Selasa, 2 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Partisipasi TN Wakatobi pada Pameran Wakatobi Wonderful Festival dan Expo (Wave)

Wangi-wangi, 13 Nopember 2017 adalah hari ke-3 TN Wakatobi ikut serta pada pameran Wakatobi Wave, Wakatobi masuk pada Kalender event pariwisata Nasional 2017 (Wakatobi Wonderful Festival dan Expo (Wave). sejumlah event yang akan ditampilkan, yakni Karnaval Budaya, Tari Kolosal, Expo produk ekonomi kreatif, pagelaran budaya, pameran foto, Simposium Internasional Pembangunan Maritim, Bussines Gathering, Fun Dive, lomba panjat pinang di atas laut. Kegiatan ini dilakukan untuk menyampaikan segala potensi yang dimiliki Wakatobi kepada publik sehingga akan diketahui secara umum oleh masyarakat baik lokal maupun diluar daerah sehingga Wakatobi dapat menjadi salah satu daya tarik karena segala potensi yang dimilikinya. Pameran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menyampaikan ide atau gagasan atau hasil karya dan potensi kawasan kepada publik melalui media karya seninya. Melalui kegiatan ini diharapkan terjadi komunikasi antara penyelenggara pameran dengan apresiator hingga dapat diapresiasi oleh masyarakat luas." Manfaat Penyelanggaraan Pemeran sebagai media untuk berkomunikasi, pengembangan potensi, dan apresiasi. Mengembangkan kepekaan terhadap alam sekitar sehingga lebih ramah dalam pengelolaan sumberdaya alam yang ada. Kegiatan pameran diawali dengan parade budaya dari empat pulau se Kabupaten Wakatobi dengan tema Membina Spirit Budaya Maritim, Memantapkan Posisi Destinasi Pariwisata, menampilkan tarian-tarian khas daerah dan produk-produk masyarakat lokal termasuk produk yang dihasilkan dari kelompok masyarakat binaan TN Wakatobi berupa souvenir, olahan produk ikan seperti abon ikan, dan lain-lain. Sumber: Balai TN Wakatobi
Baca Berita

Seminar Kehutanan Dan Pertemuan Mitra Siemenpuu

Pekanbaru, 8 November 2017, Jikalahari dengan didukung oleh Siemenpuu Foundation menaja Seminar Kehutanan mengusung tema “ Peluang dan Strategi Perbaikan Pengelolaan Hutan di Indonesia” serangkaian dengan Pertemuan Mitra-Mitra Siemenpuu Indonesia. Seminar ini dilaksanakan untuk menggali berbagai peluang yang dibuka oleh Pemerintah Indonesia untuk memperbaiki pengelolaan hutan dan lahan yang di era sebelumnya identik dengan berbagai persoalan seperti: konflik sosial, kebakaran dan asap, sistem monokultur yang dikelola oleh bisnis kehutanan skala besar, dan kerusakan gambut. Seminar ini dihadiri oleh 75 peserta berasal dari berbagai perwakilan Instansi Pemerintah, Tokoh Masyarakat, LSM, Mahasiswa, Media, juga mitra-mitra Siemenpuu di Indonesia (13 lembaga). Bertindak sebagai narasumber dalam Seminar adalah: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Deputi Pencegahan yang dalam hal ini diwakili oleh Ibu Niken, berbagi cerita tentang bagaimana pengelolaan Sumberdaya Alam dan Kehutanan rentan untuk terjadi korupsi yang pintu masuknya salah satunya dalam proses perencanaan dan perizinan sektor kehutanan. Dan korupsi kehutanan juga ditemui dalam hal PNBP. Kontradiksi yang terjadi adalah produksi sektor kehutanan dan sawit meningkat namun dari penerimaan pajak cenderung stagnan dan bahkan menunjukkan trend penurunan. Narasumber kedua yaitu Ka BBKSDA yang mewakili Kepala Operasional Tim Revitalisasi Ekosistem Tesso Nilo (RETN) Dr. Mahfuz, MP, dalam kesempatan ini juga membagikan pengalaman dalam program memulihkan dan melindungi kawasan hutan, studi kasus Ekosistem Tesso Nilo di kabupaten Siak dan Pelalawan. RETN merupakan pembelajaran dalam pengelolaan kawasan hutan saat yang kawasan hutannya dipenuhi oleh aktivitas perluasan kebun sawit baik di dalam Taman Nasional dan di kawasan 2 eks HPH. Dalam pelaksanaannya, beberapa pengusulan Perhutanan Sosial telah ditargetkan dan difasilitasi, dan penegakan hukum juga dilakukan, dan kegiatan penanaman untuk mendukung rehabilitasi kawasan, dan penyediaan ekonomi alternatif untuk sumber ekonomi masyarakat. Namun, kegiatan pemulihan dan perlindungan kawasan di Ekosistem Tesso Nilo masih dihadapkan pada kepentingan ekonomi berbagai pihak yang menjadi tantangan pencapaian tujuan awal. Selain menghadirkan perspektif potensi korupsi, dan pengalaman dalam melindungi dan memulihkan kawasan hutan, perwakilan masyarakat juga dihadirkan dalam seminar ini yang menceritakan bagaimana masyarakat di desa dan kampung juga berjuang dan berupaya mengelola hutan untuk kepentingan masyarakat. Bapak Suwito, dan Bpak Abdullan dari desa Rawa Mekar Jaya, kabupaten Siak telah berhasil mengusulkan Perhutanan Sosial dalam skema Hutan Desa, yang usulannya sudah diverifikasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bulan Agustus lalu. Masyarakat di desa sangat berharap Hutan Desa ini dapat dimanfaatkan selain untuk melindungi hutan, juga sebagai sumber ekonomi alternative masyarakat melalui kegiatan pengembangan ekowisata Mangrove. Dalam sesi diskusi tanya jawab beberapa peserta Seminar menyampaikan apresiasi terhadap gerakan penyelematan hutan karena ancaman kepunahan hutan dan ekosistem di dalamnya sangat tinggi. Selain itu isu yang mengemuka adalah perlunya mengembangkan skema dan pembiayaan untuk ekowisata demi mendukung penyelamatan dan pelestarian hutan. Sumber: BBKSDA Riau
Baca Berita

Festival Way Kambas 2017 dibuka Gubernur Lampung

Labuhan Ratu (11/11/17), Bertempat di lapangan Pusat Latihan Gajah TN Way Kambas, Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo, didampingi oleh Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim, dan Bapak Muhaimin Iskandar, secara resmi membuka Festival Way Kambas 2017, dengan pemukulan gong, pada hari Sabtu 11 Nopember 2017, jam 15.30 WIB. Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo dan rombongan saat menuju lokasi menunggangi gajah jinak dan kereta gajah PLG TNWK dalam acara parade pawai budaya 24 kecamatan di Lampung Timur. Kehadiran Gubernur Ridho ini, disambut ribuan masyarakat pengunjung PLG TN Way Kambas. Festival Way Kambas, merupakan kegiatan promosi pariwisata sekaligus kampanye pelestarian satwa endemik Sumatra yang terancam punah seperti gajah sumatera, harimau sumatera, badak sumatera, beruang madu, dan tapir. Ini salah satu ikon pariwisata Lampung yang harus dijaga, dilestarikan, dan dijadikan kebanggaan bersama. Dalam mempromosikan pariwisata berbasis alam, menjaga kelestarian alam merupakan hal penting. Saya ingin kita bersama memahami batasan alam dalam mendukung pariwisata alam guna menghindari potensi kerusakan alam. Untuk itu, Pemprov Lampung bekerjasama dengan perguruan tinggi dan pihak terkait membuat dan menentukan batas tersebut,” kata M. Ridho Ficardo saat konferensi pers, usal membuka Festival Way Kambas. “Kita memiliki Lampung Krakatau Festival, namun kegiatan tersebut harus didukung kegiatan lain, yakni Festival Way Kambas. Kedua potensi dikembangkan dan menjadi festival unggulan nasional Lampung,” tambah Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo. “Kegiatan ini bukan hanya mendongkrak kreatifitas, komitmen dan dedikasi, tetapi perekonomian. Saya yakin Taman Nasional Way Kambas menjadi kunjungan yang luar biasa bagi Indonesia,” kata Muhaimin Iskandar. Menurut Bupati Lampung Timur, Chusnunia Chalim, Festival Way Kambas telah berlangsung selama 17 kali, ada 22 agenda di festival tahun ini selain festival budaya, juga ada Jejak Petualang, Agro Expo, Forest Photography, Fun Bike, Lari 10 K, dan Fashion Show. Festival Way Kambas 2016 merupakan yang paling ramai, dan Insya Allah tahun ini menjadi festival yang lebih ramai lagi,” ujar Nunik panggilan akrab Ibu Bupati Lampung Timur ini. “Kalau Ibu Bupati dan Bapak Gubernur sudah membicarakan Taman Nasional Way Kambas, itu berarti pengelolaannya sudah berhasil. Dengan kerjasama dan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lampung Timur serta Pemerintah Propinsi Lampung, alhamdulillah peningkatan pengunjung dan PNBP sangat signifikan yaitu mencapai 300 % pada tahun 2017 ini,” demikian penjelasan Kepala Balai TN Way Kambas Bapak Subakir, SH. MH. pada konferensi pers. Sumber : BTN Way Kambas/ Hartato
Baca Berita

Bayi Naga Asli Indonesia disita di Bandara Internasional Supadio Pontianak

Pontianak – 13 November 2017, Reptil kecil sepanjang ± 15 cm ini berwarna hitam kecoklatan, berduri di sekujur tubuhnya hingga keekor, memiliki ekor kaku dan meruncing. Terlihat noktah merah di sekeliling mata reptil ini. Juga terlihat semacam surai berduri di lehernya. Sekilas, satwa ini mirip buaya atau bayi naga dalam dongeng. Bagi masyarakat awam pastilah terkejut dengan perawakan menyeramkan satwa satu ini. Selidik kemudian terkuaklah bahwa reptil tersebut bernama "kadal duri mata merah atau kadal buaya". Reptil asal papua ini biasa menjadi komoditi satwa peliharaan para pecinta reptil. Balai KSDA Kalimantan Barat bekerjasama dengan PT Angkasa Pura II Bandara Supadio pada 10 November 2017 ini berhasil menggagalkan usaha penyelundupan reptil ini. Modusnya yaitu menggunakan jasa pengiriman dari Pontianak menuju Jakarta dengan mengakuinya sebagai paket makanan ringan. Reptil tersebut kemudian diamankan dan di sita oleh BKSDA Kalbar. Kita hendaklah bijak dalam menyayangi satwa, karena bukan tidak mungkin akan menjadi boomerang bagi diri kita atau mungkin malah menyakiti satwa kesayangan kita. Sumber: BKSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Cinta Konservasi, Begini Seharusnya Kegiatan “Kid’s Jaman Now”

Sofifi, 13 November 2017. Masih ingat dengan berita Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) minggu lalu? Kemarin (11/11) “Kid’s Jaman Now”, siswa SMK Kehutanan Manokwari yang magang di TNAL telah mengembalikan kembali burung Mandar Gendang ke habitatnya. Setelah dipastikan oleh Ibu Lilis, Dokter Hewan di TNAL, bahwa burung tersebut sudah siap dilepaskan, maka hari itu juga burung yang memiliki nama latin Habroptila wallacii dilepasliarkan. Lokasi yang dipilih adalah kawasan Resort Tayawi, meskipun awalnya ditemukan dipinggir kawasan TNAL. Hal ini dilakukan agar burung tersebut lebih aman dari jerat yang dipasang masyarakat. Kepala Resort Tayawi juga menunjukkan lokasi yang sesuai dengan habitat burung langka tersebut, yaitu di pinggir sungai kecil. “Da..daaa….cepet sembuh ya buruuuung…”, salam perpisahan dari beberapa siswa magang yang melepaskan Mandar Gendang. Oleh: Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Aksi Sadar Lingkungan Saka Wanabakti Laiwangi Wanggameti Taman Nasional Matalawa

Waingapu, 13 November 2017. Hujan gerimis tidak menyurutkan sahabat kami yang tergabung dalam Pramuka Saka Wanabakti Laiwangi Wanggameti Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) dalam mengikuti peringatan hari Pahlawan yang ke-72. Bersama dengan para penggiat lingkungan hidup di Kabupaten Sumba Timur, Anggota Saka Wanabakti Laiwangi Wanggameti melaksanakan aksi sosial yang dipusatkan di Lapangan Pahlawan – Kodim 1601 Sumba Timur. Adapun bentuk kegiatan yang dilaksanakan berupa aksi bersih lingkungan, sebagai bentuk kampanye sadar lingkungan. Kegiatan ini bukan kali pertama dilaksanakan oleh Pramuka Saka Wanabakti Laiwangi Wanggameti Binaan TN Matalawa, agenda kampanye sadar lingkungan merupakan program kerja rutin Dewan Saka Wanabakti Laiwangi Wanggameti yang hampir dilaksanakan disetiap tahunnya. Aksi sadar lingkungan ini dilaksanakan pada tanggal 11 November 2016, dan diikuti 27 Anggota Pramuka Saka Wanabakti, yang terdiri atas Pamong Saka, Dewan Saka dan Anggota Saka Wanabakti Laiwangi Wanggameti. Kegiatan ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan bagi anggota saka wanabakti Laiwangi Wanggameti, dan secara luas mengajak masyarakat untuk lebih mencintai lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Dan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut bertepatan dengan peringatan hari pahlawan yang ke-72, dengan semangat nilai perjuangan para pahlawan, diharapkan generasi muda saat ini khususnya pramuka saka wanabakti mampu mengambil peran dalam upaya pembangunan dan pengelolaan dibidang lingkungan hidup dan kehutanan. Lebih jauh kegiatan dimaksud merupakan pengamalan Dasa Dharma pramuka yang kedua yakni Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia, Hal ini seperti yang disampaikan oleh Kakak Pamong Saka Wanabakti Laiwangi Wanggameti (Kakak Komang Sunia AJ., A.Md) disela-sela kegiatan aksi sadar lingkungan tersebut. Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Berdialog Dengan Masyarakat Desa Untuk Penyelamatan Rafflesia Arnoldii

Bengkulu, 11 November 2017. Berselang sehari setelah Kabupaten Kaur menyatakan komitmen penyelamatan habitat flora Rafflesia bengkuluensis, kelompok masyarakat dan pemuda Kecamatan Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah juga melakukan aksi penyelamatan Rafflesia yang menjadi ikon/maskot Provinsi Bengkulu. Kegiatan penyelamatan dilakukan dengan melakukan “Dialog Pelestarian Habitat Bunga Rafflesia Bersama Masyarakat di Kawasan Habitat Rafflesia Taba Penanjung Kab. Bengkulu Tengah”. Diskusi in penting guna meningkatkan kesepahaman para pihak terutama kelompok-kelompok pecinta dan pelestari bunga Rafflesia di Kec. Taba Penanjung, Bengkulu Tengah. Dialog ini bertempat di Kantor Desa Taba Teret Kec. Taba Penanjung Kab. Bengkulu Tengah, yang dihadiri oleh Kepala BKSDA Bengkulu Ir. Abu Bakar, Pelaksana Tugas Kepala KPHL Bukit Daun, Kabid. Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kab. Bengkulu Tengah. Selai itu hadir juga perwakilan Kelompok Pecinta Puspa Langka (KPPL) Bengkulu dan beberapa kelompok masyarakat pelestari Rafflesia di kawasan KPHL Bukit Daun. Habitat Rafflesia yang menjadi obyek dialog ini adalah KPHL Bukit Daun dengan luas 96.125 Ha, CA Taba Penanjung I dan II seluas 3,7 Ha. Jenis Rafflesia yang tumbuh di habitat ini adalah jenis Rafflesia arnoldii yang merupakan jenis dengan ukuran terbesar dari semua genus Rafflesia. Hasil dari dialog ini disepakati komitmen bersama untuk menyatukan kelompok-kelompok pecinta dan pelestari bunga Rafflesia di Kec. Taba Penanjung, Bengkulu Tengah, dalam satu forum pengelolaan yang dilengkapi dengan perangkat peraturan yang disepakati Bersama. Peraturan yang akan dibuat harus dapat mengakomodasi hak dan kewajiban seluruh anggota forum. Harapannya, dengan terbentuknya forum para pencinta bunga langka, kegiatan kelompok-kelompok ini akan lebih terkoordinasikan dengan baik dan lebih efektif dalam mendukung pelestarian bunga Padma. Sumber : Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

BKSDA Sulawesi Tengah Ikut Festival Danau Poso

Poso, 8 November 2017. Festival Danau Poso atau Festival Danau Tektonik Poso, sering disingkat menjadi FDP, merupakan acara festival pariwisata tahunan yang diadakan di kota Tentena ibukota Kecamatan Pamona Puselemba, kota di pinggiran Danau Poso. FDP dimulai pada tahun 1997 oleh Kab. Poso dengan tujuan memperkenalkan budaya, adat istiadat daerah lokal serta ajang promosi wisata dan perdamaian. Dengan acara ini diharapkan Kab. Poso siap melayani pengunjung yang ingin berinvestasi dan berwisata di kota Poso. Pada saat ini penyelenggaraan FDP sudah menjadi agenda tahunan pemerintah daerah Kabupaten Poso. Pada tahun ini FDP diselenggarakan pada Tanggal 5 s.d 7 November 2017 yang dirangkaikan dengan penyelenggaraan Tour De Central Celebes (TDCC), pada kesempatan tersebut Balai KSDA Sulawesi Tengah ikut serta memeriahkan FDP dengan menggelar stan pameran yang bertujuan memberikan informasi tentang pentingnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, pada stan pameran memperlihatkan satwa endemik sulawesi seperti Maleo (Macrocephalon maleo), Kura-kura darat (Leucocephalon yuwonoi), Baning Sulawesi (Indotestudo forstenii) dan kukus (Aulirops ursinus), kemudian kami juga memberikan bibit tanaman nantu, palapi dan eboni kepada para pengunjung. Selain itu produk gula aren yang merupakan hasil kelompok desa binaan BKSDA Sulawesi Tengah di Daerah Penyanggah di sekitar kawasan TWA Bancea dan CA Pamona yaitu Desa Bancea dan Desa Owini juga ikut ditampilkan dalam pameran FDP sekaligus sebagai ajang promosi. Danau poso yang terletak berbatasan dengan kawasan TWA Bancea dan CA Pamona merupakan hulu bagi beberapa sungai yang bermuara di danau poso diantaranya sungai watumarato, sungai panjo, sungai meko, sungai owini, sungai limbaata, sungai empaka, sungai mayato dan sungai kodina. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Balai TN Bukit Duabelas Ajar Siswa Pecinta Alam Materi Dasar Pecinta Alam

Sarolangun, 12 November 2017. Berlokasi di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas Desa Bukit Suban Resort Air Hitam I SPTN wilayah II, Balai Taman Nasional Bukit Duabelas mengadakan pelatihan bagi Kelompok Pecinta Alam (KPA) Peta Alam dan Siswa/i Pecinta Alam (SISPALA) Sultan Thaha SMAN-9 Sarolangun. Pelatihan yang disenggarakan sejak 8 s/d 12 November 2017 dan pada puncak memasuki kawasan selama dua (2) hari semalam dari tanggal 11 s/d 12 November 2017. Selama pelatihan para peserta berkenalan langsung dengan kawasan dan potensinya serta diberikan materi dasar bagi seorang pecinta alam, diantaranya: survival, navigasi darat dan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Petihan bagi Kelompok Pecinta Alam (KPA) & SISPALA merupakan bagian dari kegiatan kader konservasi, yaitu suatu kegiatan dengan tujuan menanamkan kesadaran konservasi sejak dini. Dengan harapan dari generasi muda ini akan tumbuh sebuah masyarakat yang concern terhadap lingkungan dan menjadi kader bagi proses pengelolaan dan penyelamatan hutan. Para Kelompok Pecinta Alam (KPA) dan Siswa/i Pecinta Alam (SISPALA) pada umumnya adalah generasi muda sebagai sumberdaya manusia yang potensial, perlu mendapat perhatian dan bimbingan sehingga dapat meningkatkan, mengembangkan dirinya untuk dapat berperan dalam program pembangunan nasional khususnya dalam program pelestarian sumberdaya alam hayati dan lingkungannya. Balai Taman Nasional Bukit Duabelas sebagai pengelola kawasan dalam hal ini mengakomodir KPA Peta Alam dan SISPALA Sultan Thaha SMAN-9 Sarolangun yang berlokasi di sekitar kawasan. Semoga kegiatan pelatihan ini bermanfaat bagi generasi muda, bagi lingkungan terkhusus Taman Nasional Bukit Duabelas. Salam Rimba!!! Sumber : Ganda Josua Samosir, S.Hut - Penyuluh Kehutanan Pertama Balai Taman Nasional Bukit Duabelas
Baca Berita

Pengelolaan Mangrove TN Rawa Aopa Watumohai Berbasis Masyarakat

Konawe Selatan, 8 November 2017. Balai TN Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) lakukan kegiatan membangun kemitraan di Kampung Muara Mangrove Lanowulu yang masuk dalam zona tradisional mangrove TNRAW pada tanggal 8 November 2017. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut kegiatan sebelumnya yaitu lokakarya membangun kesepahaman dalam rangka pemanfaatan secara tradisional SDA mangrove, yang dihadiri selain dari Balai TNRAW dan masyarakat nelayan Muara Lanowulu dan Muara Labasi yang tergabung dalam Lembaga Komunitas Mangrove (LKM) Kabupaten Konawe Selatan, juga dihadiri oleh Kepala Desa Akuni, Camat Tinanggea, Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Konawe Selatan. Rangkaian kegiatan diantaranya Penandatanganan MoU/ Nota Kesepahaman antara Balai TNRAW yang diwakili oleh Ali Bahri, S.Sos, M.Si selaku Kepala Balai TNRAW dan Lembaga Komunitas Mangrove yang diwakili oleh Abdul Muis Mus selaku Ketua LKM Konawe Selatan. Tujuan MoU ini yaitu mengadakan kerjasama dalam rangka pemanfaatan secara lestari melalui kegiatan pengambilan SDA perairan, pengembangbiakan, perbanyakan, pembesaran oleh masyarakat setempat di zona tradisional mangrove blok hutan lanowulu dan labasi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu kegiatan peningkatan kapasitas kelompok masyarakat bidang KSDAE, Balai TNRAW melalui Kepala Balai dan Penyuluh Kehutanan menyampaikan materi terkait dengan Pengelolaan Kawasan Konservasi TNRAW khususnya di zona tradisional dan Pemberdayaan masyarakat melalui kemitraan konservasi dengan pemberian akses dalam pemanfaatan sumberdaya perairan terbatas secara tradisional. Dalam hal peningkatan kapasitas bidang usaha ekonomi produktif, melalui narasumber dari Dinas Perikanan dan Kelautan, nelayan muara yang tergabung dalam LKM diberikan pengetahuan dan kebijakan terbaru dari pemerintah terkait dengan perikanan dan kelautan seperti halnya alat tangkap yang dilarang pemerintah dan asuransi bagi nelayan. Selain itu untuk melestarikan kearifan lokal masyarakat tradisional yang tergabung dalam LKM diberikan pengetahuan dan pelatihan singkat dalam pembuatan alat tangkap berupa “Togo”. Sumber : Balai TN Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Pemberdayaan Masyarakat Desa Konservasi Melalui Pemberian Bantuan Modal Usaha Di TN Wakatobi

Wakatobi, 12 November 2017. Dilaksanakan penyerahan bantuan modal usaha kepada 4 kelompok masyarakat desa binaan Taman Nasional Wakatobi yaitu pada Desa Darawa dan Desa Sombano pada tanggal 12 November 2017. Sebelumnya kelompok masyarakat mengajukan proposal dan menyampaikan kegiatan yang hendak dilakukan berkaitan dengan penambahan modal usaha, kegiatan yang dilakukan dapat memberikan hasil yang bermanfaat sehingga bisa berkembang, meningkatkan perekonomian masyarakat, dan tidak ketergantungan lagi dengan eksploitasi sumberdaya alam yang ada dan terbatas itu, sehingga mampu mencari mata pencaharian alternative lainnya, masyarakat harus mampu mengelola dan mengembangkan sumberdaya alam yang ada sehingga dapat memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan masyarakat namun tetap lestari. Tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan masyarakat ini yaitu untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan, memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya atau kemampuan yang dimiliki. Sumber : Balai TN Wakatobi
Baca Berita

Komitmen Penyelamatan Flora Endemik Bengkulu Rafflesia Bengkuluensis

Bengkulu, 10 November 2017. Bertepatan dengan momentum Hari Pahlawan Nasional, 10 November 2017 lalu, tim gabungan dari Pemda Kabupaten Kaur (Provinsi Bengkulu), Balai KSDA Bengkulu dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Raflesia Kaur melakukan aksi turun lapang meninjau habitat Rafflesia bengkuluensis. Rafflesia bengkuluensis merupakan jenis endemik Bengkulu. Tim gabungan merespon laporan masyarakat terkait terancamnya habitat bunga endemik Bengkulu ini karena alih fungsi lahan. Pemkab Kabupaten Kaur dipimpin langsung oleh Bupati Kaur. BKSDA Bengkulu diwakili langsung oleh Kepala Balai, Ir. Abu Bakar. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, semua jenis dari genus Rafflesia termasuk dalam jenis tumbuhan yang dilindungi. Di Provinsi Bengkulu, teridentifikasi 4 jenis Rafllesia yaitu Rafflesia arnoldii, Rafflesia gadutensis, Rafflesia bengkuluensis dan Rafflesia hasselti. Dari keempat jenis tersebut, Rafflesia bengkuluensis merupakan jenis endemik/asli Bengkulu, namun habitatnya berada di lahan milik warga pada wilayah administratif Desa Manau Sembilan II Kecamatan Padang Guci Hulu Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu. Saat ini habitat Rafflesia bengkuluensis dalam kondisi terancam karena lahan/tempat tumbuhnya akan dijadikan kebun oleh pemiliknya. Tepat di lokasi tersebut, terdapat beberapa knop dari Rafflesia bengkuluensis yang tidak lama lagi akan mekar. Bupati Kaur berkomitmen untuk segera melakukan upaya penyelamatan dan pelestarian flora langka endemik Bengkulu yang juga merupakan ikon/maskot dari Provinsi Bengkulu. Namun demikian, Bupati Kaur mengharapkan dukungan Balai KSDA Bengkulu untuk berperan aktif dalam upaya konservasi bunga yang juga menjadi ikon Provinsi Bengkulu. Balai KSDA telah melakukan komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Bengkulu untuk menggali opsi-opsi langkah penyelamatan habitat bunga tersebut yang tesebar di luar kawasan konservasi. Sumber : Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Penanaman Jalur Batas Kawasan Taman Nasional Matalawa Bersama Dengan Masyarakat Sekitar Kawasan

Waingapu, 11 November 2017. Pulau Sumba telah memasuki musim tanamnya, Pulau dibagian selatan Indonesia ini memiliki musim basah (Hujan) yang lebih sedikit dibandingkan musim kering (Kemarau). Hujan mulai membasahi Tanah Marapu pada periode waktu November hingga Februari disetiap tahunnya, namun hal ini kian sulit untuk diprediksi mengingat perubahan iklim yang terjadi saat ini. Pada tahun 2017 ini, sejak akhir bulan Oktober intensitas hujan di Pulau Sumba sudah cukup tinggi, hal ini memberi isyarat bagi para petani Sumba untuk memulai bercocok tanam. Kondisi ini pun direspon oleh pihak pengelola kawasan Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) untuk melaksanakan kegiatan penanaman. Pada tahun 2017, TN Matalawa telah menganggarkan kegiatan penanaman batas kawasan bersama dengan masyarakat disekitar kawasan hutan. Kegiatan penanaman ini difokuskan disepanjang batas terluar kawasan TN Matalawa dengan tanaman yang ditanam adalah Pinang (Areca catechu) dan Halai (Alstonia sp.). selain berfungsi mengukuhkan aspek legalitas batas kawasan TN Matalawa kepada masyarakat, hal ini juga bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar kawasan melalui penanaman tanaman Multi Purpose Tree Species (MPTS) yang dapat dimanfaatkan hasil buahnya. Kegiatan penanaman batas kawasan hutan TN Matalawa dilaksanakan di 2 (dua) Seksi Wilayah, yaitu SPTN Wilayah I Waibakul dan SPTN Wilayah II Lewa. Pelaksanaan penanaman jalur batas di SPTN wilayah I Waibakul dikoordinir langsung oleh Kepala SPTN I Waibakul (Abdul Basit N, S.Hut.,M.Sc) bersama dengan kepala Resort Waimanu. Kegiatan ini dilaksanakan disepanjang batas kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan Desa Beradolu Kecamatan Loli Kab. Sumba Barat, adapun batas kawasan hutan yang ditanami sepanjang 2 Kilometer (Km). Jumlah tanaman Pinang dan Halai yang ditanam berjumlah 3.000 Anakan, dan turut hadir dalam kegiatan penanaman tersebut Kepala Balai TN Matalawa dan petani penggarap yang lahan/kebun berbatasan langsung dengan batas kawasan hutan. Sedangkan kegiatan penanaman batas kawasan hutan di SPTN Wilayah II Lewa dilaksanakan di Desa Mbilur Pangadu Kec. Umbu Ratu Nggay Kab. Sumba Tengah. Dalam pelaksanaannya kegiatan penanaman ini dikoordinir Kepala SPTN II Lewa (Judy Aries Mulik, STP.) bersama dengan Kepala Resort Praimahala dan Resort Bidipraing. Hadir pada kegiatan penanaman tersebut Kepala Balai TN Matalawa, Kepala Kepolisian Sektor Umbu Ratu Nggay dan Unsur Pemerintah Desa Mbilur Pangadu, adapun jenis tanaman yang ditanam adalah jenis Pinang sebanyak 5.000 Anakan. Disela-sela kegiatan penanaman batas kawasan hutan, Kepala Balai TN Matalawa (Maman Surahman, S.Hut.,M.Si) menjelaskan bahwa kegiatan penanaman batas kawasan hutan ini merupakan bentuk pengakuan masyarakat atas batas kawasan TN Matalawa yang legal/sah sesuai dengan keputusan yang telah ditetapkan. Serta pemilihan jenis tanaman berupa jenis MPTS (Pinang) hal ini bertujuan agar hasil buah tanaman tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, baik untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk meningkatkan pendapatan rumah tangganya. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

23 Rancangan Blok KK BBKSDA Jawa Barat Telah Sukses Dinilai

Bogor, 11 November 2017. Mengingat pentingnya penataan kawasan konservasi sebagai dasar perencanaan pengelolaan dan pengembangan kawasan konservasi serta dalam rangka pengelolaan kawasan koservasi yang efektif dan efisien, Balai Besar KSDA Jawa Barat pada tahun 2017 melaksanakan kegiatan penyusunan penataan blok pengelolaan Kawasan konservasi sebanyak 23 Kawasan Konservasi. Adapun 23 kawasan konservasi tersebut yang disusun dokumen bloknya berasal dari 3 bidang wilayah pengelolaan BBKSDA Jawa Barat yaitu : Bidang KSDA Wilayah BBKSDA I ( CA Gunung Simpang, CA Bojong Larang Jayanti, CA Dungus Iwul, TWA Gunung Pancar, CA Rawa Danau ) ; Bidang KSDA Wilayah BBKSDA II Soreang ( CA Gunung Burangrang,CA Gunung Tangkuban Parahu, TWA Gunung Tangkuban Parahu, CA Junghun, CA Gunung Tilu, CA Patengan, TWA Cimanggu, CA Cigenteng Cipanji, TB Masigit Kareumbi TWA Tampomas); Bidang KSDA Wilayah BBKSDA III ( TWA Gunung Guntur, CA Kawah Kamojang, CA Gunung Papandayan, CA dan CAL Leweung Sancang, SML Sindangkerta) Selanjutnya rancangan 23 blok kawasan konservasi yang telah disusun dilakukan pembahasan dan pencermatan dalam rangka penilaian. Bertempat di Hotel Padjadjaran Suites Resort dan Convention Hotel, Bogor, selama dua hari ( 9 s.d 10 November 2017), 23 (Dua Puluh Tiga ) Dokumen Blok Kawasan Konservasi lingkup wilayah BBKSDA Jawa Barat tersebut telah di lakukan pembahasan dan pencermatan oleh Tim Pokja Penilaian Rancangan Zona dan Blok Pengelolaan KSA KPA Tahun 2017 dan wakil dari eselon II terkait seperti Setditjen KSDAE, Direktorat Kawasan Konservasi, Direktorat Konservasi Keanekaragam Hayati, Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Hutan, Direktorat Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan dan Direktorat PIKA. Kegiatan Pembahasan blok kawasan ini di pimpin oleh Kepala Sub Direktorat Penataan Kawasan Konservasi. Hadir dalam pembahasan ini Kepala Bidang Teknis BBKSDA Jawa Barat, Kepala Bidang Wilayah I BBKSDA Jawa Barat, Kepala Bidang Wilayah II BBKSDA Jawa Barat, Kepala Bidang Wilayah III BBKSDA Jawa Barat beserta Tim penyusun Blok, perwakilan dari Eselon II dan Eselon III terkait seperti Direktorat Kawasan Konservasi, Direktorat PJLHK, Direktorat Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan, Sub Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi, Sub Direktorat Pengendalian Kawasan Konservasi, Sub Direktorat Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi, Sub Direktorat Bina Desa Penyangga dan Zona Pemanfaatan Tradisional dan Tim Pokja Penilaian Rancangan Zona dan Blok Pengelolaan KSA KPA Tahun 2017. Kegiatan pembahasan tersebut diawali dengan penyampaian presentasi rancangan 23 blok kawasan tersebut oleh Tim Penyusunan Balai Besar KSDA Jawa Barat yang kemudian dilanjutkan dengan penilaian dan pembahasan. Hasil dari penilaian dan pembahasan 23 dokumen tersebut bahwa secara teknis penataan kawasan konservasi telah dilakukan dengan membagi kawasan ke dalam blok pengelolaan sesuai kriteria yang didasarkan pada hasil inventarisasi potensi kawasan dan kajian/analisis spasial terhadap kondisi potensi dan nilai penting kawasan serta mempertimbangkan prioritas pengelolaan kawasan. Tak kalah pentingnya juga keseluruhan rancangan blok kawasan tersebut telah dilakukan konsultasi publik guna mendapatkan masukan dan tanggapan dari semua pihak terkait. Setelah pembahasan rancangan 23 blok kawasan tersebut maka Tim Penyusunan BBKSDA Jawa Barat segera melakukan perbaikan sesuai dari hasil diskusi dan masukan para peserta rapat. Diharapkan perbaikan dokumen rancangan blok segera di tindak lanjutin dan disampaikaan kembali ke Pusat untuk proses pengesahan oleh Direktur Jenderal KSDAE. Sumber : Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam
Baca Berita

ASN Menanam 25 Batang Pohon

Langkat, 9 November 2017. Sebagai wujud nyata dalam pelestarian alam, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) meluncurkan program “Menanam 25 Pohon per Orang Selama Hidup”. Untuk mendukung program tersebut, Kementerian LHK mewajibkan setiap Unit Pelaksana Teknis (UPT) melakukan kegiatan penanaman pohon yang diberi nama “ Aparatur Sipil Negara (ASN) Menanam 25 Batang Pohon”. Atas dasar itulah, pada Kamis, 9 Nopember 2017, bertempat di Dusun Tegapan, Desa Batu Jonjong, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, seluruh UPT lingkup Kementerian LHK Propinsi Sumatera Utara melaksanakan kegiatan ASN Menanam 25 Batang Pohon. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Ir. Misran, MM., selaku pembina upacara dalam arahannya menyampaikan bahwa tujuan dari kegiatan Menanam 25 Batang Pohon ini, adalah sebagai bentuk tanggung jawab ASN lingkup Kementerian LHK Propinsi Sumatera Utara untuk peduli melestarikan alam sekitar, disamping juga menjadi media penyadaran bagi masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. “Dusun Tegapan Desa Batu Jonjong, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat yang menjadi lokasi penanaman, merupakan desa yang berbatasan langsung dengan kawasan TN. Gunung Leuser. Ada sekitar 8 hektar yang akan ditanami dengan 10.000 batang bibit dari berbagai jenis pohon penghijauan maupun bibit tanaman MPTS,” ujar Misran. Selain penanaman, diserahkan juga bantuan bibit tanaman MPTS kepada masyarakat Dusun Tegapan Desa Batu Jonjong, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, dengan harapan dapat membantu kesejahteraan masyarakat serta menumbuhkan kepeduliannya untuk ikut menjaga kawasan TN. Gunung Leuser. Balai Besar KSDA Sumatera Utara selaku Koordinator Wilayah (Korwil) UPT lingkup Kementerian LHK Propinsi Sumatera Utara, berharap kegiatan ASN Menanam 25 Batang Pohon bukan hanya seremonial semata, tetapi juga untuk meningkatkan kepedulian dan keterlibatan ASN dalam setiap program pemerintah, khususnya program dibidang LHK. ASN harus mampu menjadi inisiator dan pelaksana dalam setiap kegiatan yang ada, sehingga nantinya diharapkan dengan keterlibatan ASN pada setiap program Kementerian LHK, dapat menjadi role model bagi masyarakat agar dapat menjadi lebih aktif terlibat. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

TWA Batu Gamping Dukung Peringatan Hari Bersejarah Kasultanan Yogya

Yogyakarta, 10 November 2017. Peringatan Hari Bersejarah Kasultanan Yogyakarta yang digelar oleh Dinas Kebudayaan DIY berlangsung di Taman Wisata Alam Batu Gamping. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai rangkaian peringatan sejarah Kasultanan Yogyakarta dari saat mesanggrah nya Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I) di Gunung Gamping pada saat membangun Kraton Kasultanan Yogyakarta hingga pemberian gelar Pahlawan Nasional bagi Sultan Hamengku Buwono I pada 10 November 2006. Acara diawali dengan kirab yang diikuti 3 bergada (pasukan) yaitu Bregada Wiromartani dari Gamping Lor, Bregada Wiramanggala dari Mejing Lor serta Bergada Pesanggran. Acara dibuka dengan sajian Tari Nawung Sekar dengan penari yang merupakan masyarakat sekitar kawasan dari Gamping Lor. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Drs Umar Priyono,M.Pd dengan para undangan yang berasal dari instansi terkait, muspika dan masyarakat sekitar kawasan TWA Batu Gamping. Rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung dari pukul 15.00 - 22.00 WIB, dengan menampilkan atraksi pentas berbagai kesenian dari warga sekitar TWA Batu Gamping diantaranya : Jathilan Kuda Pranesa dari Gamping Tengah, Reog dari Gamping Kidul,seni teg-teg kentongan dari Delingsari,tari Sesonderan dan tari sintren dari Guyangan,angguk dan wayang hip-hop. Melalui dukungan terhadap kegiatan ini harapanya kawasan TWA Batu Gamping akan semakin dikenal oleh masyarakat luas. Sehingga dalam pelaksanaan kegiatan Balai KSDA Yogyakarta di kawasan ini akan mendapat respon positif dan dukungan dari berbagai pihak terkait.Dengan demikian upaya untuk mewujudkan TWA Batu Gamping sebagai salah satu destinasi wisata akan semakin terbuka luas. Sumber : Dwi Nuryandani, SP - PEH Balai KSDA Yogyakarta

Menampilkan 9.457–9.472 dari 11.141 publikasi