Jumat, 17 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Kids Jaman Now Peduli Sampah di TN Bali Barat

Gilimanuk, 25 Maret 2018. Perayaan Hari Bakti Rimbawan ke-35 dan Hari Hutan Internasional di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dipimpin langsung Kepala Balai TNBB, Drh. Agus Ngurah Krisna K., M.Si. Perayaan bertambah meriah dengan hadirnya puluhan anak yang berkumpul di lapangan kantor Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Anak-anak ini meneriakkan yel-yel dan membawa poster bertuliskan slogan kampanye peduli sampah lalu bersama orang tua membersihkan sampah di kawasan taman nasional dari memungut sampah plastik di sepanjang pantai belakang kantor TNBB hingga ke Monumen Lintas Laut yang berjarak kurang lebih 1,2 km. Kader penerus bangsa ini diharapkan menjadi generasi yang peduli terhadap kelestarian alam dan lingkungan. Setelah melakukan kampanye dan mengikuti aksi bersih, anak-anak diajak bermain dalam lomba hiburan makan krupuk, memasukkan paku ke dalam botol, dan lomba gigit uang logam dalam tepung. Mereka diajak beraktifitas dalam suasana yang menyenangkan dan berkesan. Selain bermain, mereka di arahkan untuk mengikuti kegiatan yang sifatnya mendidik, yaitu aksi cinta lingkungan. Dengan mengikuti kegiatan ini, diharapkan jiwa cinta alam dapat tertanam dalam diri mereka. Sehingga dalam keseharian, mereka menjadi manusia yang punya kepedulian tinggi terhadap kelestarian lingkungan.Sam Sejak tiga hari sebelumnya, peringatan Hari Bakti Rimbawan diisi dengan lomba olahraga, outbound, dan lomba hiburan yang diikuti oleh pegawai TNBB dan mitra. Puncaknya adalah pada hari ini (Minggu, 25 Maret 2018) yang diisi dengan berbagai kegiatan seperti senam bersama, jalan sehat dan bersih sampah, lomba anak-anak, dan pembagian hadiah dan doorprize. Kegiatan hari ini diikuti tidak kurang dari 300 orang peserta dari masyarakat sekitar, pegawai, pensiunan, mitra, dan relawan peduli sampah. Sumber : Balai TN Bali Barat
Baca Berita

200 Pelajar Ikuti Lomba Lintas Alam 2018 di TWA Panelokan

Bangli, 25 Maret 2018. Balai KSDA Bali pada selenggarakan Lomba Lintas Alam 2018 (LLA 2018) selama 2 hari dari tanggal 24-25 Maret 2018 di TWA Panelokan, Kintamani, Kab. Bangli. Lomba diikuti 200 pelajar setingkat SMA se-Bali dengan mengusung tema “Forest and Sustainable Cities” guna memperingati Hari Hutan Internasional (HHI-21 Maret) dengan total hadiah sebesar Rp. 30 jt serta sebanyak 46 paket doorprize dari sponsor. Yang terbaik dalam LLA 2018 yaitu tim SMAN 1 Bangli, juara 2 tim SMAN 1 Tegallalang dan juara 3 tim SMAN 5 Denpasar. LLA 2018 secara resmi dibuka oleh Plh. Kepala Balai KSDA Bali selanjutnya peserta start/finish dari halaman Museum Geopark Batur. Para undangan yang hadir Kepala Dinas di Pemkab Bangli mewakili Bupati Bangli, Perwakilan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bali, Perwakilan UPT-UPT Kementerian LHK di Provinsi Bali, Perwakilan Camat Kintamani, Danramil Kintamani, Koordinator Museum Geopark Batur. Kegiatan ini sepenuhnya didukung seluruh staf Balai KSDA Bali, Museum Geopark Batur, serta mitra Lembaga Konservasi dan Penangkar TSL lingkup Provinsi Bali yaitu PT. Piayu samudra Bali. PT. Mancini Putra Mandiri, Bali Bird Park, Balizoo, PT. Bakas Aneka Citra Wisata Tirta, Bali Safari and Marine Park dan PT. Kasianan. Lomba ini guna meningkatkan pemahaman tentang upaya-upaya konservasi yang dilakukan oleh Kementerian LHK khususnya Balai KSDA Bali baik itu menyangkut Konservasi Kawasan maupun Konservasi TSL di seluruh Bali. Tidak ketinggalan juga kami sosialisasikan Call Center Balai KSDA Bali sebagai sarana Quick Respon kami dalam menindaklanjuti segala pertanyaan, aduan maupun laporan yang bersinggungan dengan tugas pokok dan fungsi Balai KSDA Bali. LLA adalah event tahunan setelah sebelumnya diadakan di TWA Gunung Batur Bukit Payang. Adapun bentuk kegiatan dilaksanakan dalam bentuk berjalan di kawasan hutan TWA Panelokan sepanjang 10 km yang diselingi dengan game dan beberapa kuis dari panitia. Sumber : Balai KSDA Bali
Baca Berita

TN Bantimurung Bulusaraung Tempat 30 Peserta Diklat Praktik Pengendalian Jenis Tumbuhan Invasif

Bantimurung, 26 Maret 2018. Peserta pendidikan dan pelatihan (diklat) pengendalian tumbuhan invasif di kawasan konservasi memulai praktik lapang di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Mereka melakukan praktik lapang di Resort Pattunuang, lokasi sebaran pohon hujan (Spatodea campanulata) menginvasi ekosistem karst. Mereka memulai praktik lapang di Pattunuang hari jumat 23 Maret 2018 selama tiga hari kedepan, peserta belajar tentang bagaimana mengenal jenis tumbuhan dan bagaimana mendeteksi dini keberadaan jenis tumbuhan invasif. Selanjutnya juga belajar bagaimana melakukan analisis vegetasi. Peserta diklat berasal dari beberapa Balai Taman Nasional, Balai Konservasi Sumber Daya Alam, dan Kesatuan Pengelolaan Hutan yang berasal dari wilayah Sulawesi hingga Maluku. Beberapa widyaswara mendampingi peserta ini selama melakukan praktik lapang serta dua personil Resort Pattunuang. ”Selama praktik di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung kita akan belajar mengenal jenis-jenis tumbuhan secara umum. Setelah tahu tumbuhannya kita bisa mencocokkan tumbuhan yang tergolong invasif dengan melihat daftar lampiran Permen LHK nomor P.94/2016 ” ujar Muh. Rafii, Widyaswara BDLHK Makassar. Kegiatan praktik pengenalan tumbuhan dilakukan di halaman Maros Water Park. Mulai dari tumbuhan perdu, merambat, hingga pohon. Melihat langsung tumbuhannya kemudian pengajar menerangkan nama lokal hingga nama botaninya. Lebih lanjut widyaswara BDLHK Makassar lain mengajarkan peserta cara menganalisis vegetasi. Analisis vergetasi berguna untuk mengetahui struktur dan komposisi tegakan hutan. Menganalisis vegetasi hutan asli sebagai ekosistem referensi maupun vegetasi hutan yang sudah terganggu oleh jenis-jenis invasif untuk tindakan pemulihan. “Hari kedua kita akan belajar bagaimana cara melakukan analasis vegetasi. Membuat plot petak ukur, kemudian mengenal jenis dan mengukur tumbuhan di dalam petak. Mulai dari tingkat pohon, tiang, pancang, hingga semai. Setelah itu kita akan menghitung indek nilai pentingnya,” jelas Arif Muhammadiyah, Widyasawara BDLHK Makassar. Hari kedua peserta diklat belajar analisis vegetasi. Membuat plot kemudian mendata struktur dan komposisi tumbuhan yang berada di dalamnya. “Analisis vegetasi ternyata cukup menantang. Peserta wajib mengumpulkan data dengan akurat. Mulai dari jenis pohon, diameter, dan tinggi. Kami juga mengukur tutupan tajuk pohon kemudian membuat sketsa diagram profil dan proyeksi tajuk,” ujar Hendrawan, peserta diklat dari Balai TN Wakatobi. “Kami senang melakukan praktik ini. Ini ilmu dasar, namun sangat saat berguna bila kami melakukan analisis vegetasi di tempat kerja kami nantinya,” tambahnya. Malam harinya peserta mengolah data. Menggambar proyeksi tajuk dan diagram profil tegakan. Selanjutnya mengolah data pohon untuk menentukan indeks nilai penting setiap jenisnya. Hari ketiga peserta melakukan praktek analisis resiko jenis tumbuhan invasif serta fisibilitas tata kelolaannya. Menganalisis dua tumbuhan invasif yang berada di wilayah kerja masing-masing. Berlatih mengidentifikasi dini tumbuhan invasif yang mengancam ekosistem asli. Tugas ini nantinya akan menjadi rencana aksi peserta saat kembali ke unit kerja masing-masing. Pada akhir praktik tim widyaswara berharap praktik lapang di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung bermanfaat. Demi terjaganya ekosistem asli, sehingga terjaga tumbuhan lokal tanpa ancaman tumbuhan invasif. Sumber: Taufiq Ismail – PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Partisipasi Komunitas Tangani Konflik Manusia dan Gajah di TN Way Kambas

Labuhan Ratu, 22 Maret 2018. Seksi Pengelolaan Wilayah I Way Kanan Balai TN Way Kambas (TNWK) bersama dengan Wildlife Conservation Society (WCS) mengadakan Pelatihan dan Pembinaan Masyarakat Mitra Polhut Penanggulangan Gangguan Gajah berbasis Komunitas (22/3/18). Selain para masyarakat anggota MMP, kegiatan ini juga dihadiri oleh: Camat Labuhan Ratu, Kapolsek Labuhan Ratu, Para Kepala Desa sekitar Wilayah Seksi PTN Wilayah I Way Kanan, Pengurus Forum Rembuk Desa Penyangga (FRDP), Pengurus Forum Komunikasi Desa Penyangga (FKDP), Para Kepala Resort lingkup Seksi PTN Wilayah I Way Kanan dan Para Tokoh masyarakat sekitar. Kepala Balai yang diwakili oleh Kepala Sub Bagian TU, Hermawan, S. Hut. menyampaikan apresiasinya kepada Kepala Seksi Wilayah I dan Koordinator WCS yang sudah menginisiasi acara ini dan juga rasa terimakasih juga disampaikan kepada masyarakat sekitar kawasan yang sudah ikut serta menjaga kelestarian Taman Nasional Way Kambas yang saat ini menjadi Warisan Dunia. Masyarakat dan Pengelola taman nasional diharapkan dapat bersinergi membangun Way Kambas. Dengan terbangunnya kerjasama yang baik dengan mengedepankan musyawarah diharapkan semua permasalahan dapat diselesaikan dengan baik. Kepala Desa Labuhan Ratu 9, Ermanita Permatasari, SH. MH., mewakili para Kepala desa dan sekaligus sebagai pengurus FRDP menyampaikan bahwa masyarakat melalui FRDP TN. Way Kambas siap untuk bekerjasama mewujudkan cita-cita Hutan Lestari dan Masyarakat Sejahtera. Semoga Motto Hutan Lestari – Masyarakat Sejahtera tidak hanya sebatas slogan. Dan diharapkan peran aktif masyarakat dalam pengelolaan lingkungan dapat diwujudkan. Beberapa materi disampaikan dalam Pelatihan dan Pembinan ini antara lain: Pengendalian Kebakaran Hutan; Peran serta Polri dalam Pengendalian ancaman Perburuan Satwa Liar; Pengenalan UU No. 18 tahun 2013; Peluang Penanganan Konflik gajah dalam RPJMDes. Gangguan Gajah Liar ke lahan masyarakat di Taman Nasional Way Kambas terjadi sejak tahun 1980an. Korban di kedua belah pihak sudah cukup banyak, baik korban jiwa maupun korban materi. Konflik satwa liar harus ditangani secara terpadu dan bijak, penanganannya harus melibatkan semua pihak dan yang paling penting harus ada keterlibatan masyarakat sekitar kawasan yang selama ini dianggap “korban”. Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Penanggulangan Gangguan Gajah yang ada di Taman Nasional Way Kambas merupakan bentuk keterlibatan langsung masyarakat sekitar kawasan dalam pengelolaan taman nasional di bidang konflik satwa. Penanganan konflik satwa tidak dapat dilakukan secara parsial, keterlibatan semua pihak dan menyeluruh harus dilakukan. Pemerintah daerah sudah seharusnya berada di garis depan dalam penyelesaian permasalahan yang berkaitan dengan masyarakat di luar kawasan lindung. Sumber: Humas Balai TN. Way Kambas
Baca Berita

Menengok Julang Sumba TN Matalawa Per Caturwulan

Waingapu 23 Maret 2018. Upaya meningkatkan populasi spesies terancam punah sesuai SK Direktur Jenderal KSDAE nomor 180/IV-KKH/2015, Balai TN Matalawa secara rutin melakukan monitoring populasi terhadap 2 ekor spesies burung, yaitu Julang Sumba dan Kakatua kecil jambul jingga per caturwulan. Pada caturwulan pertama, tanggal 19-23 Maret 2018, telah dilakukan monitoring terhadap jumlah populasi Julang Sumba di 6 titik pengamatan dengan diikuti seluruh pejabat fungsional PEH. Demi mensukseskan kegiatan monitoring ini, Kepala Balai, Maman Surahman, S.Hut, M.Si beserta Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Tri Wiyanto, S.Hut juga turut serta dalam tim monitoring. 6 lokasi monitoring yang dipilih merupakan hasil survey pendahuluan yang telah dilakukan sejak tahun 2015, yaitu Mahaniwa, Billa, Watucidung, Lokuhuma, Maloba, dan Ubukora dengan masing-masing 3 subsite pengamatan pada setiap lokasi menggunakan metode pointcount. Dari pelaksanaan kegiatan monitoring Julang Sumba tahap I ini diperoleh hasil perjumpaan dengan total 52 ekor, dengan perjumpaan untuk masing-masing site monitoring terdiri dari 12 ekor di Watucidung, 15 ekor di Mahaniwa, 11 ekor di Billa, 2 ekor di Ubukora, 5 ekor di Lokuhuma dan 7 ekor di Maloba. Sumber : Balai TN Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

1500 Bibit Mangrove Pulau Mantehage Bangkitkan Potensi Wisata Sulawesi Utara

Pulau Mantehage, 24 Maret 2018. Balai Taman Nasional Bunaken melakukan kegiatan pengkayaan mangrove di Pulau Mantehage. Sebanyak 1500 bibit mangrove ditanam di Desa Tinongko, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara. Aktivitas pengkayaan mangrove mantehage dengan melibatkan para mitra dan instansi seperti Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, Lantamal VIII Manado, Kapolsek Wori, Koramil Wori, Babinkamtibmas dan Babinsa Mantehage serta melibatkan kelompok masyarakat setempat serta Kader Konservasi dan Siswa-siswi SD Negeri dan SMP Negeri Wori. Sementara itu Kepala Balai Taman Nasional Bunaken (Dr. Farianna Prabandari) disela kegiatan pengkayaan mangrove menyampaikan bahwa Balai TN Bunaken selain melakukan kegiatan pemulihan ekosistem juga mensosialisasi pentingnya fungsi ekosistem mangrove, dengan menyampaikan pesan perlindungan mangrove atas fungsinya sebagai tempat perkembangbiakan berbagai hewan laut, penahan gelombang pasang dan fungsi ekowisata, kami juga mensosialisasikan bahwa mangrove merupakan komponen ekosistem yang mampu menyerap karbon. Dalam penelitian yang dipublikasikan oleh Purnobasuki Departemen Biologi Universitas Erlangga, satu hektar hutan mangrove mampu menyerap + 110 kg/ha dan sepertiganya dilepaskan berupa endapan organik di lumpur, sehingga kewajiban kita bersama untuk menjaga kelestarian hutan, bila hutan lestari kita menjaga lingkungan hidup, dan apabila rusak banyak jasa lingkungan yang hilang serta kita berupaya memberikan kontribusi dalam penanganan pemanasan global. Hutan Mangrove di Pulau Mantehage memiliki luas lebih dari 1.300 ha, dengan kemudahan aksesibilitas dari Pelabuhan Manado, Dermaga di Wori, dekat dengan Pulau Bunaken serta berada di kawasan Taman Nasional Bunaken yang merupakan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Pengembangan Mangrove Park Mantehage merupakan bagian dari kebijakan ekowisata di Taman Nasional Bunaken, mendukung pembangunan daerah, pengembangan wisata bahari dan menarik wisatawan yang ekotour sebagaimana slogan Ayo ke Taman Nasional. Khusus untuk fungsi ekowisata mangrove Pulau Mantehage disiapkan pemanfaatannya menjadi Mangrove Park, kami akan melengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang seperti mangrove trail, visitor information center dan building research serta toilet, menara pandang dan pengamatan burung. Aktivitas wisata alam di mangrove mantehage dapat dilakukan dengan menyusuri mangrove dengan katinting masyarakat, pengamatan burung (bird watching), interpretasi jasa lingkungan dan sebagainya. Sehingga pembangunan Mangrove Park Mantehage akan memberikan manfaat kepada masyarakat dan pertumbuhan ekonomi lokal di Kabupaten Minahasa Utara dan Kota Manado, lanjut Farianna. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Generasi Jaman Now Peduli Hutan di TN Matalawa

Waingapu, 23 Maret 2018. Hari Hutan Sedunia (HHS) yang diperingati setiap tanggal 21 Maret juga turut disemarakkan di kawasan TN Matalawa. Dengan tema ‘Generasi Zaman now Peduli Hutan’, semarak HHS sungguh terasa di lokasi penyelenggaraan yaitu di SD dan SM Satu Atap (SATAP) Praimahala, Desa Mbilur Pangadu, Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Kabupaten Sumba Tengah. Kegiatan HHS ini dihadiri Kepala SPTN Wilayah II Lewa, Kepala Sekolah SATAP Praimahala dan seluruh pengajar, Camat Umbu Ratunggay, Kapolsek Umbu Ratunggay, Kepala Desa Mbilur Pangadu, dan Kepala Desa Ngadu Olu. Bersama para siswa yang berjumlah ± 200 orang, mereka melakukan aksi pembersihan sampah di halaman sekolah dan penanaman bibit jenis trembesi, jati emas, gmelina dan sengon. Pada sambutan yang disampaikan sebelumnya, Kepala SPTN Wilayah II Lewa, Yudi Aries Mulik, STP, menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan menumbuhkan semangat generasi zaman now terhadap lingkungan dan alam. Kehadiran Forkopimda Kec. Umbu Ratunggay yang dipimpin oleh Camat Umbu Ratunggay membuktikan bahwa pemerintah sangat peduli dengan aksi nyata di lapangan. Hal ini tercermin dari sambutan yang disampaikan Camat Umbu Ratunggay bahwa beliau berterima kasih kepada Balai TN Matalawa yang telah datang ke sekolah-sekolah melakukan sosialisasi dan kerja nyata untuk menyadarkan generasi muda zaman now terhadap arti penting hutan di pulau Sumba. Selain melakukan aksi bersih dan penanaman, pihak Balai TN Matalawa juga membagikan buku promosi, selebaran dan buku burung pada akhir kegiatan. Sumber : Balai TN Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Balai TN Komodo Gandeng Mitra Bersih Sampah di 3 Lokasi

Labuan Bajo, 24 Maret 2018. Balai TN Komodo hari ini (24/3) kembali melakukan aksi bersih sampah bersama mitra. Kegiatan ini dipusatkan pada 3 lokasi wisata yakni Padar Selatan, Gili Lawa dan Pink Beach dengan mitra yang terlibat yakni Trash Hero, P2L, WWF, TNI, Kominfo Mabar, Polres Mabar, Pramuka Saka Wanabakti serta masyarakat dalam kawasan TN Komodo. Kepala Balai TN Komodo Budhy Kurniawan sesaat sebelum berangkat ke lokasi menyampaikan apresiasinya kepada mitra yang ikut terlibat dalam kegiatan ini. "Kami berterimakasih kepada kita semua yang hari ini sudah mau membantu Balai TN.Komodo. Kami tidak bisa memerangi sampah sendiri, karenanya dukungan dan bantuan semua pihak sangat kami harapkan" Sampah yang berhasil dikumpulkan dari tiga lokasi kegiatan mencapai 170kg yang sebagian besar merupakan sampah plastik kemasan makanan dan minuman yang ditinggalkan oleh pengunjung maupun terbawa oleh air laut. Sampah-sampah tersebut kemudian diangkut ke Labuan Bajo untuk kemudian diserahkan ke KSU Sampah Komodo. Saat ini Balai TN Komodo sendiri memiliki dua skema penanganan sampah, yang pertama dengan membentuk masyarakat peduli sampah (MPS) di Desa Komodo, Pasir Panjang dan Papagarang. MPS membersihkan sampah di desa dan di lokasi wisata terdekat secara rutin. Skema yang kedua adalah dengan pembersihan sampah bersama mitra seperti yang dilaksanakan pada hari ini. Sumber : Balai TN Komodo
Baca Berita

Upaya Pengelolaan Kolaboratif SM Isau-isau Bersama Masyarakat

Lawang Agung, 23 Maret 2018. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan melakukan komunikasi interaktif dan intensif dengan para pihak dalam upaya pengelolaan kolaboratif kawasan Suaka Margasatwa (SM) Isau-isau. Penekanan pengelolaan kolaboratif tersebut dalam rangka penguatan komitmen para pihak dalam perlindungan dan rehabilitasi kawasan SM Isau-isau. Sebuah strategi dan model pengelolaan yang menempatkan masyarakat sebagai bagian dalam pengelolaan kawasan dengan mengelola masyarakat untuk menekan tekanan terhadap kawasan dan merehabilitasi kawasan. Melalui dialog interaktif dengan para pihak yang terdiri dari Ketua BPD-Desa Lawang Agung, Kepala Dusun II, Pengguna Kawasan Secara Non Prosedural (45 orang) diharapkan akan diperoleh solusi dan model perlindungan dan rehabilitasi kawasan SM Isau-isau yang melibatkan masyarakat secara aktif atas dasar kesadaran akan nilai penting kawasan.Materi kegiatan adalah paparan tingkat kerusakan kawasan, tipologi tekanan kawasan oleh aktivitas non prosedural yang dilakukan masyarakat, kerentanan desa-desa sekitar kawasan akan dampak kerusakan kawasan, upaya penyadartahuan pengguna kawasan secara non prosedural untuk secara sadar dan mandiri menertibkan bangunan (pondok) dalam kawasan serta secara bertahap meninggalkan aktivitas pembukaan lahan dalam kawasan, dan mengajak semua elemen masyarakat dari desa-desa penyangga, pengguna kawasan secara non prosedural, dan pihak terkait lain untuk terlibat aktif dalam upaya perlindungan dan rehabilitasi kawasan. Penyadartahuan ditekankan pada upaya perlindungan dari aktivitas pembukaan lahan dalam kawasan dan rehabilitasi kawasan yang terbuka. Peran yang lebih diharapkan kepada pengguna kawasan secara non prosedural melalui gerakan bersama untuk sadar, peduli dan berperan aktif terhadap rehabilitasi kawasan karena kerusakan yang terjadi akibat pemanfaatan yang memberi hasil finansial kepada mereka tetapi mengakibatkan degradasi kawasan. Hasil kegiatan berupa kesepakatan tertulis terkait komitmen bersama antara BKSDA Sumatera Selatan dengan para pihak yang terdiri dari Ketua BPD-Desa Lawang Agung, Kepala Dusun II, Pengguna Kawasan Secara Non Prosedural (45 orang dari Ataran Sepit, Ataran Air Ijuk Tengah, Ataran Tenam Kutilan, Ataran Bukit Sumur, Ataran Air Bemban, dan Ataran Sungai Medang). Komitmen tertulis pada prinsipnya merupakan upaya bersama dalam mengupayakan rehabilitasi kawasan yang selain berfungsi ekologis juga bermanfaat bagi masyarakat (jenis-jenis tanaman MPTS), peran aktif masyarakat dalam upaya menurunkan tingkat kerusakan dengan tidak melakukan pembukaan lahan dalam kawasan, keterlibatan masyarakat dalam perlindungan kawasan terutama menahan laju tekanan oleh masyarakat, dan bagi masyarakat yang mengunakan kawasan secara non prosedural untuk menertibkan bangunan (pondok) dalam kawasan dengan batas waktu sampai dengan bulan agustus tahun 2018 dimana akan dilakukan evaluasi capaian pelaksanaannya serta kesediaan secara bertahap meninggalkan aktivitas pembukaan lahan dalam kawasan. Sumber : Wahid Nurrudin - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Pengkayaan Mangrove di Pulau Mantehage Bersama Masyarakat & Pelajar

Minahasa Utara, 24 Maret 2018. Bertempat di Desa Tinongko Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Balai Taman Nasional Bunaken melakukan kegiatan pengkayaan mangrove Pulau Mantehage. Dalam kegiatan pengkayaan mangrove tersebut melibatkan kelompok masyarakat setempat serta Kader Konservasi dan Siswa-siswi SD Negeri dan SMP Negeri Wori. Sebanyak 1.500 bibit mangrove ditanam untuk pengkayaan ekosistem. Seperti yang kita ketahui kegiatan ini merupakan bagian peringatan Hari Hutan Sedunia yang jatuh tanggal 21 Maret serta aktivitas edukasi lingkungan hidup dalam perubahan iklim - Arma Janti Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Taman Nasional Bunaken. Masih menurut Arma Janti Pulau Mantehage memiliki hutan mangrove yang cukup luas, pemilihan Desa Tinongko karena berada langsung dengan wilayah yang dikelilingi mangrove dengan terhubung dengan Desa-Desa lainnya di Pulau Mantehage. Seperti dikutip dari www.bbc.com tahun 2016 dari data Organisasi Pangan Dunia PBB dalam 3 dekade terakhir Indonesia sudah mengalami kehilangan 40% mangrove, artinya Indonesia memiliki kecepatan kerusakan mangrove terbesar di dunia. Untuk itu penanaman dilakukan pada areal terbuka dalam rangka pemulihan ekosistem dan edukasi lingkungan. Pulau Mantehage atau nama lainnya Pulau Manterawu merupakan pulau terbesar di Kawasan Taman Nasional Bunaken, keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya meliputi hutan mangrove, padang rumput, serta satwa rusa mantehage dan tarsius, terdapat beberapa pulau kecil yang menjadi kesatuan dengan Pulau utama di Mantehage dihuni berbagai hewan ular laut dan kelelawar /(paniki dalam bahasa setempat) yang berpotensi menjadi daya tarik wisata serta penelitian. Kegiatan pengkayaan mangrove di Pulau Mantehage sekaligus prakondisi penyiapan rencana Balai Taman Nasional Bunaken dalam pengembangan wisata Mangrove Park Mantehage, lanjut Arma Janti. Dalam kesempatan pengkayaan mangrove turut mengundang mitra dan instansi daerah yakni Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, Lantamal VIII Manado, Kapolsek Wori, Koramil Wori, Babinkamtibmas dan Babinsa Mantehage. Sistem penanaman yang dilakukan dalam pengkayaan mangrove yakni tanam pada areal terlindung, tanam di areal terbuka dan sistem rumpun, kedepan monitoring pertumbuhan hasil pengkayaan mangrove ini dilakukan oleh Kader Konservasi dan Kelompok Masyarakat. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Tim dan Warga Desa Pulau Muda Lakukan Evaluasi Bersama

Pelalawan, 23 Maret 2018. Tim Rescue gabungan penyelamat Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) melakukan pertemuan dengan warga Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan di kantor KPP PT THIP Desa Simpang Kanan, Kec. Pelangiran, Kab. Indragiri Hilir (22/3/18). Dalam pertemuan tersebut, warga meminta tim tetap bekerja menangkap Bonita dan berharap Bonita segera dapat tertangkap. Hal ini disebabkan warga saat ini masih merasa resah untuk melakukan aktifitas setelah Bonita menerkam Yusri Effendi (34) warga Desa Pulau Muda. Rapat dihadiri oleh Tim gabungan, perwakilan warga Desa Pulau Muda, perwakilan warga Desa Tanjung Simpang dan awak media yang berjumlah sekitar 40 orang. Effendi, salah satu tokoh masyarakat Desa Pulau Muda meminta petugas sesegera mungkin menangkap Bonita untuk menghindari jatuhnya korban selanjutnya dan segera mengatasi konflik manusia dan satwa dilindungi tersebut. Dalam rapat telah disepakati beberapa hal, yaitu : Pertama: Bersama sama melakukan do'a untuk keselamatan dan keberhasilan Tim dalam melaksanakan tugasnya; Kedua : Petugas tetap fokus melakukan upaya penangkapan dan menambah anggota di lapangan; Ketiga : Meminta pemerintah Kab. Pelelawan lebih memperhatikan masyarakat Pulau Muda pasca terjadinya konflik satwa dan manusia. Dari hasil pertemuan, disepakati untuk melakukan doa bersama di posko siaga di Estate Eboni PT THIP dan masyarakat Pulau Muda jangan takut melakukan aktivitas sehari hari di luar rumah karena jelajah Bonita tidak sampai ke Desa Pulau Muda. "Kami bersama Polri, TNI dan para pihak pemerhati harimau akan terus mengedukasi warga agar memiliki pebgetahuan dasar cara menghindari serangan Harimau sumatera dan mendampingi untuk pemulihan trauma serta terus melakukan patroli di daerah perlintasan Bonita. Terima kasih kepada seluruh warga Desa Pulau Muda, Kec. Teluk Meranti, Kab. Pelalawan yang telah mendukung Tim untuk menuntaskan tugas mengevakuasi Bonita. Semua ini kita lakukan untuk menjamin keamanan warga masyarakat yang desa maupun dusunnya berdampingan dengan habitat Harimau sumatera." ujar Suharyono Kepala Balai Besar KSDA Riau melalui ketua Tim Rescue gabungan Mulyo Hutomo. Ditambahkan bahwa tidak ada dibuat kesepakatan warga mendesak tim untuk menangkap Bonita karena untuk melakukan evakuasi butuh waktu yang tidak bisa ditentukan. Dari lokasi, ketua tim lapangan Zulkifli menyampaikan bahwa pasca pertemuan dengan warga, tim kembali melakukan pemantauan pergerakan Bonita dan sebagian tim lagi bergerak ke lokasi pada dini hari pukul 04.00 WIB dan subuh pukul 05.30 WIB. Semoga Bonita segera dapat dievakuasi ke tempar rehabilitasi untuk dilakukan observasi. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Dukung Perekonomian Masyarakat Sumba Tengah Dengan Seminar Keanekaragaman Hayati

Waikabubak, 23 Maret 2018. Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumba Tengah menjadi tempat saat Maman Surahman S.Hut., M.Si selaku Kepala Balai TN Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat, yang diwakili pimpinan Dinas Lingkungan Hidup. Maman Surahman S.Hut., M.Si sangat mendukung terselenggaranya Seminar Keanekaragaman Hayati dalam perspektif peningkatan ekonomi masyarakat lokal sebagai wujud peningkatan kesadaran, pemahaman dan pengetahuan kepada seluruh pemangku kepentingan dalam pemanfaatan keanekaragaman hayati yang ada di Kabupaten Sumba Tengah. Adapun tema yang akan diangkat dalam seminar tersebut adalah “Potensi Ekonomi Keanekaragaman Hayati Kawasan Hutan Manupeu Tanah Daru untuk Pembangunan Kabupaten Sumba Tengah”. Seminar tersebut nantinya akan mengundang seluruh pimpinan OPD Kabupaten Sumba Tengah, Pimpinan KPH, seluruh Kepala Bagian, Camat, Para Kepala Desa, dan Kelompok Masyarakat Peduli Hutan (KMPH). Direncanakan narasumber yang akan mengisi acara tersebut adalah Ir. Bambang Dahono Adji M.M., M.Si selaku Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Ditjen KSDAE Kementerian LHK dengan materi Manajemen potensi keanekaragaman hayati kawasan hutan Manupeu Tanah Daru berbasis masyarakat. Tidak ketinggalan M. Nurdin Razak selaku praktisi Ecoenterprener Baloeran Ecolodge akan memberikan materi seminar. Seminar yang akan digelar ini merupakan salah satu wujud sinergitas antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam rangka peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) serta peningkatan ekonomi berbasis masyarakat. Sumber : Balai TN Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Tanam Pakan Badak Sumatera Agar Badak Tetap Lestari

Labuhan Ratu, 23 Maret 2018. Masyarakat Dusun Margahayu, Desa Labuhan Ratu VII yang menjadi desa penyanggga Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, didampingi Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan Puslitbang Lingkungan Hidup Universitas Lampung (UNILA) serta Rhino Protection Unit (RPU) melakukan penanaman jenis pakan Badak Sumatera (15/3/18). Lokasi penanaman berada di areal lahan Rumah Konservasi, Dusun Margahayu seluas 1.200 m2. Jenis pakan yang ditanam di area ini berasal dari tumbuhan yang berkecambah dari kotoran individu badak yang ada di SRS, pupuk yang dipakaipun berasal dari kotoran badak. Secara simbolis ditanam 69 bibit dari 9 jenis pakan badak antara lain ; Kasapan (Crocon caudatus), Akar merah (Mussaendra trondosa) Sirihan (Piper re;rofacttum), Pulai (Alstonia scholaris), Putihan (Clibadium surinaraense) dan Mahang ( Macaranga Sp.). “Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan bersama yang diinisiasi antara YABI, UNILA dan masyarakat Dusun Margahayu didukung oleh Balai Taman Nasional Way Kambas (BTNWK) dalam upaya pemberdayaan masyarakat desa. Setelah sebelumnya masyarakat Dusun Margahayu telah melaksanakan kegiatan kunjungan ke Suaka Rhino Sumatra (SRS) untuk pengenalan 7 (tujuh) badak sumatera yang berada di SRS dibarengi dengan pengenalan jenis pakan badak yang berada di SRS dan kegiatan studi banding ke kawasaan demplot restorasi pengkayaan jenis pakan badak binaan YABI di Rawa Kijang, Resor Margahayu, Kuala Penet, TNWK.” jelas Direktur Eksekutif YABI yang di wakili oleh bapak Ir. Muniful Hamid. “Terselenggaranya kegiatan ini memberikan peluang kegiatan ekonomi alternatif bagi masyarakat Desa Margahayu dan menjawab salah satu tantangan kelangkaan persediaan tumbuhan pakan badak sumatera di SRS yaitu sebanyak 20 kg/hari/individu. Kegiatan ini mengundang masyarakat untuk melakukan penanaman tanaman pakan badak di area Rumah Konservasi yang masih luas.” ucap ibu Dra. Elly L Rustiati, M.Sc, dari Unila mewakili akademisi dan peneliti. “Jika demplot pengkayaan jenis pakan badak sumatera di lahan Rumah Konservasi ini berhasil, maka area ini pun akan menjadi tempat kajian dari berbagai disiplin ilmu termasuk botani, pengembangan ekowisata dan studi analisa pakan badak selain di SRS dan tentu saja dapat berguna secara ekonomi bagi masyarakat dusun Margahayu” pesan Kepala Balai TNWK, Subakir, SH.MH. di akhir acara setelah sebelumnya juga melakukan aksi penanaman pohon di PLG dalam rangka menyambut Hari Bakti Rimbawan ke35. Sumber : Balai TN Way Kambas & Yuliane Afterya – Asisten Manajer Wilayah Sumatra YABI
Baca Berita

Info Call Center Balai TN Rawa Aopa Watumohai Bantu Tangkap Pelaku Illegal Logging

Kendari, 23 Maret 2018. Berawal dari laporan masyarakat via call centre TNRAW perihal adanya aktivitas penggalian dan pencetakan sawah di wilayah Resort Ladongi SPTN Wilayah III. Berdasarkan hasil PULBAKET, bahwa ada oknum aparat yang terlibat di dalamnya. Untuk menangani masalah tersebut, pada tanggal 15 Maret 2018, kami melakukan koordinasi dengan Kepolisian Resor Kolaka untuk proses penyelidikan. Hasill koordinasi, POLRES Kolaka menyarankan agar segera menyiapkan dokumen legalitas pengelolaan kawasan TNRAW berupa SK Penetapan, Berita Acara Tata Batas, Informasi mengenai kawasan TNRAW, dan dokumen lainnya. Pada tanggal 20 maret 2018, TIM bersama Danramil Rate-Rate serta Kepala Desta Tetembute berhasil mengeluarkan pelaku dari kawasan TNRAW. Berdasarkan informasi dari masyarakat, bahwa luas rencana lokasi pencetakan sawah di dalam kawasan TNRAW seluas 200 ha. Untuk proses yustisi, pihak POLRES Kolaka akan melakukan pemeriksaan saksi pelapor dari TNRAW, dan akan dilanjutkan dengan pemanggilan saksi lainnya. Kamis 8/3/18, Tim Operasi Pengamana Peredaran TSL dan Hasil Hutan Lainnya berhasil mengamankan barang bukti (BB) berupa kayu olahan hasil illegal loging sebanyak 7,4376 M3 di blok hutan unggulino resort onembute puriala SPTN I, pelaku tidak ditemukan di Tempat Kejadian Perkara. Tindakan yang diambil adalah membuat laporan kejadian dan selanjutnya dilaporkan kepada Kepolisian Resor Konawe untuk proses penyelidikan lebih lanjut. Progres penangan kasus sudah sampai pada pemeriksaan saksi pelapor. Selasa 13/3/18, Tim melakukan kegiatan di wilayah Resort Poleang Laea SPTN Wilayah II dengan target melakukan penangkapan terhadap pelaku illegal loging dan perambahan di blok hutan Lasada Resort Poleang Laea SPTN Wilayah II. Berdasarkan hasil PULBAKET, kegiatan perambahan dan illegal loging di blok hutan Lasada dimotori oleh seorang aktor intelektual atas nama ZAINAL ABIDIN, dengan modus operandi yang digunakan adalah bertindak sebagai makelar dengan mencari pembeli tanah untuk membeli lahan di dalam kawasan TNRAW. Selain itu ZAINAL ABIDN juga diduga kuat melakukan aktivitas illegalloging di dalam kawasan TNRAW. Untuk menjerat ZAINAL ABIDIN dengan pasal TIPIHUT dalam kawasan TNRAW, POLRES Bombana menyarankan agar Balai TNRAW membuat surat aduan tentang pelanggaran hukum atas nama ZAINAL ABIDIN di dalam kawasan TNRAW sebagai dasar untuk pengembangan kasus. Harapannya adalah ZAINAL ABIDIN bisa dijerat dengan pasal TIPIHUT di dalam kawasan TNRAW sesuai dengan UU Nomor 5 Tahun 1990, UU Nomor 41 Tahun 1999, UU Nomor 18 Tahun 2013 serta peraturan lainnya. Laporan Pengaduan dengan terlapor atas nama Zainal Abidin sudah disampaikan kepada POLRES Bombana pada tanggal 11 maret 2018. Kamis (22/3/18), Berawal dari laporan masyarakat perihal adanya sekelompok orang yang memasuki kawasan TNRAW menggunakan kapal sebanyak 12 buah kapal, dan masing-masing kapal diperkirakan memuat 3 orang. Kapal tersebut sudah kerap kali beroperasi di wilayah ekosistem mangrove untuk melakukan pembalakan liar. Atas dasar laporan tersebut, TIM menuju lokasi. Pukul 15.00 WITA TIM melakukan pengejaran terhadap 7 buah kapal, namun upaya tersebut gagal. Kemudian pada pukul 15.15 WITA, TIM melakukan pengejaran terhadap 1 buah kapal lainnya, dan berhasil diringkus, 1 orang pelaku melarikan diri, dan 1 orang lainnya tertangkap. Barang Bukti berupa 1 buah kapal, 6 batang kayu bulat ukuran panjang 8 m, diameter 20 cm up, serta 1 buah kapak. 4 kapal lainnya juga lolos dari penangkapan. Saat ini pelaku telah diamankan di kantor Kepolisian Sektor Tinanggea untuk proses penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut. Beny E Purnama (Kepala SPTN Wilayah II TNRAW) selaku penanggungjawab kegiatan operasi di kantor POLSEK Tinanggea, mengungkapkan bahwa kasus ini merupakan pintu masuk untuk menjerat aktor intelektual yang diduga selama ini menggerakan masyarakat untuk melakukan pembalakan liar di dalam kawasan TNRAW. Aktor intelektual dimaksud bisa berupa pemodal/pembeli kayu. Sumber : Balai TN Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Intip Persiapan Jambore Selam & Kemah Konservasi 2018 di TN Taka Bonerate

Benteng-Kepulauan Selayar, 23 Maret 2018. Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR) dan Pengurus Cabang Persatuan Olah Raga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Kabupaten Kepulauan Selayar lakukan rapat pemantapan persiapan Jambore Selam dan Kemah Konservasi Tahun 2018 yang dilaksanakan di Kantor Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Jalan S. Parman No. 40, Benteng hari ini, Kamis (22/3). Menurut Plh. Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Nur Aisyah Amnur yang juga Kepala Subag Tata Usaha bahwa rapat panitia tersebut untuk mengecek persiapan dan kemantapan panitia dalam mempersiapkan event tersebut. “Jauh hari sudah kami Bentuk Kepanitian Kolaborasi antara Balai, Dispar dan POSSI dan rapat hari ini dilaksanakan untuk mengecek detail persiapan panitia dalam menyukseskan program tersebut yang akan diselenggarakan pada tanggal 25-28 April 2018” jelasnya. Lebih lanjut disampaikan bahwa, kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Balai Taman Nasional Taka Bonerate, DISPAR (Dinas Kepariwisataan) Pemkab. Kepulauan Selayar dan Pengcab. POSSI Kepulauan Selayar dalam menyukseskan kalender event Pemerintah Daerah tahun 2018. “Ini kegiatan bersama antara Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Dinas Kepariwisataan, dan Pengcab POSSI Kepulauan Selayar. Ada pun aktivitas yang akan dilakukan pada Jambore Selam dan Kemah Konservasi yaitu transplantasi karang, Pemilihan Duta Karang, underwater clean up, beach clean up, Kampanye Pengelolaan Sampah Pesisir dan Plastik, coaching clinic, dan fun dive” ungkapnya. Dengan event ini selain untuk ajang promosi juga menanamkan Berwisata Yang Bertanggung jawab dan Edukasi. Sumber : Asri - PEH Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Menilik Rencana Aksi Pengelolaan TN Berbak dan Sembilang

Jambi, 22 Maret 2018. Penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Kawasan Taman Nasional Berbak tahun 2018-2027, Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang dengan dukungan Sumatran Tiger Project GEF-UNDP melaksanakan Workshop Isu Strategis Rencana Pengelolaan Kawasan Berbak dan Workshop Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Kawasan Berbak pada 21-22 Maret 2018, Hotel Aston, Jambi, untuk mendapatkan masukan dari parapihak mengenai penanganan isu strategis yang mempengaruhi nilai penting kawasan, membangun sinergisitas dalam menyusun strategi & rencana aksi pengelolaan, menentukan Tujuan Pengelolan serta Visi dan Misi kawasan TN Berbak. Kedua workshop merupakan bagian dari rangkaian kegiatan sebelumnya yaitu: a). Rapat Pendahuluan Penyusunan RPJP dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2017 untuk merencanakan tahapan kegiatan, menentukan nilai penting, identifikasi nilai penting kawasan, pembentukan Tim Kerja dan membuat jadwal pelaksanaan; b). Workshop Ekosistem Lahan Basah Berbak dan Workshop Species Kunci TN Berbak yang dilaksanakan pada tanggal 21-22 Nopember 2017 untuk mengeksplorasi data dan informasi mengenai atribut dari nilai penting kawasan serta isu yang mempengaruhi atribut nilai penting. Tahapan kegiatan penyusunan tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri LHK Nomor: P.35/MENLHK/SETJEN/ KUM.1/3/2016 yang dituangkan dalam Peraturan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Dan Ekosistem Nomor: P.14/KSDAE/SET/KSA.1/12/2017 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Pada Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam Dan Taman Buru. Workshop dibuka oleh Kepala Balai TN Berbak dan Sembilang Ir. Pratono Puroso, M.Sc dan dihadiri parapihak terkait seperti Pemerintah Daerah, UPT Kementerian, Perguruan Tinggi, organisasi non pemerintah, dan sektor swasta, antara lain: Direktorat Kawasan Konservasi, BPKH Pangkal Pinang, Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD), Badan Restorasi Gambut (BRG), Bappeda Propinsi Jambi, Dinas Pariwisata Provinsi Jambi, Bappeda Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Bappeda Muaro Jambi, Kanwil BPN Propinsi Jambi, Kantor Pertanahan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Universitas Jambi, Yayasan Gita Buana, Walestra, Yayasan Pinang Sebatang, Zoological Society of London, dan Wetland Internasional. Hal yang penting mengemuka dalam workshop yaitu: parapihak mengakui kawasan berbak penting bagi perlindungan ekosistem lahan basah (rawa dan gambut), populasi Harimau Sumatera, populasi Tapir Asia dan Burung Air; parapihak mendukung sinergisitas program/kegiatan masing-masing sektor dengan program/kegiatan pengelolaan kawasan Berbak; isu strategis yang menjadi prioritas untuk ditangani adalah integritas kawasan (tata batas, perambahan, klaim lahan), degradasi ekosistem lahan basah (kanalisasi, subsiden, kebakaran), dampak pembangunan di sekitar kawasan, dan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan. Sumber : Balai TN Berbak dan Sembilang

Menampilkan 8.433–8.448 dari 11.140 publikasi