Jumat, 17 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Wana Trail Tambora 2018

Dompu, 27 - 28 Maret 2018. Sukses mengadakan Wana Trail tahun 2017, wana trail Tambora kembali digelar oleh Balai Taman Nasional Tambora dengan misi “Pendidikan Konservasi Usia Muda, Bakti Lingkungan dan Sapu Gunung”. Bertempat di Kantor Balai Taman Nasional Tambora, Kepala Sub Bagian Tata Usaha BTN Tambora secara resmi membuka dan melepas peserta Wana Trail Tambora 2018. Wana Trail Tambora 2018 merupakan kegiatan yang diselenggarakan Balai Taman Nasional Tambora dalam rangka membangun jiwa kebersamaan dalam menumbuhkan rasa kepedulian untuk menyelamatkan lingkungan dan menjaga kelestarian Taman Nasional Tambora. Wana Trail Tambora ini diikuti kurang lebih 100 peserta yang berasal dari berbagai unsur seperti LSM pemerhati lingkungan, perwakilan club terabas Kabupaten Dompu dan Bima, perwakilan TNI dan Kepolisian termasuk pegawai Balai Taman Nasional Tambora, Jumlah peserta yang lebih banyak dari tahun kemarin merupakan bentuk sukses Balai Taman Nasional Tambora dalam mengadakan kegiatan ini. Wana Trail Tambora ini merupakan bagian dari kegiatan “Festival Pesona Tambora 2018” yang akan acara puncak akan digelar pada April 2018 mendatang. Peserta Wana Trail Tambora 2018 mengelilingi Taman Nasional Tambora dengan melintasi 12 desa dan 4 kecamatan lingkar Taman Nasional Tambora dengan total panjang rute + 237 Km, sama seperti tahun lalu. Wana Trail Tambora 2018 Taman Nasional Tambora tahun ini terbagi menjadi beberapa etape, yaitu: Dalam setiap etape ada rangkaian kegiatan yang dimasukkan dalam kegiatan Wana Trail Tambora ini. Peserta Wana Trail melakukan kegiatan Pendidikan Konservasi usia muda yang di lakukan di beberapa sekolah lingkar Tambora, Penanaman pohon yang dilakukan di sepanjang jalur Pendakian Kawinda Toi, Senam Pagi di Resort pancasila dan Bakti lingkungan/Sapu Gunung di Sepanjang Jalur Pendakian Pancasila. Misi Wana Trail Tambora 2018 yang digelar Balai Taman Nasional Tambora ini diharapkan mampu menjadi media yang efektif dalam mensosialisasikan keberadaan Taman Nasional Tambora sebagai taman nasional ke-51 yang berusia kurang dari tiga tahun serta penyadartahuan masyarakat tentang pentingya hutan konservasi. Diharapkan Wana Trail Tambora Jilid 3 akan digelar kembali oleh Balai Taman Nasional Tambora sebagai media bersosialiasi kepada masyrakat akan pentingnya keberadaan Taman Nasional Tambora untuk masyarakat lingkar Tambora. “The Sound From Caldera” Sumber : Balai Taman Nasional Tambora
Baca Berita

Demi Misi Pengendalian Sampah, Kepala SPTN III Balai TN Bali Barat Anjangsana ke Pengempon 2 Pura di Pulau Menjangan

Pulau Menjangan, 30 Maret 2018. Kepala SPTN Wilayah III Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Hendra Gunawan, SP., MP., bersama petugas Resort Pulau Menjangan melakukan sosialisasi terkait pengendalian sampah kepada pengempon (penanggung jawab) dan pengemong (pengurus) pura di Pulau Menjangan. Di Pura Segara Giri Gili Menjangan, tim ditemui Jero Bendesa Adat Sumberklampok, I Nengah Nadia. Jero Bendesa menyampaikan bahwa saat ini sedang mempersiapkan acara piodalan atau pujawali. Piodalan/pujawali merupakan upacara untuk memperingati hari lahir sebuah Pura atau bangunan suci oleh umat Hindu. Setiap pura di Bali memiliki hari untuk piodalan yang ditetapkan berdasarkan perhitungan kalender Saka yang jatuh setiap 1 tahun sekali dan ada pula berdasarkan perhitungan wuku yang jatuh setiap 6 bulan sekali. Perayaan upacara bisa berlangsung selama beberapa hari. Dalam kesempatan tersebut, Kepala SPTN Wilayah III Labuan Lalang menyampaikan pesan untuk bersama-sama menjaga kebersihan Pulau Menjangan terutama dari sampah anorganik sebagai langkah mendukung role model pengendalian sampah di TNBB. Para pengunjung peribadatan harus diberi pengertian dan diajak turut serta menjaga kebersihan. Menurut pengalaman, saat acara piodalan, umat Hindu dari berbagai daerah berkumpul untuk melakukan upacara di pura tersebut. Hal ini berpotensi besar terhadap keberadaan sampah di area pura dan sekitarnya. Mengantisipasi hal tersebut, Jero bendesa menyampaikan bahwa panitia sudah melakukan persiapan. Telah disiapkan karung-karung untuk menampung sampah dan setelah selesai acara akan dilakukan aksi bersih di area pura oleh pecalang dan pengurus pura. Mendengar hal ini, Kepala SPTN III menyampaikan terimakasih kepada Jero Bendesa atas kerjasama yang baik dalam upaya pengelolaan sampah di lingkungan pura. Harapannya, hal itu terus berlanjut baik pada saat ada upacara besar maupun saat kegiatan persembahyangan rutin. Sementara itu, saat berkunjung ke Pura Klentingsari, tim ditemui langsung oleh pengemong pura, Bapak Prabu. Hendra Gunawan juga menyampaikan hal senada terkait pengelolaan sampah di pura. Disampaikan himbauan dan sosialisasi untuk megelola sampah dengan baik di lingkungan pura. Pak Prabu sebagai ketua pengemong pura menanggapi hal positif terkait hal tersebut. Pihak pura akan lebih aktif lagi untuk menjaga kebersihan kawasan dari adanya sampah plastik sebagai akibat dari adanya aktifitas peribadatan. Suasana anjangsana berjalan hangat disela-sela aktifitas peribadatan di Pura Klentingsari. Semoga harapan bersama terwujudnya kawasan taman nasional bebas sampah segera terwujud. Dengan melakukan kunjungan/anjangsana semacam ini diharapkan dapat terjalin hubungan yang baik antara pengelola kawasan dengan pihak pura, sehingga bisa meningkatkan kesadaran dan kepedulian semua pihak dalam pengendalian sampah di Pulau Menjangan yang merupakan destinasi wisata unggulan Taman Nasional Bali Barat. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Anggota DPRD Provinsi NTB Serahkan 1 Ekor Lutung Secara Sukarela

Kopang - Lombok Tengah, 31 Maret 2018. Bertempat di Dusun Jelojok, Desa Kopang Rembiga, Kec. Kopang Lombok Tengah (31/318) di kediaman salah satu tokoh masyarakat yaitu H. Muhammad Rais Ishak, SH salah satu anggota DPRD Provinsi NTB dengan sukarela menyerahkan satwa dilindungi yaitu 1 ekor mamalia jenis Lutung kepada Balai KSDA Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB). Penyerahan satwa dilindungi ini adalah kali ketiga dalam bulan Maret 2018. Sebelumnya pada tanggal 26 dan 27 Maret 2018, BKSDA NTB telah menerima penyerahan beberapa ekor satwa dilindungi yaitu 1 ekor jenis burung Elang Rawa, 1ekor Koakiau, 1ekor Junai Emas dan Takur Api dari tokoh agama dan masyarakat Lombok Tengah. Dalam kesempatan tersebut Tim Pengendalian dan Pengawasan Tumbuhan Satwa Liar (TSL) BKSDA NTB juga melakukan diskusi dengan keluarga H. Muhammad Rais Ishak, SH tentang pentingnya peran dan dukungan masyarakat dalam upaya perlindungan dan pengendalian peredaran satwa dilindungi liar dan dilindungi di Provinsi NTB. Kesadaran masyarakat Nusa Tenggara Barat untuk menyerahkan satwa liar khususnya satwa dilindungi semakin meningkat. Hal ini tak lepas dari upaya terus menerus yang dilakukan oleh Tim Pengendalian dan Pengawasan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) BKSDA NTB untuk melakukan pengawasan peredaran TSL dan upaya memberikan pemahaman dan pengertian kepada masyarakat akan pentingnya perlindungan satwa liar khususnya satwa dilindungi di Prov. NTB. Sosialisasi dilakukan secara rutin baik melalui media elektronik maupun kampanye perlindungan TSL di wilayah Provinsi NTB. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Pemulihan Ekosistem Suaka Margasatwa dan Taman Buru Ko'mara

Makassar, 27 Maret 2018. Balai Besar KSDA Sulawesi selatan melaksanakan kegiatan Pembentukan dan Pelatihan Kelompok Masyarakat untuk Pemulihan Ekosistem Suaka Margasatwa dan Taman Buru Ko'mara (TB Ko'Mara) di Kabupaten Takalar. Materi dalam kegiatan ini dibawakan oleh Prof Dr Ir Ngakan Putu Oka, MSc., dari Fakultas Kehutanan UNHAS dan Syamsi S.Hut dari Balai Perbenihan Tanaman Hutan Sulawesi. Peserta terdiri dari 30 orang berasal dari 3 Desa yaitu Desa Kale Ko'mara, Desa Pappalluang dan Desa Bissoloro' yang berbatasan langsung dengan SM dan TB Ko'mara dimana akan dilaksanakan kegiatan pemulihan eksosistemnya. Materi pelatihan meliputi tentang teknis pelaksanaan pengukuran lokasi, penyusunan RKT, pelaksanaan pembibitan, metode pemulihan ekosistem secara alami melalui pembersihan gulma dan pemeliharaan tanaman setelah penanaman. Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc dalam kesempatannya memberikan apresiasi kepada para pelaksana kegiatan dan masyarakat sekitar SM dan TB Ko'mara yang telah berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan konservasi. Harapannya adalah bahwa kegiatan kolaboratif seperti ini harus terus dilaksanakan karena pelestarian fungsi kawasan konservasi adalah tanggung jawab kita bersama khususnya masyarakat yang merupakan subyek dalam pengelolaan kawasan konservasi. Pelibatan masyarakat dan para pihak yang berkompeten dalam pemulihan ekosistem KK sejalan dengan Permenhut 48 Tahun 2014 tentang Tata Cara Pemulihan Ekosistem yang akan diperkuat kebijakan teknis pelaksanaannya. Keterlibatan masyarakat setempat dengan ciri khas socio culturenya juga sejalan dengan Pedoman yang ada dalam IUCN untuk Protected Area. Dengan program kegiatan yang inklusif dan multipihak, maka potensi konflik dapat diredam, dan secara bertahap meningkatkan kapasitas melalui rekognisi kearifan tradisional masyarakat lokal. Masyarakat sebagai subyek utama dalam pengelolaan kawasan konservasi dan penghormatan kepada adat dan tradisi merupakan cara baru dalam pengelolaan kawasan konservasi yang dicetuskan oleh Direktur Jenderal KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Dialog Interaktif Balai KSDA Sumsel Dengan 40 Orang Guna Pengelolaan SM Isau-isau

Pagar Agung, 29 Maret 2018. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan lakukan komunikasi interaktif dan intensif dengan para pihak dalam upaya pengelolaan kolaboratif kawasan Suaka Margasatwa (SM) Isau-isau. Penekanan pengelolaan kolaboratif tersebut sebagai penguatan komitmen para pihak dalam perlindungan dan rehabilitasi kawasan SM Isau-isau. Sebuah strategi dan model pengelolaan yang menempatkan masyarakat sebagai bagian dalam pengelolaan kawasan dengan mengelola masyarakat untuk menekan tekanan terhadap kawasan dan merehabilitasi kawasan. Melalui dialog interaktif dengan para pihak yang terdiri dari Ketua BPD-Desa Pagar Agung, Kasi Pemerintahan Desa Pagar Agung, Pengguna Kawasan Secara Non Prosedural (40 orang) diharapkan akan diperoleh solusi dan model perlindungan dan rehabilitasi kawasan SM Isau-isau yang melibatkan peran aktif masyarakat atas dasar kesadaran akan nilai penting kawasan. Materi kegiatan adalah paparan tingkat kerusakan kawasan, tipologi tekanan kawasan oleh aktivitas non prosedural yang dilakukan masyarakat, kerentanan desa-desa sekitar kawasan akan dampak kerusakan kawasan, upaya penyadartahuan pengguna kawasan secara non prosedural untuk secara sadar dan mandiri menertibkan bangunan (pondok) dalam kawasan serta secara bertahap meninggalkan aktivitas pembukaan lahan dalam kawasan, dan mengajak semua elemen masyarakat dari desa-desa penyangga, pengguna kawasan secara non prosedural, dan pihak terkait lain untuk terlibat aktif dalam upaya perlindungan dan rehabilitasi kawasan. Penyadartahuan ditekankan pada upaya perlindungan dari aktivitas pembukaan lahan dalam kawasan dan rehabilitasi kawasan yang terbuka. Peran yang lebih diharapkan kepada pengguna kawasan secara non prosedural melalui gerakan bersama untuk sadar, peduli dan berperan aktif terhadap rehabilitasi kawasan karena kerusakan yang terjadi akibat pemanfaatan yang memberi hasil finansial kepada mereka tetapi mengakibatkan degradasi kawasan. Hasil kegiatan berupa kesepakatan tertulis terkait komitmen bersama antara BKSDA Sumatera Selatan dengan para pihak yang terdiri dari Ketua BPD-Desa Pagar Agung, Kasi Pemerintahan Desa Pagar Agung, Pengguna Kawasan Secara Non Prosedural (40 orang dari Ataran Lesung Batang, Ataran Air Berasang, Talang Nangke, Ataran Sawah Bate, Ataran Talang Tebing, Ataran Gunjung-Tebat Bumi, dan Talang Haji Sis). Komitmen tertulis tersebut pada prinsipnya merupakan upaya bersama dalam mengupayakan rehabilitasi kawasan yang selain berfungsi ekologis juga bermanfaat bagi masyarakat (jenis-jenis tanaman MPTS), peran aktif masyarakat dalam upaya menurunkan tingkat kerusakan dengan tidak melakukan pembukaan lahan dalam kawasan, keterlibatan masyarakat dalam perlindungan kawasan terutama menahan laju tekanan oleh masyarakat, dan bagi masyarakat yang mengunakan kawasan secara non prosedural untuk menertibkan bangunan (pondok) dalam kawasan secara mandiri dengan batas waktu sampai dengan bulan desember tahun 2018 dimana akan dilakukan evaluasi capaian pelaksanaannya serta kesediaan secara bertahap meninggalkan aktivitas pembukaan lahan dalam kawasan. Sumber : Wahid Nurrudin - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Gepang Online Dapat Sinolinghut Award

Cibodas, 28 Maret 2018. Diawal ajang Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik di lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (SINOLINGHUT 2017), Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), sudah berhasil mendapat penghargaan, meskipun baru masuk peringkat ketiga. Mudah-mudahan di waktu yang akan datang bisa duduk di peringkat pertama, sehingga upaya konservasi sumber daya alam hayati dan eksistemnya serta pelayanan pada masyarakat bisa lebih baik lagi. Sementara ini juara satu dipegang Direktorat Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Hutan dengan program SILK (Sistem Informasi Legalitas Kayu), juara dua jatuh pada Direktorat Inventarisasi Pengelolaan SDH dengan penerapan SIMONTANA (Sistem Monitoring Hutan Nasional), dan Balai Besar TNGGP berada diurutan ketiga dengan meluncurkan Gepang Online. Gepang online Salah satu inovasi yang dikembangkan dalam rangka pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) adalah sistem pelayanan pengunjung, antara lain pelayanan pendakian ke puncak Gunung Gede dan Pangrango. Pendakian merupakan wisata minat khusus yang menjadi “favorit” di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, setiap akhir pekan atau hari libur quota selalu “full”. Bahkan kalau tidak diterapkan sistem quota pendaki bisa mencapai ribuan orang dalam satu hari. Dalam rangka transparansi dan untuk mempermudah perijinan pendakian, Balai Besar TNGGP menerapkan sistem pendaftaran pendakian secara online (Gepang online). Dengan sistem ini, setiap pendaki dapat melakukan pendaftaran dan pembayaran biaya administrasi tanpa harus datang ke kantor TNGGP, sehingga para pendaki bisa leluasa memilih waktu pendakian sendiri, selama kuotanya tersedia; mereka juga dapat mengecek kuota pendakian secara up to date sehingga memberi kepastian dan mendorong pendaki untuk lebih siap untuk pendakian. Pembayaran dilakukan melalui transfer ke rekening (non tunai), sehingga meminimalisir penyalahgunaan wewenang dan mencegah terjadinya pungutan liar. Sistem ini meningkatkan tertib administrasi dalam pengelolaan kegiatan pendakian, serta bisa memperbaiki sistem database pengunjung. Namun dalam pelaksanaannya masih sering dirasakan permasalahan, antara lain: Sistem pendaftaran pendakian secara online “Gepang Online” merupakan yang pertama di indonesia, sehingga sangatlah wajar bila masih ditemukan berbagai permasalahan. Sejak diterapkan dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2017 telah mengalami penyempurnaan secara berkelanjutan, sehingga saat ini aktivitas pendakian di TNGGP telah 100% melalui sistem online. Reservasi Pendakian Untuk mendapatkan Simaksi (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) pendakian di TNGGP, calon pendaki diharapkan menempuh prosedur: Persyaratan SIMAKSI Untuk mendapatkan Simaksi setiap calon pendaki harus memenuhi syarat: Pemberian penghargaan SINOLINGHUT 2017 diserahkan langsung oleh Ibu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango saat memperingati Hari Bakti Rimbawan pada tanggal 16 Maret 2018 di Manggala Wanabakti, Jakarta. Dengan penghargaan yang diraih oleh “Gepang Online” diharapkan Balai Besar TNGGP dapat terus meningkatkan inovasi pelayanan publiknya, baik untuk “Gepang Online” sendiri maupun pelayanan publik lainnya. Sumber : Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Pendakian Dibuka 1 April 2018, BBTN Gunung Gede Pangrango Berbenah Diri

Cibodas, 28 Maret 2018. Kegiatan pendakian akan dibuka pada 1 April 2018, untuk menyambutnya, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) telah membuat kebijakan baru dalam rangka peningkatan pelayanan. Untuk mensosialisasikan, maka dilakukan pertemuan dengan para pihak, antara lain personil Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, delapan kelompok volunteer BB TNGGP, tim kesehatan, hingga tokoh masyarakat yang dilaksanakan pada hari Selasa (27/3). ibahas persiapan dan kesiapan pendakian, yang diawali dengan arahan dan pembukaan oleh Mimi Murdiah sebagai Kepala Bidang Teknis BBTNGGP, pemaparan kebijakan baru pelayanan pendakian oleh Johanes W. sebagai Kepala Seksi Pelayanan dan Pemanfaatan, dilanjutkan dengan diskusi, dan penjelasan Herdiansyah dari tim medis tentang SOP pemeriksanaan kesehatan calon pendaki, diakhiri dengan penutupan oleh Kabidtek (mewakili Ka BBTNGGP). "Perlunya sinergitas diantara para pihak dalam pelayanan pendakian" tegas Mimi Murdiah Kepala Bidang Teknis BBTNGGP dalam arahannya. Beliau juga berharap agar semua pihak berusaha mensosialisasikan kebijakan baru Balai Besar TNGGP kepada masyarakat calon pendaki. "Balai Besar TNGGP merupakan pioneer dalam hal pelayanan pendakian. Perubahan demi perubahan persiapan pendakian untuk meningkatkan pelayanan dalam berbagai aspek, tidak hanya dengan memperbaiki pendaftaran melainkan penyempurnaan sistem pelayanan pendakian yang merupakan hasil evaluasi kegiatan sebelumnya dan masukan dari para pihak" ucap Johanes W. Kepala Seksi Pelayanan dan Pemanfaatan dalam paparannya. Lebih lanjut Johanes mengatakan bahwa pencetakan SIMAKSI serta pelayanan kesehatan akan dilakukan di setiap pintu masuk dan pengambilan SIMAKSI bisa dilakukan pada saat akan mendaki. Setiap calon pendaki akan mendapat pelayanan medis pada saat akan melakukan pendakian guna memastikan kondisi kesehatan terkini dari para calon pendaki. "Pelayanan medis yang akan diberikan kepada pengunjung berupa pemeriksaan kesehatan meliputi, riwayat penyakit calon pendaki, tekanan darah, suhu tubuh, pernapasan, dan mengukur kemampuan penyerapan dan distribusi oksigen dalam tubuh, serta akan mendapatkan tip pengetahuan praktis keselamatan pertama pada kecelakaan" jelas Herdiansyah tim medis tentang SOP pemeriksanaan kesehatan calon pendaki. Volunteer dari Gunung Putri yang diwakili Mas Said, berbagai kisah, “Pengalaman di lapangan menunjukkan kadang ada calon pendaki dengan keterangan sehat, namun pada saat pendakian mengalami kondisi tubuh yang buruk”. Dengan demikian SOP tentang pemeriksaan kesehatan yang diberlakukan di TNGGP sudah cocok dengan kebutuhan. Menanggapi pendapat Mas Said, dr. Herdiyansyah menegaskan setiap calon pendaki harus dipastikan benar-benar sehat untuk melakukan pendakian. Sedangkan rekam medis, setiap pemeriksaan memiliki batas waktu. Untuk itu memang perlu pemeriksaan di lapangan, sehingga hasilnya merupakan rekaman kondisi kesehatan terkini. Melalui pertemuan ini pun, sekretariat bersama volunteer BB TNGGP yang diwakili Setjennya Agus Mulyana, mengungkapnkan keinginan untuk mengaktifkan kembali SAR TNGGP. Kemudian bekerjasama dengan tim pelayanan kesehatan di setiap pintu masuk dalam ketersediaan alat medis dan obat-obatan untuk evakuasi. Dengan adanya penyempurnaan dalam pelayanan pengunjung ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini, mudah-mudahan kenyamanan dan keamanan pengunjung bisa lebih terjamin. Sumber: Latifa Nur Artiningsih - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Aketajawe Lolobata Masuk Dalam Prioritas Pengembangan Wisata Di Haltim

Sofifi, 29 Maret 2018. Mengupas potensi wisata di Indonesia memang tidak ada habisnya, banyak daerah memiliki ciri khas wisata alam masing-masing. Seperti halnya di Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) yang terletak di pulau Halmahera Provinsi Maluku Utara memiliki beraneka ragam potensi wisata yang sangat layak untuk dikembangkan dan dikunjungi. Mulai dari wisata bahari (pantai, laut dan kekayaan terumbu karang) sampai ke wisata daratan (kawasan hutan, air terjun, sejarah dll). Data objek wisata Haltim menyebutkan bahwa terdapat 35 objek wisata yang tersebar disemua kecamatan. Dari ke-35 objek wisata tersebut terdapat 3 (tiga) objek prioritas pengembangan wisata, yaitu wisata pantai Jara-jara, Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) dan wisata pulau Plun. “Taman Nasional Aketajawe Lolobata juga menjadi prioritas (pengembangan wisata) kami selain Jara-jara dan pulau Plun”, kata Hardi Musa, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Haltim saat presentasi kegiatan Pemandu Wisata di Resort Binagara. “Saat itu Pak Wakil Bupati Haltim dengan semangat menyebutkan TNAL untuk masuk dalam pengembangan wisata di Haltim”, tambahnya. Kepala Dinas Pariwisata yang biasa menjadi Khotib sholat Jum’at ini juga mengatakan bahwa Dinas Pariwisata Haltim akan membantu pengembangan wisata di TNAL agar terintegrasi dengan wisata lainnya di Haltim. Setelah pemaparan presentasi, Koordinator Resort Binagara kemudian menawarkan diri untuk melakukan presentasi Site Plan Wisata Alam Balai TNAL kepada Dinas Pariwisata di Maba dan Kepala Dinas menyetujuinya dengan membuat surat resmi. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata http://aketajawe.com
Baca Berita

Sampah di Alam Merusak Momen Kamu? Yuuk Operasi Bersih Gunung...

Cibodas, 28 Maret 2018. Sampah di alam merusak momen kamu? Kalau mendaki gunung, paling asyik dapat latar pemandangan yang keren. Boleh ditambah tongsis atau kamera fish eye supaya pemandangan lebih luas. Lebih niat lagi, gunakan kamera go pro yang dipasang di drone. Hutan hujan tropis sebagai latar, senyum manis ke kamera yang terbang, KLIK! Foto siap di-publish di instagram. Like mulai menghujam, komentar netizen mulai berdatangan, hingga salah satu komentar merusak momen bahagia itu... “Itu apa sih, di belakang? Tumpukan sampah, ya? Iyuuuh!” Itu hanya satu kemungkinan yang terjadi akibat begitu banyaknya sampah yang ditinggalkan oleh pendaki. Tumpukan sampah itu mungkin merusak feeds instagram kamu, tapi tahukah kamu kalau sampah itu merusak kawan konservasi, ekosistem, dan manusia yang hidup bergantung dengannya? “Ah, gampang. Operasi bersih gunung kan, bisa dilakukan oleh para petugas!” Ya, operasi bersih gunung biasa dilakukan di kawasan konservasi, khususnya di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Pada 14 – 15 Maret 2018, operasi bersih gunung dilakukan dalam rangka memperingati hari ulang tahun Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ke-38 (8 Maret 2018), Hari Bhakti Rimbawan ke-35 (16 Maret 2018), Hari Hutan Internasional (21 Maret 2018), sebagai salah satu langkah dari 3 bulan bebas sampah, serta persiapan pembukaan pendakian tanggal 1 April 2018. Opsih istimewa Sebuah momen istimewa, maka dalam Operasi Bersih Gunung kali ini Kepala Bidang Cianjur, Kepala Seksi Cibodas, Kepala Resort Cibodas, dan kepala Resort Gunung Putri turut bergabung dengan para peserta. Peserta Operasi Bersih Gunung kali ini berasal dari TNI, kepolisian, Masyarakat Mitra Polhut (MMP), Masyarakat Peduli Api (MPA); Volunteer (Montana, GPO, Panthera), mitra lainnya, dan tak lupa tim Resort Gunung Putri. Rombongan ini akan berangkat dari pintu masuk Gunung Putri. Rabu (14/3) pukul 08.00 WIB, Ir Mimi Murdiah selaku Kepala Bidang Teknis Konservasi memberikan sambutan sebelum melepas keberangkatan peserta Operasi Bersih Gunung. Dalam sambutannya, dituturkan bahwa keberadaan TNGGP mendukung kehidupan masyarakat di Kabupaten Cianjur, Sukabumi, Bogor, Bandung, hingga Jakarta dan Bekasi. Namun sayangnya masih banyak sampah yang ditinggalkan pendaki yang akan mencari lingkungan, terutama air. Sampah yang paling banyak merupakan sampah plastik. Maka, disampaikan rencana "Zero Plastic" pada pendakian. "Ke depannya akan ada Zero Plastic untuk menghindari penggunaan plastik kemasan pada pendakian terutama air minum kemasan." Tak lupa, Kepala Bidang Teknis Konservasi juga mengucapkan terimakasih atas partisipasi para peserta Operasi Bersih Gunung. Keberangkatan peserta Operasi Bersih Gunung ditandai dengan seruan penuh semangat oleh Kepala Bidang Teknis Konservasi, “Salam konservasiii!” yang disambut dengan semangat membara oleh peserta opsih, “Lestariiii!” Tim Gunung Putri yang sampai di alun-alun Suryakencana pada Rabu (14/3) sekitar pukul 15.00 sudah membawa sebagian sampah yang berhasil dipungut. Beberapa peserta menlanjutkan mengambil sampah, sedangkan beberapa yang lain mulai mendirikan tenda untuk bermalam. Esok harinya (15/3) sekitar pukul 05.30 WIB, kelompok masyarakat bergerak menyusul sebagai tim pembawa sampah turun. Sementara peserta Operasi Bersih Gunung yang sudah bermalam di Suryakencana segera mengumpulkan sampah dan bersiap menuju pos (shelter) masing-masing untuk lanjut opsih, sedangkan rombongan Kepala Bidang Cianjur, Kepala Seksi Cibodas, dan Kepala Resort Cibodas, melanjutkan perjalanan ke Puncak Gunung Gede dan menuju pintu masuk Cibodas. Pagi itu, kondisi di Alun-alun Suryakencana cukup berkabut dan berangin kencang, namun tim tetap semangat. Sementara di pos, mitra Gede Pangrango Operation (GPO) siap menyambut tim opsih yang turun dengan suguhan bubur kacang hijau yang hangat. Tim Operasi Bersih Gunung Putri tiba di Pos Gunung Putri mulai pukul 13.00. Rasa lelah terpancar dari wajah mereka, namun tidak satupun keluhan terucap dari bibir mereka. Mereka mengistirahatkan diri sambil menikmati bubur kacang dan bertukar cerita selama pendakian. Sampah yang berhasil dibawa turun ditimbang satu per satu. Bobot per karung bervariatif mulai 4 – 20 kg. Total sampah yang dikumpulkan melalui Pos Gunung Putri sejumlah 774 kg dan di pintu masuk Cibodas mencapai 418 kg. Kisah dari Duo Asep Duo Asep, yaitu Asep Hasbillah (Kepala Resort Sarongge) serta Asep Andriana (Polhut Pelaksana Lanjutan di Gunung Putri) membagi beberapa fun facts dalam Operasi Bersih Gunung kali ini. Salah satunya menjelaskan mengapa tisu basah dilarang. Tisu basah sulit diurai, sedangkan keadaan di lapangan banyak ditemui tisu basah untuk membasuh sisa BAB yang ditanam di dalam tanah. Bukan hal menyenangkan harus mengambil tisu dengan kotoran, namun peserta opsih tetap mengambil jika mendapatinya. Jika peserta opsih dibagi per shelter yang tidak terlampau luas, mengapa banyak sekali sampah yang bisa dibawa? Sekilas memang sedikit sampah yang ada, namun sampah-sampah tersebut disembunyikan di bawah perdu. Jadi, peserta opsih akan mengambil hingga jauh ke semak-semak atau sampah-sampah akan terus tersembunyi di antara semak dan perdu. Peserta opsih berusaha bekerja sepenuh hati, seperti membawa sekop kecil dan sapu lidi untuk memungut sampah dalam jumlah yang lebih banyak. Meskipun, jumlah sampah tidak sebanding dengan jumlah dan kemampuan peserta yang ada. Contohnya, alun-alun terlihat bersih karena area terbuka, tapi di sudut-sudut dekat Pangrango masih banyak sampah tersembunyi di bawah perdu. Sampah yang sudah terkumpul akan ditimbang, disortir sesuai jenis. Sampah plastik akan ditimbang terpisah lalu dijual kembali, dan sampah lainnya dibuang ke tempat pembuangan akhir. Melihat masih banyaknya sampah air minum kemasan dalam plastik, Duo Asep berharap adanya Zero Plastic efektif mengurangi pemakaian plastik. Ironi, pencinta alam sejati menunjukkan aksi nyata memungut sampah yang ditinggalkan para pengaku ‘pencinta’ alam yang meninggalkan sampah. Karena, pencinta alam sejati selalu menginginkan alam tetap lestari. Sumber : Balai Besar Taman Nasioanl Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Pertama Kalinya, Pelatihan Budidaya Jernang Khusus bagi Orang Rimba

Muara Tabir, 29 Maret 2018. Pelatihan budidaya jernang (Daemonorops draco) dilaksanakan pada tanggal 28 s.d 30 Maret 2018 berlokasi di Wilayah SPTN II Resort II.D Muara Tabir. Sebelumnya, Balai Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) juga pernah melakukan kegiatan serupa dengan peserta masyarakat sekitar kawasan, sementara pada pelatihan ini, seluruh peserta merupakan Orang Rimba yang tinggal di kawasan TNBD. Pelatihan ini merupakan salah satu upaya Balai Taman Nasional Bukit Duabelas dalam pemberdayaan Orang Rimba yang bertujuan meningkatkan pengetahuan Orang Rimba tentang budidaya jernang. Sejumlah 30 orang Orang Rimba dari kelompok Temenggung Ngadap ikut serta dalam kegiatan ini. Materi pelatihan terdiri dari teori dan parektek. Beberapa teori yang diberikan adalah tentang pembuatan bibit jernang dari biji dan anakan yang berasal dari rumpun jernang. Pada kegiatan praktek, peserta diajak ke daerah Kabupaten Merangin untuk melihat petani yang sudah berhasil menanam jernang di kebun karet agar peserta dapat melihat bukti nyata keuntungan menanam jernang terutama secara ekonomi. Jernang sendiri merupakan salah satu jenis rotan yang getah buahnya bernilai ekonomi tinggi. Harga getah jernang dengan kualitas baik pada tinggkat pengumpul di daerah Jambi berkisar pada Rp.1.500.000 – Rp.5.000.000 per kilo. Jernang sendiri sudah dikenal sejak lama oleh Orang Rimba Bukit Duabelas sampai saat ini. Saat tiba musim mencari jernang (bejernang), Orang Rimba akan “bemalom” di daerah-daerah yang ada jernangnya. Dengan potensi ekonomi tinggi dan manfaat yang sudah dirasakan oleh Orang Rimba, maka jernang menjadi salah satu hasil hutan bukan kayu yang saat ini gencar dikembangkan oleh Balai TNBD untuk dapat dibudidayakan oleh Orang Rimba di kawasan salah satunya adalah dengan memberikan pelatihan tentang budidayanya. Antusiasme peserta dalam kegiatan ini cukup tinggi terutama setelah melihat kebun jernang. Mereka sudah bisa membayangkan keuntungan yang diperoleh dengan menanam jernang sehingga banyak peserta yang berkeinginan untuk menanam jernag di kebun-lkebun karetnya. Dengan menanam jernang di kawasan, maka diharapkan Orang Rimba akan mempunyai sumber pendapatan tambahan. Penanaman jernang yang bisa dicampur dengan karet juga akan mengefektifkan penggunaan lahan, selain karet mereka juga dapat memanen jernang. Budidaya jernang juga akan menjamin keberadaan jernang di kawasan TNBD sehingga sangat sejalan dengan upaya konservasi kawasan. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Duabelas
Baca Berita

Aketajawe Lolobata Undang GenPi Di Pelatihan Pemandu Wisata

Sofifi, 29 Maret 2018. Sudah terdapat 2 (dua) kelompok wisata lokal yang diberikan Surat Keputusan Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), yaitu kelompok wisata Totango dan Sanggar Wisata Alam Tayawi (SWAT). Kelompok Totango berada di Desa Ake Jawi, Resort Binagara sedangkan SWAT berada di Desa Koli, Resort Tayawi. Keduanya sama-sama menggeluti bidan wisata alam di TNAL. Awal bulan lalu SWAT telah mendapatkan pelatihan pemandu wisata dengan pemateri dari Dinas Pariwisata Kota Tidore Kepulauan dan Profesional Guide di Maluku Utara. Sedangkan kelompok Totango baru kemarin (27/03) baru mendapatkan pelatihan pemandu wisata untuk kedua kalinya. Pelatihan pemandu wisata bagi kelompok Totango dilaksanakan di Desa Ake Jawi. Selain Totango, Balai TNAL juga mengundang kelompok Rimpa (Rimbawan Pecinta Alam) yang beranggotakan pemuda desa Ake Jawi serta mengundang pemuda dari Desa Pintatu dan Desa Tomares. Setelah acara sambutan dan pembukaan, dimulailah presentasi oleh beberapa pemateri, yaitu Koordinator Resort Binagara menerangkan tentang Site Plan Wisata Alam di Resort Binagara, Kepala Dinas Pariwisata Halmahera Timur (Haltim) memaparkan tentang Strategi Pengembangan ODTWA di Haltim, Generasi Pesona Indonesia (Genpi) menjelaskan Teknik-teknik Pemanduan yang Baik dan Kecamatan Wasile Selatan yang menjelaskan tentang Peran Serta Masyarakat Wasile Selatan dalam Mengembangkan Pariwisata Alam. Hardi Musa, Kepala Dinas Pariwisata Haltim mengemukakan bahwa potensi wisata yang ada di Kabupaten Haltim sangat banyak yang rencananya akan saling diintegrasikan, termasuk wisata di TNAL. Oleh karena itu Hardi Musa membentuk satgas pariwisata di kabupaten Haltim yang beranggotakan, Dinas Perikanan, Bappeda, Cipta Karya dan instansi lainnya. “Kita (Pemda Haltim) akan mendukung program pariwisata di TNAL”, kata Beliau. “Di dalam dana desa terdapat 10% dari anggaran total yang peruntukannya untuk mengembangkan wisata di desa tersebut, jadi dipakai saja”, tutup Hardi yang baru saja menyelesaikan magang program Australia Awards bidang pariwisata ini. Pemateri selanjutnya berasal dari Genpi, yaitu Ajuar Abdullah. Selain sebagai konsultan pariwisata Beliau juga pernah dilibatkan dalam tim percepatan desa wisata oleh Kementerian Pariwisata RI. Beliau menjelaskan tentang bagaimana menjadi pemandu yang baik, kode etik yang harus dijalankan oleh pemandu, hal-hal yang tidak boleh dilakukan seorang pemandu dan bagaimana seorang pemandu dapat apresiasi dari wisatawan sehingga dia ingin berkunjung kembali. Sembari menjelaskan tentang materinya, lulusan Magister Pariwisata Universitas Gajah Mada ini menambahkan cerita pengalaman pribadi saat sedang memandu. “Anggaplah wisatawan itu sebagai teman, maka anda akan memperlakukan wisatawan layaknya teman anda sendiri, bukan hanya berharap tip (uang) dalam pemanduan”, terang Ajuar. Pemateri dari Kecamatan Wasile Selatan, Novenia Ambeua mengajak agar masyarakat ikut serta terlibat dalam kegiatan wisata alam di Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata http://aketajawe.com
Baca Berita

BBTN Bentarum Visit to School, 50 Siswa Antusias

Kapuas Hulu, 27 Maret 2018. Sebanyak 50 siswa di SMA Negeri I Batang Lupar, Kecamatan Lanjak, Kabupaten Kapuas Hulu mengikuti sosialisasi tumbuhan dan satwa liar (TSL) yang dilindungi dalam rangka kegiatan Visit To School Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum). Kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan siswa yang ada di Kecamatan Batang Lupar mengenai jenis – jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi, sehingga siswa diharapkan menjadi agen kampanye kelestarian tumbuhan dan satwa liar dimasyarakat. “Kita mencoba memperkenalkan kepada mereka apa saja tumbuhan dan satwa yang dilindungi menurut peraturan” tegas Sukri, Ketua Panitia saat dihubungi tim media. Ketua OSIS SMAN I Batang Lupar Yessi Pratiwi menuturkan bahwa dirinya semakin paham bahwa ada banyak jenis satwa yang biasa dilihat sehari-hari adalah jenis yang dilindungi. “Saya mewakili kawan – kawan semua sangat antusias dengan kegiatan ini karena sangat penting bagi kami untuk mengetahui jenis apa saja yang tidak boleh dibunuh, saya pribadi baru tahu kalau satwa yang sehari – hari saya temui di hutan yakni Enggang, Bekantan, Beruang Madu dan Orangutan merupakan hewan yang tidak boleh dibunuh” tegasnya. Status tumbuhan dan satwa liar dilindungi yang ada di Kalimantan Barat, penyebaran, serta habitatnya menjadi materi utama program ini. Beberapa tumbuhan yang hidup di kawasan TaNa Bentarum yang dilindungi contohnya adalah Anggrek Tebu (Grammatophylum speciosum), Tengkawang (Shorea stenoptera) dan dan kantong semar (Nepenthes spp). Selain tumbuhan juga diperkenalkan beberapa satwa liar dilindungi seperti Beruang (Helarctos malayanus), Orang Utan (Pongo Pygmaeus pygmaeus), Enggang (Buceros sp), Bekantan (Nasalis larvatus) Trenggiling (Manis javanica), Kelasi (Presbytis rubicunda), Monyet Dahi Putih (Presbytis frontata), Kelempiau (Hylobathes muelleri) dan lain – lain. Semua tumbuhan dan satwa liar dilindungi tersebut telah tergantung dalam status Konservasi yakni PP No. 7 Tahun 1999, IUCN Red List dan Apendix CITES. Kepala Sekolah SMAN I Batang Lupar, Michael Basyin saat dimintai pendapatnya, menekankan pentingnya pemahaman siswa tentang jenis TSL yang dilindungi serta meningkatkan pengetahuan siswa dalam memahami larangan memiliki dan membunuh tumbuhan satwa liar dimaksud, karena orang tua dan lingkungan para siswa pada umumnya mempunyai kebiasaan berburu di hutan. “Saya berharap kegiatan ini rutin dilaksanakan oleh pihak Taman Nasional dan berkelanjutan kedepannya untuk memberikan pengetahuan tentang konservasi siswa SMAN I Batang Lupar” ujarnya. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Tambora Goes to School

29 Maret 2018. Kegiatan pendidikan konservasi dilakukan selama 3 hari dari tanggal 27-29 Maret 2018 di 4 sekolah Lingkar Tambora, yaitu SMAN 1 Sanggar, SDN 1 Piong, SDN 7 Pekat dan SMPN 3 Pekat. Lebih dari 40 orang peserta yang hadir di masing-masing sekolah. Peningkatkan kesadartahuan terhadap konservasi sebaiknya dilakukan sejak dini untuk memberikan pengetahuan kepada siswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya agar lebih sadar dan lebih perhatian mengenai lingkungan, terutama Kawasan hutan dan permasalahan serta hubungan timbal baliknya Pendidikan konservasi dilaksanakan dalam tiga bentuk kegiatan utama, yaitu: 1). Pengenalan hutan TN Tambora beserta flora dan fauna serta ekosistemnya 2). Penekanan manfaat hutan serta alasan harus melindunginya 3). Peran generasi muda dalam menjaga hutan. Materi diberikan melalui kegiatan teori dan praktek dalam bentuk diskusi interaktif, tayangan video, permainan, serta observasi lapangan dan penanaman nilai-nilai konservasi alam sedini mungkin kepada siswa. Saat diskusi interaktif, para siswa sangat antusias menyampaikan gagasannya. Salah satu yang menarik adalah opini tentang jagung. Sebagian besar lahan kosong yang ada di sekitar Tambora sudah berubah menjadi hutan jagung. Tanaman semusim tersebut sudah menggantikan pohon-pohon besar yang sebelumnya berdiri kokoh di kaki Tambora. Sebagian besar siswa tidak setuju dengan berubahnya hutan kayu produksi menjadi hutan jagung. Pendidikan konservasi diarahkan kepada aspek perilaku generasi muda untuk memahami pentingnya hutan beserta ekosistem didalamnya bagi kehidupan dan bagaimana mencintai dan menjaga hutan tersebut sehingga manjadi nilai-nilai positif yang tertanam dalam keseharian mereka. Harapannya, kegiatan ini dapat mendorong dan memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat menumbuhkan kepedulian, komitmen untuk melindungi serta memanfaatkan hutan secara arif dan bijaksana. Selain itu, kegiatan semacam ini harapannya dapat terus berlanjut sehingga agen atau kader konservasi lingkungan makin banyak tercipta. The sound from caldera Sumber : Balai Taman Nasional Tambora
Baca Berita

Inisiasi Penguatan Kebijakan Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi

Jakarta, 29 Maret 2018. Direktorat Jenderal KSDAE melalui Direktorat Kawasan Konservasi menyelenggarakan Lokakarya Penguatan Kebijakan Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi pada tanggal 29 Maret 2018 di Hotel Menara Peninsula, Jakarta. Lokakarya di hadiri beberapa UPT Ditjen KSDAE, Eselon II Lingkup Ditjen KSDAE, Eselon I terkait lingkup KLHK, Badan Restorasi Gambut, CSO/NGO. Penyelenggaraan Lokakarya ini difasilitasi oleh IUCN Regional Asia – Pasifik dan WRI Indonesia. Lokakarya ini dimaksudkan untuk menjaring masukan dari pelaksana pemulihan ekosistem terhadap kebijakan yang memayungi pelaksanaan pemulihan ekosistem di kawasan konservasi dalam hal ini Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.48/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Pemulihan Ekosistem di Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Inisiasi pelaksanaan Lokakarya ini berawal dari banyaknya kendala dalam praktek pemulihan ekosistem. Beberapa pasal yang diatur dalam P.48 tersebut tidak relevan dengan kondisi lapangan. Disamping itu terdapat hal-hal mendasar yang menyebabkan perlunya diusulkan perubahan peraturan Menteri tersebut seperti terdapatnya klausul yang mengacu ke Permenhut No. P.3/Menhut-V/2004 tentang Pedoman dan Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Gerakan Nasional RHL yang sudah tidak berlaku lagi (pasal 30 ayat 4). Keluaran kegiatan ini adalah rumusan penyempurnaan regulasi pemulihan ekosistem di kawasan konservasi baik dari aspek hukum maupun teknis. Diharapkan kegiatan ini bisa menjadi langkah awal menyelesaikan kendala-kendala pelaksanaan pemulihan ekosistem di lapangan, sehingga kebijakan maupun aturan terkait pemulihan ekosistem di kawasan konservasi ke depannya mampu menjawab permasalahan kerusakan kawasan konservasi yang sangat spesifik dan beragam, mengingat kerusakan tersebut memerlukan pendekatan/perlakuan yang sesuai dengan karakteristik pengelolaan kawasan konservasi. Sumber : Resi Diniyanti – Direktorat Kawasan Konservasi
Baca Berita

Jelang Kemarau TaNa Bentarum Siaga Karhutla

Putussibau, 29 Maret 2018. Memasuki musim kemarau yang terjadi akhir April 2018, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun (TaNa Bentarum) khususnya Bidang PTN Wilayah III Lanjak siaga antisipasi kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Badan Meteorologi dan Klimatologi (BMKG) memprediksi bahwa wilayah Kalimantan Barat akan memasuki musim kemarau pada akhir April hingga puncaknya bulan Agustus-September 2018. Kepala Bidang PTN Wilayah III Lanjak, Gunawan Budi menegaskan bahwa pencegahan karhutla berbasis masyarakat menjadi program utama yang akan dilakukan. Hal ini ditegaskannya saat memberikan penjelasan antisipasi kebakaran hutan dan lahan tahun 2018 kepada tim media, Kamis (29/3). “Kita utamakan kegiatan pencegahan berbasis masyarakat dengan penguatan kapasitas Masyarakat Peduli Api (MPA) melalui pelatihan dan bantuan peralatan pemadam kebakaran” ujarnya. Lebih lanjut, Gunawan mengatakan optimalisasi korps Manggala Agni yang selama ini menjadi garda terdepan pencegahan dan pemadaman karhutla akan semakin diintensifkan. “Manggala Agni dan PT. Buana Tunas Sejahtera tanggal 28-29 Maret ini akan melatih masyarakat sekitar 50 orang dalam rangka mengantisipasi karhutla di wilayah kebun sawitnya” tukasnya. Selain pelatihan, Manggala Agni Daops Semitau juga akan dimobilisasi untuk melakukan kunjungan kepada perangkat desa dan tokoh masyarakat sekitar Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) bersama mencegah kebakaran hutan dan lahan yang memang sering terjadi. “Kita akan intensifkan patroli rutin resort bersama Manggala Agni Daops Semitau guna sosialisasi dan anjangsana kepada tokoh masyarakatt, tokoh adat dan agama yang berada dlm kwsn TNDS” tegas bapak yang disapa Pak Gun ini. Menurutnya patroli terpadu antara Manggala Agni, TNI dan Polri akan semakin rutin dilaksanakan jelang musim kebakaran hutan ini khususnya untuk wilayah-wilayah yang rawan kebakaran dan berbatasan langsung dengan Kawasan Taman Nasional. “kita fokus pada desa/kecamatan yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi TNBK dan TNDS, khususnya rawan karhutla” pungkasnya. Saat ini jumlah personil Manggala Agni Daops Semitau sebanyak 44 orang dan ini dirasa masih kurang. Namun demikian keterbatasan personil ini dilengkapi oleh personil polisi kehutanan yang bersiaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan ketika terjadi pemadaman kebakaran hutan. Tahun lalu berdasarkan data yang dikeluarkan bagian data Tana Bentarum, luas kebakaran hutan khususnya di Kawasan TNDS mencapai 106,87 hektar. “kita menginginkan adanya penurunan luas kebakaran, karenanya persiapan kali ini saya harapkan lebih baik lagi” pungkas Gunawan menutup wawancara dengan tim media. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Gelaran Hari Bakti Rimbawan Ala BBTN Gunung Gede Pangrango

Cibodas, 28 Maret 2018. Upacara Hari Bhakti Rimbawan ke-35 di halaman kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung (TNGGP) dengan tema “Melalui Bakti Rimbawan, Kita Tingkatkan Pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango untuk Kesejahteraan Masyarakat”. Kepala Bagian Tata Usaha menjadi Inspektur Upacara kali ini karena Kepala Balai Besar TNGGP berhalangan hadir untuk menerima penghargaan juara ke-3 SINOLINGHUT Award (ajang Kompetensi Inovasi Pelayanan Publik Lingkup Kementerian LHK) di Manggala Wanabakti, Jakarta. Penghargaan ini merupakan hadiah istimewa Hari Bhakti Rimbawan ke-35 bagi Balai besar TNGGP.Pada upacara ini, Balai Besar TNGGPjuga memberikan penghargaan kepada yang ikut berpartisipasi dalam Operasi Bersih Gunung tanggal 14 sampai 15 Maret 2018, Babinsa Cimacan, Babinsa Sukatani, Bhabinkamtibmas Cimacan, BhabinkamtibmasSukatani, Volunteer GPO, Volunteer Montana, masyarakat Desa Sukatani, dan masyarakat Desa Cimacan. Lepas acara upacara dilanjutkan dengan Rapat Koordinasi (Rakor) Bulanan yang rutin dilaksanakan oleh Balai besar TNGGP. Rakor dibuka oleh Kepala Bagian Tata Usaha, beliau menyampaikan amanat Ibu Menteri LHK, Dr. Siti Nurbaya dalam acara Renungan Suci Rimbawan. Lima hal yang diamanatkan yaitu: Rakor bulanan kali ini lebih istimewa karena bertepatan dengan Hari Bakti Rimbawan ke-35 dan masih dalam rangkaian HUT Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ke-38. Acaranya pun diluar dari biasanya....lebih istimewa....ya dengan hadirnya Pak Ustad Kusmayadi memberikan tausiyah yang menyejukan hati yang mendengarnya. Mengupas apa yang membuat kinerja kita menurun, ternyata ada 2 hal yaitu sifat pelupa dan kemauan yang rendah. Namun semua itu bisa kita perbaiki dengan saling menasihati untuk mengingatkan, diingatkan melalui teguran oleh Allah S.W.T, dan dengan cara meningkatkan motivasi dengan berbagai cara. Selepas ishoma, Rakor pun dilanjutkan dengan narasumber yang tidak kalah menarik. Yang hadir mulai menebak-nebak siapakah gerangan narasumber ini dan akan membawakan materi apa? Ouh...tnyata Bapak Agoes Susilo JP. dari Keep in Spririt Institute. Bapak ini terlihat biasa, namun materi yang dibawakan sungguh luar biasa....yaitu untuk memotivasi kita dalam meningkatkan kinerja dan kekompakan dalam lingkungan kerja. Beliau membawakan kita dengan berbagai macam permainan dan cerita motivasi, 2 jam bersama beliau sungguh waktu yang sangat singkat dan kami mengharapkan setiap Rakor menghadirkan narasumber yang luar biasa seperti ini. Acara diakhiri oleh paparan terkait persiapan Balai Besar TNGGP menuju eco office, sejauh mana kesiapan Balai besar TNGGP dan eco office apa yang akan diterapkan. Sebagai penutup Kepala Balai Besar TNGGP memberikan arahan dan himbauan, pelaksanaan eco office dapat dilaksanakan mulai dari lingkungan kerja. Hemat dalam penggunaan energi listrik, air, kertas, dan penggunaan alat makan dan minuman. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Menampilkan 8.369–8.384 dari 11.140 publikasi