Selasa, 2 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Kepulauan Selayar jadi Tuan Rumah Pertemuan Nasional Jaringan Cagar Biosfer Indonesia

Benteng - Kepulauan Selayar, 19 November 2017. Cagar biosfer merupakan konsep pengelolaan kawasan untuk tujuan mengharmonisasikan konservasi baik ekosistem daratan atau pesisir dengan pembangunan ekonomi berlandaskan hasil-hasil riset sehubungan dengan pemanfaatan sumberdaya alam termasuk kekayaan kultural yang diakui oleh program MAB UNESCO untuk mempromosikan keseimbangan antara manusia dan alam. Penerapan konsep cagar biosfer diharapkan dapat menyelaraskan konservasi keanekaragaman hayati dalam pembangunan berkelanjutan guna mewujudkan keseimbangan hubungan antara manusia dan alam. ‌ Di Indonesia sendiri sudah tercatat 11 cagar biosfer yg diakui oleh UNESCO yaitu cagar biosfer Cibodas (diakui tahun 1977), Pulau Komodo (1977), Lore Lindu (1977), Tanjung Puting (1977), Gunung Leuser (1981), Siberut (1981), Giam Siak Kecil-Pulau Batu (1981), Wakatobi (2012), Bromo-Semeru-Tengger-Arjuno (2015) Taka Bonerate-Kepulauan Selayar (2015) dan Blambangan (2016). ‌ Area Cagar Biosfer Taka Bonerate-Kepulauan Selayar meliputi seluruh Kepulauan Selayar dengan luas kurang lebih 4 juta hektar dengan Taman Nasional Taka Bonerate sebagai area intinya. ‌Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan Workshop Nasional Pengelolaan Cagar Biosfer Indonesia tahun 2017 yang dilaksanakan selama 2 (dua) hari mulai tgl 18-19 Nopember 2017. ‌ Acara tersebut bertempat di Hotel Rayhan Grand Royal Room Benteng, Sekretaris Daerah Kepulauan Selayar, Marjani Sultan membacakan sambutan Bupati Kepualuan Selayar, menyampaikan bahwa untuk memantapkan integrasi dan implementasi konsep pengelolaan Cagar Biosfer, kami mendukung upaya mensosialisasikan kebijakan dan strategi global, sharing informasi dan pengalaman serta memantapkan partisipasi para pihak dalam pengelolaan Cagar Biosfer. Selain itu juga diharapkan ada sebuah hasil pemikiran, sumbang saran dan komitmen bersama untuk terus mewujudkan pengelolaan Cagar Biosfer, khususnya Cagar Biosfer Taka Bonerate Kepulauan Selayar, guna kepentingan kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Workshop nasional ini dibuka langsung oleh Dirjen KSDAE Kementerian LHK, Wiratno dan dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam pengelolaan kawasan konservasi tanpa dukungan pemerintah daerah itu tak mungkin berhasil, begitu pun tanpa dukungan sains dan budaya setempat. Diakhir sambutan, tak lupa beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Kepulauan Selayar atas dukungan penuhnya terhadap pengelolaan TN. Taka Bonerate. Hadir dalam kegiatan ini adalah Deputi Keanekaragaman Hayati LIPI Prof. Dr. Enny Sudarmonowati, para mitra (WCS-Indonesia, RARE Indonesia, WWF-ID), para satker Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan se-Sulawesi Selatan, para anggota forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kab. Kepulauan Selayar, para kepala desa se-kawasan Taka Bonerate serta ketua forum pengelolaan Cagar Biosfer Taka Bonerate-Kepulauan Selayar. Dan menjadi narasumber dalam workshop adalah Direktur Eksekutif Program MAB UNESCO Indonesia Prof. Dr. Y. Purwanto, Direktur Kawasan Konservasi, Ditjen KSDAE, Kementerian LHK Ir. Suyatno Sukandar, M.Sc, Tenaga Ahli Menteri Bidang Marine Ecosystem dan Kelautan Drs. Rusdi Ridwan, Kepala Bapelitbangda selaku Ketua Forum Pengelolaan Cagar Biosfer Taka Bonerate-Kepulauan Selayar Drs. H. Baso Lewa dan Prof. Dr. Amran Saru dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UNHAS. Selain itu dilaksanakan pula Launching Buku Pedoman Pengelolaan Cagar Biosfer Indonesia. Dan juga penyerahan official copy Piagam Cagar Biosfer dari Ketua Komite Nasional Program MAB UNESCO Indonesia kepada perwakilan masing-masing pengelola Cagar Biosfer, penyerahan secara simbolis bantuan peralatan selam kepada perwakilan kelompok masyarakat binaan Balai Taman Nasional Taka Bonerate dan penandatanganan perjanjian kerjasama dengan masyarakat oleh kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate dan Ketua Kelompok Masyarakat Forum Peduli Laut Rajuni – Latondu. Selain kegiatan Workshop yang dilaksanakan di Kota Benteng, peserta juga di ajak melakukan Fieldtrip ke Pulau Tinabo. Pulau Tinabo yang terkenal dengan baby sharknya adalah salah satu destinasi wisata unggulan di Taman Nasional Taka Bonerate. Di sekitar Pulau Tinabo terdapat beberapa titik penyelaman yang merupakan “surga” bagi para penyelam. Dengan terlaksananya kegiatan pertemuan ini Kab. Kepulauan Selayar bisa semakin dikenal dan tentu saja bisa meningkatkan kesadaran masyarakat akan kepedulian terhadap lingkungan. Sumber : Asri - Balai TN Takabonerate
Baca Berita

Kang Emil Bersama Kepala BBKSDA Jabar Lepasliarkan 40 Burung Jalak Kerbau di KBB

Bandung, 18 November 2017. Sebanyak 40 (empat puluh) ekor burung jalak kerbau dilepasliarkan pada hari Sabtu, 18 November 2017 di Kebun Binatang Bandung. Keempat puluh ekor burung dengan nama ilmiah Acridhoteres javanicus tersebut merupakan hasil penangkaran Kebun Binatang Bandung yang sengaja dilepasliarkan di area Kebun Binatang Bandung karena area tersebut dianggap masih memiliki lingkungan yang sesuai untuk menunjang kehidupan jalak kerbau serta ditunjang oleh sistem pengamanan dan sumber daya manusia yang baik. Walikota Bandung, Ridwan Kamil, didampingi oleh Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Sustyo Iriyono, Kasubdit Pemanfaatan Jenis Direktorat Konservasi Keanekaragaraman Hayati, Nunu Anugrah, serta Ketua Yayasan Margasatwa Tamansari, Tony Sumampau, secara bersama-sama melepasliarkan jenis burung berkicau tersebut ditandai dengan dibukanya pintu kandang sehingga burung-burung tersebut dapat terbang menikmati kebebasannya. Dalam sambutannya, Tony Sumampau menyatakan bahwa pelepasliaran burung jalak kerbau tersebut merupakan salah satu upaya untuk melestarikan burung berkicau di Indonesia dan menjadi bagian dalam kampanye pelestarian burung berkicau internasional “Silent Forest”. Sementara Sustyo Iriyono sangat mengapresiasi upaya yang telah dilakukan oleh Manajemen Kebun Binatang Bandung beserta pihak lainnya sehingga Kebun Binatang Bandung saat ini sudah tampil lebih baik, dari sisi manajemen maupun dari sisi animal walfare. Sedangkan Ridwan Kamil selaku Walikota Bandung menyatakan tidak ragu-ragu untuk mempromosikan Kebun Binatang Bandung, apalagi jika pelayanan terhadap pengunjung maupun animal welfare lebih ditingkatkan. Pada kesempatan tersebut, Ridwan Kamil dan Sustyo Iriyono juga didaulat untuk memberikan nama kepada penghuni baru Kebun Binatang Bandung, yaitu seekor anak orangutan dan seekor anak tapir. Ridwan Kamil menamai bayi orangutan tersebut Cinta Lestari. Nama tersebut dipilih untuk mengajak manusia agar senantiasa mencintai alamnya sehingga tumbuhan dan satwa liar yang ada di dalamnya akan tetap lestari. Sementara anak tapir dinamai Hegar oleh Sustyo Iriyono yang berarti ceria, dengan harapan agar anak tapir tersebut senantiasa sehat dan ceria selama berada di Kebun Binatang Bandung. Acara kemudian ditutup dengan peresmian kandang gajah yang baru oleh Ridwan Kamil. Pada acara peresmian tersebut, tampak seekor gajah bernama Ira menikmati kandang barunya. Pengunjung pun melihat momen tersebut dengan antusias karena gajah tersebut kerap memperlihatkan tingkahnya yang lucu. Peresmian kandang baru ini juga sekaligus sebagai penanda bahwa Manajemen Kebun Binatang Bandung sudah benar-benar berbenah, terutama dalam memenuhi animal welfare dari satwa penghuninya. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Balai TN Bantimurung Bulusaraung Kembali Melatih 30 Pemandu Wisata

Makassar, 17 November 2017. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menggelar peningkatan kapasitas bagi pemandu wisata yang berasal dari 7 site wisata unggulan. Pelatihan ini berlangsung di Grand Palace Hotel Makassar mulai 17 November 2017 sampai dengan 19 November 2017. Tujuh site wisata unggulan taman nasional ini diantaranya Kawasan Wisata Bantimurung, Kawasan Wisata Leang-leang, Kawasan Wisata Pattunuang, Site Pengamatan Satwa Karaenta, dan Kawasan Wisata Leang Pute yang berada di wilayah Maros. 2 kawasan wisata lainnya berada di Pangkep diantaranya Kawasan Wisata Leang Lonrong dan Kawasan Wisata Pendakian Gunung Bulusaraung. Pada peningkatan kapasitas ini secara resmi dibuka oleh Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Beberapa mitra taman nasional hadir pada pembukaan tersebut diantaranya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maros, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangkep, dan Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar. Pejabat eselon empat lingkup Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga turut hadir. Ketiga mitra tersebut juga menjadi narasumber pada peningkatan kapasitas pemandu wisata alam. Kolaborasi beberapa narasumber ini memperkaya pengetahuan para pemandu wisata. Peserta yang hadir berasal dari masyarakat yang bermukim di sekitar 7 kawasan wisata unggulan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Peserta yang hadir telah menggeluti profesi sebagai pemandu wisata. Mereka telah dibentuk sebagai pemandu wisata pada tahun sebelumnya melalui surat keputusan yang dikeluarkan oleh kepala balai taman nasional ini. Setelah sebelumnya mereka dilatih menjadi pemandu wisata. Tak kurang dari 30 orang pemandu wisata ikut pada peningkatan kapasitas ini. Peningkatan kapasitas pemandu ini adalah wujub pembinaan taman nasional kepada pemandu wisata. Pada pembukaan, peserta juga diberikan kartu pengenal pemandu wisata. Hal ini bertujuan untuk memudahkan wisatawan mengenal pemandu saat sedang bertugas. “Pemandu tidak hanya mampu mengantar tamu menuju objek, namun harus mampu berperan sebagai interpreter. Mampu menjelaskan seluk beluk dari suatu objek,” tutur Sahdin Zunaidi, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di sela-sela sambutannya. Pada akhir acara pembukaan dirangkaian dengan penyerahan hadiah kepada pemenang lomba dalam rangka Jelajah Seven Wonder yang telah dilaksanakan beberapa minggu sebelumnnya. Ada 3 kategori yang dilombakan diantaranya lomba fotography, lomba videography dan lomba jurnalistik. Para pemenang mendapatkan piala dan sejumlah uang tunai. Hari kedua dan ketiga peserta peningkatan kapasitas pemandu wisata ini akan dibekali ilmu pemanduan yang akan disampaikan langsung oleh Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Sulawesi Selatan, Suhardi. Selain teori mereka juga akan melakukan praktek pemanduan di Benteng Rotterdam Makassar. Semoga dengan bertambahnya ilmu pemanduan yang dimiliki pemandu wisata ini akan memberikan pelayanan yang memuaskan bagi para wisatawan nantinya. Sumber : Taufiq Ismail – Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Balai KSDA Aceh Lepasliarkan 2 Ekor Elang

Aceh Besar, 18 November 2017. Balai KSDA Aceh pada hari Sabtu, 18 November 2017, melepasliarkan seekor elang brontok (Nisaetus cirrhatus) dan seekor elang laut dada putih (Haliaeetus leucogaster). Elang laut dada putih berjenis kelamin betina yang diamankan dari seorang warga Meureubo, Aceh Barat pada 29 Oktober 2017 itu, dilepasliarkan di hutan lindung Aceh Besar (detil lokasi tidak disebutkan agar tidak kembali diburu). Elang ini telah dirawat dan dilatih selama hampir sebulan oleh drh. Taing Lubis, dokter hewan Balai KSDA Aceh untuk memulihkan kesehatannya dan melatih lagi keliarannya. Sedangkan elang brontok yang diamankan dari warga Subulussalam pada 15 September 2017, dirawat cukup lama karena kaki kirinya waktu diterima dokter hewan Balai KSDA Aceh dalam kondisi lumpuh karena patah tulang kaki di dekat engsel lututnya. Elang ini bahkan pernah harus diperban berminggu-minggu agar tulangnya bisa menyambung kembali. Elang brontok dilepasliarkan di hutan lindung Aceh Besar yang dibantu pengelolaannya oleh LSM Lamjabat, untuk memudahkan pengawasannya. Kedepannya Balai KSDA Aceh akan terus memonitor perkembangan 2 elang yang dilepasliarkan tersebut. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Dirjen KSDAE Kunjungi Kampung Penyu

Kampung Penyu - Kepulauan Selayar, 18 November 2017. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan Workshop Nasional Pengelolaan Cagar Biosfer Indonesia tahun 2017 selama 2 (dua) hari mulai tgl 18-19 Nopember 2017. Usai pembukaan para tamu diajak mengunjungi kawasan pelestarian Kampung Penyu. Seperti diketahui bahwa Kampung Penyu merupakan kawasan konservasi yang menjadi salah satu tujuan wisata unggulan di Kabupaten Kepulauan Selayar. Kunjungan tersebut didampingi langsung oleh Kepala balai Taman Nasional Taka Bonerate Ir. Jusman, Wakapolres Kepulauan Selayar Syamsuddin Palulu dan Saiful Arif. Adapun tamu yang hadir dalam kunjungan tersebut adalah Ketua Komite Nasional Program MAB UNESCO Indonesia Enny Sudarmonowati, Kepala Balai Besar KSDA Sul-Sel Dody Wahyu, Kepala Balai Wakatobi Heri, Kabid Wilayah I Balai Besar KSDA Sul-Sel Faat Rudiyanto serta ibu-ibu Dharma Wanita Satker Kementerian LHK. Di sana Pak Datu selaku koordinator pengelola mendampingi para undangan untuk merilis 12 ekor tukik jenis Lekang. Sebelum meninggalkan lokasi kunjungan, Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno menyampaikan kekaguman pada pengelola. Beliau mengatakan Pengelola Kampung Penyu Hatinya Bersih. Sumber : Asri - Balai TN Takabonerate
Baca Berita

Konsultasi Publik Masterplan Wisata Alam Kawasan Hutan Manupeu Tanahdaru TN Matalawa

Waingapu, 17 November 2017. Kunjungan wisata dikawasan Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) mengalami tren kenaikan jumlah pengunjungnya dari tahun ke tahun. Pada akhir tahun 2016 tercatat kunjungan wisatawan nusantara berjumlah 2.323 orang, sedangkan wisatawan mancanegara berjumlah 823 orang. Sedangkan kunjungan wisata hingga semester pertama tahun 2017 ini, jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung 1.824 orang dan wisatawan mancanegara 168 orang. Dari angka tersebut, TN Matalawa telah melebihi target kunjungan wisata yang diharapkan Kementerian LHK sebesar 480 pengunjung selama periode waktu tahun 2017. Selain upaya promosi dan publikasi yang gencar dilakukan pihak pengelola kawasan TN Matalawa, langkah strategis yang dilakukan pengelola TN Matalawa dengan menyusun Masterplan wisata alam. Bersama-sama dengan tim konsultan wisata alam (PT. Sari), TN Matalawa telah menyusun rancangan Masterplan Wisata Alam kawasan hutan Manupeu Tanahdaru. Tujuan dari penyusunan Masterplan ini adalah sebagai pedoman bagi pihak pengelola kawasan dalam upaya pengembangan wisata alam khususnya di kawasan hutan Manupeu Tanahdaru TN Matalawa. Seperti yang diungkapkan Abdul Basit N, S.Hut.,M.Si (Kepala SPTN I Waibakul) dalam acara Konsultasi Publik Masterplan Wisata Alam Kawasan Hutan Manupeu Tanahdaru. Lebih lanjut beliau menyampaikan, Konsultasi publik yang dilaksanakan di Hotel Aloha – Sumba Barat, pada tanggal 16 November 2017. Merupakan upaya tindak lanjut atas tersusunnya rancangan Masterplan Wisata Alam, sekaligus menyerap aspirasi/masukan terkait penyusunan masterplan Wisata alam kawasan hutan Manupeu Tanahdaru. Kegiatan ini diikuti 35 Orang Peserta yang merupakan perwakilan dari Instansi Pemerintah, Pemerintah Desa, Kelompok Masyarakat, penggiat wisata dan Burung Indonesia (NGO). Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut Terdapat 2 (dua) materi/informasi yang disampaikan, pemaparan pertama disampaikan oleh Abdul Basit N, SHut. MSc, terkait rencana induk kepariwisataan nasional, bahwa kawasan Waikabubak - Manupeu Tanahdaru dan sekitarnya termasuk kedalam kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) dari 88 lokasi KSPN di Indonesia (PP Nomor 50 th 2011). Serta Rencana induk pariwisata daerah khusus kabupaten Sumba barat (perda no 13 thn 2015), untuk tingkat daerah. Sedangkan materi kedua terkait Rancangan Masterplan Wisata Alam Kawasan Hutan Manupeu Tanahdaru disampaikan oleh Ir. Suwartono (Konsultan Pariwisata), beliau menjelaskan bahwa dalam perkembangan wisata saat ini. Khususnya perkembangan wisata alam, Sumba dan kawasan hutan Manupeu Tanahdaru memiliki potensi yang luar biasa dan sangat prospektif untuk dikembangkan. Kawasan Manupeu Tanahdaru memiliki potensi keanekaragaman hayati, bentang alam dan nilai budaya yang sangat tinggi, sehingga dalam rancangan masterplan tersebut tim konsultan membagi kedalam 7 cluster dengan masing-masing karakteristik tersendiri. Dan beliau juga mengingatkan bahwa tata kelola wisata alam yang baik adalah dengan melibatkan para pihak mulai dari aspek perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi. Sehingga unsur kolaboratif atau mengelola secara bersama-sama kawasan konservasi dapat terwujud, dan masyarakat dapat merasakan langsung keberadaan hutan dan manfaat yang dihasilkan. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Balai Taman Nasional Taka Bonerate Promosi Hingga Bandara

Benteng-Kep. Selayar, 17 November 2017. Untuk meningkatkan promosi dan pelayanan bagi calon wisatawan yang akan berkunjung ke Taman Nasional Taka Bonerate, Kepulauan Selayar. Pihak Balai Taman Nasional Taka Bonerate memasang video promosi di billboard Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Sebelumnya Balai Taman Nasional Taka Bonerate telah memasang beberapa gambar iklan wisata yang dipasang di pintu 1 (satu) keberangkatan dan ditempat pengambilan bagasi. "Ini dalam rangka peningkatan dan penyebaran promosi Wisata Taka Bonerate bagi para wisatawan yang datang berkunjung ke Sulawesi Selatan" Ucap Jusman selaku Kepala Balai TN. Taka Bonerate yang ditemui diruang kerjanya. Video promosi ini dipasang di videotron didekat pintu masuk pengambilan bagasi maskapai Lion Group Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Dengan meluasnya informasi wisata bahari unggulan Sulawesi Selatan ini yang juga merupakan atol ketiga terbesar dunia dan Cagar Biosfer ke 10 di Indonesia, bisa semakin dikenal dan menjadi kebanggaan masyarakat Kepulauan Selayar pada khususnya. Sumber : Asri - Balai TN Takabonerate
Baca Berita

Kerjasama Multipihak dengan Balai Taman Nasional Gunung Merapi Untuk Kelestarian Air

Sleman, 17 November 2017. Resort Cangkringan Blok Plunyon, Taman Nasional Gunung Merapi pada hari ini 17 November 2017 diadakan puncak acara penanaman 1.000 bibit pohon di sekitar lokasi mata air Umbul Temanten dalam rangka kegiatan melestarikan lingkungan dan sumber air. Kegiatan ini diprakarsai oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sleman dalam program Corporate Social Responsibility (CSR)-nya melalui kerjasama dengan pihak Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Daerah Istimewa Yogyakarta (FK-DAS DIY), dan Kecamatan Umbulharjo. Acara ini dilatarbelakangi oleh perlunya menjamin kelestarian sumber air dari Merapi bagi hajat hidup orang banyak sehingga PDAM Sleman selaku pihak yang memanfaatkan air dari Merapi merasa ada kewajiban moral untuk turut serta melestarikan sumber air tersebut. Puncak acara ini dihadiri dan disambut oleh Bupati Sleman, DrsH. Sri Purnomo, M.Si. Turut hadir pada acara tersebut antara lain TNGM, PDAM Sleman, FK DAS DIY, kemudian segenap peserta undangan dari Muspida Sleman, Muspika Umbulharjo, Danramil Sleman, Polres Sleman, para wartawan dari berbagai media massa digital dan cetak. Lokasi penamannya terletak di tiga lokasi dengan luas total 3,45 hektar dengan rincian: Plunyon seluas 0,25 hektar, Blok Watu Kemloso seluas 1,2 hektar, dan areal Kalikuning seluas 2 hektar yang semuanya berada di dalam kawasan TNGM. Penanam bibit di lapangan melibatkan para anggota Kelompok Tani Hutan binaan TNGM. Jenis bibitnya adalah jenis-jenis asli Gunung Merapi seperti Puspa (Schima wallichi), Salam (Syzygium polyanthum), dan Rasamala (Altingia excelsa) dengan jarak tanam 3x4 m2 hingga 4x4 m2. Penanaman bibit-bibit pohon kali ini diikuti pemeliharaannya sehingga harapannya sumber air di Merapi semakin lestari. Sumber : Balai TN Gunung Merapi
Baca Berita

Monitoring Burung Migran di Kawasan Ekosistem Esensial Pantai Cemara

Tanjung Jabung Timur, 17 November 2017. Balai KSDA Jambi melakukan kegiatan monitoring burung migran di kawasan ekosistem esensial Pantai Cemara di Desa Sungai Cemara Kecamatan Sadu Kabupaten Tanjung Jabung Timur pada tanggal 7 sampai dengan 11 Nopember 2017. Kawasan Ekosistem Esensial Pantai Cemara merupakan salah satu tujuan migrasi burung pantai di Indonesia. Kawasan ini memiliki keunikan, yakni gabungan habitat antara hutan rawa gambut dan rawa air tawar. Kondisi ini menyebabkan KEE Pantai Cemara memiliki keanekaragaman jenis satwa, khususnya burung, yang tinggi. Pemerintah Daerah Provinsi Jambi telah mendukung upaya pelestarian kawasan ini dengan mengeluarkan Keputusan Gubernur Jambi Nomor 425 tahun 1996 tentang Penetapan Kawasan Pantai Cemara sebagai Kawasan Perlindungan Burung Air, Burung Pantai dan Daerah Persinggahan Burung-burung Migran. Selanjutnya dalam rangka pengelolaan Kawasan Eksoistem Esensial Pantai Cemara, pemerintah daerah Kabupaten Tanjung Jabung Timur telah mengeluarkan Keputusan Bupati Tanjung Jabung Timur Nomor 504 tahun 2013 tentang Pembentukan Forum Kolaborasi Pengelolaan Ekosistem Esensial Pantai Cemara Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Forum ini menjadi wadah para pihak diantaranya; instansi pemerintah, LSM, Perguruan Tinggi, dan TNI/POLRI, dalam pengelolaan kawasan ekosistem esensial pantai cemara. BKSDA Jambi, dalam hal ini Seksi Konservasi Wilayah III melakukan monitoring burung migran di KEE Pantai Cemara bertujuan untuk mengetahui perkembangan jenis-jenis burung migran dan mengetahui kondisi terkini habitat burung migran di kawasan ini. Berdasarkan hasil pengamatan, burung migran yang dijumpai di kawasan ini diantaranya; Cerek besar (Pluvialis squatarola), Cerek kernyut (Pluvialis fulva), Cerek Pasir Mongolia (Charadrius mongolusi), Gajahan pengala (Numenius phaeopus), Trinil kaki merah (Tringa tetanus), Trinil pantai (Actitis hypoleucos), dan Trinil lumpur Asia (Limnodromus semipalmatus). Sementara itu, kondisi habitat di KEE Pantai Cemara masih tergolong baik dengan vegetasi berupa mangrove dan cemara. Bahkan terjadi penambahan vegetasi cemara di bibir pantai dengan kondisi yang juga beragam dan baik. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Lagi, Buaya Muara (Crococdylus porosus) Dilepaskan di Taman Nasional Kutai

Bontang, 16 November 2017. Sekitar pukul 17.30 WITA, seekor buaya muara (Crococdylus porosus) kembali diserahkan oleh warga ke Kantor Balai Taman Nasional Kutai. Keberadaan buaya awalnya dilihat oleh seorang peternak sapi yang sedang mencari rumput untuk pakan sapinya. Dibantu oleh masyarakat sekitar, akhirnya buaya berhasil ditangkap dan langsung diserahkan ke pusat kesehatan hewan (PUSKESWAN) kota Bontang. Melihat kondisi buaya dalam keadaan sehat, Drh. Saiful Islam salah seorang dokter hewan yang berada Pusat Kesehatan Hewan kota Bontang menyerahkan buaya yang berukuran 1,9 meter tersebut kepada Balai Taman Nasional Kutai. Oleh staf Balai TN Kutai, pada hari ini Jumat, 17 November 2017 melepaskan buaya muara tersebut dilepaskan kembali ke alam. Buaya dilepaskan di Blok Hutan Teluk Kaba SPTN Wilayah I Sangatta Taman Nasional Kutai. Semoga buaya yang dilepaskan dapat kembali hidup bebas di alam dan tidak mengganggu masyarakat lagi.#TNKUTAI Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

BKSDA Yogya Sambut Gembira Langkah Percepatan Kerjasama Penyelenggaraan Pembangunan KSA dan KPA

Yogyakarta, 17 November 2017. Selama dua hari dari tanggal 16-17 November, Balai KSDA Yogyakarta turut serta dalam pelaksanaan kegiatan Supervisi Kerjasama Penyelenggaraan KSA dan KPA dalam rangka Pembangunan Strategis Penguatan Fungsi. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (PIKA) bertempat di Hotel Grand Zuri Malioboro Yogyakarta. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka percepatan proses kerjasama penyelenggaraan KSA dan KPA dengan fokus kerjasama penguatan fungsi dan pembangunan strategis yang tidak dapat dielakkan. Acara dibuka oleh Kasubdit Pemanfaatan Kawasan Strategi, Direktorat PIKAIr. Emy Endah Suwarni, M.Sc mewakili Direktur PIKA, dan narasumber : Ir. Arief Machmud, MM (Kepala BBTN Betung Kerihun dan Danau Sentarum); Ir. Sri Hendarti RP (Kasubdit Bina Daerah Penyangga dan Zona Pemanfaatan Tradisional); Djudjuk Wiyono, S.Hut, M.Si (mewakili Subdit Pemanfaatan Kawasan Strategi); dan BS. Djati, S.Hut, ME, MPP (Kepala Seksi Kerjasama Keteknikan Bagian HKT). Sebagai moderator acara ini adalah Ir. Sunandar T (Kepala Balai KSDA Kaltim). Dalam rangkaian kegiatan ini juga dilakukan supervisi penyusunan dan pembahasan draft naskah Perjanjian Kerjasama (PKS), serta penyampaian progress dan permohonan pembahasan rencana kerjasama. Kegiatan ini cukup penting bagi BKSDA Yogyakarta mengingat di dalam kawasan konservasinya yang memiliki luasan kecil tetapi banyak terdapat PKS dengan pihak lain. Hal tersebut disebabkan banyak pihak telah beraktivitas di kawasan konservasi lingkup Balai KSDA jauh sebelum kawasan ditetapkan. Di Wilayah kerja seksi konservasi wilayah 1 Sleman - Kulonprogo terdapat PKS antara Balai KSDA Yogyakarta dengan 9 SKPD. Sedangkan di wilayah kerja seksi konservasi wilayah II Bantul - Gunungkidul terdapat 3 PKS terkait pengelolaan KSA dan KPA dengan para pihak terkait. Harapannya proses perjanjian kerjasama tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Sumber : Maulida P. Ikhtiari - BKSDA Yogyakarta
Baca Berita

Dirjen KSDAE Buka Festival Desa Penyangga di Balai TN Batang Gadis

Panyabungan, 15 November 2017, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Ir. Wiratno, M.Sc, menghadiri sekaligus membuka secara resmi Festival Desa Penyangga Tahun 2017. Festival yang diselenggarakan dari tanggal 15 sampai dengan 16 november 2017 tersebut bertempat di Taman Raja Batu Panyambungan, Mandailing Natal. Festival yang diselenggarakan oleh Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) ini dihadiri oleh Wakil Bupati Mandailing Natal, Sekretaris Daerah, Camat Puncak Sorik Merapi, Camat Tambangan, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara dan beberapa Mitra terkait. Dalam sambutannya Dirjen KSDAE menyampaikan "Hutan adalah titipan anak cucu kita yang belum lahir. Tugas kita bersama adalah menjaga agar hutan itu utuh, dan bermanfaat bagi kesejahteraan kita bersama" ungkapnya. Keesokan harinya Dirjen KSDAE didampingi Kepala Balai TNBG, Dra. Etti Nurwanti, M.Si bersama Pemda setempat mengunjungi Desa Pastap Julu, kunjungan ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Festival Desa Penyangga Tahun 2017. "TNBG Untuk Kehidupan, Bagi Masyarakat, Dan Demi Masa Depan Mandailing" adalah tema yang diambil dalam kegiatan Festival tersebut. Pada kesempatan tersebut Dirjen KSDAE menyempatkan diri untuk berdiskusi bersama masyarakat Desa setempat yang disambut dengan sangat antusias.
Baca Berita

Mensesneg Bersama Dirjen KSDAE Luncurkan KHDTK Getas Ngandong

Kamis (17/11/17). Bertempat di Joglo inovasi Mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM. Menteri Sekretaris Negara, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., didampingi Dirjen KSDAE "Wiratno' meluncurkan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Getas-Ngandong sebagai area pengembangan pendidikan dan pelatihan dalam pengelolaan hutan bagi sivitas akademika UGM. Peluncuran KHDTK Getas Ngandon tersebut masih dalam rangkaian peringatan Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM ke 54 yang dilaksanakan pada tanggal 16 November 2017. Kegiatan diawali dengan penanaman pohon Nagasari (Mesua ferrea) di taman tengah Fakultas Kehutanan UGM oleh Mensesneg dan Direktur Jenderal KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc. Dilanjutkan dengan penayangan film aktitas Hutan Pendidikan UGM Getas- Ngandong. Peluncuran ditandai dengan penandatanganan Komitmen Bersama Penyelamatan Ekosistem Pulau Jawa Melalui Implementasi Kehutanan Sosial di Hutan Pendidikan UGM Getas-Ngandong oleh Mensesneg, Direktur Jenderal KSDAE, Wakil Rektor Bidang Pendidkan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan UGM, Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Kepala Desa dan Lembaga Masyarakat Desa (LMHD) di sekitar kawasan hutan Getas-Ngandong. Mensesneg dalam kesempatan itu menyampaikan pesan Presiden, Joko Widodo berharap pengelolaan kawasan hutan Getas-Ngandong bukan hanya sebatas pada konservasi dan pendidikan saja, namun diharapkan dapat menjawab berbagai permasalahan kemiskinan, pengangguran, serta ketimpangan. Pratikno menyampaikan "Kawasan hutan Getas-Ngandong diharapkan mampu menjadi laboratorium dari hulu ke hilir. Ini menjadi tantangan yang berat bagi UGM dalam mengelola hutan Getas-Ngandong ke depan sehingga harus bisa terus berinovasi.”
Baca Berita

Kunjungan Jurnalistik Biro Humas Kementerian LHK di Taman Nasional Gunung Ciremai

Kuningan, 17 November 2017. Untuk kesekian kalinya Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) kedatangan tamu dari berbagai instansi dan lembaga yang ingin mengetahui dan belajar bagaimana implementasi pengelolaan kawasan taman nasional yang berbasis masyarakat. Berbagai kunjungan tersebut pastinya memiliki dampak positif bagi pihak yang mengunjungi dan pihak yang dikunjungi. Bagi BTNGC kunjungan dari berbagai instansi dan lembaga tersebut diharapkan mampu mempublikasikan pengelolaan kawasan taman nasional yang berbasis masyarakat dan tentunya juga untuk mendongkrak popularitas ODTWA (obyek daya tarik wisata alam) sebagai destinasi wisata TNGC ditingkat regional, nasional dan internasional. Kali ini yang datang adalah Biro Hubungan Masyarakat (Humas) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang membawa rombongan jurnalis yang terdiri dari Radio Elshinta, Harian Suara Pembaruan, Harian Republika, Harian Media Indonesia, Harian Rakyat Merdeka, Jakarta Forum, Okezone, TVRI dan Tempo. Tak lupa pers lokal pun turut hadir seperti Pikiran Rakyat dan Radar Cirebon. Pers sengaja diajak oleh Biro Humas untuk memdokumentasikan pencapaian hasil kinerja pengelolaan kawasan TNGC yang mengikutsertakan masyarakat sebagai elemen utama dalam pengelolaannya. Saat ini model pengelolaan taman nasional yang diterapkan oleh BTNGC mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari berbagai kalangan. Hal tersebut membuat BTNGC menjadi buah bibir dan primadona sebagai model ideal pengelolaan taman nasional sehingga berdampak pada banjirnya studi banding ke kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Di hari pertama rombongan Biro Humas dan Pers diberikan informasi profil singkat sejarah sukses BTNGC dalam pengelolaan taman nasional. Selain mengikutsertakan masyarakat sekitar kawasan, BTNGC juga merangkul LSM, Pemda dan stakeholder lainnya untuk berkolaborasi dalam pengelolaan kawasan sehingga mampu menghasilkan kondisi seperti sekarang. Dalam perjalanan sejarahnya, BTNGC perlu waktu 10 tahun lebih untuk memupuk kekuatan stakeholders. Pasang surut, riak-riak dan penolakan mewarnai sejarah kelam pada awal terbentuknya TNGC. Namun kegigihan dan tekad BTNGC telah bulat untuk mencapai tujuan pengelolaan yaitu kesejahteraan masyarakat sehingga perlahan namun pasti tujuan itu pun mulai terwujud. Cara BTNGC untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat adalah dengan membuka pintu zona pemanfaatan dalam kawasan untuk dipergunakan sebagai obyek wisata alam yang dikelola oleh masyarakat secara swadaya. Dengan demikian maka masyarakat dapat mendapatkan manfaat dari keberadaan taman nasional sehingga terjadi perputaran roda ekonomi. Alih profesi masyarakat pun terjadi dengan sendirinya. Cara ini dinilai berhasil sehingga mampu menekan secara optimal angka kejahatan tindak pidana kehutanan seperti perambahan, ilegal logging, perburuan TSL dan kebakaran hutan. Kehadiran masyarakat pada spot wisata telah mampu menggantikan peran petugas di lapangan. Posisi kawasan TNGC memang strategis berada pada 2 kutub destinasi wisata yakni Jabodetabek dan Jogja. Seolah gayung bersambut, dukungan infrastruktur pun hadir berupa jalan tol cipali dan BIJB (Bandara Internasional Jawa Barat) di Majalengka. Dengan dukungan posisi strategis dan infrastruktur tersebut, maka potensi wisata kawasan TNGC dapat diandalkan sebagai jalan untuk menuju kesejahteraan masyarakat. Pada malam harinya, rombongan Biro Humas dan Pers diajak ke Desa Singkup Kec. Pasawahan Kab. Kuningan untuk Nobar (nonton bareng) film/video pendek tentang success story pengelolaan taman nasional di berbagai wilayah indonesia. Video Bukit 1001 Bintang yang pada HKAN lalu mendapatkan penghargaan pun turut diputar. Meski hujan turun cukup lebat, tidak menyurutkan antusiasme masyarakat yang hadir. Dialog interaktif terjadi antara pemerintah dan masyarakat. “Dulu kami tidak peduli dengan TNGC. Tapi sekarang setelah dibukanya akses ke dalam kawasan untuk mengelola jasa wisata, dan kami mampu mengelola wisata 1001 Tangga Manguntapa, maka kami pun menjadi senang dengan keberadaan TNGC karena mampu mengangkat perekonomian masyarakat. Istilahnya musuh jadi sahabat” kata E.Rustiah, Kepala Desa Singkup dalam sambutannya. Keesokan harinya rombongan Biro Humas dan Pers beranjak ke ODTWA Batu Luhur di Desa Padabeunghar Kec. Pasawahan Kab. Kuningan. Rombongan disambut dengan Pencak Silat yang dipersembahkan oleh masyarakat Desa Bantaragung Kec. Sindangwangi Kab. Majalengka. Suasana meriah terjadi pada acara hari itu yang bertajuk Ngopi (ngobrol pintar) “Mengubah Masalah Menjadi Berkah” dengan kehadiran berbagai elemen seperti kelompok masyarakat pengelola wisata, Pemda, Polri dan TNI. “Dulu tempat ini merupakan lokasi yang sangat rawan terbakar pada musim kemarau. Kini dengan dijadikan wisata, alhamdulillah sudah tidak terjadi lagi bencana itu” ucap Kang Dodo selaku anggota kelompok masyarakat Bujangga Manik menceritakan pengalamannya. Sementara itu Pemda Kuningan yang diwakili oleh Kepala BAPPEDA mengatakan “kami turut membidani sehingga lahirlah TNGC. Kedepannya wisata TNGC diharapkan mampu mendongkrak PAD” “Kami selalu berusaha bersinergi dengan berbagai pihak dalam pengelolaan TNGC. Dan yang paling penting adalah masyarakat sekitar akan selalu mendapatkan tempat utama sebagai pengelola wisata” ucap Kepala Balai TNGC melalui Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Mufrizal, SH, MH. Kabag Pemberitaan dan Publikasi Humas Kementerian LHK menyimpulkan “Keberhasilan BTNGC dalam pengelolaan taman nasional yang melibatkan masyarakat merupakan indikator kesuksesan 3 tahun pemerintahan Jokowi-JK dalam aplikasi NAWACITA” Acara Ngopi tersebut ditutup dengan santap siang sambil menikmati keindahan panorama Batu Luhur yang menghadap ke Cirebon dan Laut Jawa itu. Sumber : Balai TN Gunung Ciremai
Baca Berita

426 Ekor Burung Tanpa Dokumen Diamankan BKSDA Kalimantan Timur

Samarinda, Kaltim (17/11/17). BKSDA Kalimantan Timur bersama-sama Balai Karantina Pertanian Kelas I Samarinda telah melakukan pengamanan berbagai jenis burung yang akan di bawa ke Sulawesi dengan menumpang kendaraan air di pelabuhan air Samarinda tepatnya pada kapal KM. Queen Soya pada tanggal 15 November 2017, telah mengamankan 34 (tiga puluh empat) box yang berisi antara lain burung Beo berjumlah 112 (seratus dua belas) ekor, burung Jalak sebanyak 240 (dua ratus empat puluh) ekor, burung Cedet berjumlah 60 (enam puluh ) ekor dan burung kacer sebanyak 14 (empat belas) ekor jadi dengan jumlah keseluruhan burung yang diangkut tanpa dilengkapi dokumen sebanyak 426 (empat ratus dua puluh enam) ekor burung dalam keadaan hidup, diduga yang melakukan membawa burung tanpa dokumen adalah dengan inisial ZM 40 (empat puluh) tahun. Terlapor ZM masih dilakukan penyelidikan / Pengumpulan bahan keterangan (Pulbaket) lebih lanjut pada BKSDA Kalimantan Timur dengan barang bukti sebgaimana tersebut diatas, barang bukti sekarang berada di BKSDA Kaltim. Penyelidikan terlapor ZM (40 tahun) Pasal 50 ayat (3) huruf m jo Pasal 78 Ayat (12) Undang-Undang RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Berdasarkan keterangan saksi dan barang bukti berupa burung dalam keadaan hidup berjumlah 426 (empat ratus dua puluh enam) ekor dengan berbagai jenis, ZM (40 tahun) diancam hukuman penjara paling lama 1 tahun dan denda Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) Peristiwa ini bermula laporan Balai Karantina Pertanian Kelas I Samarinda tanggala 15 Vovember 2017 yang mengatakan ada pengiriman burung di pelabuahan penumpang Samarinda yang akan dibawa melalui kapal ke Sulawesi dengan menggunakan kapal KM. Quen Soya, petugas karantina memperingatkan agar melengkapi dokumen angkut burung akan tetapi ZM tidak dapat memenuhi dokumen angkut burung tersebut, maka petugas mengamankan burung berjumlah 34 box pelastik berwarna putih yang didalamnya berisi satwa liar yaitu jenis burung dalam keadaan hidup, berikut yang mengaku memiliki pada saat itu adalah ZM, kemudian ZM dibawa ke Balai Karantina Pertanian Setasiun Karantina Pertanian Kelas I Samarinda untuk diminta penjelasan dan pada saat itu juga diserahkan ke BKSDA Kaltim untuk dilakukan penyelidikan untuk pendalaman kasus. Terungkapnya kasus ini merupakan kerjasama dan sinergitas yang telah terjalin baik antara BKSDA Kalimantan Timur dan Balai Karantina Pertanian Kelas I Samarinda.
Baca Berita

BKSDA Maluku Terima 125 Ekor Burung Sitaan

Labuha (17/11/17). Seksi Konservasi Wilayah I Balai KSDA Maluku menerima 125 satwa Burung Paruh Bengkok hasil sitaan POLRES Halmahera Selatan, Rabu, 15/11 di Labuha. Bertempat di kantor POLRES Halmahera Selatan, serah terima berjalan lancar dari KAPOLRES Halmahera Selatan yang didampingi KASAT Reskrim dan KANIT II kepada Kepala SKW I Ternate, Abas Hurasan,S.Hut. Barang bukti diamankan POLRES Halmahera Selatan dari para pelaku di Kecamatan Gane Timur dan Gane Barat pada Senin 13/11/2017 yang lalu. Berdasarkan keterangan, pelaku yang ditahan sebanyak 4 orang berasal dari Sangir Talaud, Provinsi Sulawei Utara. Pengumpulan dilakukan di Kabupaten Halmahera Selatan, dengan lokasi penampungan di tiga titik berbeda yaitu di wilayah Gane Timur dan Gane Barat tepatnya di Desa Ranga Ranga, Batonang dan Boso. Selanjutnya satwa akan diangkut ke Tobelo ( Kabupaten Halmahera Utara) dan dikirim ke Filipina. Untuk melancarkan aksi penyelundupan ini, satwa dimasukkan dalam 7 kandang besi dan pipa paralon yang dipotong-potong untuk dijadikan kandang transport. Pelaku penyelundupan ini tidak mempunyai hubungan dengan kasus sebelumnya pada bulan Maret 2017 yang juga diamankan oleh POLRES Halsel, dan telah selesai proses dan telah menjalani hukuman sesuai hasil putusan sidang di Pengadilan Negeri Labuha September kemarin. Penyelundupan ini merupakan kali kedua dilakukan oleh para pelaku dan berhasil digagalkan. Saat ini barang bukti telah berada di Kandang Transit II SKW I Ternate di Kantor Resort Bacan-Obi untuk penanganan selanjutnya sedangkan para pelaku telah ditahan di POLRES Halmahera Selatan untuk menjalani proses hukum. KAPOLRES Halsel dalam Press Release yang dilakukan setelah serah terima menyatakan, “Kami telah bekerjasama dengan BKSDA untuk menangani barang bukti sama seperti kasus sebelumnya, dan pihak POLRES Halsel akan tetap konsen dengan kasus ini, selanjutnya akan dikembangkan dalam proses penyelidikan sebagai upaya untuk mempertahankan wilayah Kabupaten Halmahera Selatan sebagai habitat burung-burung endemik Maluku Utara.” Ini merupakan kali ketiga digagalkannya penyelundupan satwa liar endemik Maluku Utara di wilayah Halsel, berkat kerjasama yang telah dibangun dengan berbagai pihak seperti Kepolisian dan WCS. Melalui kerjasama dan koordinasi yang dibangun bersama seluruh instansi terkait juga penegak hukum, maka keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sarana Prasarana (Sarpras) dapat diminimalisir. (Seksi Konservasi Wilayah I Ternate, Balai KSDA Maluku, 2017)

Menampilkan 9.409–9.424 dari 11.141 publikasi