Sabtu, 18 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Kisah Elang “Amatir”

Garut – 13 Januari 2018, Kisah Elang “Amatir” ini terjadi di salah satu kampung dari “kota dodol - Garut”, tepatnya di Kampung Pancongan RT 4 RW 10 Desa Sukamenak, Kecamatan Wanaraja, Garut, dimana telah terjadi insiden/kecelakaan terbang dari seekor Elang brontok. Mang ENYUH adalah orang yang menyaksikan insiden/kecelakaan terbang dari Elang”Amatir” ini, dimana menurut penuturan yang bersangkutan bahwa pada hari Selasa tanggal 13 Februari 2018 sekira jam 13.50 WIB, melihat seekor Elang brontok (Nisaetus cirrhatus) terbang dan menukik tajam akan menangkap seekor ayam kampung, namun entah kenapa elang tersebut tiba-tiba kehilangan kendali saat menukik ke permukaan tanah untuk menangkap seekor ayam kampung, sehingga mengakibatkan Elang “Amatir” tersebut diindikasikan patah sayap dan luka di paruh sehingga tidak dapat terbang lagi dan mengalami stres. Akhirnya Mang Enyuh, melaporkan kejadian tersebut ke Petugas Resor Telaga Bodas, selanjutnya diteruskan ke Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW V Garut. Akhirnya Elang tersebut saat ini telah diamankan oleh Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW V Garut di Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) guna mendapatkan perawatan secara intensif. Diharapkan setelah pulih, Elang ini akan dilatih menjadi elang yang “profesional” dan handal dalam berburu sehingga tidak akan terjadi insiden/kecelakaan terbang lagi. Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Petugas Gabungan BKSDA Aceh Berhasil Padamkan Si Jago Merah di SM Rawa Singkil

Aceh – 14 Februari 2018, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh berhasil melakukan pemadaman kebakaran di Suaka Margasatwa Rawa Singkil, yang berlokasi di Desa Sinebok Jaya, Kec Trumon, Kab Aceh Selatan, wilayah kerja Resort Trumon, SKW 2 Subulussalam. Tim yang dipimpin oleh Kepala Seksi 2, Hadi Sofyan dengan personel 30 orang, dibantu dari Polres Aceh selatan dan Polsek Trumon sebanyak 20 orang, Damkar Aceh Selatan 8 orang, Koramil Trumon dan Yonif macan leuser 8 orang, Kecamatan Trumon 2 orang, serta BPBK Aceh Selatan 12 orang. Dalam proses pemadaman tersebut petugas menggunakan peralatan lengkap seperti, mobil slip on, mobil damkar Asel, monilog, pompa ingnjing dan peralatan tangan khusus pemadaman. Akses ke lokasi dan terbatasnya sumber air merupakan kendala yang di hapadi petugas dalam proses pemadaman. Sumber: BKSDA Aceh
Baca Berita

Pembahasan Rancangan Penataan Blok Tahura Lati Petangis

Bogor – 7 Februari 2018, Bertempat di ruang rapat Ditjen KSDAE – Ruang Komodo telah dilaksanakan rapat pada tanggal 7 Pebruari 2018 di Bogor dalam rangka pencermatan dan pembahasan rancangan penataan Blok TAHURA Lati Petangis. Rapat dipimpin oleh Direktur Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam yang diwakili oleh Kepala Sub Direktorat Penataan Kawasan Konservasi serta dihadiri oleh ± 25 orang yang mewakili unsur UPTD TAHURA Lati Petangis, Perwakilan Dit. PJLHK, Perwakilan Dit. KKH, Perwakilan Dit. KK, Perwakilan Dit. BPEE, Perwakilan Dit. PPKH, Perwakilan subdit lingkup Dit. PIKA dan Anggota POKJA Penilaian Rancangan Penataan Zona/Blok KSA dan KPA. Rapat dimaksud merupakan pelaksanaan amanat P.76/MENLHK-SETJEN/2015 dalam rangka penilaian dokumen rancangan blok yang meliputi penilaian terhadap kelengkapan dan kesesuaian aspek administratif dan substansi penataan blok pengelolaan untuk dapat disahkan oleh Dirjen KSDAE. Dalam kesempatan rapat tersebut, telah dilakukan presentasi materi substansi rancangan blok TAHURA Lati Petangis oleh Tim UPTD TAHURA Lati Petangis. Berdasarkan dasar hukum penetapan kawasan TAHURA Lati Petangis Keputusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.4335/menLHK-PKTL/KUH/2015 dengan wilayah kelola di Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur dan dengan mempertimbangkan berbagai aspek kondisi potensi kawasan dan permasalahan kawasan serta mempertimbangkan efektifitas pengelolaan kawasan dalam rangka menjamin kawasan TAHURA Lati Petangis sesuai dengan fungsi, maka rancangan blok TAHURA Lati Petangis terdiri dari Blok Khusus seluas 1.185,70 ha, Blok Koleksi seluas: 484,95 ha, Blok Pemanfaatan seluas 205,65 ha, Blok Perlindungan seluas 1.569,07 ha. Beberapa saran dan masukan dari peserta rapat disampaikan untuk perbaikan penyempurnaan dokumen rancangan blok pengelolaan TAHURA Lati Petangis. Setelah pembahasan rancangan blok pengelolaan TAHURA Lati Petangis tersebut maka Tim Penyusunan UPTD TAHURA Lati Petangis akan segera melakukan perbaikan sesuai dari hasil diskusi dan masukan para peserta rapat. Diharapkan perbaikan dokumen rancangan blok segera di tindak lanjuti dan disampaikan kembali ke Pusat untuk proses pengesahan oleh Direktur Jenderal KSDAE. Sumber Berita Mugiharto HP, SHut, M.Si ( Pengendali Ekosistem Hutan Muda Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam )
Baca Berita

Dua Satwa Musuh Bebuyutan Diserahkan Masyarakat

Serang - 13 Februari 2018, Dari Provinsi paling barat pulau Jawa, tepatnya di kota Serang Banten, melalui Call Center Seksi Konservasi Wilayah I Serang Bidang KSDA Wilayah I Bogor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat telah mendapat laporan dari masyarakat bernama SUWANTO (60 th) pekerjaan Pensiunan BRIMOB yang beralamat di Kampung Pantogan Rt 01/Rw 06 Taktakan – Serang, yang berkeinginan untuk menyerahkan secara sukarela 2 ekor satwa yang tidak dilindungi Undang-Undang berupa 1 ekor ular sanca kembang (phyton reticulatus), umur 6 th/jenis kelamin betina, dan 1 ekor musang pandan (paradoxurus hermaphroditus), umur 3 th /jenis kelamin jantan. Selanjutnya Kepala SKW I Serang, Andri Ginson, SH. Bersama-sama dengan Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW I Serang langsung melakukan evakuasi terhadap kedua satwa tersebut. Saat ini, kedua satwa tersebut dirawat sementara di kantor SKW I Serang untuk diobservasi dan mendapatkan perawatan lebih lanjut dari dokter hewan yang berkompeten, sebelum dilepasliarkan. Kedua satwa tersebut memang tidak termasuk ke dalam jenis yang dilindungi Undang-undang, namun dengan kesadaran yang tinggi dari masyarakat tersebut, kedua satwa yang di alam “saling bermusuhan” itu diserahkan kepada pemerintah, dalam hal ini Balai Besar KSDA Jawa Barat penyerahan satwa tersebut menunjukkan indikasi bahwa kesadaran masyarakat akan pelestarian satwa liar semakin meningkat, hal ini semoga menjadi angin segar akan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat tentang konservasi tumbuhan dan satwa liar. Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Pulau Menjangan TN Bali Barat Kedatangan 16 Pelajar Internasional

Pulau Menjangan, 14 Februari 2018. Taman Nasional Bali Barat (TNBB) tepatny di Pulau Menjangan Senin, 12 Februari 2018 kedatangan kunjungan lapangan dari Singapura Amerika School (SAS). Rombongan sekolah internasional yang datang berjumlah 16 orang pelajar dan 3 orang pendamping yang difasilitasi oleh Friends of Menjangan serta didampingi oleh Petugas Resort Pulau Menjangan. Kunjungan tersebut merupakan rangkaian kegiatan stewardship, yaitu kegiatan perlindungan dan perbaikan kualitas lingkungan yang melibatkan suatu kelompok dengan tujuan untuk pemulihan sumberdaya alam dan mencegah hilangnya habitat alami. Bentuk kegiatannya berupa aksi bersih (clean up) pantai dan aksi bersih bawah air (under water clean up) di sekitar kantor Resort Pulau Menjangan. Selain itu, peserta juga diberikan pengetahuan tentang konservasi terumbu karang dan pentingnya menjaga terumbu karang dari dampak aktivitas wisata serta sampah di perairan. Peserta diajak memungut dan mengumpulkan sampah anorganik, khususnya plastik. Sementara untuk aksi bersih bawah air, peserta melakukannya sambil snorkeling dan free diving. Sampah yang dikumpulkan dari kegiatan tersebut sebanyak 52 Kg, berupa plastik, karet dan styrofoam. Suparno, pendiri sekaligus Ketua Friends of Menjangan, menyatakan kegiatan stewardship berupa clean up dapat menumbuhkembangkan minat cinta lingkungan sehingga muncul pemahaman dan tanggung jawab sebagai individu untuk menjaga kondisi lingkungan tetap sesuai fungsinya. Sementara Polhut Resort Pulau Menjangan, Tosin SH menjelaskan bahwa kegiatan clean up di Pulau Menjangan dilakukan secara kontinyu dan terjadwal, baik oleh petugas resort maupun mitra Balai TNBB. Tosin juga mengajak kepada semua pihak untuk terus berpartisi aktif dalam penanganan sampah di Pulau Menjangan sebagai salah satu bentuk tanggung jawab bersama dalam menunjang pelayanan wisata dan upaya konservasi Pulau Menjangan. Sumber : Balai TN Bali Barat
Baca Berita

Pererat Hubungan Multipihak, Kepala Balai TN Bali Barat Roadshow di Kabupaten Buleleng

Gilimanuk, 14 Februari 2018. Mendukung arahan cara baru mengelola kawasan oleh Dirjen KSDAE, Kepala Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Drh. Agus Ngurah Krisna, M.Si, terus mempererat hubungan multipihak dengan berkoordinasi langsung ke instansi terkait. Salah satunya yang berada di wilayah Kabupaten Buleleng, yaitu ke Pemerintah Kabupaten Buleleng, Kodim (TNI) dan Kepolisian (Polres). Koordinasi ke Polres dan Kodim dalam rangka meningkatkan dukungan lembaga dalam upaya pencegahan tindak pidana kehutanan (tipihut). Tipihut masih terjadi di kawasan hutan Bali Barat walaupun dgn skala relatif kecil. Upaya pencegahan, sosialisasi, serta sinergitas antar instansi pemerintah harus terus dilakukan. Pada kesempatan ini, Kepala Balai TNBB juga berkoordinasi ke Asisten I Setda Kabupaten Buleleng, Made Arya Sukerta, SH, MH. guna dukungan terhadap perlindungan kawasan konservasi. Dukungan dimaksud kaitannya dengan sinergitas kepentingan ritual keagamaan umat Hindu khususnya di zona religi budaya dan sejarah yang ada di kawasan TNBB di Kabupaten Buleleng. Hasil dari pertemuan dengan Kasdim Buleleng, khususnya Kodim Buleleng siap mendukung bersama kepolisian untuk membantu pengamanan kawasan hutan di TNBB. Koordinasi bisa dilanjutkan ke tingkat lapangan di Koramil dan Babinsa. Hasil koordinasi dengan Asisten I Pemkab Buleleng, baik pihak pemerintah kabupaten sangat mendukung tupoksi TNBB untuk mempertahankan keutuhan kawasan. Selain itu beliau juga mendorong supaya perjanjian kerjasama (PKS) segera diselesaikan. Saat ini draft PKS terkait zona religi di TNBB sedang diajukan permohonan persetujuannya kepada Dirjen KSDAE. Sumber : Balai TN Bali Barat
Baca Berita

Dirjen KSDAE : Kuasai Wilayah Kerja dan Koordinasi Aturan Senpi

Way Kambas, 13 Februari 2018. Tim patroli Polisi Kehutanan (Polhut) dan RPU (Rhino Protection Unit) menemukan bangkai seekor gajah betina dewasa berusia sekitar 20 tahun pada tanggal 12 Februari 2018 di wilayah kerja resort Kuala Penet Taman Nasional Way Kambas. Gajah diperkirakan telah mati 2 hari sebelum bangkainya ditemukan. Berdasarkan hasil pemeriksaan tim yang dipimpin langsung oleh Subakir Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas didampingi kepolisian, Polhut, RPU, ERU dan WCS, gajah tersebut diduga mati di tangan pemburu liar. Hal ini berdasarkan adanya temuan 5 (lima) bekas lubang peluru ditubuhnya. Kondisi bangkai gajah ditemukan dalam keadaan belalai putus dan gigi serta caling telah hilang. Otopsi terhadap bangkai gajah tersebut telah dilakukan oleh dokter hewan TN Way Kambas drh Diah Hesti Anggriani disaksikan oleh Balai Gakkum Sumatera untuk memastikan lebih lanjut penyebab kematian gajah tersebut. Selain itu, Balai TN Way Kambas bersama reserse kriminal khusus Polres Lampung Timur dan Polda Lampung juga telah melakukan olah TKP untuk penanganan kasus lebih lanjut. Dirjen KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc meminta untuk segera dilakukan penyelidikan secara cermat sampai pelakunya terungkap dan diusut hingga tuntas. Dirjen meminta kejadian ini harus menjadi pelajaran pahit bagi pengelolaan Taman Nasional dan kawasan konservasi di seluruh Indonesia. “Staff resort harus menyatu dengan masyarakat dan menguasai wilayah kerjanya” demikian salah satu perintah Dirjen KSDAE dalam arahannya melalui telepon selularnya kepada Kepala Balai TN Way Kambas di ruang kerja tadi malam. Selain melakukan kegiatan penyelidikan, Ir. Wiratno, M.Sc juga menegaskan agar kasus ini menjadi pembelajaran, Way kambas sebagai salah satu habitat penting bagi pelestarian gajah sumatera maka pergerakan satwa tersebut di habitatnya harus terus dipantau melalui teknologi terbaik. Untuk itu, Dirjen KSDAE memerintahkan Kepala Balai TN Way Kambas agar melakukan pemasangan GPS Collar bagi 5 kelompok gajah liar yang ada di dalam Taman Nasional Way Kambas. Selain itu, untuk mencegah kejadian kematian satwa akibat senjata api, Dirjen KSDAE akan melakukan koordinasi aturan penggunaan senapan angin dengan Polri. “Hal ini sangat penting dilakukan mengingat sekarang ini semakin banyak satwa kita yang mati akibat luka tembakan”kata Wiratno. Berdasarkan data dari TN Way Kambas dan Forum Konservasi Gajah Indonesia, sejak tahun 2011-2018 jumlah kematian gajah di Taman Nasional Way Kambas sebanyak 28 individu. Hal ini merupakan peringatan bagi pengelola Taman Nasional Way Kambas untuk lebih meningkatkan perlindungan kawasan yang memiliki populasi gajah liar sekitar 247 individu. Penguatan pengelolaan berbasis resort (Resort Base Management) merupakan salah satu upaya pengelolaan kawasan konservasi dengan melibatkan masyarakat sekitarnya. Selain itu, penambahan satu unit Elephant Response Unit (ERU) di resort Kuala Penet SPTN wilayah III diharapkan bisa membantu penanganan konflik gajah di wilayah resort terdekat. Sumber : Balai TN Way Kambas
Baca Berita

Sosialisasi Program Pemberdayaan Perempuan Bersama Pihak Terkait di TN Matalawa

Waingapu, 13 Februari 2018. Salah satu kunci keberhasilan program adalah adanya dukungan multipihak dalam pelaksanaan suatu program/kegiatan. Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu contoh program/kegiatan yang membutuhkan dukungan banyak pihak, sehingga tujuan dari program pemberdayaan tersebut dapat dirasakan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Pada tahun 2018, Taman Nasional Matalawa melaksanakan program pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan perempuan sebagai pelaku utama pelaksana program. Setelah beberapa rangkaian program dilalui dalam rangka kegiatan pemberdayaan masyarakat, pada hari ini TN Matalawa menyelanggarakan sosialisasi program pemberdayaan perempuan bersama pihak terkait. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyamakan persepsi, sekaligus memantapkan dukungan banyak pihak guna terlaksananya kegiatan pemberdayaan perempuan di Desa Padira Tana, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Kabupaten Sumba Tengah. Sosialisasi program tersebut dilaksanakan di Padadita Beach Hotel, dan dalam pelaksanaannya dihadiri oleh Aparatur Desa Padira Tana, kelompok pemberdayaan perempuan Desa Padira Tana, Instansi terkait (Bappeda, Dinas Koperasi, Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Tengah), Forum Jamatada, serta Forum perempuan Sumba (Forimba). Kegiatan diawali dengan pembukaan acara sosialisasi oleh Kepala Balai TN Matalawa (Maman Surahman, S.Hut.,M.Si) dan dilanjutkan dengan penyampaian arahan program. Beliau menyampaikan keberhasilan program pemberdayaan perempuan ini sangat bergantung pada dukungan pihak-pihak yang hadir pada pertemuan tersebut, sehingga harapan akan terwujudnya kemandirian ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan TN Matalawa dapat terwujud. Selain Kepala Balai TN Matalawa, panitia pelaksana juga mengundang beberapa Narasumber dari instansi terkait untuk menyampaikan materi terkait program pemberdayaan perempuan yang dilaksanakan oleh TN Matalawa di Desa Padira Tana. Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

TN Kutai Tingkatkan Sosialisasi Penyelamatan Satwa Liar

Teluk Pandan, 13 Februari 2018. Kepala Balai Taman Nasional Kutai Bapak Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc. bersama dengan beberapa staf melakukan sosialisasi penyelamatan satwa liar khusus orangutan di Desa Teluk Pandan, Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Kutai Timur pada kegiatan pengembangan kapasitas masyarakat dengan tema “Bersama Kader Pemberdayaan Masyarakat Kita Tingkatkan Kreativitas dan Partisipatif Masyarakat Menuju Desa Mandiri” yang dilaksanakan oleh DPM-PD Provinsi Kalimantan Timur. Sosialisasi dihadiri oleh ± 100 orang yang terdiri dari Camat Teluk Pandan beserta Staf,Kepala Desa Teluk Pandan, Kepala Desa Kandolo, Ketua RT lingkup Desa Teluk Pandan, Ketua Pemuda Pancasila Bontang, BABINSA, LMD lingkup Kecamatan Teluk Pandan yaitu LMD Teluk Pandan, LMD Danau Redan, LMD Kandolo, LMD Martadinata, LMD Suka Damai, LMD Suka Rahmat, Masyarakat Desa Teluk Pandan dan Desa Kandolo serta Staf PT. PAMA. Kepala Desa Teluk Pandan Bapak Baharuddin B, S. Ag. menyampaikan bahwa "Desa Teluk Pandan mendunia bukan karena hal positif tetapi adanya satwa yang mati yaitu orangutan". Kepala Desa Teluk Pandan berharap kepada masyarakat agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali dan menghimbau seluruh masyarakat agar jika melihat satwa segera melapor ke kantor desa dan dari kantor desa akan segera menghubungi petugas Balai Taman Nasional Kutai. Sedangkan Camat Teluk Pandan menyampaikan bahwa kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat ini merupakan hal positif yang harus didukung dan Camat Teluk Pandan juga mengapresiasi kehadiran TN Kutai yang sekarang telah menjadi sahabat untuk mendukung kegiatan masyarakat misalnya bantuan bibit aren genjah dan mesin pengemasan gula semut kepada masyarakat. Kepala Balai Taman Nasional Kutai mendukung kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat sekaligus menyampaikan agar masyarakat dapat bekerjasama menjaga kelestarian Taman Nasional dengan tidak membunuh satwa khususnya Orangutan karena TN Kutai merupakan satu-satunya tempat di dunia untuk dapat melihat orangutan liar secara langsung. Pada kesempatan ini juga Kepala Balai TN Kutai menyampaikan kepada masyarakat bahwa jika masyarakat melihat satwa agar masyarakat tidak mengganggu apalagi membunuh satwa tetapi dapat segera melaporkan ke Balai TN Kutai melalui call center Balai TN Kutai untuk penanganannya agar tidak terjadi korban baik satwa maupun manusianya. Karena dengan adanya Taman Nasional diharapkan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat yang hidup disekitarnya. Sumber: TN Kutai
Baca Berita

Antisipasi Pelanggaran, Petugas TN Bali Barat Memeriksa dan Mendata Pencari Madu Hutan

Tegal Bunder, 12 Februari 2018, Petugas TN Bali Barat (TNBB) yg berada di wilayah SPTN II Buleleng melakukan pendataan lengkap terkait pencari madu ini. Berapa orang dan berapa banyak madu yg diperoleh dari dalam hutan. Tujuannya untuk mengetahui nilai ekonominya dan digunakan untuk mendorong masyarakat dalam pengelolaan lebah madu. Di hutan Semenanjung Prapat Agung, SPTN Wilayah II Buleleng, TNBB, terdapat desa penyangga yg masyarakatnya mempunyai profesi mencari madu hutan. Menurut salah seorang pencari madu, Pak Abdul Hamid, "Januari s.d Maret merupakan bulan dimana hutan Prapat Agung banyak terdapat madu, karena pohon sawo kecik, talok, anggrung, sono keling, timo, laban, kitejo, serta pohon lain sedang berbunga". Hasilnya cukup menjanjikan. Rata-rata sehari bisa mendapatkan satu sampai dua liter per orang. Jika beruntung, satu orang bisa mendapatkan lima liter madu dalam sehari. Harga madu asli di pasar setempat mencapai 100 s.d 150 ribu rupiah per 600 mililiter. Hasil pendataan tercatat sekitar 40 orang pencari madu dikawasan hutan taman nasional. Blok hutan Prapat Agung menjadi salah satu tempat favorit mereka. Setiap harinya rata-rata 25 orang masuk hutan mencari madu. Mereka berasal dari Desa Sumberklampok, Pejarakan, dan ada juga dari Desa Manistutu. Peralatan yg digunakan cukup sederhana. Rata-rata mereka membawa jerigen ukuran 5 liter, timba, korek api, sabit, serta bekal dan peralatan pribadi. Jam 7 pagi mereka mulai beraktifitas. Menggunakan sepeda motor, perlahan melaju menuju hutan. Selain nilai manfaat ekonomi bagi masyarakat, masuknya pencari madu berpotensi menimbulkan persoalan lain. Adanya modus dari oknum yang punya tujuan lain harus diantisipasi. Misal lapornya mau cari madu ternyata berburu burung, atau mengambil tanaman untuk dijadikan bonsai/tanaman hias. Selain itu, penggunaan api untuk mengusir lebah saat pengambilan madu dapat menyebabkan kebakaran hutan jika tidak hati-hati. Untuk mengantisipasi pelanggaran tersebut, setiap pencari madu harus melapor di pos penjagaan. Saat masuk maupun keluar. Mereka diperiksa barang bawaannya untuk memastikan tidak ada barang terlarang di tas mereka. Saat pemeriksaan petugas TNBB juga memberikan penyuluhan. Memberikan pemahaman supaya dalam beraktifitas tidak sampai merusak alam. Misal membakar pohon maupun menebangnya. Sangat penting untuk mengubah kebiasaan buruk di masyarakat. Sumber: Sugiarto PEH TN Bali Barat
Baca Berita

BKSDA Kalteng Terima Satwaliar Serahan Masyarakat Kerjasama Dengan Polres Katingan

Palangka Raya (13/2/2018). Tim Rescue SKW I BKSDA Kalteng menerima 4 (empat) individu satwaliar langsung dari Kapolres Katingan yang didampingi oleh seluruh jajarannya pada, Senin, 12 Februari 2018 . Satwa liar tersebut merupakan penyerahan dari masyarakat wilayah kerja Polsek Katingan Hulu. Satwaliar yang diserahkan adalah 1 (satu) individu orangutan berjenis kelamin betina dalam kondisi sehat dan diperkirakan berusia sekitar 2,5 tahun, kemudian 2 (dua) individu owa-owa berjenis kelamin jantan dan betina dengan kondisi sehat dan diperkirakan berusia 1 tahun, serta 1 (satu) individu beruang madu berjenis kelamin betina dan diperkirakan berusia 3 bulan. Satwa liar tersebut selanjutnya dititipkan di BOSF Nyaru Menteng (Orangutan dan Beruang Madu) untuk dilakukan observasi. Hasil observasi ini nanti menentukan tindaklanjut yang bisa dilakukan terhadap satwa tersebut (direhabilitasi/dilepasliarkan). Untuk Owa-owa ditempatkan di kandang transit SKW I BKSDA Kalteng. Sumber: BKSDA Kalteng
Baca Berita

Seminar Hasil Survey Rangkong Di TN Bukit Baka Bukit Raya

Sintang, 12 Februari 2018, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) bersama WWF Indonesia Program Kalimantan Barat serta Tenaga Ahli dari Rangkong Indonesia mengadakan acara Seminar yang berjudul “Hasil Survei Rangkong di TN Bukit Baka Bukit Raya” yang salah satu fokus utamanya adalah mencari keberadaan Satwa Rangkong Gading (Rhinoplax vigil) yang merupakan satwa kategori Critically Endangered (Terancam Punah) berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species. Acara seminar ini dihadiri 39 (tiga puluh sembilan) orang, selain dihadiri staf Fungsional TNBBBR turut mengundang Stakeholder terkait di sekitar Kawasan TNBBBR seperti BKSDA Seksi Konservasi Wilayah II Sintang, KPH Sintang Timur, dan KPH Melawi yang dianggap turut memiliki peranan di bentang alam Bukit Baka Bukit Raya jika melihat habitat satwa Rangkong yang tidak bisa dibatasi oleh wilayah geografis. Adapun acara ini dilaksanakan di Ruang Rapat Kantor Balai TN Bukit Baka Bukit Raya, di Kabupaten Sintang Kalimantan Barat pada tanggal 12 Februari 2018. Seminar ini merupakan presentasi hasil dari Kegiatan survei cepat potensi Enggang/Rangkong di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya pada tanggal 16 – 19 November 2017 di Resort Belaban Wilayah SPTN I Nanga Pinoh. Dengan total panjang jalur survei 8.694 m yang terbagi dalam 3 jalur, dijumpai pohon pakan utama (jenis ficus/pohon ara) sebanyak 56 pohon dengan potensi perhektarnya 0,4-1,29 pohon/ha. Sedangkan untuk pohon sarang dengan kriteria berlubang dan memiliki diameter diatas 50 cm ditemukan sebanyak 139 pohon, dengan potensi pohon sarang perhektarnya 0,8 – 2,2 pohon/ha. Adapun perjumpaan dengan satwa burung Rangkong adalah : Selain itu juga di paparkan mengenai Peta Ancaman Rangkong Gading yang bersumber dari International Helmeted Hornbill Conservation Strategy and Action Planning Workshop, di Kuching pada tanggal 19-20 Mei 2017. Juga disampaikan bahwa saat ini sudah disiapkan Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Nasional Rangkong Gading Indonesia tahun 2018-2028. Adapun komponen dalam draft SRAK Rangkong Gading berupa : TN Bukit Baka Bukit Raya setidaknya akan berperan penting terkait komponen dalam draft SRAK Rangkong Gading tersebut yaitu pada komponen Penelitian, Pengelolaan Habitat, Kampanye dan Penyadartahuan serta Kolaborasi bersama mitra strategis dan stakeholder lainnya. Selain itu kedepannya di kawasan TNBBBR direncanakan akan dibangun Center of Excellent/Pusat Penelitian Rangkong khususnya untuk jenis Rangkong Gading, tidak berbentuk sanctuary/Pusat Penyelamatan satwa Rangkong Gading, karena selama ini perburuan Rangkong Gading bukan untuk dipelihara seperti burung paruh bengkok yang kondisinya masih hidup melainkan dalam kondisi sudah mati untuk diambil tengkorak kepalanya saja (Gadingnya). Sehingga sanctuary berbentuk Pusat Penyelamatan Rangkong Gading dianggap kurang tepat mengingat sesungguhnya kawasan Taman Nasional itu sendiri adalah Sanctuary/Suaka bagi flora dan fauna yang ada didalamnya, dan berdasarkan pengalaman yang sudah dilakukan di seluruh dunia, bahwa belum ada yang berhasil mengembangbiakkan Rangkong Gading di Habitat Buatan. Dengan adanya pembangunan Center of Excellent penelitian Rangkong Gading (Enggang) di TNBBBR, diharapkan dapat memberikan sumbangsih kepada Indonesia dan dunia dalam upaya penyelamatan Rangkong Gading dan jenis-jenis rangkong lainnya mengingat di kawasan TNBBBR terdapat 8 (delapan) jenis Rangkong. Rekomendasi hasil seminar Rangkong ini adalah : Di akhir acara, dari pihak Rangkong Indonesia memberikan cendera mata kepada pihak TNBBBR berupa buku catatan, stiker, dan flashdisk. Semoga bersama kita bisa memastikan Rangkong tetap terbang menjaga hutan Indonesia. Sumber: TN Bukit Baka Bukit Raya
Baca Berita

Balai KSDA Jateng Bersama Polres Cilacap Tangkap Pelaku Perdagangan Satwa Liar

Cilacap, 13 Februari 2018. Petugas Balai KSDA Jawa Tengah (SKW II Pemalang Resort Cilacap) bersama UNIT IV Satreskrim Polres Cilacap menangkap pelaku perdagangan satwa liar dilindungi dengan inisal K, warga Desa Kranggan RT 06 RW 02 Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas dengan barang bukti berupa 1 (satu) ekor Kukang Jawa (Nycticibus javanicus) dan 1 (satu) ekor Lutung Jawa (Trachyphytatus auratus). Penangkapan ini menindaklanjuti informasi yang diterima dari BP2LHK Jabalnusra SW II Surabaya tentang adanya perdagangan satwa liar dilindungi Undang-undang di Pasar Wage, Kesugihan, Cilacap. Informasi yang masuk pada awal Februari ini didapat dari laporan NGO International Animal Resque (IAR). Selasa, 13 Februari 2018 Pukul 08.30 personil Seksi Konservasi Wilayah Cilacap, personil GAKUM dan personil IAR melakukan kegiatan pulbaket dan menjumpai masih adanya perdagangan satwa liar yang dilindungi. Setelah berkoordinasi dengan Satreskrim Unit IV/Tipidter Polres Cilacap sekitar Pukul 11.30 WIB berhasil dilakukan penangkapan terhadap pelaku perdagangan satwa. Saat ini pelaku dan barang bukti diamankan di Polres Cilacap guna kepentingan pengembangan dan proses hukum lebih lanjut. Kedua hewan tersebut termasuk hewan yang dilindungi oleh Undang-undang. Pelaku dapat terancam hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp. 100.000.000,- karena melanggar Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Sumber : Teguh Arifianto - PEH Balai KSDA Jawa Tengah
Baca Berita

Balai Besar KSDA Riau Gelar Apel Kesiagaan

Pekan Baru (13/2/18). Apel Kesiagaan Kebakaran Hutan dan Illegal Logging digelar Balai Besar KSDA Riau di Bidang Konservasi Wilayah II, Siak pada, Senin tanggal 12 Pebruari 2018. Apel dipimpin oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II, Heru Sutmantoro. Kegiatan dilaksanakan di lokasi rawan kebakaran hutan dan illegal logging yaitu Kampung 40 Desa Tuah Indrapura Kecamatan Bunga Raya Kabupaten Siak. Apel dilakukan untuk antisipasi kejadian kebakaran hutan dan lahan serta kejahatan kehutanan terutama Illegal Logging. Kegiatan diikuti oleh petugas Balai Besar KSDA Riau, Polri dan TNI. Setelah kegiatan apel dilakukan temu warga kampung 40, penyusuran jalur rawan kebakaran hutan dan illegal logging. Pada kesempatan tersebut dilakukan pemasangan rambu rambu kawasan, penghancuran pondok perambah sebanyak 1 bangunan dan pemusnahan kayu temuan hasil illegal logging sebanyak 3,5 m3 dari kawasan SM Giam Siak Kecil, masuk dalam zona inti Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu. Kayu dimusnahkan dengan cara dicincang menggunakan chainsaw. Sumber: BBKSDA Riau
Baca Berita

Yuk Mengenal Bontang Mangrove Park, Wisata Edukasi di Bontang

Bontang, 13 Februari 2018. Mengawali Tahun 2018, Balai Taman Nasional Kutai, menyajikan tujuan wisata baru bagi masyarakat Bontang dan Sekitarnya. Bontang Mangrove Park, yang lebih populer dengan BMP, menjadi tujuan wisata yang sedang populer di Kota Bontang. Menyajikan potensi alam berupa hamparan ekosistem mangrove yang sangat indah dengan keanekaragaman jenis vegetasi dan satwa di dalamnya. BMP dibangun dengan konsep Conservation, Education and Adventure, dan diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan mangrove yang terbaik di Indonesia. Untuk mendukung fungsi BMP sebagai sarana edukasi, disepanjang boardwalk yang terbentang dari daratan sampai ke laut, terdapat berbagai informasi tentang jenis-jenis vegetasi hutan mangrove. Selain boardwalk sepanjang 1.3 km, terdapat menara pandang dengan tinggi 20 m, yang dapat difungsikan sebagai sarana “bird watching”. View menara pandang ini persis menghadap ke laut yaitu Selat Makassar. Gazebo yang dapat digunakan sebagai tempat istirahat, juga tersedia pada beberapa titik. Untuk mengakomodir para pengunjung yang ingin melakukan kegiatan di dalam ruangan, tersedia Balai Pertemuan pada welcome area, yang dapat menampung 200-300 orang. Welcome area, juga sedang dipersiapkan sebagai bumi perkemahan yang dapat mengakomodir peserta sampai seribu orang. Sepanjang waktu dari pagi sampai sore, merupakan momen terbaik untuk kunjungan wisata ke BMP tergantung tujuan masing-masing pengunjung. Sunrise, dapat dinikmati dari boardwalk dengan view yang menghadap ke laut-Selat Makassar dan dari Menara pandang. Sunset dan view lampu dari pabrik yang terdapat di seberang BMP, juga menjadi momen favorit para pemburu gambar. Pada pagi dan sore hari merupakan waktu yang tepat untuk jogging di BMP yang sejuk. Siang hari dimanfaatkan oleh para pelajar untuk mengetahui keanekaragaman hayati hutan mangrove dan ekosistemnya. Pada saat surut terendah, pengunjung dapat menyaksikan barisan ikan-ikan kecil yang memenuhi areal terbuka disepanjang boarwalk. Pemandangan ini, semakin membuktikan fungsi hutan mangrove sebagai tempat pemijahan ikan, udang, kepiting dll, dan menyebar ke laut lepas setelah dewasa. Ke depan, dengan adanya objek wisata baru BMP, akan berimplikasi pada kualitas ekosistem mangrove yang semakin baik dan lebih terjaga. Dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas ekosistem BMP, Balai Taman Nasional Kutai mengupayakan berbagai kegiatan seperti manajemen sampah, penanaman hutan mangrove, pengamanan kawasan dan pemantauan keanekaragaman hayati. Sumber : Yulita Kabangnga - Balai TN Kutai
Baca Berita

7 Sentigi Ditanam 7 Jenderal di Pulau Menjangan TN Bali Barat

Pulau Menjangan, 10 Februari 2018. Penanaman pohon sentigi menjadi salah satu atraksi wisata edukasi yang ditawarkan kepada wisatawan yang berkunjung ke Pulau Menjangan. Atraksi tersebut mengajak wisatawan untuk berpartisipasi dan terlibat langsung dalam upaya konservasi tumbuhan langka dan dilindungi. Hal ini seperti yang dilakukan oleh rombongan jajaran Mabes Polri pada hari Sabtu, tanggal 10 Februari 2018. Kegiatan tersebut merupakan kunjungan kehormatan yang diinisiasi Polres Banyuwangi dan difasilitasi Balai Taman Nasional Bali Barat. Rombongan sebanyak 30 orang dipimpin oleh Asisten SDM Kapolri (Irjend Pol. Drs. Arief Sulistyanto, M.Si) tiba di Pulau Menjangan pada pukul 11.00 WITA dan disambut oleh Kepala Resort Pulau Menjangan (Gusti Komang Suardika). Di Pulau Menjangan, rombongan menikmati keindahan pemandangan dengan berkeliling menggunakan kapal dan treking di area Pos I yang berdekatan dengan kantor Resort Pulau Menjangan. Puas menikmati berbagai atraksi, rombongan yang diwakili oleh tujuh orang jajaran Mabes Polri berpangkat jenderal melakukan penanaman bibit sentigi sebanyak tujuh batang di pantai barat Pos I Pulau Menjangan. Setelah penanaman, dilakukan pemasangan papan nama yang memuat jenis bibit dan nama penanam. Selain itu, Asisten SDM Kapolri berharap dengan kegiatan penanaman yang dilakukan oleh jajaran Mabes Polri dapat menumbuhkan serta menjadi teladan kepada seluruh anggota Polri dan masyarakat untuk berperanserta menjaga dan peduli terhadap pelestarian lingkungan, khususnya keberadaan pohon sentigi di alam. Pohon Sentigi (Pemphis acidula) merupakan salah satu tumbuhan hias yang diburu para kolektor tanaman hias dengan nilai jual yang tinggi. Sentigi masih dapat dijumpai di sepanjang pesisir pantai Pulau Menjangan yang berpasir, berkarang, dan di tepi hutan mangrove. Saat ini, keberadaan sentigi mulai terancam di Pulau Menjangan, pohon tersebut banyak dicari masyarakat untuk dimanfaatkan sebagai tanaman bonsai dan obat herbal alternatif. Selain itu bagi sekelompok orang, batang pohon sentigi dipercaya memiliki kekuatan magis. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab semakin berkurangnya jumlah pohon sentigi di alam, tidak terkecuali di pesisir Pulau Menjangan. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, petugas Resort Pulau Menjangan terus menggiatkan patroli rutin dan penyuluhan kepada masyarakat. Selain itu, dilakukan juga penanaman pohon sentigi sebagai upaya penambahan jumlah pohon tersebut di alam, khususnya di Pulau Menjangan. Sumber : Balai TN Bali Barat

Menampilkan 8.849–8.864 dari 11.140 publikasi