Sabtu, 18 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Billy, Bayi Owa Jawa yang Lahir Caesar

Cibodas, 29 April 2018. Sabtu 28 April 2018, jam 23.30 WIB kita kembali mendapat kabar gembira dengan lahirnya bayi satwa langka ikonik Jawa Barat, owa jawa di Javan Gibbon Center (JGC) Bodogol, yang berlokasi di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Bayi owa jawa yang lahir secara caesar (1 jam 7 menit) dari pasangan Boby (bapak) dan Joly (ibu) berjenis kelamin jantan ini, diberi nama "Billy” oleh Kepala Balai Besar TNGGP. JGC adalah pusat rehabilitasi owa jawa yang dikelola secara kerjasama antara BBTNGGP, CI, dan Yayasan Owa Jawa (YoJ). JGC telah berhasil memulihkan dan memasangkan owa jawa rehabilitan untuk dilepasliarkan di habitat alaminya. Dua puluh individu owa jawa telah berhasil dilepasliarkan. Untuk pasangan Boby - Joly, Billy adalah anak kedua mereka, setelah tahun 2017 bayi pertamanya tidak bisa diselamatkan. Saat ini terdapat 20 owa jawa yang menghuni JGC dua keluarga diantaranya sudah siap untuk dilepasliarkan. Yang membanggakan JGC ini sepenuhnya dikelola oleh para ahli dan praktisi anak bangsa sendiri tanpa campur tangan expertasing. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Dokumentasi Foto: Tim JGC
Baca Berita

Bali Barat Belajar Pengelolaan Ekowisata di Bromo Tengger Semeru

Probolinggo, 25 April 2018. 33 orang pegawai Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) berangkat ke Gunung Bromo di Probolingo untuk mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas SDM pengelolaan ekowisata. Rombongan dipimpin langsung Kepala SPTN Wilayah I Jembrana, Ali Purwanto, S.Hut, M.Sc. Gunung Bromo merupakan salah satu objek wisata di bawah pengelolaan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Tempat ini dipilih karena merupakan lokasi wisata yang terkenal dan pengelolaannya melibatkan masyarakat sebagai penyedia jasa. Selain itu, Bromo adalah kawasan konservasi sebagai penyumbang Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) terbesar di Indonesia. Pukul 13.00 WIB rombongan tiba di Cemorolawang, pintu masuk menuju objek wisata Gunung Bromo. Walaupun matahari terik, hawa dingin terasa menusuk tulang. Maklum saja, lokasi ini memiliki ketinggian hampir 2000 mdpl. Dalam suasana akrab, rombongan di sambut Kepala SPTN Wilayah I Cemoro Lawang, Sarmin, di visitor center. Ali Purwanto, selaku ketua rombongan, menyampaikan maksud dari kedatangannya bersama tim yaitu dalam rangka pembelajaran terkait pengelolaan wisata berbasis masyarakat. Suasana berjalan hangat ditengah suhu udara yang dingin. Dalam kesempatan ini, Kepala Resort Tengger Laut Pasir, Subur, juga memberikan sambutan. Subur mengucapkan terimakasih atas kunjungan rekan-rekan TNBB. Kesempatan ini bisa dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman dalam pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat. Di Objek Wisata Gunung Bromo, BBTNBTS, pengelolaan wisata ikut melibatkan kelompok masyarakat seperti pengelola jeep, jasa sewa kuda, kios cenderamata, homestay, dan warung makan. Mereka tergabung dalam wadah koperasi. Anggota rombongan dari TNBB mendengarkan paparan pengelolaan wisata yang melibatkan masyarakat dengan seksama. Harapannya, praktek pengelolaan wisata tersebut bisa di adopsi di TNBB. Khususnya untuk pengembangan dan pengelolaan ekowisata Jalak Bali berbasis masyarakat. Kepala Balai Besar TN Bromo Tengger semeru, John Kenedi menyempatkan untuk bertemu rombongan. Beliau berpesan supaya kita sebagai pengelola memberikan pelayanan terbaik kepada tamu/wisatawan. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Manajemen Bersih BKSDA Kalbar dengan SPIP

Pontianak, 27 April 2018. Balai KSDA Kalimantan Barat mendapatkan Sosialisasi dan Bimbingan teknis penyusunan desain penyelenggaraan SPIP oleh tim Inspektorat Jendral KLHK, acara ini dipimpin langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut, M.T. SPIP merupakan proses yang terintegrasi tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus oleh seluruh pimpinan dan pegawai, dengan tujuan agar dapat berkeyakinan organisasi tersebut dapat tercapai semua tujuan, laporan keuangan yang handal, pengamanan aset negara, ketaatan terhadap peraturan perundangan-undangan, dan dapat berjalan efektif dan efesien. Prinsip SPIP sendiri diantaranya adalah suatu proses yang terintegrasi pada suatu kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus, sistem ini dipengaruhi oleh manusia, hanya memberikan keyakinan yang memadai bukan keyakinan yang mutlak, diterapkan sesuai dengan kompleksitas organisasi. Disampaikan pula hal yang paling penting dan harus dipahami dalam SPIP adalah pimpinan dan pegawai perlu memiliki sikap perilaku positif, mendukung pengendalian intern, dan menerapkan manajemen yang bersih. Sumber dan Dokumentasi : Tim Publikasi Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Penghijauan di Terminal Waikabubak

Waikabubak, 28 April 2018. Memperingati hari bumi yang jatuh pada Bulan April, Balai Taman Nasional Matalawa melalui Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (KSPTN) Wilayah I Waibakul Abdul Basit Nasriyanto, S.Hut., M.Sc menggelar aksi menanam pohon bersama sebagai wujud nyata dalam mencintai Bumi, aksi ini dilaksanakan di Terminal Kota Waikabubak-Sumba Barat, dengan memanfaatkan jenis pohon peneduh yaitu trembesi (Samanea saman) sejumlah 100 batang, dengan adanya pohon peneduh harapannya kedepan terminal ini akan lebih sejuk dan memberikan kenyamanan bagi para penggunanya. Dalam Acara ini turut hadir tamu undangan dari berbagai istansi pemerintah daerah Kabupaten Sumba Barat yaitu Kepala Dinas Perhubungan beserta jajarannya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup beserta jajarannya dan Kepala KPH beserta jajarannya. Gelar aksi penanaman pohon dalam memperingati hari Bumi ini cukup banyak menyedot perhatian para peserta dan mereka sangat antusias untuk menggelar aksi ini, hampir 100 orang hadir. Selain aksi penanaman bersama Abdul Basit Nasriyanto S,Hut., M.Sc juga mengajak para peserta untuk tidak membuang sampah sembarangan mengingat dampak yang besar bagi kelangsungan kehidupan manusia dan mahluk hidup di bumi di masa yang akan datang. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Segelintir Cerita Kemah Konservasi dan Jambore Selam Taka Bonerate 2018

Taka Bonerate - Kepulauan Selayar, 29 April 2018. Memperingati Hari Bumi dan mendukung Kelender Event Kabupaten Kepulauan Selayar, Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) dan Dinas Kepariwisataan menyelenggarakan kegiatan Kemah Konservasi dan Jambore Selam di Pulau Tinabo TN. Taka Bonerate. Event tersebut berlangsung selama 4 (empat) hari yaitu pada tanggal 25-28 April 2018. Di kali kedua pelaksanaannya, peserta kegiatan Kemah Konservasi kali ini sebanyak 250 orang yang terdiri dari UPT. KLHK Se Sulsel, Kepala Balai Besar Lore Lindu Sulawesi Tengah, pramuka Saka Wanabakti, Organisasi Pemerintahan Daerah Kep. Selayar, penggiat lingkungan, Kelompok Pencinta Alam (KPA), Lembaga Sosial Masyarakat (LSM), WWF, WCS, Operator Wisata, TNI, Polri. Sementara itu, kegiatan Jambore Selam sendiri diikuti sebanyak 30 orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, Malaysia hingga Perancis. "Peserta tahun ini sebanyak 250 orang dan berasal dari Kepulauan Selayar sebagai tuan rumah, Makassar, Luwu Banggai, Jakarta, Jogjakarta, Bandung, Karawang, Duri, Malaysia, dan Perancis," terang Ketua Panitia, Fahmi Syamsuri dalam laporan singkatnya. Ada dua orientasi lokasi kegiatan, yaitu di P. Tinabo dan P. Rajuni tambahnya. Dialog Interaktif Pengelolaan Sampah, Kampanye Pengelolaan Sampah Pesisir dan Plastik, Transplantasi Karang, Penanaman Pohon di P. Tinabo (Sebuah Nama Untuk Hijaukan Tinabo), Release Tukik, Coaching Clinic Penyelaman Ramah Lingkungan, Beach CleanUp, Underwater CleanUp, Fun Dive, Pemilihan Duta Karang 2018, Senam Sehat. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kepariwisataan Kepulauan Selayar Andi Abdur Rahman kemudian acara dilanjutkan dengan penampilan tarian dari SDI Latondu dan Manca' Pa'dang Desa Rajuni. Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan coaching clinic bersama CCRES (Dr. Anna Phelan, Australia, LIPI (Firman) dengan materi Ocean Plastik dan materi Penyelaman yang Ramah Lingkungan oleh POSSI (Zul Janwar) yang dipandu oleh Bayu dari National Geographic Indonesia. Selain coaching clinic, ada beberapa rangkaian acara yang lain. Diantaranya adalah transplantasi karang, fun dive and clean up, pemilihan duta karang yang dihadiri Duta Wisata Provinsi Sulawesi Selatan, bersih pantai dan kampanye pengelolaan sampah pesisir dan plastik oleh Syamsuhartien dari Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Selayar dan CCRES di Pulau Rajuni. Yang keesokan harinya (27/04) dilanjutkan kegiatan penanaman "Sebuah Nama Untuk Hijaukan Tinabo" dan sorenya melepaskan tukik di Bungin Tinabo sambil peserta menikmati indahnya sunset. Selain itu, event ini juga dimanfaatkan warga pulau menampilkan seni musik dan tari pada malam hari sebagai pengisi acara. "Mereka sangat antusias, baik sebagai penonton maupun penampil, jumlah mereka sekira 200-300an orang setiap malam dengan perjalan yang cukup jauh dr pulau-pulau di sekitar Tinabo, yang masih di dalam kawasan TN.TBR" ujar Faat Rudhianto yang ditemui disela-sela acara penutupan. Sumber : Asri - PEH Balai TN Taka Bonerato
Baca Berita

Penanaman Karang Hias Hasil Sitaan Balai KSDA NTB

Sumbawa, 26 April 2018. Balai KSDA NTB melalui perwakilan SKW II Sumbawa bersama dengan Polairud Polres Sumbawa, Dispopar Kab. Sumbawa dan Komunitas Adventourus Sumbawa melalukan kegiatan Penanaman / Release Karang Hias di Kawasan Konservasi Pesisir daerah Ai Lemak, Tanjung Munangis - Sumbawa Besar. Jumlah Karang Hias yang masuk dalam release kali ini adalah sebanyak 194 pcs yang diantaranya 103 Hard Coral dan 91 Soft Coral. Karang Hias merupakan hasil sitaan oleh Pihak Polairud POLRES Sumbawa dari Masyarakat/Nelayan yang melakukan pengambilan Karang Hias secara illegal pada tanggal 19 April 2018 lalu di Perairan Kaung Kec. BEUR. Oleh Polairud POLRES Sumbawa Karang Hias Sitaan kemudian dititipkan di bak penampungan milik PT. Lombok Samudera Abadi di Desa Kaung, Kec. BUER Kab. Sumbawa yang selanjutnya diserahterimakan ke SKW II Sumbawa BKSDA NTB melalui perwakilan POLHUT Bapak Alimudin dan PEH Bapak Syamsul Ibrahim untuk rencana pelepasliaran. Dan Kamis 26 April 2018 kemarin, Pantai Ai Lemak yang merupakan Kawasan Konservasi Pesisir Daerah yang terletak di Tanjung Munangsi Kab. Sumbawa Besar dipilih sebagai tempat penanaman/release. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Peningkatan Pengelolaan Administrasi Kegiatan dengan Rapat Evaluasi

Tumpang, 27 April 2018. Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wil I Pasuruan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTN BTS) mengadakan rapat evaluasi kegiatan dan rencana kegiatan 2019, pada hari Jum'at 27 April 2018 bertempat di Kantor Seksi PTN II Tumpang Kabupaten Malang. Rapat dipimpin langsung oleh Kepala Bidang PTN I Pasuruan, Bapak Murdiyono, SH. yang dihadiri jajaran staf Bidang PTN I Pasuruan. Berbeda dengan rapat sebelumnya, rapat kali ini juga dihadiri oleh Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama, Achmad Arifin dan Kepala Sub Bagian Data, Evaluasi, Pelaporan dan Humas Sarif Hidayat, Anggota Tim SPIP Ana Setyawati dan Staf Sub Bagian Umum. Rapat dimanfaatkan jajaran Bidang PTN I Pasuruan untuk mendiskusikan beberapa hal yang perlu di tingkatkan diantaranya mengenai pengelolaan administrasi Kegiatan DIPA 029. "Secara umum adminitrasi kegiatan DIPA 029 sudah baik namun demikian berkaitan dengan adanya penyesuaian Pejabat Keuangan dan penanggung jawab kegiatan, segera dilakukan perbaikan untuk meminimalisir kesalahan administrasi, demikian dikatakan Darno, verifikator dari Subag Umum. Sementara Acmad Arifin menekankan "usulan rencana kegiatan DIPA 2019 agar memedomani Renstra TNBTS sehingga kegiatan-kegiatan yang diusulkan mengacu pada skala prioritas yang dibutuhkan dilapangan". Lebih jauh di tandaskan oleh Arifin bahwa usulan kegiatan-tersebut juga mempedomani SBU Kemen LHK dan SKB Bidang KSDAE sesuai dengan regulasi yang ada. Sementara itu dari Sarif dari Sub Bagian Evlaphum, menekankan tentang pentingnya Pelaporan dalam sebuah manajemen organisasi. "Disamping sebagai bukti pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dilapangan, Pelaporan juga sebagai basis pengambilan keputusan atau kebijakan pimpinan terhadap roda organisasi TNBTS". Ditekankan juga oleh Sarif bahwa "Pelaporan diharapkan mempedomani perdirjen tentang sistem pendataan dan pelaporan serta surat edaran Kepala Balai TNBTS tentang pedoman penyusunan rencana dan pelaporan kegiatan". Dalam kesempatan rapat ini juga dimanfaatkan oleh TIM SPIP yang di wakili oleh Ana Setyawati untuk melakukan sosialisasi mengenai SPIP sebagai proses integral yang dilakukan oleh organisasi untuk memastikan tercapainya tujuan organisasi secara efektif dan efisien terhadap proses perancangan, dan pelaksanaan kebijakan lingkup kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Murdiyono dalam kesempatan ini juga mengapresiasi dan berterimakasih atas kehadiran Tim dari Balai Besar TNBTS, seraya berharap pengelolaan manajemen khususnya di Bidang PTN I semakin lebih baik dan dapat dipertanggung jawabkan baik dalam konteks implementasi fisik dilapangan maupun dalam hal administrasi. Selanjutnya Murdiyono berharap kegiatan semacam ini agar terus dilakukan untuk peningkatan kinerja TNBTS. Di akhir kegiatan dilakukan diskusi oleh peserta rapat dan Pemaparan usulan kegiatan dari Seksi PTN I dan Seksi PTN II yang diwakili oleh Sarmin dan Tatag H Rudhata. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Operasi Bebas Sampah dan Vandalisme di Gunungan Bulusaraung

Pangkep, 27 April 2018. SPTN Wilayah I gelar operasi bebas sampah dan vandalisme di Kawasan Pegunungan Bulusaraung. Kegiatan ini untuk membersihkan sampah sepanjang jalur pendakian Gunung Bulusaraung. Aksi peduli lingkungan ini digelar pada tanggal 21–22 April 2018 dengan tema “Gunung Bukan Tempat Sampah”. Selama kegiatan ini berlangsung pendakian untuk umum ditutup. Selama tiga hari gunung beristirahat dari desakan kunjungan pendaki. Hal ini bertujuan untuk memberi kesempatan kepada alam untuk ”ecosystem recovery” . SPTN wilayah I selaku panitia bekerjasama dengan TrashBag Community menyukseskan operasi bebas sampah dan vandalisme ini. Komunitas ini merupakan sebuah lembaga nirlaba yang bersifat relawan (voluntary). Peserta yang terlibat berasal dari berbagai komunitas dari Pangkep, Maros, dan Makassar. Pendaftaran peserta diumumkan melalui media sosial taman nasional. Dalam sehari saja kuota yang disediakan panitia telah terpenuhi. Komunitas yang berpartisipasi di antaranya mapala universitas di Makassar, kelompok pecinta alam di Maros dan Pangkep, komunitas penggiat lingkungan, SMK Kehutanan dari Manokwari, dan pemerintah Desa Tompobulu. Tak kurang dari 120 orang turut perpartisipasi dalam kegiatan aksi bebas sampah ini. Aksi lain yang digelar di antaranya bersih dan cat Mesjid di Desa Tomobulu, tanam pohon, bagi bibit pohon kepada masyarakat di desa terakhir sebelum mendaki. Sebanyak 100 bibit kayu manis dan daun salam yang dibagikan. Pendakian dilakukan secara bersama-sama dengan membagi peserta menjadi 12 kelompok. Trash Bag Community dan Kelompok Pengelola Ekowisata Dentong mendampingi setiap kelompok pendaki. Kepala Balai Taman Nasional bantimurung Bulusaraung melepas rombongan pendaki ini pada Sabtu (21/4) pada pukul 15.00 Wita. Para pendaki selanjutnya mendirikan tenda di areal camping ground yang berada di Pos 9. Minggu (22/4) adalah puncak kegiatan operasi bebas sampah dan vandalisme bertepatan dengan hari bumi yang diperingati setiap 22 April. Aksi memungut dan membersihkan sampah di mulai dari areal berkemah (Pos 9) hingga ke Pos 1. “Kami sampaikan terima kasih kepada teman-teman pendaki atas partisipasinya dalam kegiatan operasi bebas sampah dan vandalisme ini,” tutur Iqbal Abadi Rasjid, Kepala SPTN Wilayah I saat breefing. Pendaki berhasil mengumpulkan sebanyak 8,5 karung besar sampah dengan total berat 141 kg. Sampah tersebut telah dikelompok menjadi 3 jenis sampah. Sampah plastik sebanyak 2 karung (9,5 kg), sampah sampah umum seperti kertas, busa, sebanyak 6 karung (128 kg), dan jenis sampah kaleng dan botol kaca sebanyak setengah karung (3,5 kg). Sampah yang terkumpul di pusat informasi selanjutnya oleh panitia teruskan ke tempat pembuangan akhir (TPA) di Pangkep. Sampah plastik oleh masyarakat setempat dimanfaatkan untuk dijual. Sayangi bumi dengan tidak meninggalkan sampah saat mendaki. Ingat, gunung bukanlah tempat sampah. Sumber : Erista Murpratiwi – Penyuluh Kehutanan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Komunitas Pendaki Indonesia Anjangsana di TN Gunung Gede Pangrango

Cibodas, 28 April 2018. Sebanyak 152 orang dari Komunitas Pendaki Indonesia (PI) yang berasal dari wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten melakukan pendakian bersama di TNGGP melalui jalur Cibodas. Pendakian ini dimaksudkan untuk mempererat silaturahim antar anggota di Komunitas PI. Sekitar pukul 7.30 – 9.00 WIB para anggota komunitas mulai berdatangan dan berkumpul di Kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) untuk melengkapi persyaratan pendakian dan melakukan pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan kesehatan dilakukan sesaat sebelum melakukan pendakian dimaksudkan untuk memastikan kondisi kesehatan terkini calon pendaki mengingat pendakian merupakan salah satu aktifitas di alam terbuka yang cukup ekstrim. Hal ini merupakan salah satu SOP yang diterapkan oleh BBTNGGP selain booking online melalui booking.gedepangrango.org Pada kesempatan ini, Zainuddin – PEH Penyelia BBTNGGP berpesan kepada Komunitas PI agar setiap anggota menjaga kekompakan dan menjadi contoh untuk para pendaki lain, bagaimana menjadi pendaki yang baik, pendaki yang mencintai alam serta ikut mensosialisasikan SOP pendakian yang diterapkan oleh BBTNGGP. Dalam pelaksanaan pendakian ini, Komunitas PI juga akan melakukan Operasi Bersih (Opsih) sampah yang ada di sepanjang jalur pendakian. Sumber : Boby Darmawan – PEH Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Kerjasana BBKSDA Sumut dengan Kelompok Tani Nauli

Medan, 27 April 2018. Adianbaja, 9 April 2018 menjadi momentum penting bagi Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (KSDA) Sumatera Utara dalam program pemberdayaan masyarakat desa penyangga melalui perhutanan sosial dengan kemitraan konservasi. Kelompok Tani Nauli yang berkedudukan di Dusun V Adianbaja Desa Meranti Timur Kecamatan Pintu Pohan Meranti Kabupaten Toba Samosir berkomitmen menjalin kerjasama dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui kemitraan konservasi di dalam Kawasan Konservasi Suaka Margasatwa (SM) Dolok Surungan I. Dihadiri oleh Perwakilan Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kepala Desa Meranti Timur, Kapolsek Porsea, Perwakilan Koramil Porsea, Perwakilan KPH Wilayah IV Toba Samosir, AMPI Toba Samosir, dan Tokoh Masyarakat Meranti Timur, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera melakukan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Kemitraan Kehutanan dengan Kelompok Tani Nauli. Dalam Sambutannya Kepala Balai Besar KSDA Sumatera, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.SC.For menyampaikan bahwa Kemitraan Konservasi dalam kawasan konservasi merupakan salah satu model manajemen hutan, juga dipandang sebagai strategi soft agrarian reform, dimana kelompok masyarakat diberikan akses kelola dalam periode waktu tertentu dengan tetap memperhatikan kelestarian kawasan. Seperti yang akan menjadi hak Kelompok Tani Nauli memiliki akses kelola SM. Dolok Surungan I seluas 60 (enam puluh) hektar bekas perambahan PT. Nariti dalam jangka waktu kerjasama selama 15 (lima belas) tahun dengan jenis kegiatan : analisa kajian pemulihan ekosistem, penyusunan rencana pemulihan ekosistem, penanaman secara kolaboratif, penguatan kelembagaan, dan pengembangan ekonomi. Lebih lanjut Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyampaikan bahwa dalam kemitraan ini tidak ada sistem bagi hasil antara Kelompok Tani Nauli dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan secara tegas Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara juga menyampaikan jangan sampai ada yang memperjualbelikan kawasan karena akan langsung berurusan dengan hukum. Kerjasama Kemitraan Kehutanan dengan Kelompok Tani Nauli disambut baik oleh Kepala Desa Meranti Timur dan Muspika terkait dan terlebih-lebih masyarakat Dusun V Adianbaja diluar keanggotaan Kelompok Tani Nauli yang berharap dapat diikutsertakan dalam kemitraan ini. Semoga kegiatan ini berjalan lancar dan menjadi titik awal dalam penyelesaian permasalahan Kawasan Konservasi SM. Dolok Surungan dan sampai pada tujuan akhir untuk mewujudkan hutan lestari masyarakat sejahtera. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Kembali ke Lapangan

Bantimurung, 28 April 2018. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung gelar peningkatan kapasitas pengendalian ekosistem hutan di Padang Loang, Desa Bentenge, Mallawa, Maros. Kegiatan bernuansa outdoor ini digelar selama tiga hari: 24 sampai dengan 26 April 2018. Konsep yang diusung adalah “Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Kembali ke Lapangan” atau lebih tepatnya menyatu dengan alam. Kegiatan ini dilaksanakan full outdoor, peserta menginap di tenda, saat belajar panitia menyediakan tenda besar. Adalah Padang Loang dipilih sebagai lokasi pelaksanaannya. Zona tradisional taman nasional ini berupa hamparan savana seluas 74 hektar yang dimanfaatkan masyarakat setempat mengembalakan sapi dan kudanya secara liar. Peserta peningkatan kapasitas ini terdiri dari pejabat fungsional pengendali ekosistem hutan, polisi kehutanan, dan pegawai tidak tetap taman nasional. Peserta yang hadir tak kurang dari 30 orang. Personil Manggala Agni Brigade Macaca didaulat sebagai panitia pelaksana. Menambah meriahnya konsep pelatihan yang dilaksanakan di alam terbuka. Narasumber yang diundang panitia sangat kompeten di bidangnya. Adalah Nasri, staf pengajar dari Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin Makassar menyampaikan materi analisis vegetasi. Pemateri kedua adalah Rustam, dosen pada Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Samarinda. Dosen pada laboratorium ekologi satwa liar dan keanekaragaman hayati ini menyampaikan materi identifikasihsatwa liar dengan menggunakan kamera jebak/camera trap. Ia lihai mengajarkan bagaimana cara menggunakan alat perekam otomatis di hutan ini. Pengalamannya menggunakan kamera jebak menyemangati peserta belajar menggunakan alat tersebut. Saat ini Balai Taman Nasional Bantimurung telah memiliki 5 camera trap. “Saya berharap setelah pelatihan ini teman-teman sudah bisa menggunakan alat ini. Kemudian mengidentifikasi mamalia besar yang selama ini sulit kita jumpai seperti rusa (Cervus timorensis) ataupun musang sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii) jika memungkinkan” ujar Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung saat pembukaan acara. Suasana belajar begitu santai di bawah tenda besar yang disediakan panitia. Peserta begitu antusias saat belajar menggunakan camera trap. Hari pertama saat sampai di lokasi peserta langsung berkenalan dengan camera trap, setelah menyimpan barang di tenda masing-masing. Belajar mengatur menu kamera kemudian memasangnya di tempat strategis di dalam hutan. “Hari ini kita berkenalan dulu dengan camera trap. Kita setting kemudian kita pasang di areal yang kita duga merupakan areal lintasan satwa,” ujar Rustam, Dosen Universitas Mulawarman. “Besok kita cek hasilnya,” tambahnya. Hari kedua peserta belajar kedua materi kemudian praktek lapangan. Mengenal jenis pohon, praktek metode quadran, dan melakukan analisi data untuk materi analisi vegetasi. Malamnya, Peserta kemudian mengambil camera trap yang telah di pasang sehari sebelumnya. Membuka hasil tangkapan kamera dan mengevaluasi cara pemasangan alat. Hasil tangkapan kamera trap berupa musang tenggalung (Viverra tangalunga), dan tikus hutan. “Setelah saya evaluasi, ada beberapa cara pemasangan kamera trap terlalu tertunduk ke bawah sehingga terkadang kamera tidak bekerja maksimal,” pungkas Rustam. “Setelah pelatihan ini saya tunggu hasil tangkapan camera trap teman-teman. Baru sehari saja kita sudah dapat foto satwa, bagaimana jika kita pasang satu bulan apalagi sampai 7 bulan,” tambahnya. Peserta mendapat refresh materi analisis vegetasi dan mendapat ilmu baru menggunakan camera trap. Semoga ke depan kinerja pengendali ekosistem hutan dan fungsional lainnya meningkat. Sumber : Taufiq Ismail – Pengendali Ekosistem Hutan Balai TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Pelepasliaran Tupai di Taman Surya Surabaya

Surabaya, 27 April 2018. Memperhatikan pemberitaan di media massa pada tanggal 26 April 2018 Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini melepas ratusan “Tupai” di halaman Taman Surya Balaikota Surabaya untuk tujuan edukasi warga Kota Surabaya . Tupai, adalah mamalia pemakan serangga, dan sampai saat ini terdata sebanyak 20 jenis di dunia, dan 12 di antaranya satwa endemik Indonesia dengan status tidak dilindungi dan masuk dalam Apendix II CITES, dan untuk memastikan jenis tupai tersebut, sehingga tujuan edukasi. Sebagai bahan edukasi masyarakat, Tupai dan Bajing adalah hewan yang berbeda, meskipun banyak orang yang menganggapnya sebagai binatang yang sama. Bajing dan Tupai memiliki perbedaan, Tupai sepintas mirip dengan bajing, tetapi berbeda anatomi dan perilakunya. Tupai mempunyai moncong sangat panjang (bagian muka, mulut dan hidung) sedangkan bajing relatif agak rata pada bagian mulut dan hidungnya. Bajing merupakan mamalia pengerat (ordo Rodentia) dari suku (famili) Sciuridae yang dalam bahasa Inggris disebut squirrel. Sedangkan Tupai berasal dari famili Tupaiidae dan Ptilocercidae yang dalam bahasa Inggris disebut treeshrew. Secara ilmiah (ilmu biologi), Bajing berbeda dengan Tupai, bahkan sangat jauh kekerabatannya. Dalam hal makanannya pun berbeda. Bajing merupakan binatang pengerat yang memakan buah-buahan sedangkan Tupai merupakan binatang pemakan serangga, di harapkan satwa yang di lepasliarkan adalah jenis tupai sehingga dapat menjaga keseimbangan ekosistem di Taman Surya Surabaya. Sebagai Otoritas Pengelola (Management Authority) Konservasi Tumbuhan dan Satwa Liar di Jawa Timur, Balai Besar KSDA Jawa Timur sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan berkoordinasi dengan Pemeritah Kota Surabaya. Pasca pemberitaan tersebut, Balai Besar KSDA Jawa Timur menurunkan Tim Teknis untuk melakukan kajian terhadap jenis satwa, daya dukung habitat (kelimpahan pakan, persaingan dan predasi serta ancaman terhadap satwa yang dilapaskan). Kegiatan dilakukan agar tujuan mulia Walikota Surabaya untuk edukasi kedepan tidak menimbulkan permasalahan baik terhadap spesies satwa, habitat, ekosistem dan manusia terkait adaya isu-isu infeksi yang ditularkan hewan vertebrata ke manusia dan sebaliknya (zoonosis) sebagai dampak pelepasliaran tupai tersebut. Saat ini zoonosis menjadi isu yang mendapat perhatian khusus oleh beberapa kementerian. Di bawah Kendali Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) telah disusun skema yang berfungsi sebagai sebuah kerangka kerja untuk perencanaan komunikasi bernama “One Health” untuk pencegahan dan pengendalian penyakit zoonosis dan Penyakit Infeksi Baru (PIB) yang bersifat lintas sektor. One Health menjadi perhatian serius dengan melibatkan Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KemenLHK), sehingga kehati-hatian terhadap pelepasliaran satwa asal Lampung tersebut di pastikan tidak membawa penyakit yang akan berdampak kepada masyarakat Surabaya. BBKSDA Jawa Timur sangat mendukung program edukasi yang diinisiasi oleh Walikota Surabaya, BBKSDA Jawa Timur akan mengawal dan mendukung sesuai Tugas Fungsi BBKSDA Jawa Timur untuk program tersebut dengan melibatkan pihak-pihak terkait, sehingga aman untuk masyarakat dan lestari untuk program konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya di Kota Surabaya. Dr. Nandang Prihadi, S. Hut, M.Sc Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Victory dan Danial, Polhut dan PEH BBKSDA Papua yang Sukses Ikuti Workshop Pejabat Fungsional

Jayapura, 26 April 2018. Workshop Pejabat fungsional Polisi Kehutanan dan Pengendali Ekosistem Hutan dibuka Sekditjen KSDAE pada hari rabu, tanggal 18 April 2018 di Hotel Santika Jakarta. Beliau memberi beberapa arahan dengan garis merah berdasarkan hasil analisis beban kerja (ABK) terdapat kekurangan PEH sebanyak 1.128 orang dan POLHUT sebanyak 700 orang, maka perlu kreasi, kompak dan kerjasama tim dalam menerapkan 10 cara baru mengelola Kawasan Konservasi di semua level. Perlu segera diterapkan kompetensi spesialisasi PEH yang dituangkan dalam bentuk SK. Kepala Balai dan saat ini baru 15 UPT yang menyampaikan SK. Spesialisasi PEH ke Dirjen KSDAE, maka PEH harus lebih aktif dalam menuangkan pikiran dan hasil kerja dalam bentuk tulisan dan PEH dan POLHUT aktif dalam menyusun DUPAK Kegiatan workshop dihadiri perwakilan Polhut dan PEH lingkup Ditjen KSDAE dengan peserta yang hadir sebanyak 150 orang, 74 UPT, dan 4 Direktorat Teknis (PJLHK, PIKA, KKH dan KK), dengan jumlah polhut yang hadir sebanyak 71 orang dan PEH sebanyak 81 orang. Selain itu, Direktur PIKA juga memberikan sedikit arahan dengan beberapa poin penting bahwa pesan dari pak Dirjen KSDAE PEH dan Polhut harus menjadi double agent yaitu bekerja sekaligus menjadi penyampai pesan/ pemberita ke khalayak luas. Perwakilan Balai Besar KSDA Papua yaitu Victory S. Karubaba, Polhut sekaligus Kepala Resort Port Numbay dan Danial Idris, A.Md. Hut Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Pelaksana Lanjutan diharapkan dapat menularkan informasi baik yang diterima di dalam workshop tersebut kepada kawan-kawan pejabat fungsional lainnya di lokasi kerja masing-masing. Sumber : Victory S. Karubaba; Danial Idris, A.Md.Hut dan Kurnianingsih, A.Md. - Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Terkena Jerat, Gajah Liar Diobati Tim BBKSDA Riau

Pekanbaru, 26 April 2018. Awal Maret 2018, terjadi konflik manusia dan gajah (Elephas maximus sumatranus) di Desa Minas Jaya, Kec. Minas, Kab. Siak, Prov. Riau. Saat itulah kali pertama Tim penggiringan melihat seekor gajah bergerak lambat dan berjalan pincang. Tim tidak begitu memperhatikan kondisi tersebut. Pada konflik berikutnya yaitu pada tanggal 27 Maret 2018 di Desa Karya Indah, Kec. Tapung, Kab. Kampar, Prov. Riau, Tim baru menyadari bahwa gajah tersebut benar-benar sakit. Diperkirakan tim kaki gajah terkena jerat. Balai Besar KSDA Riau segera berkoordinasi dengan Vesswic, WWF Program Sumatera dan Yayasan Tesso Nilo untuk melakukan pengobatan. Pada Konflik yang terjadi selanjutnya yaitu pada tanggal 1 sampai dengan 4 April 2018 di Desa Bencah Kelubi, Kec. Tapung, Kab. Kampar, Tim melakukan penggiringan sekaligus upaya pengobatan. Namun saat itu pengobatan belum dapat dilakukan karena medan yang cukup sulit. Tim sepakat untuk melakukan penggiringan terlebih dahulu ke hutan Tahura Minas, dimana tempat tersebut dirasa memungkinkan untuk melakukan pengobatan. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Rabu (25/4), Tim yang berjumlah 11 personil terdiri dari Balai Besar KSDA Riau 6 orang bersama sama dengan 2 orang dokter Vesswic dan 3 orang dari Yayasan Tesso Nillo berhasil melakukan pengobatan terhadap satwa dilindungi berkelamin betina berumur sekitar 10 tahun yang terkena jerat di distrik areal konsesi PT. Arara Abadi. Gajah tersebut adalah salah satu individu dari kelompok "sebelas" gajah liar di kantong gajah Minas Petapahan. Pada bagian kaki depan sebelah kanan terdapat luka jerat nilon yang masih mengikat dan menyebabkan infeksi. Tindakan medis yang diberikan adalah melalui metode pembiusan kemudian memberikan antibiotik dan vitamin. Kegiatan telah berhasil dilaksanakan sesuai target. Dan setelah pengobatan Gajah segera disuntik agar siuman kembali dan digiring oleh Tim ke kelompoknya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

6 Titik Ditetapkan Dalam Survey Batimetry Untuk Menetapkan Alur dan Perlintasan Laut di Taman Nasional Bunaken

Wilayah Taman Nasional Bunaken yang didominasi oleh perairan, merupakan bagian dari jalur perlintasan dan alur pelayaran penting, di Provinsi Sulawesi Utara umumnya dan Kota Manado khususnya. Jalur perlintasan kapal tersebut antara lain kapal yang melintas dari dan menuju ke Pelabuhan Manado ke wilayah kepulauan Nusa Utara, aktivitas perahu wisata serta perahu transportasi masyarakat yang menuju kawasan Taman Nasional seperti Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Manado Tua, Pulau Nain dan Pulau Mantehage. Penetapan titik-titik yang diambil dalam survey batrimetry, diambil dari Pelabuhan Manado menuju Bunaken, serta Pelabuhan Manado yang melintasi Taman Nasional menuju arah luar kawasan seperti Bitung dan Sangihe, dengan jumlah line/ lajur survey sebanyak 6 titik. Pihak yang terlibat dalam kegiatan survey batimetry antara lain dari PUSHIDROSAL, Lantamal VIII, Direktorat Kenavigasian – Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Distrik Navigasi Kelas 1 Bitung, Distrik Navigasi Kelas 1 Surabaya, dan Balai Taman Nasional Bunaken sebagai pendamping lapangan, dengan total 9 orang dengan lama waktu survey dari tanggal 23 – 30 April 2018. Menurut Agus Imam Handoko dari Direktorat Kenavigasian – Dirjen Perhubungan Laut, tujuan kegiatan ini adalah untuk menjamin keselamatan berlayar kapal yang melintas di Taman Nasional Bunaken, serta mencegah terjadinya kerusakan karang yang diakibatkan dari kapal yang melintas. Untuk itu manfaat dari hasil survey batimetry ini sangat besar dalam pelayaran, utamanya dijadikan sebagai panduan para pihak dalam menentukan rute perlintasan di kawasan Taman Nasional Bunaken. Kami menggunakan berbagai perlatan untuk mengetahui kedalaman lautnya, seperti multi beam 2040 c untuk mengambil data batimetry, GPS serta alat ukur pasang surut, sambung Agus. Sumber : Pandu Wijaya, SH – Polhut Ahli, Koordinator Resort Manado Tua Pendamping Lapangan Survey Batimetry Taman Nasional Bunaken.
Baca Berita

Eksplorasi Bukit Semujan Temukan Langur Borneo

Putussibau, 27 April 2018. Kejutan kembali ditorehkan oleh tim explorasi biodiversitas Bukit Semujan kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Seekor Langur Borneo (Presbytis chrysomelas ssp. cruciger Thomas, 1892) secara tak terduga muncul di lokasi eksplorasi dan berhasil diabadikan salah seorang tim eksplorasi bernama Asri Ali Gessa. Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum), Arief Mahmud mengatakan bahwa dirinya mengapresiasi temuan tersebut dan hal ini membuktikan bahwa keragaman biodiversitas di Bukit Semujan sangat tinggi. “Saya mengapresiasi sekali tim eksplorasi yang berhasil menemukan jenis Langur tergolong langka ini. Temuan ini menunjukkan bahwa kawasan TNDS khususnya Bukit Semujan menyimpan keragaman biodiversitas tinggi”, jelasnya. Selain itu, dirinya berharap ada upaya tindak lanjut atas hasil eksplorasi ini dengan fokus pada beberapa spesies yang tergolong kritis seperti halnya Langur Borneo. Senada dengan Arief, Koordinator tim eksplorasi Bukit Semujan, Tulus Pambudi menyampaikan bahwa temuan Langur Borneo ini berkontribusi signifikan bagi dunia sains khususnya primata dalam konteks penambahan informasi. Menurutnya, selama ini IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) mencatat bahwa Langur Borneo hanya terdapat di 5 Taman Nasional di Malaysia. “Temuan di Indonesia khususnya di TNDS ini menjadi menarik karena IUCN, catatannya hanya ada di 5 TN di Malaysia”, jelasnya. Staf PEH di BBTN Bentarum ini juga menekankan adanya upaya tindak lanjut paska eksplorasi Semujan. Menurutnya perlu adanya identifikasi distribusi atau sebaran Langur Borneo serta habitatnya di wilayah TNDS. Selain itu monitoring populasiny karena status IUCN jenis monyet ini tergolong terancam kritis atau Critical Endangered (CE). Tulus juga menekankan pentingnya sosialisasi kepada masyarakat sekitar Bukit Semujan untuk menjaga satwa dan tumbuhan yang hidup didalamnya mengingat kemiripan Langur ini dengan monyet Kelasi (Presbystis rubicunda) yang statusnya tergolong Least Concerned (LC). “Bukit Semujan ini digunakan masyarakat untuk mencari nafkah karenanya sosialisasi Langur Borneo sebagai hewan terancam punah dan dilindungi kepada masyarakat menjadi penting, sehingga masyarakat bisa bijaklah”, ujarnya. Asri Ali Gessa staf Polhut Tana Bentarum yang berhasil menangkap gambar langur ini mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui jika jenis ini merupakan satwa yang sangat langka dan terancam punah. Diceritakan Acy sapaan akrabnya, dirinya dan tim tengah berjalan mencari spesies kupu-kupu. Dalam tim ini dia dimasukkan ke dalam kelompok peneliti Kupu-kupu dari 8 tim peneliti yang ada. Jalannya dihentikan oleh suara satwa mirip burung yang awalnya oleh tim dipikir Owa Kalimantan atau Kelampiau karena suaranya yang mirip. “kami mendengar suara mirip burung, kami kira Kelampiau (Hylobates muelleri) trus kami lihat ternyata jenis lain” ujarnya. Merasa satwa yang ditemukan sangat unik, Acy bergegas mengejarnya dan pada usaha yang ketiga dirinya berhasil menangkap obyek menggunakan kameranya. “Lumayan jauh, tinggi 50 meter diatas pohon dari posisi kami, Kami diskusi dengan ketua tim semujan ternyata jenis Prebystis chrisomelas ssp crusiger ya lumayan terkejutlah”, ujar Polhut di Seksi PTN Wilayah IV BBTN Bentarum ini. Eksplorasi Bukit Semujan merupakan program BBTN Bentarum yang strategis dan terbagi ke dalam 8 kelompok besar dari mulai Herpetofauna, Mamalia, Primata, Avifauna, Serangga, Goa serta tim sosial ekonomi masyarakat. Bukit ini terletak di tengah kawasan TN Danau Sentarum yang dekat dengan Resort Semangit. Hasil eskplorasi menunjukkan nilai konservasi kawasan tergolong tinggi (High Conservation Value) karena tim berhasil menjumpai 2 spesies Critical Endangered yaitu Orangutan (Pongo pygmaeues pygmaeus) dan Langur borneo (Prebystis Chrysomelas) serta 2 spesies endangared yaitu Bekantan (Nasalis larvatus). Selain itu 4 spesies yang tergolong vurnerable atau terancam juga ditemukan diantaranya beruang madu (Helarctos malayanus), babi berjenggot (Sus barbatus), pelatuk kelabu besar (Mulleripicus pulverulentus) dan cica daun besar (Chloropsis sonnerati). Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)

Menampilkan 8.081–8.096 dari 11.140 publikasi