Selasa, 21 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Indahnya Ramadhan, BKSDA Sulteng Berantas Buta Aksara Masyarakat Adat Wana Posangke

Taronggo, 25 April 2018. Upaya memberantas buta aksara, Balai KSDA Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) memberdayakan 4 orang tenaga pendamping sejalan dengan salah satu role model Balai KSDA Sulteng yaitu Pengelolaan Bersama/Kolaborasi Hutan Adat di CA Morowali dengan Masyarakat Adat Wana Posangke. Salah satu kegiatannya adalah meningkatkan kualitas SDM melalui pemberantasan buta aksara. Tenaga pendampingnya antara lain : Jemi Sandego, S. Hut, Rizal S. Hut, Delni Trisnober, S. Hut dan Putri. Sebagai langkah awal pasca ditanda tanganinya PKS antara Balai KSDA Sulteng, Kades Taronggo dan Ketua Lembaga Pengelolaan Hutan Adat Wana Posangke pada tanggal 5 April 2018, tenaga pendamping bekerjasama dengan Yayasan Alisintove melaksanakan kegiatan di hutan adat Wana Posangke Lipu Riotinto dengan murid sebanyak 17 orang yang berumur antara 7 - 12 tahun pada awal bulan Mei 2018. Dalam kegiatan tersebut diberikan juga muatan lokal mengenai pendidikan konservasi dengan harapan agar anak-anak sejak dini memahami perlunya menjaga keseimbangan alam untuk kelangsungan hidup manusia dan menjaga kelestarian hutan, terutama Hutan Adat Wana Posangke di kawasan konservasi CA Morowali. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Sekat Bakar, Si Peredam Api

Kuningan, 29 Mei 2018. Pada musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kerap terjadi di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Kejadian tersebut dapat merusak habitat flora dan fauna sehingga mengancam kelestariannya. Asap akibat karhutla juga merupakan penyebab polusi udara. Oleh karenanya perlu cara untuk menanganinya. Ya, sekat bakar. Pembuatan sekat bakar dilaksanakan pada 30 April sampai 14 Mei 2018 di Blok Batu Kuda, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Kuningan yang melibatkan 8 Polisi Kehutanan dan 12 Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Padabeunghar. Sekat bakar sepanjang 5 km, lebar 4 m yang mengelilingi area pemulihan ekosistem seluas 60,2 ha dibuat dengan menggunakan cangkul dan parang. Kegiatan ini diharapkan dapat meminimalisir penyebaran api sehingga tidak meluas ke area lainnya. Sekat bakar memang upaya pencegahan karhutla yang dikerjakan oleh petugas. Namun masyarakat juga harus berperan aktif mencegah karhutla dengan tidak melakukan pembakaran untuk penyiapan lahan. Ayo kita cegah bencana karhutla [teks&foto ©? BTNGC-Oman DP | 052018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Joy Si Yatim Piatu

Sintan, 29 Mei 2018. Joy “diselamatkan” oleh Edy pada tahun 2016 saat masih bayi dari tangan pemburu yang telah menembak mati induknya di dalam rimba wilayah Kabupaten Sekadau. Karena rasa iba, Edy menebusnya dengan mahar sebesar Rp. 500.000,- dari pemburu tersebut. Joy dirawat dan dipelihara oleh Edy di lingkungan rumahnya di Kabupaten Sekadau. Edy mengetahui bahwa orangutan merupakan satwa yang dilindungi oleh undang-undang, oleh karena itu dia selalu berusaha mencari informasi kemana harus menyerahkan satwa dilindungi tersebut. Setelah kurang lebih 2 tahun, Sandi yang merupakan anak kandung dari Edy memberikan laporan kepada Yayasan Titian Lestari (mitra Balai KSDA Kalimantan Barat) tentang keberadaan Joy yang dipelihara oleh orangtuanya. Sandi memberitahukan bahwa mereka ingin menyerahkan Joy kepada instansi yang berwenang. Berdasarkan laporan yang diteruskan oleh mitra, tim Wild Life Rescue (WRU) seksi konservasi wilayah ll Sintang, Balai KSDA Kalimantan Barat langsung mendatangi lokasi kediaman Edy. Senin 28 Mei 2018, Rescue terhadap Joy dilakukan bersama Tim dari Sintang Orangutan Center. Proses rescue berjalan lancar dan untuk selanjutnya Joy akan dititipkan dan dirawat guna menjalani proses rehabilitasi di Sintang Orangutan Center hingga memungkinkan untuk kembali dilepasliarkan. Harapan Edy dan harapan kita semua, semoga saja tidak ada lagi Joy Joy yang lain. Save Orangutan, Save Biodiversity. (GS) Sumber : Tim WRU SKW ll Sintang - Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Peduli Kelestarian TSL, BKSDA Kalbar dan NGO Kampanye Bersama

Pontianak, 28 Mei 2018. Balai KSDA Kalimantan Barat bekerjasama dengan WWF Kalimantan dan Yayasan Titian mengadakan kampanye Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) khususnya yang dilindungi pada tanggal 26-27 Mei 2018. Bertempat di dua Desa yaitu Desa Peniti Besar dan Desa Kubu Padi, kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat setempat. Dilaksanakan sebelum berbuka puasa, kegiatan ini diisi dengan penyampaian materi tentang TSL dilindungi oleh BKSDA Kalbar, WWF, dan Yayasan Titian dan kuis interaktif untuk mengetahui seberapa banyak materi yang dapat diterima oleh peserta. Desa Peniti Besar Kabupaten Mempawah dan Desa Kubu Padi Kabupaten Kuburaya merupakan desa dengan indikasi keberadaan orangutan di wilayah tersebut. Selain masih maraknya perburuan terhadap satwa dilindungi, misalnya trenggiling. Pentingnya penyadartahuan masyarakat terhadap tumbuhan dan satwa liar terutama yang dilindungi mengingat semakin berkurangnya jumlah populasi di alam akibat degradasi habitat oleh pembangunan serta perburuan dengan dalih ekonomi. Mari jaga dan lestarikan habitat dan populasi satwa liar, jangan sampai anak cucu kita hanya mengetahui dan mengenal dari gambar saja karena mereka telah tiada alias punah. (ds) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Ukhuwah Islamiah Keluarga Balai TN Gunung Ciremai Bersama Anak Yatim

Kuningan, 28 Mei 2018. Ramadhan 1439 H tahun ini menjadi momen istimewa bagi Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Senin, 28 Mei 2018 acara kebersamaan pegawai dan Dharma Wanita terselenggara di aula TNGC. Rangkaian acara berisi siraman rohani, santunan anak yatim, buka puasa bersama dan sholat maghrib berjamaah. Acara dibuka oleh Kepala Balai, Kuswandono yang menyampaikan pentingnya menjaga ukhuwah islamiah diantara sesama. Kuswandono juga menambahkan, “Menjaga kerukunan keluarga besar BTNGC menjadi penting, ketika kita diberikan amanah untuk mengelola ekosistem TNGC, yang memiliki banyak tantangan. Orang masih mempertanyakan untuk apa TNGC dilindungi, menjadi Taman Nasional? Namun menjaga ekosistem TNGC ini ibarat amanat Allah kepada nabi Nuh untuk membuat kapal, banyak yang bertanya untuk apa? Terkadang pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab dengan perdebatan, cukup dibuktikan dengan upaya kerja yang tulus ihlas dan penuh kebersamaan seluruh keluarga besar BTNGC.” Apa yang disampaikan Kepala Balai, sepadan dengan yang disampaikan Ustad Dr. KH Ayyub Ahmad, dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuningan, bahwa nilai ukhuwah islamiyah atau hablumminannas itu bersinergi dengan hablumminallah. “Sedikit salah bicara atau mendzalimi orang lain saja nilainya sudah minus dimata Allah SWT walaupun ibadah kepadaNya rajin dan tekun,” seru ustad Ayyub. Tidak hanya berbagi kebersamaan diantara keluarga besar BTNGC, namun juga kebersamaan terhadap sesama, termasuk anak yatim yang ada di sekitar kita. Melalui shodaqoh/ zakat yang diberikan para donatur keluarga besar BTNGC, telah disiapkan bantuan dan bingkisan yang diberikan kepada 40 anak yatim, 20 orang diantaranya yang dibina oleh yayasan Gemah Ripah Kuningan, lingkup kecamatan Jalaksana yang hadir pada acara tersebut. [teks ©? BTNGC - Nisa | 052018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Pembahasan Ekowisata Karst di Pangkep

Pangkep, 28 Mei 2018. Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung melakukan kunjungan kerja ke kantor Bupati Pangkep pada Senin (28/5). Didampingi Kepala SPTN Wilayah I Kepala Resort Minasa Te’ne, dan Koordinator Polhut bertemu dengan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangkep. Ia mewakili Bupati Pangkep yang sedang berkegiatan di Makassar. Pertemuan itu berlangsung hangat. Kepala balai membuka pembicaraan dengan membahas perlunya meningkatkan kapasitas pemandu wisata. “Kita harus mempersiapkan pemadu wisata kita dengan bekal bahasa asing. Bagaimana mereka bisa melayani wisata asing jika tidak mampu berbahasa Inggris misalnya,” ujar Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Saat ini pemadu wisata di sekitar kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung telah memiliki kartu identitas. Mereka juga telah memahami prosedur pelayanan wisatawan. Dua tahun terakhir sebanyak 30 orang dari 7 site unggulan telah dibentuk dan terus dilatih kapasitasnya. Kepala dinas membenarkan perlunya pemandu menguasai bahasa asing. “Saya kira ini adalah syarat mutlak sebagai seorang pemandu wisatwan asing. Apalagi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki visi menjadi destinasi ekowisata karst dunia. Kita harus berbenah,” tanggap Ahmad Djaman, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangkep. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada pihak taman nasional yang selama ini melibatkan Pemerintah Daerah Pangkep dalam pembentukan dan pelatihan pemandu wisata di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. “Saat ini kami sedang mengembangkan Desa Wisata Patalassang (Dewi Lamsang) yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Tahun ini kami berencana akan membuat akses jalan. Dewi Lamsang ini pernah dikunjungi oleh Direktur Kawasan Konservasi KLHK dan ia berkesan dengan backgroundkarstnya,’ jelas Ahmad. Dua tahun terakhir ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangkep intens menjalin komunikasi dengan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dalam mengembangkan destinasi wisata di Pangkep. Termasuk pengembangan wisata gua yaitu Kalibbong Aloa yang berada di Resort Minasate’ne, SPTN Wilayah I Pangkep. ?Ahmad juga menyampaikan bahwa ada rencana tahun ini menggelar Festival Bulusaraung dengan bekerjasama dengan pihak Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Hanya saja terdapat kendala yang tak dapat dihindarkan sehingga batal. “Padahal kami dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sudah menyiapkan beberapa kegiatan yang bisa mendukung jalannya Festival Bulusaraung,“ ujar Iqbal Abadi Rasjid, Kepala SPTN Wilayah I menanggapi. Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menyampaikan pada pertemuan tersebut perlunya pembenahan site wisata pendakian Bulusaraung. “Saat ini pendakian gunung telah menerapkan sistem sewa sarana wisata seperti tenda. Dengan begitu pendaki tak perlu repot membawa beban berat seperti tenda,”tambah Yusak. “Ini bisa diterapkan di site pendakian GunungBulusaraung, kelompok pengelola ekowisata bisa bekerjasamadengan badan usaha milik desa (BUMDES) dalam halpengadaan sarana tersebut,” jawab Ahmad. Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga menyampaikan bahwa tahun 2018 ini, pihaknya akan mengembangkan Kawasan Wisata Pattunuang dengan membangun beberapa sarana wisata berbasis ekowisata karst. Beberapa wahana yang akan dibangun di antaranya via verata, sky walk, dan sky camp. ”Kami juga berharap di wilayah Pangkep bisa mengidentfikasi objek wisata yang dapat dikembangkan,” pungkas Yusak. Sumber : Ramli dan Taufiq Ismail – PEH Balai TN. Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Buka Puasa Bersama, Moment Pererat Tali Silaturahmi

Bantimurung, 28 Mei 2018. Bersama tokoh masyarakat, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung gelar buka puasa bersama pada Jumat (25/5). Ajang silaturahmi ini digelar di halaman kantor balai taman nasional. Kegiatan ini dihadiri kepala balai, Kepala SPTN Wilayah I dan II, serta seluruh ASN Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, dan masyarakat sekitar kantor balai turut serta berpartisipasi. Tak ketinggalan tim Inspektorat Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sedang menjalankan tugas turut hadir. Pembukaan buka puasa ini diawali dengan membaca saritilawah, dan juga sambutan dari Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Beliau berharap agar silaturahmi antar sesama ASN dan masyarakat sekitar kawasan dan intansi terkait senantiasa terjaga. “Buka puasa bersama ini memiliki makna sebagai bentuk ketaatan dan totalitas dalam menjalankan perintah agama. Di sisi lain melalui buka bersama ini kita tingkatkan jalinan silaturahmi baik antara sesama pegawai taman nasional maupun dengan masyarakat sekitar,” ujar Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Untuk menambah ilmu agama dan pencerahan, Ustadz Muh. Sanusi menyampaikan ceramahnya. Tema yang diusung kali ini adalah “Makna dan Tujuan Berpuasa”. Ia lihai menyampaikan ceramah dengan sejumlah hadits dan penjelasannya. Sesekali dibumbui selingan humor sehingga jemaah buka puasa bersama antusias. Menambah ketertarikan mendengar siraman rohani sang ustadz. Marhaban ya Ramadhan.. Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga silaturahmi antar sesama selalu terjaga. Sumber : Abdul Azis Bakry – Balai TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Bina Masyarakat Penyangga Prioritas Resort Jasling

Kuningan, 28 Mei 2018. Pengelolaan tematik Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) menjadi fokus utama dalam target pelaksanaan kegiatan, termasuk diantaranya resort pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam (jasling) seksi pengelolaan taman nasional (SPTN) wilayah I Kuningan. Tugas pokok dan fungsi diantaranya melakukan pembinaan kelompok masyarakat yang menjadi rutinitas harian. Tak hanya kelompok masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan wisata alam namun kelompok lainnya seperti pecinta alam, pengusaha, pelajar, mahasiswa dan pemerintah desa/daerah. Animo masyarakat akan wisata alam saat ini yang tinggi membuat ekstra kerja bagi resort pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam. Waktu bukan menjadi pembatas, bahkan dapat dikatakan 24 jam pelayanan. Sampai tahun 2018, jumlah kelompok masyarakat pengelola wisata alam yang dibina sebanyak 30 kelompok dengan jumlah 41 lokasi wisata alam. Kegiatan pembinaan kelompok bertujuan untuk menguatkan dan meningkatkan kapasitas kelembagaan. Kunjungan ke lokasi menjadi paket yang tidak dapat terpisahkan untuk memastikan bahwa masyarakat benar melakukan penataan sesuai kaidah konservasi. Mulai dari ujung sebelah utara sampai dengan selatan. Pembinaan kelompok dilakukan setiap hari dan bergiliran tiap lokasinya, mulai dari pagi siang sore bahkan malam tergantung permintaan dari kelompok. Diskusi dua arah adalah metode yang tepat ketika berhadapan dengan masyarakat, bukan menggurui atau bahkan hanya menyampaikan peraturan perundangan tanpa solusi. Keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi bukan seberapa besar satwa dan tumbuhannya terjaga namun bagaimana menjalin hubungan sosial dengan manusia disekitarnya. Dengan demikian otomatis kesadaran akan pentingnya melestarikan satwa dan tumbuhan akan muncul. [teks & foto © BTNGC – Dina | 052018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Pelepasliaran 3 Beruang Madu (Herlarctos malayanus) oleh Balai KSDA Jambi

Tanjung Jabung Barat, 28 Mei 2018. Balai KSDA Jambi sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Provinsi Jambi yang memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai penyelenggara konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem serta pengelolaan Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Wisata Alam dan Taman Buru kembali melakukan pelepasliaran jenis satwa liar Beruang Madu (Herlarctos malayanus) dengan jumlah sebanyak 3 (tiga) ekor di areal KPHP Tanjung Jabung Barat yang tepatnya berada di Desa Muara Danau Kec. Renah Mandaluh. Kab. Tanjung Jabung Barat. Lokasi ini dipilih dengan alasan jauh dari pemukiman masyarakat dan areal tersebut merupakan habitat alami Beruang Madu dengan kondisi topografi berbukit serta tegakan yang relatif masih baik untuk relokasi Beruang Madu (Herlarctos malayanus), ungkap Faried, Kepala SKW III Muara Sabak. Hefa Edison seorang Polhut SKW III Muara Sabak yang bergaya santai tapi tetap berbobot dalam penanganan konflik ini, memaparkan bahwa satwa tersebut memiliki jenis kelamin Betina sebanyak 1 (satu) ekor yang diberi nama "Cici" dan jantan yang belum memiliki nama sebanyak 3 (tiga) ekor. beruang berjenis kelamin betina yang berumur sekitar 2,5 tahun berasal dari Desa Kumpeh Kec. Kumpeh Ulu Kab.Muaro Jambi Sedangkan 1 (satu) ekor jantan yang besar berumur sekitar 4 tahun hasil dari penanganan konflik di Desa Kelagian Kec. Tebing tinggi Kab. Tanjung Jabung Barat. Untuk jantan yang masih remaja berumur sekitar 1,5 tahun didapatkan dari Kelurahan Parit Culum Kec. Muara Sabak Barat. Kab Tanjung Jabung Timur. Satwa liar ini diserahkan secara sukarela oleh masyarakat setempat. Berdasarkan hasil pemeriksaan kondisi kesehatan oleh drh. Bambang Setyawan (ZSL) untuk ketiga jenis Beruang Madu (Herlarctos malayanus) tersebut diperoleh hasil sebagai berikut : Untuk beruang madu betina masih cukup berperilaku liar, secara fisik terlihat sehat dan aktif. Hasil pemeriksaan marfometri dan sampel darah pun baik. Kemudian untuk jantan besar masih cukup berperilaku liar, secara fisik terlihat sehat dan aktif. Hasil pemeriksaan marfometri dan sampe darah pun baik, perilaku makan juga normal, walaupun secara fisik kaki bagian depan sebelah kiri ada yang patah (hasil pemeriksaan dan rekomendasi dokter hewan masih layak untuk dilepasliarkan). Selanjutnya, untuk beruang madu jantan remaja masih cukup berperilaku liar, secara fisik terlihat sehat dan perilaku makan juga normal. "Upaya penyelamatan Satwa liar ini merupakan bagian untuk keseimbangan ekologi. Oleh karena itu, kita harus melindungi dan melestarikan satwa tersebut dengan memiliki moto Save, Rescue, and Release", tegas Rahmad Saleh Kabalai KSDA Jambi. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

BKSDA Kalbar Musnahkan 1.218 Telur Penyu Hasil Sitaan

Singkawang, 28 Mei 2018. Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Singkawang, BKSDA Kalbar menyita 1.218 telur penyu dari seorang pedagang di pasar Sambas (24/05/18). Perdagangan ilegal ini diketahui setelah adanya laporan dari anggota KPHK Sajingan, bahwa terdapat penjualan telur penyu dalam jumlah yang cukup banyak di Pasar Sambas. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) SKW III Singkawang kemudian mendatangi pasar tersebut dan berhasil mengamankan telur penyu beserta pemiliknya. Pemilik telur penyu tersebut bernama Syamsuri (44 tahun) asal Desa Sebubus Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas. Ia menerangkan, bahwa telur tersebut didapat dari pulau Tambelan, Kepulauan Riau. Telur tersebut terdiri dari 770 telur penyu sisik dan 448 telur penyu hijau, dari jumlah tersebut sebanyak 539 telur penyu sisik telah diasinkan sisanya dalam kondisi baru. Selanjutnya barang bukti serta pemilik dibawa ke Polsek Sambas Kota untuk dimintai keterangan. Setelah melalui diskusi dengan pihak kepolisian, pemilik telur kemudian diminta untuk membuat surat pernyataan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Telur tersebut kemudian dibawa ke kantor SKW III Singkawang untuk dimusnahkan. (ds) Sumber : Tim WRU SKW III - Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Buka Bersma TNTN Bersama Anak Yatim

Pangkalan Kerinci, 28 Mei 2018. Sungguh luar biasa berkah bulan Ramadhan. Keluarga besar Balai Taman Nasional Tesso Nilo berkumpul di Kantor Balai Taman Nasional Tesso Nilo Jln. Langgam Km. 4, Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan. Kumpul-kumpul tersebut dilaksanakan pada hari Senin, 28 Mei 2018 dalam rangka berbuka puasa bersama seluruh pegawai dan staf. Salah satu tujuan kegiatan berbuka puasa bersama adalah untuk mempererat silaturahmi dan kekompakan antar pegawai. Buka bersama TNTN diikuti oleh seluruh pegawai Balai TNTN, pegawai dari SPTN I Lubuk Kembang Bunga dan SPTN II Baserah. Buka puasa bersama yang dilaksanakan rutin tiap tahunnya ini terlihat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini Kepala Balai TNTN, Bapak Supartono, S.Hut, MP mengundang khusus anak yatim untuk ikut serta dalam pelaksaan buka bersama. Belasan anak yatim yang diundang ke Balai TNTN untuk melaksanakan buka puasa merupakan anak-anak yang dihadirkan dari panti asuhan As-Sobirin, Pangkalan Kerinci. Menurut keterangan Kepala Balai TNTN, anak yatim sengaja diundang diacara buka bersama keluarga TNTN untuk menjadi pengingat bagi seluruh pegawai dan staf untuk peduli kepada sesama dan lebih mensejahterakan anak yatim. “Memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini kita ajak anak-anak dari panti asuhan yang tidak jauh dari kantor Balai, gunanya supaya dibulan suci ini agar kita semua kembali ingat masih banyak para anak yatim yang membutuhkan uluran tangan kita, semoga doa kita untuk mereka, doa mereka untuk kita dihijabah oleh Allah SWT”, ungkap Kepala Balai TNTN Supartono, S.Hut, MP. Sebelum memasuki azan maghrib dan berbuka puasa, seluruh pegawai dan keluarga serta para anak yatim diberi safari Ramadhan dari ustad penceramah yang merupakan dosen Universitas Islam Riau sekaligus aktifis lingkungan dari kota Pekanbaru, Dr. Efriadi. Pada safari Ramadan menjelang buka puasa tersebut, beliau mengajak seluruh peserta buka puasa untuk senantiasa memanfaatkan bulan Ramadan yang hanya ada sekali dalam satu tahun dan tidak menyia-nyiakannya untuk melaksanakan ibadah Ramadan. Sumber: Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Inhouse Training Penanganan Pelanggaran Bidang Kehutanan

Bandung, 28 Mei 2018. Pelanggaran bidang kehutanan, saat ini modusnya terus berkembang sesuai perkembangan jaman sehingga pendekatan penanganan pelanggaran harus menyesuaikan perkembangan serta tidak bisa bekerja sendiri, sehingga harus bekerjasama/ berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menanggulangi pelanggaran bidang kehutanan. Untuk meningkatkan kemampuan staf Balai Besar KSDA Jawa Barat dalam menangani pelanggaran bidang kehutanan, maka pada hari Jumat, 25 Mei 2018 Balai Besar KSDA Jawa Barat telah mengadakan Inhouse Training Penanganan Pelanggaran Bidang Kehutanan dengan peserta sekitar 55 orang yang terdiri dari Pejabat Struktural, Kepala Resort Konservasi Wilayah, Kepala KPHK, perwakilan pejabat fungsional Polisi Kehutanan, PEH, Penyuluh Kehutanan lingkup Balai Besar KSDA Jawa Barat. Materi yang disampaikan antara lain : Kebijakan Pengamanan Hutan Lingkup Balai Besar KSDA Jawa Barat oleh Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Pedoman Intelijen/Pulbaket Pengamanan Hutan oleh Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan Ditjen Penegakkan Hukum Kementerian LHK dan Teknik Penanganan Kasus Pidana Bidang Kehutanan oleh Direktorat Kriminal Khusus Polda Jawa Barat. Dalam kesempatan tersebut, disampaikan kebijakan pengamanan hutan di Balai Besar KSDA Jawa Barat yaitu dengan mengedepankan proses persuasif dalam setiap penyelesaian pelanggaran bidang kehutanan. Materi lainnya adalah bagaimana melaksanakan teknik dasar pengumpulan bahan keterangan pelanggaran bidang kehutanan sehingga diharapkan dengan materi ini staf Balai Besar KSDA Jawa Barat dapat melakukan pulbaket terhadap setiap pelanggaran bidang kehutanan sehingga dapat memberikan informasi yang akurat kepada pimpinan sebagai bahan pengambilan keputusan untuk penyelesaian pelanggaran tersebut. Materi terakhir adalah bagaimana mekanisme koordinasi antara PPNS Kehutanan dengan Polri dalam penanganan kasus pidana bidang kehutanan. Dengan kegiatan Inhouse Training ini diharapkan setiap penanganan pelanggaran bidang kehutanan Lingkup Balai Besar KSDA Jawa Barat dapat lebih akurat dalam informasinya, tepat metode penanganannya dan cepat penyelesaiannya serta tuntas kasusnya. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Evakuasi Elang Hasil Penulusuran Halaman Facebook

Ngawi, 27 Mei 2018. Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menindaklanjuti laporan terkait penjualan elang bondol di Ngawi. Kepala BBKSDA Jatim langsung memerintahkan petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 05 untuk segera melakukan evakuasi. Dari hasil pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket), petugas RKW 05 dan Polsek Jatirogo langsung menuju rumah terduga di Dusun Gerit Desa Tanjungsari, Jogorogo Ngawi. Petugas tidak dapat menemui terduga dan hanya bertemu orang tuanya dan diperoleh keterangan bahwa terduga hanya memposting foto elang di facebook sedangkan satwa dimiliki warga Tanon, Kendal, Kabupaten Ngawi. Berbekal info dari rumah terduga, petugas meluncur ke Tanon, Kendal Kabupaten Ngawi dan didapatkan 1 ekor elang bondol dengan ciri-ciri sesuai yang diposting terduga di halaman facebook. Pemilik elang memberikan keterangan bahwa elang tersebut di dapat dari orang lain dalam kondisi terluka lalu dipelihara. Sang pemilik tidak menjual burung tersebut serta tidak mengetahui bahwa elangnya dijual/diposting oleh terduga, bahkan sang pemilik tidak mengenal terduga. Selanjutnya sang pemilik secara sukarela menyerahkan elangnya ke petugas RKW 05. Saat ini satwa diamankan dan dititipkan ke Lembaga Konservasi Umbul Madiun. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Topeng Monyet Dibina , Monyet pun Selamat

Probolinggo, 26 Mei 2018. Implementasi surat Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) No. S.233/K.2/BIDTEK.2/KSA/5 /2018 tanggal 18 Mei 2018 tentang penanganan kegiatan topeng monyet berbuah nyata. Petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 19 Probolinggo-Lumajang BBKSDA Jatim telah mengamankan topeng monyet dimana satwanya (monyet ekor panjang) untuk sementara diamankan di Kantor Seksi Konservasi Wilayah (SKW) VI Probolinggo. Sedangkan pawang topeng monyet telah dibina dan diminta membuat Surat Pernyataan untuk tidak mengulangi lagi. Pada saat yang bersamaan, beberapa sukarelawan pelaku topeng monyet mendatngai RKW 19 untuk meminta penjelasan. Petugas kemudian melakukan sosialisasi dan penyuluhan terhadap sukarelawan mengenai larangan kegiatan topeng monyet. Pada akhirnya mereka (sukarelawan) mendukung Surat Edaran terkait larangan kegiatan topeng monyet tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Lautan Dewa, Desa Sagarahiang

Jelang siang pukul 10.30, Rabu 23 Mei 2018 saya, Kepala Balai dan beberapa rekan Taman Nasional Gunung Ciremai tiba di balai Desa Sagarahiang, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan. Kami bertemu dengan Kepala Desa Sagarahiang dan berbincang, diantaranya mengenai potensi wisata alam dan religi serta budaya leluhur di Situs Lingga dan beberapa situs lainnya yang ada di wilayah tersebut, budaya lokal Babarit dan lainnya. Dia, Kepala Desa hanya sedikit tersenyum datar dan berkata "ya begitulah". Antara bingung, bimbang atau tidak tertarik, baiklah lalu kami melanjutkan perjalanan ke situs Lingga menggunakan motor karena jalan sedang berlangsung pengaspalan jalan pada ruas terakhir perkampungan, tidak bisa dilalui mobil. Sebelum menuju situs Lingga, kami menyempatkan berkunjung ke situs Sanghyang. Salah satu situs yang dikunjungi penganut agama budha khususnya yang berasal dari Kamboja. Informasi dari Ukad, juru kunci situs di Desa Sagarahiang situs ini dibangun sekitar 1000-1500 th SM, lebih muda dari situs Lingga - 2000 SM. Perjalanan dilanjutkan menuju curug Palengseran, salah satu dari empat curug yang ada di sekitar situs Lingga. Di sana kami berbincang dengan Ukad dan Sukana, ketua dan wakil kelompok masyarakat Cakrawala. Ukad bercerita bagaimana awalnya menjadi juru kunci di situs Lingga yang berawal mula dari adanya bisikan/wangsit Menurut sejarah, Desa Sagarahiang merupakan lautan dewa atau tempat berkumpulnya dewa-dewa tatar pasundan kepulauan jawa. Ajaran yang dipakai pada waktu itu adalah “Sangiang Windu Darma” menjadi patokan kehidupan sekitar tahun 1.372 Masehi, kemudian waktu berjalan masuklah kerajaan Islam yang dipimpin oleh Kanjeng Pangersa Syekh Maulana Akbar, Eyang Syekh Abdul Salam, Eyang Syekh Abdul Salim dan Eyang Syekh Syekh Mangndara. Setelah masuknya aliran Islam ke Sangiang Windu Darma yang dipimpin oleh kerajaan Arik Saung Galah, raja pertamanya Sanjaya pindah ke Karang kemulyaan ciamis untuk meneruskan perjuangan peninggalan Clung Wanara, berdirilah kerajaan Kajene yang dipimpin oleh seorang raja bernama Ranghiang tangkuku atau Seuwu Karma atau Mangkubumi dari mulai itulah roda pemerintah berputar di buktikan dengan adanya peninggalan Arile Saung Galah bernama Desa Sagarahiang. Ada 48 situs yang berada di sekitar Desa Sagarahiang, salah satunya adalah Situs lingga. Situ Lingga berdiri sekitar 2000 tahun yang lalu sebelum Masehi dan sebelum kerajaan Taruna Negara dimana berdiri Jaya Bupati “Raden Purba Lingga’ seorang tokoh pimpinan perhitungan waktu dan bulan sebelum ada perhitungan paparancaka di buktikan dengan adanya hamparan batu Lingga di Blok Lingga. Sejak zaman itu pula raja-raja tatar pasundan sampai pulau jawa berkumpul di Situs Lingga untuk menanyakan waktu : hari, bulan, dan tahun yang dapat dilihat di serat batu Lingga dengan sebutan “Cacandaran Tahun Pahu atau Cacandaran Surya”. Situs Lingga berada di dalam kawasan Gunung Ciremai pada ketinggian 1130 mdpl. Desa Sagarahiang menyajikan paket komplit baik dari sejarah, adat, warisan leluhur bahkan keindahan alam kaki Gunung Ciremai beserta keanekaragaman hayatinya. Air yang mengalir deras, interaksi satwa seperti surili, lutung dan macan kumbang serta menjulangnya pepohonan. Ukad juga pernah melihat macan kumbang dan anaknya berada di pohon sekitar Curug Palengseran. (Semua itu - menjadi potensi untuk pengembangan pariwisata alam berbalut budaya leluhur yang adilihung) Mari kenali dan cintai negerimu dengan cara yang baik dan benar. [ teks © BTNGC - Nisa | foto © BTNGC - koeszky | 052018 ] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Warga Membawa Senapan Angin, Petugas BBKSDA Jatim Beri Peringatan

Jember, 27 Mei 2018. Sosialisasi dan penyadartahuan kepada masyarakat tidak mengenal tempat dan momen, tidak harus dalam acara formal, dalam kondisi non formal pun seorang rimbawan yang konservasionis harus selalu menyampaikan ajakan untuk menjaga kelestarian flora dan fauna. Seperti yang dilakukan personil Bidang KSDA Wilayah III Jember Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) yang dipimpin oleh Polhut Muda Deni mardiono, S. Hut., M. Sc. dalam perjalanan ke TWA Kawah Ijen, petugas BBKSDA Jatim bertemu dengan warga sekitar kawasan hutan lindung yang membawa senapan angin. Setelah dilakukan pemeriksaan/ penggeledahan petugas tidak menemukan satwa liar hasil berburu. Petugas Selanjutnya memberikan peringatan untuk tidak berburu dan menyampaikan sosialisai tentang perlindungan satwa liar yang berada di kawasan perlindungan atau kawasan konservasi. Petugas secara detail menyampaikan peran satwa liar di alam. Keberadaan satwa liar di alam merupakan salah satu faktor penyeimbang ekosistem, sehingga fungsi rantai makanan dapat terjaga. Dengan arahan tersebut, warga yang bersangkutan dapat memahami dan menyadari bahwa aktifitas berburunya adalah tindakan melanggar hukum dan dapat merusak ekosistem. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 7.809–7.824 dari 11.140 publikasi