Selasa, 2 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Konsultasi Publik Penataan Blok Suaka Margasatwa Danau Bian

Merauke, 14 November 2017. Menindaklanjuti tercapainya pengelolaan atau pemanfaatan ruang di dalam kawasan konservasi dan sebagai informasi bagi masyarakat desa/adat dalam pemanfaatan SDA, BBKSDA Papua melaksanakan Konsultasi Publik Penataan Blok SM Danau Bian bertempat di Ball Room Hotel Megaria Merauke pada hari Selasa 14112017. Secara resmi kegiatan dibuka oleh Asisten II Setda An. Bupati Kabupaten Merauke dan dihadiri oleh Direktur PIKA, Kepala OPD terkait yakni Kepala Bappeda, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Dinas Perikanan, Kapolres Merauke, Komandan Kodim, Kepala BBKSDA Papua, Ir. Timbul Batubara.,M.Si, serta Kabid Wilayah I Merauke BBKSDA Papua, Irwan Efendi, S.Pi,M.Sc. Adapun unsur masyarakat yang hadir yakni kepala suku besar, pemilik ulayat, tokoh adat/agama, WWF Indonesia, Universitas Musamus Merauke, pemilik konsesi perkebunan kepala sawit yang berada disekitar kawasan (PT BIA, PT ACP, PT. AJP dan PT Korindo). Suaka Margasatwa Danau Bian yang terletak di Kabupaten Merauke Provinsi Papua ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 119/Kpts-II/1997 tanggal 19 Maret 1990 dengan luas 96.000 hektar. Kemudian pada tahun 2013, status hukum Kawasan SM Danau Bian diperkuat dengan diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.757/Menhut-II/2013 tanggal 31 Oktober 2013 tentang Penetapan Kawasan Penetapan Suaka Margasatwa Danau Bian seluas 110.463,62. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Ir. Timbul Batubara.,M.Si dalam kesempatan tersebut menjelaskan bahwa “Hasil kegiatan ini adalah telah disepakatinya dokumen penataan blok yang membagi ruang pengelolaan SM Danau Bian ke dalam Blok Perlindungan 100.332,64 ha, Blok Pemanfaatan 1.692,62 ha, Blok Khusus 299,72 ha, Blok Rehabilitasi 7.552,71 ha dan Blok Religi 585,95 ha”. Beberapa hasil diskusi seperti saran, masukan dalam kegiatan yang dimuat dalam Berita Acara Hasil Konsultasi publik antara lain adalah dalam penanganan perambahan, Balai Besar KSDA Papua harus segera melakukan kerjasama dengan Masyarakat Adat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Merauke, upaya bersama komponen adat, Balai Besar KSDA Papua, Pemda Kabupaten Merauke, Dunia Usaha dan unsur lainnya untuk menyelesaikan masalah Penangkapan Ikan yang tidak ramah lingkungan, Penebangan liar, pencemaran perairan dan perburuan liar di SM. Danau Bian dan juga melengkapi sarana perlindungan hutan (pos jaga) pada lokasi-lokasi rawan perambahan di sekitar kawasan SM. Danau Bian. Para pihak bersepakat untuk menguatkan kerjasama dan memberikan dukungan dalam mendorong perencanaan partisipatif, pelaksanaan maupun monitoring dan pengawasan pengelolaan kawasan SM. Danau Bian sesuai dengan regulasi dan batas kewenangan masing-masing. Kesepakatan penataan blok ini dituangkan dalam Berita Acara yang ditandatangani oleh perwakilan peserta. Sumber Info : - Ir. Timbul Batubara.,M.Si (Kababes KSDA Papua) Ferdinand S. Manobi (Polhut BBKSDA Papua)
Baca Berita

Sebangau for Community, Berbagi Bersama Masyarakat

Palangka Raya, 15 November 2017. Dermaga Kereng Bangkirai sebagai pintu masuk ke kawasan TN Sebangau kini tengah berkembang menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kota Palangka Raya. Setahun belakangan ini Kereng Bangkirai terus berbenah, masyarakat sebagai pelaku wisata bersemangat menghias rumah-rumah mereka yang tersusun disepanjang tepian Sungai Sebangau dengan cat warna warni hingga terlihat rapi dan mempesona. Masyarakat juga menyediakan berbagai fasilitas penyewaan jasa wisata wahana air serta kuliner. Penyediaan sarana dan prasarana wisata pun terus ditingkatkan oleh Dinas Pariwisata setempat. Bahkan sejak tahun 2017 telah dibentuk kelompok getek wisata yang secara terpadu menyediakan jasa penyewaan kendaraan air sekaligus menjadi guide untuk pariwisata alam ke TN Sebangau. Keinginan masyarakat untuk menjadikan kawasan Sungai Sebangau menjadi objek wisata sejalan dengan program TN Sebangau yang terus mengembangkan ekowisata sebagai salah satu program pemanfaatan kawasan. Untuk itu TN Sebangau pun terus bersinergi dengan staekholders terkait dalam promosi wisata alam, peningkatan sarana prasarana di dalam kawasan serta peningkatan kapasitas melalui berbagai kegiatan. Program “Sebangau for Community” adalah salah satu program yang baru dirintis oleh TN Sebangau. Program yang bertujuan memberikan edukasi khususnya keterampilan Bahasa Inggris bagi pelaku wisata di Kereng Bangkirai dan merupakan tindak lanjut dari arahan Bapak Dirjen KSDAE ketika berkunjung ke TN Sebangau. Melibatkan relawan dari Universitas Palangka Raya serta Dinas Pariwisata Kota Palangka Raya, Balai TN Sebangau memulai kegiatan tersebut pada hari Selasa 14 November 2017 yang berlokasi di Tribun Dermaga Kereng Bangkirai. Diikuti oleh 15 orang yang terdiri dari kelompok masyarakat penyedia jasa wisata dan guide, program dimulai dengan materi dasar pengenalan kosa kata Bahasa Inggris yang umum dan berkaitan dengan kegiatan pemanduan. Masyarakat sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini, pembelajaran yang berlangsung santai ini dilaksanakan tidak kurang dari 2 jam. Dijadwalkan program Sebangau for Community ini akan dilaksanakan rutin setiap minggu di tempat yang sama. Bagi relawan yang ingin ikut berkontribusi menjadi pengajar dapat menjadi volunteer dan menghubungi staf Balai TN Sebangau untuk dapat berbagi ilmu bersama masyarakat. Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal yang baik serta menjadi media penyadartahuan bahwa konservasi tidak hanya untuk hutan yang lestari namun dapat memberi manfaat dan kontribusi untuk masyarakat disekitar kawasan. Sumber : Susan, Yoko, Novi - Balai TN Sebangau
Baca Berita

Balai KSDA Kalbar Bersama BBTN Bentarum Lepasliarkan Orangutan

Kapuas Hulu, 14 November 2017. Balai KSDA Kalimantan Barat (Kalbar) menyerahkan tiga orangutan dari Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (SOC) ke Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTN Bentarum) untuk dilepasliarkan di hutan sungai Rongun di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mendalam. Serah terima satwa orangutan tersebut dilakukan Kepala SKW II Sintang mewakili Kepala Balai KSDA Kalbar, Barata Sibarani, SH kepada Kepala Balai Besar TN Bentarum Ir. Arief Mahmud, M.Si. Secara administratif lokasi pelepasliaran masuk wilayah Desa Datah Diaan, Kecamatan Putussibau Utara. Jarak tempuhnya sekitar 4 jam perjalanan dengan menggunakan longboat dari Putussibau. “Kondisi ketiga orangutan sehat dan sudah siap rilis, sudah bisa dilepasliarkan di alam liar,” kata Barata Sibarani, SH. Ketiga orangutan tersebut sebelumnya telah menjalani perawatan dan rehabilitasi selama beberapa tahun di Yayasan SOC. Oleh karena itu, mereka sudah terlatih untuk bisa hidup kembali di habitat alam. Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan BBTN Bentarum bersama Yayasan SOC, Lokasi pelepasliaran pun dipastikan aman dari ancaman perburuan karena berada dalam kawasan taman nasional. Pelepasliaran satwa tersebut mendapat dukungan penuh dari masyarakat di sekitar kawasan TN Bentarum. Dalam kesempatan lain, Kepala Balai KSDA Kalbar Sadtata Noor Adirahmanta mengatakan bahwa “Pelepasliaran orangutan tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan populasi orangutan yang langka dan terancam punah di alam, sekaligus mendorong implementasi pelaksanaan strategi dan rencana aksi orangutan”. Sinergitas antara Balai KSDA Kalbar, BBTN Bentarum serta Yayasan SOC menjadi upaya nyata dalam konservasi orangutan. Pelepasliaran ketiga orangutan yang baru pertama kali dilakukan di Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, diharapkan dapat terus dilanjutkan dengan pelepasliaran pada kesempatan berikutnya. (YS) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Pratik Lapang Dan Aksi Bersih Mahasiswa Biologi Universitas Tadulako DI TN Lore Lindu

Palu (14/11/2017). Jumlah kunjungan wisata di Telaga Tambing/Kalimpaa dari tahun 2015 sampai 2017 terus meningkat. Tren positif tersebut dimulai dengan dibangunnya beberapa sarana dan prasarana berupa jalan masuk menuju telaga, shelter, toilet, camping ground dan pondok peneliti. Untuk tahun 2017 obyek tersebut telah dilengkapi pula dengan musholla, pusat informasi, dan pos jaga. Namun demikian, dengan terjadinya gempa bumi pada tanggal 29 Mei 2017 yang menenggelamkan jalur wisata di tepi telaga dan merusak beberapa sarpras yang lain telah menyebabkan tren positif tersebut terhenti. Beberapa spot swafoto (selfie) yang cukup viral dikalangan muda-mudi juga telah tiada. Kondisi tersebut tidak serta merta menyebabkan aktivitas kunjungan disana berhenti total. Salah satu bentuk aktivitas lain yang dapat dilakukan di sekitar telaga tersebut adalah kegiatan pendidikan konservasi, seperti yang dilakukan mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Tadulako (Untad). Selama tiga hari pada tanggal 10 s.d 12 November 2017 mereka melaksanakan kegiatan praktek lapangan dan aksi bersih sampah. Menurut Prof. Ramadhanil Pitopang, Wakil Dekan I (Bidang Akademik) Fakultas MIPA Untad, yang dijumpai pada saat asistensi lapangan di Telaga Tambing, kehadiran mahasiswa bidang ilmu biologi, kehutanan, farmasi dan bidang ilmu hayati lainnya di Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) sangat diperlukan karena disitulah letak laboratorium alam dimana beraneka ragam jenis tumbuhan dan satwa dengan mudah untuk dijumpai dan dipelajari. Tidak heran jika kemudian TNLL telah mendapat berbagai pengakuan dunia internasional antara lain sebagai kawasan Cagar Biosfer Lore Lindu melalui program Man and Biosphere UNESCO, Endemic Bird Area oleh Bird Life International, dan Centre of Plant Diversity oleh IUCN. Salah satu spot yang cukup representatif dan mudah di akses di kawasan TNLL adalah Telaga Tambing. Alasan lain yang mendorong penemu salah satu spesies dari genus Nephentes (Nephentes pitopangi) ini untuk mengajak mahasiswa ke TNLL adalah adanya fakta bahwa masih banyak tumbuhan yang belum diketahui jenisnya sehingga telah menarik para pemerhati flora internasional untuk melakukan penelitian di kawasan ini. Beliau berharap agar mahasiswa dan peneliti Indonesia juga tidak ketinggalan untuk melakukan penelitian tersebut. Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Taman Nasional Lore Lindu, Ir. Sudayatna, M.Sc, juga menyampaikan bahwa mengingat potensi yang dimilikinya, Telaga Tambing selain menjadi obyek wisata juga akan dikembangkan sebagai pusat pendidikan konservasi dan lingkungan. Untuk itu beliau berharap kehadiran information center akan menjadi jendela informasi yang dapat memberi stimulus bagi pelajar dan mahasiswa untuk lebih jauh mengenal dan meneliti tentang keanekaragaman hayati yang ada di TNLL. Sumber : Humas Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Selamat Datang Jojo, Juvi dan Cemong

Pelepasliaran Orangutan Di Perhuluan Sub DAS Mendalam, TaNa BenTarum Putusibau 14 November 2017. Hari ini Taman Nasional Betung Kerihun kedatangan tamu istimewa. Jojo, Juvi dan Cemong, itulah ketiga nama Orangutan yang menjadi tamu istimewa. Mereka bertiga nantinya akan dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, lebih tepatnya di Hulu Sub DAS Mendalam. Pelepasliaran Orangutan ini adalah hasil kerjasama antara Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum dengan Yayasan Penyelamatan Orangutan SIntang. Kegiatan pelepasliaran ini sendiri merupakan proses panjang yang diawali dengan tahapan survey pengujian kelayakan calon lokasi pelepasliaran OU yang telah dilakukan sejak tahun 2014. Pengujian kelayakan untuk syarat calon lokasi pelepasliaran OU memiliki banyak parameter, diantaranya adalah ketersediaan pakan orangutan. Untuk pakan sendiri telah dilakukan survey dan pengamatan, setidaknya terdapat 108 jenis tumbuhan pakan orangutan dari 28 famili yang berbeda dan didominasi dari family Euphorbiacea, Moraceae, Myrtaceae, Sapotaceae, Burseraceae, dan Leguminosae, artinya sub DAS Mendalam sudah sangat layak untuk dijadikan lokasi pelepasliaran dari segi stok ketersediaan pakan. Kemudian aspek sosial masyarakat yang berada di sepanjang Sub DAS Mendalam, yang pada prinsipnya mereka sangat mendukung kegiatan ini. Untuk lebih meningkatkan peran masyarakat dalam proses release ini, pihak SOC pun telah melakukan perekrutan tim monitoring yang berjumlah 6 orang berasal dari desa-desa di Sub DAS Mendalam. Ketiga Orangutan yang dilepasliarkan telah memenuhi 4 syarat utama pelepasliaran yaitu bisa bergerak dari satu satu pohon ke pohon lainya; dapat membuat sarang sendiri; dapat mengenal minimal 25 jenis tumbuhan pakannya dan setengahnya itu merupakan tumbuhan yang ada dan dapat dikonsumsi sepanjang tahun; telah memiliki kebiasaan predominanarboreal yaitu memiliki kebiasaan menghabiskan waktunya untuk beraktivitas diatas pohon dan yang tak kalah pentingnya Orangutan tersebut telah memiliki kecenderungan untuk menyukai Orangutan dari pada manusia, artinya tingkat ketergantungan Orangutan terhadap manusia tidak ada lagi. Menurut rekomendasi IUCN orangutan yang layak dilepasliarkan adalah Orangutan dengan umur minimal 7 tahun. Dalam acara serah terima orangutan yang dihadiri oleh pihak BBTNBKDS, BKSDA Kalbar, Yayasan Penyelematan Orangutan Sintang, Pemerintah Daerah dan Tokoh Masyarakat, Arief Mahmud, Kepala Balai Besar TNBKDS dalam sambutannya menyampaikan bahwa ini baru awal dari proses panjang pelestarian orangutan yang ada di Taman Nasional Betung Kerihun. Proses monitoring, pembinaan habitat, pembinaan populasi dan banyak hal lainya yang akan mengikuti. Kita bersama memiliki tanggung jawab untuk turut melesatrikan populasi Orangutan yang ada, imbuhnya. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Pengendalian Kebakaran Hutan Berbasis Periau di Taman Nasional Danau Sentarum

Batu Rawan, 13 November 2017. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 4815 Tahun 2014, luasan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) adalah 127.000 ha. Memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, areal gambut dan lahan basah yang diakui dunia melalui Konvensi Ramsar, habitat endemik Ikan Arwana Merah (Sclerofages formosus) yang hanya ada di Indonesia, tempat transit burung Migran Asia, sebagai pengatur tata air di perhuluan Kapuas, dan masih banyak lagi fungsi dan manfaat Danau Sentarum. Oleh karena itu, kita semua wajib menjaga, melindungi dan melestarikan kawasan TNDS, beberapa tantangan dalam melestarikan kawasan konservasi tersebut salah satunya adalah bahaya kebakaran hutan dan lahan. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) melalui dana hibah terencana Forest Investment Programme Project - Asian Development Bank (ADB) mengadakan Pelatihan Masyarakat Peduli Api (MPA) Di Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS). Pelaksanaan kegiatan dimulai dari tanggal 13 -15 November 2017, diikuti oleh 38 orang peserta perwakilan dari 15 periau yang bernaung kepada Koperasi Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS). Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan MPA TNDS dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan di sekitar kawasan TNDS. Menurut Kepala Manggala Agni Daops Ketapang, sebagai instruktur dalam pelatihan ini, Bpk. Rudi Windra Karisman menyatakan bahwa Masyarakat Peduli Api harus berpegang pada prinsip “3P” yaitu Pencegahan Dini, Penanggulangan Kebakaran Hutan Dan Lahan, dan yang terakhir adalah Penanganan Pasca Kebakaran. Gunawan Budi Hartono, selaku Kepala Bidang Pengelolaan TN Wilayah III Lanjak, menyampaikan bahwa “Menurut data yang ada dari tahun ke tahun areal TNDS selalu mengalami kebakaran, pada tahun 2017 tercatat seluas 106 hektare hutan di areal kawasan TNDS terbakar”. Perlu kerjasama dan keterlibatan yang kuat dengan masyarakat dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan sehingga masyarakat yang berada di dalam kawasan dapat bersinergi untuk mengendalikan kawasan dari bahaya kebakaran. Periau adalah wilayah kerja petani madu dalam pemanfaatan sumber daya alam hasil hutan berupa madu, wilayah-wilayah kerja petani madu ini sangat rawan dan sering terjadi kebakaran sehingga peranan petani madu dalam pengendalian kebakaran hutan sangat penting untuk membantu dalam pelestarian kawasan konservasi”. “Kegiatan pelatihan ini sangat baik bagi masyarakat di dalam kawasan TNDS yang tiap tahun selalu terbakar, saya harap kita bisa mengurangi kebakaran hutan dan lahan, di kawasan Asia Tenggara kita terkenal sebagai negara pengekspor asap ke negara lain. Semoga dengan kegiatan semacam ini kita bisa mengurangi asap yang sangat merugikan kita dan mencemari lingkungan” ujar Bpk. Suparman, Camat Selimbau. Kebakaran hutan dan lahan di areal TNDS berdampak buruk bagi masyarakat contohnya kebakaran hutan yang terjadi di TNDS mengganggu produktivitas madu hutan, sehingga salah satu pendapatan masyarakat petani madu menjadi menurun. Bpk Basri Wadi, Presiden Koperasi APDS mengatakan bahwa setiap tahun produksi madu hutan selalu menurun apabila kebakaran terjadi, sebagai contoh tahun 2014-2015 produksi madu disekitar Semangit mengalami gagal panen (tidak ada madu), karena tidak ada lebah yang masuk ke kawasan konservasi ini akibat polusi asap. Sementara produksi normal rata-rata tahunan madu hutan dari kawasan ini mencapai 15-20 ton. Sumber : Harri Ramadani,S.Hut Penyuluh Kehutanan - Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Pembentukan Kelompok Pengelola Ekowisata Jene Tinaro

Rapat pembentukan Kelompok Pengelola Ekowisata Karst Belae, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Foto: Chaeril Minasatene, 13 November 2017. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sebelumnya telah membentuk beberapa Kelompok Pengelola Ekowisata yaitu Kelompok Pengelola Ekowisata “Dentong” di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep pada tahun 2010. Beberapa bulan yang lalu juga telah dibentuk Kelompok Pengelola Ekowisata “Bissudaeng” di Dusun Pattiro, Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros. Kali ini Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I (SPTN Wilayah I) memfasilitasi pembentukan Kelompok Pengelola Ekowisata Karst Belae di kantor SPTN Wilayah I pada Selasa, 07 November 2017. Hadir dalam rapat tersebut kepala bidang yang mewakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangkep, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kepala SPTN Wilayah I. Beberapa staf Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Lurah Biraeng, tokoh masyarakat beserta beberapa warga Kelurahan Biraeng juga hadir pada rapat tersebut. Andi Waris, kepala bidang pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangkep dalam sambutannya mengharapkan agar Kelompok Pengelola Ekowisata ini nantinya dapat mensinergikan destinasi wisata Karst Belae dengan destinasi wisata lainnya yang ada di Kabupaten Pangkep. Ia juga berharap Kelompok Pengelola Ekowisata ini dapat membantu program-program dari Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangkep. “Pembentukan Kelompok Pengelola Ekowisata di beberapa destinasi ekowisata Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung merupakan salah satu wujud kolaborasi tata kelola bersama destinasi ekowisata. Bekerja bersama antara masyarakat sekitar taman nasional ini dengan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta instansi terkait lainnya dengan tetap memegang prinsip kelestarian,” kata Sahdin Zunaidi, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. “Di Karst Belae, Kelurahan Biraeng, Minasatene, Pangkep ini terdapat salah satu destinasi ekowisata yaitu Gua Kalibbong Alloa. Gua yang berada di wilayah kerja Resort Minasatene, SPTN Wilayah I ini memiliki ornamen gua yang sangat indah. Selama ini sering dikunjungi oleh wisatawan, namun perlu pengembangan dengan melibatkan masyarakat sekitar,” tambah Iqbal Abadi Rasjid, Kepala SPTN Wilayah I. Hasil rapat pembentukan Kelompok Pengelola Ekowisata memilih 14 anggota yang berasal dari warga Kelurahan Biraeng. “Kami sepakat memberi nama Kelompok Pengelola Ekowisata Jene Tinaro yang bermakna air yang menetes dari atap gua. Saya berharap kerjasama lebih lanjut dengan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangkep dalam tata kelola bersama destinasi ekowisata karst Belae,” Ujar Maudu, Ketua Kelompok Pengelola Ekowisata Jene Tinaro. Semoga dengan tata kelola ekowisata Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung bersama masyarakat ini berjalan sesuai dengan prinsip konservasi alam, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan begitu visi tata kelola Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menjadi Destinasi Ekowisata Karst Dunia dapat dicapai. Sumber: Chaeril dan Saiful Bachri - PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Geliat Promosi Pariwisata Alam TN Sebangau

Palangka Raya, 14 November 2017. Kepala Balai Taman Nasional Sebangau mengunjungi empat hotel berbintang di kota Palangka Raya pada hari Selasa 14 November 2017. Maksud kedatangan Bapak Ir. Anggodo, M.M untuk menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih sekaligus bersilaturahim kepada pihak hotel atas kerjasama yang baik. Adapun bentuk apresiasi yang disampaikan yaitu berupa Piagam “Ucapan Terima Kasih” yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Apresiasi diberikan kepada Neo Palma Hotel, Luwansa Hotel, Aquarius Boutique Hotel serta Swiss Bell Hotel Danum Palangka Raya. Ucapan terima kasih tersebut diberikan atas kontribusi dan kerjasama pihak hotel yang telah bersedia menayangkan film promosi wisata alam TN Sebangau di kamar-kamar hotel. Pemutaran film tersebut dilakukan oleh pihak hotel dalam upaya mendukung pariwisata alam TN Sebangau, Kalimantan Tengah. Promosi Taman Nasional Sebangau terus digencarkan oleh Balai TN Sebangau, salah satunya melalui promosi wisata alam. Hal ini merupakan komitmen TN Sebangau yang telah menjadikan ekowisata berbasis masyarakat melalui wisata pendidikan dan penelitian sebagai role model pengelolaan TN Sebangau satu tahu ke depan. Balai TN Sebangau juga aktif melakukan peningkatan kerjasama dengan mitra, kelompok masyarakat wisata dan stakeholders. Diharapkan dengan keterlibatan berbagai pihak dalam promosi wisata alam dapat memberikan dampak positif yaitu meningkatkan kunjungan ke Taman Nasional Sebangau. Sumber : Suyoko dan Susana, Balai Taman Nasional Sebangau
Baca Berita

FWK 2017 di tutup dengan pagelaran tari “Bedana”

Labuhan Ratu (14/11/17), Kemeriahan pagelaran Tari Bedana secara massal oleh 1.200 penari pelajar menjadi acara pemungkas atraksi budaya pada event Festival Way Kambas (FWK) Yang dilaksanakan pada tanggal 13-15 Nopember 2017. Tari Bedana adalah merupakan tari pergaulan muda-mudi Lampung yang dikenal dengan sebutan “Muli Mekhanai”. Tarian ini sengaja dipentaskan guna mengugah rasa cinta generasi muda akan budaya daerahnya sendiri, selain untuk melestarikannya juga ajang promosi wisata budaya Lampung Timur. Wakil Bupati Lampung Timur, Zaiful Bokhari, dengan didampingi oleh Sekretaris Kabupaten Lampung Timur, Syahrudin Putera, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, tamu undangan serta disaksikan ribuan pengunjung Pusat Latihan Gajah TN Way Kambas, secara resmi menutup Festival Way Kambas 2017, Senin 13 Nopember 2017 jam 14.00 WIB. "Festival Way Kambas ini dilaksanakan secara seremonial setiap tahun di Kabupaten Lampung Timur, setelah kegiatan ini selesai ditutup, diharapkan tumbuhnya perekonomian di sekitar lokasi festival, tidak hanya sesaat atau selama festival berlangsung saja, tapi berlanjut seterusnya," ujar Zaiful Bokhari. “Kepada semua fihak yang telah mendukung dan berpartisipasi, dalam penyelenggaraan Festival Way Kambas dengan sukses, aman dan lancar, pemerintah daerah Kabupaten Lampung Timur menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya serta ucapan terimakasih. Memang masih terdapat kekurangan dalam penyelenggaraannya, ini akan menjadi evaluasi untuk Pemerintah Daerah Lampung Timur kedepannya”, tegasnya. Pada hari ini juga beberapa agenda masih dilaksanakan yakni parade Motor Antik, festival Buah Nusantara serta Way Kambas Idol. Sementara hari ke-2 festival digelar event olahraga Lari 10 K, Fun Bike dan Trail Adventure. Start dimulai di desa penyangga TN Way Kambas dan finish serta undian pembagian doorprice di lapangan PLG TN Way Kambas. Sumber : BTN Way Kambas/ Hartato
Baca Berita

Kuliah Umum Kepala Balai TN Rawa Aopa

Kendari (14/11/2017). Selasa, tanggal 13 November 2017 Balai TN Rawa Aowa memberikan , Kuliah umum "Kekayaan dan Strategi Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai" oleh Kepala Balai TNRAW di depan mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Haluoleo di Aula Pascasarjana Universitas Haluoleo, Sulawesi Tenggara. Dalam materinya Kepala Balai memaparkan berbagai hal tentang pengelolaan kawasan mulai dari risalah, status kawasan, wilayah kerja, kelembagaan & SDM pengelola, zonasi TNRAW, potensi ekosisem, potensi jasa lingkungan, peluang pemanfaatan, permasalahan kawasan, strategi & upaya tindak lanjut, pemberdayaan masyarakat serta kerjasama kemitraan, sehingga diharapkan dosen dan mahasiswa mendapatkan tambahan pengetahuan tentang TNRAW. Disamping itu Kepala Balai berkomitmen kedepannya menjalin kerjasama dan kemitraan dengan Universitas Haluoleo khususnya Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan dalam hal pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk lebih mengembangkan potensi yang ada di TNRAW. Di akhir sesi pemberian materi oleh Kepala Balai dan diskusi interaktif dengan mahasiswa/i dan para dosen, pihak kampus Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Haluoleo memberikan plakat cinderamata kepada Kepala Balai dan Kepala Balai memberikan buku informasi TNRAW sebagai salah satu bahan informasi penting yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kampus UNHALU. Sumber: TNRAW
Baca Berita

Dara Laut Cina Mulai Migrasi, Peneliti Burung Indonesia Ajak BKSDA Maluku Riset Bersama

Ambon (14/11/2017). Burung Indonesia bersama tim peneliti lintas negara singgah di Kantor BKSDA Maluku. Rombongan langsung disambut oleh Suharto Ismail, Kepala Sub Bagian Tata Usaha (KSBTU) BKSDA Maluku. Tanpa membuang waktu, rombongan langsung memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan. Mereka terdiri dari Vincentia Widysari (Coordinator for Maluku Islands Partenship-Burung Indonesia), Ferry Hasudungan (Biodiversity Conservation Specialist-Burung Indonesia), Simba Chan (Senior Conservation Officer-Birdlife International), Donald E. Lyons (Assisten Profesor-Departement of Fisheries and Wildlife, Oregon State University) dan Yu Yat Tung (The Hong Kong Bird Watching Society) memaparkan rencana riset tentang migrasi Burung Dara Laut Cina (Thalasseus bernsteini). Bertempat di Ruang Kepala BKSDA Maluku, Simba Chan memaparkan hasil riset yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan. Menurut hasil pengamatan selama musim migrasi Burung Dara Laut tahun 2016 silam, terlihat satu ekor Dara Laut Cina bersama rombongan Dara Laut Jambul (Thalasseus bergii) di Desa Sawai, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah. Oleh karena itu, ia bersama timnya ingin mengidentifikasi jalur migrasi spesies tersebut. “Jika kita mengetahui jalur migrasi serta durasi burung ini pada setiap tempat yang disinggahi, tentu akan sangat bermanfaat pada upaya konservasi Dara Laut Cina itu sendiri,” jelas Chan. Pada pemaparan yang diikuti PEH dan Penyuluh tersebut, Chan menyampaikan rencana penelitian yang akan dilakukan pada Januari mendatang, sembari menunggu ijin dari Kemenristekdikti. Hal ini juga terkait dengan waktu migrasi Dara Laut Cina. “Meski November baru awal musim dingin di Cina, sudah ada beberapa Burung Dara Laut yang mulai migrasi,” jelas Chan. Chan bermaksud melakukan pengamatan serta pemasangan sattelite tracking pada burung tersebut di Sawai. Oleh karena itu, ia bekerjasama dengan Donald yang juga peneliti satwa liar di Oregon State University yang memang telah lama meneliti jenis-jenis Burung Dara Laut dengan menggunakan sattelite tracking. Chan juga dengan senang hati mengajak serta BKSDA Maluku untuk melakukan riset tersebut bersama-sama. Tawaran tersebut langsung disambut baik oleh KSBTU BKSDA Maluku. Chan menambahkan, Dara Laut Cina memang berkembang biak di Cina, namun pada musim dingin burung tersebut melakukan migrasi ke daerah yang lebih hangat seperti Indonesia, Filipina, Thailand, dan Malaysia. Oleh karena itu, Chan mengatakan semakin banyak yang terlibat dalam upaya konservasi Dara Laut Cina akan semakin baik. “Ini adalah pekerjaan lintas negara,” tambah Donald. Dara Laut China menarik perhatian dunia internasional karena merupakan burung yang langka. Boleh jadi, burung yang justru pertama kali ditemukan melalui spesimennya di Halmahera tahun 1861 ini merupakan spesies yang paling dicari. Hal ini dikarenakan, perkiraan jumlahnya tidak lebih dari seratus ekor dewasa di dunia. Wajar, jika International Union for Conservation of Nature menetapkan status burung tersebut kritis (Critically Endangered/CR) atau satu langkah lagi menuju kepunahan.[] Sumber: Ayu D. Setiyani (BKSDA Maluku)
Baca Berita

PNS Balai TN Way Kambas Ujian Kompetensi

Labuhan Ratu (14/11/17), PNS Balai TN Way Kambas mengikuti Ujian Kompetensi Inpasing (Penyesuaian) dari Jabatan Fungsional Umum ke Jabatan Fungsional Tertentu Binaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Aula Kantor Balai TN Way Kambas yang dilaksanakan. “Karena ujian kompetensi ini menjadi syarat inpasing dari Jabatan Fungsional Umum ke Jabatan Fungsional Tertentu, saya berharap PNS Balai TN Way Kambas yang ikut proses ini dapat bersungguh-sungguh dan bersemangat menjalaninya. Seharusnya ujian kompetensi ini diselenggarakan di Jakarta, tetapi dengan pertimbangan banyaknya peserta dari TN Way Kambas, kita mengusulkan untuk tim penguji yang datang kesini. Alhamdulillah disetujui oleh Pusrenbang SDM KLHK. Oleh karenanya PNS yang ikut agar semangat megikuti prosesnya, dan mudah-mudahan dapat berhasil lulus semuanya,” demikian sambutan Kepala Balai TN Way Kambas Subakir, SH, MH, pada acara pembukaan Ujian Kompetensi ini pada hari Senin (13/11/2017) kemarin. “Ada 3 tahapan ujian yang akan dilaksanakan, pertama ujian Tertulis dan pemeriksaan berkas fortofolio. Kedua akan dilakukan ujian dengan Wawancara oleh Asessor, yang ketiga khusus untuk Jabatan Fungsional Polisi Kehuatan ujian kesamaptaan yaitu lari 12 menit, lari sprint, sit-up dan push-up, serta lari angka 8 (shutlle run)” keterangan Ketua Tim Asessor Bapak Prama Gustian, Shut, Msi. Dari 34 orang peserta ujian kompetensi ini, 28 orang memilih Jabatan Fungsional Polisi Kehutanan, 4 orang Penyuluh Kehutanan dan 2 orang memilih Jabatan Fungsional Pengendali Ekositem Hutan (PEH). Sementara tim penguji atau Asessor 5 orang dan 1 orang pendamping dari Pusrenbang SDM KLHK. Sumber : BTN Way Kambas/ Hartato
Baca Berita

Semangat Di Tes CPNS KLHK Tahap Dua

Jayapura 12 November. Dengan semangat juang yang tinggi, peserta Tes CPNS Lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Periode Tahun 2017 yang Lolos Tahap Pertama mengikuti kembali Tes CPNS KLHK Tahap Kedua Kegiatan tes seleksi CPNS Tahap kedua dilaksanakan selama 2 (dua) hari, Minggu dan Senin. Hari pertama CAT (Computer Assisted Test) dilakukan di Kantor BKN Regional IX Jayapura pukul 13.30. Peserta yang lulus tes dari seleksi tahap pertama berjumlah 15 orang dengan rincian 3 orang wanita dan 12 orang pria. Selenjutnya dilakukan Psikotes di ruang rapat BPHP Wilayah XV Jayapura dengan pelaksanaan tes berlangsung selama 45 menit. Selesai Psikotes, panitia (Biro Kepegawaian dan UPT KLHK Prov. Papua) kemudian melakukan pembakaran kertas soal dan briefing untuk kegiatan keesokan harinya yaitu Tes Kesamaptaan. Keesokan hari, yaitu hari Senin 13112017, Tes Kesamptaan dilakukan dilapangan Ottow Geissler Kotaraja dengan berbagai macam tes seperti Lari Marathon, Sprint (Lari Cepat), Sit Up, Push Up dan Shuttle Run. Banyak harapan yang digantungkan oleh para peserta tes CPNS ini, semangat saja mungkin tak cukup harus disertai dengan Ikhtiar dan doa. Diharapkan juga KLHK mendapatkan ASN (Aparatur Sipil Negara) yang profesional dan berkualitas. Sumber Info : Kurnianingsih (Polhut BBKSDA Papua)
Baca Berita

Inventarisasi Pasca Kebakaran Di Kampung Manggesara,

Hutan pinus yang terbakar pada pertengahan September 2017. Tumbuhan bawah mulai menampakkan suksesinya. Foto: Kasim Bantimurung, 14 November 2017. Kebakaran hutan di Kampung Manggesara, Desa Laiya, Cenrana, Maros telah terjadi beberapa bulan lalu. Tepatnya pertengahan Semptember 2017 lalu. Kali ini Manggala Agni Brigade Macaca melaksanakan inventarisasi pasca kebakaran hutan selama 3 hari dari tanggal 8-10 September 2017. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan areal yang telah terbakar. ”Kegiatan inventarisasi ini saya harap bisa melengkapi data kejadian kebakaran hutan yang terjadi di bulan September lalu,” kata Sahdin Zunaidi, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurng Bulusaraung. Kepala balai taman nasional ini turut serta menijau lokasi kebakaran tersebut. Ia didampingi Kepala SPTN Wilayah II, beberapa personil Polisi Kehutanan dan Pengendali Ekosistem Hutan Resor Camba. Prosedur tetap penanganan pasca kebakaran hutan memiliki urutan kegiatan yang meliputi mengukur, menghitung, mendata tegakan yang terbakar serta menghitung presentasi tingkat kerusakan akibat kebakaran. Dalam kegiatan ini sample plot yang diambil adalah 1% dari total luasan yang terbakar 10 hektar. Tim kemudian membuat plot ukuran 20x 20 meter sebanyak 5 plot. “plot ini kami buat untuk memudahkan tim mengambil data yang valid,” kata Muhammad Ikhfar, ketua tim pelaksana kegiatan. Semoga Manggala Agni Brigade Macaca, selalu maksimal dalam melaksanakan tugas dan fungsinya selaku panglima api di Taman Nasional Bantimrung Bulusaraung. Semangat!!. Sumber : Surapil – Polisi Hutan Pelaksana Lanjutan
Baca Berita

SRAK Orangutan Untuk Solusi Permasalahan Orangutan di Kawasan BKSDA Kalimantan Timur

Samarinda, 14 November 2017. Balai KSDA Kalimantan Timur (Kaltim) bersama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur, Forina (Forum Orangutan Indonesia) , TNC (The Nature Concervacy) Indonesia dan ECOSITROP (Ecology and Conservation Center for Tropical Studies) mengadakan Kegiatan Rapat Forum Penyusunan Strategi Rencana dan Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan Indonesia regional Kalimantan Timur Tahun 2017 - 2027. Kepala BKSDA Kaltim Bpk Ir. Sunandar Trigunajasa N. dalam sambutannya pada pembukaan acara berharap semoga dari rapat forum ini dapat dihasilkan materi SRAK Orangutan Indonesia regional Kalimantan Timur yang bisa memberikan opsi-opsi solusi dari permasalahan Orangutan yang ada di Kalimantan Timur. Kepala BKSDA Kaltim juga berharap agar materi SRAK yang tersusun nantinya dapat dibawa ke forum yang lebih besar dan berskala nasional. Acara yang berlangsung dari pukul 08.00 WITA dan ditutup pada pukul 17.00 WITA oleh Direktur Konservasi Keanekargaman Hayati (KKH) Bpk Ir. Bambang Dahono Aji, MM., M.Si., ini dilangsungkan dalam rangka berakhirnya SRAK Orangutan Indonesia periode 2007 – 2017 dan akan disusunnya kembali SRAK Orangutan Indonesia periode 2017 – 2027. Untuk diketahui, pada tahun 2007, pemerintah dan para pihak bersama-sama merumuskan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan Indonesia 2007-2017, yang menjadi upaya jangka panjang guna menjamin kelangsungan hidup Orangutan di tengah kegiatan pembangunan ekonomi Indonesia. SRAK yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Kehutanan No. P.53/Menhut-IV/2007, diharapkan dapat menggabungkan kepentingan-kepentingan dan menjadi landasan bersama para pihak dalam konservasi orangutan, sehingga upaya pelestarian Orangutan dapat terkoordinasi dan dibangun melalui kerja sama yang baik. Dalam kaitan memantau pelaksanaan SRAK Orangutan Indonesia 2007-2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama para pihak telah secara berkala melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi, yakni pada periode 2008-2010, 2010-2011, dan 2011-2013 di tingkat Nasional dan Regional, termasuk di Provinsi Kalimantan Timur. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Berita

School Visit TN Taka Bonerate, Belajar dan Bermain Konservasi

P. Rajuni -Taka Bonerate (13/10/2017), "Awas, iru bagae...itu bagae (awas, itu petugas...itu petugas)". Begitu biasa dulu masyarakat Bajo menakut-nakuti anak mereka ketika ada jagawana lewat. Petugas jagawana adalah sosok yang dihindari oleh beberapa kelompok masyarakat di dalam kawasan TNTBR (TN. Taka Bonerate). Stigma itu begitu melekat dan menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan pendekatan sebagai upaya penyuluhan dan penyadartahuan tentang konservasi sumberdaya alam. Upaya yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir adalah menghilangkan stigma yang telah melekat di masyarakat melalui metode pendekatan yang merakyat dan membaur dengan masyarakat serta menghibur atau menyenangkan. Salah satu bentuk upaya yang dilakukan oleh Balai TN. Taka Bonerate untuk menghilangkan stigma petugas sebagai sosok yang menakutkan dan dihindari di masyarakat adalah dengan melakukan kegiatan kunjungan ke sekolah-sekolah (School Visit) di dalam kawasan. Pada tanggal 7-11 November 2017, Balai TN. Taka Bonerate berkolaborasi dengan Komunitas Selayar Belajar dan perwakilan pemuda dalam kawasan melakukan school visit ke 3 (tiga) pulau di dalam wilayah SPTN Wil. I Tarupa Taman Nasional Taka Bonerate, yaitu di pulau Rajuni kecil, pulau Rajuni Besar dan pulau Latondu Besar. Kunjungan ke sekolah-sekolah ini juga dirangkaikan dengan acara nonton bersama masyarakat di malam hari. "Tujuan dari kegiatan ini adalah berbagi pengetahuan tentang konservasi kepada masyarakat di dalam kawasan TN. Taka Bonerate, terutama dalam hal mendidik mulai dari anak-anak usia sekolah. Adapun kolaborasi dengan Komunitas Selayar Belajar dan pemuda lokal adalah untuk membangun dan memperluas kerjasama dengan berbagai pihak yg peduli pendidikan dan konservasi dan menjadi mitra dalam upaya konservasi di TN. Taka Bonerate", hal tersebut diungkapkan Fahmy Syamsuri selaku ketua tim. Dalam kegiatan tersebut disampaikan materi tentang biota di lindungi, dalam hal ini akar bahar dan penyu, perikanan berkelanjutan, serta kampanye Baby shark yang merupakan ikon TN. Taka Bonerate. Kegiatan ini dilakukan dengan metode edutainment, yaitu edukasi yang menghibur atau menyenangkan. Dengan metode pendekatan yang berbeda serta menjadikan masyarakat sebagai mitra, diharapkan stigma jagawana yg mulanya ditakuti dan dihindari dapat perlahan-lahan berkurang sehingga upaya penyadar tahuan tentang konservasi dan pemanfaatan lestari dapat dilakukan lebih efektif dan dapat diterima oleh masyarakat. Penulis : Asep Pranajaya - Penyuluh Kehutanan TN Taka Bonerate

Menampilkan 9.441–9.456 dari 11.141 publikasi