Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Monitoring Elang Jawa Untuk Pastikan Populasi Di TN Bromo

Malang, 17 Mei 2018. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BTNBTS) merupakan salah satu tempat sebaran Elang Jawa (Nisaetus bartelsi). Untuk mengetahui populasi Elang Jawa maka BBTNBTS membuat tim yang bertugas melakukan monitoring Elang Jawa rutin setiap bulan sepanjang tahun 2018. Monitoring Elang Jawa dibagi pada beberapa tempat yang sudah ditentukan (site monitoring), pengamatan untuk bulan April ini dilakukan pada tanggal 23 – 25 April 2018. Koestriadi Nugra Pratesetya, salah satu anggota tim monitoring yang biasa disapa ‘Ibung’ menyampaikan “Keberadaan Elang Jawa didapat pada hari ke 2 (dua), terlihat sebanyak 2 (dua) individu elang jawa di site monitoring BBTNBTS”. “Pada hari itu, cuaca cerah panas, elang sedang melakukan pergerakan soaring (meluncur) mencari mangsa kurang lebih 10 menit. Setelah itu, menghilang dari peredaran dan tidak lama kemudian cuaca mulai berkabut sehingga elang tidak muncul kembali”, ujar ‘Ibung’ menambahkan. Site monitoring merupakan lokasi yang dipilih dan cocok untuk pengamatan karena lokasi tersebut berada di lokasi yang tinggi, memiliki sudut pandang yang cukup luas dan terbuka sehingga dapat melihat pergerakan terbang elang jawa yang diamati. Elang Jawa merupakan jenis burung pemangsa endemik di Pulau Jawa, jenis ini merupakan satwa karismatik sebagai (umbrela spesies) yang dapat mewakili contoh sehatnya habitat dan ekosistem hutan serta nilai penting keanekaragaman hayati di Pulau Jawa. Sumber: Siti Maya - BBTN Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Kampanye Karhutla BKSDA Sulteng di Sekolah

Sigi, 17 Mei 2018. Balai KSDA Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) melakukan berbagai upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) baik melalui aksi penanganan di lapangan, serta sosialisasi kepada masyarakat. Sebagaimana kampanye yang dilakukan terhadap pengunjung Taman Wisata Alam (TWA) Wera dan siswa siswi SMA Negeri 7 Sigi yang berada dekat dengan kawasan TWA Wera, beberapa waktu lalu (17/5). Kampanye ini memberikan penyadartahuan kepada masyarakat, khususnya pengunjung tentang bahaya karhutla dan kerugian yang diakibatkannya. Dalam kampanye kepada pengunjung, pihak BKSDA Sulawesi Tengah membentangkan spanduk bertuliskan “MEMBAKAR HUTAN TAK PUNYA HATI, MEMBIARKANNYA TAK PUNYA NYALI” disertai dengan nomor Call Center BKSDA Sulawesi Tengah yang bisa dihubungi apabila melihat atau mendengar adanya kebakaran hutan di TWA Wera dan sekitarnya. Pengunung yang datang diberikan penjelasan sedikit mengenai dampak yang karhutla serta membagikan leaflet, gantungan kunci dan sticker. Kegiatan ini juga membidik sekolah sebagai upaya dini mengubah pola pikir siswa-siswi sehingga menjadi agen perubahan pencegahan karhutla. Kampanye karhutla di SMA Negeri 7 Sigi diawali dengan pengenalan mengenai TWA Wera, dan memberikan penjelasan singkat mengenai bahaya kebakaran hutan dan lahan serta dampak yang ditimbulkannya. Dalam kegiatan tersebut, siswa-siswi dibagikan leaflet mengenai karhutla dan diberikan semacam kuis. Siswa-siswi yang berhasil menjawab dengan benar diberikan souvenir sebagai apresiasi atas keberanian dan pengetahuannya. Diharapkan dengan diadakannya sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan melalui kampanye ini, masyarakat dan terutama siswa-siswi untuk mampu merubah pola pikir masyarakat tentang membakar hutan dan lahan. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Gunung Palung Touring Hari Terakhir, Galang Mitra Lestari TSL

Matan Jaya, 5 Mei 2018. Hari terakhir kegiatan Gunung Palung touring 2018 lalui perjalanan mengunjungi desa-desa dan mitra di sisi bagian utara kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Desa yang menjadi target kunjungan pertama adalah Desa Matan Jaya. Tim touring memulai perjalanan menuju ke Desa Matan Jaya dari Resort Sempurna dengan jarak tempuh kurang lebih 50 km. Perjalanan dilakukan dengan menyusuri jalan yang biasa digunakan untuk lalu lintas pengangutan bahan tambang bauksit milik PT Harita. Waktu yang ditempuh tim touring sampai di di kantor Desa Matan Jaya kurang lebih satu jam. Sampai di kantor Desa Matan Jaya tim touring disambut oleh aparat Desa Matan Jaya dan Kepala dusun Matan. Dalam pertemuan dengan perwakilan masyarakat Desa Matan Jaya, pihak masyarakat mengharapkan Balai TNGP dapat melakukan fasiltasi kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Matan Jaya. Selesai pertemuan di kantor Desa Matan Jaya, tim touring melanjutkan perjalanan menuju kantor perkebunan sawit PT Cipta Usaha Sejati (CUS). Kedatangan tim touring Balai TNGP disambut jajaran pimpinan manajemen perusahaan PT CUS. Pertemuan dengan pihak manajemen PT CUS diawali dengan sambutan selamat datang General Manager PT. CUS Bapak Takdir Bastanta Ginting yang dilanjutkan dengan sambutan dari Balai TNGP yang disampaikan oleh kepala Balai TNGP Bapak M. Ari Wibawanto. Acara pertemuan dilanjutkan dengan makan siang bersama dan setelah selesai makan siang pihak manajemen perusahaan berkesempatan menyampaikan presentasi mengenai Profil Perusahaan PT CUS yang merupakan bagian dari grup Pasific Agro Sentosa (PAS). Pada saat kunjungan pihak manajemen perusahaan telah menyiapkan bibit pohon Ficus sp untuk ditanam oleh Kepala Balai TNGP di areal koleksi tanaman kantor PT CUS. Selesai menanam bibit pohon, mengakhiri kunjungan ke PT CUS dilakukan reportase singkat secara bersama antara GM PT CUS dengan Kepala Balai TNGP. Di dalam reportase singkat tersebut Bapak Takdir Bastanta Ginting menyampaikan komitmen perusahaan dalam upaya pelestarian tumbuhan dan satwa liar melalui pengelolaan areal HCVF (High Conservation Value Forest) yang berada di areal HGU PT CUS. Menanggapi komitmen dari PT CUS Kepala Balai TNGP menyampaikan bahwa ke depan perlu adanya sinergitas para pihak dalam upaya pelestarian Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) di area HCVF. Balai TNGP siap membantu upaya-upaya pelestarian TSL di area HCFV dengan para pihak khususnya Balai TNGP. Selesai acara reportase singkat tim touring mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan menuju Sukadana. Perjalanan menuju Sukadana merupakan perjalanan terakhir yang dilakukan oleh tim touring selama kegiatan Gunung Palung Touring Tahun 2018 yang sudah berlangsung selama empat hari. Rangkaian kegiatan Gunung Palung Touring Tahun 2018 berakhir di kantor SPTN Wilayah I Sukadana dan ditutup langsung oleh Bapak Kepala Balai TNGP. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Palung
Baca Berita

Kick off Meeting FIP 1, Momentum Mempercepat dan Memperlancar Forest Investment Program di Kalimantan Barat

Pontianak, 16 Mei 2018. Proyek Forest Investment Program (FIP) 1 di Kalimantan Barat memasuki babak baru. Proyek ini berinvestasi pada kegiatan – kegiatan REDD+ berbasis masyarakat, guna memperlancar kinerja proyek ini di tingkat tapak, Direktorat Bina Usaha Perhutanan Sosial dan Hutan Adat bersama ADB melakukan kegiatan rapat koordinasi FIP 1 di Hotel Mercure Pontianak bertajuk “Kick off Meeting” (Community Focused Investment to Address Deforestation and Forest Degradation Forest Investments Program (FIP) 1. Acara ini dihadiri oleh beberapa Instansi baik pusat maupun daerah, termasuk Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BB TaNa Bentarum) yang merupakan salah satu lokasi kegiatan proyek FIP 1. Kepala BB TaNa Bentarum Arief Mahmud yang juga mewakili Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) mengusulkan agar kegiatan Kick off meeting ini tidak hanya terputus pada rapat koordinasi saja, namun acara ini bisa menjadi moment untuk mempercepat kegiatan FIP 1 agar masyarakat bisa segara merasakan dampak dari Proyek Hibah Luar Negeri ini. Arief juga menyampaikan bahwa masih diperlukan pembahasan terkait tata hubungan kerja antara pelaksana proyek dengan konsultan pendamping proyek FIP, untuk itu Arief Mahmud memberikan saran untuk diadakan diskusi kelompok kecil (FGD), agar pembahasan permasalahan proyek lebih terarah. Dalam Diskusi kelompok kecil, disepakati bahwa ke depan peran konsultan FIP (PISU) harus lebih dikuatkan untuk memfasilitasi dan membantu pelaksana project dalam mengimplementasikan proyek FIP 1 di Lapangan. Dengan fasilitasi yang jelas dan intensif diharapkan kendala –kendala teknis dan administrasi bisa terdeteksi lebih awal, sehingga dapat segera dicari solusi penyelesainnya. Sehingga tercipta kondisi yang sinergis dan lebih terarah dalam mendukung percepatan kegiatan FIP 1 di Kalimantan Barat, sehingga masyarakat dapat segara merasakan dampak dari Proyek Hibah Luar Negeri ini. Acara Kick off Meeting tersebut dilanjukan dengan kegiatan Diskusi Terfokus (FGD) FIP-1 Tingkat Desa “Community – Focused Investment to Addres Deforestation and forest degradation” pada tanggal 16 Mei 2018 di Kantor BB TaNa Bentanrum di Putussibau. Acara yang dibuka oleh Kepala Balai Besar TaNa Bentarum dihadiri oleh 13 Kepala Desa yang menjadi target pelaksanaan FIP-1 di Kabupaten Kapuas Hulu, Direktur BUPSHA Ditjen PSKL KLHK dan Bappeda Kabupaten Kapuas Hulu. Arief pada kesempatan pembukaan menyampaikan “Proyek FIP – 1 ini berlangsung selama 5 tahun, dimulai pada tahun 2017 dan akan berakhir pada tahun 2021, dengan nilai proyek hampir USD$ 17.000.000”. Arief menambahkan dengan adanya proyek ini diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat di 13 Desa yang menjadi lokasi proyek. “Ini adalah salah satu bukti bahwa negara hadir di masyarakat, untuk mensejahterakan masyarakat. Dan perlu saya garis bawahi bahwa ini untuk masyarakat desa bukan Kepala Desa” pungkasnya, disertai tepuk tangan para peserta rapat. Proyek FIP 1 merupakan hibah dari Climate Investments Fund (CIF) yang disalurkan melalui Asian Development Bank (ADB). Grant Agreement FIP 1 ditandangani pada tanggal 26 Okotober 2016 oleh Pemerintah RI dan ADB, dengan Executing Agency berada di Direktorat Jenderal PSKL. Implementing unit sebagai pelaksana kegiatan secara teknis adalah Direktorat PJLHK Ditjen KSDAE, Direktorat BUPSHA Ditjen PSKL, Direktorat KPHP Ditjen PHPL, termasuk juga Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat. Proyek yang sudah diinisiasi sejak fase perencanaan tahun 2014-2015 ini akan dilaksanakan di Kabupaten Sintang dan Kabupaten Kapuas Hulu, dengan lokus berbasis KPH serta TNBK & TNDS. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Kunjungan Reguler Sekolah oleh Balai TN Kutai Bersama PT. SHJ Kun

Bontang, 16 Mei 2018. Balai Taman Nasional Kutai bekerjasama dengan PT. Surya Hutani Jaya (PT. SHJ) melaksanakan kegiatan kunjungan reguler ke sekolah pada tanggal 17 – 18 April 2018 di 5 sekolah di sekitar kawasan TN Kutai khususnya pada SPTN Wilayah II Tenggarong. Sekolah yang dikunjungi yaitu SMK Desa Manunggal Daya SP 2, MTS Sidomukti SP 3, SD Negeri Desa Menamang Kanan, SMP Negeri Menamang Kanan dan MTS Desa Benua Baru. Kegiatan ini selaras dengan program konservasi yang termuat dalam rencana kerja perusahaan PT. SHJ yang juga sebagai salah satu anggota Mitra TN Kutai yaitu monitoring dan evaluasi pembangunan kawasan. Hal ini dilaksanakan untuk mendapatkan informasi apakah kawasan hutan tersebut sudah digunakan oleh satwa liar sebagai habitat tetap atau hanya berupa jalur menuju kawasan TN Kutai yang memiliki kualitas habitat yang lebih baik. Untuk itu, peningkatan kesadartahuan dan pemahaman masyarakat yang bermukim di area sekitar PT. SHJ yang sekaligus di sekitar kawasan TN Kutai tentang satwa yang dilindungi khususnya orangutan mutlak diperlukan salah satunya yaitu sosialisasi ke masyarakat dan sekolah-sekolah. Adapun materi yang disampaikan dalam kunjungan reguler sekolah ini sebanyak tiga materi yaitu pengenalan TN Kutai, mengenal orangtua siswa dan program Kerja PT. SRH terkait Konservasi Orangutan. Rata-rata peserta kegiatan sosialisasi di setiap sekolah adalah 30 orang siswa. Peserta sosialisasi sangat tertarik dan antusias mendengarkan paparan materi. Umumnya sudah cukup mengenal orangutan dan satwa lainnya. Namun semua siswa dari lima sekolah seluruhnya tidak mengenal Taman Nasional Kutai dan sedikit pengetahuan tentang hutan lindung. Harapannya para generasi muda ini bisa mengambil peran aktif mereka untuk melindungi kawasan konservasi beserta seluruh isinya.#TN Kutai Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

BKSDA Sumsel Rangkul Masyarakat dalam Pengelolaan SM Bentayan

Banyuasin, 16 Mei 2018. Permasalahan kelola kawasan, seolah selalu terkait dengan pembangunan ekonomi masyarakat. Keterbatasan lahan untuk pemukiman dan berkebun di luar kawasan hutan menjadi alasan masyarakat mengakses hutan negara secara non prosedural, seperti yang terjadi di Suaka Margasatwa (SM) Bentayan. Kawasan yang sejak tahun 1981 berfungsi sebagai kawasan konservasi tersebut mendapat tekanan berupa pembangunan pemukiman dan kebun masyarakat. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada di dalam kawasan SM Bentayan, tetapi belum mampu diselesaikan secara tuntas. Saat ini, Balai KSDA Sumatera Selatan melakukan pendekatan dan pendampingan kepada masyarakat secara intensif. Cara ini merupakan bagian dari membangun jaringan dengan para pihak terkait sehingga tercipta upaya yang sinergis dalam menyelesaikan permasalahan kawasan. Membangun jaringan dapat dilakukan dalam bentuk konsultasi, koordinasi, sampai dengan kesepakatan/komitmen. Tahapan ini diawali dengan komunikasi dialogis yang dilakukan Balai KSDA Sumatera Selatan sebagai pemangku kawasan SM Bentayan dengan mengajak para pihak di lingkup kecamatan Tungkal Jaya Kabupaten Musi Banyuasin dan Kecamatan Tungkal Ilir kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan yang terdiri dari pemerintah Kecamatan Tungkal Ilir dan Tungkal Jaya, perangkat desa yang berbatasan dengan kawasan yaitu Desa Sukadamai, Desa Keluang, Desa Simpang Tungkal, dan Desa Bentayan, serta Polsek dan Babinsa setempat. Komunikasi dialogis dengan menyatukan persepsi para pihak terkait dalam pengelolaan kawasan SM Bentayan, termasuk upaya yang dapat dilakukan secara multipihak, diantaranya yaitu masyarakat mendukung dan bersedia berpartisipasi terhadap upaya pemulihan ekosistem. Selain itu, masyarakat menaruh harapan terhadap adanya kebijakan pemerintah untuk penyelesaian permasalahan penggunaan kawasan non prosedural yang terjadi. Sumber : Julita Pitria - BKSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Kolaborasi BKSDA Kalsel Ditreskrimsus Polda Kalsel dan Masyarakat Gagalkan Perdagangan Satwa Dlindungi

Banjarmasin, 16 Mei 2018. Direktorat Reskrimsus Polda Kalsel gagalkan perdagangan ilegal satwa liar yang dilindungi undang-undang jenis Bekantan 1 ekor umur sekitar 6 bulan dan 3 ekor anak kucing hutan umur sekitar 1 bulan pada Rabu, 16 Mei 2018 di sekitar Pal 7 Jalan Ahmad Yani Banjarmasin. Berdasarkan keterangan AKP Trisna Agus Brata, SH.,MH selaku penyidik yang menangani kasus tersebut, bahwa satwa-satwa tersebut disita dari supir taksi di lokasi kejadian yang membawanya dari Barabai. Kejadian bermula saat tim dari anggota Ditreskrimsus Polda Kalsel, Aiptu Krismandra melakukan kegiatan patroli di sepanjang jalan sekitar Pasar Kertak Hanyar sampai ke Pal 7 dan menemukan pelaku membawa satwa-satwa yang dilindungi tersebut. Berdasarkan keterangan tersangka, barang bukti tersebut dititipkan oleh seseorang di Barabai untuk di serahkan ke seseorang di Banjarmasin. Saat ini kasus masih dalam penyidikan di Ditreskrimsus Polda Kalsel, sementara barang bukti sudah dititiprawatkan ke Balai KSDA Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) untuk pemeriksaan kesehatan dan perawatan lebih lanjut. Kepala BKSDA Kalsel Dr. Mahrus Aryadi mengatakan temuan ini hasil koordinasi yang sinergis antara BKSDA Kalsel, Polda Kalsel dan masyarakat. “Kami berharap ke depan dapat mengurangi kegiatan ilegal trading di Kalsel khususnya”, imbuh Mahrus. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Melalui Call Center, Balai KSDA NTB Amankan Anakan Kucing Hutan

Lombok Timur, 15 Mei 2018. Call Center Balai KSDA Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) menerima laporan mengenai seorang warga yang melakukan aktivitas perdagangan/jual-beli satwa liar dilindungi yakni Kucing Hutan melalui media sosial Facebook. Berbekal Tangkapan Layar (Screenshot) dari postingan Facebook tersebut, Pada hari Selasa, 15 Mei 2018 Tim Polhut Balai KSDA NTB langsung menuju lokasi di Daerah Orong Lekok Desa Prian, Kec. Montong Gading Kab. Lombok Timur. Menurut Pengakuan si penjual, dua ekor anak kucing hutan ini ditemukan di sawah dekat rumah dengan jumlah dua ekor. Namun, satu ekor lepas dari kandang ketika hendak diberi makan. Si Penjual sama sekali tidak mengetahui bahwa satwa ini dilindungi, Setelah diberikan penjelasan dan pengarahan lebih lanjut, akhirnya yang bersangkutan menyerahkan dengan sukarela satwa yang dimaksud kepada Tim Polhut Balai KSDA NTB. Hingga berita ini diturunkan, satu ekor anak Kucing Hutan telah diamankan di Kantor Balai KSDA NTB. Quick Response / Call Center Balai KSDA NTB diperuntukan sebagai pelayanan aduan masyarakat terkait penyerahan satwa liar, kasus konflik satwa, perdagangan tumbuhan dan satwa liar, dan permasalahan didalam kawasan konservasi lingkup wilayah kerja Balai KSDA NTB di Provinsi NTB melalui Nomor : +6287882030720 (WhatsApp, Telepon dan SMS) Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

BKSDA Sumsel Ikut Apel Siaga Karhutla 2018, Zero Fire Zero Haze

Ogan Komering Ilir, 16 Mei 2018. Apel kesiapsiagaan personil dan peralatan kebakaran hutan dan lahan dilaksanakan pada tanggal 16 Mei 2018 di lapangan Desa Palam Raya Km 28, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Pembina apel yakni Komandam Korem Gapo 004 selaku Komandan Satgas Karhutla Provinsi Sumatera Selatan. Apel dihadari oleh seluruh elemen yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah dan kabupaten, swasta, aparat, dan masyarakat. Apel ini sebagai upaya untuk mengetahui kesiapsiagaan setiap unsur baik personil maupun peralatan dalam mendukung pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta menyongsong acara akbar Asian Games. Asian Games akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2018 mendatang di Palembang. Sumatera Selatan siap zero fire dan zero haze !! Sumber : Agnes Indra Mahanani - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Kenalkan TN Kutai dan Lingkungan Melalui KRS

Bontang, 16 Mei 2018. Balai Taman Nasional Kutai bersama Mitra TN Kutai dan PT. Pertamina EP Asset 5 Sangatta Field mengadakan Kunjungan Reguler Sekolah (KRS). Kegiatan ini dilaksanakan pada 3 sekolah yang berada di Kecamatan Sangatta Selatan tepatnya di Desa Sangkima. Tiga sekolah tersebut antara lain SMP Negeri 2 Sangatta Selatan (2 Mei), SD Negeri 006 Sangatta Selatan (12 Mei), dan SD Negeri 005 Sangatta Selatan (14 Mei). Kegiatan Kunjungan Reguler TN Kutai ke sekolah merupakan salah satu kegiatan berupa kampanye tentang Taman Nasional Kutai kepada siswa siswi sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, terutama pada sekolah-sekolah yang berdampingan langsung dengan TN Kutai. Diharapkan dengan memberikan pengetahuan dan pengenalan TN Kutai kepada anak usia dini terutama yang tinggal berbatasan langsung dengan TN Kutai yang berpotensi besar melakukan aktivitas di TN Kutai dapat menjadi agen untuk penyebaran informasi tentang keberadaan TN Kutai yang perlu untuk dijaga keberadaan dan kelestariannya. Materi yang diberikan kepada siswa-siswi pada masing-masing sekolah yang dikunjungi dalam KRS ini adalah konflik orangutan serta kebakaran hutan. Materi yang disampaikan dikemas dengan menarik sehingga siswa-siswi tertarik dan antusisas untuk mendengarkan. Untuk menambah semangat siswa-siswi juga dihadirkan badut orangutan (Si Pongi). Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan siswa-siswi sekolah dapat memahami betapa pentingnya menjaga hutan agar flora dan fauna yang ada didalam dapat selalu terlindungi khususnya flora dan fauna yang ada di Taman Nasional Kutai. Sumber : BTN Kutai
Baca Berita

Pelatihan Meningkatkan Kualitas

Jayapura, Selasa, 15 Mei 2018. Dengan meningkatkan kualitas pegawai, khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, akan semakin meningkatkan pula kualitas kerja/ kinerja pegawai yang akan berujung pada peningkatan kinerja dan kualitas Unit Pelaksana tersebut. Bentuk-bentuk pelatihan merupakan salah satu usaha dalam meningkatkan kualitas kemampuan pegawai. Inhouse Training Demplot Microhidro di Kawasan Konservasi yang dilaksanakan di Hotel Augusta, Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada tanggal 7 sampai dengan 10 Mei 2018, merupakan salah satu bentuk pelatihan dalam meningkatkan kualitas pegawai khususnya Kementerian LHK, Unit Pelaksana Teknis BBKSDA Papua, Rian Agustina, S.Pt.,MIL yang ikut menjadi salah satu peserta. Beberapa hal yang dapat disimpulkan dalam pelaksanaan inhouse training ini, antara lain Dengan diberikannya materi Kebijakan Prioritas Nasional Ketahanan Energi melalui Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), maka energi lain selain yang memanfaatkan bahan bakar fosil, meliputi : energi yang berasal dari pemanfaatan panas matahari, angin, air, biomassa dll, maka EBT tersebut dapat membantu dalam hal pencapaian target bauran energi yang masuk dalam program pemerintah yaitu PROGRAM 35000 MW, yaitu membangun pembangkit listrik mencapai 35.000 MW hingga 2019 (5 tahun), untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Materi Perencanaan Pembangunan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga MicroHidro), disampaikan bahwa ada beberapa tahapan yang dapat disiapkan antara lain : Studi potensi (perencanaan lokasi), sosialisasi, studi kelayakan, perancangan (DED dan RAB), Persiapan, Pembangunan dan Instalasi serta operasional (pemanfaatan dan Pemeliharaan). Selain materi-materi mengenai kebijakan prioritas nasional ketahanan energi melalui pengembangan energi baru terbarukan, pengenalan PLTMH, dan materi-materi lainnya, peserta di ajak untuk ikut ke lokasi yang telah mengembangkan MicroHidro dan kelembagaan Masyarakat pengelola MicroHidro di Kasepuhan Ciptagelar untuk kegiatan praktek lapangan. Dari materi dan praktek lapang dalam kegiatan inhouse training ini, peserta diharapkan dapat menjadi perwakilan dari Unit Pelaksana Teknis wilayah kerja masing-masing yang dapat menjadi penggiat partisipasi masyarakat sekitar kawasan konservasi untuk menjaga dan melestarikanfungsi kawasan, melalui pemanfaatan air sebagai sumber energi (mikrohidro), juga dapat membangun hubungan timbal balik positif antara kawasan konservasi dengan masyarakat di sekitarnya, serta dapat memanfaatkan potensi air dalam kawasan konservasi dan sekitarnya untuk dapat berkontribusi dalam mewujudkan percepatan energy listrik melalui EBT. Pegunungan Cycloop merupakan salah satu kawasan konservasi wilayah kerja BBKSDA Papua yang dalam perencanaan pengelolaannya terdapat pembangunan mikrohidro. Oleh karena itu, kegiatan ini sangat mendukung pelaksanaan pengelolaan kawasan konservasi, khususnya CA. Pegunungan Cycloop yang juga ditunjuk sebagai Rolle Model tahun 2017. Sumber : Rian Agustina - BBKSDA Papua
Baca Berita

Kepala Balai TNTN Lakukan Pembinaan Dan Trabas Kawasan Dengan Motor Trail

Baserah, 15 Mei 2018. Rabu hingga Jumat, 09 -11 Mei 2018, Kepala Balai TNTN sambangi SPW II Baserah dalam rangka kunjungan dan pembinaan wilayah kerja. Kunjungan dan pembinaan, dimanfaatkan oleh Kepala Balai TNTN untuk memberi pengarahan kepada staff SPW II & Resort serta terjun langsung kelapangan. Pada hari kedua kunjungan, Kepala Balai TNTN beserta Kepala SPW II laksanakan kegiatan trabas dengan menggunakan sepeda motor trail ke wilayah Resort Onangan Nilo. Saat melakukan Trabas dengan motor trail, Kepala Balai TNTN dan tim mengelilingi wilayah perambahan di Resort Onangan meliputi daerah perbekalan Sungai Tembaga, Onangan, Doli, dan Toro Jaya. Setelah mengelilingi wilayah perambahan, Kepala Balai TNTN juga mengunjungi lokasi pembangunan pos pengamanan hutan tersisa di wilayah Resort Onangan Nilo untuk melihat perkembangan pembangunan pos. Saat trabas, Kepala Balai bertemu dengan salah seorang perambah di daerah perbekalan dan mencari informasi dari perambah tersebut. Kepala Balai dan tim juga bertemu serta berdiskusi dengan BABINKAMTIBMAS Desa Lubuk Kembang Bunga Aiptu Sani di Daerah Toro Jaya membahas pengelolaan hutan tersisa. Usai trabas, Kepala Balai TNTN mengungkapkan petugas lapangan TNTN kinerjanya sudah sangat bagus, dan ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan, “Teman teman di lapangan sudah sangat bagus kinerjanya, namun ada beberapa hal lagi yang perlu ditingkatkan. pendekatan kepada masyarakat juga sudah terjalin sangat baik, itu harus dipertahankan karena kita tidak bisa bekerja sendiri, kita harus berkolaborasi dengan masyarakat desa dan aparat lainnya", ungkap Kepala Balai TNTN Supartono, S.Hut, M.P. Kepala SPTN II Baserah Ibram Eddy Chandra, S.Hut, M.Sc mengatakan bahwa kunjungan dan pembinaan dari Kepala Balai TNTN menambah semangat petugas dilapangan untuk lebih aktif dalam mengelola dan menjaga kawasan Taman Nasional. Sumber : BTN Tesso Nilo
Baca Berita

Mekar Spesial Si Bunga Langka

Bogor, 15 Mei 2018. Rafflesia rochussenii terpantau kembali sedang mekar di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Momen mekar kali ini terasa sangat spesial, karena posisi mekarnya begitu unik. Bunga ini tumbuh pada jenis liana dari Genus Tetrastigma yang biasanya tepat berada di permukaan tanah. Bagi orang awam bunga ini seperti tumbuh di tanah, karena memang liana yang menjadi inangnya seringkali tertutup tanah. Namun kali ini Rafflesia rochussenii terlihat mekar di ketinggian 2,7 m dari permukaan tanah pada inangnya yang merambat ke atas. Jika menggunakan bahasa kekinian, menemukan si bunga langka mekar “melayang” ini merupakan kenikmatan yang hakiki setelah bermandi keringat menembus belantara. Genus Rafflesia di dunia berjumlah 25 jenis dan 12 jenis diantaranya dapat dijumpai di Indonesia (Susatya, 2011). Menurut Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, semua jenis dari genus Rafflesia adalah dilindungi. Dari 12 jenis tersebut salah satunya yang masih ditemukan di TNGGP sampai sekarang adalah jenis Rafflesia rochussenii. Pertumbuhannya diperkirakan membutuhkan waktu selama 27,3 bulan untuk sebuah kuncup sampai mekar dengan waktu mekar selama 7 hari (Zuhud dkk, 1994). Rafflesia rochussenii memiliki sejarah panjang. Tahun 1941 sempat dinyatakan punah karena sering terjadi pengambilan di alam. Pada tahun 1990 jenis ini ditemukan kembali oleh sekelompok mahasiswa pencinta alam dari IPB (Lawalata IPB) di Gunung Gede. Pernah juga ditemukan di Gunung Salak dan Gunung Leuser (Zuhud dkk, 1998). Sumber: BBTN Gunung Gede Pangrango Narasi: Agung Gunawan Dokumentasi: Iyan Sopian
Baca Berita

Operasi Gabungan Simpatik BBKSDA Jabar

Suaka Margasatwa Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng merupakan kawasan hutan konservasi di pesisir selatan Sukabumi yang memiliki fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. Yang dimaksud dengan penyangga kehidupan disini adalah hutan sebagai penghasil oksigen, pengatur tata air dan penyimpan plasma nutfah serta menjaga kesuburan tanah. Hutan yang lestari dapat menjamin kelangsungan seluruh mahluk hidup secara berkelanjutan. Secara faktual, kawasan ini sebagai tempat pengawetan satwa endemik Jawa Barat, diantaranya Macan Tutul Jawa dan Penyu Hijau, kawasan ini juga tercatat sebagai habitat Banteng dan Merak Hijau. Selain sebagai habitat berbagai jenis hidupan liar, kawasan hutan ini juga memiliki beberapa Isu Strategis Nasional, diantaranya sebagai calon habitat kedua Badak Jawa, termasuk dalam Zona Biodiversity dan Zona Geodiversity Geopark Ciletuh-Pelabuhanratu, sanctuary Macan Tutul Jawa serta rencana lokasi reintroduksi Banteng. Sebagai kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi, kawasan SM Cikepuh dan CA Cibanteng seluas 8.570,05 Ha pernah mengalami kerusakan secara masif pada periode 1999 hingga 2002 sebagai akibat euforia reformasi. Kegiatan Operasi Khusus yang digelar pada tahun 2002, berhasil mengamankan seluas + 4.000 Ha kawasan dan mengeluarkan + 2.500 kepala keluarga secara sukarela dari dalam kawasan. Upaya untuk merambah dan menguasai kawasan hutan kembali kerap dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Pada tahun 2012, BBKSDA Jawa Barat-Ditjen KSDAE-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kembali menggelar Operasi Persuasif dan berhasil memindahkan (resettlement) secara sukarela sebanyak 13 kepala keluarga yang menggarap dan bermukim di Blok Ciawet-SM Cikepuh. Pada tahun 2017, masih dijumpai perambahan di Blok Cigadung (30 Ha), Blok Ciawet (12 Ha) – SM Cikepuh dan Blok Legok Cadu - CA Cibanteng (18 Ha) dengan modus penguasaan dan jual beli lahan yang diduga dilakukan oleh oknum tertentu dengan tujuan tertentu yang mengatasnamakan dan mengorbankan masyarakat. Sebagai pengelola kawasan, BBKSDA Jawa Barat berkoordinasi dengan Forkopimda Kabupaten Sukabumi, Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan - Direktorat Jenderal Penegakan Hukum, Forkopimka Kecamatan Ciemas, masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi, serta Masyarakat Mitra Polhut. Dukungan para pihak membulatkan tekad bersama untuk melestarikan kawasan hutan SM Cikepuh dan CA Cibanteng dari segala bentuk ancaman dan gangguan. Berdasarkan hasil pengumpulan bahan dan keterangan, konsultasi dan koordinasi dengan para pihak, serta telaahan terhadap Peraturan Perundangan yang berlaku, yaitu: serta memperhatikan fungsi kawasan hutan sebagai Suaka Margasatwa dan Cagar Alam, atributnya sebagai Zona Inti Geopark Ciletuh-Pelabuhanratu, dan kondisi faktual di lapangan (konstruksi akar persoalan) yang mengindikasikan adanya modus penguasaan dan jual beli lahan yang diduga dilakukan oleh oknum tertentu dengan tujuan tertentu yang mengatasnamakan dan mengorbankan masyarakat maka sebagai pengelola kawasan konservasi, BBKSDA Jabar memilih langkah persuasif dengan mempertimbangkan kehati-hatian melalui kegiatan Operasi Simpatik sebagai langkah penyelesaian perambahan di SM Cikepuh dan CA Cibanteng. Sebagai langkah awal pemulihan ekosistem kawasan SM Cikepuh dan CA Cibanteng, pada tanggal 9-13 Mei 2018 selama 5 hari, Tim Gabungan menggelar Operasi Simpatik Pemulihan Ekosistem Suaka Margasatwa Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng Sebagai Satu Kesatuan Sistem Penyangga Geopark Ciletuh dan Calon Lokasi Habitat Kedua Badak Jawa. Operasi Simpatik tersebut menargetkan untuk membersihkan kawasan SM Cikepuh dan CA Cibanteng dari segala bentuk gangguan, terutama aktifitas perambahan dan pengunaan kawasan secara tidak sah. Operasi Simpatik yang dilakukan melalui pendekatan persuasif menjadi pilihan bersama, mengingat kondisi masyarakat perambah yang secara sadar mengakui bahwa kegiatan mereka dilakukan di dalam kawasan konservasi dan bersedia secara sukarela untuk meninggalkan garapan sekaligus bersedia membantu upaya pemilihan ekosistem kawasan hutan Cikepuh dan Cibanteng. Operasi tersebut berhasil mengamankan kawasan hutan SM Cikepuh dan CA Cibanteng seluas 60 Ha dari gangguan berupa perambahan dan penggunaan kawasan secara tidak sah. Selanjutnya pada area yang telah terbebas dari gangguan akan dilakukan rehabilitasi secara bertahap. Melalui Operasi Simpatik ini, diharapkan ekosistem SM Cikepuh dan CA Cibanteng dapat berfungsi kembali secara optimal dan mampu mendukung atribut sebagai zona inti Geopark Ciletuh-Pelabuhanratu, selanjutnya masyarakat semakin memahami pentingnya kelestarian ekosistem hutan bagi pembangunan yang berkelanjutan. Sumber : BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

Masyarakat Desa Batu Merah Dan Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Menanam Untuk Lindungi Sumber Mata Air

Sangtombolang, Selasa, 15 Mei 2018. Masyarakat Desa Batu Merah bersama dengan Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) dan Muspika Kecamatan Sangtombolang melakukan penanaman perdana di sekitar Sungai Singkul pada tanggal 15 Mei 2018. Penanaman pohon ini bertujuan untuk melindungi mata air yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Desa Batu Merah, terutama untuk air minum. Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Kepala Balai TNBNW, Kepala SPTN Wilayah III Maelang, Perwakilan Camat Sangtombolang, Kapolsek dan Danramil Sangtombolang, Babinsa serta Babinkamtibnas setempat. Desa Batu Merah merupakan salah satu desa penyangga yang menjadi mitra dalam pengelolaan kawasan TNBNW. Lokasinya berada di wilayah kerja Resort Buroko SPTN Wilayah III Maelang. Desa Batu Merah memiliki 157 KK dengan mata pencaharaian utama sebagian besar adalah sebagai nelayan. Sejak tahun 2017, Desa Batu Merah melaksanakan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) dengan membangun bak penampungan air dan memanfaatkan air yang bersumber dari Sungai Singkul. Air tersebut kemudian dialirkan ke rumah warga dan dimanfaatkan oleh sekitar 518 jiwa penduduk Desa Batu Merah. Oleh karena itu, sebagi wujud komitmen masyarakat Desa Batu Merah untuk melindungi sumber mata air tersebut, maka dilakukan kegiatan penanaman yang diinisiasi oleh Resort Buroko, SPTN Wilayah III Maelang, Balai TNBNW bersama pemerintah Desa Batu Merah. Kegiatan penanaman tersebut disambut baik dan didukung penuh oleh seluruh masyarakat Desa Batu Merah serta seluruh stakeholder yang ada. Dalam sambutannya Kepala Balai TNBNW, Lukita Awang Nistyantara menyampaikan bahwa taman nasional sebagai aset yang sudah ada perlu dijaga agar bisa diwariskan kepada anak cucu kita dengan kondisi yang lebih baik daripada sekarang, dan ini akan dilakukan masyarakat Desa Batu Merah melalui kegiatan penanaman. Selain itu, Kepala Balai juga menyampaikan bahwa kita perlu menyepakati konsep tata ruang yang berhubungan dengan norma etika alam itu sendiri. “Ketika kita mengelola alam ini dengan benar, memperlakukan dengan benar, maka alam akan berpihak pada kita”, tegas Lukita Awang Nistyantara. Dan diakhir penyampaiannya, Kepala Balai menyampaikan bahwa tugas Balai TNBNW adalah menajaga kawasan taman nasional, dan masyarakat harus bisa mendukungnya agar mereka bisa memanfaatakan jasa lingkungan yang disediakan oleh taman nasional. Untuk itu, maka perlu adanya kerjasama antara Balai TNBNW dengan masyarakat untuk bisa sama-sama menjaga kawasan TNBNW. Pada kesempatan ini, Sangadi Desa Batu Merah Yokber Sasundu menyampaikan apresiasinya kepada Balai TNBNW khusunya Resort Buroko yang telah melakukan pembinaan kepada masyarakat Desa Batu Merah dengan memberikan pelatihan menjahit serta memfasilitasi pengadaan 2000 bibit tanaman, terdiri dari jenis cempaka, nantu, gaharu, durian dan duku. Apresiasi yang sama juga disampaikan Sangadi kepada seluruh masyarakat Desa Batu Merah dan aparat pemerintah daerah yang sudah mendukung terlaksananya program penanaman ini. ”Sungai Singkul merupakan aset yang berharga bagi masyarakat Desa Batu Merah sebagai sumber air bersih. Oleh karena itu, menjaga dan melindungi sumber mata airnya menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh seluruh masyarakat Desa Batu Merah”, kata Yokber Sasundu selaku Sangadi Desa Batu Merah. Sangadi juga menjelaskan bahwa penanaman bibit pohon yang sudah disediakan Balai TNBNW akan dilanjutkan oleh masyarakat Desa Batu Merah setiap kegiatan “Jumat Bersih” sampai seluruh bibit habis tertanam di sepanjang bantaran Sungai Singkul. Untuk ke depannya, Sangadi Desa Batu Merah mengharapkan adanya bantuan bibit manggis untuk ditanam oleh masyarakat setempat. Sangadi berharap bahwa manggis akan menjadi ikon dari Desa Batu Merah. Taman Nasional BoganiNaniWartabone dengan luas 282.008,757 hektar ini telah ditetapkan sebagai kawasan taman nasional sejak tahun 1993 berdasarkan SK Menhut No.724/Kpts-II/1993 oleh karena kawasan ini merupakan daerah tangkapan air daerah Bolmong dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga menjadi penyangga kehidupan masyarakat, khususnya di daerah Bolaang Mongondow. Taman Nasional Bogani Nani Wartabone merupakan aset nasional bangsa Indonesia, dan dilindungi oleh Undang Undang. Sumber : Dini Rahmanita - BTNBNW
Baca Berita

Opsetan Beruang Madu dan Kepala Rusa Sambar Ditertibkan BKSDA Sumsel

Lubuk Linggau, 15 Mei 2018. Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan (Sumsel) kembali menertibkan kepemilikan opsetan Beruang Madu dan Kepala Rusa Sambar masing-masing sebanyak 1 buah di Kota Lubuk Linggau. Bermula dari informasi masyarakat tentang adanya kepemilikan opsetan satwa liar dilindungi yang ditindaklanjuti SKW II Lahat BKSDA Sumsel dengan menurunkan petugas dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) VIII Tebing Tinggi untuk menajamkan kebenaran informasi tersebut. Setelah memastikan ketepatan informasi tersebut maka petugas RKW VIII Tebing Tinggi melakukan pengawasan dan pengecekan pada lokasi yang diduga terdapat opsetan Beruang Madu dan Kepala Rusa Sambar. Kemudian petugas memberikan penjelasan untuk penyadartahuan kepada pemilik bahwa kepemilikan opsetan tersebut melanggar peraturan dan undang-undang. Pemilik pun menceritakan bahwa opsetan tersebut adalah warisan dari orang tuanya dan setelah mendapatkan penjelasan petugas terkait kepemilikan opsetan satwa liar dilindungi maka dengan penuh kesadaran opsetan Beruang Madu dan Kepala Rusa Sambar diserahkan kepada petugas. Pemilik opsetan tersebut berterima kasih kepada petugas karena telah memberikan penyadartahuan dan berjanji tidak akan mengulangi lagi kesalahannya. Selanjutnya petugas RKW VIII Tebing Tinggi membawa opsetan Beruang Madu dan Kepala Rusa Sambar tersebut ke Kantor SKW II di Lahat yang secepatnya akan ditindaklanjuti dengan menyerahkan opsetan tersebut ke Kantor BKSDA Sumsel di Palembang. Sumber : Wahid Nurrudin - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan

Menampilkan 7.921–7.936 dari 11.140 publikasi