyak 50 ekor. Acara pelepasliaran ini selain merupakan kegiatan program rutin yang dilaksanakan oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat, juga sekaligus sebagai rangkaian acara dari Pertamina Pertamax Enduro Jelajah Energi Negeri 2017. Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya pelestarian Penyu Hijau tersebut, dihadiri oleh Kepala SKW VI Tasikmalaya dan Staf, Kepala Operasional PT Pertamina (Persero) Terminal BBM Tasikmalaya dan Staf, Manajer Area CSR & SMEPP JJB dan Peserta dari Pertamina Pertamax Enduro Jelajah Energi Negeri 2017. Dalam sambutannya pada acara seremonial pelepasliaran tersebut, kepala SKW VI Tasikmalaya memberikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi tinggnya kepada pihak pertamina yang telah berperan aktif dalam upaya pelestarian penyu hijau di SM. Sindangkerta serta mengharapkan agar kegiatan tersebut dapat di tindaklanjuti dalam bentuk kerjasama. Sementara itu Kepala Operasional PT Pertamina (Persero) Terminal BBM Tasikmalaya dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada Balai Besar KSDA Jabar yang telah memberikan kesempatan untuk melepasliarkan Penyu hijau pada acara Pertamina Pertamax Enduro Jelajah Energi Negeri 2017 dan menyambut baik terhadap rencana kerjasama tersebut. Pada kesempatan yang sama Manajer Area CSR & SMEPP JJB menyampaikan kesiapannya untuk mendukung kegiatan pelestarian penyu Hijau di SM Sindangkerta tersebut melalui program peduli lingkungan Pertamina. Pelestarian Penyu di SM Sindangkerta merupakan tanggung jawab tidak hanya oleh pemerintah namun semua pihak. Dengan kepedulian PT. Pertamina (Persero) Terminal BBM Tasikmalaya melalui peran aktif dalam upaya Pelestarian Penyu di SM. Sindangkerta patut diberikan pengahargaan sehingga dapat menjadi pendorong bagi perusahaan lainnya. Akhirnya semoga kegiatan ini dapat bermanfaat dan Ayo kita jaga serta lestarikan SM. Sindangkerta. Sumber: BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

Patroli Gabungan Balai TN Gunung Merapi

Magelang, 3 Nov 2017, Untuk meningkatkan pengelolaan TN Gunung Merapi di bidang perlindungan dan pengamanan kawasan, Balai Taman Nasional Gunung Merapi melaksanakan patroli gabungan dengan instansi terkait. Kondisi akhir-akhir ini banyak penambang pasir di sepanjang aliran sungai Bebeng, yang berada dekat di batas kawasan TN Gunung Merapi. Hal ini perlu menjadi perhatian dan ditindaklanjuti. Oleh karena itu, pada tanggal 31 Oktober s.d 3 November 2017 dilaksanakan patroli gabungan bersama Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Turi (Kabupaten Sleman, D.I Yogyakarta) serta Muspika Srumbung (Kab Magelang, Jawa Tengah) di sungai Bebeng. Dalam kesempatan tersebut, dijumpai para penambang batu dan pasir yang berada di aliran sungai Bebeng. Kawasan tersebut berdekatan dengan batas kawasan TNGM. Kemudian kepada para penambang batu dan pasir tersebut dilaksanakan sosialisasi tentang batas kawasan serta larangan-larangan kegiatan yang dilakukan dalam kawasan TNGM. Juga disampaikan kepada para penambang, sanksi yang akan dikenakan jika melanggar larangan di kawasan TNGM. Selanjutnya Polhut TNGM beserta petugas dari Polsek Turi, Koramil Turi, Polsek Srumbung, Koramil Srumbung, Satpol PP Turi dan para penambang memasang papan larangan menambang di batas kawasan TNGM.
Baca Berita

Balai TN Bukit Duabelas Goes To Campus

Sarolangun – 6 November 2017, Balai Taman Nasional Bukit Duabelas semakin memperluas cakupan penyebaran informasi untuk menyadartahukan masyarakat tentang pentingnya Taman Nasional dan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Sasaran penyebaran informasi pada awalnya antara lain adalah masyarakat desa penyangga, para siswa-siswi sekolah umum, kelompok masyarakat Suku Anak Dalam dan anak-anak Sekolah Rimba. Namun sejak perluasan penyebaran informasi dilakukan terhadap kelompok mahasiswa, kegiatan tersebut dikemas dalam suatu program ‘’Taman Nasional Bukit Duabelas Goes To Campus’’. Pemikiran akan perlunya menyentuh kaum pemuda-pemudi dalam penyebaran informasi diharapkan tidak hanya sekedar menerima informasi, namun juga menciptakan suatu tindakan. Upaya yang tercipta dapat dilanjutkan dengan membuat kerja sama pengelolaan. Perbedaan antara sasaran awal penyebaran informasi yang telah disebutkan sebelumnya dengan kaum pemuda-pemudi adalah lokasi. Sasaran-sasaran awal berada cukup dekat dengan kawasan, sedangkan kaum pemuda-pemudi atau mahasiswa berada jauh dari kawasan karena letak kampus yang biasanya ada di kota. Taman Nasional Bukit Duabelas Goes To Campus pada tahun 2017 sudah dilaksanakan sebanyak 2 kali. Pelaksanaannya adalah di bulan Oktober. Kunjungan pertama Balai Taman Nasional Bukit Duabelas adalah ke Universitas Jambi Kampus Sarolangun yang berada di Kecamatan Pelawan, Kabupaten Sarolangun pada tanggal 19 Oktober 2017 dan selanjutnya adalah ke Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian – Graha Karya yang berada di Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari pada tanggal 26 Oktober 2017. Tata cara pelaksanaan Taman Nasional Bukit Duabelas Goes To Campus dilakukan dalam forum diskusi. Balai Taman Nasional Bukit Duabelas memberikan pemaparan mengenai pengenalan Taman Nasional Bukit Duabelas dan pengelolaannya. Pemateri yang memberikan pemaparan adalah petugas-petugas fungsional khusus, yaitu Penyuluh, Polisi Kehutanan dan Pengendali Ekosistem Hutan. Pemateri masing-masing menjelaskan mengenai kegiatan yang biasa dilakukan sesuai tugas fungsi masing-masing. Pemaparan juga diselingi dengan pemutaran film dokumenter tentang kegiatan-kegiatan pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas. Antusias peserta yang berjumlah 50 orang terlihat sangat jelas. Peserta secara bergantian terus melemparkan pertanyaan kepada pemateri. Mereka menyatakan bahwa mereka tentunya tidak tahu-menahu mengenai Taman Nasional Bukit Duabelas sebelum adanya kunjungan dan pemaparan. Antusias tersebut disimpulkan oleh pemateri dengan mengajukan pertanyaan kepada peserta, ‘’Siapa yang berminat bertugas seperti kami? Masuk ke dalam hutan?’’. Sekitar 2/3 dari jumlah peserta mengacungkan jari. Balai Taman Nasional Bukit Duabelas juga mempersiapkan souvenir-souvenir bagi peserta yang mengajukan pertanyaan terbaik atau peserta yang dapat menjawab pertanyaan pemateri dengan baik. Souvenir yang disiapkan antara lain adalah buff (bandana / masker), goody bag dan botol minum yang memiliki gambar logo Ayo Ke Taman Nasional, Taman Nasional Bukit Duabelas dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta tulisan ‘’Salam Konservasi !! HHUU, HHAA, HHUU, HHAA !!’’ dan ‘’Salam Rimba !!, Lestari !!’’. Pemberian souvenir ini diharapkan juga dapat digunakan sebagai media promosi Taman Nasional Bukit Duabelas. Peserta masing-masing juga diberikan media-media informasi seperti leaflet, buletin dan buku informasi. Stiker juga diberikan bagi tiap peserta. Di akhir acara, pihak Balai Taman Nasional Bukit Duabelas meminta bentuk komitmen untuk melakukan upaya konservasi kepada peserta dengan menandatangani papan ‘’Komitmen Konservasi’’. Sumber: Balai TN Bukit Duabelas
Baca Berita

Identifikasi Fauna di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Malang - 6 November 2017, Dimulai sejak tanggal 1 November 2017, TN BTS secara serentak melakukan kegiatan “Identifikasi Fauna” pada 12 lokasi yang tersebar di seluruh Resort Pengelolaan TN BTS. Kegiatan ini dilaksanakan bersama oleh staff fungsional Pengendali Ekosistem Hutan dan Penyuluh Kehutanan serta personil masing-masing resort. Pelaksanaan kegiatan pada setiap lokasi dilakukan selama 5 hari dengan kombinasi waktu pengamatan pagi hari dan sore/malam. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkaya dan memutakhirkan database fauna yang terdapat di TN BTS. Fauna yang menjadi sasaran identifikasi adalah fauna dari Kelas mamalia, reptilia, amfibi, dan burung. Metode yang digunakan merupakan kombinasi dari metode point count dan transek, serta menggunakan perangkap satwa dan kamera trap, menyesuaikan dengan sasaran identifikasi. Transek pengamatan ini juga akan digunakan sebagai transek permanen untuk monitoring satwa jangka panjang. Hasil kegiatan selama kegiatan berjalan telah berhasil memberikan beberapa catatan baru perjumpaan satwa di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru seperti Ular Cabai Kecil (Calliophis intestinalis) dan Sikatan Dada Merah (Ficedula dumetoria). Sumber: BBTN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

BKSDA Yogyakarta Gelar Festival Satwa Hasil Penangkaran

Sleman, 5 November 2017. Pagelaran festival satwa hasil penangkaran baru saja usai digelar di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Gamping Ambarketawang Sleman. Ajang Festival ini berlangsung selama tiga hari mulai tanggal 3 – 5 November 2017. Balai KSDA Yogyakarta mencoba membuat terobosan yaitu menyelenggarakan kegiatan sosialisasi penyebaran informasi dipadukan dengan budaya kearifan lokal. Salah satu upaya dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta dalam mensosialisasikan upaya-upaya pelestarian dan pemanfaatan satwa khususnya satwa liar di bidang penangkaran yaitu dengan menyelenggarakan kegiatan Festival Satwa Hasil Penangkaran. Tema festival ini diangkat dengan tajuk “melaraskan konservasi dan budaya”. Terlebih lokasi diselenggarakan festival ini merupakan tempat yang dijadikan ajang tahunan desa Ambarketawang dan didukung juga pemerintah daerah kabupaten Sleman yaitu tradisi “Saparan Bekakak”. Tak cukup itu kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Gunung Gamping tidak lepas dari saksi sejarah asal mula berdirinya Kraton Yogyakarta yang pada saat itu dirintis oleh Sultan Hamengku Buwono I, seperti diulas juga pada buku Monolit Yogyakarta yang diterbitkan BKSDA 2017 baru-baru ini. Dalam sambutan pembukaan festival, Kepala KSDA Yogyakarta Ir. Yunita, MT, menyampaikan bahwa Salah satu bentuk pemanfaatan satwa liar adalah kegiatan penangkaran. Penangkaran satwa liar adalah upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran satwa liar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Satwa liar yang diperoleh dari hasil penangkaran yang telah memiliki izin dapat dimanfaatkan atau diperjualbelikan saat ini ada 30 penangkar yang terdaftar resmi di BKSDA antara lain Jalak Bali, Jalak Putih, Nuri Bayan dan Rusa Timor, tuturnya. Di sela sambutannya juga disampaikan komitmen Balai KSDA Yogyakarta untuk terus mendorong masyarakat pecinta satwa liar maupun tumbuhan untuk melakukan penangkaran tentunya sesuai dengan prosedur. Beragam kegiatan Festival satwa Hasil Penangkaran diantaranya mengumpulkan komunitas, penghoby dan penangkar satwa khususnya burung. Rangkaian kegiatan ini meliputi kenduri kampung, pameran konservasi, lomba burung berkicau “ring” dari hasil penangkaran, sarasehan sukses story penangkaran, pentas tarian tradisional, bincang ringan sejarah dan budaya gamping dan lomba mewarnai, menggambar tingkat Sekolah Dasar. Even ini strategis dan efektif dalam upaya penyadartahuan masyarakat untuk turut serta dan partisipasi aktif dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Dalam rangkaian pembukaan festival juga dilakukan penyerahan secara simbolis jalak Bali oleh Edy Setyawan salah satu penangkar binaan BKSDA Yogyakarta sebanyak 30 ekor dalam rangka restoking ke Taman Nasional Bali Barat. Kegiatan ini juga dilaksanakan pelepasliaran burung tidak dilindungi seperti burung kacamata, perenjak, merbah terucuk, cucak kutilang, dederuk jawa. Burung-burung tersebut merupakan sumbangan dari beberapa komunitas penangkar burung di DIY. Dari rangkaian festival ini nantinya diharapkan adanya peningkatan peran serta masyarakat dalam kegiatan penangkaran satwa liar. Selain itu dengan bertumbuhnya penangkaran satwa dapat mengurangi ketergantungan hasil tangkapan atau pengambilan burung berkicau dari alam. Dari sisi ekonomi juga bisa berdampak positif pada peningkatan ekonomi masyarakat dari hasil penangkaran yang legal. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Menelusuri Potensi dan Pemanfaatan Jasa Lingkungan Air di TN Bantimurung Bulusaraung

Bantimurung, 5 November 2017. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung kedatangan tamu dari Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) pada hari Rabu, 1 November 2017. Tamu tersebut adalah Ridwan, Kepala Sub Direktorat Promosi dan Pemasaran dan Agus Setiawan, Dosen Universitas Lampung yang ditunjuk Direktur PJLHK sebagai Tenaga Ahli Penyusunan Buku Informasi Potensi Jasa Lingkungan Air Volume Pertama. Mereka telah mengunjungi beberapa potensi dan pemanfaatan jasa lingkungan air taman nasional ini. Kunjungan kali ini untuk mengumpulkan data dan informasi sebagai bahan penyusunan buku informasi potensi jasa lingkungan air di kawasan konservasi di Indonesia. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan salah satu dari 12 taman nasional yang dipilih untuk dipublikasikan melalui buku pada volume pertama. Adalah Abdul Azis Bakry, Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan Iqbal Abadi Rasjid, Kepala SPTN Wilayah I dengan hangat menyambut keduanya. Setelah berkoordinasi sejenak mereka pun berkesempatan mengunjungi Kawasan Wisata Bantimurung. Melihat pemanfaatan air terjun sebagai pusat wisata tirta serta pemanfaatan air oleh Perusahaan Daerah Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Maros dan Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad) 433. Kepala Balai pun menugaskan stafnya mendampingi mereka selama beberapa hari di taman nasional. Mendampingi tim ini mengelilingi kawasan taman nasional yang memiliki potensi jasa lingkungan air baik di Maros maupun di Pangkep. Adalah Mansur dan Taufiq Ismail yang menerima amanat tersebut. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan salah satu daerah tangkapan air yang potensial. Kehadiran ekosistem karst menjadikannya penangkap air yang efektif. Saat musim daerah ini menangkap air kemudian menampungnya. Selanjutnya mengalirkan secara perlahan-lahan melalui sistem perguaan. Sebagian akan keluar melalui mata air yang berada di pangkal tebing karst dan sebagian lagi melalui mulut gua. Jadi tak heran jika menjumpai sejumlah gua di kawasan ini mengalir air yang tak pernah surut sepanjang tahun. Air tersebut tidak hanya diperlukan untuk eksistensi ekosistem karst taman nasional ini namun juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar kawasan konservasi ini memanfaatkannya untuk kebutuhan rumah tangga, bertani, dan beternak. Tak hanya itu, PDAM Maros dan PDAM Pangkep, usaha cuci mobil, hingga usaha air minum dalam kemasan memanfaatkan air yang berasal dari taman nasional ini. Penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati dkk (2010), di kawasan konservasi ini memperlihatkan nilai penggunaan oleh masyarakat dan kepentingan daerah berkisar 2 milyar per tahun. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sendiri telah mengeluarkan izin pemanfaatan air (IPA) dan Izin pemanfaatan energi air (IPEA) non komersial. Sebanyak 5 IPA dan 2 IPEA telah terbit di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II. Kelimanya izin pemanfaatan air tersebut merupakan bagian dari Program Penyedian air Minum dan Sanitasi (PAMSIMAS) yang digalakkan pemerintah daerah Maros. Izin pemanfaatan energi air sendiri berlokasi di Desa Timpuseng dan Desa Barugae, Maros. Sumber : Taufiq Ismail – Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Balai KSDA Kalbar Ikuti West Kalimantan Siluk International Contest & Expo

Pontianak, 5 November 2017. West Kalimantan Siluk International Contest & Expo kembali di gelar di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mulai tanggal 3-5 Nopember 2017 bertempat di Pontianak Convention Center (PCC). Pameran diikuti para penangkar di Kalbar dan juga penghobi ikan arwana super red (Scleropages formosus). Agenda pameran ini rutin diselenggarakan setiap tahun. Balai KSDA Kalbar turut berperan aktif melalui stand pelayanan peredaran yang dibuka di ajang kontes tersebut. Kepala Balai, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut, MT dalam kesempatan kunjungan ke lokasi mengatakan bahwa “Dengan adanya pameran ini diharapkan dapat memberikan pengaruh positif meningkatkan gairah para penangkar dalam mengelola usahanya. Bagaimanapun juga harus diakui bahwa para penangkar telah turut berkontribusi dalam upaya konservasi, khususnya terhadap satwa ikan arwana yang merupakan satwa endemik Kalbar tersebut”. Dengan semakin tumbuhnya usaha penangkaran ikan arwana, secara tidak langsung telah dapat mengurangi penangkapan di alam secara signifikan, di samping kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat, baik dari sisi penyediaan lapangan kerja maupun penyediaan pakan. Dengan demikian masyarakat merasakan dampak positif adanya penangkaran arwana. Terkait dengan hal itu pula Beliau menghimbau agar masyarakat menjaga lingkungan sepanjang DAS sungai yang ada di Kalbar sebab kualitas air sungai menjadi indikator baik tidaknya produk ikan yang dihasilkan. Kualitas air tidak hanya berpengaruh pada dunia usaha namun sangat berpengaruh besar terhadap kehidupan. Pameran pada tahun ini tidak hanya diikuti oleh penghobi dari Kalbar namun dari berbagai negara seperti Malaysia, RRC hingga Taiwan. Begitupun pengunjung tidak hanya dari lokal Kalbar namun banyak pengunjung dari Jakarta, Medan serta dari luar negeri. Bahkan, tidak sedikit pengunjung yang langsung melakukan transaksi membeli ikan yang diminati.(YS) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Melihat Langsung Pemanfaatan Jasa Lingkungan Air di TN Bantimurung Bulusaraung

Bantimurung, 5 November 2017. Staf Balai TN Bantimurung Bulusaraung bersama Ridwan, Kepala Sub Direktorat Promosi dan Pemasaran Direktorat PJLHK dan Agus Setiawan, Dosen Universitas Lampung (Tenaga Ahli Penyusunan Buku Informasi Potensi Jasa Lingkungan Air Volume Pertama) mengunjungi PDAM Pangkep yang berlokasi di Kampung Leang Kassi, Kelurahan Biraeng, Minasatene, Pangkep. Di tempat yang sama mereka juga mengamati usaha budidaya ikan hias, irigasi persawahan hingga usaha terapi ikan milik warga. Sore hari mereka ke Mata Air Ulu Wae yang berada di Kelurahan Kalabbirang, Bantimurung, Maros. Di sini mereka mengamati pemanfaatan air oleh masyarakat untuk mengairi sawah, budidaya ikan hias di alam, dan memenuhi kebutuhan air bersih rumah tangga. Keduanya terkesima dengan pemandangan gugusan tebing karst menjulang sepanjang perjalanan menuju mata air. Keesokan harinya, mereka berkesempatan melihat pemanfaatan energi air yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Timpuseng, Cenrana, Maros. Mayarakat desa memanfaatkan aliran Sungai Ara untuk menggerakkan turbin dan generator yang diperoleh dari bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Mikrohidro ini mampu melayani 3 dusun di Timpuseng ini, menerangi rumah-rumah yang tak terjangkau oleh perusahaan listrik milik negara. Mereka juga menyempatkan melihat sarana prasarana pendukung mikrohidro, mulai dari rumah pembangkit, pipa pesat, bak penampungan sementara hingga bendungan aliran air. Menuju pembangkit listrik bertenaga kecil ini tak mudah. Jalan sempit, mendaki dengan kelokan tajam di mana-mana. Zainal Arfin, Kepala Resor Camba dengan sigap mengambil alih kemudi mobil patroli yang kami tumpangi. Menaklukkan tantangan yang merintang. Setelah berkendara masih perlu berjalan ratusan meter mendaki. Meski tertatih harus berjalan mendaki dan menurun, keduanya yang tak lagi muda akhirnya mampu juga menyambangi sarana pendukung pemanfaatan energi air ini. “Semoga ke depan para pengambil manfaat turut serta berperan melestarikan hulu yang memiliki fungsi sebagai pengatur tata air,” ujar Ridwan, Kepala Sub Direktorat Promosi dan Pemasaran saat bersama kami di Desa Timpuseng. Lengkaplah perjalanan tim ini melihat beberapa potensi dan pemanfaatan jasa lingkungan air di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Semoga kawasan konservasi ini terus terjaga dan lestari agar masyarakat yang menghuni di sekitarnya memperoleh manfaat langsung darinya. Sumber : Taufiq Ismail – Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

BKSDA Sulteng Lepasliarkan Si Tuwur dan Raja Perling Sulawesi di TWA Wera

Palu, 5 November 2017. Memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa, 5 November 2017, Balai KSDA Sulawesi Tengah melakukan pelepasliaran satwa/burung sebanyak 10 ekor, terdiri dari 3 (tiga) ekor burung Tuwur Sulawesi (Eudynamys melanorhynchus) dan 7 (tujuh) ekor burung Raja Perling Sulawesi (Basilornis celebensis). Kedua jenis satwa ini merupakan satwa endemik Sulawesi, yang berdasarkan IUCN Red List, berada dalam status Least Concern / LC (Risiko Rendah) atau tidak mengkhawatirkan. Satwa tersebut merupakan satwa hasil sitaan Balai KSDA Sulawesi Tengah, dikarenakan tidak memiliki dokumen yang lengkap (Sats-DN) pada saat akan dikirim. Setelah menjalani masa habituasi 9 (sembilan) hari lamanya, satwa tersebut dilepasliarkan pada hari ini oleh Kepala Balai KSDA Sulteng, Ir.Noel Layuk, MM didampingi kepala Resort TWA Wera, Luther Sapu dan staf di Taman Wisata Alam Wera yang merupakan salah satu wilayah kawasan konservasi dengan kondisi lingkungan yang sangat cocok sebagai habitatnya. Kegiatan ini dilakukan dalam upaya untuk membangun kesadaran dan membentuk kecintaan masyarakat pada puspa dan satwa agar keanekaragaman hayati tetap lestari, karena mencintai keanekaragaman hayati bukan hanya sebatas jenis yang dilindungi saja. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Giat Balai TN Bunaken Tarik Minat Wisata

Batam, 5 November 2017. Taman Nasional Bunaken merupakan icon pariwisata yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara, kawasan seluas 89.065 ha yang tersebar di Kota Manado, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Utara dan Kabupaten Minahasa Selatan merupakan tujuan utama wisatawan minat khusus seperti diving dan snorkelling. Pameran yang dihelat selama 4 hari mulai tanggal 2 – 5 Nopember 2017 di Mega Mall Batam Center yang bertajuk “Pameran Produk Unggulan Perdagangan Pariwisata & Investasi” guna mensosialisasikan dan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan serta investasi dalam penyediaan sarana pariwisata alam dan pemberdayaan masyarakat dalam produk usaha ekonomi kreatif. Dalam kesempatan ini stand Balai Taman Nasional Bunaken menampilkan space fotoboth yang dapat digunakan oleh pengunjung sebagai untuk berfoto, menariknya setelah berfoto meraka berkeinginan untuk langsung datang dan menikmati indahnya pesona bawah laut Taman Nasional Bunaken. Produk unggulan ekonomi yang ditampilkan lainnya adalah hasil kerajinan ibu-ibu nelayan dari kelompok Cahaya Trans Desa Poopoh yang terletak di Kabupaten Minahasa berupa olahan tuna stik yang diberi nama stik acropora, keripik pisang tanduk, ikan roa, ikan asin, may-may (mackarelfish) atau ikan putih yang kesemuanya dikemas menarik sehingga memudahkan pembeli sesuai dengan selera. Harga dari masing-masing produk yakni Rp. 15.000,-, selain itu ditampilkan pula film bawah air dan kampanye lingkungan hidup. Pengunjung stand Taman Nasional Bunaken bervariasi mulai dari pencari informasi bagaimana menuju ke kawasan akomodasi, transportasi dan jasa wisata mana yang bisa dihubungi, adapula yang menginginkan informasi mengenai bagaimana mengembangkan investasi jasa usaha pariwisata alam, mengkoneksikan dengan masyarakat setempat dalam investasi pemberdayaan. Ibu Syane Israel yang menjaga stand Pameran, mengatakan seru sekali pameran kali ini, apalagi pada hari sabtu (4 November 2017) telah dikunjungi wakil asosiasi pariwisata Malaysia dan akan membawa banyak wisatawan ke Bunaken, akan diusahakan untuk bisa bekerjasama dengan jasa wisata setempat. Sumber : Eko Wahyu Handoyo, S.Hut - PEH Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

BKSDA Maluku Terima 12 Ekor Kakatua dari Yogyakarta

Ambon, 5 November 2017. ‘Assalamualaikum,’ suara salam itu terdengar samar-samar. Selang beberapa detik terdengar kembali. ‘Assalamualaikum, Assalamualaikum.’ kali ini lebih kuat dan jelas. Secara reflek balasan salam pun saya ucapkan. ‘Kaik, kaik, kaik. Kakatua, kakatua.’ secara seketika pula dia merespon balasan salam tadi. Dia goyangkan kepalanya turun-naik sekira lima detik. Dengan paruh digigitnya lubang ventilasi di bagian depan kandangnya. Mengeluarkan sedikit bola matanya. Lalu beraksi dan bertingkah lucu. Seperti memberi tanda terima kasih akhirnya dia mendapat perhatian saya. Tampak betul dia sudah terbiasa melakukan hal itu. Mencari perhatian orang di dekatnya, memberi salam, dan mengenalkan dirinya. Seekor burung kakatua koki atau Cacatua galerita. Kakatua dengan jambul kuning, namun berukuran sedikit besar. Ras kakatua koki tersebar dari Benua Australia, Papua, dan terdapat sub spesies yang berasal dari Kepulauan Maluku bagian tenggara, seperti di Kepulauan Kei dan Kepulauan Aru. Habitatnya bervariasi seperti hutan sekunder, hutan mangrove, habitat terbuka, serta lahan budidaya seperti sawah dan kebun sawit. Kakatua memang terkenal sebagai burung cerdas. Dengan melatihnya secara rutin dia dapat menirukan beberapa kosakata. Mengucapkan sebuah kalimat, memberi salam, serta merespon kehadiran manusia di dekatnya dengan gerakan lucu. Pun dengan kakatua jambul kuning ini. Terlihat sekali dia mudah berinteraksi dengan manusia. Kakatua ini merupakan satu dari sepuluh ekor kakatua koki yang dibawa oleh dua orang petugas BKSDA Yogyakarta. Total ada 12 jenis kakatua yang ditranslokasikan ke Pusat Rehabilitasi Satwa Masihulan, di Kabupaten Maluku Tengah pada 3-4 November lalu. Dua ekor lain adalah jenis Kakatua Tanimbar yang habitat aslinya di Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara Barat. Nantinya, keduabelas ekor kakatua akan menjalani rehabilitasi dan dilakukan proses untuk diliarkan kembali. Setelah dipandang siap, kakatua akan dikembalikan ke habitat aslinya serta dapat terbang bebas di alam liar. Sumber : Rifky Firmana Primasatya - Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Kunjungan Dirjen KSDAE Guna Mendukung Penyelenggaraan KSDA & KPA

Medan, 4 November 2017. Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir. Wiratno, M.Sc menandatangani nota kesepahaman dengan Rektor Universitas Sumatera Utara tentang penguatan fungsi berupa dukungan penyelenggaraan kawasan suaka alam (KSA) dan kawasan pelestarian alam (KPA) dengan pendekatan ilmiah (scientific based) untuk tujuan konservasi keanekaragaman hayati di sumatera. Selain memperkuat efektivitas penyelanggaraan KSA dan KPA, nota kesepahaman ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat serta meningkatkan sinergitas, peran dan tanggungjawab pemerintah serta perguruan tinggi dalam bidang konservasi keanekaragaman hayati tropis di lansekap Sumatera. Penandatanganan nota kesepahaman ini dilaksanakan pada kegiatan International Conference on Biodiversity yang mengambil topik “Challenges of tropical biodiversity management and conservation in global change”. Konferensi internasional ini dihadiri parapihak termasuk pemerintah, institusi pendidikan, NGO, pihak swasta dll. Pada kesempatan ini, Dirjen KSDAE memberikan materi tentang upaya konservasi dan implementasinya di Indonesia. Pesan utama yang disampaikan oleh Dirjen KSDAE adalah bahwa dalam pengelolaan kawasan konservasi harus menggunakan prinsip kolaboratif dengan masyarakat dimana hal ini sejalan dengan cita-cita Presiden Joko Widodo dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Selain menghadiri konferensi internasional, Dirjen KSDAE juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke “Aek Nauli Elephant Camp (ANEC)” di KHDTK Aek Nauli. Sebagai bagian dari kegiatan Program Nasional Destinasi Wisata Danau Toba, Balai Besar KSDA Sumatera Utara menghadirkan program “ANEC” yang merupakan kolaborasi dengan Balai Penelitian dan Pengembangan LHK Aek Nauli dan Vesswic. “ANEC” memiliki tujuan untuk pengawetan genetik Gajah Sumatera serta edukasi tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem. Dirjen KSDAE berpesan agar pengembangan “ANEC” harus menggunakan prinsip-prinsip kolaboratif serta menggunakan arsitektur yang menyatu dengan alam. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Dirjen KSDAE Serakan Izin Berburu di Jawa Timur

Surabaya, 4 November 2017. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Ir. Wiratno, M.Sc menyerahkan Surat Keputusan Dirjen KSDAE tentang Kuota Buru Babi Hutan (Sus scrofa) kepada Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur. Kegiatan yang dihelat pada 3 November 2017 tersebut berlangsung di Aula Kantor BBKSDA Jatim yang dihadiri oleh perwakilan anggota Perbakin, media, serta Profauna Indonesia. Kuota buru yang dimaksud hanya berlaku selama 7 hari, 9 – 16 November 2017 di Jawa Timur, dengan jumlah kuota 130 ekor pada beberapa lokasi buru. Penetapan lokasi buru berdasarkan hasil inventarisasi petugas BBKSDA sebagai tindak lanjut laporan dari masyarakat terkait hama Babi Hutan yang mengganggu lahan pertanian. Lokasi buru tersebut meliputi Perkebunan Kandangan Desa Kare Kabupaten Madiun, PTPN XII Desa Karang Pring Kabupaten Jember, Desa Salak dan Desa Sumber Mujur Kabupaten Lumajang. Wiratno juga menyerahkan Surat Izin Berburu kepada Pengurus Provinsi Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin) Jawa Timur. Sebanyak 126 izin diterbitkan dari 252 anggota Perbakin yang mengajukan izin, sisanya masih terkendala kelengkapan berkas seperti surat keterangan kesehatan. Dalam pelaksanaan kegiatan berburu, pemegang izin akan didampingi oleh petugas BBKSDA dan beberapa pihak lainnya seperti Profauna Indonesia. “Nanti akan dilihat dampaknya setelah perburuan, apakah masih terdapat hama di lokasi yang sama,” ujar pria yang menjabat sebagai Dirjen sejak 16 Juni 2017 yang lalu tersebut. Penerbitan izin berburu ini menjadi yang pertama di Indonesia sejak aturan berburu diterbitkan dalam Peraturan Menteri Kehutanan tahun 2010 silam. Hal ini diharapkan menjadi momentum dalam mensosialisasikan pelaksanaan olahraga berburu yang sesuai aturan demi kelestarian satwa liar di alam. Disaat yang sama Kepala Balai Besar KSDA Jatim, Dr. Ir. Ayu Dewi Utari, M.Si menyerahkan Surat Keputusan Izin Penangkaran Rusa Timor (Cervus timorensis) kepada Wakapolda Jawa Timur, Brigjen Awan Samodra, SH. Langkah Wakapolda mengajukan izin penangkaran ini diharapkan memberikan teladan bagi pejabat publik lainnya untuk ikut berperan aktif dalam mendukung pelestarian dan konservasi satwa liar. Dengan melakukan penangkaran diharapkan menjadi solusi bagi pemanfaatan secara lestari satwa liar yang dilindungi undang-undang. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Sidak Dalam Rangka Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa

Timika, 03 November 2017. Multi Stakeholder Forum (MSF) terdiri dari Balai Taman Nasional Lorentz-SPTN I Timika, Balai Besar KSDA Papua-SKW II Timika, USAID Lestari Lorentz Lowlands, PT. Freeport Indonesia (PTFI) - Departement Enviromental, Karantina Pertanian, Komunitas Satwa, TNI AL dan Polres Mimika melakukan Sidak (inspeksi mendadak) sebagai puncak rangkaian kegiatan peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa. Sidak ini dilakukan sesuai dengan target operasi yang sebelumnya telah dikumpulkan oleh Tim Pulbaket, adapun yang menjadi target operasi sidak ini adalah satwa yang dilindungi dan dipelihara oleh masyarakat tanpa dokumen atau aturan yang sah. Kronologis operasi sebagai berikut : Tim operasi dibagi dalam 2 (dua) Tim, masing-masing Tim dikoordinir oleh POLHUT SKW II Timika dan POLHUT SPTN II Timika serta dibantu oleh para pihak yang tergabung dalam MSF dan dibackup oleh Polres Mimika serta LANAL Mimika. Berdasarkan informasi yang didapatkan Tim Pulbaket ada 4 (empat) lokasi yang dijadikan sasaran dilakukan operasi sidak tersebut, dari 4 (empat) lokasi tersebut Tim mendapati adanya satwa dilindungi yang dipelihara, yaitu : 1. Rumah makan Raja Ikan Bakar, lokasi daerah SP3 Kabupaten Mimika. Tim berhasil menyita : - 1 ekor Kasturi Kepala Hitam (Lorius lorry) - 1 ekor Perkici Pelangi (Trichoglossus haematodus) - 1 ekor Kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) 2. Bengkel Wanal, lokasi daerah SP3 Kabupaten Mimika. Tim berhasil menyita : - 1 ekor Mambruk Selatan (Goura Scheepmakeri) - 1 ekor Kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) - 5 ekor Kakatua koki (Cacatua galerita) - 3 ekor Kasturi Kepala Hitam (Lorius lorry) - 1 ekor Kangguru Tanah (Thylogale) - 1 ekor Nuri Bayan 3. Pasar Sentral Timika, tim berhasil menyita : - 11 ekor Kasturi Kepala Hitam (Lorius lorry) - 1 ekor bayan - 1 ekor Kakatua koki (Cacatua galerita) 4. 5 Toko sovenir, lokasi di sekitar jalan Ahmad Yani Kota Timika. Tim berhasil menyita : - 1 ikat kepala bulu Kasuari sebanyak 19 buah - 1 buah ukiran telur Kasuari - 1 buah tulang Kasuari - 4 buah ikat kepala Cendawasih - 7 buah ikat lengan bulu Kasuari Hasil penertiban berupa satwa dilindungi yang hidup selanjutnya oleh pihak BBKSDA Papua melalui Seksi Konservasi Wilayah II Timika dititipkan sementara dan dibuat berita acara kepada pihak PTFI melalui Departemen Enviromental di Mile Point 21 sebelum nantinya dilepasliarkan kembali ke alam. Sumber : Rudy Masach (Polisi Kehutanan SPTN I Timika Taman Nasional Lorentz)

Menampilkan 9.505–9.520 dari 11.140 publikasi