Selasa, 2 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Kampanye BKSDA Sumsel : "Saatnya Kita Semua Peduli Tumbuhan dan Satwa Liar"

Lahat, 16 November 2017. Mengusung slogan "Saatnya Kita Semua Peduli", BKSDA Sumatera Selatan gencar melakukan kampanye peredaran dan kepemilikan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) dilindungi kepada masyarakat. Sasaran kampanye selain penyadartahuan masyarakat juga mengedukasi anak-anak sebagai generasi yang menjadi harapan akan masa depan konservasi. Kegiatan kampanye kali ini dilakukan di wilayah Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang tepatnya di daerah Terusan Baru,Ujung Ali dan Ulak Dabuk yang rawan akan peredaran dan kepemilikan TSL dilindungi. Kampanye yang dilakukan di wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat tersebut menekankan pada upaya penyadartahuan kepada masyarakat terkait peredaran dan kepemilikan TSL dilindungi. Melalui kegiatan kampanye ini selain merupakan upaya penyadartahuan generasi saat ini juga sebagai upaya mengedukasi anak-anak sebagai generasi masa depan yang diharapkan dapat menjadi generasi konservasi di masa akan datang. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Dirjen KSDAE Pidato Di Sidang Senat Terbuka Fakultas Kehutanan UGM Dalam Dies Natalis Ke 54

Yogyakarta (16/11/17). Fakultas Kehutanan UGM kembali merayakan Dies Natalis yang ke 54 yang diselenggaran dari tanggal 16 s.d 18 November 2017. Salah satu rangkaian kegiatan dari Dies Natalis Sidang Senat Terbuka yang dilaksanakan di Auditorium Fakultas Kehutanan. Sidang Senat terbuka ini dihadiri oleh Senat Fakultas Kehutanan, Kepala Balai UPT KSDAE lingkup Prov. DIY, civitas akademika Fakultas Kehutanan, serta para tamu undangan lainnya. Dalam Sidang Senat Terbuka tersebut Dirjen KSDAE "Ir. Wiratno, M.Sc." menyampaikan Pidato dengan judul "“PEREBUTAN” RUANG KELOLA: REFLEKSI PERJUANGAN DAN MASA DEPAN PERHUTANAN SOSIAL DI INDONESIA". Dalam pidatonya "Wiratno" dalam pembukaannya menyitir seorang ekonom FAO, Jack C. Westoby (1967), dalam penampilannya di panggung internasional telah menantang dunia kehutanan dengan satu ungkapan yang menggugah bahwa “forestry is not about trees, it is about people. And it is about trees insofar as trees can serve the needs of the people”. Ucapan Westoby tersebut tak pelak memantik para pemikir kehutanan dunia untuk kemudian berkiprah - mengabdikan keilmuan kehutanan yang dimilikinya dengan melandaskan pada alasan “people are the reason...became passionate about forestry”. Wiratno juga menyampaikan tentang adanya "Local Champion"; Apa Champion of the Forest’ itu?. Sebenarnya mereka bisa berasal dari manapun. Yang jelas, mereka yang dengan niatnya sendiri, secara sukarela, dengan penuh kesadarannya melakukan upaya-upaya walaupun kecil dan terbatas, namun dilakukannya dengan konsisten, dengan bantuan atau tanpa dukungan dari pihak luar. Mereka menerima dan menemukan apasebut sebagai “personal calling”. Panggilan pribadi untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan di sekitar ia hidup. Umumnya mereka ‘orang biasa’ yang karya dan hasil kerjanya yang luar biasa. Orang yang menginspirasi orang lain atau kelompok lain melakukan hal yang sama atau yang skalanya lebih besar. Mereka mewariskan sesuatu yang sangat bermanfaat untuk kemanusiaan, minimal bagi lingkungan di sekitarnya". Disamping itu Wiratno juga menekankan bahwa "Menempatkan masyarakat sebagai subyek pembangunan kehutanan. Jangan lagi menjadikan masyarakat sebagai obyek atau pelengkap penderita dari apapun yang diinisiasi oleh pemerintah, CSO, swasta, atas nama pembangunan kehutanan atau perbaikan lingkungan hidup". Masyarakat harus diberikan kepercayaan dan pendampingan. Pemerintah terus melakukan perubahan paradigmatik untuk lebih mau “mendengarkan’, mengembangkan partisipasi dan melibatkan masyarakat sejak dari awal proses perencanaan melalui dialog-dialog yang konstruktif. Dalam penutup pidato Wiratno kembali menyitir Eckhart Tolle dalam A New Earth Create Better Life (2005):“You do not become good by trying to be good, but by finding the goodness that already within you, and allowing that goodness to emerge. But it can only emerge if something fundamental changes in your state of consciousness” (Anda tidak menjadi baik dengan berupaya menjadi baik, tapi dengan cara mencari kebaikan yang telah ada dalam diri, dan membiarkan kebaikan itu muncul. Namun ia hanya akan muncul jika sesuatu mendasar dalam kesadaran Anda berubah). Diakhir acara Wiratno selaku Dirjen KSDAE menyerahkan beberapa buku diantarannya adalah Buku " Tersesat Di Jalan Yang Benar " , Pariwisata Alam 54 Taman Nasional Di Indonesia, The Magnificent Seven Indonesia's Marine National Parks, kepada Dekan Fakultas Kehutanan secara simbolis. Pidato Dirjen KSDAE dalam Sidang Senat Terbuka Fakultas Kehutanan UGM
Baca Berita

Balai KSDA Bengkulu Rilis E-Penangkaran Dan E-Simaksi

Bengkulu, 16 November 2017. Guna meningkatkan pelayanan perizinan di bidang konservasi sumber daya alam, Balai KSDA Bengkulu meluncurkan sistem pelayanan perizinan online terpadu. Pelayanan perizinan meliputi perizinan penangkaran dan perizinan memasuki kawasan konservasi (simaksi). Kini, masyarakat dapat mengajukan peizinan via online melalui alamat situs: http://bksdabengkulu.id. Acara peluncuran e-penangkaran dan e-simaksi dilakukan secara internal oleh Kepala Balai KSDA Bengkulu, Ir. Abu Bakar dan dihadiri oleh seluruh Kepala SKW, Kepala KPHK, Kepala Resort dan Kepala Urusan Lingkup Balai KSDA Bengkulu. Sistem pelayanan perizinan online merupakan upaya inovatif yang dilakukan Balai KSDA Bengkulu untuk mengatasi berbagai kendala dalam pelayanan publik. Kendala yang pertama adalah faktor geografis. Wilayah kerja Balai KSDA Bengkulu yang mencakup dua provinsi, Provinsi Lampung dan Bengkulu, menyulitkan upaya percepatan pelayanan publik. Harapannya, dengan pelayanan online, waktu tunggu akibat jarak geografis dapat dipangkas. Banyak pengunjung kawasan konservasi berasal dari luar provinsi Bengkulu dan Lampung. Proses perizinan simaksi yang mengharuskan pemohon datang langsung ke kantor balai menjauhkan esensi pelayanan prima. Harapannya, dengan sistem online, calon pengunjung dapat lebih mendapatkan kemudahan dalam proses perizinan. Sumber: Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Upgrade Kapasitas PEH BTN Bukit Tiga Puluh di Fakultas Kehutanan UGM

Rengat, 15 November 2017. Setiap taman nasional di Indonesia memiliki potensi wisata alam yang berbeda karakteristik dan pesonanya. Kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) yang membentang antara 2 (dua) provinsi yaitu Riau dan Jambi ini memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Dengan mengusung tagline “The Hills of Sumatran Tiger”, TNBT dengan segala keindahan panorama dan pesona alamnya, menjadi kawasan konservasi yang mampu mewakili hutan hujan tropis dataran rendah di Sumatera. Terjaganya kelestarian alam dan terkelolanya wisata alam di TNBT tidak dapat lepas dari peran dan tugas pokok dan fungsi pejabat fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH). Semakin tinggi semangat dan korsa PEH dalam menjalankan peran dan tupoksinya maka akan berbanding dengan majunya pengelolaan wisata alam TNBT. Maka dari itu dalam rangka penyegaran fungsional PEH TNBT, maka selama 3 (tiga) hari mulai 9 s.d 11 November 2017 seluruh fungsional PEH sebanyak 13 orang mengikuti kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia dalam rangka Pengelolaan Keanekaragaman Hayati & Wisata Alam di Fakultas Kehutanan (FKT) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Kegiatan ini didampingi oleh Kepala Balai dan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Belilas Riau. Tujuan pelatihan peningkatan Kapasitas SDM Balai TNBT adalah untuk mengupgrade/update kemampuan SDM fungsional PEH Balai TNBT sbg penganalisis/penyaji data informasi Kehati &WA yang sesuai dengan kaidah ilmiah dengan keterbaruan perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan dalam pengelolaan Kawasan Konservasi. Rangkaian Kegiatan Pelatihan yang dipimpin oleh Kepala Balai TNBT Darmanto, SP.,MP, mengawali bersilaturahmi dan sharing informasi PEH Balai TNBT ke Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) sebagai sister park di DIY yg diterima langsung oleh Ir Ammy Nurwati,MM., selaku Kepala Balai TNGM, KSBTU, KSPTN dan PEH TNGM. Selanjutnya pada hari Kamis, 10 November 2017 kegiatan pelatihan secara resmi dibuka oleh Bapak Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada masyarakat & kerja sama FKT UGM (Dr.rer.silv. M. Ali Imron, S.Hut, M.Sc). PEH TNBT mendapatkan materi dan praktek langsung dari 6 (enam) narasumber yang kompeten dibidangnya. Materi teori yang mendukung pengelolaan satwa liar meliputi Teori Teknik Identifikasi, inventarisasi & monitoring tumbuhan alam, Teori Pengelolaan database tumbuhan alam & sharing informasi pengelolaan tumbuhan langka (Salo & Rafflesia), Teori Pemahaman mengenai karakteristik habitat satwa liar, Teori Teknik Identifikasi, dan Inventarisasi & Monitoring satwa liar. Sedangkan materi yang mendukung pengelolaan wisata alam meliputi Teori Pengembangan wisata alam di Kawasan Konservasi dan Teori Analisa Daya Dukung Kawasan untuk wisata alam di Taman Nasional. Untuk memperkaya pemahaman peserta pelatihan, seluruh fungsional PEH melakukan praktek pelatihan di Pengelolaan Wisata Alam kawasan wisata Prioritas Nasional Borobudur , Tebing Breksi, Puncak Becici & Pantai Indrayanti. Untuk memperdalampemahaman tentang kegiatan Inventarisasi Satwa liar dan tumbuhan, praktek dilakukan di Hutan pendidikan I Wanagama Gunung Kidul . Total materi teori dan praktek sebanyak 31 Jam Pelajaran. Pengelolaan wisata di Pulau Jawa lebih cepat berkembang dibandingkan wisata di luar Jawa. Banyak faktor yang berperan dalam berkembangnya suatu kawasan wisata. TNBT dengan wisata berkonsep Wisata Minat Khusus diharapkan mampu berkembang semakin baik begitu juga dengan pengelolaan keanekaragaman hayatinya, khususnya pasca pelatihan peningkatan kapasitas SDM PEH TNBT ini. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh
Baca Berita

Corporate Social Responsibility (CSR) : Komitmen Perusahaan Untuk Mendukung Sustainable Development

Jayapura, 16 November 2017. Masyarakat bertanya-tanya "apakah perusahaan yang berorientasi memaksimalkan keuntungan ekonomis dan punya komitmen moral membangun masyarakat lokal ??". Corporate Sosial Responsibility (CSR) merupakan komitmen perusahaan untuk mendukung sustainable development. Semangat CSR diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara perusahaan, masyarakat dan lingkungan, khususnya di sekitar Kawasan Konservasi. Kolaborasi antara UPT KLHK Provinsi Papua dan perbankan dalam hal ini Kepala BBKSDA Papua (Ir. Timbul Batubara, M.Si), Kepala Dinas BLH (Dr.Ir. Noak Kapisa, M.Sc) Kepala BPTH mewakili Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua (Ning Sri Astuti, S.Hut.,M.Si), KSBTU mewakili BPDASHL Memberamo (John Lucky Mambrasar, SE) dan BPHP Wilayah XV (Kusnadi, S.Hut.,M.Si), Bank Mandiri, Bank BCA, Bank Papua dan Bank BRI di ruang rapat BPHP Wilayah XV Jayapura bersama-sama mewujudkan CSR sebagai bentuk tanggung jawab terhadap seluruh pemangku kepentingan. Menjawab permasalahan akan kawasan konservasi terutama pengelolaan CA Peg Cycloop, dalam pertemuan tersebut Kadis BLH mengutarakan bahwa “Cycloop dari dulu sampai sekarang belum menemukan strategi/konsep yang tepat untuk dapat dikelola dengan baik” ujarnya, Kadis BLH juga menambahkan “permasalahan yang sangat beragam perlu dicarikan solusi yang tepat dan CSR ini adalah konsep yang menarik untuk diimplementasikan” sahutnya lagi. Sementara Kababes KSDA Papua, Ir. Timbul Batubara, M.Si juga mengemukakan bahwa ”Sejarah Cycloop sangat identik dengan sosial budaya yang ada di Papua, Cycloop bukan hanya milik BBKSDA Papua saja tetapi milik bersama, tanggung jawab bersama itu bukan hanya pemerintah saja tapi juga perusahaan menyangkut tanggung jawab sosial dan lingkungan’’ ungkapnya. Dari pihak Bank Papua mengemukakan bahwa kegiatan CSR yang telah dilakukan antara lain bantuan korban bencana alam, peningkatan kesehatan, bantuan sarpras umum, bantuan tempat ibadah dan lainnya. Ditambahkan bahwa CSR mulai dikelola tahun 2013 dan terkait program konservasi merupakan bentuk program perbankan yaitu bina lingkungan dan telah dilakukan seperti pengembangan masyarakat ekonomi mikro misalnya lukisan kulit kayu dan tanaman anggrek, sehingga program yang ada untuk pelestarian Cycloop akan diprioritaskan dan disesuaikan dengan program perbankan. Pihak Bank BCA menyatakan CSR dimasukkan dalam program perusahaan dan sudah dijalankan khususnya dalam bidang pendidikan di Papua yaitu Wamena, Sorong dan Manokwari. Bank BCA telah melakukan program/kegiatan dalam bidang konservasi seperti misalnya kegiatan satwa yang dilindungi dan endemik di Kalimantan yaitu konservasi orang hutan dan konservasi penyu. Oleh karena itu disarankan kepada BBKSDA Papua untuk memilih salah satu icon satwa endemik di Papua yang perlu dilakukan upaya konservasi sehingga pihak BCA dapat mendukung program tersebut. Pihak Bank Mandiri juga sudah menjalankan CSR dalam program pendidikan, tata kota dan fasilitas umum, untuk program konservasi yang diusulkan dapat diusulkan ke Bank Mandiri Pusat yang mana usulan proposal tersebut harus menjelaskan secara terperinci meliputi prospek, nominasi, wilayah dan peruntukkannya. Tak ketinggalan Pihak Bank BRI juga menjelaskan program CSR yang telah dijalankan seperti kesehatan, dan sarpras umum. Dalam hal ini Bank BRI sudah punya program yang berkaitan dengan CSR sehingga program tersebut dapat disinergikan dengan program yang ada di BBKSDA Papua. CSR yang akan kita bangun dan implementasikan harus dapat terukur melaui Perjanjian Kerjasama (PKS) karena CSR berhubungan erat dengan "pembangunan berkelanjutan", yakni suatu organisasi, terutama perusahaan dimana dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusan tidak semata berdasarkan dampaknya dalam aspek ekonomi, misalnya tingkat keuntungan atau deviden, tetapi juga harus menimbang dampak sosial dan lingkungan yang timbul dari keputusannya itu, baik untuk jangka pendek maupun untuk jangka yang lebih panjang. Sumber : I Ketut Diarta Putra, S.Si (Kasubag Evlap & Humas BBKSDA Papua) & Rian Agustina, S.Pt.,M.I.L (Kasubag Proker BBKSDA Papua)
Baca Berita

BKSDA Aceh bersama Kepolisian dan Mitra Ungkap Perburuan Gajah di Aceh Timur

Banda Aceh (16/11/17). Dalam kegiatan patroli pengamanan habitat yg dilaksanakan petugas BKSDA Aceh Resort Langsa bersama WCS dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Penanggulangan Konflik Gajah Desa Seumanah Jaya, Aceh Timur, tim patroli mendapatkan informasi adanya upaya penjualan gading gajah di Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Rantau Peureulak Kabupaten Aceh Timur. Setelah menggali informasi lebih lanjut dan kroscek ke lokasi, Tim Patroli dan Polsek Rantau Peurelak menemukan lokasi tempat penguburan gajah. Selanjutnya didapatkan informasi juga bahwa gading akan digeser menuju penampung di Medan, dan dibantu anggota Forum Konservasi Leuser (FKL), tim mengontak Polres Aceh Tamiang. Dan berhasil diamankan mobil yg dipakai mengangkut jenis Avanza Nopol BK 1506 QM oleh Satlantas Polres Tamiang, namun pelaku sudah melarikan diri. Setelah dilakukan pengejaran akhirnya pelaku tertangkap, dengan barang bukti sepasang gading gajah dengan panjang sekitar 80 cm seberat 10 kg yang dibungkus karung goni dan diletakkan di lantai mobil bagian belakang. Selanjutnya pelaku diamankan untuk proses penyidikan dan pengembangan lebih lanjut. Identitas tersangka an SUHARDI DARMIN al MAHRUB bin Alm DARMIN, umur 46 thn, pekerjaan wiraswasta. Alamat Dusun Kroeng Tuan Desa Seumanah Jaya. Langkah selanjutnya, tim dokter hewan BKSDA Aceh bersama Satreskrim Polres Aceh Tamiang dan Aceh Timur, telah melakukan pemeriksaan terhadap bangkai gajah utk kepentingan pemeriksaan. Sumber: Sapto Kabalai BKSDA Aceh
Baca Berita

Balai KSDA Bengkulu Gelar Pelatihan Sistem Smart-RBM

Bengkulu, 16 November 2017. Guna meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi berbasis resort, Balai KSDA Bengkulu akan menerapkan sistem Spatial Monitoring and Reporting Tools (SMART), perangkat monitoring dan pelaporan berbasis spasial. Sistem ini merupakan sistem pengelolaan data kegiatan lapangan baik di dalam kawasan maupun di sekitar kawasan. Untuk mendukung penerapan sistem ini, Balai KSDA Bengkulu menggelar pelatihan implementasi sistem SMART-RBM pada tanggal 15-17 November 2017. Pemateri dalam pelatihan ini adalah dua orang instruktur dari Wildlife Conservation Society-Indonesia Program, Ari Sutopo dan Wahyu Retno Safitri. Peserta kegiatan adalah seluruh kepala resort wilayah KSDA dan walidata seksi konservasi wilayah lingkup Balai KSDA Bengkulu. Sejak tahun 2016, Balai KSDA Bengkulu telah meningkatkan upaya operasionalisasi resort-resort wilayah KSDA, sistem yang dikenal dengan sistem Resort Based Management (RBM). Beberapa kebijakan yang telah diambil adalah distribusi personil yang lebih proporsional, peningkatan sarana dan prasarana resort, dan memaksimalkan peran mitra. Operasionalisasi sistem RBM telah menghasilkan perbaikan pengelolaan kawasan yang signifikan diantaranya peningkatan PNBP wisata alam, dan penguasaan kawasan. Hanya saja, hasil kegiatan resort, terutama data-data spasial, belum terkelola dengan baik karena belum terstruktur secara sistematis. Oleh karena itu, penerapan Sistem SMART-RBM ini penting untuk menghadirkan sistem pengelolaan data yang sistematis. Data yang dihasilkan oleh Sistem SMART-RBM diharapkan akan menjadi sumber data dan informasi untuk situation room Balai KSDA Bengkulu. Harapannya, sistem ini dapat menjadi jembatan antara kekuatan data informasi dan sistem pengambilan keputusan Balai KSDA Bengkulu. Sumber: Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

TNBB Melepasliarkan 28 Ekor Curik Bali (Leucopsar rothschildi) Ke Habitatnya.

Labuan Lalang, 15 November 2017 Balai Taman Nasional Bali Barat. Curik Bali atau biasa juga dikenal dengan nama Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) merupakan jenis burung Endemik Bali yang habitat aslinya berada di Taman Nasional Bali Barat. Curik Bali memiliki ciri khas warna bulu yang di dominasi warna putih dengan kombinasi warna hitam pada ujung sayap dan ujung ekor. Ciri khas lainnya adalah warna biru terang pada bagian sekitar mata. Balai Taman Nasional Bali Barat, sebagai pengelola kawasan yang menjadi habitat Curik Bali, telah melakukan berbagai upaya untuk melestarikan burung langka ini. Upaya tersebut antara lain : perlindungan dan pengamanan kawasan, pembinaan habitat, pembiakan di Unit Pengelolaan Khusus Pembinaan Jalak Bali (UPKPJB), dan juga upaya pelepasliaran. Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan, pada tahun 2017 ini paling tidak terdapat 109 ekor burung yang hidup liar di alam. Selain itu, terdapat 273 ekor burung Curik Bali di UPKPJB. Burung di UPKPJB di kembangbiakan secara semi alami. Hasilnya digunakan untuk restocking populasi di alam. Dalam 5 tahun terakhir (2013 – 2017) peningkatan burung di alam maupun di pusat perkembangbiakan UPKPJB cukup signifikan. Saat ini kita bisa dengan mudah melihat burung Jalak Bali terbang bebas di hutan Taman Nasional Bali Barat, khususnya di lokasi yang menjadi site pelepasliaran. Burung yang dilepasliarkan sudah berkembang secara alami di habitatnya. Kegiatan pelepasliaran merujuk pada panduan Union for Conservation of Nature (IUCN) Guideline for Reintroduction and Other Conservation Translocation Tahun 2013. Teknis pelepasliaran menggunakan metode soft release. Pada metode ini, burung burung yang akan di lepaskan di tempatkan pada kandang habituasi untuk penyesuaian dengan kondisi lingkungan sekitar. Untuk melepaskannya, terdapat pintu yang dirancang khusus dapat dibuka dengan cara menarik tali yg dipasang pada bagian atas kandang. Setelah pintu terbuka, burung keluar kandang dengan sendirinya tanpa sentuhan tangan manusia. Pada tahun 2017 ini, sebanyak 28 (dua puluh delapan) ekor burung pada kandang habituasi di 3 (tiga) lokasi kawasan Taman Nasional Bali Barat dilepasliarkan dengan rincian : 10 (sepuluh) ekor di Labuan Lalang, 10 (sepuluh) ekor di Brumbun, 8 (delapan) ekor di Cekik. Burung-burung ini telah melewati masa habituasi dengan waktu yang cukup. Diharapkan setelah mereka dilepasliarkan, mereka dapat bertahan hidup dan berkembangbiak dengan baik. Untuk memastikan hal tersebut, para petugas melakukan monitoring intensif setiap hari. Pelepasliaran di Labuan Lalang merupakan seremonial melepas secara simbolis burung Curik Bali di alam. Turut diundang dan hadir dalam acara tersebut antara lain : Bupati Buleleng yang diwakili oleh Kepala Dinas Pertanian, Kapolres Buleleng, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Kepala P3E Bali Nusra, Kepala KSDA Bali, Camat Gerogak, Kepala Desa, tokoh masyarakat, dll. Tujuannya sekaligus untuk menggalang dukungan terhadap pelestarian burung Curik Bali dan Kawasan Taman Nasional Bali Barat. Dalam acara kali ini, juga dilakukan penandatanganan deklarasi oleh para kepala desa, bendesa adat, dan kelompok penangkar Curik Bali yang berada di wilayah Kabupaten Buleleng. Isi dari deklarasi adalah menyatakan komitmen dan dukungan terhadap usaha pelestarian Curik Bali dan menjaga keutuhan kawasan hutan Bali Barat yang menjadi habitatnya. Sumber: Wiryawan BTN Bali Barat
Baca Berita

Deklarasi Konservasi KPHK Barumun

Medan, 15 November 2017. KPHK Barumun menjadi topik perbincangan hangat. Berbagai pihak dengan semangat dan kepedulian yang sama, pada Selasa, 14 Nopember 2017, mendeklarasikan Konservasi KPHK Barumun, di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS). Deklarasi tersebut menegaskan : bahwa KPHK Barumun (SM Barumun) yang merupakan kawasan konservasi seluas 36.261 ha yang terletak di Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara, berfungsi sebagai paru-paru dunia, penyangga sistem kehidupan, habitat sekaligus pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa, penyimpan air, penahan erosi dan banjir serta penyedia jasa lingkungan, sehingga harus dijaga keberadaan dan kelestariannya dari segala ancaman dan kerusakan. Atas dasar tersebut, masyarakat yang berada disekitar kawasan KPHK Barumun (SM Barumun) bertekat untuk ikut berperan dalam menjaga, melindungi, melestarikan dan mengawetkan keutuhan kawasan KPHK Barumun sehingga berfungsi sebagaimana mestinya untuk kepentingan masyarakat sekitar kawasan dan Bangsa Indonesia. Deklarasi Konservasi KPHK Barumun, ditandatangani oleh Kepala Desa dan tokoh adat (Hatobangon) dari 9 (sembilan) desa sekitar kawasan, masing-masing Desa Batu Nanggar, Desa Morang, Desa Batang Onang Baru, Desa Sihaporas, Desa Sosopan, Desa Hutabargot, Desa Bargot Topong, Desa Siundol Julu dan Desa Siundol Jae. Sebagai saksi yang ikut menandatangi Deklarasi adalah Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Ir. Wiratno, M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For., dan perwakilan dari Pemerintahan Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara serta Kabupaten Tapanuli Selatan. Dengan Deklarasi ini diharapkan pengelolaan KPHK Barumun kedepannya akan lebih baik lagi. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Bupati Konawe Selatan Tinjau Pengembangan Wisata di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Konawe Selatan, 15 November 2017. Kunjungan kerja Bupati Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) bersama Organisasi Perangkat Daerah terkait ke Pulau Harapan, di wilayah Rawa Aopa Kabupaten Konawe Selatan dalam rangka kerjasama pengembangan wisata alam Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai dengan Pemerintah Kabupaten Konsel pada tanggal 15 November 2017. Disamping itu dalam rangkaian kegiatan kunjungan kerja Bupati Konsel beserta jajarannya ini juga dilakukan penanaman secara simbolis bibit sagu oleh Bupati & Wakil Bupati Konsel, Ketua DPRD Konsel, Sekda Konsel, Kajati Konsel, Kapolres Konsel, Danrem Konsel, Kades Pewutaa dan tentunya Kepala Balai TNRAW, dimana sagu ini merupakan salah satu program unggulan ketahanan pangan di Kabupaten Konawe Selatan yang ditanam di pinggir Rawa Aopa sehingga dapat digunakan sebagai batas hidup kawasan TNRAW dengan desa penyangga. Dalam tinjauan ke Pulau Harapan di Rawa Aopa, Kepala Balai TNRAW beserta Kepala SPTN Wilayah 1 melakukan diskusi dengan Bapak Bupati Konsel di pulau harapan tentang penjajakan kerjasama pengelolaan TNRAW antara Pemda Konsel dan Balai TNRAW. Sumber : Balai TN Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

bksdabengkulu.id : Situation Room Balai KSDA Bengkulu Akhirnya Diluncurkan

Bengkulu, 15 November 2017. Balai KSDA Bengkulu situation room dengan alamat situs: http://bksdabengkulu.id. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan efektivitas pengelolaan program konservasi sumber daya alam dan ekosistem. Acara peluncuran Situation Room dilakukan secara internal oleh Kepala Balai KSDA Bengkulu, Ir. Abu Bakar dan dihadiri oleh seluruh Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW), Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK), Kepala Resort dan Kepala Urusan Lingkup Balai KSDA Bengkulu. Situation room atau ruang situasi/kendali ini berfungsi sebagai pusat data dan informasi Balai KSDA Bengkulu. Situation room yang dikembangkan oleh Balai KSDA Bengkulu memiliki dua tampilan, yaitu tampilan internal dan tampilan publik. Informasi yang berbeda akan disajikan dalam kedua tampilan tersebut. Informasi pada tampilan publik akan diperuntukan untuk masyarakat umum dan informasi yang ditampilakan berupa profil kawasan konservasi lingkup Balai KSDA Bengkulu. Tampilan internal berisi data yang lebih lengkap dan hanya dapat diakses oleh petugas Balai KSDA Bengkulu. Balai KSDA Bengkulu terus berupaya untuk melakukan perbaikan dalam pengelolaan data dan informasi. Data dan informasi akan disimpan dalam sistem situation room serta dianalisis sesuai dengan kebutuhan. Data hasil analisis harus dapat menjadi dasar pengambilan keputusan strategis Balai KSDA Bengkulu. Sumber: Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Kerja Bersama Untuk Restorasi Sebangau

Palangka Raya, 14 November 2017. Kerjasama antara Balai Taman Nasional Sebangau dengan mitra kerja WWF-Indonesia Kalimantan Tengah telah terjalin sejak TN Sebangau ditunjuk menjadi taman nasional. Berbagai program telah dilaksanakan dalam upaya melestarikan ekosistem gambut beserta keanekaragaman hayati di dalamnya. Program sekat kanal atau penabatan menjadi salah satu kegiatan restorasi ekosistem gambut yang hingga saat ini masih berjalan dan telah dirasakan manfaatnya. Metode pembasahan gambut melalui sekat kanal telah membantu TN Sebangau dalam menurunkan resiko terjadinya kebakaran. Sejak tahun 2005 hingga saat ini sedikitnya telah dibangun 1.600 sekat kanal diseluruh kawasan TN Sebangau. Dalam pelaksanaan pembangunan sekat kanal senantiasa melibatkan masyarakat sekitar kawasan, seperti pada kegiatan kali ini yakni pembangunan sekat kanal di Sungai Sebangau Kecil wilayah kerja Resort Mendawai SPTN Wilayah III. Sebelumnya telah terbangun sebanyak 24 sekat kanal di Sungai Sebangau Kecil yang dikerjakan oleh masyarakat. Sebelum melaksanakan kegiatan, dilakukan padiatapa yang dipimpin oleh Kepala Desa. Dalam acara ini dilakukan pembahasan perencanaan pembangunan sekat kanal mulai dari pengangkutan bahan baku, desain sekat kanal, pembiayaan, sampai dengan proses pembuatan sekat kanal. Dari hasil musyawarah tersebut didapatkan kesepakatan bahwa pembangunan 32 sekat kanal akan dilaksanakan oleh 16 kelompok masing-masing kelompok beranggotakan 4 orang dan mendapat tugas membangun 2 buah sekat kanal. Kegiatan pra pembangunan sekat kanal ini berlangsung selama tiga hari pada tanggal 8 s.d 10 November 2017 dan proses pembangunan sekat kanal dilaksanakan sejak tanggal 11 s.d 17 November 2017. Sebagian besar masyarakat Desa Sebangau Jaya merupakan nelayan yang kesehariannya beraktivitas di Sungai Sebangau Kecil, untuk itu pembangunan sekat kanal sebisa mungkin tidak mengganggu aktivitas masyarakat. Sekat kanal yang dibangun disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, desain sekat kanal akan berbeda pada kanal yang sudah tidak dimanfaatkan dan kanal yang masih dimanfaatkan oleh masyarakat. Sehingga meskipun kanal-kanal tempat nelayan mencari ikan disekat namun masih tetap memungkinan untuk akses keluar masuk kelotok. Keterlibatan masyarakat sangat penting dalam kegiatan restorasi ekosistem di TN Sebangau khususnya rewetting, selain dampak finansial yang dirasakan oleh masyarakat dampak lingkungan pun akan dirasakan manfaatnya untuk saat ini dan generasi mendatang. Selama proses pelaksanaan kegiatan, masyarakat mendapatkan penyadartahuan betapa pentingnya menjaga kelestarian kawasan TN Sebangau dan pada akhirnya diharapkan akan tumbuh rasa cinta dan ikut berperan aktif dalam pengelolaan kawasan sehingga turut serta dalam menjaga dari ancaman kebakaran maupun kegiatan illegal lainnya. Sumber : Susan & Yoko - BTN Sebangau dan Makmun WWF-Indonesia Kalteng
Baca Berita

Dikira Dodol Ternyata Si Mungil Amyda cartilagines

Bandung, 15 November 2017. Kabar terbaru datang dari Bandara Husein Sastranegara Bandung. Petugas pengawasan Tumbuhan dan Satwa Liar Balai Besar KSDA Jawa Barat (BBKSDA Jabar) Bandara dan petugas Stasiun Karantina Ikan Bandung dikejutkan dengan dengan paket kiriman yang ternyata berisi satwa. Kejadian bermula saat petugas bandara melakukan pemeriksaan paket dari jasa pengiriman JNE dengan menggunakan X Ray. Petugas yang melihat isi paket kiriman tersebut tidak sesuai dengan informasi yang tertera didalam resi pengiriman melakukan koordinasi dengan para pihak untuk membuka paket tersebut. Isi paket yang sedianya tertulis dodol ternyata saat dibuka ditemukan seekor labi-labi (Amyda cartilagines). Paket kiriman yang semula akan diterbangkan ke Medan Sumatra Utara saat ini disita oleh petugas. Walaupun satwa tersebut bukanlah satwa yang dilindungi, namun petugas tidak menemukan surat angkut tumbuhan dan satwa dalam negeri (SATS-DN) sebagai syarat resmi agar satwa dapat sampai ke tujuan secara legal. Labi – labi tersebut saat ini berada di stasiun karantina ikan bandung untuk dititip rawat dan akan digunakan untuk program edukasi dan sosialisasi. Kejadian ini menunjukan bahwa kolaborasi pengawasan peredaran tumbuhan dan satwa liar antara BBKSDA Jawa Barat dengan Balai Karantina telah terbangun dengan baik. Harapan kedepan informasi tumbuhan dan satwa liar dapat tersosialisasi dengan baik, bukan saja pada para exploitator tumbuhan dan satwa saja, namun pada masyarakat luas dari berbagai kalangan. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Terima Kasih untuk Keluarga Besar TNGGP

Cibodas, 15 November 2017. Rapat bulanan yang di ikuti para pejabat dan pegawai lingkup Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) dimulai pukul 09.00 WIB. Rapat dipimpin oleh Herry Subagiadi (Sekretaris Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem) selaku Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar TNGGP. Pada kesempatan ini, beliau memberi arahan secara umum tentang pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Acara dilanjutkan dengan presentasi dari masing – masing Pejabat Eselon III yang juga merangkap sebagai Pejabat Pembuat Komitmen lingkup BBTNGGP. Giliran pertama Kepala Bagian Tata Usaha (Yusak Mangetan) dilanjutkan paparan dari Kepala Bidang PTN Wilayah II Sukabumi (Syahrial Anuar), Kepala Bidang PTN Wilayah I Cianjur (V. Diah Qurani Kristina), Kepala Bidang PTN Wilayah III Bogor (Badi'ah) dan Kepala Bidang Teknis Konservasi (Mimi Murdiah) masing- masing menguraikan progress/ kemajuan pembangunan pengelolaan Taman Nasional di wilayah beserta dengan masalah dan solusinya. Hal yang menarik hasil dari Rapat Koordinasi bulanan ini, antara lain TNGGP perlu meningkatkan publikasi di KSDAE terutama infografis kegiatan sesuai tugas pokok dan fungsi yang diemban ; Pejabat fungsional tertentu PEH harus meningkatkan keahlian dan harus ada spesialisasi; Progres Role Model harus dilaporkan secara berkala ke Ditjen KSDAE; Perlu peningkatan kerjasama dengan mitra sehingga dapat bersinergi dalam pengelolaan taman nasional; Pelaksanaan restorasi penanaman pohon untuk untuk Green Belt disesuaikan dengan Juknis yang ada; Perlu dibuat rambu/ papan peringatan di tempat-tempat yang rawan kecelakaan dan bencana serta Tingkatkan tali silaturahmi diantara kita dan jaga soliditas korps rimbawan BBTNGGP Di sela – sela rapat koordinasi secara spontan pegawai BBTNGGP merayakan ulang tahun Sekditjen KSDAE dengan acara tiup lilin dan potong kue. "Terima kasih untuk keluarga besar TNGGP yang telah merayakan hari lahir saya. Semoga kita semua berbahagia di sini dan juga bahagia selalu bersama keluarga kita," ucap Beliau. Sumber: Latifa – Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango; Dok. Randi
Baca Berita

Mendorong Terwujudnya Desa Wisata Melalui Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Nibung Dan Desa Sebubus

Paloh, 15 November 2017. 5 Taman Wisata Alam (TWA) yang berlokasi di Kec. Paloh, Kab. Sambas tidak hanya identik sebagai kawasan peruntukan wisata tapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar TWA. Pemberdayaan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan tidak bisa diabaikan begitu saja, dengan memperhatikan aspek sosial, ekonomi, budaya serta aspek lainnya menjadikan masyarakat sekitar TWA menjadi lebih aktif dalam meningkatkan peran sertanya menjaga dan melestarikan kawasan konservasi tersebut. Upaya pelibatan masyarakat di sekitar kawasan dalam pengelolaan TWA menjadi kunci penting dalam menjaga dan melestarikan TWA. Memberikan ruang/akses kepada masyarakat untuk memanfaatkan kawasan secara lestari dalam rangka mendukung konservasi, tidak menjadikan TWA kehilangan fungsinya. Kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Sebubus dan Desa Nibung, Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas meliputi tiga kegiatan pokok yaitu pemberdayaan masyarakat, penataan ruang/wilayah berbasis konservasi dan pengembangan ekonomi pedesaan berbasis konservasi. Seperti disampaikan narasumber dalam kegiatan Penguatan Kelembagaan Kelompok, Petrus Erwin, S.Hut bahwa pemberdayaan masyarakat yang paling berprospek untuk dikembangkan di Kec. Paloh adalah wisata bahari/wisata tirta, wisata pantai, wisata hutan mangrove, pengamatan aktivitas penyu, wisata agro dan wisata sejarah. Diharapkan dengan adanya kolaborasi semua pihak dapat mendorong mewujudkan desa di Kec. Paloh sebagai Desa Wisata. Pada kesempatan yang sama dalam sambutannya, Kepala Balai KSDA Kalbar Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut, MT mengatakan, Balai KSDA Kalbar selaku management authority kawasan konservasi di Kalimantan Barat telah menyusun rencana pengelolaan 10 tahun kedepan bagi semua TWA di Kab. Sambas, hal tersebut membuka peluang kolaborasi pengelolaan yang berbasis masyarakat. Mewujudkan visi dan misi dalam pengelolaan TWA lebih mudah diwujudkan ketika ada komitmen semua pihak. (YS) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Kampanye Pelestarian Satwa Liar BKSDA Sulawesi Tenggara

Kendari, 15 November 2017. Balai KSDA Sulawesi Tenggara mengadakan kegiatan Kampanye Pelestarian Satwa Liar Yang di Lindungi Lingkup Balai KSDA Sulawesi Tenggara. Kegiatan kampanye ini dilaksanakan pada tanggal 13 s/d 15 November 2017 bertempat di hotel Plaza Inn Kendari. Kegiatan ini di maksudkan untuk mengajak masyarakat ikut berpartisipasi dalam menjaga, melindungi dan melestarikan satwa liar yang dilindungi yang ada di provinsi Sulawesi Tenggara khususnya yang berada di kawasan konservasi. Kepala Balai KSDA Sulawesi Tenggara yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Ibu Ir. Anis Suratin) dalam sambutannya mengatakan bahwa pemerintah dan masyarakat harus bersinergi / bersama-sama dalam menjaga dan melestarikan satwa liar yang dilindungi karena satwa-satwa tersebut adalah salah satu keanekaragaman hayati yang dimiliki bangsa indonesia dan merupakan tanggung jawab dan kewajiban pemerintah serta masyarakat dalam menjaga, melindungi dan melestarikannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Peserta kegiatan kampanye ini berasal dari masyarakat sekitar kawasan konservasi, Kader Konservasi (KK) dan Kelompok Pencinta Alam (KPA) sebanyak 30 Orang. Para peserta sangat antusias dan mengapresiasi kegiatan Kampanye ini. Adapun saran / masukan dari peserta diantaranya yaitu sebaiknya Balai KSDA Sulawesi Tenggara memiliki suatu unit khusus semacam cyber crime untuk memantau kejahatan dengan menggunakan internet, medsos dan lain lain yang berhubungan dengan peredaran dan perdagangan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL). Pada kesempatan ini pula para peserta kampanye menyatakan “siap” bersama-sama dengan pemerintah (BKSDA Sulawesi Tenggara) untuk menjaga, melindungi dan melestarikan satwa liar yang dilindungi yang ada di provinsi Sulawesi Tenggara. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tenggara

Menampilkan 9.425–9.440 dari 11.141 publikasi