Rabu, 22 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Duduk Bersama Penangkar dan Pengedar TSL Tertibkan Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar di DIY

Yogyakarta, 9 November 2017. Indonesia yang dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati satwa dan tumbuhan yang melimpah menghadapi ancaman kepunahan apabila tumbuhan dan satwa liar (TSL) tersebut dimanfaatkan secara terus menerus tanpa adanya pengawasan dan kebijakan yang tepat. Perdangangan dan penangkaran merupakan bagian kegiatan pemanfaatan satwa liar yang juga dilaksanakan oleh masyarakat di wilayah Balai KSDA Yogyakarta. Dalam rangka mewujudkan pengelolaan dan pemanfaatan TSL yang tertib, bijaksana dan berkelanjutan, bertempat di The Rich Hotel Yogyakarta, Balai KSDA Yogyakarta mengajak para penangkar dan pengedar TSL serta instansi terkait untuk duduk bersama dengan fokus penguatan koordinasi dan komunikasi para pihak terkait peredaran tumbuhan dan satwa liar di wilayah kerja Balai KSDA Yogyakarta. Sebagai narasumber pada pertemuan ini Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Kasubdit Pemanfaatan Jenis Ditjen KSDAE, Akademisi dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Peserta yang hadir pada pertemuan ini sebanyak 72 orang berasal dari unsur instansi terkait seperti Balai Karantina Pertanian Kelas II Yogyakarta, Angkasa Pura I Yogyakarta, Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, Lembaga Konservasi di wilayah DIY, dan Pemegang ijin penangkar dan pengedar TSL di DIY. Dengan adanya pertemuan bersama para pihak ini, dapat menjadi media untuk menyamakan presepsi sekaligus sosialisasi peraturan terkait penangkaran dan peredaran TSL, sehingga tercapai peningkatan kepatuhan penangkar dan pengedar dalam memenuhi kewajiban dan peraturan yang berlaku. Tertibnya aktivitas pemanfaatan TSL juga berdampak terhadap peningkatan capaian Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar. Pada kesempatan ini juga diberikan penghargaan kepada PT Pertamina BBM Rewulu sebagai penangkar terbaik di wilayah kerja BKSDA Yogyakarta. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Pengobatan Gajah Liar Yang Sakit di SM Balai Raja

Pekanbaru, 8 November 2017. Pengobatan gajah liar sakit di SM Balai Raja kembali dilakukan oleh Tim dari Balai Besar KSDA Riau bersama dengan WWF, Vesswic, Yayasan Tesso Nilo, RSF dan Hipam pada tanggal 8 November 2017. Untuk tahun 2017, ini adalah pengobatan kedua setelah sebelumnya dilakukan beberapa kali pengobatan. Pengobatan Dita diawali dengan melakukan pembiusan. Setelah terbius pengobatan segera dilakukan terhadap luka pada kaki depan kiri. Kondisi kaki Dita sudah mulai membaik. Multivitamin penambah darah dan penguat ototpun tidak lupa diberikan. Pada pengobatan sebelumnya telah diambil sample darah Dita untuk dilakukan pemeriksaan general check up agar dapat diketahui kondisi Dita secara menyeluruh. Saat ini Tim sedang menunggu hasil laboratorium untuk dapat mengambil tindakan lebih lanjut. Semoga Dita segera pulih dan dapat ceria kembali berkumpul dengan kelompoknya di hutan Talang SM Balai Raja ya.... Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Konsultasi Publik Rencana Pengelolaan Suaka Margasatwa Kerumutan

Pekanbaru, 9 November 2017. Dalam mengelola kawasan konservasi Suaka Margasatwa Kerumutan yang ditetapkan berdasarkan SK Menhut No. 4643/Menlhk-PKTL/KUH/2015 tanggal 26 Oktober 2015 dengan luas 95. 047,87 ha., Balai Besar KSDA Riau mengadakan konsultasi publik penyusunan dokumen rencana pengelolaan SM Kerumutan pada hari Kamis, tanggal 9 November 2017. Kawasan konservasi ini mempunyai berbagai macam potensi flora dan fauna, yaitu potensi flora : punak, sagu hutan, gerunggang, bintangur, resak dan balam serta potensi fauna : harimau loreng sumatera, harimau dahan, beruang madu, owa, burung enggang, kera ekor panjang dan kuntul putih. Acara dihadiri oleh Bappeda Prov. Riau, Bappeda Kab. Indragiri Hulu, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kab. Indragiri Hulu, Dinas Lingkungan Hidup Kab. Indragiri Hulu dan Camat Pelelawan. Tujuan pengelolaan agar terjaga ekosistem kawasan SM Kerumutan sebagai habitat perlindungan keanekaragaman satwa liar, terciptanya sistem koordinasi antar stakeholder dalam penelolaan SM Kerumutan dan tumbuhnya kesadaran dan kepedulian masyarakat akan pentingnya manfaat sumber daya alam hayati dan ekosistem di SM Kerumutan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau Foto : Ade Riccard. S
Baca Berita

Pelatihan Pembesaran Kepiting Bakau di Desa Alang-alang

Tanjung Jabung Timur, pada hari Kamis, 2 November 2017 Balai KSDA Jambi melaksanakan kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas kelompok masyarakat di Desa Alang-alang Kecamatan Muara Sabak Kabuaten Tanjung Jabung Timur. Desa Alang-alang merupakan salah satu desa penyangga Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur yang pengelolaanya di bawah BKSDA Jambi. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan penyusunan rencana pembinaan yang dilakukan pada bulan September lalu. Desa alang-alang memiliki potensi sumber daya alam yang cukup melimpah, diantaranya sektor perikanan, pertanian dan perkebunan. Salah satu potensi yang prospektif untuk dikembangkan adalah kepiting bakau. Hal ini dikarenakan potensi bakau, baik di dalam kawasan CAHBPT maupun di luar kawasan kondisi vegetasinya tergolong baik. Vegetasi bakau inilah yang menjadi habitat kepting bakau. Melihat potensi tersebut masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani hutan bersepakat untuk mengembangkan kepiting bakau sebagai salah satu komoditas unggulan di Desa Alang-alang. Dalam rangka mewujudkan cita-cita masyarakat tersebut BKSDA Jambi mengadakan pelatihan pembesaran Kepiting Bakau. Pelatihan pembesaran kepiting bakau ini difasilitasi oleh Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Jambi dengan menghadirkan narasumber dari Founder Yayasan Crab-ball Mangrove Indonesia yaitu Drs. Hartoto. Pengalaman beliau selama belasan tahun mengembangkan metode pembesaran kepiting bakau di Indonesia menjadi poin penting untuk dibagikan kepada kelompok masyarakat di Desa Alang-alang. Dalam pelatihan ini Pak Toto juga mengenalkan alat yang diberi nama crab –ball, merupakan salah satu alat untuk pembesaran kepiting bakau yang beliau ciptakan. Alat tersebut cukup efektif dan efisien dalam pembesaran kepiting bakau terutama dalam hal keamanan dari gangguan mangsa dan kemudahan dalam pemeliharaan dan pemanenan. Pelatihan ini juga merupakan kerjasama antara BKSDA Jambi dan Himpunan Kerukunan Tani dan Nelayan Indonesia (HKTI). Turut hadir dalam pelatihan ini Ketua HKTI Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Sekjen HKTI Provinsi Jambi. Melalui pelatihan ini diharapkan masyarakat dapat meningkatkan pendapatannya sekaligus merasakan langsung manfaat dari kelestarian Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur bagi kehidupan mereka. Sumber: Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Salam Konservasi Dari Mahasiswa Kehutanan Universitas Khairun Yang PKL DI TN. Aketajawe Lolobata

Sofifi, 9 November 2017. Sebanyak 25 orang mahasiswa Program Studi Kehutanan Universitas Khairun (Unkhair) Ternate melakukan Praktek Kerja Lapang (PKL) di Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Kegiatan yang dilakukan selama satu bulan mulai tanggal 15 Oktober sampai dengan 15 November 2017 tersebut berlokasi di wilayah Resort Tayawi Seksi Pengelolaan wilayah I (SPTN I) di desa Koli, kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk aplikasi dari Tri Darma perguruan tinggi yang ditujukan kepada seluruh Mahasiswanya agar memiliki kemampuan dalam menghadapi dunia kerja di masa mendatang. Selain itu praktikum ini juga sebagai ajang untuk mengaplikasikan teori diperkuliahan dan menambah wawasan terhadap dunia kerja kehutanan. Selama praktek, mahasiswa dibagi tiga kelompok yaitu kelompok perlindungan, pemanfaatan dan kelompok pengawetan. Kelompok Perlindungan bertugas mengidentifikasi gangguan kawasan di wilayah Resort Tayawi, melakukan penyuluhan di sekolah dan desa sekitar. Kelompok ini juga melaksanakan praktek patroli rutin dalam kawasan bersama kepala resort dan membuat papan informasi/interpretasi (sebagai kenangan mahasiswa PKL). Kelompok pemanfaatan mempunyai tugas mengidentifikasi potensi sumber daya alam non kayu yang dimanfaatkan, mendata jumlah Masyarakat Tobelo Dalam (suku Togutil) di Resort Tayawi, survey potensi damar dan pemanfaatannya, mengidentifikasi potensi tanaman obat dan membuat papan himbauan. Kelompok pengawetan memiliki tugas yang berbeda yaitu mengidentifikasi jenis tumbuhan dan satwa, mensurvei potensi palem dan begonia, praktek pembuatan demplot tanaman di suaka paruh bengkok bersama petugas suaka, dan praktek inventarisasi jenis tumbuhan/tegakan di lokasi suaka. “Kami berterima kasih sebesar-besarnya kepada Balai TNAL waktu dan pendampingan yang diberikan, SALAM KONSERVASI”, ucap salah satu mahasiswa PKL. Selama PKL, mahasiswa tersebut didampingi oleh Kepala Resort Tayawi dan Tenaga Teknis Konservasi TNAL. “Saya senang dengan kehadiran adek-adek mahasiswa disini, karena kedepannya merekalah yang akan pengelolaan TNAL atau kehutanan di Maluku Utara”, tutur Pak Raduan, Kepala SPTN Wilayah I Weda yang juga turut mendampingi dan memberikan arahan kepada mahasiswa PKL. Oleh : Ais Syarif Kofia - Koordinator Praktek Kerja Lapangan
Baca Berita

BBTN Bentarum Latihan Menembak

Putussibau, 9 November 2017. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum bekerjasama dengan Polres Kapuas Hulu mengadakan Pelatihan Menembak untuk Polisi Kehutanan dan Pejabat Struktural lingkup Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum. Peserta dalam kegiatan ini berjumlah 38 (tiga puluh delapan) orang yang terdiri dari 21 (dua puluh satu) Polisi Kehutanan dan 16 (enam belas) Pejabat Struktural. Kegiatan Pelatihan Menembak dilaksanakan di lapangan Tembak Polsek Kalis. Dalam sambutan Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, Ir. Arief Mahmud, M.Si, menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan kegiatan rutin tahunan untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme Polisi Kehutanan dalam menggunakan senjata api. Melalui pelatihan ini diharapkan Polisi Kehutanan mampu menggunakan senjata api sesuai prosedur sehingga dapat mendukung Tugas Pokok dan Fungsi Perlindungan Hutan serta memiliki kemampuan untuk lebih mengendalikan diri (kesabaran, ketenangan dan konsentrasi). Sedangkan menurut Kabag Sumda Polres Kapuas Hulu selaku kepala instruktur menembak, Kompol Abdullah, latihan ini sangat bagus dilaksanakan secara kontinyu supaya setiap personil dapat lebih memahami karakteristik senjata yang digunakan. Senjata api yang digunakan dalam pelatihan menembak terbagi menjadi dua yaitu Senjata Non Organik TNI/Polri yaitu senjata api bahu jenis PM1-A1 yang merupakan senjata pegangan Polisi Kehutanan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum dan Senjata Api Organik TNI/Polri yaitu senjata api bahu jenis SS1 V2 dan senjata genggam jenis Revolver. Pelaksanaan menembak dengan mengunakan PM1A1 dan SS1 V2 dilakukan dengan jarak 35 meter dari target sasaran sedangkan Senjata Revolver berjarak 15 meter dari target sasaran. Pada akhir kegiatan dilakukan perhitungan untuk masing-masing kategori. Dari hasil perhitungan, untuk kategori Polisi Kehutanan diperoleh 3 (tiga) peringkat terbaik dari dua jenis senjata api yang digunakan PM1-A1 dan SS1 V2 dengan nilai yaitu Hartono (153), Muslim (144) dan Muslimat (137). Sedangkan untuk kategori Pejabat Struktural diperoleh 3 (tiga) peringkat terbaik dengan menggunakan senjata api jenis PM1-A1, SS1 V2 dan Revolver dengan nilai yaitu Junaidi, S.Hut., M.Si (217), Wahyu Setiyakusumo, SP (198) dan Desra Zullimansyah (181). Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Bentarum)
Baca Berita

Evakuasi Gajah Liar oleh Tim dari Balai Besar KSDA Riau, WWF, Vesswic, Yayasan Tesso Nilo, Hipam dan RSF

Riau – 9 November 2017, 2 ekor gajah liar (Elephas maximus sumatranus) Rabu dini hari tanggal 8 November 2017 pukul 01.00 wib telah berhasil dimasukkan ke dalam mobil truk angkat untuk dikembali ke kelompoknya di hutan Talang SM Balai Raja setelah satu minggu gajah liar tersebut keluar dari homerangenya (jalur jelajahnya). 2 ekor gajah liar yang sebelumnya selalu menemani gajah Dita (gajah liar yang sakit dan sudah diberikan tindakan pengobatan serta dikembalikan ke kelompoknya) kebingungan setelah keluar dari homerangenya. Kedua petualang tersebut terus berjalan dan semakin menjauh, bahkan dari pantauan petugas di lapangan kedua satwa tersebut melewati beberapa desa, kecamatan bahkan telah masuk ke wilayah Dumai dengan medan jelajah bergambut. Hal ini membuktikan bahwa gajah mempunyai insting dan kemampuan jelajah yg cukup baik walaupun telah keluar dari homerangenya (jalur jelajahnya). Saat Tim evakuasi turun ke lapangan sang petualang berada di Desa Mumugo, Kec. Tanah Putih, Kab. Rokan Hilir. Di desa inilah kedua satwa tersebut dievakuasi oleh Tim dari Balai Besar KSDA Riau, WWF, Vesswic, Yayasan Tesso Nilo, Hipam dan RSF. Tim dibantu dengan 2 ekor gajah jinak dari PLG Minas yaitu Indah dan Bangkin untuk membantu menggiring gajah liar tersebut ke atas truk dengan kondisi gajah liar dlm keadaan terbius untuk dikembalikan ke SM Balai Raja. Saat ini kedua petualang tersebut telah kembali berkumpul dengan kelompoknya. Sumber: BBKSDA Riau
Baca Berita

Selamatkan Penyu Di Batas Negeri

Paloh, 6 November 2017, Senja di ufuk barat telah hadir menyinari habitat asli penyu, sebanyak 420 ekor tukik dilepasliarkan di pantai desa Temajuk Kec. Paloh Kab. Sambas dalam acara Festival Paloh 2017. Festival ini merupakan event tahunan yang melibatkan mitra konservasi WWF Kalimantan Barat dan Pemerintah Kabupaten Sambas, kegiatan ini juga diramaikan dengan terlibatnya Kelompok Masyarakat Sadar Wisata dan organisasi masyarakat lainnya. Pelepasliaran tukik dilakukan sebagai bentuk komitmen bersama untuk pelestarian penyu yang dilakukan oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah III, Bupati Sambas, Wakil Bupati Sambas, Kementerian Pariwisata, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, wakil Polres Sambas, LSM serta masyarakat. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menggugah kesadaran masyarakat terhadap upaya konservasi penyu dan sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan. Harapan ke depan taman wisata alam yang ada di Kabupaten Sambas dapat dikelola dengan baik sesuai dengan apa yang telah tersusun dalam RPJP di 5 lokasi TWA di Kabupaten Sambas. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Pembentukan Forum Pariwisata Alam di Taman Nasional Wakatobi

Wangi-wangi, 8 November 2017. Tepat pukul 10.00 Wita, dilaksanakan kegiatan pembentukan forum pariwisata alam yang diselenggarakan oleh Balai Taman Nasional Wakatobi (TNW). Hal ini dilakukan karena semakin meningkatnya aktifitas usaha pariwisata alam di TNW khususnya di bidang usaha penyediaan jasa wisata alam, sehingga dipandang perlu untuk membentuk suatu forum pengusaha penyedia jasa wisata alam sebagai wadah dalam meningkatkan profesionalisme dan komunikasi dengan para pihak terkait dengan usaha pariwisata alam di TNW. Tujuan dari kegiatan ini adalah Melakukan sosialisasi tentang PP Nomor 12 Tahun 2014 tentang Tarif atas Jenis PNBP, PP Nomor 36 Tahun 2010, Permenhut Nomor 48 Tahun 2010 dan Permenhut No 4 tahun 2012 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam, Menjalin komunikasi dan kesepahaman terkait pengusahaan pariwisata alam di TNW. Kegiatan diawali dengan sambutan dan arahan dari Bapak Kepala Balai TNW yang disampaikan oleh Kepala SPTN Wilayah III Tomia sekaligus pemaparan terkait dengan regulasi pengusahaan pariwisata alam di kawasan Taman Nasional, dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab dan terakhir pembentukan forum (pemilihan ketua dan pengurus, aturan/kesepakatan internal lainnya). Pada kegiatan ini peserta yang mengikuti kegiatan antara lain: berasal dari Wangi-Wangi (Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I, Mawada Dive Resort, Patuno Resort, Wakatobi Dive Trip, Rekan Dive Center, Waka-Waka Dive Center, Wakatobi Dive Adventure, Oceania Dive Centre, Wakatobi Tourism Centre, Dinis Cemara Dive Center, CV Pulau Wakatobi Bahari (Wakatobitours.com), PaketWisataWakatobi.com.). Berasal dari Kaledupa (Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II, Yayasan Mitra Alam Wakatobi, Hoga Island Resort, Hogarista Tours, Hoga Dive Resort, Kelompok Masyarakat Ekowisata Taduno Desa Sombano, Toudani Trip Forkani, Community based Tourism Limbo Langge, Andar (Kaledupa) Berasal dari Tomia (Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III, PT. Wakatobi Resort, Tomia Scuba Dive Resort, Tandiono Wakatobi Dive Center, Wakatobi Marine Dive, Koordinator Desa Wisata Kulati. Kabupaten Buton (Rock n Roll Divers) dan Mitra (WWF-SESS), Swiss Contact. Peserta merupakan pelaku pariwisata alam di TNW baik yang berasal dari masyarakat lokal maupun dari luar Wakatobi. Harapan dari kegiatan pembentukan forum pengusaha wisata alam yang beroperasi di TNW sehingga dari pembentukan forum ini adanya peningkatan pengurusan izin usaha penyedia jasa wisata alam (IUPJWA) dan pengelolaan pariwisata alam di TNW dapat lebih baik dan kondusif. Sumber : Balai TN Wakatobi
Baca Berita

BBTN Bentarum Gelar Pelatihan Masyarakat Peduli Api

Putussibau, 8 November 2017. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) mengadakan pembentukan sekaligus pelatihan untuk Masyarakat Peduli Api lingkup kerja Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kedamin pada tanggal 6-8 November 2017. Acara diselenggarakan di Rumah Retret Deo Soli dengan peserta dari tiga desa penyangga yaitu Desa Bungan Jaya, Desa Tanjung Lokang, dan Desa Datah Dian. Peserta berjumlah 30 orang masing-masing 10 orang perwakilan dari setiap desa tersebut. Kodim 1206 Putussibau dan Koramil Putussibau Selatan pun mengirim perwakilannya untuk mengikuti pelatihan tersebut karena dinilai ilmu yang sangat penting untuk mereka dapatkan sekaligus sebagai komitmen dukungan TNI dalam upaya pencegahan kebakaran di Kabupaten Kapuas Hulu. Dalam pembukaan acara pelatihan dan pembentukan Masyarakat Peduli Api dihadiri oleh Kodim 1206 Putussibau, Polres Kapuas Hulu, Danramil Putussibau Selatan, dan Pemerintah daerah yang diwakilkan oleh Camat Putussibau Selatan dan Putussibau Utara. Upaya ini dilakukan untuk mensinerjikan program pengendalian kebakaran hutan dan lahan di kabupaten Kapuas Hulu khususnya di sekitar kawasan TNBKDS. Seperti yang diutarakan oleh Camat Putussibau Selatan, Bapak Syahrial, kegiatan pelatihan seperti ini diharapkan tidak hanya ditujukan untuk desa-desa di sekitar kawasan saja namun di desa-desa lain mengingat tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan untuk ladang tidak hanya terjadi di desa-desa sekitar kawasan Taman Nasional Betung Kerihun saja. Dalam sambutan yang disampaikan oleh Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kedamin, Fery A.M. Liuw mewakili Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun danau Sentarum, kegiatan ini merupakan entry point kerjasama antara pihak-pihak terkait terutama masyarakat, Pemerintah Daerah dan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum untuk menekan angka kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kapuas Hulu. Diharapkan masyarakat dapat maksimal menyerap ilmu yang diberikan oleh Narasumber sehingga sistem informasi dapat terbangun dengan baik dan masyarakat mampu mengendalikan atau mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang berada di wilayahnya. Narasumber kegiatan ini berasal dari Balai PPI Dan Pengendalian Kebakaran Hutan Dan Lahan Wilayah Kalimantan dan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun yang sudah tersertifikasi dan berpengalaman dalam bidang kebakaran hutan dan lahan. Isu yang sangat menarik masyarakat t dalam pelatihan tersebut adalah mengenai Pembukaan Lahan Tanpa Bakar. Bahkan limbah dari pembukaan lahan tanpa bakar dapat menghasilkan rupiah dengan proses tertentu. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TN Bentarum)
Baca Berita

Populasi Macaca maura dan Tarsius fuscus meningkat di TN Bantimurung Bulusaraung

Bantimurung, 7 November 2017. Di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung telah teridentifikasi 33 jenis mamalia, terdiri dari 6 jenis dilindungi dan 11 jenis endemik Sulawesi. Dua di antaranya termasuk satwa terancam punah prioritas berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal KSDAE Nomor SK.180/IV-KKH/2015 tanggal 30 Juni 2015 yaitu Monyet Hitam Sulawesi (Macaca maura) dan Tarsius (Tarsius fuscus). Kedua mamalia tersebut sejak tahun 2013 telah dilakukan monitoring secara berkala, yaitu Macaca maura kelompok B dan Tarsius fuscus kelompok sungai Pattunuang. Kedua mamalia yang penyebarannya terbatas di Semenanjung Barat Daya Sulawesi (Sulawesi Selatan) tersebut telah ditetapkan untuk ditingkatkan populasinya sebesar 10% pada tahun 2015-2019. Data dasar 2013 menjadi acuan peningkatan satwa tersebut sebesar 2% tiap tahunnya. Hal tersebut juga menjadi sasaran strategis yang akan dicapai sebagai Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) bidang konservasi keanekaragaman hayati Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tahun 2015-2019. Laporan hasil monitoring populasi satwa terancam punah prioritas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tahun 2013-2017 menunjukkan peningkatan. Populasi Macaca maura kelompok B tahun 2017 berdasarkan baseline data tahun 2013 meningkat sebesar 6 % (dari 34 individu meningkat menjadi 36 individu) atau rata-rata 2% setiap tahunnya. Populasi Tarsius fuscus kelompok sungai Pattunuang tahun 2017 berdasarkan baseline data tahun 2013 juga meningkat sebesar 33 % (dari 80 individu meningkat menjadi 106 individu) atau rata-rata 7% setiap tahunnya. Perpindahan individu antar kelompok, kelahiran, dan kematian oleh pemangsa lebih berpengaruh terhadap dinamika populasinya. Meningkatnya populasi Macaca maura dan Tarsius fuscus ini tak lepas dari peran Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung melalui berbagai upaya yang telah dilakukan. Upaya yang telah ditempuh diantaranya melalui kegiatan identifikasi, inventarisasi dan pemetaan sebaran, penentuan site monitoring (permanent monitoring plot), dan monitoring populasi secara berkala. Upaya lain yang dilakukan diantaranya penyusunan baseline data, pembangunan Sanctuary Tarsius, dan perlindungan dan pengamanan (patroli dan penyuluhan). Upaya yang tak kalah pentingnya dalam meningkatkan populasi satwa tersebut adalah penyusunan rencana pengendalian invasi tumbuhan kembang kecrutan (Spathodea campanulata), dan kerjasama dengan Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar, Fakultas Kehutanan UNHAS, San Diego State University, Roma Tre University, Kyoto University, PT Semen Bosowa, PT Telkom, dan PT Pertamina. “Pembangunan Sanctuary Tarsius fuscus telah selesai dibangun tahun ini, selanjutnya akan kami usulkan penetapan sekaligus meresmikannya,” ujar Sahdin Zunaidi, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Semoga ke depan populasi Macaca maura dan Tarsius fuscus di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung terus terjaga kelestariannya. Sumber: Kamajaya Shagir - PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Pembentukan dan Penetapan MMP BTN Lorentz

Wamena, 08 November 2017. Kawasan Taman Nasional Lorentz (TN Lorentz) dengan luas 2.348.683 ha merupakan salah satu kawasan konservasi yang terluas dan memiliki perwakilan ekosistem terlengkap di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik. Hingga saat ini, Kawasan TN Lorentz tidak luput dari berbagai ancaman yang dapat mengancam keutuhan dan kelestarian Taman Nasional. Salah satu ancaman yang sangat menonjol adanya Penebangan liar, Perburuan Tumbuhan dan Satwa Liar. Untuk memcegah, membatasi dan mempertahankan hutan tersebut Balai TN Lorentz menyelenggarakan kegiatan Pembentukan dan Penetapan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) yang bertempat di Aula Balai TN Lorentz, acara tersebut berlangsung selama 2 (dua) hari tanggal 07 s.d 08 November 2017. Peserta kegiatan peningkatan kapasitas ini diikuti oleh 33 orang yang berasal dari masyarakat sekitar kawasan TN Lorentz yaitu Distrik Tailarek dan Distrik Walaik Kabupaten Jayawijaya-Papua. Selanjutnya, Kepala Balai TN Lorentz Acha Anis Sokoy, S.Hut. dalam sambutannya sekaligus membuka acara dimaksud, menyatakan bahwa kegiatan ini diharapkan akan melahirkan kader-kader yang akan membantu tenaga Polisi Kehutanan (POLHUT) dalam hal perlindungan dan pengamanan kawasan TN Lorentz. Dalam kegiatan ini para peserta diberikan pembekalan dan materi dari beberapa narasumber, antara lain Pengenalan Taman Nasional Lorentz, Dasar-dasar Perlindungan dan Pengamanan Hutan, Organisasi dan Kelembagaan Masyarakat Mitra Polhut dan Peranan dan Tanggung Jawab Masyarakat Mitra Polhut. Peserta sangat antusias mengikuti acara ini, diskusi berjalan komunikatif hal ini dikarenakan keinginan tahuan peserta MMP yang sangat tinggi sehingga materi yang diberikan dapat diterima dengan baik. Selain dibekali dengan pengetahuan tersebut diatas, keesokan harinya para peserta MMP kemudian dilakukan kunjungan lapangan ke kawasan TN Lorentz untuk lebih mengenali tentang kawasan termasuk didalamnya dihadapkan dengan cara mengatasi bila ada terjadi pelanggaran bidang lingkungan hidup dan kehutanan. Sumber : Balai Taman Nasional Lorentz
Baca Berita

Balai TN Komodo Mengelola Sampah Bersama Multipihak

Labuan Bajo, 6 November 2017. Dokumen pengelolaan sampah Kabupaten Manggarai Barat ini merupakan satu langkah nyata usaha kita untuk menata wilayah ini. Sampah tak bisa di kelola hanya dengan satu cara, butuh integrasi hulu-hilir, koordinasi semua pihak, keterpaduan sarana dan prasarana serta peraturan yang kuat agar pengelolaan sampah bisa betul betul berjalan sinergi. Demikian disampaikan DRS.AGUSTINUS CH.DULA, Bupati Kabupaten Manggarai Barat dalam sambutannya pada penandatangan Dokumen Panduan Pengelolaan Sampah kawasan kota Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo, Senin (06/11/2017) di Labuan Bajo. Sebagai rumah bagi satwa Komodo (Varanus Komodoensis) dan dengan status Situs Warisan Dunia (World Heritage Site ) dan Cagar Biospher (Man and Biosphere) yang diberikan oleh UNESCO, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu tujuan wisata yang menunjukkan grafik kunjungan yang terus naik dari luar maupun dalam negeri. “Keunikan satwa komodo, ditambah pari manta dan hiu menjadikan Taman Nasional Komodo sebagai dive site premier yang terus menarik kunjungan wisata. Aktivitas wisata dan sampah kiriman dari luar kawasan, membuat Taman Nasional Komodo dibebani oleh sampah yang tentu saja dapat menganggu kelestarian ekosistem Taman Nasional Komodo itu sendiri jika tidak dikelola”, kata IR. SUDIYONO.MSi, Kepala Balai Taman Nasional Komodo dalam sambutannya. Dokumen ini disusun sejak 2016 oleh Pemda Manggarai Barat dan Balai Taman Nasional Komodo dengan dukungan WWF-Indonesia menggunakan standar pengkajian sumber timbulan, komposisi, dan karakteristik sampah sesuai dengan tata cara yang tertera pada SNI 19-3964-1995 dan SNI M 36-1991-03. “Salah satu tantangan utama dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan adalah bagaimana mengatasi permasalahan di darat, salah satunya adalah sampah. Hasil kajian tim penyusun rencana pengelolaan mendapatkan bahwa rata-rata timbulan sampah yang dihasilkan Kota Labuan Bajo sebesar 112,4 m3/hari setara 12,8 Ton/hari, dimana 33% sampah anorganik daur ulang/ ekonomis” kata M. ERDI LAZUARDI, Project Leader Lesser Sunda Seascape, WWF-Indonesia. Lebih lanjut kajian menunjukkan rata-rata timbulan sampah yang dihasilkan Kawasan Taman Nasional Komodo dari area pemukiman sebesar 12 m3/hari atau setara dengan 0,7 ton/hari, dan sampah dari kawasan wisata sebesar 0,2 m3/hari atau 0,01 ton per hari. Dokumen ini menyimpulkan bahwa pengelolaan sampah di Taman Nasional Komodo tidak bisa dipisahkan dari Labuan Bajo. Direkomendasikan investasi penambahan infrastruktur persampahan, penambahan jumlah dan fungsi TPS 3R, pemisahan fungsi regulator dan operator persampahan, penegakan peraturan persampahan khususnya terkait pemilahan dan retribusi, dan penerapan Tempat Pengolahan Akhir dengan system sanitary landfill. Dan terpenting juga adalah partisipasi masyarakat. “Dokumen ini diharapkan menjadi panduan dan pegangan para pihak, yang jika diterapkan menyeluruh maka Manggarai Barat, utamanya kota Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo akan menjadi model yang baik dalam pendekatan landscape-seascape maupun ridge to reef: pengelolaan terintegrasi darat-laut,” tutup Erdi Lazuardi. Sumber : Balai TN Komodo
Baca Berita

Kasihan Melihat Burungnya, Mahasiswa Ini Menyerahkannya ke TN. Aketajawe Lolobata

Sofifi, 6 November 2017. Makin akrab dengan alam dan makin akrab dengan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) menjadikan salah satu mahasiswa Universitas Khairun (Unkhair), Fakultas Pertanian, Jurusan Kehutanan ini menyerahkan burung peliharaannya secara sukarela ke kantor Balai TNAL. Burung Kasturi Ternate (Lorius garullus) yang telah dipelihara selama satu tahun itu sekarang berada di kandang rehabilitasi. “Saya kasihan melihat burung saya, karena dia hidup bukan dihabitatnya”, kata M Sany Djafar saat menyerahkan burung pemberian temannya itu kepada TNAL. Diterima langsung oleh Kepala Suaka Paruh Bengkok, Gunawan Simanjuntak, kemudian burung tersebut diperiksa oleh Dokter Hewan sebagai tindakan awal. Beberapa mahasiswa Unkhair Ternate setiap tahun selalu melaksanakan kegiatan didalam kawasan TNAL, baik berupa kunjungan, magang, diklat dasar pecinta alam sampai melaksanakan kemah konservasi. Direncanakan akhir bulan ini mereka akan mengadakan kemah konservasi kembali di Resort Binagara. Oleh : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Peringati Hari Cinta Puspa, Sekditjen KSDAE Lepaskan Rusa Bawean

Gresik – 6 November 2017, Sekretaris Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Ir. Heri Subagiadi, M.Sc. melepasliarkan enam ekor Rusa Bawean (Axis kuhlii) di Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Sebelumnya rusa-rusa tersebut menjalani masa habituasi hampir dua minggu di suaka margasatwa yang terletak di Desa Pudakit Timur Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean – Gresik. Menurut Heri, rusa bawean merupakan jenis rusa terkecil dan bersifat unik, serta hanya satu di dunia yakni di Pulau Bawean. “Oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) rusa bawean ditetapkan sebagai spesies yang terancam punah, dan oleh pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai satwa yang dilindungi,” imbuhnya. Namun dengan status dilindungi bukan berarti tidak diperbolehkan azas pemanfaatan, tetap ada melalui mekanisme penangkaran, contohnya. Berdasarkan inventarisasi tahun 2014, populasi rusa bawean di hutan Bawean tinggal 275 ekor, jumlah yang sangat sedikit dibanding dengan populasinya selama 20 tahun terakhir. Untuk itu perlu melakukan upaya-upaya penyelamatan, seperti penindakan yang tegas terhadap perburuan rusa bawean, jangan sampai nasibnya seperti harimau jawa yang telah punah. Bagi Heri bangsa yang tidak mampu menyelamatkan satwa endemik dan menjadi ikon bangsanya di cap sebagai bangsa tidak bermartabat. Untuk itu ia menyampaikan kepada hadirin yang ada untuk ikut serta memberi dukungan terhadap kegiatan penyelamatan rusa bawean. Berawal 7 ekor Keenam ekor rusa bawean yang dilepasliarkan berasal dari penangkaran rusa bawean di Desa Pudakit Timur – Bawean dan Maharani Zoo Lamongan. Sudirman, sang pelopor penangkaran sangat bangga dengan pelepasliaran ini, menurutnya apa yang ia rintis selama ini telah memberi manfaat bagi orang lain. Sudirman-pun berkisah bahwa semua berawal rusa bawean yang keluar hutan dan tertangkap oleh masyarakat, lalu ia berinisiatif untuk menampung rusa tersebut. Sehingga setiap ada rusa yang tertangkap masuk kampung diminta untuk diserahkan ke sudirman agar dapat dirawat. “Dengan jumlah awal yang berjumlah tujuh ekor, empat jantan dan tiga betina, alhamdulillah saat ini telah berkembang menjadi 39 ekor,” ujarnya berapi-api. Menurut Sudirman, ia berangkat dari tekad bukan dari materi, niatnya semata-mata untuk penyelamatan, penelitian, dan pendidikan Karena itu tak jarang untuk membayar perawat satwa, uang penghasilannya sebagian untuk perawat tersebut. Ia berharap lokasi penangkaran rusa dapat berkembang menjadi kawasan ekowisata dan agrowisata. Untuk ia meminta kepada para pemangku kepentingan dapat memberikan bimbingan agar harapannya tersebut dapat terwujud. Satu hal yang membuat Sudirman gelisah saat ini adanya wacana yang berkembang untuk memasukkan rusa timor (Cervus timorensis) ke Bawean sebagai satwa penangkaran. Ia khawatir, jika rusa timor terlepas dan masuk hutan dapat merusak genetik asli rusa bawean. “Nanti tidak endemik lagi,” ucapnya penuh khawatir. Pelepasliaran rusa bawean ini bertepatan dengan Hari Cinta Puspa tahun ini, 5 November 2017. Lokasi pelepasliaran sendiri berada tak jauh dari lokai penangkaran yang berada di tepi kawasan hutan suaka margasatwa. Turut hadir dalam acara ini, perwakilan dari LIPI, Fakultas Kedokteran Hewan – Universitas Airlangga, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, International Animal Rescue, Maharani Zoo, dan Taman Safari Indonesia. Juga dari Pembangkit Listrik Jawa Bali, Perusahan Gas Negara – Gresik, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik, Muspika Kecamatan Sangkapura - Bawean, dan LSM Gerbang Bawean. Serta para aktivis lingkungan hidup, kelompok pecinta alam, dan tentunya dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur. Teks dan Foto: Agus Irwanto, agusirwanto@yahoo.com
Baca Berita

Peningkatan Kapasitas Masyarakat Suku Tradisional Talang Mamak TN Bukit Tiga Puluh dalam Budidaya Jernang dan Kelukup

Indragiri Hulu, 6 November 2017. Upaya menuju perubahan pola kehidupan/pemikiran masyarakat tradisional dari ketergantungan akan hasil hutan maka Balai TN Bukit Tiga Puluh (TNBT) melakukan pembinaan terhadap masyarakat suku tradisional dalam bentuk kemitraan masyarakat zona tradisional. Target kemitraan zona tradisonal adalah masyarakat suku asli tradisional Talang Mamak, yang telah hidup puluhan tahun di dalam hutan Bukit Tiga Puluh. Adapun kemitraan zona tradisional TNBT ditargetkan seluas 25 (dua puluh lima) Hektare dan rotan jernang dan kelukup dipilih menjadi obyek kemitraan dalam pemanfaatan potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) unggulan yang akan dikembangkan. Tahap sebelumnya, TNBT telah menfasilitasi pembentukan kelompok masyarakat tradisional yaitu kelompok “Jelemu Bengayauan” Dusun Bengayauan, Desa Rantau Langsat dan “Tualang Sejahtera” Dusun Tualang, Desa Siambul. Kedua desa tersebut secara administratif berada di Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Propinsi Riau dan berada di wilayah kerja Resort Siambul, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Belilas Riau. Tahap fasilitasi selanjutnya adalah penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) kelompok dimana setiap kelompok dilibatkan dalam penyusunan RKT satu tahun kedepan. Dalam RKT kelompok tersebut terdapat kegiatan peningkatan kapasitas kelompok dalam hal Pelatihan budidaya jernang dan kelukup. Kegiatan pelatihan budidaya jernang dan kelukup ini telah dilaksanakan selama 3 (tiga) hari, pada 2-4 November 2017 di Ruang Serbaguna Kantor Kecamatan Batang Gansal, Kab. Indragiri Hulu Prov. Riau dengan total peserta sebanyak 60 (enam puluh) orang masyarakat dusun yang tergabung dalam kelompok Jelemu Bengayauan dan Tualang Sejahtera. Narasumber utama adalah tenaga ahli yang tergabung dalam Perkumpulan Gita Buana Propinsi Jambi, Heri Kuswanto. Sedangkan narasumber pendukung meliputi Pejabat struktural Balai TNBT (KSBTU dan Kepala SPTN Wilayah II Belilas) yang menyampaikan tentang Profil TNBT dan Program Kemitraan Zona Tradisional TNBT, Penyuluh Kehutanan TNBT menyampaikan tentang Role Model Pengelolaan Zona Tradisional TNBT, pihak Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (Bapemas Pemdes) Kab. Indragiri Hulu menyampaikan Program Pemberdayaan Masyarakat. Acara dibuka secara resmi oleh Camat Batang Gansal dan dihadiri oleh Sekretaris Camat Batang Gansal, Kepala Balai TNBT, Ka. SPTN II Belilas, Perangkat desa terkait, tetua adat dan Nara Sumber. Pada minggu sebelumnya, narasumber utama telah diundang untuk penyampaian materi budidaya jernang dan kelukup dengan sasaran kelompok desa binaan TNBT.Oleh karena panitia dan peserta merasa puas dengan materi dan metode penyampaiannya maka narasumber Heri Kuswanto diundang kembali untuk mengisi materi terkait hal yang sama dengan sasaran masyarakat suku tradisional Talang Mamak. Masyarakat peserta pelatihan keseluruhan adalah masyarakat dusun yang notabene buta huruf. Mayoritas masyarakat dusun cenderung pemalu dan kurang aktif dibandingkan masyarakat dusun yang tinggal di pusat desa. Hal ini kemungkinan disebabkan kegiatan pemberdayaan masyarakat selama ini dipusatkan di pusat desa yang berada di luar kawasan TNBT. Akses yang cukup jauh menjadi salah satu faktor penyebab kegiatan pemberdayaan lebih terpusat di pusat desa. Narasumber dan moderator harus pandai dalam mendorong peserta untuk aktif bertanya dan terkadang harus selalu mengulang penyampaian materi. Pada hari pertama pelatihan, peserta cenderung diam dan pasif, hal ini dimungkinkan karena mereka masih beradaptasi dengan suasana pelatihan. Peserta yang cukup aktif bertanya dan berkomentar, biasanya mereka adalah para perangkat dusun/desa yaitu ketua RT, kepala dusun, ketua RW. Pada hari kedua dan ketiga, suasana pelatihan mulai terasa hidup, dimana diskusi sudah cukup terbangun. Materi teknik budidaya rotan jernang meliputi tahapan pengenalan, analisis usaha, pembibitan, penanaman, perawatan, pemanenan, pengolahan hasil dan pemasaran. Praktek kegiatan meliputi cara pembibitan dengan biji menggunakan cairan atonik untuk merendam biji sebelum disemai, hanya saja biji yang dibawa sudah mulai busuk. Permasalahan yang dialami oleh kebanyakan peserta dalam budidaya jernang dan rotan antara lain cara membedakan antara jernang jantan dengan betina, cara pembibitan dengan biji yang memakan waktu dormansi yg cukup lama yaitu 2 bulan dan tanaman lama tak berbuah meski sudah puluhan tahun dan rendahnya tingkat hidup pembibitan dengan anakan alami. Pasca kegiatan pelatihan ini, diharapkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tradisional TNBT meningkat dalam hal budidaya jernang dan kelukup. Petugas pendamping akan mendampingi secara intensif agar program kemitraan zona tradisional ini dapat mencapai tujuan akhir. Sumber : Balai TN Bukit Tiga Puluh

Menampilkan 9.489–9.504 dari 11.140 publikasi