Rabu, 15 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Dirjen KSDAE Pimpin Lokakarya Penyelesaian Masalah Penguasaan Lahan di Kawasan TN Lore Lindu

Palu, 3 Desember 2017. Dirjen KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc, memimpin lokakarya “Penyelesaian Masalah Penguasaan Lahan di Kawasan Hutan Wilayah Kerja Taman Nasional Lore Lindu” yang dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 2017. Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Best Western Palu ini merupakan tindak lanjut atas arahan beliau mengenai cara baru pengelolaan kawasan konservasi yang mempertimbangkan prinsip-prinsip penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) yang dicanangkan sejak bulan September 2017. Lokakarya yang dihadiri oleh Wakil Bupati Sigi, Tim Gugus Tugas Reforma Agraria, Direktur PIKA, Balai Besar TN Lore Lindu, Balai KSDA Sulteng, Balai PKH Wilayah XVI, Balai PSKL Wilayah Sulawesi, Dinas Kehutanan Prov. Sulteng, Dinas Lingkungan Hidup Kab. Sigi, Tim Konsultan FP III, EPASS, GIZ Forclime Program, dan Badan Registrasi Wilayah Adat bertujuan untuk menelaah masalah penguasaan tanah di Kawasan Hutan Konservasi yang berada di bawah kelola TN Lore Lindu dan membahas usulan Pemerintah Kabupaten Sigi atas Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA) dan Perhutanan Sosial (termasuk Hutan Adat). Dalam sambutannya, Dirjen KSDAE menyampaikan bahwa Pemerintah Kab. Sigi telah mengajukan satu usulan kepada Kemen LHK tentang TORA dan Perhutanan Sosial dengan total luas 79.861,98 Ha yang terdiri dari 61 desa sebagai usulan awal sehingga penting untuk dibangun satu komunikasi yang terbuka dan inklusif untuk menghasilkan suatu model penyelesaian permasalahan tenurial. Lebih jauh beliau menekankan bahwa berbagai permasalahan yang menyangkut hubungan masyarakat atau masyarakat hukum adat di dalam kawasan konservasi diselesaikan melalui pendekatan non litigasi dan mengutamakan dialog. Cara pandang yang menempatkan kehidupan sosial ekonomi komunitas masyarakat adat dan komunitas lokal sebagai ancaman bagi keanekaragaman hayati dan ekosistemnya harus diubah. Inisiatif perlindungan dan pengelolaan kawasan konservasi perlu juga memberi kontribusi signifikan terhadap pemberantasan kemiskinan, dan pembangunan berkelanjutan. Cara baru kelola kawasan konservasi dilakukan melalui pendekatan berbasis lansekap, atau berbasis daerah aliran sungai atau berdasarkan kondisi ragam ekosistem, ragam adat dan budaya, habitat, sebaran satwa liar dan keberadaan ekosistem esensial dan dengan mempertimbangkan perubahan penggunaan lahan akibat dari pembangunan dan keberadaan serta aspirasi masyarakat dan masyarakat hukum adat, terutama yang kehidupannya masih tergantung pada sumberdaya hutan dan perairan. Lokakarya ini telah menghasilkan beberapa rumusan yang ditandatangani oleh perwakilan peserta yang salah satu poinnya adalah gagasan untuk mengadakan musyawarah besar desa-desa di dalam dan sekitar TN Lore Lindu dengan tujuan membangun komunikasi, kesepahaman dan komitmen dalam kaitannya pengembangan daerah penyangga, perhutanan sosial, reforma agraria, dan hutan adat. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Balai KSDA Sulteng Bangun Jejaring Kerjasama Upaya Pengendalian Karhutla

Palu, 1 Desember 2017. Bertempat di Graha Mulia Hotel tanggal 30 November 2017, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah menyelenggarakan rapat kerja (raker) pengendalian kebakaran hutan dan lahan tahun 2017. Acara ini dihadari oleh 50 peserta yang berasal dari BKSDA Sulteng (seksi konservasi wilayah 1 toboli dan seksi konservasi wilayah 2 poso), Bappeda Prov. Sulteng , Dinas Kehutanan Sulteng, BMKG, Basarnas, Dinas Lingkungan Hidup kab donggala , BPBD sulteng dan bpbd kota palu, Polda Sulteng, Polesta, Korem 132/Tadulako, dan KPH Lingkup Provinsi Sulawesi Tengah serta insyansi terkait lainnya. Raker dibuka oleh Kepala BKSDA Sulawesi Tengah, Ir. Noel Layuk Allo, M.M . Adapun materi yang dibahas antara lain Potensi Kemudahan terjadinya Kebakaran Hutan Ditinjau dari Analisa Parameter Cuaca di Provinsi Sulawesi Tengah oleh Affan Nugraha Diharsya, S.Si dari BMKG Provinsi Sulawesi Tengah, menjadi pemateri pertama yang dipaparkan dalam pelaksanaan rapat kerja ini, disusul materi kedua oleh Darwis S.Hut., MM dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah, dengan judul Penanganan dan Peran BPBD dalam Kebakaran Hutan dan Lahan. Materi ketiga dibawakan oleh Kepala BKSDA Sulawesi Tengah, Ir.Noel Layuk Allo, MM mengenai Kegiatan Pengendalian Kebakaran Hutan di Kawasan Konservasi. Materi terakhir dibawakan oleh Ir. Dansitum M. Toding, M.Si dari Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah mengenai Kewenangan Pengendalian Karhutla di Provinsi Sulawesi Tengah. Diharapkan dengan diadakannya raker ini BKSDA Sulawesi Tengah mampu membangun jejaring kerjasama dan dukungan antar instansi/ stakeholder terkait di daerah provinsi Sulawesi Tengah dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang efektif, sinergis sesuai dengan fungsi serta perannya masing-masing. Peserta sangat antusias dalam mengikuti pelaksanaan Raker, terutama dalam perumusan hasil rapat kerja. Rumusan rapat kerja menghasilkan beberapa poin : 1. Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Sulawesi Tengah termasuk dalam potensi bencana walaupun belum termasuk dalam prioritas, akan tetapi langkah-langkah strategis dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan perlu dilakukan. 2. Penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan dalam skala besar mengacu pada undang-undang No. 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana dan membentuk Satgas Pengendali KARHUTLA di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota dengan mengacu pada Permen LHK No. 32/MenLHK/Setjen/Kum.1/3/2016 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan. 3. Satgas yang telah terbentuk agar menghimpun data dan informasi dari para stakeholder terkait potensi terjadinya gangguan KARHUTLA sehingga terjadinya KARHUTLA dapat diantisipasi sedini mungkin. 4. Data dan potensi terjadinya KARHUTLA dapat diperoleh setiap saat melalui website BMKG http:/bmkg.go.id, www.kemlhk.go.id, indofire.landgate.wa.gov.au/indofire.asp, http://sipongi.menlhk.go.id serta mailing list (informasi hotspot melalui email sipongi@yahoo.groups.com sebagai deteksi kebakaran dini dan informasi dari satgas pengendali KARHUTLA. 5. Perlu penyediaan sarana dan prasarana serta dukungan peningkatan kapasitas SDM KARHUTLA di daerah Provinsi Sulawesi Tengah melalui APBN. Acara diakhiri dengan penandatangan rumusan oleh Tim Perumus dari perwakilan peserta raker. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Cyber Patrol BKSDA Sumsel Amankan 2 Ekor Siamang Di Kota Prabumulih

Prabumulih, 3 Desember 2017. Media sosial menjadi sarana yang efektif untuk melacak peredaran dan keberadaan tumbuhan dan satwa liar dilindungi. Tim cyber patrol Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat berhasil menelusuri kepemilikan 2 ekor Siamang (Symphalangus syndactylus) di Kota Prabumulih. Informasi tim cyber patrol SKW II Lahat tersebut ditindaklanjuti dengan upaya pengamanan satwa liar yaitu 2 ekor Siamang (Symphalangus syndactylus) oleh petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan. Kronologisnya bermula dari akivitas pemantauan peredaran tumbuhan dan satwa liar yang dilakukan oleh tim cyber patrol SKW II Lahat yang mendeteksi adanya kepemilikan satwa liar dilindungi yaitu 2 ekor Siamang (Symphalangus syndactylus) yang terlacak berada di Kota Prabumulih. Menindaklanjuti informasi tersebut tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 5 Isau-Isau bergerak menuju Kota Prabumulih untuk memastikan lokasi yang terlacak oleh tim cyber patrol. Setelah menemukan lokasi keberadaan 2 ekor Siamang (Symphalangus syndactylus) petugas berupaya melakukan penyadaratahuan terkait kepemilikan satwa liar dilindungi tetapi pemilik satwa liar dilindungi tersebut belum berkenan untuk menyerahkan. BKSDA Sumatera Selatan terus berupaya melakukan penyadartahuan kepada pemilik dengan berkomunikasi terkait upaya penertiban kepemilikan satwa liar dilindungi tersebut. Pada kesempatan berikutnya petugas BKSDA Sumatera Selatan (balai, seksi, dan resort) menemui lagi pemilik satwa liar dilindungi tersebut dan pemilik bersedia untuk menyerahkan 2 ekor Siamang (Symphalangus syndactylus) yang berumur 3 bulan dan 5 bulan. Kemudian satwa liar dilindungi tersebut dibawa ke Resort Punti Kayu di Kota Palembang untuk mendapatkan perawatan. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Underwater Coastal Clean Up (UCCU) Taman Nasional Karimunjawa

Karimunjawa, 3 Desember 2017. Aktifitas perikanan dapat meninggalkan sampah di dalam perairan (laut), termasuk di kawasan taman nasional. Pada hari Minggu 3 Desember 2017, SPTN Wilayah II Karimunjawa melaksanakan kegiatan partisipatory under water coastal clean up bersama sama dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia Karimunjawa, WCS IP Karimunjawa dan Sekretaris Kecamatan Karimunjawa Lokasi kegiatan di perairan Kemloko dan Plawangan Legon Janten Zona Tradisional Perikanan TNKj. UCCU dilakukan dengan metode mengangkat sampah berupa bekas jaring perikanan baik dari dasar maupun yang mengambang di permukaan laut. Dilakukan pemotongan menggunakan pisau selam terhadap jaring yang tersangkut di karang, kemudian dikumpulkan dan ditarik ke atas kapal untuk di bawa ke tempat pembuangan sampah di pulau Karimunjawa. Sampah yang terkumpul sejumlah ± 400 kg dari dua titik kegiatan. Kegiatan didukung dengan alat selam dasar, alat selam bawah air, pisau selam, kamera UW, drone, kapal kayu dan mobil patroli pengangkut sampah. Ini adalah UCCU yang ketiga kali dengan 4 titik pengambilan sampah laut, sebelumnya di perairan Cemara Besar dan Gosong Cemara. Ke depan perlu perhatian kepada para nelayan agar tidak meninggalkan sampah laut. Sumber : Balai TN Karimun Jawa
Baca Berita

Kunjungi Desa Penyangga BBTNBKDS Pejabat Kehutanan Sarawak Dibuat Kagum

Putussibau, 3 Desember 2017. Sebanyak empat orang pejabat kehutanan dari Sarawak (Forest Development of Sarawak/FDS) menyatakan kekagumannya pada upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TNBKDS). Salah satu kekagumannya adalah proses pembuatan madu alam yang berada di Semangit kawasan TNDS. “Sangat luar biasa potensi madu hutan organik yang ada di TNDS, masyarakat tentu mendapat manfaat dari pemberdayaan masyarakat ini. Saya kira kita perlu mengembangkan metode penggunaan Tikung di Malaysia sebagai sarana berkumpulnya lebah untuk menghasilkan madu terbaik”, ujar Ibu Ratna Sri Dewi sebagai Koordinator Peneliti Lingkungan FDS. Kekaguman ini karena Pengelolaan Madu Lestari yang berlokasi di Semangit Dusun Batu Rawan Desa Nanga Leboyan, telah memiliki izin pengelolaan madu di dalam kawasan konservasi. Selain itu telah diakui dunia dengan sertifikasi di tingkat nasional maupun internasional serta berpredikat Halal dari MUI. Madu Hutan Organik ini diperoleh dengan metode Tikung dan dipanen secara lestari dan berstandar tinggi sehingga kebersihan dan kehigienisan madu hutan organik tetap terjaga. Kapasitas produksi bisa mencapai 20 – 25 ton pertahun. Tidak hanya itu, saat berkunjung ke Dusun Kelawik Desa Mensiau rombongan pejabat kehutanan sarawak yang berjumlah empat orang kembali terkagum-kagum saat mendengarkan penjelasan masyarakat lokal yang menggunakan pewarna alami dalam proses pembuatan kain tenunnya. “sangat luar biasa kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk pewarna alami ini, jenis tumbuhan yang digunakan merupakan tumbuhan yang melimpah di daerah Sarawak cuma kita belum tahu penggunaannya bisa menjadi pewarna alami, dirasa waktu hari ini belum cukup untuk menggali potensi pewarna alami yang ada di Desa Mensiau ini”, ujar Ibu Ratna Sri Dewi. Menurut Ketua Kelompok Tenun Roselia, ada sekitar 34 jenis tumbuhan yang digunakan diantaranya daun Engkerabang Laut yang menghasilkan warna biru, daun Engkerengas menghasilkan warna hijau, Kayu Belian menghasilkan warna merah tua, daun Manggis menghasilkan warna hitam. Dalam rangka mendukung energi baru terbarukan Balai Besar TNBKDS juga mengembangkan biogas. Saat meninjau lokasi biogas di Desa Manua Sadap rombongan FDS kembali berkeinginan untuk mengadopsi teknologi biogas yang diterapkan dengan memanfaatkan kotoran ternak. “Sungguh besar manfaat untuk masyarakat yang dilakukan oleh pihak TNBKDS, ini adalah langkah besar bagi Dusun Sadap untuk membangun perekonomian masyarakat sekitar kawasan area konservasi dengan menggunakan energi hijau, ini adalah contoh bagi pengelolaan kawasan konservasi yang selaras dengan pelestarian kawasan”ujar Awang Saimi salah satu rombongan . Menurut Parsaoran Samosir selaku Kepala Seksi PTN Wilayah I Lanjak, menerangkan bahwa latar belakang TNBKDS bekerjasama dengan International Tropical Timber Organization (ITTO) adalah kurangnya energi listrik, gas dan lainnya yang ada di Dusun Sadap. TNBKDS berinisiatif melakukan pembuatan Biogas dengah harapan ketergantungan masyarakat akan listrik, bahan bakar minyak tanah, gas dan kayu bakar bisa dikurangi” ujarnya. Sedangkan menurut warga pembangunan Biogas ini sangat banyak membantu masyarakat terutama pemenuhan energi listrik dan gas untuk keperluan sehari –hari. “untuk rencana kedepan dengan adanya Biogas ini kami akan membuat rumah produksi gula aren, keripik pisang dan aneka kerajinan sehingga perekonomian masyarakat yang ada di Dusun Sadap dapat meningkat.” ujar Moses Bungkung salah satu tokoh masyarakat. Mengakhiri kunjungannya, rombongan diajak berkunjung ke Dusun Sungai Utik untuk mempelajari seni tato menggunakan pewarna alami. Tinta yang digunakan adalah bahan alami dari bahan – bahan yang ada di hutan, peralatan yang digunakan juga masih tradisional”, ujar Herkulanus sebagai Ketua Perkumpulan Tato Sungai Utik. Menurut Ibu Rosenita Anak Jubang yang masih keturunan Dayak Iban, bahwa tato tradisional di negerinya tidak berbeda jauh dengan seni tato yang ada di Sungai Utik namun perbedaan yang cukup signifikan adalah penggunaantinta yang berasal dari bahan alami. Selain melihat kesenian tato, tim juga melihat kerajinan – kerajinan dari Rotan, tikar bemban, ukiran, perkakas dapur dari kayu, pandan bemban dan lain – lain. “Sangat banyak sekali konsep pemberdayaan masyarakat dan produk yang dihasilkan dari program – program TNBKDS, banyak ide – ide kreatif yang berasal dari tempat ini yang akan kami bawa dan praktekan di negara kami sehingga perekonomian masyarakat yang hidup didalam maupun di sekitar kawasan dapat meningkat”, tutur Awang Saimi menutup kunjungannya. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Badai Siklon Dahlia Hampir Menghambat Monitoring Lamun di SPTN II Jinato Balai TN Takabonerate

Pulau Pasitallu Timur - Kepulauan Selayar, 2 Desember 2017. Badai Dahlia memporak-porandakan pesisir barat wilayah Indonesia bahkan imbasnya terasa hingga ke pesisir kawasan yang dimana posisi TN. Taka Bonerate berada di laut Flores. Kondisi ini bahkan hampir menghambat salah satu kegiatan rutin fungsional Balai Taman Nasional Taka Bonerate (BTNTBR) yaitu Monitoring Tutupan Lamun Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Jinato yang lokasi di Pasitallu Timur Desa Khusus Pasitallu. Namun di tengah kondisi cuaca yang cukup ekstrem tersebut tim tetap melaksanakan kegiatan dengan penuh kehati-hatian tentunya. Dan alhamdulillah, kegiatan yang dikerjakan di penghujung November hingga memasuki awal Desember ini bisa diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Terdapat tiga stasiun amatan dengan ukuran 10 meter persegi dengan jarak antar kuadran 5 meter dimana ukuran kuadran 50 cm persegi. Berdasarkan amatan sementara tutupan lamun yang ada masih dalam kondisi yang masih sangat baik dengan jumlah sebaran jenis yang ditemukan 4 jenis Thalassia hemprichii (TH) , Cymodecea rotundata (CR), Syringodium isoetifolium (Si), Enhalus acoroides (EA). Jumlah individu yang hampir berimbang di kedua jenis yaitu CR dan TH. Dengan masih terjaganya salah satu habitat penting ini, secara otomatis akan menjaga kelestarian biota yang hidup di padang Lamun. Mari senantiasa untuk menjaga dan lestarikan 4 ekosistem penting Hutan (Daratan Tinggi, Rendah), Mangrove, Lamun dan Terumbu karang untuk keberlangsungan makhluk hidup. Agar kelak anak cucu kita pun bisa turut merasakan dan menikmati keindahannya. Sumber : Asri - Balai TN Takabonerate
Baca Berita

Operasi Gabungan SPTN II Jinato Balai TN Taka Bonerate Turunkan Tim Penyelam

Jinato-Kepulauan Selayar, 2 Desember 2017. Balai Taman Nasional Taka Bonerate/Seksi Pengelolaan wilayah II Jinato bersama Polres Kepulauan Selayar/Kepolisian Sektor Taka Bonerate, Kodim 1415 Kepulauan Selayar dan Pos TNI Angkatan Laut kembali melaksanakan Operasi Pengawasan dan Pengamanan Perairan Gabungan guna menyisir kawasan Taman Nasional Taka Bonerate (28 Nopember - 2 Desember 2017) Operasi Gabungan yang dilakukan secara berkala tersebut bertujuan untuk menjaga dan meminimalkan kerusakan ekosistem terumbu karang dan biota laut lainnya melalui upaya pengawasan dan pengamanan serta penegakan hukum. Meskipun cuaca ekstrem yang boleh jadi merupakan dampak dari siklon badai Dahlia, tak menyurutkan semangat tim untuk tetap terjun ke lapangan. Tidak seperti operasi sebelumnya, kali ini tim melakukan penyelaman dengan target utama nelayan pengguna alat tangkap bubu dimana diketahui penggunaan alat tangkap ini tergolong tidak ramah lingkungan karena menggunakan pemberat berupa batu karang yang dapat merusak ekosistem karang yang merupakan habitat biota laut lainnya. Ketua Tim Opgab Ajadin Anhar (Polhut TNTBR) yang ditemui di sela kegiatan mengatakan "Operasi Gabungan kali ini sengaja kita lakukan penyelaman untuk pengembangan informasi dari laporan masyarakat bahwa nelayan bubu menggunakan pemberat batu karang dengan cara merusak" Benar saja, tim penyelam yang terdiri dari Ajadin Anhar (Polhut Balai TNTBR) dan Bripka Yasnur (Polsek Taka Bonerate) mendapati 2 (dua) orang nelayan tertangkap tangan menggunakan alat tangkap bubu dengan pemberat karang hidup. "Bayangkan kalau setiap bubu menggunakan batu karang hidup untuk menindis bubunya, berapa karang yang dirusak" Ucap M. Baso Kanit Reserse Polsek Taka Bonerate saat dimintai keterangan perihal diamankannya dua nelayan bubu tersebut. Lebih lanjut dikatakan "Dua nelayan yang kami dapati masih dalam tahap pembinaan dan diberi tugas mensosilisasikan hal ini dan jika ditemujan kembali oleh aparat, akan kami tindak tegas" Dengan dilaksanakannya patroli gabungan secara berkala diharapkan kegiatan-kegiatan ilegal di kawasan TN Taka Bonerate dapat diantisipasi dan diminimalisir, sehingga tingkat kerusakan terumbu karang dapat ditekan. Pada akhirnya diharapkan dengan ekosistem terumbu karang yang terjaga, sumber daya perikanan akan terus dapat menopang kehidupan dan kesejahteraan masyarakat nelayan melalui penangkapan ikan dan pemanfaatan jasa lingkungan untuk aktifitas wisata bahari. Perlu diketahui pula bahwa kawasan Taman Nasional Taka Bonerate didiami oleh lebih dari 7200 jiwa yang berasal dari 6 desa (Latondu, Rajuni, Tarupa, Jinato, Pasitallu Raya dan Tambuna) yang sebahagian besar kehidupannya sangat tergantung dari mata pencaharian sebagai nelayan. Kawasan ini juga berperan penting sebagai tempat pemijahan berbagai jenis ikan yang penting guna menjamin keberlanjutan sumber daya perikanan, termasuk Laut Flores dan Selat Makassar. Sumber : Asri - Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Balai KSDA Aceh Evakuasi Charlie dan Cantik

Aceh Besar, 1 Desember 2017. Tim Balai KSDA Aceh Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II bersama Tim Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) telah mengevakuasi dua individu orangutan (induk dan anak) dari wilayah kebun sawit di Desa Cot Seumantok Kec. Babahrot Kab. Abdya. Dari hasil pemeriksaan, dua individu dalam kondisi yang cukup sehat. Induk dengan berat lebih kurang 35 kg, usia sekitar 25 tahun, diberi nama Charlie. Anaknya dengan berat lebih kurang 5 kg, usia antara 8 bulan sampai 1 tahun, diberi nama Cantik. Saat ini kedua orangutan tersebut berada di kantor Balai KSDA Aceh dari Nagan Raya dan akan dibawa ke Pusat Reintroduksi Orangutan Sumatera di Jantho, Aceh Besar untuk direlease. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Penyusunan Dokumen Masterplan Pengelolaan Sampah Taman Nasional Gunung Rinjani

Mataram, 30 November 2017. Kegiatan Penyusunan Dokumen Masterplan Pengelolaan Sampah Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dilaksanakan pada Hari Kamis 30 November 2017 di Hotel Golden Palace, Mataram pada pukul 09.00-17.00 Wita. Kegiatan ini dihadiri oleh Bappeda Prov. NTB, Dinas Pariwisata NTB, Dinas Pariwisata NTB, Dinas LHK Prov NTB, Dinas PU dan Penataan Ruang Prov NTB, Bappeda Kab. Lombok Utara, Bappeda Kab. Lombok Timur, Tim Ahli Penyusunan Masterplan, Fades Cluster Rinjani-Mandalika, Ketua Dewan Pengurus, Harian Geopark Rinjani, Bank Sampah NTB, Forum Porter Guide Rinjani, Forum Citra Wisata Rinjani, KPA Sabda Alam, KPA Duta Wana, Satgas Rinjani Bersih dan Ketua Komunitas Rinjani Care. Acara diawali dengan sambutan sekaligus dibuka oleh Kepala Balai TNGR, kemudian dilanjutkan oleh pemaparan Masterplan Sampah BTNGR oleh Tim Ahli (Unram), Review Masterplan oleh narasumber dari Dinas LHK Prov. NTB, Kepala dinas Pariwisata Prov. NTB, dan Perwakilan Bank Sampah NTB. Berbagai masukan dan saran disampaikan oleh peserta dalam sesi diskusi dan tanya jawab guna perbaikan isi dari draft masterplan pengelolaan sampah yang telah dibuat, mulai dari aspek operasional pengelolaan sampah, aspek kelembagaan, aspek peraturan, aspek pembiayaan, serta aspek dari peran masyarakat. Sumber : Balai TN Gunung Rinjani
Baca Berita

Taman Edelweiss TN Bromo Tengger Semeru Kedatangan Penyuluh Kehutanan se-Jawa Timur

Tengger Laut Pasir, 30 November 2017. Kamis pagi, 30 November 2017, Taman Edelweiss TNBTS, Resort PTN Tengger Laut Pasir, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) kedatangan 270 Penyuluh Kehutanan se- Provinsi Jawa Timur. Hadir pada kesempatan tersebut yaitu Kepala Badan Pengembangan dan Penelitian Sumberdaya Manusia Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2SDM LHK), Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur (Dishut Jatim), Kepala Pusat Penyuluhan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kapusluh LHK), Wakil Kepala Divisi Regional 2 Perum Perhutani (Wakadivre 2 Perhutani), Ketua Ikatan Penyuluh Kehutanan Indonesia Provinsi Jawa Timur (IPKINDO Jatim), didampingi langsung oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk mengenalkan program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Penyuluh Kehutanan BBTNBTS yaitu Desa Edelweiss sebagai bentuk sinergi antara Konservasi Keanekaragaman Hayati TNBTS, Budaya Tengger, serta peningkatan perekonomian masyarakat desa penyangga TNBTS khususnya Masyarakat Tengger. Disampaikan pula bahwa Taman Edelweiss ini awalnya merupakan lokasi ujicoba budidaya edelweiss dan sumber benih edelweiss bagi masyarakat. Kini lokasi yang pernah dikunjungi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2016 ini telah dipercantik untuk lokasi foto serta menjadi percontohan kepada masyarakat desa penyangga yang ingin mengembangkan wisata di desanya menjadi desa edelweiss. Kesempatan kunjungan kali ini juga dimanfaatkan oleh 2 orang perwakilan Pemuda Desa Wonokitri untuk belajar menjelaskan proses budidaya edelweiss di desanya dalam rangka mewujudkan Desa Edelweiss dihadapan Bapak Kepala BP2SDM LHK, Ibu Kepala Dishut Jatim, Ibu Kapusluh LHK, Wakadivre 2 Perhutani, serta IPKINDO Jatim. Puas dan bangga mendapat penjelasan tentang Program Desa Edelweiss TNBTS serta cara budidaya edelweiss, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman bibit edelweiss secara simbolik sebagai bentuk dukungan pusat dan daerah terhadap program Desa Edelweiss TNBTS. Kegiatan kunjungan ini diakhiri dengan foto bersama di Taman Edelweiss TNBTS berlatarbelakang Gunung Bromo. Mari bergandengan tangan, gotong royong mewujudkan desa edelweiss, melestarikan Alam dan Budaya. Sumber : Birama Terang Radityo, S.Hut. - Penyuluh Kehutanan Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Balai Taman Nasional Tambora Gelar Patroli Gabungan

Dompu, 1 Desember 2017. Balai Taman Nasional Tambora kembali menggelar kegiatan patroli gabungan pada tanggal 28 November – 2 Desember 2017. Kegiatan patroli gabungan ini melibatkan personil sebanyak 20 orang, terdiri dari Polhut TN Tambora, serta personil dari TNI dan Polri. Sasaran kegiatan patroli gabungan adalah lokasi-lokasi rawan illegal logging dan perambahan yang ada di wilayah kerja SPTN I dan SPTN II. Tim patroli gabungan berhasil menjumpai dan menghentikan kegiatan perambahan di wilayah kerja SPTN II, tepatnya di lokasi Karombo Nae dengan pelaku sebanyak 16 orang dan di lokasi Doro Tabe dengan pelaku sebanyak 3 orang. Pelaku kemudian diminta menandatangani surat pernyataan untuk tidak menggarap lahan di dalam kawasan Taman Nasional Tambora, dan keluar dari kawasan Taman Nasional Tambora. Gubuk-gubuk yang baru saja dibangun oleh pelaku kemudian langsung dibongkar oleh tim patroli gabungan. Kegiatan patroli gabungan merupakan upaya Balai Taman Nasional Tambora untuk terus melindungi dan mengamankan kawasan Taman Nasional Tambora dari gangguan keamanan kawasan hutan yang datang dari dalam maupun dari luar kawasan hutan. Sumber: Balai TN Tambora
Baca Berita

Konsultasi Publik Pengembangan Wisata TWA Wera Balai KSDA Sulteng

Palu, 2 Desember 2017. Balai KSDA Sulawesi Tengah melaksanakan kegiatan KONSULTASI PUBLIK PENGEMBANGAN TWA WERA bertempat di ruang rapat BKSDA Sulawesi Tengah (29/11/2017). Dalam kegiatan tersebut, dihadirkan narasumber yang terkait dengan pengembangan wisata di TWA Wera, diantaranya Kepala Balai KSDA Sulteng (Ir. Noel Layuk Allo, MM) yang memaparkan tentang kebijakan pengelolaan wisata di kawasan konservasi, staf ahli CV Geometric Konsultan Teknik yang memaparkan tentang studi kelayakan dan analisis pengembangan sarana prasarana yang akan dibangun di TWA Wera dan dari Dinas Pariwisata yang memaparkan tentang potensi wisata yang ada di Prov. Sulawesi Tengah pada umumnya. Adapun tujuan konsultasi publik tersebut adalah agar mengenali berbagai permasalahan, pandangan, harapan, keinginan, kebutuhan, dan sikap masyarakat terhadap rencana kegiatan yang akan dilakukan di TWA Wera. Pelaksanaan kegiatan konsultasi publik ini dihadiri 50 orang peserta yang berasal dari tokoh-tokoh masyarakat sekitar kawasan, LKMD, perangkat desa dan kecamatan disekitar kawasan, pihak konsultan, Polres kab Sigi, Pemerintah Daerah dan juga dari stakeholder terkait. Dengan kegiatan tersebut, diharapkan diperoleh masukan-masukan terkait dengan pengembangan TWA Wera nantinya. TWA Wera sendiri pertama kali ditunjuk menjadi kawasan konservasi dengan status Taman Wisata Alam berdasarkan pada SK Menteri Pertanian Nomor: 843/Kpts/UM/11/1980 seluas + 250 Ha. Kemudian pada tahun 2014 telah ditetapkan menjadi Taman Wisata Alam berdasarkan SK Kementerian Kehutanan Nomor: SK.6586/Menhut-VII/KUH/2014 seluas 249,39 Ha. TWA Wera terkenal dengan air terjun yang terdapat di dalamnya. Namun masih banyak kegiatan wisata yang bisa dilakukan di dalam kawasan tersebut, diantaranya : wisata panorama alam, wisata pengamatan flora dan fauna, wisata hiking/ pendakian, wisata Sungai Wera, wisata pendidikan dan konservasi, wisata outbond/ permainan, wisata religi, serta wisata pedesaan/ tradisional. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Pengumuman Pemenang Lomba Film Pendek “Kepedulian Terhadap Konservasi” Balai KSDA Kalbar

Pontianak, 1 Desember 2017. Film bukan merupakan hal baru dalam kehidupan masyarakat, dan juga tidak hanya sebagai media hiburan saja melainkan sebagai wahana edukasi yang efektif di tengah masyarakat yang antara lain bertujuan menumbuhkan kesadaran dan pemahaman baru, maupun perubahan perilaku dan pola pikir di tengah kehidupan masyarakat. Menyadari dan berkaca pada realitas tersebut di atas, Balai KSDA Kalimantan Barat bekerjasama dengan Yayasan Planet Indonesia (YPI) membuat lomba pembuatan Film Pendek dengan tema "Kepeduliam Terhadap Konservasi". Tujuan diadakannya kegiatan Lomba Film Pendek Konservasi, diantaranya untuk menumbuhkan kesadaraan masyarakat akan pentingnya kegiatan konservasi dalam kehidupan bermasyarakat, menggugah masyarakat terutama generasi muda dalam memelihara dan menjaga kelestarian alam beserta isinya serta memanfaatkan media sebagai wahana penyadartahuan tentang konservasi. Proses lomba itu sendiri dimulai dari pendaftaran dan penyampaian materi film ke panitia melalui link dari bulan Agustus sd bulan nopember 2017. Dari 9 yang mengikuti lomba melalui link Balai KSDA Kalbar, terdapat 3 nominasi pemenang yang kemudian oleh dewan juri diputuskan menjadi pemenang lomba, diantaranya : Kepala Balai KSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta dalam sambutan saat penyerahan hadiah mengungkapkan bahwa dengan kemajuan teknologi saat ini, harus bisa mendorong generasi muda untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa. Generasi muda harus mampu membuat karya yang berbeda. Sehingga karya-karya yang dihasilkan oleh generasi muda dapat mengharumkan nama bangsa. (YS). Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Siklon Tropis "Dahlia" Tumbangkan Beberapa Pohon di TN Gunung Gede Pangrango

Cibodas, 30 November 2017. BMKG melalui website resminya tanggal 29 November 2017 telah memberitahukan bahwa telah terjadi Siklon Tropis "Dahlia" di wilayah Barat Daya Bengkulu bergerak ke arah Tenggara menjauhi Indonesia. BMKG memperkirakan Siklon Tropis "Dahlia" tersebut berdampak menimbulkan angin kencang lebih dari 20 knots (36 km/jam) di pesisir Barat Sumatera Barat hingga Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Berdasarkan perkiraan tersebut BMKG menghimbau agar waspada terhadap hujan lebat disertai angin kencang yang dapat mengakibatkan banjir maupun longsor serta pohon tumbang/ roboh. Sehubungan dengan himbauan dari BMKG tersebut, kami melakukan pemantauan di beberapa lokasi wisata kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Berdasarkan hasil pemantauan telah terjadi beberapa pohon tumbang/ roboh di titik-titik tertentu pada jalur pendakian yang menghalangi jalur pendakian Cibodas, Gunung Putri, dan Selabintana. Serta hampir di semua lokasi wisata sedang terjadi angin kencang yang mengganggu aktivitas wisata di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kami memperkirakan angin kencang dan beberapa pohon yang tumbang/ roboh tersebut merupakan dampak dari Siklon Tropis "Dahlia" yang sedang terjadi. Melalui Surat Edaran Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Nomor: 1578/BBTNGGP/KABIDTEK/Tek.P2/11/2017 kegiatan pendakian "DITUTUP" untuk sementara waktu, karena masih terjadi angin kencang yang dapat mengakibatkan pohon tumbang roboh serta dapat membahayakan jiwa para pendaki. Demi keselamatan para pendaki kami menghimbau agar para pendaki mengurungkan niatnya melakukan pendakian ke Gunung Gede dan Gunung Pangrango untuk sementara waktu. Sampai dengan saat ini tim masih melakukan pemantauan di beberapa lokasi wisata TNGGP serta tim SAR kami sedang melakukan penyisiran terhadap para pendaki yang telah berada pada jalur pendakian untuk segera turun. Bagi para pendaki yang telah melakukan pendaftaran pada website resmi booking.gedepangrango.org dan telah melakukan pembayaran melalui transfer, pendaki dapat memilih 2 opsi, yaitu: Demikian untuk dapat dimaklumi oleh semua pihak. Penanggung jawab berita: Kepala Bidang Teknis Konservasi - BBTN Gunung Gede Pangrango (Ir. Mimi Murdiah - 081280201496)
Baca Berita

Perjanjian Kerjasama Kemitraan Antara Balai KSDA Kalimantan Barat Dengan PT. Permata Sawit Mandiri (PSM)

Pontianak, 30 November 2017. Telah dilakukan penandatanganan Addendum Perjanjian Kerjasama Kemitraan antara Balai KSDA Kalimantan Barat dengan PT. Permata Sawit Mandiri (PSM) di Kabupaten Ketapang tentang Pengelolaan Keanekaragaman Hayati dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Areal Kerja PT. PSM di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Penandatanganan dilakukan Pihak pertama dalam hal ini Kepala Balai KSDA Kalbar Bapak Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut, MH dan pihak kedua Direktur PT. PSM Bapak H. Albert Ruslim. Penandatanganan addendum kerjasama, juga diikuti sekaligus penandatanganan rencana pelaksanaan program 5 tahun kedepan dan rencana kerja tahun 2018 . Tujuan perjanjian kerjasama ini adalah untuk melaksanakan kegiatan Pengelolaan dan Pemantauan Keanekaragaman Hayati pada Areal Bernilai Konservasi Tinggi dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di PT. PSM. Ruang lingkup keruangan kerjasama meliputi Areal kerja PT. PSM di Kabupaten Ketapang dan wilayah kerja Balai KSDA Kalimantan Barat di Kabupaten Ketapang. Sedangkan ruang lingkup substansi yakni pengelolaan dan pemantauan keanekaragaman hayati pada areal bernilai konservasi tinggi; pengendalian kebakaran hutan dan lahan; edukasi dan penyardartahuan masyarakat tentang konservasi; pemberdayaan masyarakat; peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta monitoring dan evaluasi. PT. PSM Di Kabupaten Ketapang memiliki luas areal konsesi sebesar 15.560 hektar yang diantaranya kurang lebih 4.700 ha lahannya merupakan kawasan hutan yang bernilai konservasi tinggi. Hal tersebut di sampaikan Komisaris Utama PT. PSM Andi Laurensius, PT. PSM menyambut baik rencana pengelolaan HCV di wilayah PT. PSM seperti yang disampaikan Kepala Balai KSDA Kalbar. Kepala Balai menyampaikan bahwa kegiatan yang ada dalam kerjasama merupakan sebuah tantangan yang harus dapat direalisasikan kedepannya, apabila memungkinkan akan didorong untuk menjadi model kawasan konservasi yang sukses dikelola pihak swasta, dan bagi perusahaan PT. PSM apabila hal ini bisa diwujudkan merupakan nilai positif/nilai tambah dalam manajemen usaha sekaligus manajemen lingkungan. Beliau juga berpesan, bahwa dalam pengelolaan HCV tersebut harus dapat mengedepankan prinsip dasar konservasi yakni yang sering disebut 3 pilar konservasi Perlindungan, Pengawetan dan Pemanfaatan. Dan tidak kalah pentingnya upaya pelibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan HCV/kawasan bernilai konservasi tinggi. Masyarakat dapat berperan aktif dalam usaha-usaha yang akan direncanakan dalam mendukung kegiatan yang ada di dalam rencana pelaksana program kerjasama. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

BTN Bukit Baka Bukit Raya Bentuk Kader Konservasi Tingkat Pemula

Peserta Pembentukan Kader Konservasi Tingkat Pemula TNBBBR Tahun 2017 Sintang, 30 November 2017 – Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) dengan wilayah yang cukup luas dan tercakup didalam 3 wilayah kabupaten (Sintang, Melawi dan Katingan) yang berada di 2 propinsi (Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah) memerlukan dukungan dari masyarakat luas untuk tercapainya tujuan pengelolaan yang bermanfaat dan mengandung nilai-nilai konservasi dan pelestarian lingkungan. Balai TNBBBR sebagai unit pengelolaa tidaklah akan mendapatkan hasil yang maksimal tanpa adanya keterlibatan dan bantuan dari masyarakat yang berada di dalam atau disekitar kawasan. Dalam upaya untuk menyampaikan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat khususnya kepada generasi muda perlu dilakukan sebuah kegiatan pendidikan non formal yang bertujuan untuk memperkenalkan pengelolaan kawasan konservasi TNBBBR yang dapat meningkatkan pengetahuan, perubahan sikap dan keterampilan generasi muda mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Dan untuk tahun 2017 Balai TNBBBR telah melakukan kegiatan Pembentukan Kader Konservasi untuk Tingkat Pemula yang dilaksanakan 2 kali pada masing-masing seksi pengelolaan. Untuk Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Nanga Pinoh telah dilaksanakan di Nanga Pinoh pada 14 s/d 17 September 2017 dan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kasongan baru saja kita selesaikan yang berlangsung pada 27 s/d 30 Nopember 2017 di Tumbang Hiran. Diikuti peserta sebanyak 60 orang yang berada pada tingkat pendidikan SMA dan Mahasiswa, kegiatan ini dilaksanakan selain dengan metode pembelajaran di kelas juga dilakukan kegiatan out bond yang dilaksanakan di lapangan dan semua peserta dapat mengikuti dengan baik dan penuh dengan suka cita. Materi yang disampaikan adalah materi konservasi tingkat dasar dan ilmu manajemen mencakup dasar-dasar konservasi, manajemen kawasan konservasi, ekologi dan inventarisasi sumber daya, navigasi, fotografi, manajemen, P3K dan SAR serta pengenalan terhadap konservasi orangutan. Dengan tema “Mewujudkan Sinergi Pengelolaan TNBBBR Bersama Kader Konservasi “ sebagai langkah terciptanya pengelolaan kawasan TNBBBR yang lestari (humas-BTNBBR).

Menampilkan 9.297–9.312 dari 11.140 publikasi