Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pramuka Kabupaten Lumajang dan Malang Mengikuti Kemah Konservasi di Ranu Regulo TN Bromo Tengger Semeru

Malang, 18 Desember 2017. Saat ini Kawasan konservasi banyak mendapat tekanan dan gangguan yang disebabkan oleh antara lain rendahnya tingkat kesadaran dan kepedulian masyarakat akan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati & Ekosistemnya (SDAH&E). Sebagai salah satu solusinya yaitu dilakukan kegiatan Bina Cinta Alam dengan harapan dapat tersampaikan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat. Bina Cinta Alam dengan kegiatan kemah konservasi dalam rangka pendidikan konservasi dan pengembangan wisata alam merupakan sarana pembelajaran yang bermuatan Konservasi SDAH&E dengan tujuan menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat dari usia anak-anak, remaja, generasi muda dan masyarakat pada umumnya akan nilai-nilai Konservasi SDAH&E. Sejalan dengan hal tersebut pada tanggal 16 dan 17 Desember 2017 bertempat di Ranu (Danau) Regulo Resort PTN Ranu Pani Seksi PTN Wilayah III Senduro Bidang PTN Wilayah II Lumajang, TNBTS mengadakan kegiatan Kemah Konservasi yang diikuti oleh 65 (Enam Puluh Lima) orang Anggota Pramuka Perwakilan dari Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Budi Mulyanto S.Pd, M.Si selaku Kepala Seksi PTN III Senduro menyampaikan bahwa maksud diadakan kegiatan Konservasi ini adalah guna mengembangkan kesadaran dan kepedulian dari pemuda dan pelajar terhadap konservasi dan lingkungan hidup serta permasalahannya, dan memiliki pengetahuan, sikap, keahlian, motivasi dan komitmen untuk bekerja, baik secara individu maupun kolektif, untuk memecahkan masalah (khususnya persoalan yang dihadapi oleh kawasan konservasi) saat ini dan mencegah masalah yang akan datang. Adapun Tujuan Kemah Konservasi bagi pramuka ini : Peserta Kemah Konservasi diberikan materi tentang ekosistem kawasan TNBTS khusunya; Pengenalan Keanekaragaman Hayati TNBTS dan pemberian materi Survival oleh Polri dan Penanganan bencana oleh BPBD, selain itu praktek lapangan tentang kesamaptaan yang di pandu oleh TNI dan Polri dari Kabupaten Lumajang . Diakhir Acara dilakukan kegiatan penanaman pohon sebanyak 100 pohon, jenis Kesek, Danglu dan Cemara Gunung di sekitar wilayah Ranu Regulo. Diharapkan dengan kegiatan kemah konservasi di TNBTS ini akan terbangun persepsi dan wawasan Pelajar dan Generasi Muda terhadap konservasi di TNBTS pada khususnya dan lingkungan hidup pada umumnya. Sumber : Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Balai KSDA Aceh Evakuasi Orangutan Bersama HOCRU YOSL-OIC

Aceh Timur, 17 Desember 2017. Petugas Balai KSDA Aceh Resort Langsa (Azharudin) bersama tim Human Orangutan Conflict Respon Unit (HOCRU) YOSL-OIC sekitar pukul 24.00 tadi malam telah mengevakuasi satu Orangutan betina dewasa berumur 25 tahun. Orangutan tersebut ditemukan di desa Reformasi, kecamatan Peurlak Timur, kabupaten Aceh Timur - Provinsi Aceh dengan luka kritis. Tim sudah melakukan penanganan awal sampai kondisi cukup baik untuk pemeriksaan lanjutan, selanjutnya Orangutan tersebut dibawa ke Pusat Rehabilitasi Orangutan Sumatera di Batumbelin, Sibolangit, Sumatera Utara untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Dari hasil pemeriksaan kesehatan, kondisi orangutan mengalami patah tangan kanan lalu dilakukan pemasangan softgips untuk immobilisasi lengan, cedera pada tangan kiri tapi belum bisa dipastikan patah atau dislokasi (dibutuhkan xray) serta kondisi Orangutan yang cukup lemah dengan berat badan ±20 kg. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Balai KSDA Aceh Ikuti Rakor Penanggulan Konflik Gajah

Bener Meriah, 17 Desember 2017. Balai KSDA Aceh mengikuti rapat koordinasi penanggulan konflik gajah di Kabupaten Bener Meriah yang bertempat di pendopo Bupati Bener Meriah. Rapat dipimpin Wakil Gubernur Aceh, diikuti oleh Bupati, Kapolres, Dandim, Kajari dan Anggota DPRK Bener Meriah, serta Anggota DPRA dan Kepala Dinas LHK. Rapat membahas respon terhadap kejadian turunnya 40 ekor gajah di perkampungan Kecamatan Pintu Rime Gayo. Dalam kesempatan tersebut kami mempresentasikan upaya yang sedang dilakukan, serta upaya jangka menengah dan panjang yang perlu dilakukan untuk mengatasi konflik gajah di Bener Meriah, termasuk perlunya perluasan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) yang sudah ditunjuk Bupati. Setelah rakor, dilanjutkan rapat terbatas bersama Wagub dan Tim Asistensi yang memutuskan untuk memprioritaskan upaya jangka pendek dengan melakukan penggiringan gajah oleh Balai KSDA Aceh dibantu Pemkab dan masyarakat. Pemerintah Aceh akan mensupport dengan sumberdaya yang ada guna merespon kondisi masyarakat serta demi keselamatan kelompok gajah. Sejak kamis (14/12/2017) kami telah menurunkan 3 ekor gajah jinak serta 1 tim untuk menggiring gajah liar keluar dari perkampungan masyarakat Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

BKSDA Kalteng Lepasliarkan Orangutan di Penghujung Tahun 2017

Palangaka Raya - 14 Desember 2017, Pelepasliaran (release) orangutan (Pongo pygmaeus) menuju habitat aslinya merupakan proses akhir dari suatu rangkaian proses upaya konservasi orangutan ex-rehabilitan. Pada tanggal 12 s/d 14 Desember 2017 Balai KSDA Kalimantan Tengah dan salah satu mitranya Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) telah melakukan kegiatan pelepasliaran orangutan. Pelepasliaran yang ke-20 tersebut memiliki kandidat sebanyak 8 individu ex rehabilitan (Fitun, Jani, Kasper, Karen, Mas, Sabun, Bento dan Dani). Dari 8 individu orangutan tersebut 7 diantaranya adalah jantan dan 1 individu betina. Kandidat orangutan a.n Bento adalah orangutan yang paling tua saat release dilakukan yaitu dengan umur 26 tahun. Lokasi pelepasliaran dilakukan di Hutan Lindung Bukit Batikap yang terletak di Kecamatan Seribu Riam Kabupaten Murung Raya, dari luas total kawasan 406,839 Ha, 32,000 Ha diantaranya dipergunakan sebagai areal konservasi pelepasliaran orangutan. Hutan Lindung Bukit Batikap adalah lokasi pelepasliaran yang telah lama digunakan oleh BKSDA Kalimantan Tengah dan BOSF dari tahun 2012 s/d 2016, karena pada tahun 2016 sampai dengan 2017 BKSDA Kalimantan Tengah dan mitra lebih memilih melakukan pelepasliaran di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Kabupaten Katingan. Lokasi Pelepasliaran di HL Bukit Batikap lebih sulit dijangkau daripada TN. Bukit Baka Bukit Raya, sehingga tim memutuskan untuk mengubah rute tempuh dari tahun-tahun sebelumnya. Sedikit perbedaan rute tempuh tersebut ditujukan agar dapat memperpendek waktu tempuh. Pada tahun sebelumnya orangutan dari Palangka Raya ke Puruk Cahu ditempuh melalui jalur darat dan kemudian dilanjutkan dengan jalur udara menggunakan helikopter di terbangkan dari Puruk Cahu (Kabupaten Murung Raya), sedangkan pada tahun ini Helikopter yang dipergunakan untuk pelepasliaran di terbangkan melalui Kuala Kurun (Kabupaten Gunung Mas). Secara keseluruhan proses pelepasliaran menuju Hutan Lindung Bukit Batikap sendiri dilakukan melalui Jalur darat dan udara, jalur darat dari Kota Palangka Raya ke Kuala Kurun, dan jalur udara dari Kuala Kurun ke HL. Bukit Batikap. Jalur udara yang ditempuh menggunakan helikopter milik Direktorat PKHL region Kalimantan tersebut dilaksanakan bergantian sebanyak 4 trip penerbangan (1 hari 2 trip penerbangan). Hal tersebut disebabkan Helikopter yang digunakan hanya dapat membawa 2 individu orangutan dalam 1 kali penerbangan. Sampai dengan saat ini Balai KSDA Kalimantan Tengah dan BOSF Nyaru Menteng telah melepasliarkan 246 individu orangutan di HL Batikap dan TN. Bukit Baka Bukit Raya dengan rincian 175 individu di HL.Bukit Batikap dan 71 individu di TN. Bukit Baka Bukit Raya. Sumber: BKSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Tiga Rombongan Misi Berbeda di TN. Aketajawe Lolobata

Sofifi, 16 Desember 2017. Mahasiswa Universitas Khairun (Unkhair) jurusan Pariwisata untuk pertama kalinya berkunjung ke Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) di Resort Tayawi guna pengamatan bururng Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii). Romongan sebanyak 16 orang termasuk dosen pembimbingnya bertolak dari terminal Sofifi pukul 11:15 WIT dan tiba di Resort Tayawi pukul 14: 15 WIT. Setibanya di kantor resort, petugas resort langsung mengarahkan mahasiswa untuk beristirahat. Sebagian dari mereka langsung melakukan aktifitas pengambilan dokumen dan berkunjung ke Masyarakat Tobelo Dalam (MTD) disekitar kantor. Malam harinya petugas Resort Tayawi memberikan arahan terkait persiapan kegiatan pengamatan besok. Keesokan harinya para rombongan dipandu untuk menuju lokasi pengamatan sekitar pukul 05:30 WIT. Dengan menyeberangi sungai Tayawi sebanyak 3 (tiga) kali sampailah rombongan di lokasi pengamatan burung endemik Maluku Utara tersebut. Rombongan tersebut mulai mengamati dan naik ke menara pengamatan atau rumah pohon. “Ini perjumpaan pertama, melihat langsung burung Bidadari yang cantik dan indah”, kata Bapak Muslim, dosen pembimbing mahasiswa jurusan Pariwisata. “Serasa tidak mau turun dari rumah pohon ini”, pungkas beliau. Selain rombongan dari mahasiswa Unkhair, terdapat juga rombongan dari petugas Puskesmas setempat (Talagamori) dan LSM LEMARI. Petugas Puskesmas melakukan pengecekan kesehatan dan pengobatan secara gratis kepada MTD. Sedangkan kedatangan LSM LEMARI bertujuan untuk mengajar membaca dan menulis bagi MTD. Sumber : Risno Adnan - Tenaga Kontrak Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Kunjungi Maros, Anggota DPR Komisi IV Sambangi Sanctuary Kupu-Kupu di TN Bantimurung Bulusaraung

Bantimurung, 18 Desember 2017. Sejumlah anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melakukan kunjungan kerja ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan Kabupaten Maros. Dimana salah satu pasangan kerja komisi IV ini adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terutama bidang kehutanan. Kunjungan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 16 Desember 2017. Rombongan anggota DPR ini sebanyak 27 orang yang dipimpin langsung oleh wakil ketua komisi, Daniel Johan. Tampak juga dalam rombongan Darori Wonodiputro, Direktur Bina Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial, dan Kepala Bagian Program Anggaran. Tak ketinggalan Eko Patrio, selalu mencolok dengan senyum khasnya. Artis ibukota yang menjadi anggota DPR RI. Pada kunjungan kali ini anggota DPR RI meninjau Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Maros. Mereka juga berkesempatan mengunjungi pembibitan ternak di Maros. Selanjutnya rombongan ini mengunjungi kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kunjungan di kawasan konservasi ini menyambangi Santuary Kupu-kupu dan air terjun bantimurung yang keduanya berada di Kawasan Wisata Bantimurung. Dengan hangat sejumlah pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan lingkup Sulawesi Selatan menyambut rombongan ini. Tampak Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kepala P3E Sulawesi Maluku, Kepala BP2LHK Makassar, Kepala Balai PPI. Tak ketinggalaan Kepala BPDASHL Jeneberang Saddang, Wakil Kepala BBKSDA Sulawesi Selatan turut menyambut kedatangan rombongan ini. Pada sanctuary kupu-kupu rombongan DPR ini melihat langsung kupu-kupu yang beterbangan di dalam dome budidaya. Mereka juga berkesempatan meninjau jembatan pengamatan, Helena Sky Bridge yang dikelola oleh mitra taman nasional. Rombongan juga mengunjungi display room untuk mengamati awetan beragam jenis kupu-kupu penghuni Bantimurung Bulusaraung sebagai media edukasi, penelitian, dan ekowisata. Sepanjang kunjungan di santury ini rombongan mendapat penjelasan tentang siklus hidup kupu-kupu, tata kelola kawasan dan pelayanan kunjungan. Kepala balai taman nasional beserta staf sanctuary kupu-kupu dengan setia memberikan penjelasan kepada mereka. Beberapa pertanyaan juga meuncul dari rombongan baik tentang jenis kupu-kupu yang dilindungi, jumlah jenis yang dijumpai di kawasan taman nasional, serta waktu terbaik untuk melihat kupu-kupu di alam. “Kita perlu memperhatikan kelanjutan tata kelola santuary kupu-kupu ini terutama dari segi anggaran. Mengapa?, karena potensi yang dimilki Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung ini sangat unik. Oleh karena itu harus dijaga, dipelihara, dan dikembangkan dengan melakukan penambahan fasilitas baik untuk penelitian maupun untuk sarana pendukung ekowisatanya,” tutur Darori kepada rombongan anggota DPR tersebut. Pada akhir kunjungan di santuary ini perwakilan rombongan menyerahkan cenderamata kepada Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Selanjutnya rombongan menyempatkan diri mengunjungi air terjun bantimurung, menikmati deburan air terjun dari dekat. Sumber : Abdul Azis Bakry – Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Konsultasi Publik Rancangan Pengelolaan Suaka Margasatwa Lamandau Tahun 2019-2029

Pangkalan Bun, 17 Desember 2017. Telah dilaksanakan kegiatan konsultasi publik Rancangan Pengelolaan (RPJP) Suaka Margasatwa (SM) Lamandau Tahun 2019-2029 di Meeting Room Morinda Hotel Avilla Pangkalan Bun. Kegiatan ini bertujuan untuk menampung saran dan masukan dari berbagai pihak dalam rangka penyempurnaan penyusunan dokumen RPJP SM Lamandau. Kegiatan konsultasi publik RPJP SM.Lamandau diikuti oleh 46 peserta yang berasal dari unsur Muspida, Organisasi Kerja Perangkat Daerah terkait, Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit yang berbatasan langsung dengan kawasan SM.Lamandau, Akademisi (Universitas Antakusuma), Desa-desa penyangga SM.Lamandau, LSM mitra kerja BKSDA Kalteng SKW II. Kegiatan ini diselenggarakan dengan pemaparan dari para pihak yang berkaitan langsung dengan pengelolaan SM.Lamandau seperti Bappeda dan KPHP yang berasal dari 2 (dua) kabupaten yakni Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupten Sukamara. Karena SM.Lamandau terletak pada wilayah administrasi kedua kabupaten tersebut. Hal ini dimaksudkan agar adanya singkronisasi antara program kerja daerah maupun KPHP dalam mendukung pengelolaan kawasan SM.Lamandau yang lestari dan berkelanjutan. Dalam rangka menjaring saran dan masukan publik dalam penyusunan dokumen RPJP tersebut didalam kegiatan ini para peserta konsultasi publik diakomodasi dalam suatu diskusi dalam bentuk FGD (Focus Group Disscusion) yang membagi peserta menjadi 3 kelompok yakni Kelompok Pemerintah, kelompok LSM, dan Kelompok Masyarakat. Hasil dari FGD tersebut menghasilkan beberapa masukan antara lain : Masyarakat : Pemerintah : NGO : Berbagai saran dan masukan yang telah diberikan tersebut selanjutnya dapat digunakan tim penyusun dokumen sebagai masukan dalam pembuatan rancangan kegiatan untuk 10 tahun kedepan. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Balai TN Berbak-Sembilang dan BKSDA Jambi Kampanyekan Mitigasi Konflik Manusia-Harimau

Jambi, 17 Desember 2017. Konflik antara manusia dan satwa liar terjadi akibat sejumlah interaksi negatif baik langsung maupun tidak langsung antara manusia dan satwa liar. Pada kondisi tertentu konflik tersebut dapat merugikan semua pihak yang berkonflik. Konflik yang terjadi cenderung menimbulkan sikap negatif manusia terhadap satwa liar, yaitu berkurangnya apresiasi manusia terhadap satwa liar serta mengakibatkan efek-efek detrimental terhadap upaya konservasi. Kerugian yang umum terjadi akibat konflik diantaranya seperti rusaknya tanaman pertanian dan atau perkebunan serta pemangsaan ternak oleh satwa liar, atau bahkan menimbulkan korban jiwa manusia. Disisi lain tidak jarang satwa liar yang berkonflik mengalami kematian akibat tindakan penanggulangan konflik yang dilakukan. Di Jambi khususnya di sekitar wilayah Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) Konflik antara manusia dan satwa liar yang sering terjadi adalah konflik dengan Harimau dan Buaya. Dalam rangka mengurangi kejadian konflik khususnya dengan Harimau, Balai TNBS bersama dengan Balai KSDA Jambi dan Zoological Society of London (ZSL) melalui dukungan proyek GEF-UNDP Sumatran Tiger menyelenggarakan upaya penyadartahuan yang bersifat preventif kepada masyarakat Desa Simpang Datuk dan sekitarnya pada 15 Desember 2017. Kegiatan dilaksanakan di Balai Desa Simpang Datuk dengan dihadiri oleh Kepala Desa Simpang Datuk, Bhabinkamtibmas Simpang Datuk, warga Desa Simpang Datuk, Desa Sungai Jeruk, Desa Sungai Palas, Desa Rantau Rasau dan perwakilan pekerja Perkebunan Sawit PT. Metro Yakin Jaya (MYJ). Dalam sambutan pembukaannya Kepala Desa Simpang Datuk (Ambok Gauk bin Daeng P.) menyampaikan dukungannya atas kegiatan kampanye ini mengingat dalam beberapa bulan terakhir terlihat harimau yang memasuki wilayah perkebunan PT. MYJ dan terjadinya korban akibat serangan buaya. Kepala Desa juga mengharapkan agar kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara kontinyu untuk meningkatkan kesadaran masyakarat untuk tidak mengganggu harimau dan mengurangi kejadian serangan buaya. Pada acara kampanye, Tim Balai KSDA Jambi menyampaikan hal teknis untuk mencegah konflik dengan harimau, prosedur yang harus dilakukan jika terjadi konflik satwa, dan pentingnya konservasi harimau sumatera. Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Simpang Datuk juga menyampaikan jika ada warga masyarakat yang menyimpan dan memiliki senjata api rakitan untuk dapat melaporkan dan menyerahkannya kepada pihak Kepolisian karena hal tersebut melanggar undang-undang darurat no. 12 tahun 1951. Kegiatan perburuan liar terhadap satwa dilindungi termasuk harimau dengan menggunakan senpi maupun jerat adalah kegiatan yang melanggar hukum pidana. Bhabinkamtibmas menghimbau kepada warga masyarakat memasang jerat untuk hama babi di ladang milik sendiri namun mengenai harimau, agar segera melaporkan kepada pihak berwenang dan tidak melukai atau membunuh harimau tersebut. Jika ini dilakukan maka warga tidak akan dikenai tuntutan hukum karena merupakan ketidak-sengajaan. Pada akhir acara, kepada warga yang hadir dibagikan kalender dan baliho yang berisi informasi kiat menghindari konflik dengan satwa serta nomer kontak Balai KSDA Jambi dan Balai TNBS yang dapat dihubungi jika terjadi konflik. Sumber : Balai TN Berbak dan Sembilang
Baca Berita

Kolaborasi BTN Kelimutu dengan Balai PSKL Jabalnusra Tanam Pohon Lahan Kritis

Ende (17/12/17). Balai TN Kelimutu berkoordinasi dengan Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Wilayah Jawa, Bali Nusa Tenggara, melaksanakan kegiatan Replikasi yang merupakan kegiatan "penularan" aktifitas penerima Kalpataru tahun 2016 kategori Penyelamat Lingkungan yaitu Kelompok Wonga Mengi Desa Kedebodu Kab. Ende berupa kegiatan penanaman dan pengelolaan lahan kritis. Target kegiatan ini adalah masyarakat perambah di kawasan hutan TN Kelimutu di Desa Niowula, Kab. Ende untuk menanami lahan kritis di luar kawasan TN dengan tanaman produktif yang penanaman dan pengelolaannya dibimbing oleh Kel. Wonga Mengi. Bilamana tanaman telah berhasil maka akan dilakukan restorasi di areal perambahan kemudian. Sebagai langkah awal, mulai hari Selasa, 12 Desember 2017, telah dilaksanakan kegiatan penguatan kelembagaan kelompok masyarakat perambah, bertempat di Kantor Desa Niowula, dengan Narasumber : Ketua Kelompok Wonga Mengi, Kepala Desa Kedebodu, Kepala Desa Niowula, Kepala SPTN Wilayah II Detusoko, LSM Yayasan Tananua Ende, dan Forum Masyarakat Adat Daerah Penyangga Kawasan TN Kelimutu. Selain itu telah dilakukan pula penataan dan penyiapan lahan kritis seluas 2 Ha di luar kawasan Taman Nasional, untuk ditanami berbagai jenis tanaman produktif, antara lain 320 batang anakan cengkeh dan 1.440 batang anakan mahoni. Sumber: TN Kelimutu
Baca Berita

SMPN 7 Bontang Jelajahi hutan Sangkima Taman Nasional Kutai

Bontang, 17 Desember 2017. Mengisi akhir pekan, Sabtu tanggal 16 Desember 2017, pelajar SMPN 7 Bontang berwisata ke Sangkima,. Sekitar 170 siswa dan guru, berwisata sambil belajar tentang hutan di sepanjang jungle trekking. Sebelum menjelajahi Hutan sangkima, para pelajar dan guru melakukan senam dengan dipandu oleh Pak Jalani, salah staf Balai Taman Nasional Kutai yang ditugaskan di Resort Sangkima. Sangkima merupakan salah satu tujuan wisata andalan di Taman Nasional Kutai. Selain aksesibilitas yang lebih mudah, sangkima memiliki objek yang sangat unik dan populer yang merupakan mascot Sangkima yaitu ulin raksasa dengan diameter 2.49 m dan berbagai atraksi yang tersaji di sepanjang jalan. Boarwalk sepanjang 970 meter, yang terbuat dari papan ulin menjadi atraksi tersendiri bagi pengunjung. Atraksi lain yaitu aneka jembatan antara lain jembatan gantung, jembatan sling dengan titian berupa 1 kawat sling, jembatan saolin, jembatan ayun yang terbuat dari satu log yang terayun apabila dilalui, rumah pohon, dan permandian tujuh puteri. Beberapa atraksi lain yang sedang dibangun dan belum boleh dimanfaatkan antara lain canopy bridge dan canopy house. Fasilitas baru tersebut diharapkan dapet berfungsi pada awal januari 2018. Selain berwisata, pengunjung dapat mengamati 1300 individu pohon yang terdiri 197 Jenis dari 52 famili, terdapat disepanjang jungle trekking sepanjang 4 km dan kalau beruntung, pengunjung dapat juga menjumpai orangutan. Untuk panduan pengenalan tumbuhan di seppanjang jalur trekking, disediakan leaflet yang berisi nomor dan jenis pohon. Dengan membawa leaflet, pengamat dapat dengan mudah mengenali jenis-jenis pohon yang ada. Setelah mengunjungi Sangkima Junggle Park, pelajar SMPN 7 Bontang melanjutkan wisata nya ke Pantai teluk Lombok, salah satu pantai yang terdapat di bagian Timur Taman Nasional Kutai. Sumber : Balai TN Kutai
Baca Berita

Sosialisasi Putusan Gugatan Perdata Klaim Lahan Megotawang (Den Bento) TN Bromo Tengger Semeru

Pada hari jumat tanggal 15 Desember 2017, Balai Besar TNBTS menggelar Sosialisasi Putusan Perdata Pengadilan Tinggi Jawa Timur di Balai Desa Duwet Krajan, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, yang dihadiri oleh sekitar 30 (tigapuluh) masyarakat dan aparat Desa Duwet Krajan. Sosialisasi tersebut bertujuan : Gugatan perdata kepada TNBTS selaku tergugat II berawal dari gugatan Yuli Wahyuningtyastuti dkk( sebanyak 4 orang) melalui kuasa hukum Azwar Siregar, SH dan Partner dengan gugatan Nomor . 166/Pdgt.G/2015/PN, yang ditujukan kepada Perhutani (selaku tergugat I), TNBTS (selaku tergugat II) dan BPN Kabupaten Malang (sekalu Tergugat III) pada bulan November 2015 yang mengklaim kepemilikan lahan TNBTS Blok Merotawang (den Bento) seluas ± 60 Ha. . Setelah melalui serangkaian persidangan di PN Kepanjeng Kabupaten Malang dan Sidang Lapangan (pada sidang lapangan pihak penggugat tidak dapat membuktikan klaim mereka atas lahan tergugat), pada tanggal 22 Juni 2016 Majelis Hakim PN Kepanjen Malang, memutuskan menolak gugatan para penggugat. Tidak terima dengan gugatan keputusan Majelis Hakim PN Kepanjen, 2 orang dari 4 penggugat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Jawa Timur , dengan mewakilkan pada kuasa hukum Sugeng SH. Setelah melalui proses oleh PT Jawa Timur melalui surat Nomor : 182/PDT/2017/PT.SBY tanggal 18 Mei 2017 upaya banding tersebut dijawab dengan Putusan “menguatkan” Putusan Pengadilan Negeri Kepanjen Malang. Terhadap putusan PT Jawa Timur tersebut pihak yang berperkara tidak melakukan upaya hukum lanjutan (Kasasi) sehingga keputusan klaim lahan Mergotawang dinyatakan Incrahct (berkekuatan hukum tetap). Pada kesempatan sosialisasi tersebut, selain disampaikan hasil putusan Pengadilan Tinggi Jawa Timur terkait kasus gugatan perdata di kawasan TNBTS, masyarakat juga diingatkan untuk ikut serta menjaga kelestarian kawasan TNBTS mengingat fungsinya sebagai daerah tangkapan air. Kepada masyarakat yang selama ini ikut menggarap lokasi klaim lahan diberi kesempatan untuk segera meninggalkan lokasi tersebut mengingat akan segera dilakukan upaya pemulihan ekosistem untuk memperbaiki kondisi kawasan yang terdegradasi akibat penggunaan lahan / perambahan. Alternatif akhir akan di upaya penegakan hukum apabila masyarakat tidak mau meninggalkan lokasi perambahan yang mereka duduki. Sumber : Gatot Kuncoro Edi - Kasat Polhut Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Langka, Tukik Penyu Hijau Berkepala Dua Menetas di UKP BTNM

Sukamade- Banyuwangi, 16 Desember 2017. Beberapa hari yang lalu, Poniman Hepta Adrian alias Cimon, seorang Tenaga Harian Lepas menemukan tukik (bayi penyu) berkepala dua menetas di Unit Konservasi Penyu (UKP) BTNMB. Tukik penyu hijau (Chelonia mydas) merupakan salah satu jenis penyu yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Selain penyu hijau, di Pantai Sukamade, BTNMB juga menjadi habitat bagi Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dan Penyu Slengkrah (Lepidochelys olivacea). Dalam rangka upaya pengelolaan populasi penyu di Sukamade, Taman Nasional Meru Betiri membentuk Unit Konservasi Penyu (UKP). Kegiatan yang dilakukan UKP antara lain pengamanan dan pengamatan penyu, penetasan semi alami, pemeliharaan tukik, dan pelepasan tukik. Penetasan semi alami yaitu penetasan telur penyu yang diambil dari pantai, kemudian dipindahkan dan ditanam kembali ke dalam sarang semi alami di UKP, dijaga dan dimonitoring hingga menetas. Tepatnya, tanggal 10 Desember 2017 saat memonitor penetasan telur penyu hijau, pada sarang No. Reg 858 dengan total telur 63 butir yang berasal dari sektor 16 ditemukan 48 ekor tukik menetas normal (keluar dari sarang sendiri). Saat dilakukan pembongkaran sarang ditemukan ada 2 ekor tukik berkepala dua menetas dan 13 butir telur tidak menetas. Hanya satu tukik berkepala dua yang masih hidup di UKP sampai berita ini diturunkan. Kecil kemungkinan bertahan hidup bila dilepaskan ke pantai karena saat berenang atau berada di air posisi kepala satu di atas pemukaan air dan yang satunya berada di bawah permukaan air sehingga sulit untuk bernafas. Terkait kejadian langka ini, Wartono yang dulu bertugas di Sukamade menuturkan bahwa tukik berkepala dua pernah ditemukan sebelum tsunami tahun 1994 yang menerjang Sukamade dan Rajegwesi. Dan Agustus lalu juga ditemukan tukik penyu tempayan berkepala dua di Florida. Sumber : BTN Meru Betiri
Baca Berita

Kiprah Nyata 34 Tahun Saka Wanabakti Kapuas Hulu

Putussibau, 17 Desember 2017. Ketua Majelis Tinggi Saka Wanabakti Kapuas Hulu Arief Mahmud, menyampaikan kebanggaannya atas kiprah nyata anggota Saka Wanabakti di masyarakat. Hal ini ditegaskannya saat menjadi Pembina upacara pada puncak peringatan hari jadi Saka Wanabakti ke-34 di halaman kantor Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTN BKDS/Bentarum), Minggu (17/12). Tidak hanya mengenal alam dan lingkungan sebagai prinsip dalam kegiatannya, Arief menilai Saka Wanabakti Kapuas Hulu juga berkiprah nyata dengan melakukan penggalangan dana bagi korban bencana kebakaran yang terjadi Rumah Betang Sayut, Kecamatan Putussibau Selatan. “Saya sangat bangga dan memberikan apresiasi kepada adik-adik yang telah berusaha menunjukkan bakti dan darma dengan menghimpun bantuan untuk korban kebakaran Rumah Betang Sayut” tegasnya. Kepala BBTNBKDS ini menambahkan bahwa Saka Wanabakti Kapuas Hulu merupakan satu-satunya organisasi Saka Wanabakti yang masih ada di Provinsi Kalimantan Barat. Ini membuktikan bahwa pembinaan yang telah dilakukan oleh BBTNBKDS selama ini menunjukkan hasilnya meskipun masih banyak keterbatasan. ”Saya bangga karena pramuka saka wanabakti menjadi bagian dari 11 saka yang ada di Indonesia, khususnya di Kapuas Hulu masih tetap eksis dibandingkan di tempat lain di Provinsi Kalimanatan Barat”urainya. Keberadaan Saka Wanabakti Kapuas Hulu hingga saat ini menurutnya juga merupakan hasil kerja keras kakak-kakak pembina yang berasal dari Balai Besar TNBKDS. Menutup arahannya, Arief berharap bahwa keberadaan Saka Wanabakti Kapuas Hulu akan semakin dikenal luas masyarakat dengan kiprah dan penyelenggaran program kepramukaan dengan skala nasional. “Saya berharap pramuka Saka di Kapuas Hulu khususnya pangkalan BBTNBKDS akan tetap hidup dan makin jaya dan saya berharap pada tahun berikutnya ada kegiatan event yang lebih besar yang menunjukkan bangsa Indonesia bahwa saka di Kapuas Hulu benar-benar jaya” pungkasnya. Selama 34 tahun mengabdi Saka Wanabakti Kapuas Hulu terlibat aktif dalam beberapa kegiatan diantaranya: Dukungan penyelenggaraan Festival Danau Sentarum dan Betung Kerihun, Dukungan penyelenggaraan Hari Bakti Rimbawan melalui gerakan donor darah, jalan santai dan penanaman pohon. Pembina Saka Wanabakti KH, Mustarrudin menegaskan bahwa ke depan organisasi pramuka ini akan terus dikembangkan melalui sistem rekrutmen anggota yang lebih selektif serta meningkatkan seleksi krida yang lebih sistematis. “Dalam waktu dekat kami akan memepersiapkan Pertiwana Nasional yang diselenggarakan pada September 2018” tegas putra asli Putussibau ini. Sementara itu, Ketua Pembina Saka Wanabakti KH, Zainal Muttaqien berharap dukungan BBTNBKDS dalam pelaksanaan pembinaan harus terus ditingkatkan tidak hanya pendanaan namun juga keterampilan melalui transfer ilmu dari pegawai BBTNBKDS kepada anggota Saka. “Dukungan moril dan skill kepada anggota Saka tentunya akan meningkatkan kapasitas anggota di masa depan terutama dalam mencintai alam dan lingkungan dan harapan saya kiprah Saka Wanabakti khususnya di bidang sosial kemasyarakatan menjadi lebih baik lagi” ujar Kepala Seksi Pelayanan dan Pemanfataan BBTNBKDS ini. Menjadi anggota Pramuka Saka Wanabakti, tidak hanya mendapatkan pemahaman tentang alam dan lingkungan namun juga menanamkan sifat tanggung jawab kepada diri. Hal ini diungkapkan Imam Agung Prastowo salah satu anggota Saka Wanabakti KH. Sejak bergabung sejak tahun 2014-2015 Agung yang bersekolah di SMA I Muhamadiyah Putussibau ini mengatakan banyak perubahan dan hal positif yang ia dapatkan. “Menjadi anggota Saka memberikan saya arti tanggung jawab terhadap sesama selain itu pengalaman mengikuti jelajah alam menjadikan saya pribadi yang lebih mencintai alam daripada sebelum jadi anggota” imbuhnya. Senada dengan Agung, Defta Dwi Nanda anggota Saka Wanabakti dari kelompok putri juga menyatakan perubahan dalam dirinya setelah menjadi bagian lembaga pramuka ini. “awalnya saya ikut-ikutan namun setelah masuk banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan ”ungkapnya. Dia berharap dari Saka Wanabakti Kapuas Hulu lahir generasi muda yang berkiprah nyata untuk kemajuan Indonesia. “Kami yakin masa depan bangsa Indonesia ada di tangan generasi muda seperti kami dan kami siap untuk menjadi bagian dari masa depan itu” pungkas Defta. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Gula Aren Lokal Menuju Nasional

Palu, 17 Desember 2017. Petani gula aren Desa Owini Kecamatan Pamona Barat dan Desa Bancea Kecamatan Pamona Selatan Kabupaten Poso sudah ada sejak lama. Selama ini gula aren yang diproduksi dijual terbatas untuk sekitar desa tersebut. Desa Owini dan Desa Bancea merupakan daerah penyangga kawasan konservasi TWA Bancea dan CA Pamona, BKSDA Sulawesi Tengah. BKSDA Sulawesi Tengah, mempunyai program pemberdayaan masyarakat di kawasan konservasi. Salah satu kegiatan yang sedang dilakukan adalah Pengembangan kualitas gula aren sehingga kualitas produk gula tersebut dapat diterima di pasar nasional. Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan adalah pembentukan kelompok, peningkatan kapasitas dan keterampilan kelompok melalui pelatihan yang bekerjasama dengan Dinas Perindustrian dan perdagangan Propinsi Sulawesi Tengah, serta pemberian bantuan usaha. Kegiatan yang akan dilakukan adalah memperoleh ijin usaha rumah tangga (IRT) oleh Dinas Kesehatan Kota Poso dan mengembangkan produk kemasan gula aren. Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di desa sekitar kawasan konservasi dan menurunkan ketergantungan masyarakat terhadap kawasan konservasi. Anda berminat ikut membantu memasarkan gula aren? Silahkan menghubungi kantor BKSDA Sulawesi Tengah. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Melihat Julang Sulawesi di TWA Bancea Balai KSDA Sulteng

Palu, 17 Desember 2017. Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix) merupakan hewan endemik Pulau Sulawesi yang dilindungi pemerintah dan berada dalam status rentan menurut IUCN. Julang Sulawesi berbeda dengan Julang Pulau lainnya pada bentuk tanduk atau tonjolan di kepala. Warna tonjolan di kepala juga menjadi pembeda jenis kelamin, warna kuning menunjukkan jenis kelamin betina sedangkan jantan berwarna merah. Salah satu spot pengamatan Julang Sulawesi berada di TWA Bancea yang merupakan wilayah kerja Balai KSDA Sulawesi Tengah. TWA Bancea terletak di Kabupaten Poso Kecamatan Pamona Selatan, mempunyai luas ± 5.000 Ha berdasarkan SK.Menhutbun No.272/Kpts-II/1999. Kawasan TWA Bancea dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum (bus) atau kendaraan pribadi dari Palu-Poso-Bancea, dengan waktu tempuh + 10 jam. Kawasan ini terletak ± 336 Km dari Kota Palu dan kondisi jalan di sepanjang wilayah jalan Palu-Bancea juga relatif cukup baik mudah dijangkau. Terdapat beberapa titik pengamatan Julang Sulawesi di TWA Bancea. Lokasi titik pengamatan ini mudah diakses karena berada tidak jauh dari jalan. TWA bancea menjadi tempat yang pas untuk penelitian ataupun studi wisata. Selain mengamati Julang Sulawesi pengunjung juga bisa menikmati keindahan Padang Marari dengan Danau Poso sebagai latarnya dan juga bisa melihat keindahan tanaman anggrek yang ada di TWA Bancea. Ingat! Hanya dilihat tidak untuk diambil. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

KATINTING KARNAVAL TAMAN NASIONAL BUNAKEN

Manado (17/12/17). Katinting karnaval dilaksanakan pada hari Jumat dan sabtu tanggal 15-16 Desember 2017 yang bertempat di Desa Arakan, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan. Dimana kawasan ini merupakan bagian dari daerah penyangga bagian selatan Taman Nasional Bunaken. Aktivitas lapangan mulai dari Balap Katinting dan Parade Perahu Hias Katinting. Peserta karnaval katinting berjumlah 100 peserta yang menggunakan perahu dan mesin katinting. Karnaval Katinting yang baru pertama kali digelar oleh Balai Taman Nasional Bunaken merupakan even yang menyasar kepada masyarakat khususnya nelayan kecil dan tradisional untuk memberikan mengapresiasi kepada nelayan kecil dan tradisional dalam membangun rasa bangga dalam pengelolaan konservasi di Taman Nasional Bunaken, sekaligus kegiatan ini bertujuan mempromosikan kegiatan masyarakat nelayan kecil dan tradisional dalam budaya dari generasi ke generasi. Hari jumat (15/12/2017) seluruh peserta mengikuti babak kualifikasi dalam bentuk katinting balab, sejak siang sampai sore hari setelah selesai sholat Jumat peserta lomba sudah berkumpul di pinggir pantai, dalam 1 kali balap terdiri dari 4 race peserta, pemenang race akan mengikuti grand final pada hari sabtu (16/12/2017) yang berjumlah 20 peserta. Adapun peserta yang gugur sebanyak 80 peserta di perlombaan balap katinting hari jumat masih diberikan kesempatan untuk mengikuti perlombaan Katinting Hias yang juga dilaksanakan pada hari sabtu. Kegiatan ini terselenggara atas inisiasi Balai Taman Nasional Bunaken dengan bekerjasama dengan Lantamal VIII TNI AL serta dukungan Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Komandan Lantamal VIII, Bupati Kabupaten Minahasa Selatan, Kepala Balai Taman Nasional Bunaken, Wakapolres Minahasa Selatan, Muspika Kecamatan Tatapaan, dan segenap warga yang antusias mengikuti kegiatan dan perlombaan. Kusno Tamengge salah satu peserta yang diwawancari sangat senang dengan kegiatan ini, dia termotivasi mengikuti kegiatan dengan sukarela, bahkan walaupun tidak mendapatkan juara. Ini merupakan hiburan bagi warga desa sekaligus untuk menjaga lingkungan. Aktivitas katinting hias yang diikuti oleh peserta memamerkan berbagai seni warga pesisir yang unik dan atraktif, dengan balutan bendera merah putih serta pernak-pernik berdera kecil berkibar sebagai warga Negara Republik Indonesia. Hiasan ikan karang, ikan pelagis, penyu, duyung dan bahkan produk daratan lainnya yakni mangga berbuah yang dilatkan di perahu juga ditampilkan untuk menarik perhatian tim juri yang menilai. Juara Katinting Balap secara berturut-turut yakni Sadal Padakala (Juara 1), Anwar Kaser (Juara 2), Risman Nungan (Juara 3) dan Idam Nungan (Juara Harapan). Adapun Katinting Hias Sadan Bugis (Juara 1), Isnawir Bugis (Juara 2), Ahmad Khaidir (Juara 3) dan Subhan Mandi (Juara Harapan) Dalam kesempatan lain pada aktivtas doorstop jurnalis Kepala Balai Taman Nasional Bunaken (Dr. Farianna Prabandari, S.Hut, M.Si) khusus pemberdayaan masyarakat kedepan adalah penguatan wisata berbasis masyarakat, jangan hanya pihak pengusaha wisata saja yang mendapatkan keuntungan, tetapi masyarakat juga harus bisa menikmati dari kegiatan wisata itu. Langkah awal yakni bagaimana pengelolaan sampah yang mengotori lokasi wisata, kedua mengembangkan potensi wisata darat baik yang ada di pulau-pulau dan pesisir. Esensinya keduanya adalah kami dari Balai Taman Nasional Bunaken tidak bisa bekerja sendiri dalam mengelola kawasan konservasi, akan tetapi harus menggandeng, bersinergi dan bekerjasama dengan berbagai pihak dan lintas sektor. Komandan Lantamal VIII selain selain bertugas untuk menjaga tugas kedaulatan tetapi juga ada tugas lain dalam bentuk pembinaan dan pemberdayaan masyarakat wilayah pesisir, untuk itu mendorong masyarakat mencitai wilayah maritim. Ibu Bupati Minahasa Selatan (Tetty Paruntu) dengan adanya program kerjasama terkait seperti pengembangan wisata wilayah pesisir akan kami bantu, apalagi desa terkait yang memiliki sumber daya laut, kami akan bantu. Kerjasama dengan Balai TN Bunaken dan Lantamal VIII merupakan program para pihak yang akan memberdayakan masyarakat di wilayah pesisir.

Menampilkan 9.169–9.184 dari 11.140 publikasi