Jumat, 17 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Patroli Apung Terpadu Balai TN Komodo Bersama Mitra

Labuan Bajo, 19 Maret 2018. Patroli Apung Terpadu kembali dilaksanakan oleh Balai TN. Komodo pada tanggal 11-17 Maret 2018. Patroli dengan menggunakan Kapal King Fisher atau Floating Ranger Station ini melibatkan personil Balai TN. Komodo, Polres Manggarai Barat dan TNI Angkatan Laut. Sasaran lokasi Patroli Apung Terpadu adalah wilayah-wilayah rawan gangguan baik di darat maupun di perairan, wilayah aktivitas pengambilan hasil laut oleh nelayan dan wilayah aktivitas wisata. Patroli Apung Terpadu dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pembinaan secara persuasif terhadap para pengguna kawasan baik nelayan maupun pelaku wisata serta melakukan upaya pencegahan dini terhadap berbagai aktifitas yang sifatnya merusak kawasan. Di wilayah-wilayah rawan gangguan seperti di wilayah Komodo Barat dan Selatan Rinca tidak ditemukan pelanggaran baik di darat maupun di perairan. Di wilayah aktivitas wisata seperti di Gili Lawa dan Padar Selatan masih ditemukan beberapa pengunjung yang tidak memiliki tiket masuk maupun tiket aktivitas wisata. Sedangkan di wilayah aktivitas nelayan tinggi seperti di Selatan Komodo dan Selatan Padar hanya ditemukan sebuah kapal nelayan yang menggunakan alat tangkap yang dilarang yakni pancing rawe. Terhadap nelayan tersebut diberikan pembinaan dan alat tangkapnya ditahan oleh tim patroli. Kegiatan Patroli Apung Terpadu ini merupakan kegiatan rutin Balai TN. Komodo dalam upaya pengamanan dan perlindungan kawasan. Selain Patroli Apung Terpadu, masih terdapat kegiatan patroli lain di TN. Komodo yakni patroli seksi dan patroli bersama kapal wisata. Sumber : Balai TN Komodo
Baca Berita

TN Tambora Gelar Konsultasi Publik Kembangkan Wisata

Jumat (16/3) Balai TNT menggelar konsultasi publik rencana pembangunan sarana dan prasarana pengembangan wisata. Kegiatan konsultasi publik ini berlangsung secara serentak di empat lokasi di lingkar Tambora, yaitu di kecamatan Kempo, Pekat, Tambora dan Sanggar. Konsultasi publik ini dihadiri oleh sejumlah stakeholder yang bersentuhan langsung dengan agenda taman nasional Tambora. Tak kurang dari 30 orang peserta yang hadir di masing-masing lokasi. Acara konsultasi publik secara resmi dibuka oleh pejabat masing-masing kecamatan. Selanjutnya ada sambutan dari Camat yang secara umum mengajak seluruh stakeholder untuk bekerjasama mengembangkan pariwisata di Taman Nasional Tambora dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya pemaparan materi dan rencana pembangunan dari pihak Taman Nasional. Pengembangan sarana dan prasarana akan dilakukan di empat jalur pendakian, yaitu Jalur Doro Ncanga, Pancasila, Kawinda Toi dan Piong. Selain itu, untuk menyambut para pendaki yang berhasil mencapai puncak, akan dilakukan penataan tepi kaldera juga. Sementara itu, untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan para wisatawan, dilakukan pula pembenahan di sekitar sungai dan air terjun Oi Marai. Sarana dan prasarana yang akan dikembangkan di jalur pendakian diantaranya gerbang masuk, shelter, pusat informasi, jaringan air bersih, bak sampah, papan peringatan dan informasi, pusat atraksi, embung, mushala, selfi point, area parkir, halte, jalur trabas, Menara pandang, camping ground, pondok pendaki dan kuda. Khusus kuda, tahun ini akan dicoba diadakan di jalur pendakian Piong yang merupakan salah satu Kawasan savana Tambora selain Doro Ncanga. Mimpi kedepannya, TNT bisa menawarkan berbagai opsi pendakian, mulai dari yang jalan kaki, kendaraan roda dua, kendaraan roda empat dan berkuda. Setelah pemaparan materi, dibuka sesi diskusi yang berjalan cukup alot. Sejumlah peserta memberikan saran dan pertanyaan tentang sarana dan prasaran wisata yang akan dibangun. Masukan yang disampaikan di antaranya pembangunan sarana prasarana hendaknya lebih banyak melibatkan masyarakat setempat. Pada akhir acara peserta kemudian bersepakat dengan menanda tangani dukungan terhadap rencana pengembangan sarana dan prasaran pariwisata Taman Nasional Tambora. The sound from caldera Sumber : Taman Nasional Tambora
Baca Berita

Bonita, Si Cantik Nan Liar

Maret 2018. Bonita, nama yang membuat sebagian orang yang tau kisahnya akan merinding. Nama yang cantik namun telah memangsa korban jiwa. Masyarakat sekitar Pelangiran sangat menghindarinya... tapi Tim Rescue gabungan sedang gencar mencarinya. Bukan untuk diburu, sama sekali bukan.... ,namun untuk diselamatkan. Diselamatkan dari kegeraman warga yang ingin balas dendam dengannya, diselamatkan dari kemungkinan dia sakit yang menyebabkan perilakunya berubah dan terutama diselamatkanlah jiwa warga Pelangiran dan sekitarnya dari ancaman maut si Bonita. Perilaku Bonita yang berbeda dari satwa liar lainnya menjadi perhatian khusus tim Rescue. Dengan genit Bonita melenggang mendekati kendaraan maupun camera trap dan box trap yang telah di pasang untuknya. Tak sedikitpun dia tertarik untuk mencicipi hidangan yang dipersiapkan khusus oleh Tim untuknya. Sosialisasi dan pemasangan boxtrap didaerah lintasan harimau sudah dilakukan tim sejak lebih dua bulan yang lalu.... Memberikan sejenis makanan kesukaan yg mengandung sedative dan pemakaian obat bius pun telah diupayakan. Namun hingga detik ini si Bonita tetap tidak mempan rayuan. Bahkan cerita terakhir adalah kembali Bonita memangsa korban jiwa. Kali ini seorang penduduk desa Pulau Muda. Lokasi desa Pulau Muda dengan lintasan harimau yg berkonflik tidaklah dekat sekitar kurang lebih 20 km. Seorang warga dari Pulau Muda bekerja ditempat harimau yg masih berkeliaran. Dengan kondisi harimau belum berhasil dievakuasi ada petani walet mencoba membangun rumah walet baru dan mempekerjakan orang dari luar kampung Danau didaerah konflik harimau yg sedang terjadi. Amatlah disayangkan. Dengan munculnya korban jiwa ini, penduduk desa Pulau Muda berduyun duyun mendatangi kantor PT THIP mendesak tim gabungan segera menangkap harimau tersebut. Mereka mengultimatum jika dalam waktu tiga hari tim tidak mampu mengevakuasi Bonita, maka masyarakat Pulau Mudalah yang akan membunuh satwa liar tersebut dengan cara apapun. Di tengah massa yang berkerumun, M. Hendri seorang Polisi Kehutanan Balai Besar KSDA Riau yang saat itu memimpin kerja tim gabungan di lapangan naik ke podium menenangkan massa. Dengan suara tenang dan lantang dia menyampaikan duka yang sangat mendalam dan mengharapkan hal tersebut tidak akan pernah terulang. Mediasi dilakukan. Dalam keadaan yang tidak merdeka tim gabungan diminta untuk menandatangani ultimatum masyarakat desa Pulau Muda. Tiga hari waktu yang diberikan mengulur menjadi tujuh hari. Poin terakhir dari ultimatum tersebut menyatakan bahwa jika sampai waktu yang telah disepakati tim tidak berhasil dan masyarakat Pulau Muda membunuh harimau tersebut, maka idak akan ada tuntutan hukum apapun dikemudian hari.... Akankah hukum tetap diterapkan dalam ketidak merdekanya seseorang untuk memberikan tandatangan? Akankah si Bonita tau bahwa tim gabungan datang bukan untuk memburunya tapi untuk menyelamatkannya dari kematian? Dan yang lebih harus kita pikirkan bersama adalah, akankah anak cucu kita kelak masih bisa menyaksikan si belang datuk nan wibawa menjaga rimba di tanah Melayu? Mari Kita Selamatkan Satwa Harimau Sumatera (Phantera Tigris Sumaterae) yang hampir punah. Satwa ini merupakan satu-satunya yg menjadi kebanggaan Negeri ini dan merupakan tanda-tanda Kebesaran Allah serta sebagai Ilmu pengetahuan untuk masa depan... Pepatah Melayu Mengatakan..."Takkan Hilang Melayu DiBumi…" Jangan Sampai Hilang Datuk Belang di Bumi Lancang Kuning ini...Karena Datuk Belang dan Datuk Godang yg menjaga Tanah Melayu ini.... #SAVEHARIMAUSUMATERA# Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Balai TN Komodo Dukung Dekkarasi Masyarakat Manggarai Barat Anti Hoax

Manggarai Barat (17/3/18). Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula bersama Kepala Balai TN. Komodo, Kapolres Manggarai Barat, Wakil Bupati Mabar, Kejari Labuan Bajo, Kadis Pariwisata Propinsi NTT, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat mendeklarasikan Masyarakat Manggarai Barat Anti-Hoax, Anti Ujaran Kebencian dan Anti Sara di Lapangan Bola Kaki Kampung Ujung, Labuan Bajo bertepatan dengan penutupan festival komodo pada Sabtu (10/3) Deklarasi ini bertujuan untuk mengajak masyarakat Mabar agar berlaku bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak menggunakannya untuk menyebarkan hoax. Bupati Manggarai Barat dalam deklarasi tersebut menyampaikan bahwa selain hoax, yang harus dihindari adalah ujaran-ujaran kebencian dan penghembusan isu SARA. Lebih lanjut beliau mengajak masyarakat untuk menciptakan Labuan Bajo yang bersahabat. “Saya mengajak kita semua untuk sama-sama memerangi HOAX, Ujaran kebencian dan Penggunaaan Isu SARA untuk Manggarai Barat yang bersahabat". Kepala Balai TN. Komodo, Budhy Kurniawan menyambut baik deklarasi Masyarakat Manggarai Barat Anti-Hoax, Anti Ujaran Kebencian dan Anti Sara. Menurut Budhy, jika kita menjaga kota dan kawasan kita aman dan nyaman, tentu wisatawan akan betah untuk tinggal berlama-lama atau untuk berkunjung kembali ke Labuan Bajo dan TN. Komodo. Sumber: TN Komodo
Baca Berita

Diskusi Minggu Pagi BKSDA Maluku dan Kelompok Pecinta Alam

Diskusi Minggu Pagi BKSDA Maluku dan Kelompok Pecinta Alam Ambon, 18 Maret 2018. Kepala Balai KSDA Maluku, Amin Ahmadi, menghadiri undangan dari Kelompok Pecinta Alam Hila-Halawang (KPA Palahi Halawang) dalam rangka pelantikan pengurus baru masa bakti 2017-2019 (18/3/18). Kegiatan ini juga menjadi ajang diskusi serta rapat penyusunan program kerja KPA Palahi Halawang. Kepala Balai KSDA Maluku menyampaikan bahwa organisasi pecinta alam dewasa ini harus dapat bersinergi dengan multi stakeholder. Sinergitas itu dapat dimulai dari kerjasama dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di daerahnya. Kegiatan-kegiatan pelestarian lingkungan seperti penghijauan maupun penanaman pohon pasti akan didukung penuh oleh UPT KLHK. Ada beberapa UPT di propinsi Maluku dengan tupoksinya masing-masing yang dapat diajak bersama-sama dalam kegiatan melestarikan lingkungan. Selain itu Amin Ahmadi juga berpesan, sebagai anggota KPA untuk dapat mengimplementasikan setiap tindakannya dengan semangat cinta lingkungan. “Setiap anggota harus mencerminkan sikap mencintai alam dan lingkungan dalam kehidupan sehari-harinya, sehingga masyarakat mendapat contoh yang baik bukan sebaliknya,” tambahnya. Sumber: Rifky Firmana P. - Penyuluh Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Ratusan Sepeda Berpacu Telusuri Kawasan Hutan TN Tesso Nilo

Pangkalan Kerinci, 18 Maret 2018. Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) ramai dengan penampakan ratusan sepeda. Lebih dari 150 pesepeda berkumpul hendak menyusuri jalan hutan dalam rangka Launching Forest Bike atas kerja sama Balai Taman Nasional Tesso Nilo dengan komunitas sepeda Gowes Club Siput. ”Saya tidak menyangka akan hadir seramai ini karena awalnya hanya acara Minggu sehat dengan bersepeda, ternyata dapat sambutan yang antusias dari TNTN, Tokoh Desa dan masyarakat" terang Lilik Pristiana Ketua Gowes Club Siput. Start dari Gapura koridor RAPP di Desa Lubuk Kembang Bunga, kegiatan bersepeda yang diikuti oleh 150 peserta yang terdiri dari gabungan komunitas sepeda di Kabupaten Pelalawan. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Anggota Ketua DPRD Pelalawan Nasarudin ,S.H, M.A, Anggota DPRD Kab. Pelalawan Sudirman Laham dan Ade Irwan, utusan Polsek, utusan Koramil serta masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga. Melewati jalan kawasan hutan, pesepeda finish di guest house hutan Tesso Nilo sambil menikmati wisata hutan. Selain kegiatan bersepeda peserta juga disuguhkan dengan safari gajah dan diberi edukasi tentang gajah langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo Bapak Supartono S.Hut, M.P. Para peserta pesepeda terlihat antusias mendengarkan penjelasan perilaku gajah. Beberapa kali anak gajah Bernama Harmoni Rimbo mengagetkan peserta dengan tingkah lucunya mengajak bermain dengan menyeruduk para peserta. "Kita berharap kegiatan seperti ini dapat terus kita lakukan secara rutin, berkesinambungan dan dapat dukungan dari semua pihak, karena TNTN tidak bisa berjalan sendiri dan membutuhkan bantuan dari teman teman komunitas" ungkap Kepala Balai TNTN Supartono S.Hut , M.P Sumber : Balai TN Tesso Nilo
Baca Berita

35 Siswa Dalami Ilmu Kehutanan di TN Tesso Nilo

Pelalawan, 18 Maret 2018. Sebanyak 35 siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan Kehutanan Negeri Pekanbaru laksanakan praktek industri di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Para siswa kelas X tersebut laksanakan praktek selama 30 hari penuh mulai 1 s/d 30 Maret 2018. Pelaksanaan praktek industri bertujuan untuk membentuk karakter rimbawan “jiwa kemandirian kepada para siswa, oleh karnanya pelaksanaan praktek industry siswa SMK ini diprogramkan tinggal di dalam tenda. Selama satu bulan penuh para peserta praktek dibimbing oleh staf teknis, pengendali hutan, penyuluh dan POLHUT di Seksi Pengelolaan Wilayah I TNTN. Dalam pelaksanaannya para siswa diajarkan mengenai pengelolaan kawasan serta monitoring satwa dan flora. Dalam masa pelaksanaan praktek industri, para siswa juga turut serta dalam kegiatan yang dilansanakan dikawasan hutan TNTN, Minggu 18/03/18 para siswa terlihat ikut serta dalam pengawalan acara bersepeda yang diadakan oleh TNTN bekerjasama dengan gabungan komunitas sepeda se Kabupaten Pelalawan. Usai kegiatan para siswa dikumpulkan dan diberi wejangan perihal kehutanan oleh Kepala Balai TNTN Supartono, S.Hut,M.P. Dalam pengarahannya, Kepala Balai TNTN menanamkan sikap mencintai hutan dengan menjaga kelestariannya. “Mereka adalah generasi paling muda didunia kehutanan yang masih bisa kita bentuk sedemikian rupa agar nanti saat sudah berkecimpung di dunia kerja kehutanan tidak mementingkan diri dengan memanfaatkan hutan untuk mengisi pundi pundi pribadi" terang Kepala Balai TNTN Supartono, S.Hut, M.P. Sumber : Balai TN Tesso Nilo
Baca Berita

Bersama Masyarakat Mitra Polhut Amankan Kawasan

Kemujan, 17 Maret 2018. Kegiatan Resort Parang - SPTN Wil. I Kemujan Patroli Bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) tanggal 12 s.d 16 Maret 2018. Dengan hasil pelaksanaan kegiatan Tanggal 12 Maret 2018 : Tim yang tergabung dalam kegiatan melakukan persiapan berupa pembagian tugas masing2 anggota tim dan mempersiapkan bahan dan peralatan (Peta, GPS,Kamera, binokuler, ATK, alat dasar selam) selanjutnya tim berangkat dari kantor resort menuju zona Budidaya bahari kawasan resort parang : menjumpai 3 kapal yg bersandar : KM. Bumi Murni GT.282 no.413 ha; KM.Bunga Raksasa GT.168; KM. Bintang Cemerlang GT.149 no.721/mg, adapun alasan sandar adalah berlidung dari gelombang ombak yg mencapai 1-1.5 m. Selanjutnya tanggal 13 maret 2018, Tim patroli bersama MMP melakukan kegiatan operasi dikawasan zona inti P. Kumbang adapun hasil pemantauan tidak dijumpai aktivitas nelayan dizona tersebut, kemudian tim melakukan pemeriksaan terhadap tanda batas zona, tim tidak menemukan adanya tanda batas zona dan hilangnya tanda batas zona. besar kemungkinan akibat faktor alam (musim baratan), selanjutnya tim bergerak menuju zona perlindungan bahari gosong kumbang guna memantau aktivitas nelayan namun tidak dijumpai adanya aktivitas nelayan dizona tersebut. Laporan juga ada di tanggal 14 maret 2018, tepat pukul 08.00 tim bergerak dari dermaga timur P. Parang menuju zona perlindungan bahari gosong selikur dan sekitarnya namun tidak dijumpai adanya aktivitas nelayan dizona tersebut. Kemudian tim bergerak kembali menuju zona perlindungan Bahari P. Kembar namun hasil yg didapatkan sama tidak menemukan adanya aktivitas nelayan baik nelayan setempat maupun nelayan yang datang dari luar lalu tim bergerak menuju titik Referensi yg ada di P. Kembar, Titik Referensi Balai TN. Karimunjawa yang ada di P. Kembar dalam kondisi baik. Pada tanggal 15 maret 2018, tim patroli bersama MMP melakukan pengecekan keramba yang ada disekitar Pulau Parang, ada pun hasil yg didapat : Tim juga melakukan patroli di tanggal 16 Maret 2018, tepat pukul 08.00 Tim patroli bersama MMP berangkat dari kantor resort menuju dermaga timur (bengkok), tim melakukan pemantauan dizona budidaya bahari batu merah namun tidak dijumpai adanya kapal yang bersandar maupun aktivitas nelayan dizona tersebut, selanjutnya tim bergerak kembali menuju zona perlindungan bahari Batu hitam hasil yg didapat juga sama tidak dijumpai adanya aktivitas nelayan dizona tersebut, selanjutnya tim bergerak dg mengitari pulau Parang dan kembali ke dermaga Timur, hasil nya tidak dijumpai adanya aktivitas nelayan dizona budidaya bahari Pulau Parang. Umumnya nelayan setempat adalah nelayan “mbabang” ( kakap merah) yg menggunakan bubu sbg alat tangkap. Kegiatan “mbabang” dilakukan diluar kawasan dg radius jarak dari pulau Parang lebih kurang 70 s.d 100 mil laut. Sumber : Muhammad Nur Cahyadi - PEH Resort Parang, SPTN I Kemujan Balai TN Karimun Jawa
Baca Berita

TN Bantimurung Gelar Musyawarah Bersama Masyarakat di Resor Balocci

Bantimurung, 13 Maret 2018. SPTN Wilayah I TN Bantimurung menggelar sosialisasi tata kelola berbasis masyarakat di wilayah kerja Resor Balocci. Kegiatan yang melibatkan multipihak ini dilaksanakan di aula kantor Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan pada hari Senin (12/2/2018). Kegiatan sosialisasi ini dihadiri Lurah Balocci Baru, Lurah Kassi, Lurah Balleangin, Kepala Desa Tompobulu. Tokoh masyarakat dari desa-desa tersebut diwakili oleh masing-masng ketua RW. Juga hadir pengurus LPM dan BPD Desa menambah semaraknya sosialisasi ini. Mitra TN Babul juga turut hadir di antaranya anggota Koramil 1421 Balocci, Kepolisian Sektor Pangkep, dan masyarakat mitra polisi kehutanan. Tak ketinggalan kelompok kerja Polhut, PEH, dan perencanaan Balai TN Bantimurung Bulusaraung. Kegiatan ini digelar untuk mensosialisasikan tata kelola TN Bantimurung Bulusaraung termasuk di dalamnya sistem tata batas, zonasi hingga peluang kolaboratif dengan masyarakat sekitar kawasan. Beberapa narasumber menyampaikan materi di antaranya BPKH Wilayah VII Makassar, Camat Balocci, Kasatbinmas Polres Pangkep, dan Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung. “Mari kita jaga hutan bersama-sama. Rusak atau baiknya hutan, kita juga yang ada di sekitarnya yang akan merasakannya. Mari kita perhatikan dan gali potensi yang bisa dikembangkan bersama di desa kita. Saya contohkan tata kelola pendakian bulusaraung yang dikelola oleh anak-anak muda kita di Desa Tompobulu. Meraka melalui Kelompok Pengelola Ekowisata (KPE) Dentong secara mandiri mengelola Kawasan Wisata Pendakian Bulusaraung. Hasilnya telah dinikmati bersama melalui pembagian ke TN Bantimurung Bulusaraung sebagai PNBP, retribusi untuk desa, dan tentunya insetif bagi pengurus KPE Dentong,” ujar Sahdin Zunaidi, Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung. Kasatbimas Polres Pangkep mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap kebakaran hutan. Ia juga berpesan agar masyarakat patuh terhadap hukum yang berlaku. “Tidak menebang pohon di kawasan taman nasional. Karena itu termasuk pelanggaran terhadap hukum,” tambah IPDA Sutrisno. “Kecamatan sebagai perpanjang tangan pemerintah dan mewakili masyarakat, akan terus melibatkan diri dalam tata kelola TN Bantimurung Bulusaraung,” Tegas Jaenal Sanusi, Camat Balocci. Masyarakat sangat antusias saat penyampaian materi tentang tata batas kawasan taman nasional. Kepala Seksi Pemolaan Kawasan Hutan BPKH Wilayah VII (Pria Kurjinanto), menyampaikan perkembangan tata batas di Kecamatan Balocci. Ia juga menjelaskan tentang peluang-peluang memanfaatkan kawasan hingga rekontruksi pal-pal batas kawasan. Setelah penyampaian materi dilanjutkan dengan diskusi. Diskusi berlangsung cukup alot. Di akhir pertemuan itu semua pihak sepaham untuk bekerjasama dan menjalin komunikasi secara intensif dalam tata kelola TN Bantimurung Bulusaraung. Sebagai bentuk simbolik kerjasama, Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung menyerahkan peta zonasi dan peta batas resor Balocci kepada Camat Balocci. Sumber: Erista Murpratiwi – Kepala Resor Balocci, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Dialog Khusus Bontang Mangrove Park Balai TN Kutai

Bontang, 17 Maret 2017. Masih dalam rangka memperingati Hari Bakti Rimbawan, Balai Taman Nasioal Kutai kembali melaksanakan talk show dengan tema “Launching BMP” yang disiarkan secara langsung di PKTV pada tanggal 17 Maret 2018 pukul 20.00 – 21.00 WITA melalui progran “Dialog Khusus”. Berbeda dengan talk show sebelumnya (16 Maret 2018), talk show kali ini selain melibatkan Kepala Balai TN Kutai Bapat Nur Patria Kurniawan S.Hut., M.Sc. dan Kepala Sub Bagian Tata Usaha TN Kutai Bapak Siswadi, S. Hut., M.Ec. Dev., MA. sebagai narasumber, hadir juga perwakilan masyarakat yaitu Lurah Bontang Baru Bapak Chahyo Hadi Wichaksono, S.STP. Pada acara ini KSBTU TN Kutai sekaligus ketua panitia launching BMP mengatakan bahwa persiapan launching telah dilaksanakan mulai hari jumat (16 Maret) bersama masyarakat dengan melakukan aksi bersih sampah sekaligus merayakan hari Bakti Rimbawan. Menurut Bapak Chahyo, pengembangan objek wisata BMP Taman Nasional Kutai yang lokasinya berada di Kelurahan Bontang Baru dari sisi kesiapan masyarakat masih sampai pada tahap membangun emosional dari masyarakat. Dari pihak kelurahan sendiri mengutamakan tujuh sapta pesona pariwisata yaitu keamanan, ketertiban, kesejukan, keindahan, kebersihan, keramahan, dan kenangan. Ke-7 sapta pesona ini harus dipunyai oleh tuan rumah yang baik sehingga siapapun yang datang dapat membawa kenangan yang baik. Lurah Bontang Baru ini juga menambahkan bahwa Beliau sangat bersyukur TN Kutai sudah memberikan ruang yang sebesar-besarnya bagi warga setempat untuk menjadi tuan rumah di rumah sendiri dan mengenai promosi beliau mengaku promosi wisata dari warganya sendiri sudah sangat gencar dilakukan melalui media sosial karena impact dari BMP ini kembali ke masyarakat setempat. Dalam talk show ini juga dibuka interaktif langsung bagi penonton untuk dapat bertanya langsung kepada para narasumber melalui telepone. Ada dua penelepon untuk bertanya langsung kepada Kepala Balai TN Kutai. Pertanyaan yang dilontarkan oleh penonton adalah 1) Jalan boardwalk menurutnya sangat jauh. Apakah tidak ada rencana untuk membuat jalan pintas? 2) Tarif tiket masuk dengan harga Rp. 5000 (lima ribu rupiah) apakah tidak terlalu mahal untuk objek wisata yang baru dibuka? 3). Safety untuk boardwalk belum ada, apakah tidak ada rencana untuk memasang safety disepanjang boardwalk karena berbahaya bagi anak-anak. Menanggapi semua pertanyaan tersbut, Kepala Balai TN Kutai menjelaskan bahwa pada tahun ini (2018), TN Kutai beencana akan menambah boardwalk sehingga pengunjung tidak berjalan bolak-balik lagi dan akan membuat jalan pintas sehingga apabila ada pengunjung yang tidak sanggup berjalan dengan jarak jauh dapat melalui jalan pintas. Selanjutnya, untuk tiket wisata Beliau menyatakan harga tiket yang diberlakukan di BMP merupakan harga yang telah ditetapkan dalam PP Nomor 12 tahun 2014 tentang jenis dan tarif atas jenis pendapatan negara bukan pajak yang berlaku pada Kementerian Kehutanan. Beliau yakin bahwa sudah ada kajian komprehensif untuk tarif yang telah ditetapkan. Tetapi dengan membayar Rp. 5000,- akan menjaga konservasi dan akan menambah PNBP. Terkait dengan safety yang tidak dipasang pada sisi kiri dan kanan boardwalk beliau mengatakan dari kacamata TN Kutai sendiri, pada sepanjang boardwalk sudah dipasang papan peringatan bahwa anak-anak harus dibawah pengawasan orangtua/orang dewasa. Ditanya mimpi masing-masing narasumber untuk BMP kedepannya, Lurah Bontang Baru mengatakan agar masyarakat dapat mengandalkan kepariwisataan khususnya BMP karena pariwisata masuk dalam pendapatan negara terbesar ke-5 dan agar masyarakat merasa memiliki sehingga dapat menjaga BMP untuk anak cucu. KSBTU sendiri menyatakan semoga fungsi-fungsi-fungsi BMP dapat berjalan optimal dan berkelanjutan serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Kepala Balai TN Kutai bermimpi agar BMP bisa menjadi icon Bontang, menjadi kebanggaan Kalimantan Timur, Indonesia dan KLHK. Beliau juga berpesan jaga dan rawat keberlanjutan BMP karena BMP ada di tangan warga Kota Bontang. Ayo ke Bontang Mangrove Park Ayo ke Taman Nasional Kutai Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

SPKP Mangga Delima, Menuju SPKP Mandiri

Karimun Jawa, 17 Maret 2018. Salah satu kelompok Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) di Taman Nasional Karimunjawa yang telah berbadan hukum adalah “SPKP Mangga Delima” yang berada di Desa Kemujan Taman Nasional Karimunjawa. Kegiatan pertemuan rutin Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) “Mangga Delima” SPTN II Taman Nasional Karimunjawa, dilaksanakan pada hari Sabtu tgl 17 Maret 2018. Bertempat di rumah bapak Rifai selaku wakil ketua. Pertemuan dilaksanakan dari jam 19.30 sampai selesai. Anggota yang hadir hadir 14 0rang plus pengurus. Notulen hasil pertemuan untuk kegiatan bulan Maret - April 2018 adalah : Sumber : Karyanto, SP. (Kepala Resort Telaga, SPTN II Karimunjawa)
Baca Berita

Melasti Dalam Kawasan TN Rawa Aopa Watumohai

Konawe Selatan, 17 Maret 2018. Tanggal 16 Maret 2018 sangat bermakna bagi suluruh Umat Hindu di Indonesia bahkan dunia, tak terkecuali umat Hindu Desa Lapoa Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konsel Provinsi Sulawesi Tenggara, yang mana hari tersebut merupakan waktu untuk mempersiapkan diri dalam menyambut tahun baru Saka 1940 yang di Indonesia lazim disebut hari raya Nyepi. Keberadaan komunitas pemeluk agama Hindu ini tidak jauh (7 km) dari kawasan TN Rawa Aopa Watumohai (TNRAW dan hingga saat ini tercatat sudah 3 kali melaksanakan kegiatan serupa dalam kawasan TNRAW. Hari raya Nyepi pada hakikatnya merupakan perayaan tahun baru Saka yang oleh umat Hindu dilaksanakan dengan menjalankan catur brata penyepian (empat jenis puasa) selama 24 jam diantaranya: amati gni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungayan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak ada hiburan). Sehari sebelum menjalani puasa tersebut, dilaksanakan upacara melasti dengan maksud untuk memperoleh kesucian jiwa dan raga melalui permohonan tirta (air suci) dilaut dimana laut merupakan muara dari segala air sehingga diharapkan dapat memberikan kesucian jiwa dan raga pada saat menjalani catur brata penyepian. Menurut Ketut Sukrawan, ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Desa Lapoa, dipilihnya kawasan TNRAW sebagai tempat pelaksanaan melasti memiliki beberapa alasan diantaranya; Pertama, lokasinya mudah dijangkau dengan kendaraan roda empat maupun roda dua. Kedua, air pada ekosistem mangrovenya dinilai bebas dari limbah. Ketiga, area disekitar dermaga Lanowulu memiliki kemampuan untuk menampung semua aktifitas umat dalam melaksanakan upacara yang diperkirakan mencapai 500 orang. Dan keempat, kegiatan tersebut telah memperoleh ijin tertulis dari pihak pengelola kawasan. Ditambahkanya pula bahwa saat ini sedang dilakukan upaya koordinasi untuk menjajaki kemungkinan penunjukan lokasi tersebut sebagai tempat melasti bagi umat Hindu sekabupaten Konawe Selatan. Terlaksananya kegiatan ini merupakan sebuah bukti bahwa keberadaan kawasan TNRAW mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam menjalankan kegiatan budaya dan ritual. Hal ini akan senantiasa dikelola agar peran dan manfaat kawasan TNRAW semakin dirasakan dan disadari oleh masyarakat sehingga pada level tertentu kesadaran tersebut dapat bermanfaat bagi kelestarian kawasan. Melalui kegiatan ini dapat pula diketahui bahwa masyarakat disekitar kawasan TNRAW memiliki tingkat toleransi antar umat beragama yang sangat tinggi. Hal tersebut terlihat dari keberadaan umat dan suku lain yang turut menyaksikan kegiatan tersebut dengan tanpa terjadi gesekan atau perselisihan. Fenomena ini merupakan aset kawasan yang bernilai tinggi untuk dikemas menjadi sebuah atraksi wisata. Dalam skala yang lebih luas, keberadaan kawasan TNRAW dengan semua potensi keragaman hayati dan ekosistemnya telah banyak dimanfaatkan oleh komunitas masyarakat dalam melaksanakan budaya dan tradisinya. Pohon Rumbia (agel) yang tumbuh alami dan cukup melimpah dalam kawasan TNRAW telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat suku Tolaki dan Moronene dimana umbutnya (tinira dalam bahasa Tolaki dan Moronene) sebagai sayuran yang wajib ada dalam setiap acara perjamuan pernikahan. Sungai Mandu mandula sebagai batas alam kabupaten Bombana dan Konsel sering dijadikan lokasi pelaksanaan ritual syukuran oleh masyarakat suku Bugis kecamatan Tinanggea. Dan yang saat ini sedang dalam proses pengakuan Pemerintah Pusat adalah aktifitas adat suku Moronene Kampo Hukaea – Laea yang berada dalam kawasan TNRAW tepatnya diblok hutan Hukea. Selain itu banyak pula aktifitas tradisional yang dilakukan pada ekosistem rawa dan mangrove dalam memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada. Agar tidak bertentangan dengan fungsi kawasan, aktifitas budaya, adat dan ritual yang ada senantiasa dikendalikan oleh pihak pengelola melalui penyesuaian dengan aturan konservasi yang berlaku. Pihak pengelola kawasan menyadari sepenuhnya bahwa aktifitas tersebut sangat berpotensi untuk mendukung kegiatan pengelolaan apabila dilaksanakan dalam skema kerja sama (kolaboratif) sehingga prinsip kelestarian yang bermanfaat dan manfaat yang lestari senantiasa dipahami dan diimplementasikan. Sumber : Putu Sutarya - Balai TN Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Balai TN Kayan Mentarang Siap Matangkan Implementasi Heart of Borneo

Tarakan, 17 Maret 2018. Heart of Borneo (HoB) merupakan salah satu konsistensi perhatian pemerintah dalam menjaga hutan beserta sumber daya hayati yang terdapat didalamnya. Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan kawasan konservasi terluas yang termasuk dalam area Heart of Borneo, sehingga menjadi komponen penting dalam pengelolaan HoB oleh Kelompok Kerja (Pokja) HoB Kalimantan Utara. Ketua Pokja Nasional HoB Dr. Prabianto Mukti Wibowo pada pertemuan Rapat Kerja Pokja HoB Kalimantan Utara 2018 yang berlangsung di Hotel Tarakan Plaza Kota Tarakan (15-16/03), telah menyampaikan 5 poin penting yang berkaitan dengan program, capaian dan rencana kegiatan pihaknya dalam pengelolaan HoB pada tahun 2018 ini. Diantaranya ialah HoB Koridor yang menitiberatkan pada Konektivitas Kawasan Konservasi dan Non Konservasi, memperkuat Jaringan Komunikasi dengan masyarakat adat setempat, dan Green Ecotourism serta Destinasi HoB dengan Roadmap Launching HoB Visit Year 2018 yang memerlukan dukungan para pihak. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang Johnny Lagawurin memaparkan peran serta Balai Taman Nasional Kayan Mentarang sebagai dukungan dan implementasi dalam pengelolaan HoB di Kalimantan Utara. Utamanya ialah capaian kinerja yang telah dilaksanakan dan rencana kerja pada tahun 2018 dengan berbasis pengelolaan kawasan konservasi secara kolaboratif. dalam hal ini, Johnny Lagawurin juga menyampaikan penguatan tata kelola TNKM sebagai bagian penting dalam HoB dengan memanfaatkan tingginya aktivitas korporasi di Kalimantan Utara. “Umumnya kita dukung penuh apapun upaya dalam pengelolaan HoB ini. Keseriusan dan komitmen kita, kita implementasikan agar HoB itu betul-betul membawa nilai positif, baik dari segi pariwisata hingga menyangkut kesejahteraan masyarakat, kami siap bekerjasama, dan kita semua harus siap bekerjasama.” tambah Johnny. Dalam pertemuan itu pula digagas pembentukan Dewan Daerah Perubahan Iklim (DDPI) Kalimantan Utara yang salah satu tujuannya untuk merumuskan strategi tingkat provinsi yang terkait dengan pengurangan emisi dan mitigasi perubahan iklim. Sumber : Balai TN Kayan Mentarang
Baca Berita

Peringatan Hari Bhakti Rimbawan ke 35 di Sulawesi Tengah

Palu (17/3/18). Puncak peringatan Hari Bhakti Rimbawan ke-35 tahun 2018 lingkup Provinsi Sulawesi Tengah dilaksanakan di kantor Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu yang diikuti seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian LHK yang ada di Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah, Palu dan Dinas Kehutanan serta Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tengah. Sesuai dengan arahan Sekretaris Jenderal Kementerian LHK, kegiatan peringatan ini dilaksanakan secara sederhana dengan melibatkan rimbawan/rimbawati yang bertugas di Provinsi Sulawesi Tengah untuk memperkokoh jiwa korsa rimbawan. Rangkaian kegiatan yang dikoordinir oleh Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) selaku Korwil Kementerian LHK di Sulteng dimulai pada tanggal 12 s.d 18 Maret 2017 melalui pelaksanaan kegiatan penanaman, donor darah, bersih pantai dan lingkungan kantor serta serangkaian pertandingan dan perlombaan yaitu bola voli, tenis meja, senam, dan jalan santai. Mengusung tema “Melalui Bakti Rimbawan, Kita Tingkatkan Pengelolaan Lingkungan Hidup Untuk Kesejahteraan Rakyat”, puncak kegiatan Hari Bhakti Rimbawan di Sulteng ditandai dengan pelaksanaan upacara bendera pada tanggal 16 Maret 2017 di Kantor Balai Besar TNLL. Kegiatan yang dipimpin oleh Kepala Balai Besar TNLL dilaksanakan dengan tertib dan khidmat oleh seluruh peserta upacara. Dalam sambutannya Ir. Jusman, menyampaikan sambutan Menteri LHK yang antara lain menyampaikan bahwa mengembalikan fungsi utama alam hutan dan melakukan tata kelola hutan yang seharusnya merupakan hal-hal yang harus dikerjakan untuk saat ini. Lebih jauh juga disampaikan bahwa sumber daya alam dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk masyakat sekitar yang sifatnya konstruktif. Hal ini dapat dilakukan dengan pengembangan pariwisata alam yang sarat dengan unsur edukasi dan rehabilitasi kawasan. Sebagai penutup pidato, Menteri LHK menghimbau agar peringatan ini menjadi tempat rimbawan untuk melakukan refleksi, menggali inspirasi, motivasi dan berbagai inovasi dalam kiprah kerja di bidang lingkungan hidup dan kehutanan. Penyampaian pemenang lomba dan penyerahan hadiah dilaksanakan pada akhir pelaksanaan upacara. Balai Besar TNLL keluar sebagai juara umum dengan memenangi beberapa nomor perlombaan yaitu Juara I Bola Voli Putri, dan Juara I Tenis Meja. Sumber : Humas Balai Besar TN Lore Lindu
Baca Berita

Puncak HBR 2018 di God Bless Minahasa

Tondano, 16 Maret 2018. Acara puncak Hari Bakti Rimbawan ke 35 Provinsi Sulawesi Utara. bertempat di alun-alun pusat kota Tondano, ibukota Kabupaten Minahasa dimeriahkan oleh Rimbawan dan Rimbawati Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara, UPT Lingkup Kementerian LHK Sulawesi Utara dan KPH se Sulawesi Utara. Acara puncak yang dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Utara Bapak Olly Dondokambey yang membawakan Pidato Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pada Apel Rimbawan Dalam Rangka Peringatan Hari Bhakti Rimbawan ke 35 Tahun 35 juga hadir Bupati Minahasa beserta jajarannya. Dalam kesempatan tersebut Gubernur Sulawesi Utara sekaligus memberikan apresiasi kepada Polhut Tangguh Tahun 2017, menyerahkan sepeda motor Polhut dan mobil pemadam kebakaran serta penyerahan bibit kelompok tani hutan dan SK. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 10 kelompok tani hutan. Dr. Farianna Prabandari, S.Hut, M.Si Kepala Balai Taman Nasional Bunaken yang didaulat sebagai ketua panitia Hari Bakti Rimbawan ke 35 Sulawesi Utara mengharapkan agar jiwa korsa rimbawan terus dipupuk dan ditingkatkan, sebagaimana amanat dalam pidato Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Rangkaian acara Hari Bhakti Rimbawan ke 35 Sulawesi Utara antara lain dengan penanaman mangrove bersama Pemerintah Kota Manado dan Aston Hotel, perlombaan olah raga, dan penanaman di Taman Hutan Raya H.V. Worang Gunung Tumpa. Sumber : Balai TN Bunaken
Baca Berita

Saat Merasakan Kekayaan Alam dan Budaya Menyatu di TaNa Bentarum

Putussibau, 16 Maret 2018. Ada nuansa yang berbeda saat melihat upacara bendera memperingati Hari Bakti Rimbawan (HBR) pagi tadi di halaman kantor Balai Besar TaNa Bentarum (16/3). Kemegahan acara diwarnai oleh keindahan pakaian adat Dayak dan Melayu yang ditampilkan beberapa peserta yang mengikuti upacara. Mengenakan pakaian adat Dayak Taman Embaloh bermahkotakan kepala burung enggang, Inspektur Upacara yang tidak lain Kepala Balai Besar Tana Bentarum, Arief Mahmud bak panglima perang Dayak zaman lampau. “Yang saya kenakan ini baju adat suku Dayak Tamambaloh, khusus memang untuk menyemarakkan upacara HBR kali ini”jelasnya. Ditambahkannya, tujuan mengenakan baju adat Dayak dan Melayu yang ditampilkan memang untuk mengenalkan identitas TaNa Bentarum dimana kekayaan alamnya tumbuh harmonis dengan kekayaan budaya masyarakatnya. “Ini sebagai promosi kita lah bahwa TaNa Bentarum itu memang pertemuan antara keindahan alam dan keragaman hayatinya berpadu dengan keindahan budayanya” tukas Arief saat memberikan penjelasannya. Pantauan media, tampak beberapa peserta lain juga mengenakan pakaian adat tidak hanya busana adat Dayak tetapi juga Melayu. Kabupaten Kapuas Hulu dimana Tana Bentarum berada memang didominasi oleh dua suku besar yaitu Dayak dan Melayu. Salah seorang pegawai yang mengenakan pakaian Melayu, Ponti Astika mengatakan bahwa dia diminta oleh panitia untuk mengenakan busana adata Melayu dua hari sebelum upacara. “Yang saya kenakan ini baju kurung Melayu, biasa dulu di pakai untuk macam ke pesta atau hari besar”tegas Tika. Menurutnya warna kuning jingga yang dikenakannya merupakan warna kebesaran masyarakat Melayu yang menggambarkan kesejahteraan dan kejayaan. Upacara kali ini memang merepresentasikan suku-suku yang mendiami kawasan TaNa Bentarum. Kawasab TN Betung Kerihun sendiri dihuni oleh masyarakat yang terafiliasi oleh Dayak Taman Embaloh, Dayak Iban, Dayak Taman, Dayak Kayan, dan Dayak Bukat dan Dayak Punan Hovongan. Mereka tersebar dari mulai DAS Embaloh di Bidang PTN I Mataso hingga DAS Kapuas di Bidang PTN II Kedamin. Sedangkan TN Danau Sentarum didominasi oleh Suku Melayu dan Dayak Iban “keragaman budaya inilah yang harus kita angkat sehingga ungkapan bahwa TaNa Bentarum Where The Richness of Nature and Culture Merge bukan slogan semata” tutur Arief saat ditanya media. Keragaman budaya memang menjadi salah satu andalan untuk mampu meningkatkan pemasukan dari sektor wisata melalui atraksi budaya. Apa yang ditampilkan oleh Balai Besar TaNa Bentarum mungkin bukan hal yang baru bahkan banyak dilakukan oleh instansi lain. Namun demikian, hal ini menjadi sebuah terobosan baru dalam upaya meningkatkan kesadaran bagi masyarakat untuk mencintai adat dan budayanya khususnya di Kabupaten Kapuas Hulu. Selain itu eksistensi budaya dan adat setempat juga telah dijamin oleh negara sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dalam pengelolaan hutan termasuk kawasan konservasi. “kami ingin menumbuhkan kembali budaya dan adat masyarakat lokal sehingga kedepannya masyarakat menjadi mitra utama kami dalam melestarikan kawasan Taman Nasional” pungkas Arief menutup wawancara. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum

Menampilkan 8.497–8.512 dari 11.140 publikasi