Senin, 20 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Collared Kingfisher Ditemukan di Pasar Waikabubak

Waikabubak 10 Februari 2018. Collared Kingfisher akrab dikenal Cekakak Sungai dengan nama latin Todiramphus chloris, ditemukan di tengah-tengah pasar Waikabubak. Sebagai petugas Taman Nasional Matalawa, Gaudencio Gabriel selaku kepala Resort Dasaelu merasa terpanggil untuk mengamankan burung dilindungi tersebut, begitu petugas hendak menghampiri pemilik burung, pelaku langsung melarikan diri dan meninggalkan burung tersebut. Petugas kemudian mengamankan burung tersebut untuk di lepasliarkan di kawasan Taman Nasional wilayah Resort Dasaelu. Semoga burung dengan status dilindungi Peraturan Pemerintah N0.7 tahun 1999 dan Undang-Undang No. 5 tahun 1990 ini akan terus terjaga kelestariaannya, dan tidak menjadi objek perdagangan illegal. Sumber : Balai TN Manupeu Tanah Daru & Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Balai TN Kutai Bersama IUCN Gelar Workshop Internasional

Bontang, 11 Februari 2018. Balai TN Kutai dan IUCN menyelenggarakan workshop Internasional dengan topik : Climate Change Vulnerability and Restoration of Plant Species of Kutai National Park, East Kalimantan, di Bontang-Kalimantan Timur. Workshop berlangsung dari tanggal 6-9 Februari 2018 di Hotel Sintuk Bontang-Kalimantan Timur. Workshop dihadiri para peneliti dan praktisi terkait orangutan, tumbuhan dan restorasi habitat. Para ahli/peneliti dan praktisi berasal dari berbagai lembaga/universitas antara lain: Balai Besar Penelitian Dipterokarpa, Balai KSDA Kalimantan Timur, International Animal Rescue (IAR), Cape Town University, University of Leeds, NMBU University, York University, University of Stellenbosch-South Africa, Orangutan Kutai Project, PT. RHOI, PT. KPC, PT. Surya Hutani Jaya, PT. Indominco Mandiri. Hadir sebagai narasumber PT. Indominco Mandiri sebagai perwakilan dari perusahaan yang melakukan kegiatan restorasi di TN Kutai, PT. RHOI yang telah melakukan kegiatan restorasi untuk habitat orangutan, Perwakilan dari Balai PPI Kalimantan Tengah yang mempresentasikan manajemen penanggulangan kebakaran hutan dan IUCN. IUCN dengan didukung oleh Indianapolis Zoo melakukan studi untuk melihat dampak perubahan iklim terhadap habitat orangutan, dalam kerangka mendukung pengelolaan Taman Nasional Kutai, khususnya pelakasanaan restorasi ekosistem di TN Kutai. Aspek penilaian yaitu tingkat kerentanan dan atau ketahanan spesies tumbuhan penting baik bagi orangutan maupun bagi pengelolan ekosistem TN Kutai secara umum, terkait dengan adanya perubahan iklim. Penilaian Kerentanan spesies terhadap Perubahan Iklim yang dilakukan IUCN adalah sebuah 'pendekatan berbasis sifat ekologi', dengan mempertimbangkan sifat biologi dan ekologi setiap individu spesies dalam rangka untuk memperoleh penilaian akhir. Checklist tumbuhan yang lengkap dengan sifat biologi dan ekologi, dapat dijadikan dasar dalam pemilihan jenis kegiatan restorasi ekosistem. Pemilihan jenis tumbuhan sangat ditentukan oleh tujuan restorasi itu sendiri. Untuk di TN Kutai beberapa kegiatan restorasi teridentifikasi beberapa tujuan restorasi antara lain untuk konservasi orangutan, sehingga yang diutamakan adalah komposisi tumbuhan yang dapat mendukung kehidupan orangutan, tujuan lain adalah untuk mencegah konflik dengan masyarakat sehingga keiatan restorasi harus berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Beberapa tantangan yang dihadapi dalam kegiatan restorasi ekosistem di TN Kutai yaitu: implementasi 2 (dua) regulasi yang terkait dengan rehabilitasi DAS dan Restorasi Ekosistem di kawasan konservasi, timbulnya konflik dengan masyarakat, gangguan kebakaran hutan, pemetaan areal terdegradasi di TN kutai dan sistem monitoring paska kegiatan restorasi ekosistem. Hasil workshop merekomendasikan beberapa hal antara lain: menggunakan checklist hasil studi dalam penentuan jenis tumbuhan, meningkatan koordinasi para pihak, mendorong implementasi regulasi restorasi ekosistem yang sesuai, membentuk “Advisory board” yang dapat memberikan masukan/ saran teknis dalam pengelolaan TN Kutai, meningkatkan komunikasi dengan masyarakat, mencegah kegiatan illegal khususnya yang terkait dengan penguasaan lahan secara illegal. Sumber : Balai TN Kutai
Baca Berita

Upaya Penyelamatan Si Belang Oleh BBKSDA Riau Telah Memasuki Hari ke-37

Indragiri Hilir, 10 Februari 2018. Sampai dengan tanggal 9 Februari 2018, telah masuk hari ke 37 tim Rescue gabungan Balai Besar KSDA Riau, Polres Inhil, WWF, PKHS, PT. THIP dan PT. Arara Abadi berupaya melakukan penyelamatan satwa Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di areal PT THIP yang telah menewaskan satu orang pekerja di perusahaan tersebut. Adanya Tim Rescue dimaksudkan sebagai upaya mengamankan Harimau sumatera yang telah mengalami perubahan tingkah laku (inhabituasi) yang diindikasikan dengan selalu mendekat kepada manusia dan aktifitas manusia pemukiman dll. Semakin meningkatnya intensitas perjumpaan Tim Rescue dengan harimau di tempat tempat umum (jalan lintas dan pemukiman) menjadi pembahasan utama dalam evaluasi oleh Tim Rescue yang dipimpin Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Ditjen KSDAE dan Kepala Balai Besar KSDA Riau tanggal 6 Februari 2018 yang lalu di Pekanbaru. Arahan kedua pimpinan rapat adalah sbb : 1. Melakukan kajian yang mendalam dengan melibatkan para pihak yang memiliki kepedulian akan keselamatan Harimau sumatera. 2. Antisipatif terhadap perubahan perilaku Harimau sumatera dengan cara meningkatkan sosialisasi, menambah papan informasi pada jalur dan lokasi-lokasi yang merupakan tempat Harimau sumatera sering muncul. 3. Penanganan satwa agar selalu mengedepankan kesejahteraan (animal welfare) dan mengacu pada PerMen Kehutanan No. P. 48/ Menhut-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik Antara Manusia dan Satwa. 4. Dari analisa terhadap perilaku Harimau sumatera yang menghindari Box Trap, diusulkan penambahan box trap yang terbuat dari bahan alami/kayu. 5. Masyarakat sekitar dan Harimau sumatera di areal konflik harus menjadi fokus perhatian utama. Tim Rescue untuk menghindari konflik berulang. 6. Dalam penanganan Konflik Harimau sumatera dengan manusia, Balai Besar KSDA Riau adaptif terhadap berbagai masukan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

3 Duta Besar Sambangi Pulau Kaja, Pulau Pra-Pelespasliaran Orangutan

Palangkaraya, 10 Februari 2018. Jum’at, Tanggal 09 Februari 2018, selepas tengah hari Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng menerima kunjungan Duta Besar RI untuk Norwegia (Todung Mulya Lubis), Duta Besar Norwegia (Vegard Kaale), Duta Besar Finlandia (Paivi Hitunen Toivo) beserta rombongan. Didampingi Kepala Balai KSDA Kalteng dan BOSF, selama di Nyaru Menteng, rombongan mengunjungi quarantine area, orangutan sanctuary, orangutan school of nature dan baby house. Rombongan juga mendapatkan penjelasan tentang kegiatan yang telah dilakukan dalam upaya penyelamatan orangutan di Kalimantan Tengah. Sebelumnya, pagi hari Rombongan telah melakukan kunjungan ke Pulau Kaja. Pulau Kaja merupakan Pulau Pra-pelepasliaran yang merupakan tempat dimana orangutan menjalani tahap akhir dari proses rehabilitasi di Nyaru Menteng. Di Pulau ini orangutan yang dilepas akan diamati, apakah mampu mandiri hidup dihutan. Kunjungan Dubes RI untuk Norwegia, Dubes Norwegia dan Dubes Finlandia ini merupakan kunjungan diplomasi terkait pengelolaan taman nasional, lahan gambut dan penyelamatan orangutan di Indonesia. Sehari sebelumnya, tanggal 08 Februari 2018 Rombongan juga melakukan kunjungan ke Taman Nasional Sebangau. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

9 Tarantula Diserahkan ke BKSDA Kalbar

Pontianak, 8 Februari 2018. Polisi Kehutanan Balai KSDA Kalbar di hubungi oleh petugas dari Jasa Titipan Kilat di Kota Pontianak, yang memberitahukan bahwa ada titipan kilat yang disinyalir merupakan satwa liar namun belum tahu jenis apa. Tidak terlalu lama petugas langsung meluncur ke Kantor Jasa Titipan Kilat, disaksikan oleh kedua belah pihak paket tersebut kemudian dibuka, dan terdapat 9 ekor satwa jenis Tarantula yang dibungkus menggunakan botol air kemasan berukuran 330ml. Dari data yang terdapat dalam kardus pengiriman, tercatat pengirim hanya menggunakan nomer telp hp dan ketika dihubungi tidak aktif. Sedangkan tujuan pengiriman tercatat untuk Osse Bima dengan alamat Rungkut Kidul Tangkis 48 Surabaya. Mengenal lebih jauh satwa jenis Tarantula, adalah nama yang diberikan untuk salah satu jenis laba-laba dengan ukuran sangat besar yang umumnya berbulu. Laba-laba ini masuk pada famili Theraphosidae dan paling tidak ada sekitar 800 spesies yang telah berhasil diidentifikasi. Sebagian besar spesies tarantula tidak berbahaya untuk manusia, dan beberapa jenis spesies lainnya menjadi terkenal karena diperdagangkan sebagai hewan peliharaaan eksotik. Tarantula dapat menggigit, karena seperti laba-laba pada umumnya tarantula memiliki taring dan gigitannya dikenal menyakitkan untuk manusia. Sedangkan nama tarantula berasal dari satu kota di Italia yaitu Taranto. Hampir semua Tarantula asli Indonesia adalah jenis Old world. Pada umumnya seluruh tubuh tarantula hingga ke kaki kakinya yang panjang dipenuhi oleh bulu. Setelah dilakukan identifikasi didapat bahwa tarantula yang ditemukan pada jasa titipan kilat adalah Tarantula Kalimantan Barat/Ornithoctoninae G. sp (Haplopelma Dorie). Tarantula merupakan hewan predator atau bisa dibilang karnivora. Biasanya di alam liar tarantula memangsa serangga dan antropoda lainya. Sampai dengan saat ini, satwa masih dirawat di Kantor Balai KSDA Kalimantan Barat, mengingat habitatnya ada di hutan Kalimantan Barat maka secepatnya akan dilepasliarkan ke kawasan konservasi. (YS). Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

BKSDA Kalsel Evakuasi Bekantan Maskot Kalimantan Selatan

Jumat, 09 Februari 2018 pukul 15.30 WITA Polsek Benua Lawas Tabalong menghubungi Balai KSDA Kalimantan Selatan melaporkan bahwa telah terperangkap seekor Bekantan dijebakan monyet di Desa Benua Rantau Kecamatan Benua Lawas Kab Tabalong. Sabtu, 10 Februari 2018 Kepada SKW I Pelaihari bersama Tim dan bekerjasama dengan KPH Tabalong berangkat ke Polsek Benua Lawas untuk melakukan tindakan dan didapati bahwa Bekantan yang diterperangkap berjenis kelamin jantan, berumur 1 sampai dengan 2 Tahun dan dalam kondisi sehat. Tindak lanjut dari bekantan yang dievakuasi adalah akan dilepasliarkan di CA Gunung Kentawan. ?Sumber: BKSDA Kalsel
Baca Berita

Peringati Hari Pers Nasional, TN Matalawa Tanam Bakau

Waingapu, 09 Februari 2018. Mengusung tema “Aksi menanam bakau” sebagai hari peringatan Pers Nasional yang jatuh pada hari ini, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (BTN Matalawa) melaksanakan kegiatan penanaman bibit bakau (Rhizophora sp) sebanyak 1000 anakan pohon di pesisir pantai Manubara. Kegiatan tersebut diwadahi oleh forum solidaritas wartawan Sumba Timur yang terdiri dari wartawan Pos kupang, Waingapu.com, Kompas tv, TV one, Viktori news, Radio max fm, NTT online dan Now.com. Serta dihadiri oleh unsur forkopimda dan instansi terkait seperti SAR, BPBD, Taman nasional, TNI, Dinas LH, dan Dinas perikanan. Kegiatan penanaman bakau sebagai upaya partisipasi TN Matalawa dalam mendukung aksi nyata untuk menjaga lingkungan. Sehingga kegiatan serupa harus terus dilakukan untuk menanamkan rasa cinta terhadap alam dan lingkungan. Sumber: TN Matalawa
Baca Berita

BBKSDA Sulsel Gagalkan Pengiriman TSL Dilindungi

Makassar, 8 Februari 2018. Petugas Resort Bandara Sultan Hasanuddin Makassar berhasil menggagalkan peredaran TSL dilindungi berkat kerja sama dengan petugas Karantina Pertanian Bandara yang melaporkan adanya permohonan sertifikasi kesehatan tanpa dilengkapi keterangan SATS-DN, setelah dilakukan pengamanan barang bukti berupa 10 pcs Tumbuhan dengan jenis kantong semar atau (nephentes sp) dan 163 pcs anggrek dari berbagai jenis yang kesemuanya dalam keadaan hidup, pemilik paket tersebut dimintai keterangan yang menjelaskan bahwa paket tersebut sedianya akan dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia yaitu DKI. Jakrta, Klaten, Malang, Jogjakarta, Bogor dan Semarang. Dari pemeriksaan itu juga diperoleh keterangan asal TSL tersebut yaitu dari 12 (dua belas) supplier yang berada di Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat. Berdasarkan keterangan pengirim juga bahwa aktifitas ini telah berlangsung selama setahun dan menggunakan situs e-commerce seperti Tokopedia dan Bukalapak sebagai media transaksi. Plt. Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Drh. Supriyanto berharap bahwa, aktifitas illegal yang melanggar pasal 21 ayat 2 huruf d Undang Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya Jo. Pasal 42 ayat 1 dan pasal 63 ayat 1, PP no 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuahn dan satwa serta PP no. 8 Tahun 1999 tentang pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar ini dapat terus dicegah dan memerintahkan kantung semar dan anggrek tersebut untuk ditanam kembali pada pusat koleksi anggrek Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan yang berada di TWA Lejja, dan TWA Malino. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Aksi Cepat Tanggap Tim Taktis TN Matalawa

Sumba Timur(10/2/18). TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti lagi lagi mendapat sitaan 2 jenis satwa atas laporan Pos Jaga Brimob Polres Sumba Timur semalam pada 23.26 WITA. Burung tersebut merupakan jenis burung Branjangan Jawa (Mirafra javanica) 60 ekor dan Decu Belang (Saxicola caprata) 35 ekor. Penyitaan ini didapat dari perempuan berinisial H, 58 tahun asal (NTB) yang menurut penuturannya akan dikirim ke Lombok Timur untuk diperdagangkan. Penangkapan pelaku dilakukan oleh petugas TN Matalawa karena pelaku tidak dapat menunjukan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar Dalam Negeri (SATS DN) dari instansi terkait. Namun, penemuan jenis beranjangan dan decu belang tersebut berada diluar kawasan, sehingga atas pertimbangan tersebut pelaku hanya diberikan pembinaan oleh petugas TN Matalawa dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali. Temuan satwa burung untuk diperjual belikan memang bukan kali pertama dilakukan oleh petugas TN Matalawa. Sehingga berbagai upaya untuk mengurangi jual beli satwa liar harus terus dilakukan TN Matalawa. Untuk menjaga keseimbangan ekosistem maka selanjutnya dua jenis burung tersebut tersebut akan dilepasliarkan kembali pada hari ini (10/02) bersama-sama dengan Satuan Brimob Sumba Timur. Pelepasan burung trsebut dilakukan di halaman belakang Mako Brimob dan dipimpin langsung oleh Komandan Kompi Brimob Sumba Timur (Agustinus silvester, SE) beserta Plh Ka Balai (Hastoto Alifianto,S.Hut.,M.Si). Kedepan kerjasama Brimob dengan TN Matalawa tentang satwa liar akan terus dilakukan. Sumbet: TN Matalawa
Baca Berita

BKSDA Kalbar Rescue Orangutan Peliharaan Warga

Pontianak, 9/2/2018 Tim Gugus Tugas TSL Balai KSDA Kalimantan Barat bersama-sama dengan Tim Yayasan IAR Indonesia dan juga Yayasan Titian melakukan penyelamatan satwa liar berupa 1 (satu) individu Orangutan _(pongo pygmaeus)_ yang dipelihara warga masyarakat di Dusun Teridak Desa Muara Baru Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya. Informasi pemeliharaan tersebut berawal dari laporan Yayasan Titian kepada Balai KSDA Kalbar. Orangutan tersebut berdasarkan informasi dari pemelihara, di dapat di sekitar desa saat melakukan pembukaan lahan untuk kebun. Sedangkan umur orangutan tersebut berkisar 1 (satu) tahun. Memang tidak mudah untuk menjangkau lokasi tersebut, dengan menggunakan mobil diperlukan perjalanan darat kurang lebih 4 jam dan dilanjutkan jalan kaki kurang lebih 1 jam hingga dapat sampai ke lokasi pemelihara tersebut. Selanjutnya satwa orangutan tersebut akan dikirim ke Yayasan IAR Ketapang untuk dlakukan rehabilitasi, esok harinya bersama 2 (dua) satwa lainnya yang saat ini ada di kandang pemeliharaan di kantor Balai KSDA Kalbar yakni 1 (satu) ekor kukang dan 1 (satu) ekor Klempiau hasil penyerahan warga di Kota Pontianak. Sedangkan satwa Tarantula yang pada tanggal 8/2/2018 diserahkan dari jasa titipan kilat akan segera dilepas liarkan ke Cagar Alam Raya Pasi.(YS). Sumber: BKSDA Kalbar
Baca Berita

Pembahasan Rancangan Penataan Blok Cagar Alam Faruhumpenai

Bogor, 8 Februari 2018. Bertempat di ruang rapat Ditjen KSDAE – Ruang Komodo telah dilaksanakan rapat pada tanggal 7 Februari 2018 di Bogor dalam rangka pencermatan dan pembahasan rancangan penataan Blok Cagar Alam Faruhumpenai. Rapat dipimpin oleh Direktur Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam yang diwakili oleh Kepala Sub Direktorat Penataan Kawasan Konservasi serta dihadiri oleh ± 25 orang yang mewakili unsur BBKSDA Sulawesi Selatan, Perwakilan Dit. PJLHK, Perwakilan Dit. KKH, Perwakilan Dit. KK, Perwakilan Dit. BPEE, Perwakilan Dit. PPKH, Perwakilan subdit lingkup Dit. PIKA dan Anggota POKJA Penilaian Rancangan Penataan Zona/Blok KSA dan KPA. Rapat dimaksud merupakan pelaksanaan amanat P.76/MENLHK-SETJEN/2015 dalam rangka penilaian dokumen rancangan blok yang meliputi penilaian terhadap kelengkapan dan kesesuaian aspek administratif dan substansi penataan blok pengelolaan untuk dapat disahkan oleh Dirjen KSDAE. Dalam kesempatan rapat tersebut, telah dilakukan presentasi materi substansi rancangan blok CA Faruhumpenai oleh Tim BBKSDA Sulawesi Selatan. Beberapa hal pokok yang disampaikan sebagai berikut bahwa berdasarkan Surat keputusan Menteri Pertanian Nomor: 274/Kpts/Um/4/1979 tanggal 24 April 1979 telah ditunjuk Cagar Alam Faruhumpenai bersamaan dengan kompleks tiga danau, Danau Matano, Danau Towuti, dan Danau Mahalona, ahwa berdasarkan Surat Keputusan menteri Kehutanan Nomor: SK.6590/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 28 Oktober 2014 telah ditetapkan Cagar Alam Faruhumpenai bersamaan dengan 4 kawasan konservasi lainnya yaitu TWA Danau Towuti, TWA Danau Mahalona, TWA Danau Matano, dan CA Kalaena pada Kabupaten Luwu Timur. Berdasarkan SK tersebut (butir 2) dan dengan mempertimbangkan berbagai aspek kondisi potensi kawasan dan permasalahan kawasan serta mempertimbangkan efektifitas pengelolaan kawasan dalam rangka menjamin kawasan CA sesuai dengan fungsi, maka rancangan blok CA Faruhumpenai terdiri dari blok Perlindungan seluas 85.656,87, Blok Rehabilitasi 5.113,52 Ha , Khusus 131,79 Ha. Beberapa saran dan masukan dari peserta rapat disampaikan untuk perbaikan penyempurnaan dokumen rancangan blok pengelolaan Cagar Alam Faruhumpenai. Setelah pembahasan rancangan blok pengelolaan Cagar Alam CA Faruhumpenai tersebut maka Tim Penyusunan BBKSDA Sulawesi Selatan akan segera melakukan perbaikan sesuai dari hasil diskusi dan masukan para peserta rapat. Diharapkan perbaikan dokumen rancangan blok segera di tindak lanjuti dan disampaikan kembali ke Pusat untuk proses pengesahan oleh Direktur Jenderal KSDAE. Sumber : Mugiharto HP, S.Hut, M.Si ( Pengendali Ekosistem Hutan Muda Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam )
Baca Berita

Pantau Buaya Berkalung Ban, BKSDA Sulteng Gandeng BBKSDA NTT

Palu, 10 Februari 2018. Tim gabungan Balai KSDA Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) dan Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur (BBKSDA NTT) sejak tanggal 2 - 10 Februari 2018 berupaya melakukan evakuasi buaya berkalung ban yang sering muncul di sungai palu dan teluk palu. Kegiatan diawali dengan melaksanakan in house training penanganan konflik satwa khususnya buaya dengan tim dari Balai Besar KSDA NTT. Disini tim Balai Besar KSDA NTT memberikan pengalaman penanganan konflik satwa liar di NTT, pengenalan dan persiapan alat, serta simulasi penangkapan buaya. Setelah kegiatan in house training selesai, Balai KSDA Sulawesi Tengah juga membentuk tim untuk melakukan inventarisasi populasi buaya muara. Hal ini bertujuan untuk mengetahui perkiraan jumlah populasi buaya muara dan penyebarannya serta upaya perlindungan yang mungkin perlu untuk dilakukan terhadap buaya muara tersebut. Tim gabungan ini dinamai Satgas Buaya BKSDA Sulteng dengan jumlah personil 18 orang. Keesokan harinya tim gabungan melakukan pemantauan buaya berkalung ban dari pagi sampai malam hari di sungai palu dan teluk palu dengan menggunakan perahu dan speedboat serta berjalan kaki, namun target/buaya berkalung ban tidak muncul. Pada hari selasa tanggal 6 Februari 2018, buaya sempat muncul di aerea teluk palu, tim gabungan langsung memasang jaring di area tersebut namun belum berhasil menangkap buayanya. Keesokan harinya (Rabu, 7 Februari 2018), buaya kembali terlihat di area teluk palu komodo. Tim kembali memasang jaring, snar bite dan perangkap besi namun lagi-lagi belum berhasil mengevakuasi buaya berkalung ban tersebut. Balai KSDA Sulawesi Tengah akan terus memantau buaya berkalung ban dan buaya muara lainnya yang ada di sungai palu dan area teluk palu. Beberapa kendala yang dihadapi dalam upaya evakuasi antara lain buaya berkalung ban ini muncul ke permukaan air laut hanya sebentar, sehingga tim kesulitan mengetahui keberadaanya; jaring yang digunakan pendek untuk melakukan evakuasi di laut teluk palu; angin dan ombak yang besar serta arus sungai palu yang cukup deras; banyaknya masyarakat yang menonton di sekitar lokasi keberadaan buaya dan papan himbauan yang dipasang hilang/rusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Adopsi Pohon di TN Sebangau

Sebangau, 10 Februari 2018. Pada hari Jumat tanggal 9 Februari 2018 telah dilakukan pertemuan antara pihak Balai Taman Nasional Sebangau, WWF Kalteng, Formas Kec. Sebangau dan masyarakat Kelurahan Kereng Bangkirai dan Sabaru untuk membahas kegiatan penanaman yang akan dilaksanakan di wilayah Taman Nasional Sebangau. Pertemuan ini digagas oleh WWF dan dilaksanakan di aula Kelurahan Kereng Bangkirai. Dalam pertemuan ini juga disampaikan paparan dari Lisna Yulianti, S.Hut, M.Sc selaku Kepala SPTN 1 Taman Nasional Sebangau dan Okta Simon, S.Hut selaku Koordinator Program Restorasi di TN Sebangau. Maksud dari pertemuan ini adalah untuk membahas kegiatan penanaman pohon yang akan dilaksanakan secara kolaborasi antara ketiga pihak tersebut. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut kegiatan uji coba rehabilitasi kawasan TN Sebangau melalui revegatasi atau penanaman dengan pola Adopsi Pohon seluas 50 ha yang telah dilaksanakan pada tahun 2017 di wilayah kerja Resort Sebangau Hulu SPTN Wilayah I, Adopsi pohon merupakan kegiatan revegatasi kawasan TN Sebangau dimana masyarakat mengambil tanggungjawab untuk menanam, memelihara anakan pohon secara sukarela mulai tahap persiapan, penanaman hingga pemeliharaan sampai tumbuh selama 3 tahun. Lokasi penanaman direncanakan dilaksanakan di wilayah kerja Resort Sebangau Hulu yang merupakan area terbuka dan merupakan lokasi bekas terbakar tahun 2015. Target luas penanaman adalah seluas 175 ha. Metode penanaman menggunakan teknik adopsi pohon yang akan melibatkan masyarakat penyangga Taman Nasional yakni masyarakat Kelurahan Kereng Bangkirai dan Sabaru sebagai pelaku utama (adopter). Untuk luasan target penanaman tahun 2018 sebesar 175 ha dan akan melibatkan sekitar 70 KK, dengan rincian masing-masing KK minimal akan menanam seluas 2,5 ha dengan jarak tanam 5 x 5 m dengan jenis pohon endemic dan pakan Orangutan. Masyarakat Kereng Bangkirai dan Sabaru akan berkontribusi mulai dari penyediaan, distribusi bibit dan ajir hingga tahap penanaman dan penyulaman. Insentif yang akan diberikan kepada masyarakat tergantung dari keberhasilan penanaman yang telah dilakukan dan pembayaran dilakukan berdasarkan hasil verifikasi lapangan yang dilengkapi dengan Berita Acara (BA). Kegiatan adopsi pohon adalah salah satu bentuk nyata pelibatan masyarakat sekitar Taman Nasional Sebangau dalam upaya pemulihan ekosistem di Taman Nasional Sebangau. Dengan melibatkan masyarakat tentunya akan memberikan insentif kepada masyarakat sehingga diharapkan masyarakat dapat secara bertahap mengurangi tingkat ketergantungan terhadap hutan. Kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam memelihara kelestarian Taman Nasional Sebangau, karena kegiatan tidak hanya terfokus kepada proses penanamannya saja tetapi para adopter juga wajib untuk memelihara bibit yang telah mereka tanam. Sumber: Balai Taman Nasional Sebangau
Baca Berita

Asiknya Wefie Bersama Alam Ala BKSDA Bengkulu

Bengkulu, 9 Februari 2018. Guna meningkatkan kebersamaan pegawai, Balai KSDA Bengkulu melakukan pembinaan pegawai lingkup Seksi Wilayah I di Pusat Konservasi Gajah Seblat, Bengkulu Utara. Pembinaan pegawai ini dilakukan oleh Kepala Balai Ir Abu Bakar, Kepala Subbagian TU M. Mahfud, S.Hut., M.Sc., dan Kepala SKW I Jaja Mulyana, S.Sos. Pembinaan kali ini digelar berbeda, karena diisi dengan lomba swafoto berkelompok (wefie) bertema Pesona TWA Seblat. Sebagai pengingat, area yang menjadi Pusat Konservasi Gajah Seblat juga merupakan taman wisata alam. Acara diikuti oleh sekitar 60 orang pegawai Balai KSDA Bengkulu. Harapannya, pengabadian momen bersama dapat mempererat kebersamaan antar pagawai. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari, 7-9 Februari 2018. Hari pertama, kegiatan diisi dengan ramah tamah antar pegawai balai, seksi dan resort. Di PKG Seblat, terdapat 19 orang mahout, polhut dan PEH yang setiap hari bertugas menjalankan aktivitas PKG seblat. Hari kedua diisi dengan pembinaan oleh Kepala Balai yang berlangsung dalam suasana santai tapi serius dan bermakna. Pada sore harinya, seluruh peserta melakukan field trip ke dalam kawasan TWA Seblat dengan tugas utamanya adalah mencari point of interest kawasan dan ber-wefie. Malam harinya berlangsung kegiatan malam keakraban pegawai dengan menyalakan api unggun dan makan malam Bersama. Menu utamanya adalah kambing guling hasil kreasi para Mahout PKG Seblat. Dipilihnya PKG Seblat sebagai lokasi pembinaan bukan tanpa alasan. Unsur pimpinan Balai KSDA Bengkulu menilai bahwa tugas harian pemeliharaan gajah di PKG Seblat sangat menguras energi dan waktu para Mahoout, Polhut dan PEH Balai KSDA Bengkulu. Selain itu, wilayah Bengkulu bagian utara (Kabupaten Bengkulu Utara dan Muko-muko) merupakan salah satu biodiversity hotspot penting di Provinsi Bengkulu. Selain PKG Seblat dan Resort KSDA Seblat, terdapat tiga resort KSDA di wilayah Bengkulu bagian utara yaitu RKSDA Air Rami, Air Hitam dan Muko-muko. Apresiasi dan dukungan perlu dialamatkan secara khusus pada seluruh personil Balai KSDA Bengkulu yang bertugas di wilayah Bengkulu bagian utara atas komitmen kerja dan kinerja yang ditunjukkan selama tahun 2017. Harapannya, kinerja akan terus meningkat pada tahun 2018. Sumber : Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Konsultasi Publik Pembangunan Sarpras di Kawasan Konservasi

Jakarta, 9 Februari 2018. Balai KSDA Jakarta melaksanakan kegiatan Konsultasi Publik di Ruang Rapat Balai KSDA Jakarta Lantai IV Jalan Salemba Raya No. 9 Jakarta Pusat. Acara Konsultasi Publik ini merupakan salah satu prasyarat Pembangunan Sarana dan Prasarana Wisata Alam di kawasan konservasi sesuai dengan arahan Direkur Jenderal KSDAE dan sesuai dengan Permenhut 48 tahun 2010. Konsultasi Publik yang ditujukan untuk menghimpun masukan terkait rencana Pembangunan Sarana dan Prasarana Wisata Alam di kawasan konservasi ini, dipimpin langsung oleh Kepala Balai KSDA Jakarta Adison, SE, dan dihadiri wakil dari unsur pemerintahan antara lain: Helwin Ginting, ST, SKM, MM dari (Kecamatan Penjaringan), Bijakri Saud Maruli Manik dari (Kelurahan Kapuk Muara), Joce Rizal dari (Kelurahan Kamal Muara), Ade Slamet dari (Kelurahan Pulau Untung Jawa), dari Unsur Swasta antara lain: Bambang Karyo Soesilo dari (PT. Murindra Karya Lestari) dan Nuh Tuko dari (Pengelola Perumahan Bukit Golf Mediterania), dari unsur Masyarakat, antara lain: Robithotul Huda dari (Yayasan IAR), M. Buang dari (LDK Pulau Untung Jawa) dan Erwandi Supriadi dari ( Koordinator FK3I) serta tidak lupa dari unsur Akademisi adalah Tb. Unu Nitibaskara (Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Nusa Bangsa). Dalam paparannya Kepala Balai KSDA Jakarta juga menyampaikan pentingnya masukan saran dan dukungan dari berbagai pihak guna kesempurnaan pembangunan pembangunan Sarana dan Prasarana Wisata Alam di kawasan konservasi. Di akhir acara, dilakukan penandatanganan Berita Acara Hasil Kesepakatan Konsultasi Publik Sarana dan Prasarana Wisata Alam di kawasan konservasidan foto bersama oleh Peserta yang hadir, Isi kesepakatan tersebut pada intinya menyetujui rencana awal untuk dapat diimplementasikan sebaik-baiknya.(gie) Sumber : Balai KSDA Jakarta
Baca Berita

BKSDA Bali Terima Seekor Burung Sikep Madu Asia dan 4 Ekor Landak Jawa

Gianyar, 9 Februari 2018– Seksi Konservasi Wilayah II Gianyar pada hari ini, Jumat tanggal 09 Februari 2018 kembali mengamankan lima ekor satwa dilindungi yakni satu ekor burung Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus) dan 4 (empat) ekor Landak Jawa (Hystrix braychura). Satwa-satwa tersebut diperoleh pada kegiatan operasi penertiban TSL yang dilaksanakan bersama Reskrimsus Polres Gianyar pagi tadi setelah menerima laporan dari masyarakat tentang kepemilikan satwa dilindungi UU tersebut. Kepala Resort KSDA Gianyar, Dewa Made Rupa menuturkan, “Satwa-satwa yang diamankan tersebut dalam kondisi sehat, yang usianya diperkirakan dewasa, dan terlihat jinak karena dipelihara sejak lama oleh pemiliknya yang merupakan warga Desa Singekerta, Ubud. Setelah kami melakukan pendekatan secara persuasif, pemilik satwa akhirnya menyerahkan satwa-satwa tersebut” Menurut keterangan dari pemiliknya, I Nyoman Pasek, burung sikep madu diperoleh saat burung tersebut hinggap di rumahnya kemudian ditangkap dan dipelihara, sedangkan landak jawa diperoleh ketika satwa tersebut melintas di kebun miliknya. Namun, karena satwa tersebut dilindungi dan tidak boleh dipelihara maka harus diserahkan kembali kepada Negara untuk direhabilitasi sebelum kembali dilepasliarkan. Satwa-satwa tersebut merupakan jenis satwa dilindungi UU sesuai dengan PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Satwa- satwa tersebut saat ini dititipkan pada 2 lembaga konservasi di Gianyar agar segera mendapat perawatan dan menjalani program rehabilitasi, untuk kemudian dilepasliarkan ke habitatnya. Dalam dua bulan ini, Seksi Konservasi Wilayah II Gianyar telah menerima satwa dilindungi hasil penyerahan dari masyarakat sebanyak 22 ekor. Dengan adanya kesadaran masyarakat secara sukarela menyerahkan satwa liar dilindungi UU kepada Pemerintah, diharapkan dapat meminimalisir ancaman kepunahan tumbuhan dan satwa liar. Sumber : Balai KSDA Bali

Menampilkan 8.881–8.896 dari 11.140 publikasi