Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Asian Waterbird Census : 321 Burung Air Ditemukan di Danau Sentarum

Danau Sentarum, 16 Januari 2018. Sebanyak 321 burung air dari 6 spesies berbeda ditemukan di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Hal ini dijelaskan oleh Ketua Tim Sensus M. Rekapermana saat ditanya humas Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) mengenai hasil sensus yang telah dilakukan di kawasan Danau Sentarum pada 12 Januari 2018 lalu. “321 adalah jumlah individu yang berhasil kami hitung dari 6 jenis yang berbeda” tegasnya. Lebih lanjut, Kepala Seksi PTN Wilayah VI Semitau ini mengatakan bahwa jenis burung air yang banyak ditemukan selama kegiatan sensus adalah jenis burung kuntul. “Jenis burung air yang paling sering terlihat antara lain Kuntul Kecil (Egretta garzetta) dan Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis)” tuturnya. Ditambahkan Reka, Asian Waterbird Census adalah kegiatan rutin tahunan yang diadakan oleh lembaga Wetlands International dan menjadi bagian dari Global Waterbird census. Salah satu kawasan esensial bagi perlindungan burung air adalah Danau Sentarum. “Taman Nasional Danau sentarum merupakan salah satu Ramsar Site atau kawasan lahan basah yang dilindungi karena habitat burung air yang langka serta jalur migrasi burung air di dunia” tutur Reka. Untuk mensukseskan sensus tersebut, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) terlibat dalam Asian Waterbird Census (AWC) dengan melaksanakan penghitungan burung air di Danau Sentarum. “Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan jenis dan populasi burung air di Danau Sentarum, serta meningkatkan kesadaran dan perlindungan terhadap lahan basah Danau Sentarum sebagai habitat berbagai jenis burung air” tukasnya. Untuk menjamim reabilitas dan kredibiltas hasil perhitungan maka ada sejumlah syarat yang harus dilalui salah satunya terkait coverage yang harus mencapai lebih dari 50 persen dari total luas area dan mencantumkan metode survei yang dilakukan. Reka menuturkan bahwa kegiatan yang seharusnya dapat dilaksanakan selama satu hari, dilaksanakan lebih lama yakni empat hari mengingat luasnya kawasan Taman Nasional Danau Sentarum untuk mencapai target survei coverage 50-75%. “awalnya hanya sehari yakni tanggal 12 Januari 2018 namun kami perpanjang hingga 15 januari 2018, tipe survei menggunakan perahu, menempuh tiga jalur menyusuri sungai dan danau” jelas Reka. Selain coverage dan metode survei, ada beberapa karakter yang khas dari burung air yang ditemukan di TNDS. Jenis burung air seperti Kuntul Kecil (Egretta garzetta) dan Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis) umumnya ditemukan berkelompok di danau dangkal, kanopi pohon di pinggir sungai, dan bubu (jaring) ikan yang terpasang di sepanjang aliran sungai. “Semoga tahun depan kita bisa melakukan survei yang jangkauannya lebih luas dengan melibatkan tim yang lebih banyak” pungkas Reka menutup wawancaranya. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Salam Lestari Di Bulan Januari

Malang - Selasa, 16 Januari 2018. Desa Ngadirejo (13/01/2018), Kecamatan Jabung terlihat sedikit mendung, sisa-sisa hujan hari sebelumnya masih nampak pada jalan setapak menuju lokasi Bendolawang, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, yang becek di beberapa ruas. Bendolawang, merupakan salah satu site yang ditetapkan sebagai Lokasi Pemantauan Populasi Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Berbekal kamera, lensa, binokuler dan buku pedoman pengenalan burung, Tim Monitoring Elang Jawa TNBTS yang dibantu oleh personil kelompok pecinta alam dari Jabung IPPASA (Ikatan Pemuda Pecinta Alam Abiyasa) menuju Site Bendolawang untuk melakukan pemantauan populasi. Pemantauan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) sudah dilakukan di 2 site monitoring (Bendolawang dan Coban Trisula) sejak tahun 2012. Hasil pemantauan pada tahun 2014 dan 2015 mengidentifikasi 14 individu elang Jawa di dua lokasi tersebut. Namun, pada tahun 2016 dan 2017, frekuensi perjumpaan Elang Jawa di kedua lokasi tersebut mengalami penurunan yang diduga disebabkan kondisi cuaca yang tidak mendukung pada saat pengamatan. Pada tahun 2018, untuk mandapatkan hasil yang lebih akurat pemantauan di kedua site monitoring tersebut lebih diintensifkan dengan melakukan pemantauan rutin selama 12 bulan. Pemantauan pada bulan pertama tahun 2018, sempat diwarnai pesimisme untuk dapat berjumpa dengan ‘Sang Garuda’ mengingat cuaca yang agak mendung. Namun sepertinya keberuntungan memang sedang berpihak pada Tim Monitoring Elang Jawa di Bendolawang, pada pukul 10.20, Elang hitam mulai tampak terbang di atas hutan Bendolawang. Tidak lama kemudian, tepatnya pada pukul 10.45, “Lestari” (nama yang diberikan oleh Tim Inventarisasi Elang Jawa pada salah satu Elang Jawa juvenile yang dijumpai tahun 2014) mengepakkan sayapnya dilangit sisi utara seolah memberikan salam pada Tim yang langsung mengarahkan lensa dan kamera ke arahnya. Selanjutnya satu demi satu Raptor (burung pemangsa) berterbangan di langit baik bergantian maupun berkelompok, mulai dari Elap Perut Karat (Lophotriorchis kienerii), Elang-Ular Bido (Spilornis cheela), Elang Hitam (Ictinaetus malaiensis), Elang Jawa hingga sang raptor terkecil di dunia, Alap-alap Capung (Microhierax fringilliarius). Jumlah total individu yang teramati adalah 1 individu Elang Jawa, 1 individu Elang Perut Karat, 2 individu Elang Hitam, 1 individu Elang-Ular Bid dan 2 individu Alap-alap Capung. Hasil pemantauan awal ini, mengindikasikan masih ada serta terjaganya habitat elang jawa di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Sumber : TNBTS
Baca Berita

Bidadari dan Wisata Jadi Objek Penelitian Pertama di Tahun 2018

Sofifi, 15 Januari 2018. Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Maluku Utara kembali mengirimkan mahasiswanya untuk melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Mahasiswa tersebut berasal dari Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Biologi dan mahasiswa dari Fakultas Pertanian, Program Studi Kehutanan. Masing-masing mahasiswa tersebut diminta untuk mempresentasikan proposal penelitian mereka didepan pejabat struktural dan fungsional Balai TNAL pada hari yang berbeda. Mahasiswa Pendidikan Biologi mengawali paparan proposal penelitian di gedung Pusat Informasi TNAL pada tanggal 9 Januari 2018. Paparan ini dihadiri langsung oleh Kepala Balai, Kasubag TU dan Kepala SPTN Wilayah I Weda. Mahasiswa tersebut mengambil objek burung endemik Maluku Utara yaitu Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii). Lokasi penelitiannya berada pada site monitoring Resort Tayawi di SPTN Wilayah I Weda. Sedangkan mahasiswa Kehutanan mengambil objek penelitian tentang wisata alam di TNAL yang dipresentasikan pada tanggal 11 Januari 2018 ditempat yang sama. Lokasi penelitian juga berada di Resort Tayawi yang memiliki atraksi-atraksi wisata alam. Kedua mahasiswa tersebut mendapat berbagai saran dan masukan baik dari pejabat struktural maupun fungsional, salah satunya adalah metodologi dalam pengambilan data dilapangan. Dalam pembukaannya, Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Ibu Lilian menyatakan bahwa “Setiap terdapat kegiatan penelitian baik dari mahasiswa atapun dari peneliti lainnya wajib untuk mempresentasikan proposal penelitiannya, agar keluaran atau hasil penelitian dapat dipertanggung jawabkan” “Kami akan memberikan satu petugas untuk menjadi pendamping penelitian kalian”, tutur Kepala Balai TNAL. Beberapa minggu sebelumnya juga terdapat peneliti dari Kota Malang yang sampai sekarang masih melakukan pengambilan data dilapangan. Penelitian tersebut adalah tentang tumbuhan obat yang digunakan oleh Masyarakat Tobelo Dalam yang kesehariannya masih didalam kawasan hutan. Sumber : http://aketajwe.com Oleh : Akhmad David Kurnia Putra Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Ditjen KSDAE Gelar Rapat Koordinasi Implementasi Proyek Hibah Kerjasama RI – Norwegia dalam Kerangka REDD+

Jakarta - Selasa, 16 Januari 2018, Pelaksanaan koordinasi implementasi proyek hibah kerjasama RI – Norwegia dalam kerangka REDD+ lingkup Direktorat Jenderal KSDAE dilaksanakan pada hari Selasa, 16 Januari 2018 bertempat di Hotel Ibis Slipi, Jakarta. Arahan teknis ini diberikan kepada 15 Satker Ditjen KSDAE yang menjadi lokasi prioritas tentang pelaksanaan hibah dan komponen – komponen yang harus dilaksanakan. Pelaksanaan ini diisi dengan pemaparan dan diskusi, serta pencermatan Rencana Pelaksanaan Kegiatan masing – masing UPT. “Pelibatan stakeholder atau mitra berupa pelibatan masyarakat yang diharapkan dapat membantu pemerintah dalam melindungi kawasan konservasi sehingga dapat mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Dalam pembinaan dan pengelolaan kawasan melibatkan masyarakat sehingga dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kawasan konservasi”, tegas Sekdijen KSDAE saat membuka dan memberikan arahan pada acara pelaksanaan ini. Adapun pada saat pembukaan Sekdijen juga memberikan arahan dari Dirjen untuk memperkuat early warning system dengan dibangun kerjasama bersama masyarakat; memperhatikan pertanggungjawaban atas kerja sama hibah; dan memperhatikan sustainability kawasan dari program ini. Dalam pelaksanaan ini dihadiri 15 Satker yang terlibat dalam proyek hibah kerjasama RI – Norwegia antara lain BKSDA Jambi; BBTN Kerinci Seblat; BKSDA Sumsel; BTN Berbak dan Sembilang; BBKSDA Riau; BKSDA Kalteng; BTN Tanjung Puting; BTN Sebangau; BKSDA Kalbar;BKSDA Kalsel; BKSDA Kaltim; BTN Kutai; BBTN Betung Kerihun dan Danau Sentarum; BBKSDA Papua; dan BBKSDA Papua Barat. Pelibatan ke 15 Satker dalam proyek hibah RI – Norwegia ini karena merupakan kawasan konservasi yang rawan akan kebakaran hutan. Sumber: Setditjen KSDAE
Baca Berita

Temuan Tumbuhan Dan Satwa Liar Melalui Jasa Titipan Kilat/Cargo Bandara Supadio Pontianak

Pontianak, 16/1/2018 pada pukul 13.40 Tim Gugus Tugas TSL Balai KSDA Kalimantan Barat menerima penyerahan tumbuhan dan satwa liar dari Polisi Kehutanan yang bertugas di bagian pengiriman cargo Bandara Supadio Pontianak. Tumbuhan dan satwa liar tersebut berupa 1 (satu) ekor Biawak Tak Bertelinga (Lanthanotus borneensis) dan 1 (satu) kotak/kardus berisi berbagai jenis Anggrek khas Kalimantan Barat. Sampai saat ini Biawak tersebut masih dalam perawatan dokter hewan pada Balai KSDA Kalbar, sedangkan berbagai jenis anggrek sedang diidentifikasi jenisnya oleh fungsional PEH. Berdasarkan dokumen pengiriman diketahui bahwa satwa biawak tak bertelinga tersebut dikirim melalui jasa titipan kilat dengan alamat pengirim Jl. Penjara Pontianak sedangkan alamat tujuan ke Jl. Sutomo, Pematang Siantar Sumatra Utara. Sedangkan tumbuhan anggrek didapat dari bagasi penumpang dengan tujuan Jakarta, berdasarkan keterangan pemilik bagasi bahwa anggrek tersebut didapat dari hutan sekitar rumahnya di Kabupaten Melawi. Pengiriman satwa melalui jasa titipan kilat ini sering terjadi. Berdasarkan analisa petugas, pengirim mengelabui petugas jasa titipan kilat dengan memberi nama pengirim berbeda-beda. Dari perkembangan penyelidikan yang dilakukan Balai KSDA Kalimantan Barat ada indikasi bahwa pengirim satwa tersebut merupakan orang yang terbiasa melakukan pengiriman satwa selama ini. Barangkali ini harus menjadi perhatian bersama dalam upaya pengawasan peredaran barang ilegal, seperti dituturkan Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai KSDA Kalimantan Barat, LIDIA LILLY, S.Hut, M.P. Beliau mengatakan bahwa tingginya pengiriman satwa liar menandakan bahwa ada banyak permintaan dari luar Kota Pontianak, sehingga hal ini harus segera kita antisipasi melalui kegiatan penyadartahuan baik melalui sosialisasi/penyuluhan TSL. Kepada pengirim TSL tersebut beliau berpesan, agar tidak lagi melakukan hal yang sama dengan mengirim satwa liar melalui jasa titipan kilat. Hal tersebut tidak hanya berdampak pada kurangnya populasi satwa di alam, namun berdampak langsung bagi keselamatan penerbangan. Seperti telah kita ketahui bahwa Biawak tak bertelinga adalah salah satu hewan endemik Kalimantan, satwa ini juga tidak (belum) masuk dalam daftar IUCN Redlist pada 2012, namun keberadaan di alam sudah sangat susah dijumpai dan jumlahnya di alampun tidak lagi banyak. Demikian juga anggrek kalimantan, sangat disayangkan apabila anggrek khas kalimantan ini semakin hari semakin berkurang populasi di alamnya, upaya-upaya penangkaran TSL dua jenis tersebut diatas sampai dengan saat ini sedang diupayakan oleh Balai KSDA Kalimantan Barat. Selanjutnya satwa biawak tak bertelinga akan dilepasliarkan secepatnya ke habitat aslinya, dan untuk anggrek akan ditanam kembali ke CA Lo Fat Fun Pie sebagai habitat asli anggrek kalimantan(YS)
Baca Berita

Penghuni Baru Di Kebun Binatang Kasang Kulim, Riau

Pekanbaru (16/1/18). Seekor rusa timor (Cervus timorensis) betina melahirkan di Kebun Binatang Kasang Kulim, Kampar, Prov. Riau pada hari Senin, 15 Januari 2018 pukul 06.10 WIB. Jenis kelamin dan berat badan bayi rusa sampai dengan saat ini belum diketahui pasti karena belum memungkinkan untuk didekati. Secara kasat mata bayi rusa sangat sehat dan lincah diantara rusa rusa dewasa lainnya. Ini merupakan kelahiran pertama di tahun 2018 di kebun binatang tersebut. Saat ini masih terdapat satu ekor rusa lagi yang sedang mengandung. Terhadap induk rusa yang melahirkan dan anaknya, pihak kebun binatang memberikan asupan nutrisi berkalsium tinggi untuk kepulihan kondisi kesehatannya. Dan untuk rusa yang sedang mengandung kebun binatang melakukan pemantauan secara intensif. Sumber: BBKSDA Riau
Baca Berita

Warga Desa Tempurau Desak Pelaku llegal logging Segera Ditangkap

Danau Sentarum, 14 Januari 2018. Masyarakat di Desa Tempurau, Kec. Selimbau Kab. Kapuas Hulu mendesak pihak Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) untuk segera menangkap pelaku ilegal logging yang membuat hubungan baik BBTNBKDS dengan warga merenggang. Hal ini terungkap saat BBTNBKDS melalui Bidang PTN III Lanjak mengadakan sosialisasi tentang TNBKDS di Desa Tempurau dan Semalah pada Kamis, 12/12. Kepala Bidang PTN III Lanjak, Gunawan Budi Hartono mengatakan bahwa warga di dua desa yang mendapatkan sosialisasi ini mendukung upaya dan peranan BBTNBKDS sebagai pengelola kawasan Danau Sentarum. "Masyarakat sangat memahami aturan yang berlaku di TNDS" tegasnya. Lebih lanjut, mantan kepala Seksi PTN III Padua Mendalam ini menyampaikan keinginan masyarakat dua desa tersebut untuk bersama-sama instansi terkait mencari jalan keluar atas segala permasalahan yang terjadi antara warga dan pengelola TNDS. Selama ini masyarakat bergantung pada kawasan TNDS untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. "Masyarakat berharap ada solusi yang bisa dilakukan oleh pihak TNBKDS untuk kegiatan/aktivitas masyarakat di 2 Desa tersebut" jelasnya. Sosialisasi tentang TNBKDS dilakukan BBTNBKDS untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga keberlanjutan fungsi dan peranan ekosistem lahan basah (wetlands) Danau Sentarum. Menggandeng Polsek serta Danramil Selimbau, acara ini mendapat dukungan penuh dari para anggota Muspika (musyawarah pimpinan kecamatan) Selimbau dan warga desa. Bahkan di desa Semalah warga meminta adanya perjanjian kerjasama (MoU) antara TNBKDS dengan Desa untuk pengelolaan bersama kawasan TNBKDS. " perlu adanya satu kesepakatan/MoU antara masyarakat dan TNBKDS agar apa yang selama ini menjadi penghalang pelaksanaan program TNBKDS di wilayah Desa Semalah dapat berjalan baik dan mendapat dukungan dari masyarakat" tutur Gunawan. Menutup acara sosialisasi, Kepala Bidang PTN III Lanjak menyerahkan dokumen peraturan dan undang-undang mengenai Taman Nasional kepada muspika yang hadir. Sedangkan pembahasan lengkap mengenai MoU akan dibahas melalui pertemuan terpisah yang melibatkan banyak pihak."akan ada pertemuan kembali berkaitan dengan masyarakat di Desa Semalah membahas tentang kesepakatan apa yang bisa di kerjasamakan" pungkas Gunawan menutup acara. Desa Tempurau dan Semalah merupakan desa yang berada di kawasan TNDS. Selama ini beberapa oknum pelaku pembalakan liar berasal dari kedua desa yang sebagian penduduknya menggantungkan hidupnya dengan mencari ikan di Danau Sentarum. Kawasan TNDS merupakan wilayah ekosistem air tawar berupa danau terbesar di Kalimantan Barat. Lebih dari 50 persen produksi Ikan air tawar dipasok dari danau yang berpredikat sebagai Ramsar Site dari internasional ini. Selain ikan madu organik dari danau juga sudah terkenal di masyarakat. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Selamat! Beberapa UPT Ditjen KSDAE diberikan Penghargaan di Jakarta

Jakarta, Senin 15 Januari 2018. Persiapan pelaksanaan DIPA Tahun Anggaran 2018 dilaksanakan di Gedung Manggala Wanabakti di Ruang Rimbawan 1 tanggal 15 sampai dengan 16 Januari 2018. Seluruh Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Ditjen KSDAE mengikuti kegiatan ini dan dipimpin langsung oleh Dirjen KSDAE Bapak Ir. Wiratno, M.Sc dan didampingi Sekditjen KSDAE Bapak Ir. Herry Subagiadi, M.Sc. Kegiatan ini dilaksanakan untuk evaluasi tahun 2017, pengarahan teknis anggaran Tahun 2018, strategi dalam mencapai role model, dan penandatanganan kinerja. “Untuk memperoleh public trust dari masyarakat maka setiap UPT harus bertindak cepat dalam menangani masalah di lapangan”, tegas Dirjen KSDAE saat membuka sekaligus memberikan arahan dalam acara ini. Pada rangkaian kegiatan ini, penghargaan diberikan kepada 10 UPT dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tertinggi tahun 2017 antara lain BTN Komodo, BBKSDA Jawa Barat, BBTN Bromo Tengger Semeru, Direktorat KKH, BTN Gunung Rinjani, BTN Bali Barat, BKSDA Bali, BTN Tanjung Puting, BBKSDA Jawa Timur, dan BKSDA Jawa Tengah. Selain itu, diberikan pula penghargaan kepada 5 UPT dengan Realisasi Anggaran tertinggi tahun 2017 antara lain BKSDA Bengkulu, BTN Merbabu, BTN Salak, BTN Siberut, dan BTN Matalawa. Sumber : Ditjen KSDAE
Baca Berita

Pelepasliaran Pertama di Tahun 2018 Memperingati Hari Sejuta Pohon Sedunia

Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, 10 Januari 2018. Melanjutkan kampanye #OrangutanFreedom yang menargetkan pelepasliaran sebanyak mungkin orangutan ke hutan alami dan ke pulau-pulau pra-pelepasliaran sejak tahun 2017 lalu, sekaligus memperingati Hari Sejuta Pohon Sedunia, Yayasan BOS bersama BKSDA Kalimantan Tengah dan Balai TNBBBR hari ini melepasliarkan 4 orangutan dari Pusat Rehabilitasi Orangutan BOSF di Nyaru Menteng ke habitat alami mereka di Hutan TNBBBR, Kabupaten Katingan. Keempat orangutan yang terdiri dari 2 jantan dan 2 betina, seperti pelepasliaran-pelepasliaran sebelumnya, akan dibawa melalui perjalanan darat dan sungai selama kurang lebih 10-12 jam dari Nyaru Menteng ke titik-titik yang telah ditentukan di TNBBBR. Dr. Ir. Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS mengatakan, “Empat orangutan ini sebenarnya kami rencanakan untuk dilepasliarkan tahun lalu, namun karena satu dan lain hal, mereka baru bisa kami lepasliarkan sekarang. Sementara itu, menunda pelepasliaran mereka lebih lama lagi bukan pilihan yang tepat. Oleh karenanya, kami putuskan untuk melepasliarkan mereka kali ini. Masih ada ratusan orangutan lain menanti di pusat rehabilitasi kami di Nyaru Menteng. Untuk mempercepat proses persiapan pelepasliaran, kami menyiapkan sejumlah pulau pra-pelepasliaran untuk membiasakan para orangutan hidup di lingkungan yang menyerupai hutan alami. Perlu diingat bahwa rehabilitasi adalah proses yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Orangutan tidak serta-merta bisa kita lepasliarkan di hutan, mereka butuh waktu lama mengasah keterampilan bertahan hidup di hutan. Tidak hanya waktu, namun biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit. Karenanya, untuk bisa menyukseskan pelestarian orangutan dan habitatnya, kita semua perlu bekerja sama. Kami tidak bisa mengerjakannya sendirian. Selain dilindungi Undang-undang, orangutan sebagai kerabat terdekat manusia juga berperan penting membantu regenerasi hutan. Kondisi ini membuat kita wajib bekerja keras melestarikan keberadaan mereka. Mari kita bersama-sama menjaga orangutan dan hutan yang masih tersisa, karena hutan yang lestari dan terlindungi, adalah faktor penting bagi kualitas hidup manusia. Di tahun yang baru, mari kita susun harapan baru.” Ir. Adib Gunawan, Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, mengatakan, “Upaya pelepasliaran orangutan kembali ke habitat alaminya harus terus berjalan karena masih ada ratusan orangutan yang saat ini berada di pusat-pusat rehabilitasi. Dan bertepatan dengan peringatan Hari Sejuta Pohon Sedunia, BKSDA Kalimantan Tengah bekerja sama dengan Yayasan BOS, Balai TNBBBR, dan USAID Lestari kembali melepasliarkan orangutan dari Nyaru Menteng ke hutan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Kabupaten Katingan. Kami menyambut baik sepenuhnya upaya kerja sama ini. Seperti visi strategi dan rencana aksi konservasi orangutan, yaitu terjaminnya keberlanjutan populais orangutan dan habitatnya melalui kemitraan para pihak, kita juga perlu bersama-sama melakukan upaya proteksi habitat dan satwa liar yang masih tersisa secara berkelanjutan. Semua pihak termasuk anggota masyarakat dapat menyumbang peran untuk mewujudkan hal ini. Silakan laporkan kepada kami setiap kali Anda melihat ada pelanggaran atau tindakan ilegal terkait kekayaan alam atau lingkungan hidup. Mari kita bersama jaga lingkungan hidup yang kaya dan mewariskannya kepada anak cucu kita.” Ir. Heru Raharjo, M.P., Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) Wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, juga menyampaikan, “Kami selaku penanggung jawab dan pengelola Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya mengapresiasi atas kerjasama yang telah dibangun antara Yayasan BOS, BKSDA Kalimantan Tengah, dan USAID Lestari dalam kegiatan pelepasliaran Orangutan di TNBBBR, yang sampai saat ini berhasil melepasliarkan 75 individu orangutan ke habitat alaminya. Dengan banyaknya Orangutan yang bisa hidup bebas kembali di hutan, berarti menunjukkan capaian yang besar terhadap upaya konservasi salah satu spesies kera besar yang dilindungi ini. Kami bersama-sama seluruh pemangku kepentingan yang terlibat berupaya maksimal agar semua Orangutan yang dilepasliarkan di TNBBBR mendapat hidup alami yang layak, serta membentuk populasi liar baru dan terus berkembang.” Kegiatan pelepasliaran ini selain melibatkan TNBBBR, Yayasan BOS, dan BKSDA Kalimantan Tengah, juga melibatkan USAID LESTARI yang telah berkomitmen mendukung secara aktif program pelepasliaran Orangutan di kawasan TNBBBR sampai dengan tahun 2018. Rosenda Chandra Kasih, USAID LESTARI Kalimantan Tengah Landscape Coordinator mengatakan, “Dukungan dari USAID LESTARI terhadap kegiatan pelepasliaran ini dengan tujuan menciptakan populasi liar baru orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya adalah wujud dari salah satu visi kami untuk melestarikan keanekaragaman hayati di hutan yang memiliki kekayaan sumber daya alam. Kita semua paham bahwa orangutan merupakan spesies yang status konservasinya kini dinyatakan ‘sangat terancam punah’ oleh IUCN. Menilik pentingnya orangutan dalam proses alami regenerasi hutan, kita wajib mencegah kepunahan mereka, dan ini adalah tugas kita semua.” Untuk mendukung kesuksesan upaya konservasi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, Yayasan BOS selalu bekerja sama erat dengan Pemerintah Indonesia di semua tingkat: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Pemerintah Kabupaten Katingan, BKSDA Kalimantan Tengah, dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Yayasan BOS juga memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas dukungan sejumlah mitra lain seperti masyarakat Kabupaten Katingan, donor perseorangan, organisasi-organisasi mitra seperti PT. Cometa International, serta Zoos Victoria dan Commonwealth of Australia yang telah memberikan dukungan melalui Department of Environmental and Energy, dan organisasi konservasi di seluruh dunia. Yayasan BOS juga sangat berterima kasih atas dukungan seluruh pihak atas dukungan dan kontribusinya dalam memastikan tercapainya upaya konservasi dan pelestarian alam di Indonesia. Download Kontak: Paulina Laurensia Ela Spesialis Komunikasi Email: pauline@orangutan.or.id Mobile: +62 813 4733 7003 Monterado Fridman (Agung) Koordinator Divisi Komunikasi dan Edukasi Nyaru Menteng Email: agungm@orangutan.or.id Mobile: +62 811 523 9918 Rosenda Chandra Kasih USAID LESTARI Kalimantan Tengah Landscape Coordinator Email: rosenda.kasih@lestari-Indonesia.org Mobile: +62 811 529 533 ************************************************** Catatan Editor: TENTANG BOS FOUNDATION (YAYASAN BOS) Didirikan pada 1991, Yayasan BOS adalah sebuah organisasi non-profit Indonesia yang didedikasikan untuk konservasi orangutan Borneo dan habitatnya, bekerja sama dengan masyarakat setempat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dan organisasi mitra internasional. Yayasan BOS saat ini merawat hampir 600 orangutan dengan dukungan 443 karyawan yang berdedikasi tinggi, serta juga para ahli di bidang primata, keanekaragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, komunikasi, edukasi, dan kesehatan orangutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.orangutan.or.id. TENTANG PELEPASLIARAN Sejak 2012, Yayasan BOS sampai hari ini telah melepasliarkan 330 orangutan ke 3 situs pelepasliaran di Kalimantan Tengah (Hutan Lindung Bukit Batikap dan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya) dan Timur (Hutan Kehje Sewen). Pelepasliaran ini adalah yang ke-8 kalinya dilakukan oleh Yayasan BOS di TNBBBR sejak pertama kalinya di bulan Agustus tahun 2016. Dengan ini, jumlah orangutan yang dilepasliarkan di TNBBBR menjadi 75 individu. TENTANG USAID LESTARI Proyek USAID LESTARI adalah sebuah proyek kerjasama Pemerintah Amerika Serikat dengan Pemerintah Republik Indonesia. USAID LESTARI mendukung upaya Pemerintah Republik Indonesia (RI) menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK), meningkatkan pelestarian keanekaragaman hayati di ekosistem hutan dan mangrove yang bernilai konservasi tinggi serta kaya simpanan karbon. USAID LESTARI bekerja di enam lanskap yang berciri sama yaitu memiliki wilayah hutan primer utuh, cadangan karbon tinggi, yang kaya akan keanekaragaman hayati. Lanskap tersebut berlokasi di Aceh (Lanskap Leuser), di Kalimantan Tengah (Lanskap Katingan-Kahayan), dan Papua (Lanskap Lorentz Lowlands, Mappi-Bouven Digoel, Sarmi dan Cyclops).
Baca Berita

Coming Soon, Festival Komunitas Pesisir 2018

Benteng, 12 Januari 2018. Bertempat di aula kantor Balai Taman Nasional Taka Bonerate, kembali bersama Komunitas Selayar Belajar (perkumpulan Alumni Kelas Inspirasi Kep. Selayar) melaksanakan rapat guna membahas persiapan acara Festival Komunitas Pesisir 2018 (FKP) bersama pengelola Taman Nasional Taka Bonerate, Dinas Pariwisata, Dinas LHK, perwakilan pemuda (KNPI) dan beberapa instansi terkait lainnya serta komunitas yang ada di Kepulauan Selayar. Andi Abdul Rahman (Kepala Dinas Pariwisata) yang turut hadir berbaur dengan komunitas, merasa optimis dan mengapresiasi segenap peserta yang hadir, termasuk sponsor. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Kepala Cabang BRI dan Direktur Bank BPR Tanadoang yang dengan antusias turut serta mendukung demi suksesnya acara tersebut. Sekedar mengingatkan kembali FKP 2016, Festival Komunitas Pesisir adalah sebuah event yang mencoba merangkul dan mengakomodasi berbagai komunitas lokal yang berminat untuk terlibat dalam event ini. Dimana tujuannya adalah untuk melestarikan dan menumbuhkan rasa cinta akan kebudayaan asli Selayar dengan melibatkan berbagai komunitas yang merupakan bagian masyarakat Pesisir dan kepulauan di Selayar serta ajang silaturahmi sesama komunitas. Berbeda dengan event sebelumnya, di tahun ini FKP kembali dengan tema "Selayar Bisa" dan ditambah "Kampanye Peduli Lingkungan", pelaksanaannya pun akan berlangsung selama 5 (lima) hari dimulai tgl 14-18 Februari 2018. Selain agenda Kampanye Aksi Peduli Lingkungan, Carnaval/Longmarch, Pameran, Talkshow, Selayar Traditional Games, dan Pentas Seni.Tahun ini FKP juga menghadirkan FKP award yang bertujuan mengajak komunitas untuk saling berlomba jadi komunitas terbaik namun dengan cara yang sportif dan kreatif. Festival Komunitas Pesisir tersebut sudah yang kedua kalinya digelar setelah sebelumnya pernah digelar pada tahun 2016 lalu. Kegiatan ini juga merupakan salah satu dari 50 Event Pariwisata Kabupaten Kepulauan Selayar yang rencananya akan digelar selama tahun 2018 ini. Ungkap Jusman Kepala Balai TN Taka Bonerate Dianika perwakilan Komunitas Selayar Belajar mengatakan sehubungan dengan tema yang kami usung nantinya akan melibatkan komunitas untuk aksi bersih lingkungan di 1 (satu) Kelurahan dengan 6 (enam) Lingkungan. Lebih jauh Ketua Panitia FKP 2018, Asep Pranajaya mengatakan kegiatan ini mengusung konsep dari kita untuk kita dan merangkul semua komunitas dalam rangka ikut mengembangkan potensi alam, budaya dan pariwisata selayar. “Inilah cara kami untuk mendekatkan diri kepada komunitas-komunitas yang ada di Selayar untuk mendukung dan menyukseskan program-program pemerintah daerah” jelasnya. Selayar Bisa!!! Sumber : Asri - Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Relokasi Si Manis Javanica

Aceh Selatan, 12 Januari 2018. Bapak Khairumi salah seorang warga Gampong Pucuk Lembang Kabupaten Aceh Selatan pada tanggal 11 Januari 2018 menghubungi anggota OIC (Orangutan Information Center) Aceh Selatan menginformasikan ada seekor Trenggiling (Manis Javanica) yang masuk ke rumah beliau. Anggota OIC yang dihubungi selanjutnya meneruskan informasi tersebut ke personil Balai KSDA Aceh (BKSDA Aceh) Resort Tapaktuan. Menindaklanjuti informasi tersebut Personil BKSDA Aceh Resot Tapaktuan yang dipimpin oleh Bapak Wirli mendatangi rumah pelapor sekitar pukul 21.00 WIB untuk menyelamatkan Trenggiling tersebut dan diamankan ke kantor resort. Trenggiling tersebut diperkirakan berjenis kelamin jantan dengan usia sekitar 2 tahun, keesokan harinya personil BKSDA Aceh Resot Tapaktuan dan anggota OIC melakukan pelepasliaran satwa yang dilindungi tersebut. Hal ini menunjukan kesadaran masyarakat akan upaya pelestarian satwa liar yang dilindungi sebagaimana Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa sudah mulai tumbuh dan semoga akan terus ada yang mengikuti apa yang dilakukan Bapak Khairumi. Trenggiling (Manis javanica) merupakan satwa liar yang dilindungi Lampiran PP 7 Tahun 1999 Famili Mamalia Nomor 41 dan Kategori Critically Endangered / Kritis Status konservasi IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) Red List yang pada perdagangan gelap di Internasional kerap diyakini oleh sebagian orang berkhasiat sebagai bahan pengobatan tradisional serta sisik trenggiling tersebut digunakan sebagai bahan baku produk kosmetik dan narkotika jenis sabu-sabu. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Merajut Edukasi Usia Dini Mencintai Konservasi

Bontang (13/1/18). Pada hari Sabtu, 13 Januari 2018 sebanyak 31 orang guru TK 1,TK 2,dan TK 3 Kota Bontang melaksanakan kegiatan outbond, SMA Monamas melaksanakan pelantikan pramuka dan 240 siswa-siswi SD 003 berkunjung di tempat ini. Dalam kegiatan ini, Kepala Balai Taman Nasional Kutai Bapak Nur Patria Kurniawan S.Hut., M.Sc. menyempatkan hadir untuk memberikan arahan dan mengenalkan Bontang Mangrove Park kepada guru-guru TK. Beliau mengenalkan bahwa BMP merupakan tempat wisata yang dibuat untuk tujuan konservasi, edukasi, dan adventure. Walaupun belum dilaunching sebagai wisata baru Taman Nasional Kutai karena masih dalam proses pembenahan, Bontang Mangrove Park (BMP) Taman Nasional Kutai yang berada di Salebba, Kota Bontang sudah ramai dikunjungi masyarakat baik dari Kota Bontang sendiri maupun dari luar kota. Sebagai tujuan edukasi, pengunjung dapat belajar tentang jenis-jenis mangrove yang hidup di tempat ini serta dapat melakukan pengamatan burung air. Sekolah-sekolah yang berada di Kota Bontang dapat menjadikan tempat ini sebagai tempat untuk belajar tentang konservasi dan tentang lingkungan karena bukan hanya jaraknya yang dekat, akses menuju BMP juga sangat mudah. Selain kegiatan outbond dan pelantikan pramuka SMA Monamas, hari ini sebanyak ± 240 siswa dan siswi SD 003 Bontang berkunjung ke BMP untuk belajar tentang lingkungan. Dengan semangat, siswa-siswi ini berjalan menyususri boardwalk. Sambil berjalan, mereka menanyakan nama dari setiap jenis mangrove yang dilihatnya. Dengan adanya kesempatan yang diberikan oleh sekolah kepada siswa-siswinya untuk belajar langsung di alam, diharapkan dapat memberikan edukasi kepada anak usia dini untuk selalu cinta terhadap alam dan cinta terhadap lingkungan.#TN Kutai
Baca Berita

Kelahiran Generasi Penerus “Kardit” di Kebun Binatang Bandung

Bandung (13/1/18). Masih ingat dengan Kardit, seekor beruang madu milik Kebun Binatang Bandung yang sempat viral di media sosial di awal tahun 2017? Ya, Kardit saat itu menjadi terkenal karena tampilannya di Youtube sangat kurus seperti tidak terurus sehingga banyak pihak yang prihatin dengan kondisi Kardit tersebut. Kejadian itu pula yang menjadi titik awal bagi manajemen Kebun Binatang Bandung untuk melakukan pembenahan dengan supervisi dari Balai Besar KSDA Jawa Barat, terutama dari sisi animal welfare. Setelah hampir setahun berlalu, kabar yang muncul di awal tahun 2018 ini bukan lagi berita negatif tentang Kardit, melainkan kabar gembira tentang kelahiran generasi penerus Kardit di Kebun Binatang Bandung. Ya, seekor beruang madu berjenis kelamin betina resmi menjadi penghuni baru Kebun Binatang Bandung pada tanggal 7 Desember 2017. Pada saat petugas Balai Besar KSDA Jawa Barat melakukan pemeriksaan kelahiran pada tanggal 12 Januari 2018, satwa dilindungi yang belum diberi nama tersebut, di usianya yang ke-37, hari tampak dalam keadaan sehat dan aktif. Selain seekor beruang madu, telah lahir pula 3 (tiga) ekor binturong pada tanggal 10 Desember 2017. Ketiga ekor binturong yang belum diketahui jenis kelaminnya tersebut, saat ini juga dalam keadaan sehat dan aktif. Keempat bayi satwa tersebut saat ini dirawat secara khusus di ruang nursery dan masing-masing ditempatkan dalam kotak berlampu. Untuk perawatan bayi-bayi satwa tersebut, manajemen Kebun Binatang Bandung telah merekrut 1 orang perawat yang dalam tugasnya sehari-hari dibantu oleh tenaga laboran. Bayi satwa diberi susu formula serta makanan tambahan sesuai kebutuhan nutrisinya. Kelahiran para penghuni baru di Kebun Binatang Bandung ini sekali lagi menunjukkan bahwa upaya pembenahan yang dilakukan manajemen Kebun Binatang Bandung sudah menampakkan hasilnya secara signifikan, terutama dalam memenuhi animal welfare satwa-satwa penghuninya. (HUMAS BBKSDA JABAR)
Baca Berita

Telaga Itu Ditemukan Di Puncak Pegunungan Cycloop

Jayapura, 13 Januari 2018. Hari Jumat 12 Januari 2018 BBKSDA Papua menerima kunjungan Tim Yabahei Hikers (Kelompok Pemuda Pendaki Peg. Cycloop). Tim tersebut berhasil menemukan Telaga Cyrayahi di puncak pegunungan Cycloop (ketinggian 1480 m) pada hari Rabu tanggal 26 Desember 2017 pukul 17. 10 WIB, dengan luasan telaga ± 0,5 Ha, dan kedalaman ± 12 m. Tim ini merupakan Club Kepanduan Advent bernama PATHFINDERS CLUB dan melakukan ekspedisi secara mandiri dan penemuan ini merupakan ekspedisi yang kedua setelah sebelumnya pada bulan April 2017 melakukan Ekspedisi pertama (belum menemukan fisik telaga, hanya kelihatan indikasi keberadaannya pada google map/citra sattelite). Mereka melaporkan bahwa Ekosistem disekitar telaga masih asli alami ditandai dengan pohon-pohon yang berlumut dan belum ditemukan adanya aktivitas manusia yang sampai di telaga ini. Adapun satwa yang sempat ditemukan oleh tim pendaki adalah Tikus Putih dan Burung Nuri. Telaga ini dinamakan Telaga Biru Cyrayahi karena telaga ini penampakan dari jauh berwarna biru dan Cyrayahi merupakan akronim dari Cycloop Ralibhu Yabahei Hikers. BBKSDA Papua sangat mengapresiasi penemuan ini dan berencana mengadakan ekspedisi bersama dan NGO dan stakeholder terkait. Adapun jalur pendakian dalam penemuan telaga ini dapat dijadikan referensi menjadi blok khusus (jalur pendakian untuk ekspedisi, penelitian, pendidikan) dalam RP CA. Peg Cycloop. Penulis : Tim Humas BBKSDA Papua
Baca Berita

Dua Binturong Dievakuasi Balai KSDA Aceh

Banda Aceh, 10 Januari 2018. Anggota Balai KSDA Aceh yang terdiri dari 2 orang Polhut , 3 orang staf dan dibantu oleh 2 orang anggota Polsek Baiturahman melakukan kegiatan operasi fungsional tumbuhan dan satwa liar di Desa Ateuk Jawo Kecamatan Baiturahman Kota Banda Aceh (8/1/18). Dari kegiatan tersebut petugas melakukan penyelamatan satwa liar dilindungi jenis Binturong (Arctictis binturong) sebanyak 2 ekor (1 ekor jantan, 1 ekor betina) dengan berat kurang lebih 8 kg dan dalam keadaan sehat. Satwa tersebut awalnya dipelihara oleh warga bernama Lukman Hakim (42 tahun) warga Jalan Ateuk Jawo Nomor 128 selama kurang lebih 1 tahun. Setelah petugas memberikan penjelasan bahwa Binturong adalah satwa liar yang dilindungi, warga tersebut menyerahkan satwa dengan sukarela kepada petugas Balai KSDA Aceh. Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Pasal 21 Ayat (2) butir a setiap orang dilarang untuk menangkap,melukai,membunuh,menyimpan,memiliki, memelihara,mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup. Untuk sementara 2 ekor binturong tersebut dipelihara di kandang Balai KSDA Aceh untuk dilakukan observasi oleh Dokter Hewan sebelum dilakukan pelepasliaran karena satwa tersebut sudah cukup lama dipelihara oleh pemiliknya. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Jadi yang Kedelapan Diantara Sepuluh Andalan… Sangat Tidak Buruk, Laah...

Tahun 2017 baru saja berakhir beberapa minggu lalu. Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) kembali menggurat catatan cukup apik dalam hal kunjungan wisatawan dan kontribusi penerimaan negara sepanjang tahun kemarin. Dominasi wisatawan mancanegara masih cukup tinggi, 60% dari 24.693 orang yang berwisata menikmati keindahan lansekap, pun menyaksikan tingkah hidupan liar di salah satu Taman Nasional kebanggaan Indonesia ini. Jumlah ini meningkat cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang masih di kisaran 15.000 orang. Jumlah kunjungan wisatawan tersebut di barengi dengan PNBP yang menggembirakan. Tak kurang dari Rp. 6.208.402.500 menempatkan TNTP di peringkat 8 UPT dengan penerimaan tertinggi di sektor Penerimaan Masuk Objek Wisata Alam di UPT Dirjen KSDAE, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ir. Helmi, Kepala Balai TNTP, pada rabu lalu (10/1/2018) menyampaikan bahwa dengan jumlah kunjungan yang semakin tinggi mengharuskan pengelola TNTP untuk lebih jeli dalam strategi pengaturan wisatawan dan destinasi kunjungan. “Peningkatan jumlah wisatawan harus dibarengi dengan pengelolaan kunjungan yang lebih baik. Tahun 2018 ini akan menjadi lanjutan upaya distribusi wisatawan yang masih terkonsentrasi di destinasi tertentu saja.” Tersedia destinasi lain yang tak kalah menarik dibandingkan Camp Leakey dan lintasan Sungai Sekonyer yang selama ini menjadi tujuan utama wisatawan di TNTP. “Dengan demikian seluruh aktifitas wisata alam tetap terakomodir dengan nyaman, tetapi kondisi habitat dan satwa liar tetap dalam kondisi prima,” demikian ungkap beliau. Sumber: Balai TN Tanjung Puting

Menampilkan 9.057–9.072 dari 11.140 publikasi