Senin, 20 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

12 Ekor Beo Nias Diamankan Polres Lubuklinggau Sumatera Selatan

Lahat, 12 Februari 2018. Sebanyak 12 ekor satwa liar dilindungi dari jenis Beo Nias (Gracula religiosa robusta) berhasil diamankan pihak Polres Linggau pada hari Minggu (11/02/18) pada saat proses pengiriman menggunakan salah satu bus lintas provinsi di Jalan Lintas Sumatera Km.8 Kelurahan Petanang Ulu Kecamatan Lubuklinggau Utara I. Kedua belas ekor satwa tersebut beserta sopir bus diamankan di kantor Polres Lubuklinggau guna pemeriksaan lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan, diketahui satwa liar dilindungi tersebut dibawa dari Kota Medan dengan tujuan Kabupaten Kalianda, Lampung. Sampai dengan saat ini, Unit Pidsus Polres Lubuk Linggau masih melakukan pengejaran terhadap pemilik satwa liar dilindungi tersebut, yang identitasnya sudah diketahui. Pada hari Senin (12/02/18), personil Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat BKSDA Sumatera Selatan diminta keterangan dari Unit Pidsus terkait identifikasi satwa liar dilindungi tersebut. Selanjutnya, kedua belas ekor burung Beo Nias (Gracula religiosa robusta) tersebut diserahkan kepada Kepala SKW II Lahat BKSDA Sumatera Selatan untuk dititipkan sementara di Pusat Penyelamatan Satwa Provinsi Sumatera Selatan yang berlokasi di Selangit. Sumber : Martialis Puspito, Julita Pitria – Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Dandim 0101/BS Serahkan 4 Satwa Liar ke Balai KSDA Aceh

Banda Aceh, 12 Februari 2018. Dalam mendukung upaya pelestarian keanekaragaman hayati yang ada di Aceh, pada hari Senin, 12 Februari 2018 Kolonel Iwan Rosandriyanto, S.IP, Komandan Kodim 0101/BS menyerahkan 4 (empat) individu satwa liar kepada Kepala Balai KSDA Aceh Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si. Jenis satwa liar yang diserahkan adalah Trenggiling (Manis javanica), Siamang (Symphalangus syndactylus), Rangkong Badak (Buceros rhinoceros), dan Kura-kura Darat (Manouria emys). Satwa liar tersebut berasal dari hasil penyerahan masyarakat Desa Lamteuba, Desa Indrapuri dan Desa Lhoong Kabupaten Aceh Besar. Pendekatan yang dilakukan oleh Babinsa (Bintara Pembina Desa) membuahkan hasil dengan timbulnya kesadaran masyarakat untuk tidak memelihara satwa liar yang dilindungi. Kolenen Iwan berkomitmen untuk membantu BKSDA Aceh dalam upaya konservasi tumbuhan dan satwa liar serta memerangi perdagangan dan kepemilikan tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi. Beliau juga menghimbau kepada seluruh jajaran TNI di bawah Kodim 0101/BS dan masyarakat untuk tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup. Atas dukungan dan komitmen yang diberikan oleh Dandim 0101/BS dalam upaya konservasi satwa liar di Aceh, BKSDA Aceh mengapresiasi dan berharap upaya tersebut menjadi contoh yang baik bagi yang lain. Dari 4 satwa liar tersebut, 3 diantaranya yaitu Trenggiling, Siamang dan Rangkong Badak merupakan satwa liar yang dilindungi berdasarkan Undang –Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa Liar. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

BBKSDA Jatim Lakukan Pemeriksaan Owa Jawa Sebelum Dilepasliarkan

Surabaya, 12 Februari 2018. Balai Besar KSDA Jawa Timur berencana melepasliarkan seekor Owa Jawa (Hylobates moloch) berkelamin betina. Owa Jawa tersebut berasal dari Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara pada Agustus 2017 yang lalu. Bersama-sama Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Owa Jawa tersebut akan direlokasi ke Pusat Rehabilitasi Primata Jawa The Aspinal Foundation di Patuha Resort untuk direhabilitasi guna dilepasliarkan ke habitatnya. Sebagai langkah awal, BBKSDA Jatim melakukan cek laboratorium pada Owa Jawa bernama Femi tersebut pada 12 Februari 2018. Cek yang dilakukan di Rumah Sakit Hewan Universitas Airlangga tersebut berupa pemeriksaan berat badan, suhu tubuh, denyut nadi, nafas, hingga tingkat dehidrasi. Selain itu BBKSDA Jatim secara rutin setiap bulannya melakukan pemeriksaan terhadap feses dari Owa jawa berumur 9 bulan tersebut. Hal ini untuk mengontrol adanya parasit atau tidak dalam pencernaannya. Owa Jawa tergolong salah satu primata yang paling terancam kepunahan. Penyebarannya sangat terbatas di bagian barat Pulau Jawa, di hutan-hutan dataran rendah dan hutan pegunungan bawah. Penyebaran paling timur adalah di wilayah Gunung Slamet serta di jajaran Pegunungan Dieng. Itu sebabnya Organisasi konservasi dunia IUCN memasukkannya ke dalam kategori Genting (EN, endangered). Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

TN Sebangau Kedatangan 3 Duta Besar, Siapa aja ya?

Palangka Raya, 12 Februari 2018. Taman Nasional Sebangau kembali menjadi magnet bagi para petinggi dunia. Kali ini Duta besar Indonesia untuk Norwegia, Bapak H.E Todung Mulya Lubis, Duta Besar Norwegia H.E Vegard Kaale dan Duta besar Finlandia H.E Paivi Hitunen Toivo berkesempatan untuk menjelajah dan melakukan observasi lapangan ke Resort Mangkok yang berada di Seksi Pengelolaan Wilayah II (8/02/18). Dalam kunjungan ini para Duta Besar juga di dampingi oleh beberapa counsellor serta Direktur Jenderal dan Direktur lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Luar Negeri. Disambut hangat oleh Kepala Balai TN Sebangau, Ir. Anggodo, MM serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah Dr. Guntur Talajan sebagai tuan rumah, ketertarikan dan kegembiraan terlihat dari para peserta. Agenda utama kunjungan adalah melihat langsung proses suksesi alami melalui kegiatan restorasi ekosistem di TN Sebangau, Treking, belajar tata hidrologi gambut lewat penjelasan sekat kanal dan alat monitoring tinggi muka air, serta mengamati sarang Orangutan juga berdiskusi tentang pengelolaan kawasan dilakukan saat kunjungan. Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penanaman pohon. “Ayo datang dan kunjungi Taman Nasional Sebangau, tempat yang mempunyai keunikan hutan rawa gambut” ujar Todung, sembari ikut mempromosikan wisata di Sebangau. Menurut pria yang baru saja dilantik sebagai Duta Besar Indonesia untuk Norwegia, kedatangannya ke Sebangau adalah bentuk pembelajaran lapangan sebelum penugasanya. Mengembangkan skema pendanaan REDD+ adalah tugas berat yang akan dibawanya di Oslo nanti bersama CEO WWF Indonesia Bapak Rizal Malik yang kebetulan juga ikut serta dalam rombongan. Sumber : Balai Taman Nasional Sebangau.
Baca Berita

Menyamakan Persepsi Terkait Peragaan Lumba-Lumba dan Satwa Lainnya

Pontianak, 12 Februari 2018. Balai KSDA Kalimantan Barat (BKSDA Kalbar) memfasilitasi pertemuan antar pihak terkait rencana peragaan Lumba-lumba dan aneka satwa lainnya dari Taman Impian Jaya Ancol di Paradis-Q Water Park Kubu Raya yang akan digelar pada tanggal 15 Februari s.d 18 Maret 2018. Acara dihadiri Kepala Dinas Pangan, Peternakan dan Hewan Provinsi Kalimantan Barat, Kepala Balai KSDA Kalbar, perwakilan dari Dinas Kelautan Provinsi Kalbar, Dinas terkait di Kab. Kubu Raya, mitra/penggiat konservasi dari WWF Program Kalimantan Barat, Yayasan Titian, serta dari Ikatan Dokter Hewan Kalbar. Dari presentasi yang disampaikan pihak penyelenggara, dari proses perijinan hingga rencana pelaksanaan telah dilakukan melalui prosedur yang ketat sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dan berdasarkan keterangan dari Kadis Pangan, Peternakan dan Hewan Provinsi Kalbar drh. Manan yang pada kesempatan ini menyampaikan pertimbangan teknis menyatakan bahwa dari 3 unsur yang meliputi aturan perlintasan hewan, Kesehatan hewan, dan animal welfare telah dipenuhi oleh pihak penyelenggara sehingga tidak ada alasan untuk menahan peragaan satwa tersebut. Namun demikian Beliau menyampaikan pesan dalam animal welfare agar mempedomani aturan yang berlaku. Kepala Balai KSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta menyampaikan, bahwa "Dalam pelaksanaannya nanti kita akan sama-sama mengawasi dan mendampingi sehingga kesejahteraan dan kesehatan satwa benar-benar diperhatikan" tegas Kepala Balai KSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta. Sementara masukan dari perwakilan Dinas Kelautan menyampaikan terkait perijinan baik peragaan dan perlintasan kewenangan masih di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), namun demikian lumba-lumba tersebut termasuk 20 satwa yang menjadi prioritas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sehingga dimohon ada koordinasi antar pihak. Dikatakan Happy sebagai pemerhati konservasi, agar kedepan peragaan serupa diluar lembaga konservasi tidak lagi dilakukan karena edukasi terhadap hal tersebut bisa melalui sosial media. Sebagai masukan justru saat ini lembaga konservasi harus mulai memberikan support edukasi melalui sarana-sarana media sosial. Dari Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) menyarankan pada penyelenggara, bahwa kesejahteraan hewannya/animal welfarenya untuk benar-benar diperhatikan. Pihak penyelenggara menyampaikan bahwa perawatan harian untuk satwa meliputi perawatan kesehatan satwa menyeluruh, pemberian vitamin dan makan yang cukup sesuai dengan kebutuhan persatwa yang telah diukur dengan takaran yang dibutuhkan persatwa serta menjaga kualitas air kolam dengan ukuran dan standar kebutuhan satwa dengan takaran yang sudah ditetapkan dalam prosedur. Sebagai penutup acara, Kepala Balai KSDA Kalbar menyampaikan bahwa, apa yang disampaikan penggiat konservasi menjadi masukan yang baik. Masukan tersebut menjadi catatan bagi penyelenggara dan juga bagi pemerintah sendiri. Diharapkan Pertemuan hari ini menjadi jalan tengah, selama aturan masih membolehkan maka kita tidak dapat menolak yang harus kita lakukan adalah kontrol/monitor jalannya peragaan.(YS) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Tingkatkan Kualitas SDM, BBTN Lore Lindu Adakan Bimtek Analisis Penutupan Lahan

Palu, 12 Februari 2018. Pada tanggal 8 s.d 10 Februari 2018, Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BB TNLL) dengan dukungan Proyek Enhancing The Protected Area System in Sulawesi for Biodiversity Conservation (EPASS) melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis Analisis Penutupan Lahan Kawasan TNLL di Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III, Poso. Kegiatan ini bertujuan melatih Polisi Kehutanan (Polhut) dan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di BB TNLL dalam penguasaan teknik pengambilan data analisis penutupan lahan di lapangan, serta penguasaan teknik pengambilan data titik sampel menggunakan GPS, pengorganisasian dan perlakuan data. Kegiatan yang diikuti oleh 22 orang peserta ini dibuka oleh Plt Kepala Balai Besar TNLL, Dedy Asriady, S.Si., MP. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa data merupakan dasar dalam pengambilan kebijakan. Data yang baik akan dapat memberikan gambaran tentang kemajuan yang dilakukan dalam mengelola kawasan konservasi. Lebih lanjut beliau mengungkapkan bahwa TNLL memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan taman nasional lain di Indonesia. Hal ini terbukti dengan kehadiran organisasi Internasional yang datang untuk membantu dalam pengelolaan kawasan ini. Oleh karena itu, akan menjadi penting untuk penetapan spesialisasi PEH yang dapat menjadi ahli pada satu atau beberapa aspek tertentu dalam pengelolaan kawasan TNLL. Seperti yang disampaikan oleh panitia pelaksana, kegiatan ini penting untuk diselenggarakan mengingat tekanan pada kawasan TNLL semakin tinggi, tetapi dalam penanggulangannya dibatasi oleh kapasitas teknis dan pendanaan. Salah satu upaya untuk memaksimalkan pengelolaan kawasan TNLL yang sedemikian luas dapat dilakukan melalui adaptasi penggunaan teknologi terkini yang diawali dengan peningkatan kapasitas Polhut dan PEH di tingkat tapak. Dari hasil pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan Polhut dan PEH yang mampu untuk mengelola data hasil kegiatan lapangan. Pengajar yang terlibat dalam kegiatan ini berasal dari lingkup Balai Besar TNLL dan EPASS, dengan materi berupa (1) proyeksi, kalibrasi, upload dan download data GPS; (2) metode analisis penutupan lahan; (3) ekstraksi data spasial; dan (4) organisasi data dan pelaporan. Sumber : Humas Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Antisipasi Perburuan Satwa, Polhut Balai TN Bali Barat Rutin Patroli

Ambyarsari, 11 Februari 2018. Patroli pengamanan kawasan rutin dilakukan oleh Polisi Hutan (Polhut) Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Hal tersebut menjadi keharusan jika ingin kawasan hutan aman dari gangguan. Seperti yang dilakukan pada Minggu, 11 Februari 2018, tiga orang personil Resort Ambyarsari (Ketut Widiantara, Ketut Suardana, dan Yoyon Suharyadi) melakukan patroli pengamanan hutan di Blok Hutan Ambyarsari. Patroli dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri kawasan hutan yang rawan. Langkah demi langkah dilalui sambil menajamkan indra jikalau terdengar maupun terlihat sesuatu yang mencurigakan. "Patroli rutin adalah tugas utama kami sebagai Polhut untuk mengamankan kawasan hutan taman nasional" ujar Ketut Widiantara, Polhut yang juga menjabat sebagai Kepala Resort Ambyarsari, SPTN I TNBB. Blok Hutan Ambyarsari memiliki tipe geografis berupa lereng gunung yang cukup terjal. Jurang dan sungai tentunya menjadi bagian medan pegunungan ini. Pelanggaran yang masih terjadi di kawasan TNBB di antaranya perburuan satwa menggunakan jerat. Walaupun jumlah kasus ini sudah sangat jauh berkurang dibanding beberapa tahun sebelumnya, namun diakui masih saja ada oknum masyarakat yang berburu menggunakan jerat. Satwa yang menjadi target biasanya adalah mamalia seperti kijang atau babi hutan, namun tidak menutup kemungkinan targetnya adalah jenis lain seperti burung maupun ayam hutan. Jenis jerat yang dipasang menyesuaikan target buruan. Patroli rutin kali ini salah satunya menargetkan pengamanan dari perburuan menggunakan jerat ini. Lokasi-lokasi rawan di kawasan hutan dijelajahi. Hingga selesai patroli, tim memperoleh dua buah jerat terpasang yaitu pada koordinat S.08 14' 08,0" E 114 30' 38,2" dan Koordinat S 08 14' 08,2" E 114 30 37,8". Tindakan yang diambil adalah membersihkan jerat dan membawanya ke kantor Resort Ambyarsari.Tugas Polhut bukan hanya terbatas pada patroli pengamanan kawasan. Penyadartahuan melalui pendekatan persuasif kepada masyarakat adalah hal yang tidak kalah penting. Tanpa kesadaran dari masyarakat, tugas polhut akan semakin berat. Pendekatan persuasif kepada masyarakat menjadi salah satu cara efektif dalam menjaga kawasan konservasi. Rimbawan tidak pernah mengenal lelah. Itulah yang tertanam dipikiran para personil Polhut TNBB ini. Menjaga kawasan sebagai habitat satwa endemik Jalak Bali ini merupakan tugas dan tanggung jawab mulia sebagai seorang rimbawan sejati. "Kebanggaan bagi kami bisa turut menjaga kelangsungan hidup satwa liar di TN Bali Barat ini" kata Widiantara. Lalu dia melanjutkan "Semangat dan tanggung jawab sebagai seorang rimbawan merupakan modal utama kami untuk sepenuh hati menjaga kawasan ini". Sumber : Balai TN Bali Barat
Baca Berita

Berbagi Melalui Traveling

Pulau Harapan - Kepulauan Seribu, 12 Februari 2018. Judul di atas merupakan slogan dari program berbagi melalui traveling yang diusung oleh Kili Kili Adventure sebagai wujud kepedulian traveler terhadap pariwisata Indonesia. Program ini diwujudkan dalam berbagai kegiatan, salah satunya telah dilakukan pada tanggal 10 sd 11 Februari 2018 di Pulau Harapan dengan tema “We Sail to Coral Care” yang merupakan kegiatan #Kili2DayCare #8. Kegiatan ini diwujudkan dalam bentuk penanaman karang untuk mendukung rehabilitasi karang di perairan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Sebanyak 192 pcs fragmen karang yang berasal dari 4 genus karang, yaitu Acropora sp., Styllopora sp., Seriatopora sp., dan Pocillopora sp. ditanam dengan menggunakan metode rak paralon. Para peserta kegiatan ini yang berasal dari berbagai latar belakang dan golongan usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa, yang menyukai aktivitas petualangan dan perjalanan wisata yang memiliki nilai lebih yaitu edukasi, mengikuti dan terlibat langsung dalam proses penanaman karang. Para peserta terlihat antusias terlibat dalam penanaman karang ini karena kegiatan ini merupakan satu bentuk partisipasi mereka dalam upaya rehabilitasi terumbu karang di Taman Nasional Kepulauan Seribu. Selain penanaman karang, mereka juga menyerahkan donasi berupa tambat labuh kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bintang Harapan. Tambat labuh ini akan dipasang pada lokasi snorkeling untuk mengurangi pembuangan jangkar oleh pengemudi kapal. Pembuangan jangkar kapal merupakan salah satu penyebab kerusakan terumbu karang. Ternyata tidak susah untuk terlibat dalam upaya rehabilitasi terumbu karang. Pemulihan karang yang rusak itu berat, jelas lebih berat dari rindunya Dilan ke Milea. Tapi jika semua kalangan masyarakat mau peduli dengan cara mencegah penyebab kerusakan dan aktif dalam penanaman karang, maka terumbu karang di laut Indonesia masih akan lestari. Sumber : Yuniar Ardianti – Balai TN Kepulauan Seribu
Baca Berita

Balai KSDA Kalsel Ajak Masyarakat dan Mitra, Bersama - sama Cegah Karhutla

Sabuhur, Jorong, Tanah Laut, Kalsel - 12 Februari 2018. Suasana nyaman dan hening pagi masih terasa namun aula desa Sabuhur sudah hangat dengan kehadiran masyarakat yang semangat dan ceria. Masyarakat dan pamong desa juga petugas Balai KSDA Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel), Manggala Agni Kalsel, staff Kecamatan Jorong dan Desa Sabuhur semua berkumpul bersatu padu mengikuti acara "Pembinaan Dan Penyadartahuan Masyarakat Desa Sekitar Kawasan Konservasi Tentang Pengendalian Kebakaran Hutan”. Acara yang digagas BKSDA Kalsel tersebut, dibuka secara resmi oleh Sekcam Jorong. Pak Sekcam sangat mengapresiasi inisiatif acara ini dan mengharapkan partisipasi warga masyarakat dalam ikut menjaga kemungkinan kebakaran hutan khususnya di sekitar SM Pelaihari dan juga di lahan-lahan masyarakat. Sekcam mengharapkan acara ini dapat membahas cara-cara sehingga partisipasi masyarakat dalam pengendalian kebakaran hutan dapat maksimal. Pembukaan acara penyadartahuan juga dihadiri Kabag PE Setditjen KSDAE, wakil dari Polsek Jorong, Sekretaris Desa Sabuhur, koordinator Manggala Agni Kalsel dan Staff BKSDA Kalsel. Acara penyadartahuan selanjutnya diisi dengan pembinaan dari narasumber berasal dari Koordinator Manggala Agni Kalsel, Polsek Jorong, dosen/pengajar Fak. Kehutanan Univeristas Lambung Mangkurat (Unlam) dan BKSDA Kalsel. Mari bersama-sama melalui kemitraan BKSDA Kalsel, Ditjen KSDAE bersama masyarakat dan para pihak untuk mencegah kebakaran hutan di kawasan konservasi. Acara ini merupakan salah satu implementasi kegiatan RI-Norway pada Ditjen KSDAE (@nandpri, sabuhur, Kalsel, 120218) Sumber : Nandang Prihadi – Kabag Program & Evaluasi Setditjen KSDAE
Baca Berita

Upaya Penangkapan Buaya Air Asin Hasil Laporan Masyarakat ke Call Center BKSDA Aceh

Banda Aceh, 12 Februari 2018. Menindaklanjuti laporan masyakarat langsung melalui Call Center Balai KSDA Aceh di Nomor 085362836024 dan juga beberapa kabar yang viral di Media Sosial baik melalui postingan Youtube dan Facebook terkait dengan kemunculan Buaya Muara atau kerap dikenal juga dengan Buaya Air Asin (Crocodylus porosus). Tim penaggulangan konflik buaya dengan manusia BKSDA Aceh pada tanggal 06 Februari 2018 yang dipimpin langsung Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe Bapak Dedi Irvansyah, SP merespon dengan turun ke Kecamatan Peudada Kabupaten Bireun Provinsi Aceh bersama pihak terkait dari Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Bireun, TNI Teretorial Bireun dan Kepolisian Resot Bireun di bantu mayarakat berupaya menangkap Buaya Muara yang muncul tersebut guna menghilangkan kerisauan masyarakat akan kemungkinan terjadinya serangan buaya. Upaya ini dilakukan ± 5 hari mulai dari survey menelusuri Muara sampai ke wilayah sungai di sekitar pemukiman, akan tetapi sampai tanggal 11 Februari 2018 Buaya tersebut masih belum juga masuk ke dalam perangkap yang dipasang. Selain melakukan upaya penangkapan tersebut tim bersama pihak terkait juga melakukan penyadartahuan kepada masyarakat terkait ketentuan perlindungan dan pelestarian satwa liar Buaya Muara dilindungi berdasarkan Undang –Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengaweta Jenis Tumbuhan Dan Satwa Liar. Buaya Muara atau dikenal juga dengan sebutan Buaya Air Asin (Crocodylus porosus) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Kingdom Animalia Phylum Chordata Class Reptilia Ordo Crocodylia Family Crocodyliae dengan status konservasi Least Concern (LC) berdasarkan IUCN Red List Category dengan wilayah penyebarannya mulai dari Samudera Pasifik (perairan Srilanka hingga perairan Philipina) sampai dengan Samudera Hindia (perairan Australia – perairan Kepulauan Vanuatu). Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Balai TN Rawa Aopa Watumohai Gelar Berbagai Pelatihan

Keberadaan potensi flora dan fauna yang harus dijaga kelestariannya termasuk didalamnya berbagai permasalahan dari gangguan dan ancaman yang dihadapi oleh Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TN RAW) sangatlah dinamis, untuk itu diperlukan sumberdaya yang tidak hanya handal menghadapi situasi dilapangan akan tetapi juga memiliki keterampilan khusus didalam melaksanakan tugas-tugas pengelolaan. Berangkat dari hal tersebut, Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai melaksanakan kegiatan In House Training dalam hal peningkatan kapasitas petugas yang terbagi dalam dua pokok pelatihan yang pertama adalah kegiatan monitoring potensi keanekaragaman hayati kemudian dilanjutkan dengan pelatihan penggunaan receiver GPS dan pengoperasian aplikasi GIS (Geographic Information System) sederhana. Kegiatan In House Training tersebut dilaksanakan pada tanggal 12 Februari 2018 dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang yang berasal dari perwakilan Seksi, Resort dan petugas MMP (Masyarakat Mitra Polhut). Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Balai TN RAW, Bapak Ali Bahri, S.Sos., M.Si sedangkan materi pelatihan GIS diberikan oleh Bapak La Ode Akhmad MM (PEH Pertama Balai TN RAW) dan monitoring kehati oleh Bapak Putu Sutarya (PEH Pelkasana Balai TN RAW) Pada pelatihan ini juga dilakukan praktek langsung dilapangan dengan output berupa peta untuk pelatihan GIS dan bentuk metode dengan pemahaman yang sama diantara petugas dalam melakukan monitoring kenakeragaman hayati. Dari kegiatan ini diharapkan para petugas bersama masyarakat memiliki keterampilan khusus dan menjadi nilai tambah dalam hal meningkatkan kualitas pekerjaan di tingkat tapak. Penguasaan konsep pembuatan peta secara sederhana (basic) dan keseragaman penggunaan metode monitoring dapat meminimalisir kesalahan atau human error yang seringkali terjadi dan dilakukan oleh petugas dilapangan terutama dalam hal mengambil dan menginput data. Pada akhirnya kualitas data yang dihasilkan menjadi lebih baik, bertanggung jawab dan realistis yang hasilnya bermuara dalam hal membantu Balai TN RAW dalam menghasilkan berbagai keputusan dan kebijakan yang lebih terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Sumber : Balai TN Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Penyelesaian Konflik Tenurial Kawasan Taman Nasional Melalui Psyco Socio Culture

Waingapu, 12 Februari 2018. Proses panjang pengembalian fungsi kawasan TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) yang berbatasan langsung dengan desa Modu Waimaringu akhirnya dapat terselesaikan. Diawali dengan upaya pendekatan komunikasi yang intensif dengan mengikuti kondisi socio budaya masyarakat oleh petugas lapangan kepada 2 desa yaitu desa Modu Waimaringu dan desa Rewarara tercapai kata sepakat untuk menyelesaikan permasalahan tenurial kawasan. Program selanjutnya yang dilakukan oleh TN Matalawa kepada masyarakat adalah melalui upaya penyerahan bantuan ekonomi produktif sebagai bentuk alih komoditi, alih lokasi, dan alih profesi. Awal terjadinya permasalahan lahan tenurial kawasan adalah berupa penggunaan kawasan untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat melalui pengolahan lahan pertanian secara tradisional. Mengingat proses tersebut telah berjalan turun temurun dan di khawatirkan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem maka pihak pengelola kawasan TN Matalawa mengupayakan pengembalian fungsi kawasan melalui pengembangan ekonomi produktif yaitu dengan memberikan bantuan ternak. Menurut Kepala Balai TN Matalawa (Maman Surahman, S.Hut., M.Si) bahwa upaya penyelesaian permasalahan tenurial di dalam kawasan taman nasional melalui konsep psyco socio culture dirasakan dapat menyelesaikan permasalahan kawasan dengan menyentuh psikologi masyarakat dan kondisi sosial budaya yang sudah terbentuk secara turun temurun. Harapannya dengan dilaksanakannya pengembangan ekonomi produktif bagi masyarakat desa Modu Waimaringu, dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kawasan hutan seperti yang diungkapkan oleh “Abdul Basit Nasrianto, S.Hut., M.Sc (Kepala SPTN 1 Waibakul), dalam acara penyerahan bantuan tersebut. Selain itu Abdul Basit juga memgapresiasi dukungan aparatur pemerintah desa Modu Waimaringu, desa Rewarara, kecamatan Wanokaka dan Polsek Wanokaka dalam mengawal proses kegiatan dari awal hingga akhir pelaksanaan. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Menariknya Birdwatching di Konferensi Peneliti & Pemerhati Burung Indonesia

Semarang, 10 Februari 2018. Balai KSDA Jawa Tengah bekerja sama dengan Fakultas MIPA Universitas Negeri Semarang, Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP), Burung Indonesia, Yayasan Kehati, dan beberapa institusi yang bergerak di bidang lingkungan hidup dan hidupan liar lainnya khususnya spesies-spesies aves (Kutilang, Raptor Indonesia, IPB, Balai TN Karimun Jawa, LIPI, Wetlands Indonesia dan banyak lainnya) menyelenggarakan kegiatan Konferensi Peneliti dan Pemerhati Burung Indonesia ke-4 yang bertempat di auditorium Prof. Dr. Wuryatno, kampus Universitas Negeri Semarang Kampus Sekaran (Unnes Sekaran), Gunungpati, Semarang. Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari dari tanggal 8 s.d. 10 Februari 2018 yang diikuti 350 orang peserta dari seluruh Indonesia, juga dari Thailand dan Inggris. Menariknya, kegiatan ini diawali dengan seminar dengan 11 keynote speaker dari Kementerian LHK, IPB, WCS-IP, Univ. Atma Jaya, Faculty of Forestry - Kasetsart University Thailand, LIPI dan Wildlife Photographer, presentasi paper lebih dari 100 orang peneliti dan pengamat burung Indonesia dan workshop dengan tema (a) Penelitian dan Konservasi Raptor, (b) Penandaan Burung dan (c) Standarisasi Metode Perkiraan Populasi dan Okupansi Burung. Birdwatching menjadi kegiatan penutup yang dilaksanakan di Rawa Pening, Ambarawa, Kabupaten Semarang (10/02/18). Dengan pengamatan ini diharapkan dapat diperoleh data terbaru dan akurat mengenai jenis-jenis burung yang berada di kawasan Rawa Pening sebagai salah satu kawasan lahan basah penting di Provinsi Jawa Tengah. Rawa Pening seluas 2.670 hektar merupakan kawasan budidaya ikan air tawar menggunakan karamba, juga kawasan wisata perairan. Birdwatching dilakukan menggunakan perahu selama 4 jam dari jam 8 pagi s.d jam 12 siang. Sebanyak 9 perahu masing-masing menyusuri rute yang ditengarai merupakan jalur terbang burung maupun lokasi mencari makan dan hinggap. Setelah selesai pengamatan, masing-masing kelompok memberikan data jenis burung yang dijumpai. Kemudian dilakukan diskusi dengan narasumber Sebastian van Balen, salah seorang penulis buku “Panduan Lapangan Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan”. Dalam diskusi ini dikonfirmasikan kembali hasil identifikasi jenis-jenis burung yang ditemui. Dijumpai 46 spesies burung dalam pengamatan di Rawa Pening hari itu. Beberapa merupakan jenis migran seperti Cangak Abu (Ardea cinerea), Bambangan Kuning (Ixobrychus sinensis). Menurut Howes (2003), kehadiran burung air telah merupakan suatu indikator penting dalam pengkajian mutu dan produktivitas suatu lingkungan lahan basah, apalagi setelah diikrarkannya Konvensi Ramsar pada tahun 1971. Gangguan terhadap burung air, fungsi yang dimilikinya serta berbagai misteri yang masih menyelimuti proses migrasi mereka, menjadikan burung air sebagai objek penelitian dan pengkajian yang panjang di seluruh dunia. Sumber : Sisca Febrianti L, SP – PEH Balai KSDA Jawa Tengah
Baca Berita

Pemulangan Robert ke Jambi

Medan, 12 Februari 2018. Masih ingat Robert, si Orangutan Sumatera yang pada tanggal 26 Desember 2017 lalu, diserahkan ke Pusat Karantina Orangutan Sumatera (PKOS) Batu Mbelin, Sibolangit, untuk menjalani perawatan dan penanganan medis akibat mengalami patah tulang di Stasiun Reintroduksi Bukit Tiga Puluh Jambi. Tim Medis dari Sumateran Orangutan Conservation Program (SOCP) yang dibantu oleh dr. Andreas Messikomer, ahli Orthopedi berkebangsaan Swiss, pada tanggal 27 Desember 2017, segera melakukan operasi reposisi tulang, dan operasi tersebut dinyatakan berhasil. Selanjutnya, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) melaporkan bahwa Orangutan Robert telah selesai menjalani operasi dan perawatan serta siap untuk dikembalikan ke Stasiun Reintroduksi Bukit Tigapuluh di Jambi. Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melakukan pemeriksaan, dan kemudian mengirimkan kembali Robert ke Stasiun Reintroduksi Bukit Tigapuluh Jambi, pada tanggal 5 Februari 2018. Robert tiba di Jambi pada tanggal 7 Februari 2018, bersamaan dengan 6 (enam) ekor Orangutan Sumatera lainnya yang juga telah selesai masa rehabilitasinya di PKOS Sibolangit. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Respon Cepat BKSDA Kalteng Tindaklanjuti Laporan Serangan Gangguan Orangutan

Palangkaraya, 11 Februari 2018. Sabtu, Tanggal 10 Februari 2018 pukul 08.44 WIB, terdapat laporan yang masuk melalui call centre Balai KSDA Kalimantan Tengah (BKSDA Kalteng) dari warga Desa Sungai Raja, Kec. Jelai, Kab. Sukamara An. Robi. Laporan berupa adanya gangguan satwa orangutan yang diperkirakan berjumlah 2 (dua) individu yang memasuki areal hutan di sekitar persawahan warga. Karena warga takut Orangutan tersebut masuk ke areal persawahan mereka dan menyerang warga, maka dilaporkanlah kejadian ini ke call centre BKSDA Kalteng. Orangutan tersebut terlihat terakhir kali pada hari kamis/08 Februari 2018. Menindaklanjuti hal tersebut, Tim dari BKSDA Kalteng yang merupakan staf Resort SM Lamandau Pos Sungai Pasir langsung melakukan pengecekan lapangan pada tanggal, 10 Februari 2018 pukul 13.00 sd 17.00 WIB. Setelah berkoordinasi dengan Kepala Desa dan melakukan pengecekan lapangan, tim tidak menemukan Orangutan. Namun tim menemukan 4 sarang orangutan lama, tanaman tebu dan pohon pisang yang diduga dirusak/dimakan orangutan. Lokasi gangguan dengan hutan terdekat ± 1 km. Selama dilokasi, tim juga memberikan penyuluhan kepada pemilik kebun untuk selalu berhati-hati dalam menjalankan aktivitasnya serta segera melaporkan dan mendokumentasikan apabila ada gangguan/melihat Orangutan kembali muncul disekitar persawahan. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

TN Bali Barat Bentuk Tim Cepat Tanggap Penanganan Pohon Tumbang

Gilimanuk (Jumat, 9/2/2018), Taman Nasional Bali Barat (TNBB) membentuk tim cepat tanggap penanganan pohon tumbang di sepanjang jalan raya Gilimanuk-Denpasar yang berada di wilayah TNBB. Tim berjumlah 15 personil ini dibentuk untuk mengantisipasi kejadian pohon tumbang yang sering terjadi saat musim hujan. Dalam satu bulan terakhir, setidaknya empat kejadian pohon tumbang terjadi di dalam kawasan taman nasional. Hujan lebat disertai angin menjadi penyebab utama permasalahan. Kejadian pohon tumbang seringkali menyebabkan kemacetan panjang. Jika tidak segera ditangani, tentunya bisa mengganggu bahkan membahayakan pengguna jalan. Selain penanganan langsung, upaya antisipasi juga dilakukan dengan mendata pohon yang rawan tumbang. Dalam pendataan awal, setidaknya tercatat lima pohon yang harus segera ditangani. Lima pohon tersebut adalah: 2 pohon Pilang ( Acacia leucophloea) di daerah Candi Bakungan, 1 pohon Asem kranji (Dialium indum) di daerah Cekik, 1 pohon Lontar (Borasus flaberifer) di daerah Bakungan, dan 1 pohon Kresek (Ficus sp) di depan Monumen Lintas Laut. Kondisi pohon ada yang sudah mati ada juga yang tajuknya miring ke arah jalan. Rencananya akan dilakukan pemotongan/pemangkasan. Selain membentuk tim, TNBB juga bekerjasama dengan beberapa pihak, antara lain: BPBD Jembrana, Satlantas Polres Jembrana, Polsek KP3 Gilimanuk, Dinas Perhubungan, KPH Bali Barat, PLN Gilimanuk, Kecamatan, dan Kelurahan. Hal ini dimaksudkan agar penanganan maupun antisipasi bisa segera dilakukan. Dengan dibentuknya tim maupun kerjasama dengan parapihak, diharapkan kejadian pohon tumbang bisa cepat ditangani. Hal ini merupakan bagian dari upaya peningkatan pelayanan masyarakat yang dilakukan oleh TNBB. Sumber: Wiryawan TNBB

Menampilkan 8.865–8.880 dari 11.140 publikasi