Minggu, 31 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Indahnya Pesona Tahul-Tahul di TWA Danau Sicike-cike

Danau Sicike-cike, 20 Februari 2024. Apa itu “Tahul-tahul” ? Ternyata, itu adalah bahasa lokal untuk menyebutkan nama tanaman Kantong Semar (Nepenthes). Tahul-tahul ini tumbuh berserakan di sepanjang kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Danau Sicike-cike, tepatnya di Desa Lae Hole, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi, sehingga memberikan pesona tersendiri bagi kawasan tersebut. Kantong Semar terlihat tumbuh berserakan di antara rerumputan dan juga merambat bergantungan di beberapa pohon. Mata pengunjung dimanjakan dengan beragam bentuk dan warna yang menarik. Rasanya tidak lengkap bila tidak mengabadikannya dengan kamera. Seakan perjalanan wisata alam ke TWA. Danau Sicike-cike tidak sah tanpa dokumentasi tumbuhan yang mempesona ini. Meskipun tidak bisa memetik dan membawanya pulang, tapi dengan dokumentasi sudah cukup terpuaskan dan serasa sudah memilikinya. Kantong Semar (Foto: BBKSDA Sumut) Kantong semar merupakan tumbuhan yang termasuk ke dalam tanaman karnivora dan tergolong dalam family Nepenthaceae. Di Indonesia, Kantong Semar tumbuh tersebar di pulau Kalimantan dan Sumatera. TWA Sicike-cike merupakan salah satu kawasan yang menjadi rumah (habitat) dari tumbuhan ini. Ada dua jenis Nepenthes di TWA Sicike-cike yaitu Nepenthes tobaica dan Nepenthes spectabilis. Kedua jenis Nepenthes ini termasuk jenis tumbuhan yang dilindungi undang-undang sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi. Sebagai tumbuhan yang digolongkan ke dalam carnivorus plant menjadikannya unik karena tumbuhan pemakan serangga. Serangga-serangga kecil menjadi makanan sehari-hari. Warna kantong dan nektar menjadi daya tarik Kantong Semar membuat serangga mendekat dan terpeleset hingga masuk ke dalam cairan yang ada di dalam kantong (“Kantong Semar Tumbuhan Unik Pemakan Serangga di Indonesia”, https://lindungihutan.com). Pesona yang indah dan keunikannya ternyata sebaliknya membawa malapetaka. Tumbuhan ini diburu oleh banyak orang untuk berbagai kepentingan, sehingga populasinya semakin berkurang. Menurut data IUCN Red List, sedikitnya 27 spesies Nepenthes kondisinya terancam, bahkan 4 di antaranya merupakan spesies dengan status Critically endangered dan 4 lainnya berstatus Endangered. (“Kantong Semar, Tumbuhan Unik Pemakan Serangga”, Nisa Hidayati, https://ksdae.menlhk.go.id) Dengan berkurangnya populasi, maka tanaman yang termasuk endemik ini terancam punah, sehingga perlu perhatian berbagai pihak (elemen/komponen) untuk memprioritaskan upaya perlindungan dan penyelamatan, bukan hanya tumbuhan Kantong Semar tetapi juga habitatnya. Dengan melindungi habitatnya, tentunya akan menjaga dan melestarikan tumbuhan yang unik dan langka ini. Salam lestari! Sumber : Hafsah Purwasih, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Translokasi Orangutan Sumatera Dari PKRO Sibolangit Ke SRO Jantho

Salah satu Orangutan yang ditranslokasi ke SRO Jantho Sibolangit, 15 Februari 2024. Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama lembaga mitra kerjasama Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) kembali melakukan translokasi 3 (tiga) individu Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dari Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan (PKRO), Batu Mbelin, Sibolangit, Provinsi Sumatera Utara ke Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera (SRO), Jantho Provinsi Aceh, pada Senin, 12 Februari 2024 melalui jalur/jalan darat. Adapun ketiga individu Orangutan Sumatera tersebut adalah : Maret, berumur sekitar 10 tahun dengan berat badan 48,88 kg, Fiona, diperkirakan berumur 6-7 tahun dengan berat badan 26,48 kg, serta Kobocan, diperkirakan berumur 6-7 tahun dengan berat badan 25,18 kg. Sebelum ditranslokasi, ketiganya terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan kesehatan, pengecekan suhu tubuh, penimbangan berat badan, dan pemasangan microchip. Pemindahan ketiga individu orangutan ini untuk melanjutkan program rehabilitasi di Forest school agar siap dilepasliarkan ke hutan Jantho, Aceh. Selama di SRO, orangutan akan ditempatkan di kandang habituasi sehingga dapat menyesuaikan diri di lokasi baru, untuk nantinya dilepasliarkan. Kegiatan pelepasliaran merupakan pengembalian satwa ini ke daerah asal (habitat alaminya). Sumber : Rizki Pramana Putra (Polhut Pemula) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Warga Namorambe Serahkan Kukang Ke BBKSDA Sumut

Namorambe, 15 Februari 2024. Bermula dari adanya informasi tentang warga jalan Eka Surya, Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, yang memiliki 1 (satu) individu satwa liar dilindungi jenis Kukang (Nycticebus coucang). Petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resort Pelabuhan Laut Belawan pada Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, menyambangi lokasi dan bertemu dengan Sandy Cuaca, pemilik Kukang tersebut, pada Selasa 13 Februari 2024. Dalam keterangannya kepada petugas, Sandy Cuaca mengungkapkan bahwa Kukang didapatnya dari kebun, dan kemudian dipelihara. Karena ketidaktahuannya, Sandy sempat pula mengiklankannya di sosial media hendak di perjualbelikan dan berharap ada orang yang akan membelinya. Petugas kemudian memberikan sosialisasi bahwa Kukang merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi undang-undang sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi. Setelah menerima penjelasan dan memahaminya, Sandy bersikap kooperatif dan kemudian dengan sukarela menyerahkan satwa tersebut kepada petugas. Usai menandatangani Berita Acara Penyerahan, Kukang selanjutnya dievakuasi dan dititipkan ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit untuk dilakukan pemerikasaan kesehatan serta rehabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan kembali kehabitat alaminya. Penyerahan Kukang ini juga dalam rangka memperingati Hari Primata Indonesia, yang biasa diperingati setiap tanggal 30 Januari. Melalui momentum peringatan Hari Primata Indonesia diharapkan meningkatnya kesadaran masyarakat bahwa primata bukan satwa peliharaan, karena hobi memelihara primata memberikan andil bagi kepunahan satwa dilindungi tersebut. Disamping itu, masyarakat juga perlu menyadari bahwa melestarikan primata juga perlu melestarikan habitatnya. Sumber : Zakaria, SP (Kepala Resort Pelabuhan Laut Belawan) dan Fuad Khalil Harahap, S.Hut. (Polhut Ahli Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Hasil Manis Pemberdayaan Masyarakat Desa Jongkong Kiri Hilir Binaan Tana Bentarum

Jongkong, 13 Februari 2024. Setelah penantian selama kurang lebih 1 (satu) tahun, berkah manis dirasakan oleh masyarakat Desa Jongkong Kiri Hilir, Kecamatan Jongkong, Kabupaten Kapuas Hulu. Kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) kepada masyarakat Desa Jongkong Kiri Hilir khususnya pada Kelompok Tani Hutan Nelayan (KTHN) Semujan Jaya telah membuahkan hasil. Bantuan usaha ekonomi produktif yang diberikan Balai Besar Tana Bentarum kepada KTHN Semujan Jaya Desa Jongkong Kiri Hilir berupa uang tunai sebesar Rp50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) pada akhir tahun 2022, telah digunakan kelompok sebagai modal usaha budidaya ikan patin dalam keramba. Hingga saat ini omzet kelompok mencapai Rp168.856.000,- (seratus enam puluh delapan juta delapan ratus lima puluh enam ribu rupiah) dengan total penjualan sebanyak 9.628 kg (sembilan ribu enam ratus dua puluh delapan kilogram) ikan patin. Hingga saat ini dari seluruh total penjualan yang ada, masih terdapat sejumlah ikan patin milik kelompok yang belum dipanen, sehingga diperkirakan omzet kelompok dari bantuan usaha ekonomi produktif dapat mencapai hingga Rp200.000.000,- (dua ratus juta rupiah). Kelompok Tani Hutan Nelayan Semujan Jaya dulunya merupakan Kelompok Nelayan Pungau yang sudah ada dari tahun 1973 yang memiliki aktivitas di sekitar Danau Sekawi Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Pada tanggal 21 Maret 2022 dilakukan pembaharuan kelembagaan oleh pendamping dari Resort Lupak Mawang Taman Nasional Danau Sentarum yang semula Kelompok Nelayan Pungau menjadi KTHN Semujan Jaya, dan telah diberikan bantuan usaha ekonomi produktif pada akhir tahun 2022. Kelompok tersebut memiliki anggota sebanyak 46 orang yang berasal dari 2 (dua) Dusun yaitu Dusun Ulak Landau dan Dusun Kenasau Desa Jongkong Kiri Hilir. Budidaya ikan patin dipilih menjadi bentuk usaha kelompok karena sesuai dengan karakteristik dan mata pencaharian masyarakat yaitu sebagai nelayan, serta potensi dan akses yang dimiliki oleh masyarakat Desa Jongkong Kiri Hilir. Menurut Kepala Seksi PTN Wilayah V Selimbau, Azis Abdul Latif Muslim, kegiatan pemberdayaan masyarakat merupakan upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumberdaya melalui penetapan kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan esensi masalah, aspek fungsi, dan pengelolaan Taman Nasional (TN). Hasil panen ikan patin (Foto oleh Asim Tahun 2023) Menurut penuturan Ketua Kelompok, Asim, bantuan usaha dan pendampingan yang diberikan oleh Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum sangat bermanfaat bagi masyarakat Desa Jongkong Kiri Hilir khususnya anggota KTHN Semujan Jaya. “Hasil penjualan dari usaha budidaya ikan patin dalam keramba menjadi penghasilan tambahan serta tabungan bagi anggota kelompok di luar dari penghasilan sebagai nelayan. Selain itu, hasil dari penjualan tetap diputarkan kembali untuk pembelian bibit ikan serta pakan agar usaha dapat terus dijalankan secara berkelanjutan,” jelas Asim. Pendampingan secara continue yang dilakukan oleh petugas Taman Nasional khususnya oleh pendamping dari Resort Lupak Mawang diharapkan menjadi batu loncatan bagi KTHN Semujan Jaya agar menjadi semakin berkembang dan memberikan manfaat bagi Desa Jongkong Kiri Hilir serta Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Hal tersebut sesuai dengan arahan Kepala Bidang PTN Wilayah III Sintang, Bapak Dedy Sentoso, S.H bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat harus mampu memberikan keuntungan bagi kelompok itu sendiri, masyarakat, serta kelestarian kawasan Taman Nasional sesuai dengan kaidah pengelolaan pada kelompok yaitu kelola usaha, kelola kelembagaan, serta kelola kawasan. Sumber: Venza Rhoma S, S.Hut – Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Labuhan Merapi, Budaya dan Adat Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat di TN Gunung Merapi

Sleman, 12 Februari 2024. Labuhan Merapi diadakan untuk memperingati Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono X, sekaligus bentuk rasa syukur dan doa bagi keselamatan raja Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Upacara Labuhan Merapi ini dimaknai sebagai sebuah persembahan doa kepada Tuhan yang Maha Kuasa, juga tanda penghormatan bagi leluhur Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Labuhan Merapi biasanya terlaksana pada tanggal 30 Rajab, dan pada tahun 2024 bertepatan tanggal 11 - 12 Februari 2024. Upacara ini dihadiri oleh semua masyarakat umum, dan menjadi agenda wisata tahunan Kabupaten Sleman, maupun D.I Yogyakarta. Upacara ini mengangkat tema “Rahayuning Bawana Gumantung Pakartining Janma“. Meskipun terbuka untuk umum, namun kita tetap harus waspada karena status merapi level III (siaga) sehingga faktor mitigasi bencana tetap dikedepankan. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Muhammad Wahyudi, menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya Labuhan Merapi 2024 berjalan lancar dan khidmat. Rangkaian prosesi Labuhan Merapi ini dilaksanakan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), yaitu berada di zona religi, budaya dan sejarah. Zona religi, budaya dan sejarah ini merupakan zona di kawasan konservasi TNGM yang dimaksudkan untuk mendukung budaya dan adat istiadat setempat. Bentuk dukungan ini, juga diturunkan personel untuk pengamanan jalur sepanjang menuju lokasi acara, ujarnya. Hari pertama, prosesi Labuhan Merapi diawali dari keraton Yogyakarta dengan iring-iringan membawa uborampe labuhan menuju kantor Kapanewon Cangkringan yang terlebih dahulu singgah di kantor Kapanewon Depok. Selanjutnya oleh perwakilan Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat diserahkan kepada Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, yang kemudian diterima oleh abdi dalem juru kunci Gunung Merapi, Mas Kliwon Suraksa Asihono, atau lebih terkenal dengan panggilan Mbah Asih. Setelah prosesi tersebut, kemudian uborampe dan gunungan diarak dari kantor Kapanewon Cangkringan menuju petilasan rumah Mbah Maridjan (almarhum) di Dusun Kinahrejo, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, kemudian secara seremonial dari lurah Umbulharjo diserahkan ke juru kunci Gunung Merapi, Mbah Asih. Acara dilanjutkan dengan penampilan fragmen dan perebutan berkah gunungan. Malam harinya dilakukan kenduri, pemetasan Tari Pudyastuti, doa bersama dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Pagelaran wayang kulit ini menghadirkan dalang Ki Sancoko Hadiprayitno, dengan lakon “Pandawa Sesaji Hargo”. Rangkaian acara ini juga dapat diikuti oleh seluruh masyarakat umum. Selanjutnya, hari kedua, dimulai sekitar pukul 06.40, uborampe diarak sepanjang 2,45 km, dari dusun Kinahrejo dilabuh ke Bedengan, prosesi doa sebentar, lalu dilanjutkan ke Sri Manganti, pada ketinggian 1.550 m dpl. Di Sri Menganti inilah selanjutnya dilakukan prosesi utama, ritual, doa serta pembagian nasi berkat, hingga sekitar pukul 09.30. Seluruh prosesi ini dipimpin oleh juru kunci Gunung Merapi, Mbah Asih. *** Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Berita

Buaya Terperangkap Dalam Bubu, Direscue Petugas

Besilam, 12 Februari 2024. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Rabu (7/2), menerima laporan dari Camat Padang Tualang dan Kepolisian Sektor (Polsek) Padang Tualang, Kabupaten Langkat perihal terperangkapnya 1 (satu) ekor buaya ke dalam bubu milik salah seorang nelayan, Alif, warga Dusun 2 Desa Besilam di Sungai Kuala Besilam, Kabupaten Langkat. Petugas Seksi Konservasi Wilayah II Stabat merespon cepat laporan tersebut dengan menurunkan Tim dengan menyambangi lokasi dan berkoordinasi dengan Kepala Desa Besilam. Buaya Muara (Crocodylus porosus) yang diamankan oleh warga dalam keadaan terikat dengan tali, terlihat dalam kondisi lemas dan tidak agresif serta kulit cenderung kering. Buaya tersebut dititip di kantor Desa Besilam. Melihat kondisi satwa dan hasil musyawarah dengan warga, buaya kemudian diserahkan kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk dirawat dan direhabilitasi. Selanjutnya petugas merescue satwa dilindungi undang-undang ini dan menitipkannya di kandang transit yang ada di kantor Seksi Konservasi Wilayah II Stabat untuk mendapatkan perawatan dan rehabilitasi. Sumber : Parulian Situmorang, S.Hut. (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Tanam Mangrove Serentak di TN Bunaken

Manado, 7 Februari 2024. Bertepatan dengan Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia dilakukan penanaman mangrove di Desa Tiwoho, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Dalam kesempatan ini Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Drs. Alue Dohong, M.Sc, Ph.D hadir dan mengajak langsung melakukan aksi penanaman mangrove di Taman Nasional Bunaken. Penanaman ini merujuk pada Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang ditujukan kepada para Gubernur di seluruh Indonesia Nomor:S.35/MENLHK/SETJEN/SET.1.1/B/1/2024 tanggal 31 Januari 2024 untuk melakukan Penanaman Serentak. Mangrove yang ditanam di Desa Tiwoho, Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara, ditanam sebanyak 1.500 bibit Rhizophora sp, dimana bibit tersebut merupakan hasil pengembangan Kelompok Karya Muda Desa Tiwoho binaan Balai Taman Nasional Bunaken. Peserta yang mengikuti kegiatan sekitar 200 orang terdiri dari Pejabat Tinggi Madya KLHK, Pejabat Tinggi Pratama KLHK, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan se Sulawesi Utara beserta staf, Forkopimda Sulawesi Utara, Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Para Pejabat Pimpinan OPD Provinsi Sulawesi Utara, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, Jajaran MUSPIKA Kecamatan Wori, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, dan Masyarakat Desa Tiwoho. Hari Lahan Basah Sedunia yang diperingati setiap tanggal 2 Februari merupakan ajakan untuk mengkampanyekan secara global pentingnya lahan basah. Peringatan ini mengadopsi Perjanjian Internasional tentang Pelestarian Lahan Basah (Konvensi Ramsar) yang ditandangani pada tanggal 2 Februari 1971. Tujuan utamanya adalah mendorong upaya konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara bijaksana melalui aksi nasional dan kerjasama internasional untuk mewujudkan pembangunan secara berkelanjutan di seluruh dunia. Tema besar peringatan lahan basah tahun 2024 adalah 'Wetlands and Human Wellbeing'’, yakni 'Lahan Basah dan Kesejahteraan Manusia', hal ini sebagai pengakuan bahwa lahan basah merupakan bagian penting bagi manusia dan alam, termasuk manfaat dan jasa serta kontribusinya. Taman Nasional Bunaken sebagai perwakilan ekosistem tropis perairan laut memiliki posisi penting dalam pembangunan dengan memberikan multiplayer effect perekonomian di Daerah Provinsi Sulawesi Utara, terutama dalam bidang pariwisata sebagai bagian Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DSP) Likupang serta berada di pusat segitiga karang dunia (coral triangle) dan jaringan Cagar Biosfer Dunia yakni Cagar Biosfer Bunaken Tangkoko Minahasa yang ditetapkan oleh UNESCO di Paris tanggal 28 Oktober 2020. Sebagai kawasan konservasi berbasis perairan laut Taman Nasional Bunaken ditunjuk dengan luas 73.973,12 ha dimana terdapat 7 (tujuh) ekosistem utama yakni ekosistem terumbu karang luas 6.064,6 ha, ekosistem lamun luas 5.736,1 ha, ekosistem mangrove luas 1.696,4 ha, ekosistem hutan Pantai luas 445,7 ha, ekosistem padang rumput luas 81,27 ha, ekosistem neritik dan oceania luas 57.969,07 ha dan ekosistem buatan luas 1.979,9 ha. Kondisi ekosistem ini sebagain besar merupakan lahan basah dengan diisi biota laut antara lain 390 spesies karang dari 63 genera dan 15 famili, + 1.000 jenis ikan karang dari 175 famili, + jenis moluska dan crustacea, + 200 jenis mamalia laut (paus dan lumba-lumba). Ekosistem mangrove sebagai bagian dari lahan basah merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh berbagai jenis pohon bakau tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai yang berlumpur, ekosistem ini merupakan tipe hutan tropika yang memiliki ciri khas tumbuh disepanjang pantai yang terpengaruh oleh pasang surut air laut. Taman Nasional Bunaken dengan hutan mangrove yang ekstensif memiliki peran dan fungsi penting bagi keseimbangan ekosistem di Provinsi Sulawesi Utara, fungsi tersebut tidak hanya sebagai pencegahan abrasi dan intrusi air laut serta tempat hidup berbagai biota perairan tetapi juga berpotensi dalam penyimpanan karbon dan pengendalian perubahan iklim secara global. Mangrove yang berada disepanjang pesisir Molas–Wori Taman Nasional Bunaken memiliki kesejarahan panjang dalam mempertahankan komunitasnya, dengan berada di 2 (dua) administrasi Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Utara, hutan mangrove pesisir molas-wori memiliki luas 214.6 ha. Dimulai pada Tahun 1998 Hukum Tua Tiwoho mengajak masyarakat menanam mangrove yang berada di pesisir Desa untuk mengurangi abrasi. Djamalludin, dkk (2023) dalam jurnal yang ditulis pada tahun 2023 terkait struktur dan komunitas bakau yang dipulihkan setelah 14 – 16 tahun. Catatan tersebut menjelaskan awalnya tahun 1991 seluas 15,2 ha di Desa Tiwoho merupakan area tambak, setelah tidak berproduksi area tersebut ditinggalkan. Restorasi secara masif dengan berbasis komunitas dilakukan pada tahun 2004. Bersumber dari Djamaluddin (2018) pada studi terhadap ciri-ciri fisik dan habitat mangrove Taman Nasional Bunaken bahwa area pesisir Molas-Wori tumbuh sebanyak 21 spesies mangrove antara lain Avicennia alba, Avicennia marina, Lumnitzera littorea, Excoecaria agallocha, Bruguiera gymnorrhiza, Ceriopa tagal, Rhizophora apiculate, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, Nypa fruticans. Hal ini menandakan betapa penting dan besarnya peranan mangrove di area tersebut termasuk Desa Tiwoho sebagai perlindungan pesisir. Kehidupan ekosistem mangrove memiliki peran penting lainnya yakni dalam penyerap karbondioksida (CO2) dari udara, wilayah pesisir molas-wori sangat dekat dengan Kota Manado, potensi dan peran mangrove di area ini dalam penyerapan karbon alami sangat diperlukan. Septia Panjaitan dkk (2022) mencatatkan serapan karbon pada beberapa titik lokasi survei di pesisir molas-wori nilai serapan karbon sebesar 3.246,21 ton CO2/ha di Meras dan 5.243,18 ton CO2/ha di kampung Bahowo. Referensi lainnya menyebutkan bahwa serapan karbon untuk jenis Rhizophora mucronata sebesar 398,60 ton CO2/ha dan Rhizophora stylosa 721,582 ton CO2/ha (Rahim dan Baderan 2017). Sumber: Balai Taman Nasional Bunaken Penanggung Jawab : Plt. Kepala Balai Taman Nasional Bunaken - Nikolas Loli, S.P, M.Si (0812 6745 4691) Kepala BPDAS Tondano Bambang Hendro Juwono, S.Hut, M.Si (0852 3532 5310)
Baca Berita

Penanaman Serentak Ketiga di Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia Provinsi Sumatera Utara

Desa Silo Baru, 12 Februari 2024. Penanaman Pohon Serentak Seluruh Indonesia di Provinsi Sumatera Utara telah dilakukan dua kali, pertama pada tanggal 30 Desember 2023 di Retreat Center Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di Desa Sibolangit, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang dan di lokasi KTH Lestari, kemudian yang kedua pada tanggal 13 Januari 2024 di UPSA KTH Sipolha Horison, Kelurahan Sipolha Horison, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Kali ini kembali dilakukan kegiatan penanaman ketiga pada Rabu 7 Februari 2024 di Desa Silo Baru, Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan. Penanaman ini sekaligus sebagai rangkaian peringatan Hari Lahan Basah Sedunia Tahun 2024, yang biasa diperingati setiap tanggal 2 Februari setiap tahun. Lokasi penanaman serentak dipilih di kawasan pesisir pantai dengan luasan sekitar 0,8 hektar, dan bibit yang ditanam adalah jenis Bakau (Rhizophora, Sp) sebanyak 330 batang, berasal dari persemaian Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS-HL) Asahan Barumun. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Rudianto Saragih Napitu, selaku Koordinator Wilayah UPT lingkup Kementerian LHK Provinsi Sumatera Utara dalam laporannya menyampaikan pada prinsipnya Provinsi Sumatera Utara siap mendukung kegiatan penanaman serentak diseluruh Indonesia guna memperbaiki kualitas lingkungan dan juga memperbanyak tegakan pohon/tanaman. Sedangkan Pj. Gubernur Sumatera Utara dalam sambutannya yang dibacakan Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Agus Tripriyono, menyebutkan saat ini luas eksisting hutan mangrove di Sumatera Utara berdasarkan Peta Mangrove Nasional mencapai 57.490 hektar dengan kondisi tutupan mangrove lebat seluas 42 ribu hektar, mangrove sedang 6 ribu hektar dan jarang seluas 8 ribu hektar. Sebaran tutupan mangrove ini terus dinamis seiring dengan permasalahan penebangan, perambahan, alih fungsi untuk tambak, perkebunan dan pemukiman. Dengan aktifnya kolaborasi penanaman mangrove antara masyarakat dan pemerintah menunjukkan betapa tanggung jawab pembangunan pada sektor kehutanan dalam rehabilitasi mangrove terus bergerak berpacu pada tantangan yang ada. “Oleh karena itu melalui gerakan penanaman mangrove dan pemeliharaan pohon yang berkesinambungan ini harus dilanjutkan dengan kontribusi berbagai pihak,” ujar Agus Tripriyono di akhir sambutannya. Kegiatan penanaman turut dihadiri unsur Forkopimda Provinsi Sumatera Utara, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), OPD Provinsi Sumatera Utara, UPT lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, UPTD Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumatera Utara, Camat Silau Laut, Kepala Desa Silo Baru, kelompok masyarakat, pramuka dan masyarakat Silo Baru. Selain itu, turut juga hadir Pj. Gubernur Sumatera Utara yang diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Agus Tripriyono, dan Tenaga Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bidang Manajemen Landscape Fire, Rafles B. Panjaitan. Sumber : Elvaro Sinaga (Penyuluh Kehutanan Pemula) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Peringati Hari Primata Indonesia 2024, BBKSDA Jawa Timur Lepasliarkan Lutung Jawa

Malang, 7 Februari 2024. Dalam rangkaian peringatan Hari Primata Indonesia, Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa - The Aspinall Foundation-Indonesia Program (JLC-TAFIP), melepasliarkan 2 ekor Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) di Cagar Alam Pulau Sempu, Kabupaten Malang, 7 Februari 2024. Ke dua ekor Lutung Jawa yang dilepasliarkan berasal dari barang bukti penegakan hukum di wilayah kerja Balai Besar KSDA Jawa Timur. Menurut Iwan Kurniawan, Manajer JLC-TAFIP, Lutung-lutung tersebut telah melalui proses rehabilitasi (observasi, penilaian prilaku, pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan fisik serta adaptasi pakan) di Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa, Coban Talun- Batu, serta proses habituasi di lokasi pelepasliran beberapa hari sebelumnya. “Lokasi pelepasliaran, yakni Pulau Sempu, telah melalui penilaian habitat yang meliputi ketersediaan pakan, populasi sejenis, kompetitor, dan keamanan dari gangguan manusia,” ungkapnya. Cagar Alam Pulau Sempu sendiri merupakan salah satu kawasan konservasi yang sangat penting, karena menjadi benteng terakhir hutan alam karst di bagian selatan Pulau Jawa. Kawasan ini menyimpan sumber informasi ilmu pengetahuan dan sumber plasma nutfah. Pelepasliaran ini menjadi salah satu upaya Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam mengembalikan satwa-satwa hasil penegakan hukum dan penyerahan masyarakat ke habitat alamnya. Selain itu sebagai salah satu upaya untuk melestarikan dan mempertahankan ekosistem kawasan konservasi, dengan meningkatkan populasi satwa liar melalui fresh blood. Lutung Jawa merupakan salah satu jenis primata endemik yang dimiliki Indonesia dan hanya dapat dijumpai di Pulau Jawa dan Bali. Primat ini sudah dikategorikan sebagai satwa yang dilindungi Negara berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 733/Kpts-11/1999 tentang Penetapan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) sebagai Satwa Dilindungi. Keputusan tersebut diperkuat dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/ KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Harapan dari kegiatan ini akan memperkuat rantai penyusun ekosistem yang berada di dalamnya, sehingga proses ekologis di dalam kawasan konservasi terjamin kelestariannya. Sumber : Hari Purnomo - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Penanaman Serentak, Membangun Harmoni dengan Alam

Makassar, 7 Februari 2024 – Momentum penting kembali hadir di Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) Mangrove BPDAS Jeneberang Saddang, Lingkungan Salodong, Kelurahan Untia, Provinsi Sulawesi Selatan, Senin (12/2), dengan pelaksanaan penanaman serentak oleh jajaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Pemerintah Kota Makassar.. RHL Mangrove BPDAS Jeneberang Saddang menjadi simbol pentingnya menjaga keberlangsungan lahan basah bagi lingkungan. Bulan Februari tepatnya tanggal 2 Februari, juga menjadi momen penting untuk memperingati Hari Lahan Basah, di mana penanaman pohon juga dilakukan di areal lahan basah seperti mangrove. Penanaman yang dirangkaikan dengan Hari Lahan Basah Sedunia, merupakan yang ketiga kalinya dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia. Dalam konteks perubahan iklim, kegiatan penanaman pohon menjadi langkah nyata untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Mangrove, sebagai salah satu habitat unik dan penting, menjadi fokus hari ini. 1.000 batang mangrove jenis Rhizophora spp. dari Persemaian Permanen Marinding ditanaman pada lokasi penanaman dengan luasan 1 hektar. Rhizophora spp. adalah jenis bibit mangrove yang sering ditanam dalam program rehabilitasi, selain karena mudah dibibitkan ketersediaan indukan mangrove Rhizophora juga sangat melimpah. Ditengah hujan deras dan angin badai di Kota Makassar tidak membuat surut semangat berbagai pihak yang hadir. Semangat menanam dilakukan bersama Staf Ahli Menteri Bidang Pangan KLHK, Pj Gubernur Sulawesi Selatan yang diwakili oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan, Asisten II Kota Makassar, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Komandan Pangkalan Utama TNI AL IV Makassar, Direktur Politeknik Pelayaran Makassar, Camat Biringkanaya, Kapolsek Biringkanaya, Danramil Biringkanaya, Lurah Untia dan para Kepala UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulsel, Kelompok Tani RHL Mangrove Sumberdaya Pesisir Lestari, serta masyarakat sekitar lokasi kegiatan. Asisten II Kota Makassar mewakili Walikota Makassar mengawali kegiatan dengan menyampaikan sambutan selamat datang. Beliau memberikan apresiasi yang tinggi untuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atas terselenggaranya kegiatan ini. Pemerintah daerah mendukung penuh upaya mitigasi perubahan iklim, pemulihan kualitas lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan sekaligus membangkitkan semangat, motivasi dan menggerakan seluruh elemen masyarakat untuk menanam dan memelihara pohon. Staf Ahli Bidang Pangan KLHK, Drh. Indra Exploitasia, M.Si ., dalam sambutannya mewakili Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengajak semua pihak, mulai dari masyarakat lokal, instansi pemerintah, hingga organisasi non-pemerintah, untuk ikut serta dalam upaya pelestarian lingkungan dengan menanam pohon. Bersama-sama, mari kita tunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dan alam dengan tindakan nyata. Drh. Indra Exploitasia menegaskan bahwa “Kegiatan penanaman pohon bukan sekadar seremoni, tapi merupakan langkah nyata dalam mengatasi tantangan ganda perubahan iklim, polusi, dan penurunan keanekaragaman hayati. Pohon tidak hanya menyediakan oksigen, tetapi juga berperan sebagai penyerap karbon yang sangat berharga bagi ekosistem kita”. Pentingnya pelestarian lingkungan juga tercermin dalam komitmen pemerintah melalui program Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, yang bertujuan untuk mengurangi emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya. Gerakan penanaman pohon tidak hanya sekadar menanam, tetapi juga merupakan bentuk komitmen Indonesia dalam mengurangi risiko bencana dan mengendalikan perubahan iklim. Bersama-sama, mari kita wujudkan kepedulian dan kecintaan terhadap lingkungan dengan tindakan nyata menanam pohon. Mari kita bangun harmoni dengan alam, dan mulailah menanam. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (SIARAN PERS Nomor : SP.03/K.8/TU/Humas/02/2024) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Berita

Berbagai Stakeholder Dukung Penyelamatan Penyu

Surabaya, 6 Februari 2024. Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menerima penyerahan seekor satwa liar jenis Penyu Hijau (Chelonia mydas) dari tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya, 4 Februari 2024. Guna rencana tindak lanjut penanganan, satwa sementara dirawat pada kandang transit Seksi KSDA Wilayah III Surabaya. Penyu tersebut merupakan hasil temuan warga Surabaya di area pintu air Tempat Hiburan Pantai (THP) Kenjeran, yang kemudian dilaporkan ke Command Center 112. Menindaklanjuti laporan tersebut, Petugas Gabungan Posko Terpadu Kedung Cowek yang terdiri dari BPBD Kota Surabaya, Satpol PP Kota Surabaya, Damkar 112 Surabaya, Dishub Surabaya dan Dinsos Kota Surabaya melakukan evakuasi Penyu tersebut ke kandang transit Seksi KSDA Wilayah III. Saat ditemukan, Penyu terjebak di pintu air Taman Hiburan Pantai Kenjeran yang dimungkinkan akibat gelombang besar, sehingga terseret ke arah pantai Kenjeran. Hasil identifikasi dan penilaian cepat perilaku atau rapid assesment menunjukkan pergerakannya aktif, sehat, normal tanpa cacat atau luka berarti, serta sensitif terhadap interaksi dengan manusia. Selanjutnya, BBKSDA Jatim bersama BPBD Kota Surabaya, Damkar 112 Surabaya, dan masyarakat pesisir melakukan pelepasliaran terhadap penyu tersebut pada 6 Februari 2024 di Perairan Suramadu. Penyu Hijau, Spesies Langka Nan Rentan Ancaman yang paling besar bagi penyu di Indonesia, seperti juga halnya di seluruh dunia, adalah manusia itu sendiri. Pembangunan daerah pesisir yang berlebihan telah mengurangi habitat penyu untuk bersarang. Penangkapan penyu untuk diambil telur, daging, kulit, dan cangkangnya, polusi sepanjang pantai pendaratan, serta perubahan iklim membuat populasi penyu terus menurun. Penyu Hijau merupakan satwa dilindungi Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Sesuai dengan Pasal 21 ayat 2 huruf a, bahwa setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup. Pelakunya dapat dihukum dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak seratus juta rupiah. Menurut daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) Penyu Hijau dianggap sebagai spesies yang rentan. Sedangkan Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Terancam Punah (CITES) mengkategorikannya ke dalam Appendix I, artinya termasuk spesies paling terancam punah dan paling berisiko punah. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Penanaman Dua Ratus Pohon Bakau di Kulon Progo, Wujud Bangun Harmoni dengan Alam

Kulonprogo, 7 Februari 2024. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kembali melaksanakan Penanaman Pohon Serentak di seluruh wilayah Indonesia. Penanaman pohon serentak lingkup D.I. Yogyakarta dilaksanakan di Pantai Pasir Kadilangu, Kalurahan Jangkaran, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta, pada 7 Februari 2024. Bulan Februari ini kita memperingati hari lahan basah, untuk itu Penanaman Pohon Serentak di Provinsi D.I. Yogyakarta dilaksanakan di areal lahan basah mangrove. Keberadaan pohon dan tutupan lahan yang baik akan meningkatkan daya dukung alam dalam mitigasi perubahan iklim, ketahanan pangan, energi dan kesejahteraan seluruh mahluk hidup. Oleh karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkomitmen untuk mengurangi emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya melalui Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Kegiatan penanaman pohon merupakan upaya konkret dan strategis dalam mengatasi triple planetary crisis yaitu, perubahan iklim, polusi dan ancaman kehilangan keanekaragaman hayati. Ketiganya saling terkait dan sangat mendesak untuk diatasi. Hal ini disampaikan Menteri KLHK melalui sambutan tertulisnya, yang dibacakan oleh Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Jawa. Fungsi kawasan Mangrove atau bakau ini, selain mendukung fungsi lahan basah, juga fungsi ekosistem perairan pantai dan juga fungsi jasa lingkungan lain, salah satunya wisata dan budaya sektor perikanan. Tentunya semua ini juga melibatkan masyarakat setempat untuk turut serta memiliki rasa kepedulian untuk menjaga kawasan mangrove ini. Peserta penanaman serentak pada hari ini kurang lebih berjumlah 200 orang berasal dari unsur KLHK lingkup D.I. Yogyakarta, pemerintah provinsi D.I. Yogyakarta, pemerintah kabupaten Kulon Progo, pemerintah desa, Kelompok Tani Hutan Pasir Kadilangu serta masyarakat sekitar. Penanaman serentak di Pantai Pasir Kadilangu dilakukan sebanyak 1.000 batang bibit jenis Rhizophora Mucronata atau bakau. Sebanyak 200 batang bibit bakau ditanam serentak pada saat acara penanaman berlangsung, sedangkan 800 bibit lainnya ditanam setelah acara oleh masyarakat setempat. Pada kesempatan ini, hadir langsung Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) beserta staf sebagai wujud kepedulian dalam perbaikan lingkungan. Gerakan penanaman pohon menunjukkan urgensi pohon sebagai sentral bagi kehidupan di bumi. Pohon memiliki andil dalam pertumbuhan manusia dan seluruh mahluk hidup. Menanam dan memelihara pohon untuk tetap tumbuh akan menuai kebaikan. Semangat menanam, berkolaborasi para pihak, serta tidak pernah meninggalkan masyarakat setempat dalam menjaga kawasan sejalan dengan konsep model pengelolaan kawasan konservasi. *****
Baca Berita

Lagi, Penyelundupan Ratusan Burung Dari Bali Digagalkan di Banyuwangi

Banyuwangi, 6 Februari 2024. Sebanyak 1.026 ekor burung berhasil digagalkan saat akan diselundupkan ke Jawa Timur dari Bali di Pelabuhan Ketapang - Banyuwangi, Senin (5/2) malam hari. Kali ini penyelundupan dengan menggunakan jasa bus malam antar kota antar provinsi. Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 14 Banyuwangi, Balai Besar KSDA Jawa Timur, segera merapat ke Balai Karantina Hewan Ikan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur Satuan Pelayanan Ketapang untuk melakukan proses identifikasi burung-burung tersebut. Dari ke-19 boks, tim mendapatkan 15 jenis burung, 90 ekor diantaranya ditemukan dalam keadaan mati, sehingga tersisa 936 ekor. Ke 15 jenis burung tersebut antara lain, Merbah cerucuk, Bentet kelabu, Sikatan rimba dada coklat, Cinenen Jawa, Kacamata Biasa, Kacamata gunung, Anis merah, Decu belang, Perling kecil, Cingcoang coklat, Kucica kampung, Burung madu sriganti, Srigunting kelabu, Manyar emas, dan Tangkar centrong. Menurut Nurul Huda Sani, Kepala RKW 14, seluruh satwa tidak dilengkapi dokumen sesuai Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, maka keseluruhan satwa dikembalikan ke pihak Karantina Bali. “Selanjutnya pihak BKSDA Bali dan BBKHIT Bali Satpel Gilimanuk melakukan pelepasliaran burung-burung tersebut kembali ke habitatnya di kawasan hutan produksi Bali Barat wilayah Penginuman, Kec. Melaya. Kabupaten Jembrana pada 6 Februari 2024,” ungkapnya. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Tanam Mangrove Untuk Aksi Penanaman Pohon Serentak dan Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia

Teluk Naga, 7 Februari 2024. Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) kembali berpartisipasi dalam aksi penanaman pohon serentak seluruh Indonesia, Rabu (7/2). Aksi penanaman pohon serentak kali ini, tepatnya dilakukan di Tangerang Mangrove Center, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten, dan diinisiasi bersama Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Citarum Ciliwung, Ditjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH). Penanaman pohon serentak pada bulan Februari ini juga sebagai ajang memperingati Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day) pada tanggal 2 Februari, dan untuk itu penanaman dilakukan di areal lahan basah seperti mangrove. Direktur Rehabilitasi Perairan Darat dan Mangrove (RPDM), Ditjen PDASRH, Inge Retnowati, pada saat melaporkan pelaksanaan kegiatan, menyampaikan bahwa kita menjadi bagian gerakan penanaman serentak dan momentumnya sangat pas sekaligus memperingati hari lahan basah sedunia tanggal 2 Februari. “Saya harap ini tidak sekedar seremonial tapi menjadi rehabilitasi mangrove, karena kami sebelumnya sudah melakukan prakondisi, perencanaan, sampai nanti pemantauan mangrove setelah ditanam. Saya juga berterima kasih kepada para nelayan dan petani sekitar kawasan yang akan meneruskan proses pemantauan mangrove yang sudah kita tanam” ujar Inge. Direktur Jenderal KSDAE turut hadir beserta jajaran dan menyampaikan sambutan dan arahan Menteri LHK. “Mari kita tanam minimal 25 pohon seumur hidup untuk setiap individu penduduk kita. Saya berharap dengan penanaman mangrove serentak ini sekaligus memperingati hari lahan basah sedunia dengan tema Wetlands and Human Being dapat menjadi pelestarian dan pengelolaan lahan basah sebagai unsur yang tidak terpisahkan dalam mendukung kesejahteraan kehidupan manusia sehari-hari”, arahan Menteri LHK yang disampaikan Dirjen KSDAE. Dirjen KSDAE meninjau produk UMKM hasil mangrove Sebelum melakukan penanaman, Dirjen KSDAE didampingi jajaran pejabat yang hadir mengunjungi kios UMKM yang menjual produk hasil mangrove. Sekitar 1.000 bibit mangrove ditanam hari ini. Semua bibit mangrove tersebut berasal dari bibit mangrove kawasan Desa Tanjung Pasir yang dikelola masyarakat, binaan BPDAS Citarum Ciliwung. Bibit mangrove tersebut ditanam pada area seluas sekitar 51 hektar. Penanaman mangrove di Desa Tanjung Pasir, diikuti sekitar 150 orang dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari unsur Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, Korps Marinir TNI AL, akademisi, para pelajar dan masyarakat serta Green Ambassador simpul belajar Balai KSDA DKI Jakarta dan BPDAS Citarum Ciliwung. Salah satu masyarakat sekitar lokasi penanaman yang ikut menanam mangrove Menteri LHK juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan penanaman mangrove serentak di Indonesia ini. Dirjen KSDAE secara langsung juga menyampaikan terima kasih kepada Direktorat RPDM, Ditjen PDASRH, BPDAS Citarum Ciliwung, seluruh unsur KLHK di provinsi Banten, jajaran pejabat daerah, Korps Marinir TNI AL, mitra, akademisi dan juga peserta yang hadir di lokasi penanaman. “Mari kita bersama - sama merestorasi lahan basah, mengembalikan kepada fungsinya agar manusia dapat hidup dengan nyaman, sejahtera dan aman dari bencana - bencana lingkungan” ujar Dirjen KSDAE usai melakukan penanaman. “Bangun Harmoni dengan Alam, Mulailah Menanam” Sumber: Sekretariat Direktorat Jenderal KSDAE
Baca Berita

Dua Individu Orangutan yang Dilepasliarkan di TN Betung Kerihun Terpantau Telah Memiliki Bayi

Orangutan Jojo dan anaknya (Foto oleh: Bundany Anugra tahun 2023) Putussibau, 7 Februari 2024. Kelahiran 2 (dua) individu bayi Orangutan Kalimantan di Sub DAS Mendalam, wilayah Resort Nanga Hovat, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah III Padua Mendalam, Taman Nasional Betung Kerihun memberi angin segar bagi konservasi Orangutan di Indonesia. Dua individu Orangutan Kalimantan yang dilaporkan telah melahirkan tersebut bernama Juvi dan Jojo. Keduanya dilepasliarkan pada tahun 2017 di Wilayah Resort Nanga Hovat hasil kerjasama antara Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Senarum dengan Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS) dan BKSDA Kalimantan Barat. Bayi Orangutan Jojo diperkirakan berumur dua tahun saat dijumpai pada Bulan November 2023 lalu. Sementara bayi Orangutan Juvi diperkirakan berusia satu tahun saat dijumpai pada tahun 2019 lalu (pada foto) sehingga di tahun 2024 ini bayi tersebut telah berumur 6 tahun. Hal ini menandakan bahwa Orangutan Kalimantan yang berstatus terancam punah (critically endangered) oleh IUCN Red List Tahun 2016 masih dapat bertahan hidup dan berkembang biak di Indonesia, khususnya dalam hal ini di dalam Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun. Orangutan Juvi dan anaknya (Foto oleh: Tim monitoring SOC tahun 2019) Wahju Rudianto, Plt. Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum mengatakan bahwa kelahiran Orangutan Kalimantan di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun menandakan kesesuaian habitat dan masih terjaganya kelestarian Orangutan Kalimantan. “Kami akan terus melaksanakan kegiatan-kegiatan perlindungan dan pengawetan di dalam kawasan Taman Nasional untuk menjaga kelesarian kawasan beserta flora dan fauna yang hidup di dalamnya. Kami juga bekerja sama dengan Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS), BKSDA Kalimantan Barat dan masyarakat sekitar, khususnya dalam hal konservasi Orangutan Kalimantan, baik yang hidup liar maupun hasil pelepasliaran.” tambahnya. Orangutan Jojo dan anaknya (Foto oleh Rafael Tenting tahun 2023) Rafael Tenting, salah satu tokoh masyarakat Desa Datah Dian menyatakan, “Sebagai masyarakat adat Suku Dayak Kayan, kami menghargai keberadaan Orangutan di alam. Kami menganggap bahwa Orangutan adalah bagian dari adat budaya dimana orangutan merupakan hewan yang sakral sehingga harus dilindungi dan dilestarikan.” Sumber: Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Petugas Evakuasi Buaya Terkena Jerat Biawak

Batubara, 5 Februari 2024. Maksud hati ingin menjerat biawak, ternyata yang terjerat buaya. Adalah Julia, warga Desa Gambus Laut, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara, yang pertama kali melihat adanya seekor buaya yang terkena jerat biawak, saat bekerja mengutip brondol kelapa sawit di lahan milik warga lainnya, pada Sabtu 3 Februari 2024. Julia pun kemudian memanggil rekan-rekannya dan mengamankan buaya tersebut, sembari menghubungi aparat Desa Gambus Laut, Babinpotmar Pos Angkatan Laut (POSAL) Tanjung Tiram dan Kapolsek Lima Puluh AKP. T. Simamora, SH., MH. Mengetahui buaya termasuk jenis yang dilindungi, Kepala Desa Gambus Laut segera menghubungi petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Menindaklanjuti laporan kepala desa, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran segera menugaskan Kepala Resort Pelabuhan Tanjung Balai, Cagar Alam (CA.) Batu Ginurit dan Suaka Alam (SA.) Sei Ledong beserta personil Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran untuk mengamankan dan mengevakuasi buaya tersebut. Setibanya di lokasi petugas kemudian melakukan koordinasi dengan Kepala Desa Gambus Laut, Kapolsek Lima Puluh serta Babinpotmar POSAL Tanjung Tiram, dan melakukan serah terima satwa. Dari hasil identifikasi, diketahui jenis Buaya Muara (Crocodylus porosus) dengan panjang 150 cm dan berkelamin betina. Selanjutnya buaya dievakuasi ke penangkar buaya mitra Balai Besar KSDA Sumatera Utara, UD Alian Ruswan di Simpang Gambus, Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batubara. Dengan terjeratnya Buaya Muara ini, petugas memberi sosialisasi kepada warga serta aparat setempat untuk waspada, karena sebelumnya pada lokasi yang hampir bersamaan, juga ditemukan penampakan buaya oleh warga pada Rabu (31/1) yang lalu dan petugas sudah memasang perangkap di tiga titik (tempat) yang berbeda. Warga diingatkan pula agar dalam beraktivitas sebaiknya dilakukan secara berkelompok dan menghindari perbuatan/tindakan yang mengancam buaya, karena satwa ini termasuk jenis yang dilindungi. Sumber : Farid Ali, S.Hut. (Kepala Resort Pelabuhan Tanjung Balai, CA. Batu Ginurit, SA. Sei Ledong) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 817–832 dari 11.141 publikasi