Sabtu, 3 Jan 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Sinergi Instansi di Tanjung Perak, 476 Burung Diselamatkan dari Jalur Perdagangan Antar Pulau

Surabaya, 16 November 2025. Minggu pagi di Pelabuhan Tanjung Perak berubah menjadi detik-detik krusial ketika ratusan burung kicau (16/11/25). Mereka ditemukan terkurung dalam boks-boks sempit di geladak dua kapal penumpang di evakuasi dari Kantor Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Satpel Tanjung Perak Surabaya. Dalam dua hari beruntun, aliran satwa liar dari rute Lombok–Surabaya dan Banjar–Surabaya terdeteksi oleh petugas Ditpolairud Polda Jawa Timur dan BKHIT Satpel Tanjung Perak Surabaya. Temuan ini memicu respons cepat lintas instansi, Tim Penyelamatan Satwa Liar (Matawali) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Ditpolairud Polda Jatim, BKHIT Satpel Tanjung Perak Surabaya yang bergerak serempak membuka jalan penyelamatan bagi ratusan satwa kecil yang nyaris terseret ke rantai perdagangan ilegal antar pulau. Pada Kamis, 13 November 2025, petugas Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Pelabuhan Tanjung Perak mendeteksi pengiriman satwa liar dari KM Kirana 7 rute Lombok–Surabaya. Pemeriksaan rutin mereka mengungkap puluhan boks berisi burung kicau dalam kondisi padat dan tanpa dokumen resmi. Dua hari kemudian, pada Sabtu, 15 November 2025, laporan serupa kembali masuk. Kali ini berasal dari KM Dharma Rucitra I yang baru bersandar dari Banjar–Surabaya. Jumlah burung jauh lebih besar, menandakan bahwa jalur perdagangan satwa liar antar pulau masih aktif dan terus beradaptasi. Petugas Karantina melakukan prosedur pemeriksaan ketat terhadap media pembawa, kargo, dan barang bawaan penumpang. Dari titik inilah temuan satwa selalu bermula. Ketelitian mereka memastikan setiap pergerakan satwa liar tanpa dokumen segera terdeteksi, dilaporkan, dan diproses sesuai aturan. Laporan Karantina menjadi dasar resmi bagi BBKSDA Jawa Timur untuk melakukan tindakan evakuasi. Hasil verifikasi lapangan pada evakuasi hari Minggu, 16 November 2025, adalah sebagai berikut Gelatik Batu Kelabu (Parus cinereus) sebanyak 8 ekor, seluruhnya sehat, Burung Kacamata (Zosterops sp.) sebanyak 321 ekor (Hidup 310 ekor, mati 11 ekor), Cinenen Kelabu (Orthotomus ruficeps) sebanyak 72 ekor (Hidup 69 ekor, mati 3 ekor dan Bentet Kelabu (Lanius schach) sebanyak 75 ekor (Hidup 66 ekor, mati 9 ekor) Seluruh jenis burung tersebut berstatus Tidak Dilindungi dan Non-Appendix CITES, namun tetap wajib diawasi ketat karena merupakan komoditas yang paling sering diperdagangkan secara ilegal. Seluruh burung kemudian diangkut ke Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo. Di sana, satwa menjalani pemeriksaan kesehatan, observasi perilaku, stabilisasi kondisi, serta pemulihan sesuai standar animal welfare. Satwa-satwa yang sehat akan dipulihkan dan dipersiapkan untuk dilepasliarkan di habitat yang sesuai. Operasi ini menegaskan bahwa perlindungan satwa liar bukan hanya tugas lembaga konservasi. Di pelabuhan besar seperti Tanjung Perak, keberhasilan penyelamatan bergantung pada, Karantina sebagai detektor awal, Ditpolairud Polda Jawa Timur sebagai penjaga keamanan jalur laut, BBKSDA Jawa Timur sebagai otoritas konservasi, dan WRU sebagai pusat pemulihan satwa. Kolaborasi cepat inilah yang memastikan ratusan burung Nusantara kembali memiliki peluang untuk hidup bebas di habitat alaminya. Rangkaian evakuasi tersebut menjadi bukti bahwa kekayaan hayati Indonesia dapat terus dipertahankan ketika koordinasi antarinstansi berjalan kuat dan sigap. Ratusan burung kecil yang nyaris hilang dari alam kini memiliki kesempatan untuk kembali ke langit Nusantara, berkat kewaspadaan, kerja sama, dan dedikasi para penjaga konservasi di garis depan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Diduga Akan Masuk ke Kawasan, Balai TN Batang Gadis Usir Dua Unit Excavator

Panyabungan, 17 November 2025. Tim Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III, Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) melaksanakan patroli pengamanan kawasan hutan mulai dari Kecamatan Batang Natal hingga Muara Batang Gadis. Patroli dilakukan dengan menyusuri aliran Aek Sinainjon dari bagian hulu hingga ke muara sebagai bentuk pengawasan rutin sekaligus tindak lanjut atas laporan masyarakat. Laporan tersebut menyebutkan adanya aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Sulang Aling, yang berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan dan mengancam ekosistem hutan. Menindaklanjuti informasi tersebut, tim bergerak cepat menuju lokasi yang dicurigai. Di Muara Sinainjon, petugas menemukan titik aktivitas PETI beserta sejumlah peralatan yang digunakan untuk kegiatan penambangan ilegal. Tim kemudian melakukan penghentian kegiatan dan pemusnahan barang bukti langsung di lokasi. Patroli dilanjutkan hingga ke Aek Nabara, kawasan Hutan Lindung yang berada dalam jalur pengamanan. Di lokasi tersebut, petugas menemukan dua unit excavator yang diduga akan diarahkan menuju Muara Sinainjon untuk mendukung kegiatan PETI. Untuk mencegah masuknya alat berat ke kawasan Taman Nasional Batang Gadis, tim melakukan tindakan penghadangan dan pengusiran hingga alat berat keluar dari kawasan hutan menuju wilayah Suka Makmur–Tabuyung. Sebagai bagian dari upaya penegakan hukum, tim memberikan peringatan tertulis kepada pelaku dan operator agar tidak mengulangi perbuatannya. Patroli ini menjadi bukti komitmen TN Batang Gadis dalam menjaga kelestarian kawasan, melindungi ekosistem hutan, serta mencegah aktivitas ilegal yang mengancam fungsi kawasan konservasi. Upaya pengamanan dan pengawasan akan terus diperkuat di seluruh wilayah kerja SPTN Wilayah III. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Penemuan Kuau Raja di Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang

Malinau, 11 November 2025 - Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) memiliki segudang potensi keanekaragaman hayati, mulai dari endemic hingga satwa langka, salah satunya yaitu Kuau Raja (Argusianus argus) yang keberadaannya hampir susah dijumpai. Kuau Raja adalah salah satu burung dalam family Phasianidae yang dikategorikan rentan (Vulnerable) berdasarkan IUCN Red List dan berstatus dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018. Satwa tersebut saat ini ditemukan dari hasil pemasangan camera trap di Wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Long Bawan dan Wilayah II Long Alango oleh Ashari Wicaksono Polisi Kehutanan Balai TN Kayan Mentarang. Burung Kuau Raja tersebar di hutan hujan tropis Asia Tenggara khususnya di pulau-pulau Sumatera, Kalimantan dan Semenanjung Malaysia. Ciri khas satwa ini memiliki bulu berwarna coklat kemerahan dihiasi bulatan atau bintik-bintik kecil dan kepala berwarna biru, serta bulu tengkuk berwarna kehitaman. Burung jantan dewasa berukuran lebih besar dibanding burung betina, panjang bulunya mencapai 200 cm yang akan mekar pada saat musim kawin. Burung betinanya berukuran lebih kecil dari burung jantan, panjangnya sekitar 75 cm, dengan jambul kepala berwarna kecoklatan. Bulu ekor dan sayap betina tidak sepanjang burung jantan, dan hanya dihiasi dengan sedikit oceli. Seno Pramudito (Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang), menjelaskan bahwa masih banyak sekali potensi Sumber Daya Alam (SDA) di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang yang masih belum terkuak dan akan dilakukan pendataan secara bertahap. “Kami beserta tim dan stakeholder teknis terkait akan terus melakukan survey dan penelitian untuk menggali potensi-potensi SDA yang berada didalam Kawasan TNKM. Serta bersama-sama mengajak untuk melestarikannya.” Kami beserta tim dan stakeholder teknis terkait akan terus melakukan survey dan penelitian untuk menggali potensi-potensi SDA yang berada didalam Kawasan TNKM. Serta bersama-sama mengajak untuk melestarikannya.Ungkap Seno. “Prilaku bersih dan gagah dari burung kuau ini juga menjadi inspirasi bagi budaya masyarakat adat di kawasan penyangga TN Kayan Mentarang, sehingga burung kuau perlu dilestarikan bersama untuk menjadi ciri khas kawasan yang selaras dengan budaya masyarakat. Keberadaan Kuau Raja juga mencerminkan kondisi kawasan yang masih sangat terjaga dengan baik, sehingga sangat membantu petugas dalam melakukan pengamanan dan inventariasi kawasan di Taman Nasional Kayan Mentarang.” Lanjutnya. Pemberian nama ilmiah Argusianus argus pada satwa ini memiliki makna "Ratusan Mata" yang bisa terlihat saat sang Kuau Jantan melakukan aktraksi keindahan motif ratusan mata pada bulunya melalui ritual tarian pemikat kepada pasangannya di musim kawin/berbiak. Masyarakat adat setempat menyebut burung ini dengan sebutan “Burung Kuwai”. Hal tersebut dikarenakan burung ini kerap mengeluarkan suara "Kuwwaaaiii..." yang terkesan seperti memanggil namanya sendiri dan dapat didengar dari radius yang cukup jauh. Sumber: Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Mamalia Bersisik Muncul dari Koridor Hutan yang Kian Terputus

Mojokerto, 14 November 2025. Pada pagi yang teduh, Jumat 14 November 2025, seekor trenggiling Jawa (Manis javanica), mamalia bersisik satu-satunya di Indonesia dan salah satu spesies paling rentan perdagangan ilegal dunia, ditemukan merayap pelan di pekarangan rumah warga Desa Bicak, Kecamatan Trowulan. Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar kehadiran satwa liar yang tersesat. Namun bagi konservasionis, kemunculan ini adalah isyarat ekologis tentang tekanan ruang hidup yang semakin nyata. Sekitar pukul 09.00 WIB, seorang warga bernama Adi segera menghubungi petugas RKW 09 Mojokerto setelah menyadari bahwa satwa bersisik itu merupakan satwa dilindungi penuh oleh negara. Tanpa menunggu, Tim Penyelamatan Satwa Liar (Matawali) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) yang terdiri dari Yudianang Indra Irwan – Polisi Kehutanan Penyelia bersama Bambang Edi Wiyoto dan Kukuh Iswahyudi bergerak menuju lokasi untuk memastikan penanganan satwa dilakukan dengan standar keselamatan tinggi. Tim melakukan rapid assessment untuk memastikan kondisi fisik satwa, memeriksa kemungkinan luka, dan meminimalkan stres akibat kontak manusia. Trenggiling tersebut ditemukan hidup, responsif, tanpa luka terbuka, meski menunjukkan tanda stres ringan yang wajar pada satwa nocturnal yang terpaksa berpindah habitat. Evakuasi dilakukan secara hati-hati sebelum satwa dibawa ke Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jawa Timur untuk observasi dan perawatan lanjutan. Lanskap Trowulan merupakan mosaik ekologis yang unik, perpaduan antara permukiman, kebun campuran, semak belukar, hingga sisa-sisa vegetasi alami dan hutan rakyat. Di balik dinamika ekologinya, daerah ini menyimpan jejak sejarah jalur jelajah satwa, termasuk trenggiling. Diduga, kemunculan satwa ini di pekarangan rumah warga dipicu oleh beberapa faktor, diantaranya Fragmentasi habitat akibat perubahan penggunaan lahan dan meningkatnya pembangunan, Pencarian pakan, terutama rayap dan semut di area pekarangan atau tumpukan kayu dan Gangguan habitat alami seperti getaran kendaraan, aktivitas malam hari, hingga tekanan perburuan serta adanya kemungkinan dispersal satwa muda yang sedang mencari area jelajah baru. Fenomena ini menegaskan bahwa meski terdesak, jalur ekologis trenggiling belum sepenuhnya hilang di Trowulan. Namun keterhubungan habitat tersebut kini berada dalam posisi rawan. Penyerahan sukarela oleh warga menjadi bukti bahwa kesadaran publik terhadap konservasi semakin menguat. Dalam konteks satwa rentan seperti trenggiling, keterlibatan masyarakat merupakan pilar penting untuk memutus rantai perdagangan ilegal serta memperkuat perlindungan satwa liar di tingkat tapak. BBKSDA Jawa Timur mengapresiasi tindakan cepat masyarakat yang melaporkan keberadaan satwa dilindungi dan berkomitmen untuk terus meningkatkan patroli, edukasi, serta perbaikan konektivitas habitat di daerah-daerah yang menghadapi tekanan perubahan lanskap. Kemunculan seekor trenggiling di halaman rumah mungkin terlihat sebagai kejadian kecil. Namun bagi alam, ini adalah cerita besar tentang satwa malam yang bertahan di antara bayang-bayang pembangunan, tentang ruang hidup yang semakin berkurang, dan tentang manusia yang mulai menyadari bahwa mereka berbagi lanskap dengan penjaga-penjaga hening hutan Jawa. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Aksi Cepat Tim MATAWALI Bongkar Fakta Interaksi Negatif Manusia–Satwa

Gresik, 12 November 2025. Di tengah riuh kehidupan perkotaan yang terus berkembang, garis tipis antara ruang hidup manusia dan satwa liar kembali diuji. Sebanyak 18 individu satwa, dari sanca kembang sepanjang beberapa meter hingga seekor monyet betina yang gelisah, berhasil dievakuasi oleh Tim Penyelamatan Satwa Liar (MATAWALI) Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Mojokerto, Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Setelah laporan panjang tentang interaksi negatif satwa dengan masyarakat masuk melalui Call Center KSDA. Laporan itu datang dari UPT DamKarLa Kabupaten Gresik, yang selama 14 Oktober hingga 12 November menangani berbagai kasus penemuan satwa liar di kawasan permukiman. Menyadari potensi risiko bagi warga maupun satwa, tim segera bergerak cepat. Respon kolaboratif antara KSDA Jatim dan Damkarla langsung dieksekusi, sebuah bukti pelayanan publik yang sigap sekaligus cerminan implementasi program MATAWALI yang selama ini digadang sebagai garda depan penyelamatan satwa liar. Ketika tim tiba di lokasi, deretan kandang sementara sudah tampak terisi, 14 ekor sanca kembang, 1 ular koros, 2 biawak air tawar, dan 1 monyet ekor panjang betina yang menunjukkan perilaku stres paska penangkapan warga. Keseluruhan satwa kemudian ditranslokasikan ke Unit Penyelamatan Satwa Liar (WRU) Sidoarjo, untuk pemulihan kondisi dan rehabilitasi sesuai SOP kesejahteraan satwa. Di balik operasi ini, terbangun diskusi penting antara dua lembaga, membuka peluang pelaksanaan “Transfer Knowledge” sebuah agenda bersama untuk memperkuat kapasitas penanganan satwa liar, teknik handling aman, serta mitigasi interaksi negatif manusia–satwa. Kontribusi Damkarla Gresik pun tak bisa diabaikan. Berkat hubungan kerja yang intens dengan RKW 09 Mojokerto, kini berdiri kandang penampungan sementara satwa penyelamatan di Pos Damkar Kota. Poster edukasi terpasang rapi, SOP penanganan awal satwa telah tersusun, dan budaya konservasi perlahan tumbuh dari level daerah, dipelopori oleh para petugas lapangan. Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, operasi ini bukan sekadar evakuasi. Ia adalah potret nyata bagaimana kolaborasi lintas sektor mampu mengurangi konflik, menyelamatkan satwa, dan memberi ruang bagi alam untuk bernapas kembali, bahkan di tengah denyut industri dan permukiman padat. Sebuah langkah kecil, namun menentukan, dalam menjaga harmoni antara manusia dan satwa liar di Jawa Timur. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Ketika Ekoteologi Mengakar di Manggis Gadungan

Kediri, 11 November 2025. Desa Manggis, Kediri, Di teduh naungan hutan yang menjadi rumah bagi puspa-puspa epik genus Ficus, sebuah gerakan kecil namun sarat makna tumbuh pada 11 November 2025. Kementerian Agama Kabupaten Kediri mengajak masyarakat menanam kembali harapan di kawasan Pusat Ficus Nasional (PFN), yang sekaligus menjadi zona penyangga Cagar Alam Manggis Gadungan, sebuah kantong keanekaragaman hayati penting di Jawa Timur. Kegiatan ini digelar dalam rangka Hari Amal Bakti ke-80 dan program Kemenag Menyapa Umat, sebagai wujud nyata implementasi ekoteologi: gagasan bahwa merawat bumi adalah bagian dari merawat iman. Di tengah iklim global yang kian rapuh, gerakan-gerakan sederhana seperti inilah yang kemudian bermakna besar. Upacara dimulai dengan sambutan hangat dari Kepala Desa Manggis dan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Kediri, disaksikan oleh anggota DPRD Kabupaten Kediri, unsur Forkopimcam, CDK Trenggalek, Perhutani, Direktur PFN, Dharma Wanita Kemenag, serta tokoh-tokoh agama setempat. Kebersamaan antar-lembaga ini mencerminkan bahwa konservasi bukan sekadar program pemerintah, melainkan kerja kolektif seluruh pemangku kepentingan. Sebanyak 22 bibit Ficus ditanam pada kegiatan tersebut diantaranya Ficus albipila, F. drupacea, F. nervosa, F. magnolifolia, hingga F. kurzii. Jenis-jenis ini bukan hanya pohon pelindung, mereka adalah “penjaga” ekosistem yang menjadi fondasi bagi banyak satwa liar. Dengan akar yang kuat, buah yang menjadi pakan beragam fauna, serta kemampuan memperbaiki struktur tanah, marga Ficus memainkan peran ekologis yang tidak tergantikan. Di sela kegiatan, petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 03, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) memberikan penjelasan mengenai fungsi ekologis dan nilai penting Cagar Alam Manggis Gadungan, sebuah kawasan yang harus dilindungi dari tekanan manusia, agar tetap menjadi benteng terakhir bagi flora dan fauna endemik wilayah ini. Setelah penanaman, RKW 03 melanjutkan dengan diskusi “Lingkungan dari Sudut Pandang Keagamaan,” menghadirkan Kepala Kemenag Kabupaten Kediri dan Kepala Desa Manggis sebagai narasumber. Percakapan mereka menggambarkan bagaimana ajaran agama dapat menjadi landasan moral untuk menjaga bumi, serta bagaimana komunitas lokal berperan melestarikan kawasan konservasi. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan penuh kekhidmatan. Panitia dari Kemenag Kabupaten Kediri menyampaikan apresiasi kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur atas dukungan penuh dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Di Manggis Gadungan, jejak-jejak cangkul yang menutup lubang tanam perlahan tersamarkan oleh tanah lembap. Namun pesan yang tertanam jauh lebih dalam daripada sekadar bibit Ficus: bahwa merawat alam adalah bagian dari merawat peradaban, dan setiap orang memiliki perannya sendiri dalam memastikan masa depan yang lestari. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Visit to School dalam rangka Edukasi Konservasi untuk Generasi Muda

Simpang Empat, 11 November 2025 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan kembali melaksanakan kegiatan Visit to School sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya konservasi alam. Kali ini, kegiatan dilaksanakan di SMPN 2 Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu, dengan melibatkan siswa-siswi sebagai peserta utama. Kegiatan diawali dengan sambutan dari Staf BKSDA Kalimantan Selatan yang menyampaikan pentingnya peran pelajar dalam menjaga kelestarian lingkungan. Selanjutnya, Kepala Sekolah SMPN 2 Simpang Empat, Bapak Mastu, S.Pd.I., MM., memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi jalannya kegiatan. Beliau berharap kegiatan ini dapat menambah wawasan siswa serta menumbuhkan rasa cinta terhadap alam dan hutan. Memasuki sesi inti, tim BKSDA Kalimantan Selatan menyampaikan beberapa materi edukatif, antara lain: Materi disampaikan secara interaktif sehingga siswa mudah memahami isu-isu konservasi yang berkembang saat ini, termasuk tantangan kerusakan hutan, penurunan populasi satwa liar, serta upaya pelestarian melalui edukasi. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan permainan edukatif yang dirancang untuk mengasah pengetahuan sekaligus meningkatkan keterlibatan siswa. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan serta semangat mengikuti permainan yang telah disiapkan oleh tim. Melalui kegiatan ini, Balai KSDA Kalimantan Selatan berharap semakin banyak generasi muda yang memahami pentingnya menjaga kelestarian alam dan siap menjadi bagian dari upaya pelestarian lingkungan di masa depan. (Ryn) Sumber: Sarah Damayanti N., S.Hut. - Penyuluh SKW III Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Penyelamatan Owa Jawa, Elang Paria, dan Monyet Ekor Panjang di Kediri

Kediri, 14 November 2025. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas industri dan perkampungan padat di Jawa Timur, tiga kisah satwa liar kembali mengingatkan kita bahwa ruang hidup mereka semakin terdesak. Dalam rentang waktu awal November 2025, Tim Penyelamatan Satwa Liar (Matawali) Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bergerak cepat mengevakuasi tiga jenis satwa liar dilindungi. Mulai dari Monyet Ekor Panjang yang berkeliaran di area pabrik, Owa Jawa yang dipelihara warga selama satu dekade, serta Elang Paria yang ditemukan di wilayah Jombang. Kisah pertama bermula dari kawasan industri PT Gudang Garam, ketika seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) berkeliaran dan meresahkan pekerja. Berkat laporan cepat karyawan atas nama Wisnuanto, tim melakukan penanganan menggunakan kandang jebak. Satwa tersebut berhasil diamankan dan dikirim ke Kantor Seksi KSDA Wilayah I Kediri untuk penanganan medis dan observasi. Tak berselang lama, laporan kedua datang dari Desa Gondanglegi, Kecamatan Prambon, Nganjuk. Seorang warga, Sri Haryani, menyatakan keinginannya menyerahkan seekor Owa Jawa yang telah dirawatnya selama kurang lebih 10 tahun. Satwa langka itu, yang telah dipelihara selama satu dekade lalu, akhirnya diserahkan secara sukarela pada 11 November 2025 setelah tim melakukan komunikasi intensif dan memberikan pemahaman terkait aturan konservasi. Sementara itu, di Jombang, seekor Elang Paria telah lebih dahulu dievakuasi pada 10 November 2025. Kondisinya kini dalam pemantauan untuk memastikan siap diproses menuju rehabilitasi lebih lanjut. Ketiga satwa tersebut kemudian dievakuasi oleh Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) menuju kandang transit Balai Besar KSDA Jawa Timur untuk menjalani pemeriksaan kesehatan, identifikasi kondisi perilaku, dan pemulihan sebelum ditentukan langkah terbaik menuju pelepasliaran atau rehabilitasi jangka panjang. Penyelamatan beruntun ini sekali lagi menunjukkan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha dalam menjaga keberlangsungan hidup satwa liar. Setiap laporan yang disampaikan bukan hanya menyelamatkan satu ekor, tetapi turut menjaga kesinambungan ekosistem dan warisan alam Jawa Timur. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Konflik Monyet Ekor Panjang Mengguncang Jember, Tim Matawali BKKSDA Jatim Bergerak Cepat

Jember, 12 November 2025. Di antara rimbun kebun belakang rumah dan dinding-dinding berlumut Dusun Tempuran, Desa Cakru, keresahan warga terus memuncak. Pada pagi dan sore hari, siluet Monyet Ekor Panjang / MEP (Macaca fascicularis) tampak melintas dari atap ke atap, memasuki pekarangan, memecahkan kaca jendela, hingga mengambil barang-barang milik warga. Ketakutan itu akhirnya memanggil perhatian Tim Penyelamatan Satwa Liar (Matawali) Bidang KSDA Wilayah III Jember, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA Jatim) yang pada Rabu, 12 November 2025, turun langsung untuk menindaklanjuti laporan konflik satwa yang semakin intens. Upaya penanganan dilakukan secara kolaboratif, melibatkan Jaringan Satwa Indonesia (JSI), Polsek Kencong, Kepala Desa Cakru, serta Puskeswan Kencong dengan penyisiran rumah-rumah warga untuk memetakan pola pergerakan MEP. Satu kandang jebak dipasang sebagai langkah mitigasi berbasis perilaku satwa, diharapkan mampu mengamankan individu yang meresahkan tanpa mengganggu anggota kelompok lainnya. Di lokasi berbeda, ketegangan meningkat ketika dua anak di Desa Umbulsari menjadi korban gigitan MEP peliharaan. Tim bergerak cepat menuju Pondok Pesantren Tawinul Ulum, tempat satwa tersebut dirawat pemiliknya. Setelah proses evakuasi, ditemukan luka serius pada perut MEP akibat besi pengikat. Dokter hewan JSI melakukan pembiusan dan penanganan luka, sebelum satwa diamankan ke kandang transit Bidang KSDA Wilayah III Jember. Tindak lanjut pemulihan lebih lanjut telah dijadwalkan bersama dokter hewan Dinas Peternakan pada 15 November 2025. Sementara itu, arus laporan dari warga terus berdatangan. Pada hari yang sama, tim kembali merespons informasi dari warga Lingkungan Cangkring, Patrang mengenai satu individu MEP betina yang telah lama dipelihara dan mulai membahayakan lingkungan sekitar. Satwa tersebut kerap menunjukkan perilaku agresif, terutama saat mengalami siklus menstruasi, sehingga menimbulkan kecemasan bagi tetangga sekitar. Dengan kesadaran dan itikad baik, pemilik bernama Sampurno menyerahkan satwa tersebut secara sukarela kepada BKSDA. Sebelumnya ia berencana melepasliarkan sendiri MEP tersebut, namun mengurungkan niat karena menyadari risiko konflik baru apabila dilepas tanpa kajian habitat dan perilaku. Kini, satwa betina tersebut telah berada di kandang transit Kantor Bidang KSDA Wilayah III Jember sebagai bagian dari upaya penanganan dan asesmen lanjutan. Rangkaian kejadian ini kembali menegaskan tantangan besar pengelolaan satwa liar di lanskap yang berubah cepat. Namun di balik ketegangan itu, terlihat jelas komitmen bersama untuk menjaga keselamatan manusia tanpa mengabaikan martabat satwa liar. Monyet ekor panjang, spesies sosial yang adaptif dan cerdas, menjadi pengingat bahwa harmoni hanya dapat terjaga melalui penanganan ilmiah, kolaboratif, dan berkelanjutan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

15 Tahun Dipelihara, Dua Monyet Liar Akhirnya Diserahkan Warga Mojokerto

Mojokerto, 11 November 2025. Suasana tenang Dusun Clangap mendadak berubah tegang ketika dua monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang telah dipelihara selama lebih dari lima belas tahun tiba-tiba menjadi agresif dan membuat resah warga sekitar. Satwa yang dulunya dianggap jinak itu sempat lepas dari kandang, memanjat atap rumah, dan bahkan melukai beberapa warga sebelum akhirnya sang pemilik, Saleuddin, memutuskan untuk menyerahkannya secara sukarela kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Keputusan yang tidak mudah itu menjadi titik balik penting, sebuah langkah sadar untuk menghentikan rantai pemeliharaan satwa liar yang berpotensi menimbulkan konflik berkepanjangan. Menindaklanjuti laporan yang masuk melalui Call Center pada 10 November 2025, Tim Penyelematan Satwa Liar (Matawali) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, bergerak cepat menuju lokasi. Evakuasi dilakukan dengan standar keselamatan tinggi untuk mencegah stres maupun cedera pada satwa, sekaligus memastikan keamanan masyarakat. Kini, kedua monyet tersebut telah dibawa ke Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk menjalani proses rehabilitasi dan pemulihan perilaku. Langkah ini menjadi bagian penting dalam memutus siklus interaksi negatif antara manusia dan satwa liar, terutama spesies yang memiliki potensi zoonosis tinggi. Selain evakuasi, tim juga memberikan penyuluhan kepada warga mengenai bahaya penyakit zoonosis, risiko pemeliharaan satwa liar tanpa izin, serta pentingnya memberikan ruang hidup alami bagi satwa yang seharusnya berada di alam. Penanganan cepat ini tidak sekadar menyelamatkan satwa. Ia menjadi pengingat bahwa harmoni antara manusia dan alam hanya dapat terjaga ketika satwa liar dihormati sebagai bagian ekosistem yang utuh bukan sebagai peliharaan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Sinergi Polri dan BBKSDA Jawa Timur dalam Rakernis Polisi Satwa 2025

Pasuruan, 11 November 2025. Di kaki Gunung Arjuno, suara langkah para anggota Korps Sabhara Baharkam Polri berpadu dengan harmoni orkestra satwa liar di Taman Safari Indonesia II, Prigen (11/11/2025). Suasana pagi itu menjadi saksi kolaborasi antara penegak hukum dan penjaga alam, sebuah Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Ditpolsatwa dan Kewilayahan Tahun 2025. Kegiatan yang berlangsung pada 9–13 November 2025 ini diikuti oleh perwakilan dari seluruh jajaran kepolisian dan mitra konservasi di Indonesia. Salah satu sesi paling dinantikan adalah paparan dari Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Nofi Sugiyanto, S.Hut., M.Ec.Dev., M.A., dengan materi bertajuk “Mencegah Konflik Manusia dan Satwa Liar, Pemahaman Hukum Terkait Perlindungan Satwa, dan Upaya Mengurangi Perburuan serta Perdagangan Ilegal Satwa Dilindungi.” Dalam paparannya, Nofi menekankan bahwa konservasi tidak akan berjalan tanpa dukungan hukum yang tegas, begitu pula sebaliknya. Penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan satwa liar bukan hanya sekadar bentuk sanksi, melainkan pernyataan moral bangsa terhadap keberlangsungan kehidupan di alam. “Menegakkan hukum adalah pesan tegas bahwa satwa liar bukan komoditas, melainkan warisan bangsa yang harus dijaga bersama,” tegasnya. Data dari BBKSDA Jawa Timur menunjukkan capaian yang mengesankan, lebih dari 28.000 ekor satwa liar berhasil ditangani antara 2022–2025 oleh Wildlife Rescue Unit (WRU), mulai dari proses evakuasi, rehabilitasi, hingga pelepasliaran ke habitat aslinya. Dari Elang Jawa, Trenggiling, hingga Lutung Jawa, setiap individu yang diselamatkan adalah kehidupan yang dikembalikan ke rumahnya di alam. Paparan tersebut juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas lembaga. BBKSDA Jawa Timur terus bersinergi dengan Polri, TNI AL, Bea Cukai, Karantina, Angkasa Pura, dan otoritas pelabuhan dalam memantau jalur-jalur peredaran satwa liar dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Gresik, dan Bandara Juanda. Operasi gabungan yang dilakukan di berbagai titik strategis berhasil menekan arus perdagangan ilegal satwa dilindungi. “Mencegah lebih baik daripada menyelamatkan,” ujar kabidtek, menggambarkan filosofi kerja konservasi yang menempatkan deteksi dini sebagai garis pertahanan pertama melawan kejahatan terhadap alam. Selain di jalur darat dan laut, BBKSDA Jatim juga aktif dalam mitigasi “bird strike” di area bandara, bekerja sama dengan otoritas penerbangan, Karantina, dan AirNav Indonesia. “Langit harus aman bagi pesawat, tapi juga tetap ramah bagi burung. Bird strike bukan hanya isu penerbangan, tapi juga isu konservasi,” terangnya. Momentum Rakernis Ditpolsatwa 2025 menjadi simbol penting, bahwa keamanan nasional dan pelestarian alam bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya adalah dua sisi dari satu tekad yang sama, yaitu untuk melindungi kehidupan. Dalam refleksinya, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menyampaikan apresiasi terhadap sinergi ini. “Konservasi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi gerakan kebangsaan. Ketika aparat penegak hukum, lembaga konservasi, dan masyarakat bersatu, maka yang kita lindungi bukan hanya satwa, tapi masa depan bangsa,” tegasnya. Rakernis Ditpolsatwa yang berlangsung di Taman Safari Prigen bukan sekadar forum teknis, tetapi ruang refleksi untuk memperkuat empati dan kolaborasi. Di antara diskusi tentang detasemen satwa liar, efektivitas pelatihan K9, dan tata kelola hewan, terselip pesan ekologis yang kuat, bahwa menjaga satwa berarti menjaga ekosistem, dan menjaga ekosistem berarti menjaga kehidupan manusia itu sendiri. Dari Prigen, suara konservasi itu bergema bahwa “Indonesia harus menjadi tempat di mana hukum berjalan tegak, dan alam tetap bersuara.” (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

BKSDA Kalimantan Selatan Selenggarakan Bimbingan Teknis Penanganan Konflik Manusia & Satwa Liar

Banjarbaru, 10 November 2025 – Untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi petugas di lapangan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Inhouse Training) Penanganan Konflik Manusia & Satwa Liar. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan tim dalam merespons dan menangani konflik antara manusia dengan satwa liar secara profesional, cepat, tepat, dan tetap mengutamakan keselamatan bersama. Pelatihan ini diikuti oleh Satgas Penanganan Konflik Manusia & Satwa Liar, perwakilan dari Manggala Agni, serta Mahasiswa Pecinta Alam yang selama ini aktif mendukung kegiatan konservasi di Kalimantan Selatan. Keberagaman peserta ini diharapkan menciptakan sinergi dan memperkuat kolaborasi dalam upaya penanganan konflik di lapangan. Selama kegiatan berlangsung, peserta menerima materi teori dan praktik lapangan yang meliputi Dinamika konflik satwa liar di Kalimantan Selatan, dimana peserta diperkenalkan dengan pola dan tren kejadian konflik satwa liar yang sering terjadi di wilayah kerja BKSDA Kalsel, terutama pada satwa prioritas seperti buaya, bekantan, dan ular. Tata cara pelaporan dan dokumentasi penanganan konflik yang menekankan pentingnya akurasi data, dokumentasi lapangan, serta pelaporan kepada pihak berwenang sebagai bentuk pertanggungjawaban tugas. Simulasi evakuasi ular di lapangan melalui skenario nyata, peserta dilatih untuk mengevakuasi ular secara aman tanpa membahayakan diri sendiri maupun satwa yang ditangani. Teknik penanganan konflik ular dan manusia, dimana peserta mempelajari identifikasi jenis ular, penilaian tingkat ancaman, dan teknik yang aman saat menghadapi ular di permukiman atau area publik. Dan materi terakhir yaitu praktik penggunaan senapan bius, dimana Instruktur memberikan pendampingan langsung mengenai prosedur penggunaan senapan bius dalam evakuasi satwa liar, termasuk pengenalan dosis dan keamanan dalam operasional. Dengan adanya bimbingan teknis ini, BKSDA Kalimantan Selatan berharap, kompetensi teknis petugas semakin meningkat, respons penanganan konflik di lapangan semakin cepat dan profesional, terwujudnya koordinasi efektif antara BKSDA, masyarakat, dan mitra terkait, serta keselamatan manusia tetap menjadi prioritas utama tanpa mengabaikan aspek perlindungan dan kesejahteraan satwa liar. Kepala BKSDA Kalimantan Selatan juga menegaskan bahwa keberhasilan penanganan konflik tidak hanya bergantung pada keterampilan teknis, tetapi juga pada komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi antar-unit di lapangan. Konflik antara manusia dan satwa liar merupakan tantangan nyata dalam pengelolaan konservasi, terutama akibat meningkatnya perjumpaan satwa di area pemukiman dan wilayah aktivitas manusia. Dengan pelatihan ini, BKSDA Kalimantan Selatan menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan keseimbangan antara aktivitas manusia dan kelestarian satwa liar, mencegah terjadinya konflik melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat, dan menjalankan tugas secara profesional sesuai dengan standar operasional. (Ryn) Sumber : Beny Rahmanto, S.Hut., M.Hut. - (PEH) dan doc. by : Riyan Susilo adji, S.Kom (Prakom) - Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Coffee Morning Bersama Masyarakat Adat Penyangga TN Kayan Mentarang

Malinau, 12 November 2025. Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) memiliki visi dan misi sebagai praktik terbaik taman nasional kolaboratif di Indonesia dan destinasi utama ekowisata perbatasan dalam pelestarian keanekaragaman hayati Kalimantan dan Budaya Masyarakat Adat Dayak. TNKM terus berkomitmen membangun kerjasama dengan masyarakat yang hidup berdampingan dengan Kawasan Konservasi. Dalam implementasinya Kepala Balai TNKM didampingi Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wil. I Long Bawan menyambangi lokasi kurid di Kecamatan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan. Lokasi kurid merupakan sebuah kelompok perdesaan yang terdiri atas enam desa. Tiga dari enam desa yang berada di lokasi kurid merupakan binaan dari Balai Taman Nasional Kayan Mentarang. Kunjungan kali ini bertujuan untuk melakukan monitoring dan evaluasi terhadap berbagai program dan batuan yang telah dilaksanakan. Pada pertemuan kali ini Kepala Balai TNKM berdiskusi cukup panjang dengan tokoh-tokoh masyarakat yang ada, baik itu Kepala Desa maupun Kepala Adat Besar Krayan Barat. Dalam pertemuan tersebut dibahas berbagai permasalahan yang ada di masyarakat serta saran-saran pengelolaan Kawasan TNKM kedepannya di wilayah adat Krayan Barat. Baru Ating selaku Kepala Adat Besar Krayan Barat menyampaikan kepada Balai TNKM agar dapat meningkatkan perannya dalam menyejahterakan masyarakat sekitar Kawasan Hutan. “Saya berharap Balai TNKM bisa meningkatkan lagi program dan bantuan yang melibatkan masyarakat khususnya di bidang pemberdayaan masyarakat dan peningkatan ekonomi masyarakat sekitar kawasan TNKM, hal ini saya sampaikan karena kami rasa beberapa tahun belakangan intensitas dari program dan bantuan dirasa kurang, lebih banyak pendampingan mandiri secara swadaya.” Arifin selaku Kepala Desa Buduk Kubul menyampaikan, “Kami sangat berterima kasih atas bantuan dari Balai Taman Nasional Kayan Mentarang bagi lokasi kurid yaitu berupa Handtractor dan mesin giling padi. Bantuan yang telah diberikan kepada kami sangat membantu dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi di sektor pertanian. Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan yang nyata bagi kesejahteraan petani di desa kami.” Sementara itu pada kesempatan kali ini Seno Pramudito, S.Hut., M.E. selaku Kepala Balai TNKM menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat adat yang selama ini sudah turut serta menjaga dan melestarikan Kawasan TNKM. “Saya berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang sudah turut serta dalam menjaga dan melindungi Kawasan TNKM, terkait Program dan Bantuan yang dirasa kurang, kami akan mengupayakan untuk Program Program tersebut akan terus kita tingkatkan dan kita usulkan supaya dapat terakomodir di anggaran Balai TNKM tahun 2026.” Balai TNKM berharap komunikasi dan kerja sama yang baik ini bisa terus dijaga dan ditingkatkan untuk mewujudkan pengelolaan kawasan konservasi yang memegang teguh prinsip kolaboratif serta dapat mendukung Asta Cita Presiden khususnya dibidang ketahanan pangan, pemerataan ekonomi dan membangun kehidupan yang harmonis antara manusia dengan alam. Sumber: Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

7 Individu Elang Ular Bawean Muncul Serentak di Gunung Besar, Pertanda Apa Ini? Inbox

Bawean, 10 November 2025. Gunung Besar di Pulau Bawean menyuguhkan sebuah peristiwa langka pada pagi 10 November 2025. Dalam patroli kawasan yang digelar Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), tujuh individu Elang Ular Bawean tampak muncul bersamaan, seakan menandai wilayah hutan dengan bahasa langit yang hanya dimengerti oleh mereka yang tahu bagaimana membaca isyarat alam. Bagi tim Smart Patrol, temuan ini adalah denyut penting yang membuktikan bahwa jantung ekosistem Bawean masih beroperasi dengan ritme alamiahnya. Patroli hari itu digerakkan oleh delapan personel yang terbiasa menembus sunyi rimba. Abdul Rahim memimpin keseluruhan operasi sebagai koordinator, sementara Tifan Nurrizal menjaga stabilitas langkah sebagai leader tim. Nur Hayyan Jahansyah mengambil peran navigasi, mengarahkan tim menuju blok hutan yang dalam wilayah grid 604 dan 620, salah satu kantong habitat paling tua dan paling rapat di Gunung Besar. Tiga pengisi data Smart Mobile, Muhammad Hekkam, Taufik Hidayat, dan Bustanul Muhaddisin, mengamankan setiap temuan, memastikan bahwa detail lapangan menjadi bagian dari basis data konservasi. Uswandi Putra membingkai perjalanan melalui kamera, menangkap detail yang tak pernah benar-benar bisa diceritakan oleh kata-kata saja. Di belakang, Rudi Harsono bersiaga sebagai sweeper, menjaga formasi tetap utuh di bawah naungan pepohonan yang saling bertaut. Hutan pagi itu seperti ruang konser raksasa yang baru saja menghela napas panjang. Kanopi didominasi oleh Gondang, Badung yang tegak seperti tiang-tiang purba. Prunus javanica dengan aroma halusnya, Laksa hutan yang menyulam dinding-dinding vegetasi, hingga tanjung gunung, dampul, dan berbagai jenis Ficus yang menciptakan lorong cahaya tipis. Di lantai hutan, hamparan pakis dan resam tumbuh tanpa jeda, menggambarkan kelembapan yang stabil dan kebugaran lingkungan yang mendukung keberlangsungan banyak spesies. Ketika tim sedang melakukan penyisiran area yang curam, pergerakan besar di atas kanopi menarik perhatian. Tujuh Elang Ular Bawean melintas bagaikan parade senyap. Sayap mereka membuka lebar, menciptakan gelombang udara seolah terasa hingga ke tanah. Beberapa di antaranya turun dan bertengger pada dahan tinggi, mengamati hutan seperti seorang penjaga yang tengah menilai keadaan wilayahnya. Kemunculan bersama dalam jumlah sebanyak ini jarang tercatat, dan menjadi indikator kuat bahwa Gunung Besar masih menyediakan ruang hidup bagi predator puncak khas pulau kecil. Bagi tim, peristiwa itu adalah pertanda baik. Dalam ekologi kepulauan, keberadaan predator puncak menandakan rantai makanan bekerja dengan seimbang. Jika elang masih berjaga, itu berarti mangsa masih tersedia, vegetasi masih cukup, dan hutan masih menjalankan fungsinya sebagai rumah besar kehidupan. Selain sang penguasa langit, hutan pagi itu juga memperlihatkan keragaman aves yang mengisi celah-celah vegetasi. Tiong emas nyaring bersorak pada puncak pohon tinggi, suaranya memantul seperti gema dari dunia lain. Pergam hijau melintas tenang dengan bulu yang memantulkan kelembutan cahaya hutan. Di semak-semak lebih rendah, Cinenen jawa bergerak lincah seperti bayang-bayang yang melompat di antara ranting muda. Merbah belukar muncul dalam kelompok kecil, menandai kehadirannya dengan suara yang renyah. Tak jauh dari sungai kecil yang membelah hutan, Raja udang punggung merah melesat, meninggalkan garis warna seperti sapuan cat seniman. Seluruh temuan ini memperkuat gambaran tentang Gunung Besar sebagai habitat penting yang terus memelihara keragaman hayati Bawean. Meski terpisah dari daratan utama Jawa, pulau kecil ini menyimpan kekayaan evolusioner yang unik, kombinasi antara isolasi geografis dan daya lenting ekologis. Balai Besar KSDA Jawa Timur menegaskan kembali bahwa patroli semacam ini bukan sekadar rutinitas, melainkan benteng pertama dalam pemantauan ekosistem pulau. Setiap langkah tim Smart Patrol merupakan bagian dari upaya panjang memastikan bahwa hutan Bawean tetap menjadi ruang hidup bagi spesies-spesiesnya, terutama predator puncak seperti Elang Ular Bawean yang menjadi simbol kekuatan dan keseimbangan alam. Gunung Besar hari itu memberi satu pesan bahwa selama langitnya masih diisi kepakan sayap para penjaga, hutan Bawean masih menyimpan harapan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Menyatukan Sains dan Kebijakan Untuk Masa Depan Ekologi Provinsi dengan Biodiversitas Tertinggi di Pulau Jawa

Surabaya, 11 November 2025. Hotel Morazen di Jalan Kayoon, Surabaya, berubah menjadi ruang percakapan besar tentang masa depan ekologi Jawa Timur (11/11/2025). Ruang pertemuan itu memancarkan suasana yang tidak sekadar rapat formal. Ia terasa seperti panggung tempat para ilmuwan, pengambil kebijakan, akademisi, dan pengelola lapangan berkumpul untuk menavigasi ulang arah perlindungan keanekaragaman hayati di provinsi yang menyimpan tipe ekosistem yang kompleks ini. Kegiatan bertajuk Workshop Penguatan Perencanaan Pembangunan Daerah melalui Penyusunan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Provinsi Jawa Timur dibuka dengan sesi Setting the Context oleh Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas. Melalui paparan tersebut, peserta diajak kembali melihat peta besar IBSAP 2025–2045, arah pembangunan nasional, serta bagaimana Jawa Timur, dengan keragaman lanskapnya, memegang peran penting sebagai barisan depan konservasi di Pulau Jawa. Dari sesi itu, tampak jelas bahwa urgensi pengelolaan KEHATI tidak lagi bisa dipandang sebagai pelengkap pembangunan, melainkan sebagai fondasi yang menentukan ketahanan ekologis jangka panjang. Sesi berikutnya menghadirkan paparan berjudul Tata Kelola Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di Daerah melalui Profil Keanekaragaman Hayati dan Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati oleh perwakilan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. Penjelasan tersebut menguraikan bagaimana sebuah rencana induk tidak mungkin kokoh tanpa data yang tajam, kolaborasi yang konsisten, serta pemahaman mendalam terhadap dinamika spesies dan ekosistem di tingkat tapak. Pandangan-pandangan penting kemudian mencuat dari sesi penanggap. Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur menyoroti pentingnya integrasi KEHATI dalam dokumen perencanaan daerah. Dinas Kelautan dan Perikanan memberi catatan mengenai pentingnya memperkuat perlindungan kawasan pesisir dan sumber daya laut. Akademisi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur menyoroti pengembanngan kawasan Taman Kehati sebagai sarana riset bioekologi dan restorasi habitat pada kawasan. Burung Indonesia, melalui pengalamannya di berbagai lanskap Nusantara, menegaskan bahwa keberhasilan konservasi membutuhkan kelas kebijakan yang lintas sektor. Sementara itu, Nur Patria Kurniawan - Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur menggarisbawahi tugas paling mendesak, menyempurnakan Profil Keanekaragaman Hayati Jatim dengan memperjelas adanya Areal Preservasi sebagai ruang ekologis yang tidak dapat dinegosiasikan, serta memperkuat Satu Data KEHATI sebagai dasar pengambilan keputusan. “Keanekaragaman hayati Jawa Timur adalah fondasi masa depan kita. Ia memberi air, udara, pangan, budaya, dan stabilitas ekologis. Karena itu, kami menegaskan bahwa konservasi bukan sekadar administrasi, melainkan gerakan nyata yang harus hadir dalam setiap kebijakan pembangunan daerah. Melalui forum ini, kami berharap penyusunan Rencana Induk KEHATI Jatim diperkuat dengan sains terbaik, kolaborasi multipihak, dan keberanian untuk melindungi yang tersisa,” tegasnya. Di tengah diskusi ini, muncul pula satu masukan penting dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Mereka mengingatkan bahwa Dokumen Rencana Induk Pengelolaan KEHATI tidak boleh hanya melihat ke hutan dan fauna darat, dan lautm namun juga wajib memasukkan kondisi spesies ikan air tawar yang kini berada dalam tekanan tinggi akibat degradasi sungai, sedimentasi, polusi, dan fragmentasi aliran air. Banyak spesies endemik yang hidup di celah-celah sungai, yang kini berada dalam risiko hilang secara perlahan tanpa pernah tercatat secara memadai. Masukan ini memperkaya cakrawala forum bahwa KEHATI Jawa Timur tidak hanya menyangkut satwa karismatik, tetapi juga spesies kecil yang memegang peran besar dalam keseimbangan ekosistem perairan darat. Diskusi berjalan lembut namun dalam, menggambarkan betapa banyak lapisan yang harus dijaga di Jawa Timur. Dari tutupan hutan hingga dasar sungai, dari pesisir yang dipenuhi karbon biru hingga pulau-pulau kecil yang menjadi laboratorium bioprospeksi. Suasana forum terasa seperti menyelami anatomi sebuah provinsi yang hidup, bergerak, dan sekaligus rapuh. Dari rangkaian dialog itu, harapan untuk memperkuat Rencana Induk KEHATI semakin nyata. Dokumen tersebut diharapkan tidak hanya menjadi peta dua dekade ke depan, tetapi juga penuntun dalam merestorasi lanskap, memulihkan spesies, dan membangun ekonomi hijau-biru yang tetap memuliakan alam. Ketika forum ditutup, tidak ada perasaan bahwa sebuah pekerjaan telah selesai. Yang muncul justru kesadaran bahwa langkah selanjutnya jauh lebih besar. Merawat seluruh kehidupan yang bernaung di Jawa Timur. Dari gerak ikan kecil di sungai pegunungan hingga kepakan Merak Hijau yang mewarnai budaya, dari bisik mangrove pesisir hingga napas hutan kering di musim kemarau. Jawa Timur menyimpan masa depan yang harus dijaga dengan sains, kebijakan, dan keberanian. Dan forum ini menjadi satu batu loncatan penting untuk memastikan semua itu berjalan seiring menuju pembangunan yang benar-benar berpihak pada kehidupan. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Dua Pulau, Dua Wajah Konservasi, Cagar Alam Pulau Noko dan Pulau Nusa

Bawean, 11 November 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) kembali melakukan Smart Patrol di dua pulau kecil di Laut Jawa yang menjadi laboratorium alam penting bagi ekosistem pesisir. Tim menemukan perubahan alami, fitur buatan yang rusak, hingga vegetasi kunci yang menjadi penanda kesehatan ekosistem pulau-pulau karang. Pada akhir Oktober 2025, Di antara riak Laut Jawa yang tak pernah beristirahat, dua pulau kecil kembali menjadi pusat perhatian tim Smart Patrol BBKSDA Jawa Timur. Pulau Noko dan Pulau Nusa, dua cagar alam yang letaknya berdekatan namun menawarkan lanskap dan tantangan yang kontras, menjadi rute utama patroli rutin yang digelar sebagai bagian dari upaya menjaga integritas ekosistem pulau-pulau kecil. Patroli dimulai di Pulau Noko, sebuah pulau berukuran kecil tanpa vegetasi pohon tinggi. Ketika tim menjejakkan kaki, pasir putih yang halus tampak bergerak pelan tertiup angin, seolah mengingatkan bahwa lanskap pulau ini terus berubah dari waktu ke waktu. Dalam patroli kali ini, tim mendokumentasikan kehadiran tumbuhan perintis yang mulai tumbuh di antara tumpukan pasir dan cangkang kerang. Temuan ini menjadi indikator penting bahwa proses suksesi alami tetap berlangsung meski kondisi lingkungan relatif ekstrem. Tumbuhan perintis pada ekosistem pesisir berperan sebagai penahan pasir alami, sekaligus membuka jalan bagi tumbuhan lain untuk berkembang di fase-fase berikutnya. Hanya berjarak beberapa ratus meter, Pulau Nusa tampil dengan karakter berbeda. Pulau ini didominasi batu karang yang tajam, ombak yang kuat, serta vegetasi khas pulau karang. Di titik tertentu, tim menemukan papan nama kawasan yang rusak akibat terpaan gelombang. Kondisi ini menjadi ancaman bagi identitas kawasan konservasi yang wajib dijaga ketegasannya. Dengan peralatan seadanya, petugas memperbaiki papan nama tersebut. Aksi kecil ini merupakan penegasan bahwa perlindungan kawasan bukan hanya tentang pemantauan satwa dan vegetasi, tetapi juga memastikan penanda, batas, dan identitas kawasan tetap hadir sebagai rujukan hukum dan edukasi publik. Patroli juga mencatat keberadaan vegetasi dominan seperti Pisonia grandis, atau Wijayakusuma Keraton pohon besar berdaun lebar yang menjadi elemen penting ekosistem pulau karang. Di sekitar vegetasi ini, terlihat bekas burung-burung laut bertengger dan bersarang, menandakan bahwa Pulau Nusa tetap menjadi ruang hidup bagi satwa pesisir. Keseimbangan antara vegetasi dan satwa di pulau kecil memberikan gambaran bahwa meski lanskap ini terlihat keras, pulau-pulau tersebut menyediakan ruang ekologis yang vital bagi burung migran maupun burung residen. Patroli kali ini juga melibatkan rekan-rekan ASN yang baru bergabung di BBKSDA Jawa Timur. Melalui perangkat digital yang mereka gunakan untuk pencatatan lapangan dan monitoring, proses transfer pengetahuan berjalan secara natural. Mereka belajar bahwa konservasi tidak hanya berada di pundak petugas fungsional, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh lini pegawai, dari administrasi hingga pimpinan. Pendekatan ini sekaligus memperkuat budaya konservasi berbasis kolaborasi di internal BBKSDA Jawa Timur, bahwa setiap pegawai adalah bagian dari rantai penjaga ekosistem. Smart Patrol di Pulau Noko dan Pulau Nusa menegaskan kembali bahwa pulau kecil memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan ekologis. Meski luasnya terbatas, ekosistem yang berkembang di dalamnya memiliki sensitivitas tinggi dan membutuhkan sentuhan perlindungan berkelanjutan. Bagi tim di lapangan, setiap patroli bukan hanya tugas rutin tetapi pembacaan terhadap denyut kehidupan yang terus berubah. Dan bagi BBKSDA Jawa Timur, menjaga pulau kecil berarti memastikan bahwa bagian-bagian kecil dari bumi tetap memiliki kesempatan untuk hidup, pulih, dan berkembang. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 65–80 dari 11.091 publikasi