Sabtu, 18 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Balai TN Rawa Aopa Watumohai Turut Serta Memeriahkan Event Nasional “Pesona Halo Sultra 2018”

Kendari, 25 April 2018. Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) ikut berpartisipasi dalam event tahunan PESONA HALO SULTRA ke 10 Tahun 2018 memperingati HUT Provinsi Sulawesi Tenggara ke 54 di Area Tugu Ex MTQ Kendari yang telah dibuka pada hari Senin tanggal 23 April 2018 malam oleh Drs Teguh Setiyabudi selaku Pj. Gubernur Sultra yang berlangsung sampai dengan tanggal 27 April 2018. Event HALO SULTRA 2018 ini telah ditetapkan dalam 100 event Wonderful Indonesia oleh Kementerian Pariwisata RI. Dalam event ini, stand pameran Balai TNRAW dengan dengan konsep ekosistem hutan pegunungan dataran rendah dan savana menampilkan berbagai potensi yang ada baik wisata alam yang ada beserta konsep desain tapaknya maupun potensi keanekaragaman hayati khususnya keragaman burung serta produk kelompok masyarakat binaan berupa kerajinan totole atau pandan rawa, ikan asap, terasi dan souvenir miniatur rumah pohon. Kemeriahan Pesona Halo Sultra 2018 dengan berbagai acara termasuk pameran yang diikuti oleh beberapa instansi lingkup Provinsi Sulawesi Tenggara, pelaku bisnis dan swasta diantaranya Balai TNRAW mampu menyedot antusiasme warga masyarakat Sulawesi Tenggara khususnya kota Kendari dan sekitarnya. Booth stand Balai TNRAW yang tergabung dalam Stand Kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara bersama-sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara yang terdiri dari beberapa KPH Se Sultra, Balai KSDA Sultra, BPKH XXII Kendari, BPDAS Sampara dan Manggala Agni DAOPS Tinanggea menjadi salah satu primadona pengunjung karena terdapat banyak hal-hal menarik baik berupa media informasi, games, quisioner berhadiah maupun spot berfoto instagramable. Pengunjung yang tercatat dibuku tamu sampai dengan tanggal 24 April 2018 sebanyak 268 orang dengan golongan umur yang beragam mulai dari anak- anak sampai orang dewasa. Kebanyakan pengunjung di booth TNRAW untuk berfoto dengan latar hutan dan savana “bukit modus” disamping untuk mengetahui informasi tentang TN Rawa Aopa Watumohai yang sebagian pengunjung belum pernah dan tertarik untuk datang ke TNRAW. Dengan data pengunjung yang ada tersebut, Balai TNRAW yakin jumlah kunjungan di stand Balai TNRAW akan meningkat mengingat penutupan event pameran HALO SULTRA 2018 masih beberapa hari lagi, sehingga diharapkan dari keikutsertaan Balai TNRAW di event tahunan provinsi Sultra yang sudah menjadi agenda nasional ini dapat berefek positif ke dalam perkembangan TNRAW ke depan. Sumber : BTNRAW
Baca Berita

Penyusunan Desain Tapak Wisata Alam Laputi

Pengelolaan pariwisata alam di kawasan Taman Nasional mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor: P. 3/IV-SET/2011 tentang Pedoman Penyusunan Desain Tapak Pengelolaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam. Atas dasar itulah Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) mengundang pakar ekowisata, Dr. Ricky Avenzora, untuk memberikan masukan dalam menyusun desain tapak wisata alam Laputi. Desain tapak dimaksudkan untuk membagi ruang pengelolaan pariwisata alam di zona/blok pemanfaatan dan zona/blok perlindungan/rimba/bahari yang diperuntukkan bagi ruang publik dan ruang usaha penyediaan jasa/sarana pariwisata alam. Dalam diskusi yang dilakukan dengan Kepala Balai TN Matalawa, Maman Surahman, S.Hut, M.Si, bersama dengan tim penyusunan desain tapak, Dr. Ricky menyebutkan bahwa potensi pengembangan wisata di Pulau Sumba pada umumnya masih sangat terbuka, begitu pun dengan pengembangan wisata alam Laputi yang sudah terkenal dengan keindahan air terjunnya. Pengalaman Dr. Ricky sebagai pakar yang sudah lebih dari 20 tahun berkiprah di bidang ekowisata akan menjadi masukan berarti untuk pengembangan wisata alam Laputi. Tim yang telah dibentuk akan bersama-sama melakukan pemeriksaan lapangan sehingga diperoleh data yang valid untuk menyusun desain tapak di lokasi wisata ini. Sumber: Dwi Putro – Balai TN Matalawa
Baca Berita

Kepala Balai Besar KSDA Jatim Pimpin Upacara Hari Otonomi Daerah

Sidoarjo, 25 April 2018. Peringatan hari otonomi daerah ke-22 lingkup Dinas Kehutanan dan UPT KLHK Provinsi Jatim ditandai dengan pelaksanaan upacara yang diikuti oleh pegawai dinas kehutanan Prov. Jatim, BBKSDA Jatim dan Balai Gakkum Jabalnusra. Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) turut hadir dalam pelaksanaan upacara tersebut dengan diadaulatnya Kepala BBKSDA Jatim sebagai inspektur upacara Hari Otonomi Daerah. Hari otonomi daerah ke-22 tahun 2018 mengangkat tema “Mewujudkan Nawa Cita Melalui Penyelenggaraan Otonomi Daerah Yang Bersih dan Demokratis”. Dalam sambutan Menteri Dalam Negeri yang disampaikan Dr. Nandang Prihadi,S.Hut.,M.Sc. (Kepala BBKSDA Jatim) menekankan bahwa tahun 2018 adalah tahun politik, netralitas PNS harus diutamakan, inovasi dalam pembangunan dan pelaksanaan pemerintahan yang akuntabel, transparan, berkepastian hukum dan partisipatif. Selamat Hari Otonomi Daerah. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Pelatihan Pembuatan Rumpon di Pantai Pandean TN Baluran

Pantai Pandean, 25 April 2018. Balai Taman Nasional Baluran mengadakan Pelatihan Pembuatan Rumpon Bagi Kelompok Masyarakat Pantai Pandean pada tanggal 24-25 April 2018. Pelatihan diadakan di Pelelangan Ikan Pandean yang diikuti 30 orang peserta yang berasal dari Kelompok Masyarakat Pengawas Pantai Pandean, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Rukan Nelayan Pandean, Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Cipta Bahari, Karang Taruna Gema Mahardhika dan Kelompok Masyarakat Perengan Indah Lestari dengan narasumber dari Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Penangkapan Ikan Probolinggo. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan memberikan keterampilan kepada masyarakat dalam membuat rumpon. Selain itu sebagai sarana pendidikan konservasi dan eduwisata bagi pengunjung di Pantai Pandean serta menambah atraksi wisata di Pantai Pandean dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Pantai Pandean merupakan kawasan di Taman Nasional Baluran yang berbatasan langsung dengan masyarakat Desa Wonorejo khususnya dusun Pandean. Wilayah Pantai Pandean menjadi salah satu wilayah yang dilakukan pengembangan untuk pengelolaan wisata bersama masyarakat dimana wilayah tersebut merupakan bagian dari Zona Tradisional di Taman Nasional Baluran. Sumber : Balai Taman Nasional Baluran
Baca Berita

Partisipasi BBKSDA Sumut Di Lombok PPUN Expo 2018 Buahkan Hasil

Medan, 25 April 2018. Dalam rangka mempromosikan serta mensosialisasikan berbagai potensi kawasan konservasi (baik potensi keragaman hayati maupun potensi wisata) serta aktivitas-aktivitas Konservasi Alam di Sumatera Utara, Balai Besar KSDA Sumatera ikut berperan aktif dalam kegiatan Lombok PPUN Expo Pameran Produk Unggulan Perdagangan, Pariwisata dan Investasi, yang berlangsung dari tanggal 19-22 April 2018 yang lalu, di Lombok Epicentrum Mall-Mataram, Propinsi Nusa Tenggara Barat. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. menjelaskan, bahwa event Lombok PPUN Expo ini menjadi ajang bagi Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk memperkenalkan kawasan-kawasan konservasi yang layak jual sebagai objek dan tujuan wisata, seperti : Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit, TWA. Lau Debuk-debuk, TWA. Danau Sicike-cike, SM. Karanggading, CA. Dolok Tinggi Raja, Sanctuary Harimau Barumun, Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit dan Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC). Berbagai bahan dan materi pameran pun ditampilkan, berupa : booklet, buletin, sticker, film dokumenter, dan lain-lain. Disamping itu, stand pameran Balai Besar KSDA Sumatera Utara juga melakukan edukasi kepada masyarakat pengunjung melalui games/permainan Tebak Gambar. Games ini menarik perhatian pengunjung untuk menguji pengetahuan dan pengenalan tentang beberapa jenis tumbuhan dan satwa liar, khususnya yang dilindungi undang-undang. Sebagai apresiasi atas partisipasi pengunjung, panitia pameran Balai Besar KSDA Sumatera Utara memberikan cindera mata berupa kaos dan souvenir lainnya. Pameran yang dibuka secara resmi oleh Sekretaris Dinas Perindustrian Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Bambang Sugeng Hariadi, mewakili Gubernur NTB, diikuti oleh 30 stand pameran dari berbagai instansi pemerintah, UKM dan pihak swasta, diantaranya Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM), Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Pemerintahan Propinsi Banten, Propinsi Nusa Tenggara Barat, Pemerintahan Kabupaten Sumedang, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Oku Selatan Propinsi Sumatera Selatan, Pemerintahan Kota Yogyakarta, Kota Malang, Kabupaten Bone, Dekranasda Kabupaten/Kota, dan pelaku dunia usaha lainnya. Kerja keras Team Pameran Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang bekerja secara optimal dan maksimal, diapresiasi oleh Panitia Penyelenggara, dalam hal ini PT. Pancawira Kreasindo, Stand Pameran Balai Besar KSDA Sumatera Utara ditetapkan sebagai Stand Pameran Terbaik II. Kepala Bagian Tata Usaha, Teguh Setiawan, atas nama Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, menyambut baik prestasi yang dicapai oleh Team Pameran dan berharap prestasi ini dapat dipertahankan serta ditingkatkan lagi di waktu-waktu yang akan datang. (Evan) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

BBKSDA Papua Ikut Menyaksikan Progres Pengembalian Satwa Asli Papua

Jayapura, 25 April 2018. Pusat Penyelamatan Satwa memiliki peran yang cukup penting dalam hal membantu melindungi keanekaragaman hayati, khususnya untuk satwa liar. Salah satu upayanya dalam hal tersebut diimplementasikan dalam suatu forum terbuka yaitu mini workshop dengan mengundang pihak-pihak yang berkaitan dengan perlindungan keanekaragaman hayati, antara lain perwakilan dari Direktorat KKH dan Direktorat Jenderal KSDAE, BBKSDA Jawa Barat, BBKSDA Papua, PTG. Freeport Indonesia, USAID Lestari, PPS Tasikoki, PPS Gadog/ ASTI dan YCKT-PPSC. Beberapa hal yang penulis kutip berdasarkan hasil notulensi dari mini workshop tersebut antara lain, penyelenggaraan mini workshop ini adalah di Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga/ Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu yang terselenggara pada hari rabu dan kamis, tanggal 4 sampai dengan 5 April 2018 yang berlokasi di Cisitu, Sukabumi. Hasil yang dapat dirangkum dalam workshop tersebut antara lain dengan mempertimbangkan semakin banyaknya satwa hasil operasi baik patroli, sitaan maupun hasil penyerahan dengan sukarela yang dititipkan di sanctuary tersebut, maka akan dilakukan proses berikutnya yaitu pelepasan kembali ke habitat aslinya. Dengan demikian, yayasan/ pusat penyelamatan satwa tersebut memahami bahwa hal tersebut tidak dapat dilakukan jika bekerja sendiri, melainkan harus bekerja bersama pihak lain/ instansi pemerintahan yang terkait. Hasil lainnya menyatakan bahwa proses pengembalian satwa yang dimaksud, khususnya satwa asli Papua harus mengikuti prosedur secara administratif dan teknis sesuai aturan yang berlaku, maka harus ada legitimasi lembaga yang akan menerima dan mengelola satwa hasil pengembalian yang dimaksud adalah Pusat Rehabilitasi Satwa. Dengan membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang, membuat kegiatan ini semakin matang untuk mendapatkan output sesuai harapan. Rencana/program jangka pendeknya adalah pengembalian kasuari gelambir ganda, dan rencana jangka panjangnya adalah pengembalian semua jenis satwa asal Papua lainnya. Dalam hal menjalankan rencana jangka pendeknya, telah terdaftar sebanyak 26 ekor Kasuari Gelambir Ganda (Casuarius casuarius) yang berasal dari PPST, PPSG, PPSJ, PPSC. Pusat rehabilitasi satwa yang dimaksud di atas yang akan direncanakan difungsikan sebagai penerima dan mengelola satwa hasil pengembalian yaitu Pusat Karantina penampungan satwa di M21 dengan luas 2 Ha berjarak 15 km dari Pusat Rehabilitasi di hutan Lindung Nayaro yang memiliki luas 100 Ha. Sebagai Pusat Rehabilitasi satwa wajib mengikuti ketentuan standar pengelolaannya antara lain memiliki Ahli Hewan atau Dokter Hewan, Keeper/ penjaga lokasi, klinik/ ruang observasi, kantor/ ruang administrasi, kandang dan gudang makanan. Dalam hal persiapan proses pengembalian kasuari gelambir ganda ini harus mengikuti beberapa prosedur standar mulai dari pemeriksaan kesehatan, koordinasi dengan dinas peternakan di Papua, sampai kepada perijinan mengenai unggas yang akan masuk ke Papua. Hal ini tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat melainkan dengan perencanaan yang matang mulai dari persiapan satwanya sendiri baik dalam kondisi fisiknya maupun kondisi psikisnya karena akan melakukan perjalanan jauh. Kemudian persiapan mengenai transportasi serta kandang yang akan mengikuti bagaimana alat transportasi yang akan dipilih. Untuk langkah awalnya akan dilakukan pelepasliaran kasuari gelambir ganda yang berada di suaka/ pusat penyelamatan satwa PPSC. Sumber : Bambang H. Lakuy, S.P., Drh. Cyntia Sihombing dan Kurnianingsih, A.Md. - Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Harum Emas dari dalam Lumpur Asmat

April 2018. Empat lelaki Asmat mengenakan mahkota adat dari bulu kasuari, bertelanjang dada dan kaki. Seorang dari mereka berjongkok di pinggir kubangan lumpur sembari mengais-ngais serpihan kayu. Sementara tiga lelaki lainnya menusuk-nusukkan batang besi kecil dengan ujung runcing berpengait. Tiba-tiba lelaki yang berjongkok di pinggir kubangan berteriak memanggil tiga temannya. Dengan bahasa daerah Asmat yang cenderung mirip dengung dan sepertinya sangat sulit dipelajari, lelaki itu mengabarkan kepada teman-temannya, bahwa ia menemukan benda magis yang mereka cari. Sontak mereka mencebur ke dalam kubangan, lantas menyerukan suatu gumam secara serempak. Nadanya tegas namun ritmis. “Hoo! Hoo! Hoo! Hoo!” Begitulah kedengarannya. Gumam itu didendangkan dengan suka cita, sambil menggoyang-goyangkan sesuatu yang masih tersembunyi di dalam lumpur. Tampak seirama dan harmoni antara gumam dan gerak tubuh mereka yang terendam hingga batas dada dan bahu. Wajah-wajah mereka menampakkan ekspresi antara bahagia sekaligus diliputi tanda tanya. Mungkin saja gumam yang ritmis itu sama halnya ungkapan syukur atau bahkan do’a-do’a. Selang sekitar tiga menit, gumam itu berubah teriakan panjang yang menandakan akhir sebuah proses. Tangan-tangan mereka serempak menyembul ke permukaan mengangkat sebongkah kayu berbalut lumpur. Senyum mengembang di bibir mereka saat bersama-sama meletakkan bongkahan kayu itu di sisi kubangan. Tangan-tangan mereka yang cekatan mulai membersihkan lumpur, meskipun belum bersih sempurna saat itu juga. Bongkahan kayu itulah yang disebut emas dari dalam lumpur. Aromanya harum, dan warnanya tetap kuning keemasan meski telah terendam dalam jangka waktu yang tak dapat diperkirakan. Itulah gaharu dari pedalaman Asmat, Papua. Keharumannya telah menguar ke berbagai belahan dunia, dan telah bertahun-tahun menjadi tumpuan harapan bagi masyarakat di Kampung Jinak, Distrik Suator, Kabupaten Asmat. Masyarakat Asmat biasa mencari gaharu ke dalam hutan secara berkelompok, tiga hingga lima orang. Jaraknya cukup jauh dari kampung. Mereka harus naik perahu menyusuri Sungai Siret yang panjang berkelok, lalu masuk ke anak Sungai Jue, barulah tiba di tepi hutan, tempat biasa mencari gaharu. Dari tepi itu, mereka masih berjalan kaki sekitar 356 meter ke dalam hutan. Dalam sekali waktu pencarian, mereka biasanya membawa pulang bongkahan kayu gaharu sejumlah kelompok mereka. Besarnya bervariasi, namun menandakan itu adalah bekas pohon tumbang yang usianya cukup tua. Satu bongkah bisa seukuran rangkulan kedua lengan orang dewasa. Karena masih dalam keadaan basah, bongkahan-bongkahan gaharu itu sangat berat. Sementara mereka tidak memiliki alat angkut modern. Inilah bagian paling unik pada proses pencarian gaharu: cara masyarakat Asmat membuat “tas punggung” dari pelepah sagu. Semua lelaki Asmat pencari gaharu sangat mahir dalam hal itu. Mula-mula dua pelepah sagu yang daun-daunnya masih utuh dipotong dengan ukuran besar dan panjang seimbang. Keduanya kemudian ditaruh berjejer di tanah. Berikutnya, dedaun sagu dari kedua pelepah itu dianyam saling bertaut. Hasilnya berupa pola anyaman yang diapit dua pelepah. Sementara di kedua sisi paling pinggir adalah daun-daun sagu yang tetap merentang seperti sayap. Sampai di sini, “tas punggung” pelepah sagu sudah setengah jadi. Bongkah-bongkah gaharu kemudian diletakkan di atas anyaman, lalu diikat dengan daun-daun yang terentang itu. Langkah terakhir adalah memasang tali dari sulur-sulur pohon hutan pada kedua pelepah. Maka, “tas pungggung” berisi bongkah gaharu pun siap difungsikan. Gaharu Asmat adalah satu-satunya yang diambil dalam bentuk bongkahan, dan telah tertimbun di dalam lumpur bertahun-tahun. Produk gaharu lainnya biasa diambil dari pohon tegakan. Para lelaki Asmat telah memanfaatkan gaharu dari dalam lumpur sejak sekitar tahun 1995, menjadikannya mata pencaharian utama untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Mungkin saja Tuhan telah mengatur berkat untuk mereka, dengan menciptakan proses alamiah kayu itu menjadi barang berharga, bernilai jutaan rupiah. Orang-orang Asmat yang bersedia melanglang hutan rimba pasti akan mendapatkan berkat itu. Setelah tiba di kampung, para lelaki itu membersihkan kembali bongkahan gaharu, lalu menjemurnya hingga kering. Setidaknya kadar air di dalam gaharu sudah jauh berkurang. Bongkahan-bongkahan itu akan dipecah-pecah. Mereka mencari bagian kayu dengan kualitas super, yang biasanya terletak di tengah dan warnanya hitam. Mereka menggunakan alat dari besi, dengan tangkai untuk pegangan dan bagian ujung dibengkokkan. Sisinya sangat tajam untuk menggurat gaharu, sehingga menghasilkan serpih-serpih kayu kecil atau tipis. Melalui proses ini pula gaharu dipisahkan berdasarkan kualitasnya. Bagian paling luar, kemudian lebih ke dalam, dan bila beruntung mereka akan mendapatkan yang super. Sekepalan tangan pun harganya berjuta-juta rupiah. Beberapa waktu ini, pemasok gaharu terbesar di Indonesia adalah Papua, yang dicari dengan cara sangat khas oleh masyarakat Asmat. Bongkah-bongkah gaharu itu berasal dari kayu tumbang termakan oleh suatu senyawa yang membuatnya harum. Belum dilakukan penelitian secara detail mengenai masa, kapan emas-emas harum itu mulai tertanam. Demikian halnya mengenai pelestarian. Ketika gaharu Asmat mengalami eksploitasi besar-besaran setiap tahun, kecemasan yang muncul tentu perihal kepunahan, emas-emas harum dari dalam lumpur itu akan habis. Upaya yang paling mungkin dilakukan sekarang adalah penanaman kembali. Namun hal ini masih dalam langkah yang sangat awal, menentukan apakah jenis bongkahan yang tumbang dan tertimbun di dalam lumpur sama dengan pohon-pohon tegakan di sekitar gaharu itu ditemukan. Bagaimanapun, gaharu yang oleh masyarakat Asmat dikatakan sebagai emas dari dalam lumpur, adalah harapan hidup bagi mereka. Keberhasilan dalam upaya pelestarian merupakan pencapaian sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan hidup, dan Nusantara yang luas ini akan melihat, Asmat adalah tanah yang kaya. [] Harum Emas dari dalam Lumpur Asmat Sumber : Dzikry el Han & Johan Gustiar - Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Ledok Tatal Alternatif Kantong Parkir View Point Penanjakan

Malang, 25 April 2018. Tim tindaklanjut kesepakatan penataan view point Penanjakan meninjau alternatif lokasi parkir di Blok Ledog Tatal, Senin 23 April 2018. TIM yang terdiri dari Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru (TNBTS) , Muspika Kecamatan Tosari (Camat, Kapolsek dan Danramil), Kepala Desa Wonokitri, Forum Sahabat Gunung, Bromo Lovers dan Paguyuban Jeep, Ojek, PKL wonokitri. Kepala Seksi PTN I, Sarmin menyampaikan, "kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan Rapat koordinasi penataan Transportasi dan Wisata Penanjakan di Kantor Balai TNBTS pada hari Jumat tanggal 20 April 2018". "kebutuhan akan lahan parkir tersebut muncul karena banyaknya keluhan dari pengunjung wisata penanjakan mengenai kemacetan dan kurang tertibnya parkiran kendaraan Jeep, sehingga mengurangi kenyamanan pengunjung", ujar Sarmin menambahkan. "Harapan kedepan setelah tempat parkir ini ada kemacetan dapat terurai dan kenyamanan pengunjung wisata penanjakan dapat meningkat", pungkas Sarmin. Setelah survey lokasi, Tim sepakat akan bersama-sama kerja bakti menata blok Ledok Tatal menjadi tempat parkir. Selanjutnya tempat parkir ini akan menjadi pool semua kendaraan jeep yang menuju wisata penanjakan, tidak lagi parkir di pinggir jalan yang menimbulkan kemacetan dan ketidaknyamana lainnya. Sumber : BBTNBTS
Baca Berita

BBKSDA Jabar, Mendapat Penyerahan Ibu dan Anak Kukang

Bandung, 25 April 2018. Balai Besar KSDA Jawa Barat mengapresiasi sikap seorang berinisial KL warga dusun Cigending Kelurahan Pasirwangi, Ujung Berung, Kota Bandung atas kepeduliannya terhadap satwa yang dilindungi undang-undang. Inisiatifnya untuk membeli seekor kukang melalui media online dilatarbelakangi karena rasa pedulinya terhadap satwa tersebut sehingga dari awal membelipun KL bermaksud untuk menyerahkan kepada Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL BBKSDA Jabar. Pasca pembelian kukang yang belakangan ternyata diketahui sedang hamil, dihari yang sama ternyata melahirkan. Dengan alasan keselamatan keduanya, KL mendatangi Kantor Balai Besar KSDA Jawa Barat agar kedua kukang tersebut dapat dievakuasi. Selanjutnya kedua kukang tersebut dievakuasi dan ditempatkan dikandang transit di Kantor BBKSDA Jawa Barat untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan yang selanjutnya akan direhabilitasi di lembaga konservasi dan masuk pada program pelepasliaran. Kejadian ini mengindikasikan bahwa kesadaran masyarakat terhadap kelestarian satwa terus meningkat. Sumber : BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

BKSDA Bengkulu Dan Pemprov Bengkulu Sepakati Kerja Sama Pembangunan Strategis

Bengkulu, 23 April 2018. Kepala Balai KSDA Bengkulu, Ir. Abu Bakar dan Plt. Gubernur Bengkulu Dr. H. Rohidin Mersyah, MMA menandatangani perjanjian kerja sama pembangunan strategis yang tidak dapat dielakkan di Cagar Alam Danau Dusun Besar, Kota Bengkulu. Penandatangan dilakukan pada tanggal 23 April 2018 yang lalu di Balai Semarak Raya Kota Bengkulu bersamaan dengan seremoni perpisahan Kepala Balai KSDA Bengkulu yang akan memasuki masa purna tugas pada bulai Mei 2018 mendatang. Acara tersebut merupakan bagian dari pertemuan yang digelar oleh Himpunan Alumni institut Pertanian Bogor di Bengkulu. Kerja sama pembangunan strategis yang disepakati merupakan peningkatan dan pemeliharaan jalan yang sesungguhnya telah dibangun sejak awal dekade 90-an. Namun pada tahun 2000-an jalan tersebut ditutup karena turut berpesan pada muncul dan meluasnya perambahan Kawasan pada tahun-tahun awal orde reformasi. Seiring dengan perkembangan pembangunan daerah dan regional sumatera bagian selatan, kebutuhan akan jalan yang dulu pernah melintas di Cagar Alam Danau Dusun Besar menjadi semakin meningkat. Penandatanganan kerja sama yang dilakukan oleh Balai KSDA Bengkulu ini merupakan tindak lanjut dari ekspose yang dilakukan oleh Plt. Gubernur Bengkulu dihadapan Dirjen KSDAE pada Desember 2017 lalu. Tujuan kerjasama ini adalah mendukung upaya optimalisasi pembangunan nasional dalam bidang transportasi strategis serta mendukung peningkatan perekonomian Provinsi Bengkulu, mengurangi kepadatan arus lalu lintas dan merupakan jalur logistik baik dari Lintas Barat Sumatera serta Feeder Road Lubuk Linggau-Bengkulu. Dalam arahan program yang disepakati, Pemerintah Provinsi Bengkulu bersepakat untuk mendukung program pengelolaan Kawasan dalam bentuk perlindungan dan pengamanan Kawasan; pemulihan ekosistem, serta pembinaan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar Kawasan Cagar Alam Danau Dusun Besar. Sumber : Balai KSDA Bengkulu
Baca Berita

Pelatihan dan Pembinaan Smart Patrol Di Biak

Jayapura, 25 April 2018. Aplikasi SMART PATROL tidak tergantung pada sinyal perangkat provider melainkan memanfaatkan sinyal satelit. Jadi dapat dimanfaatkan dimana saja, bahkan di wilayah yang memiliki signal ponsel yang kurang kuat. Proses sosialisasi ini dilakukan dengan media pembinaan pegawai pada hari rabu, tanggal 18 April 2018 lalu bersamaan dengan kunjungan kerja Kepala Balai Besar KSDA Papua di Kantor Seksi KSDA Wilayah III Biak dan operator SMART PATROL di tingkat Balai, Mochtar Tannasy, S.Hut yang akan memberikan bahan-bahan presentasi dan praktek. Dijelaskan SMART PATROL itu apa, bagaimana cara menggunakannya, hal apa saja yang memudahkan dalam mengolah data lapangan/ hasil patroli, baik analisis maupun evaluasi, sampai kepada praktek langsung menggunakan aplikasi tersebut yang telah di transfer datanya ke HP/ ponsel peserta. Sebagai output dari pelaksanaan pembinaan ini pegawai di kantor seksi KSDA Wilayah III Biak dapat mengerti dan memahami hal apa yang telah dijelaskan dalam pertemuan tersebut. Berdasarkan pengamatan dari pemberi materi, Mochtar T., S.Hut bahwa paling sedikit ada tiga (3) pegawai Seksi yang mengerti dan dapat memahami hal yang telah di jelaskan dalam materi pembinaan pegawai sebagaimana dimaksud. Resort Based Management yang disingkat menjadi RBM merupakan alat untuk mendekat kepada masyarakat. RBM di implementasikan dalam bentuk aplikasi yang digunakan untuk mempermudah petugas dalam mengumpulkan data lapangan dan dapat ditindaklanjuti secara cepat dan tepat. Aplikasi tersebut diberi nama SMART PATROL. Sumber : Kurnianingsih, A.Md dan Mochtar Tannasy, S.Hut - Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Balai KSDA Sulteng Evakuasi Dugong

Palu, 25 April 2018. Evakuasi ikan duyung (Dugong dugon) kembali dilakukan oleh Balai KSDA Sulteng bersama Ditpolairud POLDA Sulteng. Ikan duyung tersebut ditemukan sudah mati terdampar disekitar pantai SPBU Mamboro. Ikan duyung berjenis kelamin betina dengan panjang 2.58 m dan lingkar perut 1,80 m. Setelah dilakukan identifikasi dan pengambilan sampel, ikan tersebut langsung dikubur disekitar lokasi ditemukan. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Duduk Bersama, Kerja Bersama, Raih Kemenangan Bersama

Jayapura, 25 April 2018. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Timbul Batubara, melakukan kunjungan kerja di Seksi KSDA Wilayah III Biak tepatnya pada hari rabu, 18 April 2018 lalu, sebelumnya beliau telah berkunjung ke Bidang Wilayah I Merauke Senin, 16 April 2018. Salah satu agenda kerja beliau antara lain mengunjungi Pos Jaga Polhut di Bandara Franskaisepo, Pembinaan Pegawai Eselon IV di Kantor Seksi Konservasi Wilayah III Biak, Koordinasi dengan pegawai P3E Biak, mengunjungi lokasi bangunan rumah dinas, mengunjungi salah satu lokasi dengan potensi wisata Air Terjun di Biak, Pembinaan Aplikasi Smart Patrol kepada pegawai Seksi KSDA III Biak dan potensi wisata jelajah gua. Timbul mengatakan dengan duduk bersama masyarakat, semakin banyak pula kita mengetahui bagaimana sebenarnya keinginan masyarakat sehubungan dengan arahan Dirjen KSDAE, bahwasanya masyarakat merupakan subjek, bukan objek. Sebagaimana arahan Direktur Jenderal KSDAE pada saat workshop di Bogor tentang pengaplikasian Resort Based Management, Desember 2017 lalu, bahwa “RBM banyak disalahpahami, 2010 mulai wokshop RBM di CICO-PILI, Pak Gunung hadir juga saat itu, RBM adalah cara kita menguasai lapangan, bukan tujuan tapi alat kita, solusi ada di lapangan. Kita sedang mencari teori dan praktik cara mengurus hutan di Indonesia. Harus kita ubah caranya karena pilar sosial kita lupakan. Pilar ekologi dan ekonomi bagus bisa digunakan juga. Contoh di Tangkahan, TN Gunung Leuser. Penjagaan hutan yang dilakukan oleh desa di tepi kawasan dan mendapat manfaat dari cara menjaga tersebut”, jelas Wiratno. Kepala Balai Besar KSDA Papua mengemban tugas mulia dengan mengabdi di tanah Papua. Pertengahan tahun 2017 lalu, beliau memulai tugasnya sebagai Kepala Balai Besar KSDA Papua tidak dengan tangan kosong. Beliau menginginkan Papua untuk ikut maju sebagaimana Provinsi lain di Indonesia. Dalam hal ini beliau mengarahkan bahwa dengan lebh sering mengunjungi masyarakat di sekitar kawasan konservasi, kita dapat dengan mudah pula memperoleh data dan informasi dalam penyelesaian tiap masalah yang ada. Dengan demikian, beliau (Kepala Balai Besar) menjalankan tugasnya dengan cara lebih sering mengunjungi wilayah kerjanya, antara lain di seksi KSDA wilayah. Jadi mari duduk bersama, kerja bersama untuk meraih kemenangan bersama. Sumber : Ir. Timbul Batubara., M.Si. dan Kurnianingsih, A.Md - Polhut Pelaksana Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Balai KSDA Sulteng Antar Penyu Hijau Kembali ke Teluk Palu

Donggala, 23 April 2018. Balai KSDA Sulawesi Tengah (Sulteng) melakukan pelespasliaran Penyu Hijau (Chelonia Mydas) di perairan teluk palu tepatnya di sekitar perairan tanjung karang kabupaten donggala. Pelepasliaran juga dilakukan secara bersama sama dengan Dit Polairud Polda Sulteng, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulteng dan BPSPL Makasar Satker Palu. Penyu hijau ini berasal dari kabupaten Morowali yang disita dari tangan masyarakat yang saat ini telah ditahan oleh Ditpolairud Polda Sulteng. Penyu hijau berjenis kelamin jantan ini memiliki panjang karapas 86 cm dan lebar 83 cm. Sebelum dilepasliarkan petugas BPSPL melakukan tagging berupa mikrochip yang ditanamkan didalam tubuh penyu hijau bagian depan. Tangging dilakukan untuk memantau pergerakan atau daerah jelajah dari penyu tersebut. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Balai TN Aketajawe Lolobata Ikut Diklat Karya Tulis Ilmiah

Sofifi, 24 April 2018. Upaya peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) bagi instansi bisa dilakukan dalam beberapa metode, salah satunya adalah mengirimkan pegawai atau karyawannya untuk mengikuti pelatihan atau diklat. Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) dalam pengembangan SDM pegawainya telah mengirimkan lebih dari tiga pegawai untuk mengikuti diklat di Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BDLHK) Makassar. Diklat yang telah diikuti antara lain Diklat Rehabilitasi Hutan Mangrove, Diklat Penegakan Hukum Polisi Kehutanan, Diklat SIG Bagi Operator dan beberapa diklat lainnya. Diklat yang saat ini sedang berlangsung adalah DIklat Karya Tulis Ilmiah (KTI). Diklat Karya Tulis Ilmiah dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar, Dr. Edi Sulistyo H. susetyo, S.Hut., M.Si pada tanggal 23 April 2018. Dalam sambutannya Beliau berharap bahwa setelah pelaksanaan diklat para peserta mampu untuk menulis setiap kegiatan dilapangan sampai dengan menulis jurnal untuk dipublikasi. “Semoga Bapak Ibu sekalian bisa menulis karya ilmiah berdasarkan data-data dilapangan dan membuat jurnal agar bisa dipublikasi” kata Kepala BDLHK. “Bapak Ibu Widya Iswara tolong didampingi dan diberi tugas setelah peserta selesai diklat” tambah Beliau. YJumlah peserta diklat sebanyak tiga puluh peserta dari berbagai instansi kehutanan, baik instansi pusat maupun daerah. Jam pelajaran yang didapatkan sebanyak 50 jam pelajaran yang terdiri dari teori dan praktikum. “Semoga membantu meningkatkan ketrampilan menulis kami (peserta), khususnya penulisan karya ilmiah dengan bahasa yang baku” kata David, peserta dari Balai TNAL. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata http://aketajawe.com
Baca Berita

Balai KSDA Kalbar Sosialiasasi Pencegahan Karhutla Bersama Multipihak

Singkawang, 24 April 2018. Sosilaisasi Pencegahan kebakaran hutan dan lahan merupakan kegiatan rutin yang dilakukan Balai KSDA Kalimantan Barat bersama Seksi Konservasi Wilayah III Singkawang dengan melibatkan beberapa multipihak yang diikuti oleh 40 peserta berasal dari Desa Malek Kec. Paloh dengan komposisi Kepala Desa, pemuka adat, Lembaga Masyarakat Desa, aparatur Desa dan warga desa. Sosialisasi dilakukan dengan penyampaian materi, diskusi dan diakhiri dengan penandatanganan kesepakatan bersama dalam Berita Acara Kesepakatan bersama pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang diwakili oleh Kepala SKW 3, Sekcam Paloh, perwakilan Polsek Paloh, perwakilan Koramil Paloh, perwakilan BPBD, Kepala Desa Malek dan 2 orang perwakilan masyarakat Desa Malek. (PR) Sumber & Dokumentasi : Seksi Konservasi Wilayah III Singkawang , Balai KSDA Kalimantan Barat

Menampilkan 8.113–8.128 dari 11.140 publikasi