Kamis, 16 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Sosialisasi Zonasi Taman Nasional Sebangau

Palangka Raya (09/12/2017). Mulai selasa kemarin tepatnya tanggal 5 sd 8 Desember 2017, Balai Taman Nasional Sebangau melakukan kegiatan sosialisasi zonasi. Pada lima hari tersebut berhasil dilakukan rangkaian kegiatan sosialisasi zonasi di dua desa yakni Desa Tumbang Bulan Kecamatan Mendawai, dan Desa Baun Bango Kecamatan Kamipang Kabupaten Katingan. Konon pada akhir tahun 90an, dua desa ini cukup terkenal karena merupakan lokasi Log Pond atau tempat penimbunan kayu sebelum diangkut oleh kapal/tongkang. Cukup spesial, kegiatan kali ini dipimpin langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Sebangau (Ir. Anggodo, MM) dan hadir dalam kegiatan ini Kepala SPTN III Ferie Ariessandy, perwakilan fungsional, Mitrakerja WWF Kalteng, Kepala Desa dan Tokoh Masyarakat di Desa Tumbang Bulan. Diskusi, saran dan harapan disampaikan secara terbuka oleh masyarakat terkait pengelolaan Taman Nasional Sebangau kedepan. Jumlah peserta yang hadir dalam sosialisasi ini kurang lebih 45 orang. Zonasi merupakan modal dan pedoman dalam pengelolaan taman nasional, sehingga masyarakat dan stakeholders sangat penting untuk mengetahui, bahkan terlibat dalam penyusunan hingga implementasinya. Zonasi Taman Nasional Sebangau yang disahkan berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal KSDAE Nomor SK. 97/KSDAE/SET/KSDAE.0/3/KSDAE tanggal 24 Maret 2016, telah dijadikan pedoman dalam pengelolaan kawasan. Kepada masyarakat Kepala Balai mengajak untuk bersama-bersama mengawal, mengawasi dan bergandengan tangan dalam mewujudkan keseimbangan ekosistem Sebangau. Dalam kesempatan ini Kepala Balai juga menyampaikan tentang Role Model, Visi dan tujuan pengelolaan serta arah pengembangan pariwisata alam di Taman Nasional Sebangau. Pada akhir sosialisasi dilakukan penyerahan peta zonasi Taman Nasional Sebangau, penyerahan bantuan satu unit kapal motor/kelotok kepada MPA, serta sumbangan buku dan alat tulis menulis untuk siswa-siswi di Desa Tumbang Bulan. Tidak lupa dilakukan penandatanganan berita acara sosialisasi zonasi dan penyerahan bantuan. Sumber : Suyoko, Balai TN Sebangau
Baca Berita

CYCLOOP WANA RALLY 2017, DEMI CYCLOOP LESTARI

Jayapura, 9 Desember 2017. Dengan mengusung tema “AYO LINDUNGI DAN LESTARIKAN!!!’ kegiatan Lomba Lintas Alam Cycloop Wana Rally (CWR 2017) telah dilaksanakan pada hari ini Sabtu, 9 Desember 2017, mulai pagi hari hingga menjelang petang. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Hari Konservasi Kehidupan Liar Sedunia Tahun 2017. Mengambil nama Cycloop Wana Rally karena kegiatan ini dilaksanakan pada kawasan CA. Peg Cycloop dengan mengingat akan pentingnya keberadaan CA. Peg Cycloop yang kaya akan keanekaragaman hayati berperan dalam menjaga fungsi hidrologis dan paru-paru Kota dan Kabupaten Jayapura sehingga harus mendapat perhatian dan kepedulian dari semua lapisan masyarakat. Antusias peserta ditandai dengan banyaknya jumlah peserta yaitu 495 orang baik kategori pelajar dan umum yang berasal dari kalangan masyarakat, instansi, pemuda, mahasiswa, pelajar dan kelompok pecinta alam dengan memperebutkan piala bergilir dari Gubernur Papua dan total hadiah 30 juta rupiah. Dalam sambutan pada saat apel peserta di Halaman Mesjid AURI Angkasa, Gubernur Papua yang diwakili oleh Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal, SE.,MM yang berkenan hadir menyampaikan “Pemerintah Daerah Papua sangat mendukung segala kegiatan dalam upaya menjaga fungsi kawasan Cycloop sebagai paru-paru dan jantung kota” demikian ungkap beliau. “Semoga kegiatan ini dapat menciptakan generasi yang peduli pada lingkungan’ tandasnya lagi. Ir. Timbul Batubara., M.Si sebagai Kepala BBKSDA Papua dan pihak penyelenggara pada kesempatan yang sama mengungkapkan “Lomba Lintas Alam CWR 2017 adalah kegiatan dalam mengapresiasikan kepedulian dan kecintaan pada alam dan lingkungan serta merupakan bentuk dedikasi pada gerakan ikut menjaga fungsi kawasan konservasi CA Peg. Cycloop’ ucap beliau. Walaupun awal kegiatan dihiasi dengan rintikan hujan bahkan sebelumnya hujan lebat mengguyur, tidak mengurangi semangat para peserta dan pihak penyelenggara. Jalanan yang licin, medan yang berat dan rintangan lomba yang harus dilalui tidak menjadikan pula peserta menjadi putus asa di tengah jalan, rute yang ditempuh peserta pada CWR 2017 berjarak ± 3 km dengan waktu tempuh ± 3 jam dimana lokasi start di daerah Angkasa dan lokasi finish di Pasir 6 (halaman rumah Ondoafi Kampung Necheibe) Distrik Jayapura Utara. Terdapat tujuh buah pos di sepanjang rute CWR yang memiliki tantangan dan rintangan yang berbeda-beda. Akhir kegiatan CWR 2017, Ir. Timbul Batubara, M.Si menyampaikan secara tulus ucapan terima kasih kepada semua stake holder pendukung “Terimakasih kepada Bapak Wakil Gubernur Papua, Kadishut Prov. Papua, Polda Papua, Polres, Polsek, Koramil, TNI AD, TNI AU, khususnya Komandan Auri Papua, BASARNAS, Damkar, TAGANA, RAPI, TLCI, BPTH, BPPLHK, Pramuka SWB, Kader Konservasi, MMP, Wartawan, Tim Medis, NGO Lestari, Pemda Provinsi dan Kabupaten, Perbankan, Komunitas Reptil Papua, Tokoh masyarakat/adat dan seluruh tim kerja panitia serta berbagai pihak lainnya yang telah menyukseskan kegiatan”. “Salam hormat pada semua pihak yang berkomitmen dan berkontribusi pada kelestarian CA Peg. Cycloop” ungkapnya lagi. Jaga Cycloop, LESTARI..... Sumber : BBKSDA Papua & Tim Sukses CWR 2017
Baca Berita

Angkat Potensi Kehati Dan Kearifan Lokal Lorelindu adakan Traveling Journalist

Palu, 9 Desember 2017. Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (PIKA) melalui Forest Programme III melaksanakan kegiatan Journalist Traveling ke kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) dan sekitarnya yang merupakan zona inti Cagar Biosfer Lore Lindu (CBLL). CBLL yang dikembangkan oleh Program Man and Biosphere (MAB) UNESCO pada tahun 1977 mengusung konsep pembangunan berkelanjutan. Salah satu definisi dari pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi keperluan sekarang tanpa membahayakan kemampuan generasi yang akan datang untuk mencukupi kebutuhan mereka. Potensi sumber daya alam di CBLL khususnya dari kawasan hutan TNLL sangat banyak dan beragam yang dapat digunakan oleh masyarakat. Pengelolaan sumber daya ini banyak diwarnai dengan aturan adat. Keunikan dan keragaman setiap suku dalam menjaga kelestarian alam/hutan telah menjadi ciri khas di TNLL yang perlu dilestarikan dan dipelihara dengan baik. Tidak cukup hanya dipelihara, potensi yang muncul sebagai nilai/norma budaya lokal ini sangat penting dan perlu untuk digali menjadi sebuah arsip dokumentasi dan dipublikasikan. Journalist Traveling, yang bertujuan untuk memperkenalkan potensi kekayaan alam di TNLL dan budaya serta kearifan lokal yang ada di sekitarnya kepada masyarakat luas khususnya yang berada di Provinsi Sulawesi Tengah, dilaksanakan pada tanggal 6 s.d 9 Desember 2017 dan diikuti oleh 8 orang jurnalis yang terdiri dari Kompas TV, Antara TV, Antara online, Metro Lacak, Pos Palu, Radar Sulteng, Metro Sulawesi, dan Nuansa Pos/Portal Sulawesi.com. Pada hari pertama, rombongan jurnalis diberikan briefing oleh Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNLL, Ir. Periskila Sampeliling, M.Si, tentang maksud dan rencana kegiatan serta diberikan informasi seputar pengelolaan TNLL sebagai zona inti CBLL. Sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, rombongan jurnalis akan dibagi dalam dua tim liputan yang masing-masing terdiri dari 4 orang. Tim I akan bertugas untuk meliput sisi barat kawasan TNLL dengan sasaran melakukan FGD di Desa Namo dan Tuva, pengamatan Tarsius dan Maleo, serta peliputan budidaya anggrek dan pembuatan gula aren. Tim II akan bertugas untuk meliput sisi timur kawasan dengan sasaran melakukan FGD di Desa Bobo dan Doda, peliputan di situs megalit lembah Behoa dan Telaga Tambing/Kalimpaa. Dari hasil wawancara dengan Sekretaris Desa Namo, diketahui bahwa masyarakat desa Namo memiliki kearifan lokal dalam menjaga hutan karena mereka dapat merasakan manfaat langsung atas jasa lingkungan berupa ketersediaan air bersih. Hampir seluruh KK memperoleh air bersih yang berasal dari sungai yang berada di dalam kawasan TNLL. Demikian halnya dengan Desa Tuva yang sangat peduli untuk menjaga hutan karena diyakini dapat mencegah timbulnya bencana longsor yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Hal ini disampaikan oleh Kepala Desa Tuva pada saat menerima rombongan di kantor desa. Harapan yang diinginkan oleh aparat desa tersebut relatif sama yaitu adanya peluang bagi masyarakat desa untuk dapat mengambil manfaat hasil hutan bukan kayu yang berada di kawasan TNLL melalui penyediaan zona pemanfaatan tradisional yang muaranya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi wisata juga menjadi bagian liputan yang cukup menarik. Telaga Tambing/Kalimpaa merupakan salah satu obyek wisata alam yang cukup hits di kalangan muda mudi. Sebelum terjadinya gempa pada bulan Mei 2017, kegiatan berkemah yang dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu mampu menarik ribuan pengunjung permalamnya. Tidak heran jika kemudian penerimaan negara bukan pajak juga meningkat secara signifikan. Bird watching menarik segmen wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke TNLL. Kegiatan ini umumnya dilakukan di sekitar jalur pendakian Rore Katimbu serta Lembah Napu. Tidak jarang turis asing juga merangkai aktivitas ini dengan kunjungan ke situs megalit yang ada di Lembah Behoa. Kompas TV tertarik untuk meliput aktivitas satwa endemik Pulau Sulawesi, yaitu Tarsius dan Burung Maleo. Dipandu oleh kelompok peduli satwa cakar maleo, tim melakukan peliputan di nesting ground Maleo Saluki. Kegiatan peliputan dimulai dari proses pencarian telur maleo yang akan dipindahkan ke kandang penetasan semi alami, penggalian lubang penetasan dan penjelasan proses penetasannya. Pada akhir kegiatan, seluruh jurnalis yang terlibat diminta untuk memuat tulisan dan berita di media cetak maupun elektroniknya masing-masing. Penyampaian berita ini diharapkan dapat: (1) mempromosikan potensi wisata yang dimiliki untuk menarik pengunjung domestik dan mancanegara, (2) menginformasikan potensi kehati yang dapat menarik minat mahasiswa, akademisi dan ilmuwan dalam melakukan kegiatan penelitian, dan (3) mengangkat kearifan lokal masyarakat dalam menjaga hutan di lansekap CBLL. Sumber : Humas Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

TN Matalawa Hijaukan Hutan Kambata Wundut

Waingapu, 8 Desember 2017. Fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan serta melindungi kekayaan sumberdaya alam di Pulau Sumba merupakan nilai penting dari keberadaan Taman Nasional Matalawa di Pulau Sumba. Kawasan konservasi ini merupakan habitat dari 150 jenis burung dan 11 jenis diantaranya merupakan endemik pulau Sumba. Namun berjalannya waktu kawasan hutan TN Matalawa tidak terlepas dari gangguan yang menyebabkan rusak dan hilangnya fungsi utama hutan TN Matalawa. Upaya merehabilitasi atau mengembalikan fungsi hutan merupakan tanggung jawab kita bersama. Mengingat hutan diciptakan tuhan bukan untuk dimanfaatkan dan dirasakan fungsinya oleh kita semata, namun lebih dari itu hutan merupakan titipan dari anak cucu kita di masa depan. Salah satu upaya merehabilitasi kawasan TN Matalawa secara kolaboratif adalah dengan pelibatan masyarakat secara aktif dalam upaya pengembalian fungsi hutan. Pada tanggal 8 Desember 2017, berlokasi di kawasan hutan Kambata Wundut (SPTN Wilayah II Lewa). TN Matalawa bersama dengan Kodim 1601/Sumba Timur, Persatuan Istri Tentara (Persit) Koramil Lewa, Pramuka Lingkup Kecamatan Lewa, dan Masyarakat Desa Kambata Wundut melaksanakan kegiatan penanaman bersama. Kegiatan penanaman bersama ini merupakan salah satu wujud kepedulian dan Cinta Tanah Air Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam rangka memperingati hari Juang Kartika Tahun 2017. Seperti yang disampaikan Kapt. Inf. Sambudi (Koramil 1601/01 Lewa) disela-sela kegiatan penanaman bersama di kawasan hutan Kambata Wundut. Pada kesempatan tersebut Kepala SPTN Wilayah II Matawai Lapau (Judy Aries Mulik, S.TP) hadir mewakili Kepala Balai TN Matalawa, dalam sambutannya beliau mengapresiasi kepedulian TNI dan Masyarakat dalam upaya mengembalikan fungsi hutan di kawasan TN Matalawa. 1000 anakan/bibit tanaman yang ditanam pada kegiatan ini menjadi wujud dukungan terhadap upaya pelestarian Sumberdaya Alam di Pulau Sumba, serta sebagai bentuk memperingati hari menanam pohon Indonesia (HMPI) pada bulan menanam nasional tahun 2017 yang dicanangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sumber : Balai Taman Nasional Matalawa
Baca Berita

SIMErbabu Membuat Petugas Tidak Bisa Dusta

Boyolali, 9 Desember 2017. Taman Nasional Gunung Merbabu melakukan inovasi tata kelola kawasan dalam rangka spasial monitoring dan reporting data melalui “SIMerbabu”. Aplikasi SIMerbabu ini sebenarnya sistem Resort Based Management (RBM) yang diinovasi/dikembangkan secara digital sehingga menuntut pengambilan data/reporting petugas secara realtime kepada pimpinan. SIMerbabu didesain sedemikian rupa sehingga petugas tidak dapat “mengarang” laporan/Dupak. Dengan SIMerbabu ini pimpinan dapat memantau daily activity staff mulai dari jenis aktivitas yang dilakukan sampai pergerakan spasialnya. Aplikasi ini juga dapat mendeteksi areal kawasan yang tidak atau belum pernah dikunjungi petugas. Berikut Kelebihan dari Simerbabu dengan aplikasi lainnya: 1. Bekerja dalam android sehingga pegawai tidak perlu membawa buku/lembar kerja/tally sheet yang merepotkan; 2. Dapat bekerja offline sehingga staff tetap dapat membuat reporting ditengah belantara atau puncak gunung yang sama sekali tidak ada jaringan signal handphone; 3. Pimpinan dapat memonitor pergerakan pegawai dalam peta spasial yang dinamis dan realtime; 4. Pimpinan dapat memonitor keaktifan kinerja secara objektif baik pada level individu, resort maupun seksi; 5. Data yang didapat lebih akurat karena semuanya harus diinput melalui pengambilan data primer secara langsung/realtime, sehingga tidak ada yang mengarang laporan; 6. Pegawai tidak perlu membuat laporan secara manual karena input data yang dilakukan secara otomatis akan menjadi sebuah laporan dalam bentuk pdf yang tersimpan dalam server dan user pegawai dan menjadi data dukung yang otentik untuk Dupak maupun e-kinerja pegawai; 7. Pejabat fungsional tertentu tidak bisa lagi “mengarang” Laporan Dupak lagi; 8. Resort dan Seksi tidak perlu lagi repot membuat Laporan Bulanan/Laporan Perdataan cukup dengan mendownload laporan akhir, karena data yang masuk sudah otomatis terformat dalam Laporan Bulanan dan Tahunan muali dari tingkat invidu, resot, seksi sampai laporan tingkat Balai; 9. Laporan yang tersusun akan lebih “murni/jujur” karena aplikasi mensyaratkan adanya gambar yang diambil secara realtime; 10. Bagian kawasan atau Pal Batas yang tidak pernah dikunjungi oleh pegawai akan dengan mudah termonitor oleh pimpinan; 11. Pimpinan dapat membuat statistik kinerja individu/resort/seksi; 12. Laporan yang tersusun akan lebih “murni/jujur” karena aplikasi mensyaratkan adanya gambar yang diambil secara realtime Sumber : Balai TN Gunung Merbabu
Baca Berita

BBTNBKDS Gelar Evaluasi Capaian Kinerja 2017

Danau Sentarum, 8 Desember 2017. Menyambut Tahun 2018, Balai Besar Taman Nasional Danau Sentarum (BBTNBKDS) menggelar Rapat Capaian Kinerja 2017. Hal ini dilakukan sebagai upaya kordinasi dan sinkronisasi semua data dan informasi kegiatan tahun 2017 sebelum dibukukan menjadi Laporan Kinerja Pemerintah (LAKIP). Dalam sambutannya, Kepala BBTNBKDS Arif Mahmud mengatakan bahwa semua unit kerja harus sudah menyelesaikan semua kegiatan dan anggaran di tahun 2017 dengan baik. “Saya berharap tidak ada kegiatan tahun 2017 yang masih dikerjakan di tahun 2018” tegas Arif. Gelaran acara dilaksanakan di Resort Tekenang, Bidang Pengelolaan TN Wilayah III Lanjak (6-8 Desember 2017). Lebih lanjut Arif mengatakan bahwa setiap unit kerja harus juga mengirimkan semua data dan informasi ke Sub Bagian Data, Evaluasi dan Humas (DEH). Hal ini untuk memeprcepat dokumen yang harus dikirimkan ke Dirjen KSDAE sebagai kumpulan capaian kinerja lingkup Dirjen kepada Menteri. “pastikan semua unit mengirimkan data kegiatan dan anggaran ke sub bagian DEH untuk mempercepat pembuatan dokumen yang harus dilengkapi segera” tutur Arif. Dalam paparannya, Kepala Bagian TU Murlan Dameria Pane menekankan subtansi acara yang menyorot pada output dan outcome dari setiap program di masing-masing unit kerja. “yang maksud capaian kinerja disini selain serapan anggaran adalah uraian Perjanjian Kinerja (PK) yang memuat target-target yang harus dicapai di BBTNBKDS sebagai kontrak perjanjian antara Kepala BBTNBKDS dengan Dirjen (KSDAE)” ujurnya. Dia mencontohkan target jumlah kunjungan wisatawan yang dibebankan kepada BBTNBKDS sejumlah 550 orang baik WNA maupun WNI. Ditambahkannya, setiap unit harus mencermati kembali output program yang dicapai karena ini akan menjadi akumulasi kinerja Balai yang akan dilaporkan kepada Dirjen KSDAE. Selain Kepala Balai dan Kepala Bagian TU hadir pula Kepala Bidang Teknis, Kepala Bidang Wilayah PTN I, II dan III serta pengawas lingkup Balai Besar TNBKDS. Hal lain yang mendesak untuk dilakukan adalah sinkronisasi data terkait jumlah populasi orangutan antar wilayah. Selain itu juga terdapat kesepakatan yang dihasilkan untuk perbaikan di tahun 2018 mendatang. Sumber : M. Idrus - Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Gerakan Penanaman 25 Pohon Selama Hidup ASN KemenLHK Lingkup Prov.Kep.Babel

Sesuai dengan Instruksi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.Ins.1/MENLHK/PDASHL/DAS.1/8/2017 tentang Gerakan Tanam dan Pelihara 25 Pohon Selama Hidup, Aparat Sipil Negara Kementerian Lingkugan Hidup dan Kehutanan Lingkup Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu BPKH Wil.XIII selaku Koordinator UPT, BPDAS HL Baturusa Cerucuk dan Resort KSDA Wilayah Bangka melakukan penanaman di Kawasan Hutan Kota Tua Tunu Kecamatan Gerunggang Kota Pangkalpinang. Penanaman dilakukan oleh 96 orang ASN dengan jumlah tanaman mencapai 2.400 batang, jenis tanaman merupakan jenis tanaman berkayu dan MPTS ( Mangga, jambu Citra, Cempedak, Cemara, Ketapang, dan lain sebagainya ). Dalam arahannya Bapak Kepala BPDAS HL Baturusa Cerucuk Idi Bantara,S.Hut.T.,M.Sc diharapkan setiap ASN dapat menanam dengan ikhlas dan memelihara tanaman tersebut sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Diharapkan lokasi tanam ini yang sedikit ini dapat menjadi bukti nyata kepedulian kita terhadap rehabilitasi lahan di Provinsi Kepuluan Bangka Belitung. Kecerian, keakraban dan kebersamaan dalam kegiatan penanaman ini sangat terasa, setiap individu menanam dalam jalur yang telah ditentukan dengan jarak tanam kurang lebih 3 (tiga) meter antar jalurnya. Camilan tradisional seperti pisang goreng dan ubi rebus langsung habis di lahap seusai penanaman. Semoga ke-25 bibit tersebut tumbuh menghijau menutup bukit Tua Tunu sehingga Rimbawan Babel memiliki bukti nyata di tanah “Serumpun Sebalai’’ ini. *) M.Dedi Susanto/PEH Pertama (BKSDA Sumsel)
Baca Berita

Peresmian Aek Nauli Elephant Conservation Camp

Simalungun, 7 Desember 2017. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Ir. Wiratno, M.Sc., yang mewakili Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan disambut oleh tarian daerah Simalungun saat memasuki tempat upacara. Hari itu menjadi hari yang bersejarah, karena Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC), diresmikan oleh Direktur Jenderal KSDAE, disaksikan oleh Kepala Badan Penelitian Pengembangan (Litbang) dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Dr. Agus Justianto, Tenaga Ahli Menteri LHK Gideon Wijaya Ketaren, Sekretaris Badan Litbang dan Inovasi, Dr. Sylvana Ratina, Kepala Pusat Penelitian Hasil Hutan, Dr. Dwi Sudarto, serta tamu dan undangan lainnya. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For., menyampaikan Laporan, bahwa Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli serta lembaga swadaya masyarakat Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (Vesswic) yang fokus pada upaya konservasi satwa liar yang ada di Sumatera, secara bersama-sama menyadari akan pentingnya menjaga kelestarian satwa yang dilindungi dalam hal ini Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). Kawasan Strategis Nasional Danau Toba menjadi salah satu Prioritas Program Pembangunan Nasional (Pronas) dan perlu dukungan dalam pengembangan wisata Danau Toba. Atas dasar itulah kemudian Balai Besar KSDA Sumatera Utara, BP2LHK Aek Nauli dan lembaga Vesswic bersepakat untuk mengadakan perjanjian kerjasama tentang Pengembangan Konservasi Gajah Jinak Untuk Mendukung Ekowisata Danau Toba di KHDTK Aek Nauli. “Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Perjanjian Kerjasama, sebagaimana diatur dalam Addendum Perjanjian Kerjasama Nomor : PKS.7472/K.3/TU/KDN/ 11/2016, Nomor : PKS.06/BP2LHK ANU-1/11/2016 dan Nomor : 075.A/Vesswic/10/ XI/2016 tanggal 1 November 2016 tentang Pengembangan Konservasi Gajah Jinak dan Primata Untuk Mendukung Ekowisata Danau Toba di KHDTK Aek Nauli ± 285 Ha,” papar Hotmauli. Lebih lanjut Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara menjelaskan, bahwa realisasi dari Perjanjian Kerjasama tersebut ditandai dengan dibangunnya sejumlah fasilitas sarana prasarana, seperti : panggung pertunjukan, joglo, shelter, pusat informasi, rumah mahout, kandang tidur gajah, kolam mandi gajah, klinik gajah, dan berbagai fasilitas lainnya. “Disamping itu, pada tanggal 17 Nopember 2017, 4 (empat) ekor gajah, masing-masing : Ester (betina, ± 36 tahun), Vini (betina, ± 30 tahun), Siti (betina, ± 37 tahun) dan Lubing (jantan, ± 12 tahun) telah menjadi penghuni ANECC. Keempat ekor gajah ini sebelumnya berasal dari Pusat Latihan Gajah Holiday Resort,” urai Hotmauli. Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Simalungun, yang mewakili Bupati Simalungun, dalam sambutannya, menyambut baik atas peresmian ANECC ini dan berharap keberadaannya akan mendorong dan mendongkrak meningkatnya kunjungan wisatwan ke Danau Toba sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia. Dirjen KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc., juga sangat mendukung keberadaan ANECC ini, mengingat populasi Gajah Sumatera sekarang ini semakin menurun. Dengan ANECC diharapkan berkontribusi dalam peningkatan populasi gajah khususnya di propinsi Sumatera Utara. Rangkaian acara peresmian dimulai dari penandatanganan prasasti oleh Dirjen KSDAE, pengguntingan pita, kunjungan Dirjen KSDAE beserta rombongan ke beberapa fasilitas sarana prasarana, dan diakhiri dengan menyaksikan pengalungan bunga oleh gajah masing-masing kepada Dirjen KSDAE, Kepala Badan Litbang dan Inovasi, Kepala Kepolisian Resort Simalungun dan Komandan Kodim 02/07 Simalungun, serta atraksi gajah. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Meliarkan Binatang Liar

Banda Aceh, 8 Desember 2017. Balai KSDA Aceh kembali melakukan pelepasliaran satwa kukang (Nycticebus coucang) ke alam liar di Hutan Aceh Besar Provinsi Aceh. Kukang adalah primata yang gerakannya lambat di Indonesia binatang ini termasuk binatang yang dilindungi dengan PP nomor 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Dokter Hewan BKSDA Aceh dr. Taing Lubis mengatakan Kukang ini umur 3 tahun jenis kelamin jantan diserahkan secara sukarela oleh Organisasi pemerhati satwa liar di Sudah diamati perilakunya dan dinilai kesehatan selama dikandang sementara BKSDA Aceh (5/12/2017). Hasil penilaian prilaku kukang masih liar, hal ini dapat dilihat sewaktu disentuh dia langsung secara refleks mengigit dan aktif bergerak serta makan normal dan tidak terdapat cacat fisik. Sewaktu dilepasliarkan cepat beradaptasi dalam rimbunan pepohonan. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung Dalam Kawasan Tn Lorentz

Timika, 07 Desember 2017. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung atau yang disingkat RPJMK adalah sebagai rencana induk untuk melakukan pembangunan kampung, disusun oleh semua elemen masyarakat atau yg mewakilinya serta semua pihak yang berkepentingan. RPJMK juga sebagai penjabaran dari visi dan misi kampung, juga memuat kerangka ekonomi kampung, strategi pembangunan kampung, kebijakan umum, dan disertai program kegiatan dengan pendanaan yg bersifat indikatif. Selain sebagai petunjuk dan penentu arah kebijakan, dokumen rencana ini juga digunakan untuk dasar penilaian kinerja perangkat kampung dalam melaksanakan pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat selama masa jabatannya. Terkait dengan penyusunan RPMJK, Lestari Lorentz Lowlands yang merupakan Mitra kerja dari TN Lorentz melakukan pelatihan penyusunan kepada 9 kampung yang masuk dalam wilayah Distrik Jita, yang diikuti oleh perangkat masing-masing kampung. Kegiatan tersebut sebagai implementasi penjabaran Rencana Kerja Tahunan (RKT) Tahun ke III guna mendukung peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan dan konservasi keanekaragaman hayati Taman Nasional Lorentz di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Timika. Adapun pelaksanaan tersebut dilaksanakan pada tanggal 25 - 27 Juli 2017 yang bertempat di Hotel Serayu Kota Timika dan diikuti oleh 9 kampung dengan jumlah peserta 59 orang. Hasil dari pelatihan tersebut adalah adanya dokumen rencana pembangunan kampung dari tiap masing-masing kampung sedangkan tindak lanjut dari penyusunan dokumen tersebut yaitu adanya pengesahan dokumen RPJMK (perubahan) oleh kepala kampung dan Bamuskam. Distrik Jita merupakan salah satu distrik yang ada di Kabupaten Mimika dan wilayahnya masuk dalam kawasan Taman Nasional Lorentz (TN Lorentz) serta secara khusus merupakan wilayah kerja SPTN Wilayah I Timika. Menyikapi hal tersebut pada tanggal 4 s.d 7 Desember 2017 tim dari Lestari Lorentz Lowlands dan TN Lorentz dalam hal ini SPTN Wil. I Timika bertolak dari Kota Timika menuju Distrik Jita dengan maksud untuk membawa dokumen RPMJK dari masing-masing kampung di Distrik Jita dalam rangka pengesahan dokumen RPMJK tersebut. Sumber : Balai TN Lorentz Penanggung Jawab : Kepala Balai TN Lorentz Penulis dan Foto : Rudy Masach/Samaun Hi Yusuf (Polisi Kehutanan TN Lorentz)
Baca Berita

Tingkatkan Ekonomi Masyarakat, Balai TN Kutai Laksanakan Pelatihan Kelompok Aren di Desa Kandolo

Bontang (8/12/17). Dalam 3 hari ke depan, Balai TN Kutai melaksanakan peningkatan kapasitas kelompok melalui kegiatan pelatihan pemasaran produk aren bagi kelompok binaan Nyiur Melambai di Desa Kandolo. Acara tersebut mengundang masyarakat Desa Kandolo yg tergabung dalam kelompok aren Nyiur Melambai sebanyak 30 orang. Pembukaan pelatihan dihadiri oleh Camat Teluk Pandan, Kepala Desa Kandolo dan Sekretariat Mitra Taman Nasional. Dalam sambutannya Bapak Nur Patria Kurniawan, S.Hut.,M.Sc selaku Kepala Balai TN Kutai mengatakan kolaborasi Balai Taman Nasional Kutai dengan berbagai pihak termasuk Mitra TN Kutai di Desa Kandolo semoga membawa kemaslahatan (kebaikan) bagi masyarakat Desa Kandolo serta menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Kolaborasi tersebut diwujudkan dalam bentuk bantuan antara lain : 1. Bantuan Dapur pengolah gula aren yang diinisiasi oleh Mitra TNK melalui Sekretariat Mitra 2. Bantuan mesin pengemas gula semut sebanyak 2 unit mesin dan bantuan bibit tanaman aren sebanyak kurang lebih 2.328 bibit yang bersumber dari anggaran DIPA Balai TN Kutai. Pemberian bantuan tersebut diibaratkan oleh beliau sebagai kail, yang keberhasilannya akan membawa efek bagi kelompok. Tetapi kuncinya adalah keinginan dari semua anggota kelompok aren melambai untuk berhasil dan mandiri dalam mengelola aren di Kandolo. Keberhasilan pembinaan tersebutlah yang akan diikuti oleh kelompok masyarakat lainnya. Selain itu kegiatan pelatihan hari ini akan coba disampaikan kepada Bupati Kabupaten Kutai Timur agar hasil produk gula aren dan gula semut yg diproduksi oleh masyarakat Desa Kandolo dapat diserap oleh dunia usaha yang ada di kabupaten Kutai Timur, sehingga bukan hanya menjadi produk andalan desa saja melainkan menjadi produk unggulan di Kabupaten Kutai Timur. Senada dengan Kepala Balai TN Kutai, Kepala Desa Kandolo juga menyampaikan harapan beliau agar bantuan yg telah diberikan oleh Balai TN Kutai dan Mitra TN Kutai dari hulu ke hilir dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat, sehingga masyarakat memiliki nilai tambah yang nantinya menjadi motor penggerak roda perekonomian masyarakat Desa Kandolo. Kedepan, pengembangan kelompok binaan tidak hanya terbatas pada pengembangan kelompok aren saja melainkan juga kelompok-kelompok lainnya, dengan catatan jika ada kelompok lainnya yang ingin dikembangkan maka harus ikut prosedur, dan merupakan kelompok yg memang sudah struggle (tahan banting) dalam semua kondisi, bukan kelompok yang terbentuk dengan orientasi ingin di bantu. Satu hal yang menjadi pesan Kepala Balai dalam paradigma pengelolaan kawasan konservasi saat ini yaitu Masyarakat kenyang, masyarakat senang, hutan konservasi TN Kutai lestari hingga yang akan datang.#TN Kutai
Baca Berita

Konsultasi Publik Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Suaka Margasatwa Tarusan Arau Hilir dan Barisan

Padang, 8 Desember 2017. Balai KSDA Sumatera Barat menyelenggarakan Kegiatan Konsultasi Publik Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Suaka Margasatwa Tarusan Arau Hilir dan Barisan periode 2018-2027 di Hotel Grand Zuri Padang pada tanggal 6-7 Desember 2017. Dalam kegiatan tersebut diundang stakeholders terkait dari unsur masyarakat, Organisasi Pemerintah Daerah di tingkat Kabupaten/Kota/provinsi, dan perguruan tinggi untuk memberikan masukan dan penyempurnaan terhadap draft dokumen Rencana Pengelolaan yang disampaikan. Acara kegiatan konsultasi publik diawali dengan pembukaan yang disampaikan oleh Kepala Balai KSDA Sumatera Barat Dr.Ir. Erly Sukrismanto, M. Sc., dilanjutkankan pemaparan materi oleh Narasumber dari Bappeda Propinsi Sumatera Barat dan pemaparan Dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Suaka Margasatwa Tarusan Arau Hilir dan Barisan periode 2018-2027 oleh Budi Novella, S. Hut. MSi. Hasil konsultasi publik Rencana Pengelolan SM Tarusan Arau Hilir dan Barisan ini menyepakati sasaran pengelolaan SM Tarusan Arau Hilir dan Barisan 10 Tahun kedepan yaitu : Mewujudkan kemantapan kawasan SM Tarusan Arau Hilir dan Barisan, Menyusun database potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, Menurunkan tingkat gangguan dan tekanan terhadap kawasan berupa pembalakkan liar (illegal logging), perambahan, kebakaran, perburuan liar dan gangguan kawasan lainnya, Meningkatkan kapasitas pengelola dalam mengelola kawasan dan sumberdaya yang ada di dalamnya, Mengembalikan fungsi ekosistem SM Tarusan Arau Hilir dan Barisan sebagai habitat Harimau Sumatera dan satwa dilindungi lainnya, Melakukan pemantauan keberadaan dan dinamika populasi Harimau Sumatera sebagai spesies penting dan dilindungi, Meningkatkan dukungan dan partisipasi stakeholder dalam pengelolaan kawasan SM Tarusan Arau Hilir dan Barisan, Mewujudkan kemitraan dalam pengelolaan kawasan SM Tarusan Arau Hilir dan Barisan. Sumber: BKSDA Sumbar
Baca Berita

LAUNCHING PEMBERLAKUAN TICKET MASUK PENGUNJUNG TWA GUCI

TEGAL,(8/12/17). Menyusul ditetapkannya rayonisasi atas Taman Wisata Alam Guci berdasarkan Surat Keputusan Direktur jenderal KSDAE Nomor :SK.368/KSDAE/SET/KUM.1/10/2017 tanggal 20 Oktober 2017, hari Senin tanggal 4 Desember 2017 dilaksanakan launching pemberlakuan tiket masuk bagi pengunjung Pancuran 13. Dalam Surat Keputusan Direktur jenderal KSDAE tersebut, serta sesuai Peraturan pemerintah Nomor 12 tahun 2014 tentang TWA Guci termasuk dalam Rayon 3, sehingga bagi pengunjung Wisatawan dalam negeri dikenakan tarif tiket masuk sebesar Rp. 7.500 pada hari libur dan RP 5.000 pada hari kerja, sedangkan bagi wisatawan mancanegara dikenakan tarif tiket masuk sebesar Rp. 150.000 pada hari libur dan RP 100.000 pada hari kerja. Pelaksanaan pemberlakuan pungutan tiket masuk ini dilaksanakan setelah melalui rangkaian soasialisasi kepada masyarakat maupun instansi terkait oleh Kepala Balai BKSDA Jawa Tengah, Ir. Suharman MM, beserta jajarannya sejak tahun 2016 dan yang secara intensif dilaksanakan dalam 2 bulan terakhir antara lain dengan pemasangan berbagai papan informasi kepada pengunjung. Acara Launching pemberlakuan ticket ini seolah menjadi launching kawasan konservasi ini dengan status baru pengelolaannya sebagai Taman Wisata Alam. Acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan olah Raga Kabupaten Tegal yang sekaligus mewakili Bupati Tegal, segenap MUSPIKA Kecamatan Bojong dan Bumijawa, serta Kepala Desa Rembul dan Kepala Desa Bumijawa. Untuk memberikan kesan bagi pengunjung dan segenap pihak yang hadir, pengelola kawasan dalam hal ini dilaksanakan oleh Seksi Konservasi wilayah II BKSDA Jawa menyiapkan 16 buah cindera mata sekaligus doorprize bagi pengunjung pertama, ke-20, ke-40, dan seterusnya pada kelipatan hingga pengunjung ke-260. Dalam jangka waktu 3 hari pemberlakuan pungutan tiket masuk ini, telah terjual 2.036 lembar tiket masuk wisatawan dalam negeri. Jumlah tiket terjual pada hari pertama, kedua dan ketiga masing masing sebanyak 547lembar, 709 lembar, dan 780 lembar. Penerapan pungutan tiket masuk ini menjadi awal implementasi pengusahaan pariwisata alam di TWA Guci setelah alih fungsi kawasan dari status kawasan sebelumnya sebagi Cagar Alam pada tahun 2015 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.648/Menlhk-Setjen/2015 tanggal 16 Desember 2015. Selanjutnya secara bertahap akan dilaksanakan penerapan berbagai izin usaha dalam kawasan. Kontributor : Reki Parasdyasari, S.Hut (PEH, BKSDA Jateng)
Baca Berita

BKSDA Sumatera Selatan Padukan Konservasi Dengan Fotografi

Lahat, 8 Desember 2017. Dalam rangka pendidikan konservasi dan pengembangan wisata alam yang dilakukan di alam terbuka, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan memadukan kegiatan Kemah Konservasi dan Fotografi Alam. Kegiatan ini mengambil tema fotografi alam liar sebagai sarana pembelajaran dengan menikmati gejala alam, keunikan, dan keindahan alam di kawasan Hutan Suaka Alam Pusat Latihan Gajah Kelompok Hutan Isau-Isau, Lahat. Kegiatan ini melibatkan peserta kurang lebih seratus orang dari kalangan umum masyarakat, berbagai latar belakang profesi seperti jurnalis, pelajar/ mahasiswa, wiraswasta, pekerja lepas, dan pegawai negeri sipil yang berasal dari wilayah Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Jakarta. Materi pembelajaran konservasi mencakup pengenalan kawasan HSA PLG KH Isau-Isau sebagai salah satu kawasan konservasi yang ditetapkan sebagai habitat alami Gajah sumatera. Secara khusus, disampaikan materi tentang satwa endemik Gajah sumatera serta statusnya sebagai mamalia langka dan dilindungi menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Materi lainnya yaitu pengenalan kekayaan alam yang ada di kawasan hutan. Berkemah merupakan salah satu metode yang mengajak peserta untuk merasakan perubahan suasana sekaligus mengamati segala sesuatu yang unik di kawasan hutan. Selain itu, peserta diajak masuk ke hutan, mengamati tumbuhan dan satwa yang dijumpai, terutama aktivitas Gajah sumatera. Peserta diminta untuk merekam segala bentuk aktivitas yang menjadi daya tarik melalui pengambilan foto. Pengambilan foto tersebut merupakan rangkaian kegiatan kemah yang dikompetisikan sebagai salah satu kontribusi peserta terhadap penyediaan dokumentasi kawasan HSA PLG KH Isau-Isau. Para peserta berpartisipasi aktif selama pelaksanaan kegiatan dan antusias mengamati kondisi alam di kawasan HSA PLG KH Isau-Isau. Kemah konservasi merupakan salah satu kegiatan bina cinta alam yang diharapkan dapat memupuk kecintaan terhadap alam sekitarnya melalui kesadaran bahwa kita memiliki ketergantungan terhadap alam dan kebutuhan untuk melestarikannya. (JP) Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Nasib Kukang Hampir Tergadaikan Melalui Media Sosial

Singkawang, 8/11/2017 Tim Gugus Tugas Tumbuhan dan Satwa Liar SKW III Singkawang, pada awalnya mendapatkan informasi penjualan satwa dilindungi yaitu kukang (Nycticebus coucang) lewat media sosial Facebook. Setelah dilakukan penelusuran di lapangan, didapati pemilik satwa tersebut berinisial A dengan alamat Jalan Padi Komplek BTN Permai 3 Sungai Garam Singkawang. Berbekal informasi hasil penelusuran awal tersebut, pada hari yang sama Tim Gugus Tugas TSL SKW III langsung menuju lokasi dan bertemu langsung dengan pemelihara satwa kukang tersebut. Awal mula Tim menjelaskan terkait perlindungan dan konservasi terhadap satwa liar dilindungi melalui UU nomor 5 tahun 1990 tentang KSDAE dan PP 7 tahun 1999 tentang pengawetan tumbuhan dan satwa liar. Setelah dilakukan mediasi dan penyadartahuan terhadap pemelihara, akhirnya yang bersangkutan bersedia menyerahkan satwa kukang tersebut. Penyerahan satwa kukang diperkuat dengan Berita Acara Serah Terima Satwa No.82/BKSDA.KALBAR-III/KKH/12/2017. Dari hasil resque yang dilakukan, tim membawa satwa kukang tersebut ke kandang transit di kantor SKW III untuk dilakukan penanganan lebih lanjut. Menurut rencana satwa kukang tersebut akan dikirim ke pusat rehabilitasi satwa yang ada di Kabupaten Ketapang, untuk selanjutnya diharapkan setelah dilakukan rehabilitasi secepatnya akan dilakukan pelepasliaran ke habitatnya. (YS) Sumber : BKSDA Kalbar
Baca Berita

Saka Wanabakti Kwarcab Kepulauan Selayar Ikuti Pertiwana Sulawesi Selatan Di Gowa

Parangloe - Gowa, 8 Desember 2017. Berlokasi di Parangloe Kab. Gowa. Bumi Perkemahan Parangloe (Manggala Agni) Gowa Sulawesi Selatan. Dilaksanakan Pertiwana yang diikuti seluruh kabupaten Se-Sulawesi Selatan dengan tujuan untuk mempererat kebersamaan pramuka Satuan Karya lingkup Kehutanan (Saka Wanabakti). Pamong saka Marwan Nur mengatakan semoga dengan kegiatan pertiwana tingkat daerah sulsel dapat berkelanjutan. "Karena telah 22 tahun lalu terakhir, dilaksanakan dan insyaallah tahun depan akan diadakan pertiwana tingkat nasional di Bogor," lanjut Marwan Nur Kepala Balai TN. Taka Bonerate Ir. Jusman menyatakan Tahun ini kami Balai TN. Taka Bonerate telah membentuk Saka Wanabakti dan kepengurusan Kwarcab Kabupaten Kepulauan Selayar. Dan ada 14 anggota Pramuka Putra Putri yang diutus untuk mengikuti kegiatan Perkemahan Bakti ini. Selain kemah bakti, kegiatan yang rencananya berlangsung selama 4 (empat) hari yaitu mulai tanggal 06 sd. 10 Desember ini juga dilaksanakan Pelantikan Pengurus Majelis Pembimbing dan Pimpinan Saka Wanabakti Tingkat Daerah Sul-Sel masa bakti 2017-2022 oleh gubernur Sul-Sel Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo yang juga selaku ketua kwarda Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan. Sumber : Asri - Balai TN Taka Bonerate

Menampilkan 9.249–9.264 dari 11.140 publikasi