Senin, 1 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Jika Menemukan Biota Dilindungi Hubungi Nomor Ini

Kepulauan Selayar, 20 November 2017. Sumber daya perikanan rusak disebabkan oleh perkembangan teknologi penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan (Atmaja et al. 2011). Teknologi penangkapan ikan yang modern diduga mengakibatkan krisis perikanan secara langsung dan tidak langsung, ditambah lagi dengan tertangkapnya spesies lain secara tidak sengaja yang merupakan bagian dari rantai makanan dalam ekosistem tersebut. Hal ini bisa berdampak pada rusaknya keanekaragaman hayati laut sehingga harus segera dicari solusinya. Pengelolaan perikanan di Indonesia juga menjadi perhatian masyarakat dunia, khususnya hasil tangkapan sampingan yang merupakan spesies-spesies yang dilindungi, seperti penyu, mamalia laut, dan burung laut. Sangat penting artinya untuk mempertahankan populasi spesies-spesies dilindungi tersebut tanpa mengurangi nilai ekonomi dari industri perikanan. WWF-ID selaku mitra Taman Nasional Taka Bonerate telah mengirim fasilitator dalam hal pendampingan penanganan penyu yang tertangkap secara tidak sengaja oleh alat penangkap ikan nelayan (bycatch) di Kepulauan Selayar ini. Bagi nelayan maupun masyarakat bisa menginformasikan bila mendapat tangkapan sampingan atau indikasi penyu yang terdampar bisa menghubungi Darwan Saputra (085 255 655 543) agar segera bisa diberi penanganan cepat dan tepat. Sebelumnya pernah dilaksanakan pelatihan mitigasi penanganan bycatch Penyu di Aula Balai TN. Taka Bonerate. Sumber : Balai TN Takabonerate
Baca Berita

Pelatihan Kelompok Pecinta Alam (KPA) TN Bukit Duabelas

Sarolangun (20/11/2017). Balai TN Bukit Duabelas menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Kelompok Pecinta Alam (KPA) di Resort Air Hitam I pada tanggal 9 s.d 11 November 2017 lalu. Peserta sejumlah 35 orang yang mengikuti kegiatan ini berasal dari wilayah kerja resort Air Hitam I dan Resort Air Hitam II yang merupakan anggota aktif dari Kelompok Pecinta Alam (KPA) Peta Alam (dibentuk pada tahun 2011) dan Sispala Sultan Thaha (dibentuk pada tahun 2015). Kedua organisasi pemuda tersebut telah dibina oleh Balai Taman Nasional Bukit Duabelas khususnya oleh Seksi Pengelolaan Wilayah II Tebo. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas kelompok pecinta alam di Taman Nasional Bukit Duabelas, Pelatihan melibatkan mitra TNI sebagai instruktur yaitu Bapak Serda Zulkifli dari Koramil Pauh dan Pelda Husni Thamrin yang juga Babinsa di wilayah Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun. Pada kegiatan ini peserta dibekali materi-materi seperti teknik survival, navigasi darat, organisasi dan kepemimpinan. Selain itu, peserta juga dibekali praktek pembuatan bivak dan cara-cara pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan (patah tulang, luka sobek, dan keracunan). Kegiatan Pelatihan KPA ini diharapkan semakin menumbuhkan kecintaan terhadap alam khususnya kawasan TNBD pada peserta dan menjadi momentum bahwa kedua organisasi pecinta alam tersebut resmi menjadi binaan Balai Taman Nasional Bukit Duabelas yang selanjutnya akan dikukuhkan melalui surat keputusan Kepala Balai Taman Nasional Bukit Duabelas. Sumber: BTN Bukit 12
Baca Berita

Patroli BKSDA Maluku Bersama Mitra Pro Fauna

Ternate (20/11/17). BKSDA Maluku bersama dengan Pro Fauna melaksanakan Patroli Bersama Pengamanan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) di Kabupaten Halmahera Utara dan Halmahera Barat yang dilaksanakan selama dua hari, 19-20 Juli 2017. Patroli ini dilakukan sebagai tindaklanjut dari pengungkapan kasus penyelundupan satwa liar oleh Kepolisian Resort Halmahera Selatan, Polhut Seksi Konservasi Wilayah I Ternate yang baru-baru ini. Patroli dipimpin langsung oleh Kepala SKW I Ternate, Abas Hurasan, S.Hut., dengan beranggotakan 3 orang Polhut, 2 orang TPHL dan 2 orang dari Pro Fauna. Patroli berjalan dengan lancar dan menghasilkan beberapa temuan yaitu 3 ekor Kasturi Ternate, 1 ekor Betet Kelapa dan penyerahan 1 ekor Kera Yaki (Macaca nigra) dari warga Desa. Seperti yang telah dilakukan sebelumnya, metode persuasif masih digunakan oleh tim untuk menyadarkan pemilik satwa sehingga dengan sukarela menyerahkan satwa kepada petugas. Tim mensosilisasikan Peraturan Perundang-undangan tentang Perlindungan terhadap TSL, pemanfaatan satwa liar dan menjelaskan dampak apa yang ditimbulkan jika satwa tersebut telah punah di alam. Satwa-satwa tersebut diserahkan kepada petugas Polhut untuk diamankan di Kandang Transit I SKW I Ternate yang berada di Ternate. Apresiasi disampaikan Koordinator Resort Halmahera Utara, Rachmat, kepada warga yang menyerahkan Kera Yaki, ?Terima Kasih kepada Kepala Desa dan masyarakat yang sukarela menyerahkan Kera Yaki dan jika ada satwa liar lainnya yang dipelihara mohon untuk dapat diserahkan kepada kami sehingga dapat ditangani dan dilepasliarkan kembali ke alam.? “Meningkatkan kesadaran semua pihak untuk lebih peduli dengan tidak memelihara satwa liar di Maluku Utara bukan merupakan pekerjaan yang mudah, namun perlu dilakukan terus menerus oleh seluruh pihak”, pungkas Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Ternate menanggapi patroli yang dilaksanakan. (Dominggas Aduari, Penyuluh Kehutanan Pertama SKW I Ternate, Balai KSDA Maluku, 2017)
Baca Berita

TN. Aketajawe Lolobata dan Komunitas Barunya Unjuk Gigi di Pesta Komunitas Ternate

Sofifi, 20 November 2017. “Sayang hanya sehari (kegiatannya)”, begitulah kata salah satu peserta pameran dalam acara Pesta Komunitas Ternate yang dilaksanakan di Benteng Oranje di Ternate (18/11). Acara ini menampilkan berbagai tontonan, antara lain workshop sketsa dan film, hunting foto, pentas tari dan musik, industr kreatif dan tentu saja pameran kegiatan komunitas. Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), Seksi Wilayah I Ternate BKSDA Maluku, Komunitas Peduli Mangrove dan beberapa relawan lainnya tergabung dalam satu komunitas yang turut memeriahkan pesta tersebut. Mereka menamakan diri sebagai KoKAMA (Komunitas Konservasi Alam Maluku Utara). Dalam penampilan perdananya, KoKAMA menampilkan beberapa potensi wisata alam di TNAL, KSDA dan beberapa atraksi wisata dari anggotanya. Taklupa komunitas ini mengajak pengunjung pameran untuk mencintai dan perduli terhadap lingkungan sekitarnya, dimulai dengan tidak membuang sampah disembarang tempat. KoKAMA juga menampilkan beberapa atraksi salah satunya adalah peragaan penggunaan drone dan pemutaran film dokumenter kawasan konservasi. KoKAMA sendiri diprakarsai oleh Raj (BKSDA Maluku) dan Opan (TNAL) yang kemudian membuka kesempatan bagi relawan peduli konservasi di Maluku Utara. Oleh : Akhmad David Kurnia Putra Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Kids Jaman Now, Suka Juga Belajar Konservasi

Riau - Tanggal 18 dan 19 November 2017 keluarga besar SMK Taruna, Korp Taruna Pencinta Alam SWAKAI mengadakan kemping serta pengenalan konservasi alam di TWA Buluh Cina, Kab. Kampar, Prov. Riau. Kegiatan yang diikuti sekitar 30 orang ini juga mempelajari tentang satwa yang dilindungi jenis Gajah Sumatera. Para peserta terlihat sangat antusias mengikuti acara satu demi satu. Ini terlihat dari serunya mereka mengajukan berbagai pertanyaan seputar konservasi dan satwa Gajah yang memang berada diantara mereka. Kepala Balai Besar KSDA Riau sangat mengapresiasi kegiatan tersebut dan mengharapkan para peserta lebih memahami arti konservasi. Sebagai generasi muda penerus bangsa mereka semakin sadar akan pentingnya perlindungan dan pengelolaan terhadap lingkungan dan sumber daya alam. Sumber: BBKSDA Riau
Baca Berita

“PUSKOLING – Perpustakaan Konservasi Keliling” TN Gunung Gede Pangrango

Cibodas (20/11/17). Puskoling adalah unit perpustakaan konservasi keliling Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Unit ini biasa membawa buku-buku ke sekolah-sekolah yang berada di zona penyangga untuk dibaca oleh siswa-siswi. Sebagai tiketnya, setiap yang mau membaca buku diharuskan memungut sampah dari sekitar lingkungan sekolah dan menyimpannya di tempat sampah yang disediakan. Kegiatan ini tidak saja disambut baik oleh para pelajar, namun mendapat dukungan dari para kepala sekolah dan bersesuaian dengan program “literasi” Dinas Pendidikan Nasional di tiga kabupaten (Cianjur, Sukabumi, dan Bogor). Dengan demikian diharapkan Puskoling dapat berkembang dengan baik dan bantuan dari berbagai pihak, sehingga tujuannya dapat segera bisa tercapai. Pada kegiatan perdananya, dilaksanakan di SD Negeri Nyalindung 3 Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur mendapat komentar positif dari salah seorang guru, program Puskoling berhasil memotivasi para pelajar dengan signifikan untuk membaca, “biasanya siswa-siswi sulit kalau disuruh membaca, tetapi melalui program Puskoling ini Alhamdulillah siswa-siswi kami sangat antusias”, jelas Sri Noviani guru SD Negeri Nyalindung 3. Lebih lanjut Sri menjelaskan bahwa program Puskoling dengan “tiket” sampah sebagai “password” untuk meminjam buku, menjadikan siswa lebih peduli terhadap lingkungan dan menumbuhkan pemahaman bahwa sampah adalah berkah untuk mencari ilmu. Memang dengan sedikit inovasi dalam program pendidikan konservasi lingkungan ini, bisa diharapkan akan mendorong menumbuhkan minat baca masyarakat yang pada saat inni dirasakan masih tergolong rendah. Sumber: Ika Rosmalasari – PEH Penyelia Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Keberhasilan Mediasi Bbksda Jabar Dalam Upaya Penyelamatan Habitat Kuntul Kerbau Di Kampung Ranca Bayawak

Bandung - 20 November 2017, Inisiasi, fasilitasi sekaligus mediasi yang dilakukan oleh BBKSDA Jawa Barat pada tanggal 3 Oktober 2017 lalu dengan mengundang berbagai pihak yang memiliki kepentingan dan kewenangan dalam upaya penyelamatan habitat kuntul kerbau (Bubulcus ibis) di Kampung Ranca Bayawak Kota Bandung, rupanya ditanggapi dengan positif oleh pihak Summarecon, perusahaan yang akan mengembangkan area yang berbatasan dengan Kampung Ranca Bayawak. Hal tersebut dapat dilihat dari inisiatif yang dilakukan oleh Town Management Summarecon untuk mengadakan sebuah lokakarya bertajuk “Rencana Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Summarecon Bandung Sebagai Manifestasi Kepedulian Terhadap Lingkungan Hidup, termasuk Habitat Burung Kuntul dan Blekok”. Lokakarya yang dilaksanakan pada tanggal 17 November 2017 di Hotel Grand Cordela Bandung ini mengundang berbagai pihak yang berasal dari akademisi, aktivis lingkungan, instansi terkait, serta perwakilan masyarakat Kampung Ranca Bayawak. Lokakarya tersebut bertujuan untuk memperoleh saran perencanaan Ruang Terbuka Hijau terkait keberadaan habitat burung kuntul dan blekok di sekitar kawasan Summarecon Bandung. Lokakarya yang dikemas dalam bentuk diskusi panel ini menampilkan 3 (tiga) panelis, yaitu Irwin Ponco dari Summarecon Bandung, Prof. Johan Iskandar, M.Sc., Ph.D. dari Unpad, dan Ir. Sustyo Iriyono, M.Si. dari BBKSDA Jawa Barat. Irwin Ponco sebagai penelis pertama menyampaikan bahwa total luas RTH yang akan berdampingan dengan Kampung Ranca Bayawak adalah seluas 23.782,17 m2 yang mencakup area hijau seluas 9.778,90 m2 serta kolam retensi seluas 12.689.1 m2. Kolam retensi tersebut akan dikelilingi oleh genangan dangkal sedalam lebih kurang 20 cm dengan luas total genangan dangkal sekitar 1.304,17 m2 yang akan ditanami berbagai tumbuhan air seperti akar wangi, iris, rumpun padi, papyrus, dan sebagainya. Di samping itu, pada area genangan dangkal juga akan ditebarkan ikan-ikan kecil dan gastropoda yang menjadi makanan burung kuntul dan blekok. Panelis kedua, yaitu Prof. Johan Iskandar lebih banyak memberikan informasi terkait penelitian/pengamatan yang dilakukan terhadap aktivitas burung di Kampung Ranca Bayawak, termasuk memberikan informasi bahwa terdapat juga jenis burung lain yang dilindungi selain kuntul kerbau, yaitu kuntul kecil (Egretta garzetta). Selain itu, disampaikan pula tentang fluktuasi jumlah burung yang berada di Kampung Ranca Bayawak dalam beberapa tahun terakhir. Ir. Sustyo Iriyono, M.Si. sebagai panelis terakhir lebih banyak menekankan pada hasil pengamatan terhadap aktivitas kuntul kerbau di Kampung Ranca Bayawak, interaksi masyarakat dengan burung yang ada di Kampung Ranca Bayawak, serta berbagai rekomendasi agar keberadaan burung kuntul kerbau dapat senantiasa terjaga di Kampung Ranca Bayawak. Salah satu rekomendasi yang mengemuka adalah perlunya mendorong pemerintah daerah untuk menetapkan habitat burung kuntul kerbau di Kampung Ranca Bayawak sebagai kawasan ekosistem esensial sehingga keberadaan burung dilindungi tersebut dapat senantiasa terjaga. Rencana pengembangan RTH di sekitar habitat burung kuntul kerbau telah menunjukkan kepedulian dan itikad baik dari Summarecon untuk “hidup berdampingan” dengan kuntul kerbau dan jenis burung lainnya. Bahwa pengembangan suatu kawasan, tidak harus melulu memarjinalkan makhluk lain, walaupun itu hanya sekadar burung. Oleh karena itu, proses pengembangan RTH tersebut perlu terus dikawal sehingga konsep RTH tersebut benar-benar dapat terwujud. Dengan demikian, pada akhirnya nanti kekhawatiran bahwa burung-burung tersebut akan hilang dari Kampung Ranca Bayawak, tidak akan pernah terjadi. Tentunya, hal ini menjadi keberhasilan mediasi BBKSDA Jabar dalam upaya penyelamatan habitat kuntul kerbau di Kampung Ranca Bayawak. Sumber: Humas - BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

Konsultasi Publik Dokumen Rencana Pengelolaan Suaka Margasatwa Bukit Batu

Bengkalis, 17 November 2017. Konsultasi publik dokumen rencana pengelolaan SM bukit batu dilaksanakan di Bengkalis pada tanggal 16 November 2017 dengan mengundang pihak-pihak terkait diantaranya: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bengkalis, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bengkalis, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bengkalis, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bengkalis, Dinas Pariwisata Kabupaten Bengkalis, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bengkalis, Dinas Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Bengkalis, serta dihadiri oleh pihak Kecamatan Bukit Batu, Kecamatan Bandar Laksmana, Desa Suka Jadi, Desa Bukit Sembilan, Desa Temiang dan Desa Api-Api. Dari pertemuan Konsultasi Publik Dokumen Rencana Pengelolaan Suaka Margasatwa Bukit Batu di Kabupaten Bengkalis tersebut telah memperoleh beberapa masukan maupun rekomendasi dari berbagai pihak diantaranya Rencana Pengelolaan Suaka Margasatwa Bukit Batu yang disusun diharapkan dapat mendukung pelestarian kawasan dan memberi manfaat bagi masyarakat di sekitarnya serta diharapkan Rencana Pengelolaan Suaka Margasatwa Bukit Batu dapat mengakomodir kegiatan pemberdayaan masyarakat di sekitanya dengan pola yang sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Tingkatkan Skill, Solidaritas & Disiplin, Balai TN Kep. Togean Latihan Menembak

Ampana, 20 November 2017. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) telah melaksanakan kegiatan “Pelatihan Menembak“ di SPN Labuan Panimba Polda Sulteng. Sebelum pelaksanaan pelatihan menembak, kegiatan diawali dengan melakukan psikotest terlebih dahulu untuk melihat kelayakan personil dalam memegang senjata api. Psikotes dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 17 November 2017. Pada hari sabtu tanggal 18 November 2017 dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan menambak. Kegiatan ini diikuti oleh 5 (lima) orang Pejabat Struktural Balai TNKT dan Fungsional Polhut yang berjumlah 13 orang. Tujuan Pelaksanaan kegiatan ini adalah sebagai upaya untuk menambah pengetahuan, meningkatkan skill, solidaritas dan disiplin bagi petugas dilapangan khususnya Polisi Kehutanan BTNKT. Adapun jenis senjata yang digunakan adalah Laras Panjang F2 SABARA dan Revolver Jenis Taurus. Koordinator lapangan dalam kegiatan pelatihan ini adalah Aiptu Petrison Lauo,S.Kom.,S.H. Oktovianus, S.Hut. selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha BTNKT mengatakan bahwa Kegiatan pelatihan menembak merupakan salah satu kegiatan untuk meningkatkan kapasitas SDM dibidang perlindungan dan pengamanan kawasan bagi tenaga fungsional polhut dan polhut pembina. “Melalui kegiatan ini diharapkan kemampuan petugas baik dalam segi kedisiplinan, penguasaan dan penggunaan senjata api akan terus meningkat”, ujarnya. Sumber : Balai TN Kepulauan Togean
Baca Berita

BKSDA Maluku Bersama Kepolisian Berhasil Gagalkan Penyelundupan Satwa Liar Tujuan Filipina

Ternate, 13 November 2017, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku bersama Polsek Gane Timur mengamankan sejumlah 125 ekor kakatua, sejumlah satwa liar yang diamankan di Kecamatan Gane Timur dan Kecamatan Gane Barat, Kabupaten Halmahera Selatan tersebut rencananya akan dibawa ke Tobelo dan diselundupkan ke Filipina. Petugas mengamankan 4 orang tersangka pada kejadian tersebut. Ke 4 (empat) orang tersangka berasal dari Sanger Talaud (Sulawesi Utara) dan untuk sementara diamankan di Polres Halmahera Selatan. Proses penyidikan dilanjutkan oleh Polres Halmahera Selatan dan barang bukti yang diamankan dititipkan ke kantor Seksi Konservasi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam Maluku. Barang bukti yang diamankan belum bisa dilepas liarkan hingga memperoleh kekuatan hukum tetap. Melihat barang bukti yang diamankan, kondisinya sangat memprihatinkan karena satwa tersebut ditangkap dengan cara dijerat dengan menggunakan lem, sehingga perlu ada penanganan perawatan lebih lanjut untuk membersihkan lem tersebut dan dilakuka pemeriksaan oleh dokter hewan. Sumber Informasi: BKSDA Maluku
Baca Berita

“BROMO FUN BIKE TNBTS 2017” (Bike For Conservation)

Malang - 19 November 2017, Sebanyak 671 pecinta sepeda mengikuti Bromo FUN Bike Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) 2017. BFB TNBTS 2017 diselenggarakan pada hari minggu tanggal 19 Nopember 2017 dengan start dan finish di Bukit Savana Kaki Jenggot atau yang lebih popular dikenal dengan Bukit Telletubies, dengan menempuh jarak ± 22 Km yang di tempuh dalam waktu ± 2,5 Jam mengelilingi Wisata Gunung Bromo dan Laut Pasir. Kegiatan BFB TNBTS ini merupakan tahun kedua penyelenggaraan dengan tujuan : Acara BFB TNBTS 2017 dibuka langsung oleh Kepala Balai Besar TNBTS Ir. John Kenedie, MM. Dalam kesempatan sambutannya beliau menyampaikan bahwa BFB TNBTS ini merupakan kegiatan event tahunan, dan di tahun 2017 ini merupakan tahun kedua. Melihat animo masyarakat yang begitu banyak melebihi target yang direncanakan yaitu 500 orang peserta. Diharapkan kepada peserta karena ini kegiatan yang bersifat fun / hiburan maka diharapkan kepada peserta dapat menikmati kegiatan tersebut, dan apabila tidak bisa menempuh jarak 22 km maka tidak usah dipaksakan. Beliau juga menyampaikan pesan bahwa event ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta dan memiliki kawasan konservasi TNBTS agar tetap lestari sapai masa yang akan datang. Peserta BFB TNBTS 2017 ini berasal dari daerah Malang Raya, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Jember, Mojokerto, Banyuwangi, Surabaya dan Cepu, bahkan diantaranya ada yang berasal dari Makasar Sulawesi Selatan dan Pandeglang Banten. Selain dari dalam negeri tercatat 1 orang peserta berasal dari Nederland Belanda atas nama Harm de Vries yang kebetulan sedang berlibur di Indonesia ikut berpartisipasi memeriahkan BFB TNBTS 2017. BFB TNBTS 2017 ini juga diisi dengan kesenian Khas Suku Tengger yaitu Jaran Kencak. Penampilan Kesenian Jaran Kencak ini bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan Budaya Suku Tengger yang merupakan Suku Asli yang berada di TNBTS. Diakhir acara di bagikan door prize berupa Sepeda Gunung, TV serta aksesoris perlengkapan olah raga sepeda yang merupakan sumbangan atau partisipasi dari mitra TNBTS Bromo Permai Hotel, Lava View Hotel, Tirta Investama, Mountainer Outdoor Wear dan Toko Sepeda Sherpa Hollic serta mitra TNBTS lainnya. Sumber: BBTN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

BBTN Gunung Gede Pangrango Kembali Menerima Penyerahan Satwa dari Masyarakat

Cibodas (20/11/17). Pasca penanganan kasus perburuan liar di Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) pada Bulan Maret 2017 disamping kegiatan sosialisasi ke masyarakat sekitar yang dilakukan oleh petugas Balai Besar TNGGP, untuk keempat kalinya Balai Besar TNGGP menerima penyerahan satwa liar dari masyarakat sekitar kawasan TNGGP. Pekan ini, tanggal 17 November 2017 warga masyarakat Kampung Pacet, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur bernama Susi Sundari umur 25 tahun menyerahkan 1 (satu) ekor Kukang (Nycticebus Javanicus) dalam keadaan hidup. Balai Besar TNGGP sangat mengapresiasi tindakan warga masyarakat dengan kesadarannya secara sukarela menyerahkan satwa kepada pihak Balai Besar TNGGP. Menurut masyarakat yang menyerahkan satwa peliharaannya, mereka tersadar bahwa memelihara satwa liar di rumah melanggar undang-undang dan dapat menimbulkan sanksi atau hukuman berat untuk mereka. Satwa liar yang diserahkan ke Balai Besar TNGGP selanjutnya diserahkan ke Balai Besar KSDA Jawa Barat untuk ditangani lebih lanjut bersama Lembaga Konservasi Satwa. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memandang peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian satwa liar ini merupakan salah satu dampak positif dari kegiatan perlindungan dan pengamanan hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menyerahkan satwa liar yang sebagian dilindungi ini, maka keutuhan satwa liar dapat terjaga dan semoga ancaman kepunahan terhadap satwa liar dapat diminimalisir. Sumber: Bambang Mulyawan – Polisi Kehutanan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Kerja Bersama Pulihkan Ekosistem TWA Seblat

Bengkulu, 18 November 2017. Balai KSDA Bengkulu melakukan penanaman pohon untuk memulihkan ekosistem TWA Seblat, Provinsi Bengkulu. Penanaman dilakukan di area yang pernah terbakar seluas ± 26 ha. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 17-18 November 2017. Kegiatan penanaman dipimpin langsung oleh Kepala Balai KSDA Bengkulu, Ir. Abu Bakar. Turut serta dalam kegiatan penanaman adalah; Kepala Subbagian TU, M. Mahfud, S.Hut. M.Sc.,; Kepala SKW I, Jaja Mulyana, S.Sos.; dan Kepala SKW III, Teguh Ismail, S.Hut. M.A.,M.Eng. Tak kurang dari 60 orang pegawai Balai KSDA Bengkulu turut serta dalam kegiatan penanaman ini. Kegiatan penanaman ini merupakan kerja bersama antara Balai KSDA Bengkulu, PT Alno Agro Utama serta masyarakat di sekitar kawasan. PT. Alno Agro Utama merupakan perusahaan perkebunan sawit yang berdampingan dengan TWA Seblat. Balai KSDA Bengkulu dan PT Alno Agro Utama memiliki perjanjian kerjasama dalam rangka Optimalisasi Pengelolaan TWA Seblat, yang salah satu bentuk kegiatannya adalah pemulihan ekosistem. Sebagian kawasan TWA Seblat memerlukan pemulihan untuk mengoptimalkan fungsi dan perannya. TWA Seblat ditetapkan sebagai kawasan taman wisata alam pada tahun 2014. Sebelumnya, kawasan ini berfungsi sebagai hutan produksi dan hutan produksi terbatas. Akibat rezim pengelolaan kawasan periode sebelumnya, terdapat area berpenutupan lahan berupa semak belukar dan padang ilalang yang rawan terbakar. Terakahir kali padang ilalang TWA Seblat terbakar pada periode kering tahun 2017. Pemilihan jenis yang ditanam dilakukan secara selektif. Jenis yang dipilih merupakan jenis-jenis yang disukai oleh beberapa satwa liar terutama burung seperti salam (Syzygium polyanthum). Harapannya, penanaman jenis-jenis tersebut dapat memikat berbagai jenis burung untuk datang dan mendiami kawasan ini. Seperti telah dibuktikan oleh banyak penelitian, burung merupakan agen alami penyebar biji berbagai jenis flora yang justru akan lebih efektif merestorasi ekosistem kawasan. Dalam sambutannya, Kepala Balai KSDA Bengkulu, Ir Abu bakar menyampaikan, “Penanaman ini dilakukan untuk mendukung pengelolaan kawasan TWA Seblat, yang hasilnya mungkin tidak dapat langsung kita rasakan dalam 1-2 tahun ke depan. Tapi, InsyaAlloh akan kita rasakan dalam waktu 5-10 tahun yang akan datang”. Semoga kegiatan ini dapat semakin meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan TWA Seblat. Sumber: Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Pelibatan Masyarakat Dalam Pemulihan Ekosistem Dengan Adopsi Pohon Di TN Sebangau

Palangka Raya, 17 November 2017. Sebagian besar kawasan TN Sebangau merupakan ekosistem rawa gambut dengan kondisi dibeberapa bagian telah mengalami kerusakan yang diakibatkan illegal loging pada masa lalu, pembuatan kanal dan kebakaran hutan. Untuk mengembalikan fungsi ekosistem gambut berpedoman pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.16 Tahun 2017 Tentang Pedoman Teknis Pemulihan Ekosistem Gambut, TN Sebangau melaksanakan kegiatan pemulihan ekosistem melalui suksesi alami, restorasi hidrologi dan rehabilitasi vegetasi. Kegiatan rehabilitasi vegetasi dilakukan pada area terbuka di zona rehabilitasi dengan penanaman jenis-jenis asli. Kegiatan rehabilitasi vegetasi dilakukan Bersama mitra kerja WWF-Indonesia Kalimantan Tengah, perusahaan, instansi pemerintah dan masyarakat. Salah satu kegiatan rehabilitasi vegetasi yang dilakukan adalah dengan program adopsi pohon yang diinisiasi oleh WWF-Indonesia Kalimantan Tengah dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam pelaksanaannya. Kegiatan adopsi pohon telah berlangsung sejak tahun 2015 hingga saat ini, setidaknya telah tertanam 12 hektar di Resort Muara Bulan, 60 hektar di Lampanen, Resort Mangkok dan saat ini tengah dilakukan adopsi pohon di Sungai Sebangau Kecil wilayah kerja Resort Mendawai seluas 100 hektar. Evaluasi Program adopsi pohon di Sungai Sebangau Kecil dilakukan sebagai rangkaian dari kegiatan penanaman yang telah dilaksanakan pada bulan Oktober lalu. Tim evaluasi yang terdiri dari staf WWF-Id Kalimantan Tengah dan volunter Universitas Palangka Raya ini melaksanakan tugas dengan menghitung jumlah bibit yang telah ditanam dengan metode sensus. Evaluasi tersebut dilaksanakan pada tanggal 8 s.d 10 November 2017 bersamaan dengan kegiatan pra perencanaan pembangunan sekat kanal. Tercatat lebih dari 24.000 bibit pohon tertanam pada area 100 hektar dengan jenis pohon belangeran, pulai dan jelutung. Tahapan kegiatan dalam Program adopsi pohon diantaranya adalah penyiapan bibit, penyiapan ajir, penanaman, penyulaman dan pemeliharaan pasca penanaman. Terdata sekitar 40 Kepala Keluarga (KK) yang terlibat dalam program ini, masing-masing KK bertugas menanam seluas 2,5 hektar. Program adopsi pohon akan berakhir tahun 2018 setelah proses pemeliharaan tahap II (dua) dengan asumsi bibit tanaman sudah mampu bertahan dan hidup dengan baik. Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan restorasi ekosistem di TN Sebangau salah satunya kegiatan penanaman, diharapkan mampu menumbuhkan kepedulian, kesdaran, rasa tanggungjawab terhadap alam, rasa memiliki terhadap apa yang mereka tanam, memberi dampak bagi generasi-generasi dimasa yang akan datang. selain itu, melalui program Adopsi Pohon ini terjalin hubungan saling menguntungkan yang berdampak pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dalam bentuk fee adopsi yang sedang dilakukan perumusannya oleh TN Sebangau, WWF-Id dan Masyarakat. Sumber : Susan, Yoko, Hidayat Turrahman BTN Sebangau dan Makmun WWF-Indonesia Kalteng
Baca Berita

Serunya One Day Field Trip Forum Kolaborasi Cagar Biosfer Indonesia di Pulau Tinabo Selayar

Kepulauan Selayar, 19 November 2017. Kabupaten Kepulauan Selayar menjadi tuan rumah workshop Nasional yang diadakan oleh Forum kolaborasi jaringan Cagar Biosfer Indonesia. Usai workshop para peserta diajak field trip ke Pulau Tinabo, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. (Minggu, 19 Nopember 2017) Pulau Tinabo yang merupakan salah satu tujuan wisata unggulan di Taman Nasional Taka Bonerate. Pulau eksotik yang dikelilingi oleh pantai berpasir putih, air laut yang selalu jernih sepanjang waktu. Sebanyak 40 peserta trip disambut oleh para petugas lapangan di Taman Nasional Taka Bonerate. Setelah mendapatkan penjelasan potensi Pulau Tinabo dari salah satu petugas lapangan Saleh Rahman. Para peserta kemudian diajak berkeliling pulau, bersnorkeling di spot Taman Kima, spot Soft Coral dan berkunjung ke Bungin Tinabo. Usai makan siang, para tamu bermain dengan bayi hiu yang hidup liar depan guest house dan menanam pohon bersama. "Pulau Tinabo sangat Indah, atraksi wisatanya amazing karena bisa berinteraksi dengan anak Hiu hanya di depan penginapan" Ucap Lenni Hasan salah satu peserta sebelum meninggalkan pulau surga hiu ini. Sumber : Asri - Balai TN Takabonerate
Baca Berita

Patroli Bersama Mitra Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango

Cibodas - 14 November 2017. Resort Gunung Putri, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) bersama dengan Babinsa, Mayarakat Mitra Polhut (MMP), dan kelompok masyarakat ekowisata (Kelompok Tani Hutan Puspa Lestari) Desa Sukatani pada tanggal 8 sampai 9 Nopember 2017, melakukan kegiatan patroli bersama di wilayah kerja Resort Gunung Putri khususnya jalur pendakian sampai ke Puncak Gede. Kegiatan patroli bersama mitra ini bertujuan: Pengecekan terkait adanya orang yang mengalami gangguan kejiwaan tersebut (orang gila) selain dilakukan di Alun Alun Suryakencana juga dilakukan pada setiap titik yang dipercaya oleh masyarakat lokal sebagai tempat patilasan atau yang sering dikunjungi masyarakat, mulai wilayah Gunung Putri sampai batas wilayah kerja Selabintana/ Blok Cileutik, Sarongge, dan Goalpara. Berdasarkan hasil pengecekan di tempat-tempat tersebut tidak ditemukan keberadaan orang yang mengalami gangguan kejiwaan (orang gila), kuat dugaan bahwa orang gila dimaksud telah turun dari lokasi tersebut. Sumber: Dani Darmawan, S.H., M.Sc. – Polisi Kehutanan Balai Besar TNGGP

Menampilkan 9.393–9.408 dari 11.141 publikasi