Senin, 20 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

”Puncak Carstenz Bukanlah Tempat Sampah”

Wamena – 6 Februari 2018, Sebuah terobosan baru Direktorat Jenderal KSDAE (Ditjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi di tingkat tapak, strategi yang ditempuh adalah pengembangan "Role Model" di setiap kawasan konservasi. Sehubungan kebijakan tersebut, dalam Tahun 2018 ini, Balai Taman Nasional Lorentz (BTN Lorentz) sebagai UPT Ditjen KSDAE telah merancang Role Model berjudul "Ekspedisi Ilmiah TN. Lorentz 0 - 4.884 mdpl". Dalam tahap persiapan Role Model tersebut, Balai TN. Lorentz melakukan survey awal di beberapa titik sasaran Role model. Salah satu titik yg telah disurvey adalah di sekitar jalur pendakian Puncak Carstensz Pyramid. Jalur survey dilakukan melalui Lembah Kuning (Yellow Valley) yang dimulai pada 30 Januari s/d 3 Februari 2018. Kegiatan ini mendapat dukungan dari PT. Freeport Indonesia dan mitra terkait. Diketahui bahwa Puncak Carstensz atau Carstensz Pyramid berada dalam kawasan konservasi TN. Lorentz. Nama Carstensz sudah tidak asing dikalangan para pendaki (hikkers) profesional kelas dunia. Karena selain ditutupi salju pada elevasi 4884 mdpl, posisinya terletak dalam kawasan konservasi, yakni Taman Nasional Lorentz dan karena keunikannya telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Word Nature Heritage Site (1997). Keunikan dan kekhasan kawasan ini menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata pendakian. Dalam dunia pendakian, Puncak Carstenz yang terletak di gugusan pegunungan tengahnya Pulau Papua ini tercatat sebagai salah satu dari 7 puncak tertinggi di 7 benua (Seven Summits). Puncak Carstensz di wilayah Pulau New Guinea ini adalah salah satu puncak gunung di wilayah tropis yang diselimuti salju abadi. Dalam bahasa lokal Carstenzs Pyramid dikenal dengan nama Nemangkawi Ninggok yang berarti Puncak Panah Putih. Dalam kegiatan survey Prakondisi Role Model, tim Balai TN. Lorentz mendirikan base camp pada rute pendakian melalui Yellow Valley (4291 mdpl). Tim melaksanakan survey selama 3 hari di sekitar Puncak Carstenz, bekerja dalam kondisi cuaca cukup ektrim disertai terpaan badai salju pada suhu di bawah 0 derajat Celsius. Selama berada di base camp Yellow Valley, tim survey dari Balai TN. Lorentz juga mengamati dan mencatat beberapa flora fauna khas ekosistem Alpin sebagai bahan referensi saat Role Model nantinya. Selain itu, tim juga memeriksa jalur pemanjatan tebing terakhir menuju puncak Carstensz Pyramid. Antara lain, tali pengaman yang terpadang di dinding tebing menuju Puncak Carstensz. Tali pengaman tersebut sudah kurang layak karena telah usang dan cacat akibat gesekan pada tebing yang berdinding batu cadas. Tali pengaman tersebut terakhir diganti pada Tahun 2016 lalu. Sehingga perlu diganti segera saat pelaksanaan Ekspedisi Ilmiah/Role Model yang direncanakan pada Juli-Agustus 2018 mendatang. Mengingat Puncak Carstenz sebagai salah satu destinasi wisata pendakian kelas dunia, selain permasalahan tentang tali pengaman, tim juga mengamati dan mendata permasalahan lain. permasalahan penting yang cukup penting untuk bahan evaluasi dan mencari upaya penyelesaiannya adalah sampah pengunjung. Hasil pantauan tim terlihat adanya sampah yang berserakan dibeberapa titik pendakian, terutama titik-titik strategis lokasi base camp para pendaki. Hal ini dipicu oleh adanya kegiatan pendakian secara ilegal serta rendahnya kesadaran dan kepedulian para pengunjung/pendaki. Berdasarkan informasi yang diperoleh tim, bahwa sampah-sampah tersebut kadangkala terpaksa diangkut oleh heli milik PT. Freeport Indonesia ketika pendaratan darurat saat sedang melakukan pemantauan lingkungan atau pendaratan darurat saat pertolongan dan evakuasi tim pendaki dalam keadaan darurat. Kedepan Balai TN Lorentz akan berkoordinasi dengan para pihak terkait guna mencari solusi menangani persoalan sampah yang dihasilkan para pendaki di jalur pendakian Puncak Carstensz dan sekitarnya. Selain itu akan dilakukan penertiban kegiatan pendakian. Puncak Carstensz berada dalam kawasan konservasi Taman Nasional Lorentz. Dihimbau kepada para pendaki untuk tidak memasuki kawasan dan melakukan pendakian secara ilegal. Lakukan pendakian gunung dengan bijaksana dan aman, hindari serta kurangi barang bawaan Anda dari bahan yang nantinya berpotensi sebagai sampah. Jangan tinggalkan barang bawaan kita sebagai sampah di gunung, karena seyogyanya setiap pendaki gunung adalah pecinta dan pelestari alam, sehingga amat tidak pantas jika seorang pendaki gunung, apalagi pendaki profesional namun ikut menyumbangkan sampahnya di gunung. Jika kita mengaku dan berbangga diri sebagai hikkers yg cinta dan peduli upaya pelestarian alam, maka tentu pasti sepakat bahwa sejatinya Puncak Carstensz-pun tidak layak dijadikan tempat sampah. Kepada para hikkers, pemerhati dan pecinta lingkungan, ayo bergabung dalam ekspedisi ilmiah Lorentz 0-4884 mdpl pada Juli-Agustus 2018. Jika berminat, hubungi kantor Balai TN. Lorentz, Ditjen KSDAE, Kementerian LHK. Sumber : Balai Taman Nasional Lorentz Penanggung Jawab : Kepala Balai TN Lorentz
Baca Berita

44 Personil Manggala Agni DAOPS Semitau Kini Menjadi Brigdalkarhutla BBTN Bentarum

Semitau, 6 Februari 2018. Kepala Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TN Bentarum) menerima penyerahan kembali Manggala Agni DAOPS Semitau dari Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Kalimantan (PPI KHL). Penyerahan ini merupakan optimalisasi dan penataan kembali organisasi Manggala Agni DAOPS Semitau, yang menjadi bagian BBTN Bentarum dalam bentuk Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan. Sebanyak 44 Personil Manggala Agni dan Aset-aset DAOPS Semitau diserahkan pengelolaannya kepada BBTN Bentarum. Dalam sambutannya Kepala Balai Besar TN Bentarum Arief Mahmud menyampaikan “DAOPS Semitau hanya berubah nama saja menjadi Brigdalkarhutla BBTN Bentarum, namun tupoksi utamanya tetap sama yaitu pengendalian kebakaran butan dan lahan. Memang dalam perubahan organisasi ini akan sedikit berbeda dalam birokrasi dan administrasi, namun jangan sampai mengurangi kinerja Manggala Agni kalau bisa harus ditingkatkan”. Peralihan DAOPS Semitau ini sudah lama direncanakan, sehingga peralihan komando, penganggaran dan hal-hal terkait lainnya tidak mengganggu operasional DAOPS. Kepala Balai PPI KHL Wilayah Kalimantan Johny Santoso dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kalimantan Barat adalah rangking 1 Hotspot tertinggi pada tahun 2016 di Kalimantan, sehingga beban Manggala Agni sangat berat. Kapuas Hulu adalah Kabupaten nomor 5 dengan tingkat kebakaran tertinggi di Kalimantan Barat. Namun yang membuat saya bangga walaupun jumlah hospotnya tertinggi, namun luasan kebakaran hutan dan lahan jauh di bawah luasan karhutla di Kalimantan Timur. “Kerjasama dengan stakeholders terkait harus semakin ditingkatkan, mengingat kebakaran hutan dan lahan adalah kejadian multi sektoral” imbuhnya. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TN Bentarum)
Baca Berita

Balai Besar TaNa Bentarum Ajak Masyarakat Vega Cegah Kebakaran Hutan

Selimbau, 2 Februari 2018. Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TN Bentarum), Bidang Wilayah 3 Lanjak ajak masyarakat Desa Vega kawasan Danau Sentarum untuk mengantisipasi kejadian kebakaran hutan. Bertempat di SDN 18 Vega sekitar 50 orang dari desa ini berkumpul untuk mengikuti acara sosialisasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan yang diadakan oleh TN Bentarum bekerja sama dengan Norwegia. Kepala Bidang Wilayah III TN Bentarum Gunawan Budi dalam pembukaannya menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi tentang kebakaran hutan ini merupakan amanah presiden yang tertuang dalam Instruksi Presiden No. 11 thn 2015 tentang pengendalian kebakaran hutan. “Instruksi tersebut wajib dilaksanakan institusi yang berkepentingan seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melaksanakan kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan sampai ke tingkat tapak” tegasnya. Ditambahkannya, kebakaran di lahan gambut adalah kebakaran yang berbeda karena kebakaran pada jenis tanah ini adalah kebakaran di bawah permukaan tanah sehingga perlu keterampilan dan alat khusus dalam pemadaman kebakaran hutan tersebut.” pada tahun 2018 Balai Besar TN Bentarum akan membagikan alat – alat pemadam kebakaran lengkap dengan personal use anggota MPA kepada 7 desa yang ada di dalam maupun di sekitar kawasan TN Bentarum” tutur Gunawan Sementara itu Camat Selimbau, menegaskan pentingnya kawasan TN Danau Sentarum (TNDS) sebagai sumber penghidupan masyarakat setempat dan jika danau ini rusak maka rusak pula kehidupan masyarakat terlebih generasi muda di masa depan. “Hutan TNDS adalah tempat hidup anak cucu kita, dalam hutan TNDS ini ada banyak ikan, madu, rotan, tanaman obat dan lain – lain. Apabila hutan ini terbakar, habislah kita, habislah hidup anak cucu kita, apa yang mau disisakan untuk generasi muda kita nanti” tegasnya. Hal ini juga diamini oleh salah satu tokoh masyarakat setempat, Djunaidi yang menyampaikan dampak kebakaran bagi kehidupan masyarakat dan akan berkomitmen mendorong masyarakat mencegah kebakaran hutan yang kerap melanda wilayahnya. “Kami mendukung program pencegahan kebakaran hutan ini, karena tiap tahun kebakaran yang terjadi sangat merugikan masyarakat Desa Vega dan sekitarnya, semoga dengan adanya program- program TN Bentarum dapat mengurangi asap akibat kebakaran tiap tahunnya” tuturnya. Data Seksi Pengelolaan TN Wilayah 5 Selimbau yang dijelaskan Desra Zullimansyah (Kepala SPTN 5) terungkap bahwa kawasan TNDS sebagian besar adalah hamparan gambut yang mudah terbakar. Setiap tahun kawasan ini terbakar utamanya memasuki musim kearau dimana ai danau surut. Kondisi gambut tebal dtambah hawa panas kemarau memicu kebakaran yang sulit dikendalikan. Hal ini juga berdampak pada produksi madu hutan alami yangbanyak dibudiyakan masyarakat dan menjadi produk unggulan Danau Sentarum. “Rentang bulan Juni – Agustus yang mengakibatkan lebah madu tidak bisa berproduksi karena menghindari asap kebakaran hutan contohnya pada tahun 2014 produktivitas madu di TNDS hanya sekitar 1 -2 ton padahal hutan TNDS rata- rata menghasilkan 15-20 ton pertahun” tegas Desra. Selain paparan, dalam kegiatan ini juga dilakukan Penandatanganan Berita Acara Kesepakatan antara Masyarakat Desa Vega yang diwakili oleh Kepala Desa dengan Balai Besar TN Bentarum tentang dukungan dari Masyarakat dalam pengendalian kebakaran hutan di Desa Vega dan desa – desa sekitarnya. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

“Kojek” dan Keluarga Irwan Harus Berpisah Setelah 21 Tahun Hidup Bersama

Bandung – 5 Februari 2018, “Bukan perpisahan yang aku tangisi namun pertemuan yang kusesali”, mungkin inilah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan perpisahan antara “Kojek” seekor Buaya muara dengan keluarga Muhammad Irwan yang harus berpisah setelah 21 tahun hidup bersama. Kisah kehidupan antara Buaya muara dan keluarga ini diawali pada 21 tahun yang lalu, awal pertemuannya dengan Kojek kecil. Saat itu, dia sedang melakukan perjalanan pekerjaan ke Pangandaran. Dia tersentuh saat melihat Kojek kecil akan dipotong oleh salah seorang nelayan. Kojek pun ditukar dengan uang Rp 20.000,00, sejak saat itulah Kojek dipelihara oleh keluarga M. Irwan. Kehidupan bersama antara Buaya muara dan manusia ini pun menjadi viral di beberapa media sosial dan televisi swasta nasional, dimana dalam tayangan tersebut digambarkan bagaimana interaksi satwa yang seharusnya buas dihabitatnya namun terlihat sangat bersahabat dengan setiap anggota keluarga sang pemilik yang berlokasi di kelurahan Sempur Bogor, Jawa Barat. Penayangan Kojek di televisi swasta nasional inilah, memicu masyarakat pemerhati satwa liar menyampaikan laporan pengaduan kepada BBKSDA Jawa Barat. Dengan komitmen yang dibangun untuk merespon cepat setiap laporan tindak pidana kehutanan, hari libur pun menjadi hari kerja bagi BBKSDA Jawa Barat. Dari laporan tersebut Tim Gugus Tugas Evakuasi Dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar Seksi Konservasi Wilayah II Bogor, Bidang KSDA Wilayah I Bogor; pada hari Minggu, 4 Februari 2018 sekitar jam 09.00-14.30, didampingi petugas Babinkamtibmas dan Babinsa setempat dan petugas Taman Safari Indonesia Cisarua, melakukan pendekatan persuasif kepada pemilik dengan menjelaskan aspek hukum dan kesejahteraan satwa serta dampak negatif dari memelihara satwa liar. Akhirnya, keluarga Irwan dengan berat hati dan linangan air mata melepas Buaya muara berbobot 200 kg dan panjang 2,75 meter yang terlihat over weigth ini. Setelah Irwan membubuhkan tanda tangan pada berita acara penyerahan satwa, Kojek resmi kembali menjadi milik negara dan selanjutnya dititip rawat di Lembaga Konservasi Taman Safari Indonesia Cisarua Bogor. Kejadian ini menggambarkan perlu adanya harmonisasi hubungan masyarakat dengan institusi pemerintah dan harmonisasi hubungan institusi pemerintah dengan awak media. Hal lain yang layak untuk menjadi pelajaran bersama adalah bahwa “mencintai (satwa) tidak harus dengan memilikinya”. Humas BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

Yuukk, Mengenal Konservasi Burung di Wanagama Paksi

Gunungkidul, 4 Februari 2018. Wanagama Paksi, wahana pembelajaran atraktif di kawasan Hutan Pendidikan Wanagama telah diresmikan (4/02/2018). Pembangunan Wanagama Paksi ini didukung oleh berbagai pihak, diantaranya Gunma Safari Park Jepang, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Yayasan Alumni Fakultas Kehutanan Angkatan 1975 (Yayasan Toemo), Fakultas Kehutanan UGM, PT Taman Safari Indonesia (TSI), dan Kebun Raya Kebun Binatang Gembira Loka. Wahana Paksi merupakan bangunan dome yang berisi puluhan jenis burung yang berfungsi sebagai media pembelajaran atraktif untuk mengenal lebih dekat konservasi keanekaragaman hayati khususnya jenis burung di Indonesia. Bangunan Dome Wanagama Paksi terdiri atas beberapa bagian meliputi dome burung, plaza dan interaktif, penangkaran, serta area pakir. Plaza interaktif dimaksudkan sebagai spot interaksi antara pengunjung dengan burung-burung yang ada di dome Wanagama Paksi ini. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, KLHK, Ir. Wiratno, M.Sc dalam sambutannya menyampaikan bahwa tumbuhan dan satwa liar (TSL) merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga keseimbangan alam sehingga harus tetap terjaga kelestariannya. Lebih lanjut beliau menyampaikan pembangunan “Dome WanagamaPaksi” dapat menjadi sarana pelestarian burung sekaligus dapat menjadi objek dan daya tarik wisata untuk kawasan hutan pendidikan Wanagama, khususnya untuk wisata pendidikan dan konservasi alam. Pengelolaan Dome “Wanagama Paksi” diharapkan dapat dikelola secara efektif melalui sinergi dan kolaborasi dengan memposisikan masyarakat lokal sebagai pelaku utama dalam berbagai model pengelolaan kawasan dan perlunya meningkatkan networking antara pengelola, pemerintah daerah, para mitra, LSM, Karang Taruna dan para pihak lain yang terkait lainnya. Selain sebagai sarana edukasi, pembangunan Dome ini dapat mendorong minat masyarakat terhadap ekowisata. Selanjutnya Ditjen KSDAE melalui Balai KSDA Yogyakarta akan berupaya mendorong pengembangan paket-paket ekowisata khususnya di DIY. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Video Ucapan dan Dukungan untuk Festival Komunitas Pesisir 2018

Benteng - Kepulauan Selayar, 2 Februari 2018. Menjelang perhelatan Festival Komunitas Pesisir (14-18 Oktober 2018) yang diselenggarakan oleh Balai TN. Taka Bonerate kerja sama dengan Selayar Belajar, makin banyak ucapan turut mendukung yang bermunculan di sosial media. Mulai dari mahasiswa berbagai universitas seperti Universitas Padjajaran, Universitas Brawijaya hingga mahasiswa asal Kepulauan Selayar yang tengah mengenyam pendidikan di Virje Universiteit Amsterdam, ada juga talent MC (master of ceremony) yang merupakan putra daerah Kepulauan Selayar, Pasablon Makassar serta finalis Miss Scuba 2018 bahkan dari Direktur PJLHK (Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga turut mengirimkan video ucapan dukungan untuk event ini. "Alhamdulillah, Ini memberi signal bahwa event Festival Komunitas Pesisir 2018 banyak dukungan dari pihak luar juga, bahkan Direktur PJLHK Pak Dody Wahyu Karyanto mengirimkan juga video ucapan dukungannya" Ucap Jusman Kepala Balai TN. Taka Bonerate. Berikut masing-masing ucapan dari mereka dan tidak menutup kemungkinan akan banyak lagi ucapan dari berbagai pihak. Terima kasih untuk video dukungan untuk event Festival Komunitas Pesisir 2018. Salam Lestari!! Sumber : Asri - PEH Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Malam Mingguan di Resort Tayawi, dr. Erna : Guidenya Menyenangkan dan Informatif

Sofifi, 5 Februari 2018. dr. Erna adalah ketua komunitas Jelajah Halmahera yang berasal dari Weda, Halmahera Tengah. Komunitas ini beranggotakan para penjelajah yang peduli konservasi & pendidikan lingkungan. Mereka berasal dari berbagai profesi, diantaranya dokter, perawat, guru, polisi dan wiraswasta. Kali ini, mereka melakukan jelajah di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) di Resort Tayawi (03/01) dengan didampingi oleh pemandu yang juga merupakan tenaga kontrak Balai TNAL, Sukardi. Tujuan dr. Erna beserta rombongannya yang berjumlah 7 (tujuh) orang adalah sekedar berlibur menghabiskan akhir pekan di bumi perkemahan Gosimo di Resort Tayawi. Karena menurut informasi yang didapat dari temannya bahwa suasana di bumi perkemahan Gosimo sangat menyenangkan karena berada dipinggir sungai Tayawi yang berarus sedang dan memiliki panorama yang indah pada siang dan malam hari. “Di sini (Gosimo) kita menemukan tempat camping yang hits dengan pemandangan alam yg luar biasa, suasana malam disini tidak membuat jenuh, lokasi yang dekat sungai juga mnambah keseruan saat camping”, ungkap dr. Erna. Tak mau hanya menikmati suasana bumi perkemahan Gosimo saja, komunitas Jelajah Halmahera juga melakukan pengamatan burung Bidadari Halmahera dan air terjun Havo yang tak jauh dari lokasi kemah. “Selain pemandangan alam yang indah ditambah cantiknya burung Bidadari Halmahera kami juga mendapat pelayanan pemanduan yang seru, guide-nya menyenangkan dan informatif”, tutup sang ketua. Sumber : BTN Aketajawe Lolobata - Sukardi
Baca Berita

Kelompok Tani Banteng Mulya Mendapatkan Ijin Pemanfaatan Air Di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Untuk Pengairan Sawah

Kotamobagu, Sabtu, 3 Februari 2018 – Balai Taman Nasionnal Bogani Nani Wartabone (BTNBNW) memberikan ijin pemanfaatan air kepada Kelompok Tani Banteng Mulya Desa Mopugad Selatan, Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Ijin tersebut diberikan oleh BTNBNW untuk pengairan sawah, yang letaknya berbatasan langsung dengan kawasan TNBNW. Ada sekitar 25 KK yang tergabung dalam Kelompok Tani Banteng Mulya ini yang telah memanfaatkan ijin pemanfaatan air sejak tahun 2014. Dengan dukungan dana dari dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bolaang Mongondow, kelompok membangun bendungan sederhana di Sungai Louyo Kecil. Lokasi bendungan ini terletak di zona rehabilitasi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), dan kemudian masyarakat mengalirkannya ke daerah persawahan seluas lebih dari 60 hektar. Debit air yang dimanfaatkan untuk mengairi persawahan ini adalah sebesar + 0,005m3/s atau 18m3/jam. Pada tahun 2018 ini, Kelompok Tani Banteng Mulya melakukan pembaharuan ijin pemanfaatan air oleh karena ijin sebelumnya telah habis. Dan berdasarkan hasil evaluasi oleh BTNBNW, sesuai Perdirjen PHKA No.22/IV-Set/2014 tentang Pelaksanaan Pengawasan, Evaluasi dan Pembinaan Pemanfaatan Air dan Energi Air di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Tahura dan Taman Wisata Alam, kinerja Kelompok Tani Banteng Mulia termasuk dalam kategori baik, sehingga ijinnya dapat diperpanjang secara langsung. Perpanjangan Surat Ijin Pemanfaatan Air ini diserahkan oleh Kepala Resort Dumoga Utara, SPTN II Doloduo kepada Ketua Kelompok Tani Banteng Mulya pada hari Jumat tanggal 2 Februari 2018 di Kantor Resort Dumoga Utara TNBNW, yang terletak di Desa Tapada Utara. “Ijin Pemanfaatan Air ini diperpanjang oleh BTNBNW karena kelompok mematuhi aturan-aturan yang ada dan juga turut menjaga kawasan TNBNW. Mereka juga melakukan penanaman pohon seperti nantu dan kemiri secara mandiri untuk menjaga sumber air tersebut,” kata Kepala Resort Dumoga Utara, Nur Amama. “Bahkan pada saat acara penyerahan ijin pemanfaatan air, kelompok meminta kembali bibit tanaman untuk ditanam di daerah-daerah lain di sekitarnya” sambung Nur Amama. Ijin pemanfaatan air dengan tujuan non komersil diberikan oleh BTNBNW dengan memperhatikan azas konservasi, azas kelestarian, dan azas pemanfaatan sumberdaya alam dan ekosistemnya. “Saya sangat mengapresiasi kepada Kelompok Tani Banteng Mulya yang telah memanfaatkan potensi TNBNW yang ada secara berkelanjutan dan secara riil turut menjaga kawasan TNBNW. Saya juga berharap agar model-model seperti ini dapat dikembangkan di daerah-daerah yang lain agar potensi TNBNW dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara berkelanjutan dan kawasan TNBNW tetap terjaga utuh” kata Kepala Balai TNBNW, Bapak Lukita Awang Nistyantara. Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone merupakan penyangga kehidupan masyarakat terutama di sekitar kawasan karena memiliki nilai jasa lingkungan, seperti pemanfaatan air / energi air dan wisata. Terdapat sekitar 144 desa yang berbatasan langsung dengan kawasan taman nasional dan memanfaatkan air dari dalam kawasan untuk konsumsi, pertanian, PLTMH, dan lain-lain. Namun di sisi lain TNBNW juga masih harus menghadapi ancaman seperti illegal loging, perambahan, penambangan illegal, perburuan sehingga masih perlu dukungan dari berbagai pihak untuk menjaga keutuhannya. Informasi Lebih Lanjut: Nuraini Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone HP 081342088000 E-mail: aini_bepekaha@yahoo.co.id
Baca Berita

Penyergapan Bus Tujuan Bali oleh Polhut BKSDA NTB

Mataram, 5 Februari 2018. Pada hari Senin (05/02) pada pukul 13.05 WITA bertempat di Pelabuhan Lembar, Polhut Balai KSDA mengamankan Tanaman dan Satwa Liar (TSL) tanpa dokumen sah (SATS-DN) yang berangkat menggunakan bus Titian Mas nopol EA 7504 A. Pengamanan kendaraan tersebut berawal dari informasi masyarakat bahwa ada kendaraan bus Titian Mas yang sedang menaikan burung dengan menggunakan dus dan keranjang di depan SPBU Rumak Kecamatan Labuapi. Salah satu anggota Polhut BKSDA melakukan koordinasi dengan Bripka Made Artha Wiguna, anggota Polsek Kawasan Pelabuhan Lembar untuk membantu pengamanan Kendaraan bus yang sudah masuk di dalam pelabuhan Lembar yang akan menyeberang ke Bali. Koordinasi langsung dilanjutkan kepada anggota KP3 yang langsung bergerak menuju Pelabuhan Lembar dengan anggota BKSDA dan mengecek kendaraan yang ada di pelabuhan Lembar, tak lama berselang ditemukan kendaraan bus yang dicurigai mengangkut satwa berupa burung setelah di cek ternyata benar kendaraan tersebut mengangkut burung yang tidak di lengkapi dikumen yang sah. Dengan total 37 ekor, TSL yang disita termasuk diantaranya: burung yang di lindungi yakni Koakaok sebanyak 2 ekor. Yang tidak di lindungi; Burung Kepodang 4 ekor, Burung Gelatik 25 ekor dan Burung Sampeyong 6 ekor. Beberapa tindakan yang telah diambil adalah pengamanan barang bukti di Pos BKSDA Pelabuhan Lembar, pencatatan identitas supir bus serta pengambilan keterangan dan dokumentasi. Sumber : BKSDA NTB
Baca Berita

Langkah Awal Program Pemberdayaan Perempuan Balai TN Matalawa Di Desa Padira Tana

Waingapu, 2 Februari 2018. Pemberdayaan perempuan dalam rangka mendukung pariwisata di Desa Padira Tana merupakan salah satu bentuk role model yang dilaksanakan dan menjadi kontrak kinerja Balai Taman Nasional Matalawa (TN Matalawa) pada tahun 2018. Guna mendukung tercapainya kontrak kinerja tersebut, TN Matalawa telah merumuskan strategi mulai dari melakukan identifikasi dan pemetaan wilayah, membentuk kelompok kerja, sosialisasi, pelaksanaan kegiatan pemberdayaan serta pendampingan secara kontinue kepada kelompok. Dalam mengawali kegiatan pemberdayaan tersebut dalam 3 (tiga) hari terakhir TN Matalawa telah melaksanakan Identifikasi serta membentuk kelompok kerja di Desa Padira Tana Kecamatan Umbu Ratu Nggay Kabupaten Sumba Tengah. Kegiatan identifikasi dan pemetaan wilayah desa memiliki tujuan untuk (1) untuk memperoleh informasi mengenai keterilabatan peran perempuan dalam berbagai bidang baik sosial, ekonomi, pendidikan, politik serta akses dalam pemanfaatan SDA, (2) mengetahui kondisi sosial ekonomi masyarakat desa, (3) Mengetahui potensi SDA yang ada di wilayah desa, sarana & prasarana maupun sebaran pemukiman yang ada di Desa Padira Tana. Seperti yang diungkapkan Diecky Arif Rahman, S.Hut (Penyuluh Kehutanan TN Matalawa), disela-sela kegiatan identifikasi dan pemetaan wialayah Desa. Pengambilan data dalam kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 31 Januari 2018, dengan menggunakan metode random sampling dengan intesintas sampling 20 % dari jumlah 297 Kepala Keluarga (KK) di Desa Padira Tana. Sehingga sampel yang diambil sebanyak 45 KK yang tersebar pada 3 (tiga) dusun di Desa Padiratana. Wawancara dan survey merupakan metode yang digunakan dalam pengumpulan data dan menggambarkan situasi Desa Padira Tana. Pada tanggal 2 Februari 2018, Kegiatan dilanjutkan dengan pembentukan kelompok model pemberdayaan perempuan dalam rangka mendukung pariwisata di Desa Padira Tana. Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk komitmen kelompok pemberdayaan perempuan di Desa Padira Tana, sekaligus mempublikasikan program pemberdayaan tersebut pada unsur pemerintah Kabupaten Sumba Tengah. Hadir pada kegiatan tersebut Kepala Balai TN Matalawa, Perwakilan Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Kepala Desa Padira Tana dan perwakilan perempuan Desa Padira Tana. Pada kesempatan tersebut Kepala Balai TN Matalawa (Maman Surahman, S.Hut.,M.Si) menyampaikan dukungan TN Matalawa dalam melaksanakan program pemberdayaan perempuan ini, serta meminta peran aktif masyarakat bersama dengan TN Matalawa untuk mengawal program tersebut. Sehingga tujuan dan output yang diharapkan dapat terwujud, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Padira Tana. Berdasarkan hasil musyawarah dan diskusi yang telah dilaksanakan, terbentuk kelompok masyarakat pemberdayan perempuan di Desa Padira Tana dengan nama Rambu Langgaliru yang diketuai oleh Rambu Ana U Ndata dengan anggota mencapai 90 orang yang keanggotaannya tersebar pada 3 (tiga) wilayah dusun di Desa Padira Tana. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (Matalawa)
Baca Berita

Katakan No untuk Memelihara Satwaliar Dilindungi

Pontianak, 4 Februari 2018. Katakan No untuk memelihara satwa liar dilindungi undang-undang, katakan yes memelihara satwa tidak dilindungi dan upayakan penangkaran bagi satwa2 peliharaan. Demikian edukasi yang dilaksanakan pagi ini, mengawali kegiatan hari minggu 4/2/2018 dan masih dalam rangka memperingati Hari Primata Indonesia Balai KSDA KalBar mendampingi komunitas pecinta satwa yang sering disebut "Budak Animal Lovers Pontianak" (BUMALOP) kembali mengedukasi masyarakat di Kota Pontianak akan pentingnya melindungi satwa liar. Dalam kesempatan pagi mengambil lokasi di sekitar Taman Digulis Pontianak, komunitas menyajikan satwa-satwa yang tidak dilindungi untuk mengedukasi masyarakat kota pontianak. Terlihat antusiasme pengunjung, sambil berolahraga pagi pengunjung dihibur dengan hadirnya "Budak Animal Lovers Pontianak" dengan di motori sdr. Meutya anak-anak komunitas memberikan penyuluhan tentang satwa-satwa peliharaannya. Bagi Balai KSDA Kalbar, dengan banyak muncul komunitas pecinta satwa sangat menggembirakan, artinya dalam melaksanakan tupoksi terkait TSL melalui edukasi/penyadartahuan dapat bersinergi dengan komunitas2 yang ada. Pagi ini, penyadartahuan akan satwa liar juga diingatkan kembali bagi pecinta satwa untuk tidak melakukan pengiriman satwa keluar daerah tanpa dilengkapi dengan dokumen, karena sering terjadi ditemukan pengiriman satwa melalui jasa titipan kilat melalui cargo bandara. Untuk melengkapi dokumen pengiriman maupun perijinan dalam penangkaran satwa agar melapor ke Balai KSDA KalBar. Dan pada kesempatan yang baik ini juga diingatkan, apabila masih menemui masyarakat yang memelihara satwa dilindungi agar segera melapor ke BKSDA KalBar. (YS) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Badai Salju dan Cuaca Ekstrim Hantam Tim Ekspedisi Balai TN Lorentz

Wamena, 2 Februari 2018. Taman Nasional Lorentz (TN Lorentz) adalah kawasan konservasi yang memiliki ekosistem terlengkap, mulai dari ekosistem perairan laut hingga ekosistem pegunungan alpin bersalju dengan puncak tertingginya 4.884 m dpl Carstensz Pyramid. Carstensz Pyramid atau biasa dikenal dengan Puncak Jaya merupakan puncak gunung tertinggi di jajaran Pegunungan Tengah Papua dan dalam dunia pendakian gunung termasuk sebagai salah satu dari 7 puncak tertinggi di 7 benua atau Seven Summits. Nama Carstenzs diambil dari nama seorang pelaut berkebangsaan Belanda, Jan Carstenszoon yang pertama kali melaporkan keberadaan puncak-puncak yang diselimuti salju pada pegunungan tropis di wilayah New Guinea pada tahun 1623. Dalam bahasa lokal Carstenzs Pyramid dikenal dengan nama Nemangkawi Ninggok yang berarti Puncak Panah Putih. Puncak ini pertama kali ditaklukkan oleh Heinrich Harrer pada tahun 1962. Mengawali tahun kerja 2018 serta dalam rangka prakondisi Role Model pengelolaan TN Lorentz melalui Ekspedisi Ilmiah TN Lorentz 0 - 4.884 m dpl, Balai TN Lorentz melakukan pemantauan di sekitar Puncak Carstensz Pyramid melalui Yellow Valley dengan didukung oleh PT. Freeport Indonesia. Kondisi cuaca ekstrim dengan suhu di bawah 0 derajat menyebabkan tutupan es menghiasi dinding tebing Puncak Carstensz Pyramid dan puncak lainnya seperti Puncak Sumantri, Puncak Ngga Pulu, Puncak Tengah dan Puncak Carstensz Timur, bahkan camp tim TN Lorentz yang terdiri dari enam orang petugas dihantam badai salju selama 3 hari berturut-turut. Usaha tim untuk mencapai puncak tertinggi di Papua ini terpaksa berhenti pada titik pemanjatan first rope akibat dihantam badai di tengah tebing sehingga diputuskan untuk turun ke basecamp sembari menunggu cuaca yang kian tidak membaik. Selama berada di base camp Yellow Valley yang berada di ketinggian 4.291 m dpl, tim TN Lorentz juga menemukan beberapa jenis satwa seperti singing dog (Canis sp.), burung anis gunung dan jenis tikus gunung yang belum teridentifikasi. Sepanjang jalur pemanjatan Puncak Carstensz Pyramid juga ditemukan tali pengaman yang sudah tidak layak akibat gesekan dengan tebing. Terakhir tali tersebut diganti tahun 2016 lalu. Tampak di sebelah utara Puncak Carstensz, penyusutan lapisan gletser semakin nyata terlihat pada tutupan East Northwall Firn Glacier yang dulunya menyatukan jajaran Puncak Sumantri dan Puncak Ngga Pulu kini sudah terbelah menjadi dua bagian dan lapisan batuan pemisahnya nampak semakin lebar. Sumber : Fredy Parabang - PEH Balai TN Lorentz Penanggung jawab : Kepala Balai TN Lorentz
Baca Berita

Dirjen KSDAE Menyaksikan Sertijab Pejabat Administrator Lingkup KSDAE

Jakarta, 2 Februari 2018, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) melakukan serah terima jabatan Administrator (Kasubdit/Kepala Balai) di Gedung Manggala Wanabakti Blok I lantai 8. Sertijab ini diselenggarakan setelah sebelumnya Kamis, 1 Februari 2018 telah dilakukan pelantikan di Auditorium Gedung Manggala Wanabakti oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pejabat yang melaksanakan sertijab antara lain Kepala Sub Direktorat Pemolaan dan Perpetaan Kawasan Ekosistem Esensial Direktorat BPEE Ir. Tedi Sutedi, M.Sc kepada Ir. Yayat Surya, M.M; Kepala Balai TN Manusela Danny Hendry Pattipeilohy, S.Pi, M.Si kepada Dr. Ir. Ivan Yusfi Noor, M.Si; Kepala Balai TN Komodo Ir.Sudiyono kepada Budhy Kurniawan, S.Hut; Kepala Balai TN Gunung Tambora Budhy Kurniawan, S.Hut kepada Dr. R. Agus Budi Santosa, S.Hut, MT; Kepala Balai TN Gunung Rinjani Dr. R. Agus Budi Santosa, S.Hut, MT kepada Ir. Sudiyono; Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Ir. Adib Gunawan kepada Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. Dirjen KSDAE, Wiratno mengarahkan para pejabat yang baru dilantik “Sering turun ke lapangan untuk mengecek langsung kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan, merespon dengan cepat setiap ada aduan dari masyarakat baik secara langsung maupun melalui call center masing-masing Balai”. Dalam arahan penutupnya Wiratno menyatakan bahwa “Untuk tetap tertib administrasi baik di keuangan, kepegawaian, maupun pengelolaan Barang Milik Negara”. Sumber: Pepen Rivai - DATIN KSDAE
Baca Berita

BBTN GGP Bersama PT. Tirta Investama Evaluasi PKS

Cianjur, 31 Januari 2018. Bidang PTN Wilayah I Cianjur menggelar acara evaluasi PKS dengan PT Tirta Investama qq plant Cianjur. Hadir pada acara itu Kepala Bidang (Kabid) Teknis, Kabid Wilayah I Cianjur, Kepala Seksi Wilayah II Gedeh, Kepala Sub Bagian PKS, Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan, Kepala Resort Tegallega dan staf. Dari pihak PT Tirta Investama qq Plant Cianjur hadir Supervisor CSR Bidang Konservasi dan vendor Tahun 2017 dari Yayasan Gamelina. Acara dibuka pada jam 09.30 WIB oleh Kabid Wilayah I Cianjur, dilanjutkan dengan pemaparan hasil kegiatan tahun 2017 oleh Yayasan Gamelina, yang dilanjutkan dengan diskusi, acara ditutup sekitar jam 13.00 WIB. Program kerjasama PT Tirta Investama qq Plant Cianjur dengan Balai Besar TNGGP sudah dimulai sejak tahun 2015. Pada tahun 2015 berhasil dilakukan pemulihan ekosistem TNGGP seluas delapan hektar di blok Citatah dan Kandang Kuda dengan penanaman pohon jenis lokal (TNGGP) sebanyak 3.500 batang. Pelaksanaan penanaman dilakukan oleh vendor yang bekerjasama dengan Kelompok Masyarakat Mitra Polhut pimpinan Bah Ucup. Pada tahun 2016, berhasil menanam pohon sebanyak 3.500 batang, pada lahan seluas delapan hektar, dengan vendor CV Negeri Ternak Indonesia. Penanaman dilakukan di blok Cibinong bersama Kelompok Tani Puspa Lestari pimpinan Bah Oding. Pada tahun ini diberikan pula “reward” untuk kelompok MMP yang berhasil dalam penanaman dan pemeliharaan hasil pemulihan eksosistem tahun 2015 di blok Citatah dan Kandang Kuda, berupa sembilan ekor kambing kepada kelompok MMP. Delapan hektar selanjutnya, pada tahun 2017, giliran Kelompok Tani Gede Lestari (pimpinan Bah Uden) bekerjasama dengan vendor dari Yayasan Gamelina, berhasil memulihkan ekosistem terdegradasi di blok Cadas Gantung dan Bedeng. Jumlah dan jenis bibit masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu 3.500 batang pohon dari jenis rasamala, puspa, kisireum, manglid dan huru. Sebagai “reward” atas keberhasilan pemulihan ekosistem tahun 2016, diberikan bantuan untuk pembuatan kebun bibit berkapasitas 15.000 plances, kepada kelompok tani Puspa Lestari yang telah berhasil menghijaukan blok Cibinong. Setiap tahun dilakukan audit internal PT Tirta Investama qq Plant Cianjur, dimana persen tumbuh mencapai angka 100. Untuk transparansi kegiatan, dibuat database pohon secara online dan bisa di-link-kan dengan web TNGGP atau mitra lain yang berkepentingan. Demikian pula laporan dan evaluasi telah berhasil dilaksanakan dengan baik. Disamping pemulihan ekosistem dalam kawasan TNGGP, PT Tirta Investama qq Plant Cianjur juga melakukan program pendidikan lingkungan, salah satunya melalui kegiatan “sekolah lapang”. Sampai saat ini telah bergerak 30 alumni sekolah lapang menyampaikan pesan konservasi kepada masyarakat di zona penyangga khususnya masyarakat di tujuh desa sekitar pabrik PT Tirta Investama qq Plant Cianjur. Kegiatan lain yang dilaksanakan di daerah penyangga adalah pemberian bantuan dan bimbingan usaha pedesaan, penanaman pohon serba guna (Multi Purpose Tree Species/ MPTS), pembuatan sumur resapan dan biopori. Kegiatan tahun 2018 akan diprioritaskan pada penguatan semangat konservasi bagi masyarakat, antara lain dengan mengintensifkan “sekolah lapang”, workshop dan sosialisasi fungsi dan manfaat TNGGP kepada masyarakat daerah penyangga, sosialisasi pentingnya penanaman pohon di areal taman nasional, pendidikan konservasi untuk generasi muda dan meningkatkan koordinasi dengan para pihak. Dari sekian banyak alumni “sekolah lapang”, mereka yang aktif dan kreatif dalam upaya konservasi akan dipilih dan dibina menjadi “figur konservasi”. Pemberdayaan masyarakat akan diprioritaskan pada usaha yang mendukung kegiatan konservasi sesuai potensi yang ada, seperti di desa Gekbrong akan dikembangkan ekowisata berbasis masyarakat (ekowisata partisipatif), pengembangan usaha pembibitan MPTS dan pohon lokal taman nasional, pengembangan usaha ternak, seperti kelinci, dan lain-lain. Penyusunan program akan dilakukan secara partisipatif. Di samping kegiatan prioritas tersebut di atas, tentunya upaya pemulihan ekosistem di areal hutan yang terdegradasi (penanaman dan pemeliharaannya) akan terus dilakukan, dengan target lahan resapan (recharge area) sebagai sumber air bagi PT Tirta Investama qq Plant Cianjur) ditanamai pepohonan dan dipelihara sampai semua pohon mampu hidup dan dapat bersaing di alam (survive). Sumber: Agus Mulyana dan Andie Martien Kurnia - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Quick Response, Poldasu Dan BBKSDA Sumut Amankan Satwa Dilindungi

Medan, 2 Februari 2018. Bermula dari informasi yang diterima oleh tim Cyber Patrol Tipiter (Tindak Pidana Tertentu) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreksrimsus) Polda Sumatera Utara tentang keberadaan satwa dilindungi di sebuah rumah di Jalan Garu II Medan. Informasi tersebut kemudian ditindak lanjuti dengan melakukan penggerebekan, pada Rabu, 31 Januari 2018, dan hasilnya menemukan sejumlah satwa. Untuk memastikan apakah satwa-satwa tersebut termasuk dalam kategori dilindungi atau tidak dilindungi, pihak Polda Sumut berkoordinasi dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui call center (085376699066). Hasil identifikasi diketahui bahwa ada 4 jenis satwa yang dilindungi undang-undang, yaitu 1 ekor Elang dan 3 ekor Binturong. Selanjutnya pemilik rumah dimintai keterangan oleh tim Polda Sumut, dan barang bukti keempat ekor satwa dititipkan ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Untuk pengamanan barang bukti, satwa-satwa tersebut ditempatkan di Pusat Penampungan Satwa (PPS) TWA. Sibolangit. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Satgas BKSDA Bengkulu Berhasil Evakuasi Buaya ke Pusat Penyelamatan Satwa Lampung

Bengkulu, 1 Februari 2018. Satuan tugas penanggulangan konflik satwa SKW III Lampung BKSDA Bengkulu berhasil mengevakuasi buaya muara dari Desa Rantau Jaya Ilir Kecamatan Putra Rumbia Kabupaten Lampung Tengah. Satwa dilindungi tersebut ditangkap oleh warga desa karena memangsa beberapa hewan ternak milik warga. Dengan menempuh 4 jam perjalanan darat, buaya sepanjang lebih dari 3 meter tersebut dibawa ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) milik BKSDA Bengkulu di Bandar Lampung. Satgas tiba di PPS pada Kamis dini hari, tanggal 1 Februari 2018. “Pada saat anggota satgas tiba di lokasi, buaya telah diikat dengan tali nilon dan kawat oleh warga. Agar tidak menyakiti dan melukai buaya, anggota satgas mengganti pengikat dari nilon dan kawat menjadi karet dan perekat” Ujar Bapak Rusmaidi, seorang Polhut senior yang tergabung dalam satgas penanggulangan konflik. Setelah dilakukan pengecekan kondisi, satwa tersebut dititipkan di Lembaga Konservasi Lembah Hijau di Bandar Lampung. Konflik antara manusia dan buaya kerap terjadi di Provinsi Lampung. Beberapa kabupaten yang menjadi area rawan konflik diantaranya adalah Kabupaten Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Mesuji, Lampung Tengah, Lampung Timur dan Lampung Selatan. Pada beberapa kabupaten tersebut bermuara beberapa sungai besar dan terdapat rawa-rawa yang secara alami menjadi habitat buaya muara. Dibutuhkan koordinasi dan kerja sama dengan para pihak terkait dalam penanggulangan konflik manusia dan satwa liar di Provinsi Lampung. Sumber : Balai KSDA Bengkulu

Menampilkan 8.929–8.944 dari 11.140 publikasi