Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Nuri Malang Nuriku dari Malang

Jakarta, 21 Mei 2018. Polisi Kehutanan Balai KSDA Jakarta berhasil menggagalkan penyelundupan 353 ekor burung Nuri tanpa dokumen SATS-DN di bandara Soekarno-Hatta pada Sabtu 19 Mei 2018. Informasi awal didapat melalui aplikasi WhatsApp dari Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur bahwa dicurigai adanya pengiriman burung dilindungi Undang-undang dari Bandar Udara Abdul Rachman Saleh (Malang) dengan tujuan Bandar Udara Kualanamu (Medan) dengan maskapai Sriwijaya Air dan transit di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Tangerang Banten. Berbekal informasi tersebut Kepala Balai KSDA Jakarta segera memerintahkan kepada petugas Polisi Kehutanan yang bertugas di Bandara Soekarno-Hatta untuk melakukan pendalaman kasus dengan berkoordinasi dan berkomunikasi dengan pihak keamanan bandara (Avsec) dan pihak maskapai Sriwijaya. Setelah didapatkan kepastian bahwa burung-burung tersebut adalah burung yang tidak dilindungi Undang-undang namun termasuk dalam kategori Appendiks II CITES dan diangkut tidak dilengkapi SATS DN maka pihak Polisi Kehutanan melakukan penyitaan terhadap burung-burung tersebut. Adapun burung-burung yang berhasil disita petugas antara lain: 78 Ekor Nuri Merah (Eos borneo), 30 ekor Nuri Dusky (Pseudeos fuscata), 173 ekor Nuri pelangi (Trichoglossus haematodus) dan 72 ekor Nuri tanimbar (Eos reticulata) ditemukan 1 ekor Nuri Merah (Eos borneo) dalam keadaan mati, Sambil menunggu proses selanjutnya, untuk sementara burung-burung tersebut dititiprawatkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur. Sumber : Balai KSDA Jakarta
Baca Berita

Tim Patroli TN Tesso Nilo Tangkas Padamkan Karhutla

Resort Air Hitam, 21 Mei 2018. Ditengah-tengah melaksanakan patroli hutan rutin pada hari Senin 21 Mei 2018, Tim Patroli Karhutla Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) mendapat laporan dari RAPP bahwa telah terjadi kebakaran di daerah resort air hitam daerah gambangan. Mendapat laporan tersebut, Tim dengan tangkas langsung menuju titik api yang membakar lahan di batas kawasan TNTN. Tim partroli Karhutla TNTN tidak turun kelapangan memadamkan api sendiri, melainkan juga dibantu oleh Tim Kebakaran dari PT. RAPP. Menurut keterangan dari salah satu Tim Karhutla TNTN, area yg terbakar merupakan kebun sawit dimiliki oleh masyarakat dan disinyalir memiliki luas lebih kurang 3 (Tiga) Ha. Kebakaran lahan yang berusaha dipadamkan oleh kedua tim dipadamkan tanpa ada hambatan dan berhasil dipadamkan dalam waktu singkat. Berdasarkan keterangan Tim pula, kebakaran di duga merupakan lahan yang sengaja dibakar untuk membuka sebuah lahan baru, namun pada saat pemadaman tidak ditemukannya pelaku pembakaran. Dari informasi yang diperoleh dari salah satu Tim Karhutla TNTN Bapak M.Pajraini, api telah padam seluruhnya dan untuk pencegahan terjadinya kebakaran kembali, Tim Karhutla TNTN akan intensifkan patroli dilokasi terbakar. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Rescue Orangutan Sumatera di Bukit Lawang

Medan, 21 Mei 2018. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut), Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Orangutan Information Center (OIC) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bukit Lawang melakukan rescue atau penyelamatan terhadap 1 individu Orangutan Sumatera yang terisolir di perladangan penduduk Dusun V Desa Perkebunan Bukit Lawang Kec. Bahorok. “Evakuasi dilakukan pada Jum’at, 18 Mei 2018 pukul 14.30 WIB”, Ujar Herbet Ka. SKW II Langkat BBKSDA Sumut. Orangutan berjenis kelamin betina yang berusia 15 tahun, memiliki berat badan 20 kg. Setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan terhadap orangutan dinyatakan sehat secara umum. Karena Orangutan dinyatakan sehat, tim medis darah Orangutan Information Center (OIC) mempertimbangkan bahwa Orangutan dapat ditranslokasikan dan di lepasliarkan ke kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser (Stasiun Pengamatan Orangutan Sumatera Bukit Lawang). Ketika ditranslokasikan Orangutan tampak langsung menaiki pohon sebagaimana Orangutan pada umumnya. Harapannya Orangutan ini menemukan kembali kelompoknya di habitat alaminya di Taman Nasional Gunung Leuser. Translokasi ini merupakan upaya dalam rangka melestarikan populasi orangutan dihabitat alaminya.(Herbet) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Upacara Kebangkitan Nasional di TN Way Kambas Bersama Mitra

Labuhanratu, 21 Mei 2018. Untuk membangkitkan kembali jiwa patriotik para rimbawan, pada hari ini Senin tanggal 21 Mei 2018 Balai Taman Nasional Way Kambas melaksanakan upacara bendera bersama di halaman kantor Balai TN Way Kambas. 110 tahun yang lalu, tepatnya 21 Mei 1908 Dr. Soetomo dengan mendirikan perkumpulan Boedi Oetomo berjuang bersama para pemuda pelajar untuk meraih kemerdekaan indonesia. Perkumpulan ini bersifat terbuka bagi semua orang indonesia tanpa terkecuali, baginya tanah air indonesia di atas segala-galanya. Dengan memperingati Harkitnas ini kita dapat mengenang kembali semangat kebangkitan jiwa para pemuda untuk meraih cita cita Merdeka dan pada hari ini semoga jiwa para rimbawan berkobar kembali untuk mengisi kemerdekaan ini dengan Korsa Rimbawan Milenial dalam pembangunan bidang kehutanan untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Upacara yang dipimpin langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas dan diikuti oleh seluruh pegawai Taman Nasional Way Kambas dan para mitra kerja (WCS, PKHS, AleRT, YABI dan KHS) berlangsung dengan khidmat. Kepala Balai mengajak seluruh Rimbawan TN. Way Kambas untuk bekerja lebih baik lagi untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa. Sambutan Menkominfo RI dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional Ke-110 Tahun 2018 dibacakan oleh Kepala Balai TN Way Kambas selaku Inspektur Upacara. Sumber : Humas Balai Taman Nasional Way Kambas
Baca Berita

Kehidupan Baru si Landak Sumatera

Lahat,21 Mei 2018. Ini adalah cerita tentang seekor Landak Sumatra (Hystrix sumatrae) yang diselamatkan Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan (Sumsel) dari Taman Wisata (TW) Ribang Kemambang Lahat, Sumatera Selatan. Landak liar tersebut ditemukan warga di area perkebunan lalu diserahkan kepada TW Ribang Kemambang untuk dirawat namun hal tersebut kurang tepat karena satwa liar harus segera dilepasliarkan ke habitatnya atau ditranslokasi ke tempat terproteksi. Salah satu tugas utama BKSDA Sumsel adalah menyelamatkan satwa liar dilindungi yang berasal dari penyerahan, perburuan, maupun perdagangan serta membantu masyarakat untuk mengevakuasi dan melepasliarkan satwa liar dilindungi kembali ke habitatnya. Keberadaan sang landak diketahui melalui patroli eksitu yang intensif dilakukan petugas Resort Konservasi Wilyah (RKW) 5 Gumai, kemudian ditindaklanjuti dengan aktivitas pemantauan terhadap TW Ribang Kemambang. TW Ribang Kemambang dikelola Pemerintah Daerah Lahat melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Ribang Kemambang yang secara kelembagaan berada dibawah Dinas Pariwisata Lahat. Setelah dilakukan komunikasi intensif oleh petugas RKW 5 Gumai maka pihak pengelola taman wisata tersebut bersedia menyerahkan Landak Sumatera (Hystrix sumatrae) sebanyak 1 ekor melalui Bapak Agus selaku Kepala UPTD Ribang Kemambang kepada SKW II Lahat BKSDA Sumatera Selatan yang diwakili Bapak Kamaludin selaku Kepala RKW 5 Gumai. Landak Sumatra (Hystrix sumatrae) merupakan salah satu satwa endemik yang hanya bisa dijumpai di Pulau Sumatera. Satwa liar dilindungi tersebut diklasifikasikan sebagai satwa yang kurang mendapat perhatian (Least Concern) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) yang merupakan badan yang mengatur perdagangan flora dan fauna dunia. Pada umumnya Landak Sumatra (Hystrix sumatrae) hidup di hutan primer maupun hutan sekunder. Genus Hystrix merupakan genus landak terbesar dan dapat memiliki bobot tubuh 30 kg dengan panjang total tubuh mencapai 1 meter. Landak Sumatra (Hystrix sumatrae) merupakan jenis mamalia terestrial yang selalu melakukan aktivitasnya di atas tanah dengan gerakan berjalan cukup lambat. Mereka sangat menyukai buah-buahan matang yang jatuh maupun menggali umbi-umbian didasar tanah. Pada dasarnya Landak Sumatra (Hystrix sumatrae) bukanlah hewan agresif namun mereka akan tidak segan untuk melontarkan durinya apabila merasa terancam Akhirnya kehidupan baru Landak Sumatra (Hystrix sumatrae) akan segera dimulai. Hutan Suaka Alam Pusat Latihan Gajah Kelompok Hutan (HSA PLG KH) Isau-isau dipilih sebagai tempat pelepasliaran dengan pertimbangan selain ekosistem pada area tersebut sangat baik dan cocok sebagai area pelepasliaran juga dikarenakan pada lokasi tersebut merupakan habitat asli bagi beberapa satwa liar termasuk landak. Penyelamatan Landak Sumatra (Hystrix sumatrae) kali ini merupakan landak terbesar yang pernah diselamatkan oleh SKW II Lahat BKSDA Sumsel selama ini. Sebuah kebanggan memperoleh kesempatan untuk memberikan kesempatan bagi Landak Sumatra (Hystrix sumatrae) tersebut mendapatkan kehidupan baru di habitatnya. Sumber : Pungky Nanda Pratama - Kader Konservasi Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Tenjo Laut, Habitat Si Gagah Ayam Hutan

Tenjo Laut, 17 Mei 2018. Seperti halnya wilayah pengelolaan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang bertematik, lokasi wisata alam di TNGC juga memiliki tema atau ciri khas. Salah satunya adalah Tenjo Laut yang memiliki tema habitat ayam hutan (Gallus varius). Lokasi wisata alam ini berada di sebelah selatan TNGC. Tepat pukul 09.00 WIB, muncul sosok seekor ayam hutan yang ditemukan langsung oleh masyarakat pengelola kawasan wisata, Dedi (17/5). Menurutnya, hampir setiap hari pada pukul yang sama ayam hutan jantan selalu berkokok. Tak seperti biasanya, pada hari itu ayam hutan menampakkan dirinya. Tentu saja ini menjadi momen istimewa. Dengan kemunculan ayam hutan ini, maka dapat menjadi pembelajaran dan atraksi wisata bagi pengunjung Tenjo Laut, bahkan dapat menjadi pusat studi dan observasi bagi para pelajar. Ayam hutan berperan sangat penting dalam ekosistem hutan, posisinya sebagai konsumen tingkat satu (pertama) membantu penyebaran tumbuhan yang ada di Gunung Ciremai. Sudah selayaknya sebagai generasi muda untuk mengenalnya lebih dekat, tentu saja bukan untuk memburunya namun untuk mempelajarinya dan melestarikannya. Bagaimanapun hutan yang menjadi habitat ayam hutan merupakan penyangga bagi kehidupan makhluk hidup lainnya, termasuk manusia. Apabila hutan rusak maka kehidupan manusia akan terancam. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? [teks & foto © BTNGC - Sirod | 052018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Lawu, Tari dan Tasya Akhirnya Bisa Bermain Di Habitatnya Lagi

Ketapang, 20 Mei 2018. Tim Wildlife Rescue Unit SKW I Ketapang BKSDA Kalbar bekerjasama dengan YIARI-Ketapang kembali melakukan habituasi/pelepasliaran satwa kukang. Kali ini tiga ekor kukang, Lawu, Tari dan Tasya akhirnya bisa kembali merasakan hidup di alam bebas. Ketiga kukang tersebut berasal dari pusat rehabilitasi YIARI-Ketapang, dengan lama waktu rehabilitasi Lawu (14 bulan), Tari (24 bulan), dan Tasya (35 bulan). Lawu merupakan satwa hasil penyerahan warga di Desa Temajok, sedangkan Tari dan Tasya berasal dari Pontianak. Ketiganya dilepasliarkan di Hutan Lindung Gunung Tarak, Desa Pangkalan Teluk, Kec. Nanga Tayap, Kab. Ketapang. Lokasi hutan lindung Gunung Tarak ini dipilih setelah melalui survei terkait kondisi ekosistem, ketersediaan pakan, dan animal welfare. Pelepasliaran satwa ke habitatnya ini dilaksanakan setelah melalui proses rehabilitasi untuk mengembalikan sifat liar satwa, sehingga mampu bertahan hidup di alam bebas. Kegiatan ini diharapkan mampu menjaga kelestarian hidup kukang di hutan Kalimantan Barat. Banyaknya pembukaan lahan untuk berbagai kepentingan telah membuat kehidupan satwa liar terpojokkan, sudah selayaknya kita menjaga satwa tersebut dengan tidak memburu, memperdagangkan, mengkonsumsi dan memelihara satwa liar tersebut demi menjaga kelestariannya di alam bebas. (ds) Sumber : Tim Wildlife Rescue Unit SKW I Ketapang, Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Warga Ranupani Bersihkan Gulma Salvinia

Malang, 20 Mei 2018. Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bersama masyarakat Desa Ranupani kerjabakti melakukan pembersihan salvinia / kiambang (Salvinia molesta) di Ranupani, Minggu, 20 Mei 2018. Pembersihan Ranupani dari salvinia kali ini merupakan kelanjutan dari pembersihan yang dilakukan sebelumnya yang baru bisa membersihkan sekitar 60% dari luas danau 4 ha. Menurut Agung Siswoyo, Kepala Resort Ranupani "kerjabakti kali ini berhasil membersihkan salvinia sampai jalur Ranupani ke Ranu Regulo, sehingga hari ini diperkirakan 65% permukaan danau bersih dari salvinia". Saat ini ekosistem Ranupani menghadapi permasalahan yaitu tertutupnya permukaan ranu oleh Ki Ambang atau lebih dikenal dengan Salvinia molesta. Salvinia molesta merupakan salah satu jenis invasif asing yang berasal dari Amerika Selatan yang sampai saat ini belum terdefinisikan bagaimana jenis invasif ini sampai menutupi permukaan Ranupani. Pembersihan Salvinia di Ranupani dilakukan dengan metode manual menggunakan alat sederhana, berupa bambu, garpu samoah, tampar dan perahu untuk mengangkut Salvinia ke tepi ranu. Kegiatan ini tidak hanya berhenti di sini tetapi akan terus digelorakan sampai dengan permukaan Ranupani bersih 100% dari gangguan Salvinia. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Balai KSDA Bali Lepasliarkan Satwa di Hutan Pura Besikalung dan Pura Petali

Tabanan - Bali, 19 Mei 2018. Balai KSDA Bali bersama dengan Yayasan Pencinta Taman Nasional (Friend of National Park Foundation) selaku pengelola Pusat Penyelamat Satwa (PPS) Bali dan Bali Reptile Rescue melakukan pelepasliaran satwa di Hutan Pura Besikalung dan Pura Petali, Penebel, Tabanan. Jenis satwa yang dilepasliarkan yaitu 7 ekor Landak (Histrix brachyura), 1 ekor Trenggiling (Manis javanica), 1 ekor Elang paria (Milvus migran), 1 ekor Sanca batik (Phyton reticulatus) dan beberapa jenis ular. Lokasi pelepasliaran di sekitar Pura yang terletak di Hutan Adat yang berbatasan langsung dengan Hutan Lindung. Satwa-satwa tersebut merupakan satwa sitaan dan sebagian lagi hasil penyerahan masyarakat. Sebelum dilepasliarkan, satwa telah melalui tahap rebahilitasi dan habituasi di PPS Bali. Kepala Balai KSDA Bali (Ir. Dadang Wardhana,M.Sc) menyampaikan bahwa pelepasliaran satwa merupakan salah satu upaya konservasi untuk mencegah kepunahan. Hadir pula dalam acara pelepasliaran ini yaitu Danramil, Kapolsek dan Camat Penebel serta KSL Rothschildi FKH Univ. Udayana serta masyarakat Desa Babahan. Selain kesesuaian habitat, komitmen masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian satwa menjadi pertimbangan pemilihan Pura Besikalung dan Pura Petali sebagai lokasi pelepasliaran. Sumber : Balai KSDA Bali
Baca Berita

Sang Garuda di Taman Nasional Gunung Ciremai

Kuningan, 19 Mei 2018. Elang Jawa di Taman Nasional Gunung Ciremai teramati pada kegiatan survey Resor Kehati (Keanekaragaman Hayati) yang dilaksanakan di awal Mei 2018 oleh tim dari Seksi PTN (Pengelolaan Taman Nasional) Wilayah II Majalengka. Sang Garuda terpantau ketika sedang terbang dan kemudian bertengger di sekitar obyek wisata Batu Nyongclo. Obyek wisata ini berbatasan dengan Desa Payung, Rajagaluh, Majalengka, Jawa Barat. Saat itu, elang Jawa yang teramati sebanyak tiga ekor dan diperkirakan berasal dari satu keluarga, yaitu 2 ekor induk dan anak. Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) adalah salah satu spesies elang yang endemik di Pulau Jawa (Birdlife Internasional 2012). Jenis ini termasuk dalam kategori endangered (terancam punah) dalam daftar IUCN (International Union for Conservation of Nature). Ayo kenali TN Gunung Ciremai dan negerimu dengan cara yang baik dan benar. [teks dan foto ©TNGC-Robi Gumilang |2018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Ajak Anak PAUD Kenali Gunung Ciremai

Cirebon, 17 Mei 2018. Anak didik Raudhatul Athfal Alifa Cirebon tiba di lokasi wisata alam 1001 Manguntapa (17/5). Kedatangan disertai guru dan orang tua berjumlah 20 orang disambut petugas Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Dadan. Mereka memperoleh pengetahuan apa itu Taman Nasional Gunung Ciremai, apa saja yang ada di Gunung Ciremai, apa fungsi dan manfaat Gunung Ciremai khususnya bagi generasi masa depan. Anak didik dan orang tua sangat antusias dengan apa yang disampaikan Dadan bahkan beberapa menyebutkan suasana di 1001 Manguntapa sejuk dan asri. Berbeda dengan suasana di Kota Cirebon yang cenderung panas. Dadan kemudian mengajak anak didik beserta guru dan orang tua berkeliling di 1001 Manguntapa. Saat berkeliling, mereka menemukan sekelompok kawanan monyet ekor panjang dan beberapa jenis burung, diantaranya raja udang, bondol jawa dan tekukur. Di sana juga ada embung yang berisi air yang berasal dari mata air Gunung Ciremai, anak didik pun dijelaskan bagaimana proses adanya air. Tanpa adanya hutan di Gunung Ciremai sebagai menara penangkap air, manusia dan makhluk hidup lainnya kemungkinan akan kekurangan air. "Kalau hutannya rusak, bisakah manusia hidup?" tanya Dadan kepada anak didik, secara serempak mereka menjawab "tidak!" disambut tawa riuh guru dan orang tua. Tidak semua pihak paham dan mengerti apa itu taman nasional, apa fungsi dan manfaat hutan, dan mengapa harus dilestarikan. Melalui kegiatan kunjungan di lokasi wisata alam seperti ini, edukasi konservasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Ajak dan kenali generasi muda akan alamnya agar mereka dapat menjaga lingkungannya secara bijak. [teks & foto ©? BTNGC - Dadan | 052018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Mengantar Baby Macan Tutul yang Tersesat Kembali ke Habitatnya

Sukabumi, 19 Mei 2018. Tengah malam (23.30 WIB), seekor anakan macan tutul (Panthera pardus melas) terjebak di bawah rumah panggung pegawai PTPN VIII Goalpara di Kampung Perbawati RT. 02/ RW. 01, Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Peristiwa ini berawal saat pemilik rumah, Hendi Suhendi alias Goci (53 tahun) yang bekerja sebagai Satpam PTPN VIII Goalparamemeriksa sekitar rumah karena mencium bau sigung yang menyengat dan saat mengarahkan senternya ke salah satu tempat, didapati seekor anak macan tutul yang langsung masuk ke kolong rumah yang sempit sehingga terjebak di dalam. "Diduga, anak macan tutul tersebut telah makan sigung dan memangsa 2 (dua) ekor ayam”, ujar Hendi Suhendi di pagi hari saat melapor kepada petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Setelah memastikan ada macan tutul di kolong rumahnya, Hendi menenangkan keluarganya agar tetap berada di dalam rumah. Kesesokan harinya, selepas sahur (04.30 WIB), 17 Mei 2018 Hendi melapor ke petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) Bidang PTN Wilayah II Sukabumi dan Polsek Sukabumi. Pada pukul 05.30 WIB petugas BBTNGGP dan personil Polsek Sukabumi melakukan pengamanan, mengingatkan dan mencegah warga agar tidak terlalu mendekat ke lokasi. Menurut Dadi Haryadi Muharam, Kepala Resort PTN Wilayah Selabintana, kemungkinan anakan “carnifor bertotol” tersebut berasal dari kawasan TNGGP karena jarak antara batas kawasan TNGGP dengan rumah tempat anak macan tutul terjebak sekitar 1,4 km (masih dalam jarak jelajah macan tutul) dan diperkirakan macan tutul yang "turun gunung" pada malam tersebut lebih dari 1 (satu) ekor karena saat itu, Hendi mendengar suara ayam dikejar sesuatu dari timur ke arah kebun teh/ ke arah Gunung. Lebih lanjut Dadi mengatakan bahwa, kejadian seperti ini pernah terjadi pada tahun 2012 di kampung yang sama. Untuk penanganan macan tutul tersebut, pihak BBTNGGP dan Polsek Sukabumi berkoordinasi dengan Petugas Balai Besar KSDA Jawa Barat Wilayah Bogor, Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Cikananga, dan Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua. Pukul 12.15 WIB tim dari TSI Cisarua dan PPS Cikananga datang hampir bersamaan dan setelah dilakukan musyawarah akhirnya tim dari TSI Cisarua yang melakukan upaya evakuasi dengan cara ditembak bius. Evakuasi anakan macan tutul memakan waktu sekitar 1 jam 20 menit. Saat anak macan tutul terlelap tidur, dilakukan pemeriksaan fisik, dan diambil sample darah untuk diperiksa lebih lanjut serta dipasang chip. Dari hasil pemeriksaan fisik, diketahui bahwa anak macan tutul ini berjenis kelamin jantan dan dari pemeriksaan gigi, diperkirakan usia anak macan tutul ini di bawah 1 tahun, walaupun sudah disapih namun masih di bawah pengawasan induknya, sehingga diperkirakan induknya masih berkeliaran di hutan sekitar Perbawati bagian pinggir. Mengingat anak macan tutul ini mengalami dehidrasi maka diberi cairan infus dan antibiotik untuk menghindari infeksi. Dalam rangka pemulihan kondisi pasca pembiusan dan sambil menunggu hasil pemeriksaan sample darah di Rumah Sakit Satwa TSI Cisarua, untuk sementara satwa bertotol ini diamankan di Kantor Bidang PTN Wilayah II Sukabumi dibawah pengawasan dokter hewan PPS Cikananga. Hasil permantauan dokter hewan dari PPS Cikananga, selama 7 (tujuh) jam pasca pembiusan, kondisi anak macan tutul secara fisik layak untuk dilepasliarkan kembali. Dan bersyukur, hasil pemeriksaan darahpun baik. Maka tim gabungan yang terdiri dari personil BBTNGGP, BBKSDA Jawa Barat, PPS Cikananga, Panthera, dan masyarakat sekitar segera melakukan persiapan pelepasliaran, yang diawali dengan rapat persiapan, menentukan tempat pelepasliaran, cara melepasliarkan dan lain-lain. Disepakati bersama bahwa sebelum pelepasliaran, diberangkatkan tim pembuka jalan ke lokasi pelepasliaran. Pelepasliaran anak macan tutul ini dilakukan segera mungkin setelah semua keadaan mendukung dengan pertimbangan bahwa mengingat anak macan tutul ini masih dalam pengawasan induknya. Diharapkan semakin cepat dilepasliarkan, induknya masih mengenali bau anaknya. Selain itu, sifat liar anak macan tutul masih melekat dalam dirinya. Dari sudut pengelolaan, membiarkan satwa liar hidup di habitat alaminya adalah pilihan yang terbaik. Hari Kamis, 17 Mei 2018 tepat pada pukul 23.35 WIB, anak macan tutul yang selama lebih dari 12 jam terjebak di kolong rumah Hendi pun kembali ke habitat alaminya di kawasan TNGGP. Semoga anak macan tutul tersebut dapat menemukan jalan kembali ke dalam pengawasan induknya dengan sehat dan selamat sampai dewasa untuk meneruskan keturunannya, serta terutama tidak keluar lagi dari habitat alaminya. Pasca pelepasliaran, Jumat 18 Mei 2018, dilakukan pemasangan 2 (dua) buah camera trap yang merupakan pinjaman dari Conservation International (CI) - Indonesia, mengingat semua camera trap BBTNGGP sudah terpasang di site monitoring resort yang lain. Camera trap tersebut dipasang di sekitar tempat pelepasliaran untuk memonitor pergerakan anak macan tutul tersebut. Kawasan TNGGP sekitar Perbawati merupakan salah satu habitat macan tutul, hal ini diketahui dari hasil rekaman camera trap dan banyak ditemukan jejak macan tutul berupa bekas cakaran di pohon puspa. Sejak tahun 2010 di lokasi ini, personil BBTNGGP rutin melaksanakan pemantauan macan tutul baik menggunakan camera trap maupun patroli. Evakuasi dan pelepasliaran anak macan tutul (Panthera pardusmelas) dapat terlaksana atas kerjasama para pihak yakni Balai Besar TNGGP, Balai Besar KSDA Jawa Barat, TSI Cisarua, PPS Cikananga, Polsek Sukabumi, Koramil Sukabumi, serta dukungan vollunter Panthera dan masyarakat sekitar kawasan TNGGP khsusnya di Wilayah Resort PTN Selabintana. Untuk itu, terimakasih kepada semua pihak yang terlibat, semoga kerjasama ini lebih memperkuat pengelolaan TNGGP dalam upaya perlindungan dan pengawetan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Sumber: Balai Besar TNGGP
Baca Berita

Delilah Merayakan Ultah ke-2

TN Way Kambas, 19 Mei 2018. Badak sumatera betina “Delilah” lahir pada 12 Mei 2016 di Suaka Rhino Sanctuary (SRS) Taman Nasional Way Kambas, merupakan anak badak kedua hasil perkawinan induk Ratu dan Andalas. Nama Delilah diberikan oleh Bapak Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia. Kelahiran Delilah merupakan kelahiran kedua pada fasilitas penangkaran di Asia dalam periode 128 tahun setelah terjadinya kelahiran badak sumatera di kebun binatang Calcuta. Setelah kelahiran Andatu tahun 2012, kembali membuktikan keberhasilan mengembangbiakkan satwa yang sangat langka ini. Mari kita doakan semoga Delilah dapat tumbuh sebagai penerus kelestarian badak Sumatera. Demikian pula para pemeliharanya semoga senantiasa dilimpahi berkah kesehatan dan keberhasilan dalam memelihara dan menangkarkan badak Sumatera. Badak sumatera mengalami ancaman kepunahan serius karena perburuan liar dan penyusutan habitatnya. Kelahiran Delilah merupakan secercah harapan bagi keberlangsungan spesies badak sumatera. Dukung bersama upaya pelestarian satwa ini sebagai bagian tanggung jawab semua. “Badak Sumatera saat ini populasinya terus menurun namun alhamdulillah di TN. Way Kambas kita berhasil menjaga populasi yang ada di alam dan bahkan berhasil mengembangbiakkannya”, demikian Ka. Balai menyampaikan dalam sambutannya di Ultah Delilah. Beliau juga tak lupa menyampaikan terimakasih kepada seluruh petugas di lapangan yang telah menjaga TN. Way Kambas ini siang dan malam dan juga kepada seluruh rekan –rekan SRS yang telah mengabdikan dedikasinya untuk konservasi Badak diucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya. Sumber: Humas Balai Taman Nasional Way Kambas dan YABI
Baca Berita

Kembali Menempuh Jarak 268 Kilometer, Jack Akhirnya Kembali Merasakan Kebebasan

Nanga Pinoh, 19 Mei 2018. Jack merupakan orangutan asal Pusat Rehabilitasi YIARI Ketapang yang sebelumnya telah dilepasliarkan tanggal 8 Maret 2018 di wilayah kerja Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBR) SPTN Wil. I Nanga Pinoh. 25 April 2018, Jack kembali ke pusat rehabilitasi YIARI di Ketapang. Hal ini karena transponder Jack tidak aktif dan pada daerah transponder di temui bengkak diduga infeksi, sehingga Jack dibawa kembali. Setelah melalui proses pemulihan, tanggal 19 Mei 2018 Jack kembali dilepasliarkan di lokasi yang sama. Wilayah kerja SPTN I Nanga Pinoh, TNBBR merupakan kawasan pelepasliaran yang dianggap sesuai setelah melalui proses survei habitat, ketersediaan pakan dan animal welfare. Pelepasliaran Jack ini merupakan kerjasama antara BKSDA Kalbar, YIARI- Ketapang, TNBBR SPTN Wilayah I Nanga Pinoh dan Polsek Menukung. Kembalinya Jack ke habitatnya ini diharapkan tidak mengalami kendala seperti sebelumnya, sehingga tujuan utama pelepasliaran yaitu meningkatkan populasi sekaligus menjaga kelestariannya dapat terwujud. (ds) Sumber : Tim Wildlife Rescue Unit SKW I Ketapang - Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Bina Konservasi Muda di Pohon Cinta Savana Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Malang, 10 Mei 2018. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) menyelenggarakan pembinanaan konservasi untuk generasi muda. Pembinaan generasi muda konservasi ini diikuti pemuda/pemudi dari 2 (dua) Saka (Satuan Karya Pramuka) yaitu Saka Bhayangkara dan Saka Wira Kartika, Wilayah Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kegiatan diikuti ± 100 (seratus) orang, yang dilaksanakan di Pohon Cinta Savana Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala Bidang PTN Wilayah I Pasuruan (Murdiyono, S.H), dalam sambutannya beliau menghimbau kepada generasi muda untuk mengajak mulai dari keluarga, saudara, teman, maupun di lingkungannya untuk peduli terhadap lingkungan sekitar dan menyampaikan pesan konservasi. Kemudian acara dilanjutkan dengan pengenalan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru terutama yang terkait dengan 3 prinsip konservasi yaitu Pengawetan, Perlindungan dan Pemanfaatan. Pengenalan Konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini disampaikan oleh Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) TNBTS yaitu Siti Maya dan Koestriadi Nugra P. Selain pengenalan TNBTS, disampaikan juga pengenalan peralatan pemadaman kebakaran hutan yang disampaikan oleh Kepala Seksi PTN Wil. II Tumpang (Tatag Hari Rudhata, S.H) dan Kepala Resort PTN Coban Trisula (Bambang Rudianto) dan kemudian mempraktekkan peralatan pemadaman kebakaran. Acara diakhiri dengan aksi bersih sampah yang ditinggalkan oleh pengunjung di lokasi tersebut. Dengan adanya pembinaan konservasi ini, generasi muda dapat menjadi pioneer dalam menyampaikan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat terutama kepada keluarga terdekat dan lingkungannya. Generasi muda merupakan ujung tombak perubahan untuk pembangunan masa depan. Sumber : Siti Maya - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Tiga PEH BBKSDA Jatim Bantu Tagging Rusa Timor Bersama Balai KSDA Yogyakarta

Bunder, 15 Mei 2018. Kegiatan penandaan (tagging) kali ini Balai KSDA Yogyakarta dibantu tenaga dari Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Nandang Prihadi selaku Kepala BBKSDA Jatim menugaskan 3 tenaga fungsional PEH BBKSDA Jawa Timur yaitu BJ. Anang, Tri Wahyu dan Kiswanto untuk membantu petugas Balai KSDA Yogyakarta melakukan kegiatan penandaan tersebut. Kegiatan penandaan menggunakan eartag dan berhasil terpasang pada 47 ekor Rusa selama 1 hari. Keberhasilan penandaan selain dari petugas pemasang tanda (TAGGER) yang profesional dan tenaga pembantu juga sangat didukung dengan desain kandang penangkaran yang memadai sebagai unit pengembangbiakan satwa. Pelaksanan penandaan juga mendapat apresiasi dari Kepala Balai KSDA Yogyakarta Junita Parjanti. Rusa timor (Rusa timorensis) merupakan salah satu jenis satwa yang terdapat di Station Flora Fauna (SFF) Bunder di bawah pengelolaan Balai KSDA Yogyakarta. Sebagai lokasi stok satwa jenis Rusa Timor, Balai KSDA Yogyakarta sebagai pengelola melaksanakan tugas pengelolaan penangkaran sesuai dengan kaidah-kaidah penangkaran yang salah satunya adalah melakukan pemasangan tanda (tagging) pada satwa hasil pengembangbiakan. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 7.889–7.904 dari 11.140 publikasi