Sabtu, 18 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

TWA Sicike-Cike Jadi Destinasi Wisata Sumatera Utara

Taman Wisata Alam Sicike-cike salah satu kawasan konservasi yang berada di propinsi Sumatra Utara, tepatnya di Desa Lae Hole, Kecamatan Parbuluan. Khusus dari Kota Sidikalang, ibukota Kabupaten Dairi, jaraknya sekitar 21 km, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit sampai di kantor resort Konservasi wilayah Taman Wisata Alam Sicike-cike. Untuk menuju kantor resort dapat menggunakan angkutan umum, yang hanya ada pada setiap hari Rabu dan Sabtu, sedangkan diluar kedua hari tersebut, direkomendasikan sebaiknya menyewa angkutan umum. Kemudian, dari kantor resort, dengan berjalan kaki sekitar 2,5 km, dan waktu tempuh 30-40 menit, akhirnya sampai di kawasan Taman Wisata Alam Sicike-cike. Taman Wisata Alam Sicike-cike berada pada kisaran ketinggian 1350-1500 mdpl, sehingga berada pada iklim dingin dan sejuk. Panorama di dalam hutan berupa susunan pepohonan yang rapat, didominasi pohon sampinur tali, sampinur bunga, haundolog, meang, rotan dan kemenyan. Puas menikmati keragaman flora, pengunjung masih dimanjakan lagi dengan suara-suara fauna yang saling bersahutan, baik itu siamang (Presbytis thomasi) maupun kicauan burung-burung, termasuk burung enggang (Buceros sp.). Pada waktu-waktu tertentu, pengunjung pun dapat menikmati pemandangan puluhan dan bahkan ratusan itik liar/menthok rimba (Cairina scutulata) saat mandi dan bercengkerama di danau yang ada di dalam kawasan,lalu terbang bersama-sama berpindah ke tempat lainnya. Cukup ? Belum, Taman Wisata Alam Sicike-cike juga memiliki 3 danau yang airnya tidak bertambah dan juga berkurang meskipun musim penghujan maupun musim kemarau. Di ketiga danau ini juga tidak dijumpai adanya aliran air/anak sungai yang menjadi sumber pasokan air. Danau ini menjadi salah satu tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat suku Pakpak – Dairi. Dulu danau ini menurut legendanya adalah perkampungan asal muasal suku Pakpak-Dairi. Akibat perbuatan anak yang tidak menghormati orangtuanya, terjadilah kutukan pada diri anak tersebut dan pada akhirnya terbentuklah Danau Sicike-cike. Dari ketiga danau, di danau I, oleh suku Pakpak-Dairi secara periodik digunakan untuk tempat melaksanakan ziarah sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang dianggap sakral. Untuk menuju lokasi ketiga danau tersebut, waktu tempuh dari batas kawasan sekitar 30 menit menuju danau I. Dari danau I menuju danau II waktu yang ditempuh sekitar 50 menit, dan dari danau II ke danau III waktu tempuhnya sekitar 35 menit. Perjalanan ke danau-danau tersebut dijamin tidak membosankan, karena disepanjang perjalanan pengunjung dapat menikmati keindahan beragam jenis anggrek tanah dan kantung semar, serta tegakan pohon yang memberi kerindangan dan kesejukan. Selain potensi danau, di dalam kawasan juga bisa dijumpai air terjun yang tidak kalah menariknya dan oleh beberapa pengunjung selain dijadikan sebagai lokasi istirahat sembari membasuh wajah dengan air segar, juga dijadikan lokasi hunting foto. Komplitnya potensi dan keunikan yang terkandung di dalam kawasan Taman Wisata Alam Sicike-cike, menjadikan kawasan ini sangat memungkinkan diberdayakan dan dikembangkan untuk berbagai peruntukan. Pengembangannya sebagai objek wisata tentunya sangat tepat karena potensi alam yang ada (baik flora, fauna maupun potensi wisata dan keunikan) cukup mendukung. Selain itu, kawasan Taman Wisata Alam Sicike-cike juga dapat dikembangkan sebagai pusat pembelajaran konservasi alam. Potensi keragaman hayati yang luar biasa dan didukung dengan proses ekologis yang terpelihara sangat baik menjadikan kawasan ini layak untuk didesain sebagai laboratorium alam yang bertujuan bukan hanya untuk meningkatkan pengetahuan melainkan juga pemahaman dan kesadaran pelajar, mahasiswa dan generasi muda tentang konservasi alam dan lingkungan hidup. Demikian juga dengan profesi fotografer kawasan inipun memiliki dan menawarkan momen-momen keindahan serta keunikan alam yang dapat menjadi sasaran bidikan kamera. Keberadaan kawasan ini sebagaimana diuraikan diatas, sejatinya membawa harapan baru bagi dunia wisata di propinsi Sumatra Utara. Kawasan ini tentunya akan menjadi alternatif destinasi wisata disamping objek wisata unggulan lainnya. Tunggu apalagi ? Mari segera kunjungi Taman Wisata Alam Sicike-cike ! Sumber : Evansus Renaldi - Analis Data Kehumasan Balai Besa KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Ngosek Gunung Perangi Sampah di Gunung Merbabu

Merbabu, 17-18 Februari 2018. Taman Nasional Gunung Merbabu bersama Kelompok Pecinta Alam (KPA) Pinoes melaksanakan aksi ngosek gunung dan pembenahan jalur pendakian. Ngosek dalam bahasa Indonesia berarti membersihkan. Kegiatan ini memanfaatkan/mengisi waktu penutupan jalur pendakian Gunung Merbabu yang dimulai tanggal 1 sampai 28 Februari 2018 mendatang. Penutupan jalur pendakian ditujukan untuk pemulihan ekosistem kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Kegiatan ngosek gunung dimulai dari Jalur Pendakian Gunung Merbabu Via Cuntel pada pukul 07.00. Peserta dibagi menjadi dua kelompok dengan kelompok pertama bertugas membersihkan area Pos 3 Jalur Pendakian Gunung Merbabu Via Cuntel dan Pos 2 Jalur Pendakian Gunung Merbabu Via Wekas sampai di Basecamp Wekas. Sedangkan kelompok kedua bertugas membersihkan sepanjang jalan pendakian via Cuntel sampai Pos 2. Urutan rute basecamp Cuntel sampai puncak pemancar, pertigaan batas kabupaten, pos 2 Wekas dan berakhir di basecamp Wekas. Kelompok dua juga membenahi jalur Pendakian Gunung Merbabu Via Cuntel dikarenakan banyak pohon tumbang yang menutupi jalur pendakian. Jalan yang licin dan tertutup semak juga perlu dibenahi karena dapat membahayakan pendaki. Sampah yang terkumpul seberat 1.32 Kwintal yang terdiri dari sampah plastik, kaleng, puntung rokok, karet dan sterofoam. Sumber : Balai TN Gunung Merbabu
Baca Berita

Diskusi Meja Bundar Dengan Dirjen KSDAE di Banda Aceh

Banda Aceh, 21 Februari 2018. Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc. pada hari Rabu 21 Februari 2018 menjadi narasumber Round Table Discussion dengan topik Optimalisasi Pengelolaan Kawasan Ekosistem Leuser di Aceh dalam upaya Menekan Laju Kerusakan Hutan, di Banda Aceh. Diskusi diadakan oleh Pemerintah Aceh bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan Aceh. Selain Dirjen KSDAE, narasumber lainnya adalah dari Kemendagri, Kemen ATR/BPN dan Kepala Dinas LHK Aceh. Dalam kesempatan tersebut, Dirjen KSDAE menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan, termasuk di Kawasan Ekosistem Leuser. Masyarakat harus menjadi subyek dalam pengelolaan hutan karena terbukti memiliki kearifan lokal dalam menjaga kelestarian hutan. Dalam kesempatan diskusi ini, Dirjen KSDAE juga menyerahkan 2 buku karya beliau kepada Staf Ahli Gubernur yang mewakili Pemerintah Aceh. Sumber : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

42 Jenis Burung Dijumpai PEH Balai TN Tesso Nilo

Balai Taman Nasional Tesso Nilo laksanakan kegiatan inventarisari burung dikawasan hutan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) selama 5 (lima) hari pada tanggal 12 - 15 Februari 2018 yang diikuti 5 orang personil pengendali ekosistem hutan (PEH) Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Adanya kegiatan ini untuk mengamati keanekaragaman jenis burung yang berada dikawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Selama lima hari tim mengamati ragamnya burung di TNTN diwaktu ideal burung untuk keluar sarang setiap pagi dan sore. Sebanyak 42 jenis burung dari 19 Family dijumpai selama pengamatan dilakukan. Berdasarkan keterangan ketua tim, dijumpai juga burung jenis langka seperti Elang ular bido (Spilornis cheela), Rangkong badak (Buceros rhinoceros), Rangkong papan (Buceros bicornis), Walik Jambu (Ptilinopus jambu), Seriwang Asia (Terpsiphone paradisi), Betet Ekor Panjang (Psittacula longicauda), Nuri Tanau (Psittinus cyanurus)dan Kucica Hutan (Copsychus malabaricus). “Keanekaragaman fauna khususnya burung dikawasan Taman Nasional Tesso Nilo ini jumlahnya cukup tinggi, ini baru jumlah jenis dan family yang kita jumpai, sebenarnya masih sangat banyak lagi jenis burung lainnya, untuk itu hutan yang masih tersisa ini harus kita jaga sama-sama kelestariannya”, ucap ketua tim Edwar Firdaus, S.Hut., M.Sc. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Balai KSDA Sulteng Evakuasi Penyu Hijau Yang Viral di Facebook

Palu, 21 Februari 2018. Sehubungan dengan viralnya perdagangan penyu yang di posting oleh akun Rahman Mukhtar di grup Facebook Morowali Dagang, tim BKSDA Sulawesi Tengah bersama DKP Morowali Utara, PSDKP Luwuk, BPSPL Makassar dan POLAIRUD Unit Morowali Utara langsung mendatangi TKP untuk melakukan penanganan penyu tersebut. Menurut keterangan pemilik penyu (Hadamin) yang menyatakan bahwa penyu tersebut masuk ke dalam perangkap sero ikan mereka kemudian di posting di grup Facebook untuk ditawarkan kepada publik, adapun mengenai jenis satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-undang pemilik berdalih tidak mengetahui dan berjanji tidak akan mengulangi dibuktikan dengan surat penyataan dari si pemilik penyu dan yang mengupload satwa tersebut. Hasil identifikasi jenis penyu tersebut yakni penyu hijau (Chelonia mydas) dengan ukuran 102 cm x 91 cm dengan berat 157 kg, dengan jenis kelamin jantan. Setelah melakukan penanganan satwa penyu hijau sesuai dengan prosedur, hari ini Rabu (21/02/2017) tim melakukan pelepasliaran di wilayah Teluk Tomori dengan menggunakan kapal pengawas DKP Morowali Utara dan diakhiri dengan penanda tanganan berita acara pelepasliaran yang disaksikan oleh instansi terkait. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Saat Si Cantik "Bonita" Mulai Menampakkan Batang Hidungnya

Pekanbaru, 21 Februari 2018. Selasa 20 Februari 2018 bisa jadi merupakan pengalaman yang tak terlupakan dalam hidup Tim Rescue Konflik Harimau Sumatera di Kec. Pelangiran Kab. Indragiri Hilir, Prov. Riau. Betapa tidak, selama 120 menit menjadi saat paling mendebarkan dalam hidup karena baru hari ini berhadapan langsung dengan raja hutan berjarak 3 m, setelah selama hampir 2 bulan ini sang raja hutan terus di cari. Berawal dari kegiatan rutin pagi hari setelah briefing tim oleh ketua regu lapangan Balai Besar KSDA Riau Tommy P Sinambela. Tim meluncur ke lokasi kebun Tembusu blok 68 karena laporan perjumpaan oleh operator alat berat di lokasi tersebut. Tim yang terdiri dari Balai Besar KSDA Riau, Polres Inhil dan Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera (PKHS) pada pukul 09.00 WIB sdh tiba di lokasi. Masing masing memakai pengaman diri. Seperti tim deteksi mereka memulai meneliti tiap jejak yang ada di sekitar lokasi. Kewaspadaan tim di uji, saat jejak jejak harimau mengarah ke hutan greenbelt di sebelah lokasi kebun. Tim gabungan ini di dukung 2 anggota Kepolisian Polsek Pelangiran Polres Inhil yang selalu siaga dengan 2 pucuk senjata pendek dan 1 pucuk senjata panjang selain senjata Organik Polisi Kehutanan Balai Besar KSDA Riau. Sesaat mereka saling berpandangan seolah saling meminta persetujuan. Akhirnya seperti digerakkan oleh semangat dan keberanian, Tim melangkah hati hati menerobos hutan melalui jalur lorong lorong setapak. Sekitar 30- 40 m masuk hutan, degup jantung seluruh anggota seperti berdegup makin kencang. Langkah masing masing nyaris tak bersuara. Hanya kemudian terdengar bisik ketua Tim (Tommy) kepada Aiptu Alwis dan Brigadir Koprinaldi yang bersenjata, seperti memberi isyarat untuk waspada "banyak bekas cakaran di pohon..." Tidak sampai 5 detik tiba tiba seluruh anggota tim terperanjat, saat suara menggeram "Ggrrrrrauuccchhh" pada jarak 4 meter Harimau yang oleh Tim Rescue diberi nama " Bonita" sudah di hadapan mereka. Semua terpaku tak bergerak, tak ada yang bersuara, mata mereka menatap nanar gerak gerik sang Raja Rimba. Sekilas sang raja hutan berbungkung seperti siap melompat menerkam. Situasi tak pasti antara akan terbebas atau jadi korban sudah terbayang di kepala masing masing anggota tim. 8 orang Tim 2 diantaranya bersenjata tertutup geraknya oleh Harimau Sumatera. Dalam kondisi genting Aiptu Alwin dari Polsek Pelangiran sempat mengirim pesan kepada Ketua Tim Rescue di Pekanbaru, tak mungkin untuk menimbulkan berisik dengan telpon, sinyal pun tak selalu bersahabat di lokasi. Ketua Tim Rescue segera menghubungi Pihak PT. THIP untuk menggerakkan alat berat dan Pasukan Polres yang di BKO pengamanan di lokasi dalam rangka siaga Konflik dan Api. "Bergerak mundur ke arah tepi jalan perlahan..saya minta bantuan di luar untuk masuk.. bunyikan tembakan ke atas untuk menakuti harimau tersebut" begitu balasan dari Ketua Tim Rescue untuk menghadapi situasi darurat ini. Sementara waktu terus bergerak lambat, 10 menit seperti 10 tahun dalam ketidak pastian.." Kami hanya menatap penuh kehati hatian sambil berdoa." begitu ucap Azwar Hadhibina Nasution salah satu anggota tim medis Balai Besar KSDA Riau yang ada di lokasi. Sementara Tim Polres dan pihak perusahaan PT THIP pun tak kalah sibuk untuk menuju TKP. Normalnya butuh waktu 45 menit dari camp Eboni ke TKP di tengah debu pekat. Kendaraan Trail menderu memecah keheningan siang itu di blok 68. Sepuluh orang anggota Polres Inhil 20 menit sudah tiba di tepi hutan dengan senjata lengkap. Kegelisahan Tim yang terkurung Harimau Sumatera tak terkatakan lagi dalam situasi itu. Aiptu Alwin mencoba mengokang senjatanya dan melakukan tembakan ke atas, namun situasi yang mencekam dengan raja hutan yang semakin mendekat di depan mata, bahkan tak jadi melakukan tembakan karena berfikir justru akan membuat hatimau makin beringas. Serasa dua tahun berada dalam tekanan yang teramat sangat, akhirnya sayup sayup terdengar suara tembakan ke udara mengusik keheningan. Raja rimba di depan kami tiba tiba beringsut perlahan lahan mundur menjauh dari kami. Polres Inhil menunjukkan kapasitas yang luar biasa dalam kasus ini. Keputusan untuk tidak menembak satwa liar Harimau Sumatera yang telah mengurung Tim Rescue merupakan sikap profesional dan menjadi teladan yang baik dalam standart penanganan konflik satwa liar khususnya Harimau Sumatera dengan manusia. Plt. Kepala Balai Besar, Suharyono sangat mengapresiasi kerja Tim di lapangan dan menyampaikan salut dan penghargaan yang tinggi kepada jajaran POLRES INHIL dan POLSEK PELANGIRAN. Salut dan terima kasih atas semangat seluruh anggota Tim Rescue Konflik Regu VI, ini menjadi penyemangat dalam rangka penyelamatan dan konservasi Harimau Sumatera dan terutama terimakasih kepada seluruh Tim Rescue Konflik Harimau Sumatera di Inhil. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

TWA Camplong, Bukan TPA Camplong

Kupang, 21 Februari 2018. “Ayo bergerak bersama” itulah slogan yang digaungkan dalam memperingati Hari Peduli Sampah Nasional lingkup Balai Besar KSDA NTT. Peringatan ini dilaksanakan pada 21 Februari 2018 dengan aksi peduli sampah di Taman Wisata Alam Camplong. Taman Wisata Alam Camplong merupakan salah satu hutan konservasi di Nusa Tenggara Timur yang terletak di Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang, sekitar 1 jam dari Kota Kupang kerap menanggung akibat dari berlimpahnya produksi sampah di Kabupaten Kupang. Kerja bakti ini melibatkan 80 personil dan bekerjasama dengan CV Sinar Bangunan yang mengerahkan 1 unit loader dan 3 truk untuk mengangkut tumpukan sampah. Aktifitas pembuangan sampah di kawasan hutan konservasi TWA Camplong diduga telah berlangsung lama. Sejumlah oknum tertentu, hampir setiap hari membuang sampah di tepi jalan pada Km 51 dalam kawasan hutan TWA Camplong menggunakan kendaraan truk. Kondisi ini dapat mengakibatkan terganggunya ekosistem hutan. Selain itu, pembuangan sampah secara sembarangan juga berdampak pada kenyamanan wisatawan serta masyarakat umum yang melintasi jalan negara tersebut. Tamen Sitorus Kepala BBKSDA NTT menjelaskan bahwa aktivitas pembuangan sampah pada kawasan Taman Wisata Alam Camplong ini, telah direspon dengan pemasangan papan larangan, pemasangan barikade di tepi jalan untuk menghalangi truk yang membuang sampah, pemberitahuan secara langsung kepada masyarakat dan pihak tertentu yang diketahui melakukan aktifitas pembuangan sampah serta meningkatkan frekuensi kehadiran petugas Resort TWA Camplong di lapangan. Selanjutnya Tamen Sitorus juga mengungkapkan bahwa kedepan akan dilakukan tindakan lebih lanjut berupa tuntutan dugaan pidana pencemaran lingkungan akan dilakukan jika aktifitas membuang sampah di Taman Wisata Alam Camplong tetap berlanjut. Dalam kegiatan aksi peduli sampah di TWA Camplong kali ini, berhasil dibersihkan sampah sejumlah 7 rit, selanjutnya sampah-sampah tersebut dipindahkan ke lokasi lain untuk diproses lebih lanjut. Kegiatan ini diharapkan menjadi sebuah gerakan moral, mengingat masalah sampah di Taman Wisata Alam Camplong tidak akan pernah berhasil dituntaskan jika tidak merubah perilaku warga sebagai pembuang sampah. Sumber : Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

Bebaskan Alam dari Sampah

Bantimurung, 21 Februari 2018. Pagi itu langit biru membahana. Hanya awan putih yang menggelayut, menambah cerahnya pagi. Rombongan staf Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung berkendara menuju Kawasan Pengamatan Satwa Karaenta. Mereka melakukan aksi membebaskan alam dari sampah. Aksi spontan ini digelar pada Rabu (21/02/2018). Dengan semangat para rimbawan ini memunguti sampah yang berserakan di gerbang menuju site pengamatan Macaca maura ini. Memungut sampah plastik yang berserakan di mana-mana. Bisa jadi sampah plastik ini dibuang oleh wisatawan ataupun pengendara yang melintas. Tak hanya petugas taman nasional yang terlibat. Masyarakat dan wisatawan yang berada di lokasi turut serta membersihkan areal tersebut dari sampah. Menambah semangat kerja bersama ini. “Aksi kami ini sebagai wujud Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mendukung Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada hari ini, 21 Februari. Membebaskan alam dari sampah,” ujar Husain, Plh. Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang memimpin langsung di lapangan. Mari bergerak bersama menyelamatkan bumi dengan mulai melakukan hal kecil untuk manfaat besar. Buanglah sampah pada tempatnya. Lakukan 3 R (Reuse, Reduce, dan Recycle). Sayangi bumi, bebaskan dari sampah. Sumber: Taufiq Ismail – PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Road to Release Si “Wira”

Kulonprogo, 21 Februari 2018. Seekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) dengan panggilan “Wira” berjenis kelamin jantan, siap dilepas ke alam bebas setelah menjalani proses rehabilitasi selama 4 tahun di Lembaga Konservasi Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta atau Wildlife Rescue Centre (WRC). Satwa tersebut merupakan hasil penyerahan suka rela dari masyarakat akhir tahun 2013 silam. Sebagian persiapan seperti pemasangan cincin dan penanda sayap (wing marker) telah dilakukan sebelumnya. Dan untuk elang Brontok yang akan dilepasliaran pada akhir Februari ini di Kawasan Tahura Bunder, Kabupaten Gunung Kidul dilengkapi dengan pemasangan Satellite Tracking. Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta, Ir. Junita Parjanti, MT menyatakan pihaknya mengapresiasi kerjasama lintas lembaga konservasi yang ada di D.I. Yogyakarta dalam upaya konservasi satwa dilindungi. “Ini adalah kali kedua Tim Gabungan Pelepasliaran Elang Yogyakarta bekerja bersama-sama, mulai dari cek medisnya, persiapan lapangannya termasuk survey habitat, pembangunan kandang dan lainnya untuk pelepasliaran ini. Sebelumnya 25 Januari lalu kami bersama-sama telah melepasliaran Elang Bido dan Alap-alap Sapi di kawasan Jatimulyo, Kulon Progo”, kata Ir. Junita. Ia juga menambahkan bahwa Elang Brontok adalah salah satu jenis elang yang dilindungi oleh undang-undang sesuai dengan UU no 5 tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan PP no 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Mengenai pesamasangan satellite tracking pada pelepasliaran elang Brontok kali ini, Ir. Junita menjelaskan “Bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Hewan UGM dengan mendapatkan 1 satellite tracking, release di Yogyakarta ini adalah yang kedua di Indonesia setelah sebelumnya BKSDA Jatim yang telah menggunakan terlebih dahulu bekerja sama dengan UGM juga. Nantinya data yang terkumpul dari satellite tracking yang dipasang pada Elang ini dapat bermanfaat untuk para akademisi, serta para penggerak dan pelaku konservasi, khususnya untuk satwa Elang”, kata Ir. Junita. Selain itu sangat membantu pemantauan pasca pelepasliaran (release). Ceremony Pelepasliaran di kawasan Tahura Bunder pada akhir Februari ini yang direncanakan juga akan ditinjau langsung oleh Dirjen Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem, Ir. Wiratno, M.Sc. Sumber & foto : Andie Chandra Herwanto - PEH Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Pengembangan Wisata Alam di TN. Ujung Kulon

Labuan, 20 Feb 2018. Bertempat di kantor Balai TN. Ujung Kulon, dilaksanakan kegiatan bimbingan teknis pengembangan wisata alam oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten. Kegiatan ini dikhususkan kepada pelaku wisata alam yang berada di sekitar TN. Ujung Kulon, dihadiri oleh praktisi wisata alam Pokdarwis Sumur, Pokdarwis Cimanggu, kelompok Paniis Lestari, kelompok Cinibung Lestari, kelompok Rumah Tukik, praktisi HPI Sumur dan Pandeglang. Kegiatan bimbingan teknis ini sebagai wadah komunikasi dan menambah pengetahuan terkait pengembangan wisata alam, khususnya di sekitar kawasan TN. Ujung Kulon. Dalam bimbingan teknis kali ini, hadir sebagai narasumber adalah Kepala Balai TN. Ujung Kulon dengan materi Potensi Wisata Alam dan Pemberdayaan Masyarakat Sekitar TN. Ujung Kulon; narasumber kedua Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pandeglang dengan materi Implementasi Program Pengelolaan Pariwisata di Kabupaten Pandeglang dan sebagai narasumber ketiga dari Praktisi PHRI dengan materi Pengembangan Usaha Berbasis Wisata Alam. Kegiatan pemaparan materi dilanjutkan dengan diskusi dengan peserta. Beberapa hal yang menjadi bahan diskusi antara lain pelibatan masyarakat secara proposional dalam pengembangan wisata terpadu di Kecamatan Sumur, pengembangan dan peningkatan SDM dibidang ekowisata dan konservasi badak jawa serta pengaktifan kembali paguyuban pemandu wisata lokal di sekitar TN. Ujung Kulon. Sumber : Balai TN Ujung Kulon
Baca Berita

Hari Peduli Sampah Nasional, Balai TN Taka Bonerate dan Warga Kerja Bakti

Benteng - Kepulauan Selayar, 20 Februari 2018. Setiap tahun kondisi pantai bagian barat Kepulauan Selayar tepatnya saat musim angin barat, berserakan sampah laut berupa plastik, stereofom maupun kayu. Hal ini berlangsung selama beberapa bulan dan sampah tersebut menumpuk di sepanjang bibir pantai bagian barat pulau. Dalam menyambut hari Sampah Nasional yang jatuh setiap tanggal 21 Februari, Balai TN. Taka Bonerate bersama Pemerintah Daerah Kepulauan Selayar, TNI dan beberapa Komunitas serta pelajar melakukan bakti bersih-bersih sepanjang pantai barat tepatnya sepanjang pantai Plaza Marina sampai ke Taman Pelangi. "Bersama dengan Pemerintah Daerah, TNI, Warga, Komunitas serta pelajar turun ke pantai untuk membersihkan tumpukan sampah kiriman ini" Ucap Hendra, Humas Balai TN. Taka Bonerate. Kita bersihkan kedua tempat ini karena merupakan landmark Selayar tambahnya. Dengan bermodalkan tangan kosong, sampah plastik dimasukkan ke dalam kantong atau karung untuk dipisahkan dari sampah lain. Karena sampah plastik merupakan salah satu jenis sampah yang sangat sulit terurai sehingga berbahaya bagi lingkungan. Sejatinya semua masyarakat harus menjaga lingkungan demi kepentingan bersama. Hal senada diungkapkan anggota PMR Andi Mustika (SMK Negeri 5 Kepulauan Selayar) bahwa mengikuti kegiatan bersih pantai adalah kewajiban sebagai anggota PMR serta untuk menjaga kebersihan lingkungan sebagai warga Kepulauan Selayar. Sumber : Asri - PEH Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Ahmad Munawir Ketua Saka Wanabakti Kapuas Hulu 2018-2023

Putussibau, 20 Februari 2018. Kepala Bidang Teknis Konservasi (Kabidktek) Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TN Bentarum), Ahmad Munawir terpilih menjadi Ketua Saka Wanabakti Cabang Kapuas Hulu masa bakti 2018-2023. Hal ini terungkap pada Musyawarah Cabang (Muscab) ke X Saka Wanabakti Kapuas Hulu (Saka Wanabakti KH) yang diselenggarakan di Putussibau pada senin (19/2). Tanda-tanda terpilihnya Kabidtek ini sudah diprediksi sejak awal bahkan sebelum muscab berlangsung. Dalam sambutannya sesaat setelah terpilih, Munawir mengatakan akan melanjutkan program-program yang telah dilaksanakan pengurus masa bakti sebelumnya dan tetap meminta dukungan dan pengalaman dari mereka yang telah berkontribusi dalam pengembangan Saka Wanabakti KH. “Saya Bersama pengurus lainnya tentu akan melanjutkan program yang selama ini sudah cukup bagus yang telah dilaksanakan kakak-kakak sebelumnya dan meminta dukungan dari pengurus sebelumnya” tegasnya. Ditambahkannya, kerjasama semua pihak merupakan kunci dalam mengembangkan Saka Wanabakti KH dimasa depan. Apalagi tantangan global yang semakin cepat membutuhkan generasi muda yang paham dan berani mengambil keputusan secara tepat dan benar. Saka Wanabakti KH diharapkan tidak hanya berkiprah di tingkat lokal tapi juga semakin dikenal di lingkup nasional dan bersaing dengan Saka dari daerah lain. “Saya membutuhkan dukungan dan kerjasama semua pihak agar Saka wanabakti Kapuas Hulu bisa dikenal di tingkat nasional” harapnya. Menutup arahannya, Munawir mengatakan kiprah 10 tahun Saka Wanabkti KH merupakan momentum untuk perbaikan dan pengembangan generasi muda Kapuas Hulu untuk menjadi pemimpin yang berkualitas khususnya dalam membangun lingkungan dan kehutanan. Sementara itu, pengurus lama Saka Wanabkti KH berharap di bawah kepemimpinan pengurus yang baru, Saka KH bisa menjawab tantangan masa depan yang lebih kompleks. Indra Kumara, Ketua Harian I Saka KH masa bakti 2014-2019 menegaskan bahwa peran Saka KH yang utama adalah membentuk generasi muda di Kabupaten Kapuas Hulu yang tidak hanya berpikiran luas tapi juga mampu mengemban amanah untuk menjaga lingkungan dan kehutanan untuk kehidupan. “Dengan adanya gerakan pramuka melalui saka Wanabakti kapuas Hulu maka generasi muda Kapuas Hulu menjadi agen perubahan yang berpikiran maju untuk terus melakukan konservasi di Bumi Uncak Kapuas”tutupnya. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TN Bentarum)
Baca Berita

Melihat Sosialisasi Pengelolaan TN Bukit Baka Bukit Raya

Pontianak, 20 Februari 2018 – Untuk memantapkan pengelolaan kawasan, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya melaksanakan Rapat “Sosialisasi Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Periode2018 – 2027 Dan Koordinasi Teknis Pengelolaan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya” yang berlangsung pada tanggal 20 – 22 Februari 2018 bertempat di Meeting Room Hotel Harris Pontianak Kalimantan Barat. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala BAPPEDA Provinsi Kaimantan Barat yang dalam hal ini diwakilkan Kepala Bidang Perencanaan Sarana dan Prasarana Wilayah Provinsi Kalimantan Barat, yang dihadiri oleh perwakilan SOPD Provinsi Kalimantan Barat, Instansi Vertikal terkait yang berada di Provinsi Kalimantan Barat, Perwakilan Perusahaan Sekitar Kawasan TNBBBR (PT. Sari Bumi Kusuma), Civitas Akademika (Fakultas Kehutanan, Fakultas Pertanian UNTAN, dan Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura Pontianak), WWF Indonesia, pejabat struktural, pejabat non struktural dan pejabat fungsional Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dengan jumlah keseluruhan tamu undangan sebanyak 85 orang. Dalam sambutannya Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya yang disampaikan oleh Kasubbag Tata Usaha Bapak Hernowo Supriyanto, S.Hut., M.P., menyatakan bahwa tujuan dari kegiatan sosialisasi dan koordinasi teknis ini adalah agar rencana pengelolaan kawasan TN Bukit Baka Bukit Raya dapat diketahui dan tersebar luas kepada para pihak terkait pengelolaan lingkungan hidup dan konservasi kawasan supaya dapat tercipta sinegritas antar sektor sehingga pengelolaan kawasan dapat terlaksana optimal dalam mewujudkan kelestarian Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dari sisi ekologi maupun manfaatnya secara berkelanjutan dan dapat membuka peluang kerjasama pengelolaan dengan para pihak. Kegiatan ini sendiri berhasil menghimpun inisiasi-inisiasi dari para pihak dalam rangka mendukung sinergisitas pengelolaan TN Bukit Baka Bukit Raya. Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Periode 2018 – 2027 Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya disahkan melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal KSDAE No. 478/KSDAE/SET/KSA.1/12/2017 tentang Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat dan Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah. Sosialisasi ini diharapkan dapat mewujudkan (1) Sinkronisasi Program Pembangunan di dalam dan sekitar kawasan TNBBBR; (2) Dukungan terhadap pengelolaan TNBBBR untuk perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan; (3) Kerjasama dalam pengelolaan kawasan, peningkatan kegiatan penelitian, riset dan teknologi; (4) Dukungan pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan serta pengembangan dan pemasaran produk-produk masayarakat local dan (5) Dukungan pengembangan pariwisata alam dan budaya setempat. Selain itu dari pertemuan dengan pihak Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura dalam hal ini diwakili oleh Bapak Erianto) menyatakan siap mendukung untuk setiap aktivitas yang bersifat penelitian dan sesuai Tri Darma Perguruan Tinggi dengan mekanisme yang ada. Potensi kawasan TN Bukit Baka Bukit Raya dapat dieksplore untuk meningkatkan fungsi Taman Nasional. Keberadaan Zona Tradisional dimana artinya keberadaan masyarakat didalam kawasan sehingga diharapkan kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dapat menjadi prioritas dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
Baca Berita

Pembentukan Masyarakat Peduli Sampah Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, 20 Februari 2018. Balai Taman Nasional Komodo bersama Pemda Manggarai Barat dan WWF Indonesia telah menyusun Panduan Pengelolaan Sampah Taman Nasional Komodo dan Kota Labuan Bajo. Berdasarkan panduan tersebut, Taman Nasional Komodo lakukan langkah-langkah aksi penanganan dan pengelolaan sampah secara terpadu bersama masyarakat, yang diawali dengan kegiatan pembentukan Masyarakat Peduli Sampah (MPS) pada hari Selasa, 20 Pebruari 2018 bertempat di Kantor Balai Taman Nasional Komodo. Hadir dalam kegiatan pembentukan Masyarakat Peduli Sampah (MPS) sebanyak 35 orang masyarakat dari tiga Desa dalam Kawasan Taman Nasional Komodo. Kepala Balai Taman Nasional Komodo Bpk. Budhy Kurniawan, S.Hut mengharapkan agar “Pembentukan MPS menjadi salah satu solusi untuk mengurangi sampah baik di pemukiman masyarakat maupun di lokasi-lokasi wisata” tegas Kepala Balai Taman Nasional Komodo Bpk. Budhy Kurniawan, S.Hut. Lebih lanjut Kepala Balai Taman Nasional Komodo mengharapkan bantuan dan peran serta aktif berbagai pihak baik Pemda Manggarai Barat, masyarakat, pelaku wisata maupun lembaga swadaya masyarakat untuk bekerja bersama-sama menangani sampah di Taman Nasional Komodo. Peserta kegiatan ini diedukasi tentang berbagai aspek pengelolaan sampah di Taman Nasional Komodo yang mencakup aspek teknik operasional, kelembagaan, pembiayaan, peraturan dan aspek peran serta masyarakat, dengan tiga orang narasumber yakni Sekretaris Dinas LHK Kabupaten Manggarai Barat (Bpk. Agustinus Rinus, S.Pd), Ketua Indonesian Waste Platform NTT (Ibu Martha Muslin Tulis, SH) dan Ketua KSU Sampah Komodo (Bpk. Thomas Aquino Ampur). Sumber : Balai TN Komodo
Baca Berita

Pemadaman Di Area Penyangga Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu

Bengkalis, 20 Februari 2018. Sudah dua hari sejak tanggal 19 Pebruari 2018, Tim KPHK Giam Siak Kecil Bukit Batu dan RPK PT. Arara Abadi melakukan pemadaman kebakaran hutan yang terjadi di sekitar Kampung Sidodadi, Kecamatan Talang Mandau, Kabupaten Bengkalis. Lokasi kebakaran berada kurang lebih 3 Km dari kawasan SM Giam Siak Kecil yang masuk dalam area penyangga Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu. Areal terbakar kurang lebih 4 hektar yang merupakan semak belukar pada lahan gambut. Pemadaman dilakukan dengan cara menyemprotkan air pada lokasi lokasi terbakar dengan menggunakan ministraiker. Kecepatan dan ketepatan pemadaman sangat diperlukan agar api tidak merambat dan meluas. Setelah berjuang melakukan pemadaman selama 2 hari, tim berhasil memadamkan api permukaan dan selanjutnya melakukan penyisiran pemadaman dan pendinginan pada gambut yang terbakar. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Aksi Peduli Lingkungan TWA Teluk Youtefa

Jayapura, 20 Febuari 2018. Balai Besar KSDA Papua bersama Masyarakat Kampung Tobati adakan “Aksi Peduli Lingkungan TWA Teluk Youtefa” pada hari Rabu, 14 Februari 2018, tujuan kegiatan ini adalah untuk menarik perhatian masyarakat agar tingkat kepedulian masyarakat semakin tinggi terhadap Lingkungan Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Teluk Youtefa dan turut bersama menjaga kawasan dari sampah organik maupun anorganik. Dalam hal ini dilakukan kegiatan peduli lingkungan dengan membersihkan sampah sepanjang kawasan tersebut khususnya di areal hutan bakau. Kawasan TWA Teluk Youtefa memiliki potensi untuk pengembangan wisata alam, beberapa objek dan daya tarik wisata alam di TWA Teluk Youtefa adalah pariwisata alam, wisata pendidikan alam, wisata sejarah perang dunia dan wisata budaya. Kawasan ini letaknya berdekatan dengan Kota Jayapura sehingga banyak pengunjung baik wisatawan domestik maupun mancanegara, kurangnya kesadaran pengunjung ini mengakibatkan banyak sampah di beberapa tempat di kawasan, selain itu juga sampah yang berasal dari Pasar Youtefa dan dari masyarakat setempat (Tobati dan Enggros) yang telah ada sebelum kawasan ini ditunjuk. Aksi peduli lingkungan yang difokuskan pada areal hutan bakau dilakukan dengan peralatan sederhana dan menggunakan perahu masyarakat, aksi ini berhasil mengumpulkan beberapa karung sampah besar yang terdiri sampah organik dan anorganik, selanjutnya diangkut ke tempat pembuangan sampah. Selain mengadakan Aksi Peduli Lingkungan, Kepala Resort Youtefa (Ernes O. Itaar) beserta tim juga melaksanakan sosialisasi tentang pentingnya menjaga kawasan dari sampah kepada masyarakat yang berada di sekitar Kawasan Taman Wisata Alam Youtefa. Sumber : Reza Arisandy Torano - Bakti Rimbawan Balai Besar KSDA Papua

Menampilkan 8.769–8.784 dari 11.140 publikasi