Jumat, 17 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Keindahan Terpendam Suaka Margasatwa Isau-isau

Lahat, 26 Maret 2018. Bagi sebagian masyarakat mungkin sangat asing mendengar nama Suaka Margasatwa (SM) Isau-isau apalagi mengetahui dimana keberadaanya. Kawasan konservasi yang terletak di Kabupaten Lahat dan Muara Enim ini masih menyimpan keindahan yang tersembunyi dan seakan menanti untuk diungkap keelokannya. SM Isau-isau ini sangat mudah untuk diakses dari berbagai tempat sehingga menjadikan kawasan konservasi tersebut sangat potensial untuk dikemas menjadi hutan pendidikan, panelitian dan ekowisata berbasis konservasi. Aksesibilitas terdekat menuju rimbunnya hutan purba di SM Isau-isau ditempuh selama satu jam jalan kaki menuju tepian hutan hujan tropis khas Sumatera. Kesan pertama yang didapatkan serasa kita menyusuri hutan purba dengan pemandangan hutan lembab berlumut dengan komposisi menakjubkan disertai banyaknya pohon besar tumbuh diberbagai sudut hutan ditambah riuhnya suara burung Enggang Badak. Dari semua keindahan yang tersaji dalam kawasan SM Isau-isau terkandung juga permasalahan yaitu penggunaan kawasan secara non prosedural berupa kebun dan perburuan liar. Hal ini merupakan masalah kita bersama sehingga kerjasama dan peran serta aktif berbagai pihak dalam mendukung upaya konservasi perlu dikuatkan yang dilakukan baik perseorangan, kelompok maupun negara. Hal tersebut merupakan kewajiban kita bersama untuk menjaga dan merawat harta tak ternilai yang berada dalam kawasan SM Isau-isau. Sumber : Pungky Nanda Pratama - Kader Konservasi BKSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Penertiban Biota Laut Mati Sebagai Hiasan di Warung Ujung Gelam

Karimunjawa, 26 Maret 2018. Pada tanggal 26 maret 2018 pukul 15:00 WIB Tim Balai TN Karimunjawa melaksanakan penertiban biota laut yang dilindungi undang-undang terhadap pedagang yang ada di ujung gelam. Kegiatan penertiban dilaksanakan berawal dari adanya laporan dari masyarakat bahwa di ujung gelam ada salah satu pedagang makanan/minuman yang membuat pajangan berupa karang didepan warungnya. Dari hasil penertiban, dijumpai 1 warung yang memasang pajangan menggunakan karang jahe. Pemilik warung tersebut bernama Matori warga dukuh Alang-alang. Setelah dimintai keterangan, dia mengatakan tidak tahu kalau karang tersebut dilindungi undang-undang karena sudah mati. Dengan adanya penertiban ini, bpk. Matori memohon maaf atas ketidaktahuanya kemudian mengembalikan karang tersebut ke laut. Sumber: Agung Setyadi - Kepala Resort Legon Lele Balai TN Karimun Jawa
Baca Berita

Masyarakat Menyerahkan Burungnya Secara Sukarela ke Balai TN Aketajawe Lolobata

Sofifi, 26 Maret 2018. Sejalan dengan Surat Tugas melakukan kegiatan patroli di wilayah Resort Miaf, tim patroli Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II menerima 3 (tiga) jenis burung paruh bengkok, yaitu Nuri Bayan (Eclectus roratus) sebanyak 7 (tujuh) ekor, Kakatua Putih (Cacatua alba) sebanyak 8 (delapan) ekor dan Kasturi Ternate (Lorius garrulus) sebanyak 7 (tujuh) ekor. Burung-burung tersebut diserahkan oleh beberapa warga masyarakat Desa Maratana Jaya. Beberapa hari sebelumnya, petugas SPTN Wilayah II melakukan kunjungan ke Desa Bebsili dan Maratana Jaya untuk melakukan sosialisasi. Hasil dari kunjungan tersebut didapatkan bahwa masih terdapat aktivitas penangkapan burung oleh masyarakat setempat. Selanjutnya tim mendapatkan respon yang baik dari masyarakat. Beberapa diantaranya dengan sukarela menyerahkan burung peruh bengkok yang menjadi peliharaannya. Anggota warga tersebut ada yang menyerahkan burungnya sampai 5 (ekor). “Burung-burung tersebut akan langsung dibawa ke kandang transit Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata”, kata Pankratius dalam laporannya lewat whatsapp. Sumber : Pankratius Ajo Wajor B Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata http://aketajawe.com
Baca Berita

Lagi, Warga Sukarela Serahkan Burungnya ke Balai TN. Aketajawe Lolobata

Sofifi, 26 Maret 2018. Kakatua Putih atau Cacatua alba merupakan salah satu jenis burung paruh bengkok endemik Maluku Utara. Burung yang sering kita jumpai di beberapa rumah penduduk ini sudah terdaftar dalam konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar atau CITES (Convention on International Trade in Endangered Spicies) dengan status Appendix II. Appendix II berarti burung tersebut (Kakatua Putih) terdaftar sebagai spesies yang tidak terancam kepunahan , tetapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. Pada tanggal 20 Maret 2018, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) kembali mendapatkan burung Kakatua Putih yang diserahkan secara sukarela oleh salah satu tokoh agama di Desa Barumadoe. Adalah Bapak H. Amin La’apo yang sehari sebelumnya memberikan informasi kepada Kepala SPTN Wilayah I, Raduan, melalui telpon. Dengan ditemani 3 (tiga) pegawai baru, Calon Pengendali Ekosistem Hutan, Raduan mendatangi H. Amin La’apo untuk menerima burung keluarga Psittacidae sebanyak satu ekor. Menurut beliau, burung tersebut berasal dari Bacan, Halmahera Selatan, yang dipelihara selama satu tahun dan sudah jinak. “Kakatua Putih merupakan jenis burung endemik Maluku Utara yang perlu kita perhatikan agar tidak terancam punah”, kata Raduan. “Saya memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada masyarakat yang penuh kesadaran untuk menyelamatkan satwa”, tutupnya. Selanjutnya burung tersebut dibawa ke kandang transit di kantor Balai TNAL untuk dilakukan perawatan sampai dapat dilepasliarkan kembali. Sumber : Nadia Fasha Fauzy - Calon Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata http://aketajawe.com
Baca Berita

Sinergi Upaya Pelestarian Mbou

Ngada, 26 Maret 2018. Mbou, demikian nama lokal untuk kadal monitor terbesar di dunia (Varanus komodoensis) yang berada di wilayah Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Provinsi NTT. Jenis ini sama dengan biawak Komodo yang berada di Taman Nasional Komodo. Sebagaimana diketahui, habitat alami satwa tersebut juga berada di Pulau Flores (Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, dan Ngada). Guna menyelaraskan antara program pembangunan daerah dan konservasi Mbou, telah dilaksanakan Semiloka “Sinergi Kemitraan dalam Upaya Pelestarian Satwa Mbou di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada” tanggal 21 Maret 2018. Acara tersebut melibatkan Balai Besar KSDA NTT, Yayasan Komdo Survival Program (KSP), Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada, Pemerintah Kecamatan Riung, Burung Indonesia, dan BP Penelitian dan Pengembangan. Melalui pertemuan tersebut dihasilkan beberapa kesimpulan, antara lain: 1. Balai Besar KSDA NTT bersama Yayasan KSP telah melakukan program pemantauan populasi Mbou sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Kerjasama Nomor : PKS. 49/K.5/TU/KSA/8/2017 dan Nomor : PKS.06/KSP/2017 tanggal 18 Agustus 2017. Melalui kerjasama ini pula Yayasan KSP telah melakukan pendampingan masyarakat dan mengumpulkan informasi yang diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pembangunan kawasan; 2. Kawasan konservasi Cagar Alam Riung dan Wolo Tadho terbatas untuk aktivitas umum, namun Taman Wisata Alam Laut 17 Pulau (dimana terdapat Pulau Ontoloe yang menjadi habitat Mbou) memungkinkan untuk aktivitas wisata alam dan pemanfaatan tradisional; 3. Balai Besar KSDA NTT memperoleh mandat pelaksanaan Role Model Pengamanan Kawasan Bersama Masyarakat di Taman Wisata Alam Laut 17 Pulau yang dalam pelaksanaannya akan berkoordinasi dengan unsur Muspika Riung. Selain itu sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat, Balai Besar KSDA NTT akan melibatkan masyarakat dalam pengembangan wisata alam di TWAL 17 Pulau; 4. Pembangunan kawasan Riung harus berorientasi kepada pengembangan ekowisata sehingga memerlukan perencanaan yang terintegrasi lintas sektoral dengan parapihak. Apabila diperlukan untuk menghindari tumpang tindih kewenangan diperlukan dokumen kesepakatan dalam pengelolaan pariwisata di Riung; 5. Keberadaan satwa Mbou diharapkan dapat menjadi ikon daerah namun atraksi utamanya adalah ekowisata dan budaya. Supaya masyarakat dapat berperan aktif, terlibat, dan memperoleh manfaat dari ekowisata perlu adanya pendampingan berkelanjutan. 6. Koordinasi dan sinergi parapihak dalam mengatasi permasalahan batas kawasan konservasi perlu menjadi prioritas agar tidak berlarut-larut dan dapat menghambat pengembangan ekowisata. Dari semiloka ini diharapkan dapat ditindaklanjuti kegiatan workshop untuk menyusun roadmap pengembangan pariwisata dan kawasan Riung. Dengan demikian keberadaan satwa Mbou tetap terjaga populasinya dan masyarakat serta pemerintah setempat dapat memperoleh manfaat tanpa mengganggu keutuhan ekosistem kawasan konservasi di Riung. Sumber : Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

Dukungan Bupati Sumba Tengah untuk Balai TN Matalawa

Waikabubak, 26 Maret 2018. Bertempat di kantor Bupati Sumba Tengah , Kepala Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (Matalawa) Maman Surahman S.Hut., M.Si beserta Kepala Seksi Pengelolaan TN Wilayah I, II dan III mengadakan pertemuan dengan Bupati Sumba Tengah Drs Umbu Sapi Pateduk, didampingi Sekda Sumba Tengah Drs Umbu Sawola., M.Si, dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Fredericus M. Nanga SP. Dalam pertemuan tersebut Kepala Balai Taman Nasional Matalawa memaparkan tentang program pemberdayaan perempuan yang dilakukan di Desa Padiratana, Kabupaten Sumba Tengah yang merupakan desa penyangga kawasan TN Matalawa. Program yang diusung adalah pengembangan budidaya itik petelur sejumlah 1500 anakan disertai dengan bantuan pakan, obat-obatan, vitamin serta tenaga medis khusus unggas. Selain itu juga Balai TN Matalawa melaksanakan pendampingan secara intensif mulai dari tahapan penguatan kelembagaan kelompok, peningkatan kapasitas perempuan dalam pengembangan budidaya itik, serta menjamin pangsa pasar melalui pembangunan kios penjualan yang sedang dalam proses pengerjaan. Program lain yang juga dikembangkan adalah pengolahan dan pemasaran hasil komoditi masyarakat daerah penyangga yang berasal dari bahan baku lokal seperti kerajinan bambu, jambu mete kopi dan tanaman pangan lokal (ubi, talas, singkong). Bupati Sumba Tengah menyambut baik dan memberikan dukungan sepenuhnya terhadap program yang sedang dikerjakan oleh pihak Balai Taman Nasional dalam rangka peningkatan perekonomian masyarakat desa penyangga. Bentuk dukungan tersebut ditandai dengan direncanakannya dukungan dari dana desa. Di akhir pertemuan Bupati Sumba Tengah berharap selain upaya pemberdayaan masyarakat yang sudah berjalan, dalam rangka upaya memulihkan ekosistem hutan dan menjaga ancaman khususnya terhadap kebakaran padang yang sering terjadi, maka agar dapat banyak melibatkan peran masyarakat yang berada di sekitar kawasan. Pengembangan wisata alam juga diungkapkan Bupati untuk kedepan diharapkan akan menjadi salah satu penolong perekonomian masyarakat penyangga di Kabupaten Sumba Tengah. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (BTN Matalawa)
Baca Berita

Si Eben Kenalkan Konservasi Usia Dini

Sofifi, 26 Maret 2018. Kreatif dalam bertugas dibidang konservasi memang sangat diperlukan. Seperti yang dilakukan oleh Eben, tenaga teknis Resort Binagara, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Setelah bergabung dalam keluarga Balai TNAL tahun ini, Eben diberikan tugas oleh Koordinator Resort Binagara untuk mengenalkan konservasi (TNAL) di sekolah wilayah Resort Binagara di Halmahera Timur. Hal itu sesuai dengan hasil rapat rutin Resort Binagara. Kemarin (23/03), Eben Ambeua melakukan kegiatan belajar-mengajar di siswa kelas 3 dan siswa kelas 4 SDN Ino Jaya setelah mendapatkan persetujuan dari pihak sekolah. Materi yang diberikan adalah seputar tentang konservasi hutan, seperti pengertian konservasi, manfaat kawasan hutan dan fungsi-fungsi hutan. Metode pengajarannya adalah diskusi dan evaluasi melalui pemberian kuis. Hasil evaluasi menyatakan bahwa siswa-siswa tersebut mampu menyerap materi yang telah diberikan, karena berhasil menyawab kuis dengan baik. “Setelah dilakukan evaluasi melalui kuis, ternyata siswa kelas 3 dan kelas 4 mampu menjawab dengan baik dan benar, walaupun dalam bentuk bahasa mereka sendiri”, kata Eben. Kegiatan mengajar di sekolah sekitar Resort Binagara merupakan kegiatan rutin bulanan. Kegiatan tersebut ditujukan untuk lebih mengenalkan dunia konservasi terutama TNAL kepada siswa sekolah. Dari hasil mengajar itu, Eben mendapatkan apresiasi dari Kepala SPTN Wilayah III. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata http://aketajawe.com
Baca Berita

12 UPT Paparkan Draft Nol Dokumen Rancangan Zona Blok

Batam, 23 Maret 2018. Sebanyak 12 UPT Direktorat Jenderal KSDAE (TN/KSDA) telah membuat draft nol dokumen rancangan zona blok sebanyak 14 dokumen pada saat Workshop Penyusunan Dokumen Zona dan Blok Kawasan Konservasi Tahun 2018. Selama 3 (tiga) hari peserta workshop difasilitasi untuk membuat draft nol dokumen racangan zona blok. Adapun peserta yang hadir dalam workshop ini BBKSDA Sumatera Sumatera Utara, BBKSDA Riau, BBKSDA Jawa Timur , BBTN Bukit Barisan Selatan, BKSDA Bengkulu, BKSDA Sumatera Barat, BKSDA Sumatera Selatan, BKSDA Jawa Tengah, BTN Tesso Nilo, BTN Berbak Sembilang dan BTN Way Kambas. Selanjutnya 14 Kawasan konservasi telah dibuat draft nol dokumen rancangan zona blok yaitu CA Dolok Tinggi Raja, SM DOLOK SURUNGAN , CA Pulau Berkey, SM Tasik belat, CA PANCUR Ijen I /II , CA Lembah Anai, SM Gunung Raya, CA Pasar Seluma, CA Pasar Talo , CA Bantar Bolang, TN Bukit Barisan Selatan, TN Way Kambas, TN Tesso Nilo, TN Berbak Sembilan. Dalam penyusunan draft nol dokumen rancangan zona blok tersebut, Workshop Penyusunan Dokumen Zona dan Blok Kawasan Konservasi ini menggunakan beberapa metode termasuk presentasi dari narasumber/fasilitator, diskusi interaktif, tanya jawab, dan praktek penyusunan dokumen serta presentasi rancangan zona blok dari peserta . Peserta dipandu oleh narasumber dan fasilitator dalam menyusun dokumen Penataan zoning/blocking. Setelah draft nol dokumen rancangan zona blok yang telah disusun, peserta Workshop Penyusunan Dokumen Zona dan Blok Kawasan Konservasi Tahun 2018 diharapkan melanjutkan penyusunan dokumen zona blok dimasing- masing UPT. Potensi dokumen yang akan dihasilkan dari Workshop Penyusunan Dokumen Zona dan Blok Kawasan Konservasi ini adalah 51 dokumen baru dan 5 dokumen evaluasi/revisi. Sumber : Mugiharto HP, PEH Muda Direktorat PIKA.
Baca Berita

Bimtek 38 Pegawai BBKSDA Papua Barat, Apa ya?

Sorong, 25 Maret 2018. Ruang pertemuan Hotel Mariat Kota Sorong menjadi tempat Balai Besar KSDA Papua Barat bekerjasama dengan FFI Raja Ampat selenggarakan Bimtek Metode Survey Biodiversity, Permodelan Spasial dan Videografi. Kegiatan dibuka Kepala Balai Besar KSDA Papua Barat, Ir. R. Basar Manullang, M.M. yang dilaksanakan mulai tanggal 23 – 25 Maret 2018. Total peserta kegiatan ini sebanyak 38 orang pegawai lingkup Balai Besar KSDA Papua Barat baik dari resort, seksi, bidang wilayah dan balai. “Data dan informasi yang akurat dapat menjadi dasar perumusan kebijakan konservasi yang lebih adaptif, proporsional dan aspiratif. Sehingga peningkatan pengetahuan petugas di lapangan sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas perolehan data dan informasi, mengingat banyaknya metode dan teknologi baru yang dapat digunakan” ujar R. Basar Manullang dalam sambutannya. Harapannya kegiatan bimtek ini secara nyata dapat memberikan konstribusi untuk peningkatan kapasitas SDM serta dalam mewujudkan keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi. Materi bimtek disampaikan staf FFI Jakarta berupa metode survey biodiversity empat taksa; herpetofauna, burung, mamalia, dan botani, permodelan spasial, dan penggunaan drone untuk videografi. Selain itu, dilakukan simulasi lapangan di TWA Sorong. Sumber : Balai Besar KSDA Papua Barat
Baca Berita

Bersama Masyarakat Kelola Desa Nyamuk di Resort Nyamuk Balai TN Karimun Jawa

Karimunjawa, 26 Maret 2018. Pertemuan pendampingan kelompok masyarakat desa konservasi Kawasan Pengelolaan Desa Nyamuk (KPDN) dilaksanakan di Pondok Kerja Resort Nyamuk pada hari jumat tgl 23 Maret 2018, pukul 20.00 -22.30 WIB. Dihadiri oleh Penyuluh Kehutanan SPTNW II Karimunjawa, Pengurus dan anggota KPDN serta Kepala dan Anggota Resort Nyamuk. Kegiatan pendampingan ini untuk mengetahui perkembangan kegiatan, aktivitas dan kendala-kendala yang di hadapi KPDN dalam melaksanakan kegiatan dan fungsinya selama ini. Pada pendampingan ini ditekan pada kelembagaan KPDN, pengawasan, sosialisasi dan monitoring. Kelembagaan, didorong untuk membuat laporan bulanan yang selama ini belum rutin di lakukan, sehingga sikap atau kemandirian dari KPDN tetap terjaga. Setelah pertemuan pada hari Minggu KPDN sudah dapat membuat laporan untuk bulan Maret 2018, yang akan segera dilengkapi laporan bulan Januari dan Febuari. Bagian rumput laut, karena cuaca yang tidak menentu mengakibatkan bibit yang dulu pernah di tanam terkena penyakit (ais ais atau lumut gotho), sehingga tidak optimal. Perlu dilakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif untuk optimalisasi KPDN, mengingat program ini menjadi salah satu role model Taman Nasional Karimunjawa. Sumber : Balai TN Karimun Jawa
Baca Berita

Komodo Survival Program Terus Berkomitmen Untuk Konservasi Satwa Komodo

Labuan Bajo, 26 Maret 2018. Balai TN Komodo dan Komodo Survival Program (KSP) menandatangani Perjanjian Kerjasama, yang berlaku mulai April 2018 – April 2023 (26/3/18). Kesepakatan ini untuk memastikan penelitian satwa komodo tetap berjalan. Beberapa kegiatan utama dalam Perjanjian Kerjasama ini yaitu (1) Kerjasama penelitian dan pemantauan populasi biawak komodo dan habitatnya di Taman Nasional Komodo; (2) Pemantauan aktivitas reproduksi biawak komodo dengan menggunakan camera trap; (3) Pemantauan dan perhitungan indeks populasi satwa mangsa komodo dan (4) Pengembangan kapasitas SDM Balai TN Komodo dalam hal kegiatan pemantauan populasi dan analisis data. Kepala Balai TN Komodo, Budhy Kurniawan, menegaskan pentingnya kerjasama penelitian dan pemantauan populasi satwa komodo. “Kondisi populasi komodo yang stabil adalah kunci keberhasilan upaya pengelolaan itu sendiri. Dan setiap kebijakan pengelolaan bersumber dari data ilmiah yang reliable”. Senada dengan itu, Koordinator Program KSP, Deni Purwandana, menyebutkan bahwa penelitian jangka panjang dan konsisten sangat diperlukan untuk mengetahui kecenderungan peningkatan atau penurunan populasi komodo itu sendiri untuk menentukan kebijakan pengelolaan yang tepat. Selain penandatanganan perpanjangan PKS, pihak KSP juga menyerahkan buku panduan Lapangan Biawak Komodo (Komodo Dragon Field Guide) dan buku pendidikan Konservasi Cerita si Komo. Panduan lapangan berisi hasil-hasil studi KSP dan BTNK selama 15 tahun, tersaji dalam bahasa yang lebih sederhana sebagai pegangan pemanduan wisatawan bagi lokal guide di site wisata Loh Liang dan Loh Buaya. Sedangkan buku Cerita si Komo merupakan buku cerita bergambar untuk kepentingan edukasi komodo kepada anak sekolah di kawasan TN Komodo. Biawak komodo (Varanus komodoensis) merupakan salah satu satwaliar kebanggaan Indonesia. Memiliki status sebagai kadal terbesar di dunia, satwa endemik kawasan TN Komodo dan Flores, predator puncak sekaligus kanibal, dengan beberapa senjata mematikan bagi mangsanya, satwa ini telah menarik perhatian dunia sejak pertama kali ditemukan oleh JKH Van Stein tahun 1911. Komodo merupakan alasan utama dibentuknya kawasan konservasi Taman Nasional Komodo tahun 1980. Penelitian terhadap komodo secara intensif baru dimulai pada tahun 2002 dan merupakan kerjasama kolaborasi antara Balai TN Komodo dengan San Diego Zoological Society. Pada tahun 2007, kerjasama penelitian tersebut berakhir, kemudian dilanjutkan kembali dengan Komodo Survival Program (KSP) hingga saat ini. Selama kurun waktu 15 tahun terakhir, kegiatan penelitian komodo telah menghasilkan puluhan publikasi ilmiah, rekomendasi kebijakan pengelolaan, peningkatan SDM staf BTN Komodo dan masyarakat serta pendidikan konservasi satwa komodo dan habitatnya. Sumber: Balai TN Komodo
Baca Berita

Pemeliharaan Jalur Batas Resort Legon Lele Balai TN Karimun Jawa

Karimunjawa, 26 Maret 2018. Kegiatan pemeliharaan jalur batas dilaksanakan pada bulan Maret oleh personil SPTN Wilayah II Balai Taman Nasional Karimunjawa melalui Resort Legon Lele dengan melibatkan masyarakat Karimunjawa. Pemeliharaan jalur batas dilaksanakan dengan melakukan pembersihan jalur batas mulai dari Pal TN 61/E 62 - TN 72/73. Hasil kegiatan yang telah dilakukan yaitu pembersihan jalur batas/jalur rintis batas sepanjang kurang lebih 939 meter, serta dapat diketahui kondisi terkini Pal batas yang dilalui jalur batas yang umumnya pada kondisi baik dan sebagian ada yang rusak. Diharapkan dari kegiatan ini dapat mempererat hubungan kemitraan dengan masyarakat, mengetahui kondisi pal batas terkini dan sekaligus patroli kawasan. Sumber : Agung Setiyadi Kepala Resort Legon Lele - Balai TN Karimun Jawa
Baca Berita

Kembali ke Alam Bersama Bumi Edukasi

Boyolali, 26 Maret 2018. Bertempat di SD Negeri 2 Ngagrong, Balai Taman Nasional Gunung Merbabu melaksanakan kegiatan pendidikan lingkungan bersama Ibu Nina Suhartina dari Bumi Edukasi. Siswa-siswi kelas 4 dan 5 sebanyak 30 siswa diajak untuk berkegiatan di dalam serta di luar ruangan yang merupakan rangkaian kegiatan Bumi Edukasi Jelajah 7 Taman Nasional. Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak para penggiat alam, mahasiswa, mahasiswi maupun siswa dan siswi untuk mempelajari tentang ekowisata dan konservasi di sekolah-sekolah yang berada di daerah penyangga kawasan konservasi, juga berinteraksi dengan para siswa-siswi sekitar Taman Nasional. Siswa-siswi SD Negeri 2 Ngagrong diajak untuk lebih mengenal dan mempelajari keanekaragaman hayati di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Para siswa dibagi dalam kelompok untuk lebih memudahkan proses pembelajaran. Anak-anak diajak untuk berdiskusi, belajar mengemukakan pendapat, menonton film, serta melaksanakan beberapa tugas untuk menumbuhkan kreativitas anak-anak. Anak-anak yang bertempat tinggal di daerah penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu diarahkan untuk lebih mengenal rumah dan tempat tinggal asal mereka. Ternyata tanpa mereka sadari mereka memiliki ketergantungan tinggi pada kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Dengan lebih mengenal Taman Nasional Gunung Merbabu dengan segala potensinya serta arti penting kawasan hutan bagi kehidupan, diharapkan akan muncul rasa kepedulian dalam diri anak-anak sebagai generasi penerus. Penanaman rasa cinta pada alam sejak dini diharapkan akan menumbuhkan rasa ikut memiliki dan cinta pada alam itu sendiri yang akan berujung pada peran serta mereka dengan sukarela untuk menjaga kelestarian alam sekitar mereka pada umumnya dan kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu pada khususnya. Pendidikan lingkungan merupakan pondasi awal manusia dalam usaha melestarikan alam. Arti penting pendidikan lingkungan sejak dini, bertujuan untuk penanaman karakter peduli terhadap lingkungan sekitar. Mengingat alam merupakan rumah kita, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga dan melestarikannya. Sumber : NurA - Penyuluh Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

Karimunjawa National Park Coastal Clean Up : Resik, Becik, Apik

Karimunjawa, 26 Maret 2018. Kegiatan memperingati hari Bakti Rimbawan ke 35 tahun 2018, SPTN Wilayah II Balai TN Karimunjawa laksanakan kegiatan bersih pantai di kawasan pesisir pantai pulau Menjangan Kecil dan pesisir pantai pulau Cemara Besar. Lokasi tersebut dipilih di karenakan pesisir pantai sisi barat pulau Menjangan Kecil dan pesisir pantai sekeliling pulau Cemara Besar banyak sampah yang terdampar akibat musim muson barat. Pesisir pulau Menjangan Kecil memiliki panjang sejauh 3.141 meter, dan sedangkan pesisir pulau Cemara Besar memiliki panjang sejauh 1.047 meter. Jumlah peserta yang ikut dari unsur pemerintahan sebanyak 8 orang, dari kelompok masyarakat sebanyak 42 orang, sedangkan dari staf SPTN Wilayah II Karimunjawa sebanyak 12 orang. Kegiatan bersih pantai ini didukung penuh oleh unsur instansi pemerintahan baik tingkat Kabupaten, Propinsi, Pusat dan kelompok masyarakat yang terlibat secara langsung dalam kegiatan tersebut. Kegiatan bersih pantai yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 26 Maret 2018 diikuti oleh unsur instansi pemerintahan meliputi Kantor Kecamatan Karimunjawa, Komando Rayon Militer Karimunjawa, Pos Angkatan laut Karimunjawa, Pos Pol Air Karimunjawa, Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai Karimunjawa, Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Karimunjawa, dan perangkat Desa Karimunjawa. Dari unsur kelompok masyarakat yang terlibat dalam kegiatan ini meliputi Wildlife Conservation Society (WCS) Karimunjawa, Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) Karya Bhakti Karimunjawa, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Karimunjawa, Yayasan 27 Pulo Karimunjawa, dan Paguyuban Segoro Karimunjawa serta Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Kegiatan dilaksanakan mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan 14.00 WIB, tim gabungan dibagi 2 lokasi tujuan yaitu pulau Menjangan Kecil dan pulau Cemara Besar. Terbagi 2 kelompok, kelompok pertama menuju ke pulau Menjangan Kecil dan kelompok kedua menuju ke pulau Cemara Besar. Sampah yang dikumpulkan berasal dari sampah an organik yang diketemukan dipesisir pantai kedua pulau tersebut dibagi kedalam 4 klasifikasi yaitu: kelompok sampah plastik, kelompok sampah kaca/beling botol kaca, kelompok sampah Styrofoam/busa karet, dan kelompok lain-lainnya (seperti jaring, besi, seng/kaleng, pampers), sampah tersebut di masukkan ke karung sesuai dengan pembagian klasifikasi sampah dan dibungkus rapi. Kemudian sampah tersebut ditimbang bobotnya berdasarkan pembagian kelompok kelas jenis sampah, setelah dilakukan penimbangan sampah tersebut diangkut ke kapal dan dibawa ke Karimunjawa untuk diproses lebih lanjut. Sedangkan sampah organik seperti kayu dan serasah di kumpulkan di lokasi. Tidak ada aktifitas pembakaran sampah di areal pulau lokasi bersih pantai. Sampah organik yang diperoleh di pesisir pantai sisi barat pulau Menjangan Kecil sebesar 1,3 ton. Sedangkan di pesisir pantai pulau Cemara Besar sebanyak 1,7 ton. Sampah organik dikumpulkan kemudian dibakar, setelah tinggal abu kemudian ditimbun dengan pasir. Sumber : Kristiawan, S. Bio - PEH Muda SPTN II Balai TN Karimunjawa
Baca Berita

Evaluasi Penetasan Semi Alami Penyu di TN Karimun Jawa

Karimunjawa, 24 Maret 2018. Focus Group Discussion (FGD) dengan anggota kelompok pelestari penyu di Taman Nasional Karimunjawa dilaksanakan di kantor SPTN II Balai TN Karimunjawa tanggal 24 Maret 2018 pukul 20:00 - 22:00 WIB. Dihadiri Kepala Seksi SPTN II, anggota pelestari penyu dan staf seksi SPTN II Balai TN Karimunjawa. Pertemuan bertujuan melakukan evaluasi PSA (Penetasan Semi Alami) penyu sepanjang tahun 2017 serta membahas masalah dan kendala terkait PSA. Hasil pertemuan melalui penyampaian arahan dari Kepala Seksi SPTN II terkait keberlangsungan PSA penyu bahwa terdapat masalah persentase keberhasilan menetas telur yang cukup rendah. Dari hasil evaluasi, ada 2 permasalahan, pertama persentase tetas dari Pulau Geleang yang rendah, dan yang kedua adalah temuan persentase di Pulau Krakal Besar cukup banyak yang mempunyai pulau lebih kecil dan jauh. Maka didapat solusi dari hasil diskusi untuk masalah telur Penyu yang berasal dari Pulau Geleang agar penjaga pulau melaporkan jika ada telor yang nantinya akan diambil langsung petugas, bukan oleh penjaga pulau. Solusi kedua telur akan diambil langsung oleh anggota pelestari penyu yang lain, bukan penjaga pulau yang biasa mengambil di Geleang. Solusi permasalahan kedua dengan mengecek langsung bekas sarang ke pulaunya, berdasar data koordiat temuan. Sumber : Zainul Abidin, S. Bio - PEH SPTN II Balai TN Karimunjawa
Baca Berita

Mewujudkan Popareng Menjadi Desa Wisata 2018

Minahasa Selatan, 26 Maret 2018. Bertempat di Balai Pertemuan Desa Popareng, Kecamatan Tatapaan Kabupaten Minahasa Selatan, Kelompok Cahaya Tatatapaan menggelar pertemuan pembahasan Rencana Kerja Kelompok Cahaya Tatapaan Tahun 2018 yang difasilitasi Balai Taman Nasional Bunaken. BTN Bunaken menjadi mitra dalam role model pola kemitraan dan pengembangan ekowisata dalam zona tradisional bersama masyarakat. Turut hadir dalam pertemuan pembahasan rencana kerja dari Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan yang diwakilkan oleh Camat Tatapaan dan Pemerintah Desa Popareng, Lantamal VII Manado yang diwakilkan oleh Letkol Laut. Ali, Komandan Pos TNI AL Arakan Letda Irwan Sunyoto serta Kepala Balai Taman Nasional Bunaken yang diwakilkan oleh Kepala SPTN Wilayah II sekaligus membuka acara pembahasan rencana kegiatan. Djoni Sambur nahkoda kelompok Cahaya Tatapaan menyampaikan ucapan syukur atas partisipasi para pihak pemerintah yang bersedia terlibat dan hadir dalam penyusunan rencana kerja. Sesuai misi yang kami usung adalah “Mewujudkan Popareng Menjadi Desa Wisata Tahun 2018” sehingga kami berupaya memberikan yang terbaik untuk Desa Popareng dan desa penyangga konservasi di bagian selatan Taman Nasional Bunaken. Tahun 2017 lalu kami menjadi kelompok pemula yang masuk nominasi ISTA (Indonesia Sustainable Tourism Award), bahkan yang mengasesmen Desa Popareng adalah mantan Menteri Pariwisata Bapak I Gede Ardhika, dimana kelompok Cahaya Tatapaan menjadi perwakilan kelompok pelestarian lingkungan, tambah Sambur. “Wujud dan tindakan nyata pelestarian lingkungan dan kawasan konservasi di bagian selatan Taman Nasional Bunaken sudah sering di apresiasi, untuk itu kami ingin meningkatkan kinerja kami lebih baik lagi. Dalam penyusunan rencana kerja ini kami melibatkan para toko masyarakat, tokoh agama, seluruh ibu-ibu nelayan, ibu-ibu rumah tangga, dan para pemuda dan pemudi yang berjumlah 50 orang sebagai perwakilan masyarakat, sehingga kita bisa sama-sama merumuskan rencana kerja kedepan” ujar Sekretaris Cahaya Tatapaan Arifin Konteng. Beberapa hal utama yang perlu ditekankan dalam perencanaan kerja kelompok untuk menunjang misi utama menjadikan Popareng Desa Wisata antara lain menyelenggarakan Festival Tatapaan, agenda festival ini pernah digelar di Tahun 2016, sebagai ajang mempromosikan pelestarian perikanan bertanggung di zona tradisional Taman Nasional Bunaken serta pengembangan jalur wisata mangrove. Perlu diketahui bahwa mangrove di bagian selatan Taman Nasional Bunaken benteng utama menunjang perikanan, terumbu karang dan kehidupan masyarakat pesisir, pungkas Konteng. Sumber : Eko Wahyu Handoyo, S.Hut - PEH Pada Balai Taman Nasional Bunaken

Menampilkan 8.401–8.416 dari 11.140 publikasi