Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

BKSDA Bengkulu dan Mitra Musnahkan Barang Bukti

Bengkulu, 24 Januari 2018. Balai KSDA Bengkulu dan mitra melakukan pemusnahan barang bukti tindak pidana bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem. Acara digelar di halaman Kantor Balai KSDA Bengkulu, Jl. Mahoni No. 55 Kota Bengkulu dan dihadiri oleh perwakilan Kepolisian Daerah Bengkulu, Kepolisian Resor Bengkulu Utara, Satgas SDA LN Kejagung, Kejaksaan Tinggi Bengkulu, Kejaksaan Negeri Bengkulu, Kejaksaan Negeri Bengkulu Utara, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Ditjen KSDAE dan Wildlife Conservation Society-Indonesian Program. Kapolres Bengkulu Utara, AKBP Arief Aldi Warganegara turut hadir dalam acara ini. Barang bukti yang dimusnahkan adalah satu lembar kulit harimau sumatera sepanjang 2 m lengkap dengan tulang belulang dan lima buah gading gajah dalam beragam bentuk. Pemusnahan barang bukti ini merupakan tahapan lanjutan dalam penyelesaian beberapa perkara tindak pidana perdagangan satwa liar. Diantaranya adalah tindak pidana perniagaan kulit harimau sumatera dengan pelaku Sabian dan Awaludin. Keduanya telah divonis penjara selama 3 tahun 6 bulan dan 50 juta rupiah (subsider 5 bulan penjara) dan 3 tahun dan denda 50 juta rupiah (subsider 5 bulan penjara). Dalam sambutannya, Kepala Balai KSDA Bengkulu, Ir. Abu Bakar mengungkapkan bahwa proses penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan perdagangan satwa liar sudah cukup baik. Namun, masih diperlukan kerja keras dan kerja sama yang kuat dari berbagai pihak untuk semakin menekan jumlah perdagangan satwa liar di Provinsi Bengkulu. Sumber : Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Balai KSDA Kalbar Mengikuti Rangkaian Acara MILAD Fakultas Kehutanan Ke-17 Universitas Tanjungpura

Pontianak, 24 Januari 2018. Dalam rangkaian kegiatan MILAD Fakultas Kehutanan Ke-17 Universitas Tanjungpura, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat ikut serta memeriahkan beberapa kegiatan diantaranya penanaman pohon bersama siswa-siswi MTSN Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat. Penanaman pohon tersebut diikuti dari berbagai elemen, selain dari pejabat Pemerintah Kabupaten Mempawah, hadir KKPH Mempawah, Dekan Fakultas Kehutanan Untan, civitas akademi, para alumni Fahutan, mahasiswa, para dosen, segenap guru dan siswa MTSN Mempawah Hilir serta masyarakat sekitar. Pada kesempatan tersebut telah dibagikan tanaman sebanyak lebih dari 200 pohon yang akan ditanam di sekitar sekolah yang kebetulan areal lingkungan sekolah masih banyak lahan tidur atau lahan kosong. Tanaman itu sendiri terdiri dari berbagai jenis diantaranya jenis Ulin (Eusideroxylon zwageri), meranti (Shorea sp), nyatoh (Palaquium spp), manggis (Garcinia mangostana), mahoni (Swietenia mahagoni). Melalui penanaman pohon di sekolah ini, ada pesan moril yang ingin disampaikan yakni membangun kepedulian khususnya para siswa dan masyarakat pada umumnya bahwa sebagai generasi muda untuk selalu peduli terhadap kelestarian lingkungan. Melalui penanaman pohon diharapkan mendukung kebijakan pemerintah yakni “1 orang menanam 25 pohon."(YS) Sumber : BKSDA Kalbar
Baca Berita

Membangun Sinergisitas Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya Melalui Kerangka Kerjasama Kemitraan

Pontianak, 24 Januari 2018. Pelaksanakan Evaluasi Perjanjian Kerja Sama antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat dengan Yayasan WWF - Indonesia Program Kalimantan Barat(23/01/2018), tentang Optimalisasi Pengelolaan Kawasan Konservasi Dan Keanekaragaman Hayati Di Provinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan PKS BKSDA Nomor : PKS.422/IVK.18/HUM/2016 dan WWF-ID Nomor : 006/WWF-ID/B/II/2016 akan berakhir pada tanggal 2 Februari 2018,untuk itu perlu dilakukan evaluasi pelaksanaan kerjasama sebelum dilakukan perpanjangan kerjasama ditahun berikutnya. Tujuan dilakukannya evaluasi kerja sama yakni melihat seberapa jauh realisasi berjalannya kerjasama. Sedangkan tujuan dari kerjasama operasional itu sendiri meliputi : Memperkuat dukungan terhadap program dan kegiatan penyelenggaraan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di wilayah kerja BKSDA Kalimantan Barat; Memperkuat upaya pengelolaan konservasi tumbuhan dan satwa liar di dalam dan di luar kawasan konservasi secara lebih efektif, berkelanjutan dan melibatkan semua pihak yang berkepentingan; Memperkuat upaya perlindungan dan pengamanan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya secara lebih efektif; Mendorong efektifitas upaya pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan dengan pelibatan aktif para pihak yang terkait; Meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di internal Balai KSDA Kalimantan Barat dalam perlindungan dan penanganan kawasan konservasi dan pengendalian peredaran tumbuhan dan satwa liar serta penegakan hukumnya; Mendorong pengembangan bina cinta alam serta penyuluhan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Sedangkan ruang lingkup kerja sama meliputi Perlindungan kawasan; Pengawetan flora dan fauna; Penguatan kelembagaan; Pemberdayaan masyarakat; serta Pendidikan konservasi. Evaluasi itu sendiri dari WWF disampaikan oleh Manajer WWF Kalimantan Barat (Albertus Tjiu), dalam presentasi laporannya menyampaikan bahwa realisasi kerjasama dari 5 aspek telah dilakukan diantaranya terkait perlindungan kawasan, WWF Kalimantan Barat bersama Balai KSDA Kalbar melaksanakan perlindungan di luar kawasan yakni di kawasan ekosistem esensial (KEE). Sedangkan KEE yang dilaksanakan di luar kawasan lainnya adalah KEE di Kabupaten Kubu Raya, PT. Kandelia Alam, EKL/Ekosistem Khatulistiwa Lestari dan Bina Silva Nusa (BSN). Belum lama ini juga WWF mengadakan kegiatan bedah buku “Bekantan melawan Kepunahan” sebagai salah satu kegiatan mendukung perlindungan terhadap TSL. Terkait kegiatan pengawetan flora-fauna WWF Kalbar bersama BKSDA telah melaksanakan kegiatan bersama dalam beberapa hal diantaranya uji laboratorium (DNA) satwa dilindungi Finless porpoise, uji laboratorium (DNA) satwa dilindungi Cula Badak temuan dari petugas Bandara Supadio (namun hasilnya bukan cula badak), investigasi OU disekitar konsensi PT.BPK dan PT. Mas di Kec. Mempawah Desa Wajok dan sekitar Pontura (Siantan) mendapatkan temuan sarang orangutan, dan peluang kerjasama berikutnya untuk memasukan kegiatan survei orangutan dilokasi tsb diatas. Didalam penguatan kelembagaan bersama-sama melaksanakan pelatihan peningkatan kapasitas bagi Petugas Balai KSDA Kalimantan Barat. Dalam hal pendidikan konservasi telah melaksanakan berbagai kegiatan diantaranya Kampanye TSL di sekitar Kota Pontianak, mempawah dll dan Expo Lingkungan hidup melalui pameran pada kegiatan Sail Karimata. Dalam kesempatan ini, Kepala Balai KSDA Kalbar Sadtata Noor Adirahmanta, memberikan arahan diantaranya beliau memberikan apresiasi terhadap apa yang dilaksanakan dalam kerangka kerjasama yang dilakukan Balai KSDA Kalbar dengan WWF Kalimantan Barat. Beliau optimis bahwa kedepannya isi dari kerjasama berikutnya akan semakin lebih baik dan lebih berbobot. Kepala Balai juga menyampaikan bahwa salah satu potensi terbesar dalam keberhasilan pengelolaan kanekaragaman hayati ada pada masyarakat, sehingga keterlibatan masyarakat menjadi tumpuan keberhasilan program. Dalam arahannya beliau menegaskan bahwa pertemuan KEE terkait Bekantan harus segera ditindaklanjuti, segera merumuskan langkah lebih lanjut. Dalam hal kemitraan akan dibangun dengan keterbukaan, sehingga koordinasi kedepan agar lebih ditingkatkan. Fungsi konservasi pada areal HCV milik perkebunan yang areal konsensinya terdapat satwa liar dilindungi agar didorong untuk melakukan kerjasama kemitraan. Terkait Role model pembangunan sanctuary penyu di TWA Tanjung Belimbing, master plant akan disusun secepatnya. Para pihak dan masyarakat akan dilibatkan. Dalam penyusunan master plant sanctuary penyu, akan mengakomodir wilayah sekitar TWA Tanjung Belimbing sebagai pendaratan penyu. (YS). Sumber : BKSDA Kalbar
Baca Berita

BBKSDA Jatim Sosialisasi TSL di Perusahaan Jasa Ekspedisi

Jember, 24 Januari 2018. Proses penyadartahuan masyarakat terus dilakukan Balai Besar KSDA Jawa Timur dengan kegiatan sosialisasi, dengan harapan masyarakat semakin mengerti akan pentingnya melakukan konservasi sumber daya alam bersama. Seperti halnya yang dilakukan petugas Bidang KSDA Wilayah III Jember pada 22 Januari 2018 yang lalu, dengan melakukan sosialisasi pengangkutan dan pengiriman tumbuhan alam dan satwa liar (TSL). Sosialisasi bertempat di aula JNE Express Jember dengan peserta dari perwakilan JNE cabang Banyuwangi, Bondowoso dan Jember. Hal ini sangat perlu dilakukan mengingat modus pengiriman tumbuhan dan satwa liar saat ini sudah semakin beragam dengan menggunakan jasa perusahaan jasa pengiriman atau ekspedisi. Apalagi saat ini di Jember dan Banyuwangi sudah ada beberapa perusahaan jasa ekspedisi yang menggunakan kargo di Bandara Notohadinegoro – Jember dan Bandara Blimbingsari – Banyuwangi. Adapun materi yang disampaikan adalah terkait dengan Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan Peraturan pemerintah Nomor 8 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. (Dheny Mardiono, Polisi Kehutanan Pada Bidang KSDA Wilayah III Jember) Sumber : BBKSDA Jatim
Baca Berita

Membangun Konsorsium Kolaborasi Dan Rencana Penelitian Di Cagar Biosfer Lore Lindu

Jakarta, 23 Januari 2018. Dengan tujuan untuk membangun konsorsium kolaborasi penelitian para pihak dalam mendukung pembangunan dan pengelolaan hutan berkelanjutan di Cagar Biosfer Lore Lindu (CBLL), Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) dan Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (PIKA) selaku Program Executing Agency Forest Programme III (FP-III) melaksanakan kegiatan Lokakarya “Membentuk Konsorsium Kolaborasi dan Rencana Penelitian di CBLL” di Hotel Peninsula, Slipi, Jakarta, pada tanggal 22 Januari 2018. Kegiatan yang dibuka oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dihadiri oleh Direktur PIKA, Kepala Balai Besar TNLL, Kepala Balai PDAS HL Palu-Poso, Kepala Balai PSKL Wilayah Sulawesi, Ketua Umum Man and Biosphere Unesco-Indonesia, GIZ Forclime, dosen dan peneliti dari Universitas Gottingen, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Tadulako (Untad), konsultan FP III Sulawesi, Direktorat Kawasan Konservasi, dan Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi. Dalam sambutannya, Ir. Wiratno, M.Sc menyampaikan bahwa dukungan penelitian yang dilakukan di CBLL khususnya pada kawasan TNLL sebaiknya bisa mengakomodir beberapa isu lokal yang salah satunya adalah adanya usulan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) dan usulan hutan adat. Lebih lanjut beliau juga mengungkapkan bebarapa harapan terhadap adanya kolaborasi penelitian selama 5 tahun di CBLL ini, diantaranya: (1) mampu menjembatani/menterjemahkan local knowledge ke dalam bahasa ilmiah guna mendukung pengelolaan cagar biosfer; (2) dapat menjawab kebutuhan yang lebih aplikatif-realistis-managable oleh para pihak; (3) menjadi input dalam pengelolaan kawasan konservasi yang dapat menciptakan public trust; dan (4) menjamin keberlanjutan pendanaan penelitian yang mendukung pengelolaan kawasan konservasi. Dalam paparannya yang bertemakan “Collaborations in Indonesia in Strengthening Scientific Research Capacities ”, Lutz Fehrmann, salah satu pimpinan pada bagian Inventarisasi Hutan dan Inderaja Universitas Goettingen, menyampaikan tentang beberapa proyek penelitian yang telah dilakukan di Indonesia. Diantaranya pengembangan sistem monitoring karbon hutan terintegrasi di Kalimantan Tengah, dan kuantifikasi struktur, heternogenitas dan perubahan vegetasi serta penggunaan lahan di Jambi. Beliau juga menyampaikan tentang kontribusi yang dapat diberikan pada proyek FP-III khususnya output 4 untuk analisis perubahan tutupan lahan, monitoring karbon dan keanekaragaman hayati, serta analisis degradasi, fragmentasi dan struktur hutan. Pada kesempatan yang sama Ketua Komite Nasional MAB Unesco Indonesia, Prof. Enny Sudarmonowati, dalam paparannya lebih menitikberatkan pada prosedur bagi peneliti asing terkait dengan Material Transfer Agreement (MTA) dan perizinan penelitian. Sementara Dr. Abdul Rauf, dosen dari Universitas Tadulako, menekankan pada pemanfaatan data hasil-hasil penelitian STORMA (Stability of the Rainforest Margin) yang berlangsung pada interval tahun 2000-2009 dapat dijadikan sebagai dasar untuk penelitian pada proyek FP-III karena memiliki peranan strategis dalam pengelolaan CBLL. Dari hasil lokakarya ini telah disepakati pembentukan konsorsium yang terdiri dari Untad, IPB, Universitas Goettingen dan LIPI. Anggota konsorsium tersebut akan melakukan diskusi internal untuk perumusan prosedur dan usulan penelitan yang diajukan kepada Direktur PIKA. Diantara indikator capaian dari kegiatan penelitian pada output 4 adalah keterlibatan dalam penelitian, infrastruktur penelitian, peningkatan kapasitas dan pelatihan, scientific paper dan bank data. Sumber : Humas Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Kunjungan Kerja Para Pihak, Membangun Komitmen Pengelolaan TN Way Kambas

Labuhan Ratu (22/1/2018), Sebagai bukti keseriusan Taman Nasional Way Kambas dalam upaya pengelolaan kawasan konservasi adalah membangun kerjasama dan komitmen para fihak untuk bersama-sama “Mewujudkan Kawasan Taman Nasional Way Kambas Sebagai Habitat Ideal Bagi Satwa Liar Sumatera Yang Dilindungi”. Sabtu 20 Januari 2018, Gubernur Bank Indonesia Bapak Agus D.W. Martowardojo bersama rombongan (Kepala BI Lampung, Kepala Perwakilan BI Beijing, dan beberapa pimpinan BI) berkesempatan mengunjungi Taman Nasional Way Kambas. Di Suaka Rhino Sumatera (SRS) TN Way Kambas rombongan dipandu langsung oleh Kepala Balai TN Way Kambas Subakir, SH, MH dan Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI) Drs. Widodo S. Ramono, melihat langsung badak sumatera “Harapan dan Delilah”, dan mendapat penjelasan tentang upaya konservasi badak sumatera yang dilakukan di TN Way Kambas khususnya. Kemudian kunjungan dilanjutkan ke Pusat Latihan Gajah TN Way Kambas, disini Gubernur BI dan rombongan disuguhkan dengan atraksi gajah dan tunggang gajah. Pada saat diskusi tentang pengelolaan Taman Nasional Way Kambas, Gubernur BI sangat meng-apresiasi terhadap upaya pengelolaan badak sumatera dan gajah sumatera di TN Way Kambas untuk konservasi dan kelestarian satwa yang dilindungi di Indonesia. Pada hari Senin 22 Januari 2018, di kantor Balai Taman Nasional Way Kambas, kedatangan rombongan dari International Rhino Foundation (IRF) Ibu Sussie Ellis dan Sissi bersama Bapak Drs. Widodo SR, Ir. Kurnia Rauf, dkk. (Yayasan Badak Indonesia) untuk agenda diskusi kerjasama TN Way Kambas dan Yayasan Badak Indonesia dalam pengelolaan konservasi badak sumatera dan pengembangan perluasan SRS dan sarana pendukungnya serta program perlindungan badak sumatera dan habitatnya di TN Way Kambas. “Terimakasih atas segala bentuk dukungan yang telah TN Way Kambas berikan untuk kegiatan konservasi dan kelestarian badak sumatera di Indonesia”, ujar ibu Sussie Ellis. Terkait pengembangan SRS dalam waktu dekat akan selesai dan dilanjutkan dengan pembangunan sarana pendukungnya. Untuk optimalisasi pengembangan konservasai badak sumatera di SRS maka direncanakan untuk mengoptimalkan pengembangan zona khusus konservasi seluas 5.000 hektare untuk kegiatan penelitian. Pada hari yang sama juga rombongan dari Kejaksaan Agung Jakarta, Kejaksaan Tinggi Lampung, Kejaksaan Negeri Lampung Timur dan Kasi Pidum, serta WCS-IP. Berkunjung dan diskusi serta koordinasi terkait upaya perlindungan dan pengamanan kawasan TN Way Kambas, serta penanganan kasus tindak pidana kehutanan (tipihut) dan pengamanan barang bukti kasus tipihut. Catatan penting yang dihasilkan ; Saran Kejaksaan Agung, barang bukti temuan segera dimusnahkan agar tidak disalah gunakan. Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan Negeri mendukung upaya penegakan hukum di TN Way Kambas demi terciptanya kelestarian kawasan konservasi TN Way Kambas. Dan diharapkan koordinasi diantara penegak hukum khususnya di propinsi Lampung dapat lebih ditingkatkan. Sumber : BTN Way Kambas.
Baca Berita

Workshop Penyusunan Rencana Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) Taman Nasional Gunung Palung

Ketapang, 23 Januari 2018. Bertempat di Hotel Aston Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) bekerjasama dengan IJ-REDD+ Project menyelenggarakan Workshop Penyusunan Rencana Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) selama dua hari yang dimulai dari tanggal 22-23 Januari 2018. Workshop diikuti oleh Institusi pemerintahan yang bergerak dibidang penelitan, UPT Kementerian KLHK, NGO Mitra (Yayasan Palung), para ahli dan praktisi yang berpengalaman dibidang penelitian (Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, Dr. Sugardjito, Dr. Tatang Mitrasetia, Dr. Barita Manulang), IPB, Untan dan Staf Balai Taman Nasional Gunung Palung. Workshop ini dilatarbelakangi berdasarkan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) TNGP 2016-2025 sasaran 6 yakni “Terwujudnya manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta kependidikan” maka diperlukan sebuah Rencana Pengelolaan SRCP sebagai pedoman bagi pengelolaan kegiatan penelitian, fasilitas, dan pengaturan pemanfaatan SRCP selama 10 tahun ke depan. Rencana Pengelolaan juga diharapkan menjadi pedoman pengelolaan SCRP sehingga hasil-hasil penelitian di SRCP berperan sebagai sumber data dan informasi bagi pengelolaan kawasan konservasi khususnya TNGP. Hal ini sejalan dengan tujuan penetapan SRCP sebagai Role Model Pengelolaan Kawasan Konservasi dimana pengelolaan SRCP kedepan dilakukan secara terencana, partisipatif, implementatif, dan terukur, sehingga dapat menjadi contoh atau referensi UPT lain. Workshop ini bertujuan untuk merumuskan visi, misi dan konsep pengelolaan SRCP yang mendukung program sasaran : 1. Terbentuk jejaring penelitian; 2. Terkumpul basis data tentang keanekaragaman hayati yang dapat dipercaya; 3. Terbentuk kelembagaan kolaboratif pengelolaan SRCP; 4. Terbangun Infrastruktur SRCP yang lengkap; 5. Publikasi ilmiah ke jurnal terakreditasi nasional dan internasional, publikasi popular ke berbagai media. Sumber : BTN Gunung Palung
Baca Berita

In House Training Pengenalan Eksosistem Terumbu Karang di Balai Taman Nasional Karimunjawa

Karimun Jawa - 23 Januari 2018, Balai Taman Nasional Karimun Jawa (TNKj) mengadakan kegiatan In House Training Pengenalan Ekosistem Terumbu Karang di di Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Karimun Jawa. Kegiatan yang dilaksanakan tanggal 23-24 Januari 2018 tersebut di hadiri oleh 30 orang peserta yang terdiri dari para pemandu wisata, anggota HPI, Yayasan 27 Pulo, LSM Akar dan staf Taman Nasional Karimunjawa. Pada kesempatan tersebut, peserta diberikan materi terkait terumbu karang, ikan dan biota laut di Taman Nasional Karimunjawa, sebagai bekal peserta dalam memandu pengunjung di Taman Nasional Karimunjawa dengan pemateri yang berasal dari WCS Indonesia Program. Metode yang diterapkan pada pelatihan tersebut yaitu dengan pemberian materi, tanya jawab dan diskusi serta dilakukan pengukuran dengan pre test dan post test. Rencana kegiatan selanjutnya akan dilakukan penyusunan SOP snorkling dan diving dilanjutkan dengan penentuan batas dan luasan lokasi open close, pengambilan data dasar, workshop dan sosialisasi zona open close perairan Maer Menjangan Kecil Taman Nasional Karimunjawa. Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama TNKj dan WCS IP didukung oleh HPI dan Yayasan 27 Pulo. Sumber: KSPTN II Karimunjawa, Sutris Haryanta, SH.
Baca Berita

Evaluasi Kerjasama Balai TN Matalawa Bersama Dengan JICS

Waikabubak, 23 Januari 2018. Diadakan pertemuan antara Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) dan Japan International Cooperation System (JICS). JICS merupakan lembaga internasional yang memiliki kepedulian pada lingkungan sehingga mereka memiliki proyek restorasi di 3 Taman Nasional. Selain melakukan restorasi kawasan hutan, proyek mereka juga turut memberdayakan masyarakat dengan berbagai macam program yaitu: peningkatan minat baca dengan membuat perpustakaan mini pada tiap lokasi restorasi, pelatihan dan pembuatan bio fuel, pembudidayaan lele, dan lain-lain. Arya manager lapangan menyatakan bahwa semua rencana kerja untuk tahun 2017 telah dilaksanakan semua dan berjalan dengan cukup baik. Walaupun ada beberapa kendala seperti kebakaran hutan yang masih luput dari pengawasan sehingga tanaman restorasi yang telah ditanam terkena dampaknya. Penanaman telah dilakukan mulai tahun 2015 hingga tahun 2017 seluas 261 Ha. Kemudian pada tahun terakhir telah dilakukan penyulaman untuk tanaman tahun 2015 dan 2016 sejumlah 43,699 anakan serta penanaman yang digunakan untuk sekat bakar sebanyak 20,000 anakan. Pemasukan bagi masyarakat pada tahun 2018 akan sedikit berkurang karena kegiatan JICS juga berkurang sehingga kewaspadaan terhadap hasil tanaman restorasi yang telah ditanam perlu ditingkatkan. Kegiatan yang direncanakan pada tahun 2018 antara lain pembersihan jalur tanam, patroli kebakaran, serta beberapa kegiatan lanjutan pemberdayaan masyarakat. Terkait laporan yang diberikan, Maman Surahman selaku Kepala Balai menyampaikan bahwa restorasi di TN Matalawa merupakan proyek jangka panjang yang sangat berguna bagi masyarakat Sumba. Hasil proyek restorasi terutama berguna sebagai catchment area bagi air hujan. Selain itu, hutan akan menjadi habitat burung sehingga kelestarian hutan terjaga karena penyebaran bibit akan dibantu oleh burung-burung yang hidup di dalam hutan. Kolaborasi antara TN Matalawa dan JICS harus terus dilakukan. Program agros silvofishery yang dikembangkan JICS sejalan dengan program pemberdayaan masyarakat yang akan dikerjakan TN Matalawa pada tahun ini. Kegiatan evaluasi ini diakhiri dengan peninjauan salah satu lokasi restorasi yaitu di desa Manurara. Sumber : TN Matalawa
Baca Berita

Keaslian Alam Resort Tayawi Diburu Mahasiswa Kehutanan Untuk Kegiatan Lapangan

Sofifi, 23 Januari 2018. Keaslian dan keindahan kawasan hutan di Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) kembali menjadi magnet bagi mahasiswa untuk melakukan beraneka kegiatan. Salah satunya adalah diklat dasar atau pengkaderan anggota baru kelompok Sylva Indonesia oleh mahasiswa Kehutanan Universitas Khairun (Unkhair) Ternate. Kegiatan tersebut berlangsung selama 7 hari, dimulai tanggal 22 s/d 28 Januari 2018. “Kami memilih lokasi ini (TNAL) sebagai tempat kegiatan karena merupakan kawasan konservasi di Maluku Utara dan lokasinya sangat bagus untuk kegiatan seperti ini dan juga penelitian”, kata Zulkifli, mahasiswa semester lima Kehutanan Unkhair. Nama kegiatan pengkaderan ini adalah PKMR (Perkemahan Kerja Malam Rimbawan). Menurut keterangan Zulkifli, bahwa kegiatan pengkaderan ini meliputi penggemblengan mental dan fisik, pengenalan alat-alat terkait bidang kehutanan, navigasi, survival dan jelajah. Kegiatan yang dilaksanakan di bumi perkemahan Gosimo itu didampingi langsung oleh Kepala Resort Tayawi, Indra Irawan beserta satu orang tenaga kontrak. Jumlah peserta keseluruhan yang mengikuti acara tersebut sekitar 150 mahasiswa, baik yang menjadi panitia, peserta maupun para senior yang ikut dalam pendampingan pengkaderan tersebut. “Pelan-pelan Resort Tayawi menjadi tempat bagi mahasiswa setempat untuk melakukan kegiatan, mulai dari kunjungan praktikum sampai tempat penelitian”, kata Indra. Saat ini masih terdapat satu mahasiswa Unkhair yang melakukan penelitian di Resort Tayawi. Beberapa hari sebelumnya juga terdapat dua kegiatan penelitian di lokasi tersebut. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Resmi, Ini Aplikasi Android dan Website Balai TN Aketajawe Lolobata Untuk Sitroom

Sofifi, 23 Januari 2018. Setelah mengalami beberapa kali ujicoba dan beberapa masukan terkait pembuatan Situation Room (Sitroom) berbasis aplikasi android dan website pada kantor Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), kemarin (22/01) melalui pertemuan seluruh pegawai telah diputuskan bahwa sitroom Balai TNAL telah resmi dipublikasikan. “Sitroom kita (Balai TNAL) sudah baik dan sudah bisa dinikmati oleh semuanya”, ungkap Kepala Balai dengan semangat. Terdapat dua aplikasi dan satu perangkat keras (hardware) dalam sitroom Balai TNAL. Aplikasi tersebut adalah website dan aplikasi berbasis android. Alamat website resmi Balai TNAL adalah http://aketajawe.com. Didalamnya terdapat menu tentang profil, sejarah, peta, berita, wisata, pendataan dan sebaran flora dan fauna, galeri dan kontak. Yang berbeda pada website ini adalah masyarakat umum ataupun komunitas bisa memasukkan berita kegiatan komunitasnya agar dapat dipublikasikan pada website resmi Balai TNAL. Aplikasi android Balai TNAL bernama “Aketajawe Lolobata” dapat didownload dan diinstal di playstore http://play.google.com/store/apps/details?id=com.qithy.aketajawelolobata. Terdapat beberapa menu pada aplikasi android tersebut, yaitu menu pendataan flora dan fauna dan menu patroli yang berisikan tallysheet untuk mempermudah petugas lapangan dalam pengambilan data. Pada menu tersebut terdapat isian foto dan koordinat sehingga dapat diketahui sebarannya. Selain kedua menu tersebut juga terdapat menu “Pengaduan”, menu ini ditujukan bagi masyarakat yang ingin mengajukan aduan, memberikan data, temuan ataupun informasi lainnya kepada Balai TNAL dengan mengisikan beberapa data pribadi dan aduannya beserta foto aduan. Aplikasi ini juga bisa digunakan pada saat tidak memiliki jaringan internet didalam kawasan dan akan otomatis ter-upload saat mendapatkan koneksi internet. Perangkat keras untuk sitroom adalah video conference. Video conference dengan layar smart TV berukuran besar ini menggunakan program SKYPE seperti arahan Ditjen KSDAE pada awal tahun 2017 lalu. Nama video conference Balai TNAL adalah “Taman Nasional Aketajawe Lolobata”. Pembuatan aplikasi sitroom oleh ahli IT dari Bogor ini bisa dilaksanakan karena Kepala Balai melakukan revisi anggaran DIPA pada akhir tahun 2017 dan memerintahkan petugas walidata untuk segera melaksanakan kegiatan tersebut sesuai arahan Bapak Dirjen KSDAE. “Sitroom ini merupakan salah satu program kerja 100 hari Beliau (Kepala Balai TNAL), jadi semoga bisa berhasil sesuai harapan" tutur David, salah satu Polhut yang diberikan tugas untuk menyelesaikan sitroom ini “Mohon teman-teman petugas lapangan agar menggunakan aplikasi ini dilapangan, beri masukan terkait kekurangan aplikasi agar ada perbaikan (upgrade) yang lebih baik kedepannya”, kata Wahyudi, Kepala Balai TNAL. “Teman-teman yang paling banyak dan rajin melakukan input data dilapangan akan Saya berikan reward dan hadiah”, tutup Beliau. Sumber: Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Kegiatan Sosialisasi Rencana Relokasi Pedagang Di Areal Usaha PT. Joben Evergreen

Mataram - 22 Januari 2018, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) melakukan kegiatan sosialisasi rencana relokasi pedagang di Areal usaha PT. Joben Evergreen. Kegiatan ini dilaksanakan hari Rabu tanggal 17 Januari 2018 bertempat di Aula ODTWA Otak Kokok Joben. Turut hadir juga muspika Camat Montong Gading, kepala Dinas Bapedda Kabupaten Lombok Timur, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur, BTNGR, Kapolsek Montong Gading, Danramil Terara, Kepala Desa Pesanggrahan, Kepala Desa Pringga Jurang Utara, tokoh masyarakat Joben, PT. JEG dan Pedagang. Kegiatan ini merupakan upaya fasilitasi dan mediasi antara pemegang IUPSWA PT. JEG dengan para pedagang untuk memperoleh kesepakatan terkait relokasi pedagang di areal Usaha PT. JEG di Zona Pemanfaatan Resort Joben SPW. Dalam sosialisasi tersebut dilanjutkan dengan forum diskusi yang menghasilkan beberapa kesimpulan seperti ada daerah wisata utama di Lombok timur, Otak Kokok Joben perlu ditata agar tidak terkesan kumuh dan jorok dan perlunya koordinasi serta kerjasama dalam pengembangan destinasi wisata dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satu tokoh masyarakat menyatakan dengan adanya aktivitas dagang di areal wisata membuat beberapa sawah masyarakat dipenuhi oleh sampah. Lebih lanjut dalam diskusi tersebut menyatakan bahwa para pedagang siap untuk direlokasi dengan syarat tidak ada perbedaan perlakuan bagi semua pedagang. Pemda Lombok Timur melalui Dinas Pariwisata akan mengucurkan 6 program untuk ODTWA Otak Kokok Joben di tahun 2018. Pemkab telah membangun beberapa unit lapak di areal parkir. Pemkab lombok Timur diwakili Camat berpesan meminta seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga keamanan, ketertiban dan kebersihan untuk kepentingan kita bersama. Sumber: Balai TN Gunung Rinjani
Baca Berita

Burung Air Migran Singgah di Pantai Cemara

Tanjung Jabung Timur, 22 Januari 2018. Dalam rangka partisipasi Indonesia pada Asian Waterbirds Cencus, 6-21 Januari 2018, Balai TN Berbak-Sembilang dan Balai KSDA Jambi menyelenggarakan Monitoring Burung Air Migran di Pantai Cemara, Kab. Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Jambi, pada 15-17 Januari 2018. Kegiatan ini juga didukung oleh GEF-UNDP Sumatran Tiger Project. Pantai Cemara diketahui sebagai salah satu lokasi singgah burung air migran yang sedang bermigrasi dari bagian utara ke bagian selatan bumi. Pantai Cemara juga merupakan bagian dari Berbak Ramsar Site sejak 1992, dan ditetapkan oleh Gubernur Jambi sebagai kawasan perlindungan burung air migran pada melalui SK Gubernur Jambi No.456 tahun 1996. Kegiatan monitoring ini dilakukan untuk pendataan jenis dan jumlah populasi burung migran di Pantai Cemara, menumbuhkan minat pengamatan burung (birdwatching) di kalangan pelajar dan masyarakat Prop. Jambi, mempromosikan Pantai Cemara sebagai salah satu lokasi wisata khususnya untuk pengamatan Burung Air Migran, sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat sekitar Pantai Cemara dan TN Berbak-Sembilang serta meningkatkan perhatian masyarakat dan Pemda Tanjabtim terhadap konservasi Pantai Cemara. Kegiatan ini juga melibatkan Dinas Pariwisata Pemda Tanjabtim, Organisasi penggiat wisata di Jambi, Mahasiswa/i Universitas Jambi, NGO lokal dan Internasional (Gita Buana, ZSL dan Wetland International), serta masyarakat Desa Pantai Cemara. Pada monitoring kali ini terpantau burung air yg diberi bendera orange (dipasang di Victoria, Australia), bendera putih (dipasang di North Island, New Zealand). Jenis Burung Air Migran yang teridentifikasi antara lain: jenis Cerek (Pluvialis sp., Charadrius sp.), jenis Gajahan (Numenius sp.), Jenis Biru Laut (Limosa sp.), Jenis Trinil (Tringa sp.) dan jenis Kedidi (Calidris sp.). Salah satu jenis Trinil yang teramati adalah Trinil Lumpur Asia (Limnodromus semipalmatus) dengan status IUCN near threaten, dimana jumlah populasinya di dunia diperkirakan hanya 23.000 ekor. Total populasi Burung Air Migran yang ada saat monitoring di Pantai Cemara diperkirakan belasan hingga puluhan ribu ekor (data populasi sedang direkap). Sumber : Balai TN Berbak dan Sembilang
Baca Berita

Sosialisasi dan Pendampingan Penyusunan Proposal Pengajuan Izin Pemanfaatan Air

Mataram – 22 Januari 2018, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) melakukan kegiatan sosialisasi dan pendampingan penyusunan proposal/rencana serta kelengkapan dokumen pengajuan Izin Pemanfaatan Air (IPA) kepada PAMDES Aik Bual Desa Aik Bual Kec. Kopang Kab. lombok Tengah. Kegiatan dilaksanakan di Rumah PJs. Kepala Desa Aik Bual di Desa Aik Bual hari Rabu tanggal 17 Januari 2018 pukul 15.25-19.00 wita. Kegiatan ini dihadiri Pjs. Kades, Sekdes, Ketua dan anggota PAMDES dan beberapa tokoh pemuda. Izin pemanfaatan Air (IPA) pada sumber mata air "Joret Sentul" yang berada di wilayah kerja Resort Joben diajukan oleh kelompok masyarakat Pengelola Air Minum Desa (Pamdes) Aik Bual, desa Aik Bual Kecamatan Kopang Kabupaten Lombok Tengah. Secara pengelolaan berada pada wilayah kerja Resort Setiling Seksi Pengelolaan Wilayah II Balai TN. Gunung Rinjani. IPA merupakan izin pemanfaatan air (massa air) yang diberikan pada masyarakat untuk kepentingan non komersial. IPA yang akan diajukan PAMDES Aik Bual untuk pemanfaatan air 2lt/dtk untuk 450 KK di 3 dusun. Pemanfaatan air dilakukan dengan watermeter. IPA segera diproses untuk diterbitkan dan penyerahannya diharapkan dilakukan bersamaan dengan launching pemberian bantuan ikan di embung bual oleh Bapak Wakil Bupati Kab. Lombok Tengah. Sumber: Balai TN Gunung Rinjani
Baca Berita

Satwa “Cerita Rakyat Tanah Sunda” Diserahkan Masyarakat

Bandung, 22 Januari 2018. Seperti halnya daerah di Indonesia, Provinsi Jawa Barat pun mempunyai cerita rakyat dengan tokoh utama ceritanya dari jenis satwa liar, yaitu salah satu cerita rakyat tersebut adalah “Lutung Kasarung”, dimana dalam cerita rakyat ini, jenis satwa liar yang dilindungi Undang-undang jenis Lutung jawa menjadi tokoh utamanya. Pada hari Senin tanggal 22 Januari 2018, petugas Resor Tampomas, Seksi Konservasi Wilayah III Bandung, Bidang KSDA Wilayah II Soreang menerima penyerahan sukarela satwa yang menjadi legenda tersebut. Penyelamatan satwa ini, berawal dari informasi masyarakat tentang keberadaan Lutung jawa di Wilayah Kebon Jati, Kec. Cimalaka, Kabupaten Sumedang, selanjutnya petugas Resor Tampomas (dimana lokasi keberadaan satwa tersebut berada di wilayah kerja Resor Tampomas) melakukan pengumpulan bahan keterangan tentang kebenaran informasi tersebut. Ternyata, informasi tersebut benar adanya, bahwa di Desa Kebon Jati Kec. Cimalaka Kab. Sumedang terdapat seekor Lutung jawa (Trachypithecus auratus) yang dipelihara oleh masyarakat yang berinisial FY, dimana berdasarkan keterangan dari yang bersangkutan bahwa satwa tersebut diperoleh dari pemberian masyarakat daerah Tomo-Sumedang dalam kondisi memprihatinkan, kemudian karena merasa kasihan satwa liar tersebut dipeliharanya. Selanjutnya, Petugas Resor Tampomas melakukan pendekatan secara persuasif dengan menjelaskan mengenai status satwa tersebut serta dampak yang dapat timbul dari memelihara satwa liar tersebut. Akhirnya masyarakat yang memelihara satwa tersebut menyadari kekeliruannya selama ini dan bersedia menyerahkannya kepada Balai Besar KSDA Jawa Barat. Proses evakuasi tersebut dibantu oleh Tim Gugus Evakuasi dan Penyelamatan TSL dari Seksi Konservasi Wilayah III Bandung, selanjutnya satwa tersebut di titip rawat di The Aspinall Foundation (TAF) yang merupakan salah satu pusat rehabilitasi satwa untuk jenis primata yang berada di daerah Ciwidey.
Baca Berita

Penyelamatan Anak Orangutan di Desa Taringen – Kalimantan Tengah

Palangkaraya, 22 Januari 2017. Seekor anak orangutan yang keluar dari semak-semak ditemukan oleh masyarakat di Desa Taringen bernama Agus Susanto pada tanggal 20 Januari 2018. Karena merasa kasihan, orangutan tersebut ditangkap dan dievakuasi kerumah mereka. Tim TRCC SKW I – BKSDA Kalimantan tengah yang mendapatkan laporan dari masyarakat tersebut, langsung menuju lokasi di Desa Taringen, Kab. Gunung Mas. Anak orangutan tersebut berjenis kelamin betina berusia ± 4 tahun dengan kondisi fisik sehat dan liar, saat ini ditempatkan di Kandang Transit BKSDA Kalimantan Tengah. Dalam waktu dekat orangutan tersebut akan dilakukan observasi terlebih dahulu apakah akan dilepasliarkan atau ditempatkan di Pusat Reintroduksi. Dipastikan anak orangutan ini terpisah dari Induknya, mengingat orangutan akan bersama-sama induknya sampai usia 6-7 tahun. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah

Menampilkan 9.009–9.024 dari 11.140 publikasi