Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

PASMAT Bersihkan Sampah Demi Lingkungan NKRI

Cibodas, 15 Mei 2018. Bertempat di Bumi Perkemahan (Buper) Mandalawangi (10/05/18) dalam rangka mendukung program KLHK yaitu Indonesia Bebas Sampah Tahun 2025 telah dilaksanakan aksi bersih oleh PASMAT (Paguyuban SMA Tanjung Karang) dan BBTNGGP. Kegiatan aksi bersih ini diawali dengan penyerahan secara simbolis trash bag (kantong sampah) dari Kepala Balai Besar TNGGP kepada Pembina PASMAT, Drs. Rusli. Kegiatan aksi bersih ini diikuti sekitar 50 orang anggota PASMAT yang terdiri dari berbagai angkatan. Kegiatan ini bertujuan membudayakan kepedulian akan kebersihan lingkungan kepada anggota PASMAT khususnya dan masyarakat pada umumnya. Membudayakan sikap menjaga kebersihan lingkungan ini akan terus dilakukan oleh PASMAT sebagai wujud peningkatan nilai keimanan sebagai umat beragama karena kebersihan merupakan sebagian dari Iman. Diakhir kegiatan dilakukan penyerahan sampah hasil aksi bersih dari Pembina PASMAT kepada Kepala Balai Besar TNGGP. Sumber : BBTNGGP
Baca Berita

“Penyegaran Pejabat Fungsional” Polisi Kehutanan Lingkup BBKSDA Papua Tahun 2018

Jayapura, Selasa, 15 Mei 2018. Polisi Kehutanan merupakan salah satu dari pejabat fungsional yang dimiliki Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pada BBKSDA Papua sebagai Unit Pelaksana Teknis yang mengemban tugas melindungi, mengawetkan dan memanfaatkan sumber daya alam di kawasan konservasi lingkup wilayah kerjanya yaitu, Provinsi Papua, memiliki 31 orang pejabat fungsional Polisi Kehutanan yang terbagi di dua Bidang wilayah dan tiga seksi wilayah. BBKSDA Papua menyelenggarakan kegiatan penyegaran terhadap pejabat fungsional polisi kehutanan berlokasi di LPMP, Kotaraja sejak tanggal 7 sampai dengan 9 Mei 2018. Penyegaran ini dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi sesama petugas polisi kehutanan lingkup BBKSDA Papua, karena penempatan kerja yang berjauhan satu dengan yang lain, seksi wilayah kerja Timika, Biak, dan Sarmi, serta bidang wilayah kerja Nabire dan Merauke dan hanya dapat ditempuh dengan menggunakan alat transportasi udara. Peserta penyegaran polhut tahun 2018 juga mengundang polhut yang bertugas di Seksi Wilayah III Balai Gakkum, Jayapura. Selain itu, penyegaran ini dimaksudkan untuk menyegarkan ingatan pejabat polisi kehutanan (polhut) pada aturan yang berlaku, aturan terbaru mengenai polhut, maupun ajang sharing/ berbagi pengalaman selama bertugas. Sejak terakhir kali diselenggarakan 6 tahun yang lalu, kegiatan penyegaran polhut tahun 2018 diselenggarakan selama 3 hari. Pada 2 hari pertama diisi dengan pemberian materi, baik mengenai pejabat fungsional polisi kehutanan dan angka kreditnya, pengenalan jenis tumbuhan dan satwa liar, bagaimana sebaiknya menyusun DUPAK maupun materi tentang kepegawaian yang diharapkan peserta dapat memberikan informasi ini kepada pegawai lainnya di lokasi tugasnya masing-masing. Pada pelaksanaan kegiatan di hari ketiga, peserta diberi kesempatan untuk melakukan praktek menembak. Sehari sebelumnya diberikan materi mengenai pengamanan “savety” yang wajib diperhatikan saat melakukan latihan menembak. Peserta diberi kesempatan untuk melakukan latihan menembak pada jarak 15 m, 20 m, sampai dengan 25 m dan berlokasi di lapangan menembak SPN Jayapura, Dok 9. Tiap peserta didampingi instruktur menembak dan peluru tajam sebanyak 40 butir. Latihan ini menggunakan dua tipe senjata api, yaitu revolver dan senapan laras panjang. 30 peluru yang digunakan saat latihan menembak menggunakan revolver, peserta diberi kejutan bahwasanya hasil tembakan tersebut dihitung dan dikompetisikan antar peserta. Saat latihan menembak ini berakhir akan diumumkan siapa yang memiliki nilai paling tinggi. Penutup acara peserta diberi kesempatan oleh instruktur untuk mengikuti “fungame” menggunakan revolver untuk menjatuhkan target. Pemenang Juara I diantara peserta dengan menyandang nilai 130 adalah polhut wanita di BBKSDA Papua, Kurnianingsih dan Juara 2 dengan menyandang nilai 119 adalah polhut dari Balai Gakkum, Lido Hartanto. Pemenang “fungame” berasal dari tim yang bernama “cenderawasih” yang anggota timnya berasal dari Bidang KSDA Wilayah II Nabire. Sumber : Kurnianingsih - BBKSDA Papua
Baca Berita

Konsultasi Publik Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Wisata Alam Sidrap

Sidrap, 14 Mei 2018. Dalam rangka pengelolaan kawasan konservasi secara sinergis dengan seluruh pihak terkait, Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan melaksanakan Kegiatan Konsultasi Publik Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) 2018-2027 Kawasan Hutan Konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Sidrap. Acara ini dibuka oleh Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Pemerintah Daerah Kabupaten Sidrap di Ballroom Al-Goni Hotel Grand Sidny,H. Amir Wali. Dalam sambutan Bupati yang beliau bawakan, Pemerintah Daerah Kabupaten Sidrap mendukung rencana pengelolaan ini (RPJP) dan perlu mendapatkan perhatian semua pihak dalam rangka pembangunan daerah khususnya disektor kehutanan dan pariwisata, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sidrap akan mendukung secara maksimal segala upaya bersama yang dilakukan untuk menyukseskan rencana pengelolaan tersebut, yang disambut gembira para peserta yang berasal dari Bappeda , Dikporbudpar, Dinas PSDA, Dinas Perdagangan, Dinas Perumahan Rakyat, Permukiman, Pertanahan dan Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, Ketahananan Pangan dan Perikanan, Diskominfo, Kepolisian Resort, PLN, Kepolisian Sektor Panca Rijang, KPH Bila, Camat Kulo, Kepala Dusun Maddenra, lembaga sosial masyarakat Yagrobitama Sidrap, serta beberapa tokoh masyarakat Kab. Sidrap. Dalam paparannya mewakili Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi selatan, Kepala Bidang KSDA wilayah II Parepare Ir. Ahmad Yani mengatakan, ditetapkannya kawasan hutan yang ada di Desa Maddenra ini menjadi Kawasan Konservasi TWA Sidrap karena memiliki nilai penting, yakni kekayaan alam, budaya dan sejarah. Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Soppeng Ir. Lahuddin MM yang juga hadir menambahkan, sebagaimana yang telah diketahui, bahwa selain keanekaragaman hayati, sumur belerang, air terjun, goa kelelawar dan panorama alam yang indah, Kawasan Hutan TWA Sidrap juga memiliki nilai histori penting, dimana kawasan ini dulunya merupakan basis pergerakan para pejuang kemerdekaan 45 di Sulawesi Selatan, diantaranya Andi Oddang (Gubernur Pertama Sulsel), Andi Selle, Usman Balo dan lain-lain, sehingga hal-hal tersebutlah yang dapat menjadi modal besar bagi Kabupaten Sidrap dalam mendorong TWA Sidrap menjadi salah satu tujuan utama pariwisata di Kab. Sidrap. Konsultasi publik ini diakhiri dengan penandatanganan bersama Berita Acara Kesepakatan RPJP 2018-2027 Kawasan Hutan Konservasi TWA Sidrap oleh seluruh peserta acara. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Perang Melawan Pengganggu Danau Ranu Pani Masih Berlanjut

Ranupani, 15 Mei 2018. Para volunteer yang dikoordinir Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan Gimbal Alas lakukan kegiatan bersih salvinia Danau Ranu Pani pada Minggu, 13 Mei 2018. Ini merupakan aksi kerja bersama membersihkan gulma jenis Salvinia molesta pengganggu Ranu Pani. Peserta kegiatan berasal dari beberapa organisasi pemerhati lingkungan, kelompok masyarakat dari Desa Ranu Pani, kelompok tani Ranu Lingga Rekisi, Forum Sahabat Gunung, Probolinggo Jeep Community, dengan jumlah peserta kurang lebih 200 orang dan luas ranu yang berhasil dibersihkan 0,25 ha. John Kenedie Kepala Balai Besar TNBTS menjelaskan “kondisi awal sebelum pembersihan kali ini, Ranu Pani sudah bersih kurang lebih 60% dari luas 4 Ha, melalui kegiatan pembersihan dengan biaya dari TNBTS dan kegiatan sukarela yang dilaksanakan sebelumnya”. “Kegiatan sukarela bersih ranupani mencerminkan kepedulian masyarakat pada keberadaan ranu pani sebagai salah satu danau yang penting sebagai penyangga sistem kehidupan khususnya di sekitar G.Semeru” tambah John Kenedie. Kegiatan pembersihan danau Ranu Pani akan dilaksanakan hingga 100% bersih dari gulma. Sumber: Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

360 Orang Siswa Siswi Gejera Pentakosta Kemah Di TNTN

Tesso Nilo, 15 Mei 2018. Bumi perkemahan kawasan TNTN diramaikan oleh para siswa siswi binaan gereja Pentakosta yang melaksanakan kemah pada tanggal 14 hingga 16 Mei 2018. Kemah diikuti oleh 360 orang siswa siswi pemuda gereja dalam rangka pembekalan ilmu lingkungan dan keagamaan yang disusun dalam rangkaian kegiatan selama 3 hari penuh. Dalam rangkaian kegiatannya, 360 peserta perkemahan ikuti pembekalan keagamaan yang diberikan oleh panitia pelaksana. Pada hari kedua para peserta perkemahan laksanakan kegiatan menyusuri kawasan hutan dan mengamati keanekaragaman hayati didampingi oleh petugas dari TNTN. Peserta perkemahan juga diajak untuk bertemu dengan gajah TNTN di flying squad dan diberikan edukasi tentang kehidupan gajah. Malam terakhir pada kegiatan perkemahan, api unggun dikobarkan di bumi perkemahan untuk menutup kegiatan. Kepala SPW I LKB Taufiq Haryadi, S.P mengatakan mendukung penuh kegiatan perkemahan sejenis untuk terus dilaksankan di TNTN, “kegiatan camping seperti ini dengan memadukan kegiatan keagamaan dan konservasi kami dukung dan merupakan salah satu upaya untuk menyebarkan virus virus konservasi kepada generasi muda dan semoga paham serta menjadi pejuang konservasi kedepannya”. Sumber : BTN Tesso Nilo
Baca Berita

Kesadaran Masyarakat Meningkat, 1 ekor Kukang Diterima BKSDA Sumsel

Pagar Alam, 15 Mei 2018. Upaya penyadartahuan kepada masyarakat akan kepemilikan satwa liar dilindungi rutin dilakukan Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan (Sumsel). Diharapkan melalui upaya tersebut selain dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan larangan kepemilikan satwa liar dilindungi juga menumbuhkan peran aktif masyarakat untuk bersama-sama dengan BKSDA Sumsel menertibkan kepemilikan satwa liar dilindungi. Penyerahan Kukang (Nycticebus coucang) di Kota Pagar Alam oleh masyarakat merupakan salah satu parameter keberhasilan SKW II BKSDA Sumsel menanamkan kesadaran kepada masyarakat akan larangan kepemilikan satwa liar dilindungi. Sebanyak 1 ekor Kukang (Nycticebus coucang) diserahkan masyarakat di Perumnas Nendagung Kota Pagar Alam. Pemilik beritikad baik dan penuh dengan kesadaran menyerahkan satwa liar dilindungi tersebut kepada petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) VI Gumai, SKW II Lahat, BKSDA Sumsel. Mempertimbangkan kondisi satwa yang masih sangat liar maka untuk selanjutnya satwa liar dilindungi tersebut akan segera dilepasliarkan di Kawasan Hutan Suaka Alam Pusat Latihan Gajah Kelompok Hutan Isau-Isau yang merupakan habitatnya. Sumber : Wahid Nurrudin PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Sosialisasi Cagar Biosfer, Desain Tapak dan Permasalahan di TN Kepulauan Togean

Ampana, 14 Mei 2018. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) melaksanakan Koordinasi pembahasan Sosialisasi Cagar Biosfer, Desain Tapak dan Permasalahan di Kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean di Aula Rapat Kantor Balai TNKT. Dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Tojo Una-Una, Bapak Moh. Taslim DM Lasupu, Sp.MT, beberapa Kepala OPD yang ada di Pemerintah Daerah Kabupaten Tojo Una-Una serta beberapa elemen terkait seperti TNI, Kepala Pelabuhan, Pemerhati Wisata, Wartawan, dan perwakilan masyarakat. Kepala Balai TNKT, Bustang, memiliki rencana dan program salah satunya usulan/nominasi Kepulauan Togean sebagai Cagar Biosfer. Cagar Biosfer merupakan peluang akan pengakuan dunia Internasional tentang Kepulauan Togean sehingga meningkatkan promosi dan branding di dunia Internasional. Selain itu, cagar biosfer juga sebagai upaya untuk menyeimbangkan antara pembangunan berkelanjutan dengan kelestarian ekosistem. Sementara terkait desain tapak, hal ini menjadi landasan bagi pengelolaan TNKT untuk merencanakan ruang usaha dan ruang publik bagi kepentingan pengusahaan pariwisata alam di Taman Nasional Kepulauan Togean. Sedangkan terkait dengan permasalahan kawasan, Bustang tidak memungkiri kondisi aktual akhir-akhir ini dimana masih ada riak-riak ketidakselarasan antara masyarakat dengan TNKT sehingga memohon saran dan masukan dari peserta rapat. Bapak Taslim selaku Sekda, mengapresiasi kegiatan ini untuk lebih meningkatkan koordinasi dan kerjasama antara Pemerintah Daerah dan pihak Balai TNKT. Terkait rencana dan program yang dibuat Balai TNKT seperti nominasi Cagar Biosfer dan Desain Tapak agar terus dikoordinasikan dengan SKPD terkait seperti BP4D dan Dinas Pariwisata untuk pembahasan teknis. Terkait dengan adanya riak-riak penolakantersebut, dimohon agar pihak Balai TNKT semakin intens untuk melakukan sosialisasi dan pendekatan ke masyarakat. Pihak Pemda siap membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat, tukas Sekda. Beberapa masukan agar terkait pelanggaran yang sifatnya tidak dapat ditolerir seperti illegal logging dan illegal fishing dapat diproses namun untuk pelanggaran lain yang sebagian masyarakat belum mengetahui agar dilakukan pembinaan terlebih dahulu. Sumber : Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Berita

Balai TNKM – Forclime Fc Gelar Training Lanjutan Patroli Hutan Bagi KMPH

Malinau, 15 Mei 2018. Training Lanjutan Patroli Hutan Berbasis Masyarakat Bagi Kelompok Masyarakat Pengelolaan Hutan (KMPH), merupakan salah satu kegiatan Forclime FC Kabupaten Malinau Tahun 2018. Yang dilaksanakan pada tanggal 16 April s/d 6 Mei 2018 di SPTN II Long Alango Balai TNKM yang meliputi Kecamatan Pujungan dan Kecamatan Bahau Hulu dalam perencanaannya. Kegiatan ini melibatkan 2 Polisi Hutan dari Balai TNKM Sebagai Pelatih yakni Misoniman dan Hendra Jaya serta 1 Orang Narasumber dari Forclime FC yakni Indah Astuty. Ketiganya bekerjasama secara bergantian memberikan paparan materi dan praktek lapangan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman Tim Patroli Hutan yang terdiri dari masyarakat adat setempat yang tergabung dalam KMPH, tentang pentingnya menjaga dan mengawasi aktivitas di dalam hutan. Kecamatan Pujungan merupakan wilayah pertama yang di lakukan kegiatan tersebut. yang meliputi 8 Desa, Yakni Desa Long Pujungan, Long Aran, Long Ketaman, Long Pua, long Jelet, Long Paliran, Long Belaka, dan Long Bena. Materi yang di sampaikan oleh narasumber dan pelatih merupakan materi penting untuk mengetahui potensi keanekaragaman hayati di kawasan TNKM dan potensi pelanggaran di kawasan tersebut serta tindakan yang perlu di lakukan untuk melindungi kawasan yang menjadi bagian penting Heart Of Borneo. Usai memberikan materi, peserta juga melaksanakan praktek lapangan tentang penggunaan GPS (Global Positioning System). Dimana dalam kegiatan patroli hutan di perlukan GPS sebagai penunjuk arah jalan atau track secara akurat dan dapat membantu mencatat titik peristiwa dalam perjalanan. Tidak hanya sampai di situ, setelah menyelesaikan pelatihan di Kecamatan Pujungan tim harusnya menuju Kecamatan Bahau Hulu dan menyambangi 6 Desa. Yakni desa Long Alango, Long Uli, Long Tebulo, Long Kemuat, Long berini dan Desa Apau Ping yang juga akan di gelar pelatihan serupa. Namun karena keterbatasan waktu di tambah lagi situasi dan kondisi lapangan saat itu kurang baik seperti meluapnya air sungai dan hujan yang lebat, sehingga tim tidak dapat melanjutkan kegiatan di Kecamatan Bahau Hulu yang harus di tempuh selama kurang lebih 4 jam dari Kecamatan Pujungan menggunakan transportasi sungai (ketinting) dan melewati riam giram yang memacu adrenalin. Kendati jalannya kegiatan tidak sesuai perencanaan awal, diharapakan kegiatan itu mampu membangkitkan peran serta masyarakat dalam pengawasan dan pengamanan ekosistem hutan dan kehati yang ada di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Agar manfaatnya kedepan dapat di rasakan bersama, terutama sebagai penopang penghidupan generasi selanjutnya. Sumber : BTN Kayan Mentarang
Baca Berita

Sempat Diguyur Hujan, Peserta Gowes TNTN Dan Komunitas Sepeda Taklukkan Jalur Nan Licin

Pelalawan, 15 Mei 2018. Puluhan sepeda hiasi lokasi acara Balimau Potang mogang Desa Penyangga TNTN, sepeda-sepeda tersebut merupakan acara gowes yang dilaksanakan oleh TNTN bekerja sama dengan komunitas sepeda se Kabupaten Pelalawan. Gowes dilaksanakan di jalur tracking Taman Nasional Tesso Nilo, dimulai dari tepian sungai nilo Desa Penyangga TNTN. Peserta kemudiaan menyusuri jalur track sepeda di dalam kawasan TNTN dan singgah di Selter Taman Nasional untuk berfoto di spot-spot menarik dijalur tersebut. Kepala Balai Taman Nasional Tesso nilo Supartono, S.Hut, M.P membuka acara gowes dan diikuti oleh rombongan komunitas sepeda se Kabupaten Pelalawan beriringan melewati jalur tracking TNTN. Meski sempat diguyur hujan beberapa saat sebelum gowes dimulai, puluhan peserta gowes tetap laksanakan gowes sebagaimana rencana semula. Jalan licin dan basah tidak menyurutkan niat peserta untuk menyelesaikan gowes hingga finish. Keseruan gowes terlihat semakin bertambah dengan adanya tantangan melewati jalur ekstrim. “Dengan jalur begini gowesnya malah menjadi keseruan tersendiri untuk kami penggemar olah raga sepeda, kalau terlalu sulit ya sepeda nya kita bopong”, ungkap salah satu peserta gowes sambil tertawa. Menurut Kepala Balai TNTN Supartono, S.Hut, M.P ini merupakan acara gowes kedua di TNTN pada tahun ini dan akan dilaksanakan secara rutin untuk selanjutnya, “bersepeda di kawasan TNTN juga ada didalam paket wisata TNTN, dan dengan adanya kegiatan seperti ini semoga semakin banyak penggemar sepeda yang ingin datang dan mencoba jalur sepeda di Kawasan TNTN.” Sumber : BTN Tesso Nilo
Baca Berita

Kegiatan Pembinaan dan Penyadartahuan Tentang Kebakaran Hutan dan Lahan di Taman Nasional Berbak dan Sembilang

Jambi, 15 Mei 2018, dalam rangka mencegah kebakaran hutan dan lahan di sekitar kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang serta dalam rangka menyukseskan Asian Games Tahun 2018 di Jakarta dan Palembang, telah dilakukan kegiatan Pembinaan dan penyadartahuan pengendalian kebakaran hutan dan lahan kepada masyarakat di Desa Simpang Datuk, sebagai upaya pencegahan dini, serta mengajak masyarakat agar peduli dengan hutan dan lahan dan kegiatan ini di support melalui Proyek Hibah RI-Norwegia. Desa Simpang Datuk merupakan salah satu desa yang berbatasan dengan kawasan TNBS, Desa Penyangga yang terletak di Kecamatan Nipah Panjang Kabupaten Tanjung Jabung Timur, menjadi skala Prioritas kegiatan pembinaan dan penyadaratahuan, karena pada tahun 2015 terjadi kebakaran yang cukup besar di desa ini bahkan sampai memasuki kawasan TN Berbak dan Sembilang, disamping itu juga merupakan hutan dan lahan yang berada di kawasan gambut Pantai Timur Provinsi Jambi, yang sangat rawan akan ancaman bahaya kebakaran hutan dan lahan. Kegiatan Pembinaan dan penyadartahuan ini dilaksanakan kerjasama dengan Pihak Kecamatan, Koramil dan Kapolsek Kecamatan Nipah Panjang, yang dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2018, bertempat di Balai Desa Simpang datuk, yang lebih dari 35 orang Peserta dari masyarakat, yang terdiri dari perwakilan Dusun, Lembaga Adat, Staf Kantor Desa Simpang Datuk, Perwakilan dari Perusahaan PT. Mitra yakin Jaya. Untuk penyampaian materi dalam kegiatan ini, disampaikan oleh (1) Syamsul Bahri, SE (Kepala SPTN Wil 1) dengan materi Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan; (2) IPTU Pol VIKTOR H. TAMBA, A.Md (Kaplosek Nipah Panjang), dengan Materi Kebakaran hutan dan Lahan dari Aspek Hukum, dan Kapten Inf. Adil Tarigan (Danramil Nipah Panjang) dengan materi Dalam Cinta dan Bela Negara terkait Penngendalian Kebakaran Huta dan lahan, dalam penyampaian materi cukup ditanggapi positif oleh peserta, bahkan peserta mengharapkan adanya pembentukan regu Masyarakat Peduli Api yang berasal dari masyarakat desa Simpang Datuk, serta penyusunan Peraturan Desa (PERDES) terkait dengan pengendalian Kebakaran hutan dan lahan di desa Simpang Datuk. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Balai TN Berbak dan Sembilang yang diwakili oleh Syamsul Bahri, SE (Kepala SPTN Wilayah I), dan dihadir unsur perwakilan Dusun, Lembaga Adat, Staf Kantor Desa Simpng Datuk, Perwakilan dari Perusahaan PT. Mitra yakin Jaya, juga unsur TNI dan Polri. Kegiatan ini ditanggapi serius oleh masyarakat, hal terlihat dari 30 orang rencana peserta dan yang hadir mencapai 40 orang, dan dalam acara diskusi telah terbentuk sebuah Berita Acara Kesepakatan yang ditanda tangani bersama Para Pihak berkaitan dengan upaya pencegahan dan pengendalian Kebakaran hutan dan lahan yaitu Tokoh masyarakat Desa Simpang Datuk, PT Mitra Yakin Jaya, Koramil Nipah Panjang, TN.Berbak dan Sembilang dan Polsek Nipah Panjanh untuk melakukan pencegahan dini serta pengendalian kebakaran hutan dan lahan secara bersama. Sumber :Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang
Baca Berita

Pengendalian Verbena Brasiliensis di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Malang, 15 Mei 2018. Bukan hanya Salvinia molesta saja yang menjadi prioritas pengendalian oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Tetapi masih ada jenis lain yang diprioritaskan pengendaliannya yaitu Verbena brasiliensis Vell. Pengendalian dan pembersihan Verbena brasiliensis Vell dilakukan pada hari Selasa di kawasan Savana Bromo, kegiatan ini dilaksanakan oleh Bidang PTN Wil. I Pasuruan, dan diikuti oleh ± 75 orang mitra Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) lingkup Bidang PTN Wil. I Pasuruan (Sahabat Bromo, Bromo Lovers, Kader Konservasi,Paguyuban Ojeg, Paguyuban Kuda, Paguyuban Kaki Lima). Sebelum kegiatan di mulai Pak Sarmin, S.Hut selaku Kepala Seksi PTN Wil. I Cemerolawang mengungkapkan bahwa Verbena brasiliensis Vell ini merupakan jenis tanaman invasif yang keberadaanya harus dibersihkan karena menggangu ekosistem yang ditempatinya, ungkapnya demikian. Teknik pengendalian masih menggunakan metode manual yaitu dengan cara mencabut tanaman Verbena brasiliensis Vell sampai ke akar-akarnya. Pencabutannya dibantu menggunakan alat cangkul/ sabit, kemudian diletakkan di kendaraan angkut untuk kemudian dibawa ke TPA. Verbena brasiliensis Vell merupakan jenis tanaman asing invasif yang berasal dari Amerika Selatan, berasal dari keluarga Verbenaceae berhabitus semak dengan ketinggian antara 1,5 sampai 2 meter. Di bagian batangnya yang berbentuk persegi, ada bulu-bulu kasar yang mengelilinginya, di bagian batang itu nantinya akan tumbuh cabang dan daun berbentuk bulat memanjang serta bergerigi. Tanaman Verbena juga termasuk tanaman yang menyerap banyak air. Jenis tanaman berbunga setiap tahunnya pada musim hujan dan kemudian akan langsung mengering atau berguguran ketika masuk musim kemarau. Dalam hal reproduksi, tanaman Verbena brasiliensis Vell memperbanyak pertumbuhannya dengan cara memproduksi benih. Benihnya sangat kecil, mudah terbawa oleh angin, serta mudah lengket di tubuh manusia ataupun di tubuh binatang. Mungkin inilah salah satu penyebab mengapa pertumbuhan Verbena brasiliensis vell sangat pesat pertumbuhannya di Bromo, terutama di Oro-Oro Ombo. Di akhir kegiatan Kepala Seksi PTN Wil. II Tumpang (Tatag Hari Rudhata, S.H) mengucapkan terima kasih kepada mitra TNBTS atas partisipasinya dan menghimbau bila mitra TNBTS mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian TNBTS diperkenankan untuk melakukan pembersihan Verbena brasiliensis Vell dengan didampingi oleh petugas TNBTS. Diharapkan dengan adanya pengendalian Verbena brasiliensis Vell ini, ekosistem asli savana dapat pulih kembali, sehingga keanekaragaman hayati TNBTS terpelihara dan terlindungi keberadaanya. Sumber : Siti Maya - BBTN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Stop Memberi Makan Satwa Liar

Bantimurung, 15 Mei 2018. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung gelar kampanye penyadartahuan dan perlindungan satwa terancam punah prioritas. Kampanye ini digelar di Hutan Karaenta pada Senin (14/5). Kali ini tak hanya dilakukan personil taman nasional, namun juga melibatkan intansi terkait. Instansi yang terlibat di antaranya aparat Polsek Bantimurung, Polsek Camba, Koramil Bantimurung, Koramil Camba, Kostrad 433 Julu Siri, Kepla Desa Samangki, Kepala Desa Labuaja, Camat Simbang, Camat Cenrana, Puskesmas Cenrana dan tokoh masyarakat Desa Labuaja. Kampanye dimulai dengan pembukaan secara resmi oleh Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Pada sambutannya, ia mengharapkan partisipasi instansi terkait untuk membantu mensosialisasikan kepada masyarakat dan pengendara. “Saya berharap teman-teman dari berbagai unsur dapat membantu kami agar masyarakat, terutama pengendara untuk tidak memberi makanan kepada monyet hitam sulawesi (Macaca maura),” ujar Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. “Macaca maura merupakan salah satu satwa prioritas nasional yang terancam punah,” tambahnya. Berdasarkan surat keputusan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya (Nomor 180/IV-KKH/2015) bahwa terdapat 25 satwa terancam punah prioritas nasional yang akan ditingkatkan populasinya sebesar 10% pada tahun 2015–2019. Dua di antaranya terdapat di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yakni Macaca maura dan Tarsius fuscus. Saat ini perilaku monyet endemik Sulawesi ini sedikit memprihatinkan. Berdasarkan pantauan taman nasional, terdapat 3 kelompok monyet yang sering turun ke jalan poros yang membelah habitatnya di hutan Karaenta. Setiap kelompok terdiri dari 20 hingga 30 ekor. “Monyet ini tak kekurangan makanan di hutan, malahan melimpah. Bisa jadi faktor kebiasaan pengendara memberi makan adalah salah satu penyebabnya,” pungkas Nurdin Rumpa, Kepala Resor Pattunuang. Hutan Karaenta adalah habitat Macaca maura. Hanya saja terdapat jalan poros sepanjang 10 km membelah kawasan taman nasional ini. Jalan poros ini menghubungkan Makassar menuju Bone. Tak hanya itu jalan ini juga dilintasi kendara dari Makassar menuju Kendari, Sulawesi Tenggara. Tak pelak jalan ini ramai pengendara. Mengapa tidak boleh memberi makanan kepada Macaca maura? Ada beberapa alasan. Pertama, hutan telah menyediakan makanan yang melimpah. Terdapat 50 jenis tumbuhan pakan Macaca maura di hutan Karaenta. Mereka mengkomsumsi buah dan daun muda. Tumbuhan pakan tersebut di antaranya beringin (Ficus spp), dao (Dragontomelon dao), dan Morinda citrifolia. Untuk memenuhi kebutuhan proteinnya, satwa ini mengkomsumsi serangga seperti jangkrik dan belalang. Kadal juga tak luput jadi mangsanya. Kedua, perilaku memberi makan satwa akan mengubah perilaku alaminya. Jika hal ini terus berlangsung lama-kelamaan mereka akan malas mencari makan di hutan. Hanya mengandalkan uluran tangan sang pengendara. Parahnya jika tidak diberi makan mereka bisa saja meneyerang pengendara jika singgah di sepanjang jalan Karaenta, seperti yang sering terjadi di tempat lain. Berperilaku agresif. Ketiga, menyebabkan kemacetan, karena jalan sempit. Keempat, bisa menyebabkan satwa tertabrak kendaraan di jalan. Dan terakhir, makanan manusia tidak cocok dengan satwa, seperti roti, biskuit, kacang atom dan sejenisnya. Hal tersebut dapat menyebabkan satwa sakit, karena metabolismenya tidak cocok. Setelah pembukaan kampanye, peserta kampanye yang berasal dari berbagai unsur beraksi. “Permisi Pak, ini kami mau membagikan stiker dan gantungan kunci,” sahut Rustam, anggota Koramil Bantimurung, saat menyapa supir yang melintas. Dengan memegang papan bicara “Stop Memberi Makan Monyet” peserta dengan antusias membagikan souvenir berisi himbauan. Beberapa pengendara juga tidak keberatan, jika kendaraannya ditempeli stiker himbauan tidak memberi makan satwa. “Tahun lalu kami sudah melakukan hal yang sama. Namun sepertinya aksi memberi makan Macaca maura di Karaenta masih marak. Olehnya mulai hari ini hingga bulan Juli 2018 mendatang, teman-teman akan melakukan kampanye di jalan yang melintasi Karaenta,” ujar Muh. Sabir, Koordinator Polisi Kehutanan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Berbagai upaya telah dilakukan pihak Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung untuk mencegah monyet hitam keabu-abuan ini turun ke jalan. Di antaranya penjagaan sepanjang jalan Karaenta, kampanye, hingga himbauan melalui media sosial. Ayo turut lestarikan Macaca maura dengan tidak memberi makan jika melintas di Karaenta. Biarkan mereka hidup alami di habitat alaminya. Sumber : Taufiq Ismail – Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Pembinaan Dan Penyadartahuan Masyarakat Tentang Kebakaran Hutan Dan Lahan Di Desa Karang Sari

Banyuasin, 15 Mei 2018. Saat ini Indonesia sedang memasuki musim kemarau sehingga upaya-upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan semakin intens dilakukan oleh Taman Nasional Berbak Dan Sembilang, baik melalui patroli pencegahan kebakaran maupan kegiatan sosialisasi kepada pencegahan kebakaran kepada masyarakat. Salah satu upaya tersebut adalah dengan melakukan pembinaan dan penyadartahuan masyarakat tentang kebakaran hutan dan lahan di Desa Karang Sari Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Ini juga merupakan salah satu bukti komitmen Taman Nasional Berbak dan Sembilang dalam rangka ikut mensukseskan Asian Games yang akan dilaksanakan di Jakarta dan Palembang pada Bulan Agustus 2018 nanti dengan menjadikan Provinsi Sumatera Selatan zero asap. Kegiatan terlaksana atas kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Norwegia. Desa Karang Sari merupakan salah satu desa penyangga yang berbatasan langsung kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang. Terletak pada Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin, desa ini telah mempunyai Kelompok Masyarakat Peduli Api (KMPA) yang dibentuk pada tahun 2017 terdiri dari 15 (lima belas) orang. Sebagai salah satu desa yang berbatasan langsung dengan kawasan taman nasional merupakan salah satu pintu masuk ke kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang dan dengan aktivitas pertanian yang tinggi menjadikan daerah ini sebagai salah satu daerah yang rawan akan ancaman bahaya kebakaran lahan dan hutan sehingga menjadi salah satu prioritas dalam kegiatan sosialisasi dan penyadartahuan tentang penanggulangan bahaya kebakaran hutan dan lahan. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2018 berlokasi di Balai Desa Desa Karang Sari dan dihadiri oleh Kepala SPTN Wilayah II, Kapospol Karang Agung Ilir, Babinsa Karang Sari/Mekar Sari, Kepala Desa Karang Sari, BPD Karang Sari, Ketua RT lingkup Desa Karang Sari, KMPA Desa Karang Sari, tokoh masyarakat, tokoh agama dan masyarakat Desa Karang Sari dengan jumlah peserta yang hadir 30 orang dan dibuka oleh Kepala Desa Karang Sari. Penyampaian materi dan diskusi mengenai dampak kebakaran hutan dan lahan oleh Kepala SPTN Wilayah II, aspek hukum kebakaran hutan dan lahan oleh Kapospol Karang Agung Ilir, serta pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan oleh Babinsa Karang Sari/Mekar Sari. Diskusi berjalan aktif karena respon yang baik dan rasa ingin tahu masyarakat terkait kebakaran hutan dan lahan. Bahkan salah satu peserta meminta bantuan peralatan pemadaman yang lebih lengkap karena yang dimiliki oleh KMPA Desa Karang Sari baru berupa peralatan manual yang sederhana. Hal ini dimaksudkan agar bila terjadi kebakaran lahan atau hutan KMPA bisa segera menangani secara lebih maksimal. Pada kesempatan ini juga tim melakukan pemasangan poster kerumah-rumah masyarakat serta beberapa titik strategis sebagai upaya menyampaikan informasi secara langsung dampak dari kebakaran hutan dan lahan. Pada akhir kegiatan dihasilkan 5 (lima) poin kesepakatan antar berbagai pihak yang hadir yaitu akan bersama-sama meningkatkan kesiapsiagaan terhadap pengendalian kebakaran hutan dan lahan, tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, melakukan pemadaman apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan, menyebarkan informasi mengenai dampak, aspek hukum, dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan kepada masyarakat lainnya, dan melaporkan kepada pihak yang berwajib apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan. Sumber : Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang
Baca Berita

Balai TN Kayan Mentarang Fasilitasi 25 Pelajar Smp Se-Kaltara Ikuti Test Penerimaan Siswa Baru SMK Kehutanan Samarinda

Malinau, 15 Mei 2018. Sebanyak 25 orang siswa-siswi SMP di Kalimantan Utara mengikuti tes penerimaan siswa baru Sekolah Menengah Kejuruan Kehutanan Negeri Samarinda. Tes yang berlangsung mulai tanggal 11-13 Mei 2018 meliputi tes kesehatan, wawancara, tes tertulis, tes jasmani dan tes fisik. Oleh panitia, pelaksanaan tes di bagi di 3 lokasi, Yakni di Ruang Laga Fratu Kantor Bupati Malinau untuk test tertulis, Kodim 0910 Malinau untuk tes kesehatan dan fisik, dan Kantor Balai Taman Nasional Kayan Mentarang sendiri menjadi tempat test kesehatan dan wawancara. Peserta yang mengikuti tes ini berasal dari 5 Kabupaten/Kota di Kalimantan Utara. Yakni 4 orang dari Tarakan, 17 orang dari Malinau, 1 orang dari Bulungan, 1 orang dari Nunukan, dan 2 orang dari Tana Tidung. Mereka adalah putra putri daerah yang lolos seleksi berkas administrasi dari puluhan siswa yang mendaftar sebelumnya di SMKKN Smarinda. Bahkan mayoritas mereka yg lolos seleksi berkas administrasi itu berasal dari daerah penyangga Taman Nasional Kayan Mentarang. "Ada beberapa dari mereka ini merupakan anak-anak dari penyangga TNKM, Harapan saya mereka bisa mengikuti test dengan baik dan lulus menjadi siswa SMKKN Samarinda. Mereka ini yang nantinya akan menjadi generasi penerus pembangun TNKM ke depan. Dan kami bangga Balai TNKM mampu memfasilitasi mereka dalam kegiatan test ini. Semoga tahun depan anak-anak dari kawasan penyangga TNKM lebih banyak lagi yang mendaftar", ujar Johnny Lagawurin selaku Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang. Johnny menambahkan, kegiatan ini adalah sebagai bagian dari upaya mewujudkan tata kelola bersama mengelola TNKM bersama pemerintah daerah dan masyarakat adat. Sekolah Menengah Kejuruan Kehutanan Negeri sendiri adalah lembaga pendidikan formal tingkat menengah kejuruan kehutanan dibawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang bertujuan menyiapkan peserta didik dalam pembangunan kehutanan. Sekolah ini hanya ada 5 di Indonesia yang tesebar di 5 pulau besar, yakni SMKKN Samarinda di Kalimantan, SMKKN Kadipaten di Jawa, SMKKN Pekanbaru di Sumatera, SMKKN Makassar di Sulawesi, dan SMKKN Manokwari di Papua. Turut hadir panitia sekaligus guru SMKKN Samarinda Johan dan Nurmini Hasyim yang datang dari Kota Samarinda untuk terlibat langsung sebagai instruktur dan penilai test yang di fasilitasi oleh Balai TNKM itu. "Tugas kami adalah sesuai dengan visi SMKKN Samarinda yakni mencetak tenaga teknis menengah kehutanan yang profesional, mandiri, dan berakhlak mulia serta siap memasuki lapangan kerja nasional dan internasional", tutup Johan yang di dampingi Nurmini Hasyim. Sumber : BTN Kayan Mentarang
Baca Berita

Pendidikan Konservasi dan Lingkungan (Dikoling) di PPKAB, Komplek Dimana "Billy Putri" Berada

Cibodas, 15 Mei 2018. Rabu 18 April 2018, anak-anak SDN Manggis Hilir, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Sukabumi berkunjung ke PPKAB, untuk belajar mengenal alam dan memelihara lingkungan. Kegiatan yang dikenal dengan school visit tersebut diikuti oleh 50 anak SD yang didampingi oleh 5 orang guru. Anak-anak sangat bergembira belajar sambil bermain yang dipandu oleh kakak-kakak dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Conservation International (CI), volunteer Tepala, dan Eagle. Eksplorasi pengetahuan tentang keanekaragaman hayati di PPKAB, BBTNGGP dilakukan dengan mengajak anak-anak dan gurunya hiking di menuju jembatan canopy. Salah satu siswa mengutarakan sangat senang ketika dapat melihat dan mendengar langsung suara owa jawa pada jalur canopy trail. Populasi owa jawa di habitat alami di PPKAB ini berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan oleh Taman Nasional Gunung Gede Pangrango bekerjasama dengan CI, menunjukkan kondisi yang baik. Sekelompok atau keluarga owa jawa dapat dilihat bermain-main atau mencari makan di sekitar jalan (trail). Guru SDN Manggis Hilir yang mendampingi anak-anak belajar di alam juga mengungkapkan kebahagiannya karena dapat mempertajam pemahaman anak-anak tentang keanekaragaman hayati dan menghargai alam serta lingkungan, tidak hanya secara teori di sekolah, tetapi juga melihat dan merasakan dengan seluruh panca inderanya. Pengalaman ini akan mudah membekas pada pikiran anak-anak SD yang mudah-mudahan perilaku menghargai alam dan lingkungan ini akan terbawa sampai dengan mereka tumbuh dewasa, begitu ujar guru SDN Manggis Hilir. Anak-anak juga diberi pengetahuan bahwa memelihara satwa liar yang dilindungi itu tidak boleh, karena akan berakibat perubahan perilaku satwa liar tersebut, dari hidup mandiri di alam menjadi tergantung kepada manusia. Javan Gibbon Center (JGC) dimana Billy berada, salah satu tempat owa jawa yang pernah dipelihara oleh manusia, kemudian direhabilitasi untuk dikembalikan sifat alaminya agar bisa hidup secara mandiri di alam. JGC Bodogol tempat Billy dilahirkan ini bertetangga dengan Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol pertama di Indonesia yang dikenal dengan PPKAB. Sumber: Nidia Opinta – BBTNGGP
Baca Berita

Sang Ibu Kukang dan Anaknya Mendapatkan Kembali Kebebasannya

Lahat, 15 Mei 2018. Suasana menyentuh hati saat menyaksikan seekor indukan Kukang (Nycticebus coucang) sedang menyusui anaknya mendapatkan kembali kebebasannya. Sebuah kondisi yang menggambarkan suasana saat petugas Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan (Sumsel) melepasliarkan 2 ekor Kukang (Nycticebus coucang) yang diperkirakan indukan berusia 3 tahun dan anakan berusia 3 bulan dengan kondisi sehat. Satwa liar dilindungi tersebut merupakan penyerahan masyarakat di Kota Palembang yang kronologisnya sang pemilik mendatangi Kantor BKSDA Sumsel untuk menyerahkan Kukang (Nycticebus coucang) kepada petugas karena menyadari bahwa kepemilikan satwa liar dilindungi melanggar peraturan dan undang-undang. Situasi yang juga menunjukkan bahwa penyerahan satwa liar dilindungi tersebut merupakan salah satu parameter keberhasilan BKSDA Sumsel menanamkan kesadaran kepada masyarakat akan larangan kepemilikan satwa liar dilindungi. Pihak BKSDA Sumsel menyambut baik itikad pemilik dengan menerima penyerahan tersebut. Mempertimbangkan kondisi satwa liar dilindungi tersebut dalam keadaan sehat maka BKSDA Sumsel menyerahkan kepada SKW II Lahat untuk segera melepasliarkan ke habitatnya. Hal tersebut dikarenakan di wilayah kerja SKW II Lahat telah memiliki area pelepasliaran Kukang (Nycticebus coucang) yaitu di Hutan Suaka Alam Pusat Latihan Gajah Kelompok Hutan Isau-isau. Sumber : Wahid Nurrudin PEH Balai KSDA Sumatera Selatan

Menampilkan 7.937–7.952 dari 11.140 publikasi