Jumat, 17 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Akhirnya Elang “Amatir” Itu Menjadi Pemburu Yang Handal

Garut, 23 Maret 2018. Di Sumur T2, Blok Lebak Gede, Talaga Bodas (berbatasan dengan TWA Talaga Bodas) telah dilepasliarkan 1 (satu) ekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) berjenis kelamin betina bernama ‘MENAK’ dengan perkiraan umur 7 tahun yang merupakan hasil penyerahan secara sukarela masyarakat Desa Sukamenak, Kecamatan Wanaraja, Garut kepada petugas Resor Talaga Bodas pada hari Selasa tanggal 13 Februari 2018 sekira jam 13.50 WIB beberapa waktu lalu. Saat itu elang tersebut dievakuasi karena jatuh kehilangan kendali ketika menukik ke permukaan tanah untuk menangkap seekor ayam kampung. Akibatnya saat ditemukan warga elang tersebut tidak dapat terbang, mengalami stres, diduga patah sayapnya dan luka di paruh. Elang tersebut saat itu diamankan oleh Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW V Garut yang selanjutnya dibawa ke PKEK guna mendapatkan perawatan secara intensif sebagai satwa yang dititiprawatkan. (Baca http://bbksdajabar.ksdae.menlhk.go.id/kisah-elang-amatir/ ) Selama proses perawatan/rehabilitasi di PKEK, elang tersebut mengalami kemajuan perkembangan kondisi yang lebih baik sehingga sebelum 40 hari sudah dapat kembali dilepasliarkan ke habitatnya (awal ditemukan) yaitu kawasan Talaga Bodas tanpa harus menjalani masa habituasi terlebih dahulu sebelum direlease. Pelepasliaran yang dilakukan ini telah sesui dengan kaidah sebagaimana yang dipersyaratkan oleh IUCN. Kegiatan ini diikuti oleh Project Manager PT. PGE Project Karaha, Humas PT. PGE Project Karaha, Camat Wanaraja, Camat Pangatikan, Kapolsek Wanaraja, Danramil Wanaraja, Kepala Desa Sukamenak, Kepala Desa Sukahurip, personil PKEK, beberapa Volunteer Talaga Bodas, serta rekan-rekan media yang berlangsung dari jam 09.00 – 11.00 WIB. Keikutsertaan instansi terkait dan para pihak ini lebih lanjut diharapkan turut mensosialisasikan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian elang sebagai satwa dilindungi UU agar terhindar dari kepunahan akibat perburuan. Harapan Elang brontok yang dilepasliarkan dapat kembali pulih seperti sedia kala sebagai satwa liar yang hidup di habitatnya, mampu beradaptasi kembali di alam dan dapat berkembang biak agar bertambah populasinya di alam. Himbauan juga telah disampaikan dalam acara ini agar masyarakat tidak memburu elang dan tidak memeliharanya untuk kesenangan. Namun apabila sudah terlanjur memeliharanya dihimbau untuk menyerahkan secara sukarela kepada BBKSDA untuk direhabilitasi dan dilepasliarkan kembali ke alam. Himbauan ini juga didukung oleh para pihak terkait yang hadir dalam acara ini agar nantinya dapat turut menyebarluaskan informasi tentang konservasi elang kepada masyarakat di lingkungan wilayahnya. Selama 7 (tujuh) hari atau seminggu ke depan dilakukan monitoring pasca release tersebut oleh 3-4 (empat) orang tenaga dari PKEK didampingi petugas resor setempat untuk memastikan elang tersebut benar-benar dapat beradapatasi kembali dengan lingkungan di habitatnya. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Joy dan Utu, 2 Orangutan Hasil Evakuasi BKSDA Kalbar Melalui Info Call Center

Ketapang, 23 Maret 2018. Joy dan Utu, dua orangutan berusia sekitar 5 tahun yang menjadi peliharaan dua warga masyarakat di Desa Semandang Hulu, Kabupaten Ketapang. Keduanya di evakuasi oleh tim Satgas TSL SKW 1 Ketapang, Balai KSDA Kalimantan Barat dibantu tim dari YIARI Ketapang. Saat ini Joy dan Utu berada di pusat rehabilitasi orangutan di Kabupaten Ketapang, mereka akan diajarkan untuk bertahan hidup dan mengembalikan sifat liarnya sebelum dikembalikan ke habitat asalnya. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Menunggu Terbitnya Pedoman Transplantasi Karang di Kawasan Konservasi

Manado, 22 Maret 2018. Kantor Balai Taman Nasional Bunaken tanggal 22 Maret 2018 menjadi tempat pembahasan penyusunan regulasi perairan laut dalam bentuk peraturan Direktur Jenderal KSDAE tentang pedoman pemulihan ekosistem perairan laut khususnya transplantasi karang di kawasan konservasi. Peraturan ini diharapkan akan mempermudah pelaksana di lapangan dalam melakukan pemulihan ekosistem khususnya transplantasi karang. Kegiatan ini melibatkan beberapa pihak yaitu dari IPB, Pusdiklat Lingkungab Hidup dan Kehutanan (LHK), Korporasi dan jajaran Balai Taman Nasional Bunaken mulai dari Kepala Seksi Wilayah, PEH dan Polhut. Ditjen KSDAE melalui Direktorat Kawasan Konservasi memimpin diskusi yang berlangsung secara interaktif. Peserta sangat kritis serta banyak masukan dan saran yang disampaikan termasuk pembelajaran pengalaman transplantasi karang yang pernah dilakukan di Taman Nasional Bunaken. Pemulihan ekosistem kawasan konservasi tidak hanya meliputi kawasan terrestrial (daratan), akan tetapi mencakup wilayah perairan laut maupun perairan tawar. Beberapa regulasi sudah diterbitkan untuk mengatur pelaksanaan pemulihan ekosistem satu diantaranya adalah Peraturan menteri Kehutanan nomor P.48/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Pemulihan Ekosistem di Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Peselstarian Alam. Beberapa aturan turunan dari Peraturan Menteri tersebut juda telah terbit namun baru mengatur pemulihan ekosistem pada ekosisten daratan. Perlu diketahui bahwa Kementerian LHK mengelola 12 Taman Nasional Laut dan lebih dari 17 kawasan konservasi perairan non Taman Nasional (SM/CA/TWA). Dalam rangka mendukung pengelolaan kawasan konservasi perairan tersebut tentunya perlu didukung dengan menyiapkan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK). Sumber : Resi Diniyanti - Direktorat Kawasan Konservasi
Baca Berita

Keren ... Di Manggis Jalan Aspal Bisa Jadi Hutan

23 Maret 2018. Tiga setengah tahun sudah jalan aspal yang dahulu membelah Cagar Alam Manggis ditutup, persis 7 bulan setelah erupsi Gunung Kelud, September 2014. Sebelumnya terdapat sebuah jalan aspal yang membelah cagar alam ini dari timur hingga barat sejauh 720 meter. Awalnya, hanya tumbuhan bawah dan liana yang memenuhi bekas jalan. Tumbuhan bawah masih terdiri dari rumput, herba, dan semak belukar atau perdu. Tumbuhan ini penting dalam sebuah pemulihan ekosistem karena berfungsi sebagai penahan pukulan air hujan dan aliran permukaaan. Sehingga dapat meminimalkan erosi tanah, dan sebagai penghasil serasah dalam meningkatkan kesuburan tanah. Setelah tumbuhan bawah sukses menjalankan fungsi ekologisnya, baru pada musim hujan akhir 2015, kami mulai menjumpai permudaan pohon jenis Lengki, Tutup (Macaranga tanarius), Wadang, Berasan, Jingkat, dan Awar Awar (Ficus septica). Lengki, Basah, Berasan dan Awar Awar hanya ditemukan di dekat gapura barat saja, Namun Tutup dan Jingkat dapat dijumpai tumbuh merata dari timur hingga barat bekas jalan. Tak menyangka, jalan aspal itu dapat bersuksesi sehebat ini. Padahal, dulu jalan aspal ramai oleh berbagai kendaraan masyarakat Desa satak dan Desa Manggis. Ya, jalan itu menjadi satu-satunya penghubung antara kedua desa tersebut. Selain limpahan sampah, jalan tersebut semakin lama semakin melebar, sehingga mematikan tumbuhan di kanan kiri jalan. Hampir tidak ada biomasa yang tersisa yang mampu beregenerasi. Tetapi, saat musim hujan tiba, tumbuhan herba dan semak-semak muncul dengan cepat dan menempati tanah kosong yang diiringi oleh permudaan jenis-jenis pohon. Hampir Menjadi Hutan Primer Hingga pertengahan Maret 2018 ini hujan masih setia mengguyur cagar alam, dan kami menjumpai semai aneka tumbuhan saat mulai melangkah dari gapura Barat. Tumbuhan seperti Lengki, Tutup, Jingkat, Awar Awar, Basah dan Berasan telah tumbuh memasuki fase pancang, dengan tinggi antara 70 hingga 150 cm. Setelah tiga setengah tahun, dinamika vegetasi di bekas jalan ini menyerupai tahapan suksesi sekunder. Biasanya suksesi sekunder terjadi pada hutan yang mengalami gangguan dan terjadi proses pemulihan ekosistem. Diharapkan dalam waktu kurang dari lima tahun, dapat mencapai indeks permukaan daun dan tingkat produksi primer bersih seperti hutan primer. Diikuti akumulasi biomasa daun dan akar. Begitu biomasa daun dan akar berkembang penuh, maka akumulasi biomasa kayu akan meningkat secara tajam. Meski suksesi memerlukan 50 -100 tahun untuk mencapai klimaksnya, namun diharapkan setelah 10 tahun penutupan jalan kondisi cagar alam mulai mendekati hutan primer atau seperti saat sebelum jalan itu ada. (Siti Nurlaili, PEH Pertama pada Resort Konservasi Wilayah CA Manggis Besowo Gadungan) Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Lima Jam Pencarian Malam Si Genit Bonita

Pekanbaru, 23 Maret 2018. Pencarian Bonita masih dilakukan oleh Tim rescue gabungan penyelamatan Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di perkebunan sawit PT THIP. Pencarian terus dilakukan Tim tanpa mengenal lelah. Seperti pada malam Minggu, 18 Maret 2018. Selama kurang lebih lima jam pencarian, hewan buas yang memangsa dua orang warga tersebut tidak ditemukan. Diberitakan sebelumnya, harimau sumatera menerkam dua orang warga, Jumiati dan Yusri di wilayah Kecamatan Pelangiran, Inhil. Sejak kejadian pertama pada Rabu (3/1), upaya penangkapan Bonita telah dilakukan namun belum membuahkan hasil. Hingga pada Sabtu (10/3) lalu, Bonita kembali menerkam Yusri saat mengerjakan bangunan sarang burung walet. Korban ditemukan tewas mengenaskan. Dari pantauan di lapangan, tim gabungan bergerak ke lokasi-lokasi yang menjadi perlintasan Bonita, di perkebunan sawit yang terletak di Desa Tanjung Simpang Kecamatan Pelangiran, Kab. Indragiri Hilir (Inhil). Penyisiran malam kali ini tak seperti biasanya. Karena sebagian tim menggunakan dua unit mobil dum truk perusahaan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi serangan Bonita. Sebab, sejak dilakukan penembakan obat bius, diperkirakan satwa dilindungi itu menjadi makin beringas. Biasanya tim hanya menggunakan mobil rescue dan duduk di bak belakang. Namun seluruh peralatan penangkapan dan evakuasi telah disiapkan. Blok demi blok kebun sawit dilakukan pencarian. Dengan menggunakan alat penerangan, petugas begitu terlihat bersiaga dengan peralatan lengkap. Setelah dilakukan pengintaian di perlintasan, Bonita tak juga kunjung terlihat. Padahal pada malam-malam sebelumnya, Bonita sering muncul di lokasi yang sama. Petugas kepolisian dan TNI selalu mendampingi tim gabungan, saat melakukan pencarian. Lantaran Bonita tak kunjung muncul, tim memutuskan untuk berkumpul kembali ke posko siaga di Estate Eboni. Sebelumnya, tim terpadu telah melakukan penambahan obat bius. Karena beberapa kali dilakukan penembakan obat bius belum maksimal. Menurut salah seorang Tim medis penyelamat Harimau Sumatera, drh. Andita Septiandini, kondisi Bonita sempat lemah setelah di tembak bius, namun saat ini sudah kuat kembali. "Bahkan saat ini harimau tersebut akan mengejar jika melihat mobil, padahal sebelumnya dia diam saja." kata Dita sapaan dokter tersebut. Dosis obat bius disesuaikan dengan berat badan Bonita, yang kita taksir sekitar 70 kilogram," tambah Dita. Meski demikian, pihaknya akan terus berusaha melakukan penyelamatan terhadap Bonita. Kini telah memasuki hari ke 73. Meski telah dilakukan berbagai macam cara, Bonita belum berhasil ditangkap untuk diselamatkan. Tim terpadu saat melakukan pencarian malam di perkebunan sawit, Minggu (18/3). Sumber : Balai Besar KSDA Riau Foto Idon Tanjung
Baca Berita

Elang Laut Perut Putih Tangkapan Warga Dilepasliarkan di TN Matalawa

Waingapu, 22 Maret 2018. Kegiatan patroli yang dilakukan oleh Polisi Kehutanan Balai TN Matalawa di area SPTN Wilayah III Matawai Lapau, berhasil menemukan satwa liar berupa burung Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster) yang dipelihara oleh warga (22/3/18). Elang tersebut ditemukan di salah satu rumah warga di Desa Praimadita, Kabupaten Sumba Timur. Warga tersebut mengatakan bahwa ia menangkap elang tersebut di daerah pantai pada tahun 2016 ketika hendak berangkat mencari ikan di laut. Saat ditemukan, kondisi burung tersebut terlihat kurang sehat karena tidak ditempatkan pada kandang yang layak dan juga makanan yang kurang sesuai. Tim patroli yang dipimpin Fabianus Bere Mau memberikan penjelasan kepada warga tersebut bahwa elang ini masuk dalam kategori satwa dilindungi sehingga tidak boleh dipelihara. Fabianus kemudian juga menggali keterangan dari warga tersebut untuk memperoleh informasi tambahan mengenai adanya kemungkinan perburuan satwa. Setelah diberikan penyadaran akan pentingnya menjaga kelestarian satwa, tim patroli membuat berita acara untuk melepasliarkan elang tersebut dengan sepengetahuan Kepala Seksi SPTN III, Hastoto Alifianto, S.Hut, M.Si. Sebagai bekal informasi tambahan untuk masyarakat, tim patroli menyerahkan bahan informasi berupa buku Burung-Burung TN Matalawa, buletin dan kalender serta peraturan tentang perlindungan satwa liar. Sumber : Balai TN Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Langkah Awal Optimalisasi TWA Pulau Bekat

Banjarbaru, 22 Maret 2018. Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) role model pengembangan wisata alam dan sanctuary bekantan di TWA Pulau Bakut berbasis masyarakat dilaksanakan pada tanggal 22 maret 2018 di Fave Hotel Banjarbaru. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Balai KSDA Kalimantan selatan selaku pengelola kawasan konservasi dan merupakan salah satu tahapan pelaksanaan role model pengembangan wisata alam dan sanctuary bekantan di TWA Pulau Bakut berbasis masyarakat, dengan melibatkan berbagai pihak seperti instansi pemerintah, pihak akademisi, lembaga swadaya masyarakat dan tentunya masyarakat sekitar TWA Pulau Bakut. Kegiatan FGD ini merupakan salah satu syarat dan upaya agar role model pengembangan wisata alam dan sanctuary bekantan di TWA Pulau Bakut berbasis masyarakat dapat berjalan optimal dan para pihak yang terlibat masing-masing memiliki peranan yang sama penting dalam mensukseskan role model tersebut. Penguatan fungsi dan peran para pihak tersebut dapat dituangkan dalam Perjanjian Kerjasama antara Balai KSDA Kalimantan Selatan dengan para pihak yang terlibat, seperti Dinas Pariwisata Provinsi dan Kabupaten, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional, Universitas Lambung Mangkurat dan masyarakat sekitar kawasan TWA Pulau Bakut. Kegiatan ini didominasi oleh diskusi para pihak yang diawali dengan pemaparan role model pengembangan wisata alam dan sanctuary bekantan di TWA Pulau bakut berbasis masyarakat oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan. Selain pemaparan dari Kepala BKSDA Kalimantan Selatan, pihak Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan yang mewakili Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memberikan dukungan terhadap pengembangan wisata alam di TWA Pulau Bakut. Selain itu, untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Kalimantan Selatan, pihak Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan menggalakkan paket-paket wisata, terutama paket wisata susur sungai dan kunjungan ke pulau-pulau wisata yang ada di alur Sungai Barito. Sumber : Cecep Budiarto, S.Hut - Penyuluh Kehutanan SKW II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Saling Komunikatif Menuju Optimalisasi Pengelolaan Wisata di Provinsi Bali

Denpasar, 22 Maret 2018. Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) Ditjen KSDAE, Dodi Wahyu Karyanto, MM., lakukan pembinaan dan evaluasi terhadap pemegang Ijin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam (IUPSWA) di Provinsi Bali. Acara berlangsung di Kantor Balai KSDA Bali dan dihadiri perwakilan pemegang IUPSWA yang berada di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dan BKSDA Bali, Kasubdit Pemanfaatan dan Wisata Alam Ditjen KSDAE, Kepala Balai TNBB, dan Plh. Kepala Balai KSDA Bali. Dalam kesempatan ini, Direktur PJLHK menyampaikan arahan terkait dengan amanah peraturan yang berlaku dalam menjalankan operasional UPSWA. Hal ini sejalan dengan arahan Dirjen KSDAE, bahwa pihak Kementerian LHK harus memberikan pembinaan dan lebih komunikatif kepada para pemegang IUPSWA sehingga upaya untuk mendukung program prioritas pemerintah dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan khususnya destinasi wisata alam lebih cepat terwujud. Direktur PJLHK juga menyampaikan hasil evaluasi kinerja tahunan yang dilakukan oleh Kepala Balai yang selanjutnya dicermati oleh tim dari Direktorat PJLHK didampingi pihak pemegang IUPSWA. Direktur PJLHK mengharapkan pihak pemegang IUPSWA juga memperhatikan ketentuan yang berlaku, lebih komunikatif dengan pihak pemangku kawasan, dan melakukan aktivitas sesuai dengan rencana yang disahkan. Hal itu dimaksudkan agar upaya/langkah-langkah selanjutnya seperti perpanjangan izin usaha dan lainnya bisa segera diproses lebih lanjut. Acara diakhiri dengan penandatanganan berita acara hasil pemeriksaan dan hasil evaluasi kinerja tahunan. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Mengenalkan Konservasi Sejak Dini di Pesantren

Tasikmalaya, 22 Maret 2018. Berturut-turut pada hari Rabu, 21 Maret 2018 dan Kamis, 22 Maret 2018; Seksi Konservasi Wilayah VI Tasikmalaya Balai Besar KSDA Jawa Barat (BBKSDA Jabar) melaksanakan kegiatan penyuluhan kepada siswa-siswi dan pramuka Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya dan Santri Pecinta Alam (SATPALA) Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Persis Kota Tasikmalaya. Kegiatan ini guna meningkatkan pengetahuan tentang Konservasi Sumber Daya Aalam dan Ekosistem serta pengenalan Tumbuhan dan Satwa Liar yang dilindungi Undang-undang sehingga dapat menumbuh kembangkan kesadaran sejak dini kepada para pelajar. Kegiatan penyuluhun ini merupakan salah satu program dari BBKSDA Jawa Barat dalam menyebarluaskan informasi tentang KSDAE dan Tumbuhan dan Satwa Liar baik di kawasan In-situ maupun Ek-situ, selain itu bertujuan untuk mengajak masyarakat ikut berperan aktif dalam kegiatan konservasi. Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI Tasikmalaya BBKSDA Jabar dalam sambutannya memperkenalkan tentang tugas pokok dan fungsi serta mengajak untuk dapat bekerjasama dalam kegiatan KSDAE Sementara itu sebagai acara inti dilakukan pemberian materi tentang KSDAE dan pengenalan Tumbuhan dan Satwa Liar yang dilindungi oleh petugas PEH. Selanjutnya untuk menambah wawasan pelajar, disampaikan juga materi perundang-undangan tentang kehutanan oleh Polhut Resor Gunung Sawal. Kegiatan ini mendapat respon yang baik dari pihak sekolah serta siswa siswi dan pramuka juga sangat antusias menerima materi yang disampaikan pemateri. Manusia diberi amanah oleh Sang Pencipta untuk memelihara dan menjaga bumi ini dari kerusakan, oleh karenanya sebagai khalifah di bumi ini, kita mempunyai kewajiban untuk menjaga sumber daya alam supaya tetap lestari. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Balai TN Sebangau Bentuk 2 Kelompok Masyarakat Kereng Bangkirai

Kereng Bangkirai, 21 Maret 2018. Sebagai bentuk perhatian Taman Nasional Sebangau dalam bersinergi dengan usaha pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar Kawasan Konservasi, Pihak Balai TN Sebangau pada tanggal 21 Maret 2018 berlokasi di Aula Kelurahan Kereng Bangkirai mengadakan kegiatan pembentukan kelompok kegiatan pemberdayaan masyarakat di Kelurahan Kereng Bangkirai. Alasan pemilihan Kelurahan Kereng Bangkirai sebagai lokasi pemberdayaan masyarakat dikarenakan secara administratif Kelurahan Kereng Bangkirai berbatasan langsung dengan TN Sebangau dan masyarakat di kelurahan tersebut memiliki interaksi yang cukup tinggi dengan Taman Nasional Sebangau. Dari hasil kegiatan tersebut, terbentuk 2 kelompok masyarakat yakni kelompok jasa wisata perahu klotok dan kelompok nelayan, dengan jumlah masing-masing kelompok berjumlah 15 orang. Kepala SPTN I Wilayah Palangka Raya, Lisna Yulianti, M.Sc menyampaikan mekanisme dalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat. Terdapat beberapa kegiatan yang akan dilakukan sebelum proses penyaluran bantuan pemberdayaan masyarakat yakni penetapan sasaran lokasi, penyusunan Rencana Pemberdayaan Masyarakat dan pengembangan kapasitas masyarakat melalui kegiatan pelatihan, pendampingan dan penyuluhan. Diskusi dilakukan antara pihak Balai TN Sebangau dan masyarakat untuk mengetahui potensi yang dimiliki dan bentuk kegiatan pengembangan kapasitas yang sangat diperlukan oleh masyarakat Kelurahan Kereng Bangkirai. Dari hasil diskusi diketahui bahwa untuk kegiatan pengembangan kapasitas, kelompok masyarakat menginginkan adanya kegiatan pelatihan pemandu wisata. “Kami sangat berharap pihak Balai TN Sebangau dapat memberikan pelatihan bagaimana menjadi seorang pemandu wisata yang baik, sehingga ketika kami mendampingi tamu berkunjung ke TN Sebangau, tamu puas dengan pelayanan yang kami berikan” ungkap Supardi, salah satu anggota kelompok jasa wisata perahu klotok Diharapkan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Balai TN Sebangau dapat meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat di sekitar TN Sebangau serta masyarakat berpartisipasi aktif menjadi mitra Balai TN Sebangau dalam pengembangan kegiatan konservasi. Sumber : Balai Taman Nasional Sebangau
Baca Berita

Kunjungan Dubes Uni Eropa Di Balai Taman Nasional Lorentz

Wamena, Rabu (21-03/2018) Delegasi Kedutaan Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam melakukan kunjungan selama 2 hari (21-22 Maret 2018) di Wamena, Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua. Delegasi tersebut sebanyak dari 4 (empat) orang dan dipimpin langsung oleh HE. Mr. Vincent Guèrend (Ambassador), didampingi Hans Fanrhammer (First Counsellor/Head of Cooperation, EU), Florian Witt (Attache/Political Advisor), Jerome Brunet Possenti (Trainee). Secara umum, tujuan dari kunjungan ini yaitu untuk menggali informasi dan melihat secara langsung tentang kondisi perekonomian, sosial budaya, pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan lingkungan hidup, termasuk pengelolaan Taman Nasional Lorentz. Dalam kunjunganya Dubes Uni Eropa untuk Indonesia memulai kunjungan ke Pemda Kabupaten Jayawijaya disambut oleh Sekretaris Daerah Kab. Jayawijaya Yohanes Walilo, dan dalam pertemuan ini membahas perkembangan sosial ekonomi, kesehatan dan pendidikan di Kabupaten Jayawijaya. Kemudian menuju ke lokasi pengelolaan kopi arabika (Kopi Wamena) di desa Yagara dan budidaya Lebah Madu (Madu Wamena) di Desa Putagaema yang merupakan salah satu masyarakat binaan Taman Nasional Lorentz. Pada kesempatan itu para petani menyampaikan bahwa dalam hal pengelolaanya sudah baik namun dalam hal pemasaran hasil kopi dan lebah madu masih dilingkup Wamena dan Jayapura. Hal tersebut disebabkan antara lain biaya pengiriman yang mahal karena distribusi hasil Kopi Wamena dan Madu Wamena masih mengunakan pesawat udara. Para petani meminta dukungan kepada Dubes Uni Eropa membantu dalam hal pemasaran diluar Papua bahkan jika memungkinkan sampai ke Eropa. Dubes Uni Eropa juga berkunjung ke Kantor Balai Taman Nasional Lorentz dan melakukan pertemuan singkat dengan Kepala Balai dan Staff TN Lorentz. Dubes Uni Eropa menyatakan sangat mendukung perlindungan biodiversity di Indonesia dan TN Lorentz akan mendapatkan perhatian dari Uni Eropa dalam hal perlindungan biodiversity dikarenakan TN Lorentz memiliki nilai penting dan strategis untuk diselamatkan. Beliau juga menyampaikan bahwa Uni Eropa selama ini telah ikut mendukung program perlindungan Biodiversity di beberapa kawasan Taman Nasional seperti TN Leuser, dll. Kepala Balai TN Lorentz meminta dukungan Uni Eropa untuk menjadikan TN Lorentz sebagai salah satu target pelaksanan program Uni Eropa hal senada juga diutarakan oleh Pak Taufik yang hadir dalam pertemuan tersebut mewakili BAPPEDA Kab. Jayawijaya. Mengingat ada beberapa kabupaten yang hampir seluruh wilayah administratifnya berada dalam kawasan TN Lorentz maka merujuk pada arahan Permendagri, kabupaten tersebut dapat dimungkinkan diusulkan menjadi kabupaten Konservasi. Sumber : Dasilvira D. Lewotolok Foto : Dasilvira D. Lewotolok, Hendra Saputra
Baca Berita

Penyegaran 22 Polhut Balai TN Manusela

Masohi, 22 Maret 2018. Upaya menciptakan SDM Polhut yang profesional dan berintegritas tinggi dalam menjalankan TUPOKSI, Balai Taman Nasional Manusela mengadakan kegiatan Penyegaran Polisi Kehutanan pada tanggal 22 Maret 2018 di Ruang Rapat Balai Taman Nasional Manusela. Kegiatan penyegaran polhut yang bertema “ Meningkatkan Profesionalisme Kerja Polhut Balai Taman Nasional Manusela” bertujuan meningkatkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan khususnya bidang kepolisian kehutanan yang berkaitan dengan penanganan perkara TIPIHUT dalam pengelolaan kawasan. Disamping itu, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat koordinasi antara Polisi Maluku Tengah dengan Polhut Balai TN Manusela dalam pengamanan kawasan TN Manusela. Kegiatan yang diikuti oleh 22 orang Polhut baik dari Balai TN Manusela maupun dari SPTN I Wahai dan SPTN II Tehoru ini dimulai dengan Laporan Ketua Panitia oleh Lucas N. Soselisa, S.Sos selaku Koordinator Polhut Balai TN Manusela dan dibuka secara resmi oleh Dr. Ivan Yusfi Noor selaku Kepala Balai TN Manusela.Dalam kegiatan yang dilaksanakan selama 1 hari tersebut, disampaikan 8 materi dengan narasumber dari Wakil Kepala Polres Maluku Tengah, Kepala Balai TN Manusela, Kasubag Tata Usaha Balai TN Manusela, dan Kasat Polhut Balai TN Manusela. Dengan adanya kegiatan Penyegaran Polhut Lingkup Balai TN Manusela diharapkan petugas Polisi Kehutanan lebih profesional dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kewenangannya. Selain itu diharapkan koordinasi dan kerja sama antara Polisi dan Polhut Balai TN Manusela dalam penanganan dan perlindungan terhadap kawasan TN Manusela semakin kuat. Sumber : Balai Taman Nasional Manusela
Baca Berita

Living Document Refleksi Zonasi 3 Dasawarsa Pengelolaan Kawasan Konservasi

Batam, 21 Maret 2018. Dokumen “ Hidup” Zonasi /Blok - Refleksi Tiga Dasa Warsa Zonasi/Blok Dalam Mengelola Kawasan Konservasi. Dokumen yang hidup (Living Document) adalah harapan smua para perencana. Arahan Dirjen KSDAE agar zonasi/Blok menjadi dokumen yang hidup, didalami pada sesi khusus yang dipandu oleh fasilitator Agus Mulyana dan Suwito Tim Ahli Kemitraan USAID-BIJAK pada acara workshop pendokumentasian pembelajaran penyusunan dokumen zona/blok. Dokumen yang hidup dicirikan oleh 3 hal: (1) berisi data aktual, (2) digunakan sebagai rujukan pengelolaan dan pembaruan kebijakan internal UPT, dan (3) selalu terbaharukan (up to date). Sesi berisi interview dan curah pengalaman setiap peserta tentang pengalaman, cerita sukses atau cerita kegagalan dalam berproses menata zona/blok. Hasil refleksi ditemukan ada 9 aspek penting penataan zona/blok yakni: 1) Dukungan kebijakan, 2) Kerangka konsep, 3) Kriteria dan indikator penentuan, 4) Proses pendokumentasian, 5) Pembentukan tim, 6) inventarisasi potensi kawasan, 7) Perancangan Zona Blok, 8) Pembahasan tim Pokja, 9) hingga Penilaian dan pengesahannya. Temuan awal ini akan dikonsultasikan kembali kepada semua peserta untuk menvalidasi sekaligus memperkaya hasil temuan pembelajaran. Hadrianus Andjar Rafiastanto, senior advisor dari BIJAK-USAID yang mendukung penyelenggaraan acara ini, menyatakan seluruh proses pembelajaran akan didokumentasikan dalam sebuah buku yang memperkaya literatur kelola kawasan konservasi. Sumber : Mugiharto HP, PEH Muda Direktorat PIKA
Baca Berita

Menggali Tanaman Pewarna Alami di TaNa Bentarum

Putussibau, 21 Maret 2018. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) bekerjasama dengan Warlami (Perkumpulan Warna Alam Indonesia) menggelar “Workshop dan Menggali Tradisi Mewarnai dengan Bahan Alami (Tenun Ikat Bansa Iban)" di Desa Menua Sadap, Rabu (21/3). Kepala Balai Besar Tana Bentarum yang diwakili oleh Kepala Bidang PTN Wilayah I Mataso, Junaidi mengatakan bahwa potensi kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan daerah penyangga sangat melimpah baik flora maupun faunanya. Salah satunya adalah tanaman pewarna alam. “wilayah sekitar TNBK banyak terdapat tumbuhan pewarna alami termasuk di wilayah Desa Manua Sadap”ujarnya. Lebih lanjut, Djunaidi mengatakan bahwa seminggu yang lalu TaNa Bentarum meresmikan Kebun Etnobotani di Dusun Sadap. Rencananya, kebun tersebut akan ditanami tumbuhan obat, bumbu masak, termasuk tanaman pewarna alam. “adanya kebun Etnobotani maka kebutuhan akan bahan baku tanaman pewarna alam melimpah dan masyarakat mudah untuk memperolehnya” tegasnya. Sementara itu, Ketua Warlami Myra Widiono berpesan kepada peserta workshop agar kembali ke alam dalam proses pembuatan tenun ikat Dayak Iban. Masyarakat menurutnya harus kembali ke tradisi awal nenek moyang dahulu dimana dalam proses perminyakan benang menggunakan bahan yang berasal dari alam, bukan menggunakan bahan kimia. “Dengan menggunakan tradisi nenek moyang diharapkan warna kain tenun yang dihasilkan akan lebih berkualitas, harga jualnya pun akan lebih mahal, dan kelestarian lingkungan tetap terjaga” ujarnya. Mantan Sekjen Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) ini juga mengatakan bahwa kegiatan Warlami tidak akan berhenti sampai di pelatihan ini saja. Akan ada tindak lanjut berupa komunikasi secara intensif melalui telepon, monitoring dari Warlami selama 3 – 4 bulan sekali, dan pemasaran produk kain tenun Dayak Iban Menua Sadap yang akan difasilitasi oleh Warlami. “harapannya masyarakat akan lebih bersemangat dalam membuat tenun ikat dayak Iban dengan metode yang ramah lingkungan” ucapnya. Manua Sadap merupakan salah satu desa penyangga kawasan Taman Nasional Betung Kerihun. Desa ini kaya akan potensi keanekaragaman hayati, salah satunya adalah tanaman pewarna alam. Tanaman pewarna alam inilah yang dijadikan sebagai bahan baku pewarna benang yang akan ditenun. Kebiasaan menenun sudah berlangsung secara turun-menurun dari nenek moyang masyarakat Dayak Iban. Namun, tradisi tersebut sudah mulai luntur akibat perkembangan zaman. Salah satunya dalam hal perminyakan atau Nakar dalam bahasa Iban. Nenek moyang masyarakat Iban dahulu melakukan perminyakan dengan menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam. Namun, sekarang mereka menggunakan bahan kimia seperti tawas dan tunjung. Guna mengembalikan kembali tradisi nenek moyang zaman dahulu dalam hal menenun, organisasi WARLAMI (Perkumpulan Warna Alam Indonesai) bekerjasama dengan Balai Besar Tana Benatrum mengadakan Workshop mewarnai dengan bahan alami Tenun Ikat Dayak Iban sesuai dengan Tradisi. Peserta dari kegiatan ini adalah para pengrajin tenun Ikat Dayak Iban yang berasal dari tiga Dusun yakni Dusun Kelayam, Dusun Sadap, dan Dusun Karangan Bunut. Warlami merupakan organisasi berbadan hukum yang berbentuk perkumpulan orang-orang yang aktif dalam kerajinan tenun yang terdiri dari para perajin tenun atau batik, penggiat, produsen pewarna alam, dan juga akademisi yang memiliki kesamaan visi pada warna alam ramah lingkungan. Organisasi ini dibentuk untuk menggairahkan kembali penggunaan pewarna alami yang ramah lingkungan warisan budaya leluhur, khususnya untuk kerajinan kain tradisional. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Sumpah 79 Rimbawan Papua Barat

Manokwari, 21 Maret 2018. Pengambilan Sumpah Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dilaksanakan di Kantor Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih pada 21 Maret 2018, yang bertepatan dengan Hari Hutan Internasional. Dipimpin oleh Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi, Erni Mayana, sebanyak 79 orang peserta dari instansi UPT KLHK lingkup Provinsi Papua Barat diambil sumpahnya. Arahan yang disampaikan Erni Mayana pada acara tersebut menekankan pada budaya kerja. Saat ini mempunyai kode etik revolusi mental yang mengatur sikap, tingkah laku dan perbuatan ASN. Revolusi mental tersebut didasarkan pada tiga Nilai, yaitu, Integritas, Etos kerja, dan Gotong Royong. “Saudara diangkat sebagai PNS merupakan warga terpilih yang tentu saja dianggap memiliki kompetensi yang memadai, hendaknya senantiasa menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan, tindakan jujur serta senantiasa mengutamakan kepentingan Negara”, demikian yang dikatakan Erni Mayana, dalam arahannya. Pelaksanaan reformasi birokrasi menjadi prioritas penting untuk mencapai keberhasilan pembangunan nasioanl. Erni Mayana mengatakan, “Saat ini sudah tidak bisa lagi ditoleransi PNS yang ‘asal kerja’ saja, setiap PNS harus dapat memberikan kontribusi yang jelas dan terukur kepada organisasnya”. Sebagai Abdi Negara, setiap ASN wajib mengucapkan sumpah. Hal tersebut sesuai dengan Undang-undang Nomr 5 Tahun 2015 Pasal 6 ayat 1, dan peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil, bahwa setiap calon PNS pada saat diangkat menjadi PNS wajib mengucapkan sumpah. Dikahir arahannya, Erni Mayana tidak lupa mengucapkan selamat Hari Bhakti Rimbawan dan mengharapkan para rimbawan terus berinovasi dan semangat dalam bekerja. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Baca Berita

Kerjasama Balai KSDA KalSel Dengan Mitra Untuk CA Teluk Kelumpang

Jakarta, 21 Maret 2018. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, dengan PT. Borneo Mandiri Prima Eneri (BMPE) setuju dan bersepakat untuk mengadakan perjanjian kerja sama tentang Pembangunan Strategis Yang Tidak Dapat Dielakkan Tentang Pemanfaatan Jalan Dan Dermaga Eksisting Di Cagar Alam Teluk Kelumpang Kabupaten Kotabaru yang bertempat Ruang Rapat Ditjen KSDAE, Gd Manggala Wanabakti Blok I Lantai 8. Kepala Balai KSDA Kalsel, Dr. Mahrus Aryadi selaku pihak pertama bertindak atas nama Ditjen KSDAE dalam penandatanganan tersebut, sementara Direktur PT. BMPE, Ir. Bambang Budiono, Pws selaku pihak kedua. Dan disaksikan langsung oleh Setditjen KSDAE Herry Subagiadi. Penandatanganan kerjasama, diikuti juga dengan penandatanganan rencana pelaksanaan program 10 tahun kedepan (2018 s/d 2028). Tujuan perjanjian kerjasama ini adalah untuk menjamin terwujudnya keutuhan, kelestarian dan manfaat kawasan CA Teluk Kelumpang serta meminimalkan dampak secara langsung maupun tidak langsung sebagai akibat kegiatan Pemanfaatan Jalan dan Dermaga Eksisting di Cagar Alam Teluk Kelumpang Kabupaten Kotabaru melalui peran serta PARA PIHAK Menurut Setditjen KSDAE “Prinsip kegiatan Kerjasama ini adalah dalam bentuk in kind bukan in cash supaya tidak menjadi masalah dikemudian hari”. “Lokus kegiatan ini harus sesuai dengan ruang lingkup, tidak melebar kemana-mana dan focus pada penguatan fungsi kawasan Cagar Alam Teluk Kelumpang” imbuh beliau Sumber : Usman, S.Hut - Balai KSDA Kalimantan Selatan

Menampilkan 8.449–8.464 dari 11.140 publikasi