Rabu, 27 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Kembalinya Tarsius, Si Primata Kecil ke Suaka Margasatwa Ko’mara

Makassar, 15 September 2023. Kepala Bidang Wilayah II Pare-pare, Petugas Resort Ko’mara dan Resort Malino serta Penyuluh Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV Gowa, Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel), Kamis (14/9), melakukan pelepasliaran satwa liar Tarsius spp. di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Ko'mara. Pelepasliaran satu ekor Tarsius – primata kecil yang sering disebut sebagai "Hantu Hutan" merupakan salah satu upaya pelestarian dan pengendalian peredaran satwa liar yang dilakukan oleh Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan. Tarsius yang dilepaskan di Suaka Margasatwa Ko’mara merupakan satwa serahan dari Daops Gowa - Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sulawesi. Satwa tersebut ditemukan oleh salah satu anggota Manggala Agni, Kusnadi. Beliau menyampaikan entah bagaimana, primata kecil ini telah menyelinap ke dapur sebelum akhirnya diamankan. Selanjutnya komunikasi terkait penyerahan satwa kepada Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dilakukan dengan Kepala Resor Malino. Pada tanggal 13 September 2023 anggota Manggala Agni lainnya, Sapri menyerahkan Tarsius tersebut ke Resort Malino. Penyerahan ini adalah langkah penting dalam memastikan kesejahteraan Tarsius sebelum akhirnya dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Tarsius adalah jenis primata kecil yang memiliki tubuh berwarna cokelat kemerahan dengan warna kulit kelabu dan bermata besar. Habitatnya di hutan-hutan Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan, juga di pulau-pulau sekitar Sulawesi seperti Suwu, Selayar, dan Peleng. Selain itu, Tarsius juga dapat ditemukan di Filipina (id.wikipedia.org). Sebagai hewan nokturnal Tarsius melakukan aktivitas pada malam hari dan tidur pada siang hari, sehingga dijuluki juga sebagai “Hantu Hutan”. Kepada tim pelepasliaran Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Ir. Jusman menyampaikan agar tetap dilakukan pemantauan pasca pelepasliaran. Kegiatan ini dilakukan untuk melihat apakah Tarsius tersebut dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dihabitat alaminya. Melihat Tarsius melompat dari tangan manusia ke alam bebas adalah momen yang membekas. Ini adalah cerita tentang kepedulian dan kerjasama untuk menjaga keanekaragaman hayati. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (Nomor : SP.18/K.8/TU/Humas/09/2023) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Berita

Komisi IV DPR RI Lakukan Kunjungan Kerja ke Taman Nasional Ujung Kulon

Labuan, 15 September 2023 - Direktorat Jenderal KSDAE melalui Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) menerima kunjungan kerja dari Anggota Komisi IV DPR RI ke Kantor Balai TNUK, pada Jumat (15/09/2023). Agenda kunjungan kerja kali ini menanggapi urgensi konservasi Badak Jawa dan kendala yang dihadapi Balai TNUK. Dalam kunjungan kerja Anggota Komisi IV DPR RI didampingi oleh jajaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang diwakili oleh Staf Ahli Menteri Bidang Pangan, Drh. Indra Eksploitasia, dan Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan (PPH) Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum), Sustyo Iriyono. Setibanya di Kantor Balai TNUK, Anggota Komisi IV DPR RI dan rombongan disambut oleh Kepala Balai TNUK, Ardi Andono dan seluruh jajaran, serta Pemda Pandeglang dan beberapa Camat yang menjabat di sekitar kawasan konservasi. Perwakilan mitra, YABI dan ALeRT juga ikut menyambut dalam kunjungan kerja ini. "Sekarang Badak Jawa hanya berkonsentrasi di Ujung Kulon. Inilah yang menjadi kepedulian atau atensi bagi pengelolaan Badak Jawa, terutama di Indonesia," jelas Drh. Indra dalam pemaparan di Kantor Balai TNUK, Jumat (15/09/2023). Dalam pemaparan tersebut, Drh. Indra juga menjelaskan apa saja kendala yang dihadapi TNUK dalam mengelola konservasi Badak Jawa. Staf Ahli Menteri ini menjelaskan, selain terkait dana konservasi, TNUK juga menghadapi kendala Sumber Daya Manusia (SDM), kondisi pakan Badak Jawa yang terganggu oleh keberadaan tumbuhan Invasive Alien Species (IAS), hingga perburuan. Menanggapi berbagai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan konservasi Badak Jawa ini, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dr. Hj. Anggia Erma Rini menyampaikan bahwa kendala ini harus segera ditangani. "Memang tidak mudah menjaga konservasi Badak Jawa. Keterlibatan masyarakat menjadi sangat penting, kita semua punya tanggung jawab untuk melindungi taman nasional. Untuk urusan dana, memang (yang diperlukan) banyak. Tapi, taman nasional ini memang tidak bisa diabaikan, harus ada perhatian yang sangat khusus," jelas Dr. Hj. Anggia. Terkait anggaran konservasi di TNUK yang tidak terlalu banyak, Anggia menyampaikan memang harus ada skema lain yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini. Di antaranya dengan bekerja sama dengan berbagai pihak. Drh. Indra menanggapi jika selama ini Ditjen KSDAE dan BTNUK sudah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Tidak hanya YABI dan AleRT, kerja sama dengan kepolisian dan pemerintah daerah juga sudah dilakukan. Melalui kunjungan kerja ini, Drh. Indra dan Dr. Hj. Anggia berharap kendala-kendala yang dihadapi BTNUK dalam mengelola konservasi Badak Jawa bisa diatasi. Sumber: Setditjen KSDAE
Baca Berita

Evakuasi Pendaki Illegal berkewarganegaraan Spanyol

Boyolali, 15 September 2023. Seorang pendaki illegal berkewarganegaraan Spanyol, bernama Jacinto Cornejo Denise del Carmen (wanita, 37 tahun), dilaporkan tersesat di jalur pendakian Gunung Merapi wilayah Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (14/9). Denise melakukan pendakian illegal, karena pendakian Gunung Merapi masih ditutup dikarenakan status siaga level III. Mendapatkan laporan tersebut, pihak Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) segera melakukan komunikasi dan koordinasi dengan BPBD Boyolali, Basarnas Surakarta, PMI Boyolali, Polsek Selo, Koramil Selo, Barameru dan relawan SAR untuk mempersiapkan evakuasi. Hasil komunikasi disepakati diturunkan 4 (empat) orang tim advance, yang terdiri dari 3 (tiga) orang tim dari BTNGM dan 1 (satu) orang dari Barameru untuk melakukan evakuasi. Denise berangkat ke Selo Kabupaten Boyolali, pada hari Rabu, 13 September 2023 pukul 10.00, dan melakukan pendakian seorang diri sampai puncak 13.30 WIB. Kemudian pukul 15.00, yang bersangkutan turun dari puncak, dan tersesat hingga ke arah Sapuangin Kabupaten Klaten. Denise sempat mengirimkan pesan ke adiknya, yang kemudian diteruskan ke berbagai pihak terkait. Denise ditemukan pada hari Kamis, 14 September 2023 pukul 11.08 di pos satu jalur pendakian, dalam keadaan sehat, namun mengalami kepanikan. Denise dengan dibantu tim advance yang menemukannya, melanjutkan perjalanan turun ke bawah dan tiba di lokasi New Selo pukul 12.30 WIB, dan langsung dilakukan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Selo. Setelah dipastikan kondisi kesehatannya cukup baik, ia dibawa ke kantor Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Selo Balai TNGM, untuk dimintai keterangan dan diambil datanya, serta dilakukan pembinaan dan pengarahan tentang status Gunung Merapi yang masih ditutup jalur pendakiannya. Kepada yang bersangkutan diminta agar menghapus semua dokumentasi selama di Gunung Merapi dan menandatangani surat pernyataan publik bahwa menyesal dan paham bahwa ia melanggar aturan pendakian. Kepala Balai TNGM, Muhammad Wahyudi, yang hadir di Selo untuk melakukan koordinasi dengan aparat terkait, menyampaikan bahwa pendakian Gunung Merapi sampai saat ini masih ditutup karena status siaga level III. Selama ini Balai TNGM selalu berkoordinasi dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BBPTKG) Yogyakarta terkait dengan rekomendasi penutupan pendakian Gunung Merapi. Pendakian Gunung Merapi ditutup sejak Mei 2018, dikarenakan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Ke depannya, akan dilaksanakan kajian lebih lanjut setelah penutupan jalur pendakian Gunung Merapi selama 5 tahun, pungkasnya. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi **** Pembuat dan penyunting berita : Titin Septiana Rahmawati Penanggung jawab: Muhammad Wahyudi, S.P, M.Sc. (Kepala Balai) - 085244012365 FB: Taman Nasional Merapi Twiter: @btngunungmerapi IG: @btn_gn_merapi Website : tngmerapi.id
Baca Berita

Evakuasi Pendaki di Jalur Timbanuh TN Gunung Rinjani

Mataram, 15 September 2023. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mengevakuasi pendaki yang meninggal diduga hiportemia di cemara nunggal, TN Gunung Rinjani, Selasa (12/9), pukul. 10.00 WITA. Korban sempat mengalami kejang-kejang dan kedinginan sebelum menghembuskan nafas terakhir. Dari hasil pemeriksaan medis di Puskesmas Pengadangan, tidak ditemukan adanya tanda kekerasan dan murni akibat kelelahan. Korban yang diketahui berusia 42 tahun, Senin (11/9), mendaki Gunung Rinjani bersama 4 rekannya melalui jalur timbanuh melewati jalur tidak resmi di Dasan Lekong dan menginap di cemara nunggal sebelum menuju pelawangan. Karena korban mulai kedinginan kemudian dibawa rekannya menuju Pos 4, Selasa (12/9). Setelah mengetahui korban meninggal dunia, rekan korban berkoordinasi dengan Kepala Desa Timbanuh untuk dilaporkan pada petugas Balai TNGR, Resort Timbanuh. Korban berhasil dievakuasi dan sampai di kantor Resort Timbanuh pada tanggal 13 September 2023 pukul 00.22 WITA. Balai TNGR memberikan apresiasi kepada pihak terkait yang turut membantu proses evakuasi korban seperti Koramil Masbagik, Polsek Pringgasela, Unit SAR Lotim, Ambulan Misi Kemanusiaan Pancor, BPBD Lotim, Kepala Desa Timbanuh dan Kepala Desa Rempung. Perlu diperhatikan, jika ingin berkunjung ke kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, mari selalu patuhi peraturan yang berlaku dan menggunakan jalur resmi wisata pendakian demi keamanan, kenyamanan dan keselamatan kita semua. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Anakan Orangutan Jalani Rehabilitasi di PKRO Batu Mbelin

Batu Mbelin, 7 September 2023. Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan (PKRO) – Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) SOCP Batu Mbelin, Sibolangit, menerima kedatangan 1 (satu) individu Orangutan Sumatera (Pongo abelii), yang berasal dari Desa Danau Trans, Subulussalam, Provinsi Aceh, Rabu (6/9), pukul 05.53 WIB. Orangutan yang direhabilitasi merupakan Orangutan anakan, diperkirakan berumur 3 tahun, berjenis kelamin betina, secara umum kondisinya baik, Body Condition Score 3, jinak namun sering mengeluarkan suara kissing squeak (tanda tidak nyaman), nafsu makannya baik dan tidak ada tanda-tanda perlukaan luar. Diduga orangutan ini terpisah dari induknya. Saat ini orangutan berada di kandang Treatment C PKRO Batu Mbelin, untuk proses perawatan dan rehabilitasi lebih lanjut sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitat alaminya. Sumber : Zakia Sheila Faradilla, S.KH. (PEH Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Petugas Balai TNGR Redam Api Sembalun

Sembalun, 7 September 2023. Kepala Resort Sembalun Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mendapat laporan dari petugas Resort Sembalun yang bertugas di Pos II Jalur Wisata Pendakian Sembalun, bahwa telah terpantau hotspot di lokasi hutan Sajang, Rabu (6/9), Pukul 11.30 WIB. Anggota Resort Sembalun melakukan pengecekan/size-up dan memastikan memang telah terjadi kebakaran hutan (karhut) di lokasi hutan Pemantau Sajang, kemudian selanjutnya melakukan koordinasi dengan pihak Koramil dan Polsek Sembalun. Pukul 12.15 WITA Tim Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (DALKARHUTLA) sebanyak 23 orang bergerak menuju lokasi dan mulai melakukan upaya pengendalian kebakaran hutan hingga pada Pukul 13.30 WITA. Pukul 13.45 WITA, Tim Melakukan Moping-Up (memastikan bahwa tidak ada lagi sisa-sisa dari bara api bekas kebakaran hutan) dan pada pukul 14.30 WITA dan api dinyatakan padam. Adapun luas Areal yang terbakar di perkirakan seluas 3,5 Ha, vegetasi yang terbakar berupa Rumput, Alang-alang, Semak, Perdu, Dedauanan Kering, dan beberapa Pohon jenis Saropan, Bak-bakan dan Cermei hutan. Semeton Rinjani, di musim kemarau ini mari tetap waspada terhadap KARHUTLA. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Surga Tersembunyi di SM. Siranggas

Desa Mahala, 4 September 2023. Tidak perlu jauh-jauh pergi ke luar Sumatera Utara untuk sekedar menikmati keindahan alam. Di Kabupaten Pakpak Bharat, yang masih memiliki kawasan hutan dengan status baik, menyimpan surga keindahan alam yang tersembunyi. Salah satu tempat di tengah hutan rimba Pakpak Bharat, terdapat penampakan yang memanjakan mata dengan keindahan alamnya yang mampu menyihir siapa saja yang datang ke sana. Untuk menuju tempat tersebut memerlukan effort lebih, lantaran harus menempuh jarak yang jauh dan melelahkan. Namun tidak ada sesuatu yang mudah untuk hasil yang indah. Yah…. seperti itulah perjalanan ke tempat ini, rasa lelah perjalanan akan terbayarkan dengan pesona alam yang disajikan. Pesona alam yang masih asri dan sejuk mampu membuat rileks pikiran. Tempat indah tersebut adalah Air Terjun Lae Singgabit, yang terletak di Desa Mahala, Kecamatan Tinada, Kabupaten Pakpak Bharat. Air terjun ini berada di dalam kawasan hutan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Siranggas memiliki ketingian lebih kurang 60 meter dengan aliran air yang cukup sedang, dimana ukuran debit air jika musim kemarau tidak berkurang dan jika musim hujan bertambah sedikit saja. Hal ini yang menjadi daya tarik dari air terjun ini, dikarenakan debit air yang seimbang baik di musim kemarau maupun di musim hujan. Air terjun Lae Singgabit ini menjadi identitas (ciri khas) dari kawasan SM. Siranggas dan menjadi modal destinasi untuk wisata air terjun. Jarak dari Desa Mahala menuju lokasi air terjun sekitar 1,2 km. Medan dan jalur yang akan dilalui sedikit menantang, mendaki menjelajahi kawasan hutan. Di perjalanan akan ditemukan drainase atau aliran air dari dalam kawasan hutan menuju desa, dimana air tersebut bersumber dari air terjun Lae Singgabit yang juga digunakan oleh masyarkat desa guna memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Untuk menuju air terjun diperlukan energi yang ekstra dan kehati-hatian, mengingat adanya jalur pendakian tebing dengan bebatuan yang licin. Bagi komunitas pencinta alam, ini tentunya sangat menantang untuk dijelajahi. Bila sudah tiba di lokasi air terjun, maka rasa lelah pun sirna digantikan dengan kekaguman menyaksikan dan menatap keindahan alam yang terhampar di depan mata. Belum lagi jiwa pun disegarkan dengan mendengarkan suara gemercik air serta kicauan aneka jenis burung penghuni kawasan. Kekaguman ini membangunkan kesadaran spiritual serta rasa syukur akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan alam yang luar biasa untuk dinikmati. Andaikan kawasan hutan ini suatu waktu nanti rusak, maka mata air yang mengaliri air terjun Lae Singgabit akan menjadi kering dan gersang, sehingga berubahlah menjadi air mata bagi masyarakat sekitar, karena kehilangan sumber air untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ini tentunya tidak boleh terjadi, sehingga perlu upaya-upaya preventif dengan melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat sekitar maupun pengunjung untuk ikut menjaga serta melindungi kawasan ini. Kawasan SM. Siranggas lestari, maka masyarakat akan merasakan dan menikmati manfaatnya. Sumber : Remtijah Munte (Kepala Resort SM. Siranggas I) dan Alamuddin Sahputra, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan Ahli Pratama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Kelahiran Baru Elang Jawa di TN Gunung Gede Pangrango

Cianjur, 4 September 2023. Kabar menggembirakan datang dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Telah menetas secara alami seekor anak burung Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) di kawasan Resort PTN Wilayah Cimande Bidang PTN Wilayah III Bogor, pada Sabtu, 2 September 2023. Deteksi kelahiran Elang Jawa baru ini berawal dari perjumpaan sarang yang teridentifikasi aktif. Tim monitoring dari Balai Besar TNGGP kemudian melakukan pemantauan rutin terhadap sarang tersebut. Lalu, pada Minggu, 27 Agustus 2023, terpantau induk Elang Jawa tersebut sudah bertelur dan berada dalam fase pengeraman. Sepekan kemudian, tepatnya pada Sabtu, 2 September 2023, telur yang dierami menetas. Berdasarkan hasil pemantauan, terdapat satu anak Elang Jawa yang berhasil menetas. Kelahiran satwa Elang Jawa menjadi kabar yang menggembirakan dan menjadi asa baru bagi dunia konservasi, terutama Elang Jawa. Elang Jawa ini merupakan simbol satwa nasional Indonesia yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden RI Nomor 4 Tahun 1993. Elang Jawa saat ini berstatus dilindungi karena populasi dan sebarannya yang terbatas. Berdasarkan Red List Data Book IUCN, satwa ini berstatus sejak tahun 2016. Dari kelahiran Elang Jawa baru ini, terbit lagi secercah harapan untuk terus menjaga kelangsungan hidup dan populasinya di alam. Elang Jawa sebagai satwa predator berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Data dan informasi keberadaan Elang Jawa di TNGGP ini penting untuk mendukung upaya pelestariannya. Sejauh ini, gangguan yang paling mengancam bagi Elang Jawa adalah perusakan habitat serta minat perburuan yang tinggi. Balai Besar TNGGP terus berupaya melakukan pelestarian Elang Jawa melalui berbagai tindakan, salah satunya melalui kegiatan inventarisasi dan pemantauan sarang secara rutin setiap tahun. Kawasan Resort PTN Wilayah Cimande secara biofisik menjadi habitat potensial bagi Elang Jawa. Sebagian dari wilayahnya merupakan hutan alam dataran rendah yang merupakan area berburu yang ideal bagi Elang Jawa. “Melindungi Elang Jawa, Melindungi Ekosistem Hutan Kita” Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Sekretariat Ditjen KSDAE Foto: Sopian Mukti
Baca Berita

Kembali, BBKSDA Jatim Evakuasi dan Lepasliarkan Trenggiling

Mojokerto, 30 Agustus 2023. Seorang warga Perum Griya Japan Raya, Sooko, Kabupaten Mojokerto, Deky Widyatmoko menemukan seekor Trenggiling (Manis javanica) di sekitar tempat tinggalnya. Mengetahui bahwa satwa tersebut dilindungi undang-undang, segera ia menghubungi petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Mojokerto, Sabtu (26/8). Tak butuh waktu lama, petugas segera melakukan evakuasi dan segera mengamankannya ke Kantor RKW. 09 di Padusan, Pacet, Mojokerto. Hal ini untuk dilakukan perawatan dan penilaian lebih lanjut sebelum dilepasliarkan kembali ke alam. Trenggiling sendiri merupakan satwa mamalia nokturnal yang hidup di hutan tropis dan subtropis. Ia memiliki tubuh yang ditutupi sisik keratin yang berfungsi sebagai pelindung dari predator. Makanannya berupa semut dan rayap. Trenggiling dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Perburuan dan perdagangan illegal menjadi ancaman utama bagi keberlangsungan hidup satwa ini. BBKSDA Jawa Timur mengapresiasi kepedulian masyarakat terhadap pelestarian satwa liar. Masyarakat diharapkan dapat terus berperan aktif dalam melindungi satwa liar, salah satunya dengan melaporkan temuan satwa liar kepada petugas berwenang. Akhirnya, Trenggiling dilepasliarkan kembali ke habitatnya di Taman Hutan Raya R. Soerjo, Celaket - Mojokerto, Selasa (29/8). Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Melepas Tukik Lekang Pulang

Tulungagung, 29 Agustus 2023. Merayakan Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2023, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama PT. Pertamina Patra Niaga Bintumen Plant Gresik melaksanakan pelepasliaran 75 ekor Tukik Penyu Lekang di Pantai Galur Pakis, Selasa (29/8). Tukik Penyu Lekang dilepas menjelang senja oleh tamu undangan dari instansi pemerintah daerah Tulungagung terkait, PT. Pertamina Patra Niaga Bintumen Plant Gresik, BBKSDA Jawa Timur serta warga Desa Jengglungharjo. Dalam kesempatan tersebut, Operation Head Bintumen Plant Gresik PT Pertamina Patra Niaga, DidhaPraja Sukmawan menyatakan komitmennya untuk membantu pelestarian Penyu di Kawasan Ekosistem Esesnsial (KEE) Pantai Galur Pakis. Guna mendukung upaya pelestarian Penyu serta melindungi habitat penelurannya, BBKSDA Jatim telah menginisiasi terbentuknya Kawasan Ekosistem Esensial Pantai Galur Pakis. KEE Pantai Galur Pakis telah disahkan melalui SK Gubernur Jawa Timur No.188/938/KPTS/013/2022. Sebelum pelepasan tukik, dilaksanakan terlebih dahulu tradisi desa yaitu Grebeg Tumpeng yang dipimpin oleh kepala desa dan tokoh masyarakat setempat. Tradisi ini merupakan perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rasa syukur itu diwujudkan dengan membuat gunungan raksasa yang berisikan sayur dan buah-buahan hasil bumi. Tak perlu waktu lama, setelah doa dipanjatkan, tumpeng berisi sayuran dan buah-buahan telah habis diserbu warga Jengglungharjo dengan suka cita. Desa Jengglungharjo Kecamatan Tanggunggunung, Kab. Tulungagung dikaruniai 4 pantai menawan yaitu pantai Ngalur, Pantai Sanggar, Pantai Patuk Gebang dan Pantai Jung Pakis. Keempat pantai itu membentuk rangkaian pantai eksotis yang disebut sebagai Pantai Galur Pakis, yang selama ini dikelola oleh Pokdarwis Sanggaria. Pantai Ngalur dan Pantai Sanggar telah menjadi lokasi tujuan wisata. Sementara itu Pantai Patuk Gebang dan Pantai Jung Pakis, selain menawan juga masih perawan, 2 pantai inilah menjadi tempat bertelurnya satwa purba, Penyu. Penyu yang mendarat dan bertelur di kedua pantai tersebut adalah jenis Penyu Lekang (Lepidochelys olivaceae) dan Penyu Hijau (Celonia mydas). Selama ini Pokdarwis Sanggaria berupaya menyelamatkan telur Penyu dari ancaman Biawak. Mereka memindahkan dan memagari sarang-sarang Penyu agar aman dari predator alaminya tersebut. Sumber : Siti Nurlaili - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Warga Binjai Serahkan Monyet Ekor Panjang

Binjai, 28 Agustus 2023. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah II Stabat mendapatkan informasi dari Kepala Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Binjai, Sabtu (26/8), bahwa pada tanggal 23 Agustus 2023 yang lalu, warga jln. Suka Damai, Kelurahan Suka Ramai, Kecamatan Binjai Barat, Kota Binjai, menyerahkan kepada petugas BPBD kota Binjai satwa liar jenis Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) sebanyak 2 (dua) ekor. Berdasarkan keterangan yang berhasil dikumpulkan bahwa ke 2 ekor monyet ekor panjang ini sudah diperlihara sebelumnya sejak dari kecil. Namun seiring dengan berjalannya waktu, si pemilik tak mampu merawat dan mengurusnya lagi sehingga menghubungi call center BPBD Binjai dan menyerahkannya. Menindaklanjuti laporan tersebut, Seksi Konservasi Wilayah II Stabat melalui Resort Suaka Margasatwa (SM) Karanggading Langkat Timur Laut bersama dengan lembaga mitra kerjasama Yayasan Scorpion Indonesia, segera merescue satwa liar tersebut dan melakukan observasi serta rehabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitat alaminya. Sumber : Rizuwan (PEH) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Warga Bahorok dan Medan Serahkan Elang Brontok

Stabat, 28 Agustus 2023. Petugas Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah V, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Kamis (24/5), menerima penyerahan satwa liar jenis Elang Brontok fase terang (Nisaetus Cirrhatus) dari masyarakat Batu Katak, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat. Penerimaan satwa ini kemudian melaporkannya ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah II Stabat. Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, pada Jumat, 25 Agustus 2023, menerima penyerahan satwa Elang Brontok dari petugas Seksi PTN Wilayah V Balai Besar TNGL. Terlihat kondisi elang pada sayap kirinya terluka, diduga akibat perkelahian antara sesama elang. Tim medis Balai Besar KSDA Sumatera Utara kemudian melakukan tindakan medis berupa pengobatan luka dengan menggunakan bioplacenton dan oxyfresh sebagai anti septik, anti inflamasi, guna menghentikan pendarahan dan perbaikan jaringan yang terluka. Masih pada Jumat, 25 Agustus 2023, sekitar pukul 19:32, petugas Seksi Konservasi Wilayah II Stabat kembali melakukan rescue Elang Brontok fase terang sebanyak 1 (satu) ekor dan Elang Brontok fase gelap sebanyak 1 (satu) ekor di SPBU Ringroad Pasar 2, Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan. Ke 2 ekor elang tersebut sebelumnya dipelihara di lingkungan SPBU oleh pemilik SPBU dan dirawat oleh supervisor SPBU. Petugas menyampaikan sosialisasi dan edukasi bahwa Elang Brontok merupakan satwa liar yang dilindungi undang-undang dan tidak boleh dipelihara tanpa izin. Usai menerima penjelasan, pemilik segera menyerahkan satwa tersebut kepada petugas, untuk selanjutnya mengevakuasi dan menitipkan ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit guna mendapat perawatan serta rehabilitasi sebelum dilepasliarkan ke habitat alaminya. Sumber : Esra Barus, S.Hut. (Polhut Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Evaluasi dan Penajaman Strategi Konservasi untuk Penyelamatan Badak Jawa

Banten, 25 Agustus 2023. Kunjungan Direktur Jenderal KSDAE ke Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) menjadi angin segar bagi upaya konservasi Badak Jawa dan kawasan TNUK. Tidak hanya mengunjungi Balai TNUK, Rombongan Direktur Jenderal KSDAE yang didampingi langsung oleh Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Suharyono, juga melakukan kunjungan ke Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) pada Jumat (25/08/2023). Kunjungan kali ini dilakukan terutama untuk merespons isu-isu terkait pengelolaan populasi Badak Jawa yang endemik secara lokal, yang saat ini hanya ada di semenanjung Ujung Kulon. Di hari kedua kunjungannya ini, Prof. Satyawan Pudyatmoko dan rombongan mengunjungi beberapa titik di dalam kawasan TNUK, seperti stasiun penelitian lapangan, fasilitas infrastruktur JRSCA, lokasi pembibitan tanaman pakan badak, serta sarana prasarana wisata Legon Pakis dan Tanjung Lame. Didampingi Kepala Balai TNUK, Yayasan Badak Indonesia (YABI), Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT) serta IRF, rombongan banyak berdiskusi langsung terkait progres pelaksanaan konservasi Badak Jawa di TNUK selama ini, dan kondisi kawasan secara biologis dan fisik, serta kondisi dan progres JRSCA terkini. Diakui oleh Kepala Balai TNUK, Ardi Andono, ada cukup banyak kendala yang dialami satuan kerjanya dalam menjaga habitat dan populasi Badak Jawa yang kini hanya ada di kawasan TNUK. Kendala-kendala itu disampaikan Kepala Balai TNUK dalam diskusi bersama di hari sebelumnya, Kamis (24/08/2023). Salah satu permasalahan di TNUK yang cukup genting saat ini adalah terkait dugaan perburuan Badak Jawa dan minimnya personel lapangan. Karena minimnya personel, sejak bulan lalu dan direncanakan hingga akhir tahun 2023 nanti, patroli dan penjagaan kawasan TNUK dilaksanakan oleh tim gabungan yang berasal dari Balai TNUK, personel BKO dari Brimob Polda Banten, personel BKO dari Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango, personil BKO dari Balai TN Gunung Halimun Salak, personel Rhino Protection Unit (RPU) YABI, personel dari ALERT, serta dukungan personel dari masyarakat sekitar kawasan TNUK. Patroli dan penjagaan oleh tim gabungan ini mungkin saja akan diperpanjang hingga tahun depan, tergantung pada hasil evaluasinya nanti. “Indikasi perburuan (Badak Jawa) ini sudah terendus sejak 2018. Kami sudah melakukan berbagai upaya untuk mencegah perburuan ini. Kami melakukan operasi, membentuk tim gabungan dan juga berkoordinasi dengan beberapa pihak, seperti Pemprov Banten, Polda Banten, Forkompinda, DPRD Banten dan juga Geopark Ujung Kulon,” jelas Ardi. Selain perburuan, Ardi juga menyebutkan jika konservasi Badak Jawa ini cukup rumit. Perilaku Badak Jawa yang pemalu dan sensitif membuat habituasinya sulit, hingga kini penelitian mendetail terkait perilaku Badak Jawa ini belum tuntas sehingga ada beberapa hal yang harus dilakukan secara hati-hati. Gangguan-gangguan alamiah lain juga dihadapi TN Ujung Kulon dalam upayanya menjaga habitat dan populasi Badak Jawa. Di antaranya zoonosis yang bisa ditularkan dari kerbau dan beberapa jenis serangga. Oleh karenanya, area okupansi Badak Jawa harus dijaga dari keberadaan manusia dan ternaknya serta kawasan pemukiman. Keberadaan Invasive Alien Species (IAS) dari jenis tumbuhan Langkap juga turut menjadi kendala yang perlu penanganan serius. Langkap menginvasi lantai hutan yang akan menyebabkan berkurangnya populasi dan sebaran jenis-jenis tumbuhan pakan Badak Jawa. Direktur Jenderal KSDAE, Prof. Satyawan Pudyatmoko menyampaikan bahwa Direktorat Jenderal KSDAE beserta jajarannya harus benar-benar serius dalam mengawal implementasi strategi konservasi Badak Jawa ini. Oleh karenanya, Prof Satyawan secara langsung memberikan beberapa arahan untuk mengatasi kendala-kendala yang ada. “Faktor atau variabel yang berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan konservasi Badak Jawa ini perlu pencermatan secara lebih mendalam. Sebelumnya sudah pernah dilaksanakan Viability Population Analysis (VPA). Analisis tersebut cukup rumit namun kita perlu kembali mendalami beberapa variabel yang berpengaruh signifikan terhadap Minimum Viability Population (MVP) Badak Jawa. Variabel signifikan tersebut kemudian akan kita intervensi agar kita dapat meningkatkan nilai MVP,” jelas Dirjen KSDAE. Lebih lanjut Prof. Satyawan menjelaskan beberapa hal yang juga perlu terus dilakukan, antara lain strategi dan upaya penanganan indikasi perburuan yang sudah dilakukan saat ini perlu ditingkatkan lagi. Kekurangan personel, minimnya fasilitas kerja serta pembiayaan harus segera tertangani. Balai TNUK harus segera mengajukan kebutuhan tersebut, agar upaya patroli dan penjagaan dapat lebih efektif hingga menekan perburuan ke nilai nol. Eradikasi IAS juga harus terus dilakukan agar dapat menjamin ketersediaan kebutuhan pakan Badak di dalam habitat alaminya secara memadai. JRSCA perlu dimaksimalkan fungsinya. Kekurangan fasilitas dan metode kerja yang belum sempurna perlu segera disempurnakan agar segera berfungsi optimal. Strategi peningkatan populasi Badak Jawa melalui sanctuary semacam JRSCA ini sudah berhasil dilakukan untuk Badak Sumatera. Selama ini Sumatran Rhino Sanctuary (SRS )sudah berhasil melahirkan empat individu Badak Sumatera baru. Keberhasilan SRS di TN Way Kambas harus bisa segera diadaptasi pada JRSCA. Hal-hal teknis dan metode kerja di JRSCA perlu segera didiskusikan kembali dan ditindaklanjuti secara serius. JRSCA diharapkan dapat segera berfungsi pada tahun 2024. Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Suharyono, juga memberikan arahan terkait strategi dan rencana aksi konservasi Badak Jawa. Untuk mencapai itu, sinergi antara pusat, Balai TNUK, mitra dan masyarakat perlu lebih dipererat lagi. “Perlu adanya rencana aksi yang lebih konkrit, dengan tim lintas lembaga, sehingga kerja sama dengan mitra dan masyarakat, bisa lebih dipererat lagi,” jelas Setditjen KSDAE. Diskusi terus berlanjut selama kunjungan lapangan Direktorat Jenderal KSDAE ke JRSCA. Selain didampingi Kepala Balai TN Ujung Kulon, YABI, ALeRT, IRF dan SRS sebagai mitra juga ikut serta dalam kunjungan lapangan itu. Usai mengunjungi lokasi pembibitan tumbuhan pakan badak, stasiun penelitian dan JRSCA, Dirjen KSDAE dan rombongan kemudian melakukan diskusi langsung dengan tim patroli gabungan, tim pelaksana camera trap, Brimob Polda Banten, tim JRSCA, dan MMP. Dirjen KSDAE berharap hasil diskusi yang dilakukan selama dua hari ini bisa dijadikan bahan untuk menyusun strategi konservasi Badak Jawa yang lebih efektif. Prof Satyawan dan Suharyono juga mengarahkan untuk segera melakukan Focus Group Discussion (FGD) bersama para pakar dan mitra untuk lebih menajamkan rumusan strategi dan rencana aksi konservasi Badak Jawa ini. FGD dibuat dengan sistem kluster, di mana setiap komisi akan mendiskusikan hal-hal spesifik terkait Badak Jawa. Sumber Berita : Setditjen KSDAE & BTN Ujung Kulon
Baca Berita

Semangat Baru untuk Selamatkan Badak Jawa

Banten, 24 Agustus 2023. Direktur Jenderal KSDAE, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko melakukan kunjungan kerja ke Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) pada Kamis, 24 Agustus 2023. Kunjungan yang berlangsung selama dua hari ini menjadi langkah serius pemerintah, dalam hal ini Kementerian LHK sehubungan perumusan strategi konservasi spesies Badak Jawa. Badak Jawa atau dalam dunia biologi diberi nama Rhinoceros sondaicus merupakan salah satu jenis satwa liar yang menjadi prioritas konservasi spesies. Badak Jawa merupakan satu dari dua jenis Badak yang habitatnya hanya di Indonesia, dengan sebaran populasi saat ini hanya terbatas di semenanjung Barat Daya pulau Jawa, di kawasan TNUK. Badak bercula satu ini juga merupakan satu dari hanya lima spesies badak yang tersisa di seluruh dunia saat ini, dan merupakan salah satu jenis mamalia besar paling jarang populasinya di dunia. Berdasarkan Red List Data Book IUCN, Badak Jawa berstatus Critically Endangered dan hal tersebut dikarenakan oleh sebaran populasi yang sempit, jumlah populasi yang kecil, serta tingkat risiko terhadap habitat dan populasinya. Dalam kunjungan ini, Direktur Jenderal KSDAE didampingi oleh Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Suharyono, serta perwakilan staf dari masing-masing direktorat di lingkup Ditjen KSDAE. Rombongan langsung didampingi oleh Kepala Balai TNUK, Ardi Andono, beserta jajaran dan mitra strategisnya, yaitu Yayasan Badak Indonesia (YABI), International Rhino Foundation (IRF), serta Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALERT). Agenda pertama Direktur Jenderal KSDAE adalah melakukan konsolidasi dengan jajaran Balai TNUK. “Ini kunjungan pertama saya ke TNUK. Sejak lama saya sudah merencanakan (kunjungan) tapi baru terealisasi hari ini. Taman Nasional Ujung Kulon istimewa karena merupakan salah satu taman nasional tertua, yang sudah ada sejak 1980,” ujar Dirjen KSDAE di hadapan para pegawai TN Ujung Kulon, Kamis (24/08/2023). Pada kesempatan agenda pertama, Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE menjelaskan alasan mengajak perwakilan seluruh direktorat yang ada di KSDAE dalam kunjungan ke TNUK kali ini, yaitu untuk mengoptimalkan koordinasi dan komunikasi, sehingga kendala yang dihadapi Balai TNUK terkait konservasi Badak Jawa, bisa ditanggapi langsung oleh direktorat terkait. Sekditjen KSDAE berharap, setelah kunjungan ini, ada energi baru yang bisa disalurkan untuk mengatasi berbagai masalah dan kendala tersebut. “Setelah kunjungan ini, saya berharap ada sebuah energi baru, ada lembaran baru dan semangat baru untuk bersama-sama mengelola TN Ujung Kulon ini,” jelas Suharyono. Tidak sebatas memberi arahan, Prof. Satyawan dan Suharyono juga melakukan diskusi langsung dengan para pegawai Balai TNUK. Dialog berlangsung efektif. Kepala Balai TN Ujung Kulon juga ikut menyampaikan progres capaian kinerja serta kendala yang dihadapi satuan kerja yang dipimpinnya ini. “Alokasi anggaran untuk Program Pengelolaan Hutan Berkelanjutan untuk tahun 2024 itu Rp3,5 miliar. Ini menjadi kendala di sini (TNUK), mengingat biaya pengelolaan konservasi itu tidak sedikit. Saya berharap kunjungan Dirjen KSDAE kali ini, bisa membantu kami mengatasi berbagai kendala dan masalah yang ada,” kata Ardi Andono. Apa yang disampaikan oleh Kepala Balai TNUK dan para pegawainya ditanggapi dengan baik oleh Dirjen dan Sekditjen KSDAE. Mulai dari persoalan kepegawaian, anggaran, hubungan dengan masyarakat sekitar, keterbatasan SDM, hingga kendala pengelolaan konservasi di TNUK yang cukup rumit. “Komunikasi adalah kunci. Berbagai masalah dan kendala itu bisa diatasi jika komunikasi di antara kita berjalan dengan baik. Jadi, mari kita buka lembaran baru mulai hari ini, agar kendala di TN Ujung Kulon ini bisa teratasi walau ada keterbatasan,” jelas Setditjen KSDAE. Selain bertemu dan berdiskusi dengan pegawai, Direktur Jenderal KSDAE dan rombongan juga mengunjungi langsung kawasan TNUK di sekitar desa Ujung Jaya, Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA), dan melakukan diskusi dengan para mitra Balai TNUK. Diskusi ini dilakukan untuk mengetahui progres kegiatan, terutama yang telah dilakukan selama ini serta membahas langkah strategis apa yang bisa dilakukan ke depannya untuk menyelamatkan Badak Jawa dari kepunahan. Sumber : Sekretariat Ditjen KSDAE
Baca Berita

Rapat Koordinasi Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan Kabupaten Magelang

Magelang (23/08/2023) Memasuki pertengahan musim kemarau dan mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) melakukan beberapa upaya pencegahan. Diantaranya adalah mengikuti Rapat Koordinasi Pembentukan Tim Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) bersama para pihak di wilayah Kabupaten Magelang, di Kantor Markas Kepolisian Resor Kota (Mapolresta) Magelang, Rabu, 23 Agustus 2023. Rapat Koordinasi dipimpin oleh Kabag Ops Polresta Magelang Kompol Eko Mardiyanto, S.H., M.AP.. Rapat Koordinasi dihadiri oleh Kodim Magelang, BPBD Magelang, TNGM, TN Gunung Merbabu, UPT Pemadam Kebakaran (Damkar) Magelang, KPH Kedu Utara, CDK Magelang, PMI Magelang, Dinas Perhubungan Magelang, dan Diskominfo Magelang. Terdapat 3 (tiga) hasil koordinasi yaitu pertama, mendorong BPBD menyiapkan rencana kontijensi karhutla sehingga lebih terkoordinir dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla. Kedua, membentuk Tim Satgas yang diperkuat melalui Surat Keputusan dari Bupati Magelang. Ketiga, menyiapkan Gelar Apel Siaga karhutla dengan dibantu personil dari instansi lainnya. Rencana kegiatan Apel Siaga tersebut dilaksanakan di Jurang Jero, Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Srumbung dengan melibatkan Masyarakat Peduli Api (MPA) Dukun dan Srumbung. Apel dengan peragaan alat pemadam kebakaran akan dihadiri oleh Bupati Magelang, Dandim 0705 Magelang, dan Kapolresta Magelang. Dalam kesempatan terpisah, Kepala Balai TNGM, Muhammad Wahyudi, menyampaikan bahwa musim kemarau ini harus menjadi perhatian bersama, tidak hanya Balai TNGM. Terima kasih kepada Polresta Magelang yang telah berinisiasi mengadakan Rapat Koordinasi ini. Kita harus dapat mengantisipasinya, dan hal ini membutuhkan kerja sama berbagai pihak, pungkasnya. * Pembuat berita : Putu Dhian Budhami Penyunting berita : Titin Septiana Rahmawati Penanggung jawab: Muhammad Wahyudi, S.P, M.Sc. (Kepala Balai) - 085244012365 FB: Taman Nasional Merapi Twiter: @btngunungmerapi IG: @btn_gn_merapi Website : tngmerapi.id
Baca Berita

Penemuan Spesies Baru, Asa Baru Upaya Konservasi Keanekaragaman Hayati

Jakarta, 21 Agustus 2023. Penemuan spesies baru menjadi kabar menggembirakan bagi dunia konservasi. Bertepatan dengan semarak Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengumumkan adanya tiga spesies baru tumbuhan dan satwa liar di Indonesia. Berita menggembirakan ini disampaikan dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di kantor pusat KLHK, pada Senin (21/08/2023). FGD bertajuk “Spesies Baru, Asa Baru Dunia Konservasi” ini ikut dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Prof. Dr. Siti Nurbaya Bakar dan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko. FGD dimoderatori oleh Staf Ahli Menteri LHK Bidang Pangan, Indra Eksploitasia dan diikuti antara lain oleh peneliti senior BRIN, Prof. Dr. Dewi Malia P., Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Wiwied Widodo, Kepala Balai Besar KSDA Papua Barat, Johny Santosa, serta Kepala BKSDA Kalimantan Tengah, Sadtata Noor Adhirahmanta. Dalam FGD ini, ada tiga spesies baru yang diumumkan, yaitu spesies satwa liar dari kelas aves Myzomela irianawidodoae yang terinspirasi dari nama Ibu Negara Iriana Widodo. Diketahui, Ibu Negara memang menyukai bunga anggrek. Lalu, ada lagi spesies tumbuhan bernama Hanguana sitinurbayai yang terinspirasi dari nama Menteri LHK saat ini, Siti Nurbaya. Dan, Bulbophyllum wiratnoi terinspirasi dari nama mantan Direktur Jenderal KSDAE Wiratno atas dedikasinya saat menjabat. Mantan Dirjen KSDAE tahun 2017 hingga 2022 ini pernah dianugerahi Piala Adhigana pada Anugerah Aparatur Sipil Negara (ASN) Tahun 2021. Penemuan spesies dari genus Hanguana, yaitu Hanguana sitinurbayai sudah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Phytotaxa, pada 31 Juli 2023 lalu. Spesies baru ini berasal dari Cagar Alam Gunung Nyiut, Kalimantan Barat yang dinamai berdasarkan nama Menteri LHK saat ini, Siti Nurbaya. “Pada tahun 2022 telah ditemukan flora endemik spesies Hanguana sitinurbayai yang merupakan satu-satunya spesies dari genus Hanguana yang tumbuh di rawa yang sulit dijangkau (terisolasi). Saya sangat berterima kasih dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas kerja keras penemu spesies Hanguana sitinurbayai yaitu Saudara Agusti Randi dan Tim Balai KSDA Kalimantan Barat atas penemuan dimaksud,” ujar Menteri LHK dalam pembukaan FGD, Senin (21/08/2023). Penemuan spesies baru menjadi asa baru di dunia konservasi. Menteri LHK juga menyampaikan jika konservasi keanekaragaman hayati menjadi aksi mitigasi yang memerlukan intervensi dalam pembinaan populasi dan habitat. Di mana keanekaragaman hayati dan perubahan sangat berkaitan erat, karena perubahan iklim dapat mengubah habitat, mengganggu proses ekologis, dan meningkatkan risiko kepunahan. Direktur Jenderal KSDAE Satyawan Pudyatmoko menambahkan, penemuan spesies baru ini bisa menjadi pemacu semangat para peneliti di Indonesia untuk terus melakukan eksplorasi kawasan-kawasan yang belum terjamah di negeri sendiri. “Kegiatan ini menjadi titik balik untuk terus meningkatkan pelibatan peran peneliti-peneliti Indonesia. Mulai saat ini, kita akan lebih mendorong lagi para peneliti dari universitas dan staf-staf kita di KLHK di berbagai wilayah untuk ikut andil dalam penelitian dan penemuan spesies-spesies baru di Indonesia,” jelas Dirjen KSDAE. Di tahun 2021, BRIN mencatat 88 penemuan spesies baru yang terdiri dari 75 spesies fauna dan 13 spesies flora. Di Kalimantan ada spesies Katak Tanduk Kalimantan. Perwakilan BRIN, Dr. Amir Hamidy, menyampaikan penemuan-penemuan spesies baru ini terkait dengan kondisi geografis Indonesia yang merupakan biodiversity hotspot. “Apabila sudah ditemukan jenis baru, kita harus mengetahui taksonomi, prospek biodiversity, fungsi fisiologi dan ekosistemnya,” lanjut Amir Hamidi.\ Dirjen KSDAE juga menyampaikan, kolaborasi berbagai pihak terkait penemuan spesies baru penting dilakukan. Agar informasi yang diperoleh bisa disebarluaskan dan diketahui masyarakat luas, sehingga bisa meninggikan harkat dan martabat bangsa Indonesia sebagai negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang melimpah.

Menampilkan 913–928 dari 11.141 publikasi