Jumat, 17 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pengelolaan Kawasan Konservasi Efektif dan Efisien ala BKSDA Sulteng

Palu, 12 April 2018. Hotel Roa roa Palu menjadi tempat Balai KSDA Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) mengadakan kegiatan Penilaian Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi lingkup BKSDA Sulteng. Penilaian ini menggunakan metode Management Effectiviness Tracking Tool (METT) pada 10-12 April 2018. BKSDA Sulteng mengundang para Kepala Resort 18 Kawasan Konservasi Lingkup BKSDA Sulteng, Kasie Wilayah I Pangi dan II Poso, beberapa instansi (Dinas Kehutanan Daerah, Dinas Lingkungan Hidup Daerah, Camat Parigi Tengah dan Kepala Desa Kaluku Tinggu) serta mitra kerja (LSM dari Yayasan Merah Putih, Fakultas Kehutanan UNTAD Palu dan Forum Komunikasi Kader Konservasi). Dalam sambutannya, Kepala Balai KSDA Sulteng, Ir. Noel Layuk Allo, MM juga menyampaikan 10 cara baru kelola kawasan konservasi sesuai arahan Dirjen KSDAE. Penilaian Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan, gangguan dan ancaman sehingga pengelolaan Kawasan Konservasi di Sulawesi Tengah kedepannya menerapkan adaptive management sesuai jenis permasalahan dan menetapkan Nilai METT 18 Kawasan Konservasi Lingkup BKSDA Sulteng. Didampingi fasilitator dari Direktorat Kawasan Konservasi, Wenda Yanda Komara, S.Si., M.Si dan Andhika Chandra Ariyanto, S.Hut., M.Sc seluruh peserta kegiatan melakukan penilaian METT. Kegiatan ini menghasilkan output penilaian METT sebagai berikut : SKW I : CA. Gunung Dako: 63 %, CA. Pangi Binangga: 49%, CA. Sojol: 67 %,SM. Pulau Pasoso: 46 %, SM. Pinjan Tg. Matop: 63 %, CA. Tinombala: 68 %, SM. Pulau Dolangon: 64 %, SM. Tg. Santigi: 60 %, TWA. Wera: 59 %, SKW II : SM. Lombuyan: 51 %, SM. Patipati: 49 %, CA. Tanjung Api: 55 %, TWA. Bancea: 55 %, CA. Pamona: 67 %, CA. Morowali: 63%, TB. Landusa: 54 %, TWA. P. Tokobae : 33 %, SM. Bakiriang: 57 %. Diharapkan dengan hasil penilaian METT yang diperoleh dapat memberikan tantangan agar BKSDA Sulteng dapat meningkatkan kinerja dan strategi yang diambil agar pengelolaan Kawasan Konservasi lingkup BKSDA Sulteng dapat berjalan efektif dan efisien. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

BKSDA Yogyakarta Bersama Polda DIY Ungkap Kasus Penjualan Burung Dilindungi

Yogyakarta, 12 April 2018. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta bekerja sama dengan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil mengungkap kasus penjualan satwa burung yang dilindungi dan menangkap seorang warga Gunung Saren Kidul, Trimurti, Srandakan, Bantul, berinisal SR (32), di rumahnya, Rabu 11 April 2018. Tersangka SR saat ini masih menjalani pemeriksaan intentif di Mapolda DIY untuk proses hukum lebih lanjut. Atas keberhasilan ini, Balai KSDA Yogyakarta dan Polda DIY menyelenggarakan konferensi pers di kantor Polda DIY, 12 April 2018. Dalam jumpa press disampaikan dalam penangkapan ada tujuh burung yang dilindungi dan tidak boleh diperjualbelikan. Burung tersebut terdiri dari kakak tua seram, kakak tua jambu kuning, dan elang bodol, 2 ekor serta elang bido, 1 ekor,” tutur Dir Reskrimsus Polda DIY Kombes Pol Gatot Agus Budi Utomo . Pelaku ijerat Pasal 40 ayat (2) jo Pasal 21 ayat (2) huruf a UU No 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. SR terancam hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta.” Pengungkapan kasus Penangkapkan ini hasil pengembangan informasi dari warga bahwa di wilayah Bantul terdapat penjual burung yang dilindungi yaitu kakak tua seram (jambul orang) seharga Rp3,5 juta, Gatot mengungkapkan, bahwa setelah sampai di lokasi petugas mendapat bantuan dari warga dan menemukan alamat SR. Setelah menunjukkan surat tugas kemudian melakukan pemeriksaan dan benar memang di rumahnya ada beberapa burung yang dilindungi tanpa ada dokumen resmi dari instansi berwenang. "Hasil pemeriksaan kondisi kesehatan 7 ekor burung tersebut secara umum sehat, BKSDA Yogyakarta akan merehabilitasi burung tersebut ke Stasiun Flora dan Fauna di Tahura Bunder Gunungkidul sebelum dikembalikan ke habitatnya" tutur Ir. Junita Parjanti, MT selaku Kepala BKSDA Yogyakarta. Junita juga menambahkan dalam upaya pengawetan dan pelestarian, rehabilitasi membutuhkan waktu cukup lama, yaitu antara 3-5 tahun sebelum siap dilepas di habitatnya. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Balai KSDA Sumsel Kembangkan Kemandirian Ekonomi di Desa Penyangga

Pelajaran, 12 April 2018. Upaya menjaga kelestarian kawasan konservasi selain melalui aktivitas pengamanan dan perlindungan kawasan juga dengan menempatkan masyarakat sebagai mitra strategis pengelolaan. Seksi Konservasi Wilayah (SKW II) Lahat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan (Sumsel) bersama masyarakat Desa Pamahsalak dan Desa Pelajaran, Kecamatan Jarai, Kabupaten Lahat menajamkan kesepahaman dan komitmen untuk bersama-sama mendorong pengembangan usaha ekonomi kreatif desa penyangga sebagai upaya untuk menurunkan tekanan terhadap kawasan konservasi. Kedua desa yang merupakan desa-desa penyangga Kawasan Hutan Suaka Alam Kelompok Hutan (HSA KH) Gumai Tebing Tinggi memiliki komitmen dan konsistensi dalam mendukung upaya perlindungan kawasan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepala desa, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta segenap masyarakat kedua desa tersebut memiliki sumber daya manusia yang potensial untuk didorong dalam mengembangkan usaha ekonomi kreatif. Usaha ekonomi kreatif yang akan dikembangkan di Desa Pamahsalak adalah pengembangan usaha jamur tiram sedangkan di Desa Pelajaran adalah pengembangan usaha lebah madu. Hal penting dalam upaya pengembangan ekonomi kreatif yang akan dikembangkan adalah terkait pangsa pasar produk yang dihasilkan. Untuk pangsa pasar jamur tiram sendiri pada area Kota Pagar Alam dan Kabupaten Lahat cukup menjanjikan bahkan pasokan jamur tiram masih belum bisa memenuhi kebutuhan pasar. Kekurangan pasokan jamur tiram ini merupakan potensi pasar yang diharapkan aliran produk pengembangan ekonomi masyarakat dapat mengalir dari hulu ke hilir. Sedangkan untuk pengembangan lebah madu memiliki prospek yang baik karena kebutuhan akan madu murni sangat tinggi. Pertimbangan tersebut di atas yang mendasari pemilihan usaha lebah madu dan jamur tiram sebagai alternatif peningkatan ekonomi desa penyangga dan karakteristik masyarakat Desa Pamahsalak dan Desa Pelajaran seperti diuraikan di atas menjadi dasar pemilihan kedua desa tersebut sebagai pengembang usaha melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat. Pengelolaan masyarakat ini diharapkan dapat mewujudkan sebuah kemandirian ekonomi yang dapat menekan tekanan masyarakat terhadap kawasan konservasi. Sebuah upaya mengelola masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi untuk mewujudkan kawasan yang lestari dan masyarakat sejahtera melalui pengembangan usaha ekonomi kreatif kepada masyarakat desa sekitar kawasan konservasi dengan menempatkan kegiatan pemberdayaan ekonomi sebagai sarana untuk mewujudkan kemandirian masyarakat. Sumber : Wahid Nurrudin - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Kejadian Luar Biasa Lapisan Es Di Mahameru

Ranupane, 12 April 2018. Peristiwa yang tidak biasa berupa lapisan es di Gunung Semeru dijumpai pada Hari Rabu 11 April 2018. Lapisan dengan ketebalan ± 2 cm dapat ditemukan disela-sela bebatuan jalur pendakian menuju puncak Mahameru. Kejadian tersebut belum pernah dijumpai di lokasi karena biasanya lapisan es hanya dijumpai di Ranu Kumbolo dan Oro-oro ombo. Diperkirakan muncul es tersebut karena cuaca sangat dingin dipuncak Gunung Semeru sekitar - 10°C. Agung Siswoyo selaku Kepala Resort Ranupane SPTN III BBTN Bromo Tengger Semeru takjub melihat fenomena tersebut, “selama saya bekerja di TN Bromo Tengger Semeru belum pernah menjumpai fenomena ini, padahal sekarang masih dimusim pancaroba, karena kejadian lapisan es biasanya terjadi dimusim panas sekitar bulan Agustus.” Fenomena ini kemungkinan karena cuaca ekstrim di puncak Gunung Semeru. Gunung Semeru sendiri merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Ketinggian Puncak Mahameru yang pernah tercatat adalah 3.676 Mdpl. Sumber: BBTN Bromo Tengger Semeru Foto: Rizal Tumpang Camp Adventure
Baca Berita

Kepala Balai TN Ujung Kulon : Luar Biasa Hari Temu Petani Sekolah Lapangan Pertanian Ekologis

Pandeglang — Abdijustisia.com, 11 April 2018. Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon (KTNUK) U. Mamat Rahamat menyebut, bahwa penting untuk dicanangkan kegiatan even Sekolah Lapangan Pertanian Ekologis (SLPE) secara rutin dimulai sejak sekarang ini. Karena menurut dia akan bermanfaat bagi peningkatan mutu SDM (Sumber Daya Manusia) untuk menunjang kelestarian alam lingkungan sekitar, terutama hutan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon. “Tidak ada kata lain yang lebih pantas untuk kelompok Sekolah Lapangan Pertanian Ekologis ini kecuali kata ‘Luar Biasa’. Kita bangga menjadi bagian masyarakat desa hutan penyangga Ujung Kulon yang memilik potensi alam yang kaya dan kreativitas masarakat sekitarnya yang tinggi dan cerdas,” kata Rahmat, disampaikannya dalam acara penutupan even Hari Temu Petani Sekolah Lapangan Pertanian Ekologis di Kampung Cilubang, Desa Cibadak, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang Banten. Rabu 11 April 2018. Dengan cara menerapkan konsep kemitraan masyarakat konservasi, kata Rahmat, dengan mengusung slogan yang sudah dikenal masyatakat luas ‘Masyatakat Ngejo Leweung Hejo’ (Masyarakat Sejahtera, Hutan Lestari). “Saya mengharapkan supaya even ini rutin dilaksanakan pada setiap tahun, supaya menjadi even sekolah lapangan ekologis dan juga even turism of Ujung Kulon atau even wisata Ujung Kulon nanti kedepannya,” kata Kepala Balai TNUK. Dikatakan dia lebih lanjut bahwa berdasarkan Perda Nomor 2 tahun 2013 Tentang Daerah Penyangga TNUK, ada 19 desa dan 2 kecamatan. 12 desa di Kecamatan Cimanggu dan 7 desa di Kecamatan Sumur. Sedangkan yang berbatasan langsung dengan kawasan TNUK ada 15 desa. “15 desa yang berbatasan langsung tapi dalam perakteknya seluruh desa yang diatur dalam perda itu, mencakup keseluruhannya 19 desa, wajib aktif berperan dalam konsep kemitraan masyarakat desa penyangga kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon. Semua desa yang 19 desa itu, semua SKPD (satuan kerja perangakat daerah-Ed.) harus mendukung sepenuhnya pada program kemitraan bersama masyarakat dan TNUK. TNUK sudah mengangkat 85 orang putra daerah sebagai tenaga kontrak penyuluh dengan insentif sebesar Rp.1 juta 500 ribu perbulannya, mereka sudah disebar di setiap Resort,” terang Kepala TNUK. Selogan ‘Masyarakat Ngejo, Leweung Hejo’ mengandung makna philosofis, masih kata Kepala TNUK, kalimat ‘Masyarakat Ngejo’ terlebih dahulu disebutkan, karena masyarakat adalah manusia yang diciptakan Tuhan dengan tugas sebagai Kholifatulloh fil ardhi (pengemban tugas dari Allah untuk memakmurkan bumi–Ed.). Artinya manusialah yang harus memberdayakan segala potensi kekayaan alam yang ada di lingkunnannya untuk kepentingan manusia itu sendiri. Dengan potensi kretivitasnya masyarakat akan sejahtera. Jika masyarakat sudah sejahtera dengan sendirinya hutan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon pun akan lestari. Maka baru pada kalimat ‘Leweung Hejo’ karena masyarakat sudah mencapai tarap kesejahteranya yang cukup maka dibebani taklif (tugas dan tanggung jawab) untuk menjaga alam sekitar, tanpa terkecuali. “Bagaimana masyarakat akan bisa berpikir melestarina lingkungan jika perutnya lapar, sangat tidak munhkin,” ujar dia. Even Hari Temu Lapangan Petanai (Field Day) peserta Sekolah Lapangan Pertanian Ekologis diikuti oleh anggotanya (yang baru berpartisipasi) 5 desa dari Kecamatan Cimanggu dan Kecamatan Sumur,yaitu Desa Rancapinang, Cibadak, Kramatjaya, Tamanjaya dan Desa Ujungjaya. Puncak kegiatannya dilaksanakan di Kp. Cilubang, Desa Cibadak pada Rabu 11 April 2018. Dalam even yang digagas oleh WWF Indonesia, NGO (non govermance organitation) yang bergerak di bidang lingkungan hidup bekerja sama dengan TNUK tersebut dipamerkan beragam jenis tanaman pangan semcama jenis sayur mayur, padi, dan buah-buahan hasil produksi Siswa Sekolah Lapangan Ekologis dengan cara tanam mengunakan pupuk organik yang ramah lingkungan. Dipamerkan juga hasil kerajinan masyarakat semacam jenis panganan, Bandrek produksi masyarakat Cilubang, madu lebah hutan liar Taman Nasional Ujung Kulon, gula aren. Serta beragam produksi kerajinan, diantaranya miniatur patung Badak Jawa sebagai ciri khas ikon Ujung Kulon, cowet dan ulekan terbuat dari kayu, tikar dan tas yang bahan bakunya terbuat dari daun Pandan laut produksi warga masyarakat Desa Rancapinang. Tak ketinggalan pementasan seni budaya tradisional Calung dan Gendang Pencak. Tampak hadir para tamu undangan Muspika Kecamatan Cimanggu, Kadis Pertanian Kabupaten Pandeglang dengan jajarannya, Yayasan Badak Indonesia (YABI), Organisasi Kepemudaan Angkatan Muda Siliwangi (AMS), Lembaga Swasaya Masyarakat (LSM), Para Kepala Desa serta terbuka untuk masyarakat umum. (S.din) Sumber : Balai Taman Nasional Ujung Kulon https://abdijustisia.com/?p=1373
Baca Berita

Sosialisasi Sertifikasi Tanah Di Sekitar Kawasan BBKSDA Jatim Bersama BPN Gresik

Gresik, 11 April 2018. Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Gresik melaksanakan Sosialisasi Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) di Pulau Bawean – Gresik pada 8 - 11 April 2018. Program ini merupakan program sertifikasi tanah yang akan diterapkan di Pulau tersebut. Kegiatan sosialisasi ini menyasar empat desa di Kecamatan Tambak, yakni Desa Klompang Gubug, Desa Kepuh Teluk, Desa Teluk Jatidawang dan Desa Diponggo. Dan Desa Pudakit Barat yang berada di Kecamatan Sangkapura. Pelibatan BBKSDA Jawa Timur dipandang sangat penting mengingat kelima desa tersebut letaknya berbatasan langsung dengan kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Dan Desa Teluk Jatidawang memiliki jalur batas terpanjang diantara desa yang lainnya, yaitu 10 Km. Hingga saat ini sebagian besar tanah hak di Pulau Bawean belum tersertifikasi. Melalui program PTSL ini diharapkan seluruh bidang tanah di lima desa tersebut dapat terdaftar dan dipetakan. BPN Kab. Gresik akan melibatkan pihak BBKSDA Jatim, dalam hal ini Resort Konservasi Wilayah Pulau Bawean dalam pengukuran bidang tanah warga yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi. Hal ini untuk memastikan bahwa bidang tanah yang diukur tersebut tidak masuk ke dalam kawasan suaka margasatwa. Dalam kesempatan tersebut juga ditegaskan bahwa BPN tidak akan menerbitkan sertifikat apabila nanti ada ada pihak-pihak yang mencoba mengklaim kawasan hutan sebagai tanah hak. Sebab sampai saat ini-pun peta yang menjadi pedoman BPN mengacu pada Surat Keputusan Bersama dengan Menteri Kehutanan Tahun 2014. Sumber : Arief Adhi Pratama - PEH Pertama pada Bidang KSDA Wilayah II - Gresik Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Balai TN Komodo Sosialisasi Aturan Zonasi

Labuan Bajo, 11 April 2018. Balai TN. Komodo melaksanakan sosialisasi tentang aturan zonasi TN. Komodo (11/4/18). Hadir dalam sosialisasi ini Kapolres Manggarai Barat AKBP Julisa Kusumowardono, Kepala Dinas Pariwisata Manggarai Barat, PIC Pokja Percepatan Pembangunan 10 DPP, KUPP, Humas Manggarai Barat, DOCK, DPC HPI Manggarai Barat, P3K, ASKAWI, WWF, Genpi NTT dan ASITA. "Saya ingin melakukan konsolidasi dan membangun sinergisitas antara stakeholder dalam pengelolaan taman nasional, sehingga semua pihak merasa memiliki TN. Komodo" ujar Kepala Balai TN. Komodo Budhy Kurniawan saat membuka acara. Lebih lanjut Budhy menyampaikan rencananya untuk melakukan sosialisasi kepada para nelayan didalam kawasan TN. Komodo. “Dalam waktu dekat kami juga akan melakukan sosialisasi aturan zonasi kepada para nelayan, selain itu kami juga akan door to door ke travel agen di Labuan Bajo”. Kapolres Manggarai Barat AKBP Julisa Kusumowardono turut mengapresiasi dilaksanakannya kegiatan sosialisasi ini karena memiliki unsur-unsur yang sifatnya kontributif. Kapolres juga berharap agar kegiatan sosialisasi juga diseimbangkan dengan kegiatan peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Sosialisasi penting dilakukan tetapi harus diseimbangkan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang tersisih dapat menjadi api dalam sekam”. Diakhir sosialisasi tersebut, para pihak yang hadir menyepakati beberapa hal yakni berperan secara aktif untuk menjaga TN. Komodo, menaati seluruh peraturan perundangan atau kebijakan yang berlaku di TN. Komodo serta membangun koordinasi dan komunikasi yang intensif dalam mewujudkan Taman Nasional Komodo sebagai Destinasi Wisata Dunia. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo
Baca Berita

Panen Perdana Madu Kelompok Tani Pantang Mundur Binaan BKSDA Sumatera Selatan

Penandingan, 11 April 2018. Akhirnya saat yang dinantikan itupun tiba dimana salah satu kelompok tani binaan di wilayah Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan (Sumsel) melakukan panen perdana madu. Panen madu tersebut merupakan hasil budidaya lebah madu oleh Kelompok Tani Pantang Mundur yang memperoleh bantuan pengembangan ekonomi masyarakat dari BKSDA Sumsel pada tahun 2017 dan pencapaian tersebut menunjukkan bahwa pembekalan materi budidaya lebah madu dan pengelolaan bantuan fisik pengembangan lebah madu yang telah diberikan oleh BKSDA Sumsel dikelola dengan baik oleh masyarakat. Segala upaya terus diupayakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan dalam menjaga kelestarian kawasan konservasi. Upaya menjaga kelestarian kawasan konservasi tersebut selain melalui aktivitas pengamanan hutan dan hasil hutan juga dengan menempatkan masyarakat sebagai sasaran pengelolaan. Pengelolaan masyarakat ini diharapkan dapat mewujudkan sebuah kemandirian ekonomi yang dapat menekan tekanan masyarakat terhadap kawasan konservasi. Sebuah upaya mengelola masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi untuk mewujudkan kawasan yang lestari dan masyarakat sejahtera yang salah satu strateginya adalah mengupayakan pengembangan usaha ekonomi kreatif kepada masyarakat desa sekitar kawasan konservasi dengan menempatkan kegiatan pemberdayaan ekonomi sebagai sarana untuk mewujudkan kemandirian masyarakat. Sumber : Wahid Nurrudin - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Bangau Tong Tong Yang Hampir Terjual

Sintang, 11 April 2018. Media Sosial Internet saat ini menjadi wadah berbagi segala informasi yang digunakan hampir semua kalangan. Berdasarkan laporan masyarakat pengguna Media Sosial Internet (Facebook) dengan menandai (tag people) Balai KSDA Kalimantan Barat disalah satu forum informasi. Laporan masyarakat tersebut langsung ditindaklanjuti oleh tim Wild Rescue Unit (WRU) Balai KSDA Kalimantan Barat di Seksi Konservasi Wilayah II. Setelah melakukan pencarian informasi mengenai keberadaan bangau tersebut, tim WRU berhasil mendapatkan lokasi pemilik yang menggunggah (upload) satwa tersebut di Media Sosial. Berdasarkan keterangan dari pemilik, bangau tersebut baru diperolehnya beberapa hari yang lalu di sekitar tempat tinggalnya. Sedangkan perbuatannya menggunggah foto satwa tersebut di Media Sosial murni disebabkan karena ketidaktahuannya mengenai status dilindungi untuk satwa bangau yang diperolehnya itu. Setelah mendapat penyuluhan mengenai satwa-satwa dan tumbuhan dilindungi, secara sukarela pemilik menyerahkan bangau tersebut kepada tim WRU Balai KSDA Kalimantan Barat. Bangau Tong Tong hasil serahan untuk sementara waktu di titipkan di kandang transit Balai KSDA Kalimantan Barat di Seksi Konservasi Wilayah II Sintang. (Gtm) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Petugas Balai TN Meru Betiri Dampingi Masyarakat Budidaya Jamur Tiram

Kalibaru, 11 April 2018. Petugas Resort Malangsari melakukan pendampingan kegiatan pemberdayaan masyarakat, SPKP "Multi Kreasi Sejahtera". Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) ini berada di Desa Kebonrejo. Salah satu usaha yang dilakukan anggota SPKP yaitu budidaya jamur tiram. Kunjungan kali ini dilakukan di rumah Dedy Sugiarto pemilik usaha jamur tiram. Saat ditemui, Dedy sedang memulai proses pembuatan baglog jamur yang baru. Satu baglog dapat bertahan 2-3 bulan dan bisa penen setiap hari. “Saat ini saya akan membuat sebanyak 300 baglog untuk keperluan sendiri. Selain untuk sendiri, baglog juga dijual. Sampai dengan saat ini sudah menjual 1.500 baglog.” Jelas Dedy Sugiarto. Baglog adalah media siap panen, pembeli tinggal merawat dan mengkondisikan lingkungan tempat baglog diletakkan agar sesuai dengan kondisi ideal untuk pertumbuhan jamur. Dan menunggu hingga waktu panen tiba. Satu baglog dijual dengan harga Rp. 2.300,-. Kunjungan dilanjutkan ke H. Dasuki dan putranya Ali Purwanto yang melakukan budidaya ayam petelor. Saat ini mereka memiliki 150 ekor ayam petelor. Dalam sehari bisa menjual 9 (sembilan) kg telur. Jumlah ini tidak seimbang dengan jumlah pesanan yang membludak. “Harapan ke depan usaha para anggota SPKP semakin besar sehingga mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak. Karena salah satu indikator program pemberdayaan masyarakat dikatakan berhasil ketika mampu menyerap tenaga kerja yang banyak.” Ungkap Dody Setiawan, S.Hut. Kepala Resort Malangsari. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

BBKSDA NTT Bentuk Masyarakat Mitra Polhut di Maumere

Maumere, 11 April 2018. Balai Besar KSDA NTT melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV Maumere telah melaksanakan Pembentukan Kelembagaan Kelompok Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dengan sasaran sebanyak 50 orang masyarakat dari desa-desa penyangga kawasan konservasi. Peserta Bakal Calon Anggota MMP tersebar dalam 5 wilayah kerja resort konservasi wilayah (RKW) dengan kondisi wilayah dan akses yang relatif cukup berjauhan sehingga pelaksanaan kegiatan tidak terpusat pada satu tempat tetapi menyesuaikan dengan wilayah kerja masing-masing resort konservasi wilayah. Tahap awal pelaksanaan Pembentukan MMP masih difokuskan pada wilayah Kabupaten Sikka pada dua RKW yaitu RKW Suaka Margasatwa Egon Ilimedo (dilaksanakan tanggal 3 April 2018 dengan peserta sebanyak 10 orang) dan RKW Teluk Maumere (dilaksanakan tanggal 11 April 2018 dengan peserta 10 orang). Sedangkan pelaksanaan pada tahap kedua akan dilaksanakan di Kabupaten Alor pada bulan Mei 2018 dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang yang tersebar pada 3 RKW. Adapun materi yang disampaikan dalam pembekalan kepada anggota MMP tersebut adalah pengelolaan kawasan konservasi, perlindungan dan pengamanan kawasan, peredaran tumbuhan dan satwa liar, dukungan pemerintah daerah khususnya pemerintah desa dalam mendukung pengelolaan KSDAE, serta dukungan kepolisian dalam penanganan kasus tindak pidana kehutanan. Narasumber kegiatan terdiri dari Kepala Bidang KSDA Wilayah II, Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV, Polri, Polhut, KPH Wilayah Kabupaten Sikka dan KPH Wilayah Kabupaten Alor, serta para Kepala Desa setempat. Metode pelaksanaan kegiatan yang digunakan adalah pemaparan oleh narasumber dan diskusi, Setelah dilakukan pemilihan pengurus kelompok MMP, kegiatan diakhiri dengan Pengukuhan Anggota Kelompok MMP melalui Penandatanganan Berita Acara Pembentukan Kelembagaan Kelompok MMP dan penyerahan kartu tanda anggota MMP secara simbolis kepada anggota MMP yang telah dikukuhkan. Melalui pernyataan komitmen, diharapkan anggota MMP dapat membantu tugas-tugas polisi kehutanan dalam melakukan upaya perlindungan dan pengamanan kawasan, peredaran tumbuhan dan satwa liar, serta menyuarkan pesan-pesan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, khususnya di wilayah kerja SKW IV Maumere. Salah satu tugas dan fungsi Balai Besar KSDA NTT dalam pelibatan masyarakat untuk ikut berperan secara aktif dalam pengelolaan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya adalah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan pembentukan Kelembagaan Kelompok Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan pada desa-desa penyangga kawasan konservasi dalam wilayah kerja Balai Besar KSDA NTT. Sumber : Fendy Bagus Susanto - POLHUT Pelaksana Seksi Konservasi Wilayah IV pada Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

BBKSDA Jatim dan Ditjen PPI Ajak 60 Warga Pelatihan Pengendalian Karhutla

Kertosari, 11 April 2018. Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim menyelenggarakan kegiatan Fasilitasi Pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA) di Provinsi rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2018. Kegiatan ini dilaksanakan di desa Kertosari, kec. Purwodadi, kab. Pasuruan yang berada di wilayah Kerja resort konservasi wilayah 20 Pasuruan, seksi konservasi wilayah 6 probolinggo, Bidang KSDA Wil. III Jember Balai Besar KSDA Jatim. "Saya berharap dengan adanya kegiatan ini dapat menambah pengetahuan teknik pengendalian dan pemadaman hutan dan lahan, dan salah satu dari anggota MPA nantinya dapat menjadi anggota MPA teladan dalam puncak acara Wana Lestari yang akan mendapat penghargaan langsung dari Presiden RI" ujar Kepala Balai Besar KSDA Jatim, Nandang Prihadi dalam sambutan dan arahannya. Kegiatan ini diikuti oleh 60 peserta yang berasal 3 kelompok MPA, yaitu kelompok MPA Gn. krikil desa kertosari, kelompok MPA Sumber Baung desa lebak rejo dan kelompok MPA Gn. Abang desa sapulantai ampelsari. Kegiatan meliputi materi dan praktek pemadaman kebakaran. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Kompak, Seluruh Staf Balai TN Taka Bonerate Bersih-bersih Kampung Penyu

Kampung Penyu - Kepulauan Selayar, 11 April 2018. Berbagai instansi terlibat dalam giat Bersih Pantai ini. Tak mau ketinggalan Balai TN. Taka Bonerate juga melibatkan seluruh stafnya untuk bersih-bersih di Kampung Penyu (KP), Dusun Tulang Desa Barugaiya Kec. Bontomanai Kab. Kepulauan Selayar. Kegiatan ini diinisiasi oleh Dinas Kepariwisataan dalam rangka persiapan salah satu event kalender pariwisata Kepulauan Selayar "Attoan Tu Rie're". Ikut terlibat dalam giat bersih pantai seluruh OPD se-Kab.Kep. Selayar sekitar 400 orang. "Tujuan bersih Kampung Penyu ini, selain agar penyu nyaman bertelur, juga untuk mendukung kesuksesan acara wisata budaya yang tinggal beberapa hari ini" Ucap Faat Rudhianto Kepala Balai TN. Taka Bonerate. Sekadar informasi bahwa kegiatan ini akan terlaksana pada tanggal 14 April 2018 Minggu ini. Mari kita dukung kegiatan ini, Ayo Ke Selayar!!! Ayo Ke Taka Bonerate!!! Sumber : Asri - PEH Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Pemerintah Provinsi Sulteng Undang Balai KSDA Sulteng Untuk Penanganan Buaya di Sungai Palu dan Teluk Palu

Palu, 11 April 2018. Penanganan buaya khususnya yang berada di Sungai Palu dan Teluk Palu mulai mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Balai KSDA Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) diundang sebagai narasumber untuk penanganan buaya yang telah dilakukan dan solusi yang akan diambil. Populasi buaya di Sungai Palu dan Teluk Palu sekitar muara sungai berkisar antara 20-26 ekor, berdasarkan inventarisasi yang telah dilakukan tim Balai KSDA Sulteng selama 3 hari dengan waktu pengamatan siang dan malam. Rapat koordinasi dilaksanakan diruang rapat Sekretaris Provinsi Sulawesi Tengah di pimpin langsung oleh Sekretaris Provinsi yang dihadiri oleh Asisten II, Kepala Biro Umum Setdaprop, Polairud, Dinas Kehutanan Prov.Sulteng, Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Sulteng, dan Dinas Perhubungan Prov. Sulteng. Dalam rapat koordinasi tersebut menghasilkan beberapa solusi untuk penanganan buaya di Sungai Palu dan Teluk Palu yaitu mendorong pembangunan penangkaran dan taman satwa. Beberapa upaya yang telah dilakukan Balai KSDA Sulteng antara lain : membentuk tim satgas buaya, mengadakan in house training penanganan buaya, menginventarisasi buaya, mengevakuasi buaya hasil penyerahan masyarakat dan informasi dari media sosial, memasang papan himbauan disekitar sungai palu, muara sungai palu, pantai talise dan meningkatkan pengawasan serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar berhati-hati dan mengurangi aktifitas disekitar pantai/jembatan talise. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Polairud Polda Sulteng Undang Kepala Balai KSDA Sulteng di Rakor Maritim

Palu, 11 April 2018. Balai KSDA Sulawesi Tengah menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Rapat Koordinasi Unsur Maritim Tahun 2018 yang diadakan oleh Polairud Polda Sulawesi Tengah. Adapun materi yang disampaikan oleh Kepala Balai KSDA Sulawesi Tengah, Bapak Ir. Noel Layuk Allo, MM adalah mengenai Sinergitas BKSDA Sulteng dalam Penanganan Hewan yang Dilindungi di Wilayah Perairan dan Regulasinya. Dalam pemaparannya, Kepala Balai menjelaskan mengenai tupoksi Balai KSDA, 18 wilayah kerja Balai KSDA yang mencakup 10 (sepuluh) kabupaten yang ada di wilayah Prov. Sulawesi Tengah, hewan perairan apa saja yang dilindungi yang berada di wilayah Prov. Sulawesi Tengah beserta regulasinya. Memberikan info tentang pelayanan BKSDA Sulawesi Tengah melalui Call Centre BKSDA Sulteng dan juga telah membentuk forum komunikasi/Wag mitra media BKSDA Sulteng. Tak lupa Kepala Balai KSDA Sulawesi Tengah juga memaparkan Sepuluh Cara (Baru) Mengelola Kawasan Konservasi Di Indonesia yang merupakan buah karya Direktur Jenderal KSDAE, Bapak Ir. Wiratno, M.Sc. Ke sepuluh cara baru tersebut antara lain ; 1). Masyarakat sebagai subyek pengelolaan; 2). Penghormatan pada HAM; 3). Kerja sama lintas Eselon I KLHK; 4). Kerja sama lintas Kementerian; 5). Penghormatan nilai budaya dan adat; 6). Multilevel leadership; 7). Scientific Based Decision Support System; 8). Resort (Field) Based Management; 9). Reward and Mentorship; 10). Learning Organization; Di akhir pemaparan, Kepala Balai mengharapkan adanya komitmen, kerjasama, koordinasi dan komunikasi yang lebih intensif lagi untuk bersama-sama menjaga kawasan beserta flora fauna yang ada di dalamnya, khususnya yang berada di wilayah perairan. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Serah Terima Jabatan Kepala SPTN Wilayah III Balai TN Kepulauan Togean

Ampana, 11 April 2018. Pada hari Rabu tanggal 11 April 2018 telah dilaksanakan acara Serah Terima Jabatan Kepala SPTN Wilayah III Popolii dari Kepala SPTN III sebelumnya yaitu Bapak Yakub Ambagau, S.Hut.,M.P. kepada Bapak Hariadi Siswantoro, S.Si.,M.Si. Bapak Hariadi Siswantoro sebelumnya merupakan fungsional PEH pada Seksi Pelayanan dan Perizinan Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan sedangkan Bapak Yakub Ambagau selanjutnya akan menempati jabatan baru sebagai Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Bitung BKSDA Sulawesi Utara. Acara serah terima jabatan ini dipimpin oleh Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Togean dan dihadiri pula oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, fungsional PEH, Polhut, Penyuluh, fungsional umum dan tenaga kontrak Balai TN Kepulauan Togean. "Terima kasih atas kinerja baik yang telah dilaksanakan oleh Kepala SPTN III sebelumnya dimana telah terjalin koordinasi dan kerjasama yang baik dengan pemerintah kecamatan setempat, kepala desa, Polsek, dan masyarakat sekitar yang meliputi wilayah Kecamatan Walea Kepulauan dan Walea Besar" ujar Kepala Balai TN Kepulauan Togean. Beliau menambahkan walaupun hanya dalam kurun waktu 2 tahun, telah banyak perubahan baik yang telah dilakukan oleh Bapak Yakub. Beliau menyampaikan selamat bertugas di tempat yang baru dan dapat membawa hal-hal yang baik dari tempat lama ke tempat yang baru "Terima kasih kepada Kepala Balai dan segenap jajaran pegawai di Balai TN Kepulauan Togean atas kerjasama dan beberapa masukan sehingga dapat terlaksananya kegiatan dengan baik" ucap Bapak Yakub. Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh staf karena dengan keterbatasan SDM/pegawai tapi mampu melakukan tugas sama baiknya dengan UPT yang lain. "Saya akan meneruskan hal-hal baik yang telah dilakukan oleh Bapak Yakub sebelumnya, meneruskan apa yang belum selesai, dan melakukan apa yang belum terlaksana" tutup Bapak Hariadi pada sambutannya. Di akhir acara, dilakukan penandatanganan Berita Acara Serah Terima Jabatan dan penyerahan Buku Memori Serah Terima. Sumber : Balai Taman Nasional Kepulauan Togean

Menampilkan 8.241–8.256 dari 11.140 publikasi